• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. IDENTIFIKASI DAN TINJAUAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. IDENTIFIKASI DAN TINJAUAN TEORI"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

2. IDENTIFIKASI DAN TINJAUAN TEORI

2.1 Identifikasi Data

2.1.1 Data Majalah Grafis Outmagz 2.1.1.1 Kantor Pusat Outmagz

Outmagz Ground Control:

Nagan Tengah #8, Yogyakarta 55133 Telp/Fax (0274) 371458

[email protected] 2.1.1.2 Pengelola Outmagz

Advertising Sales Office

PT.AVATAR Plaza 3 Pondok Indah Building 3 Floor,E-12 Jl..W. Maramis Jakarta-12310 Indonesia

Telepon: 021-75906185; 021-75908948 2.1.1.3 Potensi Produk

Outmagz merupakan majalah grafis yang unik, dan menarik. Dengan bentuk kotak dengan ukuran 15 x 15 cm dan yang lebih unik lagi adalah bagian bolak-balik pada artikelnya. Tidak berbeda dengan majalah lainnya. Outmagz lebih mengarah pada keunggulan isi pada artikelnya, Memotret pada kebudayaan populer saat ini yang serba instan serta intelektual culture. Targetnya adalah para anak muda yang gaul dan anak-anak muda yang penuh dengan daya kreatifitas dan selalu inofatif. Tidak mengherankan bahwa majalah ini lebih menguat pada daya visualisasinya, keunggulan komputer dan perangkat lunak lainya yang mendukung majalah ini digemari anak-anak muda jaman sekarang. Sebenarnya awal mula berdirinya Outmagz ini dari kumpulan komunitas kecil, kemudian terinofatif pada pemikiran pembuatan majalah yang unik dan menarik. Pada tahun 2002 maka terbitlah untuk pertama kali majalah Outmagz ini, pertama dengan target dan tema yang masih belum terjangkau luas, atau masih dalam kalangan anak-anak Yogyakarta saja. Akhir Maret 2004 ini Outmagz berhasil menerbitkan edisi ke-tiganya dengan jumlah oplah yang semakin meningkat pada setiap

(2)

edisinya, ini membuktikan bahwa majalah ini sebenarnya memiliki potensi dinikmati oleh masyarakat.

2.1.1.4 Tampilan secara Visual

Karena merupakan majalah grafis yang lahir di Indonesia, maka unsur-unsur kebudayaan setempat tetap melekat pada karya dan artikelnya. Outmagz sendiri lebih mengarah pada perkembangan budaya populer sekarang ini yang digandrungi oleh anak-anak muda. Tampilan visual mengarah pada gaya Pop maupun karya-karya fotografi. Bagaimanapun budaya Pop yang serba instans dan sederhana itu lebih dinikmati oleh kalangan anak muda. Itulah sebabnya Outmagz lebih menciri khaskan gaya desain pop art ala Andy Warhol untuk menarik perhatian karena ini semua juga menuruti selera gaya anak muda sekarang.

(3)

2.1.2 Data Majalah Grafis BLANK 2.1.2.1 Kantor Pusat BLANK magazine

Jl. Ki Ageng Pemanahan Kemutung 42 Wirosaban, Yogyakarta

Telp/Fax : (0274) 370407/(0274)370407 E-mail : [email protected] 2.1.2.2 Pengelola BLANK magazine

Blank magazine is published bimonthly by :

PT. Petakumpet

JL.Gedongkiwo MJ 1/1001 Yogyakarta – 55142 2.1.2.3 Potensi Produk

BLANK magazine merupakan majalah grafis yang pertama di Indonesia. Bukan hal biasa tempilan visualnya mampu membangun image tersendiri bagi peminatnya terutama anak-anak desain dan grafis. Karena bentuk yang unik dengan ukuran 24 x 14 cm serta sampul yang warna-warni mampu memberi ledakan pada setiap edisinya. Sampai akhir tahun 2003 ini, BLANK dibawah PT. Petakumpet ini mampu menerbitkan enam edisinya. Dengan daya kreatifitas yang tinggi dan bantuan seperangkat alat komputer mampu menciptakan tampilan visual dan artikel yang menarik. Target pembacanya sendiri adalah anak-anak muda yang gaul, suka mengikuti gaya atau tren terbaru, kreatif walaupun pada awalnya BLANK hanya menargetkan untuk kalangan anak-anak seni dan desain saja. Selain itu BLANK juga menerima kontribusi karya, ide dan gagasan kreatif dalam bentuk artikel dan karya visual dari pembacanya.

2.1.2.4 Tampilan Secara Visual

Sama seperti halnya dengan majalah Outmagz yaitu sama-sama bekelut di bidang grafis, majalah Blank memiliki karakter dan tampilan visual yang tidak begitu jauh dengan majalah Outmagz. Jika di majalah Outmagz banyak ditemui

(4)

tampilan visual fotografi, maka lain halnya di majalah BLANK akan banyak ditemui tampilan visual ilustrasi, animasi (3D). Media Corel Drawlah yang banyak membantu BLANK dalam membuat tapilan visualnya.

Ditinjau dari gaya layout BLANK memilih gaya yang cenderung teratur, dalam arti BLANK lebih memilih tampilan yang enak ‘dipandang’. Misal bentuk garis-garis yang teratur, bulatan-bulatan yang tertata rapi, warna-warna yang kontras dan memilih bentuk font yang umum.

Gambar 2.2 BLANK cover no.3 dan no.6

Gaya Pop Art juga mewarnai bentuk gaya dalam layout-nya. BLANK memiliki tema yang berbeda pada setiap edisinya, misalnya untuk edisi yang terbaru ( edisi ke-6 ) memilih tema aesthetic of propaganda dan ini akan selalu berbeda pada edisi berikutnya.

(5)

2.2 Analisis Data

2.2.1 Tinjauan Tentang Kebudayaan di Indonesia 2.2.1.1 Kebudayaan Indonesia

Hasil dari sebuah kebudayaan Indonesia adalah gaya Indonesia. Sebelum mengetahui lebih lanjut tentang gaya Indonesia terlebih dahulu mengetahui apa itu kebudayaan. Kebudayaan = culture (bahasa Belanda = cultuur) berasal dari perkataan latin “colere” yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembang arti culture sebagai “segala daya dan aktifitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam”.1 Dilihat dari sudut bahasa Indonesia kebudayaan berasal dari bahasa sansekreta “Buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari buddi yang berati budi atau akal. Aggapan lain berkata “budaya” adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budi-daya, yang berarti daya dari budi, karena itu dibedakan antara budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, rasa dan karsa tersebut. Banyak sekali makna yang berusaha mendefinisikan arti kebudayaan, beberapa tokoh dan pakar Indonesia mencoba merumuskan definisi budaya seperti:

Prof. Dr. Koentjoroningrat mengatakan kebudayaan adalah keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur dari tata kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.

Sultan Takdir Ali Syahbana mengatakan kebudayaan adalah hasil manifestasi dari cara berpikir.

Dr. Moh.Hatta, kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa. Drs. Sidi Gazalba, kebudayaan adalah cara berpikir dan merasa yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segala golongan manusia yang membentuk kesatuan sosial dengan suatu ruang dan suatu waktu.

1

Koentjoraraningrat, Pengantar Antropologi, cetakan kedua. Penerbit Universitas, Jakarta, 1965, halaman 77-78.

(6)

Definisi-definisi diatas kelihatanya beda-beda, namun semuanya berprinsip sama yaitu mengakui adanya ciptaan manusia yang meliputi perilaku dan hasil kelakuan manusia, yang diatur oleh tatakelakuan yang diperoleh dengan belajar yang semuanya tersususun dalam kehidupan masyarakat.

Di dalam masyarakat kebudayaan sering diartikan sebagai The general body of the art, yang meliputi seni sastra, seni musik, seni pahat, seni rupa, pengetahuan filsafat atau bagian-bagian yang indah dari kehidupan manusia. Akhirnya kesimpulan yang didapat bahwa kebudayaan adalah hasil dari buah budi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup. Segala sesuatu yang diciptakan manusia baik yang kongkrit maupun abstrak, itulah kebudayaan.

Prof. M.M. Djojodiguno dalam bukunya “ Asas-asas sosiologi” ( 1958 ) mengatakan bahwa kebudayaan atau “budaya” adalah daya dari budi, yang berupa cipta, karsa dan rasa.

Cipta : kerinduan manusia untuk mengetahui rahasia segala yang meliputi pengalaman lahir dan batin. Hasil cipta berupa berbagai ilmu pengetahuan.

Karsa : kerinduan manusia untuk menginsyafi tentang hal “sangka paran”. Dari manusia manusia sebelum lahir (=sangkan), dan kemana manusia sesudah mati (=paran). Hasilnya berupa norma-norma keagamaan kepercayaan. timbulah bermacam-macam agama pula.

Rasa : kerinduan manusia akan keindahan, sehingga menimbulkan dorongan untuk menikmati keindahan. Manusia merindukan keindahan dan menolak keburukan/kejelekan. Buah perkembangan rasa ini terjelma dalam bentuk berbagai norma keindahan yang kemudian menghasilkan macam kesenian.

Jadi kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupan dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.

2.2.1.2 Gerakan Budaya Indonesia

Sebenarnya kebudayaan juga mempunyai ruang dan gerak. Gerak kebudayaan sebenarnya adalah gerak manusia yang hidup di dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan tadi. Gerak manusia terjadi oleh sebab dia mengadakan hubungan-hubungan dengan manusia lainnya. Artinya karena

(7)

terjadinya hubungan antar kelompok manusia di dalam masyarakat. Perihal gerak dalam budaya bisa dikatakan juga sebagai proses akulturasi. Akulturasi terjadi bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan asing itu dengan lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri.2

Proses akulturasi didalam sejarah kebudayaan manusia telah terjadi dalam masa-masa silam. Biasanya suatu masyarakat hidup bertetangga dengan masyarakat lainnya dan diantara mereka terjadi hubungan. Pada saat itulah unsur masing-masing kebudayaan saling menyusup. Proses migrasi besar-besaran, dahulu kala mempermudah berlangsungnya akulturasi tersebut. Beberapa masalah yang menyangkut proses tadi adalah :3

1. Unsur-unsur kebudayaan asing yang manakah yang mudah diterima 2. Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang sulit diterima

3. Individu-Individu manakah yang cepat menerima unsur-unsur yang baru 4. Ketengangan-ketegangan apakah yang timbul sebagai akibat akulturasi

tersebut.

Adapun unsur-unsur kebudayaan asing yang pada umumnya mudah diterima, adalah :4

1. Unsur kebudayaan kebendaan misalnya alat peralatan yang terutama sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat besar manfaatnya bagi masyarakat yang menerimanya.

2. Unsur-unsur yang terbukti membawa manfaat besar, misal radio transitor yang banyak membawa kegunaan terutama sebagai alat mass-media. 3. Unsur-unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarkat

yang menerima unsur-unsur tersebut, seperti mesin-mesin pencetak berbagai media cetak

2Koentjaraningrat,op.cit.,halaman 149

3,4

(8)

Sedangkan unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima oleh suatu masyarakat, misalnya :5

1. Unsur yang menyangkut system kepercayaan seperti ideology, filsafat hidup dan lain-lain.

2. Unsur–unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi, contoh yang paling mudah adalah soal makanan pokok suatu masyarakat. Nasi sebagai makanan pokok yang sebagian besar masyarakat Indonesia sukar sekali diubah dengan makanan pokok yang lain.

Pada umumnya generasi muda dianggap sebagai generasi-generasi yang cepat menerima unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. Sebaliknya generasi tua dianggap sebagai orang-orang kolot yang sukar menerima unsur baru. Hal ini disebabkan oleh karena norma-norma yang tradisional sudah mendarah daging dan menjiwai sehingga sukar sekali untuk mengubah norma-norma yang sudah demikian meresap dalam jiwa generasi tua tersebut. Sebaliknya belum menetapnya unsur-unsur atau norma-norma tradisional dalam jiwa generasi muda, menyebabkan bahwa mereka lebih mudah menerima unsur-unsur baru yang kemungkinan besar dapat mengukur kehidupan mereka.

Proses akulturasi yang berjalan dengan baik dapat menghasilkan intergrasi antara unsur-unsur kebudayaan asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri. Dengan demikian, unsur-unsur kebudayaan asing tidak lagi dirasakan sebagai kebudayaan dari luar, akan tetapi dianggap sebagai unsur-unsur kebudayaan sendiri.6 Unsur-unsur asing yang diterima, tentunya lebih dahulu mengalami proses pengolahan, sehingga bentuknya tidaklah asli sebagai semula. Sebagai misal, sistem pendidikan di Indonesia, untuk sebagian besar diambil dari unsur-unsur kebudayaan Barat. Akan tetapi sudah disesuaikan serta diolah sedemikian rupa, sehingga merupakan unsur-unsur kebudayaan sendiri. Demikianlah juga dengan desain di Indonesia.

5

Soekarto,S. Sosiologi suatu pengantar. halaman 211,212

6

(9)

Indonesiapun sebenarnya memiliki gaya desain tersendiri, akan tetapi lambat laun masyarakat lebih maju dalam pemikirannya, seperti yang dijelaskan sebelumnya karena adanya proses gerak dan akulturasi desain Indonesia mengalami perubahan dengan unsur kebudayaan Barat.

2.2.2 Tinjauan Tentang Gaya Desain Indonesia

Kebudayaan sangat melekat pada pribadi bangsa, dan jika kebudayaan Indonesia itu ada, maka gaya Indonesiapun juga ada. Karena bangsa ini terdiri dari ribuan suku dan bahasa, maka tidak mengherankan bahwa sebenarnya bangsa ini memiliki banyak sekali gaya dalam budayanya, misalnya gaya orang-orang Minang, orang Jawa, orang Bali, orang Maluku, orang Dayak, mereka merupakan kekayaan gaya Indonesia. Akan tetapi gaya Indonesia itu cenderung terpojokkan oleh pencarian gaya Indonesia dengan referensi Barat. Jadi sangat sulit untuk mengetahui lebih jelas tentang gaya Indonesia. Karena beraneka etnis dan beraneka pikiran dari seluruh negeri sehingga menjadi acuan dari pembentukan gaya nasional dan bisa dikatakan sebagai identitas budaya bangsa.

Gaya Indonesia memang ada tetapi perwujudannya tidak bisa diciptakan serentak dalam waktu yang singkat, gaya itu muncul sebagai akibat belaka bukan sebagai sebab atau konsepsi.

Budaya Indonesia adalah budaya yang konseptual, budaya yang kaya pikir, kaya ide dan kaya gagasan. Tetapi lama kelamaan kekayaan ini lantas kacau dan lumpuh total. Karena semakin majunya teknologi, ekonomi, manusia, psikologi Indonesia yang semakin kompleks dan semakin maju baik cara berpikirnya yang dapat membentuk acuan hidup dan nilai-nilai, sehingga citra diri bangsa ini lama kelamaan mulai tergeser oleh kemajuan-kemajuan tadi sehingga semuanya terseger dan menjadi serba asing.

Sehingga banyak sekali pemikir-pemikir, para filisofis, penganalisa ekonomi, analisa sastra, analisa seni rupa, analisa teknologi, analisa kebudayaan berjalan masing-masing. Mereka berjalan sendiri-sendiri. Sehingga tidak ada hubungan-hubungan yang tegas, tidak ada nuansa-nuansa kebudayaan total yang mampu membentuk jiwa ke Indonesia.

(10)

Jika ada seorang yang bertanya apakah ada hubungan antara seni dan teknologi di Indonesia, maka jawabannya tidak ada hubungan yang jelas. Seni tetaplah seni yaitu pembuatnya adalah manusia. Manusia “utopia” yang mengandalkan perasaan dan khayalan belaka. Sementara teknologi pembuatannya adalah manusia-manusia “cerdas” yang mengandalkan rasio dan keahlian. Tetapi jika ditelusuri lebih lanjut dan dipandang dari sudut karya-karya manusia yang terefleksi dari jiwanya, memang ada hubungannya yang hakiki antara penciptaan alam, selera, pikiran dan teknik pembuatannya.

Demikian pula dengan desain di Indonesia, hasil-hasil yang selama ini diperoleh merupakan refleksi terdalam dari jiwa bangsa Indonesia. Tetapi harus diakui bahwa ada kepastian hubungan antara humoniora diri dengan alat-alat yang dibuat, atau alat-alat yang dibeli. Jadi teknologi adalah cermin dari manusiannya. Teknologi adalah refleksi dari jiwa kita, dan desain adalah beberapa dari refleksi itu.7

Pembuatan logo sebuah perusahaan, logo pesawat dan beberapa perabot, alat-alat dan mesin-mesin merupakan karya-karya desain yang tidak dapat dipungkiri lagi. Bahwa ini akan mejadi refleksi zaman dalam setiap periodenya. Karya-karya itu adalah saksi-saksi yang tidak bias dibohongi lagi. Termasuk didalamnya adalah gaya dan selera.

7

(11)

Bangan 1.1

GAYA DALAM DESAIN ADALAH CERMIN PERILAKU DAN SIKAP BUDAYA MANUSIA PADA WAKTU TERTENTU, SEJALAN DENGAN DINAMIKA KEHIDUPAN.8

Gaya dalam desain adalah cerminan dari manusia menyerap dan mendewasakan diri dalam kehidupannya. Sehingga penting artinya memahami kehidupan lewat gaya.

2.2.2.1 Tradisionalisme

Tradisi sama artinya dengan adati, adati kebiasaan yang turun-temurun. Adati kebiasaan ini tidak hanya nilai-nilai, norma-norma atau tingkah laku saja. Tapi juga mencangkup karya. Karya adati sama dengan refleksi adapt kebiasaan yang turun-temurun.

Tradisi tentu saja tidak lepas dari sejarah. Kenyataan masalah itu adalah dasar yang melandasi manusia kini. Karya manusia adalah refleksi ke dalam karya masa kini. Misalnya saja candi dengan beraneka ukiran, upacaya adat dan kasanah perbedaan lainnya adalah dokumentasi yang membentuk karya-karya masa kini.

8

Agus Sachari, Gaya dan Realita,Halaman 96.

DINAMIKA SOSIAL DINAMIKA PERKEMBANGAN DINAMIKA BUDAYA DINAMIKA NILAI-NILAI

(12)

Juga gaya hidup dan karakter manuasia masa lalu yang merupakan kekhasan yang mereinkanasi ke dalam jiwa manusia masa kini. Dan sangat tidak benar jika seorang mengaku dirinya sebagai manusia modern tetapi menghindari masa lalu.

Sebagai seorang yang mejalankan modernisasi, maka kata desain adalah keterlibatan yang tidak dapat terelakan lagi. Dan yang paling penting bahwa unsur-unsur tradisional dan kekayaan tradisi lama dapat dipertahankan, walaupun modernisasi dijalankan. Tapi kenyataan masalah-masalah sosial di masyarakat semakin komplek saja, pikiran-pikiran modernisasi dan gaya kehidupan yang dipenuhi dengan unsur teknologi. Akhirnya tradisi itu mulai luntur, dan mulai ditinggalkan. Desain adat yang semulanya menyatu dengan peri kehidupan kemudian digeser dengan peran, fungsi dan identitasnya.

Kaitanya antara desain dengan tradisi sebenarnya sangat erat, baik sebagai tradisi yang murni yang kemudian mengalami peningkatan, baik dari segi material atau proses pengerjaan atau modifikasi dengan elemen-elemen desain yang baru. Akhirnya lahirlah Neo-tradisionalisme atau prilaku kebendaan yang tercangkup dalam tradisi yang dahulunnya dinamakan desain. Walaupun prosesnya menunjukkan kearah itu, yaitu sebagai pemecah masalah dalam pengadaan kebutuhan barang-barang buatan. Kesan tradisional dicapai dengan cara menampilkan unsur-unsur tradisi yang kas, asas-asas dari tradisionalisme akhirnya menampakkan diri kedalam tingkah laku dan benda-benda.

Segala unsur kegiatan banyak yang didominasi oleh norma-norma, karakter tradisionalisme bahkan dapat dilihat pada karya-karya desain modern yang masih menyimpan roh tradisionalisme. Misalnya saja pelbagai jenis bungkus rokok, kemasan, rumah-rumah real estate, pakaian-pakaian, logo, perabot rumah tangga, interior maupun barang pakai setiap harinya.

Manusia bebas memilih dan berhak menentukan selerannya dengan bebas, tetapi perlu diingat bahwa semuannya itu terikat pada sistem sosial, oleh orang lain, oleh kegiatan lain, oleh aturan-aturan lain, oleh rasa senang orang lain dan seterusnya, walaupun desain memiliki sifat absolut dan milik pribadi.

Jika desain pada akhirnya digemari, maka ia akan menjadi ciri budaya masyarakat. Arti ciri biasanya menjurus ke arah identitas. Dan identitas ini tidak pernah pandang bulu, karena ia menjadi suara massa, suara bangsa. Dan yang lebih

(13)

mengkuatirkan lagi, masyarakat sekarang ini telah terlanjur mengakui tentang nilai kebenaran dari barat. Jika tolak ukur aktifitas apapun banyak berpedoman dari nilai-nilai kebenaran tadi. Termasuk di dalamnya desain.

2.2.2.2 Fungsionalisme

Bicara soal fungsionalisme sebenarnya di Indonesia sendiri gerakan fungsionalisme ini sebenarnya tidak ada. Ini bukan merupakan konsep dari negara-negara Barat. Akan tetapi fungsionalisme lebih mengarah pada tingkat kesadaran seseorang. “Form follow fuction” yang didegungkan oleh Sulvian pada tahun 1920-an, sehingga bicara soal fungsionalisme dalam desain merupakan dari hasil akhir dan bukan pranata saja.

Dan mengapa fungsionalisme harus diikut sertakan dalam desain di Indonesia, karena ini sangat penting sebab fungsionalisme bukan tidak lagi didasari, tetapi telah menjadi sikap budaya yang patut diperhitungkan. Gejala ini muncul beberapa dekade ini, sebagai akibat muncul rasionalitas dalam kehidupan masyarakat sekarang ini. Mungkin dikarenakan keberhasilan negara-negara maju, termasuk wilayah Barat yang kemudian menjadikan peralihan pandangan bagi masyarakat di negara ini, dan secara tidak langsung, dinikmati dan digandrungi.

Rasionalitas timbul sebagai gejala baru yang menentang bahwa segala sesuatu harus ilmiah, proposional yang rasional. Pada waktu itu segala sesuatu yang berkaitan dengan industrialisasi, rasionalitas yang menduduki rangking pertama dalam semua jenjang nilai-nilai pada saat itu. Sehingga kesenian mengalami masa gelap, karena dianggap tidak ilmiah, tidak layak dan dianggap pekerjaan kelas dua. Akibatnya pada seniman mengalami kemunduran, kegiatan budaya tidak maju karena nilainya sudah jatuh dan hanya sebagai alat hiburan belaka. Dalam kondisi tertentu fungsionalisme dalam desain adalah suatu sikap minimalis dari kaum rasionalis dalam menciptakan alat-alat. Bentuknya hanya berbicara pada hal pembuktian dan guna saja.

Kenyataannya sekarang banyak masyarakat modern yang tidak melihat dan mengukur keberhasilan suatu negara atau kemampuan teknologi yang tinggi dan pengkuan-pengakuan yang serba teori saja. Tapi kualitas yang bagaimana karya teknologi itu telah mencapai. Dan dalam seni dan desain tidak hanya berhenti pada

(14)

aspek fungsi, tetapi bagaiman mengangkat benda tersebut untuk layak bergaul dan akrab dengan masyarakat. Fungsionalisme akhirnya tidak sekedar mencerminkan kegunaan atau manfaat, tetapi dianggap sebagai akhir dari rasionalitas pemecah masalah manusia pada jenjang yang paling bawah sekalipun.

Fungsionalisme telah bergerak ke arah modernisasi yang melibatkan banyak unsur teknologi dan pemikiran-pemikiran masa kini9. Dan ditinjau dari sudut desain, fungsionalisme tidak lagi dipandang sebagai peradaban yang rendah tetapi oleh karena kemajuan alat dan benda serta media yang dapat berfungsi secara optimal bagi kebutuhan lingkungan.

2.2.3 Gerakan Desain Modern

Perkembangan desain modern berawal dari revolusi industri di Eropa pada abad ke 18. Meskipun sebenarnya dasar perkembangan desain ditentukan dari pertumbuhan seni rupa dan kerajinan sejak manusia ada di dunia ini. Desain bermula dari kesadaran manusia dalam membuat alat, pada jaman Renaissance ketika Leonardo da Vinci mulai mengadakan penjajagan ke arah perkawinan antara kemampuan teknis yang tinggi dengan kemampuan artistiknya yang selanjutnya oleh Benyamin Franklin digabungkan antara bentuk dan fungsi. Sejak saat itulah manusia menjadi sadar akan hadirnya sebuah desain. Sejak revolusi industri, dimana disaat manusia mempunyai kekuatan untuk menciptakan mesin. Saat itulah produk-produk yang semula dikerjakan dengan tangan menjadi lebih presisi dan massal.

Pada tahun 1847 Sir Henry Cole dengan lantang berkata : bahwa kemampuan mekanis haruslah dikawinkan dengan kemampuan artistik yang tinggi. Kemudian di Swedia pada tahun 1845 timbul semacam gerakan yang berusaha mengabungkan industri dengan seni, dengan harapan produk-produk teknologi tidak sekedar perwujudan dari kerja mesin belaka, tetapi lebih mengarah kepada nilai-nilai yang layak sehingga lebih akrab bergaul dengan manusia. Pada tahun 1907 di Jerman munculah suatu gerakan yang bernama Werkbund, gerakan

9

(15)

ini mencetuskan bahwa suatu produk haruslah praktis,material yang baik, praktis serta harus harmonis dalam tampilan visualnya. Selanjutnya sebagai puncak gerakan ketidakpuasan masyarakat dekaden karena industrialisasi dan dehumanisasi yang terus menerus tersebut, munculah gerakan Bauhaus pada tahun 1919 di Weimar-Jerman. Gerakan ini dianggap sebagai titik penting perkembangan desain modern selanjutnya, karena dianggap berhasil memadukan antara senirupa dengan profesi “industri desain” yang dianggap cukup berperan dalam era pertumbuhan industri dunia dikemudian hari.

Beberapa tokoh penggerak dalam gerakan Bauhaus10 adalah Walter Gropius, Le Corbusier, Mies Van Der Rohe, Walter Dorwin Teagua, Raymond Loewy, Henry Dreyfuss, Norman Bel Geddes dan lain-lain. Gerakan ini ternyata mempunyai dampak yang luar biasa dalam sejarah desain modern. Raymond Loewy misalnya berhasil memperbaharui desain-desain kereta api di Pennsylvania, Walter Dorwin Teague mengadakan revolusi desain pada peralatan kamera dan pesawat terbang. Sedangkan Dreyfuss menghasilakan desain pelbagai alat rumah tangga, mesin jahit, kamera Polaroid, traktor, jam tangan dan pelbagai alat elektronik.

Selama Perang Dunia ke II, fungsi desain tidak hanya sebagai pemenuh kebutuhan manusia saja, tetapi berkembang ke arah industri militer. Perlombaan senjata dan peralatan militer lainnya memacu desainer pada waktu itu untuk bekerja keras membantu rezim-rezim yang bertempur. Sehingga banyak sekali peralatan dengan desain yang kokoh, kuat dan ampuh. Selesai perang dunia kedua, industri dan moneter dunia mengalami stagflasi yang parah. Sehingga untuk membangunnya diperlukan kerja keras, dan baru pada awal tahun 1950-an pelbagai jenis industri muncul kembali, terutama industri kendaraan, industri elektronika dan industri pesawat terbang. Perkembangan itu kemudian diikuti oleh lembaran sejarah desain yang melahirkan tokoh-tokoh Misha Black, Fritz Eichler, David Rowland, Bruno Mathson, Gui Bonsieppe dan Marcello Nizolli.

Pada tahun dekade 60-an, ditemukan integrated circuit ( IC ). Akibatnya sangat berpengaruh dalam bidang desain, karena barang-barang yang

10

(16)

menggunakan tabung itu, kini mengalami miniaturisasi bentuk yang hebat. Barang-barang elektronik misalnya mesin hitung, jam tangan, alat-alat ukur, radio, tape dan puluhan jenis lainnya mengalami perkembangan desain yang sangat cepat. Tahun 1970 adalah suatu dekade perkembangan tekhnologi yang dianggap cukup hebat pada abad ini. Adanya embargo minyak sebagai akibat perang Arab-Israel, mengakibatkan industri-industri di negara Barat dan Jepang mengalami pukulan yang hebat. Maka dalil efisiensi dan mencari alternatif bahan bakar pengganti minyak harus segera terwujud. Sehingga desainpun mengalami perombakan besar-besaran terutama yang berkaitan dengan efisiensi dan penggunaan bahan bakar. Lahirlah desain-desain sederhana, “Soft line”, praktis, hemat energi dan indah. Hal tersebut dapat terlihat pada produk-produk seperti industri Jepang misalnya.

Pada tahun 1975, ketika Digital Quartz ditemukan, kembali desain-desain itu mengalami revolusi bentuk. Terutama terjadi pada produk-produk elektronik, sehingga jam tangan , kalkulator, walk-man, medical chek self, tape recorder, video, mesin foto copy dan sebagainya mengalami kemajuan yang tiada tara. Selain itu desain-desain yang berhubungan perlengkapan militer juga secara diem-diam berkembang pesat, misalnya senjata-senjata laser, radar-radar yang disempurnakan, peluru kendali serta alat-alat komunikasi lapangan.

Dekade 70-an ini sering pula disebut dengan peradaban elektronik, karena perkembangan yang luar biasa. Baik di bidang teknologi, desain maupun dampak yang diakibatkan kepada umat manusia. Pada awal tahun 80-an kembali dunia dikejutkan oleh ledakan pasar komputer-komputer mini ( personal komputer ) dengan pelbagai kegunaannya. Harga yang murah, perangkat lunaknya yang tidak rumit serta desain yang praktis membuat pelbagai bidang kegiatan menjadi tertarik kepada penerapannya. Begitu meluasnya penggunaan komputer, baik di biro-biro perencanaan, perkantoran, perguruan tinggi, rumah-rumah tangga bahkan sekolah-sekolah menengah, menjadikan komputer sebagai alat vital, sebagai pelengkap kemampuan berpikir manusia. Beberapa desain komputer yang dianggap berhasil diantaranya, komputer-komputer yang dibuat oleh IBM, Integraph, Apple. Sehingga dekade 80-an disebut juga peradaban informatika.

(17)

2.2.4 Gaya Desain Dalam Grafis

Gaya disini memiliki arti suatu ragam khas dari sebuah ekspresi, desain, arsitektuk atau pelaksanaan suatu hal. Sementara dalam desain grafis sebuah gaya memiliki pengertian sebagai pengatur dan pengkomunikasi sebuah pesan serta menandai bahwa suatu pesan ditunjukan kepada audience. Sedangkan seorang desaier grafis bertugas untuk mengatur dan mengkomunikasikan pesan untuk menempatkan sebuah produk atau ide di benak audience. Gaya dalam desain grafis meliputi periklanan, poster, kemasan dan lain-lain. Desain grafis berfungsi sebagai komunikasi massa, karena sering kali kejadian sehari-hari di dalam masyarakat diangkat dalam sebuah karya grafis. Misalnya dalam sebuah periklanan atau dalam majalah grafis perpaduan seni dan teknologi merupakan salah satu cara yang mudah untuk masuk ke masyarakat luas. Kenyataannya bahasa grafis biasanya menunjukan bagaimana cara berfikir dalam masyarakat yang kadangkala sulit untuk dipahami.

Sejak jaman Victorian hingga sekarang ini, desain grafis telah melayani berbagai kebutuhan dalam sektor ekonomi dan budaya, dan oleh sebab itu gaya dalam desain grafis berkembang bermacam-macam pula. Suatu gaya dibangun oleh alasan estetika (Art Nouveau), yang lain dibangun oleh alasan politik (Dada). Ada yang berdasarkan pada keinginan untuk mendapatkan identitas bersama (Swiss international Style), tuntunan komersial (Post-Modernism), serta berdasarkan landasan moral dan filsafat (Bauhaus). Beberapa dipengaruhi oleh seni murni (Art Deco), sedangkan yang lain oleh industri (Plakatstil). Beberapa gaya nasional bahlan menjadi gerakan internasional ( Futurims). Ada juga gaya yang mampu bertahan lama dan masih digunakan hingga saat ini ( Constructivims, Ekpressionism, Surrealism), tetapi ada pula yang tidak mampu bertahan lama. 2.2.4.1 Victorian

Gaya Victorian berkembang di Inggris, Amerika, dan sebagian besar benua Eropa sejak tahun 1920-an sampai tahun 1900. Gaya Victorian timbul akibat dari pengaruh revolusi industri yang terjadi di Inggris, yang sejalan dengan perkembangan teknologi yang memunculkan akibat lain yaitu tingginya angka kriminalitas, urbanisasi dan golongan orang kaya baru. Ini disebabkan banyaknya

(18)

tenaga kerja manusia yang diganti oleh tenaga mesin, yang mengakibatkan merosotnya rasa sosial bangsa Inggris, tanggung jawab warga negara, serta standart estetika. Ini mendorong para seniman Victorian untuk mencari inspirasi pada masa lalu. Mereka berpaling dan mencari perbandingan pada seni dan arsitektur jaman Gothic.

Diadakanlah Pameran Raya pada tahun 1851, saat itu juga masyarakat Inggris mulai terpengaruh oleh gaya dan tampilan bentuk penuh ornamen dengan model bentuk gemuk yang menyenangkan mata. Selera masyarakat dibinggungkan oleh kepercayaan bahwa ornamen dan desain mengembangkan fungsi yang sama. Di setiap sudut rumah dan hiasan dinding yang penuh dengan ornamen, mereka percaya akan keindahan bentuk-bentuk ornamen yang sesuai dengan standart selera pada masa itu. Bahkan Amerika dan Eropa juga terpengaruh desain dari Inggris ini. Seluruh pengaruh dan ajaran dari aliran ini menyebar ke seluruh lapisan masyarakat, melalui media cetaklah berbagi persaingam meningkat. Arus perdagangan yang terus maju membuat kemajuan dalam teknik mencetak teks dan gambar yang menciptakan media baru yang disebut dengan “periklanan” dan kemudian segera menjadi alat yang mempopulerkan gaya hidup Victorian.

Iklan cetak pada saat itu banyak sekali diwarnai dengan bentuk ornamen, dan kerapkali mencontoh keganjilan arsitektur pada waktu itu. Ilustrasi sering digambar dan diukir secara kasar dan tipogarfi yang masih kasar. Gaya Victorian pada saat itu memang menolak gaya Renaissans dengan jalan menciptakan poster yang merusak keanggunan Typeface Bodoni dan Didol yang dibuatnya lebih besar dan lebih hitam. Peniruan ini diberi nama Fat Face yang akhirnya menjadi ciri khas dari gaya desain Victorian. Face Egyptian yang dipengaruhi oleh ekspedisi Napoleon di Mesir, digabungkan dengan Fat Face menjadi satu bentuk tipografi yang paling orisinil pada abad itu. Teknik cetak kayu (Woodprint) sangat populer di Inggris dan sekitarnya dan ini sering dipakai dalam iklan cetak.

(19)

Gambar 2.3 Victorian

(Sumber: Alan & Isabella Livingston. Graphic Designand Designers, New York,1992)

Dunia periklanan menjadi marak dan diminati karena pada tahun 1845 ditemukan sebuah mesin uap yang dapat meningkatkan jumlah cetak. Dan pada akhir tahun 1960-an banjir seniman dan pengrajin yang berpendidikan memasuki dunia periklanan dan menghasilakan karya dengan daya visual yang sangat indah dengan daya tarik visual yang berbobot.

Kemajuan teknologi sangat mendukung perubahan gaya Victorian pada abad itu. Kemajuan cetak warna (Chromolithography) di Jerman dan Amerika pada tahun 1970-an. Dan pada akhir abad ditemukan kamera yang melahirkan photoengraving. Teknik cukil kayu (Woodcut) dan face dengan serif serta huruf-huruf Ghotic, akhirnya menjadi sebuah desain yang lebih luwes. Gaya Victorian yang berpengaruh selama 75 tahun, mengembangkan trend dari gaya Ghotic menjadi awal gaya modernisme.

2.2.4.2 Art and Crafts

Pameran Raya yang diadakan tahun 185111 membuka mata masyarakat Inggris, bahwa revolusi industri telah menekan kualitas estetika pada barang- 11

(20)

barang yang dihasilkan pada saat itu. Tetapi hanya sebagian kecil masyarakat yang perduli dengan keadaan ini, termasuk di dalamnya para seniman, arsitektur dan penulis. Mereka berusaha menegakkan kembali standar estetika dengan mengembangkan gaya nasional yang terpadu.

Salah satu tokoh seniman dan kritikus terkenal John Ruskin (1819-1900) berpendapat bahwa bentuk yang sesuai adalah merupakan tanggungjawab moral dan ornamen yang wajar dengan bentuk-bentuk Gothic, bukan hanya merupakan ciri khas nasional yang terbaik tetapi juga merupakan ibat paling manjur dan mampu menyembuhkan semua penyakit di dalam estetika modern.

Tokoh yang terkenal dalam gerakan Art and Craf ini adalah William Morris (1834-1896), merupakan partner Ruskin seorang arsitek dan desainer yang dipengaruhi oleh Pre-Raphaelite yang semangatnya membakar gerakan Art and Crafts dan buah pikirannya menjadi landasan bagi estetika desain industri modern. Morris menolak semua hal yang dapat memisahkan seni kehidupan sehari-hari dan membaktikan diri untuk memberantas keburukan di segala bentuk. Ciri desain Morris adalah bentuk, warna, dan ornamen latar yang sederhana, menampilkan motif alam dan simbol penuh makna, menggunakan Tipografi san serif dan menolak huruf klasik Roman.

Selain Morris, tokoh lain yang terkenal adalah Aubrey beardsley (1872-1898), yang mengguncangkan Inggris dengan garis penanya yang mencekam, bentuk-bentuk hitam putih yang bervibrasi, gambar-gambar eksotik yang mengetarkan, serta adanya figur-figur yang aneh dan mistis. Desain Beardsley yang memadukan antara seni Ghotic dan Romantik diduga dipengaruhi oleh seni cetak Jepang yang menonjolkan bidang-bidang datar. Beardsley dengan desainnya yang lebih menekankan pada bentuk-bentuk ornamen natural yang formal daripada bentuk dekoratif yang sederhana, dianggap sebagai peletak dasar bagi gaya Art Nouveau.

(21)

Gambar 2.4 Art and Craft (1893)

Walter Crane, Magazine cover, published by Art Worker’s Guild, Philadelphia. (Sumber : Steven Heller & Seymour Chwast. Ghaphic Style, New York, 1988,p.38 )

2.2.4.3 Art Nouveau

Gerakan Art Nouveau berkembang mulai tahun 1880-an sampai dengan awal perang dunia yang pertama. Gaya Desain Art Nouveau merupakan “gaya tradisional” yang berbalik dari historisme yang mendominasi berbagai macam desain pada abad ke 19. Historisme merupakan penggunaan bentuk dan gaya dari masa lalu, dengan menggantikan historisme dengan penemuan baru, Art Nouveau menjadi fase yang paling awal dari gerakan modern.

Art Nouveau sebenarnya lahir di Inggris. Gaya ini merupakan turunan langsung dari gerakan Art and Crafts, terutama seperti yang dipraktekkan oleh Arthur H. Mackmurdo (1851-1942) yang menggabungkan simbol romatik pre-Raphaelite dengan keingingan untuk merubah bentuk desain. Gaya ini pertama kalinya terlihat pada sampul buku Wren’s City Churches (1883) karya Mackmurdo. Kemudian pada tahun 1885, Art Nouveau dikenal secara resmi ketika seorang pedagang barang seni, Siegfreg Bing membuka toko di Paris dengan nama La Maison de I’Art Nouveau.

(22)

Gambar 2.5 Cover design for Wren’s City Churches ( 1883) By Mackmurdo (Sumber: Alan & Isabella Livingston. Graphic Designand Designers, New York,1992)

Gambar 2.5 Art Nouveau, Salon des Cent exhibition poster designed by Mucha in 1896 (Sumber: Alan & Isabella Livingston. Graphic Designand Designers, New York,1992)

(23)

Gaya desain Art Nouveau merupakan campuran antara seni, kemahiran dan kepraktisan. Dengan semboyannya “seni untuk seni” dan estetika fungsional, secara tegas Art Nouveau memperkenalkan dirinya sebagai seni yang baru. Desainer pada masa ini menampilkan bentuk-bentuk informal yang mengambang, desain dengan irama bergelombang, pola datar, feminim, keindahan garis-garis lengkung dan gaya naturalis tumbuhan, serangga, wanita telanjang serta simbolisasi yang membangkitkan kekaguman.

2.2.4.4 Jugendstil

Gambar 2.6 Jugendstill

(Sumber: Alan & Isabella Livingston. Graphic Designand Designers, New York,1992)

Gaya ini lahir di Jerman pada tahun 1896 dan berlokasi di Munich. Jerman berkembang di dalam gaya cetak tradisional Jerman. Jugendstil sering menampilkan pinggiran yang keras dan memperbolehkan sentuhan pribadi. Para desainer Jugendstil menolak metode tipografi tradisional, untuk menampilkan face yang unik tetapi kadang sukar dibaca yang selarah dengan gambar.

(24)

senjata propaganda yang efektif serta merupakan perangkat paling populer dari desain grafis yang baru. Desain modern dalam gaya New Typography merupakan tampilan bersama antara tipografi simetris, komposisi geometris dan ilustrasi fotografi yang diwujudkan dalam desain modern.

2.2.4.5 Plakatstil

Awal modernisme adalah hadirnya gaya Plakatstil. Gerakan Plakatstil pertama berkembang di Berlin, pada saat itu negara ini yang menjadi pusat perdagangan. Pada saat itu media posterlah yang menjadi ajang percobaan yang menunjukkan kerjasama yang baik dan menguntungkan bagi desain dan industrialisasi pada saat itu.

Gambar 2.7 Plakatstil, Bernhard’s prize-winning poster design for Priester matches,1905 (Sumber: Alan & Isabella Livingston. Graphic Designand Designers, New York,1992)

Gaya desain Plakatstil pada saat itu berbentuk sangat sederhana dan khas, warna yang datar dan menarik perhatian, banyangan yang padat, serta bentuk produk dan face yang tebal dan sedikit. Desain dalam poster dalam gaya Plakatstil memiliki pesan yang mudah dicerna dan memberikan kenyaman yang estetis.

Plakatstil merupakan gaya yang universal tanpa memiliki kaitan langsung dengan gerakan lain. Ciri khas dari Plakatstil adalah mampu memperkecil desain

(25)

hingga sebesar ukuran perangko, yang kemudian diletakkan pada amplop serta barang-barang lain yang digunakan untuk distribusi massa.

2.2.4.6 Futurism

Seni dan desain modern berlangsung pada tahun 1908-1933, pada saat itu dunia masyarakat sedang dalam masa kekacauan politik, sosial dan budaya. Dan desainer modernisme berusaha mencoba mencari sebuah bentuk seni yang merdeka dari sistem ornamen yang borjuris dan berusaha mempengaruhi dunia politik pada saat itu. Maka hadirlah gaya modern Futurism pada tahun 1908 oleh seorang tokoh penyair dari Italia yang bernama Filippo Tomasso Marinetti (1876-1944). Gaya Futurism ditegaskan dengan pernyataan menggabungkan secara aneh teori-teori modernisme yang bergerak dengan menyesuaikan diri dan patriotisme perang. Gaya ini memperlihatkan ketidakmampuan hidup saat ini dan masa depan.

Gambar 2.8 Marenetti’s Futurist book jacket for Zang Tumb, 1912 (Sumber: Alan & Isabella Livingston. Graphic Designand Designers, New York,1992)

Sebenarnya gaya Futurism mencerminkan hubungan dengan jaman mesin yang diterjemahkan ke dalam gerak oleh sajak-sajak berbait bebas dan keriuhan onamatopoeic. Gaya ini juga menggunakan tipografi kata dan huruf sebagai elemen visualnya. Bagi Marenetti (1876-1944) salah satu tokoh Futurism mengatakan dalam karya-karyanya, bahwa huruf-huruf yang menyusun kata-kata

(26)

bukan hanya merupakan tanda alfabet. Perbedaan berat dan bentuk (italic memberikan kesan kecepatan, boldface untuk bunyi dan suara keras), begitu juga posisi huruf-huruf tersebut di sebuah halaman buku, memberikan karakter yang berbeda pada kata-kata.

2.2.4.7 Vorticism

Pada tahun 1914 Vorticism dinamai oleh Ezra Pound dan Wyndham Lewis (1884-1957) yang berarti angin puting beliung (wortex), pusat dari segala energi, dan menjadi gerakan Avant garde terkuat di Inggris. Gaya desain Vorticism berbeda bentuk dan pelaksanaannya dengan gaya desain Futurism walaupun dihubungkan oleh nilai artistik dan filsafat yang sama yaitu dipengaruhi oleh cubisme, fotografi dan perkembangan di dalam teknologi permesinan dan arsitektur pada saat itu.

Gambar 2.9 Blast Magazine (1915)

(Sumber: Alan & Isabella Livingston. Graphic Designand Designers, New York,1992)

Whyndham Lewis (1884-1957) menyusun dan mendesain sebuah majalah Blast (July 1915) yang memberikan kejutan, yang diwujudkan bukan hanya oleh namanya tetapi juga dengan sampul, ukuran dan tipografi Ghotic-nya. Majalah ini dicetak pada kertas berpori-pori, huruf yang kasar dengan tinta yang hitam, serta warna merah muda yang tajam dan sawo matang.

(27)

2.2.4.8 Constructivism

Tokoh pencipta gerakan ini adalah Vladimir Tatlin di Rusia. Constructivism sebenarnya bertujuan untuk mencari batas dalam semua jiwa manusia, kesadaran dan kegiatan material manusia. Gaya ini bukan bermaksud menjadi sebuah gaya abstrak di dalam seni atau bahkan sebuah bentuk seni. Pada intinya gaya Constructivism merupakan ekspresi pertama dan terpenting dalam sebuah keyakinan yang termotivasi secara mendalam yang dapat diberikan oleh seniman untuk mempertinggi kebutuhan fisik dan intelektual dari masyarakat dengan cara masuk secara langsung sebuah hubungan dengan produksi mesin, dengan teknik arsitektur dan dengan arti grafis dan fotografi komunikasi. Gaya ini dilandasi oleh rasionalisme dan cara berfikir secara matematis, sewaktu menompang “sebuah posisi estetis” yang mana konstruksi dari sebuah obyek akan menunjuk ke arah sebuah bentuk geometris yang langsung dan jelas.

Gambar 2.10 El Lissitzky, Wendingen, cover design, 1922

(Sumber: Alan & Isabella Livingston. Graphic Designand Designers, New York,1992)

El Lissitzky (1890-1941), salah satu tokoh yang terkenal dalam gerakan Constructivism, sebagai seorang desainer grafis, Ia tidak mendekorasi buku, tetapi mengatur buku dengan cara memprogram seluruh objek secara visual. Lissitzky khusus mendesain buku-buku itu dengan elemen-elemen tipogarfi. Hubungan visual dan kekontrasan elemen, hubungan antara bentuk dengan spasi negatif dari halaman buku dan pemahaman akan kemampuan cetak, seperti penindihan warna sangat penting dalam karyanya. Lissitzky sendiri mengekplorasikan kemampuan montase dan photomontage bagai pesan-pesan komunikasi yang utuh. Komposisis

(28)

cetak dan fotografi dipergunakan sebagai bahan bangunan dalam halaman buku, sampul dan poster yang serasi.

2.2.4.9 De Stijl

Pertama gerakan De Stijl dikenalkan di Belanda pada tahun 1917 oleh sekelompok aktivis Theo Va Doesburg (188-1931), Piet Mondrian dan kawan-kawannya. Kelompok ini mendefinisikan diri dari Expressionism untuk mencari keseimbangan universal dan menghilangkan warna emosi yang berlebihan.

Gambar 2.11 De Stijil ( 1917 )

Vilmos Huszar, Magazine Cover, Courtesy Ex Libris, New York.

(Sumber : Steven Heller & Seymour Chwast. Graphic Style, New York, 1988,p.210)

Gaya ini menitikberatkan pada pengembangan gaya dan jiwa utopia, bukan hanya tentang penggayaan sesuatu. Segala sesuatu yang emosional ditabukan, semua desain De Stijl berdasarkan pada persegi panjang, grid dan penggunaan warna hitam, putih, abu-abu dan warna-warna dasar.

2.2.4.10 Bauhaus

Bauhaus lahir dari gerakan modernisme yang berusaha mengabungkan seni dan teknologi menjadi lebih bernilai di dalam masyarakat. Gerakan Bauhaus didirikan oleh Walter Gropus (1883-1969) seorang arsitek anti akademis yang mengikuti model dari workshop William Morris. Pada empat tahun pertama berdirinya, Bauhaus tidak memiliki gaya grafis yang resmi. Gaya desain Bauhaus

(29)

menghindari penekanan terhadap gaya tertentu, menjauhi diri dari aturan De Stijl atas bentuk geometris yang tegas, tidak menunjukkan gaya perseorangan, Bauhaus lebih mengarah pada gaya setengah Ekspresionisme.

Karya Bauhaus dikenal dengan gaya geometris, fungsional dan modern. Karya-karya Bauhaus lebih ditentukan oleh permintaan akan fungsi dan bukan oleh obsesi akan gaya. Font yang digunakan berupa Tipografi san serif asimetris, bersih dan menyakinkan. Desain Bauhaus berasal dari bahan modern, serta menggunakan warna-warna primer.

Gambar 2.12 Schmidt, poster for 1923 Bauhaus exhibition

(Sumber: Alan & Isabella Livingston. Graphic Designand Designers, New York,1992)

Ciri khas dari Bauhaus adalah rapi, asimetris, berdasarkan pada struktur grid pokok, membaktikan diri pada bentuk-bentuk geometris yang berdasarkan pada lingkaran dan bidang, warna-warna primer, bahan-bahan modern dan teknik produksi industri.

2.2.4.11 The New Typography

Gaya New Typography merupakan gaya modern yang dapat terlihat pada komunikasi grafisnya terutama pada bentuk asimetris dan perubahan gaya pada tipografinya. Aliran ini cepat berkembang di Belanda, Hungaria, Czechoslovakia, serta Polandia. Gaya New Typhography menolak dan memperbaiki atas

(30)

aturan-aturan layout dan tipografi tradisional yang simetris. Tokoh-tokoh yang mempelopori gerakan ini adalah El Lissitzky, Lazlo Moholy-Navy, Paul Renner (1878-1956) dan penganut setiannya Jan Tschihold (1902-1974).

Gambar 2.13 Title page of Die neue Typographie (1928), Tschichold’s first book (Sumber: Alan & Isabella Livingston. Graphic Designand Designers, New York,1992)

Jan Tschichold merupakan tokoh ahli tipografi muda pada tahun 1928, Ia menyusun dan menetapkan prinsip-prinsip dasar dari asimetris dalam Die Neue Typographie yang Ia gunakan untuk merubah kebiasaan dalam industri percetakan di Jerman. Tschichold menegaskan bahwa tipografi dibentuk oleh tuntutan fungsional, tujuan dari layout tipografi adalah komunikasi, komunikasi harus tampil dalam tampil dalam bentuk yang tersingkat, tersederhana dan terjelas, mementingkan fotografi, face sans serif merupakan dasar paling tepat walaupun Tschichold juga menghargai kejelasan Typeface Medieval-Antiqua dari masa Renaissance, memperhatikan daerah yang tidak dicetak pada kertas, mengijinkan barisan barisan huruf diatur secara miring atau vertikal, menggunakan standar kertas dari D.I.N ( Deutsche Industrie Norman), misalnya ukuran A4 digunakan untuk kertas tulis, menolak semua bentuk ornamen kecuali persegi, lingkaran dan segitiga.

Tschichold sendiri telah berusaha mencoba untuk menetapkan tipografi modern, dimana tipografi modern ini tidak tergantung pada komposisi yang siap pakai dan akan mengekspresikan jiwa, kehidupan, dan kepekaan visual pada saat

(31)

itu. Sementara dalam gaya New Typography banyak digunakan fotografi dengan tujuan menggantikan ilustrasi yang realistic, dekoratif atau sentimental. Photomontage merupakan sebuah alat yang melengkapi arti ilustrasi, menjadi 2.2.4.12 Art Deco

Pada masa perang dunia Art Deco secara universal banyak mempengaruhi berbagai bidang, terutama pada arsitektur, funitur, busana dan seni grafis. Sebenarnya aliran Art Deco banyak dipengaruhi oleh Art Nouveau, kebudayaan Amerika Utara, Balet Rusia dan Indian Aztek, termasuk gaya-gaya tertentu pada gaya Bauhaus.

Art Deco merupakan simbol dari kehidupan modern yang efisien serta gaya hidup yang anggun. Seorang tokoh Art Deco bernama Alfred Tolmer (1876-1957) pada tahun 1929 di Paris menerbitkan sebuah buku berjudul Mise en Page yang mempunyai sentuhan Art Deco pada komposisinya. Kemudian buku itu banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, maka menjadi bentuk yang lebih universal dan sering digunakan oleh desainer dan percetakan periklanan. Gaya dan ekspresi pada gaya Art Deco ala Tolmer ini lebih kacau, ini terlihat dari ilustrasinya pada bukunya Mise en Page daripada gaya buku yang dimiliki Tschichold pada gaya New Typography-nya. Tetapi sebenarnya aturan-aturan Tolmer ini juga berasal dari eksprerimen tipografi gerakan modernisme yang sama.

(32)

Gambar 2.14 Poster designed by Robert Bonfils for the Paris 1925 “Exposition Internationale des Arts Decoratifs et Industriels Modernes”,

Which gave name Art Deco

(Sumber: Alan & Isabella Livingston. Graphic Designand Designers, New York,1992)

Gaya desain Art Deco merupakan gaya murni tanpa landasan yang diterapkan pada banyak hal dan tema. Penampilan grafisnya yang khas tidak mengindentifikasikan asal negaranya. Facis dari Italia dan Jerman menerapkannya sebagai propaganda, seperti juga komunis di Perancis, haluan sayap kiri di Spanyol dan sosialis di Inggris. Bahasa visualnya yang heroic dan futuristic sama serasinya untuk diterapkan dalam alat-alat elektronika sampai dengan propaganda sistem pemerintahan. Pada masa itu mungkin ditemukan majalah yang tidak memperlihatkan Art Deco

2.2.4.13 Dada

Gerakan Dada muncul sebagai simbol anti kemapanan, anti seni dan anti kegiatan seni. Aliran ini dibentuk pada tahun 1916 oleh Hugo Ball di Zurich dan kemudian berlanjut di Berlin.

(33)

Gaya Dada timbul dengan mengkombinasikan metode kolase cubism dan tipografi Parole in Liberta dari gerakan Futurism serta tipografi Constructivism dengan kecakapan dan penghematan dari teknik reproduksi mekanik. Para desainer Dada lebih condong menggantikan ilustrasi gambar manual (gambar tangan) dengan fotografi.

Gaya Dada benar-benar meninggalkan kesan anggun dan selera yang baik, ini nampak pada setiap karya-karyanya baik komposisinya yang sangat kontras antara halaman dengan kata yang dicap melintang seperti slogan atau kata-kata yang dipisahkan secara jelas seperti pada poster-poster dan iklan-iklan yang murahan.

Gambar 2.15 Hurrah, the Butter is Finished! (19 Desember 1935) Poster by John Heartfield (1891-1968)

(Sumber: Alan & Isabella Livingston. Graphic Designand Designers, New York,1992)

Gaya Dada ini oleh seniman dan desainernya divariasikan dengan dipengaruhi oleh gerakan Ekspresionis, seperti banyangan akan mesin dan bentuk geometris abstrak. Untuk terakhir kalinya gerakan Dada ini diterapkan di Berlin dan Moscow yang dinamakan Photomontage oleh John Heartfield (1891-1968). Setelah itu pada tahun 1922, adanya kekacauan politik, sosial, ekonomi maka banyak sekali seniman Dada yang berpindah ke aliran Surrealism atau Constructivism.

(34)

2.2.4.14 Pop Art

Gerakan seni Pop sebenarnya bisa dikatakan gerakan dari gerakan Dadaisme di Eropa pada tahun 1916. Gerakan ini sering pula disebut gerakan anti seni atau anti keindahan. Meskipun kenyataannya mampu menciptakan panorama budaya lain dalam kesenian masyarakat dekaden yang diwarnai peperangan. Gerakan anti seni adalah pemberontakan terhadap kaidah-kaidah seni yang telah mapan, dengan jalan menciptakan lecehan dan gebrakan baru yang tidak terlihat lagi oleh unsur-unsur formal yang dogmatis. Misalnya saja sebuah lukisan tidak lagi terikat oleh bingkai atau cat, tetapi bisa menggunakan material bekas atau apa saja. Sebuah patung tidak hanya menampilkan figur yang plastis, tetapi bisa dari barang bekas yang disusun-susun.

Gerakan Dadaisme inilah yang kemudian mengilhami gerakan seni pop dunia beberapa tahun kemudian. Pop art sebenarnya dicetuskan oleh kelompok seniman yang kecil saja. Pop art dalam bahasa Indonesiannya adalah seni rupa pop, memang semula datang dari unsur seni rupa. Seperti yang dijelaskan sebelumnya yang semula berkembang di Inggris dalam dua taham pada pertengahan tahun limapuluhan dan permulaan tahun enampuluhan. Kemudian “gerakan seni rupa pop” ini berkembang dengan lebih subur lagi di Amerika Serikat sesudah pertengahan tahun enampuluhan.

(35)

Boleh dikatakan bahwa gerakan Pop art lahir dari reaksi dari modernisme yang termasuk juga gaya poster Polandia, Revivalism dan Eclecticism, gaya grafis Kepang Modern, dan Psychedelic serta munculnya gerakan Post Modernisme. Desain Pop menentang tradisi Modernisme yang menitikberatkan pada desain dengan fungsi yang baik, menggunakan sedikit atau tanpa dekorasi dan dibuat agar abadi.

Sejak tahun 1952 sampai dengan tahun 1955, sekelompok seniman, arsitek, dan penulis yang bergabung di bawah nama Independent Group mengadakan pertemuan di Institute of Contemporary Art membahas mengenai nilai desain yang tidak perlu menitikberatkan pada nilai fungsional serta lebih menekankan pada hasrat keinginan konsumen.

2.2.4.15 Psychedelia

Gaya Psychedelia merupakan salah atu gaya pada jaman modernisme akhir. Jaman modernisme akhir berlangsung sekitar tahun 1945-an, teknik modernisme klasik diterima dan diterapkan secara luas, tetapi dogma yang berhubungan dengan sekolah dan gerakan ortodok dibuang. Jaman modernisme memiliki pemikiran yaitu menggabungkan ide-ide keabstrakan, dinamisme, dan asimetris dari Eropa serta keinginan untuk menciptakan desain yang tidak perlu universal dan dapat lekang oleh waktu, menitikberatkan pada keinginan konsomen.

Gambar 2.17 Psychedelia, classic poster by Peter Max

(36)

Gaya Psychedelia lahir dan berpusat di San Francisco, gaya ini merupakan pencerminan yang jujur dari kebudayaan pemuda Amerika pada tahun 1960-an yang kemudian direbut oleh bisnis perdagangan. Di balik gaya Psychedelia ini ada kaum para hippie yang bergerak dan menghasilkan karya di bidang produksi seni dan kriya, serta penggabungkan seni,musik dan literatur. Gaya ini sering ditemui pada desain surat kabar, pengumuman penggir jalan, poster, pakaian, perhiasan funitur dan kendaraan.

Gambar 2.18 The Association : Concert at Fillmore Auditorium (1966) Wes Wilson, Counrtesy The Designer.

(Sumber : Steven Heller & Seymour Chwast. Graphic Style, New York, 1988,p.210)

Ciri khas yang ada pada gaya Psychedelia adalah bentuk visualnya yang berbentuk simbol dan mampu menyampaikan pesannya dengan unik dan menarik. Gaya ini dipengaruhi oleh berbagai aliran gaya lama, misalnya memakai face Secession Austria, ornamen Art Nouveau, simbol-simbol Indian dan tipografi Victorian, karya yang diilhami oleh obat-obatan dan ciri iconography pada buku komiknya merupakan gaya grafis Amerika yang khas.

(37)

2.2.4.16 Punk

Punk merupakan perkembangan dari seni Pop, yang lahir pada jaman Post Modernisme. Jaman Post Modernisme dipandang sebagai gaya internasional, dimana dilihat sebagai perubahan penting dalam cara pandang dan berfikir abad 20, yang merupakan reaksi dari jaman teknologi komputer, seperti juga modernisme yang dapat dipandang sebagai tanggapan terhadap abad mesin dan industri abad 20. Post Modernisme menampilkan bentuk-bentuk klasik yang dibungkus dalam bentuk tradisional mutakhir, pada saat yang sama melambangkan penghormatan pada masa lalu, obsesi terhadap masa kini dan barangkali rasa takut akam masa depan.

Gaya Punk merupakan salah satu reaksi alternatif untuk mengembangkan pendekatan pada modernisme. Gaya Punk merupakan keturunan spiritual dari gaya Psychedelic tahun 1960-an dan estetika anti desain. Aliran ini berkembang di Inggris sebagai ranting dari musik Rock. Punk berkembang sebagai salah satu bentuk yang disusun dari berbagai kebudayaan lokal, khususnya di London, New York, Los Angeles dan Seattle. Gaya ini dipengaruhi oleh pemberontakan, kecepatan, dan penghematan.

2.2.4.17 Digital Era

Gaya Digital Era dimulai tahun 1984, gaya ini berlatar belakang ketertarikan desainer terhadap hal tertentu yang nampak memperkaya desainnya misalnya, budaya lain, spiritualisme timur, religi, hobi, dll. Tipografi menjadi objek ekprimental desain, menjadi wacana baru. Komputer menjadi sarana dalam menuangkan ide dan gagasan pada gaya Digital Era ini.

Gaya desain Digital Era memiliki ciri-ciri visual berupa benyaknya efek fotografi, efek animasi, desain berlapis-lapis dan suasana eksperimen terhadap gambar dan huruf sangat terasa.

(38)

2.2.5 Pop Art

2.2.5.1 Latar Belakang Lahirnya Seni Pop

Pop adalah kependekan dari kata popular yang berarti semua orang yang tahu dan mengemari, atau juga berarti top-hit dan disenangi. Jika Pop mampu menciptakan selera massa dalam waktu tertentu sehingga popular artinya juga sesuatu yang digemari orang banyak tetapi lebih bersifat temporer, misal segala sesuatu cenderung murah, ringan-ringan, serba tidak memberatkan dan banyak cenderung untuk hiburan dan hura-hura.

Dalam musik, populer artinya sesuatu yang digandrungi massa. Sedangkan dalam seni rupa kata populer itu sering dikategorikan sebagai karya-karya yang bersumber dari kesederhanaan, keseharian dan sifatnya bersahaja. Dalam sastra populer bisa berarti picisan dan murahan. Dalam ilmu pengetahuan, populer bisa berarti mudah dipahami oleh orang awam dan bersifat umum.

Gerakan seni pop dunia sebenarnya bisa dikatakan gerakan dari gerakan Dadaisme di Eropa pada tahun 1916. Gerakan ini sering pula disebut gerakan anti seni atau anti keindahan. Meskipun kenyataannya mampu menciptakan panorama budaya lain dalam kesenian masyarakat dekaden yang diwarnai peperangan. Gerakan anti seni adalah pemberontakan terhadap kaidah-kaidah seni yang telah mapan, dengan jalan menciptakan lecehan dan gebrakan baru yang tidak terlihat lagi oleh unsur-unsur formal yang dogmatis. Misalnya saja sebuah lukisan tidak lagi terikat oleh bingkai atau cat, tetapi bisa menggunakan material bekas atau apa saja. Sebuah patung tidak hanya menampilkan figur yang plastis, tetapi bisa dari barang bekas yang disusun-susun.

Gerakan Dadaisme inilah yang kemudian mengilhami gerakan seni pop dunia beberapa tahun kemudian. Pop art sebenarnya dicetuskan oleh kelompok seniman yang kecil saja. Pop art dalam bahasa Indonesiannya adalah seni rupa pop, memang semula datang dari unsur seni rupa. Seperti yang dijelaskan sebelumnya yang semula berkembang di Inggris dalam dua taham pada pertengahan tahun limapuluhan dan permulaan tahun enampuluhan. Kemudian “gerakan seni rupa pop” ini berkembang dengan lebih subur lagi di Amerika Serikat sesudah pertengahan tahun enampuluhan.

Gambar

Gambar 2.2 BLANK cover no.3 dan no.6
Gambar 2.5  Art Nouveau, Salon des Cent exhibition poster designed by Mucha in 1896  (Sumber: Alan & Isabella Livingston
Gambar 2.7   Plakatstil, Bernhard’s prize-winning poster design for Priester matches,1905  (Sumber: Alan & Isabella Livingston
Gambar 2.8 Marenetti’s Futurist book jacket for Zang Tumb, 1912   (Sumber: Alan & Isabella Livingston
+6

Referensi

Dokumen terkait

Maklum balas ini membuktikan bahawa dengan adanya rangsangan- rangsangan baharu seperti alat digital, minat pelajar bertambah, dan mereka berasa lebih teruja membaca

Tahap kedua: perancangan sistem yang meliputi perancangan proses menggunakan diagram Unified Modelling Language (UML), perancangan arsitektur client-server dari

Kesejahteraan sangat memotivasi pegawai untuk disiplin, dengan adanya pemberian TTP di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nunukan yang dalam pembayaran disesuaikan dengan

terjadi dalam waktu 24 jam setelah pemasangan. b) Melindungi wanita dari kanker rahim. c) Aman digunakan setelah melahirkan dan menyusui. d) Tidak mengganggu aktivitas seksual.. g)

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Rahayu dan Enita di RSUD Sragen dengan jumlah 60 responden didapatkan hasil bahwa sistem penghargaan

Jumlah dari dua buah atau lebih tensor yang rank dan jumlah indeks kontra- varian serta kovariannya sama adalah juga sebuah tensor dengan rank dan jumlah indeks kontravarian