• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengaruh Komunikasi internal telah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengaruh Komunikasi internal telah"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

6 2.1 Tabel Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Tabel Penelitian Terdahulu No Nama Penulis Judul

Penelitian

Metodologi Penjelasan dan Hasil Penelitian 1. Didier Neonisa (2011) Pengaruh Komunikasi Internal Terhadap Kepuasan Kerja Dalam Sebuah oganisasi: Studi Kasus PT XYZ

Kuantitatif Komunikasi internal telah berjalan dengan baik di PT XYZ. Hal ini dapat diketahui dari nilai rata-rata penilaian terhadap komunikasi internal yaitu sebesar 3.78. Pada umumnya setiap responden merasa puas selama bekerja di PT. XYZ Hal ini dapat diketahui dari nilair rata-rata dari seluruh penilaian terhadap kepuasan kerja yang berlangsung di adalah sebesar 3.93. Ada pengaruh yang signifikan dari variable komunikasi internal terhadap

kepuasan kerja, dengan tingkat keyakinan sebesar 95%. Hal ini dapat diketahui dari nilai tingkat signifikansi, yakni sebesar 0.000 dengan nilai slope

(2)

sebesar 1.071. Nilai slope tersebut memiliki arti bahwa jika skor untuk komunikasi internal mengalami kenaikan sebesar 1 satuan, maka skor untuk kepuasan kerja akan mengalami kenaikan sebesar 1.071 satuan. Komunikasi internal memberikan kontribusi sekitar 40% dari informasi yang dibutuhkan untuk dapat memprediksi variasi dari kepuasan kerja. 2. Purnaningrum, Hastuti. (2012) Pengaruh Komunikasi Internal, Kompensasi, Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Motivasai Pada CV.Medinda Semarang

Kuantitatif Variabel komunikasi internal, kompensasi, lingkungan kerja terhadap motivasi mempunyai pengaruh positif terhadap variabel motivasi sehingga

hipotesis diterima. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji statistik dimana diperoleh F-hitung sebesar 37,807 dan F-tabel sebesar 2,78 dalam derajat

kepercayaan 95% dan taraf kesalahan 5% yang

(3)

berarti ada pengaruh positif antara variabel komunikasi internal, kompensasi, lingkungan kerja terhadap motivasi sebesar 0,720.2. Variabel komunikasi internal, kompensasi, lingkungan kerja dan motivasi mempunyai pengaruh positif terhadap variabel kinerja.bahwa semakin baik penilaian responden terhadap komunikasi internal, kompensasi lingkungan kerja dan motivasi mengakibatkan semakin tinggi kinerja karyawan karyawan CV. Medinda Semarang. 3. Rock Products (2007) Managing internal communication

Kualitatif Pada tingkat ini , komunikasi internal benar-benar adalah tentang budaya . Desain direktur komunikasi internal,mengimplementa sikan dan monitor proses yang spontan

memindahkan informasi seluruh perusahaan sehingga karyawan di semua tingkatan dapat

(4)

membuat keputusan . Semakin besar perusahaan, semakin perlu untuk mengelola komunikasi internal . Peran komunikasi tidak lebih penting dalam perusahaan-perusahaan , tapi besar perusahaan merasa semakin sulit untuk bertukar informasi. Ketika pemilik adalah satu-satunya karyawan , tidak perlu untuk merangsang pergerakan informasi .Jika pelanggan memiliki pujian atau keluhan, itu terdengar langsung oleh orang yang paling bertanggung jawab. Jika ada masalah , itu akan perhatian pribadi dari ketua dewan . Dalam perusahaan besar, lapisan karyawan dan manajer.

4. PR News (2012) Internal Comms, Social Media Cause Sleep Disorder Among Corporate PR Pros

Kualitatif PR News: Bagaimana dengan karyawan Anda dan media sosial? Apakah Anda memiliki kebijakan media sosial di tempat?

(5)

Jenest: Ya, kami memiliki dokumen 65-halaman yang kita edit ke halaman dicerna

beberapa dengan beberapa tips dan trik sehingga orang akan benar-benar

membacanya. Kami sudah beberapa saat pembelajaran sehingga ada kesempatan untuk mengingatkan orang-orang apa yang tepat, tetapi tidak ada krisis sosial utama yang menyebabkan setiap tekanan yang besar.

Kipp: Kami telah memiliki beberapa momen belajar, tetapi untuk sebagian besar itu sudah halus. Kami mencoba untuk mendorong karyawan untuk berpartisipasi, untuk menjadi bersemangat tentang siapa mereka bekerja dan mencoba untuk tidak memadamkan terlalu banyak, tapi kami belum

(6)

punya insiden besar yang berkaitan dengan

karyawan dan media sosial. 5. Gore, Meredith L; Knuth, Barbara A (2009) Mass Media Effect on the Operating Environment of a Wildlife-Related Risk-Communication Campaign

kuantitatif Untuk menentukan apakah media massa mempengaruhi operasi lingkungan kampanye, dan jika demikian, mengidentifikasi besar dan arah efek. Kami menggunakan self administered mail survei ( N = 2.800 ) di 4 tenggara New York, amerika Serikat, kota-kota untuk

mengumpulkan data tentang yang terkait dengan beruang hitam, perilaku beruang, dan paparan NYNW tersebut. Kami juga melakukan analisis isi pemberitaan media massa tentang beruang hitam. Paparan NYNW dari surat kabar itu berkorelasi positif ( R = 0,39 , P <0,01 ) dengan penurunan penerimaan responden terhadap risiko beruang terkait hitam.

(7)

Hasil penelitian kami menunjukkan amplifikasi sosial kecil risiko yang terkait dengan beruang hitam dari paparan massa media, khususnya koran. Media massa dapat mempengaruhi

lingkungan operasi risiko satwa liar terkait

Kampanye komunikasi , termasuk melalui amplifikasi persepsi risiko. Praktisi Wildlife bisa mempertimbangkan efek media, serta faktor-faktor biologis dan sosial lainnya, sebagai

pengaruh potensial pada kampanye lingkungan operasi dan menyadari bahwa efek interaksi mungkin terjadi.

Sumber: Pengolahan Data

2.2 Landasan Teori

Menyangkut dengan judul “Pemanfaatan media internal untuk karyawan pada PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia (Studi kasus: majalah GMF News)”. Maka peneliti membahas menggunakan teori-teori dasar sebagai berikut.

(8)

2.2.1 Teori Komunikasi

Kata komunikasi menurut Onong Uchjana Effendi (dalam Ruslan, 2010:81), yaitu berasal dari perkataan bahasa Latin: communicatio yang berarti “pemberitahuan” atau “pertukaran pikiran”. Dengan demikian maka secara garis besar dalam suatu proses komunikasi harus terdapat unsur-unsur kesamaan makna agar terjadi suatu pertukaran pikiran atau pengertian, antara komunikator (penyebar pesan) dan komunikan (penerima pesan). Sementara itu, proses komunikasi dapat diartikan sebagai “transfer informasi” atau pesan-pesan (messages) dari pengirim pesan sebagai komunikator dan kepada penerima pesan sebagai komunikan. Berkaitan dengan pengertian komunikasi diatas, menurut Carl I Hovland (dalam Tommy, 2009:6) komunikasi adalah proses dimana seseorang individu atau komunikator mengoperkan stimulan biasanya dengan lambang-lambang bahasa (verbal atau nonverbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain.

2.2.2 Komunikasi Organisasi

Komunikasi organisasi adalah komunikasi antarpribadi atau komunikasi kelompok yang bersifat terstruktur yang dilakukan oleh pribadi atau kelompok dalam satu organisasi. Jalur komunikasi organisasi ada tiga yakni: jalur vertikal (atas-bawah,bawah-atas), jalur horizontal (antara unit atau satuan kerja yang sederajat), jalur diagonal (komunikasi lintas unit/satuan kerja). Organisasi merupakan wadah yang mempekerjakan karyawan yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, pengetahuan, ketrampilan, pengalaman, dan kebudayaan yang berbeda-beda (Liliweri, 2007:22). Menurut Wiryanto (dalam Romli, 2011:2) menyatakan bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Berikut komunikasi organisasi terbagi menjadi dua yakni:

- Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi.

- Komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotannya secara individual.

(9)

2.2.3 Komunikasi Internal

Menurut Butterick komunikasi internal adalah komunikasi antara bagian manajemen perusahaan dengan para karyawannya dan telah berkembang, karena pada saat ini perusahaan dan organisasi mengakui bahwa komunikasi yang baik diantara keduanya memberi kontribusi bagi peningkatan kinerja dan membantu memecahkan berbagai persoalan yang mungkin dapat memunculkan konflik (Butterick, 2012:118). Menurut Lattimore komunikasi karyawan disebut juga dengan komunikasi internal atau employee relations, menciptakan dan memelihara sistem komunikasi internal antara pemilik perusahaan dengan para karyawan. Garis komunikasinya dua arah, yaitu semua karyawan berpartisipasi secara bebas dalam sebuah pertukaran informasi. (Lattimore, et al, 2010:232). Komunikasi internal organisasi adalah proses penyampaian pesan antara anggota-anggota organisasi yang terjadi untuk kepentingan organisasi, seperti komunikasi antara pimpinan dan bawahan, antara sesama bawahan, dan lain sebagainya (Romli, 2011:6). Komunikasi internal lazim dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Komunikasi vertikal, yaitu komunikasi dari atas ke bawah (komunikasi dari pimpinan kepada bawahan) dan dari bawah ke atas (komunikasi dari bawahan kepada pimpinan).

b. Komunikasi horizontal, yaitu komunikasi antara sesama atau komunikasi lateral, seperti: dari karyawan kepada karyawan, manajer kepada manajer, dan lain sebagainya. (Romli, 2011:6).

2.2.4 Peran Public Relations & Media Internal

Menurut Lattimore, aktifitas public relations ada dua peran besar yang secara konsisten muncul dalam kegiatan public relations yakni: (Lattimore,et al,2010:62) 1. Peran sebagai teknisi, mewakili sisi seni dari public relations: menulis, mengedit,

mengambil foto, menangani produksi komunikasi, membuat event special. 2. Peran sebagai manajer, berfokus pada kegiatan yang membantu organisasi dalam

mengidentifikasi dan memecahkan masalah terkait public relations. Manajer public relations melaksanakan tiga peran berikut:

a) Sebagai pemberi penjelasan b) Sebagai fasilitator komunikasi

(10)

Dalam pembuatan sebuah media internal membutuhkan pengorganisasian dan koordinasi. Semua itu harus dilakukan dengan interval jadwal yang regular. mengorganisasi detail produksi merupakan kunci bagi efektivitasnya. (Lattimore, et al, 2010:243). Isi dari media internal berbeda antara satu organisasi dengan organisasi yang lain. Informasi perusahaan harus memuaskan kebutuhan karyawannya tidak sekadar memuaskan pihak manajemen. Ada peningkatan perhatian karyawan terhadap isu yang terkait keamanan, yang terbukti berada pada bagian atas dari hal yang dianggap penting “organisasi merencanakan masa depan”. Harapan dari pekerja ini sangat jelas. Mereka ingin tahu kearah mana organisasi akan bergerak, apa rencana untuk dapat sampai kesana, dan apa maknanya untuk mereka. (Lattimore, et al, 2010:243). Kriteria berikut dapat membantu mengevaluasi nilai berita sebuah topik (Lattimore, et al, 2010:243).

1. Ketepatan waktu. Apakah topik yang disampaikan cukup tepat waktunya dengan minat kebanyakan pembaca?

2. Jangkauan. Apakah sebuah topik berpengaruh kepada masyarakat, baik langsung ataupun tidak langsung?

3. Signifikansi. Apakah sesuatu atau seseorang penting terlibat didalamnya? 4. Ketertarikan. Apakah sebuah topik terkait dengan sesuatu yang penting

menyangkut minat pembaca dan mereka yang terlibat?

Objektivitas merupakan tujuan penting dari media internal, namun media ini harus memiliki rasa yang lebih personal dibanding surat kabar atau majalah publik. Media internal harus merefleksikan rasa kedekatan dan kepentingan yang sama yang disampaikan kepada pembaca, “Kita semua dalam kebersamaan” (Lattimore, et al, 2010:244). Dalam mengontrol media internal setiap media harus mengevaluasi kemajuannya secara berkala terkait pencapaian sasarannya. Semua tujuan, isi dan frekuensi publikasi harus diuji dalam hubungannya dengan kebutuhan audiensi target. Survei dan kuesioner dapat pula menjadi alat yang bermanfaat dalam mencari tahu informasi tentang seberapa efektif media memenuhi harapan. Majalah nasional telah menemukan bahwa survei kecil pun dapat memberikan pengetahuan yang baik tentang minat pembaca. Dengan cara ini, editor dapat memperoleh timbal-balik tentang kemungkinan keberhasilan dari berita tertentu (Lattimore, et al, 2010:244).

Menurut Maria Assumpta Rumanti bahwa media public relations adalah berbagai macam sarana penghubung yang dipergunakan oleh seorang public

(11)

relations (mewakili organisasi) dengan publiknya, yaitu publik internal maupun publik eksternal untuk membantu pencapaian tujuan. Tujuan penggunaan media yakni: menjalin komunikasi berkesinambungan, meningkatkan kepercayaan publik dan meningkatkan citra baik perusahaan (Rumanti,2005:118). Berdasarkan pembahasan diatas peneliti menarik kesimpulan bahwa: Media internal merupakan media informasi yang diterbitkan public relations didalam perusahaan dan dapat dilihat oleh setiap karyawan maupun stakeholder perusahaan tersebut. Didalam media internal setiap karyawan perusahaan dapat mengetahui informasi-informasi yang terjadi dilingkungan perusahaan. Berita yang positif maupun yang negatif berpengaruh besar dalam peningkatan kualitas perusahaan. Dalam mengelola media internal suatu perusahaan harus menguasai komunikasi internal. Karena dengan perusahaan yang besar komunikasi merupakan tolak ukur dari pemanfaatan media internal pada karyawan sehingga komunikasi yang diberikan dapat tersampaikan dengan baik.

2.2.5 Publik Internal

Menurut Maria Assumpta, publik internal adalah orang-orang yang berada didalam atau tercakup dalam suatu organisasi yaitu seluruh karyawan dari staf sampai dengan karyawan terbawah (Rumanti,2005:89). Dari buku strategi public relations, menurut Silih Agung Wasesa bahwa fungsi-fungsi public relations pada publik internal, (Wasesa,2006:101) yakni:

1. Mengkomunikasikan kebijakan direksi dan manajemen kepada karyawan

2. Menjelakan perubahan kebijakan direksi dan manajemen agar karyawan memahami dasar pengambilan keputusan yang diambil.

3. Membangun jaringan komunikasi yang interaktif antarkaryawan, manajemen dan direksi.

4. Membantu proses restrukturisasi mulai dari sosialisasi kebijakan hingga pelatihan untuk mengurangi dampak buruk restrukturisasi.

5. Membantu peningkatan rasa memiliki karyawan terhadap perusahaan.

(12)

2.2.6 Pemanfaatan Media

Dalam pemanfaatan media peneliti menggunakan salah satu dimensi dari konsep Uses&Gratifications untuk mengetahui pemanfaatan media informasi didalam perusahaan. Dimensi yang digunakan peneliti adalah tentang:

1. Kepuasan informasi, pengguna dikatakan mendapatkan kepuasan informasi apabila mereka (Kriyantono, 2010:217):

a) Dapat mengetahui berbagai peristiwa dan kondisi yang berkaitan dengan lingkungan masyarakat terdekat.

b) Dapat mengetahui berbagai informasi mengenai peristiwa dan kondisi yang berkaitan dengan keadaan dunia.

c) Dapat mencari bimbingan menyangut berbagai masalah. d) Dapat mencari bimbingan menyangkut berbagai pendapat. e) Dapat memperoleh rasa damai melalui penambahan pengetahuan.

2. Kepuasan identitas pribadi: pengguna dikatakan mendapatkan kepuasan identitas pribadi apabila mereka (Kriyantono, 2010:217):

a) Dapat menentukan penunjang nilai-nilai yang berkaitan dengan pribadi mahasiswa itu sendiri.

b) Dapat mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai lain dalam media. c) Memperoleh nilai lebih sebagai mahasiswa.

3. Kepuasan integrasi dan interaksi sosial: pengguna dikatakan mendapatkan kepuasan integrasi dan interaksi sosial apabila mereka (Kriyantono, 2010:218):

a) Memperoleh pengetahuan yang berkenan dengan empati sosial.

b) Dapat menemukan bahwa percakapan dan interaksi sosial dengan orang lain disekitarnya.

c) Dapat menjalankan peran sosial sebagai mahasiswa. d) Keinginan untuk dekat dengan orang lain.

(13)

e) Keinginan untuk dihargai orang lain.

2.3 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual menurut peneliti menjelaskan tentang pemanfaatan media internal pada karyawan PT.GMF AeroAsia (Garuda Maintenance Facility AeroAsia). Dimana komunikasi organisasi tersalurkan pada komunikasi internal perusahaan, komunikasi internal perusahaan tersebut disalurkan melalui media internal perusahaan yakni GMF News. Media internal tersebut bertujuan untuk memberikan informasi kepada publik internal yang dianggap penting bagi perusahaan dan informasi tersebut mengenai; pemanfaatan media internal, penilaian karyawan terhadap media internal, peran public relations dalam mengelola media internal.

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Sumber: Peneliti Komunikasi Organisasi Komunikasi Internal Media Internal: GMF News Publik internal: 1. Karyawan Pemanfaatan Media Internal Penilaian karyawan terhadap media internal Peran Public Relations dalam mengelola media internal

Gambar

Tabel 2.1 Tabel Penelitian Terdahulu  No  Nama Penulis  Judul
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual  Sumber: Peneliti Komunikasi Organisasi  Komunikasi Internal Media Internal: GMF News Publik internal: 1

Referensi

Dokumen terkait

a) Pengendalian internal merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan tertentu. Pengendalian internal merupakan suatu rangkaian tindakan yang bersifat persuasif dan menjadi

Sistem informasi berbasis web merupakan media yang digunakan untuk menampilkan informasi mengenai suatu informasi melalui media interaksi seperti media gambar,

Kuadran B (II) : dimensi pelayanan yang dianggap penting oleh pelanggan atau pengguna pelayanan dan perusahaan telah memberikan pelayanan dengan kualitas baik,

Informasi memegang peran yang sangat penting dalam suatu perusahaan untuk mengetahui kegiatan apa yang telah terjadi dengan perusahaannya, melakukan evaluasi apakah kegiatan

Maka dari hal itu informasi sangatlah penting untuk kebutuhan lembaga ataupun perusahaan karena merupakan sekumpulan dari data – data yang telah dimiliki yang

Dari definisi diatas maka dapat disimpulkan audit sistem informasi adalah proses penilaian yang dilakukan oleh suatu perusahaan atas pengendalian internal yang ada di

Dengan perspektif bisnis internal perusahaan harus mengidentifikasikan proses internal yang penting, dan perusahaan harus melakukannya dengan sebaik-baiknya, karena

Buku ini akan bertujuan untuk memberikan informasi yang jelas dengan visual dan layout yang menarik dan menerapkan prinsip desain grafis Jepang, dan disesuaikan untuk