Nefrologi Infeksi Endokrinologi
1. An J, 12 tahun datang dengan keluhan bengkak di bagian kaki. Bengkak terjadi sejak 1 bulan SMRS. Bengkak disertai dengan lemas, dan nyeri perut. Pada pemeriksaan fisik ditemukan pitting edema pada kedua kaki disertai dengan hipertensi. Sang anak tidak mengeluhkan adanya kencing berdarah.
Diagnosis yang paling tepat untuk An. J adalah a. Sindroma nefrotik
b. Sindroma down c. Gagal jantung
d. Chronic Kidney disease e. Sirosis hepatis
JAWABAN
a. Sindroma nefrotik
PEMBAHASAN
Sindroma nefotik adalah keadaan klinis yang ditandai dengan proteinuria masif, hipproteinemia, hiperklosterolemia, dan edema. Pasien umumnya datang dengan anoreksi, malaise, dan nyeri perut (terutama pada anak yang asites). Tekanan darah meningkat pada 25% anak. Manifestasi klinis paling jelas adalah adanya edema pitting pada anak yang umumnya ditemukan di ekstremitas bawah
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 658 https://medcomic.com/medcomic/nephritic-vs-nephrotic-syndrome/ https://www.nature.com/articles/s41581-019-0217-5
2. Berikut ini adalah temuan pada pemeriksaan penunjang yang mengarahkan pada diagnosis sindroma nefrotik
a. Hiperurisemia b. Hiperkolesterolemia c. Nitrat pada urin d. Hiperglikemia e.Hiperalbuminemia JAWABAN
b. Hiperkolesterolemia
PEMBAHASAN
Peningkatan permeabliits glomerulus terhadap protein disebabkan perubahan muatan negatif di membrane basalis golermolus yang pada keadaan normal membatasi filtrasi protein serum. Proteinuria masif menyebabkab penurunan kadar protein serum, terutama albumin. Selanjutnya tekanan onkotik plasma turun dan menyebabkan perpindahan carian dari intravaskular ke ruang inssitital sehingga volume plasma berkurang.
Sementara itu keadaan hipoproteinemia akan merangsang sintesis lipoprotein dan mengurangi metabolisme lipoprotein oleh hepar yang akhirnya menyebabkan peningkatan kadar lipid serum dan lipoprotein.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 659.
https://www.researchgate.net/figure/Main-pathogenetic-mechanisms-responsible-of-hyperlipidemia-in-nephrotic-syndrome-The_fig3_42806970
3. Tatalaksana yang tepat untuk sindroma nefrotik adalah a. Prednisone 2 mg/kg/hari b. Amoxicillin 30-50 mg/kgbb/hari c. Ceftriaxone 20 mg/kgbb/hari d. Furosemide 20 mg/kg/hari e. Cetirizne 0,1-0,5 mg/kgbb.hari JAWABAN a. Prednisone 2 mg/kg/hari
PEMBAHASAN
Lebih dari 80% anak yang berusia 13 tahun termasuk pada kelompok sindroma nefrotik yang sensitif terhadap steroid. Terapi steroid dapat dimulai tanpa didahului oleh biopsy ginjal bila gambaran klinis yang menyertai sindroma nefrotik cukup jelas. Terapi awal adalah dengan prednisone 2 mg/kg/hari dengan dosis maksimal 60 mg/hari dibagi dalam 2-4 dosis per hari. Sekitar 90% memberikan respons yang baik dalam 4 minggu. Jika respon baik, terapi dilanjutkan sampai 12 minggu.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 660
https://medicalguidelines.msf.org/viewport/CG/english/nephrotic-syndrome-in-children-18482330.html 4. Dosis albumin serum pada pasien anak 20 kg yang menderita sindroma nefrotik dengan kadar
albumin serum 1,5 g/dL adalah a. 2 g/kgbb/hari
b. 3 g/kgbb/hari c. 4 g/kgbb/hari d. 5 g/kgbb/hari e. 1 g/kgbb/hari
JAWABAN e. 1 g/kgbb/hari
PEMBAHASAN
Dosis pemberian albumin:
Kadar albumin serum 1-2 g/dl diberikan dosis 0,5/kgbb/hari Kadar albumin < 1 g/dl diberikan 1 g/kgBB/hari
Karena kadar albumin serum 1,5 berarti diberikan dosis 0,5/kgBB/hari. Sehingga dosis albumin untuk pasien tersebut adalah 20 x 0,5 = 10 g
SUMBER
PEDOMAN PELAYANAN MEDIS IDAI HALAMAN 275
5. An. D, 5 tahun datang ke dokter dengan keluhan urin berwarna merah. Merahnya urin terjadi sejak 2 minggu SMRS. Merahnya urin disertai dengan bengkak pada tangan dan kaki. Pada pemeriksaan fisik ditemukan edema pada ekstremitas, disertai dengan hipertensi. Sebelumnya An. D mengeluhkan nyeri tenggorokan 1 bulan lalu, namun sudah sembuh. Diagnosis yang paling tepat untuk An. D adalah a. Sindroma nefrotik
b. Glomerulonefritis c. Chronic kidney disease d. Pyelonefritis
e. Diabetic kidney disease JAWABAN
b. Glomerulonefritis
PEMBAHASAN
Glomerulonefritis paska streptokokkus (GNPS) adalah salah satu penyebab kelainan glomerural pada anak selain sindroma alport dan toksin (pada sindroma hemolitik uremic). Umumnya pasien dengan GNPS akan datang dengan keluhan hematuria (sebagian besar makorskopis), edema, dan hipertensi. Infsufienensi ginjal akut dapat terjadi. Gejala klinis tersebut muncul dalam 5-21 hari setelah infeksisi
streptokokkus nefritogenik. Sebagian ebsar anak masih menderita infeksi aktis saat manifestasi klinis GNPS muncul.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 661 https://medcomic.com/medcomic/nephritic-vs-nephrotic-syndrome/ https://emedicine.medscape.com/article/980685-overview
6. Strategi tatalaksana pada glomerulonephritis paska stretptokokkal adalah kecuali a. Antibiotik b. Tirah baring c. Diet nefritis d. Diuretik e. Albumin JAWABAN e. Albumin PEMBAHASAN Medikamentosa
Golongan penisilin dapat diberikan untuk eradikasi kuman yaitu amoksisilin 50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 10 hari. Jika alergi dapat diberikan dengan dosis 30 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis
Diuretik diberikan untuk mengatasi retensi cairan dan hipertensi. Jika terdapat hipertensi, berikan obat hipertensi, tergantung pada berat ringannya hipertensi.
Suportif
Pengobatan GNAPS umumnya bersifat suportif. Tirah baring diperlukan jika pasien sakit, penurunan kesadaran, hipertensi atau edema
Diet nefritis diberikan jika terjadi penurunan fungsi ginjal dan retensi cairan
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 662
7. Berikut ini merupakan penyebab paling sering dari infeksi saluran kemih pada anak a. Klamidia trakomatis
b. Herpes simpeleks c. S. aureus
d. E. Coli
JAWABAN d. E. Coli
PEMBAHASAN
ISK pada anak mencakup sistitis, pielonefritis, dan abses ginjal yang dapat bersifat interarenal atau perinefrik. Dalam kondisis normal E.coli, flora usus yang naik ke saluran kemih merupakan penyebab terjadinya infeksi pertama dan berkontribusi terhadap infeksi berulang pada anak. Lebih dari 90% E.coli nefritogenik memiliki fimbriae yang berikatan dengan sel-sel uroepitelial. Bakteri lain yang juga dapat menyebabkan ISK adalah Klebsiella, Proteus, Enterococcus, dan pseudomonas.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 662
8. An. J 1,5 tahun, datang dengan keluhan sulit makan dan berat tidak naik selama 3 bulan terakhir. Selain itu An. J juga terkadang diare, demam, dan muntah yang sulit disebabkan penyebabnya. Gejala yang muncul nampak kolik, iritabilitas, dan menjerit secara periodic. Pada pemeriksaan penunjang ditemukan bakteri pada urin. Diagnosis yang paling tepat untuk An. J adalah
a. ISK b. Sindroma nefrotik c. Sindroma nefritik d. GNPS e. Prostatitis JAWABAN a. ISK PEMBAHASAN
Gejala klinis pada ISK bervariasi sesuai usia. Gejala umum yang hampir selalu ditemukan adalah Gejala gagal tumbuh
Sulit makan Demam
Peningkatan hiperbilirubin direk dapat timbul sekunder akibat endotoksin dari gram negatif. Bayi berusia 1 bulan sampai dengan 2 tahun (ada sumber lain yang menyebut 3 tahun) memiliki gejala kesulitan makan, gagal tumbuh, diare, dan muntah serta demam yang tidak dapat dijelaskan. Tanda-tanda klinis yang ada dapat menyerupai penyakit gastrointestinal dengan gejala kolik, iritabilitas dan menjerit secara periodic.
Pada usia 2 tahun ke atas, anak mulai menunjukkan gejala ISK seperti pada orang dewasa yaitu adanya
Tidak dapat menahan untuk berkemih (urgency) Disuria
Sering berkemih (frekuensi) Nyeri perut atau pinggang.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 658 https://www.aafp.org/afp/2011/0215/p409.html
9. Penegakan diagnosis ISK pada anak adalah dengan menggunakan a. Kultur urin
b. Urea breath test c. Serum kreatinin d. Uric acid e. Nitrazine test JAWABAN a. Kultur urin PEMBAHASAN
Penegakan diagnosis ISK umumnya mengunakan kultur urin. Kultur urin juga dapat digunakan untuk memilih antibiotik yang tepat. Sampel urin harus diperiksa segera (dalam waktu 20 menit) atau didinginkan untuk menunggu uji kultur. Pada anak besar digunakan urin bagian tengah (midstream) yang diambil dengan teknik bersih (clean catch technique) dianggap bakteriuria bermakna bila didapatkan pertumbuhan bakteri dari organisme tunggal mencapai 100.000 CFU/ml dan memiliki korealis positif 95%.
Urin yang diambil secara kateterisasi dianggap bermakna jika pertumbuhan bakteri lebih dari 10.000 CFU/ml. Urin yang diperoleh secara aspirasi suprapubik dianggap berakna bila didapatkan pertumbuhan bakteri lebih dari 1000 CFU/ml.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 662 https://www.aafp.org/afp/2011/0215/p409.html
10. Pada anak yang mengalami infeksi saluran kemih berulang, perlu dicurigai terdapat kelainan antomi dari traktus urinarius. Berikut ini pemeriksaan yang dapat mendeteksi kelainan tersebut adalah, kecuali a. BOF b. USG c. VCUG d. CT scan e. MRI JAWABAN a. BOF PEMBAHASAN
Pemeriksaan USG, voiding cystourethrogram (VCUG). Sistrografi radionukleida, CT scan dan MRI dapa digunakan untuk menilai fungsi traktus urianrius. Pemeriksaan USG memberikan informasi terbatas akan adanya renal scarring tapi dapat mendeteksi kelainan anatomi. VCUG adalah pemeriksaan pencitraan yang terbaik untuk mendeteksi refluks vesikulureteral yang dibagi dalam beberapa tingkatan. Tingkat 1 hanya melibatkan ureter, tingkat 5 terdapat pelebaran menyeluruh pada urter dan obliterasi pada kaliks ginjal dan anatomi pelvik.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 663
11.Berikut ini yang bukan merupakan tanda klinis yang menunjang diagnosis DMTipe 1 a. Polidipsi, poliiuri, polifagi
b. Penurunan prestasi di sekolah c. Kandidiasis vagina
d. Infeksi kulit rekuren e. Anak gemuk
JAWABAN e. Anak gemuk PEMBAHASAN
Pemeriksaan fisis dan tanda klinis DM Tipe 1
Polidipsi poliuri, polifagi, disertai penurunan berat badan kronik Irritable dan penurunan prestasi di sekolah
Infeksi kulit berulang
Kandidiasis vagina terutama pada anak wanita prapubertas Gagal tumbuh
Berbeda dengan DMT2 yang anak cenderung gemuk, anak yang menderita DMT1 biasanya kurus SUMBER
PEDOMAN PELAYANAN MEDIS IDAI HALAMAN 52
12. An. D, 13 tahun datang dengan keluhan sering pipis. Sering pipis terjadi selama 3 bulan dan terjadi terus menerus. Selain itu pasien juga mengeluh sering minum karena merasa haus terus menerus. Ibu pasien juga mengeluhkan berat badan pasien yang terus turun. Pada tanda vital ditemukan TD 100/60,
HR 64 x/menit, RR 20x/menit. Pada pemeriksaan fisik tidak didapatkan kelainan. Pada pemeriksaan penunjang ditemukan glukosa dalam urin. Diagnosis yang tepat untuk An. D adalah?
a. Diabetes melitus b. Glukosuria kongenital c. Gagal ginjal kronis d. Ketoasidosis diabetikum e. Glukosuria akibat toksin JAWABAN
a. Diabetes melitus PEMBAHASAN
Manifestasi klinis DM 1 meliuputi polyuria, pilidipsia, polifagia dan penurunan berat badan. Glikosuria hanya terjadi dika konsentrasi glukosa serum melebihi ambang reapsropsi ginjal (> 180 mg/dL). Glikosuria ini menyebabkan diuresis osmotic (kehilangan natrium, kalium, elektrolit lainnya( shingga timbul dehidrasi. Polidipsia timubl kanrrea pasien berusaha untuk mengganti cairan yang hilang, sedangkan penurunan berat badan terjadi akibat proses katabolic presisten dan kehilangan kalori lewat glikosuria dan ketonuria.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 664
13. Berikut ini patofisiologi yang mendukung terjadinya ketoasidosis diabetikum, kecuali a. Oksidasi asam lemak
b. Glukoneogenesis c. Peningkatan trigliserida d. Glikogenolisis
e. Pemnurunan ambilan dan metabolisme glukosa prierfer JAWABAN
c. Peningkatan trigliserida PEMBAHASAN
Sekresi insulin yang adekuat menyebabkan gluconeogenesis, glikogenolisis, dan penurunan ambilan dan metaboilsme glukosa perifer. Ketiga hal tersebut menyebabkan hiperglikemia sehingga menyebabkan diuresis osmotic sehingga menyebabkan dehidrasi dan kehilangan natrium melalui ginjal. Dehidrasi menyebabkan perfusi jaringan yang buruk sehingga meningkatnya laktat. Sedakan sekresi insulin yang in kurang juga meningkatkan oksidasi asam lemak, meningkatkan badan keton dan menyebabkan asidosis. Asidosis menyebabkan kehilangan fosfat melalui ginjal, dan hiperkalemia.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 658 https://pedsinreview.aappublications.org/content/40/8/412
14. Berikut ini tatalaksana yang tepat untuk ketoasidosis diabetikum pada anak, kecuali a. Resusitasi cairan NaCl 0,9% 20 ml/kg dalam 1 jam sampai syok teratasi
b. Pasien dipuasakan
c. Terapi insulin diberikan bersamaan dengan rehidrasi d. Dosis insulin 0,05-0,1 U/kgBB/jam
e. Jika urin pasien keluar, berikan kalium JAWABAN
c. Terapi insulin diberikan bersamaan dengan rehidrasi PEMBAHASAN
Resusitasi cairan
Bila ada syok, atasi syok terlebih dahulu dengan memberikan cairan NaCl 0,9% 20 ml/kg dalam 1 jam sampai syok teratasi
Resusitasi cairan selanjutnya diberikan secara perlahan dalam 36-48 jam berdasarkan derajat dehidrasi
Selama keadaan belum stabil secara metabolik (bikarbonat natrium > 15 mE/q/L, gula darah < 200 mg/dL, pH > 7,3) maka pasien dipuasakan
Perhitungan kebutuhan cairan resusitasi total sudah termasuk cairan untuk mengatasi syok Apabila ditemukan hypernatremia maka lama resusitasi cairan diberikan selama 72 jam Jenis cairan resusitasi awal yang digunakan adalah NaCl 0,9% apabila kadar gula darah sudah
turun mencapai < 250 mg/dl cairan diganti dengan dekstrose 5% dalam NaCl 0,45% Insulin
Diberikan setelah syok teratasi dan resusitasi cairan dimulai
Gunakan rapid insulin intravena dengan dosis insulin antara 0,05-0,1 U/kgBB/jam. Bolus insulin tidak perlu diberikan
Penurunan kadar gula secara bertahap tidak lebih cepat dari 75-100 mg/dl/jam
Insulin intravena dihentikan dan asupan per oral dimulai jika sudah stabil secara metabolik (pH > 7,3, gula darah < 200 mg/dL
Selanjutnya insulin regular diberikan secara subkutan dengan dosis 0,5-1 U/kgBB hari dibagi 4 dosis untuk pasien lama dapat digunakan dosis sebelumnya
Untuk terapi insulin selanjutnya dirujuk ke dokter ahli endokrinologi anak Koreksi elektrolit
Tentukan kadar natrium dengan menggunakan rumus
Pada hypernatremia gunakan cairan NaCl 0,45%
Kalium diberikan sejak awal resusitasi cairan kecuali pada anuria
Dosis K = 5 mEq/kgBB per hari diberikan dengan kekuatan larutan 20-40 mEq/L dengan kecepatan tidak lebih dari 0,5 MEq/kg/jam
Asidosis metabolik tidak perlu dikoreksi
SUMBER
PEDOMAN PELAYANAN MEDIS IDAI HALAMAN 167
https://pedsinreview.aappublications.org/content/29/12/431
15. Berikut ini yang meruapakan komplikasi utama dan menyebabkan mortalitas paling tinggi dari ketoasidosis diabetikum adalah
a. Edema serebri b. Edema paru c. Edema tungkai d. Perikarditis e. Pankreatitis JAWABAN a. Edema serebri
PEMBAHASAN
Herniasi dapat terjadi akibat edema serebri dan merupakan komplikasi terapi pada ketoasidosis diabetikum, sifatnya akut dan tidak dapat diprediksi sebelumnya. Biasanya terjadi dalam 24 jam pertama pengobatan. Semua penderita harus dimonitor akan kemungkinan peningkatan tekanan intrakranial
Penderita yang ebrisiko tinggi untuk mengalami edema serebri adalah Penderita dengan usia < 5 tahun, penderita baru
Penderita dengan gejala yang sudah lama diderita Asidosis berat, pCO2 rendah, dan BUN Tinggi
Bila terjadi herniasi otak, waktu penanganan yang efektif sangatlah pendek. Bila ragu-ragu segera berikan manitol 1-2 gram/kgBB dengan IV drip cepat. Bila mungkin buat CT scan otak.
SUMBER
PEDOMAN PELAYANAN MEDIS IDAI HALAMAN 168
16. Berikut ini yang merupakan temuan klinis dan laboratoris yang menunjang diagnosis ketoasidosis diabetikum, kecuali
a. pH darah < 7,25
b. Bikarbonat serum < 15 mEq/L c. Ketonuria
d. Pernapasan Kussmaul e. Suhu pasien > 38 derajat C JAWABAN
e. Suhu pasien > 38 derajat C PEMBAHASAN
Diagnosis KAD ditegakkan jika terdapat tiga variabel yaitu Kadar pH arteri kurang dari 7,25
Kadar bikarbonat serum kurang dari 15 mEq/L Keton dalam serum atau urin meningkat
Pada KAD umunya ditemukan asidosis. Asidosis menyebabkan takipnea dengan napas cepat dan dalam atau disebut dengan pernapasan Kussmaul. Pada pasien KAD juga ditemukan napas bau
aseton. Pada KAD jarang ditemukan demam. Jika terdapat demam harus dicari sumber infeksi yang mungkin memicu terjadinya KAD.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 684
17. Seorang anak 13 tahun, datang dengan keluhan demam tiga hari. Saat diukur di rumah suhu anak mencapai 40 derajat Celsius. Pasien juga mengeluh muntah, diare, dan kemerahan difus. Pada pemeriksaan fisik ditemukan hipotensi ortostatik. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan
penurunan platelet dan peningkatan fungsi liver dan ginjal. Ibu pasien mengatakan bahwa pasien sedang mengalami menstruasi. Dokter mencurigai pasien sedang mengalami toksin akibat sebuah pathogen. Etiologi dari gejala pasien ini adalah
a. Streptococcus pyogenes b. Staphylococcus aureus c. Neisseria gonorrhoeae d. Streptococcus agalctiae e. Shiga toxin-producing E. Coli JAWABAN
b. Staphylococcus aureus PEMBAHASAN
Manifestasi dari sindroma shock staphylococcal adalah demam, penurunan kesadaran,
konjungtivitas, dan eritoderma difus macular, serta gagal multi organ, disebabkan oleh toksin akibat staphylococcus. Kelainan ini disebut Toxic Shock Syndrome Toxin 1 (TSST 1) akibat S. aureus. Organisme umumnya dapat dikultur dari kulit dan mucus. Hal ini sering dikaitkan dengan pemakaian tampon. Insiden kasus ini mengingkat pada remaja.
SUMBER
Long,110–112; American Academy of Pediatrics, 660–661
18. Berikut ini merupakan temuan klinis yang menunjang temuan sindroma toksik shock syndrome akibat staphylococcus
a. Pneumoniae dan efusi pleura b. Artritis dan myositis
c. Tonsilitis
e. Abses intrabdominal
JAWABAN
d. Trombositopenia dan Konjungtvia hiperemis
PEMBAHASAN
Berikut ini meruapakan temuan utama dari sindroma shock toksik staphylococcus Demam
Ruam difus
Deskuamasi 1-2 minggu setelah onset Hipotensi
Gagal multi organ
Temuan lain yang mungkin ditemukan adalah gejala gastrointestinal, myalgia, konjungtival hiperemi, disfungsi renal, disfungsi hepar, trombositopenia < 100.000 atau disfungsi status mental.
SUMBER
American Academy of Pediatrics, 662
19. Seorang anak, 5 tahun, datang dengan keluhan demam yang semakin lama semakin tinggi. Anak juga dikeluhkan lemas dan tidak mau makan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan demam 39,2 derajat, Nadi 60 x/menit, RR 24x/menit. Pada lidah ditemukan kotor bagian tengah, dan bagian pinggir hiperemis. Pada pemeriksaan penunjang ditemukan titer S. typhie O : 360. Diagnosis untuk anak tersebut adalah a. Typhus
b. Demam tifoid c. Demam berdarah d. Fever of unknown origin e. Kandidiasis oral
JAWABAN b. Demam tifoid
PEMBAHASAN
Temuan klinis yang menunjang diagnosis demam tifoid
Variabel Temuan
Anamanesis Demam baik secara bertahap, suhu
tertinggi pada akhir minggu pertama, demam terus meninggi
kepala, nyeri perut, diare atau konstipasi, muntah, perut kembung
Pada demam tifoid berat dapat dijumpai penurunan kesadaran, kejang dan icterus
Pemeriksaan fisik Bervariasi
Pada demam tifoid berat ditemukan kesadaran menurun, delirium
Sebagian besar anak mempunyai lidah tifoid yaitu di bagian tengah kotor dan bagian pinggir hipertemis
Dapat ditemukan meteorismus, hepatomegaly dan ronkhi paru
Pemeriksaan penunjang Serologi
Kenaikan titer S. typhi O 1 : 200 atau kenaikan 4x titer fase akut ke fase konvalesens
SUMBER
PEDOMAN PELAYANAN MEDIS IDAI HALAMAN 47
20. Pemeriksaan penunjang yang mendukung diagnosis demam tifoid, kecuali a. Anemia b. Limfositosis relatif c. Leukopeia d. Basophilia e. Trombositopenia JAWABAN d. Basophilia P EMBAHASAN
Pemeriksaan penunjang darah tepi perifer pada demam tifoid menunjukkan Anemia
Leukopenia, namun jarang kurang dari 3000/ul Limfositosis relative
Trombositopenia, terutama pada demam tifoid berat SUMBER
21. Seoarang anak berusia tiga tahun dibawa ibunya ke dokter karena sering menggaruk pantat. Ibu sang pasien mengeluhkan ke dokter bahwa beberapa kali ibu melihat bentukan seperti nasi pada popok bayi. Etiologi dari kelainan ini adalah
a. Enterobius Vermicularis b. Gangguan absorbsi c. Anak sering makan nasi
d. Infeski Strongyloides stercoralis e. Infeksi Taenia solium
JAWABAN
a. Enterobius Vermicularis
PEMBAHASAN
Infeksi enterobius vermicularis terjadi akibat pasien menalan telur yang menetas di intralumen dan matang saat menuruni saluran cerna. Cacing dewasa kemudian bertelur di kulit perianal sehingga menyebabkan gatal pada anus teruttama pada malam hari. Infeksi umumnya terjadi di tempat-tempat seperti sekolah, atau taman kanak-kanak. Diagnosis ditegakkan melalui transparent tape preparation atau preparasi menggunakan selotip transparan. Diagnosis lain tidak menyebabkan gejala seperti di atas. Strongyloides stercoralis berbentuk bulat dan Taenia solium berbebtnuk pipih. Walaupun kedua etiologi tersebut dapat menyebabkan nyeri perut, muntah, diare, namun tidak gatal pada anus.
SUMBER
Long, 1301–1302; American Academy of Pediatrics, 520–522, 629–630, 644–645
22. Seorang bayi baru lahir menunjukan beberapa gejala seperti ruam, retardasi pertumbuhan dan hilangnya refleks. Pada pemeriksaan fisik bayi sangat kecil dengan lesi purpura berwarna biru, serta katarak. Pada auskultasi dada, ditemukan adanya murmur pada jantung. Etiologi yang paling mungkin pada kasus di atas adalah
a. HIV b. Toksoplasmosis c. CMV d. Parvovirus e. Rubella JAWABAN
e. Rubella
PEMBAHASAN
Bayi yang terinfeksi rubella secara kongenital dapat mengeksresikan virus di urin dan sekresi faring untuk beberapa minggu hingga bulan. Bayi dalam keadaan ini membahayakan untuk orang sekitar yang belum terlindungi dari rubella. Wanita hamil yang belum mengetahui imunitasnya terhadap rubella sebaiknya tidak merawat bayi dengan infeksi rubella. Bayi dengan infeksi rubella kongenital dapat muncul dengan
Gangguan pertumbuhan Hilangnya refleks Katarak
Murmur pada jantung
Infeksi CMV dan toksopalasmosis dapat muncul dengan presentasi yang mirip dengan rubella. Namun umumyna tidak disertai dengan katarak dan penyakit jantung kongenital. Pada pasien dengan infeksi CMV dapat ditemukan banyak kalsifikasi serebral.
SUMBER
American Academy of Pediatrics, 574–579, 666, 273–274
23.An. F, 6 tahun, datang dengan keluhan demam tinggi. Demam terjadi sejak 3 hari dan terjadi terus menerus. Pada pemeriksaan fisik ditemukan suhu 40 derajat C, dan ditemukan vesikel di bagian tubuh,tangan, serta kaki. Saat ditanya, keluarga pasien yang mengantar tidak tahu status imunisasi pasien. Diagnosis untuk An. F adalah
a. Measles b. Varisela c. HIV d. Infeksi HHV-6 e. Herpes simpleks JAWABAN b. Varisela PEMBAHASAN
Pasien datang dengan keluhan demam tinggi akut. Kemudian disertai dengan berbagai vesikel di bagian badan dan ekstremitas. Ditambah dengan status imunisasi yang tidak diketahui, menguatkan diagnosis pada infeksi varicella atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai chickenpox. Umumnya lesi muncul di bagian kepala, wajah, dan badan. Lesi umumnya muncul dalam waktu 1-7 hari. Beberapa vesikel kemudian dapat berubah menjadi pustule dalam waktu 48 jam.
SUMBER
24. Seorang ibu dengan anak berusia 6 bulan datang untuk pemeriksaan rutin. Sang ibu kemudian bertanya mengenai vaksin MMR. Jika pada komunitas sedang tidak ditemukan outbreak, pada usia berapa bulan dapat diberikan vaksin MMR?
a. 6 bulan b. 9 bulan c. 12-15 bulan d. 18-24 bulan
e. Saat usia masuk sekolah
JAWABAN c. 12-15 bulan PEMBAHASAN
Dosis pertama dari vaksin measles (dikombinasikan dengan mumps dan rubella sebagai vaksin MMR) harus diberikan pada usia 12-15 bulan untuk memaksimalkaan antibody dari ibu yang baru saja menghilang dari sirkulasi anak. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya reaksi imunologis antara vaksin dengan antibody dari ibu. Namun pemberian vaksin juga tidak boleh ditunda melebihi 15 bulan karena infeksi measles sungguh berbahaya. Berikut ini juga direkomendasikan untuk memberikan dosis kedua dari vaksin saat anak masuk sekolah. Namun pada saat terjadi outbreak measles pada sebuah komunitas, umumnya dosis pertama diberikan pada usia 6 bulan diikuti oleh dua dosis MMR seperti pada komunitas yang tidak mengalami outbreak.
SUMBER
https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017
25. Seorang anak berusia 12 bulan datang untuk pemeriksaan rutin. Sang ibu mengatakan bahwa pada saat usia enam bulan sang anak mengalami bengkak di tangan akibat pemberian vaksin DTP. Sang ibu kemudian bertanya apakah seharusnya vaksin ditunda. Berikut ini yang merupakan kontraindikasi dari imunisasi DTP
a. Ensefalopati 7 hari setelah imunisasi b. Riwayat kejang pada keluarga c. Anak usia 2 bulan yang preterm d. Anak adopsi dari luar negeri
e. Imunisasi sebelumnya menyebabkan demam tinggi JAWABAN
a. Ensefalopati 7 hari setelah imunisasi PEMBAHASAN
Pemberian vaksi DPT (Difteri-Tetanuseluler-Pertusis) rutin diberikan pada anak dan merupakan metode vaksinasi utama untuk mencegah penyakit tersebut. Kontraindikasi untuk imunisasi pertussis adalah
Reaksi anafilaktik yang langsung terjadi setelah pemberian vaksin
Ensefalopati 7 hari setelah pemberian vaksin, atau dicirikan dengan penurunan kesadaran dan atau kejang fokal maupun general yang tidak membaik dalam 24 jam.
SUMBER
American Academy of Pediatrics, 40, 510–513 TRYOUT 4
Gastrohepatologi Repirologi Hematologi
26. Seorang anak berusia 6 bulan datang dibawa oleh ibunya dengan keluhan sering mengeluarkan lagi susu yang diminum. Susu yang dikeluarkan keluar secara menetes. Tidak didapatkan diare dan demam. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan, berat badan normal sesuai usia. Diagnosis yang tepat untuk pasien tersebut adalah
a. Refluks gastroefogaus b. Atresi esophagus c. Refleks Trakeoesofagus d. Ulkus gaster e. Trauma esofagus JAWABAN
a. Refluks gastroefogaus
PEMBAHASAN
Refleks gastroesfagus (RGE) didefinisikan sebagai pergerakan retrograde isi lambung ke dalam esofagus tanpa upaya dari bayi. Refleks init idak selalu patologis, pada bayi usia 2-12 bulan umumnya fisiologis. Sekitar 50% bayi usia 2 bulan mengalami RGE yang fisiologis. RGE dianggap fisiologis selama asupan nutrisi adekuat dan tidak terdapat tanda komplikasi atau esophagitis, dan tidak ada gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 468
ANDREW D. JUNG, M.D., University of Kansas School of Medicine–Wichita, Wichita, Kansas Am Fam Physician. 2001 Dec 1;64(11):1853-1861.
27. Berikut ini beberapa faktor yang dikaitkan pada penyebab refluks gastroesofagus pada bayi adalah, kecuali
a. Diet cair
b. Posisi tubuh duduk c. Lambung kecil d. Esofagus sempit e. volume makanan besar JAWABAN
b. Posisi tubuh duduk
PEMBAHASAN
Berikut ini beberapa faktor yang dikaitkan dengan reflus gastroesofageal pada bayi Diet cair
Posisi tubuh horizontal Esofagus sempit dan pendek Lambung kecil dan tidak elsastis
Volume makanan relative besar dan sering Sfingter esofagus bawah imuter
Seiring pertumbuhan bayi, bayi akan lebih sering pada posisi yang tegak, lambung lebih besar dan elastis, serta memiliki kebutuhan kalor per unit berat badan yang lebih rendah. Sebagian besar bayi umumnya berhenti gumoh pada usia 9-12 bulan.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 468
28. Berikut ini yang BUKAN tanda bahaya atau red flags dalam bidang gastrointestinal dari penyakit refluks gastroesofagus pada anak adalah
a. Muntah proyektil b. Muntah hijau c. Muntah darah d. Hematochezia
e. Fontanela menonjol JAWABAN
e. Fontanela menonjol
PEMBAHASAN
Fontanela monjol kemungkinan besar mengarah pada proses intrakranial dan bukan pada proses gastrointestinal. Berikut ini merupakan red flag pada bidang gastrointestinal dari pasien dengan refluks gastroesofagus
Tanda dan gejala Implikasi Tatalaksana Muntah proyektil Stenosis hipertrofi pilokrik pada
bayi usia 2 bulan
Rujuk ke bedah anak Muntah hijau atau hijau kuning Obstruksi intestinal Rujuk ke bedah anak
Hematemesis Pendarahan pada esofagus,
lambung, atau usus halus
Rujuk ke spesialis terkait Darah pada feses Gastroenteritis bakterial, alergi
susu sapi
Pemeriksaan feses mikroskopis
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 658
Davies I, Burman-Roy S, Murphy MS; Guideline Development Group. Gastro-oesophageal reflux disease in children: NICE guidance. BMJ. 2015;350:g7703. Published 2015 Jan 14. doi:10.1136/bmj.g7703
29. Berikut ini yang merupakan tatalaksana untuk penyakit refluks gastroesofagus patologis pada anak adalah
a. Antasida
b. Antagonis reseptor H2 c. Cisapride
d. Prosedur Nissen
e. Penghambat pompa proton JAWABAN
PEMBAHASAN
Tatalaksana untuk refluks gastroesofagus patologis pada anak
Terapi Medis Catatan
Penghambat pompa proton Efektif untuk nyeri ulu hati dan esophagitis Antagonis reseptor histamine H2 Mengurangi nyeri ulu hati, kurang efektif untuk
esophagitis
Cisapride Meningkatkan pengosongan lambung dan tonus
SEB. Oleh karena adanya laporan keterlibatan sistem kardiovaskular maka penggunaannya tidak dianjurkan atau terbatas dibawah pengawasan dokter
Terapi Bedah
Prosedur Nissen Untuk kasus yang mengancam nyawa atau yang
tidak responsive
Pemberian makan/minum melalui jejunostomi Berguna pada anak yang membutuhkan pip makanan-menghantarkan makanan kea rah bawah menghilangkan refluks gastroesofagus
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 469
30. An. A, 1 hari dibawa ibunya ke dokter karena tidak mampu menyusu. Setiap menyusu anak muntah dan batuk. Selain itu An. A juga dikeluhkan sering keluar air liru dari mulut dan hidung. Saat ditanya riwayat persalinan, sang ibu mengakut sempat didiagnosis polihidramnion. Diagnosis yang paling tepat untuk An. A adalah
a. Atresia esofagus
b. Refluks gastroesofagus patologis c. Refluks gastroesofagus fisiologis d. Fistuali ani
e. Atresi bilier JAWABAN
a. Atresia esofagus
Pasien datang dengan keluhan tidak bisa menyusu dan selalu keluar air liur dari mulut dan hidung. Selain itu pasien juga mengalami muntah saat diberikan ASi. Kedua informasi penting ini mengarahkan
diagnosis pada atresia esofagus. Pada pasien dengan atresia esofagus juga ditemui riwayat
polihidramnion saat dalam kandungan. Selain tanda dan gejala di atas, pasien dengan atresia esofagus juga datang dengan tanda dan gejala penuomnia aspirasi. Saat menemui pasien seperti gejala di atas, hindari asupan minum utama sebelum dilakukan pemeriksaan diagnostik lebih lanjut.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 469
31. Berikut ini pemeriksaan yang mudah dan cepat untuk mendiagnosis atresia esofagus adalah a. Pemasangan pipa nasogastric
b. Barium enema c. CT scan
d. Ultrasonografi abdomen e. MRI
JAWABAN
a. Pemasangan pipi nasogastric PEMBAHASAN
Pemeriksaan paling sederhana pada atresia esofagus adalah dengan memasang pipa nasogastric. Pipa nasogastric akan terhambat setinggi letak atresia. Konfrimasi dilakukan melalui foto thoraks yang memperlihatkan pipa melingkar di dalam lumen esofagus (atau tidak bisa masuk). Udara dapat dimasukkan melalui pipa untuk melihat gambaran kantong atresia. Barium sebaiknya tidak digunakan karena risiko aspirasi sangat besar. Zat kontras larut air dapat diberikan secara hati-hati dalam jumlah kecil.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 658
https://www.aboutkidshealth.ca/article?contentid=1806&language=english 32. Varian atresia esofagus yang paling sering ditemukan adalah
a. Atresia esofagus dengan FTE distal b. Atresia esofagus tanpa FTE
c. FTE tipe H
d. Atresia esofagus dengan FTE proksimal e. Atresia esofagus dengan FTE proksimal JAWABAN
PEMBAHASAN
Berikut ini merupakan variasi dari atresia esofagus (Nelson, 2014) Atresia esofagus dengan FTE distal (85%) C
Atresia esofagus tanpa FTE (8%) A FTE tipe H (4%) E
Atresia Esofagus dengan FTE proksimal (2%)B
Atresia esofagus dengan FTE proksimal dan disal (1%) D
Catatan : Presentase berbeda karena sumber yang digunakan berebda SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 470
Adler, A. (2019). Esophageal Atresia and Tracheoesophageal Fistula. In A. Adler, A. Chandrakantan, & R. Litman (Eds.), Case Studies in Pediatric Anesthesia (pp. 92-95). Cambridge: Cambridge University Press. doi:10.1017/9781108668736.021
33. Seorag bayi 2 bulan dibawa ke dokter akibat sering muntah saat diberi makan. Muntah semakin lama semakin berat dan tampak menyemprot. Isi yang dimuntahkan tidak berwarna hijau atau kuning,
umumnya yang dimuntahkan adalah susu. Pada pemeriksaan fisik bayi nampak letargis, lemas dan dehidrasi. Pada inspeksi abdomen nampak gelombang peristaltic gaster pada kuadaran kiri atas. Terdapat perabaan sebesar buah zaitun pada palpasi abdomen. Diagnosis yang tepat untuk pasien tersebut adalah a. Stenosis pilorik b. Refluks gastroesofageal c. Stenosis kolon d. Atresia esofagus e. Atresia bilier
JAWABAN a. Stenosis pilorik
PEMBAHASAN
Bayi dengan stenosis pilorik umnya mulai muntah pada bulan pertaa kehidupan, namun onset bisa terjadi lebih lambat dariapda ini. Emesis bertambah sering dan kuat sesuai dengan berjalannya waktu. Muntah pada stenosis piloris sangat kuat dan tampak menyemprot. Materi muntah tidak mengandung empedu karena obstruksi berada pada proksimal dudodenum. Pada pemeriksaan fisik ditemukan gelombang peristalstik gaster pada inspeksi di kuadran abdomen kiri atas. Dapat juga teraba pylorus yang hipertorif sukuran budah zaitun. Seiring dengan memberatnya gejala, makanan yang melewati pylorus menjadi sangat sedikit dan anak menjadi dehidrasi.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 472
34. Pada stenosis pilorik, dapat ditemukan tanda khas pada pemeriksaan radiologis, berupa a. Covet sign
b. String sign c. Stenotic sign d. Pyloric sign e. Step ladder sign JAWABAN
b. String sign
PEMBAHASAN
Pada penebalan pylorus, pemeriksaan barium serial pada saluran cerna bagian atas dapat menyebabkan tanda tali atau dalam bahasa Inggris disebut string sign yang disebabkan oleh pengisian barium pada saluran pylorus yang mengalami elongasi dan konstriksi.
Foto polos abdomen biasanya menunjukan perut yang besar dan penurunan atua hilangnya udara dalam usus. Ultrasonogafi pilors adalah pemeriksaan pilihan unuk menunjukan pemnajangan elongasi dan penebalan pylorus.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 658 https://www.eurorad.org/case/15530
35. An. D, 12 tahun datang ke dokter dengan keluhan demam sejak 4 hari. Demam tidak disertai batuk dan pilek. An. D mengeluhkan nyeri tenggorokan dan sulit saat menelan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan faring hiperemi. Selanjutnya ditemukan tonsil tampak memerah seperti cherry, membesar dan diliputi oleh eksudat yang kekuningan. Diagnosis untuk An. D adalah
a. Tonsilitis b. Faringitis c. Epiglotitis d. Laringitis e. Tonsilofaringitis JAWABAN e. Tonsilofaringitis PEMBAHASAN
Pemeriksaan fisik sudah cukup untuk menegakkan diagnosis. Pada kasus radang tenggorokan, harus diperhatikan area yang involved. Pada pemeriksaan ditemukan
Faring hipertemi
Tonsil tampak merah seperti cherry, bengkak, dan diselaputi oleh lapisan berwarna kuning Kedua temuan ini mengarahkan diagnosis pada tonsilofaringitis. Selain itu pada tonsilofaringitis terdapat gejala utama berupa demam, nyeri tenggorokan dan disfagia. Selain itu juga dapat ditemukan pembengkakan pada kelenjar limfa anterior yang membesar dan nyeri bila disentuh.
SUMBER
Önerci T.M. (2009) Acute Tonsillopharyngitis. In: Diagnosis in Otorhinolaryngology. Springer, Berlin, Heidelberg
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 514
36. Seorang anak dicurigai mendertita Scarlet fever. Temuan pemeriksaan fisik yang mendukung diagnosis tersebut adalah
a. Strawberry Cervix b. Strawberry Tongue c. Olive sign d. Damp Countour e. String Cheese JAWABAN b. Strawberry Tongue
PEMBAHASAN
Scarlet fever atau sitgmalat demam skarlatina, adalah infeksi yang umumnya disebbaka oleh Strepcoccus grup A beta hemolitikus. Ciri utama dari Scarlet Fever adalah
Demam
Faringitis eksudatif
Eksanthema merah terang
Selain itu Scarlet fever umumnya menular melewati makanan. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan takikardia dan limfadenopati anterior. Tanda yang menguatkan diagnosis tersebut adalah lidah berwarna merah cerah yang disebut Strawberry Tongue.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 514
Modesti AM, Plewa MC. Kawasaki Disease. [Updated 2020 Jul 2]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 Jan-. [Figure,
Strawberry tongue KD. Image courtesy S Bhimji MD] Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537163/figure/article-23847.image.f1/
37. Seorang dokter mendapat pasien anak, 11 tahun datang dengan keluhan nyeri tenggorokan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan eksudat pada tonsil, limfadenopati anterior, dan demam. Saat ditanya pasien menyangkal adanya batuk. Dokter kemudian menggunakan sebuah sistem skoring untuk menentukan pemberian antibioitik. Skor apakah yang digunakan oleh dokter tersbut
a. Centor Score b. qSofascore c. Child-Pugh Score d. Well’s Criteria e. Heart Score JAWABAN a. Centor Score PEMBAHASAN
Centor Score adalah skor yang digunakan untuk menentukan apakah sebuah infeksi faringitis disebabkan oleh streptokokkus grup A beta hemolitikus atau tidak. Berikut ini adalah Centor Criteria, (masing-masing bernilai 1) Eksudat tonsilar Limfadenopati anterior Demam Ketiadaan batuk Interpretasi
0-1 tidak perlu testing lebih lanjut dan tidak perlu antibioitk 2-3 Tes antigen rapid
4 tidak perlu testing, berikan antibiotik empiris
Skor ini sensitif untuk usia 5-15 tahun dan untuk pasien dewasa namun tidak terlalu sensitif untuk usia < 3 tahun atau > 45 tahun.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 515
Wolford RW, Goyal A, Belgam Syed SY, et al. Pharyngitis. [Updated 2020 May 22]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK519550/ 38. Komplikasi yang dapat muncul setelah infeksi faringitis yang disebkan oleh bakteri stresptokokkus adalah
a. GNAPS
b. Sindroma nefrotik c. Sirosis hepatis
d. Peritonitis bakterial spontan e. Stomatitis angularis
JAWABAN a. GNAPS
PEMBAHASAN
Faringitis akibat streptokokus pada umumnya sembuh dengan sempurna. Namun pada beberapa kasus dapat menyebabkan komplikasi. Komplikasi streptokokus grup A adalah komplikasi supuratif loka seperti abses parafaringeal dan infeksi pada area leher bagian dalam yang berbatasan dengan wajah dan komplikasi non supuratif seperti demam rematik dan glomerulonephritis paska streptococcus (GNAPS).
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 516 https://emedicine.medscape.com/article/980685-overview
39. Tatalaksana pada faringitis yang disebabkan oleh streptococcus grup A adalah a. Penisilin V 10 mg/kg
b. Ethambutol 15 mg/kg
c. Eritromisin estolate 50 mg/kg d. Sefaleksin 40 mg/kg
e. Penislin G per oral 2 juta unit JAWABAN
a. Penisilin V 10 mg/kg
PEMBAHASAN
Penislin V oral 2-3 kali sehari selama 10 hari deosis 10 mg/kg/dosis dengan dosis maksimum 250 mg/dosis
Pensilin benzahtine G dosis tunggal, 600.000 U untuk anak < 27 kg dan 1,2 juta U untuk anak besar dan dewasa
Pada pasien yang alergi terhadap beta lactamase dapat diberikan
Eritromisin ethl succinate 40-50 mg/kg/hari maksimal 1g/hari dalam 3-4 dosis selama 10 hari Eritomisin estolate 20-40 mg/kg/hari dalam 2-4 dosis maks 1g/hari 10 hari
Terapi alternatif dengan menggunakan
Sefaleksin 20 mg/kg maks 500 mg/dosis oral setiap 12 jam selama 10 hari
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 516
40. Pemeriksaan CT scan pada rinosinusitis dapat menunjukkan gambaran a. Air fluid level
b. Step ladder sign c. Damn counter sign d. Olive sign
e. Green haze
JAWABAN a. Air fluid level PEMBAHASAN
CT scan dapat ditemukan adanya perkabutan di area sinus, penebalan mukosa, atau adanya air fluid level. Temuan abrnomal pada pemeriksaan radiografi konvensional tidak dapat membedakan inflamasi karena infeksi atau alergi. Pada pemeriksaan CT scan dan MRI seringkali memberikan gambaran abnormal, terumasik gambaran air fluid level di dalam sinus pada pasien yang asimptomatik.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 517 http://www.ghorayeb.net/ImagingMaxillarySinusitis.html
41. Seoarang anak, An. J, 18 bulan, datang dengan keluhan suara serak, batuk dan demam sejak 3 hari SMRS. Sang ibu mengeluhkan batuk terus menerus yang tidak membaik dengan obat batuk. Pada pemeriksaan fisik terdengar suara batuk seperti menggongong. Terdapat stridor saat bernapas, terutama saat inspirasi. Diagnosis penyakit ini adalah
a. Croup b. Epiglotitis c. Trakeitis bakterial d. Rhinosinositis e. Faringitis JAWABAN a. Croup PEMBAHASAN
Manifestasi klinis dari croup (Laringotrakeobronkitis) adalah batuk kasar yang dideskripsikan seperti menggoggong (barking cough) atau suara tiupan (brassy), suara serak, stridor inspirasi, demam ringan,
dan gangguan pernpasan yang dapat timbul secara lembat dan cepat. Stridor adalah bunyi respirtori bernada tinggi dan kasar akibat timbulnya turbulensi aliran udara. Umumnya timbul saat inspirasi tetapi datap juga bersifat bifasik dan merupakan tanda adanya sumbatan jalan napas atas.
Gejala/Tanda Viral Laringotrakeobronikitis Epiglotitis Trakeitis Bakterial Croup Spasmodik Penyakit prodromal akiabt virus ++ - + +
Rerata usia 6-36 bulan 3-4 tahun 4-5 tahun 6-36 bulan Onset penyakit Gradual (2-3 hari) Akut (6-24 jam) Akut (1-2 hari) Mendadak
(waktu malam)
Demam ± + + -
Toksisitas - + ++ -
Kualitas stridor Kasar/keras Ringan Kasar/keras Kasar/keras Hiperekstensi leher, drooling - ++ + - Batuk ++ - ++ - Nyeri tenggorokan ± ++ ± - Kultur arah positif - + ± - Leukositosis - + + - Rekurensi + - - -
Rawat inap dan intubasi
endotrakeal
Jarang Sering Sering Jarang
SUMBER
42. Diagnosis laringotrakeobronkitis dialkukan engan pemeriksaan radiologi anteroposterior leher. Pada laringotrekeobronkitis ditemukan tanda berupa
a. Steeple sign b. Thumb sign c. Olive sign d. Cheese sign e. Air fluid level JAWABAN a. Steeple sign PEMBAHASAN
Pemeriksaan radiologi antero posterior leher kerap dapat membantu, meskipun tak selalu. Penegakan diagnosis adanya penyempitan subglotis pada penyakit croup pada yangdisebut steeple sign. Pemeriksaan laboratorium rutin tidak dapat membantu penegakan diagnosis. Leukositosos jarang ditemukan dan dapat mengarah pada epiglottitis ataupun trakeitis bakterial. Berbagai pemeriksaan cepat (PCR atau antigen) dapat digunakan untuk mendeteksi virus parainfluenza dan virus RSV, serta beberapa virus lainnya penyebab croup walaupun kurang umum, seperti influenza.
SUMBER
Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi Enam Halaman 522 https://radiopaedia.org/articles/steeple-sign-trachea
43. Seorang anak berusia 18 bulan datang dengan keluhan anak tidak aktif, lemas, pucat, dan tidak mau menetek. Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva anemis. Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan anemia mikrositik. Berikut ini merupakan diet yang menunjang diagnosis tersebut a. Pica
b. Kekurangan sayuran segar c. Kekurangan buah-buahan d. Kelebihan konsumsi vitamin C e. Kelebihan konsumsi susu sapi
e. Kelebihan konsumsi susu sapi
PEMBAHASAN
Kekurangan besi adalah penyebab utama dari anemia defisiensi besi pada anak-anak. Susu memiliki tingkat besi yang rendah, dan besi pada susu sapi tidak dapat diserap dengan baik. Jika makanan sehari-hari anak, berasal dari susu sapi, kemungkinan besar anak akan mengalami defisiensi besi. Selain itu konsumsi susu sapi juga dapat menyebabkan kehilangan darah pada saluran cerna secara mikroskopik, hal ini juga dipercaya para ahli sebagai salah satu penyebab anemia defisiensi besi.
Behrman, 1614–1615 SUMBER
Behrman, 1614–1615
Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak halaman 30
44. Seorang anak berusia dua tahun datang dengan keluhan pucat. Pada pemeriskaan penunjang didapatkan sang pasien menderita anemia megaloblastk berat. Berikut ini hasil anamnesis yang mendukung diagnosis tersebut
a. Hanya makan produk organik b. Terlalu banyak minum susu kambing c. Riwayat fototerapi
d. Membutuhkan antibiotik untuk infeksi telinga tengah e. Memiliki riwayat ibu diabetes
JAWABAN
b. Terlalu banyak minum susu kambing
PEMBAHASAN
Anemia megaloblastik pada anak hampir selalu disebabkan oleh defiensi asam folat, vitamin B 12 atau keduanya. Pada pemeriksaan darah perifer, sel darah merah umumnya besar, dan tampak
hipersegmentasi pada neutrophil. Asam folat ada di banyak makanan, termasuk sayuran hijau, buah, dan organ dalam dari hewan. ASI dan susu sapi juga memberikan banyak asam folat, namun pada susu
kambing, zat ini tidak banyak ditemukan. Vitamin B 12 juga ada di banyak makanan, sehingga defisiensinya jarang, namun dapat dilihat pada orang vegan yang tidak mengkonsumsi produk lain. SUMBER
(Behrman, 1611)
Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak halaman 58
45. Defisiensi besi adalah penyebab utama dari anemia pada anak-anak. Manakah dari kelompok di bawah ini yang berada pada risiko paling besar untuk terkena defisiensi besi.
a. Bayi premature
b. Anak dengan incompatibiltas ABO c. Anak dengan hiperbilirubinemia fisiologis d. Bayi post mature
e. Bayi dengan polycythemia
JAWABAN
a. Bayi premature
PEMBAHASAN
Berat lahir rendah, lajut pertumbuhan yang cepat, dan kehilangan darah iatrogenic adalah faktor utama yang menyebabkan bayi premature mengalami peningkatan risiko defisiensi besi. Mereka memiliki cadangan besi yang hanya dapat bertahan 3 bulan setelah kelahiran. Sedangkan pada bayi yang lahir aterm, cadangan besi dapat bertahan 4-6 bulan. Pada beberapa kasus hemolisis (ABO inkompatibiltas) dan hiperbilirubinemia fisiologis, besi tidak hilang dari tubuh. Polisitemia adalah keadaan hematokrit yang meningkat terutama pada kasus hipoksia interautrin atau insufisiensi plasenta vaskular atau dari keterlambatan klem pada tali pusat.
.
SUMBER
Merenstein, 521–534
Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak halaman 58
46. Seorang anak 18 bulan datang saat pemeriksaan rutin. Orang tuanya mengatakan bahwa anak tersebut minum 7-8 botol susu sapi tiap hari karena tidak suka makanan padat. Berat badanya lebih besari dari presentil 95 namun lingkar kepala dan tingginya berada pada presentil 25. Pada pemeriksaan fisik ditemukan detak jantung 180 x per menit dan laju napasnya 28 x per menit. Pada pemeriksaan fisik juga ditemukan pipi chubby, pucat, namun tidak ditemukan kelainan lain. Pada tes apa kemungkinan besar ditemukan abnormalitas?
a. Sweat test b. Serum sodium c. Eosinophil count d. Serum bicarbonate e. Hemoglobin JAWABAN e. Hemoglobin PEMBAHASAN
Pasien mengalami anemia defisiensi besi akibat diet susu sapi. Susu hanya mengandung besi yang sedikit, 1,2 mg/L. Rata-rata bayi membutuhkan 1-1,5 mg/kg kebutuhan besi. Diet yang secara umum hanya konsumsi susu dapat menyebabkan anemia defisiensi besi pada anak bayi dan balita. Hal ini terutama ketika susu yang dikonsumsi bukan susu formula yang sudah difortifikasi. Selain itu besi pada susu sapi juga lebih susah dicerna dibandingkan dengan besi pada ASI. Selain itu juga pada susu sapi murni banyak ditemukan kejadian kehilangan darah gastrointestinal mikorskopis yang dapat memperparah anemia, terutama pada anak di bawah usia 12 bulan. Susu sapi, juga mengadung banyak protein dan kalori sehingga anak dapat tumbuh dengan baik.
SUMBER
McMillan, 1692–1693
Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak halaman 58
47. An. J, 5 tahun, datang dengan keluhan lelah, malaise, dmeam, icterus, dan perubahan warna urin. Pasien juga disertai dengan nyeri abdomen, gangguan pernapasan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan hepatosplenomegali. Pada pemeriksaan darah tepi menunjukkan gambaran sferositosis, polikromasi, dan poikilositosis, sel eritrosit ebrinti, retikulisitopenia. Diagnosis untuk An. J adalah
a. Anemia hemolitik b. Anemia defisiensi besi C. Thalasemia
d. TTP e. ITP JAWABAN
a. Anemia hemolitik
PEMBAHASAN
Anemia hemolitik datang dengan keluhan gejala berupa mudah lelah, malaise, dan demam, icterus dan perubahan warna urin. Seringkali gejala disertai dengan nyeri abdomen, gangguan pernapasan. Tanda lain yang ditemukan adalah berupa hepatosplenomegali. Gejala dan tanda tidak tergantung proses beratnya anemia tapi juga hemolitik yang terjadi.
Pada pemeriksaand arah tepi ditemukan adanya berupa proses hemolitik berupa sfefrositosis, polikromasi, maupun poikolositosis, sel eritrosit berinti, retiklositpenia pada awal anemua. Gambaran sumsum tulang menunjukkan hiperplasi seleritopoitik normoblasitk.
SUMBER
Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak halaman 53
48. Berikut ini pemeriksaan laboratorium yang menunjang anemia defisiensi besi a. TIBC turun, Fe serum meningkat
b. TIBC turun, Fe serum turun
c. TIBC meningkat, Fe serum menurun d. TIBC meningkat, Fe serum meningkat e. TIBC dan fe Serum normal
JAWABAN
c. TIBC meningkat, Fe serum menurun PEMBAHASAN
Pada pemeriksaan status besi didapatkan kadar Fe serum menurun dan TIBC meningkat. Pemeriksaan Fe serum untuk menentukan jumlah besi yang terikat pada transerin, TIBC untuk mengetahui jumlah transferrin yang berada dalam sirkulasi darah. Perbandingan antara Fe serum dan TIBC (saturasi transferrin) yang dapat diperoleh dengan cara menghitung Fe serum/TIBC x 100% meruapakan suatu nilai yang menggambarkan suplai besi ke eritroid sumsum tulang dan sebagai penilaian terbaik untuk mengethaui perukaran besi antara plasma dan cadangan besi dalam tubuh.
Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak halaman 37 49. Dosis besi untuk terapi anemia defisiensi besi adalah a. 1-2 mg/kgBB/hari b. 2 mg/kgBB/hari c. 3 mg/kgBB/hari d. 4 mg/kgBB/hari e. 2,5 mg/kgBB/hari JAWABAN d. 4 mg/kgBB/hari PEMBAHASAN
Untuk mendapatkan respos pengobatan dosis ebsi yang dipakai 4-6 mg besi elemtal kgBB/hari. Dosis obat dihitung berdasarkan kandungan besi elemental yang ada ada dalam garam ferrous. Garam ferrous sulfat mengandung besi elemental sebanyak 20%. Dosis obat yang terlalu besar akan
menimbulkan efek samping pada saluran pencernadaan dan tidak memberikan efek penyembuhan yang lebih cepat. Absropsi besi terbaik pada saat lambung ksong di antara waktu makan. Untuk mengetasi hal tersebut, besi diberikan saat akan makan atau segera setelah makan meskipun akan mengurangi dosis obat.
SUMBER
Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak halaman 40
50. Seoarang anak berusia 1 bulan dirujuk ke dokter setelah disunat oleh mantri. Setelah disunat darah tidak kunjung berhenti. Diagnosis yang paling mungkin untuk penyakit ini adalah
a. Defisiensi faktor IX b. Defisiensi faktor VIII c. Penyakit von Willebrand d. DIC
JAWABAN
b. Defisiensi faktor VIII
PEMBAHASAN
Pada bayi laki-laki sehat, hemofilia A (defisiensi faktor VIII) dan hemofilia B (defisiensi faktor IX) adalah penyebab utama dari gangguan darah yang diturunkan. Hemophilia terjadi sekitar 1 : 50000 laki dengan defisiensi faktor VIII adalah penyebab utama (85%). DIC adalah penyebab yang jarang pada bayi sehat, sednagkan faktor von Willebrand hanya tinggi setelah lahir, sehingga gejala jarang ditemukan pada neonatus. Defisiensi protein C juga dikaitkan dengan thrombosis dan bukan bleeding.
Untuk mengantisipasi hal ini maka sebaiknya sebelum sirkumsisi anamnesis mengenai riwayat gangguan pendarahan pada keluarga harus dilakukan. Karena pada pasien yang mengalami defisiensi faktor VIII, jika pendarahan sudah terjadi, akan sangat sulit untuk dikontrol.
SUMBER