• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah komite medis MHkes .doc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah komite medis MHkes .doc"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

 Upload

 Login

 Signup

 

 Home

 Technology

 Education

 More Topics

 For Uploaders

       

1 of 14

Peran komite medik dan hukum

6,131 views

 Share  Like  Download

budi1

   Follow

 0  1  0

Published on Mar 9, 2014

Published in: Education

   0 Comments

(2)

Post

Be the first to comment

 Peran komite medik dan hukum

1. 1. PERAN KOMITE MEDIK, KOMITE ETIK DAN HUKUM SERTA PROGRAM PATIENT SAFETY DALAM PENYELAIAN KETIDAKPUASAN/ GUGATAN PASIEN PENDAHULUAN Rumah sakit sebagai pelayanan kesehatan, ditinjau dari aspek hukum, maka rumah sakit bukan sebagai badan hukum, sehingga kedudukan mdirektur

sebagai Top Manageradalah penanggung jawab pelaksana pelayanan kesehatan tetapi tidak dapat bertindak atas nama badan hukum. Badan hukum adalah status diri dimata ukum, dan badan hukum rumah sakit ada dipihak pemilik sarana pelyanan kesehatan atau rumah sakit. Rumah sakit swasta non profit, maka badan hukum ada di yayasan atau perkumpulan, atau persyarikatan, sedangkan pada rumah sakit yang berorientasi pada profit, maka badan

hukumnya adalah perseroan terbatas atau disebut PT. Rumah sakit adalah suatu sarana pelayanan kesehatan yang menyediakan fasilitas rawat inap dan rawat jalan, serta pemeriksaan penunjang medis yang memberikan pelayanan kesehatan baik jangka pendek maupun jangka panjang yang terdiri dari observasi, diagnostik, terapetik dan rehabilitatif untuk orang yang menderita sakit, cidera maupun melahirkan, dan pelayanannya bersifat paripurna meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Rumah sakit dalam kenyataannya sangat padat dengan investasi; untuk menyediakan sarana dan prasarana, seperti tanah, gedung,peralatan medis, peralatan non medis serta untuk pengadaan berbagai sarana penunjangoperasional seperti alat pengolahan limbah, cadangan sumber listrik, alat transportasi, komunikasi sehingga

membutuhkan sumber dana sangat besar. Rumah sakit dalam kenyataannya juga padat dengan SDM, baik tenaga medis, tenaga perawatan, tenaga penunjang medis maupun tenaga non medis yang masing-masing mempunyai latar

belakang profesi atau disiplin keilmuan yang berbeda-beda, bahkan juga tingkat pendidikannya yang sangat heterogen, tetapi harus menyatu dalam mendukung visi dan misi rumah sakit. Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan disebuah rumah sakit atau pelayanan kesehatan, sangat dimungkinkan adanya

pergesekan atau kesalahpahaman yang menyebabkan kekeliruan antara profesi satu dengan profesi lainnya, bahkan dalam satu profesi atau satu tim saja dimungkinkan terjadi kesalahan jika dalam menejemen pengelolaaanya tidak baik, seperti struktur organisasi tidak overlap, uraian tugas tidak ada atau jika ada sulit dipahami sehingga sering adanya tugas dengan tugas yang lainnya. Halini berpotensi terjadinya ‘human errors/medical errors’, sehingga muncul adanya gugatan pasien. STATUTA RUMAH SAKIT.

(3)

jajaran pejabat struktural sebagi pelaksana operasional rumah sakit, termasuk disalamnya dengan adanya dewan pengampu atau badan pengurus harian atau komisaris, BPH dan mempunyai kedudukan serta berfungsi sebagai Govening Board. Pada tatarann pelaksana operasional rumah skit, khususnya terkait dengan dokter dan tenaga kesehatan lainnya, ada medical staff bylaws, seperti mengatur peran komite midik, tugas dan wewenang komite etik (disiplin) dan hukum, atau komite keperawtan, serta staff medik fungsional (SMF) yang beranggotakan para dokter dan dokter gigi, juga pengelolaan rekam medik dan menjaga rahasia kedokterannya, serta aturan lain yang lebih teknis. KOMITE MEDIK Komite medik sebagai partner manajeme, dituntut perannya untuk meningkatkan berfungsi sebagai kredensial yaitu mengkaji/ menyeleksi dokter gigi yang baik, kompeten, legal, beretika baik, serta taat aturan rumah sakit. Komite medik juga berfungsi untuk menjaga mutu pelayanan dan

profesionalisme dokter, seperti melakukan rekrendetial jika terbukti dokter sudah tidak lagi kompeten karena perkembangan usia atau gangguan kesehatan. Audit medik sebagai metoda melakukan kajian atas kasus-kasus yang dinilaiada

medical erors sehingga tidak terulang pada kesempatan berikutnya. Audit medik bukan untuk menghakimi dokter yang bersalah tetapi untuk proses pembelajaran bagi semua pihak untuk meningkatkan mutu. Peran komite medik bukan

sebaliknya sebagai perongrong manajemen, bahkan ada yang berfungsi tidak lebih dari seperti serikat pekerja medis seluruh Indonesia dalam arti sempit, sehingga fungsinya hanya menuntut kenaikan jasa medik dan kesejahteraan bagi para dokter. NORMA KEDOKTERAN Undang-undang Dasar 1945 Pasal 28 H, bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pengadaan sarana pelayanan kesehatan menjadi

tanggung jawab negara (pasal 34ayat (3) UUD 1945) dan tetap memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengadaan sarana pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Semkin banyaknya sarana pelayanan kesehatan menyebabkan berbagai persaingan ketat sehingga menuntut mengelola sarana pelayanan kesehatan untuk lebih memperhatikan masalah kualitas pelayanannya. Salah stu faktor yang

menentukan kualitas pelayanan adalah sumber daya manusia, terutama profesionalitas dokter dan dokter gigi dalam menjalankan profesinya.

Keseluruhan dokter dan dokter gigi karena tugas utamanya adalah memberikan pelayanan untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia yaitu

kebutuhan dan kesehatan. Sebagaimana dalam penjelasan umum UU. No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran bahwa pembangunan bidang kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat

(4)

bersalah maka seseorang atau korporasi akan diberi sanksi, bisa berupa sanksi pidana seperti hukuman mati, hukuman kurungan, penjara atau denda, serta sanksi perdata berupa ganti rugi dan sanksi administrasi antara lain dapat berupa teguran atau pencabut ijin. Dalam penegakan hukum, lembaga yang berwenang adalah Pengadilan. Beberapa ajaran tentang fungsi hukum dan perkembangan dalam masyarakat, yaitu : 1. Ajaran legisme Ajaran legisme memandang hukum identik dengan undang-undang artinya pandangan ini

berkeyakinan bahwa setiap masalah social dapat diselesaikan melaui perundang-undangan. 2. Ajaran hukum fungsional Secara fungsional hukum dipandang sebagai instrument pengaturan masyarakat. Menurut Mochtar Kusumaatmadja yang menyebut fungsi hukum sebagai alat pembaharuan bagi masyarakat, yang mana hukum merupakan suatu alat untuk memelihara ketertiban dalam

masyrakat mengingat fungsi hukum pada dasarnya adalah konservatif. 3. Ajaran hukum kritis Ajaran hukum kritis memandang hukum sebagai bagian dari

masyarakat, dengan kata lain hukum dalam masyarakat. Ajaran ini melihat didalam hukum di satu pihak endapan dari perbandingan kekuatan yang nyata dan kepentingan – kepentingan yang dominan, sedang di pihak lain juga aspirasi untuk keadilan dan legitimasi. Peraturan Konsil kedokteran Indonesia merupakan peraturan yang mempunyai kekuatan hukum yang berdasarkan pendelegasian kewenangan dalam pembentukan peraturan. Peraturan perundang-undangan yang dapat dijadikan dasar penegakan disiplin kedokteran dan kedokteran gigi adalah tidak hanya Undang Praktik Kedokteran, tetapi juga keputusan –

keputusan Konsil Kedokteran Indonesia. Penerapan ajaran legisme dalam praktik peradilan berdasarkan suatu anggapan bahwa semua hukum terdapat undang-undang, oleh karenanya hakim itu hanya sebagai corong undangundang. Dalam ajaran hukum yang fungsional, disiplin kedokteran dan kedokteran gigi sebagai hukum merupakan alat yang berfungsi melakukan pembaharuan agar tercapai ketertiban dalam praktik kedokteran. Undang - undang praktik kedoketran dengan jelas menentukan perbuatan – perbuatan yang termasuk criteria pelanggaran hukum dan besaran sanksi.

4. 4. KOMITE ETIK (DISIPLIN) DAN HUKUM RS Tujuan utama pelayanan rumah sakit adalah memberikan pelayanan yang bermutu, professional, dan diterima

masyarakat. Salah satu upaya mencapai pelayanan kesehatan bermutu dan professional rumah sakit adalah dengan memenuhi kaidah – kaidah yang tercantum dalam Kode Etik Rumah Sakit (KERS). KERS merupakan badan yang dibentuk dengan anggota dari berbagai disiplin perawatan kesehatan dalam rumah sakit, yang bertujuan membantu pimpinan rumah sakit menjalankan kode etik rumah sakit. KERS dapat menjadi sarana efektif dalam mengusahakan saling pengertian antara berbagai pihak yang terlibat seperti dokter, pasien, keluarga pasien dan masyarakat tentang berbagai masalah etika, hukum, dan kedokteran di rumah sakit. Seluruh permasalahan yang berkaitan dengan etika biomedis dirumah sakit ditangani oleh KERS. Fungsi Komite Etik Rumah Sakit : 1.

Pendidikan Melakukan peningkatan pengetahuan dan kemampuan anggota KERS. Menyelenggarakan berbagai pelatihan dan seminar tentang etika pelayanan kesehatan dan memberikan pengetahuan etika kepada staf rumah sakit, pasien dan rumah sakit. 2. Rekomendasi kebijakan rumah sakit Pimpinan rumah sakit menugaskan kepada KERS untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan etika dan hukum kedokteran apabila muncul berbagai masalah etika kedokteran dirumah sakit. Berbagai kebijakan yang disusun oleh KERS, antara lain : a. Prosedur penanganan pasien gawat darurat b. Pasien terminal c. Pasien

(5)

premature j. Masalah nbidang obstetric-ginekologi k. Hak dan kewajiban pasien l. Hak dan kewajiban dokter m. Hak dan kewajiban rumah sakit n. Konflik dalam hubungan dokter-pasien 3. Pembahasan kasus

5. 5. KERS dapat melakukan diskusi dan pembahasan berbagai kasus medis dengan kandungan aspek etika rumah sakit. PATIENT SAFETY Patient Safety atau

keselamatan pasien adalah suatu upaya untuk meningkatkan keselamatan pasien dan mutu pelayanan di rumah sakit dan ini adalah tekad dan visi dari gerakan patient safety. Namun harus diingat bahwa di rumah sakit terdapat ratusan jenis obat, terdapat banyak alat, terdapat banyak kelompok profesi dan non profesi yang memberikan pelayanan kepada pasien. Apabila dalam

pengelolaanya kurang berhati – hati maka keberagaman ini dapat berpotensi menimbulkan kejadian yang tidak diharapkan. Meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan akan lebih berhati – hati dalam memilih rumah sakit dalam perawatan dan penyembuhan penyakitnya. Akses informasinya yang sangat terbuka seperti ini sangat memungkinkan masyarakat untuk memilih siapa dan dimana akan melakukan pengobatan. Dan harus diakui bahwa rumah sakit yang menerapkan sistem keselamatan pasien akan lebih dicari dan diutamakan penggunaannya oleh perusahaan dan asuransi sebagai provider kesehatan karyawan / kliennya. Ada 5 aspek yang harus diperhatikan oleh pengelola rumah sakit dalam penanganan patient safety yaitu : 1.

Keselamatan pasien 2. Keselamatan pekerja atau petugas kesehatan 3. Keselamatan bangunan dan peralatan di rumah sakit yang bisa berdampak terhadap keselamatan pasien dan petugas 4. Keselamatan lingkungan yang berdampak terhadap pencemaran lingkungan 5. Keselamatan bisnis rumah sakit yang terkait dengan kelangsungan hidup rumah sakit. Untuk mendukung

program pengembangan sistem keselamatan pasien, maka pengelola rumah sakit hendaknya tidak melupakan tiga factor utama yang sangat penting yaitu : 1. Environmental safety meliputi penanaman kesadaran terhadap dokter,

perawat, staf dan pasien tentang pentingnya menciptakan lingkungan yang aman di rumah sakit. Misalnya tidak boleh menaruh barang – barang

sembarangan di lantai untuk menghindari kebakaran. 2. Clinical safety antara lain menyangkut masalah kompetensi dan kredibilitas dokter dan perawat, apakah mereka memiliki skill atau lisensi untuk mulai berpraktik. Karena dilakukan penyaringan terlebih dahulu terhadap para dokter atau perawat, apakah sudah layak untuk praktik, punya surat izin atau tidak. 3. Clinical safety & risk management, hal ini tidak lepas dari service quality yaitu bagaimana

penanganan dokter terhadap pasiennya. PELANGGARAN ETIK DOKTER DI RUMAH SAKIT

(6)

dilakukan maka yang bersangkutan dinilai telah melakukan pelanggaran etik. Pengaduan terhadap dokter atau dokter gigi yang diduga telah melakukan pelanggaran etik di rumah sakit dapat diproses oleh Komite Etik (disipilin) dan Hukum, dan jika terbukti Dokter atau dokter gigi tersebut telah melakukan pelanggaran etik maka direktur rumah sakit dapat berfungsi sebagai eksekutor dengan cara member peringatan secara lisan maupun tertulis terhadap dokter tersebut. Jika aduan dugaan pelanggaran etik di rumah sakit tidak dapat diselesaikan secara internal maka pihak rumah sakit dapat mengadukan permasalahannya ke MKEK IDI MAKERSI PERSI tergantung pada kasusnya. Disiplin kedokteran sebagai aturan memuat standarisasi dalam menjalankan profesi kedokteran meliputi : a. Standar profesi (pendidikan), merupakan batasan kemampuan penguasaan keilmuan, kemampuan dan sikap profesional minimal yang harus dikuasai oleh seorang individu untuk dapat melakukan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi. Dalam penjelasan pasal 7 ayat (2) Undang-undang nomor 29 Tahun 2004 dijelaskan, bahwa standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi adalah pendidikan profesi yang

dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan sistem pendidikan nasional. Standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi ditetapkan bersama oleh konsil kedokteran Indonesia dengan kolegium

kedokteran, kolegium kedoteran gigi, asosiasi rumah sakit pendidikan, yang disahkan oleh konsil kedokteran Indonesia, sebagaimana diatur dalam pasal 7 ayat (2) Undangundang nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. Demikian pula standar pendidikan profesi kedokteran yang dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan sistem pendidikan, sebagaiman diatur dalam Undang-undang nomor 29 Tahun 2004 pasal 26 dan penjelasannya. b. Standar pelayanan, sebagai pedoman yang harus diikuti oleh dokter dan dokter gigi dalam menyelenggarakan praktik kedokteran, sebagaimana di atur dalam Undang-undang nomor 29 Tahun 2004 pasal 44: 1) Dokter atau dokter gigi dalam menyelenggarakan praktik kedokteran wajib mengikuti standar pelayanan kedokteran atau kedokteran gigi. 2) Standat pelayanan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) dibedakan menurut jenis dan strata sarana pelayanan kesehatan.

7. 7. 3) Standar pelayanan untuk dokter atau dokter gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan menteri. c. Standar prosedur operasional, suatu perangkat instruksi atau langkah-langkah baku yang

dipergunakan untuk menyelesaikan suatu kerja rutin, sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 penjelasan pasal 50. Standar prosedur operasional sebagai langkah yang benar dan terbaik berdasarkan konsensus bersama untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi layanan yang dibuat oleh sarana pelayanan kesehatan berdasarkan standar profesi. d.

Mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan tertentu yang tidak memiliki kompetensi untuk melaksankan pekerjaan tersebut, pasal 22 ayat (1) (3) Permenkes. e. Menjalankan praktik kedokteran dalam kondisi tingkat

kesehatan fisik ataupun mental sedemikian rupa sehingga tidak kompeten dan dapat membahayakan pasien, sebagaimana diatur dalam pasal 29 ayat (3) c UU No. 29/2004 yang menentukan persyaratan untuk memperoleh surat tanda registrasi dokter dan dokter gigi harus memenuhi persyaratan memiliki surat keterangan kesehatan fisik dan mental. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya memberikan perlindungan kepada pasien. Peraturan konsil Kedokteran Indonesia Nomor 17/KKI/KEP/VIII/2006 tertanggal 24 Agustus 2006 tentang Pedoman

(7)

pekerjaan kepada tenaga kesehatan tertentu yang tidak memiliki kompetensi untuk melaksanakan pekerjaan tersebuat. Pasal 22 ayat (1) (3) Permenkes 1419/2005. 2. Menjalankan praktik kedokteran dalam kondisi tingkat kesehatan fisik ataupun mental sedemikian rupa sehingga tidak kompeten dan dapat membahayakan pasien, sebagaimana diatur dalam pasal 29 ayat (3) c UU No. 29/2004 yang menentukan persyaratan untuk memperoleh surat tanda registrasi dokter dan dokter gigi harus memenuhi persayaratan memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya memberikan

perlindungan terhadap pasien. 3. Menyediakan dokter pengganti sementara yang tidak memiliki kompetensi dan kewenangan yang sesuai atau tidak melakukan pemberitahuan perihal penggantian tersebut. Oleh karena itu pasal 40 UU No. 29 Tahun 2004 mensyaratkan bahwa dokter atau dokter gigi yang berhalangan menyelenggarakan praktik kedokteran harus membuat pemberitahuan atau menunjuk dokter atau dokter gigi pengganti yang mempunyai surat izin praktik (Pasal 40 UU No. 29/2004 dan Pasal 20 ayat (3) (14) Permenkes No.1419/2005). 4. Melakukan pemeriksaan atau pengobatan berlebihan yang tdak sesuai dengan kebutuhan pasien. Pasal 51 huruf a UU No. 29 Tahun 2004 menentukan kewajiban bagi dokter dan dokter gigi untuk memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien. Demikian pula pasal 52 c UU No. 29 Tahun 2004 menentukan pasien dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran mempunyai hak mendapatkan pelayanan sesaui dengan kebutuhan medis. 5. Dalam pasal 44 ayat (1) dan (2) UU No. 29 Tahun 2004 yang berbunyi dokter atau dokter gigi dalam

menyelenggarakan praktik kedokterannya wajib mengikuti standar pelayanan kedokteran atau kedokteran gigi dengan memperhatikan jenis dan strata pelayanan kesehatan. Demikian pula pasal 51 a UU No. 29 Tahun 2004 menentukan dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik

8. 8. kedokteran mempunyai kewajiban memberikan pelayanan medis sesuai

dengan standar profesi dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien. 6. Melakukan perbuatan yang mengakhiri

kehidupan pasien atas permintaan sendiri dan atau keluarganya. (Fatwa IDI No. 231/PB/4/7/1990 dan World Medical Association : Declaration of Euthanasia) (Madrid, 1987) 7. Menjalankan praktik kedokteran dengan menerapkan

pengetahuan atau keterampilan atau teknologi yang belum di terima atau di luar tata cara praktik kedokteran yang layak. Artinya ada kewajiban bagi dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan profesinya berdasarkan kompetensi,

sebagaiman Pasal 27 UU No. 29 Tahun 2004 menentukan, bahwa pendidikan dan pelatihan kedokteran atau kedokteran gigi, untuk memberikan kompetensi kepada dokter atau dokter gigi, dilaksanakan sesuai dengan standar pendidikan profesi kedokteran atau dokter gigi. Sedangkan Pasal 28 UU No. 29 Tahun 2004 menentukan kewajiban dokter dan dokter gigi mengikuti pendidikan dan

pelatihan berkelanjutan yang diselenggarakan oleh organisasi profesi dan lembaga lainyang diakreditasi oleh organisasi profesi dalam rangka penyerapan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran atau kedokteran gigi. Pasal 27, 28, dan 51 a UU No. 29/2004. 8. Ketergantungan pada narkotika,

psikotropika, alkohol serta zat adiktif lainnya. Dalam Pasal 29 ayat (3) c UU No. 29 Tahun 2004 menentukan untuk memperoleh surat tanda registrasi dokter dan dokter gigi harus memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental. Apalagi dalam UU No.22 Tahun 1997 Tentang Narkotika dan UU No. 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika, mengatur tentang penggunaan narkotika dan psikotropika, selain untuk kepentingan kedokteran. 9. Melakukan penelitian dalam praktik

(8)

memperoleh persetujuan etik dari lembaga yang diakui pemerintah. Kegiatan tersebut telah dilarang oleh World Medical Association: Deklarasi Helsinki (1964) yang diamandemen di Venesia (1983). 10. Tidk melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, padahal tidak menbahyakan dirinya, kecuali ia yakin bahwa ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya. Dalam Pasal 51d UU No. 29 Tahun 2004 menyatakan, bahwa dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran berkewajiban melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya. 11. Menolak atau menghentikan tanpa alasan, pengobatan terhadap pasien tanpa alasasan yang layak dan sah. Perbuatan tersebut bertentangan dengan Pasal 51a dan 52c UU No.29 Tahun 2004 yang mengatur pelayanan medis harus sesuai dengan standar profesi, standar prosedur operasional dan kebutahn medis pasien. 12. Melakukan

tindakan medik tanpa memperoleh persetujuan dari pasien atau keluarga dekat atau wali atau pengampunya. Pasal 45 UU No.29 Tahun 2004 mengatur tentang tindakan-tindakan dokter dan dokter gigi harus mendapatkan persetujuan dari pasien atau keluarga, baik persetujuan secara tertulis maupun tidak tertulis, selanjutnya Pasal 52d UU No. 29 Tahun 2004 menyatakan pasien mempunyai hak untuk menolak tindakan medis, demikian pula diatur dalam Permenkes No. 1419/2005 Pasal 17 13. Membuka rahasia kedokteran. Pasal 48 UU No. 29 Tahun 2004 Menentukan:

9. 9. a. Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedoteran wajib menyimpan rahasia kedokteran; b. Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien sendiri atau

berdasarkan ketentuan perundang-undangan; Demikian pula Pasal 51c UU No. 29 Tahun 2004 menentukan kewajiban dokter atau dokter gigi dalam melaksakan praktik kedokteran wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia, bahkan Permenkes No. 1419/2005 Pasal 18 dan PP No. 10 Tahun 1966 mengatur kewajiban simpan rahasia kedokteran. 14. Tidak memberikan penjelasan yang jujur, etis dan memadai kepada pasien atau keluarganya dalam dalam

melakukan praktik kedokteran. Pasal 45 ayat (2) dan (3) menyatakan bahwa persetujuan atas tindakan kedokteran atau kedokteran gigi diberikan setelah pasien mendapat penjelasan secara lengkap, sekurang-kurangnya mencakup: a. Diagnosis dan tata cara tindakan medis. b. Tujuan tindakan medis yang

(9)

praktik. 18. Tidak memberika informasi, dokumen dan alat bukti lainnya yang diperlukan MKDKI untuk pemeriksaan atas dugaan pelanggaran disiplin. Perkonsil No. 16/KKI/PER/VIII/2006 Pasal 3 ayat (5) tentang tata cara penanganan kasus dugaan pelanggaran disi[lin dokter dan dokter gigi oleh MKDKI dan MKDKI-P. 19. Menggunakan gelar akademik atau sebutan profesi yang bukan haknya UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional mengatur larangan

penggunaan gelar akademik atau profesi

10.10. yang bukan haknya. Demikian pula Kode Etik Kedokteran mengatur tentang penggunaan gelar akademik. 20. Meresepkan atau memberikan obat golongan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya yang tidak sesuai dengan

peraturan perundang-undangandan etika profesi. Perbuatan tersebuat diatas sudah diatur dalam UU No.22 Tahun 1997 Tentang Narkotika dan UU No.5 Tentang Pesikotropika 21. Melakukan perbuatan yang bertujuan untuk

menghentikan kehamilan yang tidak sesuai dengan ketentuan, sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan dan etika profesi. Pasal 15 UU No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan, menyatakan bahwa dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu hamil dan janinnyadapat dilakukan tindakan medis tertentu dengan pertimbangan: a. Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut; b. Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan ahli; c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya; d. Pada saran kesehatan tertentu 22. Dengan sengaja, tidak membuat atau menyimpan rekam medik, sebgaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan atau etika profesi. Pasal 46 UU No. 29 Tahun 2004 mengatur tentang kewajiban dokter dan dokter gigi membuat rekam medis. Demikianlah pula diatur dalam

Permenkas No. 1419/2005 Pasal16. Seluruhnya ada 28 butir bentuk pelanggara disiplin kedokteran dalam Perkonsil Nomor 17/KKI/KEP/VIII/2006, Tentang

Pedoman Penegakan Disiplin Profesi Kedokteran. PELANGGARAN ETIK DOKTER DI RUMAH SAKIT Pelayanan rumah sakit pada masa kini jauh lebih komplek

dibandingdengan beberapa dasawarsa sebelumnya.Situasi pelayanan kesehatan yang komplek ini seringkali kurang dipahami oleh pasien,keluarga dan

masyarakat, dan dokter kesulitan menjelaskan hal ini sehingga berakibat pada munculnya berbagai keluhan,ketidakpercayaan kepada pemberi jasa pelayanan kesehatan.Kompleksitas pelayanan rumah sakit ini terkadang akan menimbulkan pelanggaran etik oleh dokter atau petugas pelayanan rumah sakit. Dokter dan Dokter Gigi dalam melaksanakan tugasnya terikat oleh norma etik yaitu suatu norma yang terkait dengan nilai-nilai moral menyangkut baik atau buruk pantas atau tidak pantas suatu perbuatan itu dilakukan oleh seorang Dokter atau Dokter Gigi.Kode etik kedokteran atau kode etik kedokteran gigi adalah pedoman yang disusun oleh organisasi profesi IDI atau PDGI.Norma etik disusun untuk mengatur norma perilaku pelaksanaan profesipara Dokter dan Dokter Gigi.Perbuatan Dokter dan Dokter Gigi di rumah sakit yang dinilai secara moral buruk atau tidak pantas dilakukan maka yang bersangkutan dinilai telah melakukan pelanggaran kode etik. Pengaduan terhadap Dokter atau Dokter Gigi yang diduga telah melakukan pelanggaran etik dirumah sakit dapat diproses oleh komite etik (disiplin) dan Hukum,dan jika terbukti Dokter atau

(10)

tergantung pada kasusnya.Berikut ini salah satu contoh pelanggaran etik yang dilakukan dokter berkaitan dengan peresepan obat. Agus Purwadianto ,Kepala Biro Hukum dan Organisasi Departemen Kesehatan RI,sekaligus Ketua MKEK PB IDI sekarang mengatakan: Praktik Kolusi antara dokterdan perusahaan farmasi ini sudah melanggar etik disiplin kedokteran,sebab dokter memberikan resep bukan berdasarkan penyakit pasien,melainkan gejala penyakit yang diperkirakan dokter sebelumnya.Obat yang diresepkan pun berdasarkan kontrak perusahaan farmasi dengan dokter.Kartono Mohammad,mantan ketua PB IDI mengatakan,bahwa adanya perselingkuhan diantara produsen obat dengan dokter memang sulit dibuktikan,dan obat yang tidak perlu diberikan ,tetapi ditulis didalam resep. (Sumber : www.media.komunikasi.com tanggal 13 Maret 2008) PELANGGARAN DISIPLIN DOKTER DIRUMAH SAKIT Dugaan telah terjadi pelanggaran disiplin kedokteran di rumah sakit,maka kasusnya sebaiknya dapat segera dilakukan kajian atau analisa.Setiap kasus yang muncul dugaan pelanggaran disiplin ,dibuatkan laporan ke Direktur, dan Direktur berkoordinasi dengan Komite etik (disiplin) dan hukum untuk dikaji dan diadakan forum penegakan etik,disiplin dan hukum oleh KERS. Rumah sakit belum semuanya mempunyai komite etikj

(disiplin) dan hukum sehingga penanganan di rumah sakit dapat digantikan oleh komite medik,khususnya di panitia etik profesi medik. Dugaan pelanggaran disiplin kedokteran jika terbukti ,maka direktur sebagai eksekutor dapat

memberikan peringatan kepada sejawat dokter yang bersalah,bisa peringatan lisan,peringatan tertulis sampai dengan pembatasan kewenangan penanganan pasien,jika direkomendasikan oleh komite medik,bahkan jika sudah melebihi batas toleransi,dapat dilakukan “PHK”. Pelanggaran disiplin kedokteran yang disertai dengan tuntutan pasien,maka sebelum kasusnya keluar,maka sebaiknya diselesaikan secara cepat oleh pihak rumah sakit,khususnya dokter yang

bersangkutan.Jika diperlukan maka komite etik (disiplin) dan hukum dapat mengambil peran memfasilitasi penyelesaiannya atau jika perlu sebagai mediator.Kasus gugatan pasien atas pelanggaran disiplin kedokteran bisa di mediasi oleh pihak ketiga/mediator professional,sebelum kasusnya keluar rumah sakit dan dilaporkan ke MKDKI. Kasus dugaan pelanggaran disiplin yang sudah terlanjur diadukan ke MKDKI,tidak dapat dicabut pengaduannya jika sudah sampai disidangkan di Majelis Pemeriksaan Disiplin (MPD),tetapi jika baru disidangkan di Majelis Pemeriksaan Awal (MPA) maka pengadu dapat mencabut aduannya.Untuk itu,upaya mediasi untuk “damai” masih dimungkinkan sebelum ada sidang MPA . PELANGGARAN HUKUM DOKTER DI RUMAH SAKIT Dugaan pelanggaran hukum yang terjadi di sarana pelayanan kesehatan akan berdampak luas dalam proses penyelesaiannya,apalagi jika kasusnya telah keluar dari rumah sakit.Rumah sakit pemerintah

12.12. dengan rumah sakit swasta berbeda cara mencari solusinya,karena rumah sakit pemerintah,para dokternya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS),yang

berstatus sebagai dokter organic,berbeda dengan rumah sakit swasta,khususnya yang mayoritas para dokternya adalah dokter mitra.Upaya “damai” dalam kasus pelanggaran hukum,maka sebaiknya cepat diselesaikan,khusunya oleh dokter yang bersangkutan karena kasus hukum adalah soal tanggung jawab pribadi lebih dominan.Peran Komite Etik,(Disiplin),dan Hukum Rumah Sakit

(11)

mediasi atau sanksi perdata/denda uang,maka sesuai aturan hospital

bylawsbagaimana rumah sakit mengatur besaran masing-masing kontribusi pihak yaitu rumah sakit dan pihak dokter tergugat.Keputusan “bagi hasil sanksi” tiap rumah sakit bisa berbeda.Potongan jasa medis rumah sakit bisa sebagai acuan dalam pembagian ‘urunan’ biaya gugatan pasien. Permasalahan gugatan pasien sampai ke pengadilan atau ke kepolisian,maka pihak rumah sakit

disamping menyediakan pengacara hukum,juga menyiapkan berbagai hal untuk kepentingan sidang. Berdasarakan peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 16/KKI/PER/VII/2006,pembuktian dalam pemeriksaan pelanggaran disiplin

kedokteran dan kedokteran gigi meliputi alat bukti : a. Surat b. Keterangan saksi c. Pengakuan teradu d. Keterangan ahli e. Barang bukti GW Paton membagi alat bukti menjadi 3, yaitu oral evidence (saksi,pengakuan teradu dan keterangan ahli),documentary evidence (buku,tulisan atau dokumen),material

evidence(barang bukti). 1. Surat Pemeriksaan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia menggunakan pedoman dasar Hukum Acara

Perdata,sehingga pemeriksaan surat yang dimaksud dalam alat bukti menurut Konsil Kedokteran Indonesia memiliki kesamaan dengan surat yang dipergunakan dalam Hukum Acara Perdata. 2. Keterangan Saksi Keterangan saksi adalah

keterangan dari orang yang melihat,mendengar dan atau mengalami sendiri adanya suatu pelanggaran.Dalam pasal 169 HIR telah menetapkan asas

“seorang saksi,bukan saksi” artinya untuk menetapkan suatu kebenaran harus didasarkan atas sedikit-sedikitnya 2(dua) orang saksi,kecuali ada bukti lain.Hal ini yang harus diperhatikan MKDKI. 3. Pengakuan

13.13. Pengakuan dalam Hukum Acara Perdata diatur dalam pasal 174 HIR dan pasal 1923 s/d 1928 KUHPerdata.Pengakuan merupakan suatu pernyataan dengan bentuk tertulis atau lisan dari salah satu pihak yang berperkara. 4. Keterangan Ahli Keterangan ahli merupakan pendapat yang disampaikan oleh orang yang memiliki pengalaman dan pengetahuan khusus dan disampaikan dihadapan sidang.Pengadilan tidak sekali-kali diwajibkan mengikuti pendapat ahli. 5. Barang bukti Barang bukti,dalam peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 16/KKI/VII/2006 disebut sebagai alat bukti,sedangkan dalam hukum acara perdata dan pidana barang bukti ditampung dalam persangkaan. PENUTUP 1. Rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan,berkumpul berbagai profesi dan dalam proses pelayanan terkait oleh berbagai aturan atau SPO, sehingga sangat rawan terjadinya “medical errors” yang berakibat gugatan pasien 2. Dokter dan dokter gigi dimungkinakan melakukan pelanggaran norma etik, norma disiplin dan norma hukum dalam menjalankan tugasnya. 3. Komite medik bukan SPSI medis atau IDI ranting rumah sakit,tetapi mitra manajemen dalam peningkatan mutu pelayanan,keselamatan pasien dan profesionalisme dokter. 4. Komite etik,(disiplin) dan hukum bertugas menjalankan kode etik RS,dan dapat akomodir tugas sub komite etik profesi medik.KERS dapat menjadi mediator gugatan pasien di internal RS. 5. Patient safety merupakan gerakan RS untuk keselamatan pasien dan meningkatkan mutu pelayanan yang harus ada di setiap RS. 6. Ketidakpuasan pasien yang berujung pada gugatan pasien perlu

diselesaikan secara cepat agar tidak berkembang keluar rumah sakit dan tidak terkontrol. 7. Rumah sakit ikut bertanggung jawab terhadap adanya gugatan pasien,termasuk jika ada sanksi denda/uang.

(12)

Dokter Gigi: Tesis Magister Hukum kesehatan,Edi Sumarwoto. 4. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia No.16/KKI/Per/VIII/2006 Tentang Tata Cara Penanganan Kasus Dugaan Pelanggaran Disiplin Dokter dan Dokter Gigi oleh Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia di Tingkat Provinsi 5. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 17/KKI/Per/VII/2006 Tentang Pedoman Penegakan Disiplin Profesi Kedokteran. 6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.512/Menkes/Per/VI/2007 Tentang Izin Praktek dan Pelaksanaan Praktek Kedokteran. 7. Soewono,Hendrojono,Batas Pertanggungjawaban Hukum Malpraktek Dokter Dalam Transaksi Terapeutik,Surabaya : Srikandi,2007. 8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan. 9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 755/Menkes/Per/IV/2011, komite medik adalah  perangkat rumah sakit untuk menerapkan tata kelola klinis (clinical governance) agar staf  medis di rumah sakit terjaga profesionalismenya melalui mekanisme kredensial, penjagaan  mutu profesi medis, pemeliharaan etika dan disiplin profesi medis. Melalui peran aktif komite  medik, diharapkan staf medis dapat mewujudkan tata kelola klinis yang baik agar mutu  pelayanan medis dan keselamatan pasien di rumah sakit lebih terjamin dan terlindungi.

Permenkes tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja komite  medis di rumah sakit, serta diharapkan dapat meluruskan persepsi keliru yang menganggap  komite medik sebagai wadah untuk memperjuangkan kesejahteraan para staf medis.  Sejalan dengan semangat profesionalisme, sudah seharusnya komite medik melakukan  pengendalian terhadap kompetensi dan perilaku para staf medis agar keselamatan pasien  terjamin. Sehingga melalui Permenkes ini “professional self governance” ditata kembali  dengan meletakkan struktur komite medik di bawah Kepala / Direktur Rumah Sakit,  mengingat di Indonesia, Kepala / Direktur Rumah Sakit sampai pada tingkat tertentu  berperan sebagai “governing board”.

Untuk mewujudkan hal itu maka semua pelayanan medis yang dilakukan oleh setiap staf  medis di rumah sakit dilakukan atas penugasan klinis Kepala / Direktur Rumah Sakit, berupa pemberian kewenangan klinis (clinical privilege) oleh Kepala / Direktur Rumah Sakit melalui  penerbitan surat penugasan klinis (clinical appointment) kepada staf medis yang 

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi berjudul “ Evaluasi Sistem Rekam Medis Berbasis Komputer Pada Rumah Sakit Gigi Dan Mulut (RSGM) Universitas Jember ” telah diuji dan disahkan pada :.. hari, tanggal

29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, Pasal 46 Ayat 1, rekam medik adalah berkas yang berisi catatan dan dokumentasi mengenai identitas pasien, pemeriksaan,

Perbuatan Terdakwa sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 76 Undang- undang RI No.29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran “setiap dokter atau dokter gigi

(a) Pasal 75 (1) Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat

 Dalam UU no 29 tentang Praktik Kedokteran tahun 2004 pada bagian penjelasan pasal 46 ayat (1), yang dimaksud dengan rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan

Penyedia layanan kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, laboratorium klinik, klinik kedokteran/gigi dan sebagainya menghasilkan limbah dalam operasionalnya yang memiliki

Sesuai dengan penjelasan pasal 46 ayat 1 UU No,29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran disebutkan bahwa, yang dimaksud “ Rekam Medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen

Uraian Tugas/Tupoksi Dari Pengelolaan Unit Kerja Rekam Medis Di Rumah Sakit Dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 30