PKL Ari revisi 8 terbaru

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman yang penting di dunia dan diproduksi di semua benua. Salah satu pusat asal-usul pembudidayaan padi diperkirakan adalah Asia Tenggara yaitu India Timur, Indo Cina, Cina Selatan, dan Afrika.

Indonesia mengenal padi sejak abad ke-7, bahkan mungkin lebih awal. Sampai saat ini kehidupan sosial, ekonomi, dan budidaya petani seakan tidak dapat dipisahkan dari padi. Padi juga telah mendorong berkembangnya teknologi budidaya pertanian, mulai dari tradisional sampai modern. Sejalan dengan proses tersebut, beras telah menjadi bahan makanan pokok sebagian besar masyarakat secara turun temurun, yang tidak mudah tergantikan oleh pangan lain. Tingkat konsumsi beras yang cukup tinggi, saat ini telah mencapai 135 kg per kapita per tahun, mengindikasikan beratnya tantangan dalam memasyarakatkan diversifikasi pangan (Apriantono, 2008).

Beras di Indonesia bukan hanya sekedar komoditas pangan, tetapi juga merupakan komoditas strategis yang memiliki sensitivitas politik, ekonomi, dan kerawanan sosial yang sangat tinggi. Penduduk Indonesia bergantung pada beras karena pertanian sebagai penyedia pangan dan merupakan basis perekonomian Indonesia. Maka sedikit saja terjadi gangguan pada produksi beras akan menyebabkan pasokan menjadi terganggu dan harga jual meningkat.

(2)

tersebut yaitu (a) usaha tani menghidupi sekitar 20 juta keluarga petani dan buruh tani, serta menjadi urat nadi perekonomian pedesaan; (b) permintaan terhadap beras terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk karena belum berhasilnya diversifikasi pangan; (c) produksi beras di Indonesia masih menunjukkan kecenderungan yang fluktuatif akibat bencana alam, serangan hama penyakit dan kenaikan beras, harga pupuk dan pestisida; dan (d) usaha tani padi masih menjadi andalan dalam penyerapan tenaga kerja di pedesaan. Bahkan tahun 2007, pemerintah melalui Departemen Pertanian meluncurkan Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). Program P2BN tersebut dapat tercapai dengan cara ekstensifikasi maupun intensifikasi. Program ekstensifikasi di Jawa kecil kemungkinan dapat dilakukan karena lahan pertanian semakin terbatas akibat pergeseran fungsi lahan pertanian menjadi lahan pemukiman. Pergeseran fungsi ini sebagai dampak semakin bertambahnya jumlah penduduk, baik penduduk asli maupun pendatang. Program P2BN di Pulau Jawa terutama di Yogyakarta dapat tercapai dengan cara intensifikasi (BPTP, 2008).

Cara intensifikasi ini terdiri dari beberapa kegiatan dan salah satu kegiatan yang penting adalah penggunaan varietas unggul. Saat ini sebagian besar petani menanam varietas unggul, varietas unggul baru (VUB) maupun padi hibrida dan hanya sebagian kecil petani yang menanam padi lokal.

(3)

dalam pengendalian hama dan penyakit. Padi unggul umumnya berumur lebih pendek dan mempunyai tinggi tanaman yang lebih pendek dibandingkan dengan padi lokal, sehingga keberadaan padi varietas lokal pada saat ini sudah jarang dijumpai (Sari dan Waluyo, 2008).

Padi lokal biasanya mempunyai potensi produksi yang rendah dan umur yang panjang. Walaupun demikian ada jenis padi lokal dengan produksi rendah dan umur panjang akan tetapi mempunyai keunggulan lain seperti rasa enak, pulen bahkan ada yang memiliki fungsi untuk kesehatan seperti padi Merah. Dengan keunggulan-keunggulan tersebut diharapkan padi lokal memiliki harga yang lebih tinggi. Keunggulan-keunggulan tersebut dan keunggulan/karakter lain yang belum diketahui tidak menutup kemungkinan dapat digunakan sebagai sumber gen/tetua (Diwyanto dan Setiadi, 2003). Mengingat pentingnya pelestarian sumberdaya genetik maka perlu dicegah punahnya padi lokal DIY ini. Tahun 2006 BPTP Yogyakarta telah mengadakan penelitian uji adaptasi beberapa jenis padi Merah lokal di Dusun Duwetsari Padasan, Pakembinangun, Pakem, Kabupaten Sleman. Usahatani padi Merah lokal diharapkan dapat menguntungkan dari segi ekonomi dan sekaligus sebagai usaha pelestarian sumberdaya genetik lokal.

(4)

nutfah tersebut tidak dapat diketemukan kembali dan tidak dapat dihidupkan kembali.

Adanya erosi genetik akibat praktek pertanian modern menyebabkan semakin terasa pentingnya koleksi dan konservasi plasma nutfah. Daerah-daerah penghasil padi biasanya memiliki varietas lokal yang mengandung keragaman genetik akan tetapi semakin terdesak ke wilayah-wilayah pedalaman yang sulit dijangkau (Rabbani et al., 2008). Untuk mengantisipasi erosi gen tanaman perlu dilakukan pelestarian bahan genetik tanaman melalui kegiatan eksplorasi, karakterisasi, rejuvinasi, dan dokumentasi (Hanarida et al., 2005).

B. Tujuan Praktik Kerja Lapangan

Praktik kerja lapangan yang akan dilaksanakan mempunyai tujuan:

1. Mengetahui dan mempelajari keadaan umum daerah, sejarah, tugas dan fungsi, struktur organisasi, sarana dan prasarana yang terdapat di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta

2. Mengetahui berbagai koleksi kultivar padi lokal Yogyakarta yang terdapat di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta

3. Mengetahui dan mempelajari karakterisasi kultivar-kultivar padi lokal yang terdapat di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta

4. Mengetahui pengelolaan padi lokal di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta

(5)

1. Memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan keterangan lebih lanjut mengenai karakterisasi kultivar padi lokal di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta

2. Memperoleh pengalaman kerja secara langsung dan wawasan di lapangan mengenai karakterisasi kultivar padi lokal di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta

D. Manfaat Praktik Kerja Lapangan

Manfaat yang diharapkan dari kegiatan praktik kerja lapangan ini diantaranya, yaitu:

1. Mengetahui ciri/karakter dari masing-masing kultivar padi lokal

2. Dapat melestarikan plasma nutfah padi lokal, serta dapat mengenali varietas padi lokal

3. Mengenali varietas atau jenis padi lokal kemudian diketahui keunggulan dan keunikan masing-masing varietas atau jenis sehingga dapat digunakan sebagai rujukan bagi petani atau bagi para pemulia sebagai materi genetik

4. Hasil praktik kerja lapangan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk melaksanakan penelitian

(6)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Padi

(7)

Menurut Herawati (2012), padi merupakan tanaman pertanian kuno yang sampai sekarang menjadi penghasil bahan pangan pokok di kebanyakan Negara daerah tropis, terutama di Asia dan Afrika. Berdasarkan literatur Grist (1960) cit. Hanum (2008), padi dalam sistematika tumbuhan, tanaman padi diklasifikasikan sebagai berikut:

Divisio : Spermatophyta Sub division : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae

Ordo : Poales

Famili : Graminae Genus : Oryza Linn

Spesies : Oryza sativa L (Luh, 1991).

Tanaman padi dapat dibedakan dalam dua tipe, yaitu padi kering yang tumbuh di lahan kering dan padi sawah yang memerlukan air menggenang dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Genus Oryza L. meliputi kurang lebih 25 spesies, tersebar di daerah tropik dan subtropik seperti Asia, Afrika, Amerika, dan Australia (Herawati, 2012).

(8)

Padi yang dibudidayakan hingga sekarang ini telah banyak mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi, bukan hanya bentuk luar atau morfologisnya, tetapi segi fisiologisnya juga berubah. Perubahan morfologis ini meliputi daun: jumlah daun menjadi lebih banyak. Daun berubah menjadi lebih panjang, lebih besar dan tebal. Anakan bertambah banyak: malai terbentuk sesuai dengan jumlah dan perkembangan anakan, cabang malai menjadi lebih banyak. Perubahan fisiologis padi antara lain: laju pertumbuhan tanaman menjadi lebih cepat, demikian pula laju pertumbuhan bibitnya: dormansi biji menjadi lebih pendek.

Tanaman padi dapat digolongkan menjadi beberapa golongan, yaitu: 1. Menurut sifat-sifat morfologisnya dan fisiologisnya, padi dibedakan:

a. Di Indonesia

 Padi cereh (cerai, kretek, dan cempo)  Padi bulu

3. Menurut cara dan tempat bertanam dibedakan: a. Padi sawah

4. Menurut umur tanaman padi dibedakan a. Padi genjah

(9)

Tanaman padi dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu bagian vegetatif dan bagian generatif. Bagian vegetatif meliputi akar, batang, dan daun. Sedangkan bagian generatif terdiri dari malai, bunga dan buah padi (Hasanah, 2007).

Hanum (2008) menyatakan bahwa akar adalah bagian tanaman yang berfungsi menyerap air dan zat makanan dari dalam tanah, kemudian diangkut ke bagian atas tanaman. Bagian akar yang telah dewasa (lebih tua) dan telah mengalami perkembangan akan berwarna cokelat. Sedangkan akar yang baru atau bagian akar yang masih muda berwarna putih.

Akar pada tanaman padi yang tumbuh pertama adalah akar serabut yang keluar dari lembaga sehingga tumbuh terus-menerus masuk kedalam tanah kurang lebih 5-8 hari berikutnya baru tumbuh akar dari batang yang pendek dalam bentuk akar serabut yang terdiri dari akar-akar kecil dan bulu-bulu akar berwarna putih (Yoshida, 1981).

Padi memiliki bentuk batang yang membulat, berlubang, bersekat-sekat dan tidak berambut. Tanaman padi mempunyai batang utama dan sejumlah anakan tergantung varietas dan kondisi budidaya. Masing-masing batang mempunyai buku dan ruas. Batang padi tersusun dari rangkaian ruas-ruas. Ruas-ruas batang padi memiliki panjang yang berbeda-beda. Ruas yang terpendek terdapat pada bagian bawah dari batang dan ruas-ruas yang berdiri sendiri, batang padi muncul pada ketiak daun (Utomo dan Nazarudin, 2000).

(10)

dan daun telinga. Hal ini yang menyebabkan daun padi dapat dibedakan menjadi jenis rumput yang lain. Daun padi memiliki bagian-bagian, yaitu helaian daun terletak pada batang padi serta berbentuk memanjang seperti pita. Pelepah daun (upih) merupakan bagian daun yang menyelubungi batang. Pelepah daun berfungsi memberi dukungan pada bagian ruas yang jaringannya lunak. Lidah daun terletak pada perbatasan antara helai daun (left blade) dan upih (Herawati, 2012).

Bunga tanaman padi terdiri atas beberapa ruas yang dibatasi oleh buku dan tunas (anakan) tumbuh pada buku. Jumlah buku sama dengan jumlah daun ditambah dua yakni satu buku untuk tumbuhnya koleoptil dan yang satu lagi buku terakhir yang menjadi dasar malai. Ruas yang terpanjang adalah ruas yang teratas dan panjangnya berangsur menurun sampai keruas yang terbawah dekat permukaan tanah. Bunga padi secara keseluruhan disebut malai. Malai terdiri dari 8-10 buku yang menghasilkan cabang-cabang primer selanjutnya menghasilkan cabang-cabang sekunder. Dari buku pangkal malai pada umumnya akan muncul hanya satu batang primer, tetapi dalam keadaan tertentu buku tersebut dapat menghasilkan 2-3 cabang primer (Purnomo dan Purnamawati, 2007).

(11)

waktu bulir berisi dan matang menjadi gabah, maka malai akan terkulai (Yoshida, 1981).

Ada tiga stadia umum proses pertumbuhan tanaman padi dari awal penyemaian hingga pemanenan:

1. Stadia vegetatif ; dari perkecambahan sampai terbentuknya bulir. Pada varietas padi yang berumur pendek (120 hari) stadia ini lamanya sekitar 55 hari,. Sedangkan pada varietas padi berumur panjang (150 hari) lamanya sekitar 85 hari.

2. Stadia produktif ; dari terbentuknya bulir sampai pembungaan. Pada varietas berumur pendek lamanya sekitar 35 hari dan pada varietas berumur panjang sekitar 35 hari juga.

3. Stadia pembentukan gabah atau biji ; dari pembungaan sampai pemasakan biji. Lamanya stadia sekitar 30 hari, baik untuk varietas padi berumur pendek maupun berumur panjang.

Apabila ketiga stadia dirinci lagi, maka akan diperoleh sembilan stadia. Masing-masing stadia mempunyai ciri dan nama tersendiri. Stadia tersebut adalah: 1. Stadia 0 ; dari perkecambahan sampai timbulnya daun pertama, biasanya

membutuhkan waktu sekitar 3 hari

2. Stadia 1 ; stadia bibit, stadia ini lepas dari terbentuknya daun pertama sampai terbentuknya anakan pertama, lamanya sekitar 3 minggu atau sampai pada umur 24 hari.

3. Stadia 2 ; stadia anakan, ketika jumlah anakan semakin bertambah sampai batas maksimum, lamanya sampai 2 minggu atau saat padi berumur 40 hari. 4. Stadia 3 ; stadia perpanjangan batang, lamanya sekitar 10 hari, yaitu sampai

(12)

5. Stadia 4 ; stadia saat mulai terbentuknya bulir, lamanya sekitar 10 hari atau sampai padi berumur 62 hari.

6. Stadia 5 ; perkembangan bulir, lamanya sekitar 2 minggu saat padi sampai berumur 72 hari. Bulir tumbuh sempurna sampai terbentuknya biji.

7. Stadia 6 ; pembungaan, lamanya 10 hari, saat mulai muncul bunga, polinasi, dan fertilasi.

8. Stadia 7 ; stadia biji berisi cairan menyerupai susu, bulir kelihatan berwarna hijau, lamanya sekitar 2 minggu, yaitu padi berumur 94 hari.

9. Stadia 8 ; ketika biji yang lembek mulai mengeras dan berwarna kuning, sehingga seluruh pertanaman berumur 102 hari (Suparyono dan Setyono, 1993).

B. Syarat Tumbuh 1. Iklim

Tanaman padi dapat hidup dengan baik di daerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air. Dengan kata lain, padi dapat hidup baik di daerah beriklim panas yang lembab. Pengertian iklim ini menyangkut curah hujan, temperatur, ketinggian tempat, sinar matahari, angin dan musim.

a. Curah hujan

Tanaman padi membutuhkan curah hujan yang baik, rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan. Sedangkan yang dikehendaki pertahun sekitar 1500-2000 mm/tahun. Curah hujan yang baik akan membawa dampak positif dalam pengairan, sehingga genangan air yang diperlukan tanman padi di sawah dapat tercukupi.

(13)

Termperatur sangat mempengaruhi pengisian biji padi. Temperatur yang rendah dan kelembaban yang tinggi pada waktu pembungaan akan mengganggu proses pembuahan yang mengakibatkan gabah menjadi hampa. Hal ini terjadi akibat tidak membukanya bakal biji. Temperatur yang rendah pada waktu bunting dapat menyebabkan rusaknya pollen dan menunda pembukaan tepung sari. Temperatur yang tepat untuk dataran rendah pada ketinggian 0-650 m dpl adalah 22ºC-27ºC. Sedangkan di dataran tinggi 650-1500 m dpl adalah 19ºC-23ºC (Hanum, 2008).

c. Tinggi tempat

Menurut Junghun, hubungan antara tinggi tempat dengan tanaman padi adalah sebagai berikut:

 Daerah antara 0-650 meter dengan suhu antara termasuk 96% dari

luas tanah Jawa, cocok untuk tanaman padi.

 Daerah antara 650-1500 meter dengan suhu antara masih cocok untuk

tanaman padi.

d. Intensitas cahaya matahari

Tanaman padi memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Sinar matahari diperlukan padi untuk melangsungkan proses fotosintesis, terutama pada pembungaan dan pemasakan buah akan tergantung terhadap fotosintesis sinar matahari (Herawati, 2012).

e. Angin

(14)

karena penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau jamur dapat ditularkan oleh angin dan apabila terjadi angin kencang pada saat tanaman berbunga, buah dapat menjadi hampa dan tanaman roboh. Hal ini akan lebih terasa lagi apabila penggunaan pupuk N berlebihan, sehingga tanaman tumbuh terlalu tinggi.

f. Musim

Padi dapat ditanam dimusim kemarau atau hujan. Pada musim kemarau produksi meningkat asalkan irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah produksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif. Pertumbuhan tanaman padi sangat dipengaruhi oleh musim. Musim di Indonesia ada dua yaitu musim kemarau dan musim hujan. Penanaman padi pada musim kemarau akan lebih baik dibandingkan pada musim hujan, asalkan sistem pengairannya baik. Proses penyerbukan dan pembuahan padi pada musim kemarau tidak akan terganggu oleh hujan sehingga padi yang dihasilkan menjadi lebih banyak. Akan tetapi, apabila padi ditanam pada musim hujan, proses penyerbukan dan pembuahan menjadi terganggu oleh hujan. Akibatnya, banyak biji padi yang hampa (Hanum, 2008: Hasanah, 2007).

2. Tanah

(15)

pengetahuan tentang sifat-sifat fisik tanah sangat diperlukan sebagai dasar. Sebab penyimpanan unsur hara (nutrisi) yang diperlukan tanaman dan kapasitas penyediaan air dalam tanah dapat diketahui. Selain itu dapat diketahui juga pertumbuhan akar dan aerasinya. Dari data tersebut dapat ditentukan penggunaan tanah yang dimiliki, sehingga dapat disebutkan bahwa sifat fisik tanah mencakup terkstur tanah, struktur tanah, air serta udara dalam tanah.

a. Tekstur tanah

Tekstur tanah merupakan sifat fisik tanah yang sukar berubah (permanen). Tekstur tanah berarti komposisi antara bermacam-macam fraksi tanah yaitu fraksi pasir, debu, dan lempung. Kasar atau halusnya tanah dapat ditentukan dari perbandingan ketiga fraksi tersebut.

Tanah sawah yang mempunyai presentase fraksi pasir dalam jumlah besar, kurang baik untuk tanaman padi, sebab tekstur ini mudah meloloskan air. Pada tanah sawah dituntut adanya lumpur, terutama untuk tanaman padi yang memerlukan tanah subur, dengan kandungan ketiga fraksi dalam perbandingan tertentu. Lumpur adalah butir-butir tanah halus yang seluruhnya diselubungi oleh air, sehingga pada tanah sawah diperlukan air dalam jumlah yang cukup dan butir tanah dapat mengikatnya.

b. Struktur tanah

(16)

pulau Jawa, menurut penelitian, padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 18-22 cm, terutama tanah muda dengan pH antara 4-7. Sedangkan lapisan olah tanah sawah, menurut IRRI ialah dengan kedalaman 18 cm.

c. Air dan udara dalam tanah

Kebutuhan air dan udara didalam tanah merupakan kebutuhan yang harus terpenuhi untuk kehidupan, baik tanaman maupun jasad renik yang ada didalam tanah. Air dan udara yang diperlukan biasanya dalam jumlah yang berimbang.

C. Padi Lokal

Akhir tahun 1960-an, usaha pertanian padi dibeberapa Negara kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia banyak mengalami perubahan akibat introduksi varietas padi unggul (High Yielding Rice Varieties = HYVs), yang merupakan salah satu program dari revolusi hijau. Selain memberikan dampak positif, revolusi hijau juga memberikan dampak negatif, diantaranya menimbulkan kesenjangan ekonomi yang makin besar antara petani miskin dan petani kaya, punahnya varietas padi lokal secara massal, pencemaran air dan tanah, serta kerusakan kesuburan tanah (Iskandar, 2001).

(17)

Varietas-varietas ini telah ditanam petani secara turun temurun berabad-abad yang lampau dan telah beradaptasi pada berbagai kondisi lahan dan iklim. Selain itu varietas padi lokal secara alami telah teruji ketahanannya terhadap berbagai cekaman lingkungan serta hama dan penyakit, sehingga merupakan sumberdaya genetik yang tak ternilai harganya. (Siwi dan Kartowinoto, 1989).

Indonesia tercatat lebih dari 8000 varietas padi lokal atau tradisional yang bisa ditanam petani. Akan tetapi, dengan adanya program revolusi hijau yang mengintroduksikan varietas padi unggul, keanekaragaman padi menurun secara drastis (Irawan dan purbayanti, 2008).

Varietas lokal mempunyai sifat adaptasi/kesesuaian daerah tertentu, produksi rendah, berbatang tinggi dan kuat, berumur dalam/panjang, tidak respon terhadap input/pemupukan dan berpenampilan masih beragam, mempunyai rasa nasi enak dan disenangi banyak konsumen serta mempunyai harga pasar tinggi. Karakteristik varietas padi tradisional (lokal) belum teridentifikasi dengan baik sehingga potensi dan peluang pengembangannya sebagai varietas padi lokal unggul belum diketahui. Penampilan populasi varietas lokal dilapangan terlihat masih beragam terutama karakter tinggi tanaman, umur masak, bentuk dan warna gabah. Hal ini akan berpengaruh terhadap produksi yang dihasilkan petani selain itu benih varietas lokal yang digunakan petani bermutu rendah karena diperoleh dari hasil panen padi petani secara terus menerus dan diwarisi turun temurun (BPTP Sumbar, 2009).

(18)

dapat beradaptasi pada lingkungan tertentu saja. Di antara ribuan varietas padi lokal ternyata masih ada yang cukup menonjol seperti padi Batubara dan bahkan sampai sekarang masih dibudidayakan oleh petani pada lokasi-lokasi tertentu. Varietas-varietas ini mempunyai kelebihan tertentu yang belum dimiliki varietas lain. Salah satu kelebihan yang dimiliki yaitu mutu rasa nasi yang enak dan aroma yang wangi (Soemartono et al., 1992). Menurut Harahap et al dalam Munandar et al., (1996), padi lokal yang sering ditanam petani merupakan padi yang telah puluhan tahun ditanam dan diseleksi petani. Hasil padi lokal umumnya tidak terlalu tinggi, padi-padi tersebut mempunyai adaptasi yang baik terhadap lingkungan pertumbuhan yang kurang optimal serta kualitas beras (rasa nasi) yang disukai masyarakat karena memiliki yang wangi seperti varietas Harum Curup .

Padi lokal (land rice) merupakan plasma nutfah yang potensial sebagai sumber gen-gen yang mengendalikan sifat-sifat penting pada tanaman padi. Keragaman genetik yang tinggi pada padi lokal dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan padi secara umum. Identifikasi sifat-sifat penting yang terdapat pada padi lokal perlu terus dilakukan agar dapat diketahui potensinya dalam program pemuliaan (Hairmansis et al., 2005).

(19)

Varietas lokal yang telah beradaptasi pada kondisi lingkungan ekstrim memiliki kemampuan untuk bertahan hidup pada berbagai kondisi lingkungan tercekam seperti suhu rendah, salinitas, lahan masam, kekeringan, dan kondisi lingkungan suboptimal lainnya. Varietas lokal Tejo dan Mota yang masing-masing dibudidayakan oleh petani dataran tinggi Kalibening, Banjarnegara dan Ciwidey, Bandung dilaporkan toleran terhadap suhu rendah (Sasmita et al., 2011).

Padi lokal yang memiliki sifat-sifat spesifik umumnya memiliki potensi hasil rendah, umur dalam, mudah rebah, dan kurang respons terhadap pemupukan. Oleh sebab itu, varietas lokal kurang bernilai ekonomis dibanding varietas unggul. Di lain pihak, sejumlah varietas lokal telah terindentifikasi sebagai sumber gen untuk sifat mutu, ketahanan terhadap hama dan penyakit, dan toleransi terhadap cekaman lingkungan suboptimal (Singh et al., 2000). Sifat-sifat unggul spesifik yang dimiliki varietas lokal perlu diinkorporasikan ke dalam genom varietas unggul agar memiliki sifat unggul yang unik.

(20)

memerlukan silang balik (back cross) dan tidak selalu menghasilkan varietas unggul baru (Sitaresmi et al., 2013).

Tabel 1. Varietas lokal yang telah digunakan sebagai tetua dalam perakitan

Dewi ratih Randak Cupak Sawah 1969 VUL

Si Ampat Peta Sawah 1969 VUL

Pelita I-1 Shinta Sawah 1971 VUL

Pelita I-2 Shinta Sawah 1971 VUL

Gemar Jerak Dataran Tinggi 1976 VUL

Gati Si Gadis Gogo 1976 VUL

Batang Agam Sirendah

Kelara R. Henati Sawah 1983 VUB

Batang Ombilin Kuning

Danau Bawah Aria Gogo 1987 VUB

Danau Atas Seratus Malam (Radiasi)

Gogo 1988 VUB

Laut Tawar Seratus Malam

Mutan Gogo 1989 VUB

Danau Tempe Carreon Gogo 1991 VUB

Way Rarem Carreon Gogo 1994 VUB

Maros Markoti Sawah 1996 VUB

Widas Sentani dan Singkarak

(21)

Limboto Papah Aren

Tukad Unda Balimun Putih Sawah 2000 VUB

Wera Hawara Bunar Sawah 2001 VUB

Mendawak Mahsuri dan Kelara

Rawa 2001 VUB

Pepe Simariti Sawah 2003 VUB

Aek Sibundong Sitali Sawah 2006 VUB

INPARI 2 Cisanggarung Rawa 2008 VUB

INPARI 5

Merawu Ketan Lumbu Sawah 2008 VUB

INPARI 14 Pakuan

Cipeundeuy C Sawah 2011 VUB

INPARI 7 Beras Merah Rawa 2012 VUB

INPARI 21 Batipuah

Sitali Sawah 2012 VUB

INPARI 24

Gabusan Beras Merah Sawah 2012 VUB

Sumber: Pusat Penelitian dan Pengambangan Tanaman Pangan (2009), BB Padi (2013)

(22)

spesifik akan lebih banyak menggunakan varietas lokal, seperti halnya dalam perbaikan karakter malai lebat, anakan sedikit, ukuran malai yang panjang, lebar, dan ketebalan daun pada pembentukan padi tipe ideal (IRRI, 1995).

Varietas padi lokal yang belum mengalami pemurnian berpenampilan tidak seragam, karena populasinya heterogen homozigot. Varietas lokal seperti itu memiliki genetik dengan sejumlah karakter yang berbeda sehingga penampilan agronomisnya tidak seragam seperti varietas padi modern (Sitaresmi et al., 2013). Penggunaan varietas lokal dalam program pemuliaan telah sering dianjurkan, dengan tujuan untuk memperluas latar belakang genetik varietas unggul yang akan dihasilkan (Cooper et al., 2001, Spoor and Simmonds, 2001, Berthaud et al, 2001). Penggunaan gen-gen tahan terhadap berbagai cekaman yang dimiliki varietas lokal dalam pemuliaan tanaman dapat meningkatkan keunggulan varietas unggul yang akan dihasilkan.

(23)

2013). Nafisah et al., (2007) menggunakan padi lokal sebagai tetua persilangan untuk memperoleh sifat ketahanan terhadap penyakit hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae). Dari kegiatan tersebut telah dihasilkan galur-galur yang memiliki ketahanan terhadap hawar daun bakteri yang bersifat multigenik. Abdullah (2008, 2009) menggunakan padi liar dan padi lokal sebagai tetua untuk memperoleh padi tipe baru dan telah diperoleh galur-galur harapan yang mempunyai sifat morfologi dan fisiologi yang lebih baik, seperti gabah hampa lebih sedikit dan lebih tahan terhadap hama dan penyakit utama. Subandi (1984) menyilangkan beberapa varietas lokal jagung dengan varietas unggul untuk memperoleh populasi dasar bahan seleksi yang berlatar belakang genetik luas. Dari persilangan tersebut telah dihasilkan beberapa varietas unggul komposit maupun sintetik.

Kaitan penyediaan benih varietas lokal yang telah dimurnikan, galur-galur yang memiliki produktivitas terbaik dapat diusulkan untuk dilepas sebagai varietas baru memenuhi ketentuan peraturan perbenihan tanaman sebagai berikut (Badan Benih Nasional, 2004): 1) merupakan varietas yang sudah ditanam secara luas oleh masyarakat di suatu wilayah, 2) memiliki keunggulan spesifik yang bernilai agronomis dan ekonomis, dan 3) telah dibudidayakan lebih dari 5 tahun (Sitaresmi et al., 2013).

(24)

memperoleh legalitas bagi upaya produksi benih bersertifikat dari varietas tersebut; 3) memperoleh kesetaraan hak dalam pemanfaatan benih bermutu dari varietas lokal sebagaimana halnya varietas unggul yang telah dilepas pemerintah; dan 4) meningkatkan nilai manfaat dan nilai ekonomis benih varietas lokal bagi masyarakat dan pemerintah daerah (Sitaresmi et al., 2013).

Keberhasilan pemutihan 10 varietas lokal tersebut merupakan komitmen pemerintah daerah, dorongan peneliti dan penyuluh, serta peran para petani di sentra produksi varietas yang bersangkutan. Proses pemurnian varietas lokal tersebut dilakukan melalui tahapan pemilihan varietas lokal yang masih dibudidayakan petani di lokasi yang memiliki tipe agroekosistem yang mirip. Penggunaan materi penelitian yang berasal dari berbagai daerah dengan agroekosistem yang sama memberi peluang dalam perakitan “varietas lokal baru” yang mampu beradaptasi dengan baik pada kondisi riil di daerah target pengembangan. Selain itu, dalam proses pemilihan galur untuk dijadikan materi tanaman pada tahapan seleksi selanjutnya, para petani perlu diikutsertakan dalam menentukan tipe dan karakter morfologi tanaman dan butiran gabah. Keikutsertaan petani dalam penentuan galur terpilih pada setiap tahap seleksi memungkinkan diperolehnya materi genetik baru calon varietas yang miliki karakteristik morfologi tanaman dan bentuk gabah yang sesuai dengan preferensi petani dan konsumen. Kedua hal ini menjadi faktor pendorong bagi adopsi varietas “lokal baru” oleh petani setempat (Sitaresmi et al., 2013).

Tabel 2. Varietas padi lokal yang telah dimurnikan dan dilepas pemerintah

Varietas lokal Pengusul Provinsi Dasar pelepasan

(25)
(26)

Pertanian Tanaman

Sumber: Sitaresmi et al., 2013. Pemanfaatan plasma nutfah padi varietas lokal dalam perakitan varietas unggul

D. Karakterisasi Kultivar Padi Lokal

Berdasarkan penelitian Iskandar dan Ellen (1999) dalam Iskandar (2001), di daerah Baduy tercatat ada 89 kultivar padi lokal. Jumlah tersebut sangat tinggi jika dibandingkan dengan kultivar padi lokal di lahan sawah irigasi masyarakat Ifugao, Dataran Tinggi Luzon, Filipina (Conklin, 1980 dalam Iskandar, 2001). Data kultivar padi di kawasan lainnya menunjukkan bahwa sedikitnya ada 44 kultivar padi ladang lokal di daerah Kantu, Kalimantan Timur (Dove, 1985 dalam Iskandar 2001); 25 kultivar padi lokal di dua desa, Kecamatan Pujungan, Kalimantan Timur (Soedjito, 1999 dalam Iskandar, 2001); dan 88 kultivar padi sawah di DAS Citarum hulu masa lampau sebelum adanya program revolusi hijau (Parikesit et al., 1997 dalam Iskandar, 2001).

(27)

isozim, ataupun DNA (Rugayah, et al., 2004). Namun ciri morfologi dan anatomi merupakan ciri yang paling sering dilakukan dalam penelitian taksonomi (Lawrence, 1964).

Menurut Lesmana et al., (2004), ciri morfologi yang sering digunakan sebagai pembeda kultivar padi adalah tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, warna batang, warna daun, permukaan daun, jumlah gabah per malai, bentuk gabah, warna gabah, dan permukaan gabah. Selain itu, karakter perbungaan dapat membedakan kultivar padi (Wet et al., 1986). Epidermis daun termasuk didalamnya stomata merupakan ciri anatomi yang biasa digunakan untuk membedakan kultivar padi. Hal ini dikarenakan padi yang termasuk suku gramineae memiliki struktur epidermis yang khas (Backer dan Bakhuizen, 1968). Penampakan epidermis, yang terdiri atas sel panjang dan sel pendek, serta tipe stomata merupakan ciri yang dapat dipakai untuk membedakan tiap jenis tumbuhan golongan suku Gramineae (Esau, 1965). Buitr pati/amilum pada jenis tanaman yang berbeda dapat bervariasi, baik dari bentuk, ukuran, ataupun warna dari reagen tertentu. Amilum padi pada kultivar yang berbeda memiliki kandungan karbohidrat yang berbeda. Hal ini dapat memungkinkan ukuran atau warna dari reagen tertentu menampakkan perbedaan.

(28)

(truncate, acute, cleff); warna lidah daun (tidak berwarna, hijau, ungu muda, garis-garis ungu, ungu); panjang helai daun; lebar helai daun; perilaku helai daun (tegak, agak tegak, horizontal, melengkung); perilaku batang (tegak, agak tegak, terbuka, agak terbuka, menyebar); ketebalan batang; tinggi tanaman (tidak termasuk malai); dan jumlah anakan per rumpun

Setiap kultivar padi lokal memiliki persamaan ataupun perbedaan ciri/karakter. Adanya persamaan ataupun perbedaan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara kultivar-kultivar padi. Semakin banyak persamaan ciri, maka semakin dekat hubungan kekerabatannya. Sebaliknya, semakin banyak perbedaan ciri, maka semakin jauh hubungan kekerabatannya (Irawan dan Purbayanti, 2008).

Penampilan karakter agronomik adalah penampilan sifat tanaman pada suatu lingkungan tumbuh yang merupakan hasil dari kerjasama antara faktor genetik dan lingkungan. Penampilan suatu genotip tanaman pada lingkungan yang berbeda dapat berbeda pula, sehingga faktor interaksi genotip dan lingkungan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk diketahui dalam program pemuliaan tanaman dalam merakit suatu varietas.

(29)

tidak dimiliki oleh varietas unggul, yang jika terjadi kepunahan tidak dapat digantikan oleh teknologi (Anhar, 1996). Pada kenyataannya, erosi benih padi lokal telah mulai menggejala dan besar kemungkinan berbagai varietas benih padi lokal akan lenyap. Identifikasi dan deskripsi mengenai keberadaan padi lokal sangat diperlukan untuk mencegah kepunahan varietas padi lokal (Cicin, 2011).

Karakterisasi sumberdaya genetik akan memberikan hasil nilai tambah dalam memperkaya "gene pool" dengan keragaman baru dari varietas lokal tersebut untuk perakitan varietas baru (Neeraj et al., 2005). Sumberdaya genetik tersebut sangat penting untuk mendukung ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan.

Sumberdaya genetik terus menerus mengalami kemerosotan akibat rendahnya perhatian dan pemanfaatan sumberdaya genetik serta berubahnya praktik pertanian tradisional. Introduksi varietas berumur genjah ke sentra produksi padi di berbagai wilayah dapat menyebabkan erosi genetik dari varietas lokal yang ada di daerah tertentu (Mishra et al., 2009).

(30)

III. METODE PRAKTIK KERJA LAPANGAN

A. Tempat Dan Waktu Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan Praktik Kerja Lapangan telah dilaksanakan selama ± 25 hari pada tanggal 24 bulan Juli sampai tanggal 28 bulan Agustus 2015, bertempat di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Karangsari, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.

(31)

Materi atau objek yang dikaji dalam Praktik Kerja Lapangan ini adalah mengenai bagaimana karakterisasi kultivar padi lokal di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Ngemplak Sleman Yogyakarta. Alat yang digunakan dalam praktik kerja lapangan ini adalah toples, ember, klip plastik, kertas, air, nampan, bak perkecambahan, bambu, hand sprayer, alat tulis, kamera, penggaris, kertas label. Bahan yang digunakan adalah benih kultivar padi lokal Yogyakarta, pupuk kandang, dan tanah.

C. Metode Praktik Kerja Lapangan

Metode pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan ini dengan magang yaitu ikut aktif dalam proses kegiatan yang dilaksanakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta dan melakukan wawancara untuk memperoleh data sekunder dan primer. Kegiatan yang dilakukan adalah pengamatan terhadap ciri morfologi kultivar padi lokal di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta.

D. Teknik Pengambilan Data Jenis dan teknik pengambilan data adalah sebagai berikut: 1. Data primer

Data primer diperoleh dari:

(32)

pemanjangan batang, (3) tanaman padi dari fase pertumbuhan bunting, (4) tanaman padi dari fase pembungaan dan (5) tanaman padi dari fase matang susu. Benih yang baru disemai terdiri dari 16 kultivar padi lokal dan yang akan diamati dan dicata adalah tinggi bibit (cm). Tanaman padi dari fase anakan sampai pemanjangan batang ada 20 kultivar padi lokal yang akan diamati dan dicatat yaitu Tinggi tanaman (cm), warna leher daun, warna telinga daun, warna lidah daun, bentuk lidah daun, panjang lidah daun, warna pelepah daun, dan warna helaian daun. Tanaman padi yang sudah mencapai fase bunting ada 7 kultivar padi lokal dan yang akan diamati dan dicatat adalah kemampuan beranak dan permukaan daun. Tanaman padi yang sudah mencapai fase pembungaan terdiri dari 19 kultivar padi lokal dan yang akan diamati dan dicatat adalah jumlah anakan, sudut daun bendera, panjang daun dan lebar daun. Sedangkan tanaman padi yang telah mencapai fase matang susu terdiri dari 33 kultivar padi lokal dan yang akan diamati dan dicatat adalah tinggi tanaman generatif, keluarnya malai, panjang malai, tipe malai, dan cabang malai sekunder.

b. Foto atau dokumentasi yang diambil saat pelaksanaan kerja praktik. 2. Data sekunder

Data sekunder diperoleh dari arsip atau dokumentasi instansi, literatur, buku dan tela’ah pustaka lain yang berhubungan dengan karakterisasi kultivar padi lokal.

(33)

Praktik Kerja Lapangan ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif yang bersifat deskriptif analisis meliputi eksplorasi, koleksi, dan karakterisasi. Eksplorasi dilakukan dengan mengumpulkan kultivar padi lokal yang terdapat di daerah Yogyakarta. Setiap kultivar padi lokal diamati ciri morfologinya (dikarakterisasi) (Irawan dan Purbayanti, 2008). Kultivar padi lokal yang diambil dari daerah Yogyakarta kemudian di karakterisasi berdasarkan Panduan Sistem Karakterisasi dan Evaluasi Tanaman Padi (Departemen Pertanian, 2003) dan Panduan Pengujian Individual Kebaruan, Keunikan, Keseragaman, dan Kestabilan, Departemen Pertanian Republik Indonesia, Pusat Perlindungan Varietas Tanaman (Departemen Pertanian, 2006).

Kategori data pengamatan terdiri dari benih yang baru di semai, fase pertumbuhan anakan sampai pemanjangan batang, fase bunting, fase pembungaan dan fase matang susu. Variabel yang diamati untuk setiap parameter sebanyak 19 variabel. Parameter yang diamati adalah:

1. Tinggi bibit 10. Sudut daun bendera

2. Tinggi tanaman vegetatif 11. Panjang daun

3. Warna leher daun 12. Lebar daun

4. Warna lidah daun 13. Kemampuan beranak

5. Warna helaian daun 14. Jumlah anakan

6. Warna telinga daun 15. Tinggi tanaman generatif 7. Warna pelepah daun 16. Keluarnya malai

8. Bentuk lidah 17. Panjang malai

9. Panjang lidah 18. Tipe malai

(34)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Daerah/Profil Institusi 1. Letak Geografis BPTP Yogyakarta

BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Yogyakarta beralamat di Jl. Stadion Maguwoharjo, No. 28, Demangan Baru.Terletak di dusun Karangsari, Kelurahan Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jarak antara kantor BPTP dengan Ibukota Propinsi sekitar 6-7 km. BPTP Yogyakarta berbatasan langsung dengan :

1) Sebelah Timur : Rumah penduduk dan tegalan 2) Sebelah Selatan : Lahan tegalan

3) Sebelah Barat : Rumah penduduk 4) Sebelah Utara : Jalan Karangsari

BPTP Yogyakarta terletak pada ketinggian 115 m dpl dan suhunya mencapai 28ºC. Tekstur tanah di BPTP Yogyakarta adalah jenis tanah pasir berdebu dengan pH=6,5. Tanah di BPTP Yogyakarta mengandung abu vulkanik karena terletak dekat dengan lereng Gunung Merapi. Tanaman yang dibudidayakan di daerah tersebut beranekaragam seperti padi, palawija, sayuran dan tanaman hortikultura lainnya.

(35)

BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Yogaykarta adalah Unit Pelaksana Teknis Badan Penelitian dan Pengambangan Pertanian, Departemen Pertanian, yang dibentuk berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 350/Kpts/OT.210/6/2001 yang telah direvisi dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 633/Kpts/OT.21O/12/2003 terdiri dari satu pejabat eselon IIIa yaitu Kepala Balai dan dua pejabat eselon Iva yaitu Kepala sub bagian Tata Usaha dan Kepala Seksi Pelayanan Teknis serta Pejabat Fungsional (Peneliti/Penyuluh/fungsional lainnya).

Sebelum SK Menteri Pertanian No. 350/Kpts/OT.210/6/2001, BPTP Yogyakarta semula bernama Instansi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IPPTP) Yogyakarta, yaitu sejak 13 Desember 1994 - 13 Juni 2001. Balai ini awalnya merupakan penggabungan antara Balai Informasi Pertanian (Fungsi Penyulahan Pertanian), Stasiun Penelitian Tanah dan Agroklimat (Fungsi Penelitian), dan Laboratorium Hortikultura Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada periode waktu tersebut BPTP Yogyakarta merupakan unit pelaksana teknis dari BPTP Jawa Tengah.

(36)

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, dan dalam pelaksanaan sehari-hari dikoordinasikan oleh Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP).

Perubahan status dari IPPTP menjadi BPTP Yogyakarta merupakan realisasi program pemerintah dalam menyediakan institusi penghasilan teknologi disetiap provinsi di seluruh Indonesia. Tujuan utama pembentukan BPTP Yogyakarta adalah untuk menghasilkan teknologi pertanian spesifik lokasi dan memperpendek rantai informasi serta mempercepat dan memperlancar diseminasi hasil pertanian (alih teknologi) kepada para petani, dan pengguna teknologi lainnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sampai saat ini unit kerja ini masih merupakan Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IPPTP) Yogyakarta, lembaga non struktural yang merupakan instalasi dari BPTP Jawa Tengah.

IPPTP merupakan penggabungan unit kerja di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dan Badan Pendidikan dan Latihan Pegawai Pertanian yaitu Laboratorium Hortikultura, Stasiun Tanah, dan Balai Informasi Pertanian Yogyakarta.

(37)

Perkembangan sampai saat ini, BPTP Yogyakarta menempati 3 tempat kantor yang terdiri dari :

a) Kantor utama berlokasi di Karangsari meliputi Administrasi, Kepegawaian, Rumah Tangga, Umum, Kelompok Pengkajian Budidaya, Sosial Ekonomi, Pasca Panen dan Sumberdaya menepati kantor tersebut. b) Labolatorium Tanah, Peternakan dan Pasca Panen Pertanian yang

berlokasi di Karangsari ± 500 meter sebelah barat kantor utama bersebelahan dengan Stadion Maguwoharjo Yogyakarta.

c) Gedung yang berlokasi di Jl. Rajawali No. 28 Demangan Baru, Yogyakarta dimanfaatkan untuk mess/penginapan.

3. Visi dan Misi a. visi

Menjadi institusi penghasil teknologi pertanian spesifik lokasi menuju pertanian industrial unggul berkelanjutan berstandar internasional untuk meningkatkan kemandirian pangan, nilai tambah, ekspor dan kesejahteraan masyarakat pertanian

b. misi

1) Menghasilkan dan mengembangkan inovasi-inovasi pertanian spesifik lokasi yang diperlukan dan dimanfaatkan oleh petani, stakeholder dan sesuai permintaan pasar guna mendukung pembangunan sektor pertanian wilayah,

2) Meningkatkan percepatan diseminasi teknologi pertanian inovatif dan spesifik lokasi,

3) Meningkatkan jaringan kerjasama dengan lembaga penelitian pertanian internasional, nasional, maupun pihak swasta,

4) Mengembangkan kapasitas kelembagaan BPTP dalam rangka meningkatkan pelayanan prima.

(38)

Tugas dan fungsi berdasarkan peraturan Menteri Pertanian, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta mempunyai tugas melaksanakan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi tepat guna spesifik lokasi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta menyelenggarakan fungsi :

1. Pelaksanaan inventarisasi dan identifikasi kebutuhan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi.

2. Pelaksanaan penelitian, pengkajian dan perakitan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi.

3. Pelaksanaan pengembangan teknologi dan diseminasi hasil pengkajian serta perakitan materi penyuluhan.

4. Penyiapan kerjasama, informasi, dokumentasi, serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi.

5. Pemberian pelayanan teknik kegiatan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian guna spesifik lokasi.

6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga balai.

5. Struktur Organisasi a. Organisasi Struktural

(39)

bertugas mengelola berbagai kegiatan yang berkaitan dnegan urusan kepegawaian, keuangan, surat-menyurat, kearsipan, perlengkapan, dan pengembangan teknologi pertanian Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian yang mempunyai tugas melakukan pengelolaan yang berkaitan dengan pelayanan informasi, kerjasama dan pelayanan sarana penelitian. b. Organisasi Fungsional

Kelompok jabatan fungsional terdiri dari jabatan fungsional peneliti, penyuluh, dan jabatan fungsional lain yang terbagi dalam kelompok jabatan fungsional sesuai dengan bidang keahlian yang ditetapkan oleh Kepala Badan Peneliti dan Pengembangan Pertanian. Kelompok jabatan fungsional ini bertugas melakuakan kegiatan sesuai dengan jabatan fungsional di BPTP Yogyakarta yang terbagi dalam kelompok pengkaji (Kelji). Masing-masing dikoordinir oleh seorang tenaga fungsional sebagai ketua Kelji. Keempat Kelji tersebut adalah Kelji Sumberdaya, Kelji Budidaya, Kelji Pasca Panen dan Alsinstan, dan Kelji Sosial Ekonomi Pertanian.

(40)

6. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana yang dimiliki BPTP Yogyakarta meliputi gedung perkantoran, pertemuan, perpustakaan, labolatorium tanaman. Labolatorium ternak, labolatorium pasca panen dan alsintan, alat transportasi/kendaraan, peralatan kantor dan multimedia untuk mendukung operasional Balai. Disamping itu juga memiliki sejumlah bangunan rumah dinas untuk sebagian karyawan dan guesthouse/mess. Laboratorium berfungsi dengan baik. Selama ini pemanfaatan laboratorium selain untuk menunjang kagiatan staf lingkup BPTP Yogyakarta juga dimanfaatkan oleh pihak luar (mahasiswa dan instansi pemerintah maupun swasta).

(41)

peralatan untuk menjadi perpustakaan digital diperoleh dari P4MI melalui PUSTAKA, yaitu berupa komputer, server, dan scanner. Sedangkan sarana SDM agar dapat melayani pengguna secara komputerisasi diikutkan magang perpustakaan di PUSTAKA. Petugas perpustakaan saat ini berjumlah tujuh orang dimana dua orang pustakawan dan lima orang non pustakawan.

Layanan perpustakaan untuk pengguna ada beberapa jenis yaitu : - Jasa Sirkulasi

- Jasa Referensi

- Jasa Penelusuran Informasi, - Jasa Penyediaan Bahan Pustaka,

- Jasa Peminjaman Bahan Pustaka (BPTP Yogyakarta, 2009).

B. Teknik Persiapan Karakterisasi Kultivar Padi Lokal

(42)

akan diamati yaitu tinggi tanaman (cm), warna leher daun, warna telinga daun, warna lidah daun, bentuk lidah daun, panjang lidah daun, warna pelepah daun, dan warna helaian daun (tabel 4). Tanaman padi yang sudah mencapai fase pertumbuhan bunting ada 7 kultivar padi lokal dan variabel yang diamati adalah kemampuan beranak dan permukaan daun (tabel 5). Tanaman yang sudah mencapai fase pembungaan ada 19 kultivar padi lokal dan yang akan diamati yaitu jumlah anakan, sudut daun bendera, panjang daun dan lebar daun (Tabel 6). Tanaman yang sudah mencapai fase pertumbuhan matang susu ada 16 kultivar padi lokal dan yang akan diamati adalah tinggi tanaman (cm) fase generatif, keluarnya malai, panjang malai, tipe malai, dan cabang malai sekunder (Tabel 7). Prosedur kerja yang dilakukan pada saat praktik kerja lapangan adalah sebagai berikut:

1. Pemilihan benih

Bahan yang digunakan berupa benih padi lokal yang merupakan koleksi dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta yang diambil dari hasil observasi lapangan dibeberapa lokasi 5 Kabupaten/Kota daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Sleman, Kota Yogyakarta, Bantul, Kulon Progo dan Gunung kidul. Benih untuk persemaian dipilih benih-benih yang bernas sebanyak 20 benih untuk satu kultivar.

Tabel 3. Kultivar padi lokal yang digunakan untuk persemaian

Nomor Aksesi/registrasi Nama kultivar Asal kultivar

BPTP YK 00054 Ketan Merah Bantul

BPTP YK 00057 Ketan Serang Bantul dan Gunung kidul

BPTP YK 00059 Ketan Ireng Gunung kidul

BPTP YK 00067 Ketan Kluthuk Sleman

(43)

BPTP YK 00075 Padi Hitam Patalan Bantul

BPTP YK 00079 Ketan Ngipekerjo 2 Kulon progo

BPTP YK 00092 Padi Hitam Pak Muharjo Tidak diketahui BPTP YK 00129 Mentik Putih (Pak Muharjo) Bantul

BPTP YK 00137 Juteng Tidak diketahui

BPTP YK 00138 Saedah Merah (Pak Muharjo) Bantul

BPTP YK 00139 Cempo Jalen Gunung kidul

BPTP YK 00141 Manyangan Gundil Gunung kidul

BPTP YK 00144 Mayangan Wulu Ireng Gunung kidul

BPTP YK 00146 Ketan Rohano Melik Gunung kidul

BPTP YK 00155 Andel Abang Tidak diketahui

Tabel 4. Kultivar padi lokal fase pertumbuhan anakan sampai pemanjang batang

Nomor aksesi/registrasi Nama kultivar Asal kultivar

BPTP YK 00001 Batang Lembang Bantul

BPTP YK 00002 Genjah Rante Bantul

BPTP YK 00011 Tangkilan Gunung kidul

BPTP YK 00013 Cempo Laut Gunung kidul

BPTP YK 00014 Mariti Merah Gunung kidul

BPTP YK 00024 Padi Hitam Pak Mujiono Sleman

BPTP YK 00045 Cempo Ireng Sleman

BPTP YK 00047 Menor Kulon progo

BPTP YK 00115 Padi varietas W.T 1 Belum diketahui BPTP YK 00120 Padi Hitam Pak Jumanto Kalasan

BPTP YK 00123 Rening Belum diketahui

BPTP YK 00124 Ketang Kuning Belum diketahui

BPTP YK 00125 Gropak Belum diketahui

BPTP YK 00127 Padi Hitam Pak Tugiyo Belum diketahui BPTP YK 00128 Cebensi (Hitam) Belum diketahui

BPTP YK 00130 Lestari Belum diketahui

BPTP YK 00131 Kenanga Belum diketahui

BPTP YK 00132 Menur Sleman

BPTP YK 00148 Cempo Putih (pendek) Bantul

BPTP YK 00149 Menur Sleman

Tabel 5. Kultivar padi lokal fase bunting

Nomor aksesi/registrasi Nama kultivar Asal kultivar

BPTP YK 000011 Tangkilan Gunung kidul

BPTP YK 000045 Cempo Ireng Sleman

BPTP YK 000123 Rening Belum diketahui

BPTP YK 000124 Ketan Kuning Belum diketahui

BPTP YK 000125 Gropak Belum diketahui

(44)

BPTP YK 000132 Menur Sleman

Tabel 6. Kultivar padi lokal fase pembungaan

Nomor aksesi/registrasi Nama kultivar Asal kultivar

BPTP YK 0008 Mandel Gunung kidul

BPTP YK 00010 Mayangan berbulu Belum diketahui

BPTP YK 00011 Tangkilan Gunung kidul

BPTP YK 00013 Cempo laut Gunung kidul

BPTP YK 00071 Serang Belum diketahui

BPTP YK 000115 Padi varietas W.T 1 Belum diketahui BPTP YK 000119 Padi Hitam Pak Mujiono Kalasan BPTP YK 000120 Padi Hitam Pak Joko Kalasan

BPTP YK 000121 Padi Merapi Belum diketahui

BPTP YK 000122 Gadeng Mlati Belum diketahui

BPTP YK 000123 Rening Belum diketahui

BPTP YK 000124 Ketan Kuning Belum diketahui BPTP YK 000126 Gogo lembayung Belum diketahui BPTP YK 000127 Padi Hitam Pak Tugiyo Belum diketahui

BPTP YK 000130 Lestari Belum diketahui

BPTP YK 000131 Kenanga Belum diketahui

BPTP YK 000133 Pandan Wangi Pak

Muharjo Belum diketahui

BPTP YK 000136 Similikiti Gunung kidul

BPTP YK 000148 Cempo Putih (Pandak) Bantul

Tabel 7. Kultivar padi lokal fase matang susu

Nomor aksesi/registrasi Nama kultivar Asal kultivar

BPTP YK 0008 Mandel Gunung kidul

BPTP YK 00011 Tangkilan Gunung kidul

BPTP YK 00013 Cempo laut Gunung kidul

BPTP YK 00051 Padi Hitam Yuni Bantul

BPTP YK 000115 Padi varietas W.T 1 Belum diketahui BPTP YK 000119 Padi Hitam Pak Jumanto Kalasan BPTP YK 000120 Padi Hitam Pak Jumanto Kalasan

BPTP YK 000121 Padi Merapi Belum diketahui

BPTP YK 000126 Gogo Lembayung Belum diketahui

BPTP YK 000130 Lestari Belum diketahui

BPTP YK 000131 Kenanga Belum diketahui

BPTP YK 000136 Similikiti Gunung kidul

(45)

2. Perendaman Benih

Setelah dipilih benih yang bernas kemudian direndam agar air mampu masuk kedalam benih dengan mudah dan merata sehingga benih mampu berkecambah. Benih direndam didalam klip plastik selama 24 jam.

3. Perlakuan Benih

Setelah benih direndam selama 24 jam kemudian air didalam klip plastik dibuang dan benih tersebut diberi perlakuan dengan menjemurnya diterik matahari selama 24 jam. Setelah itu benih tersebut diberi perlakuan dengan menggunakan air hangat agar meningkatkan aktivitas didalam benih. Benih direndam menggunakan air hangat pada suhu 40ºC - 50ºC selama 15 menit.

(A) (B)

(46)

Pemeraman benih diperlukan untuk mempertahankan agar benih tetap hangat, meningkatkan pertumbuhan lembaga, dan menghasilkan perkecambahan yang seragam. Pemeraman dilakukan dengan memasukkan benih yang telah diperlakukan air hangat ke wadah yang telah dipersiapkan (wadah dari kertas buram) dan dibiarkan kurang lebih 20 jam.

5. Persemaian

(47)

(A) (B)

(C)

Gambar 2. (A) Persemaian bak, (B) benih ditutup dengan tanah+pupuk kandang, (C) sungkup persemaian

6. Persiapan Media Pindah Tanam

(48)

rata-rata 26 cm dengan berat 8 kg/ember. Setelah dimasukkan kedalam pot (ember) dan didiamkan selama 1 hari kemudian diberi pupuk NPK dan digenangi. Tanah tersebut dikurangi airnya sampai macak-macak sebelum benih pindah tanam.

(A) (B)

Gambar 3. Persiapan media pindah tanam: (A) persiapan media, (B) media siap tanam

7. Pindah Tanam

Pindah tanam dilakukan setelah tanaman berumur 24 hari setalah semai. Setiap 3 buah pot terdiri dari satu kultivar padi lokal dan 1 pot diisi 2 bibit tanaman yang telah siap untuk ditanam.

(49)

(A) (B)

Gambar 4. Pindah tanam: (A) bibit persemaian bak, (B) pindah tanam bibit di pot

8. Pemeliharaan

a. Penyiraman: penyiraman dilakukan sesuai kebutuhan ketika tanaman sudah kekurangan air atau kehabisan air.

b. Penyulaman: penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang rusak atau mati. Hal ini dilakukan segera setelah diketahui ada tanaman yang rusak atau mati sampai satu minggu setelah pindah tanam.

c. Pengendalian gulma, hama dan penyakit: pengendalian disesuaikan pada kondisi lapangan, dilakukan apabila terjadi serangan.

d. Pemupukan: pemupukan dilakukan dengan pupuk kandang dan NPK. Dosis pupuk kandang diberikan pada awal persiapan media. Dosis pupuk ditentukan dari hasil analisis tanah menggunakan PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah). Pupuk NPK (15-15-15) diberikan 3 kali yaitu 1/3 saat awal persiapan media pindah tanam, 1/3 saat tanaman berumur 30 hari dan 1/3 saat tanaman berumur 60 hari. Dosis pupuk NPK yaitu 150 kg/ha dengan tambahan KCL 75 kg/ha (BPTP Jambi, 2007). Contoh perhitungan pupuk untuk dosis NPK per pot yaitu:

r (ember) = 13 cm

Kebutuhan pupuk/pot = 15 gram/x0,0053 = 0,795 gram

(50)

karena dapat merangsang pertumbuhan vegetatif. Pupuk yang mengandung P berfungsi dalam pengangkatan energi hasil metabolisme dan merangsang pembungaan dan pembuahan.

C. Karakterisasi Bagian Vegetatif Tanaman

Berdasarkan ciri/karakter morfologi, kultivar padi lokal yang terdapat di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian menunjukkan keanekaragaman pada karakter tinggi bibit, tinggi tanaman, jumlah anakan, daun dan batang. Pengamatan bagian vegetatif tanaman padi pada beberapa bagian tanaman yaitu tinggi bibit, tinggi tanaman, daun, jumlah anakan, dan kemampuan beranak. 1. Tinggi Bibit

Hasil pengamatan karakter morfologi tinggi bibit menunjukkan adanya keragaman pada 16 kultivar padi lokal Yogyakarta (Tabel 3). Tinggi bibit diukur saat stadia lepas dari terbentuknya daun pertama sampai terbentuknya anakan pertama, lamanya sekitar 3 minggu atau sampai pada umur 24 hari setelah semai. Dari hasil pengukuran diperoleh tinggi bibit tertinggi yaitu kultivar Ketan Rohano Melik (41,13 cm) dan tinggi bibit terendah diperoleh oleh kultivar Padi Hitam Patalan (17,73 cm) (Tabel 8). Berikut ini adalah hasil pengukuran tinggi bibit kultivar padi lokal Yogayakarta:

Tabel 8. Tinggi bibit kultivar padi lokal

Nomor Aksesi/registrasi Nama kultivar Tinggi Bibit (cm)

BPTP YK 00054 Ketan Merah 18,4

BPTP YK 00057 Ketan Serang 21,9

BPTP YK 00059 Ketan Ireng 20,76

BPTP YK 00067 Ketan Kluthuk 27,26

(51)

BPTP YK 00075 Padi Hitam Patalan 17,73

BPTP YK 00079 Ketan Ngipekerjo 2 25,73

BPTP YK 00092 Padi Hitam Pak Muharjo 24,03

BPTP YK 00129 Mentik Putih (Pak Muharjo) 30,56

BPTP YK 00137 Juteng 29,76

BPTP YK 00138 Saedah Merah (Pak Muharjo) 27,76

BPTP YK 00139 Cempo Jalen 33,16

BPTP YK 00141 Manyangan Gundil 26,93

BPTP YK 00144 Mayangan Wulu Ireng 33,63

BPTP YK 00146 Ketan Rohano Melik 41,13

BPTP YK 00155 Andel Abang 30

2. Tinggi Tanaman Vegetatif

Hasil pengamatan karakter morfologi terhadap tinggi tanaman menunjukkan adanya keragaman pada 20 kultivar padi lokal Yogyakarta (Tabel 4). Tinggi tanaman vegetatif diukur saat tanaman berumur 40 hari setelah semai. Pengukuran dilakukan mulai dari pangkal batang sampai daun terpanjang. Tinggi tanaman berkisar antara 40-60 cm. Karakter tetinggi dimiliki oleh kultivar Padi Mariti Merah (60 cm) dan terendah dimiliki oleh kultivar Cempo Putih (40 cm) (Tabel 9).

Tabel 9. Hasil pengamatan tinggi tanaman vegetatif

Nomor aksesi/registrasi Nama kultivar Tinggi tanaman (cm)

BPTP YK 00001 Batang Lembang 46,66

BPTP YK 00002 Genjah Rante 53

BPTP YK 00011 Tangkilan 46,66

BPTP YK 00013 Cempo Laut 55,33

BPTP YK 00014 Mariti Merah 60

BPTP YK 00024 Hitam Mujiono 43,06

BPTP YK 00045 Cempo Ireng 56

BPTP YK 00047 Menor 58,36

BPTP YK 00115 Padi varietas W.T 1 44,33

BPTP YK 00120 Padi Hitam Pak Jumanto 41,66

BPTP YK 00123 Rening 40,23

BPTP YK 00124 Ketang Kuning 41,4

BPTP YK 00125 Gropak 41

(52)

BPTP YK 00128 Cebensi (Hitam) 41,66

BPTP YK 00130 Lestari 40,56

BPTP YK 00131 Kenanga 41,56

BPTP YK 00132 Menur 45,33

BPTP YK 00148 Cempo Putih (Pendek) 40

BPTP YK 00149 Menur 45,23

3. Daun

Karakter morfologi yang diamati dari daun terdiri atas warna leher daun, warna telinga daun, warna helaian daun, warna lidah daun, bentuk lidah daun, warna pelepah daun, panjang lidah daun, permukaan daun, sudut daun bendera, panjang daun dan lebar daun.

a. Warna telinga daun

(53)

(A) (B) (C) Gambar 5. Warna telingan daun: (A) ungu, (B) putih, (C) bergaris ungu

Tabel 10. Hasil pengamatan warna telinga daun

Nomor aksesi/registrasi Nama kultivar Warna telinga daun

BPTP YK 00001 Batang Lembang Putih

BPTP YK 00002 Genjah Rante Putih

BPTP YK 00011 Tangkilan Putih

BPTP YK 00013 Cempo Laut Putih

BPTP YK 00014 Mariti Merah Bergaris ungu

BPTP YK 00024 Padi Hitam Pak Mujiono Ungu

BPTP YK 00045 Cempo Ireng Ungu

BPTP YK 00047 Menor Putih

BPTP YK 00115 Padi varietas W.T 1 Putih

BPTP YK 00120 Padi Hitam Pak Jumanto Putih

BPTP YK 00123 Rening Putih

BPTP YK 00124 Ketang Kuning Putih

BPTP YK 00125 Gropak Putih

BPTP YK 00127 Padi Hitam Pak Tugiyo Putih

BPTP YK 00128 Cebensi (Hitam) Putih

BPTP YK 00130 Lestari Putih

BPTP YK 00131 Kenanga Putih

BPTP YK 00132 Menur Putih

BPTP YK 00148 Cempo Putih (Pendek) Putih

BPTP YK 00149 Menur Putih

b. Warna leher daun

(54)

daun yaitu warna hijau muda dan ungu (Gambar 6). Warna leher daun yang paling banyak ditemukan pada saat pengamatan adalah warna hijau muda. Sedangkan warna leher daun ungu terdapat pada kultivar Mariti Merah dan kultivar padi Hitam Pak Mujiono. Warna leher daun juga dapat dijadikan ciri khas karena beberapa kultivar memiliki warna yang berbeda.

(A) (B) Gambar 6. Warna leher daun: (A) hijau muda, (B) ungu Tabel 11. Hasil pengamatan warna leher daun

Nomor aksesi/registrasi Nama kultivar Warna leher daun

BPTP YK 00001 Batang Lembang Hijau muda

BPTP YK 00002 Genjah Rante Hijau muda

BPTP YK 00011 Tangkilan Hijau muda

BPTP YK 00013 Cempo Laut Hijau muda

BPTP YK 00014 Mariti Merah Ungu

BPTP YK 00024 Hitam Mujiono Ungu

BPTP YK 00045 Cempo Ireng Hijau muda

BPTP YK 00047 Menor Hijau muda

BPTP YK 00115 Padi varietas W.T 1 Hijau muda BPTP YK 00120 Padi Hitam Pak Jumanto Hijau muda

BPTP YK 00123 Rening Hijau muda

BPTP YK 00124 Ketang Kuning Hijau muda

BPTP YK 00125 Gropak Hijau muda

BPTP YK 00127 Padi Hitam Pak Tugiyo Hijau muda

BPTP YK 00128 Cebensi (Hitam) Hijau muda

BPTP YK 00130 Lestari Hijau muda

(55)

BPTP YK 00132 Menur Hijau muda BPTP YK 00148 Cempo Putih (Pendek) Hijau muda

BPTP YK 00149 Menur Hijau muda

c. Warna lidah daun, bentuk lidah daun dan panjang lidah daun

(56)

(A) (B) (C)

Gambar 7. Warna lidah daun: (A) putih, (B) bergaris ungu, (C) ungu

Gambar 8. Bentuk lidah daun

(57)

Tabel 12. Hasil pengamatan warna lidah daun, bentuk lidah daun dan panjang lidah daun

Nomor aksesi/registrasi Warna lidah

daun lidah daunBentuk Panjang lidahdaun

BPTP YK 00001 Putih 2-cleft 1,2

BPTP YK 00002 Putih 2-cleft 1,4

BPTP YK 00011 Putih 2-cleft 1,5

BPTP YK 00013 Putih 2-cleft 1,6

BPTP YK 00014 Ungu 2-cleft 1,5

BPTP YK 00024 Ungu 2-cleft 1,5

BPTP YK 00045 Putih 2-cleft 1,5

BPTP YK 00047 Putih 2-cleft 1,6

BPTP YK 00115 Putih 2-cleft 1,8

BPTP YK 00120 Putih 2-cleft 1,8

BPTP YK 00123 Putih 2-cleft 2,1

BPTP YK 00124 Putih 2-cleft 1,3

BPTP YK 00125 Putih 2-cleft 1,9

BPTP YK 00127 Putih 2-cleft 1,7

BPTP YK 00128 Putih 2-cleft 2

BPTP YK 00130 Putih 2-cleft 1,5

BPTP YK 00131 Putih 2-cleft 1,8

BPTP YK 00132 Putih 2-cleft 1,5

BPTP YK 00148 Putih 2-cleft 1,4

BPTP YK 00149 Putih 2-cleft 1,3

d. Warna helaian daun dan warna pelepah daun

(58)

lebih baik (Ruhnayat, 2007). Pembentukan klorofil dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor genetik tanaman, intensitas cahaya, oksigen, karbondioksida, unsur hara, air dan temperatur (Dwijoseputro, 1992).

(A) (B)

Gambar 9. Warna helaian daun: (A) hijau, (B) ungu pada bagian pinggir

(59)

(A) (B)

(C)

Gambar 10. Warna pelepah daun: (A) putih, (B) bergaris ungu, (C) ungu

Hasil pengamatan warna pelepah daun dan warna helaian daun adalah sebagai berikut:

Tabel 13. Hasil pengamatan warna pelepah daun dan warna helaian daun Nomor aksesi/registrasi Nama kultivar Warna

helaian daun

Warna pelepah

daun

BPTP YK 00001 Batang Lembang Hijau Hijau

BPTP YK 00002 Genjah Rante Hijau Hijau

(60)

BPTP YK 00013 Cempo Laut Hijau Hijau

BPTP YK 00014 Mariti Merah Ungu pada

bagian pinggir

Ungu

BPTP YK 00024 Hitam Mujiono Ungu pada

bagian pinggir

Ungu

BPTP YK 00045 Cempo Ireng Hijau Hijau

BPTP YK 00047 Menor Hijau Hijau

BPTP YK 00115 Padi varietas W.T 1 Hijau Bergaris

ungu BPTP YK 00120 Padi Hitam Pak Jumanto Hijau Hijau

BPTP YK 00123 Rening Hijau Hijau

BPTP YK 00124 Ketang Kuning Hijau Hijau

BPTP YK 00125 Gropak Hijau Hijau

BPTP YK 00127 Padi Hitam Pak Tugiyo Hijau Hijau

BPTP YK 00128 Cebensi (Hitam) Hijau Hijau

BPTP YK 00130 Lestari Hijau Hijau

BPTP YK 00131 Kenanga Hijau Hijau

BPTP YK 00132 Menur Hijau Hijau

BPTP YK 00148 Cempo Putih (Pendek) Hijau Hijau

BPTP YK 00149 Menur Hijau Hijau

4. Permukaan Daun dan Kemampuan Membentuk Anakan

(61)

(A) (B)

Gambar 11. Permukaan daun: (A) tidak berambut, (B) sedang

(62)

Hasil pengamatan kemampuan beranak dan permukaan daun 7 kultivar padi lokal Yogyakarta pada fase pertumbuhan bunting adalah sebagai berikut:

Tabel 14. Hasil pengamatan kemampuan beranak dan permukaan daun Nomor

aksesi/registrasi Nama kultivar Kemampuanberanak Permukaan daun

BPTP YK 000011 Tangkilan Sedang Tidak berambut

BPTP YK 000045 Cempo Ireng Sedang Tidak berambut

BPTP YK 000123 Rening Sedang Tidak berambut

BPTP YK 000124 Ketan Kuning Sangat banyak Tidak berambut

BPTP YK 000125 Gropak Sedang Sedang

BPTP YK 000127 Padi Hitam Pak Tugiyo

Sedang Tidak berambut BPTP YK 000132 Menur Sangat banyak Tidak berambut

5. Jumlah Anakan

Kategori tanaman padi dengan jumlah anakan per rumpun yaitu sangat sedikit <5 anakan, sedikit 5-9 anakan, sedang 10-19 anakan, banyak 20-25 anakan, dan sangat banyak >25 anakan (Departemen Pertanian, 2003). Jumlah anakan tertinggi diperoleh pada kultivar Padi Hitam Pak Tugiyo termasuk dalam kategori sangat banyak dengan jumlah 30,83 anakan dan jumlah anakan yang terendah diperoleh pada kultivar Mandel dan Mayangan berbulu termasuk kategori sedikit yang menghasilkan 7,3 anakan (Tabel 15). Jumlah anakan ini berpengaruh terhadap jumlah anakan produktif karena semakin banyak jumlah anakan maka akan semakin tinggi kemungkinan jumlah anakan produktif.

6. Panjang daun dan lebar daun

(63)

panjang daun dilakukan mulai dari pangkal daun (atas leher daun) sampai ujung daun. Dari hasil pengukuran diperoleh panjang daun terpanjang yaitu kultivar Padi Hitam Pak Mujiono (55,8 cm) dan panjang daun terpendek yaitu kultivar Mandel (29,5 cm). Lebar daun diukur pada bagian tengah daun. Kultivar yang memilik daun terlebar yaitu Manyangan Berbulu (15 mm) dan daun terpendek diperoleh oleh kultivar Lestari, Kenanga, Tangkilan, Serang dan Gogo Lembayung (10 mm) (Tabel 15).

7. Sudut daun bendera

(64)

(A) (B)

(C) (D)

Gambar 12. Sudut daun bendera; (A) tegak, (B) sedang, (C) mendatar, (D) terkulai

Hasil pengamatan jumlah anakan, panjang daun, lebar daun, dan sudut daun bendera dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 15. Hasil pengamatan jumlah anakan, panjang daun, lebar daun, dan sudut daun bendera

BPTP YK 0008 Mandel 29,5 11 Sedang 7,33

BPTP YK

00011 Tangkilan 34 10 Terkulai 17,33

BPTP YK 00013

Cempo Laut 47,6 11 Sedang 28,83

BPTP YK

00071 Serang 35,7 10 Tegak 24,83

BPTP YK 000115

Padi varietas W.T 1

40 14 Tegak 17,33

(65)

000119 Mujiono

000121 Padi Merapi 40,5 13 Sedang 28,83

BPTP YK 000122

Gadeng Mlati 40,3 13 Sedang 19,33

BPTP YK 000123

Rening 50,88 12 Sedang 28,83

BPTP YK

000124 Ketan Kuning 41,28 11 Tegak 26,33

BPTP YK

000127 Padi Hitam PakTugiyo 42,36 11 Tegak 30,83 BPTP YK

000133 Pandan WangiPak Muharjo 38,7 11 Tegak 28,83 BPTP YK

000136

Similikiti 46,1 11 Tegak 18,66

BPTP YK

000148 Cempo Putih(Pandak) 47,2 11 Mendatar 21,5 D. Karakterisasi Bagian Generatif Tanaman

Pengamatan bagian generatif tanaman yang dilakukan adalah tinggi tanaman generatif, keluarnya malai, panjang malai, tipe malai dan cabang malai sekunder.

1. Tinggi tanaman generatif

(66)

Jumanto, padi Merapi, Gogo Lembayung, dan Cempo Putih (pandak). Kultivar padi lokal yang tergolong sedang adalah Tangkilan, Kenanga, dan Similikiti. Sedangkan kultivar padi lokal yang termasuk dalam kategori tinggi adalah Mandel dan Cempo Laut (Tabel 16).

Tinggi tanaman adalah suatu sifat baku (keturunan). Gardner et al, (1991) mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan tanaman dikendalikan oleh faktor genotip dan lingkungan. Karakter tinggi tanaman tergolong karakter yang cukup penting hal ini dikarenakan tinggi tanaman sangat berpengaruh pada tingkat kerebahan dan efisiensi dalam pemanenan. Umumnya tahapan seleksi dalam dunia pemulia tanaman kurang mengarah pada tanaman yang lebih tinggi karena sangat rentan terhadap kerebahan (Diptaningsari, 2013). Tinggi tanaman dipengaruhi oleh jarak tanam, pemberian unsur hara (Nitrogen), dan suhu. Penanaman yang rapat, pemberian Nitrogen yang tinggi, serta suhu yang tinggi mengakibatkan bertambahnya panjang ruas batang (Direktoral Jenderal Pertanian Tanaman Pangan, 1981).

(67)

yang baik terdapat pada kultivar padi Hitam Yuni, padi Merapi, gogo Lembayung, dan Lestari. Menurut (Fagi, 2001), adapun sifat dari tipe padi yang baik adalah tinggi tanaman 80-100 cm, jumlah isi 200-220 permalai, daun tegak, tebal dan berwarna hijau tua.

Tabel 16. Hasil pengamatan tinggi tanaman generatif

Nomor aksesi/registrasi Nama kultivar Tinggi tanaman (cm)

BPTP YK 0008 Mandel 162,2

BPTP YK 00011 Tangkilan 121,8

BPTP YK 00013 Cempo Laut 150,5

BPTP YK 00051 Padi Hitam Yuni 89,4

BPTP YK 000115 Padi varietas W.T 1 100,8

BPTP YK 000119 Padi Hitam Pak Jumanto 109,7 BPTP YK 000120 Padi Hitam Pak Jumanto 102,7

BPTP YK 000121 Padi Merapi 88,8

BPTP YK 000126 Gogo Lembayung 86,2

BPTP YK 000130 Lestari 87,4

BPTP YK 000131 Kenanga 111,7

BPTP YK 000136 Similikiti 114,1

BPTP YK 000148 Cempo Putih (Pandak) 104,1

2. Keluarnya malai

(68)

leher sedang. Keluarnya malai pada kategori seluruh malai dan leher keluar terdapat pada kultivar Mandel dan Tangkilan. Sedangkan keluarnya malai pada kategori malai hanya muncul sebatas leher malai terdapat pada kultivar Padi Hitam Yuni dan kultivar Padi Hitam Pak Jumanto (Tabel 17).

Tabel 17. Hasil pengamatan keluarnya malai

Nomor aksesi/registrasi Nama kultivar Keluarnya malai

BPTP YK 0008 Mandel Seluruh malai dan leher keluar

BPTP YK 00011 Tangkilan Seluruh malai dan leher keluar BPTP YK 00013 Cempo Laut Seluruh malai keluar, leher sedang BPTP YK 00051 Padi Hitam Yuni Malai hanya muncul sebatas leher malai BPTP YK 000115 Padi varietas W.T 1 Seluruh malai keluar, leher sedang BPTP YK 000119 Padi Hitam Pak

Jumanto

Malai hanya muncul sebatas leher malai BPTP YK 000120 Padi Hitam Pak

Jumanto

Seluruh

BPTP YK 000121 Padi Merapi Seluruh malai keluar, leher sedang Seluruh malai keluar, leher sedang BPTP YK 000126 Gogo Lembayung Seluruh malai keluar, leher sedang BPTP YK 000130 Lestari Seluruh malai keluar, leher sedang BPTP YK 000131 Kenanga Seluruh malai keluar, leher sedang BPTP YK 000136 Similikiti Seluruh malai keluar, leher sedang BPTP YK 000148 Cempo Putih (Pandak) Seluruh malai keluar, leher sedang

3. Panjang malai, tipe malai dan cabang malai sekunder

Figur

Tabel  1.  Varietas  lokal  yang  telah  digunakan  sebagai  tetua  dalam  perakitanvarietas unggul

Tabel 1.

Varietas lokal yang telah digunakan sebagai tetua dalam perakitanvarietas unggul p.20
Tabel 4. Kultivar padi lokal fase pertumbuhan anakan sampai pemanjangbatang

Tabel 4.

Kultivar padi lokal fase pertumbuhan anakan sampai pemanjangbatang p.43
Tabel 5. Kultivar padi lokal fase bunting

Tabel 5.

Kultivar padi lokal fase bunting p.43
Tabel 6. Kultivar padi lokal fase pembungaan

Tabel 6.

Kultivar padi lokal fase pembungaan p.44
Tabel 7. Kultivar padi lokal fase matang susu

Tabel 7.

Kultivar padi lokal fase matang susu p.44
Gambar 1. Perlakuan benih: (A) penjemuran benih, (B) perendaman benih

Gambar 1.

Perlakuan benih: (A) penjemuran benih, (B) perendaman benih p.45
Gambar 2. (A) Persemaian bak, (B) benih ditutup dengan tanah+pupuk kandang,(C) sungkup persemaian

Gambar 2.

(A) Persemaian bak, (B) benih ditutup dengan tanah+pupuk kandang,(C) sungkup persemaian p.47
Gambar 3. Persiapan media pindah tanam: (A) persiapan media, (B) media siaptanam

Gambar 3.

Persiapan media pindah tanam: (A) persiapan media, (B) media siaptanam p.48
Tabel 9. Hasil pengamatan tinggi tanaman vegetatif

Tabel 9.

Hasil pengamatan tinggi tanaman vegetatif p.51
Gambar 5. Warna telingan daun: (A) ungu, (B) putih, (C) bergaris ungu

Gambar 5.

Warna telingan daun: (A) ungu, (B) putih, (C) bergaris ungu p.53
Tabel 10. Hasil pengamatan warna telinga daun

Tabel 10.

Hasil pengamatan warna telinga daun p.53
Tabel 11. Hasil pengamatan warna leher daunNomor aksesi/registrasiNama kultivar

Tabel 11.

Hasil pengamatan warna leher daunNomor aksesi/registrasiNama kultivar p.54
Gambar 6. Warna leher daun: (A) hijau muda, (B) ungu

Gambar 6.

Warna leher daun: (A) hijau muda, (B) ungu p.54
tabel 12.

tabel 12.

p.56
Gambar 7. Warna lidah daun: (A) putih, (B) bergaris ungu, (C) ungu

Gambar 7.

Warna lidah daun: (A) putih, (B) bergaris ungu, (C) ungu p.56
Gambar 8. Bentuk lidah daun

Gambar 8.

Bentuk lidah daun p.56
Tabel 12. Hasil pengamatan warna lidah daun, bentuk lidah daun danpanjang lidah daun Nomor aksesi/registrasiWarna lidahBentukPanjang lidah

Tabel 12.

Hasil pengamatan warna lidah daun, bentuk lidah daun danpanjang lidah daun Nomor aksesi/registrasiWarna lidahBentukPanjang lidah p.57
Gambar 9. Warna helaian daun: (A) hijau, (B) ungu pada bagian pinggir

Gambar 9.

Warna helaian daun: (A) hijau, (B) ungu pada bagian pinggir p.58
Tabel 13. Hasil pengamatan warna pelepah daun dan warna helaian daunNomor aksesi/registrasiNama kultivarWarna

Tabel 13.

Hasil pengamatan warna pelepah daun dan warna helaian daunNomor aksesi/registrasiNama kultivarWarna p.59
Gambar 10. Warna pelepah daun: (A) putih, (B) bergaris ungu, (C) ungu

Gambar 10.

Warna pelepah daun: (A) putih, (B) bergaris ungu, (C) ungu p.59
Gambar 11. Permukaan daun: (A) tidak berambut, (B) sedang

Gambar 11.

Permukaan daun: (A) tidak berambut, (B) sedang p.61
Tabel 14. Hasil pengamatan kemampuan beranak dan permukaan daunNomorNama kultivarKemampuanPermukaan daun

Tabel 14.

Hasil pengamatan kemampuan beranak dan permukaan daunNomorNama kultivarKemampuanPermukaan daun p.62
Gambar 12. Sudut daun bendera; (A) tegak, (B) sedang, (C) mendatar, (D) terkulai

Gambar 12.

Sudut daun bendera; (A) tegak, (B) sedang, (C) mendatar, (D) terkulai p.64
Tabel 15. Hasil pengamatan jumlah anakan, panjang daun, lebar daun, dansudut daun bendera

Tabel 15.

Hasil pengamatan jumlah anakan, panjang daun, lebar daun, dansudut daun bendera p.64
Tabel 16. Hasil pengamatan tinggi tanaman generatif

Tabel 16.

Hasil pengamatan tinggi tanaman generatif p.67
Tabel 17. Hasil pengamatan keluarnya malai

Tabel 17.

Hasil pengamatan keluarnya malai p.68
Tabel 18. Panjang malai, tipe malai dan cabang malai sekunderNama kultivarPanjangTipe malaiCabang  malai

Tabel 18.

Panjang malai, tipe malai dan cabang malai sekunderNama kultivarPanjangTipe malaiCabang malai p.69
Gambar 7. Tipe Sudut daun benderaSumber: Komnas Plasma Nutfah, 2003.

Gambar 7.

Tipe Sudut daun benderaSumber: Komnas Plasma Nutfah, 2003. p.85
Gambar 8. Tipe Bentuk Lidah.

Gambar 8.

Tipe Bentuk Lidah. p.87
Gambar 10. Tipe Keluarnya malai

Gambar 10.

Tipe Keluarnya malai p.88

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Padi Lokal
Outline : Analisis Swot