• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. STUDI LITERATUR DAN IDENTIFIKASI DATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. STUDI LITERATUR DAN IDENTIFIKASI DATA"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

2. STUDI LITERATUR DAN IDENTIFIKASI DATA

2. 1. Studi Literatur

2.1.1. Promosi

Menurut Philip Kotler, promosi adalah salah satu dari empat unsur utama marketing mix perusahaan yang terdiri dari pesan-pesan perusahaan yang didesain untuk menstimulasi terjadinya kesadaran (awareness), kemudian berujung pada ketertarikan (interest), dan berakhir dengan tindakan pembelian (purchase) yang dilakukan oleh pelanggan terhadap produk/ jasa perusahaan (202). Dapat dikatakan juga sebagai arus informasi atau persuasi satu-arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran. Promosi sangat dibutuhkan dalam strategi pemasaran, mengingat perlunya kita untuk menanamkan brand yang telah diciptakan ke dalam benak masyarakat. Salah satu sarana promosi utama selain periklanan dan promosi penjualan adalah publisitas. Publisitas, seperti yang dituturkan Philip Kotler, adalah:

“perolehan ruang editorial, sebagai yang terpisah dari ruang iklan, pada semua media yang dibaca, ditonton, atau didengar oleh pelanggan atau calon pelanggan perusahaan, dengan tujuan khusus untuk membantu tercapainya sasaran penjualan”. Publisitas digunakan untuk mempromosikan merek, produk, orang, tempat, gagasan, kegiatan, organisasi, dan bahkan negara. Publisitas adalah bagian dari sebuah konsep yang lebih luas, yakni hubungan masyarakat (humas) (245-246).

Saluran komunikasi pribadi dapat berfungsi sebagai jalur promosi yang tepat untuk promosi yang kuat. Saluran komunikasi pribadi melibatkan dua orang atau lebih yang berkomunikasi secara langsung. Komunikasi yang terjadi di dalamnya dapat berupa komunikasi yang terjadi secara tatap muka (tidak melalui media) dan komunikasi melalui media (misalnya telepon, direct mail, e-mail, internet, dsb). Saluran komunikasi pribadi dapat berupa saluran penganjuran, saluran ahli, dan saluran sosial. Saluran penganjuran adalah saluran langsung antara produsen dan konsumen. Saluran ahli terdiri dari orang-orang bebas yang memiliki keahlian dalam membuat pernyataan yang ditujukan kepada pembeli

(2)

sasaran. Saluran sosial merupakan pengaruh tutur-kata dan merupakan imbauan yang paling kuat pengaruhnya untuk berbagai jenis produk, terutama untuk kategori produk yang mahal dan mengandung resiko. Dalam saluran sosial ini, perusahaan dapat melakukan beberapa upaya untuk mendorong tindakan promosi. Antara lain dengan menggunakan orang-orang yang berpengaruh untuk memberikan pujian/ penghargaan dalam iklan-iklannya, bekerja sama dengan orang-orang yang berpengaruh/ berwibawa dalam masyarakat, dan mengembangkan iklan yang mempunyai “nilai percakapan” yang tinggi (Kotler 186-7). Tindakan tersebut dapat mempengaruhi prestige sebuah brand dalam benak masyarakat, dan dapat menjadikannya bernilai eksklusif.

2.1.2. Brand

Brand merupakan sesuatu yang melekat dalam benak masyarakat, dan merupakan sesuatu yang mengiringi kehidupannya sehari-hari. Brand yang baik tidak begitu saja lahir/ diciptakan. Dalam perjalanannya menuju puncak awareness masyarakat, pencipta brand tersebut harus memikirkan strategi yang tepat untuk memperkenalkannya ke masyarakat, membuat masyarakat merasa tertarik tentangnya, membuat masyarakat ingin mencobanya, dan kemudian membuat masyarakat menjadi konsumen yang loyal. Menurut Andi S. Boediman, brand merupakan ‘good feeling’ kita tentang suatu produk, bukan apa yang yang ingin diungkapkan oleh pemilik brand, tetapi persepsi dari konsumen tentang brand (2). Pernyataan ini ditegaskan oleh Blair, Armstrong, dan Murphy “the word “brand” bassicaly denotes a sign of ownership, and is commonly called a “trustmark” (3). Konsep tersebut menjelaskan bahwa brand merupakan kata kerja (verb), bukan kata benda (noun). Karena brand bukan ada karena diciptakan oleh produsen, melainkan tumbuh dengan sendirinya dalam benak konsumen karena telah tercipta “kepercayaan/ trustmark” yang begitu dalam. Sebuah brand yang baik dan besar haruslah:

• Menanamkan nilai yang berguna dalam experience khalayak sasaran, berdasarkan esensi produk yang kuat,

• Dibangun dari kepercayaan publik,

(3)

• Mengolah gaya yang konsisten dan nilai-nilai produk yang dapat menyesuaikan diri dengan jaman dan sesuai dalam berbagai media,

• Menunjukkan hubungan yang kuat dalam marketing mix-nya,

• Mempertahankan wajah yang tetap segar, tidak ketinggalan jaman, dan tetap dikenal oleh masyarakat,

• Positif, optimistik, dan otomatis meningkatkan semangat konsumennya, • Konsisten dalam segala hal dalam caranya menghantarkan brand experience, • Memperbolehkan khalayak sasaran untuk merancangkan dirinya pada brand

(Blair, Armstrong, and Murphy 6.)

2.1.3. Khalayak Sasaran dan Konsumen Sasaran

Khalayak sasaran (target audience) adalah masyarakat potensial yang dituju dengan ditentukan dan dipilih oleh produsen sesuai dengan konsep pasar untuk mengkonsumsi produk perusahaan. Konsumen sasaran (target market) adalah pasar sasaran ditambah faktor-faktor di sekitarnya untuk mempengaruhi pasar sasaran dalam mengambil keputusan.

2.1.4. Kartun dan Karikatur

Cartoon [Ital., cartone =paper], either of two types of drawings: in the

fine arts, a preliminary sketch for a more complete work; in journalism, a humorous or satirical drawing (“Cartoon”, par. 2).

Caricature (It. caricare, load or surcharge) Painting or drawing in

which a person is presented in a comic, often ridiculous, light by distorting their features. Caricature may be used to interpret the character of a person, event or age. The genre first appeared in the late 16th century. Hogarth attempted to distinguish between depicting character and comic likeness, but the two traditions merged. In the 20th century, many popular graphic artists have combined caricature with social and political satire, and today most political cartoons are caricatures ("Caricature", par. 2).

Tujuan utama sebuah karya kartun adalah untuk memancing gelak, minimal senyum. Kartun menyuguhkan segi lain dari objektivitas sehingga ia menjadi akrab dan merangsang tawa. Sebuah karya kartun menciptakan

(4)

peristiwa-peristiwa yang potensial lucu menjadi gambar yang benar-benar lucu. Bahkan terkadang menyuguhkan surprise, yaitu ketika ia mengubah hal-hal yang tak lucu menjadi lucu. Karikatur dan kartunis menjadi semacam medium untuk mengungkap jarak antara suatu peristiwa dengan keterlibatan seseorang atau banyak orang dalam peristiwa itu. Karya kartun tidak menuntut pertobatan, baik pada awalnya atau akhirnya. Ia hanya menuntut kita untuk menghidupkan hati nurani kita. Ia mungkin mengusulkan penglihatan terhadap sesuatu soal dalam masyarakat secara tajam. Goresan karikatural yang menonjol dengan uraian gambar tentang peristiwa tertentu dipelesetkan ke arah yang bisa membuat rasa lucu kita terangsang (Pramono).

Dalam buku Reformasi karya GM Sudarta, Jakob Oetama dalam kata pengantarnya menjelaskan:

Sudah sejak cukup awal, abad ke-18, karikatur dan atau kartun dikenal sebagai lahan kreativitas seniman dan karena sejak semula dimuat di penerbitan, bisa diperdebatkan, kartunis itu seniman atau wartawan atau seniman-wartawan. Kartunis dikategorikan wartawan mungkin lebih karena karya kartunis aktual, seperti karya wartawan lainnya. Kelebihan dan kekhasan kartun atau karikatur adalah mau tidak mau visual, padat, berunsur satire, ada kejelian, ada kecenderungan berlebihan, mengemukakan atau mengeksploitasi segi-segi tertentu yang khas dan menarik. Ada unsur kritik, memperolok, mengajak bercanda dan jika berhasil ada faktor surprise, sesuatu yang oleh kita umumnya, tidak terbayangkan. Bila kartun dibukukan, ada kesempatan bagi khalayak untuk menikmati lagi, membuat identifikasi-identifikasi lagi, membaca riwayat bahkan sejarah. Sebab bahan yang dikarikaturkan adalah bahan yang dipilih, sosok, kejadian, dan permasalahan yang dipilih (viii-ix). Pertimbangan dalam menyeleksi satu dari bermacam-macam sosok, kejadian, dan permasalahan adalah dipilih yang mempunyai peranan dan yang mempunyai makna serta dampak pengaruh karena memiliki makna untuk proses menjadi sejarah. Namun ada dua jenis kartun. Yakni kartun humor (gag cartoon) dan kartun editorial. Dari muatannya terlihat jelas bahwa kartun humor atau gag cartoon sarat dengan muatan humor. Apa yang ditampilkan semata-mata hanya

(5)

bertujuan untuk membuat orang tertawa atau minimal tersenyum, dan tanpa pernah bermaksud menghina, atau pun mengkritik siapa-siapa. Kartun atau karikatur yang merupakan versi lain editorial mengandung unsur-unsur berupa gambar, humor, dan kritik. Oleh karena itu seorang kartunis editorial harus memiliki keterampilan menggambar, harus memiliki wawasan yang luas, memiliki kepekaan rasa yang prima, serta memiliki rasa humor yang kompeten/ memadai (Gung Man 3-4). Kartun atau karikatur yang diciptakan tidak boleh terikat oleh kekuatan politik tertentu, berdiri hanya pada pihak yang lemah dan benar. Sifat-sifat kartun atau karikatur yang lain adalah sebagai perekam sejarah/ cermin sejarah, tidak terlepas dari muatan opini dan kritik terhadap situasi suatu negara, mencerminkan wajah kehidupan demokrasi, bisa membawa permasalahan yang sedang hangat ke permukaan dengan sarat komentar, kritik, dan saran yang disampaikan secara humoris. Karena gambar lebih menarik daripada huruf, diharapkan dapat menarik animo masyarakat, sehingga tercipta dialog dalam masyarakat dan diharapkan pula ada perbaikan. Karena kritik karikatur mengemban misi perbaikan. Karikatur ala Indonesia mengandung senyum untuk tiga hal:

• Senyum untuk yang dikritik supaya tidak marah dan mau berdialog, • Senyum untuk masyarakat yang terwakili aspirasinya,

• Senyum untuk karikaturisnya karena tidak ada rasa takut dipenjarakan (GM Sudarta xiii-xv).

2.1.5. Sejarah Perkembangan Kartun di Indonesia

Sekitar tahun 1980-an dunia kartun di Indonesia mencapai puncak keemasannya. Hampir sebagian besar media cetak yang ada di Jakarta menyediakan halamannya untuk diisi gambar kartun. Malahan ada majalah yang khusus memuat tentang humor yang didominasi gambar kartun yang terbilang cukup lama bertahan hidup. Hal itu kemudian mendorong lahirnya banyak kartunis muda potensial dari berbagai daerah. Mereka beramai-ramai mengirim karya kartunnya ke media cetak yang pada masa itu kebanyakan terbit di Jakarta. Awalnya mereka melakukan itu sendiri-sendiri, namun pada kelanjutannya mereka mulai membentuk kelompok. Lahirlah kemudian perkumpulan kartunis di

(6)

kota Semarang yang bernama Secac, kemudian disusul dengan Pakyo di Yogyakarta, Kokkang di Kaliwungu, Pakarso di Solo, Perkara di Jakarta, Ikan Asin di Banjarmasin, dan Pertamor pimpinan Jaya Suprana, untuk menyebut beberapa di antaranya. Adalah kartunis senior Pramono yang menaruh perhatian serius terhadap perkembangan dunia kartun di Indonesia. Didukung Ismail Saleh yang menjabat sebagai Menteri Kehakiman pada waktu itu, diadakan Mubes Kartunis se-Indonesia di Ancol pada tahun 1989. Saat itu, kartunis dari Bali yang hadir dalam Mubes tersebut adalah Wied.N. Selama tiga hari berdiskusi dan makan gratis serta menginap di Graha Pemuda, akhirnya dalam keputusan akhir di Galeri Ancol disepakati kartunis Indonesia bernaung di satu wadah yang diberi nama Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti) yang diketuai oleh Pramono dan Ismail Saleh duduk sebagai pembina.

Ketika itu dirancang juga ke depan, Pakarti akan berperan sebagai sindikasi untuk kartunis di seluruh Indonesia. Puluhan kartunis yang hadir pada hajatan itu di antaranya adalah Gesi Goran, Nurjito, Non-O, Koesnan Hoesi, Uzie, Ramli Badrudin, Dwi Koendoro, GM Sudarta, Pei'i, Nasir, Najib, Itos Budi Santoso, Subro, Dudy, Agung Kartika, Munadi, dan Loekis.

Di Bali sendiri kemudian dibentuk wadah untuk kartunis, sesuai dengan amanat dari Pakarti pusat. Pada waktu itu rapat dilaksanakan di rumah Jango Pramartha, dengan menghadirkan beberapa kartunis di antaranya Gus Martin, Wied.N., Surya Darma, Dechi, Tu Suaria, Chy Wan, Made Ada, dll. Dalam rapat disepakati yang duduk sebagai ketua adalah Gus Martin, dengan nama kelompok Pakarti Bali. Beberapa kali mereka sempat mengadakan pameran kartun bersama. Namun sayang pada akhirnya kelompok ini menjadi kurang jelas keberadaannya.

Kalau mau dirunut jalannya sejarah kartun di Bali 25 tahun ke belakang, koran Bali Post boleh jadi merupakan bidan plus bapak angkat dari kebanyakan kartunis Bali yang dikenal dewasa ini. Koran tertua dan terbesar di Bali yang dipimpin oleh K. Nadha (alm.) ini, setidaknya telah melahirkan dan kemudian langsung memelihara para kartunis sampai menjadi besar dan kemudian lepas mandiri. Nama-nama Wied.N, Gus Martin, Armin Jaya, Made Surita, Lolec, Mahadewa, Surya Darma, Made Ada, Boping, Jango Pramartha, Cece Riberu, Tu

(7)

Suaria, Chy Wan, Dechi, Gun Gun, Susana, Kardi, De Wid, Kompes, Suma, Nicko Wiryawan, Agus Harsanta, dan Dedok, adalah beberapa nama di antaranya. Pada era 1980-an di Bali pun terjadi boom kartunis. Ini dipicu oleh koran Bali Post edisi Minggu yang kala itu menyediakan satu halaman penuh untuk rubrik kartun dan komik. Adalah Widminarko dan Nariana yang menaruh perhatian dan minat yang sangat besar pada dunia kartun dan komik. Nariana malah sering memotivasi kartunis pemula pada waktu itu untuk terus menggambar dan mengirim karya-karyanya ke redaksi Bali Post.

Beberapa kali kartunis diundang ke Bali Post untuk sekadar bincang-bincang masalah kartun dan komik. Apabila kartunis ada yang memiliki ide tentang suatu rubrik, maka Widminarko dengan senang hati akan mendengarkan ide-ide dari kartunis bersangkutan, dan kemudian memberikan saran dan masukan, untuk selanjutnya mewujudkan ide kartunis tersebut kalau memang dinilai bagus.

Kemudian Lolec yang waktu itu menjadi kartunis tetap di Bali Post berinisiatif untuk merangkul semua kartunis Bali dan kemudian mengadakan pameran kartun bersama yang spektakuler di Taman Budaya, Denpasar, dengan dukungan dana dari Bali Post. Barangkali itulah pameran kartun "terbesar dan terhebat" yang pernah digelar di Bali. Terbesar dalam jumlah kartunis dan karyanya, serta terhebat dalam jumlah pengunjungnya.

Kini di era reformasi, dimana penerbitan pers jumlahnya makin banyak, justru kapling untuk kartun semakin sedikit. Redaksi media cetak sepertinya sudah tidak memerlukan hal-hal lucu dari para kartunis, mengingat belakangan ini justru para pejabat dan elite politik kelakuannya sudah lucu-lucu semua.

Penyempitan lahan ini tentu saja berpengaruh pada perkembangan dunia kartun dan kelahiran kartunis generasi baru. Kartunis lama yang berbekal pengalaman masih tetap mendominasi halaman media cetak yang masih menyediakan sedikit halaman untuk kartun. Jelas saja begitu, karena di era kebebasan ini dan juga akibat sempitnya lahan untuk gambar kartun, terjadi persaingan yang seru antara kartunis pemula dengan seniornya (Gung Man 13-21).

(8)

2.1.6. Kartun Sebagai Lahan Bisnis

Dalam artikel Darminto M. Sudarmo, kartun saat ini telah merambah berbagai macam media, dan menjadi salah satu komoditi bisnis yang segar dan menguntungkan, terutama bagi industri pariwisata.

Sementara itu dari sisi lain, kartun juga dapat menjadi salah satu elemen inti bisnis cinderamata seperti t-shirt, mug, tas, boneka dan lain-lain. Perannya bukan saja sebagai ilustrasi andalan, namun juga dapat menjadi ciri lain dari sebuah jejak budaya. Taruhlah seperti Dagadu, yang mengeksplorasi Yogyakarta secara unik dan tiada duanya. Di Bali, Tony Tantra pernah menyentuh Bali lewat t-shirt secara berani, sehingga menyeretnya berurusan dengan rezim yang berkuasa pada saat itu (Orde Baru); di Bali juga ada nama Joger, Bog-Bog, Jangkrik dan lain-lain yang kini tampak semarak dalam kompetisi maupun upaya eksplorasinya. Sementara di Bandung, ada memang produk t-shirt C59 yang pernah cukup kesohor; tapi siapa tak kenal Red Rocket dan lain-lainnya? Produk desain kartun atau animasi dalam bentuk yang lebih intensif dan sudah menjelajah ke sektor-sektor yang sangat serius. Maksudnya, sangat jelas, urusan bisnisnya (8).

2. 2. Identifikasi Data Perusahaan

2.2.1. Latar Belakang Lebah T-shirt

Latar belakang diberdirikannya Lebah T-shirt cukup unik. Pemilik Lebah T-shirt mendirikannya karena prihatin pada nasib kartunis yang hanya bisa berekspresi di ruang terbatas di media massa. Oleh karena itu, kebanyakan pengerjaan eksekusi desain visualnya bergantung pada desainer yang di-outsource. Desainernya bisa kartunis hingga pelukis yang berkelas internasional dengan konseptor yang adalah pemilik Lebah T-shirt.

Konsep dasar visual Lebah T-shirt adalah menyumbangkan pemikiran-pemikiran cerdas yang berkaitan dengan penyadaran masyarakat pada persoalan-persoalan di dalamnya. Namun tetap pada koridor kartunal, karikatural, serta humoral (humor yang bermoral). Tetapi terkadang juga menghadirkan tema-tema yang menghibur. Nama Lebah yang itu sendiri dipilih karena lebah merupakan

(9)

serangga yang bersih, hanya makan nektar dari bunga-bunga, dan senantiasa menyumbangkan banyak hal yang baik. Seperti membantu penyerbukan untuk tumbuhan, menghasilkan madu yang berguna bagi kesehatan manusia, dan sebagainya.

Visi dan misi dari Lebah T-shirt adalah ingin menghibur masyarakat dan dengan cerdas ingin menyajikan persoalan-persoalan/ realita dalam masyarakat secara kartunal, karikatural, dan humoral.

2.2.2. Data Perusahaan

Nama perusahaan: Bali Corner

Pengelola perusahaan: Hartanto Yudo Prasetyo dan Landra Produk-produk yang dipasarkan: t-shirt, mug, pin, notes

Potensi perusahaan: Perusahaan ini akan berkembang dari perusahaan yang

memproduksi t-shirt, menjadi perusahaan yang lebih luas cakupan produksinya, yakni berbagai macam merchandise dan aksesoris. Perusahaan ini berpotensi menjadi salah satu produk budaya Bali. Lebah T-shirt dapat diposisikan sebagai ikon wisata bali yang berwujudkan t-shirt kartun yang cerdas dalam menghantarkan sebuah wacana sosial.

(10)

Denah perusahaan:

Gambar 2.1. Denah lokasi perusahaan Lebah T-shirt (penampakan Jl. Teuku Umar dan Jl. Diponegoro sebagai jalan utama untuk mempermudah)

Sumber: Tele Atlas Google Earth 2009

Gambar 2.2. Denah lokasi Lebah T-shirt (lebih dekat) Sumber: Tele Atlas Google Earth 2009

(11)

2.2.3. Data Produk

2.2.3.1. Jenis Produk

Jenis produk yang dipasarkan antara lain t-shirt, pin, mug, dan notes. Tetapi untuk mug dan notes sementara ini hanya berfungsi sebagai gimmick/ bonus dan sebagai bagian dari promosi, tidak diperjualbelikan.

2.2.3.2. Nama brand/ Merek

Lebah T-shirt dan Junta Kata (akan segera diluncurkan). Lebah T-shirt merupakan merek t-shirt yang berisi wacana sosial yang disajikan dengan visual gambar yang menarik, bersifat karikatural, kartunal, dan humoral. Sedangkan Junta Kata merupakan merek t-shirt yang berisi wacana juga, tetapi disajikan dengan visual berupa tulisan dan sedikit gambar.

2.2.3.3. Spesifikasi produk

T-shirt dibuat dengan ukuran S, M, L, XL, dan XXL dengan mengikuti ukuran standar Amerika. Teknik cetak menggunakan sablon dengan variasi warna kurang lebih 5 hingga 7 warna. Bahan yang digunakan dan bentuknya mengikuti standar t-shirt (tanpa variasi). Untuk poli t-shirt, logo Lebah dan gambar kartun diaplikasikan dengan menggunakan bordir dengan warna yang terbatas antara 2 hingga 3 warna. Warna polo t-shirt sementara hitam dan abu-abu.

Pin ukurannya berdiameter 44 mm dan 58 mm. Kedua media tersebut berisikan gambar/ desain karakter-karakter kartun yang dibeli dari kartunis-kartunis yang sebelumnya telah diberi wacana/ konsep oleh owner Lebah.

2.2.3.4. Harga produk:

• Kaos anak-anak (putih): Rp 65.000 • Kaos anak-anak (warna): Rp 69.000

• Kaos dewasa (putih): Rp 88.000 - Rp 91.000 • Kaos dewasa (warna): Rp 99.000

(12)

• Kaos polo (gambar dibordir): Rp 147.000 • Pin (44 mm dan 58 mm): Rp 15.000 2.2.3.5. Positioning Produk

Lebah memiliki personal statement yang cukup menarik yakni, “we learn art not because we want to be an artist, but because we are part of human being.” Untuk menghibur masyarakat dan dengan cerdas menyajikan persoalan-persoalan realita dalam masyarakat dengan desain yang berwacana, kartunis, dan humoral (humor yang bermoral). Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk menyajikan juga desain-desain yang hanya bersifat ‘indah di mata’/ reguler dan tidak mengandung wacana. Karena terkadang harus mengikuti tuntutan pasar. Karakter-karakter kartun yang telah ada, yang mengandung wacana dan yang reguler tadi, terkadang dipetik, digabungkan, kemudian dibentuk menjadi desain baru dengan menambah atau mengurangi elemen-elemen desain tertentu. Untuk karakter desainnya sendiri, kental dengan humor yang di dalamnya terselip wacana yang mengkritik keadaan sosial nasional masa kini. Desain-desainnya juga banyak dikaitkan dengan budaya Bali karena Bali merupakan base Lebah. Budaya yang dimaksud seperti penggunaan beberapa istilah berbahasa Bali, kemudian penggunaan semiotika visual yang mewakili budaya Bali yang dikenakan oleh karakter kartun Lebah (pakaian, aksesoris, habbit, kegiatan masyarakat, dsb). Per desain biasanya diproduksi antara 200 hingga 300 pieces. Namun diteliti juga desain mana yang berhasil menguasai pasar dan yang mana yang tidak berhasil. Nantinya, desain yang berhasil, akan diproduksi melebihi batas maksimum (± 300 pieces) untuk menutupi tuntutan produksi (mensubsidi) desain yang kurang berhasil.

2.2.3.6. Target Audience Produk

Wisatawan mancanegara, kalangan menengah ke atas, anak-anak hingga dewasa.

(13)

2.2.3.7. Foto Produk

(14)

Gambar 2.3. Beberapa desain kartun Lebah T-shirt (Sumber: koleksi pribadi Lebah T-shirt)

(15)

Gambar 2.4. Desain pin dan point of purchase pin Lebah

Gambar 2.5. Hang tag Lebah T-shirt

(16)

2.2.4. Data Pemasaran

2.2.4.1. Strategi Pemasaran

Strategi pemasaran yang digunakan yaitu dengan konsinyasi dengan pihak department store (Centro Bali dan Jogjakarta) dan toko-toko yang menjual berbagai macam merek t-shirt khas Bali (Bali Panugraha di Bandara Ngurah Rai-Bali, Kuta Square, Bali Color di Seminyak). Sementara ini stock terjual paling banyak di Centro Bali dan Bandara Ngurah Rai. Kurang lebih 20-30 pieces per hari pada hari biasa dan dapat mencapai 50 pieces per hari dalam peak season. Omzet per hari mencapai 1,5 hingga 2 juta rupiah. Rencana pemasaran ke depan adalah dengan membuka outlet sendiri yang terpusat di Jalan Satelit no. 17, kemudian akan ditindaklanjuti dengan bekerjasama dengan bidang jasa tours & travel. Maksudnya adalah untuk meningkatkan awareness publik, terutama publik dari mancanegara, dengan cara menjadikan pangkalan/ basis Lebah T-shirt sebagai salah satu obyek wisata dan perbelanjaan oleh-oleh Bali, kemudian jasa travel yang digunakan tersebut dapat menjadikan basis Lebah T-shirt sebagai salah satu pit-stop perjalanan mereka dalam membawa wisatawan-wisatawan asing berkeliling Bali.

Selain itu, Lebah T-shirt cukup banyak berpromosi dengan mengikuti/ mensponsori event-event di Bali. Pada tahun 2007, di Centro Bali, Lebah T-shirt mensponsori acara T-shirt Painting yang diadakan selama sebulan. Acara tersebut merupakan demonstrasi melukis t-shirt dengan mendatangkan beberapa pelukis t-shirt. Pada tahun 2007 pula di Yogyakarta, pemilik Lebah T-shirt menggagas “Lomba Mewarnai dan Melukis di Atas Kaus”, Minggu (18/11) di Centro Ambarukmo Plaza Yogyakarta. Lomba terselenggara atas kerja sama V-Art Gallery, Centro, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), dan Kompas Yogyakarta. Kegiatan ini bertemakan sosial dan diadakan dengan tema “Sayangilah Temanmu”. Pemilihan tema ini berangkat dari keprihatinan terhadap kekerasan yang kerap terjadi terhadap anak. Diadakannya lomba ini tak sekadar untuk mengumpulkan dana, tetapi juga kampanye anti kekerasan

(17)

terhadap anak. Dan, media lukis, apalagi melukis di kaus, sungguh media alternatif yang manjur.

Lebah T-shirt juga berpromosi dengan menjadi sponsorship kegiatan-kegiatan seni dan lomba klub sastra, serta pameran lukisan. Selain itu, Lebah T-shirt juga menggunakan strategi pemasaran dengan memberikan bonus (gimmick marketing). Pada tahun 2008 hingga tahun 2009, strategi gimmick marketing dijalankan, yaitu dengan memberikan bonus berupa mug (2008) dan notes (2009) setiap pembelian dua t-shirt.

Gambar 2.7. Counter Lebah di Bandara Ngurah Rai (dalam boarding room)

Gambar 2.8. Counter Lebah di Centro Kuta, Bali (Discovery Shopping Mall, lantai 2)

(18)

2.2.4.2. Wilayah Pemasaran

Wilayah pemasaran Lebah antara lain di Bali, Jogjakarta, dan Jakarta.

2.2.4.3. Potensi Pasar

Saat ini, penguasaan pasar Lebah yang terbesar adalah di Bali karena Bali merupakan basis/ pusat produksi Lebah. Khusus untuk Bali, penguasaan pasar berdasarkan geografis target market terpilah-pilah menurut musim liburan berbagai negara. Pada bulan Januari hingga Februari, wisatawan Rusia mendominasi pembelian Lebah T-shirt. Pada bulan April wisatawan Australia lebih mendominasi. Pada bulan November, Desember, hingga Januari, wisatawan lokal lebih banyak berlibur di Bali dan membuka kesempatan bagi Lebah T-shirt untuk meraup keuntungan. Berdasarkan pengamatan, rupanya wisatawan Asia kurang begitu berminat pada t-shirt ini karena harganya yang terpatok cukup mahal. Mereka mau membeli asalkan ada diskon. Pelanggan terbesar Lebah T-shirt adalah wisatawan dari Rusia, Australia, dan wisatawan lokal.

2.2.4.4. Visi dan Misi Perusahaan

Menghibur masyarakat dan dengan cerdas menyajikan persoalan-persoalan realita dalam masyarakat secara kartunal, karikatural, dan humoral (humor yang bermoral).

2.2.5. Data Komunikasi Visual yang Ada

2.2.5.1. Sarana Komunikasi Visual Eksternal

Komunikasi visual eksternal yang digunakan adalah berupa penempatan logo pada buku katalog sponsorship dan pada point of purchase pin Lebah T-shirt.

(19)

2.2.5.2. Sarana Komunikasi Visual Internal:

Sarana komunikasi visual internal yang ada berupa kop surat dan amplop untuk keperluan distribusi.

2. 3. Identifikasi Data Kompetitor (1)

2.3.1. Latar Belakang Perusahaan

Bog-Bog merupakan nama sebuah majalah bulanan khusus kartun yang lahir pada 1 April 2001. Tirasnya, sampai hari ini mencapai 10.000 eksemplar setiap bulan dengan harga eceran Rp 7.500 (Bali) dan Rp 15.000 (luar Bali). Pelanggannya bukan hanya terbatas di Bali, tetapi juga di luar Bali dan bahkan luar negeri. Tidak mengherankan, di samping Bog-Bog majalah berbahasa Inggris, juga karena gambar (kartun) adalah bahasa universal yang bisa dimengerti siapapun. Semenjak tahun 2005, Bog-Bog pun memproduksi produk baru, yakni t-shirt. Bedanya dengan Joger yang “menjual” kata-kata, Bog-Bog mengandalkan bahasa gambar berupa kartun.

Sukses tersebut tak bisa lepas dari sosok pemiliknya, Made Gede Perama Artha atau yang lebih dikenal dengan nama Jango Pramartha. Pada usia Bog-Bog yang keempat (2005), Jango memperoleh gagasan untuk juga membuka toko kaus dan cindera mata dengan merk dagang yang sama. Jango yang sarjana seni rupa itu memang sudah lama sekali menggeluti kartun. Sejak masih menjadi siswa di SMA 3 Denpasar, karya-karyanya telah sering menghiasi lembaran kartun strip di Bali Pos, surat kabar daerah terbesar di Bali.

Setahun setelah menyelesaikan kuliah sarjananya di Universitas Udayana (1991), Jango mendapat tawaran dari seorang dosen berkebangsaan Australia yang terpikat pada karya-karyanya, untuk melanjutkan studi desain grafis di negeri Kangguru. Jango pun hengkang ke sana; memilih University of Western Australia sebagai tempatnya menimba ilmu dan pulang kembali dua tahun kemudian dengan semangat berkarya yang kian besar. Ia percaya pesan dan kritik–terutama kepada para penguasa–dapat disampaikan melalui kartun. Maka lalu, ia menciptakan tokoh kartun Bali bernama Made Bogler dan menerbitkan Bog-Bog. Nama Bog-Bog diambil dari Bogler yang berarti bohong.

(20)

Made Bogler sangat populer di kalangan masyarakat Bali, khususnya para pembacanya. Janggo kerap menyisipkan kritik-kritik dan sindiran lewat tokoh kartun ciptaannya itu. Ia merespons setiap peristiwa penting yang terjadi di negeri ini, khusuanya di tanah kelahirannya, seperti saat bom Bali (2004) atau runtuhnya rezim pemerintahan Soeharto (1998). Sementara itu, di Bali Pos ia tetap mengisi rubrik kartun dengan tokoh yang berbeda, yakni Si Gug (orang yang selalu dipersalahkan).

Karena kiprah dan komitmennya yang besar terhadap seni kartun, pada tahun 2005 Jango terpilih sebagai Ketua Indonesian Cartoonist Association atau lebih dikenal dengan nama PAKARTI periode 2005-2010, menggantikan ketua sebelumnya, GM. Sudharta. Sejak awal tahun 2007 Jango Pramartha mendirikan Bog-Bog Arcade, bersama delapan orang kartunis, bergelut dengan kartun setiap hari, baik untuk majalah Bog-Bog ataupun membuat desain bagi t-shirt-nya dan sebagai tempat penjualan produk Bog-Bog lain seperti kaos, gantungan kunci, dan merchandise lain. Semua produk itu menjadikan kartun sebagai trade mark. Alasan menggunakan media lain tersebut tidak lain adalah karena alasan sosial. Agar penyebaran idenya tidak hanya melalui majalah.

Meskipun baru berdiri pada tahun 2005, omzet yang diraihnya cukup besar. Jango menyebut angka berkisar antara 30-40 juta rupiah setiap bulannya.

2.3.2. Data Perusahaan

Nama perusahaan: PT. Bali Orti Grafiti

Pengelola perusahaan: Made Gede Perama Artha alias Jango

Pramartha

Produk-produk yang dipasarkan: majalah, T-shirt, cangkir, tas, polo

(21)

Potensi perusahaan: Perusahaan ini saat ini lebih terkonsentrasi pada

pengembangan majalah Bog-Bog. T-shirt dan merchandise lain merupakan pelengkap penjualan. Bog-Bog tidak mengkhususkan diri pada produk t-shirt seperti Jangkrik dan Lebah. Namun demikian, nama Bog-Bog cukup dikenal sebagai salah satu ikon kartun di Bali, berkat majalah kartunnya yang merupakan pelopor bentuk majalah baru di Indonesia.

Lokasi perusahaan: Jl. Veteran 39A, Denpasar-Bali

2.3.3. Data Produk

2.3.3.1. Jenis Produk

Majalah Bog-Bog merupakan produk utama yang dijual oleh perusahaan ini. T-shirt, cangkir, tas, polo shirt, pin, topi, stiker, flyer, gantungan kunci, mug, piring, handuk, dan sebagainya merupakan produk-produk komplementer yang menyusul penjualan majalah Bog-Bog. T-shirt Bog-Bog merupakan objek yang dibahas sebagai kompetitor Lebah T-shirt karena mempunyai karakter yang kurang lebih sama.

2.3.3.2. Nama Brand/ Merek

Nama brand yang diusung adalah sama dengan majalahnya, yaitu Bog-Bog.

2.3.3.3. Spesifikasi Produk

T-shirt yang diproduksi menggunakan ukuran standar (S, M, L, XL). Bentuknya juga standar, tanpa variasi. Teknik cetak menggunakan sablon dengan variasi warna kurang lebih 5 hingga 7 warna.

2.3.3.4. Harga Produk

Harga produk untuk t-shirt pria dan wanita dengan ukuran S hingga XL adalah:

(22)

• T-shirt warna: Rp 70.000 2.3.3.5. Positioning Produk

Produk t-shirt yang diproduksi merupakan salah satu bagian dari brand development, yakni mengembangkan brand dengan menambah varian produk. T-shirt ini merupakan media baru dalam menuangkan aspirasi sosial Bog-Bog dengan menggunakan karakter kartun, dan banyak menggunakan istilah-istilah Bali. Secara visual, kartun pada t-shirt Bog-Bog tidak menampakkan pesan-pesan dan kritik sosial seperti pada kartun politik. Kartun Bog-Bog lebih bersifat menghibur dan sangat mewakili kehidupan masyarakat Bali (biasa disebut gag cartoon).

2.3.3.6. Target Audience Produk

Wisatawan mancanegara dan kalangan menengah ke atas.

2.3.3.7. Foto Produk

(23)

Gambar 2.9. Desain t-shirt Bog-Bog (Sumber: Bog-Bog Bali Cartoon Magazine)

2.3.4. Data Pemasaran

2.3.4.1. Strategi Pemasaran

Semenjak berdirinya toko kaus dan suvenirnya pada tahun 2005, Bog-Bog telah meraup omzet kurang lebih 30-40 juta rupiah setiap bulannya. Kemajuan ini tak lepas dari populernya majalah Bog-Bog yang telah berdiri sejak 1 April 2001. Promosi yang banyak dilakukan tentu saja melalui majalah Bog-Bog. Bog-Bog juga membuka studio kerjanya (dapur kerja) di jalan Veteran sebagai tempat wisata.

Dalam studio kerja tersebut, audience bisa membuat suvenir kartun/ karikatur yang dibuat dengan membawa foto atau datang langsung ke studio kerjanya. Jasa ini bisa diaplikasikan di kartu undangan, mug, sarung bantal, piring cantik, tempat majalah, kalender, pin, topi, ataupun t-shirt. Bog-Bog juga melayani demo kartun secara live di tempat klien. Program ini dinamakan “Ngamen Kartun” dan cara memesannya melalui line telepon.

Bog-Bog juga memanfaatkan media internet sebagai sarana promosi. Tetapi tidak dengan membuat situs sendiri, melainkan dengan promosi di situs lain. Lebih khususnya yaitu situs dari Bali seperti <www.baliniku.com>. Selain itu, nama Jango Pramartha yang cukup

(24)

dikenal dalam dunia perkartunan (mungkin juga karena posisinya sebagai ketua PAKARTI periode 2005-2010) merupakan alat yang kuat dalam berpromosi, apalagi dalam internet. Hal ini ditunjukkan dengan cukup banyaknya situs yang memuat nama Jango dalam artikelnya, berkaitan dengan dunia kartun Indonesia, PAKARTI (Persatuan Kartunis Indonesia), dan nama Bog-Bog pasti dibawa di dalamnya.

2.3.4.2. Wilayah Pemasaran

T-shirt Bog-Bog di Bali dipasarkan di kota Denpasar (kantor pusat jalan Veteran), Kuta di Centro DSM (Discovery Shopping Mall) Bali, dan Tanah Lot di Toko Agung Bali; toko t-shirt yang menjual berbagai macam merek t-shirt lokal Bali.

2.3.4.3. Potensi Pasar

Potensi pasar bagi Bog-Bog cukup luas. Yakni dari wisatawan mancanegara dan lokal. Target pasar terpenuhi karena letak outlet-outlet yang strategis dimana banyak turis bertebaran. Antara lain di Kuta, Tanah Lot, dan Denpasar di toko-toko yang strategis untuk berbelanja oleh-oleh.

2.3.4.4. Visi dan Misi Perusahaan

Tujuan paling penting dari kartun memang sebagai alat kritik sosial. Melalui kartun seseorang bisa memainkan peran dalam mengontrol, atau setidaknya menyikapi, persoalan sosial dan seni. Hal ini pun dilakukannya. Banyak hal bisa dikritik melalui kartun, terutama masalah sehari-hari di Bali yang tak jauh dari tradisi, agama, sistem kasta, dan pariwisata. Dalam tiap kartunnya, Jango cenderung membenturkan dua hal, yaitu tradisionalisme Bali dan gegap gempita globalisasi dan pariwisata. Ada kalanya hubungan keduanya selaras kadang berlawanan. Ini pun terwujud melalui idenya bahwa kartun memiliki elastisitas dengan pariwisata. Baginya kartun bisa jadi duta budaya.

(25)

Lewat majalah Bog-Bog, Jango berusaha agar kartun tidak hanya menjadi stopper koran, tapi ia merupakan isi dan mampu berdiri sendiri. Oleh karena itu Bog-Bog berkonsentrasi pada pengembangan intelektual dan seni yang dituangkan melalui majalah kartun, dan merchandise-merchandise kartun yang dibuat. Statement yang dikeluarkannya adalah "Cartooning is not a crime." Karena dengan kartun ia dapat membawa pesan-pesan sosial dan kritik dengan senyum bagi semua pihak.

2.3.5. Data Komunikasi Visual yang Ada

2.3.5.1. Sarana Komunikasi Visual Eksternal

Sarana komunikasi visual eksternal banyak ditemukan di majalah Bog-Bog itu sendiri. Sarana ini cukup efektif mengingat distribusi majalah Bog-Bog cukup tersebar di berbagai kota. Iklan-iklan dengan warna hitam putih (grayscale) peletakannya diantara kartun-kartun dalam halaman isi. Sementara iklan yang berwarna dan berisikan desain-desain t-shirt Bog-Bog, diletakkan di cover dalam belakang.

Gambar 2.10. Iklan Bog-Bog berukuran 9,3 x 5,8 cm (hitam putih) (Sumber: Bog-Bog Bali Cartoon Magazine No.6 Volume 7-2008)

(26)
(27)

Gambar 2.13. Iklan berukuran 18,5 x 23,5 cm (berwarna)

2.3.5.2. Sarana Komunikasi Visual Internal

Tidak ada sarana komunikasi visual internal.

2. 4. Identifikasi Data Kompetitor (2)

2.4.1. Latar Belakang Perusahaan

Jangkrik85 Bali adalah pabrik kaos dan merchandise yang menspesifikasikan diri dalam desain kartun dan karikatur budaya Bali. Jangkrik85 Bali pertama kali muncul tahun 2002, setelah peristiwa Bom Bali. Ide awalnya yaitu membuat sebuah jenis brand yang beda, lain dari yang lain, unik, dan berciri khas-kan Bali. Oleh karena itu, desain merchandise Jangkrik 85 semuanya bercerita tentang kehidupan sosial budaya masyarakat Bali. Jangrik85 Bali tidak membuka cabang di luar Bali karena konsep Jangrik85 Bali adalah kaos dan merchandise oleh-oleh dari Pulau Dewata-Bali.

Museum sendiri baru berdiri tepatnya tanggal 13 Maret 2008. Ini juga salah satu bentuk kepedulian Jangkrik85 Bali terhadap seni kartun yang sudah membesarkan namanya. Di museum ini ada banyak koleksi gambar kartun dari hampir seluruh kartunis yang ada di Indonesia yang tentunya sudah lolos seleksi

(28)

dari dewan kurator MKIB (Museum Kartun Indonesia-Bali). Museum ini merupakan museum kartun pertama di Indonesia dan Asia Tenggara.

2.4.2. Data Perusahaan

Nama Perusahaan: PT. Kartun Karikatur Indonesia Pengelola Perusahaan: Istio Adi

Produk-produk yang Dipasarkan: Museum Kartun Indonesia, t-shirt,

topi, tas, celana pantai, sandal, pin, postcard, dll

Potensi Perusahaan: Jangkrik85 Bali adalah pioneer pabrik kaos kartun

dan karikatur yang mengambil tema tentang Bali. Terhitung sejak awal tahun 2003, Jangkrik85 Bali mengawali eksistensinya dari mengisi outlet di tempat-tempat wisata di Bali (Tanah Lot, Alas Kedaton, Kuta, Nusa Dua, Ubud, dan Art Center) dan saat ini Jangkrik85 Bali telah memiliki tiga outlet utama yaitu di Sunset Road (pusat), GWK (Garuda Whisnu Kencana), dan Central Parkir Kuta, dan enam outlet lainnya yang tersebar di pusat-pusat perbelanjaan seperti Carrefour Bali, Centro Bali, Hardy’s, Plaza Bali, dll). Dengan adanya Museum Kartun Indonesia sebagai salah satu produknya, Jangkrik85 Bali semakin mengukuhkan eksistensinya di ranah perindustrian t-shirt kartun di Indonesia pada umumnya, dan khususnya di Bali.

Lokasi Perusahaan:

1. Sunset Road Boulevard 85, Br. Abianbase, Kuta-Bali (kantor pusat) 2. Istana Kuta Galeria, Central Parkir Kuta – Bali, 03,

BW2-09/10

(29)

2.4.3. Data Produk

2.4.3.1. Jenis Produk

Jenis produk yang dipasarkan oleh Jangkrik85 Bali antara lain Museum Kartun Indonesia, t-shirt, topi, tas, celana pantai, sandal, pin, postcard, dll.

2.4.3.2. Nama Brand/ Merek

Brand yang digunakan adalah Jangkrik85 Bali. Namun masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Jangkrik.

2.4.3.3. Spesifikasi Produk

T-shirt yang diproduksi menggunakan bentuk standar dan mengandung gambar kartun bertemakan Bali. Teknik cetak menggunakan sablon dengan 5 hingga 7 warna.

2.4.3.4. Harga Produk

Harga produk untuk t-shirt pria dan wanita dengan ukuran S hingga XL adalah:

• T-shirt putih: Rp 35.000 • T-shirt warna: Rp 70.000 2.4.3.5. Positioning Produk

Jangkrik85 Bali adalah pioneer pabrik kaos kartun dan karikatur yang mengambil tema tentang Bali, yang lain dari yang lain, dan unik. Desain merchandise Jangkrik 85 semuanya bercerita tentang kehidupan sosial budaya masyarakat Bali.

Sementara itu, Wisata Kartun Bali adalah diposisikan sebagai sebuah obyek wisata bernuansa kartun yang pertama di Indonesia. Di dalamnya terdapat banyak fasilitas yang dikemas secara kartunal dan ceria yang memberi suatu kesegaran baru bagi dunia pariwisata, khususnya di Indonesia.

(30)

2.4.3.6. Target Audience Produk

Target audience Jangkrik85 Bali adalah wisatawan lokal dan mancanegara, anak-anak hingga dewasa.

2.4.3.7. Foto Produk

Gambar 2.14. Foto produk Jangkrik85 Bali (Sumber: )

2.4.4. Data Pemasaran

2.4.4.1. Strategi Pemasaran

Jangkrik85 Bali memanfaatkan studio pusatnya menjadi Wisata Kartun Bali, sebuah obyek wisata bernuansa kartun pertama di Indonesia. Di dalamnya terdapat banyak fasilitas yang dikemas secara kartunal dan fun yang memberi suatu kesegaran baru bagi dunia pariwisata. Pengunjung yang datang akan disambut dengan Taman

(31)

Kreatif untuk anak-anak, dimana mereka dapat mengekspresikan ide-ide kreatifnya melalui gambar di berbagai media gambar.

Selanjutnya, terdapat Museum Kartun Indonesia Bali yang merupakan museum kartun pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang ditujukan bagi masyarakat dan wisatawan pecinta kartun-kartun yang cerdas, menyentil, dan kadang satir, yang hadir sebagai salah satu cermin potret kehidupan di Indonesia. Melengkapi Wisata Kartun, terdapat juga merchandise store “ToonShop” yang menjual pernak-pernik yang kartunal. Ada pula Perpustakaan Kartun yang menyediakan koleksi buku-buku kartun dan dokumen-dokumen yang dapat dibaca pengunjung di ruang baca; outlet kaos kartun Jangkrik85 Bali yang merupakan pioneer kaos kartun; Workshop Kartun yang menampilkan proses pembuatan kaos Jangkrik85 Bali dari tahap desain, produksi, hingga finishing; Cartoon Café yang menjual makanan dan minuman dengan sajian live music yang menghibur; hingga pemesanan gambar kartun “Live Cartoon” yang menyajikan in-house cartoonist beraksi dalam menggambar sketsa wajah atau gambar karikatur. Semuanya tersaji dalam satu kemasan wisata yang unik, kartunal, menghibur, sekaligus bermuatan edukatif.

Selain itu, Jangkrik85 Bali juga berpromosi satu arah (Web 1.0) dengan menggunakan official website, dengan alamat <www.wisatakartunbali.com> dan dengan nama Wisata Kartun Bali. Dalam website-nya, disebutkan bahwa Jangkrik85 Bali adalah pioneer pabrik kaos kartun dan karikatur yang mengambil tema tentang Bali. Terhitung sejak awal tahun 2003, Jangkrik85 Bali mengawali eksistensinya dari mengisi outlet di tempat-tempat wisata di Bali (Tanah Lot, Alas Kedaton, Kuta, Nusa Dua, Ubud, dan Art Center).

Saat ini Jangkrik85 Bali telah memiliki tiga outlet utama yaitu di Sunset Road (pusat), GWK (Garuda Wisnu Kencana), dan Istana Kuta Galeria Central Parkir Kuta, dan enam outlet lainnya yang tersebar di pusat-pusat perbelanjaan seperti Carrefour Bali, Centro Bali, Hardy’s,

(32)

Plaza Bali, dll). Produknya berupa t-shirt, topi, tas, celana pantai, sandal, pin, dan masih banyak lagi.

Gambar 2.15. Outlet Jangkrik85 Bali di Istana Kuta Galeria (Sumber:

(33)

Gambar 2.17. Outlet Jangkrik85 Bali di Sunset Boulevard 85, Kuta-Bali

2.4.4.2. Wilayah Pemasaran

Wilayah pemasaran berada di Bali, yang terutama antara lain di Kuta dan Jimbaran. Sisanya tersebar di pusat-pusat perbelanjaan, tempat-tempat wisata dan galeri seni di Tanah Lot, Alas Kedaton, Kuta, Nusa Dua, Ubud, Art Center, Carrefour Bali, Centro Bali, Hardy’s, Plaza Bali, dll.

2.4.4.3. Potensi Pasar

Dengan adanya Wisata Kartun Bali dan Museum Kartun Indonesia, Jangkrik85 Bali dapat semakin mengukuhkan posisinya sebagai brand t-shirt kartun terkemuka di Indonesia dan sebagai pionir, yang menjadi salah satu ikon Bali.

Jangkrik85 Bali telah mendapatkan awareness yang cukup besar dari masyarakat lokal, karena identitas dan ciri khas kartun Indonesia yang tertuang dalam produk t-shirt-nya. Sekarang lambat laun produk Jangkrik85 Bali ini mulai disukai oleh turis mancanegara. Terutama sejak dibukanya outlet Jangkrik85 Bali di Plaza Bali yang market-nya mayoritas turis mancanegara.

2.4.4.4. Visi dan Misi Perusahaan

Melestarikan karya kartun untuk dinikmati masyarakat, sebagai sumber informasi mengenai seni kartun dan juga sebagai wadah pendidikan & pengetahuan tentang seni kartun.

(34)

2.4.5. Data Komunikasi Visual yang Ada

(35)

Gambar 2.18. Iklan Jangkrik85 Bali di majalah dan website (Sumber: http://wisatakartunbali.com/jkr.html, http://www.shoptillyoudropbali.com/jangkrik.html)

2.4.5.2. Sarana Komunikasi Visual Internal

Penerapan logo Jangkrik85 Bali dalam setiap desainnya, membuat outlet-outlet-nya bernuansa kartun, cerah, dan ceria.

2. 5. Data Survei dan Wawancara

2.5.1. Tabulasi Data Survei

Dari total 100 orang responden, didapatkan data sebagai berikut:

GENDER 53% 47% Pria Wanita USIA 45% 22% 20% 13% 11-20 tahun 21-30 tahun 31-40 tahun ≥ 41 tahun

(36)

PENDAPATAN 59% 34% 5% 2% ≤ Rp 1.000.000 Rp 1.000.001 - Rp 5.000.000 Rp 5.000.001 - Rp 10.000.000 ≥ Rp 10.000.000 PEKERJAAN 3% 4% 44% 3% 30% 16%

Pelajar/ mahasiswa Pegawai negeri Pegawai swasta Wiraswasta Ibu rumah tangga Lain-lain

PENDIDIKAN TERAKHIR 12% 2% 41% 11% 33% 1% SD SMP SMA D1 S1 S2 KEPENDUDUKAN DI BALI 88% 12%

Wisatawan Masyarakat Bali

ASAL DAERAH 4% 65% 18% 6% 1%

Bali Jawa Timur Jawa Tengah Jakarta Lain-lain BRAND AWARENESS 1% 13% 43% 24% 3% 7% 4% Lebah T-shirt Joger Jangkrik85 Bali Bog-Bog Balibong Khrisna Lain-lain MEDIA PROMOSI 3.2% 52% 21% 12% 7.4%

Teman Keluarga Brosur Majalah Koran Tabloid

PURCHASING 21% 10% 1% 51% 17%

Outlet di Bali Outlet di Yogya Toko Oleh-Oleh Bali Mall/ pusat perbelanjaan

(37)

TOTAL ITEMS PURCHASED 6% 14% 67% 10% 1% 0 (nol) 1 s/d 3 4 s/d 6 7 s/d 9 ≥ 10

SELLING FACTORS OF BALI CARTOON T-SHIRTS

9 4.6 33.5 28.4 6.4 7.1 5.8 5.2 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

Lucu Unik Desain menarik Bahan berkualitas dan nyaman dipakai Kata-kata menarik Warna bagus Berciri khas dan bernuansa Bali Lain-lain (punya pesan moral, harga terjangkau, ingin tahu saja, sedang tren) Factors P e rc e n ta g e (% )

Gambar 2.19. Diagram hasil survei

2.5.2. Analisa Data Survei

Berdasarkan data-data diatas, usia audience mayoritas remaja hingga dewasa, dengan pendidikan terakhir antara SD hingga SMA, berdomisili di pulau Bali, dan pulau Jawa, berstrata B hingga C. Bidang pekerjaan mayoritas antara lain pelajar/ mahasiswa, pegawai swasta, dan wiraswasta.

Brand awareness tertinggi pertama adalah terhadap Joger, kemudian kedua terhadap Lebah T-shirt, lalu ketiga terhadap Jangkrik85 Bali. Sementara brand Bog-Bog yang menjual t-shirt hanya mencapai 1%.

(38)

Dalam berpromosi, tampaknya cara yang paling efektif adalah dengan menggunakan word of mouth (WOM) atau buzz marketing. Karena audience banyak mengetahui tentang brand-brand tersebut diatas melalui teman dan keluarga, entah dari pemberian atau hanya melalui pembicaraan semata. Sementara brosur, iklan majalah, dan media lainnya tidak banyak digunakan oleh produsen dan tidak begitu diperhatikan oleh konsumen.

Tempat memperoleh produk-produk t-shirt yang paling sering menjadi point of contact antara brand dengan audience adalah outlet-outlet pusat di Bali dan di mall/ pusat perbelanjan.

Masyarakat banyak menyukai t-shirt kartun tersebut karena desainnya yang menarik, kualitas bahan kaos dan sablon yang bagus sehingga nyaman dipakai, kata-kata dan warna di dalamnya menarik, lucu, unik, bernuansa dan bercirikhaskan Bali, mengandung pesan moral, dan harganya terjangkau.

Produk-produk t-shirt Bali yang dimiliki saat ini oleh audience tidak terlalu banyak, yaitu dengan kisaran 0 hingga 3 tiga buah. Namun ada juga yang memiliki hingga lebih dari 10 buah.

Kemudian, faktor-faktor yang paling mempengaruhi pembelian t-shirt kartun khas Bali adalah desainnya yang menarik serta bahan kaus yang berkualitas dan nyaman dipakai. Selain faktor-faktor tersebut, karakter kartun yang lucu menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen. Terutama konsumen dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

2. 6. Analisa Data

2.6.1. Strength, Weakness, Opportunity, and Threats (SWOT)

Analisis SWOT adalah bagian daripada communication market analysis/ analisis komunikasi pasar. Yang dimaksud dengan analisis komunikasi pasar adalah:

the process of discovering the organization’s strengths and weaknesses in the area of marketing communication, and combining that information with an analysis of opportunities and threats that are present in the firm’s external environment (Clow 153).

(39)

Proses dalam menemukan kekuatan dan kelemahan perusahaan dalam konteks komunikasi pemasaran, dan menggabungkan kedua informasi tersebut dengan analisis kesempatan dan ancaman yang ada dalam lingkungan eksternal perusahaan tersebut. Kekuatan (strength) yang dipunyai oleh perusahaan tersebut dapat membuka sebuah atau beberapa kesempatan/ peluang (opportunity) dalam komunikasi pemasaran. Sedangkan kelemahan perusahaan tersebut (weakness) dapat menjadi ancaman (threats) bagi perusahaan yang dimaksud. (Tabel SWOT dapat dilihat pada halaman berikutnya).

(40)

BRANDS STRENGTH WEAKNESS OPPORTUNITY THREATS

• Konsep untuk mengkomunikasikan kritik sosial lebih terlihat jelas pada desainnya

• Memiliki tempat penjualan yang strategis di tiap outlet

• Kualitas sablon dan kaos cukup bagus • Pemilik adalah seorang budayawan • Wilayah pemasaran tidak terpusat di

Bali saja

• Sering menjadi sponsor sebuah event

• Terkadang masih mengikuti permintaan pasar

• Tidak mempunyai outlet sendiri (mandiri) sehingga kegiatan promosi ataupun branding terbatas untuk dilakukan • Jarang melakukan promosi • Harga jual cukup mahal • Varian produk masih sedikit • Tidak memiliki official website

• Dapat mempertahankan lajunya apabila tetap dalam konsep awal,dan kualitas yang tetap bagus

• Industri serupa masih sedikit • Dapat berkembang seiring

berkembangnya personal branding pemilik sebagai seorang budayawan • Desainnya mulai diminati masyarakat, di

luar maupun di dalam Bali

• Bila tidak terus berinovasi dan berpromosi, maka akan tergusur oleh kompetitor • Tidak memiliki outlet

tersendiri bisa jadi mempengaruhi stagnannya awareness masyarakat terhadap Lebah T-shirt

• Brand-nya didukung oleh popularitas majalah Bog-Bog dan nama Jango Pramartha sebagai ketua PAKARTI • Varian produk cukup banyak • Telah mempunyai outlet tersendiri • Mempunyai program “Ngamen Kartun”

dan kaos karikatur

• Mempunyai media berpromosi sendiri, yaitu majalah Bog-Bog

• Harga cukup terjangkau

• Marketing t-shirt kurang berkembang, jadi tidak begitu dikenal

• Awareness untuk t-shirt masih kurang • Dipasarkan di Bali saja

• Tidak memiliki official website

• Dengan popularitas majalah Bog-Bog dan pemiliknya, maka t-shirt Bog-Bog seharusnya dapat dengan cepat berkembang dan meraih awareness masyarakat dari brand lain

• Bog-Bog dapat lebih mengembangkan diri melalui brand development • Tempat penjualan yang strategis yakni di

tempat-tepat wisata dapat membantu peningkatan penjualan t-shirt Bog-Bog

• Dengan strategi marketing yang kurang, t-shirt Bog-Bog tidak akan berkembang sejalan dengan majalah Bog-Bog

• Wilayah pemasaran yang kurang luas dapat menyebabkan pasar tidak mengetahui adanya t-shirt Bog-Bog

• Kompetitor semakin banyak, bila tidak dikembangkan, akan menjadi batu sandungan • Merupakan pionir kaos kartun

• Memposisikan diri sebagai salah satu ikon wisata Bali melalui Museum Kartun Indonesia Bali

• Memiliki outlet tersendiri tetapi tetap mendistribusikan produknya ke toko oleh-oleh, mall, dan tempat wisata lainnya • Mempunyai studio sebagai tempat wisata • Telah melakukan marketing dengan brand

experience

• Mempunyai banyak program/ kegiatan kartun yang mengedukasi dan menghibur • Harga cukup terjangkau

• Cukup sering menjadi sponsor event • Memiliki official website

• Sarana komunikasi visual eksternal masih sangat berkesan hardselling

• Penjualan terpusat pada wilayah Bali

• Telah mulai mendapatkan brand awareness dari masyarakat dan mulai merambah pasar mancanegara

• Strategi brand experience cukup membuat target audience mengingat brand Jangkrik85 Bali karena pengalaman yang didapatkan di Wisata Kartun Bali

• Posisi sebagai pionir menuntut Jangkrik85 Bali untuk tetap mempertahankan posisinya dengan terus berinovasi. Bila pasar mulai jenuh, bukan tidak mungkin produknya akan semakin ditinggalkan • Menjadikannya sebagai salah

satu ikon Bali tetap saja merupakan hal yang sulit karena Bali memiliki banyak ikon wisata dan telah dikenal selama berpuluh tahun. Sehingga kesempatan audience untuk mengunjunginya cukup kecil

(41)

2.6.2. Unique Selling Proposition (USP)

Unique Selling Proposition (USP) adalah keunikan produk yang menjadi daya tarik produk untuk dapat lebih mudah dijual. Keunikan ini merupakan diferensiasi dari merek-merek lain. A feature that allows a newly formed company to stand alone and be distinct from all other competitors (Clow 483).

USP dari Lebah T-shirt adalah bahwa Lebah T-shirt menggagas tema-tema sosial dengan cerdas menggunakan kartun dan karikatur. Jadi tidak hanya menghibur konsumen dengan kartun yang lucu. Tetapi dibalik gambar yang menggelitik, terdapat pula sindiran-sindiran dan kritik sosial. Lebah T-shirt peduli akan masalah-masalah sosial di Indonesia, khususnya di Bali, dengan melakukan pendekatan semiotika visual yang menggunakan simbol-simbol budaya Bali.

2.6.3. Positioning

Pengertian positioning adalah menciptakan persepsi pada pikiran konsumen berdasarkan nilai-nilai dari perusahaan dan produk-produknya dan positioning tersebut diciptakan berbeda-beda sesuai kompetisi dalam pasar yang bersangkutan (Clow 153).

Lebah T-shirt mempunyai personal statement yang menarik dan berhubungan dengan USP diatas, yaitu “we learn art not because we want to be an artist, but because we are part of human being.” Lebah T-shirt memposisikan dirinya sebagai produk yang menghibur masyarakat dan dengan cerdas menyajikan persoalan-persoalan realita dalam masyarakat dengan desain yang berwacana, kartunis, dan humoral (humor yang bermoral).

2.6.4. Kesimpulan Analisa Data

Dasar didirikannya Lebah T-shirt adalah karena prihatin pada nasib kartunis yang hanya bisa berekspresi di ruang terbatas di media massa. Oleh karena itu, kebanyakan pengerjaan eksekusi desain visualnya bergantung pada desainer yang di-outsource. Sehingga aspirasi kartunis-kartunis tersebut dapat tersalurkan dalam sebuah media yang baru.

Konsep dasar visual Lebah T-shirt adalah adalah ingin menghibur masyarakat dengan cara yang cerdas yang menyajikan persoalan-persoalan/ realita

(42)

dalam masyarakat secara kartunal, karikatural, dan humoral. Dan untuk mendukungnya, Lebah T-shirt memiliki personal statement yakni, “We learn art not because we want to be an artist, but because we are part of human being.” Nama Lebah dipilih karena lebah merupakan serangga yang bersih, hanya makan nektar dari bunga-bunga, hidupnya indah dan senantiasa menyumbangkan banyak hal yang baik.

Target audience produk adalah wisatawan mancanegara, kalangan menengah ke atas, anak-anak hingga dewasa. Tetapi didominasi oleh pelajar dan mahasiswa.

Strategi pemasaran yang digunakan yaitu dengan konsinyasi dengan pihak department store (Centro Bali dan Jogjakarta) dan toko-toko yang menjual berbagai macam merek t-shirt khas Bali (Bali Panugraha di Bandara Ngurah Rai-Bali, Kuta Square, Bali Color di Seminyak). Selain itu, Lebah T-shirt cukup banyak berpromosi dengan mengikuti/ mensponsori event-event di Bali dan kota-kota lain seperti Yogyakarta dan kebanyakan bertemakan sosial. Lebah T-shirt juga menggunakan strategi pemasaran dengan memberikan bonus (gimmick marketing). Wilayah pemasaran Lebah antara lain di Bali, Jogjakarta, dan Jakarta.

Lebah rupanya cukup mendapat tempat dalam market share wilayah Bali. Desainnya yang unik, menarik, dan cerdas merupakan keunggulan tersendiri bagi Lebah T-shirt. Yang kurang dalam pemasaran Lebah T-shirt adalah berpromosi melalui media-media komunikasi yang tepat, yang dapat membawa brand kecil namun unik ini menjadi besar, kemudian belum mandirinya Lebah T-shirt dalam penggunaan outlet tersendiri, dan kurang dimanfaatkannya komunitas-komunitas yang ada di Bali untuk memasarkan produknya. Sementara itu, kekuatannya adalah pada desain yang unik dan juga kata-kata yang digunakannya cerdas, menarik, dan berkonsep. Ketidakberadaan outlet tersendiri dan kemudian digantikan oleh pemilihan tempat penjualan yang tepat dan strategis melalui kerjasama konsinyasi, merupakan suatu keunggulan tersendiri. Walaupun pada akhirnya pengaturan sarana komunikasi visual internal dan eksternal menjadi agak terhambat karena peraturan pihak penyedia ruang jual.

Gambar

Gambar 2.2. Denah lokasi Lebah T-shirt (lebih dekat)  Sumber: Tele Atlas Google Earth 2009
Gambar 2.3. Beberapa desain kartun Lebah T-shirt  (Sumber: koleksi pribadi Lebah T-shirt)
Gambar 2.6. Lebah T-shirt dan kaus polo yang telah dikemas
Gambar 2.7. Counter Lebah di Bandara Ngurah Rai (dalam boarding room)
+7

Referensi

Dokumen terkait