commit to user BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Sejarah berdirinya Kota Surakarta atau lebih dikenal dengan sebutan Kota Solo tidak bisa terlepas dari sejarah berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat yang merupakan trah penerus dari Mataram Islam. Keraton Surakarta Hadinigrat didirikan pada masa pemerintahan Paku Buwana II sekitar tahun 1746.
Pendirian Keraton Surakarta dilatarbelakangi oleh hancurnya keraton Kartasura karena serangan pemberontak. Pemberontakan tersebut merupakan pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang Tionghoa, yang dipimpin oleh RM. Garendi atau lebih dikenal dengan nama Sunan Kuning. Peristiwa ini lebih dikenal dengan peristiwa Geger Pacinan yang terjadi pada sekitar tahun 1742. Dalam peristiwa Geger Pacinan itu, Paku Buwana II berhasil melarikan diri ke Ponorogo, hal ini menyebabkan terjadinya kekosongan kekuasaan di Keraton Kartasura, maka para pemberontak mengangkat RM. Garendi sebagai raja dengan gelar Sunan Kuning. Dengan bantuan Adipati Cakraningrat dari Madura maka Paku Buwana II dapat merebut kembali istana keraton Kartasura (Soeratman, 1989).
Pemberontakan terhadap keraton Kartasura dilakukan oleh orang-orang Tionghoa yang dipimpin oleh RM. Garendi, akhirnya dapat ditumpas berkat kerjasama antara pihak keraton Kartasura dan VOC Belanda. Pemberontakan tersebut meninggalkan citra negatif di mata masyarakat dan kerajaan. Akibat dari pemberontakan tersebut, nama kerajaan Mataram Islam di Kartasura menjadi tercemar dan banyak bangunan istana yang hancur, sehingga tidak mungkin melakukan aktifitas pemerintahan di bangunan keraton yang sudah hancur. Kehancuran keraton Kartasura membuat Paku Buwana II sebagai raja merasa perlu membangun istana kerajaan Mataram baru untuk tempat tinggal dan kegiatan pemerintahan (Rustopo, 2007).
Penentuan lokasi baru untuk dijadikan sebagai istana kerajaan Mataram Islam yang baru dilakukan raja Paku Buwana II dengan berdiskusi dengan para
abdi dalem keraton. Paku Buwana II kemudian mengutus tiga orang abdi dalem
commit to user
yang terdiri dari Mayor Hohendorp, Adipati Pringgalaya, dan Adipati Sindurejo, masing- masing sebagai Patih Jawi (Patih Luar) dan Patih Lebet (Patih Dalam), serta beberapa orang bupati. Utusan itu diikuti oleh abdi dalem ahli nujum, yakni Kyai T. Hanggawangsa, RT. Mangkuyuda, dan RT. Puspanegara. Setelah melakukan penelusuran yang berjalan cukup lama, utusan Paku Buwana II tersebut mendapatkan tiga tempat yang dianggap cocok untuk dibangun istana Keraton Mataram Islam yang baru. Ketiga tempat itu adalah desa Kadipala, desa Sala, dan desa Sana Sewu. Hasil dari penelusuran ini dimusyawarahkan oleh para utusan dan kemudian menentukan desa Sala sebagai tempat pembangunan istana baru dari keraton Mataram Islam, keputusan ini kemudian dilaporkan utusan kepada raja di Kartasura (Rahardjo, 2008).
Penentuan lokasi terakhir untuk keraton yaitu di daerah desa Sala. Pemilihan desa Sala menjadi lokasi baru dari kerajaan Mataram dikarenakan oleh beberapa faktor, di samping hal- hal yang bersifat spiritual, pindahnya keraton desa Sala lebih memiliki fungsi strategis, ekonomis, dan politis untuk menunjang keberlangsungan pemerintahan Mataram Islam selanjutnya. Hal ini berkaitan dengan simpulan Soeratman (1989) yang menyatakan pemilihan desa Sala sebagai pusat pemerintahan yang baru di sebabkan oleh beberapa alasan yakni :
Pertama letak desa Sala berada di daerah tempuran yaitu tempat petemuan
dua sungai yaitu sungai Pepe dan sunga i Bengawan Solo. Menurut mistik Jawa, tempuran mempunyai arti magis dan keramat. Kedua letak desa Sala yang dekat dengan bengawan yang merupakan sungai besar di Jawa saat itu. Ketiga, karena desa Sala sudah menjadi desa, oleh karena itu tidak diperlukan tenaga untuk membabat hutan. Keempat, dihubungkan dengan bangunan suci yakni Sala atau cala (sans) yang berarti ruangan atau bangsal besar. Kelima, dihubungkan dengan kepentingan kompeni. Keenam menggunakan petungan sesuai adat yang berlaku, karena bagi masyarakat Jawa keadaan tanah akan berpengaruh pada penghuni rumah yang didirikan di atas tanah tersebut (hlm. 66 - 73).
Pemilihan desa Sala sebagai pusat istana terakhir Kerajaan Mataram Islam telah diperhitungkan secara matang baik secara politik, ekonomi, religi dan adat. Pembangunan istana keraton yang baru mengahabiskan waktu cukup lama, sekitar tiga sampai empat tahun. Pada sekitar tahun 1746 pembangunan keraton yang baru di desa Sala tersebut telah selesai. Setelah istana telah dibangun dan resmi,
commit to user
Paku Buwana II melakukan perpindahan keraton dari Kartasura ke desa Sala dan memberikan nama baru pada daerah tersebut dengan nama Negara Surakarta Hadiningrat.
Paku Buwana II membangun keraton Surakarta Hadiningrat di Desa Sala mengikuti pola pembangunan keraton sebelumnya yaitu keraton Kartarsura. Letak keraton yang membujur dari arah utara ke selatan, adanya Kori Kemandhungan dan Prabasuyasa mengingatkan pada keraton Kartasura, bahkan lebih jauh pembangunan dan penentuan letak keraton Surakarta Hadiningrat sebagai pusat pemerintahan mengacu pada konsep pada kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha terdahulu (Soeratman, 1989).
Perpindahan keraton Mataram Islam dari Kartasura ke Surakarta tidak terlepas dari peranan Belanda melalui kongsi dagang VOC (Vereenigde Oost
Insdisce Compagnie) yang sudah dominan berpengaruh di kerajaan Mataram
Islam baik dalam kancah perpolitikan keraton. Salah satunya adalah peranan VOC dalam membantu Paku Buwana II untuk membebaskan keraton Kartasura dari tangan pemberontak, hal ini menyebabkan Paku Buwana II terlibat perjanjian dengan VOC yang isinya bahwa Paku Buwana II harus menyerahkan seluruh wilayah Mataram kepada VOC dengan janji keturunan Paku Buwana II berhak naik tahta dan akan diberikan pinjaman kerajaan Mataram (Sartikasari, 2012 ).
Status Mataram Islam sebelum adanya perjanjian Giyanti pada tahun 1755 adalah sebagai wilayah yang bersatu. Pada tahun 1755 Belanda memecah belah wilayah Mataram melalui Perjanjian Giyanti yaitu membagi wilayah Mataram menjadi dua wilayah yaitu, Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta (Rustopo, 2007).
Surakarta dipimpin oleh Paku Buwana III dan Yogyakarta dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengku Buwana I. Sejak saat itu kedua daerah, yaitu Surakarta dan Yogyakarta disebut dengan nama wilayah
Vorstenlanden. Hal ini sejalan dengan pendapat Larson (1990), “daerah Surakarta
dan Yogyakarta disebut sebagai Vorstenlanden, yang berarti tanah raja-raja atau daerah Kerajaan Jawa” (hlm. 1). Tanah Vorstenlanden diberikan kebebasan untuk mengatur wilayahn sendiri tetapi masih dalam pengawasan Belanda.
commit to user
Pemberian kebebasan mengatur wilayah sendiri menyebabkan antara kedua Keraton bebas mengatur segala aspek kehidupan rakyatnya termasuk kebudayaan, oleh karena itu keraton disebut sebagai craddle of culture. Dari Keraton kebudayaan Jawa yang berpusat di dalam keraton berkembang dan berpengaruh keluar istana, kebudayaan yang berkembang dan berpengaruh keluar istana tidak hanya menyangkut tata pola kehidupan, tetapi mencakup aspek lainnya termasuk didalamnya adalah arsitektur yang diwujudkan dengan bentuk bangunan (Suhartono, 1995).
Keraton adalah bangunan tempat tinggal raja, perma isuri beserta para abdi
dalem pangeran. Bangunan keraton merupakan bangunan yang memiliki ukuran
yang luas dan memiliki struktur bangunan yang bersifat khusus. Berkatian dengan pengertian keraton, Soeratman (1989) menyatakan bahwa :
Istilah keraton menunjuk pada tempat kediaman ratu atau raja, keraton menunjuk pada tempat kediaman ratu atau raja, keraton mempunyai beberapa makna pertama, berarti negara atau kerajaan, kedua berarti pekarangan raja meliputi wilayah di dalam cepuri (tembok yang mengelilingi halaman) baluwarti dan ketiga pekarangan raja meliputi wilayah di dalam cepuri ditambah alun-alun (hlm.1).
Keraton adalah pusat dari pemerintahan dan pusat kekuasaan dari suatu negara menurut konsepsi tradisional. Bangunan keraton merupakan tiruan dari bentuk kosmologi kehidupan. Shiraishi (2005); Djono (2009) menyatakan bahwa, keraton me rupakan tiruan kosmos. Kedudukannya yang berada di tengah dipercaya sebagai pancer atau pusat dari kosmos dari unsur sekitar yang mengelilinginya. menurut konsepsi tradisional Jawa pusat kekuasaan adalah negara, dan pusat negara adalah Keraton.
Pandangan hidup masyarakat Jawa tidak terlepas dengan peran raja dan kekuasaan dalam keraton sebagai pusat dari jagad raya, oleh karena itu pengaturan bangunan di dalam keraton tidak terlepas dari usaha raja untuk menyelaraskan kehidupan dengan jagad raya. Raja adalah penguasa tunggal yang berkuasa atas seluruh tanah kerajaan, dalam bahasa pedalangan dikatakan gung
binatara bau dhendra nyakrawati artinya sebesar kekuasaan dewa, pemelihara
commit to user
sanagari artinya memegang kekuasaan tertinggi di seluruh negeri dan penguasa
tunggal (Moedjianto, 1987).
Wilayah Surakarta, sebgai pusat pemerintahan tradisional merupakan wilayah yang telah lama terpengaruh oleh bangsa asing termasuk Belanda, baik secara politis atau secara ekonomi. Perpindahan keraton Kartasura pun tidak terlepas dari peranan Belanda melalui kongsi dagangnya yaitu VOC (Vereenigde
Oost Insdisce Compagnie). Oleh karena itu, wilayah Surakarta dengan mudah
dapat terpengaruh kebudayaan yang dibawa oleh bangsa Belanda karena kedekatan politis dan perdagangan. Jauh sebelum itu, masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Surakarta pada khususnya telah mengalami perkembangan kebudayaan yang cukup beragaam dari bangsa China, Arab dan Portugis (Wertheim, 1990). Perkembangan kebudayaan, terutama kebudayaan Eropa semakin berkembang setelah masuknya kolonialisasi Belanda terhadap Hindia Belanda.
Bangsa Belanda dengan ga ya hidup dan budaya yang mereka bawa secara intensif bertemu dan bercampur dengan kebudayaan setempat yaitu kebudayaan Jawa yang menyebabkan adanya akulturasi kebudayaan.
Kontak kebudayaan yang intensif dan berlangsung lama, menyebabkan adanya akulturasi kebudayaan (culture contac) antara pribumi dengan bangsa kolonial Belanda. Percampuran tersebut menimbulkan lahirnya kebudayaan baru yang disebut Kebudayaan Indis. Mengenai kebudayaan Indis, Soekiman (2000) menyimpulkam bahwa:
Kebudayaan Indis merupakan percampuran kebudayaan Eropa dan Indonesia khususnya Jawa, yang meliputi tujuh unsur universal budaya, serta gaya hidup berumah tangga sehari- hari sehingga menimbulkan kebudayaa baru dan didukung sekelompok masyarakat penghuni kepulauan Indonesia, khususnya keluarga keturunan Eropa (Belanda) dan pribumi disebut dengan Kebudayaan Indis (hlm. 5).
Perkembangan kebudayaan Indis awalnya bekembang pesat di wilayah pantai seperti Batavia, Semarang, Surabaya. Hal ini dikarenakan wilayah pantai dahulu menjadi pusat perdagangan dan sangat memungkinkan terjadinya kontak kebudayaan antar bangsa. Hal ini dapat dikaitkan dengan simpulan Wertheim
commit to user
(1999) yang menyatakan, ”perkembangan itu dikarenakan kota pesisir pantai mempunyai atmosfer yang lebih kosmopolitan“ (hlm. 133). Atmosfer kota pantai yang lebih kosmopolitan, menyebabkan perkembangan kebudayaaan Indis di wilayah pantai menjadi semakin pesat dan mampu menyebar ke wilayah pedalaman.
Kebudayaan Indis merupakan bagian dari kebudayaan urban pada abad ke XVII dan XVIII, yang melanda mayoritas rumah tangga di Batavia dan kota-kota besar kolonial lainnya di Jawa. Handinoto (1994); Soekiman (2000) menyatakan bahwa, kebudayaan Indis berkembang di Hindia Belanda diawali oleh kebiasaan hidup membujang dan membawa istri dari para pegawai Belanda, prototype dari kebudayan Indis tumbuh akibat hubungan dari laki- laki Eropa yang mengambil
gundik para pembantu rumah tangga wanita Indonesia (Nyai), yang kemudian
membentuk keluarga.
Kebudayaan Indis pada awalnya hanya berpengaruh pada gaya dan pola hidup semata, namun lambat laun berpengaruh terhadap wujud kebudayaan yaitu arsitektur banguan rumah. Aritektur awal colonial Belanda belum menunjukkan adanya ciri arsitektur khas Belanda, banguan rumah tempat tinggal pada masa
Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) berkuasa, merupakan bangunan
yang terintegrasi dengan gudang-gudang untuk menimbun rempah-rempah dan kantor dagang yang dikelilingi benteng pertahanan. Segala kesibukan perdagangan dan kehidupan sehari-harri pejabat VOC terjadi di dalam benteng (Sujayanto, 2000).
Pembanguan rumah dan kantor dagang yang bersatu dengan benteng merupakan suatu kekhawatiran dari VOC dari ancaman musuh, tetapi seiring dengan perkembangan waktu setelah adanya jaminan keamanan untuk bertempat tinggal di luar benteng, pejabat VOC mulai membangun rumah di luar benteng. Di samping itu pejabat Belanda juga membangun bangunan rumah peristirahatan dengan taman yang luas, yang lazim disebut dengan bangunan landhuis, dengan ciri-ciri yang masih dekat sekali denga n bangunan yang ada di Belanda (Soekiman, 2000). Arsitektur Indis sendiri, berkembang di Hindia-Belanda sekitar pertenga han abad XVIII dan awal abad ke IXX (Handinoto, 1994).
commit to user
Arsitektur yang melekat dan menggambarkan ciri Belanda pada bangunan rumah Indis pada tingkat awal bisa dimengerti, karena pada awal kedatangannya bangsa Belanda membawa kebudayaan murni dari negeri Belanda tanpa memperhitungkan kondisi iklim dan cuaca, lambat laun arsitektur rumah milik pejabat Belanda tersebut mulai menyesuaikan diri dengan kondisi iklim dan cuaca di Jawa.
Dinamika politik yang terjadi di negara Belanda memaksa pemerintah Belanda memberlakukan Politik Liberal pada sekitar tahun 1870. Politik Liberal yang diterapkan menyebabkan berkembangnya perusahaan swasta seperti perkebunan, pelayaran, pekeretaapian di pedalaman Jawa. Perkembanagan perusahaan tersebut juga berdampak pada keperluan tenaga kerja pribumi baik tenaga menengah maupun tenaga profesional. Pada saat itulah terjadi urbanisasi besar-besaran dari orang-orang Eropa ke wilayah pedalaman dan menyebabkan perkembangan kebudayaan Indis semakin menjamur di wilayah pedalaman akibat adanya kontak kebudayaan antara pribumi dan bangsa Belanda (Handinoto, 2004). Hal inilah yang menjadi salah satu faktor dari bekembangnya budaya Indis di wilayah pedalaman, yang dianut oleh sebagian besar pejabat Belanda dan pribumi dari kalangan bangsawan.
Surakarta merupakan wilayah pedalaman dan sebagai salah pusat pemerintahan tradisional di Jawa. Sebagai pusat kota, Suarakarta menjadi kota yang ramai dan tidak bisa dipungkiri adanya pertemuan dari berbagai macam bangsa yang membawa kebudayaan masing- masing. Bangsa Belanda sebagai pemegang kekuasaan di Indonesia saat itu membawa kebudayaan asli Belanda dan menduduki posisi penduduk tertinggi di Surakarta. Hal tersebut menyebabkan kebudayaan Belanda mempengaruhi kebudayaan masyarakat Surakarta.
Masyarakat Jawa pada umumnya dan Surakarta pada khususnya, jauh sebelum kedatangan bangsa Belanda telah mengenal adanya sistem stratifikasi sosial dalam masyarakat, seorang peneliti bependapat bahwa, ”masyarakat jawa terdiri dari tiga lapisan yaitu raja, priyayi dan kawula” (Kuntowijoyo, 2004 : 6).
Ketiga lapisan tersebut memiliki ketimpangan sosial yang sangat jauh berbeda antara satu dengan yang la innya. Raja adalah penguasa tunggal yang
commit to user
menjadi pemimpin bagi priyayi dan kawula, sedangkan priyayi adalah para adik-adik raja yaitu keluarga raja atau sering disebut bangsawan yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari pada kawula, sementara kawula ialah rakyat biasa yang kedudukannya paling bawah dan sekaligus mengabdi kepada raja.
Kolonialisasi dan politik liberal yang diberlakukan oleh bangsa Belanda mengakibatkan urbanisasi besar-besaran dari orang-orang Eropa ke wilayah Surakarta. Hal ini menyebabkan timbulnya stratifikasi sosial baru dalam tatanan masyarakat di Surakarta. Kartodirjo berpendapat bahwa:
Pembagian masyarakat pada masa kolonial terbagi kedalam lima golongan terdiri dari pertama elite birokrasi yang terdiri dari Pangreh Praja Eropa (Europees Binnenlands Besturr) dan Pangreh Praja Pribumi, kedua priyayi birokrasi termasuk priyayi ningrat, ketiga priyayi professional yang terdiri dari priyayi gedhe dan priyayi cilik, keempat golongan Belanda dan golongan Indo yang secara fomal masuk status Eropa dan mempunyai tendensi kuat untuk mengidentifikasikan diri dengan pihak Eropa, dan
kelima orang kecil (wong cilik) yang tinggal di kampung (1987: 11).
Golongan masyarakat yang tersebut diatas kecuali wong cilik atau rakyat kebanyakan adalah para pendukung kebudayaan Indis di Hindia Belanda pada sekitar abad ke XIX, termasuk di dalamnya adalah para pengusaha atau saudagar yang kurang mendapat perhatian dari golongan tersebut, terutama dalam hal membangun rumah begaya arsitektur Indis.
Kebudayaan Indis yang menyebar di wilayah Surakarta awalnya hanya mencakup lingkungan para pejabat kolonial Belanda, orang Eropa, para pedagang China, Arab dan para bangsawan dan priyayi keraton, tetapi lambat laun masyarakat kebanyakan terutama golongan saudagar batik di wilayah Laweyan juga ikut terpengaruh budaya Indis (Soekiman, 2000).
Kampung Laweyan dewasa ini merupakan salah satu kampung di wilayah administratif Surakarta. Kampung Laweyan masa lalu terletak diantara sungai Premulung dan sungai Kabanaran. Kampung Laweyan dengan Pasar Laweyan dan Bandar Kabanaran merupakan pusat perdagangan dan penjualan lawe yang ramai dan strategis semasa Kerajaan Pajang sekitar tahun 1546. Bahan baku kapas, sebagai bahan dasar pembuatan lawe pada saat itu banyak dihasilkan dari Desa Pedan, Juwiring, dan Gawok yang masih termasuk daerah Kerajaan Pajang.
commit to user
Bandar Kabanaran yang terletak di tepi sungai Kabanaran memungkinkan para pengusaha atau saudagar di Laweyan lebih cepat memasarkan produknya ke bandar besar Nusupan yang berada di tepi Bengawan Solo (Mlayadipuro, 1981).
Letak geografis wilayah Laweyan sebagi pusat perdagangan menyebabkan wilayah Laweyan lebih v=cepat berkembang dan berubah menjadi pusat industry batik. Industri batik di Surakarta pada umumnya dan Laweyan pada khusunya berkembang sekitar akhir abad ke XIX dan awal XX setelah ditemukannya teknik pembuatan batik cap. Industri batik cap sendiri berasal dari dari inovasi teknologi stempel atau cap batik yang diciptakan oleh seorang juragan batik di Semarang pada tahun 1915.
Laweyan bermetamorfosis dari kampung penghasil bahan pembuat batik atau lawe dan pembuat tenun tradisional menjadi pusat produksi batik cap dan batik tulis. Dipilhnya teknologi cap oleh saudagar batik Laweyan sebagai produk andalan batik Laweyan, karena teknologi batik cap dapat melipatgandakan produksi, proses membatik lebih sederhana, tahap produksi lebih pendek, waktu produksi lebih cepat dan biaya lebih rendah daripada industri kerajinan batik tulis (Sariyatun, 2005).
Ditemukannya teknik pembuatan batik cap menyebabkan adanya pengkhususan dari setiap daerah di Surakarta dalam memproduksi batik. Hal ini sejalan dengan pendapat Shiraishi (2005) yang menyatakan bahwa:
Telah terjadi pengkhususan produksi batik di Surakarta, yaitu Kauman, Keprabon dan Pasar Kliwon yaitu membuat batik halus, sedangkan di Tegalsari dan Laweyan membuat batik cap, pada akhir abad 19 hingga memasuki abad 20 Surakarta khususnya di kota Solo merupakan pusat utama industri batik (hlm. 32- 33).
Perubahan Laweyan menjadi pusat ind ustri batik, selain disebabkan oleh penghargaan yang tinggi terhadap seni membatik dari masyarakat Jawa, dimana batik yang dijadikan sebagai pakaian kebesaran dari bangsawan istana keraton yang sarat makna simbolik, juga disebabkan oleh banyaknya permintaan dari masyarakat umum terhadap batik (Soedarmono, 2006).
Kemajuan sistem transportasi darat di Surakarta dengan hadirnya jalur kereta api milik perusahaan NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij)
commit to user
sekitar tahun 1846, menyebabkan industri batik ya ng ada di Laweyan semakin berkembang pesat. Kehadiran kereta api sebagai moda utama transportasi pengganti transportasi sungai dapat mempercepat distribusi batik ke daerah-daerah di luar Laweyan (Hastuti, 2011).
Permintaan batik yang semakin ramai menyebabkan pengusaha batik Laweyan memasarkan produksinya tidak hanya untuk pasar setempat, tetapi diproduksi untuk pasar yang berskala nasional. Saudagar batik Laweyan membuat jaringan dagang sendiri dibagian timur dan barat Jawa, dan cenderung bebas dari pedaga ng borongan Tiong Hoa dan Arab.
Laweyan berkembang pesat dengan industri batik cap dan sejarah ekonomi Laweyan antara tahun 1910 sampai tahun 1930 terus menerus mengembangkan identitasnya ke dalam masyarakat saudagar. Sulit ditemukan tandingannya, terutama dalam kurun waktu itu di daerah pedalaman Jawa Tengah-Selatan. Produksi batik di Kota Surakarta hampir 85 % berada di tangan saudagar batik Laweyan (Soedarmono, 2006).
Perkembangan Laweyan menjadi sentra dari produksi batik cap, berakibat pada naiknya kekayaan para saudagar batik Laweyan. Kekayaan yang dimiliki oleh saudagar batik menyebabkan saudagar batik dapat meniru pola dan gaya hidup Indis, khususnya adalah arsitektur rumah tinggal bergaya Indis. Hal ini sejalan dengan pendapat Soekiman (2000) bahwa, “khususnya dalam membangun rumah tempat tinggal gaya Indis, golongan pengusaha atau pedagang ini cukup berperan besar, misalnya mereka yang tinggal di Laweyan (Surakarta) dan Kota Gede (Yogyakarta)” (hlm. 26).
Status komunitas saudagar batik Laweyan yang ditempatkan pada tingkatan
kawula yaitu lapisan masyarakat yang ditempati oleh rakyat kebanyakan,
menyebabkan komunitas saudagar batik Laweyan termarginalkan oleh sistem budaya dan memaksa komunitas Laweyan membentuk komunitas sendiri dengan saudagar sebagai pusat hierarki. Dalam hal ini Kuntowijoyo (2004) berpendapat bahwa, “kampung Laweyan membentuk komunitas tersendiri, dengan saudagar sebagai pusat hierarki. Sistem gelar juga berlaku, namun gelar tersebut hanya
commit to user
berlaku ke dalam untuk menandai status sosial dan tidak berlaku terhadap komunitas lainnya” (hlm. 76).
Stratifikasi sosial masyarakat Surakarta menempatkan saudagar batik Laweyan kedalam posisi kawula atau sekelas dengan rakyat jelata, meskipun kekayaan saudagar batik melebihi kekayaan bangsawan keraton.
Dasar dari hierarki dari saudagar batik adalah harta kekayaan, status sadagar hampir seluruhnya didasarkan penunjukkan kekayaan. Semakin tinggi status keluarga sudagar dicapai, dalam arti kekayaan yang dimilki, semakin menjadi terobsesi dengan mempertahankan status tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Brenner (1991), bahwa:
Among the sudagar, wealth itself is the source of authority and of the ability to command deference. It is the foundation upon which hierarchy is constructed. Without wealth, a merchant is nothing more than one of the
wong cilik, the little people.
(Diantara para sudagar, kekayaan itu sendiri adalah sumber otoritas dan kemampuan untuk memperoleh penghormatan. Ini adalah fondasi yang dibangun hirarki. Tanpa kekayaan, saudagar tidak lebih dari salah satu
wong cilik, orang kecil). (hlm. 76).
Hiearki tertinggi masyarakat Laweyan adalah saudagar. Kedudukan tertinggi dalam hal ekonomi di Lwaeyan biasanya dipegang dan dikuasasi oleh perempuan sebagai pemeran utama dalam perdagangan. Selain itu, terdapat kelompok masyarakat lain di luar kelompok saudagar, Widayati (mengutip simpulan Sarsono dan Suyatno, 1985) menyatakan bahwa :
Masyarakat Laweyan mengenal kelompok-kelompok sosial yang dinamakan wong sudagar (orang saudagar), wong cilik (orang kecil), wong
mutihan (orang putih atau Islam) dan wong priyai (orang priyayi). Dikenal
pula golongan saudagar sebagai juragan dengan wanita sebagai pemegang peran dalam perdagangan batik. Untuk itu, istilah mbok mase atau nyah
nganten menandai wanita sebagai pemeran utama dalam perdagangan
(batik), sedangkan untuk suami disebut mas nganten yang bertindak sebagai pelengkap utuhnya sebuah keluarga (2002: 42).
Pekembangan kehidupan, budaya dan status sosial masyarakat Laweyan tidak terlepas dari sejarah dan budaya kerajaan Jawa saat itu, tradisi lisan legenda Kyai Ageng Henis dan Raden Pabelan pada zaman Pajang, Raden Ayu Lembah
commit to user
dan Pelarian Paku Buwana II pada zaman Kartasura berpengaruh terhadap budaya, kehidupan dan status social masyarakat Laweyan (Soedarmono, 2006).
Keberhasilan para saudagar batik Laweyan dalam menjalankan usaha perdagangan batik, menjadikan saudagar batik memandang profesi sebagai pedagang lebih baik karena penuh ide dan bebas daripada posisi priyayi yang terikat oleh kekuasaan. Para saudagar batik bangga dengan identitas kampung, gaya hidup, dan etos kerja, karena hal tersebut menunjukkan status pemiliknya. Bagi saudagar batik kekayaan dapat menyejajarkan status sosial dengan kaum bangsawan keraton.
Profesi sebagai pedaga ng, membuat ekonomi berperan penting bagi kehidupan saudagar batik di Laweyan. Keuntungan yang besar dari berdagang batik, menyebabkan saudagar batik mampu membangun rumah-rumah loji yang besar dan mewah menyerupai bangunan-bangunan rumah tinggal para pejabat pemerintah Kolonial Belanda.
Pedagang atau saudagar Laweyan dalam gaya hidupnya mengacu pada gaya hidup golongan priyayi. Hal tersebut bisa terlihat dari kepemilikan barang-barang yang dikenakan sebagai simbol kekayaan, misalnya memiliki krobongan, dubang, gigi emas, perhiasan, dan tata cara berpakaian Jawa seperti layaknya seorang
priyayi, tetapi dalam pembangunan rumah, saudagar batik mampu membangun
rumah loji yang mewah layaknya rumah para pejabat Belanda.
Banyak bangunan rumah para saudagar ini dilengkapi dengan cermin di
pendapha rumah, menggunakan tiang rumah yang kokoh dan berukir serta lantai
dari marmer. Biasanya pada rumah-rumah saudagar batik akan dijumpai pintu gerbang bersusun seperti gerbang rumah para bangsawan di keraton dan di atas pintu tersebut dilengkapi dengan ukiran crown, semacam lambang mahkota kerajaan Belanda. Hal ini membuktikan kebudayaan Indis telah masuk kedalam lingkungan masyarakat saudagar batik Laweyan melalui arsitektur Indis (Soedarmono, 2006).
Rumah bergaya arsitektur Eropa atau berarsitektur Indis menunjukkan identitas masyarakat Laweyan yang termarginalkan oleh budaya keraton. Masyarakat Laweyan membuktikan bahwa status sebagai kawula dalam hieraki
commit to user
kerajaan tidak menjadi penghalang untuk hidup sejajar dengan para bangsawan yang telah lebih dahulu terpengaruh dan menjalani kehidupan layaknya pejabat-pejabat Eropa terutama dalam hal membangun rumah bergaya Indis sebagai sarana penunjukan identitas masyarakat saudagar batik.
Masyarakat Laweyan bukanlah keturunan bangsawan, tetapi karena mempunyai hubungan yang erat dengan keraton melalui perdagangan batik serta didukung dengan kekayaan yang ada, maka corak pemukiman dan arsitektur rumah khususnya milik para saudagar batik banyak dipengaruhi oleh corak pemukiman bangsawan Jawa, begitu pula ketika para saudagar batik membangun rumah bergaya Indis, bangunan-banguna n khas arsitektur Jawa tidak ditinggalkan begitu saja.
Bangunan rumah saudagar batik di Laweyan biasanya memiliki struktur atau pola ruang mirip dengan rumah bangsawan keraton yang terdiri dari
pendopo, ndalem, sentong, gandok, beteng, regol, ditambah bangunan pabrik, di
belakang rumah. Halaman depan rumah yang cukup luas dengan orientasi bangunan menghadap utara-selatan. Atap bangunan kebanyakan menggunakan atap limasan bukan atap joglo karena bukan keturunan bangsawan (Priyatmono, 2004).
Perwujudan dan penunjukkan identitas sosial saudagar batik Laweyan diwujudkan dalam bentuk rumah. Rumah merupakan salah satu sarana penting dalam penunjukan kelas sosial, sehingga rumah bagi saudagar batik Laweyan yang termarginal dalam sistem sosial budaya, tidak hanya sebagai sarana pemenuhan kebutuhan tempat tinggal saja, tetapi juga sebagai bagian dari identitas sosial.
Keterkaitan bentuk visual rumah dengan penunjukan kelas sosial dapat dipahami dari sistem sosial yang berlaku pada masyarakat Jawa, termasuk didalamnya adalah saudagar batik Laweyan. Sebuah bangunan tidak didirikan atas perbuatan iseng belaka. Bangunan hadir dengan segenap pemikiran, cita, rasa, kesepakatan, norma, seleksi, modifikasi, imitasi mimesis, kreatifitas kepercayaan dan keyakinan yang ada di dalam diri pembuatnya (Prijotomo, 1992)
commit to user
Penunjukkan status sosial dalam kehidupan masyarakat Jawa dapat terlihat dari keseharian dari orang Jawa, hal ini sebagai sebagai realisasi dari pandangan dan sikap hidup yang berganda dan penuh simbol pada masyarakat Jawa. Naiknya status sosial dalam masyarakat Jawa, dapat diwujudkan dengan berbagai simbol, sebagai tanda yang dianggap mampu mewakili sebuah makna tertentu. Bentuk-bentuk simbolisme dalam budaya Jawa sangat dominan dalam segala hal dan segala bidang (Satoto, 2008).
Penunjukkan identitas diri masyarakat Laweyan ditunjukkan bukan dengan gelar kepangkatan seperti yang dimiliki oleh para bangsawan keraton dan para
priyayi, tetapi ditunjukan dengan kekayaan dari hasil usaha berdagang salah
satunya dengan membangun rumah loji bergaya arsitektur Indis.
Pembangunan rumah loji berarsitektur Indis dilakukan oleh saudagar batik Laweyan sebagai penunjukan identitas diri sebagai saudagar. Di dalam wujud bangunan-banguan loji tersebut tersimpan makna tentang penunjukan identitas diri sebagai saudagar kaya. Hal tersebut diwujudkan dengan simbol-simbol yang terdapat dalam ornamen-ornamen dan pola peruangan rumah yang menghiasinya. Berdasarkan latar belakang yang di paparakan di atas penulis tertarik untuk mengkaji masalah tersebut dalam bentuk skripsi dengan judul:
“KAJIAN ARSITEKTUR DAN ORNAMEN PADA BANGUNAN RUMAH TRADISONAL DI KAMPUNG BATIK LAWEYAN SURAKARTA ”
commit to user B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana latar belakang masuknya kebudayaan Indis di kampung batik Laweyan ?
2. Bagaimana bentuk arsitektur dan ornamen pada bangunan rumah tradisional bergaya Indis di kampung batik Laweyan?
3. Bagaimanakah fungsi dan makna simbolik ornamen pada bangunan rumah tradisional bergaya Indis di kampung batik Laweyan?
4. Bagaimana hubungan antara bentuk arsitektur dan ornamen pada bangunan rumah tradisional bergaya Indis di kampung batik Laweyan dengan status sosial saudagar batik Laweyan?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui latar belakang masuknya kebudayaan Indis di kampung batik Laweyan
2. Untuk mengetahui bentuk arsitektur dan ornamen pada bangunan rumah trdisional dikampung batik Laweyan
3. Untuk mengetahui fungsi dan makna simbolik ornamen dalam bangunan rumah tradisional bergaya Indis pada rumah tradisional di Laweyan
4. Untuk mengetahui hubungan antara bentuk arsitektur dan ornamen pada bangunan rumah tradisonal kampung Laweyan dengan status sosial suadagar batik Laweyan
commit to user D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberi manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk : a. Menambah wawasan pemikiran dan pengetahuan bagi peneliti, khususnya
tentang bentuk dan makna simbolisme dalam bangunan rumah tradisional bergaya Indis di Kampung Batik Laweyan Surakarta.
b. Memberikan sumbangan ilmu pengetahuan dalam rangka pelestarian bangunan bersejarah.
2. Manfaat Praktis
Secara Prakis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
a. Bagi penulis, sebagai salah satu syarat guna meraih gelar Sarjana Kependidikan Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan Ilmu pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
b. Bagi peneliti selanjutnya, sebagai bahan refrensi dan masukan pada penelitian selanjutnya.