LIBRARY RESEARCH
HAK POLITIK PEREMPUAN DALAM TATANAN
SISTEM POLITIK DI INDONESIA
DISUSUN UNTUK MEMENUHI
TUGAS MATA KULIAH HUKUM DAN
HAM ROMBEL 6:
DWI WISNU KURNIAWAN (8111416199)
KARISMA MAULANA YUSUF (8111416151)
FAKULTAS HUKUM
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan atas segala limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam senantiasa kami curahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.
Penyusunan makalah ini merupakan tugas mata kuliah Hukum dan HAM (2 SKS) di semester 3 tahun akademik 2017/2018. Dalam penulisan laporan observasi ini, tentunya banyak pihak yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materiil. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada:
1. Bapak Ridwan Arifin, S.H., LL.M. selaku dosen mata kuliah Hukum dan HAM.
2. Ucapan terima kasih penulis kepada semua sahabat yang telah banyak memberikan bantuan, dorongan serta motivasi sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, maka saran dan kritik yang konstruktif dari semua pihak sangat diharapkan.
Semarang, 15 Oktober 2017
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I...1
PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...4
1.3 Metode Penulisan...4
BAB II...5
PEMBAHASAN...5
2.1. Konsep Hak Politik Perempuan...5
2.3 Hak Politik Perempuan dalam sistem pemilu di Indonesia...7
2.4 Partisipasi Perempuan Dalam Kancah Politik Di Indonesia...10
BAB III...13
PENUTUP...13
3.1 Kesimpulan...13
3.2 Saran...14
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Permasalahan mengenai hak politik wanita sebenarnya sudah menjadi isu global, sudah banyak negara di dunia yang tengah menghadapi permasalahan tersebut, salah satunya adalah Indonesia. Sebenarnya sudah banyak langkah yang dicapai untuk menyelesaikan permasalahan hak politik wanita, salah satu cara yang dilakukan adalah dengan diadakannya Konvensi PBB yakni Convention on Political Rights for Women dan Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination Against Women (CEDAW).
Tujuan diadakannya konvensi tersebut adalah untuk mewujudkan kesetaraan antara kaum perempuan dan laki-laki dengan memberikan jaminan kesetaraan akses dan kesempatan dalam kehidupan politik dan aktivitas publik lainnya, termasuk hak untuk memberikan suara dan mengikuti pemilihan umum. Diakui, saat ini partisipasi wanita dalam bidang politik di Indonesia terbilang cukup rendah. Contohnya dalam hal keterwakilan wanita dalam struktural politik seperti eksekutif, legislatif, dan yudikatif, maupun dalam lingkungan partai politik dan kehidupan publik yang terbilang masih cukup sedikit wanita dalam mengisi posisi tersebut.
Permasalahan tersebut juga dapat dilatar belakangi oleh budaya masing-masing yang memberikan stigma bahwa kedudukan perempuan hanya berada dalam lingkungan domestik yang hanya meliputi ruang privat seperti urusan rumah tangga. Kehidupan politik dipandang sebagai suatu kehidupan yang selalu dikaitkan sebagai dunia dari para laki-laki saja, sehingga perempuan dianggap tidak mungkin atau tabu untuk masuk dalam kehidupan politik.
berupaya untuk mensejajarkan kaum perempuan dan laki-laki dalam kehidupan politik.
Contohnya pada Pemerinahan Orde baru yang telah meratifikasi Konvensi PBB tentang Hak-Hak Politik Perempuan dengan mengeluarkan Undang-Undang Nomor 68 Tahun 1956 serta Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984. Dengan dikeluarkannya undang-undang yang telah disebutkan diatas menandakan bahwa pemeintahan Indonesia pada saat itu sangat serius untuk menghapus diskriminasi gender dalam bidang politik.
Namun karena tidak adanya upaya konkrit dalam penyetaraan gender mengakibatkan diabaikannya hak-hak perempuan terutama dalam hal ha katas kesetaraan maupun keadilan dalam kehidupan sosial dan politik. Di masa reformasi seperti saat ini dengan dunia politik yang lebih terbuka menjadikan munculnya banyak partai politik dan meningkatnya rasa ingin ikut berpartisipasi dalam kehidupan politik dari masyarakat luas menjadi angin segar tersendiri bagi kaum perempuan yang akhirnya memiliki ruang lebih luas untuk turut serta dalam dunia politik di Indonesia.
Meskipun begitu, praktik diskrimanasi terhadap kaum perempuan masih terus saja terjadi, banyak jabatan atau posisi publik yang didominasi diduduki oleh laki-laki dengan alasan bahwa perempuan dianggap tidak cocok untuk menduduki jabatan tersebut, selain itu juga adanya dalil agama yang digunakan oleh lawan politik menjadikan perempuan tergusur dalam pemilihan umum.
satu bentuk pelanggaran hak asasi yang dimiliki oleh perempuan sebagai seorang manusia.
Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan hak yang pasti dimiliki setiap diri manusia, adanya hak asasi tersebut bertujuan untuk menjamin dan menjaga martabat manusia seutuhnya berdasarkan hukum yang berlaku.
Sebagai sebuah bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia sudah sepantasnya negara dalam hal ini pemerintah harus berperan aktif dalam melakukan upaya perlindungan HAM terhadap seluruh warga negaranya, terutama terhadap kaum perempuan dan anak-anak, karena dua kelompok tersebut merupakan kelompok yang sangat rentan untuk menjadi korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
Menurut Human Rights References, setidaknya ada beberapa kelompok yang tergolong kedalam kelompok yang rentan menjadi korban pelanggaran HAM, diantaranya yaitu refugees, internally displaced persons, national minorities, migrant workers, indigenous peoples, dan women. Terkait dengan perlakuan diskriminatif yang dialami kaum perempuan dalam dunia politik, PBB melalui konvensi yang dibuatnya telah mendefinisikan pengertian dari diskriminasi itu sendiri, yang kurang lebih sebagai berikut, diskriminasi diartikan sebagai “pembedaan, pengesampingan, atau pembatasan apapun yang dibuat atas dasar jenis kelamin yang mempunyai pengaruh, atau mengurangi, menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak asasi manusia dan kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil, dan bidang apapun lainnya oleh kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan”.1
Dalam Perkembangannya hak politik perempuan di Indonesia sebenarnya sudah mengalami kemajuan yakni dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilu DPR, DPD, dan DPRD. Dengan dikeluarkannya undang-undang tersebut juga dapat dijadikan alat oleh kaum perempuan untuk memperjuangkan keterwakilan mereka dalam kancah dunia politik serta ekonomi. Dalam undang-undang tersebut diputuskan bahwa sedikitnya ada 30% porsi keterwakilan perempuan sabagai bakal calon dan
1 A. Masyhur Effendi dan Taufani Sukmana, HAM dalam Dimensi/Dinamika Yuridis, Sosial, Politik,
dalam setiap tiga (3) orang bakal calon setidaknya ada satu (1) orang perempuan bakal calon. Dalam pasal lain tepatnya pada Pasal 2 jo. Pasal 20 Undang-Undang Nomor 2 tahun 2008 dan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 juga sama mengatur mengenai partai politik juga mensyaratkan adanya 30% keterwakilan perempuan sebagai pengurus partai politik, dalam Pasal 8 jo. Pasal 53 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 juga mensyaratkan adanya keterwakilan 30 % perempuan untuk menduduki kursi parlemen. Namun langkah yang ingin mensejajarkan hak politik perempuan dengan yang dimiliki laki-laki tersebut terkendala dengan adanya Keputusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan 5 ayat dalam Pasal 205 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 dengan memutuskan bahwa calon legislator terpilih berdasarkan suara terbanyak jelas merupakan suatu bentuk pengabaian atas ketidakadilan gender dalam kancah dunia politik.
Ada beberapa alasan mengapa perlindungan terhadap hak politik perempuan harus ditegakkan. Pertama, dengan jumlah populasi sekitar 50% jumlah penduduk maka dengan adanya keterwakilan perempuan dalam dunia politik dapat menegakkan prinsip keadilan dan demokratis serta sesuai dengan nilai-nilai Hak Asasi Manusia. Kedua, dengan adanya keterwakilan perempuan maka kebijakan public yang berdampak pada perempuan dapat benar-benar mewakili kepentingan perempuan. Dan alasan yang paling penting adalah mewujudkan emansipasi yang merupakan tuntutan sejarah demi perkembangan dan kemajuan bangsa yang demokratis dengan melibatkan kaum perempuan, sehingga nantinya kebijakan yang dibuat tidak akan memberikan dampak negative terhadap perempuan dan dengan keterlibatan perempuan juga dapat menjadikan kebijakan tersebut bisa mewakili kepentingan perempuan.
Banyaknya permasalan mengenai hak politik perempuan yang terjadi
sekarang ini seperti kurangnya keterwakilan perempuan di legislative dan tidak adanya keterlibatan perempuan dalam membuat maupun pengambilan
kebijakan public dan aktivitas politik berdampak buruk terhadap kaum
perempuan. Sehingga penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut mengenai hak politik perempuan dan perkembangannya di kancah politik Indonesia.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah: 1. Bagaimana konsep Hak Politik Perempuan di Indonesia?
2. Bagaimana Hak Politik Perempuan dalam sistem pemilu di Indonesia? 3. Bagaimana keterlibatan kaum perempuan dalam kegiatan politik di Indonesia?
1.3 Metode Penulisan
Dalam usaha mencari data-data sebagai bahan penelitian dan penulisan makalah ini, penulis mengunakan metode Normatif Deskritif yang meliputi : 1. Metode Observasi dan Teknologi, yaitu melakukan pengamatan secara
langsung melalui Televisi, Koran dan jaringan internet.
2. Metode Referensi,yaitu dengan mengunakan buku-buku tentang hukum lingkungan seperti:
a. Bahan Hukum Primer mengenai pokok yang mengikat sesuai dengan bahasan yang diangkat mulai dari UUD 1945 yang tinggi hingga undang-undang yang rendah.
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Konsep Hak Politik Perempuan
Sebelum membahas mengenai hak politik perempuan lebih lanjut, tidak salahnya untuk membahas Hak Asasi Manusia terlebih dahulu. Hak Asasi Manusia (HAM) dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 dijelaskan bahwa Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap harkat dan martabat manusia. Selain berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, ada juga pengertian HAM yang dikemukakan oleh beberapa ahli salah satunya adalah Magnis Suseno, menurutnya Hak asasi manusia merupakan hak-hak yang dimiliki manusia bukan karena diberikan kepadanya oleh masyarakat. Dengan demikian hak asasi manusia bukan berdasarkan hukum positif yang berlaku, melainkan berdasarkan martabatnya sebagai manusia. Manusia memilikinya karena ia manusia. Dalam paham hak asasi termasuk bahwa hak itu tidak dapat dihilangkan atau dinyatakan tidak berlaku oleh negara. Sedangkan pengertian HAM secara obyektif, Hak Asasi Manusia adalah kewenangan pokok yang melekat pada manusia sebagai manusia dan yang harus diakui dan
2 Anis Widyawati, Kajian Hukum Internasional Terhadap HAM, Jurnal Ilmu Hukum “Pandecta”, Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang, Vol. 2, No. 2, 2008, hal. 41.
Kesetaraan gender menjadi isu yang seringkali menjadi pembahasan menarik dihadapan publik. Isu kesetaraan gender muncul karena adanya ketimpangan baik secara sosial, politik, ekonomi yang terjadi antara laki-laki dan perempuan. Ketimpangan tersebut bahkan sampai pada tahap diskriminasi, yang menyudutkan perempuan hanya sebatas subordinasi dibawah kekuasaan laki-laki dan posisinya terpinggirkan.
Kesetaraan gender merupakan sebuah konsep dasar yang dirancang untuk menjelaskan bahwa salah satu faktor ketidakadilan dalam pembangunan kaum laki-laki4. Elizabeth Frazer mengemukakan bahwa:
“Konsepsi gender, baik yang implisit maupun eksplisit, dalam pelbagai sistem pemikiran itu bukanlah unsur kebetulan, melainkan unsur yang penting, dan bukan pula unsur yang tidak bermakna. Seluruh analisis bersifat preskriptif (analisis itu mengemukakan gagasan sistematis tentang bagaimana masyarakat seharusnya diatur).Namun demikian, gagasan-gagasan itu merasuk, walaupun secara tidak sempurna, ke dalam konstitusi, sistem hukum, dan lembaga-lembaga sosial politik lainnya, serta ke dalam budaya popular dalam masyarakat.Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa gagasan-gasan itu bersifat konstitutif”.5
Persamaan kedudukan laki-laki dan perempuan khususnya dibidang pemerintahan dan hukum sebenarnya sudah diatur UUD 1945 dalam Pasal 27 ayat (1), yang mengamanatkan bahwa; “Segala warganegara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.6
Secara Yuridis hak politik perempuan juga termuat dalam Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia. Pada Pasal 1 menjelaskan bahwa semua
4 Holzsner, 2004, Pendebatan-pendekatan Dasar Dalam Analisis Gender, dalam Asmaeny Aziz, 2013, Dilema Keterwakilan Perempuan Dalam Parlemen, Yogyakarta, Rankang Education, hal. 107
5 Stevi Jackson & Jackie Jones (ed)., Pengantar Teori-Teori Feminis Kontemporer, Yogyakarta, Jalasutra, 1998, hal.91.
orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang tidak berbeda, sedangkan dalam Pasal 7 juga menegaskan bahwa setiap orang berhak atas perlindungan hukum yang sama dan pada Pasal 21 menentukan bahwa setiap orang berhak untuk turut serta dalam pemerintahan negerinya sendiri, baik secara langsung maupun melalui wakil-wakil yang telah dipilih. Setiap orang termasuk perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk dipiluh maupun memilih dalam jabatan pemerintahan di negerinya.
Pemerintah Indonesia juga telah meratifikasi konvensi tentang hak politik perempuan seperti yang tertuang dalam UU No. 68 Tahun 1958. Dalam UU tersebut menyebutkan bahwa perempuan berhak untuk turut memberikan suara dalam pemilihan umum dengan status yang sama dengan laki-laki tanpa adanya diskriminasi.
2.3 Hak Politik Perempuan Dalam Sistem Pemilu di Indonesia
Sehubungan dengan isu kesetaraan gender yang sudah membumi, pada undang-undang nomor 10 tahun 2008 merupakan undang-undang yang mengakomodir keterwakilan hak politik perempuan dalam percaturan parlemen. Dalam undang-undang sebelumnya yaitu undang-undang no 31 tahun 2002 tidak mengatur adanya kesetaraan gender. Dengan demikian, undang-undang yang baru lebih mengakomodir dan merupakan sarana untuk merevolusi sistem pengkaderan partai politik di negeri ini.
Berbicara masalah politik, maka tentunya berbicara tentang kekuatan atau power, Chusnul Mar’iyyah memberikan dua pengertian mengenai kata power tersebut, yaitu:
1). Force, Strength, vigour (kekuatan), might, energy (tenaga), potency (daya), stamina (daya tahan), authority (otoritas, command (kekuasaan), control (kendali), domination (dominasi), omnipotence (kemahakuasaan). Kata-kata yang diasosiasikan dengan power merupakan atribut yang sangat maskulin. Apabila kata-kata tersebut dihubungkan dengan women (perempuan), misalnya, menjadi controlling women, dominating women, forceful women, yang pada dasarnya merendahkan perempuan. Hal ini merupakan pengertian power over atau kekuasaan terhadap orang lain.
berhubungan dengan kekuasaan untuk melakukan sesuatu (power to), atau untuk berbuat sesuatu, daripada kekuasaan terhadap orang lain.7
Isu keterwakilan perempuan di bidang politik sebenarnya pada pemilu 2009 diharapkan dapat menjadi menjadi titik awal untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan di bidang politik dengan menerapkan kebijakan affirmative action. Sebelumnya affirmative action merupakan sebuah kebijakan yang mengalokasikan khusus presentase atau jumlah tertentu untuk kaum perempuan dalam institusi politik. Seperti yang dijelaskan oleh Dahlerup “The core idea behind quota systems is to recruit women into political positions and to ensure that women are not only a few tokens in political life.”. Untuk menjamin adanya keterwakilan politik perempuan dapat dilakukan beragam. Dua di antaranya yang paling utama adalah kuota yang ditetapkan melalui konstitusi atau peraturan perundang-undangan, dan kuota melalui partai politik.8
Di Indonesia Affirmative action dapat ditemukan dalam undang-undang nomor 2 tahun 2008 tentang partai politik dan undang-undang nomor 10 tahun 2008 tentang pemilihan anggota dewan perwakilan rakyat (DPR), dewan perwakilan daerah (DPD) dan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) yang memberikan perlakuan khusus dengan kuota 30% bagi perempuan sebagai langkah awal untuk mendorong keterwakilan perempuan di bidang politik menuju arah yang setara dan berkeadilan.9 Selain untuk memberikan
keleluasaan bagi perempuan untuk menggunakan hak politik juga sebagai peningkatan kesadaran hak dan kewajiban antar warga negara. Dalam Undang-Undang tersebut juga menentukan prinsip pembayaran yang sama untuk pekerjaan yang sama. Perempuan dan laki-laki tidak dibedakan dalam sistem penggajian. Keluarnya UU ini merupakan salah satu contoh dari keberhasilan perjuangan kaum perempuan ketika itu.10
Namun sayangnya affirmative action dalam proses perjalanannya dianulir oleh Mahkamah konstitusi. Pembatalan pasal 214 huruf a, b, c, d, dan e dalam
7 Sulistyowati Irianto (ed).,Perempuan dan Hukum, Menuju Hukum yang Berspektif Kesetaraan dan Keadilan , Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2006, hal. 352.
8 Dahlerup, D., & Freidenvall, L, “Quota as a ‘Fast Track’ to Equal Representation for Women”.
International Feminist Journal of Politics, 7(1), 2005, hal. 26-48.
9 Nur Asikin Thalib, Hak Politik Perempuan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, Jurnal Cita Hukum Vol II No. 2, 2004
surat keputusan MK No. 22-24/PUU-VI/2008 yang membatalkan isi ketentuan pasal yang intinya penggunaan nomor urut dalam penentuan calon legislatif terpilih melainkan dengan berdasarkan suara terbanyak sehingga dengan pembatalan tersebut secara otomatis zipper system yang berdasarkan nomor urut tidak dapat dijalankan.11
Menjadi dilematis tersendiri keterwakilan perempuan dalam ranah parlemen. Beberapa alasan dikemukakan oleh beberapa pihak atas pentingnya keterwakilan perempuan, seperti perempuan mewakili setengah dari populasi dan berhak mendapatkan kursi, perempuan dan laki-laki memiliki pertentangan dalam urusan kepentingan sehingga tidak dapat diwakilkan, politikus pemahaman tafsir agaman mengenai kedudukan perempuan yang ditafsirkan secara sempit.
Namun terhadap putusan MK mengenai pasal 214 huruf a, b, c, d, dan e UU No. 10 tahun 2008 terdapat perbedaan pendapat (Dissenting Opinion). Hakim MK Maria Indrati memiliki pandangan tersendir yaitu masalah yang berkaitan dengan kuota perempuan merupakan hal yag harus di pertahankan untuk mencapai kesetaraan dalam pembangunan bangsa indonesia secara menyeluruh.
Pemenuhan kuota perempuan dilandasi pada argument (Hanna Pitkin, The Concept of Representation, 1967), sebagai berikut: Pertama; Perempuan mewakilil setengah dari populasi dan punya hak untuk setengah dari kursi (”justice argument”); Kedua; Perempuan mempunyai pengalaman yang berbeda dari laki-laki (biologis maupun sosial) yang diwakili (”experience argument”). Sejalan dengan argumen ini perempuan dapat memasuki posisi kekuasaan karena mereka akan terikat dalam politik yang berbeda; Ketiga; Perempuan dan laki mempunyai pertentangan kepentingan sehingga laki-laki tidak dapat mewakili perempuan (”interest group argument”); Keempat; Politisi perempuan mewakili model peran penting mendorong perempuan lain
untuk mengikuti. Inti ide di belakang kouta gender pemilihan adalah merekrut perempuan ke dalam institusi politik dan memastikan bahwa perempuan tidak terisolasi dalam kehidupan politik.12
Jika melihat isi dalam Pasal 214 Penetapan calon terpilih anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dari Partai Politik Peserta Pemilu didasarkan pada perolehan kursi Partai Politik Peserta Pemilu di suatu daerah pemilihan, dengan ketentuan:
a. Calon terpilih anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan calon yang memperoleh suara sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) dari BPP
b. Dalam hal calon yang memenuhi ketentuan huruf a jumlahnya lebih banyak daripada jumlah kursi yang diperoleh partai politik peserta pemilu, maka kursi diberikan kepada calon yang memiliki nomor urut lebih kecil di antara calon yang memenuhi ketentuan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) dari BPP
c. Dalam hal terdapat dua calon atau lebih yang memenuhi ketentuan huruf a dengan perolehan suara yang sama, maka penentuan calon terpilih diberikan kepada calon yang memiliki nomor urut lebih kecil di antara calon yang memenuhi ketentuan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) dari BPP, kecuali bagi calon yang memperoleh suara 100% (seratus perseratus) dari BPP
d. Dalam hal calon yang memenuhi ketentuan huruf a jumlahnya kurang dari jumlah kursi yang diperoleh partai politik peserta pemilu, maka kursi yang belum terbagi diberikan kepada calon berdasarkan nomor urut
e. Dalam hal tidak ada calon yang memperoleh suara sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) dari BPP, maka calon terpilih ditetapkan berdasarkan nomor urut.
Perumusan ketentuan dalam ketiga pasal tersebut merupakan tindakan afirmatif bagi keterwakilan perempuan yang merupakan desain “dari hulu ke hilir” dalam artian mengkombinasikan antara proteksi dalam mekanisme internal partai (pencalonan dan penempatan dalam daftar calon), dan mekanisme eksternal partai berupa dukungan konstituen yang diraih calon
anggota dewan (DPR dan DPRD) melalui perjuangan didaerah pemilihan yang bersangkutan.13
Apabila Affirmative Action dalam Undang-Undang ini kemudian digantikan dengan menggunakan sistem suara terbanyak, maka dianggap tidak konsisten. Karena dalam pergantiannya dilakukan setelah penetapan daftar anggota DPR, DPRD provinsi, DPRD Kota/Kab, sehingga mekanisme kegiatan penunjangnya tidak bisa dilaksanakan. Pengunaan suara terbanyak sudah seharusnya dilakukan sedari awal rekruitmen dan penempatan daerah pilihan (DAPIL).
2.4 Partisipasi Perempuan Dalam Kancah Politik Di Indonesia
Menurut Surbakti, Partisipasi politik merupakan sebuah kegiatan atau perilaku luar individu warga negara yang dapat diamati, bukan perilaku yang berupa sikap dan orientasi. Kegiatan tersebut diarahkan untuk mempengaruhi pemerintah selaku pembuat dan pelaksanaan keputusan politik.
Partisipasi sendiri dibagi menjadi dua bentuk, yaitu partisipasi aktif dan partisipasi pasif. Partisipasi aktif dapat dilaksananakan dengan mengajukan usul mengenai suatu kebijakan yang bersifat umum, mengajukan kebijakan alternative yang berlainan dengan kebijakan pemerintah, mengajukan kritik dan saran terhadap kebijakan pemerintah, serta ikut aktif dalam kegiatan pemilihan umum. Sedangkan partisipasi pasif dapat berupa kegiatan yang mentaati pemerintah, menerima dan melaksanakan keputusan pemerintah.
Dalam perspektif gender yang dikemukakan oleh kaum feminisme mereka menyatakan bahwa perempuan harus turut dilibatkan dalam kedudukan yang sejajar dengan laki-laki diseluruh bidang pembangunan termasuk didalam bidang politik. Mereka beralasan dengan ikut dilibatkannya perempuan dalam bidang politik maka setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah tidak akan lagi terjadi sensitifitas gender, sehinggga nantinya tidak akan ada lagi tindakan diskriminasi yang dialamatkan ke kaum perempuan baik yang bersifat structural maupun kultural. Mereka beranggapan bahwa selama ini ketika perempuan tidak turut serta dalam pengambilan keputusan mengakibatkan tidak adanya keadilan dalam pembangunan yang selama ini dilakukan.
Dengan diberlakukanya sistem demokrasi secara luas hampir diseluruh negara yang ada di dunia mengakibatkan diskriminasi gender yang selama ini terjadi sedikit berkurang. Di Indonesia sendiri dengan diberlakukannya sistem demokrasi turut membantu perkembangan dinamika kehidupan politik bangsa. Partisipasi masyarakat dalam bidang politik terus menunjukan peningkatan, bukan hanya oleh laki-laki tapi perempuan pun turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan politik. Bentuk partisipasi yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah:
1. Pemberi Suara.
2. Mencalonkan Diri Sebagai Calon Anggota Legislatif.
3. Menjadi Anggota Partai Politik
4. Menjadi Anggota Komisi Pemilihan Umum
Lalu mengenai representasi perempuan yang duduk di kursi parlemen mengalami proses yang cukup panjang, contohnya saja pemilihan umum yang diselenggarakan pada tahun 1955 sebanyak 6,5 % anggota parlemen merupakan perempuan. Puncaknya pada tahun 1987 jumlah representasi anggota parlemen perempuan mencapai angka 13.0 % yang menjadi lonjakan cukup besar pada saat itu.
mengenai nomor urut calon karena suara terbanyak dianggap akan mengurangi kesempatan bagi para caleg perempuan untuk terpilih dalam pemilihan umum.
Demikian juga yang terjadi di Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dari total 132 kursi yang diperebutkan ada 32 kursi yang berhasil direbut oleh perwakilan perempuan. Bahkan de beberapa provinsi seperti provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Gorontalo, Maluku dan Papua menunjukan adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, karena dari empat kursi yang tersedia, masing-masing dari provinsi tersebut diduduki oleh dua perempuan dan dua laki-laki.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Seperti yang telah dikemukakan diatas konsepsi hak politik perempuan adalah penyetaraan hak yang dimiliki oleh perempuan dengan laki-laki hal tersebut dikarenakan adanya suatu diskriminasi gender yang selama ini dilakukan dalam pengambilan kebijakan karena tidak adanya keterlibatan perempuan dalam pengambilan kebijakan tersebut sehingga kebijakan tersebut seringkali merugikan kaum perempuan. Kesetaraan kedudukan antara laki-laki dan perempuan dalam kahidupan politik sebenarnya sudah diatur dalam konstitusi negara yakni pada Pasal 27 ayat (1), yang mengamanatkan bahwa; “Segala warganegara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Pemerintah juga telah meratifikasi konvensi Internasional yang berkaitan dengan hak politik perempuan seperti yang tertuang dalam UU No. 68 Tahun 1958. Hal tersebut berarti pemerintah sangat serius untuk menanggulangi diskriminasi gender yang selama ini terjadi khususnya yang berkaitan dengan kehidupan politik.
yang sama untuk pekerjaan yang sama. Perempuan dan laki-laki tidak dibedakan dalam sistem penggajian.
Namun hal tersebut menemukan kendala setelah affirmative action yang diidam-idamkan oleh kaum perempuan tersebut dianulir oleh Mahkamah konstitusi. Pembatalan pasal 214 huruf a, b, c, d, dan e dalam surat keputusan MK No. 22-24/PUU-VI/2008 yang membatalkan isi ketentuan pasal yang intinya penggunaan nomor urut dalam penentuan calon legislatif terpilih melainkan dengan berdasarkan suara terbanyak sehingga dengan pembatalan tersebut secara otomatis zipper system yang berdasarkan nomor urut tidak dapat dijalankan.
Tingkat persentasi partisispasi keterlibatan perempuan dalam kegiatan politik terus menunjukan peningkatan dari tahun ke tahun. Saat ini perempuan bukan hanya beposisi sebagai subordinasi melainkan sudah memiliki posisi yang setara dengan laki-laki dalam kancah dunia politik. Sudah banyak perempuan yang menduduki posisi strategis public seperti anggota parlemen, Bupati, Wakil Bupati, Walikota, Wakil Walikota, Gubernur, Wakil Gubernur, Menteri Negara, Wakil Presiden, bahkan sebagai Presiden. Hal tersebut membuktikan bahwa perempuan saat ini sudah tidak bisa dianggap remeh lagi dan mdnjadi penantang serius dalam perburuan posisi strategis public.
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
1. Anis Widyawati. 2008. “Kajian Hukum Internasional Terhadap HAM”. Jurnal Ilmu Hukum “Pandecta”. Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang. Vol. 2. No. 2.
2. Asikin Thalib, Nur. 2004. “Hak Politik Perempuan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi”. Jurnal Cita Hukum. Vol II. No. 2
3. Dahlerup, D., & Freidenvall, L. 2005. “Quota as a ‘Fast Track’ to Equal Representation for Women”. International Feminist Journal of Politics, 7(1): 26-48.
4. Kania, Dede. 2015. “Hak Asasi Perempuan Dalam Peraturan Perundang-undangan”. Jurnal Konstitusi. Volume XII. Nomor 4.
5. Holzsner. 2004. Pendebatan-pendekatan Dasar Dalam Analisis Gender, dalam Asmaeny Aziz. 2013. Dilema Keterwakilan Perempuan Dalam Parlemen. Yogyakarta : Rankang Education
6. M. Darwin, Muhadjir. 2005. Negara Dan Perempuan, Reorientasi Kebijakan Publik. Yogyakarta : Graha Guru
7. Stevi Jackson & Jackie Jones (ed). 1998. Pengantar Teori-Teori Feminis Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra
9. Undang-Undang Dasar 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 27 ayat (1).
10. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik.