• Tidak ada hasil yang ditemukan

(Seagrass Potential as Supporting Ecotourism in Sibu Island, Subdistrict North Oba, North Maluku Province)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "(Seagrass Potential as Supporting Ecotourism in Sibu Island, Subdistrict North Oba, North Maluku Province)"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Vol. 13 No. 2: 147-159 Oktober 2020 Peer-Reviewed

URL: https:https://ejournal.stipwunaraha.ac.id/index.php/AGRIKAN/ DOI: 10.29239/j.agrikan.13.2.147-159

Potensi Sumberdaya Lamun Sebagai Penunjang Ekowisata Bahari di Pulau

Sibu Kecamatan Oba Utara Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara

(

Seagrass Potential as Supporting Ecotourism in Sibu Island,

Subdistrict North Oba, North Maluku Province)

Salim Abubakar1, Riyadi Subur1, Rina1, Masykhur Abdul Kadir1, Mesrawaty Sabar1,

Darmawaty2, dan Nebuchadnezzar Akbar3

1 Program Studi Manajamen Sumberdaya Perairan, FPIK. Universitas Khairun, Ternate, Indoneisa, E-mail : [email protected]

2 Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK. Universitas Khairun, Ternate, Indoneisa, E-mail :[email protected]

3 Program Studi Ilmu Kelautan, FPIK. Universitas Khairun, Ternate, Indonesia, Email : [email protected]

Info Artikel: Diterima: 21 Agust. 2020 Disetujui: 04 Okt. 2020 Dipublikasi: 04 Okt. 2020

Research Article Keyword:

Pulau Sib, Activity, ecotourism, seagrass, suistability, Sibu Island.

Korespondensi: Salim Abubakar

Universitas Khairun, Ternate, Indonesia

Email: [email protected]

Copyright© Oktober 2020 AGRIKAN

Abstrak. Ekowisata padang lamun adalah aktivitas wisata berbasis ekosistem padang lamun. Komponen ekowisata padang lamun terdiri atas vegetasi lamun dan biota-biota yang berasosiasi dengan padang lamun. Tujuan penelitian yaitu mengetahui kondisi biofisik padang lamun (jenis lamun, tutupan lamun, ikan, makrozoobenthos, jenis substrat, kecerahan air, kedalaman lamun) dan menentukan kesesuaian lahan ekowisata lamun sebagai penunjang ekowisata bahari di Pulau Sibu Kecamatan Oba Utara. Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Sibu Desa Guraping Kecamatan Oba Utara Kota Tidore Kepulauan selama 6 bulan yaitu April - September 2020, Metode yang digunakan adalah metode survey yaitu pengukuran secara langsung meliputi jenis lamun, tutupan lamun, ikan, makrozoobenthos, jenis substrat, kecerahan air, kedalaman lamun. Analisis data meliputi persentase tutupan lamun dan indek kesesuaian untuk ekowisata lamun. Hasil kajian biofisik diperoleh 8 jenis lamun, tutupan lamun (51,04 – 92,71%), Ikan (12 jenis), makrozobenthos (17 jenis), kecerahan (77 – 100%), substrat (pasir, pasir berlumpur, lumpur), kecepatan arus (0,01 – 0,06 m/dt) dan kedalaman lamun (1 – 2,5 m). Pulau Sibu dapat dikembangkan sebagai kawasan ekowisata padang lamun dengan Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) Stasiun 1, 3, 4 dan secara keseluruhan berada pada kategori S1 (sangat sesuai) dan Stasiun 2 dengan kategori sesuai..

Abstract. Seagrass Ecotourism is a tourism activities based on the ecosystem of seagrass. Component of seagrass consist of vegetation and biota that associated with the seagrass. The purpose of this research is to understand the condition biophysics of seagrass (Types of seagrass, Cover of seagrass, fish, makrozoobenthos, types of substrat, water brightness, the depth of the seagrass) and to establish the suitability of seagrass to support nautical ecotourism. This research have been done in Sibu island, Guraping village, north oba district, Tidore city for 6 month from April – September 2020. The method that used is a survey method consist of direct measuring of types seagrass, cover of seagrass, fish, makrozoobenthos, types of substrat, water brightness, the depth of the seagrass. The data analysis includes percentage of cover seagrass and the suitability index of seagrass ecotourism. The result of the biophysical study were obtained are 8 types of seagrass, cover of seagrass (51,04- 92,71%), fish (12 types), makrozoobenthos (17 types), brightness (77-100%), substart (sand, muddy sand, mud) flow speed (0,01- 0,06 m/dt) and the depth of the seagrass (1-2,5 m). Sibu island could be developed as a region of Seagrass Ecotourism with index suitability tourism (IKW) station 1,3,4 and for the whole are located in category S1 (very suitable) and station 2 is in the suitable category.

I. PENDAHULUAN

Padang lamun merupakan salah satu ekosistem pesisir yang terdapat di pulau-pulau kecil. Ekosistem lamun memiliki banyak manfaat baik secara ekologi maupun ekonomi. Manfaat ekonomi ekosistem lamun yang paling dominan pada sektor perikanan seperti sumberdaya ikan, kepiting, kerang dan lainnya. Selain dimanfaatkan pada sektor perikanan, lamun juda dapat

dijadikan sebagai tempat untuk rekreasi atau ekowisata (Martini et al., 2014).

Lamun merupakan salah satu ekosistem di wilayah pesisir yang memegang peranan penting dan cukup efektif sebagai pelindung pantai serta keselamatan lahan pada daratan pesisir. Sebagai salah satu sumberdaya potensial di wilayah pesisir, lamun memiliki potensi untuk dijadikan sebagai kawasan wisata (Tanto et al., 2017). Ekowisata padang lamun adalah aktivitas wisata

(2)

148

berbasis ekosistem padang lamun. Komponen ekowisata padang lamun terdiri atas vegetasi lamun dan biota-biota yang berasosiasi dengan padang lamun. Salah satu manfaat dari ekowisata lamun adalah sebagai wisata edukasi atau pendidikan misalnya untuk melihat ekologi padang lamun beserta biota asosiasinya (Johan, 2017).

Ekowisata didefinisikan sebagai perjalanan bertanggung jawab ke daerah alam yang

melestarikan lingkungan, menopang

kesejahteraan masyarakat setempat, dan melibatkan interpretasi dan pendidikan. Ekowisata bahari merupakan ekowisata yang memanfaatkan karakter sumber daya pesisir dan laut. Sumber daya ekowisata terdiri dari sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dapat diintegrasikan menjadi komponen terpadu bagi pemanfaatan wisata (Tanto et al., 2017).

Penelitian pengembangan potensi sumberdaya lamun sebagai penunjang ekowisata bahari di Indonesia telah banyak dilakukan, namun di pulau-pulau kecil Propinsi Maluku Utara belum pernah dilakukan. Beberapa peneliti hanya sebatas kajian distribusi komunitas lamun dan ikan seperti penelitian Alhaddad dan Abubakar (2016) tentang distribusi komunitas padang lamun, Kaeli et al (2016) tentang komparatif komunitas ikan padang lamun pada bulan perbani awal dan perbani akhir dan penelitian Rina et al (2018) tentang komunitas ikan pada ekosistem padang lamun dan terumbu karang. Umumnya hasil penelitian terdahulu

hanya menggunakan jenis ikan sebagai salah satu parameter dalam penentuan kesesuaian lahan ekowisata bahari kategori kegiatan wisata lamun, sehingga dalam penelitian ini melakukan modifikasi jenis biota dengan menambahkan keanekaragaman jenis makrozoobenthos karena organisme tersebut memiliki beragam jenis dan warna sehingga mempunyai keindahan dan menjadi daya tarik untuk dinikmati saat melakukan kegiatan wsiata lamun.

Kondisi lamun umumnya di Indonesia dan khususnya di Pulau Sibu belakangan ini sebagina habitatnya terus mengalami kerusakan akibat beberapa kegiatan wisata seperti aktivitas pengunjung, kegiatan penangkapan, pencemaran, dan lainnya yang dapat menurunkan fungsi dan mengganggu keseimbangan ekologis di lingkungan laut itu sendiri. Tujuan penelitian yaitu mengetahui kondisi biofisik padang lamun (jenis lamun, tutupan lamun, ikan, makrozoobenthos, jenis substrat, kecerahan air, kedalaman lamun) dan menentukan kesesuaian lahan ekowisata lamun sebagai penunjang ekowisata bahari di Pulau Sibu Kecamatan Oba Utara.

II. METODE PENELITIAN 2.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Sibu Desa Guraping Kecamatan Oba Utara Kota Tidore Kepulauan (Gambar 1). Waktu pelaksanaan penelitian selama 6 bulan yaitu April - September 2020.

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian

2.2. Prosedur Pengambilan Data

2.2.1. Jenis lamun

Pengamatan padang lamun didasarkan panduan Seagrass-net western pacific monitoring

methods. Pengumpulan data menggunakan metode

sistimatik sampling. Penelitian ini terdiri dari 4 stasiun yang mengelilingi Pulau Sibu (Utara, Selatan, Timur, Barat) Di setiap stasiun pengamatan diletakan transek-transek garis dari arah darat ke arah laut/vertikal sepanjang zonasi

(3)

149

padang lamun di daerah intertidal sampai mendekati zona sub tidal. Observasi untuk pengambilan data jenis lamun dan luasan penutupanya serta karakteristik habitat lamun dilakukan dengan berjalan kaki pada waktu air laut surut mengikuti garis transek secara vertikal. Masing-masing stasiun terdiri dari 3 buah line trasek dengan jarak antar transek 20 meter. Panjang line transek setiap stasiun disesuaikan dengan panjang zona intertidal sampai sub tidal.

Pada setiap transek ditempatan kuadrat berukuran 50 cm x 50 cm sebanyak 10 buah dengan jarak secara acak (Abubakar dan Ahmad, 2013; Hutomo dan Nontji, 2014; Fajarwaty et al., 2015). Sedangkan identifikasi jenis lamun menggunakan pedoman dari Sjafrie et al (2018). Persentase tutupan lamun dihitung bersamaan dengan pengamatan jenis lamun yaitu berdasarkan kelas penutupan dalam setiap kuadrat (4 kuadrat kecil) (Hutomo dan Nontji, 2014). (Gambar 2).

Gambar 2. Sketsa penempatan plot

2.2.2. Objek Biota

Ikan dikumpulkan dengan menggunakan alat tangkap jarring pantai (Beach sine). Jaring diletakkan melingkari areal padang lamun pada zona depan. Pengoperasian jaring sebanyak 6 trip penangkapan. Hasil tangkapan ikan diidentivikasi berdasrkan petunjuk Peristriwady (2006) Sedangkan pengambilan makrozoobenthos menggunakan metode blok area berukuran 20 x 20 m sebanyak 3 buah yang ditempat secara acak setiap stasiun. Selanjutnya dilakukan pengamatan jenis biota dengan metode sweap area. Makrozoobenthos yang diperoleh di identivikasi berdasarkan petunjuk Dharma (2005); Rohmimohtarto dan Juwana (2001); Columpong dan Menez (1997).

2.2.3. Kecerahan perairan

Kecerahan perairan diukur secara visual atau menggunakan alat secchi disk dengan cara

secchi disk dimasukan kedalam perairan dan

dikatakan cerah apabila sechhi disk masih terlihat ketika dimasukan kedalam air tanpa mempengaruhi kedalaman (Hamuna et al, 2018).

2.2.4. Jenis substrat

Pengamatan jenis substrat dilakukan pada saat surut terendah yang dilakukan baik secara visual maupun dengan menggunakan pipa paralon PVC 2,5 inch. Teknik ini digunakan untuk menentukan jenis-jenis subsrat dan substrat yang paling dominan.

2.2.5. Kecepatan arus

Kecepatan arus dilakukan dengan menggunakan bola pimpong, stopwatch dan tali sepanjang 2 meter. Bola pimpong berisi setengah

sehingga dapat mengapung, kemudian

dihanyutkan dan dihitung waktu tiba diujung tali sehingga dapat disimpulkan kecepatan arus (Johan, 2017).

(4)

150

2.2.6. Kedalaman lamun

Kedalaman perairan dilakukan hanya pada saat pasang tertinggi karena pada saat surut air areal padang lamun sangat kering. Pengukuran dengan menggunakan tali mulai dari atas substrat sampai permukaan tinggi air (Johan, 2017).

2.3. Prosedur Analisa Data

2.3.1.Tutupan Lamun

Persentase luas tutupan lamun dilakukan penilaian pada setiap kuadrat kecil dalam kuadrat

50 x 50 cm (Gambar 3), berdasarkan penilain pada Tabel 1 (Hutomo dan Nontji, 2014).

2.3.2. Indeks Kesesuaian Ekowisata Lamun

Kesesuaian ekowisata padang lamun mempertimbangkan tujuh parameter dengan empat klasifikasi penilaian yaitu tutupan lamun, kecerahan perairan, jenis ikan, jenis lamun, jenis substrat, kecepatan arus dan kedalaman lamun. Matriks kesesuaian wisata lamun dapat dilihat pada Tabel 2.

Gambar 3. Nomor kotak pada kuadrat 50 x 50 cm2

Tabel 1. Penilaian tutupan lamun

Kategori Nilai tutupan lamun (%)

Tutupan penuh Tutupan ¾ kotak kecil Tutupan ½ kotak kecil Tutupan ¼ kotak kecil

Kosong 100 75 50 25 0 Dengan kriteria :

0 25 % = Jarang, 26 50 = Sedang, 61 75 = Padat, 76 100 = Sangat padat

Tabel 2. Matriks kesesuaian ekowisata lamun

No. Parameter Bobot Kategori Skor

1 Tutupan lamun (%) 0,365 >75 3

>50 – 75 2

25 – 50 1

< 25 0

2 Jenis ikan dan 0,155 > 10 3

makrozobenthos 6 – 10 2

(modifikasi) 3 – 5 1

< 3 0

3 Jenis lamun 0,12 Cymodecea, Holudule, Halophila 3

Syringodium, Thalasodendrum 2 Thalasia 1 Enhalus 0 4 Kecerahan peraian (%) 0,120 >75 3 >50 – 75 2 25 – 50 1 < 25 0

5 Jenis substrat 0,100 Pasir berkarang 3

Pasir 2 Pasir berlumpur 1 Berlumpur 0 6 Kecepatan arus (cm/dtk) 0,070 0 – 15 3 > 15 – 30 2 > 30 – 50 1 > 50 0 1 2 3 4 50 cm

(5)

151

7 Kedalaman lamun (m) 0,070 1 – 3 3

> 3 – 6 2

> 6 – 10 1

> 10; < 1 0

Sumber: Yulianda (2019) modifikasi (2020)

Dimana :

IKW = Indeks Kesesuaian Wisata, n = Banyaknya parameter kesesuaian, Bi = Bobot parameter ke-i, Si = Skor parameter ke-i

Dengan kategori:

= Sangat sesuai,

=Sesuai, =

Tidak sesuai dan = Sangat tidak sesuai

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Komposisi dan Distribusi Jenis Lamun

Komposisi jenis lamun yang diperoleh sebanyak 2 famili yaitu Potamogetonaceae dan Hydrocharitaceae dengan 8 jenis yaitu Cymodocea

rotundata, Cymodocea serrulata, Halodule

pinifolio, Holodule uninervis dan Syringodium

isoetifolium, Thalassia hemprichii, Enhalus

acoroides dan Halophila minor. Komposisi jenis

lamun dan distribusi per stasiun disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Komposisi jenis lamun

No. Family No. Jenis Distribusi/Stasiun

1 2 3 4 1 Potamogetonaceae 1 Cymodocea rotundata - - 2 Cymodocea serrulata 3 Halodule uninervis - - 4 Syringidium isiotifoilium - - 2 Hydrocaritaceae 5 Enhalus acoroides 6 Thalassia hemprichii 7 Halophila minor - 8 Halophila ovalis -

Keterangan : = ada, - = tidak ada

Tabel 3 menunjukkan distribusi lamun lebih banyak terdapat pada Stasiun 1 yaitu sebanyak 8 jenis (Cymodocea rotundata, C. serrulata, Holodule uninervis, Syringodium

isoetifolium, Enhalus acoroides, Thalassia

hemprichii, Halophila minor, H. ovalis).

Sedangkan distribusi lamun terendah pada Stasiun 2 yaitu 4 jens (Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila

minor). Perbedaan distribusi jenis lamun kedua

stasiun disebabkan perbedaan substrat sebagai media tumbuh dari berbagai jenis lamun. Stasiun 1 dengan subtrat yang heterogen yaitu pasir, pasir berlumpur, pasir bercampur patahan karang, lumpur dan lumpur berpasir sedangkan pada Stasiun 2 hanya memiliki subtrat pasir, lumpur dan pasir berlumpur. Sebagaimana Putra et al (2016), menyatakan lamun tumbuh mulai dari zona intertidal sampai subtidal dengan jenis substrat pasir, pasir berlumpur dan pasir bercampur patahan karang. Lamun tumbuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan pantai yang dasarnya berupa lumpur, pasir, kerikil dan

patahan karang mati, dengan kedalaman sampai 4 meter.

Komposisi jenis lamun yang diperoleh berada dalam kategori sangat sesuai untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata. Sebagaimana Yulianda (2019) suatu wilayah memiliki keanekaragaman jenis lamun sebanyak 3 genus (Cymodecea, Holudule, Halophila) termasuk kategori sangat sesuai untuk dijadikan ekowisata lamun

3.2. Persentase Tutupan Lamun

Stasiun 1 memiliki persentase tutupan lamun tertinggi dengan rata-rata 78%, Stasiun 3 berkisara (76%), Stasiun 4 (77%) dan Stasiun 2 dengan persentase tutupan lamun terendah (51%). Sedangkan tutupan lamun berdasarkan jenis lamun tertinggi disemua satsiun penelitian yaitu

Thalassia hemprichii dan terendah Halophila

ovalis. Hasil analisis persentase tutupan lamun

disajikan pada Gambar 4.

Penutupan jenis tertinggi pada jenis

(6)

152

pada semua lokasi penelitian sangat cocok dengan pertumbuhan jenis ini. Sedangkan tutupan jenis terendah pada jenis Halophila minor karena jenis ini memiliki morfologi yang sangat kecil dan biasanya tertutup oleh sedimen sehingga akan menghambat pertumbuhan jenis ini. Fajarwati et al (2015) menyatakan Thalassia hemprichi

memiliki pertumbuhan yang baik pada zona intertidal dengan ukuran sedimen yang lebih besar. Sedangkan lamun jenis Halophila ovalis

sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan sehingga sulit ditemukan pada daerah yang tercemar apalgi tertutup sedimen yang berasal dari limbah masyrakat.

Stasiun 1 memiliki persentase tutupan lamun lebih tinggi, disebabkan adanya substrat

yang heterogen (pasir, lumpur, lumpur berpasir, pasir berlumpur dan pasir bercampur patahan karang) sehingga lamun dapat tumbuh dengan baik. Ini juga dibuktikan Stasiun 1 memiliki komposisi jenis lebih tinggi yaitu sebanyak 8 jenis. Sedangkan pada Stasiun 2 substrat yang ditemukan hanya terdiri dari pasir berlumpur, lumpur dan lumpur berpasir sehingga komposisi jenis yang ditemukan hanya 4 jenis. Faktor kecerahan juga penyebab perbedaan penutupan karena proses fotosintesis yang dibutuhkan oleh lamun untuk pertumbuhannya dapat terhambat . Stasiun 1 memiliki air yang jernih dengan kecerahan 100% sedangkan pada Stasiun 2 memiliki air yang agak keruh dengan kecerahan 77%.

Gambar 4. Persentase tutupan lamun per Stasiun

Alhaddad dan Abubakar (2016), menyatakan perbedaan tutupan lamun tiap habitat menunjukkan adanya perbedaan pengaruh tekanan lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan jenis lamun, disamping itu tingkat kecerahan dapat menghambat proses fotosintesis bagi lamun sehingga dapat menghambat pertumbuhan lamun. Lamun membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi untuk melaksanakan proses fotosintesis. Distribusi padang lamun hanya terbatas pada perairan yang tidak teralalu dalam. Namun ada juga sampai kedalaman 90 meter, asalkan masih terdapat cahaya matahari. Murhum et al (2018) menyatakan pertumbuhan lamun selain dipengaruhi oleh kecerahan perairan,

juga dipengaruhi oleh subtrat. Lamun tumbuh pada subtrat yang heterogen seperti pasir, lumpur, pasir berlumpur, lumpur berpasir dan pasir bercampur patahan karang. Lamun tumbuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan pantai atau goba dengan kedalaman 4 meter.

Pertumbuhan lamun dapat dilihat berdasarkan nilai persentase tutupan lamun yaitu jarang, sedang, padat dan sangat padat. Berdasarkan hasil yang diperoleh maka Stasiun 1, 2, 3 dan secara keseluruhan (76,61%) memiliki pertumbuhan lamun yang sangat padat dan Stasiun 4 dengan pertumbuhan sedang. Hutomo dan Nontji (2014) menyatakan pertumbuhan

(7)

153

lamun dapat dilihat dari persentase tutupan lamun yaitu 0 – 25 % = Jarang, 26 – 50 = Sedang, 61 – 75 = Padat, 76 – 100 = Sangat padat.

Hasil persentase tutupan lamun tiap stasiun, menunjukkan Stasiun 1, 2, 3 dan secara keseluruhan sangat sesuai untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata sedangkan pada Stasiun 2 berada dalam kategori sesuai. Yulianda (2019) menyatakan bahwa tutupan lamun yang baik untuk dijadikan sebagai areal ekowisata yaitu > 75% dan sesuai (>50 – 75).

3.3. Ikan dan Makrozobenthos

Komposisi jenis ikan yang diperoleh sebanyak 7 famili (Siganidae, Carangidae, Lethrinidae, Scaridae, Acanthuridae, Chanidae, Labriade) dan 12 jenis (Siganus doliatus, S. punctatus, S. Canaliculatus, Caranx melampygus, Lethrinus ornatus, L. Lencam. Scarus quoyi, S.

Dimidiatus, Chlorus japanensis, Acantthurus

barienen, Chanos-chanos, Choerodon anchorago).

Komposisi jenis ikan tertinggi pada Stasiun 1 sebanyak 11 jenis dan terendah pada Stasiun 2 sebanyak 5 jenis. Komposisi jenis hasil tangkapan disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 menunjukkan jenis-jenis ikan yang tertangkap tergolong ikan-ikan penghuni selama tahap juvenil dan penghuni yang hanya sekali-kali atau sementara mengunjungi padang lamun untuk mencari makan atau tempat berlindung. Kelompok ikan penghuni selama tahap juvenil yaitu Famili Siganidae. Sedangkan famili lainnya merupakan penghuni yang hanya sekali-kali atau sementara mengunjungi padang lamun untuk mencari makan atau tempat berlindung dan umumnya adalah penghuni terumbu karang dan perairan lepas pantai. Hal ini disebabkan karena ekosistem padang lamun berdekatan dengan ekosistem terumbu karang, sehingga hasil tangkapan lebih banyak di dominasi oleh ikan penghuni terumbu karang yang memanfaatkan areal padang lamun sebagai tempat mencari makan dan tempat berlindung dari predator. Komposisi jenis ikan yang tertangkap merupakan ikan yang memiliki nilai ekonomis karena selalu dikonsumsi oleh masyarakat di sekitar Pulau Sibu.

Abubakar dan Ahmad (2013) menyatakan ikan penghuni padang lamun hanya selama tahap juvenil yaitu genus Siganidae dan penghuni hanya sekali-kali atau sementara mengunjungi padang lamun untuk mencari makan atau tempat

berlindung yaitu umumnya adalah ikan karnivora diantaranya genus Lethrinidae, Caranx dan Scaridae. Lebih lanjut dikatakan Rina et al (2018), bahwa kelompok ikan penghuni selama tahap juvenil yang yaitu Siganus spdan Sillago sihama. Sedangkan penghuni yang hanya sekali-kali atau sementara mengunjungi padang lamun untuk mencari makan atau tempat berlindung umumnya adalah penghuni terumbu karang dan lepas pantai.

Famili Siganidae dan Scaridae memiliki jumlah jenis lebih banyak. Hasil penelitian ini bila dibandingkan dengan jenis ikan penghuni padang lain di beberapa wilayah Indonesia, maka jumlah jenis dalam penelitian ini sangat sedikit. Di Perairan Loleo Halmahera Tengah terdapat 14 jenis dari 10 famili (Kaeli et al.,2016). Teluk Youtefa Jayapura Papua terdapat 79 spesies dari 36 famili dan famili Apogonidae dengan jumlah spesies terbanyak (Tebaiy et al., 2014). Teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat berjumlah 290 individu dari 44 spesies 28 famili, dan famili yang memiliki spesies terbanyak adalah Famili Lethrinidae lima spesies (Latuconsina et al., 2014).

Komposisi jenis makrozoobenthos yang diperoleh terdiri dari teripang (Holothuroidea), bulu babi (Echinoidea), bintang laut (Asteroidea), Siput (gastropoda) dan kerang (Bivalva). Kelas Holothuroidea terdiri dari 4 jenis (Holothuria

edulis, H. opheadesoma, H. scabra), kelas

Echinoidea sebanyak 3 jenis (Echinometra mathei,

Tripnieustes gratila, Diadema setosum), kelas

Asteroidea sebanyak 3 jenis (Linckia laevigata,

Protereaster nodosus, Culcia novaguineae), kelas

gastropoda sebanyak 6 jenis (Cypraea moneta,

Cypraea tigris, Conus marmoreus, Lambis crocata,

Strombus luhuanus) dan kelas Bivalva sebanyak 3

jenis (Tridacna crocea, Hippopus hippopus, Lima

vulgaris). Tabel 5 menunjukkan komposisi jenis

makrozobenthos lebih tinggi pada Stasiun 1 sebanyak 14 jenis. Sedangkan komposisi jenis terendah terdapat pada Stasiun 2 sebanyak 6 jenis jenis. Komposisi jenis makrozoobenhos disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 menunjukkan phylum

Echinodermata memiliki jumlah jenis lebih banyak. Tingginya keberadan echinodermata menggambarkan perairan lamun Pulau Sibu belum tercemar karena peranan echinodermata sebagai pembersih limbah. Ini terbukti hasil pengamatan areal padang lamun sangat jernih dan tidak terdapatnya sampah.

(8)

154

Tabel 4. Komposisi Jenis Ikan

No. Famili Spesies Distribusi/Stasiun

1 2 3 4

1 Siganidae Siganus doliatus -

2 Siganidae Siganus punctatus -

3 Siganidae Siganus canaliculatus

4 Carangidae Caranx melampygus - -

5 Lethrinidae Lethrinus ornatus - -

6 Lethrinidae Lethrinus lencam -

7 Scaridae Scarus quoyi

8 Scaridae Scarus dimidiatus - -

9 Scaridae Chlorurusjapanensis -

10 Acanthuridae Acanthurus bariene - - -

11 Chanidae Chanos chanos -

12 Labridae Choerodon anchorago - -

Keterangan : = ada, - = tidak ada

Tabel 5. Komposisi jenis makrozoobenthos

No. Famili Spesies Distribusi/Stasiun

1 2 3 4

1 Holothuridae Holothuria edulis - -

2 Holothuridae Holothuria opheodesoma

3 Holothuridae Holothuria scabra - -

4 Echinometridae Echinometra mathaei - -

5 Toxopneustidae Tripnieustes gratila -

6 Diadematidae Diadema setosum

7 Ophidlasteridae Linkia laevigata -

8 Oreasteridae Protoreaster nodosus - -

9 Oreasteridae Culcita novaguineae - -

10 Cypraeidae Cypraea moneta - - -

11 Cypraeidae Cypraea tigris -

12 Conidae Conus marmoreus - - -

13 Strombidae Lambis crocata -

14 Strombidae Strombus luhuanus

15 Triadacmidae Tridacna crocea - - -

16 Triadacnidae Hippopus hippopus -

17 Limidae Lima vulgaris - -

Keterangan : = ada, - = tidak ada

Hasil penelitian Lalombombuida et al (2019) diperoleh echinodermata padang lamun sebanyak 27 jenis. Echinodermata memiliki peranan untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut, sebagai pembersih limbah dan sampah, mempunyai peranan pada ekosistem lamun sebagai jaringan makanan, sebagai herbivora, karnivora, omnivora ataupun sebagai pemakan detritus. Echinoodermata mempunyai nilai ekonomis tinggi, dan beberapa jenis diantaranya dapat dimakan misalnya teripang serta bulu babi.

Berdasarkan jumlah jenis, maka Kelas gastropoda memiliki jumlah jenis lebih banyak. Gastropoda ditemukan pada berbagai jenis subtrat seperti pasir, lumpur, pasir berlumpur, patahan karang dan menempel pada daun lamun. Hasil penelitian Arfiati et al (2019) diperoleh

makrozobenthos sebanyak 12 jenis dan kelas gastropoda memiliki jumlah lebih banyak. Gastropoda salah satu jenis moluska yang banyak ditemui di berbagai substrat, karena kemampuan adaptasinya yang tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain, baik di substrat yang keras maupun lunak.

Secara ekologis padang lamun memiliki peran penting bagi wilayah perairan pesisir. Peran tersebut diantaranya sebagai sumber utama produktivitas primer/penghasil bahan organik, habitat berbagai biota (360 jenis ikan 60 diantaranya bernilai ekonomis tinggi, 117 jenis makro alga, 24 jenis moluska, 70 jenis krustacea dan 45 jenis echinodermata) (Supriyadi et al, 2018).

Komposis jenis ikan dan makrozobenthos lebih tinggi pada Stasiun 1 menunjukkan kondisi

(9)

155

padang lamun baik atau sehat dengan persentase penutupan 78% sedangkan pada Stasiun 2 dengan kondisi rusak atau kurang sehat dengan persentase tutupan 51%, sehingga organisme lebih cenderung memilih areal padang lamun dengan kondisi baik sebagai daerah asuhan, mencari makan dan daerah berkembang biak. Hal ini didukung oleh peryantaan Fajarwati et al (2015). kondisi padang

lamun dengan penutupan ≥ 60% kondisinya baik

(kaya/sehat) sedangkan penutupan 30 – 59,9% kondisi lamun rusak (kurang kaya/kurang sehat).

Komposisi jenis ikan dan makrozoobenthos yang diperoleh dapat menjadi faktor penunjang dalam pengembangan ekowisata padang lamun karena dapat menjadi daya tarik ketika mengadakan kegiatan snorkeling, sehingga wisatawan dapat menikmati keindahan baik lamun itu sendiri maupun organisme yang hidup berasosiasi.Tuwo (2011), menyatakan biota-biota yang berasosiasi pada ekosistem lamun memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk melihat keindahan perairan. Biota membentuk kesatuan ekosistem yang indah serta memberikan kesan alami sebagai upaya pengembangan wisata berbasis ekologi (eco-tour) dan wisata pendidikan Selain itu biota asosiasi juga yang memiliki nilai ekonomis dapat menarik wisatawan seperti dengan menjual hasil laut kepada wisatawan

Keanekaragaman jenis ikan dan

makrozoobenthos yang diperoleh menunjukkan semua stasiun penelitian sangat sesuai untuk dijadikan sebagai kawasan ekowsiata pada lamun. Yulianda (2019), menyatakan bahwa areal padang lamun memiliki jenis biota yang berasosiasi sebanyak > 10 spesien termasuk kategori sangat baik untuk dijadikan sebagai ekowisata.

3.4. Kecerahan perairan

Pengukuran kecerahan perairan dilakukan pada saat pagi, siang dan sore dengan menggunakan Secchi disk diperoleh Stasiun 1, 3 dan 4 mencapai 100%, artinya kecerahan sampai ke dasar perairan sedangkan Stasiun 2 kecerahan hanya mencapai 77% artinya tidak mencapai dasar perairan. Ini disebabkan sebagian arealnya didominasi oleh subtrat pasir berlumpur sehingga air menjadi keruh pada saat pagi dan sore hari.

Kecerahan merupakan suatu kondisi yang menunjukkan kemampuan cahaya menembus lapisan perairan pada kedalaman tertentu. kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan. Kecerahan perairan sangat

dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan, dan padatan tersuspensi.

Kecerahan perairan dipengaruhi oleh adanya penetrasi cahaya matahari yang memasuki perairan. Dalam kegiatan wisata bahari, tingkat kecerahan perairan sangat menentukan daya tarik dari wisatawan yang berkunjung. Hal ini dikarenakan semakin tinggi tingkat kecerahan suatu perairan maka akan semakin jernih perairan tersebut. Dengan demikian, segala keindahan dasar laut dapat terlihat dengan jelas dari permukaan air (Saraswati et al, 2017).

Nilai kecerahan dari semua stasiun berkisar antar 77 – 100% menunjukkan semua areal padang lamun Pulau Sibu dapat dijadikan sebagai kawasan ekowisata. Yulianda (2019), menyatakan kisaran kecerahan padang lamun >75 sangat sesuai untuk dijadikan sebagai kawasan ekowisata padang lamun.

3.5. Jenis substrat

Hasil pengamatan substrat perairan Pulau Sibu terdiri dari pasir, pasir berlumpur, lumpur, lumpur berpasir dan pasit bercampur patahan karang. Stasiun 1, 3 dan 4 didominasi oleh pasir, sedangkan stasiun 2 didominasi substrat pasir berlumpur. Berdasarkan substrat yang diperoleh tersebut maka Stasiun 1, 3 dan 4 sesuai untuk dijadikan sebagai kawasan ekowisata sedangkan Stasiun 2 tidak sesuai dijadikan kawasan ekowisata.

Menurut Yulianda (2019), subsrat pasir berkarang sangat sesuai untuk dilakukan kegiatan ekowisata dan substrat pasir sesuai sedangkan subtract pasir berlumpur tidak sesuai. Namun pernyatan ini bertolak belakang dengan pernyataan Hasriyanti (2013) bahwa dasar perairan yang tersusun atas material pasir sangat sesuai untuk kegiatan wisata, sedang perairan yang mengandung lumpur tidak layak sebab akan menyebabkan ketidaknyamanan seperti bau dan warna perairan yang terlihat gelap dan tidak menarik. Subtrat perairan pasir sangat sesuai untuk kegiatan wisata dibandingkan dengan substrat karang karena substrat berkarang akan mengganggu aktivitas wisatawan seperti sakit pada kaki.

3.6. Kecepatan arus

Hasil pengukuran kecepatan arus Stasiun 1 berkisara antara 0,02 – 0,05 m/dt, Stasiun 2 (0,01 –

0,03), Stasiun 3 (0,02 – 0,04 m/dt) dan Stasiun 4 (0,03

(10)

156

penelitian tergolong arus lambat. Kecepatan arus ini dipengaruhi oleh angin dan gelombang karena saat pengukuran kondisi angin sangat lemah dan tidak ada gelombang. Selain itu lokasi penelitian berada dalam teluk. Gemilang et al (2017), menyatakan kecepatan arus <0,1 m/dt dikategorikan arus lemah/lambat.

Kecepatan arus yang relatif rendah baik untuk wisata snorkeling karena memudahkan wisatawan dalam berenang di air laut yang tenang terutama bagi wisatawan yang tidak bisa berenang sehingga wisatawan dapat menikmati panorama yang terdapat di ekositem padang lamun. Menurut Yulianda (2019), kecepatan arus yang baik untuk dijadikan sebagai ekowisata berkisar antara 0-15 m/dt.

3.7. Kedalaman Lamun

Pengukuran kedalaman perairan dilakukan pada sore hari karena pada saat sore hari kondisi

perairan sedang pasang tertinggi. Stasiun 1, 3 dan 4 lamun tumbuh pada kedalaman 1-2 meter, Sedangkan Stasiun 2 berkisar antar 1 – 2,5 meter. Johan (2017), menyatakan kedalaman Lamun adalah jarak permukaan air laut sampai ke dasar perairan. Kedalaman dapat mempengaruhi nilai kecerahan perairan. Kedalaman perairan juga dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Lebih lanjut dikatakan Yulianda (2019) bahwa kedalaman lamun yang baik untuk kegiatan ekowisata berkisar antara 1 - 3 meter.

3.8. Kesesuaian Lahan Ekowisata Padang Lamun Hasil analisis parameter tingkat kesesuaian lahan yang meliputi tutupan lamun, jenis ikan dan makrozoobenthos, jenis lamun, kecerahan perairan, jenis substrat, kecepatan arus dan kedalaman lamun disajikan pada Tabel 6. Sedangkan Peta kesesuaian lahan ekowisata disajikan pada Gambar 5.

Tabel 6. Hasil analisis parameter kesesuaian lahan ekowisata padang lamun

No. Parameter Bobot Skor/Stasiun

1 Ni 2 Ni 3 Ni 4 Ni Total Nilai

1 Tutupan lamun (%) 0.365 3 1.095 2 0.73 3 1.095 3 1.095 3 1.095

2 Jenis Ikan dan

Makrozozbenthos 0.155 3 0.465 3 0.465 3 0.465 3 0.465 3 0.465 3 Jenis Lamun 0.120 3 0.36 2 0.24 2 0.24 2 0.24 3 0.36 4 Kecerahan Perairan (%) 0.120 3 0.36 3 0.36 3 0.36 3 0.36 3 0.36 5 Jenis Substrat 0.100 2 0.2 1 0.1 2 0.2 2 0.2 2 0.2 6 Kecepatan Arus (cm/dt) 0.070 3 0.21 3 0.21 3 0.21 3 0.21 3 0.21 7 Kedalaman Lamun (m) 0.070 3 0.21 3 0.21 3 0.21 3 0.21 3 0.21 IKW 2.90 2.32 2.78 2.78 2.90

Gambar 5. Peta kesesuaian kawasan ekowisata padang lamun Pulau Sibu

Tabel 6 menunjukkan Stasiun 1 memiliki Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) sebasar 2,90. Dari tujuh (7) parameter yang dijadikan dalam penentuan keseuaian ekowisata lamun hanya

parameter jenis subtract yang memiliki nilai skor 2 (sesuai) sedangkan enam (6) parameter semua memiliki nilai skor 3 (sangat sesuai). Stasiun 2 memiliki nilai IKW (2,32) yang rendah

(11)

157

dibandingkan dengan stasiun yang lain disebabkan karena dari semua parameter hanya jenis ikan dan makrozoobenthos, kecerahan perairan, kecepatan arus dan kedalaman lamun memiliki skor 3 (sangat sesuai) sedangkan parameter tutupan lamun dan jenis lamun memiliki nilai skor 2 (sesuai) dan jenis substat dengan skor 1 (tidak sesuai). Stasiun 3 dan 4 memiliki nilai IKW = 2,78 karena dari semua parameter yang dijadikan dalam penentuan kesesuaian ekowisata lamun, hanya jenis lamun dan subtract yang memiliki niali skor 2 (sesuai) sedangkan 5 (lima) parameter lainnya memilki nilai skor 3 (sangat sesuai).

Hasil analisis Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) yang diperoleh untuk Stasiun 1, 3 dan 4 serta secara keseluruhan menunjukkan kawasan areal padang lamun Pulau Sibu Kecamatan Oba Utara berada pada kategori S1 (sangat sesuai), sedangkan pada Stasiun 2 dengan kategori sesuai. Sebagaimana Yulianda (2019) menyatakan bahwa

kisaran nilai (sangat sesuai),

(sesuai), (tidak

sesuai) dan (sangat tidak sesuai).

Pulau Sibu sangat sesuai untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata bahari karena pulau ini merupkan pulau tidak berpenghuni dan memiliki ekosistem hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Khususnya padang lamun kondisinya masih sangat bagus. Pulau ini memiliki zona intertidal hingga sub tidal yang dihuni oleh berbagai organisme seperti gastropoda, bivalva, echinodermata, kepiting, ikan dan udang. Substrat pasir putih dengan air jernih dan tenang sehingga sangat indah dinikmati baik dengan menggunakan perahu maupun berenang dengan snorkel karena akan terlihat semua organisme

yang hidup didalamnya. Dengan adanya ekowisata padang lamun di Pulau Sibu maka kelestarian padang lamun akan selalu terjaga karena salah satu manfaat dari ekowisata padang lamun adalah sebagai wisata edukasi atau pendidikan misalnya untuk melihat ekologi padang lamun beserta biota asosiasinya.

Lamun merupakan salah satu ekosistem di wilayah pesisir yang memegang peranan penting dan cukup efektif sebagai pelindung pantai serta keselamatan lahan pada daratan pesisir. Sebagai salah satu sumberdaya potensial di wilayah pesisir, lamun memiliki potensi untuk dijadikan sebagai kawasan wisata (Tanto et al, 2017).

Ekowisata padang lamun adalah aktivitas wisata berbasis ekosistem padang lamun. Komponen ekowisata padang lamun terdiri atas vegetasi lamun dan biota-biota yang berasosiasi dengan padang lamun. Salah satu manfaat dari ekowisata lamun adalah sebagai wisata edukasi atau pendidikan misalnya untuk melihat ekologi padang lamun beserta biota asosiasinya (Johan, 2017).

IV. PENUTUP

1. Hasil kajian biofisik diperoleh 8 jenis lamun, tutupan lamun (51,04 – 92,71%), Ikan (12 jenis), makrozobenthos (17 jenis), kecerahan (77

100%), substrat (pasir, pasir berlumpur, lumpur), kecepatan arus (0,01 – 0,06 m/dt) dan kedalaman lamun (1 – 2,5 m).

2. Pulau Sibu dapat dikembangkan sebagai kawasan ekowisata padang lamun dengan Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) Stasiun 1, 3, 4 dan secara keseluruhan berada pada kategori S1 (sangat sesuai) dan Stasiun 2 dengan kategori sesuai.

REFERENSI

Abubakar, S dan A. Achmad. 2013. Tumbuhan Air (Panduan Pengajaran). LepKhair. Universitas Khairun. Ternate. 96 hal.

Alhaddad, M.S dan S. Abubakar. 2016. Distribusi Komunitas Padang Lamun (Seagrass) Di Perairan Tanjung Gosale kecamatan Oba Utara Kota Tidore Kepulauan. Jurnal Techno V 76 ol. 05 No. 1 April 2016: 76 - 95.

Arfiatia, D., E. Y. Herawatia., N. R. Buwonoa., A. Firdausa., M. S. Winarnoa dan A. W. Puspitasaria. 2019. Struktur Komunitas Makrozoobentos Pada Ekosistem Lamun Di Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Journal of Fisheries and Marine Research Vol.3 No.1 (2019) 1-7

(12)

158

Calumpong, H.P and E.G. Menez. 1997. Field Guilde to The Common Mangroves, Seagrasses and Algae of The Philipinnes. Bookmark, Inc, 264-A Pablo Ocampo Sr. Ave Makati City, Philipinnes. 192 hal.

Dharma, B. 2005. Recent and Fossil Indonesian Shell. Conch Book. PT. Ikrar Mandiriabadi. Jakarta. 424 hal.

Fajarwati, S.D, A.I Setianingsih dan Muzani. 2015. Analisis Kondisi Lamun (Seagrass) di Perairan Pulau Pramuk Kepulauan Seribu. SPATIAL Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi Vol. 13 No. 1 Maret 2015 : 22 – 32.

Gemilang, W. A, U. J. Wisha dan G. Kusumah. 2017. Distribusi Sedimen Dasar Sebagai Identifikasi Erosi Pantai Di Kecamatan Brebes Menggunakan Analisis Granulometri. Jurnal Kelautan Volume 10, No. 1, 2017: 55-66.

Hamuna, B., R.H.R. Tanjung, Suwito, H. K. Maury dan Alianto. 2018. Kajian Kualitas Air Laut dan Indeks Pencemaran Berdasarkan Parameter Fisika-Kimia Di Perairan Distrik Depapre, Jayapura. Jurnal Ilmu Lingkungan Volume 16 Issue 1 (2018) : 35-43.

Hasriyanti, 2015. Tipe Gelombang dan Pasang Surut di Perairan Pulau Dutungan Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Jurnal Sainsmat, Maret 2015. ISSN 2086-677.

Hutomo, M dan A. Nontji. Panduan Monitoring. 2014, COREMAP – CTI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Johan, Y. 2017. Kajian Potensi Ekowisata Padang Lamun Di Perairan Pantai Basing Dusun Limas Pulau Sebangka Kecamatan Senayang Kabupaten Lingga. Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang.

Kaeli, F, R. Subur dan S. Abubakar. 2016. Studi Komparatif Komunitas Ikan Padang Lamun Pada Bulan Perbani Awal Dan Perbani Akhir Di Perairan Loleo Kecamatan Weda Selatan Kabupaten Halmahera Tengah. Jurnal Biologi Tropis, Juli-Desember 2016: Volume 16 (2):43-55.

Latuconsina, H., M. Sangadji dan L. Sarfan. 2014. Struktur komunitas ikan padang lamun di perairan pantai wael teluk kotania kabupaten seram bagian barat. Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan (agrikan UMMU-Ternate) Volume 6 (3): 24-32.

Lalombombuida, S, M. Langoy dan D. Y. Katili. 2019. Keanekaragaman Echinodermata Di Pantai Paranti Desa Tabang, Kecamatan Rainis Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi. Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis Vol. X-2 April 2019 : 40-50.

Martini, D., Mennofatria, B., Bengen, D. G., Fachrudin, A., 2014. Perencanaan Kawasan untuk Pengembangan Ekowisata Perairan. Tata Loka, 16(2): 70-83.

Murhum, M.A, S. Abubakar dan S.E. Widiyanti. 2018. Sumberdaya Pesisir dan Laut Desa Gotowasi (Studi Ekologi, Ekonomo dan Sosial). Penerbit Samudera Biru. Yogyakarta. 134 hal.

Peristiwady, T. 2006. Ikan-Ikan Laut Ekonomis Penting di Indonesia. Petunjuk Identifikasi. Penerbit LIPI. Jakarta. 270 hal.

Putra, A, Try A. T, Ilham, Koko O dan Ulung, J. W. 2016. Potensi Ekosistem Lamun Untuk Pengembangan Ekowisata Lamun Di Kota Padang (Studi Kasus Pantai Nirwana, Cindakir

danau Pasumpahan). Seminar Nasional Kelautan XI ”Penguatan Riset dan Teknologi dalam Rangka Meningkatkan Pengelolaan Sumberdaya Laut dan Pesisir” Fakultas Teknik dan Ilmu

(13)

159

Rina, S. Abubakar dan N. Akbar. 2018. Komunitas Ikan Pada Ekosistem Padang Lamun Dan Terumbu Karang Di Pulau Sibu Kecamatan Oba Utara Kota Tidore Kepulauan . Jurnal Enggano Vol. 3, No. 2, September 2018: 197-210.

Romimohtarto. K, dan S. Juwana. 2001. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Penerbit Djambatan. Jakarta.

Saraswati, N.L.G.R.A, Yulius, A. Rustam, H. L. Salim, A. Heriati2 dan E. Mustikasari. 2017. Kajian Kualitas Air Untuk Wisata Bahari Di Pesisir Kecamatan Moyo Hilir Dan Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa. Jurnal Segara Vol.13 No.1 April 2017: 37-47.

Sjafrie, N.D.M, U. E.Hernawan, B. Prayudha,I. H.Supriyadi, M. Y. Iswari, Rahmat, K. Anggraini,S. Rahmawati dan Suyarso, 2018. Status Padang Lamun Indonesia 2018 Ver.02. Pusat Penelitian Oseanografi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Puslit Oseanografi – LIPI. Jakarta.

Supriyadi, I. H, M. Y. Iswari dan Suyarso. 2018. Kajian Awal Kondisi Padang Lamun di Perairan Timur Indonesia. Jurnal Segara Vol.14 No.3 Desember 2018: 169-177.

Tanto T.A, Aprizon, P dan Fredinan Y. 2017. Kesesuaian Ekowisata Di Pulau Pasumpahan, Kota Padang. Majalah Ilmiah Globë Volume 19 No.2 Oktober 2017: 135-146.

Tebaiy, S., F. Yulianda; A. Fahrudin dan I. Muchsin. 2014. Struktur Komunitas Ikan Pada Habitat Lamun Di Teluk Youtefa Jayapura Papua. Jurnal Iktiologi Indonesia, 14(1):49- 65.

Tuwo, A., 2011. Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut: Pendekatan Ekologi, Sosial – Ekonomi, Kelembagaan, Sarana Wilayah. Surabaya: Berlian Internasional. 412 hal.

Yulianda, F. 2019. Ekowisata Perairan (Suatu Konsep Kesesuaian dan Daya Dukung Wiasata Bahari dan Wisata Air Tawar). Penerbit IPB Press. Bogor. 87 hal.

Gambar

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian
Gambar 2. Sketsa penempatan plot  2.2.2. Objek Biota
Tabel 1. Penilaian tutupan lamun
Tabel  3  menunjukkan  distribusi  lamun  lebih  banyak  terdapat  pada  Stasiun  1  yaitu  sebanyak  8  jenis  (Cymodocea  rotundata,  C
+4

Referensi

Dokumen terkait

Metode ini memiliki beberapa kelebihan dalam memperbaiki dan mempercepat proses pembelajaran, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian dengan judul “Pengaruh

Angka kecepatan aktual kendaraan serta waktu tempuh tahun 2014 pada arah Barat-Timur hari kerja sebelumnya tidak dapat didefinisikan karena arus lalu lintas macet

Den ovenstående sag med Anders Fogh Rasmussens kone viser, hvordan medierne i stadig stigende grad fokuserer på private forhold, og der skabes et større pres på ikke bare

The first application of Nonnegative Matrix Factorization (NMF) [1] was in extracting sparse features of facial images, while recent research also reveals its usefulness in

Perbandingan panjang tajuk dan berat kering tajuk tanaman padi yang telah diberi larutan uji terhadap kontrol (yang tidak diberi larutan uji) dinyatakan sebagai

menunjukkan nilai signifikansi kadar fenolik total sebesar p&lt;0,05 sehingga perbedaan metode ekstraksi berpengaruh signifikan terhadap kadar total fenolik ekstrak

Misalnya, kalau kita tulis model (M/M/1) : FIFO// ∞/∞ , ini berarti bahwa model menyatakan kedatangan distribusikan secara Poisson, waktu pelayanan distribusikan secara

Objek penelitian adalah tata artistik program variety show Pangkur Jenggleng tahun 2003 hingga tahun 2013 yang tayang di Televisi Republik Indonesia Stasiun