EFFECT OF SUPPLEMENTED Spirulina IN DIET ON NILEM FISH (Osteochilus hasselti C.V.) HAEMATOLOGYS
Oleh:
Sorta Basar Ida Simanjuntak, Edy Yuwono, dan Farida Nur Rachmawati
Laboratorium Fisiologi Hewan, Fakultas Biologi Unsoed, Jl. dr. Soeparno Purwokerto (Diterima: 10 Pebruari 2006, disetujui: 13 Mei 2006)
The aim of this research was to know the effect of supplemented Spirulina in diet on nilem fish haematologys and to obtain the best dose. Pre-treated fishes were acclimated to the laboratory environment for 10 days then allocated randomly into 4 treatment groups. Each group consisted of three aquaria containing 100 L of water equipped with recirculatory system, 12 fishes were allocated into each aquarium. Fish in group A served as control given pellet without Spirulina. Fishes in
-1
groups B, C, and D were given pellet supplemented with 2, 4, and 6 g.kg Spirulina, respectively, given daily at 07.30 and 16.00 at 5% of body weight. The results showed that haematologys profile on the nilem fish was affected by Spirulina. This was indicated by increasing erythrocyte counts, total leucocyte, and
-1
haemoglobin level as well as haematocrite value. Supplement with 4 g.kg Spirulina was the best dose.
ABSTRACT
proses fisiologi ikan, sehingga dapat PENDAHULUAN
m e n u r u n k a n p r o d u k s i d a n Ikan nilem (Osteochilus hasselti
menyebabkan kematian ikan (Afrianto C.V.) merupakan ikan air tawar yang
dan Liviawaty, 1992). t e l a h b a n y a k d i b u d i d a y a k a n
Menurut Chinabut et al. (1991), masyarakat secara tradisional di
kondisi lingkungan (suhu, pH, oksigen, Kabupaten Banyumas, karena memiliki
dan peubah lainnya) yang kurang nilai ekonomi tinggi. Ikan ini biasa
sesuai dengan lingkungan hidup ikan hidup di sungai, danau, waduk, dan
dan adanya zat toksin dalam lingkungan kolam pemeliharaan yang cukup
p e r a i r a n , a k a n m e n y e b a b k a n oksigen. Ikan nilem merupakan salah
t e r g a n g g u n y a s i s t e m f i s i o l o g i -satu jenis ikan yang cukup digemari
homeostasis (stres) pada ikan dan ikan masyarakat karena harganya murah,
harus berusaha menyelaraskan dengan rasa dagingnya enak, kenyal, gurih,
kondisi lingkungan yang ada. Pada telurnya banyak dan besar, serta
kondisi tersebut, kesehatan dan sistem durinya tidak terlalu banyak (Djuhanda,
kekebalan tubuh ikan akan merosot, 1981).
dan kesempatan ini akan dimanfaatkan Namun demikian, usaha budidaya
o l e h p a t o g e n o p o r t u n i s u n t u k intensif belum banyak dilakukan. Salah
m e n g i n f e k s i i k a n . S e l a m a i n i , satu kendala yang dihadapi dalam
penanganan terhadap penyakit ikan usaha budidaya ikan adalah kurang
dilakukan dengan pengobatan dan tersedianya benih yang tahan terhadap
pem-vaksinan. Pemberian obat dalam penyakit baik karena bakteri, jamur,
jangka waktu lama akan menyebabkan atau parasit patogen. Adanya serangan
ketahanan ikan dan penurunan kualitas patogen tersebut akan mengganggu
Salah satu pemecahan untuk pigmen biru (fikosianin) hingga mengan-tisipasi hal tersebut adalah mencapai 20% dari bobot keringnya dengan usaha meningkatkan kekebalan (Landau, 1992 dalam Arlyza, 2005). tubuh ikan terhadap agensia patogen, Spirulina sangat baik di dalam y a i t u d e n g a n p e m b e r i a n meningkatkan sistem kebal. Penelitian imunostimulator. Imunostimulan adalah pada tikus, ayam, hamster, kucing, dan suatu senyawa biologi dan sintesis ikan membuktikan bahwa Spirulina maupun bahan lain yang mampu taat-azas meningkatkan fungsi sistem meningkatkan sistem kekebalan tubuh kebal. Peneliti obat menemukan bahwa ikan, baik khusus maupun tak-khusus Spirulina tidak hanya merangsang (Raa et al., 1992). Hal ini berarti, sistem kebal, kenyataannya juga imunostimulan mampu mengatasi meningkatkan generasi sel darah baru berbagai paparan penyakit, baik yang (Kozlenko and Henson, 1998). diakibatkan oleh bakteri, parasit Selanjutnya dikatakan bahwa kajian maupun virus. Bahan imunostimulan pakan yang diberi sedikit Spirulina dapat berasal dari komponen bakteri, dapat meningkatkan sistem kebal ekstrak tumbuhan dan hewan, serta h u m o r a l d a n s e l . S p i r u l i n a n u t r i s i ( G a l l e o t t i , 1 9 9 8 ) . meningkatkan sistem kebal humoral Imunostimulan merangsang terjadinya (antibodi dan sitokin). Sistem kebal sel proliferasi, diferensiasi, dan aktivasi termasuk sel-T, makrofag, sel-B, dan l i m f o s i t u n t u k m e n i n g k a t k a n sel natural killer. Sel ini bersirku-lasi kemampuan kerjanya melawan benda di dalam darah dan sangat khas kaya asing, sehingga terbentuk antibodi dalam organ tubuh, seperti hati, limpa, ( B e l l a n t i , 1 9 9 3 ) . S a l a h s a t u thymus, adenoid, tonsil, dan sumsum imunostimulator yang dapat digunakan tulang belakang.
adalah Spirulina. Darah ikan tersusun dari sel Spirulina merupakan alga biru darah yang tersuspensi dalam plasma hijau multiseluler dengan ukuran sel dan diedarkan ke seluruh tubuh melalui 110 µm dan diameter 1-12 µm, sistem sirkulasi tertutup atau sistem berbentuk spiral yang merupakan peredaran darah tunggal. Wedemeyer filamen tidak bercabang dan berupa et al. (1990) mengatakan bahwa lempengan hijau kebiruan. Spirulina pemeriksaan darah dapat digunakan t e r m a s u k k e d a l a m f a m i l i sebagai petunjuk keparahan suatu Chyanopheceae yang tumbuh di daun- penyakit. Perubahan gambaran darah daun yang bersifat basa, kaya akan dan kimia darah baik secara kualitatif n a t r i u m k a r b o n a t d a n n a t r i u m maupun kuantitatif dapat menentukan bikarbonat (Henrikson, 2000; Ruane kondisi kesehatan ikan. Sel dan plasma
2000). darah mempunyai peran fisiologis
Spirulina merupakan kelompok sangat penting. Susunan darah ikan Cyanobacteria, yang banyak galurnya atau pemeriksaan darah merupakan secara fisiologi telah dikoleksi dan faktor penting dalam diagnosis, d i b i a k k a n . B e b e r a p a a l a s a n prognosis, dan terapi suatu penyakit pemanfaatan Spirulina dari mikroalga (Ellsaesser et al., 1985; Bastiawan et lainnya, karena memiliki nilai kualitas al., 1995). Sel darah merupakan tinggi terutama untuk Spirulina kering, mediator bagi mekanisme pertahanan memiliki produktivitas penghasil tubuh pada hewan dan leukosit protein yang tinggi, dan mengandung merupakan komponen kunci bagi
pakan, baik untuk ikan lokal maupun aklimasi, ikan dipuasakan selama 24 ikan introduksi, belum diketahui. Oleh jam. Selanjutnya dimasukkan dalam karena itu, dirasa perlu penelitian akuarium, dengan kepadatan 12 ekor u n t u k m e n g e t a h u i p e n g a r u h per akuarium.
penyuplemenan Spirulina dalam pakan Penyuplemenan Spirulina pada terhadap hematologis (jumlah eritrosit, pakan disiapkan dengan cara: Spirulina total leukosit, kadar hemoglobin, dan ditimbang sesuai dengan perlakuan, nilai hematokrit) ikan nilem. d i m a s u k k a n k e d a l a m s p r a y e r , Tujuan penelitian adalah untuk ditambah 100 ml akuades, dan di-mengetahui pengaruh penyuplemenan kocok sampai homogen. Larutan Spirulina terhadap hematologis ikan disemprotkan pada 1 kg pelet n i l e m d a n m e n e n t u k a n d o s i s komersial yang telah ditempat-kan penyuplemenan Spirulina yang terbaik pada wadah secara merata, sambil dalam meningkatkan hematologis ikan dibalik secara perlahan. Selanjutnya,
nilem. pakan tersebut dikeringanginkan.
Setelah kering ditempatkan pada wadah dan siap untuk digunakan.
METODE PENELITIAN
Ikan diberi pakan dua kali sehari Materi penelitian yang digunakan
yaitu pukul 07.30 dan 17.00 WIB adalah ikan nilem dengan bobot 14 -
sebanyak 5% dari bobot total populasi. 16 gram/ekor sebanyak 144 ekor,
Masing-masing kelompok ikan diberi akuarium fiber, spuit, haemositometer,
perlakuan selama 35 hari pemeliharaan. haemometer, larutan Turk’s, larutan
Perhitungan jumlah eritrosit dan H a y e m , l a r u t a n H C l 0 , 1 N ,
t o t a l l e u k o s i t m e n g g u n a k a n mikrohematokrit, mikroskop, blower,
haemositometer “Double Improved sentrifuge mikrohematokrit, Spirulina
Naubauer’s” dengan meto-de produksi LIPI Cibinong (dalam bentuk
W i r a w a n d a n S i l m a n ( 2 0 0 0 ) . tepung), pakan komersial, dan alat-alat
P e n g u k u r a n k a d a r h a e m o g l o b i n sirkulasi.
m e n g g u n a k a n h a e m o m e t e r Penelitian dilakukan secara
“Assistant” dengan metode Schalm eksperimen dengan Rancangan Acak
(1989). Pengukuran nilai hematokrit Lengkap dengan empat perlakuan dan
dengan metode Schalm (1989) tiga ulangan. Perlakuan yang dicobakan
m e n g g u n a k a n m i k r o h e m a t o k r i t adalah pakan tanpa penyuplemenan
“Hawkskey hematokrit reader”. Spirulina (kontrol) dan dengan
Data jumlah eritrosit, total penyuplemenan Spirulina dosis 2, 4,
leukosit, kadar haemoglobin, dan nilai
-1
dan 6 g.kg pakan.
hematokrit dianalisis dengan sidik A k u a r i u m y a n g d i g u n a k a n
ragam dan untuk mengetahui dosis sebanyak 12 buah. Sebelum digunakan
Spirulina dalam pakan yang terbaik, akuarium dan alat sirkulasi terlebih
dilanjutkan dengan uji Beda Nyata dahulu disucihamakan dengan kalium
Terkecil (BNT) (Steel dan Torrie, permanganat selama 1 x 24 jam, lalu
1989). dibilas dan diisi dengan air sampai
ketinggian 2/3 bagian akuarium dan
HASIL DAN PEMBAHASAN diberi resirkulasi.
Ikan-ikan yang akan digunakan, Dari pengamatan hematologi ikan diaklimasi selama 10 hari dalam bak nilem, diperoleh hasil seperti di bawah penampungan. Pada hari terakhir ini.
pakan. Hal ini membuktikan bahwa Oleh karenanya, dapat dikatakan penyu-plemenan Spirulina dapat bahwa peningkatan jumlah eritrosit meningkatkan jumlah eritrosit. Dari disebabkan oleh Spirulina yang mampu h a s i l u j i F j u g a m e n g h a s i l k a n meningkatkan kemam-puan tubuh perbedaan yang nyata antarperlakuan dalam menghasilkan sel darah baru. (P<0,05). Peningkatan jumlah eritrosit Total Leukosit
baru terlihat pada penyuplemenan Dari Gambar 2 terlihat bahwa
-1
Spirulina 4 g.kg pakan. rerata total leukosit ikan nilem yang Belay (2002) mengatakan bahwa diberi penyuple-menan Spirulina untuk S p i r u l i n a d a p a t m e n i n g k a t k a n s e m u a p e r l a k u a n l e b i h t i n g g i pembentukan sel darah baru. Kozlenko dibandingkan rerata total leukosit pada dan Henson (1998), dari penelitiannya i k a n k o n t r o l . O l e h k a r e n a n y a , pada tikus, hamster, ayam, kucing, dan penyuplemenan Spirulina meningkatkan ikan, melaporkan bahwa Spirulina jumlah leukosit ikan nilem. Dari hasil banyak mengandung senyawa kimia uji F juga menghasilkan per-bedaan yang mampu merangsang pembentukan yang nyata antarperlakuan (P<0,05). sel darah merah, yang berperan Penyuplemenan Spirulina 2 g.kg-1 penting pada sistem kekebalan tubuh. pakan sudah cukup meningkatkan Gambar 1. Jumlah eritrosit ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) (Rata-rata ± Simpangan Baku)
pada akhir penelitian
Gambar 2. Total Leukosit ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) (Rata-rata ± Simpangan Baku) pada akhir penelitian
nilem dengan parameter jumlah a n t a r a 2 4 , 0 0 - 4 3 , 6 7 % . O l e h l e u k o s i t , s e b a b p e n i n g k a t a n karenanya, penyuplemenan Spirulina penyuplemenan Spirulina dalam pakan dalam pakan mening-katkan nilai tidak menghasilkan perubahan yang hematokrit ikan nilem. Dari hasil uji F nyata terhadap jumlah leukosit ikan juga menghasilkan perbedaan yang
nilem. nyata antarperlakuan (P<0,05).
-1
Walczak (1985) mengatakan Penyuplemenan Spirulina 2 g.kg bahwa perubahan total leukosit dapat pakan sudah cukup meningkatkan nilai diamati 7 hari setelah pemaparan hematokrit ikan nilem.
imunostimulan. Pemberian dosis tinggi Blaxhall dan Daisley (1973) dan waktu lama dapat menyebab-kan mengata-kan bahwa pengamatan penekanan mekanisme pertahanan, hematokrit dipakai pada akuakultur dan sebaliknya pemberian dosis rendah dan p e n g e l o l a a n p e r i k a n a n u n t u k waktu singkat menjadi tidak efektif. memeriksa kondisi anaemi. Nilai Beberapa hasil penelitian di hematokrit cenderung menjadi rendah b i d a n g b i o t e k n o l o g i s a a t i n i apabila ikan terkena penyakit atau menyimpulkan bahwa Spirulina, selain kehilangan nafsu makan. Menurut digunakan sebagai sumber pangan, juga Nabib dan Pasaribu (1989), nilai diketahui memiliki pengaruh yang baik hematokrit ikan di bawah 30% pada sistem kekebalan (Arlyza, 2005). m e n u n j u k - k a n i k a n t e r s e b u t Spirulina mampu merangsang pemben- mengalami kahat eritrosit.
tukan sel darah putih (Kozlenko and Dari hasil yang diperoleh dapat Henson, 1998). dikata-kan bahwa ikan nilem berada dalam kondisi baik. Menurut Bastiawan Nilai Hematokrit
et al. (1995), kan-dungan nilai Kondisi kesehatan ikan dapat
h e m a t o k r i t d a p a t m e n u n j u k k a n juga diamati melalui pengukuran nilai
berkurangnya sel darah merah. hematokrit (Anderson dan Siwicki,
Kadar Haemoglobin 1993). Dari Gambar 3 terlihat bahwa
penyuplemenan Spirulina dalam pakan Hasil perhitungan rerata kadar u n t u k s e m u a p e r l a k u a n a k a n hemo-globin ikan nilem yang diberi meningkat-kan nilai hematokrit ikan penyuplemenan Spirulina dengan dosis nilem. Nilai hemato-krit selama yang berbeda disajikan pada Gambar 4. penyuplemenan Spirulina berkisar Rerata kadar hemoglobin akibat
Gambar 3. Nilai Haematokrit ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) (Rata-rata ± Simpangan Baku) pada akhir penelitian
perbedaan yang nyata (P<0,05). hematokrit, dan kadar hemoglobin Korelasi antara hematokrit, ikan nilem (Osteochilus hasselti hemoglo-bin, dan jumlah sel darah C.V.).
-1
merah dipakai dalam perhitungan 2. Penyuplemenan Spirulina 4 g.kg petunjuk hematologis (Eisler, 1965 pakan merupakan dosis terbaik. dalam Kori-Siakpere et al., 2005). Das
(1965 dalam Kori-Siakpere et al.,
2005) mengatakan bahwa jumlah sel Afrianto, E. dan E. Liviawaty. 1992. d a r a h m e r a h d a n k o n s e n t r a s i Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius, Yogyakarta. 89 hal. hemoglobin meningkat seiring dengan
pertambahan panjang dan umur. Anderson, D.P. and A.K. Siwicki. 1993. “Basic Haematology and Serology Penelitian sifat hematologis Parachanna
for Fish Health Program”. Paper o b s c u r a m e n u n j u k k a n b a h w a
Presented in Second Symposium konsentrasi hemoglobin dalam darah on Diseases in Asian Aquaculture adalah 5,70 g/dl. “Aquatic Animal Health and the Environment” Phuket, Thailand. Oksigen diangkut dalam darah
th
25-29 October 1993. ikan bergabung dengan pigmen
Arlyza, I.S. 2005. Isolasi pigmen biru h e m o g l o b i n . S e c a r a f i s i o l o g i s ,
p h y c o c y a n i n d a r i m i k r o a l g a hemoglobin sangat penting untuk
S p i r u l i n a p l a t e n s i s . J u r n a l kehidupan ikan dan sangat menentukan Oseanologi dan Limnologi di kemampuan kapasitas pengikatan Indonesia 38: 79-92.
oksigen oleh darah. Hasil penelitian Bastiawan, D., Taukhid, M. Alifudin dan p a d a C h a e n o c e p h a l u s a c e r a t u s T.S. Dermawati. 1995. Perubahan Hematologi dan Jaringan Ikan Lele ditemukan tidak memiliki hemoglo-bin,
Dumbo (Clarias gariepinus) yang sehingga pengangkutan oksigen oleh
T e r i n f e k s i C e n d a w a n darah hanya dalam larutan fisis (Rund, Aphanomyces sp. Jurnal Penelitian 1954 dalam Kori-Siakpere et al., Perikanan Indonesia 1(2):
106-114. 2005).
Bellanti, I.A. 1993. Imunologi III. G a d j a h M a d a U n i v e r s i t y , KESIMPULAN
Yogyakarta. 1. Penyuplemenan Spirulina dalam
Belay, A. 2002. The Potential pakan ikan dapat meningkatkan a p p l i c a t i o n o f S p i r u l i n a jumlah eritrosit, total leukosit, nilai (Arthrospira) as a nutritional and
DAFTAR PUSTAKA
Gambar 4. Kadar Hemoglobin ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) (Rata-rata ± Simpangan Baku) pada akhir penelitian
Blaxhall, P. and K. Daisley. 1973. Some Raa, J., G. Roerstad, R. Engstad., and blood parameters of the rainbow B. Robertsten. 1992. “The Use of trout I. The Kamloops variety. Immunostimulant to Increase J.Fish Biol. 5: 1-8. Resistence of Aquatic Organisme to Microbial Infection”. In: Chinabut S., C. Limsuwan dan P. M.Sharif, R.P. Subangsihe, and J.R. Katsuwan. 1991. Histology of the A r t h u r ( e d s . ) , D i s e a s e i n Walking Catfish Clarias batrachus. Aquaculture I. Fish Health Sect. IDRC, Canada. 96 pp. Asian Fish 50: 39-50.
Djuhanda, T. 1981. Embriologi Ruane, J.J. 2000. Green Foods. Perbandingan. Armico, Bandung. Spirulina, Blue Green Algae, and Ellsaesser, C.F., N.W. Miller, M.A. C h l o r e l l a . W e l l n e s s W e b .
Cuchens, C.J. Lobb, and L.W. h t t p : / / w w w . e a r t h r i s e . Clem. 1985. Analysis of channel com/a:spirul-3htm. Diakses 1 catfish peripheral blood leucocytes Nopember 2000.
by bright-filed microscopy and Schalm, O.W. 1989. Veterinary flow cytometry. Tran. of the Hematology. 2 edition, Lea and nd American Fisheries Society 114: Fehiger, Philadelphia.
179-185.
Steel, R.G.D. dan J.H. Torrie. 1989. Galeotti, M. 1998. Some aspect of the Prinsip dan Prosedur Statistika: application of immunostimulant and Suatu Pendekatan Biometrik Edisi a critical review of methods for III. Diterjemahkan oleh B. Sumantri their evaluation. Journal Ichtiology (1991). Gramedia. Jakarta.
14: 89-199.
Walczak, B.Z. 1985. Immune capability Henrikson, R. 2000. Spirulina: Health of fish a literature review. discoveries from the source of life. Canadian Technical Report of ( O n - l i n e ) . Fisheries and Aquatic Science http://www.earthrise.com/a:spirul 1334: 1-33.
-3htm. Diakses 1 Nopember 2000.
Wedemeyer, B.A., Barton, and D.J. Kori-siakpere, O., J.E.G. Ake, and E. M c L e a y . 1 9 9 0 . S t r e s s a n d Idoge. 2005. Haematological Acclimation in Methods for Fish characteristics of the African a n d W i l d l i f e S e r v i c e . U S . snakehead, Parachanna obscura. Department of the Interior, USA. African Journal of Biotechnology Pp. 1-7.
4(6): 527-530.
Wirawan, R. and Silman. 2000. Kozlenko, R. and R.H. Henson. 1998. P e m e r i k s a a n L a b o r a t o r i u m : Latest Scientific Research on Hematologi Sederhana. Edisi Spirulina: Effect in The AIDS Kedua, Fakultas Kedokteran UI, Virus, Cancer and the Immune Jakarta.
S y s t e m . ( O n - l i n e ) . http://www.Health. Library.com. Diakses September 2005.
Nabib, R dan F.H. Pasaribu. 1989. Patologi dan Penyakit Ikan. D e p a r t e m e n P e n d i d i k a n d a n Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor, Bogor. 158 hal.