• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jilid-03-Depernas 24-Bab-29

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Jilid-03-Depernas 24-Bab-29"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

BAB.29. PEMERINTAHAN

GARIS BESAR PEMBANGUNAN BIDANG PEMERINTAHAN

§ 391. Organisasi Negara Kesatuan

Dalam merentjanakan bentuk dan susunan pemerintahan jang mendjadi pokok pegangan ialah

a. Undang2 Dasar 1945.

b. Manifesto Politik.

c. Sifat2 dan sarat2 pemerintahan harus :

1. stabil,

2. mentjerminkan kehendak rakjat. 3. revolusioner.

d.  Tetap   terdjaminnja   keutuhan   negara   kesatuan   Republik Indonesia,

e.   Pengakuan   terhadap   Bung   Karno   sebagai   Pemimpin   Besar Revolusi   merupakan   faktor   panting   jang   senantiasa   harus diperhatikan.

2. pembagian wilajah ini masih mengalami perubahan2

3. dasar pembagian daerah di Indonesia

pembagian   daerah/tingkatan   berbeda   daerah   demi   dae­ rah,   pembagian   itu   didasarkan   pada   keperluan   praktis, ada propinsi jang mempunjai keresidenan, ada pula jang tidak.

Dibeberapa  daerah,   Residen  itu  berstatus   Residen  Koor­ dinator   jang   menjelenggarakan   pemerintahan   atas   nama Gubernur,   mengawasi   daerah   tingkat   II   jang   berstatus otonomi,

Tjontoh   Sulawesi   Selatan   dan   Sulawesi   Utara   masing2

mempunjai dua Residen Koordinator, ­

b. Keadaan jang ditudju

1. Daerah Swatantra dibagi 2 tingkat :

(2)
(3)

(a) Daerah   Swatantra   tingkat   I,   daerahnja   seluas   kereside­ nan,

(b) Daerah   Swatantra   tingkat   II,   daerahnja   seluas   ketjama­ tan.

(a)  (1)  desa terlampau ketjil untuk didjadikan suatu daerah swatantra,

(2) potensi pembangunannjaterlalu rendah, (3) tidak efektip dan produktip,

(b)  ketjamatan sudah lama mendjadi koordinator antara desa,

(c)  (1) kabupaten adal'ah kreasi djaman feodal,

(2) potensinja   terlampau   ketjil,   misalnja   untuk   industri berat,

(d)  desa   hendaknja   dipakai   sebagai   kesatuan   jang   mendjadi pendukung   demokrasi   fungsionil,   Desa   tidak   perlu   di­ djadikan   daerah   swatantra   tingkat   III,   dengan   pertim­ bangan :

(1) Undang2  Dasar   tidak   mengharuskan   mengadakan

Daerah tingkat III,

(2) Tidak   adanja   perwakilan   didesa   tidak   menjalahi   sila keempat Pantja Sila.

(3) Kerumah   tanggaan   desa   didasarkan   pada   penghi­ dupan asli penduduk,

(4) Perumah­tanggaan   desa   kompleks   sekali,   meliputi hampir segala soal.

(5) Susunan   pemerintahan   desa   seluruh   Indonesia   ber­ aneka warna sifatnja dan sukar diseragamkan.

(6) Susunan   pemerintahan   desa   tidak   zakelijk,   tetapi berdasar gotong rojong, gugur gunung dan lain2.

(7) Rakjat   dipedalaman   sukar   sekali   mentjari   uang. Apa   jang   akan   dikerdjakan   dipetjahkan   bersama dengan mendapat sambutan spontan.

(4)
(5)

§ 393.  Desentralisasi

a.  Desentralisasi adalah satu2nja djalan untuk mendjamin lan­

tjarnja pemerintah daerah,

b.  Daerah lebih kenal akan keadaan daerahnja.  c.  Undang2 desentralisasi :

1. Undang2 No, 22/1948,

2. Undang2 No. 1/1957.

3. Undang2 No. 6/1959.

d.  Isi   otonomi   untuk   berbagai   daerah   tidak   seragam,   perlu diatur dalaam beberapa peraturan perundang2­an.

e.  Beberapa matjam prinsip otonomi : 3. dalam   koordinasi   selain   togas   djuga   diatur   wewenang

koordinator,

h.  Effisiensi

dapat ditjapai dengan :

1. menghilangkan djawatan2 kembar.

2. tugas Departemen/Djawatan perlu ditindjau kembali. 3. perlu adanja rentjana bersama.

4. tenaga teknis harus tjukup.

(6)
(7)

5. harus ada penjeragaman administrasi. 6. perbelandjaan minimuin ditjukupi. 7. adanja pengawasan jang bath.. 8. diadakan sistim laporan tiap2 tugas.

9. tembusan2 surat jang tidak perlu supaja ditiadakan,

10.adanja management jang baik dan otorisasi jang tepat.

§ 394.  Pemerintahan Pusat

a.  Kedudukan, tugas dan wewenang Presiden dan Menteri2 

1. Kedudukan Presiden (b) membentuk Undang2 ber­sama2 D,P,R,

(c) menetapkan Peraturan Pemerintah.

(d) menjatakan keadaan bahaja dan djika perlu me­ njampingkan Undang2 Dasar.

(e) memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Da binet   of   The   President   atau   Kabinet   Konstitusi 1945,   semua   itu   dipandang   dart   hukum   tata­

Presiden dibantu Menteri2,

(8)

(2) istilah menteridulu disebut Dewan Menteri.

(3) istilah   Kabinet   baru   masuk   resmi   dalam   Konsti­ tusi R.I.S., kemudian diterima oleh Undang2  Dasar

sementara sampai sekarang.

(4) istilah Kabinet digunakan bagi kantor Presiden. 

(c)  seharusnja:

(1) menurut Undang2 Dasar sebutan Kabinet tidak adai

Pemerintah itu : Presiden dan menteri pembantu. (2) dalam   bahasa   asingnja   disebut   Presidental   Go­

vernment.

(3) perkataan   „Kabinet   kerdja”  pada   tiap   konsideran

dapat dipandang sebagai  "gewoontelijke gedachten­

gang" sadja dari sekertariat.

Manurut pasal 4 Undang2 Dasar, Pemerintah lebih tepat

disebut Presiden Republik Indonesia.

b.  Kedudukan,   tugas   dan     wewenang     Badan2    Pemerintahan Agung dan Dewan­dewan Pemerintah Pusat

1.  M.P.R.

(a) melaksanakan kedaulatan rakjat.

(b) menetapkan/mengubah Undang2 Dasar.

(c) menetapkan garis2 besar haluan negara.

(d) memilih Presiden,

Ber­sama2 Presiden membentuk Undang2.

4.  Badan Pemeriksa Keuangan Negara

(9)
(10)

5. Mahkamah Agung

(1) terlepas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah. (2) tugas dan wewenangnja diatur oleh Undang2.

6. Bapekan

Bertugas   niengawasi,   meneliti   dan   mengadjukan   pertim bangan kepada Presiden terhadap kegiatan aparatur negara.

7. Depernas

(a) bertugas       mempersiapkan     rantjangan     Undang2    Na

sional   Semesta   Berentjana   dan   menilai   penjelengga­ raannja.

(b) rantjangan itu diadjukan kepada Presiden   kemudian ke M.P.R.

(c) untuk     membangun   gedung     Depernas   dan   memben tuk   Lembaga2nja   disediakan   biaja   Rp.   100   djuta   mulai

dikerdjakan tahun pertama Rentjana I dan selesai achir Rentjana I.

c. Tugas dan organisasi Departemen2:

1. lingkungan   masing2  Departemen   perlu   ditetapkan   dengan

lengkap.

(c) Kementerian   jang   mengurus   sekolah   rakjat,   sekolah landjutan dan sekolah2 kedjuruan.

(11)
(12)

e.  Hubungan satu dengan lainnja

Untuk   mendjamin   effisiensi   kerdja,   tugas   koordinasi   supaja diserahkan   kepada   Menteri   Pertama/Wakilnja;   dengan   di­ perlengkapi aparatur tersendiri.

f.  Ha12 lain

1. pegawai hendaknja distimulir mengabdi kepada rakjat.

2. peremadjaan   pegawai   hendaknja   tidak   menimbulkan vacuum/stagnasi,

3. pemimpin2  baik disektor partikelir  maupun pemerintahan

hendaknja mengikuti latihan2.

4. Lembaga   Administrasi   Negara   hendaknja   mengadakan berbagai Iatihan, untuk itu perlu disediakan biaja seku­ rang­kurangnja Rp. 100 djuta.

5. hubungan   dalam   kepegawaian   supaja   didasarkan   human relation.

6. diadakan pendaftaran tenaga ahli,

7. wadjib kerdja sardjana2  jang baru lulus se­kurang2nja tiga

tahun.

8. kekurangan   tenaga   ahli   supaja   mendapat   perhatian   se­ penuhnja.

9. dalam   rangka   penjempurnaan   Administrasi   Negara,   ins­ telling   Arsip   Nasional   perlu   mendapat   perhatian   setju­ kupnja. Departemen2, djawatan'2 dan lain2, supaja setjara

berkala mengirimkan laporan2 dan arsip2 tua mereka. Un­

tuk Arsip Nasional ini diperlukan biaja 79.500.000,­ 10. laporan berkala djuga kepada Biro Statistik.

11. censur perlu diadakan,

12. supaja   lebih   giat   berusaha   menertibkan   dan   mengefisi­ ensikan aparatur negara.

395. Pemerintahan Daerah  a. Pelaksanaan otonomi

Pelaksanaan   otonomi   untuk   berbagai   daerah   tidak   sama. Faktor   jang   menjebabkan   pelaksanaan   otonomi   tidak   me muaskan a.l.:

1. kekurangan tenaga teknik dan pimpinan,  2. kekurangan biaja.

3. banjaknja   djawatan2/dinas2  vertikal   menimbulkan   djawa­

tan­djawatan/dinas2 kembar,

4. penjerahan   tugas   danwewenang   tidak   disertai   alat2  ke­

uangan serta tenaga2 teknis jang diperlukan

(13)

5. kurang   djelasnja   diatur   pemisahan   kekuasaan   eksekutip dan legislatip.

6. adakalanja.   D.P.R.D.   mentjampuri   urusan   jang   semesti­ nja termasuk bidang D.P.R.

7. keadaan bahaja perang kadang2 menjebabkan kurang Ian­

tjarnja pelaksanaan otonomh

8. konflik jang kadang2  timbul antara fungsionaris otonomi

dan Pamong Pradja.

b.  Perimbangan Keuangan

1.  Ketentuan2 jang berlaku :

„Undang2  Perimbangan   Keuangan   Tahun   1957”   No.   32

tahun 1956 jang disusul dengan Peraturan Pemerintah

(a) No, 3/1957: Penjerahan Padjak Negara kepada Daerah, (b) No,   4/1957:   Pemberian   Gandjaran,   Subsidi   dan

sumbangan kepada Daerah,

(c) No. 5/1957: Panitia Negara Perimbangan Keuangan, (d) No. 12/1958 :   Penetapan   persentase   dari   penerima­

an Padjak Negara untuk Daerah,

(e) No,   14/1959:   Penetapan   persentase   dart   beberapa penerimaan Negara untuk Daerah.

2.  Kekurangan sistim perimbangan Keuangan

(a) belum dapat menutup seluruh Anggaran Daerah.

(b) pelaksanaan   belum   lantjar   karena   Daerah   belum mempunjai tenaga teknis dan peralatan jang tjukup, (c) penerimaan   uang   bagian   dari Padjak Negara sering2

sangat   terlambat,   karena   perhitungan     Inspeksi       Ke­ uangan kurang lantjar.

(d) penetapan       sementara     kurang     sesuai     dengan kebutuh­ an Daerah,

3.  Saran­saran :

(a) Pusat   supaja   membantu   berdirinja   perusahaan   di Daerah.

(b) Pusat   menjediakan   devisen   jang   diperlukan   Daerah untuk   melengkapi   alat2/kebutuhan   bahan2.     Gandja­

ran   subsidi   dan   sumbangan   jang   diberikan     supaja sesuai   dengan   kekurangan2  Daerah,     dengan     mengi­

ngat djuga keuangan Negara,

(14)

c.  Organisasi Pemerintah Daerah

2.  Alat2 perlengkapan Daerah.

(a) D.P.R.D.

(b) Kepala/Waki1 Kepala Daerah.

(c) B.P.H.,

3.  Perlu diselesaikan :

(a) Pelaksanaan U.U. No. 6/1959.

(b) Pemilihan   dan   susunan   D.P.R.D.   supaja   disesuaikan dengan D.P.R.

(c) Sekertariat   Daerah   dan   Sekertariat   Pemerintahan   Llmum supaja disatukan.

d.  Tjara pengawasan atas Pemerintah Daerah

1. tenaga2  jang berpendidikan supaja ditambah, baik di pusat

maupun didaerah.

2. perlu adanja penjeragaman : (a) Undang2 Daerah.

(b) Peraturan Daerah.

(c) Bahasa per­undang2an.

e.  Hal­hal lain :

Pemilihan   anggota   D.P.R.D.   supaja   bersamaan   dengan   pe­ milihan   D,P.R.,   dengan   demikian   dapat   diadakan   penghe­ matan.

f.  Daerah swapradja 

1.  Sedjarahnja :

(a).  sebagai akibat politik Van Heutz di Indonesia da­. lam abad   ini   terdapat   300   buah   zelfbesturende   land­ shappen.

(b)  ketjuali   dibeberapa   daerah,   Swapradja2  itu   telah   di­

hapuskan oleh revolusi.

(15)

(c)  jang tidak dihapuskan menjatakan setia kepada R.I. 2.  Jang   mendjadi   persoalan,   apakah   Daerah   Swapradja   itu

dibiarkan h'idup atan dihapuskan. Kalau dihapuskan apa

gantinja dan bagaimana kita bertindak adil.

3.  Keadaan sekarang:

Swapradja diluar Palau Djawa tinggal: Tidore, Batjan dan Ternate.

(a) Jogjakarta:   tidak   dihilangkan   tetapi  dilegalisir  oleh Undang2 dan oleh Pemerintah.

(b) Surakarta: statusnja sampai sekarang masih terka­

tung­katung tidak dihapuskan dan tidak dilandjut­ kan.

(c) Kalimantan : telah dihapuskan semua oleh Undang­

undang. Kedudukan bekas Kepala Swapradja diatur oleh Undang2.

Djika umurnja lebih dari 55 tahun dipensiun dengan 55%  sampai  75%  daripada   mata   pentjahariannja. jang  belum   berumur  55  tahun   didjadikan  pegawai daerah.

(d) Sulawesi:   Kepala   Swapradja   Luwu,   Sopeng   Bone dan Goa diangkat mendjadi badan penasehat Gu­ bernur.

(e) Nusa   Tenggara   :   Daerah   Swapradja   di   Bali   dan Sumbawa   didjadikan   Daerah   tingkat   II,   status Kepala2 Swapradja diatur seperti di Kalimantan.

(f) Maluku/Irian Barat: Swapradja Tidore menurut hu­

(b) Undang2 No, 14/1946.

(16)
(17)

2. Semua   warganegara   penduduk   desa   baik   laki2  maupun

perempuan berhak memilih,

3. Aparatur   jang   sudah   ada   perlu   dipertahankan     dipupuk dan didinamisir agar dapat menjesuaikan diri dengan tu­ gas pelaksanaan Pembangunan Semesta Berentjana.

4. Perlu dibentuk madjelis/dewan desa jang terdiri dari orang2

jang berpengaruh sebagai penasehat kepala desa.

tanah desa, sungai, bangunan2 seperti djembatan, peman­

dian, pasar desa, pengairan

3. Desa berhak menarik iuran tertentu atau se­waktu2.

4. Desa   djuga   berhak   mengadakan   wadjib   kerdja   untuk berbagai   keperluan   desa.   Adapun   gotong­rojong   adalah bersifat sukarela dan berdasar kekeluargaan,

5. Dalam H.I.R.   (titel I bagian 2)   terdapat   wewenang   ke­ pala desa dalam kepolisian dan pengadilan.

6. Desa2  diluar   Djawa/Madura   sudah   diwadjibkan     mem­

buat Anggaran Belandja tiap2 tahun.

7. Pengawasan atas keputusan desa dilakukan oleh: nan   masjarakat,   perasaan   territorial   dan   genealogis   di­ maksudkan untuk disama­ratakan sama sekali,

2.  Hingga sekarang sudah 10 tahun berdjalan banjak marga2

jang   belum   dapat   memilih   marganja,   karena   uang   tidak disediakan oleh Pemerintah Pusat.

(18)
(19)

(a) lebih bersifat genealogis.

(b) tidak mempunjai susunan territorial.

(c) dengan   datangnja   transmigrasi   marga   lebih   katjau lagi.

(a) instruksi   Menteri   Dalam   Negeri   tertanggal   25   Djuni 1947,

(b) instruksi   Kementerian     Penerangan   tertanggal   25 Djuni 1947.

2.  Pedomannja disusun oleh Panitia Pusat R.T. dan R.K. dan ditanda­tangani   oleh   Menteri   Dalam   Negeri,   Sosial   dan Penerangan.

(a) hubungan  pemerintah  desa  dengan  R.T./R.K,  hen­

daknja bertambah erat.

(b) pemerintah hendaknja memberikan bantuan jang le­

bih besar.

(c) tugas R.T./R.K, supaja diperintji dengan hati2.

(d) hendaknja lebih banjak ikut serta   dengan   peme­

rintah dalam melakukan programnja a.l. berhubung

(20)
(21)

e.  Hal2 lain jang dianggap perlu

1. Beberapa desa supaja digabungkan dalam satu unit pem­ bangunan.

2. Ditiap   ketjamatan   disediakan   seorang   pegawai   jang   me­ lajani beberapa desa dalam urusan pertanian, perikanan, peternakan, pendidikan, kesehatan d.l.l.

—  Untuk   menghemat   biaja,   pegawai   itu   diambil   dari pegawai jang sudah ada sesudah dikursuskan menge­ nai keperluan setempat.

3.  Pembaharuan Undanga'desa untuk mendjamin Pemerin­

tahan Desa jang lebih dinamis dan efisien,

§ 397.  Pembangunan Masjarakat Desa (P.M.D.)

a.  Dasar dan tudjuan

1.  Tudjuan   meninggikan   taraf   penghidupan   dan   kehidupan masjarakat   desa,   dengan   djalan   tnendjalankan   Pemba­ ngunan jang integral 

2. Dasar :  (a).  kekuatan sendiri dari masjarakat desa. (b).  permufakatan.

(c). bimbingan Pemerintah

b.  Organisasi

1.  Tudjuan meninggikan taraf penghidapan dan kehidupan 2.  Badan2  Koordinator terdapat dipusat, propinsi, kabupa­

ten dan daerah kerdja, 3.  Tugas koordinator:

(a) memberi bimbingan

(b) mengatur koordinasi

(c)mengatur bantuan2 pemerintah (d) mendidik kader2.

(22)
(23)

2. djalan2 dan djembatan

3. bangunan2 ttntuk pengairan.

4. taman dan fapangan.

3.  tidak   adanja   tenaga   administrasi   jang   chusus   untuk P.M.D,

4. kurangnja finansiil/Anggaran Belandja, 5. kurangnja alat2 transport,

f.  Saran­saran :

1.  Tjara2 menjempurnakan P.M.D.:

(a) P.M.D.   harus   mentjukupi   semua   segi2  kehidupan

desa.

(b) pemerintah ikut membangunkan inisiatif rakjat..

(c) daerah kerdja P.M.D.: setingkat ketjamatan. (d) tiap2 ketjamatan diberi seorang pegawai.

(e) pemuda  lulusan S.L.A. supaja  dapat disalurkan  di

P.M.D.

(d) upatjara2 jang memboroskan ditjegah.

(e) pemberantasan penjakit.

(f) dikembangkan semangat berkoperasi.

3.  Tjara membangun perlengkapan desa:

(a) gotong­rojong.

(24)
(25)

(c) desa diberi sumber2 keuangan tertentu.

(d) sistim petera dengan penerangan.

(e) sistim kompetisi.

(f)

menindjau ke-desa

2

jang telah madju.

4.  Biaja:

50.000 desa à Rp. 5.000,— = Rp,  250 djuta tiap tahun

nja, djadi 8 tahun = Rp, 2.000 djuta.

(keterangan   mengenai   biaja   lebih   landjut   lihat   Bidang Keuangan).

§ 398.  L a n d r e F o r m

a.  Hal2 jang dianggap merugikan politik agraris sekarang

1.  Pengaruh asing, perkebunan jang luas dan tandus diko­ ta masih dimiliki orang asing.

2.  Swapradja, tanah milik Swapradja banjak belum  dipe­ tjahkan dan menjulitkan penggunaan tanah setjara efek­

(b) di Lombok pemindahan tanah 40% dengan gadai.

(c) di Purwakarta 20% tanah ada dalam persewaan.

(d) di Djawa Barat tanah guntai djumlahnja  40% —

95%.

7.  Fungsi sosial dari tanah, belum dilaksanakan sebagai­ mana mestinja.

(26)
(27)

8. Hal tersebut menjebabkan

(a)  penggunaan   tanah   kurang  intensif,   tidak  mendja­ min produksi maksimal,

(b)   mengurangi   enthousiasme   petani   untuk   memperbe sar produksi. 1. Undang2 No. 76/1957.

2. Undang2 N. 1/1958.

3. Peraturan pelaksanaan.

4.  (a)  Peraturan Pemerintah No. 56/1958.  (b)  Undang2 No. 78/1958.

(c)  Peraturan Pemerintah No. 61/1957.

5.  Interpretasi

Menurut Indische Staatsregeling, disamping peraturan2

menurut hukum Barat masih berlaku hukum adat. Berdasarkan pasal II Aturan Peralihan Undang2  Dasar

1945 selama belum ada jang baru kita masih terpaksa mengakui ,peraturan Hindia Belanda.

Djadi setjara formil kita masih terikat dengan dasar hu­ kum agraria dahulu, tetapi setjara materiil hukum atas dasar hukum agraria sekarang ini ialah Undang2  Dasar

kita sendiri dengan pembukaanja. Tjaranja  dengan  in­ terprestasi   jang   luar   biasa,  interprestasi   jang   didjiwai oleh revolusi kita, Undang2  Agraria tahun   1870 itu da

pat kita sesuaikan dengan haluan negara kita.

(28)

Kalau kita mengubah  Undang2  Agraria  itu setjara  formil,

maka   itu   berarti   mengubah   djuga   sistim   daripada   Kitab Undang2  Hukum   Perdata   setjara   besar­besaran,   karena

sistim   kitab   Undang2  Hukum   Perdata   merupakansuatu

kebulatan usaha itu, djuga akan memakai banjak waktu.

c.  Dasar2 dan ketentuan2 pokok Undang2 Pokok Agraria Na­ sional

1.  Sebagai dasar akan dipakai. (a) Pantjasila

(b) Undang2 Dasar 1945, pasal 33.

(c) Manifesto Politik.

(d) Amanat Pembangunan Presiden.

2.  Dualisme dalam Hukum Agraria dihapuskan. Hak2 eigen­

dom, ermacht, opstal dan hak2 barat lainnja atas tanah

dihilangkan.

3.  Bumi dan air dan kekajaan alam fang terkandung dida­ lamnja dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk se­ besar2nja kemakmuran rakjat.

4.  Hak mengenai tersebut, pelaksanaannja dapat dikuasa­

kan kepada Daerah2 Swatantra dan masjarakat hukum

adat.

5.  Hak2 ulajat dan hak2 fang serupa fang masih ada dise­

suaikan dengan kepentingan Nasional, 6.  Matjam2 hak atas tanah :

(a) hak milik

(b) hak guna usaha

(c) hak guna bangunan

(d) hak pakai

(e) hak2 lain jang akan ditentukan dalam Undang2.

7.  Hak atas tanah mempunjai fungsi sosial.

8.  Pada azasnja pemilik tanah diwadjibkan mengerdjakan tanahnja sendiri.

(29)

(a) pasar

(b) ibadat

(c) keperluan Negara

(d) produksi dan lain2 usaha kesedjahteraan.

Peraturan ini diserahkan kepada masing2 daerah.

13.  Untuk keperluan peribadatan oleh Pemerintah da­ pat (c) Badan2 hukum,

16.  Hak2  jang ada pada waktu berlakunja Undang2  Pokok

Agraria akan dikonversi, mendjadi hake jang baru. 17.  Kedudukan hukum dari tanah2 wakaf perlu dipertegas.

d. Prinsip2 Landreform

d.  Prinsip2 Landreform

1.  Luas maksimum pemilikan dan penguasaan tanah :

(b) luas   maksimum   penguasaan/penjewaan   tanah   : untuk  Djawa,  Madura,  Bali  dan  Lombok  15 ha. (= 50% diatas djumlah milik tanahnja),

untuk luar Djawa Madura, Bali dan Lombok 20 ha. 2.  Luas minimum pemilikan dan penguasaan tanah ditetap­

kan, Batasnja diadakan research lebih dahulu.

(30)

e.  Biaja Landrefarm; dikemukakan pedoman

1.Ganti kerugian ditetapkan sepantasnja.

2.Pembajaran ganti kerugian sebagian dengan obligasi.

3.Petani   jang   mendapat   tanah   baru   mengangsur   kepada Pemerintah berupa hasil bumi.

4.Diadakan penjelidikan atas hak milik jang lebih dari 10 ha; djika, ternjata diperoleh dengan tidak sah tidak di­ bar' ganti kerugian.

5.Petani2 baru perlu diberi kredit dari Pemerintah. 

§399. Penjebaran tenaga pembangunan (transmigrasi)

a.  Organisasi

1. Djawatan Transmigrasi Pusat. 2. Djawatan Transmigrasi Daerah,

b.  Tjara bekerdja tahun2 jang lalu

dapat dibagi tiga tingkatan:

1.  Penjelidikan (tanah irigasi d.1.1.).

2.  Persiapan (membuat djalan2, irigasi, verkaveling, pene­

bangan

3.  Penempatan   (pemindahan,   melengkapi   alat2  membagi

djaminan,   mengatur   perusahaan,   perkampungan   dan lain2),

c.  Perbaikan2 dari Transkopemada

1. Berhubung dengan penghematan biaja, transmigrasi di­ pusatkan di Sumatera Selatan.

2. Pembelian bahan2 makanan pokok disentralisir.

(31)
(32)

2.  Sistim transmigrasi hares berubah setjara radikal.

Rentjana   dilaksanakan   mulai   tahun   1961   dan   selesai achir tahun 1968.

§ 400. Koperasi

a.  Tugas kewadjiban Djawatan Koperasi adalah :

1. memberi   penerangan   dan   pendidijcan   perkoperasian kepada masjarakat,

(b) —  Kantor   Tjabang   Inspeksi   Koperasi   Daerah/Ko­ tapradja/Kabu paten/Kota.

(33)

c.  Perkemhangan koperasi

Statistik   menundjukkan   garis   jang   meningkat   baik   dalam djumlah dan mutunja maupun dalam usaha­usahanja 

Tahun Djumlah Koperasi Anggota

Tahun 1951 5.770 1.000.324

Tahun 1958 14.146 2.202.789

Terbagi :  1.344 buah hak badan hukum

2. djenis   koperasi   jang   terbanjak   koperasi   simpanan   pin­ djam   dan   koperasi   desa,   kedudukannja   dalam   struktur perekonomian sekarang lemah.

3. perlakuan   instansi   pemerintah   terhadap   koperasi   tidak memuaskan.

4. kenjataan   sekarang   timbul   duaslisme   didalam   perkem­ bangan koperasi :semakin mendjadi kuat semakin djauh dari   tudjuannja   dan   semakin   d.ekat   dengan   praktek2

usaha swasta biasa.

f.  Pendidikan metal untuk pembangunan koperasi

1.  Koperasi hendaknja mempunjai peranan :

(34)

(a)  sebagai alat untuk melaksanakan ekonomi terpimpin (b)  merupakan   sendi   kehidupan   ekonomi   bangsa   Indo­

nesia,

(c)  merupakan   dasar   untuk   mengatur   perekonomian rakjat.

2. Dasar Hukum : fasal 33 U.U.D. 1945.

3. Gerakan   koperasi   harus   bersifat   masal,   meliputi   seluruh penduduk, tetapi tetap bersifat sukareda dan setahap demi setahap.

4. Mutu koperasi supaja dipertinggi,

5. Pendidikan   perkoperasian   hendaknja   dimulai   dal.;   S.R.

sampai Universitas. Merida dididik berkoperasi.

6. Kursus2 kader koperasi perlu setjara masaL

7. Penerangan   dipergiat   dan   bekerdjasama   dengan   Pa­ mongpradja, P.M.D, dan lain,

8. Pegawaia  koperasi   djuga   harus   dipertinggi   mutunja.

Organisasi koperasi

g.  Organisasi Koperasi

1.   Susunan   organisasi   koperasi   desa   Aneka   Usaha   dan Sedjenis :

(a) tingkat desa: gerakan dan organisasi koperasi

(b) tingkat   Ketjamatan/Kewedanaan   :   Gabungan   Ko­

perasi.

(c) tingkat       Nasional:     Djawatan   Koperasi   Pusat/ Daerah Koperasi Indonesia,

2.  Susunan Organisasi koperasi simpan­pindjam.

(a) Tingkat desa : simpan pindjam.

(b) 'tingkat   Ketjamatan/Kewedanaan   :   Bank   Koperasi

tingkat II,

(c) tingkat   Kabupaten/Keresidenan   :   Inspeksi   Bank

Koperasi.

(d) tingkat Nasional: Bank Koperasi Indonesia. 

h.  Hal2 lain

1.  Disetiap   desa   supaja   dibentuk   koperasi2  produksi,   pe­

ngangkutan   pembelian   alat2  dan   bahan2  produksi,     ba­

han­bahan   pokok   se­haria,   kredit,   lumbung,   pendjualan,

pembibitan, simpan­pindjam, konsumsi dan lain2,

2.  Supaja   ada   bimbingan   dal.;   pemerintah     agar     koperasi

tidak melanggar azasnja.

(35)
(36)

4. Modal koperasi terdiri dari: (a) Anggota.

(b) Kredit dari Pemerintah 

i. Koperasi dalam Alam Pembangunan

Masalah   koperasi   harus   dibitjarakan   dahulu   dalam   bidang policy,   Apabila   Pemerintah   mempunjai   rentjana     jang   bulat dan   ketegasan   jang   tegas,   dengan   sendirinja   pertumbuhan koperasi   akan   meluap   dan   demikian   pula   sumbangan   ko­ perasi kepada Pembangunan Semesta akan lebih besar.

Maka   didalam   menjusun   pola   Pembangunan   Semesta   ko­ perasi   harus  diberi   tugas    setjara    tegas,    bahwa   koperasi akan diberi tempat dalam menjusun Pembangunan Semesta itu.

Didalam koperasi pendidikan mesti disempurnakan, diurai­ kan  dan  ditjotjokkan dengan  isi djiwa dari haluan Negara. Tafsiran undang2 Dasar 1945 pasal 33, terdapat dua matjam

tafsiran :

1. ekonomi   disusun   atas   usaha   bersama   berdasarkan   ke­ keluargaan; itu belum tentu koperasi.

2. tugas2 jang dimaksudkan ialah koperasi. 

j.  Biaja

Untuk   memperkembangkan   koperasi   sebagai   alat   melaksa­ nakan   ekonomi   terpimpin,   chusus   dalam   bidang   distribusi dan produksi disediakan biaja Rp. 500 djuta.

Pelaksanaannja   mulai   tahun   1960   dan   selesai   pada   achir tahun 1968;

(a) dipelihara   dan   dikembangkan   kesadaran   Nasional, bergotong­rojong dan swadaja rakjat.

(b) dipadukan segenap potensi rakjat,

(c) diperpadukan   segenap   potensi   rakjat   untuk   melaksa­ nakan aksi2 masa revolusioner segala bidang.

(37)
(38)

b.  Tjara bekerdja P.T,R, ialah :

1. dengan musjawarah.

2. mengikut   sertakan   golongan   kerdja   sesuai   dengan   ke­ mampuannja,

3. mengadakan   koordinasi   antaia   instansi'   pemerintah   jang bersangkutan.

4. ada pengorganisasian tenaga dan kerdja,

5. ada persiapan mental, kompetisi, rekreasi dan lain',

c.  Hasil   usaha   P.T.R.   belum   tampak   sebab   tak   punja   projek2

sendiri tapi hanja mengintroduksikan sistim   bekerdja   pelba­ gai bidang kegiatan pembangunan;

d.  Persiapan mental :

1. perlu penerangan populair pada rakjat bahwa untuk Pem­

bangunan  Semesta,  tenaga  rakjat harus  turut Berta,  de­ ngan dasar : dari Rakjat, untuk Rakjat, oleh Rakjat,

4.  kadervorming dan lain2,

(39)
(40)

§ 402. Per­undang2an Kependjaraan dan Kepolisian a. 1. Supaja dihilangkan ri,ntangan jang berupa :

(a) berbagai golongan hukum.

(b) berbagaisuasana hukum (rechtssferen). (c) sistim Kewarganegaraan rangkap, (d) dualisme dalam hake tanah,

2.  Diadakan usaha2 kearah homogenitet.

3.  Ditetapkan azas2 pembinaan hukum nasional :

(a) dalam hukum privat,

(b) dalam hukum kriminil. (c) dalam hukum publik.

(d) mengenai susunan dan djalannja peradilan.

b.  Usaha2 untuk penjempurnaap per­undangzan

1.  Harus ada keseragaman.

4.  Diadakan peradilan anak2 dengan biaja : Rp.5.000.000,— 

c.  Hal2 lain, jang dianggap perlu

1. Dalam   Undang2  No.   80/1958   perkataan   D.P.R.   diganti

dengan 1VI.P.R. (pasal 4, 1),

2. Hukum perkawinan diatur se­baik2nja.

3.  Undang2  mengenai   Balai   Harta   Peninggalan:   pekerdja­

annja diperlu.as terhadap golongan Indonesia ash.

4.  Per­undang2an mengenai hukum warisan

(a)  semua warisan untuk anak2 dan djanda, apabila si­

peninggal warisan meninggalkan anak2 dan djanda.

(b) mengenai sistim penggantLan ahli waris. (c) tentang penghibatan,

5.  Peraturan  mengenai tjatatan  sipil, perlu ditindjau dan disempurnakan.

6.  Hukum dagang :

(41)

dapat dikodifikasikan dan diunifikasikan untuk seluruh golongan penduduk Indonesia,

7.  Peraturan mengenai oktroi perlu ditetapkan undang2nja.

8.  Hak pembiak perk' diatur djuga,

9.  Peraturan2 dalam lapangan Perguruan Tinggi:

(a) Undang2 Perguruan Tinggi,

(b) Hadiah2 karya seni, ilmiah dan olah raga,

(c) Undang2Film,

10.  Per­undang2an Perburuhan segera disempurnakan.

11.  Peraturan  dalam lapangan  kebudajaan  supaja  diperbe­ rat, sanksi terhadap pelanggaran Monumenten­ordonan­ tie.

12.  Peraturan­peraturan mengenai kepegawaian, sudah pa­

da waktunja untuk diatur dalam suatu Undang2  Pokok

Kepegawaian,

13.  Undang2 kearsipan, perlu ditindjau dan diubah,

14.  Per­undang2an pertambangan perlu disesuaikan dengan

kepentingan .nasional,

15. Undang2  organik   jang   mengatur     kedudukan     Hakim,

dan   jang   mengatur   Sarat2  untuk   mendjadi   dan   untuk

dapat dinjatakan diberhentikan sebagai hakim, 16. Per­undangaan mengenai Kepolisian perk dibentuk.

17. Per­undang2an   mengenai   pertahanan   negara   perlu   se­

gera dibentuk.

18.  Per­undang2an mengenai pemilihan supaja diperbaharui.

19.  Perdjandjian   dengan   Iuar   negeri   (jang   dilakukan   oleh Hindia Belanda) perlu ditindjau,

d. Pendjara modern

Sesuai dengan Rentjana Pembangunan Semesta, perlu diba­ ngun   pendjara2  modern   jang   diperlengkapi   dengan   tempat2

untuk perbanian, pertenunan,perkajuan, perkttlitan dan tern­ pat bekerdja dalam pendjara.

Sebagai   pilot  projek,   dapat   dibangun   7   buah   pendjara   mo­ dern,   duabuah   di   Djawa,   dii   Sumatera,   Kalimantan,   Sula­ wesi, Nusa Tenggara dan Maluku, masing2 sebuah,

e. Kepolisian

(42)

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Keterlibatan kecelakaan diekspresikan sebagai jumlah pengemudi kendaraan dengan karakteristik yang pasti terlibat dalam kecelakaan per 100 juta vehicle-miles

PEMERINTAH KABUPATEN MUSI BANYUASIN DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. PEJABAT PENGADAAN BARANG/JASA V

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 047/Menkes/SKI/2002 tentang Laboratorium

Kolonel Wa hid U

Adapun tujuan khusus penelitian antara lain: (1) menganalisis perubahan luasan tutupan/penggunaan lahan di Kabupaten Luwu Timur tahun 2002 dan 2013; (2) menganalis

Petunjuk pada gambar 6 yang merupakan tampilan upload Media upload website e-learning artificial informatics Berbasis Web dapat diakses pada jaringan lokal melalui alamat

d) Kajian / Penelitian / Perencanaan Lingkungan Hidup yang dilakukan oleh pemerintah Kota Semarang pada tahun 2015 adalah sebagai berikut :. 1) Laporan pra pelingkupan