• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1

1.1 Latar Belakang

Perkembangan kota yang didasari oleh sebuah proses perencanaan, pada awalnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya yang senantiasa berkembang. Namun pelaksanaannya seringkali tidak berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Hal ini seringkali menyebabkan perkembangan kota menjadi sangat pesat dan kurang terkendali, yang pada akhirnya dapat menimbulkan banyak masalah. Salah satu diantaranya adalah terjadinya perubahan fungsi lahan. Hal ini tercermin dari semakin minimnya lahan-lahan kosong yang tadinya berfungsi sebagai ruang terbuka. Akibat dari keterbatasan lahan, maka pemerintah dan sebagian masyarakat mengubah lahan-lahan terbuka yang berfungsi sebagai fasilitas publik menjadi lahan terbangun. Tempat bermain anak merupakan sebuah contoh fasilitas publik yang semakin minim jumlahnya akibat terjadinya perubahan fungsi lahan.

Dalam perencanaan fisik kota, unsur manusia menjadi titik tolak pemikiran yang didasari oleh tingkat kebutuhan mereka yang harus dipenuhi di dalam kota tersebut. Perencanaan haruslah mencakup segala aspek tanpa membedakan golongan atau kelompok tertentu, tak terkecuali kebutuhan dari penduduk usia anak-anak. Anak merupakan bagian dari warga kota. Kebutuhan pokok mereka juga merupakan bagian dari perwujudan unsur-unsur keinginan masyarakat yang perlu diterapkan dalam lingkungan hidup mereka. Namun, mereka merupakan suatu kelompok yang tidak berdaya untuk melontarkan tuntutan akan kebutuhannya. Maka sudah sewajarnya, generasi yang berada di atasnya memberikan perhatian yang lebih pada kelompok ini. Bagaimanapun kelanjutan dan kemajuan suatu negara akan ditentukan oleh kelompok anak-anak ini kelak.

Papalia (1995) seorang ahli perkembangan manusia dalam bukunya Human

Development mengatakan bahwa anak berkembang dengan cara bermain. Dengan

bermain, anak-anak menemukan dan mempelajari hal-hal dan keahlian baru dan

BAB I PENDAHULUAN

(2)

belajar kapan harus menggunakan keahlian tersebut, serta memuaskan apa yang menjadi kebutuhannya. Lewat bermain, fisik anak akan terlatih, kemampuan kognitif dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain akan berkembang. (Dikutip dari Novianti, 2006, Lembaga Pendidikan Semi Palar)

Lembaga Donor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-anak (Unicef) mencatat 43 persen atau 33.586.440 jiwa penduduk Indonesia berusia kurang dari 18 tahun (tergolong anak menurut Unicef) bertempat tinggal di perkotaan. Termasuk anak berusia kurang dari 5 tahun sebanyak 9.318.960 (Unicef, 2004). Angka ini akan bertambah dengan kecepatan pertumbuhan 4,3 persen per tahun. Diperkirakan pada tahun 2025 ada 60 persen warga kota adalah anak. (Harian Suara Pembaruan, 15 Oktober 2004)

Dari jumlah keseluruhan penduduk Kota Bandung yang mencapai 2 juta orang lebih, jumlah anak mencapai sepertiganya. Kecamatan Ujung Berung merupakan salah satu kecamatan dengan jumlah penduduk usia anak terbanyak. Berdasarkan perhitungan keluarga sejahtera, jumlah keluarga pra sejahtera di Kecamatan Ujung Berung cukup besar. Hal ini menggambarkan tingkat kesejahteraan yang relatif rendah di Kecamatan Ujung Berung. Dalam lingkup wilayah yang lebih kecil, Kelurahan Cigending merupakan kelurahan dengan jumlah penduduk usia anak yang hampir sama dengan jumlah yang dimiliki Kota Bandung, yaitu mencapai lebih dari 30% . Selain itu, Kelurahan Cigending memiliki jumlah keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I terbesar di Kecamatan Ujung Berung. Rendahnya tingkat kesejahteraan di suatu wilayah mencerminkan minimnya alternatif untuk memenuhi kebutuhan. Salah satunya adalah memenuhi kebutuhan bermain anak. Berdasarkan dua faktor tersebut (jumlah anak dan tingkat kesejahteraan) dan didukung oleh beragamnya jenis lingkungan permukiman, Kelurahan Cigending menarik untuk dijadikan objek penelitian.

(3)

3

1.2 Rumusan Persoalan

Pada dasarnya, pemerintah telah mengakomodir kebutuhan anak-anak ini di dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada Pasal 11:

“Setiap anak berhak beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul

dengan anak sebaya, bermain, berekreasi dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri. “

Untuk memenuhi hak tersebut, pada Pasal 56 ayat 1 butir d, e dan f, disebutkan bahwa Pemerintah dalam menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan wajib mengupayakan dan membantu anak, agar anak dapat:

ƒ bebas berserikat dan berkumpul

ƒ bebas beristirahat, bermain, berkreasi, berekreasi dan berkarya seni budaya dan ƒ memperoleh sarana bermain yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan. Namun pada kenyataannya, penyediaan sarana bermain yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan belum dapat dipenuhi dengan baik oleh Pemerintah. Penyediaan tempat bermain seharusnya tercakup dalam lingkup Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK). Akan tetapi, hal tersebut tampaknya belum tercantum secara jelas dalam RDTR , terutama dalam hal ini adalah RDTR Kota Bandung Wilayah Pengembangan Ujung Berung.

Selain itu, prediksi PBB mencatat, diperkirakan hingga tahun 2025, separuh dari anak-anak di dunia akan tinggal di kota. Semakin hari, anak-anak yang tinggal di kota tersebut akan semakin kehilangan tempat bermainnya (Saragih, 2003). Hal ini menimbulkan pertanyaan, di manakah sebenarnya anak-anak bermain saat ini dan apakah ruang yang digunakan untuk bermain tersebut layak dan potensial untuk dikembangkan menjadi sebuah tempat bermain.

Belum teridentifikasinya ruang-ruang yang biasa digunakan anak-anak untuk bermain beserta karakteristiknya, mendorong diperlukannya sebuah studi mengenai ketersediaan dan pemanfaatan ruang bermain anak di lingkungan permukiman perkotaan. Apakah ruang-ruang tersebut telah memenuhi kriteria penyediaan sebuah sarana bermain anak atau tidak dan bagaimana anak-anak memanfaatkan ruang-ruang

(4)

tersebut untuk bermain, menjadi hal yang perlu untuk dikaji secara mendalam. Hal ini didukung oleh belum pernah dilakukannya penelitian atau studi semacam ini. Tabel I.1 menunjukkan penelitian-penelitian yang terkait dengan kebutuhan ruang bermain anak sebelumnya. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa penelitian mengenai kebutuhan ruang bermain telah dilakukan sejak lama. Ketiga penelitian sebelumnya lebih menitikberatkan pada sisi permintaan untuk menghasilkan berbagai arahan dan ketentuan tentang penyediaan tempat bermain anak. Walaupun terdapat juga sisi sediaan yang dibahas, tetapi fokus penelitian berada pada sisi permintaan.

ƒ CB.Herman Edyanto Æ Penentuan lokasi ruang bermain / rekreasi anak ƒ Citra Persada Æ Penentuan kriteria sarana bermain di perkampungan padat ƒ Gede Budi Suprayoga Æ Upaya peningkatan kualitas sarana bermain

berdasarkan preferensi anak

Perbedaan ketiga penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dengan penelitian ini adalah penelitian ini lebih menitikberatkan kajian terhadap aspek sediaannya. Walaupun secara tidak langsung akan membandingkan sediaan dengan permintaan, tetapi fokus utama dari penelitian ini berangkat dari identifikasi ketersediaan. Oleh karena itu, penelitian ini perlu untuk dilakukan.

Berdasarkan uraian tersebut, maka terdapat tiga pertanyaan penelitian yang akan dijawab pada studi ini adalah:

1. Ruang-ruang apa sajakah yang potensial untuk digunakan anak-anak sebagai tempat bermain dalam lingkup lingkungan permukiman Kelurahan Cigending? 2. Bagaimanakah kuantitas dan kualitas ruang bermain anak di Kelurahan Cigending

ditinjau dari kesesuaiannya dengan standar dan kriteria penyediaan yang berlaku? 3. Bagaimanakah pemanfaatan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending ditinjau

(5)

Penentuan Lokasi Kegiatan Rekreasi di Ruang Terbuka Bagi Anak-anak di

Kotamadya Bandung

Penentuan Kriteria dalam Penyediaan Sarana Fisik Bermain Anak-anak di

Perkampungan Padat

Citra Anak Terhadap Lingkungan Bermukim sebagai Pertimbangan dalam Penyediaan Sarana Bermain

di Kelurahan Sukamiskin

Penulis (Tahun) CB. Herman Edyanto (1981) Citra Persada (1989) Gede Budi Suprayoga (2007) Ruang Lingkup

Wilayah Studi

Kotamadya Bandung Æ Kelurahan Nyengseret dan Kelurahan Pungkur

Kelurahan Samoja dan Kelurahan Padasuka Kota Bandung

Kelurahan Sukamiskin Kecamatan Ujung Berung Kota Bandung

Ruang Lingkup Materi

• Definisi Ruang

Bermain

Masalah penyediaan ruang bagi sarana fisik bermain

Karakteristik kebutuhan ruang sebagai sarana bermain fisik di perkampungan padat.

• Atribut-atribut kualitas lingkungan yang menentukan kualitas lingkungan bermain anak

• Penelusuran mengenai citra anak

Areal yang ditunjuk secara resmi yang disediakan untuk kegiatan bermain anak-anak dengan partisipasi aktif dan berada di luar rumah dengan waktu penggunaan tak terbatas, tanpa dipungut suatu biaya serta berada dalam lingkungan daerah perumahan

Ruang yang khusus digunakan untuk permainan bebas (tanpa instruktur) dan dapat digunakan bersama-bersama Æ termasuk ruang-ruang yang secara potensial berbahaya

• Ruang bermain yang diprogramkan • Ruang bermain yang tak diprogramkan

Pendekatan/Metode yang Digunakan

• Identifikasi permintaan melalui faktor-faktor yang dinilai pada setiap kelurahan: 1. pola penyebaran penduduk

2. kemungkinan optimasi pemanfaatan sarana bermain

3. luas daerah yang terbangun

4. faktor tersedianya sarana fisik bermain • Metode skalogram

• Metode lingkaran

• Identifikasi permintaan dan kebutuhan masyarakat Æ masukan dalam penentuan kriteria

• Analisis perbandingan Æ hasil observasi vs.literatur Æ syarat dan pedoman SPM mengenai: 1. bentuk dan ukuran 2. lokasi

3. kondisi fisik lingkungan 4. status penggunaan

5. pihak penyedia dan pengelola

• Mengidentifikasi atribut-atribut kualitas lingkungan yang perlu diperbaiki dari sebuah sarana atau tempat bermain anak dan menggali

preferensi anak mengenai tempat

bermainnya saat ini

• Menggunakan metode kualitatif • Observasi, wawancara

semi-terstruktur, focus group discussion, dan sketsa mental

Hasil Akhir Studi Penentuan lokasi sarana bermain di dua kelurahan yang terpilih berdasarkan skalogram yaitu Nyengseret dan Pungkur berdasarkan metode lingkaran

Usulan kriteria bagi perencanaan

penyediaan sarana fisik bermain anak-anak di perkampungan perkotaan

Berbagai atribut kualitas lingkungan yang perlu diperbaiki dari tempat/sarana bermain anak

Referensi

Fokus Pembahasan

Sumber: Studi Literatur, 2007

TABEL I.1

(6)

1.3 Tujuan dan Sasaran Studi

Studi ini bermaksud untuk mengidentifikasi ketersediaan dan pemanfaatan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka sasaran studi ini adalah sebagai berikut:

1. Menginventarisasi ketersediaan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending 2. Mengidentifikasi kesesuaian ketersediaan ruang bermain anak di Kelurahan

Cigending dengan standar dan kriteria penyediaan yang berlaku

3. Mengidentifikasi pemanfaatan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending Studi ini diharapkan dapat bermanfaat bagi banyak pihak. Secara umum, studi ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kebutuhan penduduk kelompok usia anak-anak yang masih kurang terakomodasi dalam perencanaan kota. Manfaat dari studi ini adalah sebagai bahan pertimbangan dalam mengoptimalkan penyediaan tempat bermain anak di lingkungan permukiman Kelurahan Cigending.

1.4 Ruang Lingkup Studi

Ruang lingkup studi ini mencakup ruang lingkup materi dan ruang lingkup wilayah studi. Ruang lingkup materi meliputi hal-hal yang menjadi pokok kajian studi sedangkan ruang lingkup wilayah studi meliputi batasan cakupan wilayah studi.

1.4.1 Ruang Lingkup Materi

Studi ini akan mengidentifikasi ketersediaan dan pemanfaatan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending. Yang dimaksud dengan ruang bermain anak dalam studi ini adalah tempat yang biasa digunakan anak-anak untuk bermain di luar rumah, yang berada di dalam area lingkungan permukiman. Menurut Suprayoga (2007), ruang bermain anak ini terbagi menjadi dua:

• Ruang yang terprogramkan

Misalnya taman lingkungan, taman/lapangan bermain (playground) yang memang dirancang dan disediakan khusus untuk anak-anak.

(7)

7

• Ruang yang tak terprogramkan

Misalnya tanah kosong, lapangan olah raga, jalan lingkungan, gang-gang, bantaran sungai. Ruang bermain yang tak terprogramkan merupakan ruang yang sebenarnya tidak ditujukan sebagai tempat bermain anak, namun pada kenyataannya seringkali digunakan anak untuk bermain.

Dalam studi ini, ruang bermain anak yang akan dibahas mencakup kedua jenis ruang tersebut. Namun, ruang yang tak terprogramkan dibatasi pada ruang-ruang yang tidak membahayakan keselamatan anak (secara ekstrim) dalam bermain. Jadi, ruang seperti jalan raya, pinggiran rel kereta api dan ruang-ruang berbahaya lainnya, yang seringkali digunakan anak-anak untuk bermain, tidak akan dibahas dalam penelitian ini. Dalam lingkup yang lebih sempit, penelitian ini akan memfokuskan pada ruang-ruang yang potensial untuk dikembangkan sebagai tempat bermain anak.

Keselamatan anak dalam bermain tetap menjadi syarat utama yang harus dipenuhi

agar sebuah ruang dapat dikategorikan potensial. Selain itu, syarat-syarat pendukung lainnya agar suatu ruang dapat dianggap potensial untuk dikembangkan sebagai tempat bermain adalah ruang yang bersifat publik dan semi publik. Contohnya adalah tanah kosong atau fasilitas milik pemerintah dan sekolah yang mengijinkan anak-anak yang bermukim di sekitar lingkungan sekolah untuk bermain setelah Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berakhir. Adapun pokok-pokok pembahasan yang akan dikaji adalah sebagai berikut.

1. Tinjauan terhadap kebutuhan anak akan ruang bermain di kawasan perkotaan. Hal ini dilihat dari teori-teori perkembangan anak, kajian literatur serta pandangan dari psikolog atau ahli perkembangan anak.

2. Tinjauan terhadap penyediaan sarana bermain anak pada ruang terbuka dalam lingkup perencanaan. Pada bagian ini dibahas mengenai tujuan penyediaan sarana bermain anak, bentuk-bentuk sarana bermain anak pada ruang terbuka di perkotaan dan persyaratan dalam penyediaannya.

(8)

3. Tinjauan terhadap ketersediaan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending, dilihat dari dua aspek:

ƒ KuantitasÆ Standar penyediaan sarana bermain anak di lingkungan perumahan perkotaan.

ƒ Kualitas Æ Kriteria penyediaan tempat bermain anak pada ruang terbuka. Berdasarkan literatur dan hasil wawancara dengan psikolog anak, terdapat lima kriteria utama yang harus dipenuhi sebuah tempat bermain, yaitu keamanan, keselamatan, kenyamanan, aksesibilitas dan kesesuaian fungsi. 4. Tinjauan terhadap pemanfaatan ruang bermain anak yang tersedia saat ini di

Kelurahan Cigending dilihat dari dua aspek:

ƒ Karakteristik Pengguna ƒ Karakteristik Penggunaan

1.4.2 Ruang Lingkup Wilayah Studi

Studi ini dilakukan dengan mengambil Kelurahan Cigending sebagai objek studi. Kelurahan Cigending terdapat di Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung. Beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan ruang lingkup wilayah studi ini antara lain:

1. Kecamatan Ujung Berung merupakan kecamatan dengan jumlah anak keempat terbanyak di Kota Bandung, dengan Kelurahan Cigending sebagai kelurahan dengan jumlah anak terbanyak di kecamatan tersebut. (BPS Kota Bandung, 2006) 2. Kelurahan Cigending merupakan kelurahan dengan tingkat kesejahteraan yang

relatif rendah, menurut data jumlah keluarga sejahtera Badan Keluarga Berencana Kota Bandung 2006. Masyarakat dengan tingkat kesejahteraan rendah diasumsikan lebih membutuhkan perhatian dalam pemenuhan kebutuhan sarana bermain anak yang bersifat publik di lingkungannya.

Selain kedua faktor di atas, jenis permukiman yang bervariasi, yaitu tersedianya permukiman terencana dan permukiman tak terencana, juga merupakan faktor pendukung terpilihnya Kelurahan Cigending sebagai wilayah studi.

(9)

9

1.5 Metodologi Studi

Pada dasarnya, metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif. Menurut Whitney (1960) dalam buku karangan Moh.Nasir (1988) yang berjudul Metode Penelitian, metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki.

1.5.1 Metode Pengumpulan Data

Data pada studi ini diperoleh melalui kegiatan sebagai berikut:

1. Studi literatur

Studi literatur dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kebutuhan anak akan bermain dan pengaruhnya bagi perkembangan anak. Selain itu juga untuk memperoleh informasi mengenai standar dan kriteria penyediaan sarana bermain anak pada ruang terbuka.

2. Survey data sekunder

Tahapan-tahapan dalam studi ini memerlukan data-data kependudukan, guna lahan, jumlah persebaran fasilitas, serta peraturan-peraturan yang terkait dengan penyediaan sarana bermain anak di perkotaan. Untuk itu, dilakukan survey data sekunder untuk memenuhi kebutuhan data yang mendukung penelitian ini. Survey data sekunder dilakukan ke dinas-dinas terkait, antara lain Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Bandung, Dinas Tata Kota Kota Bandung, BPS Kota Bandung, BAPEDA Kota Bandung, dan Kantor Kelurahan Cigending.

3. Survey data primer

ƒ Observasi

Observasi merupakan cara pengambilan data dengan menggunakan bantuan indera, yaitu mata. Observasi yang digunakan adalah jenis observasi berstruktur sebab peneliti telah mengetahui aspek apa dari aktivitas yang diamatinya yang relevan dengan masalah serta tujuan penelitian. Tujuan

(10)

dilakukannya observasi adalah untuk mengetahui kondisi dari ruang bermain anak di Kelurahan Cigending, agar aspek kualitas dan kuantitas dari ruang bermain tersebut dapat teridentifikasi. Selain itu, observasi juga dilakukan untuk mengkaji pemanfaatan ruang bermain di Kelurahan Cigending. Untuk itu, poin-poin penting yang akan diamati di ruang bermain antara lain:

9 Jumlah anak

9 Perbandingan gender 9 Permainan yang dilakukan

9 Kesesuaian kriteria 9 Ragam aktivitas

Observasi dilakukan secara temporal atau berdasarkan waktu. Sebagai perbandingan, observasi dilakukan pada hari biasa dan akhir pekan. Waktu pengamatan dibagi menjadi empat, yaitu pagi hari (08-10.59), siang hari (11-14.59), sore (15-17.59) dan malam hari (18.00 ke atas).

ƒ Wawancara

Untuk mendukung hasil observasi, diperlukan wawancara yang dilakukan kepada tiga pihak, yaitu:

1. Psikolog Anak, Dr. Juke R. Siregar, M.Pd.

2. Ketua RW dari 11 RW yang terdapat di Kelurahan Cigending

Wawancara dilakukan untuk mengetahui secara umum mengenai ketersediaan ruang bermain anak yang ada di wilayahnya

3. Pengguna ruang bermain anak, yaitu anak-anak yang berada dalam rentang usia 4-6 tahun dan 7-14 tahun. Bila wawancara tidak memungkinkan untuk dilakukan, maka anak pada rentang usia 7-14 tahunlah yang diprioritaskan. Anak-anak yang sedang bermain ini berperan sebagai informan. Data primer yang dikumpulkan dari wawancara terhadap anak-anak pengguna tempat bermain ini diperlukan untuk meninjau karakteristik pengguna dan penggunaan ruang yang diperlukan pada analisis pemanfaatan.

(11)

11

Wawancara yang dilakukan berisi pertanyaan semi terstruktur. Pertanyaan dapat berkembang saat wawancara dilakukan, tidak terpaku pada panduan wawancara yang telah dibuat.

ƒ Kuesioner

Teknik pengumpulan data primer yang terakhir adalah kuesioner. Kuesioner ditujukan kepada pengguna sarana bermain, yaitu warga (KK) Kelurahan Cigending yang memiliki anak berusia 2-14 tahun. Pengambilan data kuesioner dengan teknik wawancara ini, dilakukan untuk mendukung identifikasi karakteristik pengguna dan penggunaan serta mengetahui preferensi pengguna terhadap ketersediaan ruang bermain di lingkungannya. Untuk memperoleh jumlah sampel warga sebagai pengguna ruang bermain yang akan diteliti, digunakan rumus Slovin dengan tingkat kepercayaan 90%. Rumus Slovin adalah sebagai berikut (Sugiyono, 1994):

1

2

+

Ne

N

n

Keterangan: n = jumlah sampel N = populasi

e = error estimate, yaitu besarnya derajat kepercayaan studi (10%)

Jumlah Kepala Keluarga (KK) di Kelurahan Cigending adalah 3014 jiwa. Maka dengan tingkat kepercayaan 90% diperoleh minimal jumlah sampel adalah 96 orang. Pengambilan sampel dilakukan di setiap RW secara proporsional. Cara memilih sampel dilakukan dengan cara simple random

sampling untuk menentukan RT yang akan disampel. Setelah itu, dengan

bantuan Ketua RT, akan diketahui siapa saja orang tua yang memiliki anak berusia 2-14 tahun yang tinggal di wilayah RT-nya, yang sesuai sebagai responden.

(12)

1.5.2 Metode Analisis

Untuk mencapai tujuan studi, metode analisis yang akan digunakan adalah metode analisis deskriptif, karena studi lebih menekankan pada pengamatan lapangan dan kajian literatur. Metode analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan ketersediaan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending. Ketersediaan ruang bermain dibagi menjadi dua bagian besar yaitu ruang bermain yang diprogramkan dan ruang bermain yang tak diprogramkan. Ketersediaan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending ini akan dinilai dari dua aspek, yaitu:

1. Kuantitas Æ Ketersediaan ruang bermain anak akan dibandingkan dengan

kebutuhan ruang bermain anak yang seharusnya disediakan di Kelurahan Cigending. Variabel penilaian kesesuaian ketersediaan yang digunakan adalah luas lahan dan jumlah ruang.

2. Kualitas Æ Kondisi ruang bermain anak dinilai berdasarkan kriteria

penyediaan sarana bermain anak pada ruang terbuka.

ƒ Terdapat lima kriteria utama yang harus dipenuhi dalam penyediaan sarana bermain anak. Kelima kriteria tersebut terdiri dari empat indikator yang digunakan untuk menilai pemenuhan masing-masing kriteria. Dari kelima kriteria terdapat dua kriteria yang wajib dipenuhi yaitu kriteria keamanan dan keselamatan. Untuk mengukur tingkat kesesuaian kedua kriteria ini digunakan ketentuan sebagai berikut.

9 Sesuai Æ 4 indikator terpenuhi

9 Tidak sesuai Æ jika memenuhi < 4 indikator

ƒ Dua kriteria lainnya, aksesibilitas dan kesesuaian fungsi, memiliki bobot lebih rendah sehingga ketentuan penilaiannya adalah sebagai berikut.

9 Sesuai Æ minimal 3 indikator terpenuhi 9 Kurang sesuai Æ jika memenuhi 2 indikator 9 Tidak sesuai Æ jika memenuhi < 2 indikator

(13)

13

ƒ Kriteria kenyamanan memiliki bobot penilaian yang paling rendah sehingga ketentuannya adalah sebagai berikut.

9 Sesuai Æ minimal 2 indikator terpenuhi 9 Kurang sesuai Æ jika memenuhi 1 indikator 9 Tidak sesuai Æ jika memenuhi 0 indikator

Metode analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan pemanfaatan ruang bermain ditinjau dari dua aspek, yaitu:

1. Karakteristik pengguna a. Usia

b. Jenis kelamin

c. Asal tempat tinggal d. Jenis pekerjaan orang tua 2. Karakteristik penggunaan

a. Waktu kunjungan b. Frekuensi kunjungan

c. Aktivitas yang dilakukan d. Bentuk permainan

Data yang digunakan dalam analisis pemanfaatan ini diperoleh dari hasil observasi, wawancara pengguna tempat bermain dan hasil wawancara (kuesioner) orang tua yang memiliki anak berusia 2-14 tahun. Salah satu tujuan dari analisis pemanfaatan ini adalah untuk meninjau efektivitas ruang dalam memenuhi fungsinya sebagai tempat bermain. Yang dimaksud dengan efektif dalam hal ini adalah sejauh mana sebuah ruang dimanfaatkan dengan baik oleh penggunanya sebagai tempat bermain. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pengunjung yang datang untuk melakukan aktivitas di ruang tersebut, dominasi usia pengguna, frekuensi kunjungan dan aktivitas apa yang sering dilakukan di ruang tersebut.

Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam studi ini adalah sebagai berikut: 1. Mengkaji teori perkembangan anak untuk mengetahui pentingnya bermain bagi

anak. Hasil kajian ini bertujuan pula untuk melihat bagaimana kebutuhan bermain bagi anak ini diakomodasi dalam penataan ruang perkotaan Æ tinjauan penyediaan sarana bermain anak dari aspek planologi

(14)

2. Mengidentifikasi standar dan kriteria penyediaan serta merumuskan konsep pemanfaatan ruang bermain anak dalam lingkup perencanaan kota.

3. Menghitung ketersediaan ruang bermain anak berdasarkan data sekunder dan observasi langsung

ƒ Inventarisasi ketersediaan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending 9 Ruang bermain yang diprogramkan

9 Ruang bermain yang tak diprogramkan

4. Mengidentifikasi kesesuaian ketersediaan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending dengan standar dan kriteria penyediaan yang berlaku

ƒ Ketersediaan ruang bermain anak di lapangan, baik yang terprogramkan

maupun yang tak terprogramkan, akan dibandingkan dengan jumlah ruang

bermain anak yang seharusnya tersedia berdasarkan standar.

ƒ Kondisi ruang bermain anak, baik yang terprogramkan maupun yang tak

terprogramkan, dinilai berdasarkan kriteria penyediaan sarana bermain anak

pada ruang terbuka menurut literatur dan hasil wawancara psikolog anak. 5. Mengidentifikasi pemanfaatan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending

dengan melakukan observasi dan wawancara sebagai pendukung. Identifikasi pemanfaatan ini bertujuan untuk menilai efektivitas penggunaan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending. Analisis pemanfaatan ini akan dikaji berdasarkan: ƒ Karakteristik pengguna. Dinilai berdasarkan usia, jenis kelamin, jenis

pekerjaan orang tua untuk menggambarkan latar belakang ekonomi keluarga dan asal tempat tinggal.

ƒ Karakteristik penggunaan. Dinilai beradasarkan waktu kunjungan, aktivitas apa saja yang dilakukan di ruang bermain anak, apa bentuk permainan yang sedang dilakukan.

6. Mengidentifikasi preferensi orangtua terhadap ketersediaan ruang bermain di lingkungannya sebagai informasi pendukung bagi rekomendasi penyediaan

7. Menyusun kesimpulan dan rekomendasi penyediaan ruang bermain anak di lingkungan permukiman Kelurahan Cigending.

(15)

15

TABEL 1.2

METODOLOGI PENELITIAN

No Tahapan Studi Data yang

Dibutuhkan

Teknik Pengumpulan

Data Analisis Output

1. Mengidentifikasi kebutuhan anak terhadap tersedianya sarana bermain anak di ruang terbuka berdasarkan teori perkembangan anak

Teori dan studi mengenai: ƒ Pengertian anak ƒ Pengertian bermain ƒ Pentingnya bermain bagi perkembangan anak Studi literatur : ƒ Hurlock,1978, Child Development ƒ Gunarsa, 1983, Psikologi Perekembangan Anak dan Remaja ƒ Kartono, 1979, Psikhologi Anak ƒ UU RI No.23/2002 Wawancara dengan psikolog anak ƒ Dr. Juke R. Siregar, M.Pd Content Analysis ƒ Definisi Anak dan Bermain ƒ Gambaran besarnya kebutuhan anak akan bermain 2. Mengidentifikasi standar dan kriteria penyediaan serta merumuskan konsep pemanfaatan ruang bermain anak dalam lingkup perencanaan kota ƒ Kebijakan dan peraturan mengenai standar penyediaan fasilitas sosial ƒ Teori dan studi

mengenai kriteria penyediaan sarana bermain anak pada ruang terbuka Studi literatur : ƒ Kepmen PU No.378/KPTS/1987 ƒ Pedoman Perencanaan Lingkungan Permukiman Kota Dep.PU, 1983 ƒ SNI 03-1733-2004 Tata Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan ƒ SNI 03-6981-2004 ƒ Play for All Guidelines

(Moore, 1992) ƒ SPG9 Public Outdoor

Playing Space, Hambleton District Council ƒ Gede Budi (2007) ƒ Persada (1989) ƒ Zara (2002) Content Analysis ƒ Standar ukuran penyediaan sarana bermain anak di lingkungan permukiman di perkotaan ƒ Kriteria penyediaan sarana bermain anak pada ruang terbuka

ƒ Teori dan studi mengenai pemanfaatan fasilitas Studi literatur : ƒ Rusdaryanto dan Dirgantara (1997) ƒ Smith (1989), Tourism Analysis-A Handbook Content Analysis ƒ Konsep pemanfaatan fasilitas 3. Menginventarisasi ketersediaan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending

Jumlah ruang bermain anak yang tersedia di Kelurahan Cigending: ƒ Ruang Terprogram o taman lingkungan ƒ Ruang Tak Terprogramkan o halaman pakir o lapangan olah raga o tanah kosong, dll

Survey data sekunder ke Kelurahan Cigending

ƒ Profil Kelurahan Cigending, 2007 ƒ Daftar Isian Potensi

Kelurahan Cigending, 2006 Observasi langsung Wawancara Ketua RW Metode analisis deskriptif (teknik analisis gabungan hasil survey sekunder , observasi dan wawancara)

Jumlah dan lokasi ruang bermain anak yang tersedia di Kelurahan Cigending

(16)

No Tahapan Studi Data yang Dibutuhkan

Teknik Pengumpulan

Data Analisis Output

4. Mengidentifikasi kesesuaian ketersediaan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending dengan standar dan kriteria penyediaan yang berlaku ƒ Standar penyediaan sarana bermain anak yang berlaku

ƒ Output tahapan 2 Metode analisis deskriptif Nilai kesesuaian ruang bermain dengan standar penyediaan yang berlaku ƒ Inventarisasi ruang bermain anak di Kelurahan Cigending ƒ Output tahapan 3 ƒ Karakteristik kependudukan Kelurahan Cigending

Survey data sekunder ke Kelurahan Cigending

ƒ Profil Kelurahan Cigending, 2007 ƒ Daftar Isian Potensi

Kelurahan Cigending, 2006 ƒ Nilai kesesuaian kriteria berdasarkan observasi ƒ Observasi Kesesuaian Kriteria Metode analisis deskriptif Nilai kesesuaian kondisi ruang bermain dengan kriteria penyediaan sarana bermain pada ruang terbuka 5. Mengidentifikasi pemanfaatan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending ƒ Karakteristik pengguna ruang bermain anak ƒ Karakteristik penggunaan ruang bermain anak Observasi ƒ Jumlah pengguna

berdasarkan jenis kelamin dan usia

ƒ Ragam aktivitas yang sedang dilakukan ƒ Bentuk permainan Wawancara pengguna ruang bermain (anak 4-14 tahun)

ƒ Usia

ƒ Asal/tempat tinggal ƒ Jenis pekerjaan orang tua ƒ Waktu dan frekuensi

kunjungan Metode analisis deskriptif (teknik analisis gabungan hasil observasi dan wawancara) ƒ Pemanfaatan (efektivitas penggunaan) ruang bermain anak yang tersedia di Kelurahan Cigending Wawancara warga (orangtua yang memiliki anak 2-14 tahun)

ƒ Karakteristik bermain anak ƒ Preferensi mengenai ketersediaan ruang bermain anak di lingkungannya Metode deskriptif kuantitatif ƒ Preferensi orangtua terhadap ketersediaan ruang bermain di lingkungan tempat tinggalnya

(17)

17

1.6 Sistematika Penulisan

Studi ini akan disajikan dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan

Bab ini merupakan bagian awal dari pembahasan studi yang berisikan latar belakang studi, perumusan masalah, ruang lingkup materi dan wilayah studi, metodologi serta sistematika penulisan yang digunakan.

BAB II Tinjauan Kebutuhan Dan Penyediaan Sarana Bermain Bagi Anak

Bab ini membahas tentang teori-teori dan kebijakan yang mendukung studi ini, yaitu mengenai kebutuhan dan penyediaan sarana bermain anak ditinjau dari aspek psikologi dan planologi. Termasuk di dalamnya standar-standar yang digunakan dalam penyediaan sarana bermain anak pada ruang terbuka yang berlaku saat ini.

BAB III Gambaran Umum Wilayah Studi

Bab ini berisikan gambaran umum Kelurahan Cigending sebagai objek studi. Di dalamnya dipaparkan tentang komposisi penduduk, karakteristik sosial ekonomi penduduk, pola penggunaan lahan dan gambaran ketersediaan ruang bermain anak serta karakteristik bermain anak-anak di Kelurahan Cigending.

BAB IV Ketersediaan dan Pemanfaatan Ruang Bermain Di Kelurahan Cigending

Pada bab ini dilakukan identifikasi ketersediaan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending. Identifikasi ketersediaan akan menghitung ketersediaan ruang bermain anak dibandingkan dengan standar dan kriteria yang berlaku. Pada bab ini juga akan diidentifikasi mengenai pemanfaatan ruang bermain anak yang ada saat ini.

BAB V Kesimpulan Dan Rekomendasi

Bab ini berisikan kesimpulan yang merupakan hasil temuan studi serta beberapa rekomendasi dan usulan studi lanjutan.

(18)

Perkembangan kota yang pesat dan tak terkendali

Perencanaan dan pembangunan yang tidak memperhatikan hak anak

Banyak terjadinya perubahan fungsi lahan

Kebutuhan bermain anak yang tinggi ƒ Emosional

ƒ Sosial ƒ Motorik ƒ Kognitif

Terbatasnya kesediaan ruang terbuka publik

Belum teridentifikasinya ruang yang biasa digunakan anak untuk bermain beserta karakteristiknya di Kelurahan Cigending

Ruang Bermain yang Diprogramkan

Ruang Bermain yang Tak Diprogramkan

Latar Belakang

Rumusan Masalah

Mengidentifikasi ketersediaan dan pemanfaatan ruang bermain anak di Kelurahan Cigending

Tujuan Studi

Identifikasi Ketersediaan dan Pemanfaatan Ruang Bermain Anak di Kelurahan Cigending sebagai bahan pertimbangan optimasi penyediaan

tempat bermain anak di Kelurahan Cigending

Analisis Ketersediaan Pemanfaatan Kuantitas Kualitas Karakteristik Pengguna Karakteristik Penggunaan ƒ Standar dan kriteria penyediaan ƒ Observasi Ketersediaan Pemanfaatan Kuantitas Kualitas Karakteristik Pengguna Karakteristik Penggunaan

Preferensi orangtua terhadap ketersediaan ruang bermain anak di lingkungannya

Kesimpulan dan Rekomendasi

ƒ Observasi ƒ Wawancara

Referensi

Dokumen terkait

participants in the chain can access the data in real time and can validate which increases trust between parties, our blockchain &amp; IoT based food supply chain system

Disamping itu pada kondisi pemeliharaan ayam buras saat ini dimana peternak sudah melaksanakan pemeliharaan di kandang batere untuk tujuan memproduksi telur konsumsi, maka dengan

Promosi menurut A.Hamdani dikutip oleh Danang Sunyoto (2012:154) adalah salah satu variabel dalam bauran pemasaran yang sangat penting dilaksanakan oleh

Sedangkan, pada bagian belakang kartu matching cards menggunakan warna kontras dari biru tua yaitu merah marun dengan warna emas yang melambangkan pekerjaan

Selanjutnya akan diminta konfigurasi sistem untuk Compiere, bila tidak ada perubahan silahkan klik klik tombol tanda centang berwarna hijau yang terletak di sebelah pojok kanan

Penilaian kinerja merupakan proses di mana organisasi berupaya memperoleh informasi yang akurat tentang kinerja para anggotanya.Penilaian kinerja karyawan yang

Setelah dilakukan serangkaian anailisis statistika pada data pesepsi ten- tang tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan konsumen terhadap produk obat sakit kepala ayng beredar

Faktor ekonomi (luas lahan, jumlah tanggungan, ketersediaan tenaga kerja dalam keluarga dan pendapatan diluar usahatani kopi) lebih berpengaruh besar dengan nilai