BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 81
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG
Akuntabilitas Kinerja dalam LKj Provinsi Lampung tidak terlepas dari rangkaian mekanisme fungsi perencanaan yang sudah berjalan mulai dari RPJMD, Renstra SKPD, RKPD ataupun RKT dan Perjanjian Kinerja Pemerintah Provinsi Lampung. Dalam pelaksanaan pembangunan Pemerintah Provinsi Lampung sebagaimana fungsi actuating, dari berbagai piranti perencanaan yang sudah dibuat tersebut, hingga sampai pada saat pertanggungjawaban pelaksanaan pembangunan yang mengerahkan seluruh sumber daya manajemen pendukungnya.
Pertanggungjawaban kinerja pelaksanaan pembangunan sifatnya terukur, terdapat standar pengukuran antara yang diukur dengan piranti pengukurannya. Pertanggungjawaban pengukuran yang diukur adalah kegiatan, program dan sasaran yang prosesnya adalah sejauh mana ketiga komponen tersebut dilaksanakan selaras dan sinergi dengan berbagai piranti perencanaan yang telah dibuat. Piranti pengukurannya berupa Pengukuran Kinerja (atau sebelum Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 disebut dengan Pengukuran Pencapaian Sasaran untuk mengukur sasaran).
Adapun pengukuran kinerja dilakukan dengan cara membandingkan target setiap indikator kinerja sasaran dengan realisasinya. Setelah dilakukan penghitungan akan diketahui selisih atau celah kinerja (performance gap). Selanjutnya, berdasarkan selisih kinerja tersebut dilakukan evaluasi guna mendapatkan strategi yang tepat untuk peningkatan kinerja di masa yang akan datang (performance improvement).
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 82 Dalam memberikan klasifikasi penilaian tingkat capaian kinerja setiap sasaran berpedoman pada Permendagri No. 54 tahun 2010 dengan menggunakan skala penilaian terhadap kinerja pemerintah dibagi 4 (empat) kategori dapat dilihat pada tabel 3.1 sebagai berikut :
Tabel 3.1 Skala Pengukuran Capaian Sasaran Kinerja Tahun 2016
No. Interval Nilai Realisasi Kinerja
Kriteria Penilaian
Realisasi Kinerja Kode
1. 91 Sangat Tinggi
2. 76 90 Tinggi
3. 66 75 Sedang
4. 51 65 Rendah
5. 50 Sangat Rendah
Sumber: Permendagri No. 54 Tahun 2010
3.1 CAPAIAN INDIKATOR KINERJA UTAMA TAHUN 2016
Pengukuran target kinerja dari sasaran strategis yang telah ditetapkan akan dilakukan dengan membandingkan antara target kinerja dengan realisasi kinerja. Kriteria penilaian yang diuraikan dalam tabel 3.2 selanjutnya akan dipergunakan untuk mengukur kinerja Pemda Lampung untuk tahun 2016. Pencapaian IKU Gubernur tahun 2016 secara ringkas ditunjukkan oleh tabel berikut ini:
Tabel 3.2 Tabel Pencapaian IKU Gubernur Tahun 2016
No Indikator
Capaian 2015
2016 Target
Akhir RPJMD (2019)
Capaian s/d 2016 terhadap 2019 Target Realisasi % Realisasi
1 Pertumbuhan Ekonomi
5,13 6,35-6,50 5,15 87,67 7,00-7,50 73,57
2 Indeks Gini 0,35 0,33 0,36 90,91 0,32 87,50
3 PDRB atas dasar harga berlaku
253.162.53 8,30
261.081.194 281.113.138,68 86,86 318.996.629 88,12
4 PDRB atas dasar harga konstan
199.525.41 9,80
241.539.088 209.807.185,73 107,67 262.203.722 80,02
5 PDRB per kapita (berlaku)
31,20 32,82 34,26 104,39 39,45 86,84
6 Laju pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, perikanan
3,45 4,16 3,16 75,96 4,48 70,54
7 Nilai Tukar Petani (NTP)
103,84 103,84 105,12 101,23 104,84 100,27
8 Nilai Tukar Nelayan (NTN)
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 83
9 Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Konsumsi
84,1 85,00 78,00 91,76 92,5 84,32
10 Laju pertumbuhan sektor industri pengolahan
7,48 7,44 3,89 52,28 7,46 52,14
11 Laju pertumbuhan sektor perdagangan
1,98 4,40 6,65 151,14 5,24 126,91
12 Pertumbuhan ekspor non migas
17,4 6,25 17,56 280,96 6,70 262,10
13 Jumlah koperasi aktif
2.760 3.018 3.024 100,20 3.250 93,05
14 Jumlah UMKM 382.247 384.810 301.814 78,43 414.398 41,89
15 Laju pertumbuhan investasi (PMTDB) atas dasar harga berlaku
7,24 10,94 8,61 78,70 14,56 59,13
16 Jumlah wisatawan nusantara (orang)
5.530.803 7.115.000 7.381.774 103 13.578.673 54,36
17 Jumlah wisatawan mancanegara (orang)
114.907 115,639 155.053 100,03 301.053 51,50
18 Pertumbuhan PAD 2,55 3,23 5,24 162,23 15,68 33,42
19 Kemantapan jalan provinsi
67,02 70,00 70,02 100,03 85,00 82,38
20 Tingkat kesesuaian antara RTRW Provinsi Lampung dengan penataan ruang
Sesuai Sesuai Sesuai 100,00 Sesuai 100,00
21 Kondisi jaringan irigrasi dan bangunan pelengkap yang terpelihara
65 70 80 114,26 85 94,11
22 Pembangunan embung dan
Terhadap Air Minum Layak
68,82 74,34 74,51 100,23 100 74,51
24 Tingkat Kawasan Permukiman Kumuh
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 84
27 Laju pertumbuhan sektor
pertambangan
4,20 2,16 4,36 201,85 2,50 174,40
28 Rasio elektrifikasi rumah tangga
80,46 76,38 51,80 66,87 83,47 61,19
29 Angka melek huruf 99,88 96,50 96,67 100,17 98 98,64
30 Angka Partisipasi Kasar (APK)
32 Angka Partisipasi Murni (APM)
34 Angka rata-rata lama sekolah
7,20 7,55 7,56 100,13 7,70 98,18
35 Angka Kelulusan 100 100 100 100 100 100
36 Angka melanjutkan SMP ke SMA
79,23 85 72,06 84,78 100 72,06
37 Angka melanjutkan SMA ke PT
41 Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 lahir hidup
4,88 30 3,76 187,47 24 184,33
42 Angka Kematian Ibu (AKI) per 100.000 kelahiran hidup
95,46 333 81,07 175,65 309 173,76
43 Prevalensi Balita Kurang Gizi
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 85
44 Angka Penemuan Kasus TB (semua
45 Angka Kesakitan Positif Malaria (API) per 1000 penduduk
0,43 0,30 0,47 43,33 0,10 -270,00
46 Prevalensi HIV AIDS per 100 penduduk usia > dari 15 tahun
0,01 0,49 0,01 197,96 0,49 197,96
47 Angka Kesakitan DBD per 100.000 penduduk
38,51 49 56,23 85,24 46 77,76
48 Cagar budaya dan aset daerah yang bernilai budaya yang diperlihara
1.576 1.891 1.546 81,76 3.267 47,32
49 Jumlah pengunjung museum
137.987 150.000 154.722 103,15 225.000 68,76
50 Jumlah sanggar kesenian
494 915 494 54,71 960 28,02
51 Persentase penduduk miskin
14,35 12,93 13,86 92,81 11,10 75,14
52 Indeks kedalaman kemiskinan
2,36 1,90 1,92 98,95 1,40 62,86
53 Indeks keparahan kemiskinan
56 Tingkat partisipasi angkatan kerja
58 Penempatan transmigrasi ke luar Lampung
55 100 85 85,00 125 68,00
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 86
61 Jumlah perempuan keluarga miskin
62 Jumlah Kab/Kota layak anak se-Provinsi Lampung
1 0 0 100 3 33,33
63 Penanganan kasus perempuan dan anak
95 100 kasus 173 173 200 86,50
64 Peringkat pekan olahraga prestasi nasional
8 - - - 5 -
65 Kelompok pemuda yang dilatih sebagai kader
67 Jumlah Rumusan Kebijakan (policy paper)
68 Jumlah Kabupaten dan Kota di Provinsi Lampung yang sungai utama dan waduk besar
D C C 100 B 50,00
70 Jumlah perusahaan yang menjadi pada sungai utama
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 87
72 Luas rehabilitasi hutan dan lahan termasuk mangrove
86.364 106.953 Hektar
99.646,10 93,00 175.769 56,69
73 Jumlah Raperda dan Pergub yang dihasilkan
11 dan 66 10 raperda 35 pergub
14 dan 105 140 dan 300 10 dan 30 140 dan 350
74 Penyelesaian Kasus Tanah
6 6
kasus/tahun
6 100 6 100
75 Hasil Evaluasi Laporan
76 Hasil evaluasi Laporan
78 Persentase Hasil Audit APIP yang Terselesaikan
50 60 41,70 69,50 90 46,33
79 Persentase Penurunan Pelanggaran Terhadap Standar Atas Pelaksanaan Tugas SKPD Sesuai Aspek Pembinaan dan Pengawasan
50 40 14 285,71 10 71,42
80 Konsistensi antar dokumen perencanaan
100 100 100 100 100 100
81 Indeks kepuasan masyarakat (skala 1-10)
6,23 6,40 6,23 97,34 7,00 89,00
82 Akreditasi kelembagaan Badan Diklat
B B B 100 A 67
83 Indeks demokrasi 71,62 72,00 65,95 91,60 73,50 89,73
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 88
Catatan:
Untuk indikator ke-66, 76, 77 dan 83 merupakan capaian kinerja tahun 2015, karena realisasi kinerja tahun 2016 baru bisa dilihat pada triwulan 3 dan 4 tahun 2017. Sedangkan, untuk indikator ke-75 merupakan angka sementara (asem) sambil menunggu pengumuman resmi dari Kementerian PAN & RB.
Berdasarkan skala nilai peringkat kinerja pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010, dari 83 Indikator Kinerja Sasaran yang merupakan Indikator Kinerja Utama (IKU) Pemerintah Provinsi Lampung pada tahun 2016, terdapat 61 indikator menunjukkan capaian sangat tinggi. Tingkat ketercapaian ini menunjukkan pelaksanaan urusan yang terkait dicapai melalui dukungan penganggaran dan kerja keras seluruh stakeholder dalam mendukung capaian sejumlah indikator tersebut. Sedangkan, 22 indikator lainnya yaitu 10 indikator dengan capaian tinggi, 4 indikator capaian sedang, 3 indikator capaian rendah dan masih terdapat 5 indikator dengan capaian sangat rendah masih diperlukan upaya kinerja yang lebih keras, fokus, dan terarah.
Sementara apabila dilihat dalam kerangka triwulan, perbandingan antara rencana dan realisasi kinerja untuk seluruh sasaran dapat dilihat pada tabel 3.3 sebagai berikut:
Tabel 3.3 Realisasi dan Capaian Kinerja IKU Gubernur Tahun 2016 Per Triwulan
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target
Tahunan Triwulan Target Realisasi Persentase 1 Peningkatan pertumbuhan
dan kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB Provinsi Lampung
Pertumbuhan
Ekonomi Persen 6,35-6,50
Triwulan I 6,35 5,06 79,69 Triwulan II 6,35 5,15 81,10 Triwulan III 6,35 5,19 81,73 Triwulan IV 6,35 5,15 81,10
Indeks Gini Koefisien 0,33
Triwulan I 0,33 -
Triwulan II 0,33 -
Triwulan III 0,33 0,36 90,91 Triwulan IV 0,33 0,36 90,91
PDRB atas dasar harga berlaku
Juta Rp
261.081.194 Triwulan I 66.831.534,19 66.831.534,19 100 Triwulan II 70.804.058,50 70.804.058,50 100 Triwulan III 74.296.607,20 74.296.607,20 100 Triwulan IV 69.180.938,79 69.180.938,79 100
PDRB atas dasar harga
konstan Juta Rp 241.539.088
Triwulan I 51.065.274,74 51.065.274,74 100 Triwulan II 53.301.369,01 53.301.369,01 100 Triwulan III 55.085.713,52 55.085.713,52 100 Triwulan IV 50.354.828,46 50.354.828,46 100
PDRB per kapita
(berlaku) Juta Rp 32,82
Nilai Tukar Petani (NTP)
Nilai Tukar Nelayan (NTN) 2 Terpenuhinya kebutuhan
pangan per kapita masyarakat untuk
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 89 memenuhi kecukupan
energy dan keamanan pangan
Triwulan IV 85,00 78,00* 91,76
3 Meningkatnya pertumbuhan dan kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB Provinsi Lampung
Laju pertumbuhan 4 Meningkatnya
pertumbuhan dan kontribusi sektor perdagangan pada PDRB Provinsi
Laju pertumbuhan
sektor perdagangan Persen 4,40
Triwulan I 4,40 3,71 84,32 5 Meningkatnya peran
koperasi dan UMKM dalam
perekonomian daerah Jumlah koperasi aktif Unit 3.018
Triwulan I 2.818 2.827 100,32 Triwulan III 384.810 301.814 78,43 Triwulan IV 384.810 301.814 78,43 Peningkatan kontribusi
penanaman modal (investasi) terhadap perekonomian daerah
Laju pertumbuhan investasi (PMTDB) atas
dasar harga berlaku
Persen 10,94
Triwulan I 10,94 19,69 179,98
6 Triwulan II 10,94 14,05 128,43
Triwulan III 10,94 9.70 88,67 Triwulan IV 10,94 8,61 78,70 7 Berkembangnya kontribusi
pariwisata pada perekonomian daerah
Jumlah wisatawan
nusantara Orang 7.115.000
Triwulan I 500.000 521.115 104,20 Triwulan II 2.000.000 2.189.672 109,40 Triwulan III 3.000.000 3.009.726 100,30 Triwulan IV 1.615.000 1.661.261 102,80
Jumlah wisatawan
mancanegara Orang 155.000
Triwulan I 10.000 9.458 94,50 Triwulan II 70.000 71.256 101,70 Triwulan III 40.000 40.509 101,20 Triwulan IV 35.000 33.828 96,65 8 Peningkatan pendapatan
asli daerah (PAD)
Pertumbuhan PAD Persen 3,23
Triwulan I 3,23 - -
Triwulan II 3,23 - -
Triwulan III 3,23 - -
Triwulan IV 3,23 5,24 162,23 9 Tersediannya
infrastruktur/ prasarana dan sarana transportasi yang handal, terintegritas dengan system transportasi nasional untuk mendukung pergerakan orang dan barang
Kemantapan jalan
provinsi Persen 70,00
Triwulan I 65 65 100 pemanfaatan ruang nasional, provinsi dan kabupaten/ kota
Tingkat kesesuaian antara RTRW Provinsi
Lampung dengan 11 Tersedianya sumberdaya
air yang handal dan berkualitas untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga (domestik), pertanian (irigasi), industry dan untuk berbagai keperluan lainnya baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang
Kondisi jaringan irigrasi dan bangunan
pelengkap
Meningkatkan akses masyarakat terhadap sarana dan prasarana dasar pemukiman (mencakup persampahan, air bersih, air limbah)
Tingkat Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Air Minum
Layak
Permukiman Kumuh Persen 1,93
Triwulan I 1,93 -
Triwulan II 1,93 - Triwulan III 1,93 -
Triwulan IV 1,93 1,8 106,73 Tingkat Rumah Tangga
yang Memiliki Akses Terhadap Lingkungan Tingkat Rumah Layak
Huni Persen 45
Triwulan I 45 -
Triwulan II 45 -
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 90 Triwulan IV 45 82,34 182,98 13 Meningkatnya cakupan
pelayanan dan kualitas infrastruktur energy dan ketenagalistrikan di Provinsi Lampung
Laju pertumbuhan
sektor pertambangan Persen 2,16
Triwulan I 2,16 2,49 115,28 Triwulan II 2,16 2,52 116,67 Triwulan III 2,16 3,59 166,20 Triwulan IV 2,16 4,36 201,85
Rasio elektrifikasi
rumah tangga Persen 76,38
Triwulan I 76,58 - Triwulan II 76,58 - Triwulan III 76,58 -
Triwulan IV 76,58 51,80 66,87 14 Meningkatnya angka
melek huruf Angka melek huruf
Persen 96,50
tahun Angka Partisipasi Kasar (APK)
APK SMP/MTS/Paket B
Persen 96,45
APM SMP/MTs/ Paket
B Persen 75,90
Triwulan I 75,90 78,34 103,21 Triwulan II 75,90 78,34 103,21 Triwulan III 75,90 78,34 103,21 Triwulan IV 75,90 78,34 103,21
Angka rata-rata lama
sekolah Persen 7,55
Triwulan I 7,55 - -
Triwulan II 7,55 - -
Triwulan III 7,55 7,56 100,13 Triwulan IV 7,55 7,56 100,13
Angka Kelulusan Persen 100
Triwulan I 100 - -
Angka melanjutkan
SMA - PT Persen 60
Triwulan I 60 - -
Triwulan II 60 - -
Triwulan III 60 55 91,67
Triwulan IV 60 55 91,67
16 Meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat ke jenjang menengah dan tinggi
mutu pelayanan kesehatan
masyarakat Angka harapan hidup Tahun 69,85
Triwulan I 69,85 69,66 99,73 Triwulan II 69,85 69,66 99,73 Triwulan III 69,85 69,66 99,73 Triwulan IV 69,85 69,90 100,07
Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka Kematian Ibu (AKI) yg dilaporkan)/ Case Notification Rate)
Per Positif Malaria (API)
Per Prevalensi HIV AIDS
per 100 penduduk usia > dari 15 tahun
Persen 0,49
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 91 Triwulan IV 0,49 0,01 197,96
Angka Kesakitan DBD Per 18 Terinternalisasinya
nilai-nilai budaya dan kearifan lokal
Cagar budaya dan aset daerah yang bernilai
budaya yang
pengunjung museum Persen 150.000
Triwulan I 150.000 90.450 60,30 Triwulan II 150.000 110.235 74,90 Triwulan III 150.000 130.650 87,10 Triwulan IV 150.000 154.722 103,15
Jumlah sanggar
kesenian Sanggar 915
Triwulan I 915 494 54,71
Triwulan II 915 494 54,71
Triwulan III 915 494 54,71
Triwulan IV 915 494 54,71
19 Meningkatnya pelayanan kesejahteraan dan rehabilitasi bagi tuna sosial
Persentase penduduk
kemiskinan Persen 1,90
Triwulan I 1,90 2,63 138,42 Triwulan II 1,90 2,63 138,42 Triwulan III 1,90 1,92 101,05 Triwulan IV 1,90 1,92 101,05
Indeks keparahan
kemiskinan Persen 0,44
Triwulan I 0,44 0,70 159,09 Triwulan II 0,44 0,70 159,09 Triwulan III 0,44 0,41 93,18 Triwulan IV 0,44 0,41 93,18
Jumlah PMKS yang
ditangani Jiwa 10.062
Triwulan I 2.515 2.259 89,82 Triwulan II 5.169 4.820 93,25 Triwulan III 8.603 7.650 88,92 Triwulan IV 10.062 10.713 106,47 20 Meningkatnya kualitas dan
perlindungan terhadap
tenaga kerja Rasio ketergantungan Persen 46,51
Triwulan I 46,51 - Triwulan II 46,51 - Triwulan III 46,51 -
Triwulan IV 46,51 49,33 93,94
Tingkat partisipasi
angkatan kerja Persen 65,91
Triwulan I 65,91 - 21 Meningkatnya
kesejahteraan masyarakat transmigrasi dan berkembangnya kawasan transmigrasi
Penempatan transmigrasi ke luar
Lampung dibangun di kawasan KTM sebagai embrio pusat pertumbuhan
22 Meningkatnya indeks pembangunan dan kesetaraan gender
Jumlah SKPD Provinsi yang
miskin pedesaan Orang 320
Triwulan I 80 80 100
Triwulan II 80 80 100
Triwulan III 0 0 100
Triwulan IV 160 160 100
23 Meningkatkan perlindungan perempuan dan anak
Jumlah Kab/Kota layak anak se-Provinsi
perempuan dan anak Kasus 100
Triwulan I 0 0 100
Triwulan II 0 0 100
Triwulan III 0 0 100
Triwulan IV 100 173 173
24 Meningkatnya peran pemuda dan prestasi olahraga dalam pembangunan kualitas hidup dan kehidupan
Kelompok pemuda yang dilatih sebagai kader
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 92 25 Meningkatnya kualitas
kehidupan beragama Rasio tempat peribadatan per 26 Meningkatnya
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang efisien dan efektif melalui perumusan kebijakan pembangunan daerah yang berbasis riset, IPTEK dan Inovasi
Jumlah rumusan kebijakan (policy paper) pembangunan daerah yang aplikatif
Policy
Jumlah Kabupaten dan Kota di Provinsi Lampung yang telah
melakukan kerusakan lingkungan, serta perlindungan dan konservasi SDA.
Kelas status mutu sungai utama dan waduk besar yang menjadi peserta
PROFER
28 Peningkatan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim
29 Peningkatan manfaat kawasan hutan Provinsi Lampung dari aspek ekonomis dan ekologis.
Luas rehabilitasi hutan dan lahan termasuk
mangrove
Hektar 106.953
Triwulan I 89.816,25 89.816,25 100 Triwulan II 95.528,50 95.528,50 100 Triwulan III 101.240,75 99.646,10 100 Triwulan IV 106.953,00 99.646,10 93,00 30 Terciptanya keadilan,
kepastian dan kemanfaatan hukum di masyarakat
Jumlah Raperda dan Pergub yang
31 Meningkatnya kinerja pemerintahan ditandai dengan meningkatnya kepercayaan publik melalui pelayanan prima
Hasil Evaluasi Kinerja Pemerintah Provinsi
Hasil evaluasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD)
Status Tinggi
Triwulan I Tinggi Tinggi 100 Triwulan II Tinggi Tinggi 100 Triwulan III Tinggi Tinggi 100 Triwulan IV Tinggi Tinggi 100 32 Meningkatnya kapasitas
dan akuntabilitas kinerja pelayanan publik
Opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
33 Terwujudnya
pemerintahan yang bersih dan bebas KKN
Persentse Hasil APIP yang Terselesaikan SKPD Sesuai Aspek Pembinaan dan
34 Meningkatnya kinerja pelayanan publik yang memuaskan masyarakat dan kualitas pelayanan yang merata
Konsistensi antar
dokumen perencanaan Persen 100
Triwulan I 100 100 100
Triwulan II 100 100 100
Triwulan III 100 100 100
Triwulan IV 100 100 100
Indeks kepuasan
masyarakat (skala 1-10) Indeks 6,40
Triwulan I 6,40 -
35 Meningkatnya kualitas kehidupan berdemokrasi dengan proses demokrasi yang menghargai kebebasan, persamaan,
Indeks demokrasi Skala 72,00 Triwulan I 72,00 - Triwulan II 72,00 -
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 93 keadilan dalam kerangka
supremasi hukum.
Triwulan IV 72,00 65,95 91,60
Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2017
Beberapa IKU yang diuraikan di atas, penetapan target dan pengukuran realisasi triwulan dilakukan dengan menggunakan proxy indicator karena karakter indicator yang spesifik, termasuk tentang metode pengukuran indikator. Indikator yang dimaksud dan penjelasan mengapa dipergunakan proxy indicator
adalah sebagai berikut:
1. Sebagian indikator merupakan indikator pada level outcome, dimana pelaksanaan kegiatan pada tahun berjalan, belum tentu akan berkontribusi pada pencapaian target kinerja IKU secara langsung, seperti IKU yang pertama.
2. Sebagian indikator mempergunakan data yang dihasilkan oleh pengukuran secara periodik oleh lembaga di luar OPD di lingkungan Provinsi Lampung, yang biasanya dilakukan sekali atau dua kali dalam setahun. Indikator yang masuk dalam kategori ini adalah Pertumbuhan Ekonomi, Indeks Gini, PDRB atas dasar harga berlaku, PDRB atas dasar harga konstan, PDRB per kapita (berlaku), Laju pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, perikanan, Nilai Tukar Petani (NTP), Nilai Tukar Nelayan (NTN), Laju pertumbuhan sektor industri pengolahan, Laju pertumbuhan sektor perdagangan, Pertumbuhan ekspor, Laju pertumbuhan investasi (PMTDB) atas dasar harga berlaku, Laju pertumbuhan sektor pertambangan, Angka Melek Huruf, Angka Harapan Hidup, Jumlah penduduk miskin, Indeks Kedalaman Kemiskinan, Indeks Keparahan Kemiskinan, Rasio Ketergantungan, Tingkat partisipasi angkatan kerja, Tingkat pengangguran terbuka, Rasio tempat peribadatan per jumlah penduduk, Hasil Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Hasil Evaluasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD), Opini Pemeriksaan BPK, Indeks kepuasan masyarakat dan Indeks demokrasi.
Proxy indikator yang dipakai adalah pencapaian indikator yang menjadi penyumbang IKU. Pencapaian kinerja tahun 2016 dibandingkan dengan target kinerjanya, Target RPJMD dan Perjanjian Kinerja Tahun 2017, ditunjukkan table 3.4 berikut ini.
Tabel 3.4 Kinerja dan Realisasi Pencapaian IKU Tahun 2016
No Sasaran
Strategis Indikator Kinerja Satuan
2016 2017
Target Realisasi Capaian Target
(RPJMD) PK
1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 Peningkatan
Pertumbuhan Pertumbuhan Ekonomi Persen
6,35-6,50
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 94
PDRB atas dasar harga
berlaku Juta Rp
261.081.194
281.113.138,86 86,86 278.364.769 278.364.769
PDRB atas dasar harga
konstan Juta Rp
241.539.088
209.807.185,73 107,67 228.741.575 228.741.575
PDRB per kapita (berlaku) Juta Rp 32,82 34,26 104,39 35,04 35,04 Laju pertumbuhan sektor
pertanian, kehutanan, perikanan
Persen
4,16
3,16 75,96 4,39 4,39
Nilai Tukar Petani (NTP) Indeks Harga
103,84
105,12 101,23 104,31 104,31
Nilai Tukar Nelayan (NTN) Indeks Harga
113,86
94,24 82,77 114 114
2 Terpenuhinya kebutuhan
Skor Pola Pangan Harapan
(PPH) Konsumsi Persen 85,00 78,00 91,76 85,90 85,90
3 Meningkatnya pertumbuhan
Laju pertumbuhan sektor industri pengolahan
Persen 7,44 3,89 52,28 7,46 7,46
4 Meningkatnya pertumbuhan
Laju pertumbuhan sektor
perdagangan Persen
4,40
6,65 151,14 5,48 5,48
Pertumbuhan ekspor
Persen
6,25
-2,65 -42,40 6,30 6,30
5 Meningkatnya peran koperasi dan UMKM dalam perekonomian daerah
Jumlah koperasi aktif
Unit 3.018 3.024 100,20 3.093 3.093
Jumlah UMKM UMKM 384.810 301.814 78,43 394.430 394.430
6 Peningkatan kontribu si investasi (PMTB) atas
dasar harga berlaku
Persen 10,94 8,61 78,70 12,03 12,03
nusantara Orang
7.115.000
7.381.774 103 5.759.540 5.759.540 Jumlah wisatawan
mancanegara
Orang
115.000
155.053 100,03 127,202 127,202
8 Peningkatan pendapatan asli
daerah (PAD) Pertumbuhan PAD Persen 3,23 5,24 162,23 3,25 3,25
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 95 10 Terwujudnya
Tata Ruang
Tingkat kesesuaian antara RTRW Provinsi Lampung dengan penataan ruang
Sesuai Sesuai 100 Sesuai Sesuai
11 Tersedianya sumberdaya air
Kondisi jaringan irigrasi dan bangunan penampungan air lainnya dari kebutuhan yang akan dibangun
Persen 14 41 292,86 16 16
12 Mening-katkan akses masyara-air bersih, masyara-air limbah)
Tingkat Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Air Minum Layak
Persen 74,34 74,51 100,23 82,20 82,20
Tingkat Kawasan
Permukiman Kumuh Persen 1,93 1,80 106,73 1,41 1,41
Tingkat Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Lingkungan yang Sehat
Persen 62,86 62,45 99,35 67,78 67,78
Tingkat Rumah Layak
Huni Persen 45 82,34 182,98 50 50
Laju pertumbuhan sektor
pertambangan Persen 2,16 4,36 201,85 2,27 2,27
Rasio elektrifikasi rumah
tangga Persen
76,38
51,80 66,87 78,68 78,68
14 Mening-katnya angka melek huruf
Angka melek huruf Persen 96,50 96,67 100,17 97 97
15 Tuntas-nya wajib belajar 9 tahun
Angka Partisipasi Kasar
(APK) SD/MI/Paket A Persen 111,94 111,44 99,55 111,99 111,99 APK SMP/MTS/ Paket B Persen 96,45 93,58 97,02 96,84 96,84 Angka Partisipasi Murni
(APM) SD/MI/Paket A Persen 95,61 98,46 102,98 95,65 95,65 APM SMP/MTs/ Paket B Persen 75,90 78,34 103,21 76,30 76,30 Angka rata-rata lama
sekolah Persen 7,55 7,56 100,13 7,60 7,60
Angka Kelulusan Persen 100 100 100 100 100
Angka melanjutkan SMP -
SMA Persen 85 72,06 84,78 90 90
Angka melanjutkan SMA -
PT Persen 60 55 91,67 65 65
16 Meningkatnya tingkat pendidi-kan masyara-kat ke jenjang mene-ngah dan tinggi
APK SMA/SMK/MA/ Paket
C Persen 72 82,98 115,25 74 74
APM SMA/SMK/
MA/Paket C Persen 64 58,85 91,95 66 66
17 Mening-katnya akses dan mutu pelaya-nan
Angka Kematian Bayi (AKB)
Per 1.000 Lahir Hidup
30 3,76 187,47 28 28
Angka Kematian Ibu (AKI) Per 100.000 Kelahiran
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 96 Hidup
Prevalensi Balita Kurang
Gizi Persen 18,08 14,10 121,84 17,72 17,72
Angka Penemuan Kasus TB (semua tipe yg dilaporkan)/ Case Notification Rate)
Per 100.000 Penduduk
109 75 68,81 123 123
Angka Kesakitan Positif Malaria (API)
Per 100.000
Pddk 0,30 0,47 146,67 0,25 0,25
Prevalensi HIV AIDS per 100 penduduk usia > dari 15 tahun
Persen 0,49 0,01 197,96 0,49 0,49
Angka Kesakitan DBD Per 100.000
Pddk 49 56,23 85,24 48 48
18 Terinter-nalisa sinya nilai-nilai budaya dan kearifan lokal
Cagar budaya dan aset daerah yang bernilai budaya yang diperlihara
1.891 1.546 81,76 2.269 2.269
Peningkatan jumlah
pengunjung museum 150.000 154.722 103,15 175.000 175.000 Jumlah sanggar kesenian Sanggar 915 494 54,71 930 930 19 Mening-katnya
pelaya-nan kesejahteraan dan rehabilitasi bagi tuna sosial
Persentase penduduk
miskin Persen
12,93
13,86 92,81 12,32 12,32 Indeks kedalaman
kemiskinan Persen
1,90
1,92 98,95 1,75 1,75
Indeks keparahan
kemiskinan Persen
0,44
0,41 106,82 0,41 0,41
Jumlah PMKS yang
ditangani Jiwa 10.062 10.713 106,50 8.000 8.000
20 Mening-katnya kualitas dan perlindu-ngan terhadap tenaga kerja
Rasio ketergantungan Persen 46,51 49,33 93,94 46,52 46,52 Tingkat partisipasi
angkatan kerja Persen
65,91
69,61 105,61 66,08 66,08 Tingkat pengangguran
terbuka Persen
5,01
4,62 107,78 4,74 4,74
21 Mening-katnya kesejahteraan
Fasilitas yang dibangun di kawasan KTM sebagai embrio pusat pertumbuhan ekonomi baru
Lembaga
Ekonomi 3 1 33,33 4 4
22 Mening-katnya indeks pemba-ngunan dan kesetara-an gender
Jumlah SKPD Provinsi yang
Jumlah Kab/Kota layak
anak se-Provinsi Lampung Kab/ Kota 0 0 0 2 2
Penanganan kasus
perempuan dan anak Kasus 100 173 173 125 125
23 Mening-katnya peran pemuda
Peringkat pekan olahraga
prestasi nasional Peringkat -
- - 5 5
Kelompok pemuda yang dilatih sebagai kader kewirausahaan
Kelompok 20 - 0 35 35
24 Mening-katnya kualitas kehidu-pan beraga-ma
Rasio tempat peribadatan per jumlah penduduk
Tempat Ibadah : Orang
1:288 1 : 296 97,22 1:285 1:285
25 Meningkatnya penyelenggara
Jumlah kajian kebijakan pemerintah daerah berbasis Riset dan Iptek yang dimanfaatkan
Policy Paper
18 8 44,44 28 28
Jumlah Kabupaten dan Kota di Provinsi Lampung yang telah melakukan sinkronisasi dan koordinasi Roadmap Sida
Kab/Kota 7 3 42,86 10 10
Kelas status mutu sungai
utama dan waduk besar Status C C 100 C C
Jumlah perusahaan yang menjadi peserta PROFER
Perusa haan
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 97 serta
perlindu-ngan dan konservasi SDA. 27 Peningkatan
upaya adaptasi
28 Peningkatan manfaat
Luas rehabilitasi hutan dan lahan termasuk mangrove
Hektar 106.953 99.646,10 93,00 129.892 129.892
29 Tercipta-nya keadilan, kepastian dan keman-faatan hukum di masyara-kat
Jumlah Raperda dan Pergub yang dihasilkan
Raperda
Penyelesaian Kasus Tanah Kasus/ Tahun
6
6 100 6 6
30 Mening-katnya kinerja
Hasil Evaluasi Kinerja Pemerintah Provinsi Lampung
Nilai CC B 120 B B
Hasil evaluasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD)
Tinggi Tinggi Tinggi 100 Tinggi Tinggi
31 Mening-katnya kapasitas dan akunta-bilitas kinerja pelaya-nan publik
Opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah
Opini WTP WTP 100 WTP WTP
32 Terwu-judnya pemerin-tahan yang bersih dan bebas KKN
Persentase Hasil Audit
APIP yang Terselesaikan Persen 60 41,75 69,58 80 80
Persentase Penurunan Pelanggaran Terhadap Standar Atas Pelaksanaan Tugas SKPD Sesuai Aspek Pembinaan dan Pengawasan
Persen 40 14 285,71 20 20
33 Mening-katnya kinerja pelaya-nan publik yang memuas-kan
34 Mening-katnya kualitas
kehidu-Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2017
3.2 EVALUASI DAN ANALISIS CAPAIAN KINERJA
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 98 1. Sasaran Peningkatan Pertumbuhan dan Kontribusi Terhadap PDRB Provinsi
Lampung
Tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketimpangan pembangunan daerah yang dijabarkan dalam sasaran peningkatan pertumbuhan dan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Provinsi Lampung didukung 8 (delapan) indikator sebagaimana tabel 3.5 berikut :
Tabel 3.5 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Peningkatan pertumbuhan dan
kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB Provinsi Lampung
No Indikator Capaian 2015
2016 Target
Akhir RPJMD (2019)
Capaian s/d 2016 terhadap 2019
Target Realisasi %
Realisasi
1 Pertumbuhan Ekonomi
5,13 6,00-6,35 5,26 81,10 7,00-7,50 73,57
2 Indeks Gini 0.33 0,33 0,36 90,91 0,32 87,50
3 PDRB atas dasar harga berlaku
245.330.948 261.081.194 281.113.138,86 86,86 318.996.629 88,12
4 PDRB atas dasar harga konstan
201.577.645 241.539.088 209.807.185,73 107,67 262.203.722 80,02
5 PDRB per kapita (berlaku)
30,63 32,82 34,26 104,39 39,45 86,84
6 Laju
pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, perikanan
3,69 4,16 3,16 75,96 4,48 70,54
7 Nilai Tukar Petani (NTP)
103,84 103,84 105,12 101,23 104,84 100,27
8 Nilai Tukar Nelayan (NTN)
113,72 113,86 94,24 82,77 114,29 82,46
Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2017
Tahun 2016, Provinsi Lampung dihadapkan kepada persoalan ekonomi global dan nasional. Namun, perekonomian Lampung sepanjang tahun 2016 masih dapat tumbuh cukup tinggi. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Lampung triwulanan tahun 2016 selalu berada di atas Nasional dan rata-rata Sumatera.
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 99
Grafik 3.1
Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Lampung dan Nasional Tahun 2016
Sumber : Bappeda Provinsi Lampung, 2017
Pencapaian pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung tahun 2016 tersebut, menempatkan Provinsi Lampung pada urutan ke-2 di Sumatera setelah Provinsi Sumatera Utara. Posisi ini lebih baik dibandingkan tahun 2015 yang berada pada posisi ke-4. Perekonomian Lampung didominasi 3 Sektor Utama: (1). Pertanian, Kehutanan, Perikanan 33,30 %, (2). Industri Pengolahan 18,20 % dan (3). Perdagangan dan ReparasiKendaraan 11,15 %.
Grafik 3.2
Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Lampung dibandingkan Provinsi Lain se Sumatera Tahun 2016
Sumber : Bappeda Provinsi Lampung, 2017.
Berdasarkan penghitungan inflasi Desember 2016 sebesar 2,78 persen, dan inflasi year on year (yoy) Desember 2016 juga sebesar 2,78 persen. Dari tujuh kelompok pengeluaran, enam kelompok mengalami inflasi yaitu kelompok bahan makanan naik 0,47 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau naik 0,13 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan
5.32 5.03
5.14 5.35
4.62 4.67
4.73 5.04 4.92
5.18 5.04
5.04 5.9
4.7 5.03
4.7
4.93 5.07 5.22 5.33
5.06 5.15
5.19 5.15
0 1 2 3 4 5 6 7
I II III IV I II III IV I II III IV
Nasional Lampung
5.28
5.19 5.19
4.82 4.78 4.64
4.03
3.83
0 1 2 3 4 5 6
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 100
bakar naik 1,42 persen; kelompok sandang naik 0,18 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga naik 0,01 persen; dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan naik 0,61 persen. Sebaliknya kelompok kesehatan mengalami deflasi (turun 0,02 persen).
Dari dua kota pemantauan di Lampung pada Desember 2016, Bandar Lampung dan Metro mengalami inflasi. Inflasi Bandar Lampung sebesar 0,70 persen, dan inflasi Metro sebesar 0,13 persen.
Perekonomian Lampung tahun 2016 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp. 281.113.138,86 Juta dan PDRB perkapita mencapai 34,26 juta.
Laju pertumbuhan sektor Pertanian, Kehutanan, Perikanan Tahun 2016 tercatat sebesar 3,16 persen. Angka ini menurun bila dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 3,66 persen dan meningkat dibandingkan tahun 2014 sebesar 3.39 persen.
Tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk direpresentasikan oleh Indeks Gini (Gini Ratio). Besarnya Indeks Gini berkisar antara 0 dan 1. Semakin mendekati 0 artinya distribusi pendapatan semakin merata. Sebaliknya, semakin mendekati 1 artinya distribusi pendapatan semakin tidak merata. Indeks Gini seluruh provinsi se-Indonesia, menunjukkan keadaan Provinsi Lampung lebih baik dari Nasional (0,397). Gini Ratio Provinsi Lampung (Maret 2016) sebesar 0,36 mengalami perbaikan sekitar 0,02 poin dari kondisi 2015.
Sumber : BPS Provinsi Lampung, 2017
Capaian penurunan indeks gini tahun 2016 mencapai 90,91% dari target 0,33 atau memiliki capaian sangat tinggi. Dibandingkan dengan target akhir RPJMD, telah tercapai 90,62% dari target indeks gini sebesar 0,32.
Apabila dilihat dari sisi disparitas pendapatan penduduk di Provinsi Lampung dilihat dari angka Indeks Gini Rasio, ketimpangan pendapatan menunjukkan perbaikan dari 0,38 pada tahun 2015 menjadi 0,36 pada tahun
0.37
0.36
0.36
0.35
0.38
0.36
0.33 0.34 0.35 0.36 0.37 0.38 0.39
2011 2012 2013 2014 2015 2016
Grafik 3.3
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 101 2016. Hal ini menunjukkan bahwa angka kesenjangan pendapatan semakin mengecil (pendapatan masyarakat semakin merata).
Capaian Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung tahun 2016 adalah 105,12 lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 sebesar 103,17 dan melebihi dari target yang ditetapkan 103,84. Hal ini menunjukkan bahwa capaian kinerja masuk kategori sangat tinggi (101,23%) dan mampu melewati target RPJMD 2019 sebesar 0,28 poin. NTP di Provinsi Lampung tahun 2015 – 2016 disajikan pada Grafik 3.4 di bawah.
Grafik 3.4
Capaian Nilai Tukar Petani Provinsi Lampung Tahun 2015 -2016
Sumber : BPS Provinsi Lampung, 2017
Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung merupakan yang tertinggi di wilayah Sumatera. Di wilayah Sumatera, hanya Provinsi Lampung dan Bangka Belitung yang memiliki NTP di atas 100 yang berarti tingkat kesejahteraan petani Lampung mengalami peningkatan dibanding periode tahun dasar (Tahun 2012).
Grafik 3.5
NTP Provinsi Lampung Dibandingkan Dengan Provinsi Lain se Sumatera Tahun 2015 -2016
Sumber : Bappeda Provinsi Lampung, 2017
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 102 Tingginya angka NTP Provinsi Lampung ditunjukkan dengan pencapaian produksi padi pada pertengahan bulan November 2016 sudah mencapai 4,05 juta ton, dari target nasional 4,3 juta ton pada akhir tahun 2016. Pencapaian target tersebut diperoleh melalui kebijakan/program yang dilaksanakan sepanjang tahun 2016, antara lain:
Pembukaan lahan sawah baru yang sudah mencapai ± 10 ribu ha di 4 (empat)
kabupaten yaitu; Mesuji, Tulang Bawang, Tulang bawang Barat, dan Lampung Tengah.
Perbaikan sistem irigasi Sekampung system" di sentra pertanian Lampung.
Melakukan pengaturan debit air serta memaksimalkan pemberian bantuan berupa sumur bor, groundtank, dan pompa air bagi petani.
2. Sasaran Terpenuhinya Kebutuhan Pangan Per Kapita Masyarakat Untuk Memenuhi Kecukupan Energi dan Keamanan Pangan
Tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi
ketimpangan pembangunan daerah yang dijabarkan dalam sasaran terpenuhinya
kebutuhan pangan per kapita masyarakat untuk memenuhi kecukupan energi
dan keamanan pangan didukung oleh indikator Skor Pola Pangan Harapan (PPH)
Konsumsi sebagaimana tabel 3.6 Realisasi pencapaian indikator skor pola pangan
harapan (PPH) ketersediaan, dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 3.6 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Terpenuhinya Kebutuhan
Pangan Per Kapita Masyarakat Untuk Memenuhi Kecukupan Energi
dan Keamanan Pangan
Indikator Kinerja
Capaian 2015
Tahun 2016 Target Akhir RPJMD
(2019)
Capaian s/d 2016 terhadap 2019 (%) Target Realisasi %
Skor Pola Pangan Harapan Ketersediaan
70,31 85,00 78,00 91,76 92,50 84,32
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 103 Pola Pangan Harapan (PPH) atau Desirable Dietary Pattern adalah susunan keberadaan pangan yang didasarkan pada sumbangan energi dari
kelompok pangan utama (baik secara absolut maupun relative) dari suatu pola ketersediaan dan atau konsumsi pangan. Mutu konsumsi pangan penduduk
dapat dilihat dari skor pangan (dietary score) dan dikenalnya sebagai skor PPH. Semakin tinggi skor PPH, konsumsi pangan semakin berimbang dan seimbang.
Kegunaan PPH merupakan instrumen sederhana untuk menilai situasi
konsumsi pangan penduduk, baik jumlah maupun komposisi pangan menurut
jenis pangan yang dinyatakan dalam skor PPH. Pada tahun 2016 ini, skor PPH di
Provinsi Lampung ditargetkan 85,00 dan ternyata dari hasil analisis target PPH
tahun 2016 tercapai 78,00 (Angka Sementara), seperti terlihat pada tabel
dibawah ini :
Tabel 3.7 Skor PPH Konsumsi di Provinsi Lampung Tahun 2016
Kelompok Pangan
Perhitungan Skor Pola Pangan Harapan (PPH)
Kalori % % AKE*) Bobot Aktual Skor Skor AKE Skor
Maks Skor PPH Padi-padian 1.038,4 55,9 51,9 0,5 28,0 26,0 25,0 25,0
Umbi-umbian 25,9 1,4 1,3 0,5 0,7 0,6 2,5 0,6
Pangan Hewani 160,5 8,6 8,0 2,0 17,3 16,0 24,0 16,0
Minyak &Lemak 284,4 15,3 14,2 0,5 7,7 7,1 5,0 5,0
Buah/Biji Berminyak 59,8 3,2 3,0 0,5 1,6 1,5 1,0 1,0
Kacang-kacangan 75,5 4,1 3,8 2,0 8,1 7,6 10,0 7,6
Gula 100,7 5,4 5,0 0,5 2,7 2,5 2,5 2,5
Sayur dan Buah 81,1 4,4 4,1 5,0 21,8 20,3 30,0 20,3
Lain-lain 30,5 1,6 1,5 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Total 1.856,7 100 92,8 87,9 81,6 100 78,0
Sumber Data : BKPD Provinsi Lampung, 2017
Keterangan : Penghitungan menggunakan data sementara
Untuk skor pola pangan harapan (PPH) konsumsi tahun 2016 yang
ditampilkan pada tabel diatas merupakan angka sementara (ASEM) karena angka
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 104 Pola Pangan masyarakat Provinsi Lampung masih di dominasi oleh
beras/padi-padian, sementara konsumsi umbi-umbian masih dibawah standar,
untuk itu perlu ditingkatkan kampanye peningkatan pengolahan makanan yang
berbahan pangan dari umbi-umbian. Konsumsi pangan yang berasal dari hewani
juga masih kurang, masih bisa ditingkatkan mengingat Provinsi Lampung
merupakan penghasil ikan dan daging yang cukup besar. Untuk itu gerakan
makan ikan atau daging dan telur perlu ditingkatkan, namun yang lebih penting
lagi adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat, karena harga produk hewani
cukup mahal. Maka perlu dipertimbangan di kegiatan kawasan rumah pangan
lestari (KRPL) di kembangkan ternak ayam atau ternak ikan.
Tabel 3.8 Perbandingan Target Nasional, Target Provinsi Lampung dan Realisasi Kinerja Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Konsumsi
2012 2013 2014 2015 2016
Target Nasional 89,8 91,5 93,3 84,10 86,2
Target Provinsi Lampung 89,8 91,5 93,3 84,10 85,0
Realisasi Kinerja 86,5 84,3 83,4 79,3 78,0
Sumber Data : BKPD Provinsi Lampung, 2017
Target Nasional Realisasi Kinerja
70 75 80 85 90 95
2012 2013
2014 2015 2016
89.8 91.5 93.3
84.1 86.2 89.8 91.5
93.3
84.1 85 86.5
84.3 83.4
79.3 78
Target Nasional
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 105 Grafik 3.6 Perbandingan antara Target Nasional, Target Provinsi Lampung
dan Capaian Kinerja Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Konsumsi Tahun 2012 - 2016
Grafik 3.6 Skor PPH Konsumsi Provinsi Lampung Tahun 2012 – 2016
Dari grafik diatas dapat disimpulkan bahwa skor pola pangan harapan
(PPH) konsumsi masyarakat Provinsi Lampung sudah mulai mengarah kepada
beragam, bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA). PPH konsumsi dari tahun 2012 –
2016 terjadi penurunan, hal ini dikarenakan terjadi revisi hasil justifikasi data BPS
dan BKP Pusat. Dan pada tahun 2015 terjadi perubahan cara penghitungan
dalam pengelompokan jenis pangan. Upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi
Lampung dalam meningkatkan angka PPH antara lain :
a. Gerakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan
b. Lomba cipta menu tingkat Provinsi dan Nasional
c. Pengembangan usaha pangan lokal
Dalam rangka meningkatkan PPH di Provinsi Lampung, pada Tahun 2016
ini dilakukan beberapa upaya diantaranya melalui kegiatan gerakan
penganekaragaman konsumsi pangan dengan sasaran anak SD/usia dini, petugas
kabupaten/kota, kepala sekolah, dewan guru, dan kelompok wanita tani di 3
kabupaten/kota yaitu Kabupaten Lampung Utara, Way Kanan dan Bandar
Lampung. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan
wawasan bagi kelompok tani dan anak-anak SD dalam mewujudkan pola
86.5
84.3 83.4
79.3
78.0
70 75 80 85 90
Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016
SKOR PPH KONSUMSI
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 106 konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman (B2SA), serta
mengurangi ketergantungan terhadap bahan pokok beras.
Selain kegiatan gerakan penganekaragaman konsumsi pangan juga di
lakukan sosialisasi gerakan penganekaragaman konsumsi pangan dan konsumsi
pangan beragam, bergizi, seimbang dan aman (B2SA) kepada tim penggerak PKK.
Hal ini dikarenakan tim penggerak PKK merupakan organisasi wanita yang
mempunyai anggota sampai pada tingkat desa. Oleh karena itu TP-PKK
merupakan mitra yang sangat cocok dan tepat dalam mensosialisasikan dan
menyebarluaskan gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan
(P2KP) dan konsumsi pangan B2SA. TP-PKK bisa dijadikan ujung tombak dalam
menyukseskan program P2KP dan pangan B2SA kepada masyarakat.
Untuk mempercepat pemahaman masyarakat tentang konsumsi pangan
yang beragam, bergizi, seimbang dan aman, Pemerintah Provinsi Lampung
menyelenggarakan lomba cipta menu beragam, bergizi, seimbang dan aman
yang diikuti oleh perwakilan dari Kabupaten/Kota se Provinsi Lampung. Kegiatan
ini merupakan salah satu upaya untuk mendorong kemandirian masyarakat
khususnya ibu-ibu rumah tangga dalam pengembangan pangan lokal guna
mendukung percepatan diversifikasi penganekaragaman pangan, dan diharapkan
dapat diterapkan di tingkat rumah tangga untuk mewujudkan ketahanan pangan
keluarga menuju ketahanan pangan nasional.
Dalam pencapaian indikator skor pola pangan harapan (PPH) konsumsi,
terdapat masalah/hambatan/kendala diantaranya yaitu :
1. Pendapatan masyarakat masih rendah dibandingkan harga kebutuhan
pangan secara umum, sehingga daya beli masyarakat menurun disebabkan
oleh kenaikan harga pangan daripada masalah ketersediaan sehingga
kualitas konsumsi pangan masih rendah, kurang beragam dan masih di
dominasi pangan sumber karbohidrat serta masih rendahnya konsumsi
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 107 2. Keterbatasan dalam memberikan dukungan program bagi dunia usaha dan
asosiasi yang mengembangkan aneka produk olahan pangan lokal
3. Konsumsi beras per kapita masih tinggi hai ini dikarenakan harga pangan
pokok bersumberdaya lokal sebagai pengganti beras harganya masih relatif
lebih tinggi, budaya masyarakat yang menjadikan beras merupakan bahan
makanan pokok, serta masih terbatasnya dukungan sosialisasi, promosi
dalam penganekaragaman konsumsi pangan melalui berbagai media.
Untuk mengatasi permasalahan/hambatan/kendala tersebut, ada
beberapa solusi yaitu :
1. Peningkatan pengetahuan kelompok wanita tentang pentingnya
pemanfaatan pekarangan untuk tambahan gizi keluarga dan untuk
meningkatkan pendapatan keluarga.
2. Peningkatan koordinasi dalam perumusan kebijakan konsumsi dan
keamanan pangan melalui peningkatan pemantauan dan analisis pola
konsumsi pangan serta pengembangan kelembagaan pedesaan dalam
diversifikasi konsumsi pangan.
3. Fasilitasi kepada kelompok pengembangan bisnis pangan lokal dan makanan
tradisional serta mendorong peran aktif swasta dan dunia usaha dalam
pengembangan industri dan bisnis pangan lokal (MP3L).
3. Sasaran Meningkatnya Pertumbuhan dan Kontribusi Sektor Industri Pengolahan Terhadap PDRB Provinsi Lampung
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 108
Tabel 3.9 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Meningkatnya Pertumbuhan dan Kontribusi Sektor Industri Pengolahan Terhadap PDRB Provinsi Lampung
No Indikator Capaian
2015
2016 Target
Akhir RPJMD
(2019)
Capaian s/d 2016 terhadap 2019 Target Realisasi %
Realisasi
1 Laju pertumbuhan sektor industri pengolahan
7,48 7,44 3,89 52,29 7,46 52,14
Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2017
Capaian laju pertumbuhan sektor industri pengolahan Tahun 2016 hanya sebesar 52,29%. Capaian ini menurun dibandingkan tahun 2015 (7,48%) dan tahun 2014 sebesar 4,51. Capaian ini menyumbang sebanyak 52,14% dari target kinerja pada akhir RPJMD.
Kegiatan industri pengolahan di Lampung secara umum juga menunjukkan peningkatan produksi. Sepanjang tahun 2010 – 2015 lapangan usaha industri pengolahan tumbuh 6,63 persen rata-rata per tahunnya. Kegiatan industri di Lampung keseluruhannya merupakan pengolahan komoditi non migas, sedangkan minyak dan gas bumi yang ada baru sebatas kegiatan eksplorasi sumber daya alam. Selain itu produk lain yang juga tumbuh signifikan adalah industri barang galian bukan logam, industri alat angkutan, industri mesin dan perlengkapannya, industri batu bara dan pengilangan minyak, industri logam dasar, serta industri tekstil dan pakaian jadi yang diperkirakan tumbuh di atas 5 persen.
Pengembangan Sektor Industri di Provinsi Lampung diarahkan pada pengembangan Kawasan Industri di Bagian Selatan Lampung yaitu Kawasan Industri Way Pisang, Kawasan Industri Bagian Utara Lampung yang akan disusun Master plan dan Detail Kawasan pada tahun 2016. Selain itu pengembangan Kawasan Industri Maritim (KIM) di Tanggamus serta Pengembangan Kawasan Industri Lampung (KAIL) eksisting di Tanjung Bintang serta penyiapan lahan untuk pengembangan lahan kawasan industri di tiap-tiap kabupaten/kota.
4. Sasaran Meningkatnya Pertumbuhan dan Kontribusi Sektor Perdagangan pada PDRB Provinsi
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 109 PDRB Provinsi Lampung didukung 2 (dua) indikator sebagaimana tabel 3.10 berikut :
Tabel 3.10 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Meningkatnya Pertumbuhan Dan Kontribusi Sektor Perdagangan pada PDRB Provinsi
No Indikator Capaian
2015
2016 Target
Akhir RPJMD
(2019)
Capaian s/d 2016 terhadap 2019 Target Realisasi %
Realisasi
1 Laju Pertumbuhan Sektor Perdagangan
1,98 4,40 6,65 151,14 5,24 126,91
2 Pertumbuhan Ekspor Non Migas
17,40 6,25 17,56 280,96 6,70 262,10
Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2017
Pengukuran terhadap capaian kinerja untuk sasaran ini menunjukkan
bahwa capaian kinerja untuk indikator laju pertumbuhan sektor perdagangan
sangat tinggi, karena mencapai 151,14% dari target yang ditetapkan.
Pencapaian ini juga telah mencapai 126,91 % dari rencana target kinerja pada
akhir RPJMD pada tahun 2019 yaitu sebesar 5,24 persen.
Pada indikator pertumbuhan ekspor non migas juga menunjukkan
capaian kinerja sangat tinggi mencapai 280,96 persen. Begitu pula bila
dibandingkan dengan target akhir RPJMD.
Neraca Perdagangan Luar Negeri Provinsi Lampung periode Januari –
November 2016 mengalami SURPLUS. Tercatat nilai total ekspor lebih besar
US$ 644,74 juta dari nilai total impor.
Nilai ekspor pada November 2016 mencapai US$ 375,32 juta mengalami
kenaikan 0,81% dibandingkan ekspor Oktober 2016. Ekspor Lampung juga
mengalami kenaikan 26,54% dibandingkan November 2015 yang sebesar US$
296,61 juta.
Nilai impor nonmigas November 2016 mencapai US$ 224,41 juta
mengalami kenaikan 11,69% dibandingkan Oktober 2016. Nilai impor
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 110
Uraian Oktober
2016
Sumber : Data Olahan Bappeda Prov.Lampung, 2017
Permasalahan dan Solusi
1) Permasalahan
a). Permintaan masyarakat terhadap komoditi kebutuhan bahan pokok, barang penting dan barang strategis lainya pada hari besar nasional cenderung melonjak sehingga menyebabkan kenaikan harga
b). Masih rendahnya daya saing komoditi eksport daerah
2) Solusi
a) Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan para distributor untuk menjaga ketersediaan barang pada hari besar nasional sehingga gejolak harga dapat terkendali.
b) Perlu terus dilakukan upaya peningkatan mutu produk ekspor daerah, diversifikasi komoditi ekspor dan perluasan pasar ekspor.
5. Sasaran Meningkatnya Peran Koperasi Dan UMKM Dalam Perekonomian Daerah
Tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketimpangan pembangunan daerah yang dijabarkan dalam sasaran meningkatnya peran koperasi dan UMKM dalam perekonomian daerah didukung 2 (dua) indikator sebagaimana tabel 3.11 berikut :
296.61
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 111
Tabel 3.11 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Meningkatnya Peran Koperasi Dan UMKM Dalam Perekonomian Daerah
No Indikator Capaian
2015
2016 Target
Akhir RPJMD (2019)
Capaian s/d 2016 terhadap 2019 Target Realisasi %
Realisasi
1 Jumlah koperasi aktif
2.760 3.018 3.024 100,20 3.250 93,05
2 Jumlah UMKM 300.926 384.810 301.814 78,43 414.398 41,89
Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2017
Capaian kinerja sasaran meningkatnya peran koperasi dan UMKM dalam perekonomian daerah dari 2 (dua) indikator menunjukkan capaian kinerja sangat tinggi. Pada indikator jumlah koperasi aktif menunjukkan hasil yang sangat tinggi dengan capaian 100,20% dan menyumbang 93,05% pada capaian akhir RPJMD. Begitu pula dengan indikator jumlah UMKM memperlihatkan hasil capaian sangat tinggi diatas 100% yaitu sebesar 101,23% dan telah menyumbang 92,23 persen pada pencapaian target akhir RPJMD.
Pada tahun 2016 target kinerja yang hendak dicapai sebanyak 3.018 unit
dan realisasi capaian 3.024 unit artinya adanya kenaikan jumlah koperasi aktif
tahun 2016 sebanyak 264 unit dibandingkan tahun 2015. Hal ini dikarenakan
adanya Koperasi baru. Perkembangan jumlah Koperasi di Provinsi Lampung
Tahun 2012 – 2016 dapat dilihat di bawah ini :
Grafik 3.7
Perkembangan Koperasi Provinsi Lampung Tahun 2012 -2016
Sumber : Dinas Koperasi dan UKM, Prov. Lampung 2017
2012 2013 2014 2015 2016
Aktif 2.740 2.885 2.903 2.760 3.024
Tdk Aktif 1.738 1.787 1.810 2.335 2.296
JUMLAH 4.478 4.672 4.713 5.095 5.320
1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000
Ju
m
lah
K
o
p
e
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 112 Tahun 2016 jumlah Volume Usaha (Omset) Koperasi di Provinsi Lampung sebesar 2.734 Milyar dari target 2.156 Milyar. Capaian ini meningkat dbandingkan tahun 2015 sebesar 2.022 Milyar.
Target jumlah UKM yang mendapatkan akses permodalan pada lembaga
keuangan mikro dan perbankan sebanyak 384.810 unit dan realisasi
capaiannya 301.814 unit atau 78,43%. Capaian ini menunjukkan
meningkatnya jumlah UKM yang mendapatkan akses permodalan
dibandingkan tahun 2015 sebanyak 300.926 unit. Dengan meningkatnya
jumlah UKM, berarti tumbuh wirausaha baru yang menciptakan lapangan
pekerjaan. Wirausaha baru yang tumbuh pada tahun 2016 ini sebanyak 130
wirausaha baru.
Keberadaan koperasi sebagai badan usaha dapat memberikan peluang
usaha maupun terbukanya lapangan kerja baru di sebagian masyarakat
menjadi semakin nyata. Penyerapan tenaga kerja oleh koperasi secara umum
di katagorikan atas manajer dan karyawan. Jumlah tenaga kerja yang mampu
diserap koperasi pada tahun 2016 sebanyak 7.346 orang yang terdiri dari
manager sebesar 449 orang dan karyawan sebesar 6.897 orang. Penyerapan
karyawan koperasi dalam kurun waktu tahun 2015 – 2016 mengalami
kenaikan sebesar 8,69% per tahun, kemudian penyerapan manager koperasi
dalam periode yang sama mengalami kenaikan sebesar 8, 53% per tahun.
Grafik. 3.8 Perkembangan Penyerapan Tenaga Kerja Koperasi Provinsi Lampung Tahun 2013-2016 (orang)
Sumber : Dinas Koperasi dan UKM, Prov. Lampung 2017
2.000 4.000 6.000 8.000
2013 2014 2015 2016
769 658
410 449
6.482 6.942
6.327 6.897
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 113 Permasalahan Kinerja
Permasalahan dan kendala yang ditemui dalam pencapaian target kinerja dan
pelaksanaan kegiatan tahun 2016 sehingga keberhasilan yang dicapai belum
maksimal adalah :
1. Masih rendahnya kualitas sumber daya manusia yang tercermin dari kurang berkembangnya kewirausahaan dan rendahnya produktivitas serta daya saing produk Koperasi;
2. Keterbatasan pangsa pasar, diversifikasi maupun diferensiasi produk-produknya;
3. Aksesabilitas yang rendah terhadap sumberdaya produktif (bahan baku, permodalan dan informasi), hal ini terjadi diperburuk oleh mekanisme pasar yang berkeadilan belum efektif berfungsi, serta belum optimalnya fungsi intermediasi perbankan sebagai mitra usaha koperasi;
4. Rendahnya partisipasi anggota koperasi dalam kegiatan usaha koperasi merupakan kendala utama dalam pengembangan Koperasi.
Solusi
1. Melaksanakan program peningkatan kualitas kelembagan Koperasi (revitalisasi kelembagaan Koperasi) sebagaimana dicanangkan oleh Kementerian Koperasi dan UKM.
2. Melaksanakan sosialisasi UU Nomor 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian dan Peraturan Perkoperasian kepada stake holders baik di Provinsi maupun Kab/Kota.
3. Untuk mendukung standarisasi peningkatan mutu pengetahuan perkoperasian, perlu dilaksanakan Diklat bagi Pembina Koperasi dan UKM yang diselenggarakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM.
4. Peningkatan kemampuan permodalan melalui bantuan permodalan dengan bunga rendah, bantuan sertifikasi tanah yang dapat dijadikan agunan untuk mendapatkan modal , dan perlunya sosialisasi.
5. Melakukan Penyuluhan Perkoperasian untuk meningkatkan kesadaran anggota dan masyarakat tentang pentingnya berkoperasi.
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 114 7. Peningkatan kualitas dan kuantitas program kegiatan penunjang keberhasilan
dalam pemberdayaan Koperasi yang berkelanjutan dengan dukungan penuh baik dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.
8. Faktor penunjang lain untuk keberhasilan Program dengan optimalisasi : a) Organisasi yang efektif dan efiseien.
b) SDM pegawai yang memadai. c) Perangkat hukum yang memadai.
d) Tersedianya sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan tugas. e) Sumber daya manusia yang melimpah.
f) Sumber daya Alam melimpah.
6. Sasaran Peningkatan Kontribusi Penanaman Modal (Investasi) Terhadap Perekonomian Daerah
Tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketimpangan pembangunan daerah yang dijabarkan dalam sasaran peningkatan kontribusi penanaman modal (investasi) didukung indikator sebagaimana tabel 3.12 berikut :
Tabel 3.12 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Peningkatan Kontribusi
Penanaman Modal (Investasi) Terhadap Perekonomian Daerah
No Indikator Capaian
2015
2016 Target
Akhir RPJMD (2019)
Capaian s/d 2016 terhadap 2019 Target Realisasi %
Realisasi
1 Laju
pertumbuhan investasi (PMTDB) atas dasar harga berlaku
7,24 10,94 8,61 78,70 14,56 59,13
Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2017
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 115 Investasi di Provinsi Lampung tahun 2016 ditargetkan sebesar Rp.3.500.000.000.000,- atau (3,5 Triliyun). Sedangkan, realisasi investasi yang tercapai pada tahun 2016 adalah sebesar Rp.7.205.183.900.000,- atau (7,2 Triliyun).
Realisasi investasi tersebut diperoleh dari dana proyek/perusahaan
PMA dan PMDN yang berinvestasi di Provinsi Lampung yang terdiri dari PMA
sebesar Rp. 1.173.373.570.000,- dan PMDN sebesar Rp 6.031.810.330.000,-.
Sedangkan jumlah proyek PMA dan PMDN yang diperoleh pada tahun 2015
yaitu, 141 proyek PMA dan 103 proyek PMDN.
Tabel Perkembangan jumlah investasi dan proyek penanaman modal
asing dan penanaman modal dalam negeri di Provinsi Lampung Tahun 2013 -
2016 dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel 3.13 Perkembangan Jumlah Investasi Proyek/Perusahaan PMA dan
PMDN Tahun 2013 – 2016
Tahun PMA PMDN JUMLAH
INVESTASI
JML PROYEK
Rp Rp PMA PMDN
2013 468.802.453.000,- 1.442.376.643.866,- 1.911.179.096.866,- 53 23 2014 1.642.845.750.000,- 3.463.251.750.000,- 5.106.097.500.000,- 81 42 2015 3.221.577.500.000,- 1.102.292.500.000,- 4.323.870.000.000,- 69 32 2016 1.173.373.570.000,- 6.031.810.330.000,- 7.205.183.900.000,- 141 103
Sumber : BPM dan PTSP Provinsi Lampung, 2017
Grafik 3.9 Jumlah Investasi dan Jumlah Proyek PMA dan PMDN Provinsi
Lampung Tahun 2013 – 2016
Sumber : BPM dan PTSP Provinsi Lampung, 2017 468.802.453.000
1.642.845.750.000
3.221.577.500.000
1.173.373.570.000 1.442.376.643.866
3.463.251.750.000
1.102.292.500.000
6.031.810.330.000
2013 2014 2015 2016
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 116
Grafik 3.10 Jumlah Proyek PMA dan PMDN di Provinsi Lampung
Tahun2013 - 2016
Sumber : BPM dan PTSP Provinsi Lampung, 2017
Realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) per sektor industri dan pengolahan tahun 2016 dapat dilihat pada grafik berikut :
Sumber : Data Olahan Bappeda Prov.Lampung, 2017 Permasalahan dan solusi
1) Permasalahan
Beberapa permasalahan yang ditemui dalam pengembangan-pengembangan usaha daerah di Provinsi Lampung, antara lain :
a. Kondisi investasi yang belum optimal untuk berinvestasi akibat masih kurang tersedianya infrastruktur yang memadai, termasuk masalah listrik yang belum mampu di supply secara kontinyu.
b. Perlunya peningkatan dukungan insentif dengan investor. c. Kurangnya informasi tentang potensi investasi daerah. d. Banyaknya kasus-kasus tanah yang belum terselesaikan.
e. Adanya kekhawatiran calon investor terhadap implementasi otonomi daerah.
f. Perlunya peningkatan kompetensi SDM dalam pengelolaan investasi.
53
81
69
141
23 42 32
103
0 50 100 150
2013 2014 2015 2016
PMA
PMDN
Industri Makanan 46% Listrik, Gas &
Air 36% Industri
Lainnya 9%
Hotel & Restoran 6%
Tan. Pangan & Perkebunan
3% Industri
Makanan 26%
Industri Mineral Non
Logam 40% Industri Kimia
Dasar 11% Hotel & Restoran 1%
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 117 2) Solusi
a. Meningkatkan koordinasi dalam menciptakan iklim penanaman modal yang sehat, dinamis dan kondusif melalui berbagai kegiatan promosi potensi daerah, penyederhanaan dan kemudahan dalam perizinan;
b. Meningkatkan penyediaan fasilitas baik sarana infrastruktur maupun prasarana yang dimiliki;
c. Memberikan kepastian usaha melalui kepastian hukum; d. Memberikan insentif yang menarik bagi para calon investor;
e. Peningkatan kompetensi dan pendayagunaan aparatur dalam rangka pembinaan, pengendalian dan pengawasan penanaman modal;
f. Mendorong pengembangan investasi disektor-sektor yang selama ini belum berkembang seperti industri tekstil, garmen, kimia, industri manufaktur serta parawisata dan jasa lainnya.
7. Sasaran Meningkatnya Kontribusi Sektor Pariwisata Pada Perekonomian Daerah
Jumlah wisatawan yang berkunjung menjadi sasaran penting untuk mendukung berkembangnya kontribusi pariwisata pada perekonomian daerah. Dengan meningkatnya jumlah wisatawan baik nusantara maupun mancanegara, diharapkan akan memberikan kontribusi pada perekonomian yang pada akhirnya akan meningkatan pendapatan daerah dan masyarakat dari sektor riil.
Di tahun 2016, jumlah wisatawan nusantara ditargetkan sebanyak sejumlah 7.115.000 orang. Target ini dipatok naik sebanyak 128,64% dibandingkan capaian tahun 2015 yang sebanyak 5.530.803 orang. Realisasinya pada tahun 2016 menunjukkan capaian sebanyak 7.381.774 orang wisatawan nusantara atau sebanyak 103% dibandingkan target. Capaian ini juga berarti 54,36% dibandingkan target pada akhir RPJMD yaitu sebanyak 13.578.673 orang wisatawan nusantara. Pencapaian ini juga bermakna kinerja Sangat Tinggi untuk pencapaian sasaran 7 dalam IKU tahun 2016.
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI LAMPUNG 118
Tabel 3.14 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Meningkatnya Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap Perekonomian Daerah
No Indikator Capaian
2015
2016 Target
Akhir RPJMD
(2019)
Capaian s/d 2016 terhadap 2019 Target Realisasi %
Realisasi
1 Jumlah wisatawan nusantara
5.530.803 7.115.000 7.381.774 103,00 13.578.673 54,36
2 Jumlah wisatawan mancanegara
114.907 155.000 155.053 100,03 301.053 51,50 Sumber : Data Olahan Biro Organisasi Setdaprov. Lampung, 2017
Upaya promosi dan pembangunan pariwisata di Provinsi Lampung berhasil menarik wisatawan yang berkunjung. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah wisatawan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, seperti pada tabel 3.14 bahwa jumlah wisatawan yang berkunjung ke Provinsi Lampung dari tahun 2011 – 2016 semakin meningkat yaitu dari 2.332.733 orang menjadi 7.536.827orang di tahun 2016.
Tabel 3.15 Perkembangan Jumlah Wisatawan Yang Berkunjung ke Provinsi Lampung Tahun 2011 – 2016
No. TAHUN
WISATAWAN
TOTAL
NUSANTARA MANCANEGARA
1. 2011 2.285.630 47.103 2.332.733
2. 2012 2.581.165 58.205 2.639.370
3. 2013 3.392.165 75.590 3.467.755
4. 2014 4.327.228 95.528 4.422.756
5. 2015 5.530.803 114.907 5.645.710
6. 2016 7.381.774 155.053 7.536.827
Sumber : Dinas Pariwisata Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2017
Grafik 3.11 Perkembangan Jumlah Wisatawan Nusantara dan Mancanegara di Provinsi Lampung Tahun 2011 - 2016
Sumber : Dinas Pariwisata, Prov.Lampung 2016
2011 2012 2013 2014 2015 2016
2.285.630
2.581.165 3.392.165
4.327.228
5.530.803
7.381.774
47.103 58.205
7.559 95.528
114.907
155.053