• Tidak ada hasil yang ditemukan

peraturan daerah 2013 03

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "peraturan daerah 2013 03"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1

BUPATI BANTUL

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL

NOMOR 03 TAHUN 2013

TENTANG

PEMBERIAN INSENTIF DAN PEMBERIAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN BANTUL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL,

Menimbang : a. bahwa pemberian insentif dan kemudahan penanaman

modal merupakan salah satu upaya dalam menarik

penanam modal untuk menanamkan modalnya di

Kabupaten Bantul;

b. bahwa sebagai tindak lanjut ketentuan Pasal 176

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dan ketentuan Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2008 tentang Pedoman Pemberian Insentif dan Pemberian Kemudahan Penanaman Modal di Daerah, perlu diatur ketentuan mengenai pemberian insentif dan pemberian kemudahan penanaman modal dengan Peraturan Daerah;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud

dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan

Daerah tentang Pemberian Insentif dan Pemberian

Kemudahan Penanaman Modal di Kabupaten Bantul.

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1950 tentang

Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten Dalam

Lingkungan Daerah Istimewa Jogjakarta (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 44);

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik

(2)

2

4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang

Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724);

5. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha

Mikro, Kecil, dan Menengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4866);

6. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak

Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 30, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);

7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang

Perkoperasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 0000)

8. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1950 tentang

Penetapan Mulai Berlakunya Undang-Undang Tahun 1950 Nomor 12, 13, 14 dan 15 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 59);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2008 tentang

Pedoman Pemberian Insentif dan Pemberian Kemudahan Penanaman Modal di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 88, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4861);

10. Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2009 tentang

Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman Modal;

11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2006

tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu;

12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2012

tentang Pedoman Pelaksanaan Pemberian Insentif dan Pemberian Kemudahan Penanam Modal Di Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 930);

13. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 13 Tahun 2007

tentang Penetapan Urusan Wajib dan Pilihan Kabupaten Bantul (Lembaran Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2007 Seri D Nomor 11);

14. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 08 Tahun 2010

tentang Pajak Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2010 Seri A Nomor 08);

15. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 04 Tahun 2011

tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (Lembaran Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2011 Seri D Nomor 04);

16. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 08 Tahun 2011

(3)

3

17. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 09 Tahun 2011

tentang Retribusi Jasa Umum (Lembaran Daerah

Kabupaten Bantul Tahun 2011 Seri B Nomor 09);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANTUL dan

BUPATI BANTUL

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PEMBERIAN INSENTIF DAN PEMBERIAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN BANTUL

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:

1.Daerah adalah Kabupaten Bantul.

2.Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur

penyelenggara Pemerintahan Daerah.

3.Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bantul sebagai unsur

penyelenggara Pemerintahan Daerah.

4.Bupati adalah Bupati Bantul.

5.Pajak Daerah adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang

pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

6.Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah pungutan Daerah

sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan.

7.Pemberian Insentif adalah dukungan dari pemerintah daerah kepada penanam

modal dalam rangka mendorong peningkatan penanaman modal di daerah.

8.Pemberian Kemudahan adalah penyediaan fasilitas dari pemerintah daerah

kepada penanam modal untuk mempermudah setiap kegiatan penanaman modal dalam rangka mendorong peningkatan penanaman modal di daerah.

9.Penanaman modal adalah segala bentuk kegiatan menanam modal, baik oleh

penanam modal dalam negeri maupun penanam modal asing untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia.

10.Penanam modal adalah perseorangan atau badan usaha yang melakukan

penanaman modal yang dapat berupa penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing.

11.Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah unsur

pembantu Bupati dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang

bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas pemerintahan di bidang tertentu.

12.Industri pioner adalah industri yang memiliki keterkaitan yang luas, memberi

nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi, memperkenalkan teknologi baru, serta memiliki nilai strategis bagi perekonomian daerah.

13.Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan

(4)

4

14.Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri yang dilakukan

oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil.

15.Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang

dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan, dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan.

16.Usaha Besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha

dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari Usaha Menengah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi

17. Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau

badan hukum koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip koperasi.

18.Kemitraan adalah bentuk-bentuk kerja sama dalam rangka keterkaitan usaha

yang diselenggarakan oleh investor dengan pengusaha lokal khususnya usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi.

19.Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang selanjutnya disingkat PTSP adalah kegiatan

penyelenggaraan perizinan dan non perizinan yang proses pengelolaannya mulai dari tahap permohonan sampai ke tahap terbitnya dokumen dilakukan dalam satu tempat.

Pasal 2

Pemberian insentif dan pemberian kemudahan penanaman modal berdasarkan asas:

a. kepastian hukum;

b. kesetaraan;

c. transparansi;

d. akuntabilitas; dan

e. efektif dan efisien.

Pasal 3

Tujuan pemberian insentif dan pemberian kemudahan penanaman modal adalah:

a. menciptakan daya tarik dan daya saing bagi penanam modal maupun calon

penanam modal;

b. memperluas akses dunia usaha atas data dan informasi penanaman modal;

c. mendorong dan mengembangkan kawasan industri;

d. meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah;

e. menciptakan lapangan kerja;

f. meningkatkan kesejahteraan masyarakat;

g. mendorong meningkatnya investasi; dan

h. meningkatkan kemitraan usaha.

Pasal 4

(1)Pemerintah Daerah dapat memberikan insentif dan kemudahan kepada

penanam modal.

(2)Penanam modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :

(5)

5

b. penanam modal lama yang sudah melakukan usaha dan yang akan

melakukan perluasan usaha.

BAB II JENIS USAHA

Pasal 5

(1)Jenis usaha yang dapat memperoleh insentif dan atau penanaman modal

meliputi :

a. PMA dengan bidang usaha terbuka dengan persyaratan; dan

b. PMDN dengan skala kecil, menengah dan besar.

(2)Jenis usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. sektor pariwisata dan kebudayaan, termasuk sektor pendukungnya;

b. sektor pendidikan, diprioritaskan pada usaha yang mendukung

pengembangan fasilitas pendidikan;

c. sektor pertanian, diprioritaskan pada pengolahan hasil pertanian;

d. sektor peternakan, diprioritaskan pada usaha budi daya dan pengolahan

hasil peternakan yang melakukan kemitraan dengan usaha mikro dan kecil;

e. sektor perikanan dan kelautan, diprioritaskan pada usaha budi daya dan

pengolahan hasil perikanan dan kelautan yang melakukan kemitraan dengan usaha mikro dan kecil;

f. sektor perdagangan dan jasa, diprioritaskan pada usaha yang mendukung

ekspor;

g. sektor energi, diprioritaskan untuk energi terbarukan; dan

h. sektor industri kreatif.

(3)Jenis usaha yang bersedia menyesuaikan lokasi sesuai rencana tata ruang

dapat diberikan insentif.

BAB III

BENTUK DAN KRITERIA

Pasal 6

(1) Pemberian insentif dapat berbentuk:

a. pengurangan pajak daerah; dan

b. pengurangan atau pembebasan retribusi daerah;

(2) Pemberian kemudahan dapat berbentuk:

a. penyediaan informasi lahan atau lokasi;

b. pemberian advokasi; dan

c. percepatan pemberian perizinan.

Pasal 7

Pemberian insentif dan/atau pemberian kemudahan diberikan kepada penanam modal yang sekurang-kurangnya memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut:

a. menanamkan investasi lebih dari Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah);

b. menyerap banyak tenaga kerja lokal;

c. melakukan industri pionir;

d. berlokasi sesuai peruntukannya;

e. bermitra dengan usaha mikro dan kecil; dan

(6)

6 BAB IV

TATA CARA PERMOHONAN DAN DASAR PENILAIAN

Pasal 8

(1) Penanam modal yang ingin mendapatkan insentif dan/atau kemudahan

mengajukan permohonan kepada Bupati atau pejabat yang ditunjuk.

(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat:

a.Penanam modal baru yang akan membuka usaha, terdiri atas :

1. profil perusahaan;

2. bentuk insentif dan/atau kemudahan yang dimohonkan.

b.Penanam modal yang akan melakukan perluasan usaha, terdiri atas :

1.kinerja perusahaan;

2.perkembangan usaha;

3.lingkup usaha; dan

4.bentuk insentif dan/atau kemudahan yang dimohonkan.

(3) Tata cara permohonan insentif dan/atau kemudahan penanaman modal diatur

lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

Pasal 9

(1) Bupati menetapkan Tim Verifikasi dan Penilaian Pemberian Insentif dan

Pemberian Kemudahan Penanaman Modal.

(2) Susunan keanggotaan, ketugasan, mekanisme dan tata kerja Tim sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

Pasal 10

Bupati menetapkan penanam modal yang memperoleh insentif dan/atau kemudahan penanaman modal berdasarkan rekomendasi Tim dengan Keputusan Bupati.

Pasal 11

Jenis insentif yang akan diberikan, format penilaian dan format laporan dalam pemberian insentif sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Daerah ini.

BAB V

KEWAJIBAN DAN HAK

Pasal 12

(1) Setiap penanam modal yang mendapatkan insentif dan/atau kemudahan

penanaman modal wajib :

a.mematuhi segala ketentuan yang ditetapkan mengenai pemberian insentif

dan/atau kemudahan penanaman modal;

b.menciptakan iklim usaha yang kondusif dengan persaingan sehat dan

mencegah hal-hal yang merugikan Daerah;

c. menciptakan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kesejahteraan

pekerja;

d.menjaga kelestarian lingkungan hidup;

(7)

7

f. menyampaikan laporan perkembangan usaha dan laporan terhadap insentif

dan/atau kemudahan penanaman modal yang diterima; dan

g. menerima/melaksanakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

(2) Setiap penanam modal yang mendapatkan insentif dan/atau kemudahan

penanaman modal berhak :

a.mendapatkan informasi pelayanan pemberian insentif dan/atau kemudahan

penanaman modal;

b.mendapatkan insentif dan/atau kemudahan penanaman modal sesuai

mekanisme yang ditetapkan; dan

c. mendapatkan layanan terkait proses pemberian, pelaksanaan, pengawasan

dan pembinaan terhadap penanaman modal.

BAB VI

PELAPORAN DAN EVALUASI

Pasal 13

(1) Penanam modal yang menerima insentif harus menyampaikan laporan kepada

Bupati atau pejabat yang ditunjuk paling sedikit 1 (satu) tahun sekali.

(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat penggunaan insentif.

Pasal 14

(1) Bupati atau pejabat yang ditunjuk melakukan evaluasi terhadap kegiatan

penanaman modal yang memperoleh insentif.

(2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling sedikit 1 (satu)

tahun sekali.

(3) Tata cara evaluasi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

BAB VII

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 15

(1) Pembinaan dan pengawasan terhadap pemberian insentif dan pemberian

kemudahan penanaman modal dikoordinasikan oleh Bupati atau pejabat yang ditunjuk.

(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi

pengawasan atas pemanfaatan pemberian insentif dan/atau pemberian kemudahan penanaman modal serta kendala yang dihadapi.

BAB VIII

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 16

(1) Pemberian insentif penanaman modal yang telah ditetapkan melalui perjanjian

(8)

8

(2) Permohonan pemberian insentif yang sedang dalam proses pengajuan dan

sampai dengan berlakunya Peraturan Daerah ini belum diberikan, diproses berdasarkan Peraturan Daerah ini.

BAB IX

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 17

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Bantul.

Ditetapkan di Bantul

pada tanggal 10 Juni 2013

BUPATI BANTUL, ttd

SRI SURYA WIDATI Diundangkan di Bantul

pada tanggal 10 Juni 2013

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BANTUL, ttd

RIYANTONO

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANTUL TAHUN 2013 NOMOR 03

Salinan sesuai dengan aslinya KEPALA BAGIAN HUKUM

Ttd

ANDHY SOELYSTYO,S.H.,M.Hum Penata (IV/a)

(9)

9

PENJELASAN

ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL

NOMOR 03 TAHUN 2013

TENTANG

PEMBERIAN INSENTIF DAN PEMBERIAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN BANTUL

I. UMUM

Penanaman modal telah menjadi bagian integral bagi pembangunan di Daerah, khususnya dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Di era Otonomi Daerah ini, Pemerintah Daerah dituntut untuk lebih kreatif dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, antara lain melalui peningkatan penananam modal. Pemerintah Kabupaten Bantul yang memiliki sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terbatas, bermitra dengan sektor swasta menjadi salah satu solusi alternatif untuk memecahkan berbagai keterbatasan yang dihadapi, sehingga perlu diberikan insentif bagi penanam modal yang berminat untuk membuka usaha dan akan melakukan perluasan usaha.

Kegiatan penanaman modal diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi angka pengangguran dengan menyerap tenaga kerja lokal, meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto serta serta menimbulkan multiplier effect bagi sektor kegiatan lainnya.

Ketentuan Pasal 176 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang telah ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2008 tentang Pedoman Pemberian Insentif dan Pemberian Kemudahan Penanaman Modal di Daerah, perlu diatur lebih lanjut denga Peraturan Daerah, sehingga dapat dipergunakan sebagai landasan hukum bagi Pemerintah Daerah untuk memberikan insentif dan/atau kemudahan di bidang penanaman modal.

Peraturan Daerah ini pada pokoknya mengatur bentuk dan kriteria insentif dan kemudahan penanaman modal, jenis usaha yang dapat diberikan insentif dan/atau kemudahan, tata cara, dasar penilaian, pelaporan dan evaluasi, pembinaan dan pengawasan.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Cukup jelas Pasal 2

Huruf a

Yang dimaksud dengan “kepastian hukum” adalah asas yang

(10)

10 Huruf b

Yang dimaksud dengan “kesetaraan” adalah perlakuan yang sama

terhadap penanam modal tanpa memihak dan menguntungkan satu golongan, kelompok atau skala usaha tertentu

Huruf c

Yang dimaksud dengan “transparansi” adalah keterbukaan

informasi daalam pemberian insentif dan/atau kemudahan kepada penanam modal dan masyarakat luas.

Huruf d

Yang dimaksud dengan ”akuntabilitas” adalah bentuk

pertanggungjawaban atas pemberian insentif dan/atau penanaman modal

Huruf e

Yang dimaksud dengan “efektif dan efisien” adalah pertimbangan

yang rasional dan ekonomis serta jaminan yang berdampak pada peningkatan produktivitas serta pelayanan publik.

Pasal 3

Pemberian kemudahan dalam bentuk penyediaan lahan atau lokasi antara lain:

a. informasi rencana tata ruang wilayah;

b. bantuan teknis pengadaan lahan; dan/atau

c. percepatan pengadaan lahan.

Huruf b

Pemberian advokasi antara lain :

a.layanan konsultasi usaha; dan/atau

b.fasilitasi pengaduan dan penyelesaian malpraktik

(11)

11 Pasal 16

Cukup jelas Pasal 17

Cukup jelas

(12)

12

LAMPIRAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR

333303

03 TAHUN 2013 TENTANG

PEMBERIAN INSENTIF DAN PEMBERIAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN BANTUL

JENIS-JENIS PEMBERIAN INSENTIF, FORMAT HASIL PENILAIAN DAN FORMAT LAPORAN

I. JENIS PEMBERIAN INSENTIF BERUPA PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH.

NO JENIS PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH KETERANGAN

1. Pajak Kabupaten

a. Pajak Hotel;

b. Pajak Restoran;

c. Pajak Hiburan;

d. Pajak Reklame; dan/atau

e. Pajak Air Tanah.

Pengurangan Pajak Terutang, keringanan atau pembebasan pajak daerah sesuai kemampuan keuangan dan kebijakan daerah.

2. Retribusi Jasa Umum

Retribusi Pengolahan Limbah Cair; Pemberian insentif investasi baik berupa keringanan atau pembebasan disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan kebijakan daerah.

3. Retribusi Perizinan Tertentu

a. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan (IMB);

b. Retribusi Izin Gangguan (HO); dan/atau

c. Retribusi Izin Usaha Perikanan.

(13)

13

II. FORMAT PENILAIAN

a. VARIABEL PENILAIAN

No. VARIABEL INDIKATOR PARAMETER NILAI

1. Besaran Investasi Besarnya investasi yang akan

diinvestasikan dalam pembukaan usaha atau perlusan usaha

a. Nilai investasi Rp.500.000.000,- (lima ratus juta

rupiah) sampai dengan Rp.3.000.000.000,- (tiga milyard rupiah)

b.Nilai investasi lebih dari Rp.3.000.000.000,-

(tiga milyard) sampai dengan

Rp.5.000.000.000,- (lima milyard rupiah)

c. Nilai investasi lebih dari Rp.5.000.000.000,-

(lima milyard rupiah).

1

2

3

2. Penyerapan Tenaga Kerja Lokal Penggunaan tenaga kerja lokal yang

dibutuhkan/dipekerjakan dalam usahanya.

a. Ada penyerapan tenaga kerja lokal 50 (lima

puluh) orang sampai dengan 150 (seratus lima puluh orang)

b. Ada penyerapan tenaga kerja lokal lebih dari

151 (seratus lima puluh satu) sampai dengan 250 (dua ratus lima puluh) orang

c. Ada penyerapan tenaga kerja lokal lebih dari

250 (dua ratus lima puluh) orang

1

2

3

3. Berwawasan Lingkungan dan

Berkelanjutan

Badan Usaha/Penanam Modal yang menerapkan prinsip-prinsip

keseimbangan dan keadilan, serta

pemanfaatan sumber daya (alam) dan taat pada rencana tata ruang yang telah

ditetapkan

a. Penanam Modal tidak memiliki dokumen

AMDAL

b.Penanam Modal Memiliki dokumen AMDAL

namun tidak melakukan daur ulang limbahnya (Produksi Bersih)

c. Penanam Modal Memiliki dokumen AMDAL

dan melakukan daur ulang limbahnya (Produksi Bersih)

1

2

(14)

14

4. Melakukan Alih Teknologi Penanam Modal yang memberikan

kesempatan kepada pemerintah daerah dan masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan dan penerapan teknologi yang digunakan oleh penanam modal

a. Belum ada transfer teknologi kepada

Pemerintah Daerah maupun kepada Masyarakat

b.Transfer teknologi kepada Pemerintah Daerah

dan Masyarakat dilakukan dengan dukungan dana APBD

c. Transfer teknologi kepada Pemerintah Daerah

dan Masyarakat dilakukan dengan pembiayaan penuh dari penanam modal

1

2

3

5. Merupakan Industri Pioner Penanam Modal yang membuka jenis

usaha baru yang memiliki keterkaitan kegiatan usaha yang luas, memberi nilai tambah dan memperhitungkan

eksternalitas yang terjadi,

memperkenalkan teknologi baru, serta memiliki nilai strategis dalam mendukung pengembangan produk unggulan daerah

a. Usaha penanam modal nukan jenis usaha baru

dan tidak memiliki keterkaitan kegiatan usaha yang luas (Keterkaitan kedepan dan

kebelakang) dan tidak mendukung

pengembangan produk unggulan daerah (PUD)

b.Usaha penanam modal adalah jenis usaha

baru yang memiliki keterkaitan kegiatan usaha yang luas (Keterkaitan kedepan dan kebelakang tapi tidak mendukung pengembangan produk unggulan daerah (PUD)

c. Usaha penanam modal adalah jenis usaha

baru yang memiliki keterkaitan kegiatan usaha yang luas (Keterkaitan kedepan dan kebelakang dan mendukung pengembangan produk

unggulan daerah (PUD)

1

2

3

6. Bermitra Dengan UMK Melakukan kemitraan dengan pengusaha

mikro dan kecil.

a. Penanam modal belum melakukan kemitraan

tidak secara fungsional

b.Penanam modal melakukan kemitraan

secara fungsional dalam bidang produksi saja

c. Penanam modal melakukan kemitraan

secara fungsional dalam bidang produki dan pemasaran hasil

1

2

(15)

15

7. Kriteria sesuai dengan

peruntukannya

Badan Usaha/Penanam Modal yang usahanya berada dan/atau sesuai dengan, rencana tata ruang daerah, RPJPD, dan RPJMD

a. Usaha penanam modal tidak sesuai dengan

RTRW dan tidak masuk dalam dokumen PJPD/RPJMD/Renstra SKPD.

b.Usaha penanam modal sesuai dengan RTRW

namun tidak masuk dalam dokumen PJPD/RPJMD/Renstra SKPD

c. Usaha penanam modal sesuai dengan RTRW,

masuk dalam dokumen

RPJPD/RPJMD/Renstra SKPD

1

2

3

b. SKALA PRIORITAS PENANAM MODAL

1) Skala Penentuan Prioritas Pemberian Insentif dan Pemberian Kemudahan Penanaman Modal

a. Skor nilai antara 1 sampai 7 = Prioritas Rendah

b. Skor nilai antara 8 sampai 13 = Priotitas Sedang

(16)

16

2) Tabel Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal Berdasarkan Skala Prioritasnya

Bentuk Pemberian Insentif dan Kemudahan

Investasi

Prioritas Rendah Prioritas Sedang Prioritas Tinggi

Bentuk Insentif Dalam Penanaman ModaL

Pengurangan atau

pembebasan retribusi dan pajak untuk setiap penanam modal diberikan maksimum sebesar 5% (lima persen) dari total perkiraan atau realisasi pembayaran pajak dan retribusi dari penanam modal

Pengurangan atau pembebasan retribusi dan pajak untuk setiap penanam modal antara lebih dari 6 % (enam persen) sampai dengan 10 % (sepuluh persen) dari total perkiraan atau realisasi

pembayaran pajak dan retribusi dari penanam modal

Pengurangan atau pembebasan retribusi dan pajak untuk setiap penanam modal lebih dari 10 % (sepuluh persen) sampai 15% (lima belas persen) dari total perkiraan atau realisasi pembayaran retribusi dari penanam modal

Bentuk Kemudahan

Dalam Penanaman

ModaL

1.Penyediaan data dan

informasi terkait dengan peluang usaha;

2.Pengurusan izin usaha

yang cepat sesuai peraturan perundang-undangan

1.Penyediaan data dan informasi

terkait peluang peluang usaha;

2.Pengurusan izin usaha yang

cepat sesuai sesuai peraturan perundang-undangan

3.Pemberian bantuan teknis

manajemen usaha;

1.Penyediaan data dan informasi

terkait dengan peluang usaha;

2.Pengurusan izin usaha yang cepat

sesuai peraturan perundang-undangan

3.Pemberian bantuan teknis

manajemen usaha;

4.Fasilitasi lahan /lokasi usaha yang

layak

3)Syarat-syarat Pembebasan Pembayaran Retribusi

Suatu usaha akan diberikan pembebasan pembayaran retribusi sampai masa berlakunya izin berakhir, jika :

(17)

17

b. Usahanya terkena bencana alam yang menyebabkan kerugian lebih dari 50% (lima puluh persen) dari total nilai modal

usahanya tidak termasuk tanah;

c. Usahanya terkena bencana alam yang menyebabkan tidak dapat menjalankan usahanya selama 12 (dua belas) bulan mulai

saat bencana alam terjadi;

d. Usahanya mengalami relokasi yang disebabkan terkena kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum (fasos atau fasum),

dengan mempertahankan karyawan sebelumnya, serta jenis usaha tidak mengalami perubahan.

4). Jangka Waktu dan Frekwensi Pemberian Insentif dan Kemudahan Dalam Investasi

Penanam Modal Jangka Waktu dan Frekwensi Insentif

Investasi

Jangka Waktu dan Frekwensi Kemudahan Investasi

Bagi Penanam Modal Baru Diberikan maksimum 4 (Empat) kali

dalam jangka waktu 5 Tahun sejak beroperasi usahanya

Diberikan maksimum 5 (Lima) kali dalam jangka waktu 5 Tahun sejak beroperasi usahanya

Bagi Penanam Modal Lama yang akan melakukan perluasan usaha

Diberikan maksimum 2 (dua) kali saat usaha penanam modal akan melakukan perluasan usaha

Diberikan maksimum 2 (dua) kali per 5 (lima) Tahun setelah 3 (tiga) tahun beroperasi

III. FORMAT LAPORAN.

1. LAPORAN PENGGUNAAN INSENTIF DAN/ATAU KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL

1.1. Nama Badan Usaha :

1.2. Bidang Usaha :

(18)

18

1.4. Jenis Insentif Yang

Diperoleh :

1.4.1.

1.4.2.

1.4.3.

1.5. Jenis Kemudahan Yang

Diperoleh :

1.5.1

1.5.2

1.5.3

1.6. Nilai Omzet Penjualan Sebelum dan Sesudah Diperoleh Insentif

1.6.1. Omzet Penjualan/Nilai Transaksi Usaha Sebelum Diberikan Insentif Rp.

1.6.2. Omzet Penjualan/Nilai Transaksi Usaha Setelah Diberikan Insentif Rp.

1.7. Penggunaan Insentif (Beri tanda X pada kolom yang tersedia)

1.7.1. Pembelian bahan baku

1.7.2. Restrukturisasi Mesin Produksi

1.7.3. Peningkatan Kesejahteraan Karyawan

1.7.4. Penambahan Biaya Promosi Produk

1.7.5. Lainnya ...

2. PENGELOLAAN USAHA

2.1. Bidang Sumberdaya Manusia (SDM)

2.1.1 Peningkatan kapasitas karyawan melalui pelatihan tematik

(19)

19

2.1.1.2. Jumlah karyawan yang mengikuti pelatihan khusus sesudah memperoleh insentif ... Orang

2.1.2 Peningkatan kapasitas karyawan melalui pelatihan umum

2.1.2.1. Jumlah karyawan yang mengikuti pelatihan umum sebelum memperoleh insentif ... Orang

2.1.2.2. Jumlah karyawan yang mengikuti pelatihan umum sesudah memperoleh insentif ... Orang

2.2. Bidang Produksi

2.2.1 Volume produksi Sebelum diperoleh insentif ... Ton

2.2.2 Volume produksi Sesudah diperoleh insentif ... Ton

2.3. Bidang Pemasaran

2.3.1 Volume produk yang dipasarkan Sebelum diperoleh insentif

2.3.1.1. Orientasi pasar dalam 1 Provinsi ... Ton

2.3.1.2. Orientasi pasar luar Provinsi ... Ton

2.3.2 Volume produk yang dipasarkan Sesudah diperoleh insentif

2.3.2.1. Orientasi pasar dalam 1 Provinsi ... Ton

2.3.2.2. Orientasi pasar luar Provinsi ... Ton

3. RENCANA KEGIATAN USAHA

3.1. Target produksi dan penjualan produk 3 tahun kedepannya setelah diperoleh insentif

Tahun Volume Produksi Volume Penjualan

1 2 3

3.2. Bidang usaha lainnya (diversifikasi) yang akan dikerjakan setelah memperoleh insentif

(20)

20

3.2.3 Bidang Pengolahan (sebutkan)

3.3. Peningkatan kapasitas mesin/peralatan produk setelah diperoleh insentif (beri tanda X)

3.3.1. Melalui Perbaikan Mesin/Peralatan

3.3.2 Melalui Penggantian Sebagian Mesin/Peralatan Produksi

BUPATI BANTUL,

TTD

Referensi

Dokumen terkait

Persentase nilai ketuntasan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Jagara pada kondisi awal pra siklus sebesar 40% atau sejumlah 20 siswa yang mencapai ketuntasan

Dalam pembuatan buku referensi yang membahas akan sejarah dan tradisi suatu daerah harus memiliki kekuatan yang dapat dipercaya sehingga tidak merubah yang sudah ada,

menunjukkan bahwa kehadiran ligan sitrat pada konsentrasi yang rendah (rasio ligan/Fe(II) 0,001) dalam larutan akan menurunkan secara nyata kecepatan adsorbsi

Pada penelitian tugas akhir ini dilakukan perbandingan algoritma Naïve Bayes dengan Multinomial Naïve Bayes untuk menentukan algoritma mana yang lebih efektif dalam

Batuan ultramafik yang berada di wilayah bercurah hujan tinggi, bersuhu hangat, topografi yang landai, banyak vegetasi (melimpahnya humus), akan mengalami pelapukan

Tertanam di benak para pekerja media ini bahwa para jurnalis laki-laki dianggap dapat lebih mendedikasikan waktunya secara total dari pagi hingga tengah malam

Dalam hal penjualan kembali Unit Penyertaan REKSA DANA BNP PARIBAS PESONA dilakukan oleh Pemegang Unit Penyertaan melalui media elektronik, maka Formulir Penjualan Kembali

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kerawanan penduduk terhadap bencana banjir dimasa depan perlu dilakukan penelitian dengan judul “Pemetaan