• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kenaikan Berat Badan Antar Dialisis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kenaikan Berat Badan Antar Dialisis"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KENAIKAN BERAT BADAN ANTAR DIALISIS Sumi Ramadhani

Divisi Nefrologi Hipertensi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan

PENDAHULUAN

Dialisis atau disebut juga dengan ‘cuci darah’ secara awam, merupakan terapi pengganti ginjal bagi pasien gagal ginjal kronik (GGK) selain transplantasi ginjal

yang biayanya jauh lebih mahal. Dikenal dua macam terapi dialisis, yaitu

hemodialisis dan peritoneal dialisis. Kedua jenis dialisis ini menggunakan cairan ‘pencuci’ yang disebut dengan dialisat. Memakai prinsip perpindahan cairan antar kompartemen pembuluh darah dan dialisat melalui selaput semipermeabel sintetis

(pada hemodialisis) dan alami (pada peritoneal dialisis), maka cairan berlebih, ureum,

atau zat toksik lainnya dapat dikeluarkan dari tubuh pasien gagal ginjal.1

Kenaikan berat badan antar dialisis merupakan salah satu masalah yang cukup

mengganggu praktisi kesehatan yang menangani pasien-pasien GGK. Tidak hanya menurunkan kualitas hidup pasien, namun mencerminkan ‘compliance’ pasien dan adekuasi dialisis yang kurang baik. Terdapat dua faktor utama yang berperan dalam

(2)

OVERLOAD, COMPLIANCE, DAN ADEKUASI DIALISIS

Kelebihan Cairan Pada Pasien GGK

Kelebihan cairan, khususnya pada penderita GGK kebanyakan berasal dari asupan

cairan dan garam yang berlebih, serta kurangnya adekuasi/efisiensi dialisis. Secara

fisiologis, ginjal mempertahankan homeostasis cairan tubuh dengan cara mengontrol

volume cairan ekstraseluler melalui pengaturan ekskresi natrium dan air. Hormon

antidiuretik (ADH), disekresikan sebagai respon terhadap perubahan dalam volume

darah, tonisitas dan tekanan darah untuk mempertahankan keseimbangan cairan

tubuh. Secara umum, seperti penyakit kronis lainnya, penyebab edema/overload pada GGK ialah peningkatan tekanan hidrostatik kapiler, naiknya permeabilitas kapiler

atau tekanan osmotik interstisial, dan penurunan tekanan osmotik plasma.2

Yang penting juga diketahui ialah konsep Volume Darah Arteri Efektif (VDAE) bagi

pasien gagal ginjal dengan masalah jantung. VDAE ialah volume darah arteri yang

adekuat untuk mengisi keseluruhan kapasitas pembuluh darah arteri. VDAE normal

ialah apabila curah jantung terhadap resistensi pembuluh darah perifer seimbang.

VDAE dapat berkurang pada kondisi perdarahan, dehidrasi, gagal jantung, dan

kondisi pro inflamasi seperti sepsis dan sirhosis hepatis. Penurunan VDAE akan

memicu ginjal untuk mengaktifkan sistem renin angiotensin aldosteron (RAAS) serta

hipotalamus mengaktivasi pelepasan ADH yang menyebabkan retensi natrium dan

air. Sayangnya, hormon ADH ini juga akan merangsang pusat haus, sehingga pasien

akan bertambah banyak minumnya. Beban overload ini semakin berat pada pasien

GGK yang komposisi cairan tubuhnya memang sudah terganggu.2

Dialisis dan IDWG

IDWG tidak terlepas dari adekuasi dialisis, yang diukur dengan ureum reduction ratio (URR) dan Kt/V atau bersihan ureum oleh dialiser/alat.3,4,5 Sebagai jenis dialisis terbanyak dilakukan, adekuasi hemodialisis tergantung kualitas dialiser, membran

dialiser, cairan dialisat, dan compliance pasien.3,4 Jenis membran dialiser non selulosa memiliki resiko aktivasi komplemen yang lebih rendah, resiko syok juga rendah

(3)

dialisis efisien. Selain itu dialisat yang steril juga menurunkan resiko endotoksin dan

menurunkan komplikasi dialisis. Kadar natrium dialisat berkisar 135-145 meq/l.

Dialisat hipotonik telah diteliti mengurangi resiko hipertensi dan hipernatremia pasca

dialisis, namun gangguan hemodinamik lebih tinggi. Sementara itu dialisat hipertonik

bersifat sebaliknya, ditambah berkurangnya resiko kelainan miokardium dan

endotoxemia. Namun perlu diingat, rasa haus dan IDWG akan lebih tinggi pada

pasien dengan dialisat hipertonik.1,3

Waktu dan frekuensi dialisis telah dikemukakan sebagai faktor yang juga

mempengaruhi adekuasi dialisis. Sekarang telah banyak diteliti mengenai dialisis

waktu panjang/long conventional dialysis, long nocturnal dialysis, serta short daily dialysis. Meskipun begitu, pada dialisis konvensional 5 jam 2 kali seminggu, dikatakan adekuat bila URR> 80% dan rentang Kt/V antara 1,2-1,5.1,4

Dikenal juga metode ultrafiltrasi yang diatur menggunakan alat dialisis dapat

digunakan untuk menarik cairan ekstraseluler yang berlebih. Keadaan hipernatremia

dapat ditanggulangi dengan menggunakan dialisat dengan natrium dibawah

konsentrasi natrium predialisis (metode transpor difusi).3

Berat Kering/Dry Weight (DW) dan IDWG

Berat kering paling baik diartikan sebagai berat terendah (diluar cairan berlebih)

seorang pasien dapat mentoleransi dialisis tanpa menimbulkan gejala hipotensi.

Karena DW fisiologis biasanya dihasilkan oleh fungsi ginjal, permeabilitas vaskuler,

konsentrasi protein serum, dan regulasi air tubuh dalam keadaan normal, maka untuk

pasien dialisis secara teori adalah lebih rendah untuk mencegah kenaikan IDWG. Di

berbagai sentra, penentuan DW ini sering disertai trial and error, karena penentuannya yang belum baku. Sering hanya melihat gejala overload cairan dan

hipertensi post dialisis.5

Penghitungan yang akurat terhadap volume cairan tubuh tergantung 3 hal, yaitu (1) Kapasitas cairan kompartemen ekstraseluler (ECF) dan intraseluler (ICF), (2) Jumlah cairan per kompartemen, dan (3) Kandungan zat solut, misalnya natrium, yang mempengaruhi perpindahan cairan antar kompartemen, IDWG, dan pengeluaran

cairan selama dialisis. 2,5

(4)

bersamaan, sisa nefron yang masih berfungsi baik akan berusaha untuk

menyeimbangkan kadar garam dan volume cairan. Kegagalan selanjutnya

menimbulkan banyak sel yang mengkerut dan terbentuk ruang ekstraseluler yang

lebih luas. Ketika proses dialisis nantinya menurunkan kadar ureum, kenaikan BMI

dan cairan ekstraseluler dapat terjadi tanpa terdeteksi. Masalah lain yang sering

timbul ialah terdapatnya fakta bahwa pasien dengan IDWG tinggi selalu DWnya tidak

tercapai dan memiliki resiko hipotensi intradialisis yang tinggi, meskipun terlihat

tanpa edema dan tekanan darah selalu normal setelah dialisis (silent hypervolemia). Monitoring tekanan darah berkelanjutan selama 12 jam dikatakan dapat mengurangi

kejadian ini.5

Beberapa biomarker yang terus diteliti untuk membantu menentukan DW dan

keadaan hipervolemia untuk mencegah kenaikan IDWG seperti kadar hormon atrial

natriuretic peptide (ANP) dan kadar cyclic guanidinie monophosphate (cGMP) yang

akan meninggi pada overhidrasi. Begitu pula pemeriksaan bioimpedance (BIA),

pengukuran diameter vena cava, monitoring tekanan darah berkelanjutan, yang telah

diteliti, apabila keseluruhan modalitas ini digabungkan, hasilnya lebih bermakna.5

Malnutrisi, Asupan Air dan Garam pada GGK IDWG dan Malnutrisi

Kenaikan IDWG karena malnutrisi mengikuti teori underfilling dan sindroma wasting, karena rendahnya kadar albumin pasien. Beberapa survey menunjukkan bahwa 40% pasien dengan gagal ginjal mengalami malnutrisi terutama Protein-Energi

malnutrisi. Penyebab malnutrisi ini disebabkan oleh berbagai faktor, dimana tersering

penyebabnya adalah intake makanan yang kurang. Indikator status gizi seperti turunnya intake makanan dan massa otot merupakan salah satu penyebab secara independen terhadap kematian 12 bulan lebih dini.6 Komplikasi gastrointestinal

sering terjadi pada pasien, yang menyebabkan turunnya intake makanan dan malnutrisi. Pengobatan komplikasi gastrointestinal dapat memperbaiki status gizi

pada pasien. Faktor yang mempengaruhi nutrisi pasien dialisis pada GGK yaitu:

selera makan/appetite menurun (anoreksia, uremia, gastroparesis), pembatasan diet, kehilangan zat gizi selama dialisis, proses katabolik (demam, infeksi, inflamasi

(5)

hiperglucogenemia). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penurunan nilai GFR

(<50 mL/menit) diikuti juga dengan penurunan intake kalori dan energi. Penyebab malnutrisi lainnya pada pasien gagal ginjal adalah meningkatnya kehilangan zat gizi.

Pada pasien dialisis, akan terjadi kehilangan asam amino sebanyak 6-12 gram, 2-3

gram peptida dan sedikit protein per sesi dialisis. Selama dialisis peritoneal, pasien

akan mengalami kehilangan asam amino sebesar 2-4gram, tetapi pada realitanya

kehilangan ini meningkat menjadi 8-9 gram(termasuk 5-6 gram albumin). Pasien

dengan peritonitis akan mengalami kehilangan protein total sebesar 15 gram per sesi

dialisis, hingga peritonitis diatasi.1,6

Beberapa pemeriksaan rutin mengenai status nutrisi yang disarankan seperti:

pemeriksaan albumin serum dan indeks antropometri setiap bulan, Subjective Global

Assessment (kuesioner) dan evaluasi diet minimal setiap 6 bulan.7

Asupan Natrium & Air

Secara fisiologis, keseimbangan natrium dan volume plasma ekstraseluler diatur oleh

ekskresi natrium renal. Saat terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR),

kompensasi ginjal ialah dengan menaikkan fraksi ekskresi natrium (FNA). Namun

pada GGK, mekanisme kompensasi ini menurun, sehingga diet rendah garam

sekalipun (120-200 mmol/hari) terkadang masih menimbulkan retensi natrium. Pada

pasien GGK dengan dialisis, asupan natrium berlebih terbukti menaikkan IDWG,

resiko hipertensi, edema, dan gagal jantung.7,8

Seiring dengan retensi natrium, GGK juga menimbulkan retensi cairan. Kelebihan

asupan air akan memperberat overload volume dan menaikkan IDWG, dimana air mempengaruhi tonus plasma dan volume sel-sel tubuh. Stimulasi rasa haus dan FNA

renal merupakan dua komponen utama dalam menjaga keseimbangan cairan

tubuh.7,9,10

Penatalaksanaan Kenaikan IDWG

Dalam mencegah dan terapi kenaikan IDWG sebaiknya mempertimbangkan hal-hal

(6)

a. Meningkatkan compliance pasien terhadap dialisis:

- Hemodialisis dengan metode short daily hemodialysis (SDHD), long

nocturnal daily hemodialysis (LNDHD), dan long conventional

hemodialysis (LHD) telah direkomendasikan oleh banyak penelitian dapat

menurunkan IDWG, memperbaiki Kt/V dan DW, serta menurunkan

komplikasi kardiovaskuler.9

- Menjaga kualitas dialiser, memperhatikan peresepan dialisat yang

disesuaikan dengan keadaan pasien GGK.4,5,9

b. Memperbaiki nutrisi pasien dialisis, khususnya energi kalori dan protein:

- Kebutuhan Kalori : Menurut National Kidney Foundation, kebutuhan kalori pada pasien gagal ginjal pada hemodialisis dalam kondisi metabolik

yang seimbang adalah 30-35 kalori/Kg. Pada pasien yang dihemolisis

dengan menggunakan metode CAPD, sekitar 200-300 kalori dari

dekstrosa dalam larutan dialisat, sehingga kalori ini perlu diperhatikan.

Sedangkan pada pasien dengan gagal ginjal yang mengalami edema, perlu

diketahui berat badan aktual pasien agar pemenuhan kebutuhan energi

dapat diketahui. Berdasarkan National Kidney Foundation dan data

NHANES II berat badan perkiraan (berdasarkan perhitungan rumus)

digunakan dalam menentukan energi. Rumus untuk mengetahui berat

badan perkiraan adalah sebagai berikut: berat badan ideal+[(aktual

edema-free weight-idealweight)x0,25]1,6,8

- Kebutuhan protein pada pasien gagal ginjal sangat bergantung pada jenis gagal ginjal yang dialami oleh pasien dan jenis dialisis yang

dilakukan oleh pasien. Pada pasien dewasa dengan gagal ginjal kronis

yang tidak menerima dialisis, maka konsumsi nitrogen per kilogram

bahan makanan adalah 0,6 gram apabila kebutuhan kalori terpenuhi dan

protein yang dikonsumsi harus berasal dari protein dengan nilai biologis

yang tinggi. Penurunan asupan protein dapat mereduksi sindroma

uremikum dan menghambat dialisis pada pasien dengan gagal ginjal

kronis yang stabil. Pada pasien dengan hemodialisis, maka kebutuhan

kalori sebesar 1,2 gram per kilogram berat badan per hari untuk pasien

dengan dialisis yang stabil dan sebesar 1,2-1,3 gram untuk pasien dengan

(7)

c. Seimbangkan asupan garam, elektrolit serta cairan

- Asupan natrium: dianjurkan 40-120 meq/hari dan 2,54-3,82 g/hari sebagai

garam. Selain garam, elektrolit lainnya yang harus diperhatikan ialah

kalium 70-80 meq/hari, kalsium ≤ 1 mg/hari, dan fosfat 10-17 mg/KgBB/hari.1,2,7,8

- Asupan cairan: dianjurkan 750-1500 ml/hari, termasuk air dari makanan.

Namun anjuran ini sifatnya tidak kaku. Hati-hati pada keadaan dehidrasi

atau overhidrasi. Sebaiknya dihitung balance cairan menggunakan berat aktual. Perhatikan juga kondisi penyulit pada masing-masing pasien

GGK.5,7

- Rasa haus yang timbul akibat xerostomiasis ataupun keadaan rongga

mulut dan gigi yang kurang higienis sebaiknya segera ditanggulangi, agar

pasien GGK tidak semakin banyak minum. Hindarilah penambahan

obat-obatan yang mengganggu kerja kelenjar saliva, serta menjaga kadar gula

darah bagi penderita diabetes.10

d. Terapi farmakologi:

Penggunaan diuretik tidak dapat berdiri sendiri, namun harus disertai

penanganan kenaikan IDWG lainnya. Hal ini disebabkan perbedaan waktu

paruh macam-macam diuretik. Golongan tiazid memiliki waktu paruh yang

panjang sehingga dapat diberikan satu kali atau dua kali sehari, sementara

loop diuretic seperti furosemide dan bumetanid waktu paruhnya singkat sehingga pemberiannya 3-4 kali per hari. Efek loop diuretic kemudian akan di counter oleh ginjal sehingga terjadi retensi natrium kembali (Post diuretic sodium chloride retention). Karena itu, retensi garam sangat penting bagi pasien yang menggunakan obat golongan ini.2

KESIMPULAN

o Kenaikan IDWG merupakan masalah yang sering timbul pada pasien GGK

yang apabila tidak ditangani secara tepat, dapat menurunkan compliance pasien terhadap dialisis dan menurunkan kualitas hidup.

o Dalam penatalaksanaan kenaikan IDWG perlu dipahami mengenai adekuasi

dialisis, dry weight, asupan nutrisi, elektrolit, dan cairan bagi pasien GGK.

(8)

DAFTAR PUSTAKA

1. Rahardjo P., Susalit E., Suhardjono, Hemodialisis, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, edisi V, Interna Publishing, Jakarta, 2010, hal. 1050-1052

2. Effendi I., Pasaribu R., Edema Patofisiologi dan Penanganan, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, edisi V, Interna Publishing, Jakarta, 2010, hal. 946-951

3. Hecking M., et al, Dialysate Sodium Concentration and the Association with Interdialytic Weight Gain, Hospitalization, and Mortality, dalam Clinical Journal of American Society of Nephrology, volume 7, Januari, 2012, hal. 92-100, diambil dari www.cjasn.org

4. K/DOQI Clinical Practice Guidelines and Clinical Practice Recommendations, 2006, Updates Hemodialysis adequacy Peritoneal Dialysis Adequacy Vascular Access,. Am J Kidney Dis 2006; 48(Suppl 1), diambil dari www.uptodate.com 5. Jaeger JQ, Mehta RL, Assessment of Dry Weight in Hemodialysis: An Overview, dalam Journal of American Society of Nephrology, volume 10, hal. 392–403, 1999

6. Kusuma RJ, Manajemen Diet Untuk Pasien dengan Gagal Ginjal, diambil dari www.scribd.com

7. Zadeh KK, Kople JD, Nutritional Management of patients undergoing maintenance hemodialysis, dalam Kopple and Massry’s Nutritional Management of Renal Disease, Lippincott-Williams & Wilkins, hal. 433-466, diambil dari books.google.co.id

8. Heimbϋrger O, Stenvinkel P, Lindholm B, Nutritional Effects & Nutritional Management of Chronic Peritoneal Dialysis, dalam Kopple and Massry’s Nutritional Management of Renal Disease, Lippincott-Williams & Wilkins, hal. 477-480, diambil dari books.google.co.id

9. Chazot C., Jean G., The advantages and challenges of increasing the duration and frequency of maintenance dialysis sessions, dalam Nature Clinical Practice Nephrology, volume 5, no. 1, 2009, diambil dari www.nature.com/clinicalpractice

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang akan dilaksanakan ini berjudul ” Hubungan Lama Penggunaan Komputer dengan Kejadian Miopia di Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi Departemen

Dimana Jaran-jaranan (kuda) ini hanya dilaksanakan apabila ada upacara besar di Pura Khayangan Tiga di Desa Pakraman Tanggahan Peken pada saat upacara memasar

C merupakan bahasa universal dalam bidang pegembangan software dan banyak digunakan pada mesin-mesin dan komputer, banyak sekali software sistem yang dibuat dengan C karena

Untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya heteroskedastisitas di dalam model regresi, dapat dideteksi dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel dependen (ZPRED)

1) Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengetahui kondisi dunia kerja yang sesungguhnya. 2) Mengimplementasikan ilmu sesuai konsentrasi selama masa perkuliahan ke dunia

STRATEGI INISIATIF PROGRAM KERJA SUB PROGRAM KERJA SASARAN KPI TARGET (Mengacu Tabel ANGGARAN 3.17) WAKTU PELAKSANAAN b. Menetapkan besaran tarif jasa pelayanan

Karena daya pikiran manusia tidak dapat menjangkau apa yang ada dibalik alam maya pada, maka perlu disambungkan dengan bimbingan sang pencipta melalui

Program Latte v1.2 yang menerapkan algoritma binary search dari metode barvinok rational function mempunyai waktu eksekusi program yang lebih cepat dibandingkan dengan waktu