• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III Kerangka ekonomi makro

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BAB III Kerangka ekonomi makro"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

III-1

BAB III

KERANGKA

EKONOMI

DAERAH

DAN

KEBIJAKAN

KEUANGAN

DAERAH

3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah

Kondisi perekonomian Provinsi Gorontalo tahun 2015 berikut karakteristiknya serta proyeksi perekonomian tahun 2015-2016 dapat digambarkan melalui Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah yang juga merupakan penjelasan atas analisis statistik perekonomian daerah.

Untuk memperoleh gambaran kerangka ekonomi daerah tersebut, maka disusun berbagai prioritas pembangunan, pengambilan kebijakan untuk menghadapi tantangan dan penyelesaian masalah pembangunan agar arah pembangunan daerah tahun 2016 dapat dicapai sesuai dengan sasaran program dan kegiatan yang ditetapkan. Pada sisi yang lain, perkiraan sumber-sumber pendapatan dan besaran pendapatan dari sektor-sektor potensial merupakan dasar kebijakan anggaran untuk mengalokasikan perencanaan anggaran berbasis kinerja secara efektif dan efisien.

3.1.1 Kondisi Ekonomi Makro Provinsi Gorontalo

Perkembangan kondisi ekonomi daerah dapat dilihat dari indicator ekonomi makro serta perekonomian daerah. Perekonomian suatu daerah tidak dapat terlepas dengan perekonomian regional, perekonomian nasional bahkan perekonomian global. Ada faktor-faktor perekonomian yang tidak dapat dikendalikan oleh daerah seperti yang menyangkut kebijakan pemerintah pusat menyangkut sektor moneter maupun sektor riil. Kemudian juga pengaruh perekonomian global seperti pengaruh naik turunnya harga minyak dunia, dan nilai tukar mata uang asing, dan yang terakhir adalah pengaruh krisis keuangan global yang telah berdampak pada meningkatnya pemutusan hubungan kerja dan kelesuan pasar ekspor.

Perekonomian Gorontalo pada tahun 2014 mengalami pertumbuhan sebesar 7,74%, lebih lambat bila dibandingkan tahun 2013 yang tumbuh sebesar 7,76%. Nilai PDRB ADHK pada tahun 2014 mencapai Rp3.928 milyar, sedangkan pada tahun 2013 sebesar Rp3.646 milyar. Bila dilihat berdasarkan harga berlaku, PDRB mengalami kenaikan dari Rp11.752 milyar pada tahun 2013 menjadi sebesar Rp13.378 milyar pada tahun 2014.

(2)

III-2

Tabel 3.1

Nilai PDRB dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha Tahun 2013 & 2014 (Tahun Dasar 2000)

LAPANGAN USAHA

Sisi lain yang menarik untuk dicermati adalah besarnya sumbangan masing-masing sektor dalam menciptakan laju pertumbuhan ekonomi selama tahun 2014 yang dalam sumber pertumbuhan. Sektor-sektor ekonomi yang nilai nominalnya besar memiliki kecenderungan menjadi penyumbang terbesar bagi pertumbuhan, walaupun pertumbuhan sektor bersangkutan relatif kecil (Grafik 1). Sektor perdagangan, hotel, dan restoran, yang mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu 11,21% memberikan kontribusi sebesar 1,81% terhadap total pertumbuhan ekonomi yang sebesar 7,74%. Sementara itu sektor pertanian, walaupun pertumbuhannya tidak sebesar pertumbuhan sektor perdagangan, hotel, dan restoran, namun namun memberikan kontribusi relatif besar yaitu 1,52% terhadap pertumbuhan ekonomi. Sumber-sumber pertumbuhan secara lengkap dapat dilihat pada Grafik 1 dibawah ini.

Grafik 3.1

(3)

III-3

Secara total, nilai PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan IV-2014 mencapai Rp3.497 milyar, sedangkan atas dasar harga konstan (tahun 2000) mencapai Rp1.004 milyar. Nilai PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan IV-2014 tersebut lebih besar apabila dibandingkan dengan nilai pada triwulan sebelumnya yaitu Rp3.444 milyar. Sedangkan nilai PDRB atas dasar harga konstan triwulan IV-2014 lebih besar dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar Rp1.006 milyar. Pada triwulan IV-2014 ini, nilai PDRB tercatat paling tinggi berasal dari sektor pertanian sebesar Rp934 milyar (ADHB) dan Rp257 milyar (ADHK). Nilai tersebut diikuti oleh sektor jasa-jasa sebesar Rp901 milyar (ADHB) dan Rp181 milyar (ADHK). Nilai sektor-sektor lainnya disajikan lengkap pada Tabel 3.2 dibawah ini.

Tabel 3.2

Nilai PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 (Milyar Rupiah)

2. Pertambangan dan Penggalian 43,67 45,38 10,61 10,77

3. Industri Pengolahan 182,85 188,87 81,46 83,22

4. Listrik, Gas dan Air Bersih 18,61 19,28 5,72 5,76

5. Konstruksi/Bangunan 244,08 258,40 95,35 97,83

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 408,28 421,74 161,78 165,09

7. Pengangkutan dan Komunikasi 309,00 322,81 109,43 110,71

8. Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan

394,94 406,01 91,05 92,43

9. Jasa-jasa 889,50 900,90 180,94 181,19

PDRB 3.443,93 3.497,04 1.005,91 1.004,42

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo

Kinerja perekonomian Gorontalo pada triwulan IV-2014 atas dasar harga konstan

turun sebesar 0,15 dibanding triwulan sebelumnya (

q-to-q

). Pertumbuhan negatif

pada triwulan IV-2014 ini terutama karena sektor pertanian mengalami penurunan cukup signifikan, yaitu 4,51%. Hal ini didorong oleh efek musiman beberapa komoditi pertanian seperti padi yang memasuki musim tanam serta beberapa komoditi perkebunan lain yang telah melewati musim panen. Sementara itu, sektor-sektor lainnya selama triwulan IV-2014 mengalami pertumbuhan positif. Pertumbuhan tertinggi dialami oleh sektor bangunan yang tumbuh sebesar 2,60%, diikuti oleh sektor industri pengolahan sebesar 2,16%.

Selanjutnya, perekonomian Gorontalo pada triwulan IV-2014 bila dibandingkan

dengan triwulan IV-203 (

y-on-y

) mengalami pertumbuhan sebesar 8,08%. Semua

(4)

III-4

Tabel 3.3

Laju Pertumbuhan PDRB Triwulanan Menurut Lapangan Usaha

LAPANGAN USAHA

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo

Kemudian bila dilihat dari distribusi PDRB menurut sektor ADHB menunjukkan peranan dan perubahan struktur ekonomi dari tahun ke tahun. Tiga sektor utama yaitu sektor pertanian, jasa-jasa, dan perdagangan, hotel, dan restoran pada tahun 2014 mempunyai peranan masing-masing sebesar 27,70%; 25,43%; dan 11,93%. Sektor yang memberikan kontribusi terendah adalah sektor listrik, gas, dan air bersih yaitu hanya 0,55% sebagaimana diuraikan pada tabel dibawah ini.

Pada tahun 2014 terjadi beberapa perubahan peranan pada beberapa sektor ekonomi yang menyebabkan pergeseran struktur yaitu kenaikan peranan pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran dari 11,60% pada tahun 2013 menjadi 11,93%. Begitu juga dengan sektor keuangan, real estat, dan jasa perusahaan mengalami kenaikan dalam memberikan kontribusi terhadap total PDRB dari sebesar 11,46% pada tahun 2013 menjadi sebesar 11,51% pada tahun 2014. Sementara itu, sektor-sektor lainnya walaupun mengalami perubahan dalam peranannya namun tidak menggeser struktur perekonomian.

2. Pertambangan dan Penggalian 1,13 1,25

3. Industri Pengolahan 5,11 5,34

4. Listrik, Gas dan Air Bersih 0,53 0,55

5. Konstruksi 7,09 7,19

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 11,60 11,93

7. Pengangkutan dan Komunikasi 9,13 9,11

8. Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 11,46 11,51

9. Jasa-jasa 25,95 25,43

PDRB 100,00 100,00

(5)

III-5

Kemakmuran masyarakat Gorontalo secara makro dapat digambarkan dengan

indikator pendapatan per kapita atau

percapita income

. Semakin tinggi pendapatan

yang diterima penduduk di suatu wilayah, maka tingkat kesejahteraan di wilayah yang bersangkutan bertambah baik. Dengan asumsi bahwa pendapatan faktor produksi dan transfer yang mengalir keluar sama dengan pendapatan faktor produksi dan transfer yang masuk, maka pendapatan regional sama besar dengan PDRB perkapita. Asumsi ini, digunakan karena sulitnya untuk mendapatkan data pendapatan faktor produksi dan transfer yang masuk dan keluar. Namun

peningkatan PDRB perkapita sebagaimana tabel 3.5 dibawah belum

menggambarkan secara riil kenaikan daya beli masyarakat Gorontalo secara umum. Hal ini disebabkan karena PDRB perkapita yang dihitung berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku masih terkandung faktor inflasi.

Tabel 3.5

PDRB Perkapita Gorontalo

PDRB Perkapita 2013 2014

Atas Dasar Harga Berlaku

(Rupiah) 10.703.375,26 11.991.349,31

Sumber: Bappeda Provinsi Gorontalo

Penetapan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di minggu ke-3 November 2014, mengakibatkan kenaikan harga pada beberapa kelompok, terutama kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Gorontalo, pada bulan Desember 2014 terjadi Inflasi sebesar 4,12%, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,70 pada bulan November 2014 menjadi 115,26 pada bulan Desember 2014. Laju inflasi tahun kalender 2014

sebesar 6,14% dan inflasi “year on year” (Desember 2014 terhadap Desember 2013)

sebesar 6,14%.

Penghitungan inflasi Provinsi Gorontalo diwakili oleh Inflasi yang terjadi di Kota Gorontalo. Inflasi di kota Gorontalo terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok bahan makanan sebesar 8,48%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau sebesar 0,51%, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 1,52%, kelompok kesehatan sebesar 0,09%, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,10%, dan kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 9,00%. Sedangkan kelompok sandang mengalami penurunan indeks sebesar 0,01%.

Selain pendapatan perkapita dan perubahan inflasi, saat ini Indeks Gini atau

Gini

(6)

III-6

turun pada angka 0,40 di tahun 2014. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesenjangan pendapatan antara lapisan penduduk di Gorontalo sudah mulai dapat diminimalisir.

Capaian ketenagakerjaan dan kemiskinan yang menjadi gambaran kondisi sosial juga menunjukkan hasil yang cukup baik. Pada bulan Agustus 2014 partisipasi angkatan kerja di Provinsi Gorontalo sebesar 62,84%, mengalami penurunan dibandingkan keadaan Februari 2014 sebesar 66,25%, namun meningkat dibandingkan Agustus 2013 sebesar 61,46%.

Peningkatan TPAK dari Agustus 2013 - Agustus 2014 ini disebabkan proporsi penduduk usia kerja yang masuk ke pasar kerja mengalami kenaikan. Selama setahun terakhir (Agustus 2013 - Agustus 2014), jumlah penduduk yang masuk angkatan kerja naik sebesar 21.243 orang. Sedangkan pada periode yang sama penduduk yang termasuk bukan angkatan kerja justru mengalami penurunan. Penduduk bukan angkatan kerja pada Agustus 2014 sebesar 295.761 orang, turun sebesar 4.505 orang dari keadaan Agustus 2013 sebesar 300.266 orang.

Tabel 3.6

Penduduk usia 15 tahun keatas menurut kegiatan

Jenis Kegiatan Agustus Februari Agustus

2013 2014 2014

(1)

(2)

(3)

(4)

Bekerja 458.930 507.939 479.137

Pengangguran 19.883 12.704 20.919

Angkatan Kerja 478.813 520.643 500.056

Sekolah 76.509 80.375 84.448

Mengurus Rumah Tangga 182.719 148.680 174.438

Lainnya 41.038 36.225 36.875

Bukan Angkatan Kerja 300.266 265.280 295.761

Tingkat Pengangguran

Terbuka (TPT) 4.15 2.44 4.18

Tingkat Partisipasi Angkatan

Kerja (TPAK) 61.46 66.25 62.84

Pekerja Tidak Penuh 152.130 152.028 138.891

Setengah Penganggur 31.403 49.524 46.082

Paruh Waktu 120.727 102.504 92.809

Sumber: BPS Provinsi Gorontalo

Dari sisi penyerapan tenaga kerja, meningkatnya proporsi penduduk yang masuk ke dalam pasar kerja ini mempengaruhi kesempatan kerja dan pengangguran. Pada Agustus 2014 jumlah penduduk yang bekerja sebesar 479.137 orang, berkurang 28.802 orang dari keadaan Februari 2014 sebesar 507.939 orang, namun bertambah 20.207 orang dari keadaan Agustus 2013 sebesar 458.930 orang. Sedangkan jumlah penganggur pada Agustus 2014 sebesar 20.919 orang, bertambah 8.215 orang dari keadaan Februari 2014 sebesar 12.704 orang, atau bertambah 1.036 orang dari keadaan Agustus 2013 sebesar 19.883 orang.

(7)

III-7

yang bekerja di sektor pertanian sebanyak 39,24% dari total penduduk yang bekerja. Sedangkan 60,76% lainnya terdistribusi ke sektor industri 8,59%, perdagangan 17,56%, jasa kemasyarakatan 17,76% dan sektor lainnya 16,85%. Selama setahun terakhir (Agustus 2013-Februari 2014), sektor yang mengalami penurunan pekerja adalah sektor jasa kemasyarakatan dan sektor lainnya, dengan penurunan jumlah pekerja masing-masing sebesar 5.645 orang (6,22%) dan 4.774 orang (5,58%).

Tabel 3.7

Penduduk usia 15 tahun yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama

Lapangan Pekerjaan Utama

Agustus 2013 Februari 2014 Agustus 2014 Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Pertanian 169.416 36,92 169.345 33,34 188.033 39,24

Industri 35.129 7,65 19.196 3,78 41.165 8,59

Perdagangan 78.174 17,03 104.106 20,50 84.147 17,56

Jasa Kemasyarakatan 90.725 19,77 104.443 20,56 85.080 17,76

Lainnya 85.486 18,63 110.849 21,82 80.712 16,85

Total 458.930 100,00 507.939 100,00 479.137 100,00

Sumber: BPS Provinsi Gorontalo

Dalam hal jenjang pendidikan, pada bulan Agustus 2014, pekerja pada jenjang pendidikan SD ke bawah masih tetap tinggi yaitu sekitar 300.343 orang (62,68%), sedangkan jumlah pekerja dengan pendidikan tinggi masih relatif kecil. Pekerja dengan pendidikan SMP-SMU hanya sebesar 132.851 orang (27,73%) dan pekerja dengan pendidikan Diploma-Universitas hanya sebesar 45.943 orang (9,59%).

Tabel 3.8

Penduduk Usia 15 Tahun Yang Bekerja Menurut Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan

Pendidikan Tertinggi Yang

Ditamatkan

Agustus 2013 Februari 2014 Agustus 2014

Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

(8)

III-8

1.331 jiwa (0,36%), sedangkan kenaikan jumlah penduduk miskin di perdesaan sebesar 2.258 jiwa (0,11%).

Penduduk miskin di Provinsi Gorontalo masih sebagian besar tinggal di perdesaan yaitu sebesar 87,76% dan sisanya 12,24% tinggal di wilayah perkotaan dari total jumlah penduduk miskin.

Tabel 3.9

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Provinsi Gorontalo Tahun 2014

Ukuran kemiskinan dalam bentuk persentase dan jumlah penduduk miskin sudah sering dijadikan dasar pengukuran kemiskinan. Namun, sebenarnya terdapat dimensi lain atau indikator lain dari kemiskinan itu sendiri, yaitu Tingkat Kedalaman Kemiskinan dan Tingkat Keparahan Kemiskinan yang disajikan dalam bentuk Indeks. Periode Maret 2014-September 2014 terjadi penurunan persentase penduduk miskin dari 17,44% menjadi 17,41%, meskipun secara absolut jumlah penduduk miskin mengalami kenaikan. Penurunan ini juga diikuti oleh semakin kecilnya jarak antara rata-rata pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Dapat dilihat bahwa Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) berubah dari 3,287 pada Maret 2014 menjadi 3,128 pada September 2014. Kondisi ini menggambarkan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin dekat selisihnya dengan garis kemiskinan. Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Provinsi Gorontalo juga mengalami penurunan dari 0,896 pada Maret 2014 menjadi 0,832 pada September 2014. Hal ini menandakan bahwa ketimpangan (gap) pengeluaran antara penduduk miskin itu sendiri semakin kecil.

Tabel 3.10

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Provinsi Gorontalo tahun 2014

Indikator Maret 2014 September 2014 Perubahan

(1) (2) (3) (4)

(9)

III-9

Kemisikinan (P1)

Indikator Keparahan Kemiskinan

(P2) 0,896 0,832 -0,064

Sumber : BPS Provinsi Gorontalo

Garis Kemiskinan sangat menentukan besar kecil jumlah penduduk miskin, karena penduduk miskin adalah mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Garis Kemiskinan (GK) itu sendiri terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan yang disebut Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).

Garis Kemiskinan Provinsi Gorontalo pada Maret 2014 sebesar Rp243.547 per kapita per bulan dan pada September 2014 menjadi Rp247.611 per kapita per bulan, yang berarti naik sebesar Rp4.064 per kapita per bulan atau naik sebesar 1,67%.

Pada September 2014, GKM untuk wilayah perkotaan sebesar Rp183.548 dan perdesaan sebesar Rp194.814. Di sini terlihat bahwa pola konsumsi makanan di perdesaan jauh lebih besar dibandingkan di perkotaan. Sedangkan bila diperhatikan GKNM untuk wilayah perkotaan sebesar Rp66.609 dan perdesaan sebesar Rp51.476 maka terlihat bahwa di perkotaan GKNM cenderung lebih tinggi, artinya penduduk perkotaan mempunyai pola konsumsi non makanan jauh lebih tinggi daripada penduduk perdesaan. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh kebutuhan non makanan di perkotaan seperti perumahan, kesehatan, pakaian, perlengkapan serta jasa lebih banyak dan harganya lebih di atas dibandingkan wilayah perdesaan.

Bila dibedakan Garis Kemiskinan daerah perkotaan dan perdesaan, maka Garis Kemiskinan di perkotaan September 2014 sebesar Rp250.157 per kapita per bulan dan Garis Kemiskinan di perdesaan sebesar Rp246.290 per kapita per bulan.

Berdasarkan kondisi perekonomian Gorontalo ditahun 2014 yang cukup baik peningkatannya, maka perkiraan kondisi indikator perekonomian Gorontalo pada tahun 2015 diuraikan dalam tabel 3.11 dibawah ini.

Tabel 3.11

Perkiraan Indikator Ekonomi Makro Gorontalo Tahun 2015

No Indikator Perkiraan capaian tahun 2015

1. Pertumbuhan Ekonomi 7.7 – 8.1%

2. Inflasi 4 -7 %

3. Penduduk miskin 15,5 - 14%

4. Tingkat pengangguran terbuka 4,00%

5. PDRB per kapita ADHB (Rp) 11.709.103

Sumber : RPJMD 2012 - 2017 Provinsi Gorontalo

3.1.2 TANTANGAN DAN PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH 2016 DAN TAHUN 2017

Tantangan yang diperkirakan dapat berpengaruh pada perekonomian Gorontalo

adalah lingkungan perekonomian global, nasional, maupun lingkungan regional

(10)

III-10

Global,Krisis keuangan Eropa yang masih berlanjut dengan tidak adanya kepastian penyelesaian utang, pemulihan ekonomi AS yang masih lambat, serta mulai

menurunnya kemampuan negara-negara Asia untuk menjadi penopang

perekonomian dunia telah meningkatkan resiko ekonomi dunia. Pada tahun 2013, kondisi perekonomian dunia secara perlahan membaik yang disebabkan oleh mulai pulihnya perekonomian negara-negara maju. Namun, ketidakpastian kondisi ekonomi dunia diprediksikan akan masih tetap tinggi hingga tahun 2014 yang berdampak pada pelemahan perdagangan dunia sehingga mendorong penurunan harga komoditi dunia, termasuk harga minyak mentah dunia.

Pertumbuhan ekonomi negara-negara regional Asia terkendala oleh masih lambatnya perekonomian Cina dan India. Selama tahun 2013, PDB Cina tumbuh 7,6 persen, terendah sejak tahun 1999. Perlambatan ini merupakan dampak dari reformasi struktural yang dijalankan pemerintah Cina. Cina saat ini sedang memprioritaskan kestabilan ekonomi dibandingkan pertumbuhan yang cepat. Cina akan mengurangi ketergantungan pertumbuhan pada kinerja ekspor dan investasi dan lebih fokus pada target belanja konsumen dalam negeri dan jasa. Di sisi lain, inflasi yang tinggi di India, pertumbuhan ekonomi yang masih lemah, kenaikan defisit fiskal, ketidakseimbangan dalam neraca transaksi berjalan, dan kondisi politik yang tidak stabil, menjadikan tahun 2013 menjadi tahun terberat bagi India.

Secara keseluruhan tahun 2013, pertumbuhan ekonomi dunia melambat menjadi 3,0 persen. Pada tahun 2014, perekonomian dunia diperkirakan membaik didukung oleh pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang bertahap, upaya penyelesaian krisis Eropa yang terarah, serta kemampuan ekonomi Cina yang membaik. Dengan demikian, perekonomian dunia pada tahun 2014 diperkirakan IMF tumbuh sebesar 3,6 persen.

Perekonomian Nasional,

upaya keras pemerintah dengan berbagai kebijakan dan reformasi struktural ekonomi paska Krisis Asia tahun 1997/98 telah membawa perekonomian nasional pada kondisi: (i) terus menguat yang ditandai dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi selama lima tahun terakhir mencapai hampir 6 persen; (ii) secara fundamental mampu dan kokoh menghadapi tekanan krisis ekonomi global, yang dimulai dengan Krisis Keuangan Lehman Brothers (tahun 2009 ekonomi masih tumbuh tinggi sebesar 4,6 persen) dan krisis utang pemerintah di Kawasan Eropa (tahun 2013 ekonomi masih tumbuh tinggi sebesar 5,8 persen).

(11)

III-11

tahun terakhir, yaitu dari surplus sebesar 0,3 persen per PDB pada Triwulan III tahun 2011 hingga mencapai defisit sebesar 3,9 persen per PDB pada

Untuk menyelesaikan ketidakseimbangan eksternal ini, pemerintah telah meluncurkan Paket 23 Agustus 2013 dengan empat pilar kebijakan. Pertama,

mendorong

foreign direct investment

(FDI) dengan kebijakan mengurangi hambatan

investasi; penyederhanaan prosedur, dan melakukan revisi terhadap daftar investasi negatif. Kedua, memperbaiki neraca transaksi berjalan, dengan kebijakan keringanan pajak untuk produk berorientasi ekspor; memberlakukan pajak untuk impor barang mewah; serta meningkatkan produk domestik untuk kebutuhan biodiesel dalam upaya mengurangi impor. Ketiga, mendorong kesempatan kerja

dengan kebijakan keringanan pajak untuk sektor

labor intensive

, mengurangi

hambatan pada lokasi kawasan khusus, dan melakukan revisi terkait penetapan kebijakan upah minimum. Keempat, mengurangi inflasi, terutama terkait dengan kebijakan penggantian pembatasan impor, terutama untuk produk daging dan holtikultura.

Tantangan perekonomian nasional kedepan adalah Integrasi perekonomian global,

terutama sekali adalah akan diberlakukannya

The

ASEAN

Community

di tahun 2015.

Peningkatan integrasi ini di satu pihak akan menciptakan peluang yang lebih besar bagi perekonomian nasional, tetapi di lain pihak juga menuntut daya saing perekonomian nasional yang lebih tinggi. Sementara itu, pengaruh eksternal bagi perekonomian nasional antara lain berasal dari: (a) perekonomian Amerika Serikat, Kawasan Eropa, dan negara industri paling maju lainnya yang diperkirakan masih tetap menjadi penggerak perekonomian dunia dan pasar dari ekspor negara berkembang, termasuk Indonesia (b) perekonomian Asia yang diperkirakan tetap menjadi kawasan dinamis dengan motor penggerak perekonomian Cina dan negara-negara industri di Asia lainnya, baik sebagai negara-negara tujuan ekspor maupun sebagai kawasan yang menarik bagi penanaman modal baik untuk jangka panjang maupun

jangka pendek.

Terdapat tiga perkembangan global yang perlu dicermati dalam tahun 2015, yaitu:

(a) krisis di kawasan eropa masih belum pulih (

mild recovery)

sehingga

dikhawatirkan belum mampu meningkatkan permintaan dunia, yang pada akhirnya akan menyulitkan ekspor Indonesia tumbuh lebih cepat; (b) harga komoditas dunia

masih masih melanjutkan tren penurunan ataupun

flat

dan adanya indikasi

berakhirnya era

supercycle

juga akan mempengaruhi ekspor dan investasi

Indonesia; (c) rencana akan berakhirnya stimulus moneter (

tapering off

) di AS

sampai di akhir tahun 2014 dan kemungkinan akan diberlakukannya kebijakan uang ketat di Amerika Serikat dan juga negara maju lainnya akan mendorong naiknya biaya untuk mengakses modal internasional.

(12)

III-12

meningkatkan efektivitas belanja negara, baik dari arah belanja negara tersebut maupun dari penyerapannya, terutama yang terkait dengan prioritas belanja negara infrastruktur; serta (iii) peningkatan efektivitas penerimaan negara dengan sekaligus pengurangan defisit anggaran. Dengan langkah-langkah ini, secara keseluruhan momentum pembangunan yang sudah dicapai pada tahun 2014 dapat dipertahankan di tahun 2015, dan dapat ditingkatkan pada tahun 2016.

Perekonomian Gorontalo,

Terjadinya efek musiman seperti Hari Raya Idul Adha, Hari Raya Natal, menjelang tahun baru, serta even tahunan Provinsi antara lain Festival Karawo 2015, perayaan hari ulang tahun provinsi Gorontalo yang dirangkaikan dengan hari patriotik 23 Januari diperkirakan memberikan dampak positif terhadap konsumsi rumah tangga yang akan mendorong peningkatan pertumbuhan perekonomian di tahun 2015. Selain itu, faktor peningkatan dari sisi konsumsi pemerintah seiring dengan meningkatnya alokasi anggaran (APBD) Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten dan Kota serta kucuran anggaran dari Pemerintah Pusat (APBN) untuk membiayai berbagai kegiatan didaerah yang jika diupayakan dapat memenuhi target realisasi anggaran menjelang hingga berakhirnya tahun 2015 diyakini memberikan dampak yang besar terhadap pembentukan ekonomi Gorontalo. Disamping itu, dengan kondisi dan dinamika nasional yang diyakini makin kuat serta mulai membaiknya perekonomian global beberapa tahun terakhir ini, secara makro pada tahun 2016 - 2017 prospek pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo di prediksi masih dalam kondisi baik, berdasarkan hal tersebut, maka indikator makro ekonomi Gorontalo diproyeksikan sebagai berikut :

Tabel. 3.12

Proyeksi Indikator Makro Provinsi Gorontalo 2016 - 2017

Indikator Proyeksi

2016 2017

Pertumbuhan Ekonomi 7.8 - 8.3% 7.8 - 8.5

Kemiskinan 14,5 - 12% 13-10

Tingkat Pengangguran Terbuka 3,75% 3.5%

PDRB Perkapita 12.509.103 13.309.103

Inflasi 5 - 6,5 % 5 - 8%

Sumber : RPJMD Provinsi Gorontalo 2012 - 2017 (diolah)

(13)

III-13

kesehatan, air bersih, sanitasi dan sebagainya) serta upaya penciptaan program pembangunan yang inklusif, yang dilaksanakan melalui empat jalur strategi, yaitu pertumbuhan (pro-growth), kesempatan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment) yang diartikan sebagai pembangunan yang mengikutsertakan dan sekaligus memberi manfaat kepada seluruh masyarakat.

Perekonomian Gorontalo kedepan akan terus dipengaruhi oleh perkembangan

lingkungan eksternal dan internal. Untuk lingkungan eksternal akan lebih diakibatkan

oleh perkembangan perekonomian global yang semakin meningkatkan integrasi

perekonomian regional seperti menyatunya pasar Asia tenggara (AFTA) melalui

pelaksanaan MEA tahun 2015 dan pelaksanaan perdagangan bebas antara ASEAN

dan China (FTA). Keadaan ini disatu pihak akan menciptakan peluang yang lebih

besar bagi perekonomian daerah, tetapi disisi lain menuntut daya saing

perekonomian yang lebih tinggi. Dorongan eksternal bagi perekonomian tersebut

antara lain berasal dari perekonomian nasional terutama dari daerah di Pulau Jawa,

Makassar dan Manado, yang diperkirakan masih tetap menjadi pasar bagi

produk-produk pertanian, perkebunan dan kehutanan yang dihasilkan dan dalam kerangka

negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka perekonomian daerah seperti

Gorontalo sangat tergantung pada perekonomian nasional.

Perekonomian Gorontalo dilihat dari perkiraan kondisi internal yang akan

berpengaruh positif dalam kurun waktu dua tahun mendatang adalah situasi daerah

yang kondusif, yang dibarengi peningkatan kemampuan untuk menegakkan

keamanan dan ketertiban serta pelaksanaan hukum, termasuk dalam

pemberantasan tindak pidana korupsi, meningkatnya kepercayaan masyarakat

terhadap berbagai pelaksanaan program pembangunan terutama program

pendidikan dan kesehatan gratis yang telah berdampak pada peningkatan partisipasi

masyakakat dan dengan sendirinya dapat mendorong kegiatan ekonomi dan

sumberdaya alam yang belum dieksploitasi secara maksimal. Disamping itu, adanya

lahan yang cukup luas dan belum dimanfaatkan dengan baik dan berkelanjutan,

diharapkan kedepan dapat mulai dimanfaatkan sehingga dapat menjadi motor

penggerak perekonomian Gorontalo kedepan.

Selain tantangan diatas, kedepan tantangan ekonomi Gorontalo masih cukup tinggi,

bila dilihat dari beberapa hal dibawah ini :

 Struktur ekonomi Provinsi Gorontalo masih didominasi sektor primer dan belum

ada indikasi akan bergeser ke sektor sekunder;

 Investasi pemerintah masih mendominasi pembentukan perekonomian

dibandingkan swasta;

 Keterbatasa Infrastruktur dan energi yang masih menjadi kendala saat ini;

 Dukungan perbankan yang difasilitasi melalui mekanisme KUR belum cukup

(14)

III-14

 Proporsi angka kemiskinan dan pengangguran walaupun ada kecenderungan

menurun tetapi pada beberapa tahun kedepan diperkirakan masih relatif besar,

sehingga program program pembangunan yang berdampak langsung ke

masyarakat dan penciptaan lapangan kerja harus tetap menjadi prioritas.

 Perubahan iklim yang ekstrem tetap menjadi hal yang patut dikhawatirkan akan

menggangu produksi pangan. Peningkatan produksi pangan melalui perbaikan

sistem perbenihan, intensifikasi, proteksi, pengolahan hasil, fasilitasi sarana

produksi akan menjadi langkah yang tepat untuk mengantisipasi.

 Pada tahun 2016 kemungkinan akan dilaksanakan Pemilihan Kepala Daerah

secara serentak dan Provinsi Gorontalo salah satu wilayah yang akan

melaksanakannya. Perlu penciptaan stabilitas politik dan keamanan.

 Dibidang teknologi, Peran Perguruan tinggi dan lembaga litbang dalam

pemacuan inovasi untuk pembangunan masih relative rendah, sehingga perlu

adanya upaya peningkatan Peran Perguruan tinggi dan lembaga litbang dalam

pemacuan inovasi untuk pembangunan Provinsi Gorontalo.

Pengembangan ekonomi Provinsi Gorontalo Tahun 2016 juga akan didukung oleh

prioritas pembangunan nasional yang ada dalam 9 (sembilan) Nawa Cita,

diantaranya yaitu,

Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat

daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan, Akan meningkatkan

kualitas hidup manusia Indonesia melalui: Indonesia Pintar, Indonesia Sehat,

Indonesia Kerja dan Indonesia Sejahtera serta Mewujudkan kemandirian ekonomi dg

menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

3.2 Arah Kebijakan Keuangan Daerah

Ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku menjadi dasar perumusan kebijakan keuangan daaerah, berbagai peraturan tersebut adalah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, dan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah serta lebih teknis mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang direvisi menjadi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007, dan revisi kedua menjadi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006.

Sebagai implementasi dari arah kebijakan keuangan daerah tersebut dituangkan dalam APBD dan merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran, yang terdiri atas pendapatan daerah, belanja daerah serta pembiayaan daerah.

(15)

III-15

Untuk pendapatan daerah akan bersumber dari: 1) Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terdiri dari kelompok Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Perusahaan milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan dan lain-Lain Pendapatan Asli Daerah; 2) Dana Perimbangan yang Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus; 3) Kelompok-lain-lain pendapatan daerah yang sah meliputi Hibah, Dana Darurat, Dana Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak dari Pemerintah Provinsi, Dana Penyesuaian. Selanjutnya untuk pembiayaan bersumber dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA), Penerimaan Pinjaman Daerah, Dana Cadangan Daerah (DCD), dan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang dipisahkan. Selain dana dari penerimaan daerah tersebut, daerah menerima dana yang bersumber dari Pemerintah Pusat berupa dana dekonsentrasi, dana tugas pembantuan dan urusan bersama, yang dialokasikan untuk menunjang program dan kegiatan pembangunan yang dilakukan berdasarkan prioritas dan bersifat penugasan kepada perangkat daerah.

Efektivitas kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang tertuang dalam RKPD Tahun 2015 sebagai pelaksanaan agenda RPJMD tahun 2012-2017 di tahun ketiga, tidak terlepas dari kapasitas anggaran yang dapat terkelola oleh pemerintah daerah. Untuk itu, kebutuhan belanja pembangunan daerah akan selalu mempertimbangkan kapasitas fiskal daerah sebagai salah satu penopang strategis dalam implementasi RKPD, yang akan selalu berdampingan dengan sumber-sumber pendanaan non APBD, seperti APBN, Hibah, dana

kemitraan swasta, swadaya masyarakat serta kontribusi pelaku usaha melalui

Corporate

Social Resposibility (CSR)

.

Selain hal tersebut arah kebijakan keuangan daerah tetap mengacu pada visi, misi dan program prioritas sebagaimana yang terkandung didalam RPJMD Provinsi Gorontalo Tahun 2012-2017. Kebijakan anggaran belanja Tahun Anggaran 2016 diupayakan dengan pengaturan pola pembelanjaan yang proporsional, efesien dan efektif. Kebijakan dalam penyusunan belanja daerah Provinsi Gorontalo berdasarkan pendekatan anggaran kinerja (berorientasi pada hasil), untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran serta memperjelas efektifitas dan efisiensi penggunaan alokasi anggaran dan kinerja dirumuskan pada tugas pokok dan fungsi masing-masing SKPD guna peningkatan kinerja pelayanan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian, pada prinsipnya bahwa setiap peningkatan alokasi belanja yang direncanakan oleh setiap pengguna anggaran harus diikuti dengan peningkatan kinerja pelayanan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Arah kebijakan belanja daerah Provinsi Gorontalo tahun 2014 sebagaimana digariskan dalam RPJMD Provinsi Gorontalo

2012‐2017, mengacu kepada visi ”Terwujudnya Percepatan Pembangunan

Berbagai Bidang serta Peningkatan Ekonomi Masyarakat yang Berkeadilan di

Provinsi Gorontalo” dan program Kepala Daerah yang pengelolaannya akan didasarkan

pada prioritas sebagai berikut:

(16)

III-16

 Pendidikan, diarahkan pada peningkatan pelayanan pendidikan dasar,

menengah dan atas, serta memberikan subsidi pendidikan (pendidikan gratis) untuk memastikan anak usia sekolah dapat melanjutkan pendidikannya dan kegiatan belajar mengajar dapat berjalan di seluruh Desa dengan fasilitas dan jumlah guru yang memadai.

Kesehatan, diarahkan pada pemberian jaminan pelayanan kesehatan gratis bagi

masyarakat miskin, peningkatan pelayanan pos pelayanan terpadu, pusat kesehatan masyarakat pembantu, dan pusat kesehatan masyarakat di tingkat distrik, serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam peningkatan pelayanan pos kesehatan di tingkat Desa.

2. Percepatan pembangunan infrastruktur, diprioritaskan pada pembangunan

infrastruktur dasar, dukungan pelayanan transportasi terpadu, energi, penataan permukiman, air bersih dan sanitasi dan persampahan.

3. Pengembangan Ekonomi Kerakyatan.

3.2.1 Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan

a. Realisasi dan Target Pendapatan Daerah Provinsi Gorontalo Tahun 2013-2015

Pada tahun 2013 realisasi pendapatan daerah sebesar

Rp1,052,555,928,696.13, tahun 2014 (sebelum audit BPK RI) sebesar

Rp1,207,338,807,294.53 dan tahun 2015 ditargetkan sebesar

Rp1,419,850,510,742.25 yang terdiri dari PAD sebesar Rp.

280.209.528.070,53, Dana Perimbangan sebesar Rp. 800.313.828.654,00, dan komponen lainnya yang bersumber dari Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah dengan realisasi sebesar Rp. 126.815.450.570,00.

(17)

III-17

Tabel 3.13

Realisasi dan Target Pendapatan Daerah Provinsi Gorontalo Tahun 2013 S/D 2015

Sumber : LRA Tahun 2013-2015 (Tahun 2014 sebelum audit BPK)

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa, meskipun pada tahun 2015 pendapatan daerah mengalami peningkatan cukup signifikan dibanding tahun 2013 dan tahun 2014 yaitu sebesar 17,60% dengan kenaikan rata-rata

sebesar 16,15%, namun peningkatan tersebut lebih banyak

dipengaruhi/disumbangkan oleh dana transfer pemerintah pusat yaitu dana perimbangan dan dana BOS. Hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan dana perimbangan pada tahun 2015 sebesar 16,99% sedangkan dana BOS tahun 2015 meningkat sebesar 30,66%.

Hal sebaliknya terjadi pada pendapatan asli daerah, dimana pada tahun 2015 ditargetkan naik sebesar 13,55% dibanding realisasi tahun 2014 (sebelum audit BPK-RI) atau lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan realisasi antara tahun 2013 ke tahun 2014 sebesar 30,56%. Hal tersebut disebabkan antara lain oleh prosentase realisasi tahun 2014 yaitu sebesar 96,26%, situasi perekonomian daerah, perekonomian nasional, adanya kenaikan harga BBM, pengalihan wajib pajak kendaraan bermotor khususnya kerndaraan truck/ pick up, dari kendaraan pribadi menjadi kendaraan umum (plat hitam ke plat kuning) dan beberapa penyebab lain yang tidak dapat diperkirakan pada waktu penetapan target pendapatan. Selengkapnya realisasi pendapatan daerah tahun 2014 (sebelum audit BPK-RI) dapat dilihat pada Tabel 3.14 dibawah ini.

Realisasi 2013 Realisasi 2014 (sebelum Audit BPK) % Target 2015 % Rata2

(18)

III-18

PENDAPATAN 1.218.762.778.436,41 0,00 1.207.338.807.294,53 11.423.971.141,88 99,06

PENDAPATAN ASLI DAERAH 291.096.154.035,41 0,00 280.209.528.070,53 10.886.625.964,88 96,26

Pajak Daerah 259.943.069.515,65 0,00 246.727.108.410,00 13.215.961.105,65 94,92 Retribusi Daerah 1.629.000.000,00 0,00 1.064.721.893,00 564.278.107,00 65,36 Hasil Pengelolaan Daerah yang Dipisahkan 4.000.000.000,00 0,00 1.946.292.181,00 2.053.707.819,00 48,66 Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 25.524.084.519,76 0,00 30.471.405.586,53 4.947.321.066,77 119,38

Dana Perimbangan 800.445.594.401,00 0,00 800.313.828.654,00 131.765.747,00 99,98

Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak 23.792.096.401,00 0,00 23.660.330.654,00 131.765.747,00 99,45 Dana Alokasi Umum 734.279.438.000,00 0,00 734.279.438.000,00 0,00 100,00 Dana Alokasi Khusus 42.374.060.000,00 0,00 42.374.060.000,00 0,00 100,00

Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 127.221.030.000,00 0,00 126.815.450.570,00 405.579.430,00 99,68

Pendapatan Hibah 375.000.000,00 0,00 513.944.633,00 138.944.633,00 137,05 Dana Penyesuaian dan Otomatis Khusus 126.846.030.000,00 0,00 126.301.505.937,00 544.524.063,00 99,57

Sumber : LRA tahun 2014 (sebelum audit BPK-RI)

b. Kapasitas Riil (Proyeksi) Kemampuan Keuangan Daerah Untuk

Pendanaan Pembangunan Daerah Provinsi Gorontalo Tahun 2016-2017

Penghitungan kerangka pendanaan tetap berlandaskan pada Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah, Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Permendagri Nomor 54 Tahun 2010.

Pada bagian ini akan dikemukakan kerangka pendanaan, khususnya kapasitas riil untuk menentukan arah kebijakan umum pendapatan dan belanja daerah tahun 2016 dan 2017 berdasarkan proyeksi/target yang telah direncanakan pada RPJMD Tahun 2012-2017. Kapasitas rill Kemampuan Keuangan Daerah Provinsi Gorontalo dapat dilihat pada Tabel 3.15 dibawah ini.

Tabel 3.15

Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah

Untuk Mendanai Pembangunan Daerah Provinsi Gorontalo 2016-2017 (Sesuai RPJMD)

Sumber: RPJMD Provinsi Gorontalo 2012 – 2017

(19)

III-19

Berdasarkan tabel tersebut, pendapatan daerah Tahun 2016 diprediksi sebesar

Rp1.402.315.291.454,31 dan pada tahun 2017 diharapkan menjadi sebesar

Rp1.537.181.549.971,56. Pendapatan tersebut ditambah dengan sisa lebih

riil perhitungan anggaran, sehingga menghasilkan total penerimaan daerah

Tahun 2016 sebesar Rp1.423.643.481.772,87 dan diharapkan mencapai

sebesar Rp1.554.244.102.226,41 pada Tahun 2017.

Realisasi dan prediksi total penerimaan ini sebagian akan digunakan untuk belanja dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama. Selisihnya akan menjadi kapasitas riil kemampuan keuangan daerah,

dimana pada Tahun 2016 sebesar Rp712.273.715.137,07 dan diharapkan

mencapai sebesar Rp761.562.994.009,19 pada Tahun 2017. Rincian

Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas

Utama akan diuraikan pada Tabel 3.16 berikut.

Tabel 3.16

Proyeksi Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama

No Uraian Proyeksi

2016 (Rp) 2017 (Rp)

A Belanja Tidak Langsung 667,347,672,934.47 745,333,016,662,73

1 Belanja Pegawai 336,770,583,197.41 377,183,053,181,10

2 Belanja Subsidi 1,528,818,014.05 1,534,408,248,97

3 Belanja Hibah (data diolah) 156,916,551,128.47 158,956,466,293,14

4 Belanja Bansos 2,678,551,520.79 4,075,045,894,20

5 Belanja bagi hasil Kab/Kota 116,488,523,272.69 135,558,016,752,91

6 Bantuan Keuangan (data diolah) 47,964,645,801.07 63,026,026,292,42

7 Belanja Tidak Terduga (antisipasi bencana) 5,000,000,000.00 5,000,000,000,00

B Belanja Langsung 34,022,093,701.33 37,348,091,554,49

1 Belanja honorarium PNS khusus untuk guru

dan tenaga medis. (hanya Guru) 6,194,371,391.64 7,260,422,708,14

2 Belanja Beasiswa Pendidikan PNS 5,137,779,348.64 5,841,565,061,40

3

Belanja Jasa Kantor (khusus tagihan bulanan kantor seperti listrik, air, telepon dan sejenisnya )

22,689,942,961.05 24,246,103,784,96

4 Belanja sewa gedung kantor( yang telah ada

kontrak jangka panjangnya) - -

5

Belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor ( yang telah ada kontrak jangka panjangnya)

- -

C Pengeluaran Pembiayaan 10,000,000,000.00 10,000,000,000,00

1 Pembentukan Dana Cadangan - -

2 Pembayaran pokok utang - -

3 Penyertaan Modal Pada PT bank Sulut 10,000,000,000.00 10,000,000,000,00

TOTAL BELANJA WAJIB DAN PENGELUARAN YANG WAJIB MENGIKAT SERTA PRIORITAS UTAMA

711,369,766,635.80 792,681,108,217,22

Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah

(20)

III-20

sewa kantor yang telah ada kontrak jangka panjang atau belanja sejenis lainnya.

Belanja periodik prioritas utama adalah pengeluaran yang harus dibayar setiap periodik oleh Pemerintah Daerah dalam rangka keberlangsungan pelayanan dasar prioritas Pemerintah Daerah yaitu pelayanan pendidikan dan kesehatan, seperti honorarium guru dan tenaga medis serta belanja sejenis lainnya. Selengkapnya rencana penggunaan kapasitas riil Kemampuan keuangan Daerah Provinsi Gorontalo Tahun 2016-2017 dapat dilihat pada Tabel 3.17 berikut.

Tabel 3.17

Rencana penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan keuangan Daerah Provinsi Gorontalo, 2016-2017

No Uraian

Proyeksi

2016 2017

(Rp) (Rp)

I Kapasitas riil kemampuan keuangan 712.273.715.137,07 761.562.994.009,19

Rencana alokasi pengeluaran prioritas I

II.a Belanja Langsung 690.467.088.659,84 753.808.389.579,81

II.b Pembentukan dana cadangan

Dikurangi:

II.c Belanja Langsung yang wajib dan mengikat serta

prioritas utama 34.022.093.701,33 37.348.091.554,49

II.d Pengeluaran pembiayaan yang wajib mengikat

serta prioritas utama 10.000.000.000,00 10.000.000.000,00

II Total Rencana Pengeluaran Prioritas I

(II.a+II.b-II.c-II.d) 646.444.994.958,51 706.460.298.025,32

III.a Belanja Tidak Langsung 733.176.393.113,03 800.435.712.646,60

Dikurangi:

III.b Belanja tidak langsung yang wajib dan mengikat

serta prioritas utama 667.347.672.934,47 745.333.016.662,73

III Total rencana pengeluaran prioritas II (III.a-III.b) 65.828.720.178,56 55.102.695.983,87

Surplus anggaran riil atau Berimbang (I-II-III)* - -

Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo (RPJMD 2012-2017)

Sesuai tabel tersebut penggunaan kapasitas riil kemampuan keuangan daerah akan dialokasikan kepada rencana alokasi prioritas I dan II yang terdiri dari belanja langsung dan pembentukan dana cadangan (Provinsi Gorontalo belum ada kebijakan tentang pembentukan dana cadangan), seperti disajikan pada tabel diatas.

Di perkirakan bahwa total belanja langsung tahun 2016 sebesar

Rp690.467.088.659,84 dan diharapkan menjadi sebesar

Rp753.808.389.579,81 pada tahun 2017. Belanja langsung tersebut,

(21)

III-21

pada tahun 2016 diprediksi sebesar Rp646.444.994.958,51 dan

direncanakan menjadi sebesar Rp.706.460.298.025,32 tahun 2017.

Total rencana pengeluaran prioritas I tersebut, akan menjadi dasar bagi Pemerintah provinsi Gorontalo dalam melaksanakan program prioritas I yang merupakan prioritas dalam rangka pembangunan daerah dengan tema atau

program unggulan

(dedicated)

Kepala daerah sebagaimana diamanatkan

dalam RPJMN dan amanat/kebijakan nasional yang definitif harus dilaksanakan oleh daerah pada tahun rencana, termasuk untuk prioritas bidang pendidikan 20% (dua puluh persen).

Program prioritas I harus berhubungan langsung dengan kepentingan publik, bersifat monumental, berskala besar, dan memiliki kepentingan dan nilai manfaat yang tinggi, memberikan dampak luas pada masyarakat dengan daya ungkit yang tinggi pada capaian visi/misi daerah. Di samping itu, prioritas I juga diperuntukkan bagi prioritas belanja yang wajib sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Program prioritas I ini antara lain (terutama), diarahkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur jalan yaitu Gorontalo Outer Ring Road (GORR), Program Jamkesta dan Prodira serta pembangunan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan masyarakat berupa, Rumah Sakit Provinsi.

Sementara total belanja tidak langsung tahun 2016 diprediksi sebesar

Rp733.176.393.113,03 dan diharapkan menjadi sebesar

Rp800.435.712.646,60 tahun 2017. Belanja tidak langsung tersebut

kemudian dikurangi dengan belanja tidak langsung yang wajib dan mengikat

serta prioritas utama, dimana tahun 2016 diprediksi sebesar

Rp667.347.672.934,47 dan direncanakan menjadi sebesar

Rp745.333.016.662,73 pada tahun 2017, sehingga total rencana

pengeluaran prioritas II tahun 2016 yang akan dialokasikan pada program

prioritas II sebesar Rp65.828.720.178,56 tahun 2016 dan direncanakan

menjadi sebesar Rp55.102.695.983,87 pada tahun 2017.

Program prioritas II, merupakan program prioritas ditingkat SKPD sebagai penjabaran dari analisis per urusan. Suatu prioritas II berhubungan dengan program/kegiatan unggulan SKPD yang paling berdampak luas pada masing-masing segementasi masyarakat yang dilayani sesuai dengan prioritas dan permasalahan yang dihadapi berhubungan dengan layanan dasar serta tugas dan fungsi SKPD termasuk peningkatan kapasitas kelembagaan yang berhubungan dengan itu.

Berdasarkan Proyeksi RPJMD tersebut dan dengan melihat realisasi tahun 2013, tahun 2014 serta target tahun 2015, maka pada RKPD tahun 2016 ini

pendapatan daerah diprediksi sebesar Rp1.434.761.558.031,26 atau telah

(22)

III-22

Perhitungan Anggaran diprediksi sebesar Rp21.328.190.318,56 sehingga

total penerimaan daerah tahun 2016 diprediksi sebesar

Rp1.456.089.748.349,82 kemudian dikurangi dengan Belanja dan

Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama sebagaimana telah direncanakan dalam RPJMD 2012-2017 yaitu sebesar

Rp711.369.766.635,79, maka kapasitas rill kemampuan keuangan daerah

tahun 2016 diprediksi sebesar Rp744.719.981.714,03.

Untuk tahun 2017 kapasitas rill kemampuan keuangan daerah disesuaikan dengan realisasi tahun-tahun sebelumnya, RPJMD Tahun 2012-2017 sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dan proyeksi tahun 2016, sehingga diperoleh prediksi kapasitas rill kemampuan keuangan daerah tahun 2017

sebesar Rp794.803.703.691,87 yang dapat dilihat pada tabel 3.18 berikut.

Tabel 3.18

Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Untuk Mendanai Pembangunan Daerah Provinsi Gorontalo 2016-2017

Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo (RPJMD 2012-2017)

Berdasarkan tabel 3.18 tersebut kapasitas riil kemampuan keuangan daerah

tahun 2016 sebesar Rp744.71.981.714,03 akan ditambah dengan Belanja

langsung yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama sebesar

Rp34.022.093.701,33 (sesuai RPJMD Tahun 2012-2017/ tabel 3.17),

sehingga total belanja langsung diprediksi sebesar Rp778.742.075.415.362.

Dengan proyeksi tersebut, penggunaan kapasitas rill kemampuan keuangan Provinsi Gorontalo relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan Provinsi lain, baik secara regional maupun Nasional, Namun dalam kerangka pendanaan

(23)

III-23

tersebut yang paling utama adalah sejauh mana kapasitas riil tersebut mampu menggerakkan sektor-sektor penunjang pertumbuhan ekonomi daerah dan menggali seluruh sumber daya yang ada di Provinsi Gorontalo sehingga dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat Provinsi Gorontalo. Dalam menentukan besaran belanja yang dianggarkan senantiasa akan berlandaskan pada prinsip disiplin anggaran, yaitu prinsip kemandirian yang selalu mengupayakan peningkatan sumber-sumber pendapatan sesuai dengan potensi daerah, prinsip prioritas yang diartikan bahwa pelaksanaan anggaran selalu mengacu pada prioritas utama pembangunan daerah, prinsip efisiensi dan efektifitas anggaran yang mengarahkan bahwa penyediaan anggaran dan

penghematan sesuai dengan skala prioritas.

Agar pemanfaatan dana efisien dan efektif, dalam perencanaan anggaran perlu memperhatikan dua hal yaitu: (1) tujuan, sasaran, hasil, manfaat dan indikator kinerja perlu ditetapkan secara jelas, (2) Penetapan prioritas kegiatan, perhitungan beban kerja dan penetapan harga satuan harus dilakukan secara efektif.

3.3 Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah

Arah kebijakan pembiayaan, sebagaimana ketentuan yang telah diatur pada penjelasan pasal 17 ayat 3 dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan pasal 83 ayat 2 berikut penjelasannya dalam Undang-undang Nomor33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, maka jumlah kumulatif defisit anggaran tidak diperkenankan melebihi 3 persen dari Produk Domestik Regional Bruto tahun bersangkutan.

Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk ”menutup defisit” atau ”memanfaatkan surplus” anggaran. Pembiayaan untuk menutup defisit anggaran sering disebut sebagai penerimaan pembiayaan. Sebaliknya, pembiayaan yang dilakukan untuk memanfaatkan surplus disebut dengan pengeluaran pembiayaan. Dengan kata lain pembiayaan menunjukkan penerimaan maupun

pengeluaran kas yang akan dibayar kembali atau diterima kembali.

Dalam kondisi terjadi surplus maupun defisit sebagai hasil perhitungan total pendapatan dibandingkan dengan total belanja maka pemerintah akan dihadapkan pada kebijakan:

1) untuk memanfaatkan surplus dalam pengeluaran pembiayaan untuk menghasilkan

manfaat yang optimal dan atau

2) untuk mencarikan sumber penerimaan pembiayaan untuk menutupi defisit.

Selanjutnya dalam keadaan surplus kebijakan pengeluaran pembiayaan yang ditempuh dapat berupa :

(24)

III-24

2) Penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah;

3) Pembayaran pokok utang; dan

4) Pemberian pinjamaan daerah.

Pada situasi defisit maka kebijakan penerimaan pembiayaan yang ditempuh dapat berupa:

1) Penggunaan silpa;

2) Pencairan dana cadangan;

3) Hasil penjualan kekayaan negara yang dipisahkan;

4) Penerimaan pinjaman daerah; dan

5)

Penerimaan kembali pemberian pinjaman.

Terkait dengan hal tersebut, dapat dijelaskan bahwa pada Tahun 2013, berdasarkan hasil

pemeriksaan BPK-RI realisasi pembiayaan netto mencapai sebesar

Rp91,032,865,654.74 ditambah dengan surplus dari pendapatan dikurangi belanja

sebesar Rp1,739,151,794.13, maka Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Tahun Berkenan

Tahun 2013 adalah sebesar Rp92,772,017,448.87.

Sementara pada Tahun 2014 (sebelum pemeriksaan BPK-RI), Sisa Lebih/Kurang

Pembiayaan Tahun Berkenan Tahun 2014 adalah sebesar Rp95,606,023,995.40,

(25)

III-25

Tabel 3.19

Realisasi Dan Proyeksi/Target Pembiayaan Daerah Tahun Anggaran 2013-2016

Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo

Berdasarkan Tabel diatas dapat dilihat bahwa Pemerintah Provinsi Gorontalo telah berusaha untuk mengurangi Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Tahun Berkenan dari tahun ke tahun. Upaya yang dilakukan antara lain dengan membuat proyeksi pendapatan daerah sesuai dengan perkembangan realisai tahun-tahun sebelumnya dan dengan melihat potensi yang ada. Pada sisi belanja dilakukan efisiensi dan efektifitas, tanpa mengabaikan penyerapan belanja daerah. Dari beberapa upaya yang telah dilakukan tersebut, sehingga pada Tahun 2016 Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Tahun Berkenan diprediksi sebesar

Rp21,328,190,318.56, sedangkan pengeluaran pembiayaan untuk penyertaan modal

direncanakan sebesar Rp10.000.000.000,00.

1 PENDAPATAN 1.052.555.928.696,13 1.207.338.807.294,53 1.419.850.510.742,25 1.458.619.233.693,68

2 BELANJA 1.050.816.776.902,00 1.204.504.800.748,00 1.468.732.072.042,25 1.469.947.424.012,24

SURPLUS/DEFISIT 1.739.151.794,13 2.834.006.546,53 (48.881.561.300,00) (11.328.190.318,56)

PEMBIAYAAN DAERAH

1 Penerimaan pembiayaan

1.1 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran sebelumnya (SiLPA) 101.032.865.654,74 92.772.017.448,87 58.881.561.300,00 21.328.190.318,56

1.2 Pencarian dana cadangan

1.3 Hasil penjualan kekayaan Daerah yang dipisahkan

1.4 Penerimaan pinjaman daerah

1.5 Penerimaan kembali pemberian pinjaman

1.6 Penerimaan Kembali Investasi Jangka Pendek Berupa Deposito

1.7 Penerimaan piutang daerah

Jumlah penerimaan pembiayaan 101.032.865.654,74 92.772.017.448,87 58.881.561.300,00 21.328.190.318,56

2 Pengeluaran pembiayaan

2.1 Pembentukan dana cadangan

2.2 Penyertaan modal (Investasi) daerah 10.000.000.000,00 0,00 10.000.000.000,00 10.000.000.000,00

Investasi jangka pendek berupa deposito

Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Tahun Berkenan 92.772.017.448,87 95.606.023.995,40 0,00 0,00

Gambar

Tabel 3.1 Nilai PDRB dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha
Tabel 3.2 Nilai PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga
Tabel 3.4 Struktur PDRB Menurut Lapangan Usaha 2013-2014
Tabel 3.5 PDRB Perkapita Gorontalo
+7

Referensi

Dokumen terkait

1) Perilaku yang berhubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan. 2) Perilaku pencegahan penyakit yaitu respon dalam melakukan pencegahan penyakit,

Budaya religius adalah segala norma, nilai, aturan, kegiatan, perilaku dan asumsi dasar yang dibentuk dan dibiasakan untuk disampaikan kepada seluruh stakeholder

Pada waktu melakukan pembacaan pada termometer mata harus sejajar dengan tinggi permukaan air raksa atau alkohol yang ada dalam pipa kapiler untuk menghindari kesalahan

No Satuan Kerja Kegiatan Volume Pagu Sumber Dana Pelaksanaan Pekerjaan Keterangan 9 BADAN PEMBINAAN PENDIDIKAN DAYAH.. Pengembangan sarana dan Prasarana untuk Dayah/BP/TPA se

Telah diketahui bahwa fisika lebih mengarah ke keterampilan proses, artinya pembelajaran lebih ditekankan pada keterampilan siswa untuk menemukan konsep. Upaya

diperlukan program pada Pemeliharaan dan perawatan rumah tongkonan dengan cara tradisional dapat menggunakan bahan alami Bagaimanakah konservasi lahan, rekayasa

Selain kepala madrasah peneliti juga melakukan wawancara langsung dengan wakamad kesiswaan yaitu bapak Badaruddin, S. I bahwa sebagai bentuk pembinaan disiplin siswa,

Memperhatikan lingkungan kerja dengan suhu ekstrim maka bagi pekerja yang melaksanakan kerja shift malam hari diberikan extra fooding.. Rencana Kerja dan