KARTA RAHARJA 1(1) (2019): 33 - 46
KARTA RAHARJA
http://ejurnal.malangkab.go.id/index.php/krPengelolaan APBDes dengan Sistem Keuangan Desa
di Kabupaten Malang Jawa Timur
Heru Sucahyo
*Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Malang, Jawa Timur Jl. KH Agus Salim No 7, Malang
Dikirim: 13 Maret 2019; Disetujui: 6 Juni 2019; Diterbitkan: 8 Juli 2019
Abstract
The big role accepted by the village as mandated by the law, also gives a big responsibility. Therefore the village government must be able to apply the principle of accountability in its governance, where all the end of the activities of village governance must be accountable to the village community in accordance with the provisions. For this reason, this research seeks to dig up information about village financial governance by using the village financial system, allocating village funds to improve services to the community and strategies in the form of direction of activities for village governments and village institutions in managing APBDes that can support services and community empowerment. This study uses a qualitative approach, with research locations in the Pagak District and Kalipare Subdistrict, Malang Regency. The results of the study indicate that village financial governance using the village financial system is known that the application of the village financial management system has been available and applied to village governments in all regions of Malang Regency, with the accompanying instructor for the application of this application system is the Financial and Development Supervisory Agency (BPKP) . The Application System supports administrative financial management of the village. It's just that the local government needs to be extra in implementing Permendagri 20/2018 and the Minister of Home Affairs Circular Letter No 4122/5165/37.
Keywords: APBDes, Village Financial System, Village
Abstrak
Peran besar yang diterima oleh desa sebagaimana amanat UU, memberikan tanggung jawab yang besar pula. Oleh karena itu pemerintah desa harus bisa menerapkan prinsip akuntabilitas dalam tata pemerintahannya, di mana semua akhir kegiatan penyelenggaraan pemerintahan desa harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat desa sesuai dengan ketentuan. Untuk itu penelitian ini berusaha menggali informasi tentang tata kelola keuangan desa dengan mempergunakan sistem keuangan desa, pengalokasian dana desa untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat dan strategi dalam bentuk arahan kegiatan bagi pemerintah desa dan lembaga desa dalam pengelolaan APBDes yang dapat mendukung pelayanan dan pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini mempergunakan pendekatan kualitatif, dengan lokasi penelitian di wilayah Kecamatan Pagak dan kecamatan Kalipare Kabupaten Malang. Hasil kajian menunjukkan bahwa tata kelola keuangan desa dengan mempergunakan sistem keuangan desa diketahui aplikasi sistem tata kelola keuangan desa telah tersedia dan diterapkan bagi pemerintah desa di seluruh wilayah Kabupaten Malang, dengan instritusi pendamping untuk penerapan sistem aplikasi ini adalah Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Sistem Aplikasi mendukung tata kelola keuangan desa secara administratif. Hanya saja pemerintah daerah perlu ekstra dalam mengimplementasi Permendagri 20/2018 dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No 4122/5165/37 tersebut.
I. Pendahuluan
Pasal 18 ayat (2) dan ayat (5) UUD Tahun 1945 menyatakan Pemerintahan Daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus sendiri Urusan Pemerintahan menurut Asas Otonomi dan Tugas Pembantuan dan kepada daerah diberikan otonomi yang seluas-luasnya. Pemberian otonomi seluas-luasnya kepada Daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat. Selanjutnya dalam Pasal 18 ayat (7) UUD Tahun 1945 ditentukan bahwa; Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam UU. Di antaranya UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Pengakuan keberadaan desa dalam UU No 23 Tahun 2014 ditegaskan dalam Pasal 2 ayat (2) yang menyebutkan bahwa: Daerah Kabupaten/Kota dibagi atas Kecamatan dan Kecamatan dibagi atas Kelurahan dan/atau Desa. Demikian pula dalam Pasal 371 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2014 kembali menegaskan bahwa: Dalam Daerah kabupaten/ kota dapat dibentuk Desa. Sedangkan pada ayat (2) menyebutkan bahwa Desa mempunyai kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai Desa.
Disahkannya UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa, diharapkan segala kepentingan dan kebutuhan masyarakat desa dapat diakomodasi dengan lebih baik. Pemberian kesempatan yang lebih besar bagi desa untuk mengurus tata pemerintahannya sendiri serta pemerataan pelaksanaan pembangunan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat desa, sehingga permasalahan seperti kesenjangan antar wilayah, kemiskinan, dan masalah sosial budaya lainnya dapat diminimalisir.
UU No 6 Tahun 2014 beserta peraturan pelaksanaanya telah mengamanatkan pemerintah desa untuk lebih mandiri dalam mengelola pemerintahan dan berbagai sumber daya alam yang dimiliki, termasuk di dalamnya pengelolaan keuangan dan kekayaan milik desa. Selain Dana Desa, sesuai UU Desa pasal 72, Desa memiliki Pendapatan Asli Desa dan Pendapatan Transfer berupa Alokasi Dana Desa; Bagian dari Hasil Pajak dan Retribusi Kabupaten/Kota; dan Bantuan keuangan dari APBD Provinsi/Kabupaten/Kota.
Peran besar yang diterima oleh desa, tentunya disertai dengan tanggung jawab yang besar pula. Oleh karena itu pemerintah desa harus bisa menerapkan prinsip akuntabilitas dalam tata pemerintahannya, di mana semua akhir kegiatan penyelenggaraan pemerintahan desa harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat desa sesuai dengan ketentuan.
Dalam hal keuangan desa, pemerintah desa wajib menyusun Laporan Realisasi Pelaksanaan APB Desa dan Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APB Desa. Laporan ini dihasilkan dari suatu siklus pengelolaan keuangan desa, yang dimulai dari tahapan perencanaan dan penganggaran; pelaksanaan dan penatausahaan; hingga pelaporan dan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan desa. Namun demikian, peran dan tanggung jawab yang diterima oleh desa belum diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang memadai baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Kendala umum lainnya yaitu desa belum memiliki prosedur serta dukungan sarana dan prasarana dalam pengelolaan keuangannya serta belum kritisnya masyarakat atas pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja desa. Besarnya dana yang harus dikelola oleh pemerintah desa memiliki risiko yang cukup tinggi dalam pengelolaannya, khususnya bagi aparatur pemerintah desa.
Dalam UU Desa, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota turut membantu memberdayakan masyarakat desa dengan pendampingan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan pembangunan desa. Sebagaimana diharapkan bahwa pola pendampingan tersebut masih menyisakan berbagai problematika antara lain: 1) Pendamping Desa secara rata-rata masih belum optimal dalam melaksanakan program pendampingan di Desa, hal ini dikarenakan jumlah pendamping Desa secara kuantitas masih terbatas, 2) Selain itu tenaga pendamping Desa bukan berasal dari masyarakat lokal sehingga masih terbatas dalam memahami kultur masyarakat Desa setempat dan proses pendampingan tidak bisa sustainable dikarenakan terbatasnya durasi waktu kontrak kerja pendampingan. Hal ini menjadi penting dalam meningkatkan pemahaman bagi aparatur pemerintah desa dalam pengelolaan keuangan desa, meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan meningkatkan kualitas laporan keuangan dan tata kelola. Berdasarkan kondisi tersebut, perlu dilakukan kajian mengenai dampak pengelolaan apbdes dengan sistem keuangan desa terhadap pemberdayaan masyarakat dan kelembagaan desa.
Penelitian mengenai keuangan desa telah banyak dilakukan Manto dan Djaelani (2017), meneliti tentang Analisis Perencanaan Pengelolaan Keuangan Desa (Studi Pada Desa Trapang Kecamatan Banyuates Kabupaten Sampang. Ia menyimpulkan, proses perencanaan hingga evaluasi perencanaan APBDesa Trapang ini sudah sesuai dengan Permendagri No 113 tahun 201 pasal 20 hingga pasal 23. Sehubungan dengan hal tersebut maka penelitian ini menyarankan sebaiknya perangkat desa Trapang lebih memperhatikan
proses perencanaan APBDesa Permendagri No 113 tahun 2014. Sebaiknya perencanaan APBDesa lebih mengutamakan pembangunan desa non fisik seperti tingkat pendidikan dan mata pencaharian.
Selanjutnya penelitian Mardona H (2016) tentang pengelolaan keuangan desa di Desa Marga Mulia Kecamatan Kongbeng Kabupaten Kutai Timur penelitiannya menyimpulkan ada usaha yang dilakukan desa untuk mengemas penggunaan anggaran ke dalam skala prioritas program, kegiatan, dan kebutuhan pembangunan desa dirumuskan berdasarkan penilaian terhadap kebutuhan masyarakat desa. Hanya saja belum secara menyeluruh dan tersistematis, dan kesannya hanya sekadar menggunakan anggaran. Jika merujuk pada Penggunaan ADD di Desa Marga Mulia Belum ada perhatian terhadap bidang-bidang pelaksanaan pembangunan desa secara menyeluruh. Pelaksanaan keuangan desa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa senantiasa bertumpuh pada RPJM Desa dan RKP Desa yang menjadi pijakan bagi penyusunan APBDesa. Sedangkan dalam hal mekanisme atau prosedur yang ditempuh, telah ada upaya pelaksanaan keuangan desa yang berpedoman pada aturan yang telah ditetapkan.
Selain kedua penelitian di atas, Atmaja (2016) meneliti tentang Analisis Pengelolaan Keuangan Dan Kekayaan Desa (Studi Kasus di Desa Plesungan Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar). Analisisnya menunjukkan tata kelola keuangan dan kekayaan pemerintah Desa Plesungan ada yang sudah sesuai dan juga ada yang belum sesuai dengan UU. Peraturan Desa Plesungan pada umumnya sudah sesuai dengan UU. Meski begitu, Desa Plesungan belum memiliki ketentuan khusus sebagaimana yang diamanatkan UU No 6 tahun 2014 tentang Desa. Sistem administrasi dan informasi desa, masyarakat belum bisa mengakses informasi desa karena pemerintah Desa Plesungan belum menyediakan akses administrasi dan informasi desa.
Penelitian Nurmawati et.al (2016) tentang Implementasi Pengelolaan Keuangan dan Aset Desa Kabupaten Badung dengan Berlakunya UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa. Untuk Kabupaten Badung yang mengenal desa dinas dan desa pakraman, pendaftaran pengelolaan keuangan desa diberikan kepada desa dinas. Sementara desa pakraman, subak, dsb, tidak boleh menerima bantuan keuangan yang diberikan oleh pemerintah, meski pada 2015 untuk Provinsi Bali masih berdasarkan kebijakan Kemendagri masih diperkenankan untuk memberi bantuan ke desa pakraman.
Berangkat dari permasalahan di atas, maka penelitian ini akan membahas tata kelola kuangan desa dalam sistem keuangan desa; pengalokasian dana desa dalam meningkatkan pelayanan publik;
dan strategi pemerintah desa terhadap pengelolaan APBDes dalam mendukung pelayanan dan pemberdayaan.
II. Metode
Penelitian ini adalah peneltian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pasalnya, lebih mengutamakan makna dan tindakan dari pengalaman sekelompok manusia dan perilaku sosial yang dalam konteks ini adalah langkah-langkah para pengambil keputusan (Creswell, 2014; McNabb, 2013). Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan Focus Group Discussion (FGD). Penelitian dilakukan di Kecamatan Pagak dan Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang dengan subjek penelitian di antaranya Camat di wilayah lokasi kajian, Kepala Desa Kalipare dan Sumber Manjing Kulon, serta Ketua BPD Desa Kalipare dan Sumber Manjing Kulon. Penentuan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling melalui informan kunci. Kemudian, sampel selanjutnya ditentukan dengan metode snowball sampling dimana sampel diperoleh berdasarkan informasi dari responden sebelumnya. Metode pengumpulan data dilakukan untuk mendapatkan data primer dan sekunder. Tahapan ini dilakukan melalui
wawancara dengan informan kunci. Pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi, observasi, serta Focus Group Discusion (FGD). Analisa data dilakukan dengan menginput dan mengolah hasil survey lapangan sesuai kriteria/parameter yang digunakan, penelitian berbagai alternatif dan solusi yang diusulkan sesuai dengan formulir yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Analisis data yang dilakukan sejak awal dan sepanjang proses penelitian berlangsung melalui dua tahap. Tahap pertama adalah menyusun menejemen data dan tahap kedua melakukan data collecting (Denzin & Lincoln, 2005).
III. Hasil dan Pembahasan
Subtansi dalam bab ini meliputi tinjauan tata kelola keuangan desa dengan mempergunakan sistem keuangan desa, pengalokasian dana desa untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, serta strategi dalam bentuk arahan kegiatan bagi pemerintah desa dan lembaga desa dalam pengelolaan APBDes yang dapat mendukung pelayanan dan pemberdayaan masyarakat. Bab ini juga menjawab pertanyaan penelitian mengenai bagaimana pengelolaan APBDes dengan sistem keuangan desa.
A. Tata Kelola Keuangan Desa dalam Sistem Keuangan Desa
Semenjak disahkannya UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa, desa diberikan kesempatan yang besar untuk mengurus tata pemerintahannya sendiri serta pelaksanaan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat desa. Selain itu pemerintah desa diharapkan lebih mandiri dalam mengelola pemerintahan dan berbagai sumber daya alam yang dimiliki, termasuk di dalamnya pengelolaan keuangan dan kekayaan milik desa. Begitu besar peran yang diterima oleh desa, tentunya disertai dengan tanggung jawab yang besar pula. Oleh karena itu pemerintah desa harus bisa menerapkan prinsip akuntabilitas dalam tata pemerintahannya, sehingga penyelenggaraan pemerintahan desa harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sehubungan dengan hal tersebut, dalam rangka mempercepat peningkatan akuntabilitas keuangan negara, sebagaimana tercantum dalam diktum keempat Inpres No 4 Tahun 2011, maka melalui Badan Pengawasan Keuangan dan pembangunan (BPKP) melaksanakan pengembangan sistem aplikasi tata kelola keuangan desa yang dapat digunakan membantu pemerintah desa dalam melakukan pengelolaan keuangan desa.
Eksistensi sistem keuangan desa ini, diharapkan agar pemerintah desa dapat mewujudkan tata
kelola keuangan desa yang bersih, tertib, efektif dan efisian. Proses pengawasan dan pemeriksaan pertanggungjawaban keuangan desa juga lebih mudah diterapkan.
1) Sistem Keuangan Desa
Sebagaimana diketahui bahwa Sistem Keuangan Desa (SiskeuDes) dalam pelaksanaannya didukung dengan suatu aplikasi yaitu Aplikasi Sistem Tata Kelola Keuangan Desa. Aplikasi tata kelola keuangan desa ini pada awalnya dikembangkan Perwakilan BPKP Sulawesi Barat sebagai proyek percontohan di lingkungan BPKP pada bulan Mei 2015. Aplikasi ini telah diimplementasikan secara perdana di Pemerintah Kabupaten Mamasa pada bulan Juni 2015. Keberhasilan atas pengembangan aplikasi ini selanjutkan diserahkan kepada Deputi Kepala BPKP Bidang Pengawasan Penyelenggaran Keuangan Daerah setelah melewati tahapan Quality Assurance (QA) oleh Tim yang telah ditunjuk. Terhitung mulai tanggal 13 Juli 2015 aplikasi keuangan desa ini telah diambil alih penanganannya oleh Deputi Pengawasan Bidang Penyelenggaraan Keuangan Daerah BPKP di Jakarta.
Aplikasi keuangan desa ini menggunakan database Microsoft Acces sehingga lebih portable dan mudah diterapkan oleh pengguna aplikasi yang awam sekalipun. Secara teknis transaksi keuangan desa termasuk dalam kelompok skala kecil, sehingga lebih tepat ditangani secara mudah dengan database acces ini. Penggunaan aplikasi dengan menggunakan database SQLServer hanya dikhususkan untuk tujuan tertentu atau volume transaksi sudah masuk dalam kategori skala menengah.
Penggunaan aplikasi keuangan desa harus mendapatkan persetujuan dari BPKP selaku pengembang aplikasi. Pemerintah Daerah dapat mengajukan permohonan penggunaan aplikasi ini kepada Perwakilan BPKP setempat. Pengajuan penggunaan aplikasi agar dikoordinasikan oleh Pemerintah Daerah sehingga dapat diterapkan pada seluruh desa yang ada pada pemerintah daerah yang bersangkutan. Persetujuan penggunaan aplikasi dilakukan dengan cara memberikan kode validasi pemda yang dikeluarkan secara resmi oleh BPKP.
Petunjuk pengoperasian aplikasi sistem tata kelola keuangan desa (2017) menjelaskan proses aplikasi sistem tata kelola keuangan desa yang meliputi data umum yang terdiri dari database dan sistem koneksi data, parameter umum, data entri. Selain itu terdapat pula petunjuk pengoperasian modul penganggaran dan petunjuk pengoperasian modul penatausahaan yang terdiri dari persiapan penatausahaan, penatausahaan penerimaan, penatausahaan pengeluaran, penyetoran pajak, mutasi kas, dan laporan penatausahaan. Juga
terdapat petunjuk pengoperasian modul pelaporan. Sampai dengan aplikasi ini dibuat belum ada regulasi mengenai keharusan desa membuat laporan keuangan sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (PP No 71 Tahun 2010). Oleh karena itu, untuk penyederhanaan aplikasi ini belum menggunakan sistem akuntansi sebagaimana dimaksud dalam SAP. Prosedur akuntansi akan diterapkan secara penuh apabila telah ada regulasi yang jelas mengenai keharusan desa mengikuti standar akuntansi pemerintahan. Selain itu, pemahaman SDM perangkat desa mengenai akuntansi menjadi pertimbangan belum diterapkannya sistem akuntansi tersebut.
Sehubungan dengan tata kelola keuangan desa maka diketahui bahwa di Kabupaten Malang telah terdapat sistem aplikasi yang dipergunakan dalam tata kelola keuangan desa. Institusi yang intensif mendampingi dalam penerapan system aplikasi ini adalah Badan Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan (BPKP). Adapun hasil analisa temuan dalam sistem tata kelola keuangan desa dapat dilihat pada Tabel 1.
Kondisi tata kelola keuangan dengan mempergunakan system aplikasi ini memberi manfaat positif bagi aparatur desa. Proses tata kelola yang meliputi perencanaan pembangunan desa, penganggaran keuangan desa pelaksanaan keuangan desa, penatausahaan keuangan desa, pelaporan dan pertanggungjawaban keuangan desa dan pengawasan keuangan desa telah diwadahi dalam aplikasi keuangan desa ini. Hal mana pada eksistensi Sistem Aplikasi sangat mendukung tata kelola keuangan desa secara administratif.
2) Dinamika Regulasi dalam Tata Kelola Keuangan Desa
UU No 6 Tahun 2014 (UU Desa) beserta peraturan pelaksanaannya telah mengamanatkan pemerintah desa untuk lebih mandiri dalam mengelola pemerintahan dan berbagai sumber daya alam yang dimiliki, termasuk di dalamnya merencanakan pembangunan desa serta mengelola keuangan dan kekayaan milik desa. Semua itu
terangkum dalam suatu siklus pengelolaan keuangan desa yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan dan pertanggung jawaban keuangan desa. Perencanaan pembangunan desa dituangkan dalam APBDesa.
Siklus tersebut mencakup pelaksanaan dari wewenang dan tanggung jawab yang dimiliki oleh desa. Sehingga dalam praktiknya, aparatur pemerintah desa dituntut untuk dapat memahami dan mengelola keuangan desa dengan baik dan benar sesuai dengan ketentuan perundang- undangan yang berlaku. Keuangan Desa menurut UU Desa adalah semua hak dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban desa. Hak dan kewajiban tersebut menimbulkan pendapatan, belanja, pembiayaan yang perlu diatur dalam pengelolaan keuangan desa yang baik. Siklus pengelolaan keuangan desa meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban, dengan periodisasi satu tahun anggaran, terhitung mulai 1 Januari s.d 31 Desember.
Hasil penelusuran lapangan diketahui bahwa, upaya pemberdayaan desa menemukan beragam tantangan dan pembelajaran. Salah satu tantangan yang akan dihadapi oleh pengelola keuangan desa dalam waktu dekat adalah penyesuaian tata kelola keuangan desa terhadap Permendagri No 20 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa.
Selain itu hal yang menarik lainnya, adalah penerapan Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi Dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional No 140-8698 Tahun 2017, No 954/KMK.07/2017, No 116 Tahun 2017, No 01/SKB/M.PPN/12/2017 Tentang Penyelarasan Dan Penguatan Kebijakan Percepatan Pelaksanaan UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa.
Tabel 1.
Analisis Temuan Sistem Aplikasi Tata Kelola Keuangan Desa Subtansi Fokus
Penelitian Temuan Lapangan Hasil Analisa
Eksistensi Aplikasi
Sistem Tata Kelola Keuangan Desa
Aplikasi Sistem Tata Kelola Keuangan Desa telah tersedia dan diterapkan bagi pemerintah desa di
seluruh wilayah Kabupaten Malang, dengan instritusi pendamping untuk penerapan sistem aplikasi ini adalah Badan Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan (BPKP).
Telah tersedia petunjuk teknis yang dapat menerapkan Aplikasi Sistem Tata Kelola Keuangan Desa. Upaya peningkatan pemahaman, dan ketrampilan pengoperasian Aplikasi Sistem Tata Kelola Keuangan Desa telah dilakukan melalui pelatihan-pelatihan serta adanya panduan dalam bentuk Petunjuk Pengoperasian Aplikasi Sistem Tata Kelola Keuangan Desa
Sistem Aplikasi mendukung tata kelola keuangan desa secara administratif
a) Permendagri No 20 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa
Sebagaimana diketahui regulasi keuangan khususnya dalam pengelolaan keuangan desa selama ini mengacu pada Permendagri No 113 Tahun 2014 serta dalam perencanaan mengacu pada Permendagri No 114 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa khususnya mengenai tahapan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa. Eksistensi Permendagri 20/2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa adalah merupakan peraturan pengganti Permendagri No 113 Tahun 2014. Hal ini sangat jelas dalam bagian Penutup Bab VIII pasal 79 ayat point b menyatakan bahwa pada saat Peraturan menteri ini mulai berlaku Peraturan Menteri Dalam Negeri No 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 2094 dinyatakan dicabut dan tidak berlaku.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No 20 Tahun 2018 juga mencabut sebagian pasal-pasal yang terdapat dalam Permendagri No 114 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa sebagaimana disebutkan dalam bagian Penutup Bab VIII pasal 79 point a. Adapun pasal-pasal dalam Permendagri 114 Tahun 2014 yang dicabut meliputi: Pasal 6 ayat (2), ayat (3) ayat (4) dan ayat (5), Pasal 40 ayat (2), Pasal 52 ayat (1), Pasal 54 ayat (2), Pasal 57, Pasal 58, Pasal 60 ayat (4), Pasal 62 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 66 ayat (2), Pasal 69, Pasal 71, Pasal 72, Pasal 79, dan Pasal 81 ayat (3).
Keberlakukan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 20 Tahun 2018 juga diatur dalam bagian Ketentuan Peralihan Bab VII pasal 78. Hal ini menunjukkan, Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa tetap berlaku sampai 2018. Implementasi pengelolaan keuangan Desa menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No 20 Tahun 2018 dinyatakan mulai berlaku untuk APB Desa tahun anggaran 2019. Hal ini berimplkasi pula pada Peraturan Bupati/ Walikota mengenai Pengelolaan Keuangan Desa yang telah ditetapkan sebelum Peraturan Menteri ini tetap berlaku dan wajib menyesuaikan paling lambat 1 (satu) tahun setelah Peraturan Menteri ini ditetapkan.
Hasil penelusuran lapangan juga diperoleh informasi dalam rangka menindaklanjuti Peraturan Menteri Dalam Negeri No 20 Tahun 2018 tersebut, maka dikeluarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No 4122/5165/37 tentang Tindak Lanjut Peraturan Menteri Dalam Negeri No 20 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa yang ditujukan pada Bupati/Walikota se-Indonesia tertanggal 25 Juli 2018.
Kenyataan ini menunjukkan, pengaturan
pengelolaan desa demikian dinamis dengan adanya Peraturan Menteri Dalam Negeri No 20 Tahun 2018 serta Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No 4122/5165/37. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten Malang khususnya maupun pemerintah kabupaten/kota se Indonesia, terlebih bagi aparatur pemerintah desa dalam mengaplikasikan sistem pengelolan keuangan desa berdasarkan Permendagri No 20 Tahun 2018. Walaupun demikian, hasil penelusuran di lapangan, Bimbingan Teknis (Bimtek) tentang Permendagri No 20 Tahun 2018 memang sedang berjalan dalam rangka meningkatkan pemahaman bagi pelaksana baik di tingkat kabupaten hingga pada tingkat desa.
Analisa mengenai perbandingan Permendagri No 13 Tahun 2014 dengan Permendagri No 20 Tahun 2018 menunjukkan banyak perubahan dalam hal pengelolaan keuangan desa. Terlebih lagi dengan adanya SE Mendagri No 4122/5165/37 maka langkah-langkah yang ditempuh pemerintah daerah perlu ekstra mengimplementasi Permendagri No 20 Tahun 2018 dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No 4122/5165/37 tersebut.
Adapun hasil analisa yang diperoleh sebagai catatan perubahan mendasar pengelolaan keuangan desa di antaranya; a) Pencatatan akutansi keuangan menggunakan metode Basis Kas. Artinya, transaksi keuangan baru dicatat jika sudah terjadi penerimaan atau pengeluaran. Sebelumnya menggunakan basis akrual yang mencatat semua transaksi meskipun belum ada pengeluaran atau penerimaan kas; b) Pengelola keuangan diharuskan berasal dari perangkat desa yang terdiri dari Kepala Urusan (Kaur) dan Kepala Seksi (Kasi). Dalam hal ini sebenarnya Kabupaten/ Kota bisa mengatur (melalui Perbup) mengenai adanya unsur masyarakat yang masuk menjadi tim pelaksana kegiatan. Penatausahaan atau fungsi perbendaharaan dilakukan oleh Kaur Keuangan, sebelumnya oleh Bendahara; c) Terdapat perubahan struktur kodifikasi Bidang, Sub Bidang, Kegiatan, Jenis Belanja, Obyek Belanja, hingga item belanja/ pengeluaran. Struktur ini termasuk penentuan kode rekening yang baku hingga item belanja dalam rancangan anggaran. Penambahan item yang dinamis (di luar kebakuan) hanya disediakan nomor kode rekening 90-99 saja. Terlihat ambisi yang tinggi untuk kepentingan agregasi secara nasional; d) Terdapat tambahan format dokumen penganggaran, pelaksanaan, hingga laporan realisasi dan pertanggungjawaban. Dokumen tambahan tersebut (selain yang sudah termuat dalam Permendagri 113/2014) meliputi: DPA, RKA, RKK, RAK, Buku Pembantu Panjar, Buku Pembantu Terima Swadaya, laporan perkembangan pelaksanaan kegiatan, Catatan atas Laporan Keuangan (CALK), dan laporan program sektoral; e) Adanya kewenangan
BPD untuk menolak RAPBDesa; f) Kewenangan pembinaan dan pengawasan bukan hanya pada level kabupaten/kota dan provinsi, tetapi hingga level Kementerian.
Sebagaimana diketahui aturan baru akan mengakibatkan aturan turunan baru. Mekanisme baru akan mengakibatkan penyesuaian secara sosial dan teknis di lapangan (Wahyuni, Haris, & Suwena, 2017, p. 9). Dalam hal ini pengelola keuangan di desa juga harus menyesuaikan tata kelola keuangan yang sudah berjalan selama ini dengan aturan dan mekanisme yang baru. Hal ini dihadapi tidak hanya desa, pemerintah kabupaten/kota dan provinsi pun juga harus menyiapkan pola penguatan kapasitas dan pendampingan desa sehingga pengelolaan keuangan desa tidak menjebak desa pada aspek teknokratis dan administatif saja. Selain itu, implementasi UUDesa tidak boleh hanya dimaknai dengan pengelolaan akutansi Dana Desa. Pengelolaan keuangan desa yang dilakukan harus berdasar atas azas-azas transparansi, partisipatif, serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran (Sari, 2019, p. 108).
b) Keputusan Bersama
Sehubungan dengan eksistensi Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi Dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional No: 140-8698 Tahun 2017, No: 954/KMK.07/2017, No: 116 Tahun 2017, No: 01/SKB/M.PPN/12/2017 tentang Penyelarasan Dan Penguatan Kebijakan Percepatan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa tertanggal 18 Desember 2017, maka terdapat sejumlah implikasi dalam kaitannya dengan pengelolaan desa. Hal ini mengingat bahwa; a) berdasarkan Peraturan Pemerintah No 43 tahun 2014 tentang Keuangan Desa dalam Pasal 118 menyebutkan, RKP Desa mulai disusun oleh Pemerintah Desa pada bulan Juli tahun berjalan. RKP Desa ditetapkan dengan peraturan Desa paling lambat akhir bulan September tahun berjalan; b) Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 43 tahun 2014 tentang Keuangan Desa dalam Paragraf 5 APB Desa Pasal 101 menyebutkan bahwa Rancangan peraturan Desa tentang APB Desa disepakati bersama oleh kepala Desa dan Badan Permusyawaratan Desa paling lambat bulan Oktober tahun berjalan.
Sehubungan dengan hal tersebut maka, implikasi yang terjadi dari penelusuran di lapangan terdapat desa-desa di Kabupaten Malang yang telah menyusun RKP maupun APBDes, melakukan penyesuaian penyusunan ulang terhadap APBDes dan RKP terutama kegiatan padat karya sebagaimana
dalam klausul mengenai fasilitasi penggunaan Dana Desa untuk kegiatan pembangunan desa paling sedikit 30% (tiga puluh persen) wajib digunakan untuk membayar upah masyarakat dalam rangka menciptakan lapangan kerja di Desa dan ketentuan mengenai upah kerja dibayar secara harian atau mingguan dalam pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dengan Dana Desa. Dengan begitu maka berpengaruh terhadap tata kelola keuangan desa.
Dinamika regulasi ini, berdampak bagi Pemerintah daerah secara ekstra dalam mengimplementasi Permendagri 20/2018 dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No 4122/5165/37 tersebut. Hal ini dirasakan demikian perlu adalnya penguatan kapasitas pemerintah desa perlu dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota dan provinsi serta melaksanakan pendampingan desa sehingga pengelolaan keuangan desa tidak menjebak desa pada aspek teknokratis dan administratif.
B. Pengalokasian Dana dalam Meningkatkan Pelayanan Publik
Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu yang berupa uang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban Desa. Pengelolaan Keuangan Desa merupakan keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, penganggaran, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan desa (Tahir, Anwar, & Dinakhir, 2019). Dalam rangka pengelolaan keuangan desa agar lebih mencerminkan keberpihakan kepada kebutuhan masyarakat dan sesuai peraturan perundangan, maka harus dikelola secara transparan, akuntabel, partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran.
Pelaksanaan kebijakan pengelolaan keuangan Desa untuk dapat sesuai amanah UU No 6 tentang Desa dan Peraturan Pelaksanaannya, Pedoman Pengelolaan Keuangan desa, dan mencerminkan keberpihakan terhadap kebutuhan riil masyarakat, maka setiap tahunnya Pemerintah Desa bersama Badan Permusyawaratan Desa menetapkan Peraturan Desa tentang Anggaran pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) secara partisipatif dan transparan yang proses penyusunannya dimulai dengan lokakarya desa, konsultasi publik dan rapat Musyawarah BPD untuk penetapannya.
Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (RAPBDes) di dalamnya memuat pendapatan, Belanja dan Pembiayaan yang pengelolannya dimulai 1 Januari sampai 31 Desember. Kebijakan pengelolaan keuangan desa untuk tahun anggaran 2017 merupakan sistem pengelolaan keuangan
yang baru bagi desa. Sehingga masih harus banyak dilakukan penyesuaian-penyesuaian secara menyeluruh sampai pada teknis implementasinya.
Sehubungan dengan pengalokasian dana desa untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, mak hal ini dapat dilihat dari komponen belanja desa. Belanja Desa merupakan semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh desa (Rosielita, Sulindawati, & Sinarwati, 2017, p. 4). Belanja Desa dipergunakan dalam rangka mendanai penyelenggaraan kewenangan desa. Belanja Desa yang ditetapkan dalam APB Desa sesuai pasal 100 PP Nomor 47 Tahun 2015 digunakan dengan ketentuan: Paling sedikit 70% (≥ 70%) dari jumlah anggaran belanja desa digunakan untuk mendanai penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa (4 bidang). Paling banyak 30% (≤ 30%) dari jumlah anggaran belanja desa digunakan untuk penghasilan tetap dan tunjangan kepala desa dan perangkat desa; Operasional pemerintah desa; Tunjangan dan operasional Badan Permusyawaratan Desa; Insentif Rukun Tetangga dan Rukun Warga yaitu bantuan kelembagaan yang digunakan untuk operasional RT dan RW.
Penghasilan tetap, operasional pemerintah desa, dan tunjangan dan operasional BPD serta insentif RT dan RW dibiayai dengan menggunakan sumber dana dari Alokasi Dana Desa. Sedangkan Penggunaan Dana Desa diprioritaskan untuk membiayai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Kebutuhan pembangunan meliputi tetapi tidak terbatas pada kebutuhan primer, pelayanan dasar, lingkungan, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat desa. Pengertian Tidak Terbatas adalah kebutuhan pembangunan di luar pelayanan dasar yang dibutuhkan masyarakat desa.
Dalam hal pengalokasian dana desa untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat maka dapat diidentifikasi jumlah anggaran belanja desa digunakan untuk mendanai penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa. Sebagai ilustrasi kebijakan umum belanja desa di Desa Sumber Manjing Kulon sebagai berikut:
Sedangkan dalam hal Operasional Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Sumber Manjing Kulon dapat dilihat pada Tabel 4.
Apabila mengacu bahwa paling sedikit 70% (≥ 70%) dari jumlah anggaran belanja desa digunakan untuk mendanai penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa (4 bidang). Sedangkan paling banyak 30% (≤ 30%) dari jumlah anggaran belanja desa digunakan untuk penghasilan tetap dan tunjangan kepala desa dan perangkat desa; Operasional pemerintah desa; Tunjangan dan operasional Badan Permusyawaratan Desa; dan Insentif Rukun Tetangga dan Rukun Warga yaitu
Tabel 3.
Pagu Pembangunan Desa
No Bidang Persen
1 Penyelenggaraan Pemerintahan Desa 31.47% 2 Pelaksanaan Pembangunan Desa 50.34% 3 Pembinaan Kemasyarakatan Desa 5.03% 4 Pemberdayaan Masyarakat 12.42%
Jumlah 100.00%
Sumber: Diolah dari APBDes Sumber Manjing Kulon, 2017
Tabel 2.
Analisis Temuan Dinamika Regulasi Terhadap Tata Kelola Keuangan Desa
Subtansi Fokus Penelitian Temuan Lapangan Hasil Analisa
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 4122/5165/37 tentang Tindak Lanjut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa yang ditujukan pada Bupati/Walikota se-Indonesia tertanggal 25 Juli 2018
Pemerintah daerah perlu “ekstra” dalam mengimplementasi Permendagri 20/2018 dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 4122/5165/37 tersebut., saat ini sedang dilaksanakan Bimtek berhubungan dengan kedua regulasi tersebut.
Penyesuaian penyusunan ulang terhadap APB Des dan RKP oleh pemerintah desa terutama kegiatan padat karya sebagaimana dalam klausul mengenai fasilitasi penggunaan Dana Desa untuk kegiatan pembangunan desa paling sedikit 30% (tiga puluh persen) wajib digunakan untuk membayar upah masyarakat dalam rangka menciptakan lapangan kerja di Desa dan ketentuan mengenai upah kerja dibayar secara harian atau mingguan dalam pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dengan Dana Desa;
Pola penguatan kapasitas pemerintah desa perlu dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota dan provinsi serta melaksanakan pendampingan desa sehingga pengelolaan keuangan desa tidak menjebak desa pada aspek teknokratis dan administatif
bantuan kelembagaan yang digunakan untuk operasional RT dan RW.
Hasil analisa diketahui bahwa dalam hal penggunaan operasional penyelenggaraan pemerintahan Desa Sumber Manjing Kulon mencapai 21,38% dari jumlah anggaran belanja desa. Hal ini berarti penggunaan operasional penyelenggaraan pemerintahan Desa Sumber Manjing Kulon telah memenuhi ketentuan yang berlaku sesuai PP No 43 Tahun 2014.
Hasil penelusuran lapangan diketahui bahwa prioritas program dan kegiatan pembangunan Desa Sumbermanjingkulon yang tersusun dalam RKP desa Tahun 2017 sepenuhnya didasarkan pada rumusan prioritas masalah. Sehingga prioritas program dan kegiatan pembangunan yang akan dilaksanakan pada tahun 2017 nantinya benar-benar berjalan efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana desa, pengembangan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan.
Prioritas program dan kegiatan pembangunan skala desa merupakan program pembangunan yang sepenuhnya mampu dilaksanakan oleh desa. Kemampuan tersebut dapat diukur dari ketersediaan anggaran desa, kewenangan desa dan secara teknis di lapangan desa mempunyai sumber daya.
Adapun prioritas kegiatan Bidang Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Tahun 2017
di Desa Sumber manjing Kulon adalah pelayanan dasar, pembangunan sarana dan prasarana desa, infrastruktur dan lingkungan desa, rehabilitasi/ pemeliharaan infrastruktur dan lingkungan desa, pembangunan sarana dan prasarana kesehatan, Pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana pendidikan, Pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana sosial budaya dan keagamaan, Pengembangan usaha ekonomi produktif, Pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana ekonomi, serta Pelestarian lingkungan hidup. Sedangkan prioritas kegiatan Bidang Pembinaan Kemasyarakatan Desa Tahun 2017 adalah Peningkatan kemasyarakatan desa. 1) Pengalokasian Dana dalam Meningkatkan
Pemberdayaan
Indeks Desa Membangun (IDM) disusun dengan landasan bahwa pembangunan merupakan proses akumulasi dari dimensi sosial, dimensi ekonomi dan dimensi ekologi (Taufiq, 2019, p. 147). Ketiganya menjadi mata rantai yang saling memperkuat yang mampu menjamin keberlanjutan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa. Prioritas penggunaan Dana Desa untuk program dan kegiatan bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa, dialokasikan untuk mendanai kegiatan yang bertujuan meningkatkan kapasitas warga atau masyarakat desa dalam pengembangan wirausaha, peningkatan pendapatan, serta perluasan skala ekonomi individu warga atau kelompok masyarakat dan desa, antara lain:
a. Peningkatan investasi ekonomi desa melalui pengadaan, pengembangan atau bantuan alat-alat produksi, permodalan, dan peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan pemagangan; b. Dukungan kegiatan ekonomi baik yang
dikembangkan oleh BUM Desa atau BUM Desa Bersama, maupun oleh kelompok dan atau lembaga ekonomi masyarakat desa lainnya; c. Bantuan peningkatan kapasitas untuk program
dan kegiatan ketahanan pangan desa;
d. Pengorganisasian masyarakat, fasilitasi dan pelatihan paralegal dan bantuan hokum masyarakat desa, termasuk pembentukan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) dan pengembangan kapasitas Ruang Belajar Masyarakat di desa (Community Centre); e. Promosi dan edukasi kesehatan masyarakat
serta gerakan hidup bersih dan sehat, termasuk peningkatan kapasitas pengelolaan Posyandu, Poskesdes, Polindes dan ketersediaan atau keberfungsian tenaga medis/swamedikasi di desa;
f. Dukungan terhadap kegiatan pengelolaan hutan/pantai desa dan hutan/pantai emasyarakatan;
Tabel 4.
Operasional Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Sumber Manjing Kulon
No Bidang Keterangan Persentase 1 Penghasilan Tetap Kepala
Desa dan Perangkat Desa ADD 68% 2 Tunjangan Kepala Desa
dan Perangkat Desa dan
penghasilan tambahan ADD 13% 3 Operasional Kepala Desa
dan Perangkat Desa PBH 7% 4 Operasional Pemerintah
Desa ADD 2%
5 Operasional Badan
Permusyawaratan Desa ADD 1% 6 Tunjangan BPD dan
Anggota ADD 7%
7 Penyelenggaraan
Musyawarah Desa ADD 2%
g. Peningkatan kapasitas kelompok masyarakat untuk energi terbarukan dan pelestarian lingkungan hidup; dan/atau bidang kegiatan pemberdayaan ekonomi lainnya yang sesuai dengan analisa kebutuhan desa dan telah ditetapkan dalam Musyawarah Desa.
Teori pemberdayaan masyarakat dalam Suharto (2005) yang menjelaskan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan kemampuan menjangkau, mengunakan dan mempengaruhi pranata-pranata masyarakat, seperti lembaga kesejahteraan sosial, pendidikan, kesehatan. Sedangkan pemberdayaan masyarakat oleh Widjaja (2004) yang menjelaskan bahwa cara dalam memberdayakan masyarakat terutama di pedesaan tidak cukup hanya dengan upaya meningkatan produktifitas, pemberian kesempatan usaha yang sama atau memberi modal saja, akan tetapi harus diikuti pula dengan perubahan struktur sosial ekonomi masyarakat.
Adapun alokasi kegiatan sebagaimana dalam pagu indikatif untuk Bidang Pemberdayaan dalam APBDes Desa Sumbermanjingkulon dalam Tabel 7.
Tabel 6.
Realisasi Kegiatan Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa Tahun 2016
No Kegiatan AnggaranSumber
1 Pelatihan Kepala Desa dan Perangkat DDS 2 Peningkatan Kapasitas Lembaga
Masyarakat DDS
3 Pemberdayaan Posyandu DDS 4 Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat DDS, PBH
5 Pemberdayaan UMKM DDS
6 Intensifikasi PBB PBH
Sumber: Diolah dari APBDes Sumber Manjing Kulon, 2017
Tabel 7.
Pagu Indikatif untuk Bidang Pemberdayaan dalam APBDes Desa Sumbermanjingkulon Tahun 2017
No. Kegiatan Bidang Pemberdayaan Dukungan dan Kebutuhan 04.01 Kegiatan Pelatihan Kepala
Desa, Perangkat Desa dan BPD 4.163.500,00 04.02 Kegiatan Pengelolaan
Pelayanan Kesehatan masyarakat
39.000.000,00
04.03 Kegiatan Pengelolaan Pelayanan Pendidikan dan Kebudayaan
2.056.000,00
04.07 Kegiatan Pengelolaan
Informasi dan Komunikasi 8.362.500,00 04.11 Kegiatan Pembentukan
dan Pengembangan Usaha Ekonomi
62.752.000,00
04.14 Kegiatan Pelestarian
Lingkungan Hidup 3.200.000,00 04.15 Kegiatan Penyusunan Profil
Desa/Data Desa/Peta Aset Desa
1.080.000,00
04.16 Kegiatan Pengembangan Sistem Transparan dan Akuntabel 3.240.000,00 04.17 Kegiatan Pendayagunaan Lembaga Kemasyarakatan Desa 15.000.000,00
04.24 Kegiatan Intensifikasi dan
Ekstensifikasi PBB 10.683.197,00 Jumlah Bidang Pemberdayaan 170.090.197,00 Jumlah Seluruhnya 1.359.083.697,00
Sumber: Diolah dari APBDes Sumber Manjing Kulon, 2017
Tabel 5.
Analisis Temuan Pengalokasian Dana Desa Dalam Meningkatkan Pelayanan Publik
Subtansi Fokus Penelitian Temuan Lapangan Hasil Analisa
Paling sedikit 70% (≥ 70%) dari jumlah anggaran belanja desa digunakan untuk mendanai penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa (4 bidang). Sedangkan paling banyak 30% (≤ 30%) dari jumlah anggaran belanja desa untuk operasional penyelenggaraan pemerintahan desa
Penggunaan dana dalam belanja desa untuk Penyelenggaraan Pemerintahan Desa mencapai 31.47%, Pelaksanaan Pembangunan Desa mencapai 50.34%, Pembinaan
Kemasyarakatan Desa mencapai 5.03%, Pemberdayaan Masyarakat mencapai 12.42%
Penggunaan operasional penyelenggaraan pemerintahan mencapai 21,38% dari jumlah anggaran belanja desa. Hal ini berarti penggunaan operasional penyelenggaraan pemerintahan Desa secara rata-rata memenuhi ketentuan yang berlaku sesuai PP. 43 tahun 2014
Hasil kajian di lapangan menunjukkan bahwa, alokasi dana untuk kegiatan bidang pemberdayaan masyarakat mencapai 12,52% dari seluruh kegiatan. Hal ini menunjukkan bahwa porsi pemberdayaan masih perlu ditingkatkan khususnya dalam pos belanja APBDes. Hal yang menarik dari temuan lapangan adalah bahwa, walaupun porsi untuk kegiatan pemberdayaan masih perlu ditingkatkan, namun demikian secara proses dalam penyusunan APBDes beberapa desa di lokasi kajian telah menunjukkan nilai yang baik dalam mendukung proses pemberdayaan. Adapun analisis dengan mempergunakan diagram Fujikake dari diperoleh penilaian bisa dilihat pada Gambar 2.
Hasil penelusuran lapangan dapat diperoleh informasi bahwa, berdasarkan 12 indikator yaitu tingkat partisipasi, pengemukaan opini, perubahan kesadaran, pengambilan tindakan, kepedulian dan kerjasama, kreativitas, menyusun tujuan baru, negosiasi, kepuasan, kepercayaan diri, keterampilan manajerial, dan pengambilan keputusan, rata-rata dalam proses penyusunan APBDes rata-rata-rata-rata memliki nilai yang baik. Hal yang perlu mendapat perhatian adalah kepuasan, perubahan lesadaran dan kreativitas sebagai tantangan bagi aparatur pemerintah desa dalam penyusunan APBDes.
Hal ini disadari bahwa, penyusunan APBDes merupakan manifestasi dalam penyusunan dokumen-dokumen rencana pembangunan desa. Perencanaan pembangunan desa disusun sesuai dengan kewenangan pemerintah desa dengan mengacu pada perencanaan pembangunan kabupaten/kota dengan melibatkan seluruh masyarakat desa dengan semangat gotong royong. Perencanaan pembangunan desa disusun secara berjangka dan ditetapkan dengan Peraturan Desa meliputi: a) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa untuk jangka waktu 6 (enam) tahun; dan b) Rencana Pembangunan Tahunan Desa atau yang disebut Rencana Kerja Pemerintah Desa
(RKP Desa), merupakan penjabaran dari RPJM Desa untuk jangka waktu 1 (satu) tahun.
Perencanaan pembangunan desa jelas melibatkan masyarakat, yaitu melalui penyusunan rencana pembangunan desa melalui musyawarah desa. Badan Permusyawaratan Desa menyelenggarakan Musyawarah Desa berdasarkan laporan hasil pengkajian keadaan desa. Musyawarah Desa dilaksanakan terhitung sejak diterimanya laporan dari kepala desa. Hal-hal yang dibahas dan disepakati dalam Musyawarah Desa yaitu: a) Laporan hasil pengkajian keadaan desa;b) Rumusan arah kebijakan pembangunan desa yang dijabarkan dari visi dan misi kepala desa; c) Rencana prioritas kegiatan penyelenggaraan pemerintahan desa, pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa.
Musyawarah Desa dilakukan dengan diskusi kelompok secara terarah yang dibagi berdasarkan bidang penyelenggaraan pemerintahan desa, pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa.
Dalam hal rencana kerja pemerintah desa (RKP Desa), pemerintah desa menyusun RKP Desa sebagai penjabaran RPJM Desa. RKP Desa disusun oleh pemerintah desa sesuai dengan informasi dari pemerintah daerah kabupaten/kota berkaitan dengan pagu indikatif desa dan rencana kegiatan pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota. RKP Desa mulai disusun oleh pemerintah desa pada bulan Juli tahun berjalan. RKP Desa ditetapkan dengan peraturan desa paling lambat akhir bulan September tahun berjalan. RKP Desa menjadi dasar penetapan APB Desa. Kepala desa menyusun RKP Desa dengan mengikutsertakan masyarakat desa. Sesuai Permendagri Nomor 114 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa, tahapan penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa) meliputi:
Gambar 2. Analisis Pemberdayaan Dalam Penyusunan APBDes
Tabel 8.
Analisis Strategi Pengelolaan APBDes dalam Mendukung Pelayanan dan Pemberdayaan
Aspek Kondisi Eksisting Permasalahan Strategi
Tata Kelola Keuangan Desa Dalam Sistem Keuangan Desa
Aplikasi Sistem Tata Kelola Keuangan Desa telah tersedia dan diterapkan bagi pemerintah desa di seluruh wilayah Kabupaten Malang, dengan instritusi pendamping untuk penerapan sistem aplikasi ini adalah Badan Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan (BPKP). Telah tersedia petunjuk teknis yang dapat menerapkan Aplikasi Sistem Tata Kelola Keuangan Desa.
Upaya peningkatan pemahaman, dan ketrampilan pengoperasian dilakukan melalui pelatihan-pelatihan serta adanya panduan dalam bentuk Petunjuk Pengoperasian Aplikasi Sistem Tata Kelola Keuangan Desa
Penerapan Regulasi baru
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018
Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 4122/5165/37 tentang Tindak Lanjut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa
SKB 4 Menteri Nomor: 140-8698 Tahun 2017, Nomor: 954/KMK.07/2017, Nomor: 116 Tahun 2017, Nomor: 01/SKB/M. PPN/12/2017 Tentang Penyelarasan Dan Penguatan Kebijakan Percepatan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa
Strategi Penguatan Regulasi Strategi Peningkatan Kapasitas Aparatur Pengelolaan Keuangan Desa Pengalokasian Dana Desa Dalam Meningkatkan Pelayanan Publik dan pemberdayaan
Penggunaan dana dalam belanja desa untuk Penyelenggaraan Pemerintahan Desa mencapai 31.47%, Pelaksanaan Pembangunan Desa mencapai 50.34%, Pembinaan Kemasyarakatan Desa mencapai 5.03%, Pemberdayaan Masyarakat mencapai 12.42%
Alokasi untuk pelaksanaan pembangunan desa paling tinggi dibandingkan bidang lainnya terlebih Pemberdayaan Masyarakat
Penguatan Kapasitas Aparatur Pengelolaan Keuangan Desa
Sumber: Hasil analisa penulis, 2018
Tabel 9.
Arahan Strategi dan Kegiatan Pengelolaan APBDes Dalam mendukung Pelayanan dan Pemberdayaan
Strategi Kegiatan Instansi
Strategi Penguatan
Regulasi • Menetapkan kebijakan/regulasi mendukung Pengelolaan Keuangan Desa berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018;
• Dinas Pemberdayaaan Masyarakat dan Desa • Bagian Tata Pemerintahan Desa
• Biro Hukum Pemerintah kabupaten • Penyesuaian Peraturan Bupati/Walikota tentang Pengelolaan
Keuangan Desa terutama mengenai hal-hal yang meliputi: • Pengaturan belanja sub bidang penanggulangan bencana
keadaan darurat dan keadaan mendesak yang berskala lokal Desa;
• Peraturan penyertaan modal; • Pedoman Penyusunan APBDesa:
• Peraturan kriteria keadaan Luar Biasa untuk Perubahan Perdes tentang Perubahan APBDesa; dan
• Pengaturan jumlah uang tunai yang dapat disimpan oleh Kaur Keuangan di Desa.
• Dinas Pemberdayaaan Masyarakat dan Desa • Bagian Tata Pemerintahan Desa
• Biro Hukum Pemerintah kabupaten
Strategi Peningkatan Kapasitas Aparatur Pengelolaan Keuangan Desa
• Peningkatan sosialisasi mengenai Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 20 Tahun 2018 • Dinas Pemberdayaaan Masyarakat dan Desa• Bagian Tata Pemerintahan Desa • Meningkatkan intensitas pelatihan dalam rangka peningkatan
kapasitas bagi Aparatur Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Pemerintah Desa berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018.
• Dinas Pemberdayaaan Masyarakat dan Desa • Bagian Tata Pemerintahan Desa
• Meningkatkan intensitas pelatihan dan pembinaan dalam rangka mengoptimalkan pelaksanaan program padat karya tunai.
• Dinas Pemberdayaaan Masyarakat dan Desa • Bagian Tata Pemerintahan Desa
• Memperkuat pendamping pembangunan desa • Dinas Pemberdayaaan Masyarakat dan Des • Magang lintas desa • Bagian Tata Pemerintahan Desa
Kondisi ini menyiratkan bahwa, pemberdayaan masyarakat dengan indikator tingkat partisipasi, pengemukaan opini, perubahan kesadaran, pengambilan tindakan, kepedulian dan kerjasama, kreativitas, menyusun tujuan baru, negosiasi, kepuasan, kepercayaan diri, keterampilan manajerial, dan pengambilan keputusan, rata-rata dalam proses perencanaan dan penyusunan APBDes rata-rata memliki nilai yang baik karena sistem, mekanisme telah jelas dan didukung pedoman yang ada.
C. Strategi Pemerintah Desa Terhadap Pengelolaan APBDes Dalam Mendukung Pelayanan dan Pemberdayaan
Eksistensi desa walaupun bukan bagian pemerintahan secara langsung dari pemerintah daerah (bukan unit kerja/SKPD Pemda), namun desa tetap memiliki hubungan koordinasi dan administratif dengan pemerintahan yang ada di atasnya yang disebut sebagai pemerintah supra desa. Pemerintah Supra Desa terdiri dari Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Kabupaten/ Kota, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat. Setiap jenjang tingkatan pemerintah supra desa memiliki fungsi pengawasan dan pembinaan kepada pemerintah desa sebagaimana di atur dalam UU Desa. Bentuk pembinaan dan pengawasan yang dilakukan pemerintah supra desa antara lain memberikan panduan/pedoman, bimbingan dan supervisi, pembinaan peningkatan kapasitas, hingga melakukan fasilitasi dan pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan desa.
Sehubungan dengan strategi dalam bentuk arahan kegiatan bagi pemerintah desa dan lembaga desa dalam pengelolaan APBDes yang dapat mendukung pelayanan dan pemberdayaan masyarakat maka analisis perumusan strategi bisa dilihat dalam Tabel 8 dan 9.
IV. Kesimpulan
Terkait temuan penelitian dan pembahasan di atas, maka dalam hal ini pemerintah daerah perlu ekstra dalam mengimplementasi Permendagri No 20 Tahun 2018dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 4122/5165/37 tersebut., saat ini sedang dilaksanakan Bimtek berhubungan dengan kedua regulasi tersebut. Pola penguatan kapasitas pemerintah desa perlu dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota dan provinsi serta melaksanakan pendampingan desa sehingga pengelolaan keuangan desa tidak menjebak desa pada aspek teknokratis dan administatif.
pengalokasian dana desa untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat menunjukkan bahwa penggunaan dana dalam belanja desa untuk
Penyelenggaraan Pemerintahan Desa mencapai 31.47%, Pelaksanaan Pembangunan Desa mencapai 50.34%, Pembinaan Kemasyarakatan Desa mencapai 5.03%, Pemberdayaan Masyarakat mencapai 12.42%. Penggunaan operasional penyelenggaraan pemerintahan mencapai 21,38% dari jumlah anggaran belanja desa. Hal ini berarti penggunaan operasional penyelenggaraan pemerintahan Desa secara rata-rata memenuhi ketentuan yang berlaku sesuai PP No 43 Tahun 2014.
Pemerintah desa harus menyesuiakan Pengelolaan Keuangan Desa berdasarkan Permendagri No 20 Tahun 2018. Pemerintah Desa juga perlu meningkatkan kapasitas dan kemampuan melalui keikutsertaan yang intensif dalam program pelatihan dan pembinaan Pengelolaan Keuangan Desa berdasarkan Permendagri No 20 Tahun 2018.
Selain itu pemerintah Kabupaten Malang perlu Menetapkan kebijakan/regulasi mendukung Pengelolaan Keuangan Desa berdasarkan Permendagri No 20 Tahun 2018; serta harus adanya penyesuaian Peraturan Bupati/Walikota tentang Pengelolaan Keuangan Desa terutama mengenai hal-hal yang meliputi; Pengaturan belanja sub bidang penanggulangan bencana keadaan darurat dan keadaan mendesak yang berskala lokal Desa; Peraturan penyertaan modal; Pedoman Penyusunan APBDesa: Peraturan kriteria keadaan Luar Biasa untuk Perubahan Perdes tentang Perubahan APBDesa; dan Pengaturan jumlah uang tunai yang dapat disimpan oleh Kaur Keuangan di Desa.
Di sisi lain perlu peningkatan sosialisasi mengenai Permendagri No 20 Tahun 2018; Meningkatkan intensitas pelatihan dalam rangka peningkatan kapasitas bagi Aparatur Kabupaten/ Kota, Kecamatan dan Pemerintah Desa berdasarkan Permendagri No 20 Tahun 2018, serta; Memperkuat pendamping pembangunan desa dan kontrol masyarakat.
Dalam hal Pengelolaan Keuangan Desa, Muatan substansi yang perlu ditindaklanjuti selain dari pengaturan atas Permendagri 20/2018 adalah pengaturan mengenai kegiatan dalam bidang 5; tata cara penyertaan modal; pedoman penyusunan apb desa; kriteria keadaan luar biasa, serta pengaturan jumlah uang tunai yang disimpan oleh kaur keuangan untuk memenuhi kebutuhan operasional pemerintah desa.
Ucapan Terima Kasih
Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari berbagai pihak yang telah membantu guna terwujudnya penelitian ini. Kepada pemerintah Kabupaten Malang, Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Malang, Pemerintah Kecamatan Pagak dan Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang.
V. Referensi
Atmaja, D. A. (2016). Analisis Pengelolaan Keuan-gan dan Kekayaan Desa (Studi Kasus di Desa Plesungan Kecamatan Gondangrejo Kabupat-en Karanganyar). Universitas Muhammadiyah Surakarta. Retrieved from http://eprints.ums. ac.id/42652/
BPKP, T. P. A. S. D. (2017). Petunjuk Pengoperasian Aplikasi Sistem Tata Kelola Keuangan Desa Desa 2016. Jakarta. Retrieved from http://www. bpkp.go.id
Creswell, J. (2014). Research Design: Qualita-tive, QuantitaQualita-tive, and Mixed Methods Ap-proaches. 4th Edition. The New Zealand dental journal (Vol. 86). SAGE. https://doi. org/10.4135/9781849208956
Denzin, N. K., & Lincoln, Y. S. (2005). The SAGE hand-book of qualitative research (berilustrasi). Unit-ed State of America: Sage Publications.
H, E. M. (2016). Pengelolaan Keuangan Desa Di Desa Marga Mulia Kecamatan Kongbeng Kabupaten Kutai Timur. EJournal Ilmu Pemerintahan , 4(3), 1069–1080. Retrieved from https://ejournal. ip.fisip-unmul.ac.id/site/?p=2066
Manto, H., & Djaelani, A. Q. (2017). Analisis Peren-canaan Pengelolaan Keuangan Desa (Studi Pada Desa Trapang Kecamatan Banyuates Ka-bupaten Sampang). Jurnal Ilmiah Riset Manaje-men, 6(4), 39–53. Retrieved from http://www. riset.unisma.ac.id/index.php/jrm/article/ view/463
McNabb, D. E. (2013). Research methods in public ad-ministration and nonprofit management : quan-titative and qualitative approaches. New York: M.E. Sharpe.
Nurmawati, M., Suantra, I. N., & Satyawati, N. G. A. D. (2016). Pengelolaan Keuangan Dan Aset Desa Kabupaten Badung Dengan Ber-lakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Denpasar. Retrieved from https://repositori.unud.ac.id/protect-
ed/storage/upload/repositori/086acdc-48f950670538a443dbb3434d2.pdf
Rosielita, F., Sulindawati, N. L. G. E., & Sinarwati, N. K. (2017). Implementasi Good Governance pada Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (Studi Kasus Pada Desa Telaga, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng). JIMAT (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi) Undiksha, 8(2). Retrieved from https://ejour-nal.undiksha.ac.id/index.php/S1ak/article/ view/10545
Sari, R. M. (2019). Akuntabilitas Pemerintahan Desa Dalam Pengelolaan Dana Desa Di Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung. Jurnal Pene-litian Teori & Terapan Akuntansi (PETA), 4(1), 104–121. Retrieved from http://journal.stiek-en.ac.id/index.php/peta/article/view/379 Suharto, E. (2005). Membangun Masyarakat
Mem-berdayakan Rakyat Kajian Strategis Pembangu-nan Kesejahteraan Sosia dan Pekerjaan Sosial. Bandung: Refika Aditama.
Tahir, M., Anwar, A., & Dinakhir, S. (2019). Analisis Pengelolaan Keuangan Dana Desa di Desa Bu-luloe Kecamatan Turatea Kabupaten Jeneponto. Universitas Negeri Makassar. Retrieved from http://eprints.unm.ac.id/12228/
Taufiq, O. H. (2019). Tata Kelola Pemerintah Desa Berbasis E-Government Menuju Good Gover-nance. Dinamika : Jurnal Ilmiah Ilmu Admin-istrasi Negara, 6(1), 145–152. Retrieved from https://jurnal.unigal.ac.id/index.php/dinami-ka/article/view/1987
Wahyuni, N. L. S., Haris, I. A., & Suwena, K. R. (2017). Kesesuaian Penyusunan Laporan Keuangan Desa Tahun Anggaran 2015 pada Kantor Desa Bhuana Giri dengan Peraturan Bupati Ka-rangasem Nomor 32 Tahun 2015. Jurnal Pen-didikan Ekonomi Undiksha, 10(2), 1–10. Re-trieved from https://ejournal.undiksha.ac.id/ index.php/JJPE/article/view/11159
Widjaja, H. (2004). Otonomi Desa Merupakan Oto-nomi yang Bulat dan Utuh. Jakarta: Raja Graf-indo Persada.