BAB
3
AKUNTABILITAS KINERJA
Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor Tahun 2015 ini merupakan rangkaian dan mekanisme dalam perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor yang diawali dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018, Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Tahun 2015, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Bogor Tahun 2015 dan Penetapan Kinerja (Tapkin) yang harus dipertanggungjawabkan tingkat pencapaian pada setiap akhir tahun anggaran maupun pada akhir periode RPJMD Kabupaten Bogor tersebut.
Pertanggungjawaban tingkat capaian kinerja pada tahun 2015 ini merupakan pengukuran kinerja dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018, dengan standar pengukuran yang sesuai berdasarkan sasaran, indikator dan target yang telah ditetapkan untuk mengetahui tingkat capaian program dan sasaran yang telah ditetapkan dalam dokumen Penetapan Kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor Tahun 2015.
3.1 CAPAIAN KINERJA ORGANISASI
3.1.1 Kerangka Pengukuran Capaian Kinerja
Pengukuran kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor Tahun 2015 ini berpedoman pada Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan
Kinerja Instansi Pemerintah. Pengukuran tingkat capaian kinerja dilakukan dengan membandingkan realisasi setiap indikator sasaran strategis dengan target kinerja untuk mengetahui tingkat capaian atau selisih kinerja (Performance Gap). Tingkat capaian atau selisih kinerja tersebut menjadi acuan dalam penetapan kebijakan perencanaan tahunan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk peningkatan pencapaian kinerja di masa yang akan datang (Performance Improvement).
Dalam pengukuran tingkat keberhasilan setiap indikator kinerja menggunakan 2 (dua) rumus, yaitu :
1) Semakin tinggi realisasi menunjukkan pencapaian kinerja yang semakin baik (Progress Positif), maka digunakan rumus :
% Capaian = Realisasi
Target x 100%
2) Semakin tinggi realisasi menunjukkan semakin rendah pencapaian kinerja (Progress Negatif), maka digunakan rumus :
% Capaian = Target − (Realisasi − Target)
Target x 100%
Dalam memberikan penilaian tingkat capaian kinerja dari setiap sasaran strategis, menggunakan skala pengukuran sebagaimana tertera dalam Tabel 3.1 dan Tabel 3.2.
Tabel 3.1. Skala Yang Digunakan Bilamana Indikator Sasaran Mempunyai Makna Progress Positif
No Rentang Capaian Kategori Capaian
1 >100 Sangat Baik
2 85 s/d 100 Baik Sekali 3 70 s/d <85 Baik 4 55 s/d <70 Cukup
5 < 55 Kurang
Sumber : Diolah dari Keputusan Kepala Lan No. 239/IX/6/8/2003
Tabel 3.2. Skala Yang Digunakan Bilamana Indikator Sasaran Mempunyai Makna Progress Negatif
No Rentang Capaian Kategori Capaian
1 >100 Kurang
2 85 s/d 100 Cukup
3 70 s/d <85 Baik
4 55 s/d <70 Baik Sekali
5 < 55 Sangat Baik
3.1.2 Pencapaian Target 25 Penciri Visi “Termaju di Indonesia”
Pelaksanaan program/kegiatan tahun anggaran 2015, disusun berpedoman pada RKPD tahun 2015 yang disusun pada masa transisi perencanaan pembangunan jangka menengah daerah periode 2013-2018, berkenaan dengan itu maka tahun anggaran 2015 merupakan tahun kedua dari RPJMD periode 2013-2018 yang menetapkan “Top priority” pada 25 penciri “Termaju di Indonesia” sebagai alat ukur keberhasilan Visi Kabupaten Bogor tahun 2013-2018.
Sejalan dengan hal tersebut, telah dilaksanakan berbagai program/kegiatan di beberapa OPD untuk mendukung pencapaian target-target 25 penciri “Termaju di Indonesia” yang telah ditetapkan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Uraian pencapaian indikator “Termaju di Indonesia” pada tahun 2015 sebagai berikut :
1) Seluruh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Puskesmas sudah terakreditasi;
2) Seluruh masyarakat memiliki jaminan kesehatan;
3) Angka Harapan Hidup (AHH) termasuk tertinggi di Indonesia;
4) Tuntas Angka Melek Huruf (AMH) bagi penduduk berusia 15-60 tahun; 5) Tuntasnya pembangunan stadion olahraga berskala internasional; 6) Penduduk miskin turun menjadi 7% - 5%;
7) Tercapainya Rata-rata lama sekolah (RLS) 9 tahun;
8) Pelayanan penyediaan listrik perdesaan tertinggi di Indonesia; 9) Kunjungan wisatawan termasuk tertinggi di Indonesia;
10) Pelayanan perijinan berstandar ISO;
11) Laju Pertumbuhan Ekonomi melebihi Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi & Nasional;
12) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) harga berlaku termasuk tertinggi di Indonesia;
13) Produksi benih ikan hias dan benih ikan konsumsi air tawar terbanyak di Indonesia;
14) Terbangunnya pasar di setiap Kecamatan;
15) Tercapainya swasembada benih padi unggul bersertifikat; 16) Bebas Rumah Tidak Layak Huni (RTLH);
17) Terbangunnya Poros Barat-Utara-Tengah-Timur dan Infrastruktur yang mantap;
18) Mendorong terbangunnya Cibinong Raya sebagai pusat kegiatan wilayah (PKW);
19) Seluruh masyarakat mempunyai KTPel;
20) Pendapatan Asli Daerah (PAD) termasuk tertinggi di Indonesia: 21) Mencapai predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP);
22) Terbangunnya Sistem Informasi Manajemen Pemerintah Daerah;
23) Tersedianya layanan pengaduan masyarakat di seluruh OPD dan Desa; 24) Tidak ada daerah terisolir;
25) Terbangunnya Mesjid Besar di setiap kecamatan.
Sebagai gambaran untuk melihat kondisi pencapaian penciri, berikut diuraikan data kondisi pada masing-masing penciri sebagai berikut :
1) Seluruh RSUD dan Puskesmas sudah terakreditasi.
Jumlah RSUD yang ada saat ini sebanyak 4 unit (dengan Status BLUD ada 3 RSUD dan sisanya 1 lagi ditargetkan selesai pada tahun 2017); Puskesmas berjumlah 101 unit (belum seluruhnya masuk dalam status
terakreditasi).
2) Seluruh masyarakat memiliki jaminan kesehatan.
Berdasarkan data BPJS 2.014.283 jiwa atau 39,4% dari total penduduk Kabupaten Bogor telah masuk dalam program perlindungan jaminan sosial;
Sisanya yang belum masuk ke dalam program adalah masyarakat yang mandiri, yang ditargetkan selesai dalam kurun waktu 3 tahun ke depan. 3) Angka harapan hidup (AHH) termasuk tertinggi di Indonesia.
Angka Harapan Hidup (AHH) Kabupaten Bogor 70 Tahun;
Masih lebih rendah dibandingkan AHH Provinsi Jawa Barat 70,9 Tahun namun sama dengan AHH Nasional 70 Tahun dan pada tahun 2018 ditargetkan mampu mencapai 72 tahun.
4) Tuntas AMH bagi penduduk berusia 15-60 tahun.
Angka Melek Huruf (AMH) pada tahun 2014 adalah sebesar 96,98%; Dalam hal ini 3,02% dari total penduduk Kabupaten Bogor pada tahun
5 tahun perencanaan.
5) Tuntasnya pembangunan stadion olahraga berskala internasional. Saat ini sudah 77,80%, sisanya diselesaikan pada tahun berikutnya 6) Penduduk miskin turun menjadi 7% - 5%.
Tingkat kemiskinan Kabupaten Bogor pada tahun 2015 berdasarkan data BPS adalah sebesar 9,07%, akan diturunkan pada pada tahun 2018 menjadi sebesar 7%-5%;
Dengan demikian diperlukan akselerasi penurunan tingkat kemiskinan sebesar 2,07% sampai dengan tahun 2018.
7) Tercapainya Rata-rata lama sekolah 9 tahun.
Pada tahun 2014 RLS mencapai 8,04 tahun, target pencapaian RLS 9 tahun diharapkan tercapai pada tahun 2018;
Untuk tahun 2015 Badan Pusat Statistik tidak melakukan penghitungan karena adanya perubahan metode penghitungan komponen IPM.
8) Pelayanan penyediaan listrik perdesaan tertinggi di Indonesia.
Jumlah Kartu Keluarga (KK) belum teraliri listrik pada tahun 2015 menurut data ESDM sebanyak 34.781 KK;
Rasio Elektrifikasi (RE) pada tahun 2013 sebesar 82,65%, yakni di atas RE Provinsi Jawa Barat pada tahun yang sama sebesar 75% dan RE Nasional sebesar 65%. Ditargetkan hingga 2018 RE Kabupaten Bogor mampu mencapai 86,17%.
9) Kunjungan wisatawan termasuk tertinggi di Indonesia.
Capaian Jumlah kunjungan wisatawan pada tahun 2015 sebanyak 5.082.838 orang, diperkirakan mampu mencapai 6,6 juta wisatawan pada tahun 2018;
Komponen penciri ini dapat dilihat pula pada banyaknya ijin destinasi objek wisata yang baru diterbitkan di Kabupaten Bogor.
Pencapaian ini dilaksanakan melalui kegiatan : Peningkatan Kualitas Obyek Daya Tarik Wisata dan Pengembangan Desa Wisata.
10) Pelayanan perijinan berstandar ISO.
Jumlah jenis perijinan yang ada saat ini di Kabupaten Bogor meliputi 58 jenis perijinan;
internasional (bersertifikat ISO), dan 25 jenis perijinan belum memenuhi standar ISO (dalam proses sertifikasi).
11) LPE melebihi LPE Provinsi dan Nasional.
Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Bogor pada tahun 2015 adalah sebesar 5,93 persen, masih lebih tinggi dibandingkan dengan LPE Provinsi Jawa Barat sebesar 5,03 persen, dan LPE Nasional sebesar 4,73 persen pada tahun 2015;
Ditargetkan mampu mencapai 6,21 persen pada akhir tahun perencanaan..
12) PDRB harga berlaku termasuk tertinggi di Indonesia.
Nilai PDRB harga berlaku Tahun 2015 sebesar Rp. 138,53 Trilyun, meningkat dari Tahun 2014 sebesar Rp. 123,55 Trilyun;
13) Produksi benih ikan hias dan benih ikan konsumsi air tawar termasuk terbanyak di Indonesia.
Produksi benih Kabupaten Bogor tahun 2012 sebesar 2.056.812 RE, terbesar ketiga di Provinsi Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat menghasilkan 58,2% dari produksi benih nasional. Khusus produksi benih Lele mencapai 1.755.826.300 ekor dan terbesar di Provinsi Jawa Barat, sementara Produksi se-Jawa Barat sebanyak 4.027.318.040 ekor Tahun 2013 produksi ikan hias Kabupaten Bogor sebanyak 222.238,14
RE atau terbesar di Provinsi Jawa Barat.
Produksi benih ikan air tawar Kabupaten Bogor tahun 2013 sebesar 2.670.353 RE.
14) Terbangunnya pasar di setiap Kecamatan.
Sampai dengan tahun 2013 telah dibangun 24 pasar tradisonal di 23 Kecamatan, dan pada tahun 2014 telah dibangun 4 unit pasar desa di 24 Kecamatan sehingga tinggal 5 Kecamatan yang belum miliki pasar tradisional maupun pasar desa.
15) Tercapainya swasembada benih padi unggul bersertifikat.
Kebutuhan benih padi unggul bersertifikat di Kabupaten Bogor dalam 5 tahun sebanyak 1.130,35 ton untuk luas areal sawah 45.214 Ha.
Sampai dengan Tahun 2015 Produksi benih padi unggul bersertifikat mencapai 247,5 ton dari target sebanyak 225 ton, atau 20,94%;
Diharapkan dapat dipenuhi secara bertahap dari hasil produksi lokal dengan target sampai dengan tahun 2018 sebanyak 1.194 ton setara dengan 380 ha penangkaran padi, agar tercapai swasembada benih padi unggul bersertifikat.
16) Bebas rumah tidak layak huni (RTLH).
Jumlah RTLH sampai dengan tahun 2015 sebanyak 47.623 unit.
Target pada tahun 2015 sebanyak 10.000 unit (RTLH), sedangkan sisanya direncanakan dalam 3 tahun berikutnya sesuai kapasitas pembiayaan pada tiap tahun Anggaran;
17) Terbangunnya Poros Barat-Utara-Tengah-Timur dan infrastruktur yang mantap.
Jalur jalan Kemang - Bojonggede sepanjang 8,6 Km pada tahun 2014 penyelesaian pembebasan lahan, bukaan jalan dan pelaksanaan Konstruksi dilaksanakan 2015-2018.
Poros tengah timur sepanjang 50,2 KM. penyelesaian pembebasan, bukaan jalan dan penyelesaian pinjam pakai kawasan hutan pada tahun 2014-2018.
Lingkar Leuwiliang,yaitu :
Lingkar Utara 4,210 KM ; Realisasi jalan 1,150 KM’ (2012) Jembatan Cianten (2011) & Viaduct (2012). Sisa Konstruksi Jalan=3,06 KM (s/d 2018)
Lingkar Selatan 4,950 KM ; DED tahun 2011, Pembebasan Lahan 2014. Konstruksi akan diselesaikan s/d 2018.
Lingkar Laladon 3,460 KM. Pembebasan Tanah s/d tahun 2012 = 17,270 m2 (87 %), Jembatan Ciapus (2012). Konstruksi akan diselesaikan s/d tahun 2018.
Lingkar IPB (Ruas Dramaga-Babakan) 2,900 KM. DED 2012, Pembebasan Tanah tahun 2014, Konstruksi jalan dan jembatan mulai tahun 2015 s/d 2018.
18) Mendorong terbangunnya Cibinong Raya sebagai Pusat Kegiatan Wilayah. Untuk itu dibutuhkan instrumen perencanaan sebagai berikut:
Tersedianya dokumen RTRW; Tersedianya dokumen RTBL;
Tersedianya RDTR Cibinong Raya;
Percepatan pembangunan CBD di Cibinong Raya.
Sampai dengan akhir tahun 2015 masih dalam proses evaluasi 19) Seluruh masyarakat mempunyai KTPel.
Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTPel) pada tahun 2015 terealisasi sebanyak 2.593.002 orang dari target 2.975.010 orang atau 78,02% (sumber data Disduk);
Sisa wajib KTP akan diselesaikan sampai tahun 2018. 20) PAD termasuk tertinggi di Indonesia.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bogor pada tahun 2015 sampai dengan tanggal 31 Desember 2015 (per tanggal 16 februari 2016) terealisasi sebesar Rp.2.002.320.991.117,- dari target sebesar Rp.1.785.300.132.000,- atau 103,75%
Sebagai pembanding Kabupaten dengan Peringkat (1) tertingi adalah Kabupaten Kutai Kartanegara (sebesar 2,5 Triliun), Peringkat ke-2 Kabupaten Badung sebesar 1,86 Triliun;
Dengan mengoptimalkan pajak dan retribusi daerah, maka upaya menggenjot PAD menjadi tertinggi di Indonesia dapat tercapai hingga tahun akhir perencanaan.
21) Mencapai predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).
Saat ini masih memperoleh peringkat Wajar Dengan Pengecualian (WDP);
Perlu peningkatan transparansi dan pertanggungjwaban angggaran lebih akuntabel hingga mencapai predikat WTP pada tahun-tahun selanjutnya. 22) Terbangunnya Sistem Informasi Manajemen Pemerintah Daerah.
Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) di 40 Kecamatan. Mobile Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK )
23) Tersedianya layanan pengaduan masyarakat di seluruh OPD dan Desa. Sampai dengan tahun 2015, sudah terdapat 38 OPD yang menyediakan
unit layanan pengaduan. Untuk itu dibutuhkan penyediaan layanan pengaduan yang akan diselesaikan sampai dengan tahun 2018, termasuk pada tingkat Kecamatan, Desa dan Kelurahan.
24) Tidak ada daerah terisolir.
Daerah yang sulit dijangkau, yaitu daerah yang belum ada akses jalan dan jembatan karena faktor geografis, saat ini tercatat di 40 lokasi/kampung;
Direncanakan s/d tahun 2018, tidak ada lagi daerah yang sulit dijangkau. 25) Terbangunnya Mesjid Besar di setiap kecamatan.
Sampai dengan Tahun 2014 akan ditangani sebanyak 19 mesjid besar dari 9 mesjid besar yang sudah dilaksanakan;
Adapun sisanya sebanyak 21 mesjid ditangani sampai dengan tahun 2018.
3.1.3 Pencapaian Indikator Makro
Dalam rangka mewujudkan Visi Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 yakni
“Kabupaten Bogor menjadi Kabupaten Termaju di Indonesia” menjadi
sesuatu yang konkrit dan dapat diukur, maka perlu adanya suatu indikator yang dapat digunakan sebagai acuan pencapaian visi dan misi secara makro.
Indikator tersebut terdiri dari indikator ekonomi dan sosial makro yang bermuara pada indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Jumlah Penduduk, Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP), Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), Jumlah Penduduk Miskin, Pertumbuhan Ekonomi, dan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE).
Berikut ini rincian penjelasan dari indikator makro Kabupaten Bogor : A. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015 tidak mengeluarkan angka IPM, karena adanya perubahan metode perhitungan IPM, namun demikian dapat diuraikan gambaran pencapaian dari indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bogor pada tahun 2014 adalah sebagai berikut :
a) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) komposit Kabupaten Bogor dari target sebesar 73,63-73,72 poin, terealisasi mencapai 74,25 poin. Kondisi ini menunjukkan pencapaian yang lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2013 yaitu sebesar 73,92 poin. Hal ini disebabkan adanya peningkatan realisasi dari seluruh komponen IPM, baik komponen pendidikan (angka melek huruf
dan rata-rata lama sekolah), kesehatan (angka harapan hidup) maupun komponen ekonomi (kemampuan daya beli masyarakat). Angka IPM sebesar 74,25 poin di atas, sesuai dengan klasifikasi UNDP termasuk dalam kelompok masyarakat sejahtera menengah atas, namun belum termasuk dalam kelompok masyarakat sejahtera atas;
b) Prediksi dan realisasi komponen pembentuk IPM berdasarkan estimasi BPS yaitu :
Angka Harapan Hidup (AHH) dengan target sebesar 70,40 tahun terealisasi sebesar 70,35 tahun;
Angka Melek Huruf (AMH) dengan target sebesar 95,70 persen, terealisasi sebesar 96,98 persen;
Rata-rata Lama Sekolah (RLS) ) dengan target sebesar 8,21 tahun, terealisasi sebesar 8,04 tahun;
Kemampuan Daya Beli Masyarakat (Purchasing Power Parity = PPP) yang dihitung berdasarkan tingkat konsumsi riil per kapita per bulan, dengan target sebesar 665.270 rupiah/kapita/bulan, terealisasi sebesar 639.660 rupiah/kapita/bulan;
Untuk lebih jelasnya, Realisasi dari Indikator Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Bogor disajikan pada Tabel 3.3.
Tabel 3.3. Realisasi Indikator Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Bogor Tahun 2014
No Indikator Kinerja 2014
Target Realisasi
1 Indeks Pembangunan Manusia (Komposit) (point) 73,63 – 73,72 74,25 Komponen IPM terdiri dari :
a. Angka Harapan Hidup (AHH) (tahun) 70,40 70,35 b. Angka Melek Huruf (AMH) (%) 95,70 96,99***) c. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) (tahun) 8,21 8,04 d. Kemampuan Daya Beli Masyarakat
(Konsumsi riil per kapita) (Rp/kap/bln) 665.270 639.660 2 Jumlah Penduduk Miskin (Jiwa)
- Publikasi Tahun 2013 446.040 432.840*) - Publikasi Tahun 2014 499.100 485.900**) 3 Presentase Penduduk Miskin (%)
- Publikasi Tahun 2013 8,74 – 8,33 8,31*) - Publikasi Tahun 2014 9,54 9,11**)
Sumber : BPS Kabupaten Bogor. *) Hasil Anilisis **)Angka Sementara
B. Jumlah Penduduk
Penduduk merupakan titik sentral pembangunan, selain sebagai sasaran pembangunan, juga sebagai pelaku pembangunan. Keberhasilan pembangunan sangat tergantung pada penduduk. Penduduk yang berkualitas menjadi potensi
pembangunan. Ketersediaan data kependudukan dengan berbagai
karakteristiknya yang merupakan sasaran atau objek pembangunan berguna dalam menentukan jenis program, besaran dan arah pembangunan.
Berdasarkan hasil Proyeksi Penduduk tahun 2014, jumlah penduduk Kabupaten Bogor sebanyak 5,33 juta jiwa atau menyumbang sekitar 2,11 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah penduduk Kabupaten Bogor tahun 2014 menduduki ranking ke-11 terbesar dibandingkan jumlah penduduk antar provinsi seluruh Indonesia.
Pada tahun 2015 jumlah penduduk Kabupaten Bogor sebesar 5.459.668 jiwa dengan penduduk laki-laki sebesar 2.792.907 jiwa dan penduduk perempuan sebesar 2.666.761 jiwa. Pertumbuhan penduduk Kabupaten Bogor dari Tahun 2014 ke Tahun 2015 sebesar 2,41 persen dan sex ratio 105. Hasil Proyeksi Penduduk 2010 disajikan pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1. Jumlah Penduduk (Juni) Kabupaten Bogor menurut Jenis Kelamin Tahun 2010 - 2015, Hasil Proyeksi Penduduk 2010
Catatan : Hasil SP2010 (Mei) L=2.452.562; P= 2.319.370;L+P= 4.771.932
Tahun 2010 sd 2012 merupakan angka backcasting perhitungan proyeksi tahun 2014
0 2.000.000 4.000.000 6.000.000 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2.468.258 2.533.807 2.598.814 2.663.423 2.728.381 2.792.907 2.345.618 2.409.939 2.474.302 2.538.674 2.602.768 2.666.761 4.813.876 4.943.746 5.073.116 5.202.097 5.331.149 5.459.668 L+P Perempuan Laki-laki
C. Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP)
Perubahan jumlah penduduk antar tahun menggambarkan angka pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk Kabupaten Bogor tahun 2015 dibandingkan tahun 2014 naik sebesar 2,41 persen.
Bila dicermati pertumbuhan penduduk antar kecamatan yang tercakup dalam wilayah Kabupaten Bogor, hasil proyeksi penduduk tahun 2015 dibandingkan dengan tahun 2014 menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Gunung Putri, Bojonggede dan Cileungsi masing-masing sebesar 5,30 persen, 4,88 persen dan 4,75 persen. Sementara di Kecamatan Cibinong, sebagai ibukota Kabupaten Bogor, pertumbuhan penduduk mencapai 3,65 persen. Keempat kecamatan tersebut memiliki pertumbuhan penduduk lebih tinggi dibanding pertumbuhan penduduk rata-rata Kabupaten Bogor (2,41%). Perkembangan penduduk di Kecamatan Gunung Putri, Cileungsi dan Cibinong dapat dikatakan sangat pesat karena ketiga kecamatan tersebut merupakan pusat pengembangan usaha industri dan pemukiman. Berbagai jenis usaha industri besar maupun industri sedang berkembang cukup beragam, yang menyebabkan banyak masuknya penduduk dari luar kecamatan sebagai tenaga kerja untuk bermukim di kecamatan setempat.
Adapun perkembangan penduduk di Kecamatan Bojonggede lebih disebabkan oleh bertumbuhnya pemukiman karena akses ke Jakarta sebagai ibukota negara lebih mudah dijangkau baik dari segi biaya maupun fasilitas transportasi umum yang murah dan cepat yaitu kereta listrik (KRL). Umumnya penduduk yang tinggal di Kecamatan Bojonggede bekerja di Jakarta yang merupakan pekerja ulang alik (commuter). Pertumbuhan penduduk tahun 2014-2015 tingkat kecamatan disajikan pada Gambar 3.2.
Gambar 3.2. Peta Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Bogor Tahun 2014-2015
Sumber : Indikator Ekonomi Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2014-2015
D. Tingkat Pertisipasi Anggkatan Kerja (TPAK)
Dalam kerangka ekonomi makro yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2009-2015 bahwa pengangguran terbuka secara nasional diperkirakan dapat diturunkan menjadi 5 - 6 persen pada tahun 2015. Pemerintah tingkat pusat dan daerah menaruh perhatian besar pada masalah pengangguran dan rendahnya kualitas tingkat hidup pekerja. Masalah tersebut sudah lama menjadi masalah serius selama 40 tahun lebih pembangunan ekonomi Indonesia.
Pembangunan ketenagakerjaan diantaranya dimaksudkan untuk
memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi; mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah; memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan; dan meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya.
Penduduk usia kerja yang termasuk dalam bukan angkatan kerja (BAK) sebesar 38,14 persen terdiri atas mereka yang sekolah (23,70%), mengurus rumah tangga (63,06%) dan lainnya seperti lanjut usia, cacat jasmani, dll (13,24%).
Gambar 3.3. Persentase Penduduk Usia Kerja Berdasarkan Angkatan Kerja dan Angkatan Kerja di Kabupaten Bogor Tahun 2013
Berdasarkan hasil Sakernas Agustus tahun 2014 TPAK Kabupaten Bogor tahun 2014 sebesar 61,86 persen atau berada di bawah TPAK Provinsi Jawa Barat (62,77%) dan TPAK Nasional (66,60%). Tahun 2015 TPAK Kabupaten Bogor diperkirakan akan mencapai 63,64%.
E. Jumlah Penduduk Miskin
Prosentase penduduk miskin di Kabupaten Bogor tahun 2013 (9,54%) sudah berada dibawah dari angka kemiskinan Provinsi Jawa Barat (9,61%) dan angka kemiskinan nasional (11,47%). Perkembangan persentase penduduk miskin pada periode 2002-2015*) tampak berfluktuasi dari tahun ke tahun meskipun terlihat adanya kecenderungan menurun pada periode 2006-2012. Hal tersebut dapat di lihat pada Gambar 3.4.
Persentase penduduk miskin tahun 2015 diprediksi sebesar 9,07 persen (495,2 ribu orang) atau turun dibandingkan perkiraan persentase penduduk miskin tahun 2014 sebesar 9,11 % (485,9 ribu orang). Secara umum, kenaikan atau penurunan jumlah penduduk miskin seiring dengan kenaikan atau penurunan persentase jumlah penduduk miskin, kecuali pada periode 2009-2010. Pada periode tersebut secara jumlah terjadi kenaikan penduduk miskin, akan tetapi secara persentase terjadi penurunan. Hal ini sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk hasil SP 2010 di gambar 3.4. bisa dilihat Kabupaten Bogor yang masih tinggi (3,15%) dengan jumlah penduduk Keadaan Mei 2010 sebanyak 4.771.932 jiwa. Fenomena ini menunjukkan bahwa penambahan jumlah penduduk sedikit/banyak akan menaikkan jumlah penduduk miskin.
Angkatan Kerja 2.315.176 (61,86%) Bukan Angkatan Kerja 1.427.719 (38,14%)
Gambar 3.4. Persentase Penduduk Miskin di Kabupaten Bogor Tahun 2002-2015*)
Sumber : BPS
Ket: *) = angka prediksi
Pada periode 2002-2006 secara umum terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin dari 451.300 menjadi 536.400 (naik 18,86 %). Selanjutnya dari tahun 2006 sampai tahun 2013 jumlah penduduk miskin cenderung mengalami penurunan yaitu dari 536.400 menjadi 499.100 (turun 6,95 %). Begitu juga persentase jumlah penduduk miskin pada periode 2002-2006 secara umum mengalami kenaikan dari 12,54 persen menjadi 13,83 persen, dan mengalami penurunan pada periode 2006-2013 dari 13,83 persen menjadi 9,54 persen.
Pada tahun 2015 persentase penduduk miskin diperkirakan akan turun menjadi sekitar 9,11 persen. Secara umum, kenaikan atau penurunan jumlah penduduk miskin seiring dengan kenaikan atau penurunan persentase jumlah penduduk miskin, kecuali pada periode 2009-2010. Pada periode tersebut secara jumlah terjadi kenaikan penduduk miskin, akan tetapi secara persentase terjadi penurunan. Hal ini sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Bogor yang masih tinggi (3,15%) dengan jumlah penduduk tahun 2010 sebanyak 4.771.932 jiwa. Fenomena ini menunjukkan bahwa penambahan jumlah penduduk sedikit/banyak akan menaikkan jumlah penduduk miskin. Penambahan penduduk dalam hal ini bersumber dari pertambahan penduduk alami (kelahiran-kematian) ataupun migrasi masuk ke Kabupaten Bogor yang relatif tinggi.
F. Pertumbuhan Ekonomi /PDRB
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku di Kabupaten Bogor pada tahun 2015 angka sementara mencapai Rp.138,54 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 12,13 persen dari tahun sebelumnya.
Tabel 3.4. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Bogor Menurut Lapangan Usaha Tahun 2014-2015 (Triliun Rupiah)
Lapangan Usaha PDRB Harga Berlaku (Rp. Triliun) Distribusi (%) Pertumbuhan (%) 2014 Sem I 2015*) Sem II 2015**) 2015 **) 2014 2015 2014 2015 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) I Sektor Primer 6,79 3,63 4,01 7,64 5,49 5,51 9,95 12,54 1. Pertanian 4,89 2,60 2,68 5,29 3,96 3,81 8,85 8,09 2. Pertambangan & Penggalian 1,90 1,03 1,32 2,35 1,54 1,70 12,9 24,00
II Sektor Sekunder 80,53 43,52 45,93 89,45 65,18 64,57 12,73 11,07
3. Industri Pengolahan 70,74 37,92 39,92 77,84 57,26 56,19 11,88 10,03 4. Listrik, Gas & Air Bersih 3,93 2,29 2,47 4,76 3,18 3,44 21,63 21,25 5. Konstruksi 5,86 3,31 3,53 6,84 4,74 4,94 17,87 16,80
III Sektor Tersier 36,23 19,47 21,98 41,45 29,33 29,92 13,01 14,39
6. Perdag., hotel & Restoran 25,28 13,58 15,42 29,00 20,46 20,93 12,07 14,71 7. Pengangkutan & Komunikasi 5,50 2,96 3,18 6,14 4,45 4,43 18,63 11,74 8. Keu. Real estat, & jasa Perusahaan 1,76 0,93 1,15 2,08 1,43 1,50 9,74 17,67 9. Jasa-Jasa 3,69 2,01 2,23 4,23 2,99 3,06 13,2 14,59
PDRB Kabupaten Bogor 123,55 66,63 71,91 138,54 100 100 12,66 12,13
Catatan : *) = Angka Perbaikan **) = Angka Sementara
Pengelompokan sembilan sektor ekonomi dalam PDRB menjadi tiga sektor yaitu sektor primer, sekunder, dan tersier, menunjukkan bahwa kelompok sektor sekunder masih mendominasi dalam penciptaan nilai tambah di Kabupaten Bogor. Total Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku dari kelompok sektor sekunder pada tahun 2015 mencapai Rp.89,45 triliun, atau meningkat sebesar 11,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada kelompok sektor tersier mengalami peningkatan sebesar 14,39 persen yaitu dari Rp.36,23 triliun pada tahun 2014 menjadi Rp.41,45 triliun pada tahun 2015, sedangkan kelompok primer meningkat sebesar 12,54 persen atau dari Rp.6,79 triliun pada tahun 2014 menjadi Rp. 7,64 triliun pada tahun 2015. Tabel 3.4 menguraikan PDRB atas dasar harga berlaku di Kabupaten Bogor beserta distribusi dan laju pertumbuhannya pada tahun 2014 dan 2015.
Tabel 3.5. PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Kabupaten Bogor Menurut Lapangan Usaha Tahun 2014-2015 (Triliun Rupiah)
Lapangan Usaha PDRB Harga Konstan (Rp. Triliun) Distribusi (%) Pertumbuhan (%) 2014 Sem I 2015*) Sem II 2015**) 2015 **) 2014 2015 2014 2015 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) I Sektor Primer 2,24 1,14 1,17 2,31 5,45 5,35 2,44 3,23 1. Pertanian 1,80 0,92 0,96 1,88 4,38 4,30 2,2 4,37 2. Pertambangan & Penggalian 0,44 0,22 0,21 0,44 1,08 1,05 3,42 -1,41
II Sektor Sekunder 27,68 14,37 14,69 29,03 67,39 67,27 5,91 4,88
3. Industri Pengolahan 24,57 12,72 13,00 25,69 59,83 59,54 5,61 4,57 4. Listrik, Gas & Air Bersih 1,52 0,79 0,81 1,60 3,71 3,69 5,41 4,87 5. Konstruksi 1,58 0,86 0,87 1,74 3,85 4,04 11,33 9,73
III Sektor Tersier 11,15 5,85 6,31 12,16 27,15 27,38 7,01 9,07
6. Perdag., Hotel & Restoran 7,53 3,96 4,30 8,25 18,34 18,53 7,23 9,59 7. Pengangkutan & Komunikasi 1,33 0,70 0,75 1,45 3,24 3,28 7,27 8,68 8. Keu. Real Estat, & Jasa Perusahaan 0,75 0,39 0,42 0,82 1,83 1,84 6,95 8,93 9. Jasa-Jasa 1,54 0,80 0,85 1,64 3,74 3,73 5,78 6,92
PDRB Kabupaten Bogor 41,07 21,36 22,17 43,50 100,00 100,00 6,01 5,93
Catatan : *) = Angka Perbaikan **) = Angka Sementara
Berdasarkan harga konstan 2000, PDRB atas harga konstan tahun 2015 diprediksi mengalami peningkatan sebesar 5,93 persen, yaitu dari Rp. 41,07 triliun pada tahun 2014 naik menjadi Rp.43,50 triliun pada tahun 2015. Kinerja kelompok sektor primer tahun 2015 menunjukkan peningkatan sebesar 3,23 persen dari tahun sebelumnya, kelompok sektor sekunder meningkat 4,88 persen, dan kelompok sektor tersier mengalami peningkatan sebesar 9,07 persen. Tabel diatas, menunjukkan nilai PDRB atas dasar harga konstan Kabupaten Bogor beserta distribusi dan pertumbuhannya pada tahun 2014 dan 2015, yang menunjukkan bahwa kinerja perekonomian tertinggi dicapai oleh sektor konstruksi yang mendorong pertumbuhan sebesar 9,73 persen. Terlaksananya berbagai pembangunan infrastruktur terutama pembangunan sarana infrastruktur seperti jalan dan gelanggang olah raga meningkatkan kinerja perekonomian sektor konstruksi. Kinerja yang cukup tinggi juga ditunjukkan oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang mencapai 9,59 persen. Kinerja sektor ini terutama didukung oleh sub sektor perdagangan besar dan eceran. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan juga menunjukkan kinerja yang membaik jika dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2015, sektor ini tumbuh sebesar 4,37 persen. Pertumbuhan ini meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 2,20 persen. Peningkatan pertumbuhan sektor pertanian ini
dipicu oleh sub sektor tanaman bahan makanan yang mengalami peningkatan sebesar 5,97 persen. Sedangkan dari sektor pertambangan dan penggalian mengalami penurunan 1,41 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu pemicunya adalah penurunan jumlah produksi emas dan perak.
Berdasarkan time series dari tahun 2001-2014, terlihat bahwa secara umum pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bogor berada pada kisaran 4-6 persen. Terjadi perlambatan pertumbuhan pada tahun 2009 yang disebabkan oleh krisis keuangan global pada tahun 2008 yang dampaknya dirasakan oleh perekonomian Kabupaten Bogor. Pertumbuhan yang sempat melambat ini kemudian meningkat kembali pada tahun-tahun berikutnya. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Bogor pada tahun 2013 adalah sebesar 6,04 persen. Pada tahun 2014 LPE Kabupaten Bogor diprediksi adalah sebesar 6,01 persen. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bogor selama periode 2001-2014 sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3.5.
Gambar 3.5. LPE Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dan Indonesia Tahun 2001-2014 (%)
Catatan: *) = Angka koreksi, untuk Provinsi Jawa Barat dan Indonesia berdasarkan SNA 2008
LPE Kabupaten Bogor tahun 2015 diperkirakan sebesar 5,93 persen, sedangkan LPE (yoy) Nasional pada Triwulan 3 2015 sebesar 4,73 persen (melambat dibanding tahun 2014 sebesar 4,92 persen) dan LPE (yoy) Jawa Barat pada Triwulan 3 2015 sebesar 5,03 persen (melambat dibanding tahun 2014 sebesar 5,05 persen). 4.9 5.2 5.7 6.0 6.6 6.1 6.9 6.5 5.0 6.6 7.0 6.9 6.3 5.02 3.8 4.0 4.9 5.1 6.2 6.3 6.9 6.4 4.1 6.4 6.8 6.6 6.2 5.06 3.94 4.50 4.84 5.58 5.85 5.95 6.04 5.58 4.14 5.09 5.965.99 6.04 6.01 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 6.0 6.5 7.0 7.5 Indonesia Jabar Bogor
Indikator lain yang sering digunakan untuk menggambarkan tingkat kemakmuran masyarakat secara makro salah satunya adalah pendapatan per kapita per tahun. Semakin tinggi pendapatan yang diterima penduduk di suatu wilayah maka tingkat kesejahteraan di wilayah bersangkutan dapat dikatakan bertambah baik. PDRB per kapita dapat dijadikan pendekatan untuk indikator pendapatan per kapita. Pada Gambar 3.6 berikut memperlihatkan PDRB per kapita Kabupaten Bogor atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015, PDRB per kapita atas dasar harga berlaku naik menjadi Rp.25,37 juta per tahun dari tahun sebelumnya sebesar Rp.23,18 juta per tahun. Hal ini berarti terjadi kenaikan pendapatan per kapita sebesar 9,45 persen pada tahun 2015.
Gambar 3.6. PDRB Perkapita per Tahun Kabupaten Bogor Tahun 2010-2015 (juta rupiah)
Gambar 3.6. memperlihatkan PDRB perkapita Kabupaten Bogor atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015, PDRB per kapita atas dasar harga berlaku naik menjadi Rp.25,37 juta per tahun dari tahun sebelumnya sebesar Rp.23,18 juta per tahun. Hal ini berarti terjadi kenaikan pendapatan perkapita sebesar 9,45 persen pada tahun 2015.
Berdasarkan sumber pertumbuhannya, sektor industri pengolahan yang tumbuh sebesar 4,57 persen mampu menyumbang sumber pertumbuhan yang paling besar yaitu 2,73 persen (dari total LPE 5,93 persen). Subsektor yang mendorong tingginya sumber pertumbuhan sektor ini adalah industri alat angkutan, mesin dan peralatannya, industri makanan, minuman, dan tembakau serta industri logam dasar, besi, dan baja. Sektor perdagangan, hotel dan restoran
memberikan kontribusi sebesar 1,76 persen dari total pertumbuhan sebesar 5,93 persen (Lampiran 14). Berdasarkan penghitungan sumber pertumbuhan, maka pada umumnya pertumbuhan sektor yang memiliki kontribusi besar dalam penciptaan NTB akan memberikan kontribusi yang besar pula dalam sumber pertumbuhan. Rincian laju pertumbuhan dan sumber pertumbuhan tiap lapangan usaha maupun kelompok lapangan usaha terdapat pada Tabel 3.6.
Tabel 3.6. Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Bogor Tahun 2014-2015
Lapangan Usaha 2014 2015*) Sumber Pertumbuhan 2015 (1) (2) (3) (4) I SEKTOR PRIMER 2,44 3,23 0,18 1. PERTANIAN 2,20 4,37 0,19
2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 3,42 -1,41 -0,02
II SEKTOR SEKUNDER 5,91 4,98 3,29
3. INDUSTRI PENGOLAHAN 5,61 4,57 2,73
4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 5,41 4,87 0,18
5. KONSTRUKSI 11,33 9,73 0,38
III SEKTOR TERSIER 7,01 9,07 2,46
6. PERDAG., HOTEL & RESTORAN 7,23 9,59 1,76
7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 7,27 8,68 0,28 8. KEU. REAL ESTAT, & JASA PERUSAHAAN 6,95 8,93 0,16
9. JASA-JASA 5,78 6,92 0,26
PDRB KABUPATEN BOGOR 6,01 5,93 5,93
Catatan: **) = Angka Sementara
Keterangan : NTB singkatan dari Nilai Tambah Bruto
𝑺𝒖𝒎𝒃𝒆𝒓 𝑷𝒆𝒓𝒕𝒖𝒎𝒃𝒖𝒉𝒂𝒏 =(𝑵𝑻𝑩𝒊𝒕− 𝑵𝑻𝑩𝒊𝒕−𝟏)
𝑷𝑫𝑹𝑩𝒕−𝟏
× 𝟏𝟎𝟎%
Distribusi persentase PDRB sektoral menunjukkan peranan masing-masing sektor dalam sumbangannya terhadap PDRB secara keseluruhan. Semakin besar persentase suatu sektor, semakin besar pula pengaruh sektor tersebut di dalam perkembangan ekonomi suatu daerah. Distribusi persentase juga dapat memperlihatkan kontribusi nilai tambah setiap sektor dalam pembentukan PDRB, sehingga akan tampak sektor-sektor yang menjadi motor penggerak pertumbuhan (sektor andalan) di wilayah yang bersangkutan.
3.1.4 Pencapaian Sasaran dan Pengukuran Kinerja
Target-target kinerja yang telah ditetapkan dalam dokumen perjanjian kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor tahun 2015, diukur dan dianalis tingkat keberhasilan/kegagalan yang dituangkan dalam uraian Capaian Kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor Tahun 2015 dengan menyajikan perbandingan tingkat capaian kinerja pada tahun 2015 dengan tingkat capaian kinerja pada tahun 2014 serta dibandingkan dengan akhir RPJMD.
Hasil pengukuran tingkat capaian kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor Tahun 2015 ini selanjutnya disusun berdasarkan Misi Pemerintah Kabupaten Bogor yang telah ditetapkan dalam RPJMD Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018, sebagaimana diuraikan berikut :
A. Pengukuran Capaian Kinerja Misi Kesatu
Misi Kesatu Pemerintah Kabupaten Bogor adalah “Meningkatkan
Kesalehan Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat”. Misi Kesatu tersebut dilaksanakan dengan 10 (sepuluh) Sasaran Strategis sebagai berikut :
1) Meningkatnya Pelayanan dan Kemudahan bagi Umat Beragama dalam menjalankan ibadahnya;
2) Meningkatnya Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan;
3) Meningkatnya perlindungan terhadap perempuan dan anak dari bentuk kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi dalam pembangunan;
4) Menurunnya laju pertumbuhan penduduk alami dan meningkatnya keluarga sejahtera;
5) Meningkatnya kesejahteraan penyandang masalah kesejahteraan social (PMKS);
6) Terselenggaranya pentas seni budaya daerah;
7) Meningkatnya kemandirian dan partisipasi pemuda dalam pembangunan; 8) Meningkatnya pemasyarakatan olahraga;
9) Meningkatnya prestasi olahraga Kabupaten Bogor;
10) Meningkatnya cakupan pelayanan pencegahan dan upaya penanggulangan bencana.
Pengukuran capaian kinerja pada Misi Kesatu “Meningkatkan Kesalehan
target kinerja dengan membandingkan realisasi kinerja yang dicapai dalam misi tersebut selama kurun waktu tahun 2015.
Dari hasi pengukuran capaian kinerja pada Misi Kesatu menunjukkan bahwa rata-rata pencapaian sasaran Pemerintah Kabupaten Bogor Tahun 2015 pada Misi Kesatu tersebut diperoleh sebesar 103,94%. Pencapaian tersebut termasuk dalam kategori “Baik Sekali”. Berikut rincian masing-masing capaian sasaran strategis pada Misi Kesatu.
Tabel 3.7. Hasil Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis Misi Kesatu Pada Tahun 2015
No Sasaran Strategis
Rata-Rata Capaian tahun 2015
1 Meningkatnya Pelayanan dan Kemudahan bagi Umat Beragama dalam menjalankan ibadahnya
100,52
2 Meningkatnya Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan 95,51 3 Meningkatnya perlindungan terhadap perempuan dan anak dari bentuk
kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi dalam pembangunan
89,37
4 Menurunnya laju pertumbuhan penduduk alami dan meningkatnya keluarga sejahtera
86,07
5 Meningkatnya kesejahteraan penyandang masalah kesejahteraan social
(PMKS) 100,00
6 Terselenggaranya pentas seni budaya daerah 89,31 7 Meningkatnya kemandirian dan partisipasi pemuda dalam pembangunan
100,00 8 Meningkatnya pemasyarakatan olahraga 100,00 9 Meningkatnya prestasi olahraga Kabupaten Bogor 46,15 10 Meningkatnya cakupan pelayanan pencegahan dan upaya
penanggulangan bencana
232,50
Rata-Rata Capaian Sasaran 103,94
Sumber : Diolah dari data OPD, 2015
Adapun rincian capaian kinerja dari masing-masing indikator kinerja untuk mendukung pencapaian sasaran pada Misi Kesatu tersebut diuraikan sebagai berikut :
Sasaran Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis
1
Meningkatnya Pelayanan dan Kemudahan bagi Umat Beragama dalam menjalankan ibadahnyaDari hasil pengukuran capaian kinerja pada sasaran strategis Meningkatnya Pelayanan dan kemudahan bagi umat beragama dalam menjalankan ibadahnya, menunjukkan bahwa pada tahun 2015 pencapaian kinerja sasaran tersebut rata-rata sebesar 100,52%. Selengkapnya hasil pengukuran capaian kinerja Sasaran Strategis Pertama yaitu Meningkatnya Pelayanan dan kemudahan bagi umat
beragama dalam menjalankan ibadahnya pada tahun 2015 dan 2014 dapat dilihat dalam Tabel 3.8.
Tabel 3.8. Hasil Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis Meningkatnya Pelayanan dan kemudahan bagi umat beragama dalam menjalankan ibadahnya Pada Tahun 2014 dan 2015
No Indikator Kinerja Satuan
Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi Capaian
(%) Target Realisasi
Capaian (%)
1
Rasio Tempat Ibadah Ibadah Per Satuan Penduduk 3,45 3,45 100,00 3,5 2,98 85,14 2 Jumlah Rumusan Kebijakan Bidang Keagamaan yang Tersusun 1 1 100,00 2 2 100,00 3
Jumlah Jamaah Haji Kabupaten Bogor yang Terfasilitasi - 3500 2842 81,20 3000 2785 92,83 4 Terbangunnya Mesjid di setiap Kecamatan - 10 - - - - - 5 Jumlah Peraturan Daerah dan Produk Hukum Lainnya yang terbentuk a. Perda Dok 10 11 110,00 14 13 92,86 b. Perbup Dok 37 41 110,81 50 56 112,00 c. Kepbup Dok 650 767 118,00 600 665 110,83 d. Perjanjian Dok 50 57 114,00 50 55 110,00 Rata-Rata Capaian 104,86 100,52
Sumber : Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor, 2015
Berdasarkan tabel diatas, dapat diuraikan capaian kinerja dari masing-masing indikator kinerja dalam Sasaran Strategis Meningkatnya Pelayanan dan kemudahan bagi umat beragama dalam menjalankan ibadahnya pada tahun 2015, sebagai berikut :
1) Rasio Tempat Ibadah Ibadah Per Satuan Penduduk pada tahun 2015 ditargetkan 3,5% terealisasi sebesar 2,98% sehingga capaian kinerja sebesar 85,14%. Capaian kinerja tahun 2014 lebih tinggi sebesar 4,34% apabila dibandingkan dengan tahun 2015. Hal ini terjadi karena pertumbuhan tempat ibadah tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD sampai dengan saat ini Rasio Tempat Ibadah Per satuan Penduduk di tahun 2015 telah tercapai sebesar 2,98% dari target 3,65% atau telah tercapai 81,64%.
2) Jumlah Rumusan Kebijakan Bidang Keagamaan yang Tersusun pada tahun 2015 ditargetkan 2 rumusan terealisasi sebanyak 2 rumusan sehingga
capaian kinerja sebesar 100,00%. Kondisi tersebut sama apabila dibandingkan dengan capian kinerja tahun 2014. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD sampai dengan saat ini Jumlah Rumusan Kebijakan Bidang Keagamaan di tahun 2015 telah tercapai 8 rumusan dari target 14 rumusan atau telah tercapai sebesar 64,28%.
3) Jumlah Jamaah Haji Kabupaten Bogor yang Terfasilitasi pada tahun 2015 ditargetkan 3000 jamaah terealisasi sebanyak 2785 jamaah sehingga capaian kinerjanya sebesar 92,83%. Jika dibandingkan denga kondisi akhir RPJMD, sampai dengan saat ini Jumlah Jamaah Haji Kabupaten Bogor yang Terfasilitasi di tahun 2015 telah tercapai 2785 jamaah dari target sebanyak 3000 jamaah atau telah tercapai sebesar 92,83%.
4) Terbangunnya Mesjid besar di setiap kecamatan pada tahun 2015 di targetkan sebanyak 0 unit terealisasi sebanyak 0 unit sehingga capaian kinerjanya sebesar 0,00%. Hal ini terjadi karena masih belum adanya kejelasan atas hak tanah.
5) Jumlah Peraturan Daerah dan Produk Hukum Lainnya yang terbentuk.
a. Jumlah produk hukum peraturan daerah pada tahun 2015 ditargetkan sebanyak 14 rumusan terealisasi sebanyak 13 sehingga capaian kinerjanya sebesar 92,86%. Kondisi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014 Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD sampai dengan saat ini Jumlah produk hukum peraturan daerah telah tercapai 23 rumusan dari target sebanyak 50 rumusan atau telah tercapai sebesar 46,00%
b. Jumlah produk hukum Peraturan Bupati pada tahun 2015 di targetkan sebanyak 50 peraturan terealisasi sebanyak 56 peraturan sehingga capaian kinerjanya 112,00%. Kondisi capaian tersebut sama dengan kondisi capaian tahun 2014. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD sampai dengan saat ini jumlah produk hukum peraturan daerah di tahun 2015 telah tercapai sebanyak 146 dari target 175 peraturan atau telah tercapai sebesar 83,42%.
c. Jumlah produk hukum Keputusan Bupati pada tahun 2015 ditargetkan sebanyak 600 Keputusan terealisasi 665 keputusan sehingga capaian kinerjanya sebesar 110,83%. Capaian kinerja tahun 2014 lebih tinggi
sebesar 7,17% apabila dibandingkan dengan tahun 2015. Hal ini terjadi karena banyaknya usulan Peraturan Bupati yang diusulkan yang pembahasannya tidak dapat diselesaikan pada akhir tahun 2015 dan akan diselesaikan pada tahun 2016. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD sampai dengan saat ini jumlah produk hukum peraturan daerah di tahun 2015 telah tercapai sebanyak 2492 keputusan dari target 2750 keputusan atau telah tercapai sebesar 90,61%.
d. Jumlah Perjanjian pada tahun 2015 ditargetkan 50 perjanjian terealisasi sebanyak 55 sehingga capaian kinerjanya sebesar 110,00%. Capaian kinerja tahun 2014 lebih tinggi sebesar 4% apabila dibandingkan dengan tahun 2015. Hal ini terjadi karena pembahasannya tidak dapat diselesaikan pada akhir tahun 2016 dan akan diselesaikan pada tahun 2014. Jika dibandingkan dengan kondisi terakhir RPJMD sampai dengan saat ini Jumlah Perjanjian telah tercapai 185 dari target sebanyak 175 atau telah tercapai sebesar 105,71%.
Dalam mewujudkan Sasaran Kesatu pada Misi “Meningkatkan Kesalehan Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat” dilaksanakan oleh 1 (satu) OPD, yaitu Sekretariat Daerah dengan 4 (indikator kinerja). Anggaran untuk mewujudkan sasaran ini mencapai sebesar Rp10.095.771.000,00 yang terealisasi sebesar Rp8.831.230.685,00 sehingga diperoleh capaian kinerja sebesar 87,47%. maka penggunaan anggaran yang tidak terserap sebesar Rp1.264.540.3115,00 (12,53%).
Sasaran Kesatu tersebut diwujudkan dalam 2 (dua) program utama, yaitu :
1) Program Fasilitasi Kerukunan Umat Beragama Daerah yang dianggarkan sebesar Rp7.227.920.000,00 terealisasi sebesar Rp6.379.520.160,00 sehingga diperoleh capaian kinerjanya sebesar 88,26%. Oleh karena realisasi anggaran lebih kecil dari besarnya anggaran, maka diperoleh tingkat efisiensi penggunaan anggaran sebesar Rp.848.399.840,- atau 11,74%.
2) Program penataan perundang-undangan yang dianggarkan sebesar Rp2.867.851.000,00 terealisasi sebesar Rp2.451.710.525,00 sehingga diperoleh capaian kinerjanya sebesar 85,49%. Oleh karena realisasi
anggaran lebih kecil dari besarnya anggaran maka diperoleh tingkat efisiensi penggunaan anggaran sebesar Rp416.140.475,00 atau 14,51%.
Sasaran Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis
2
Meningkatnya Partisipasi Perempuan dalam PembangunanDari hasil pengukuran capaian kinerja pada sasaran strategis Meningkatnya Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan, menunjukkan bahwa pada tahun 2015 pencapaian kinerja sasaran tersebut rata-rata sebesar 95,51%. Selengkapnya hasil pengukuran capaian kinerja Sasaran Strategis Ketiga yaitu Meningkatnya Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan pada tahun 2015 dan 2014 dapat dilihat dalam Tabel 3.9.
Tabel 3.9. Hasil Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis Meningkatnya Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan Pada Tahun 2014 dan 2015
No Indikator Kinerja Satuan
Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi Capaian
(%) Target Realisasi
Capaian (%)
1
Jumlah perempuan yang mendapatkan pengetahuan dan keterampilan
orang 2380 2372 99,66 2400 2372 98,83
2 Persentase jumlah tenaga
kerja dibawah umur % 0,40 0,46 115,00 0,44 0,40 90,91 3 Partisipasi angkatan kerja
perempuan % 51,15 46,49 90,89 52,18 46,49 89,10 4 Persentase partisipasi perempuan di Lembaga pemerintah % 16,86 16,86 100,00 17,33 16,86 97,29 5 Partisipasi perempuan di lembaga swasta % 45,44 45,40 99,91 46,35 47,00 101,40 Rata-Rata Capaian 101,09 95,51
Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Bogor, 2015
Berdasarkan tabel diatas, dapat diuraikan capaian kinerja dari masing-masing indikator kinerja dalam Sasaran Strategis Meningkatnya Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan pada tahun 2014, sebagai berikut :
1) Jumlah perempuan yang mendapatkan pengetahuan dan keterampilan pada tahun 2015 ditargetkan 2400 orang terealisasi sebesar 2372 orang sehingga capaian kinerjanya sebesar 98,83%. Kondisi tersebut mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan tahun 2014, dimana capaian kinerja tahun 2014 sebesar 99,66% menurun sebesar 0,83% menjadi 98,83%. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD, sampai dengan saat ini jumlah
perempuan yang mendapatkan pengetahuan dan keterampilan di tahun 2015 telah tercapai sebesar 2372 orang dari target 3600 orang atau telah tercapai sebesar 65,88%.
2) Prosentase jumlah tenaga kerja dibawah umur pada tahun 2015 ditargetkan 0,44% terealisasi sebesar 0,40% sehingga capaian kinerjanya sebesar 90,91%. Kondisi tersebut mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan tahun 2014, dimana capaian kinerja tahun 2014 sebesar 115% menurun sebesar 24,09% menjadi 90,91% pada tahun 2015. Hal ini terjadi karena semakin menurunnya pemahaman perempuan tentang pentingnya pendidikan dan didukung oleh program pemerintah wajib belajar 9 tahun. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD, sampai dengan saat ini Partisipasi angkatan kerja perempuan telah tercapai sebesar 0,40% dari target sebesar 0,41%.
3) Partisipasi angkatan kerja perempuan pada tahun 2015 ditargetkan 52,18% terealisasi sebesar 46,49% sehingga capaian kinerjanya sebesar 89,10%. Kondisi tersebut mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan tahun 2014, dimana capaian kinerja tahun 2014 sebesar 90,89% menurun sebesar 1,79% menjadi 89,10% pada tahun 2015. Hal ini terjadi karena semakin berkurangnya perempuan yang berwirausaha. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD, sampai dengan saat ini Partisipasi angkatan kerja perempuan telah tercapai 89,10% dari target sebesar 266% atau telah tercapai sebesar 33,49%.
4) Prosentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah pada tahun 2015 ditargetkan 17,33% terealisasi sebesar 16,86% sehingga capaian kinerjanya sebesar 97,29%. Kondisi tersebut mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan tahun 2014, dimana capaian kinerja tahun 2014 mencapai 100% menurun sebesar 2,71% menjadi 97,29% pada tahun 2015. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD sampai dengan saat ini Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah di tahun 2015 telah tercapai 16,86% dari target sebesar 89,00% atau telah tercapai sebesar 18,94%.
5) Partisipasi perempuan di lembaga swasta pada tahun 2015 ditargetkan 46,35% terealisasi sebesar 47,00% sehingga capaian kinerjanya sebesar
101,40%. Kondisi tersebut mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014, dimana capaian kinerja tahun 2014 99,91% meningkat sebesar 1,49% menjadi 101,40% pada tahun 2015. Hal ini terjadi karena terbukanya akses lapangan pekerjaan di sector swasta bagi angkatan kerja perempuan dan faktor kebutuhan ekonomi keluarga yang mendorong perempuan untuk bekerja. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD sampai dengan saat ini Partisipasi perempuan di lembaga swasta telah tercapai 47,00% dari target sebesar 236,49% atau telah tercapai sebesar 19,87%.
Dalam mewujudkan Sasaran Kedua pada Misi “Meningkatkan Kesalehan Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat” dilaksanakan oleh 1 (satu) OPD, yaitu Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana dengan 5 (lima) indikator kinerja. Anggaran untuk mewujudkan sasaran ini mencapai sebesar Rp1.994.723.000,00 yang terealisasi sebesar Rp1.888.991.104,00 sehingga diperoleh capaian kinerja sebesar 94,70%. Oleh karena itu realisasi anggaran lebih kecil dari besarnya anggaran maka diperoleh tingkat efisiensi penggunaan anggaran sebesar Rp105.731.896,00 atau 5,30%.
Sasaran Kedua tersebut diwujudkan dalam 2 (dua) program utama, yaitu :
1) Program Program keserasian kebijakan kualitas anak dan perempuan sebesar yaitu dianggarkan sebesar Rp. 1.032.984.000,00 terealisasi sebesar Rp. 966.615.624,00 sehingga diperoleh sehingga diperoleh capaian kinerja sebesar 93,58%.
2) Program Penguatan kelembagaan pegarusutamaan gender dan anak yaitu dianggarkan sebesar Rp. 961.739.000,00 terealisasi Rp. 922.375.480,00 sehingga diperoleh sehingga diperoleh capaian kinerja sebesar 95,91%.
Sasaran Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis
3
Meningkatnya perlindungan terhadap perempuan dan anak dari bentuk kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi dalam
pembangunan
Dari hasil pengukuran capaian kinerja pada sasaran strategis Meningkatnya perlindungan terhadap perempuan dan anak dari bentuk kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi dalam pembangunan, menunjukkan bahwa pada tahun 2015
pencapaian kinerja sasaran tersebut rata-rata sebesar 89,37%. Selengkapnya hasil pengukuran capaian kinerja Sasaran Strategis Ketiga yaitu Meningkatnya perlindungan terhadap perempuan dan anak dari bentuk kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi dalam pembangunan pada tahun 2014 dan 2015, dapat dilihat dalam Tabel 3.10.
Tabel 3.10. Hasil Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis Meningkatnya perlindungan terhadap perempuan dan anak dari bentuk kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi dalam pembangunan Pada Tahun 2014 dan 2015
No Indikator Kinerja Satuan
Tahun 2014 Tahun 2015 Target Realisasi Capaian
(%) Target Realisasi Capaian (%) 1 Penyelesaian pengaduan perlindungan
perempuan dan anak dari tindakan kekerasan % 40 46 115 41 46 112,20 2 Rasio KDRT % 0,000039 0,000051 69,75 0,000038 0,000043 86,84 3 Terbentuknya Kecamatan Ramah Anak Kec/des a 1 1 100,00 3 1 33,33 4 Cakupan peserta KB Aktif (CPR) % 73,09 73,10 100,03 73,21 75,45 103,06 5 Rasio Akseptor KB % 0,7309 0,731 100,01 0,7321 0,7545 103,06 6 Keluarga pra sejahtera dan Keluarga Sejahtera I % 42,16 42,16 100,00 42,14 42,16 99,95 7 Rata-rata jumlah
anak per keluarga jiwa 1,88 1,890 99,45 1,87 1,87 100,00
8
Cakupan pelayanan KB Gratis bagi keluarga pra KS dan KS I
% 77,00 77,83 101,48 78,00 82,09 105,24
9
Jumlah Keluarga yang memiliki Balita Aktiv
jiwa 34981 33651 96,20 38478 33709 87,61
10
Jumlah Keluarga yang memiliki Remaja Aktif dalam kelompok BKR
jiwa 13376 13298 100.59 14643 13060 89,19
11
Jumlah Keluarga yang memiliki Lansia Aktiv daalam
Kelompok BKL
jiwa 12336 12468 101,07 13668 11808 86,39
12
Jumlah kelompok Pusat Informasi dan Konsultasi (PIK) Remaja buah 33 38 111,15 20 15 75,00 13 Jumlah Kelompok UPPKS Kel. 25 30 120,00 20 15 75,00 Rata-Rata Capaian 102,26 89,37
Berdasarkan tabel diatas, dapat diuraikan capaian kinerja dari masing-masing indikator kinerja dalam Sasaran Strategis Meningkatnya Meningkatnya perlindungan terhadap perempuan dan anak dari bentuk kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi dalam pembangunan pada tahun 2015, sebagai berikut :
1) Penyelesaian Pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan pada tahun 2015 ditargetkan 41,00% terealisasi sebesar 46,00% sehingga capaian kinerjanya sebesar 112,20%. Kondisi tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014, dimana capaian pada tahun 2014 sebesar 115,00% menurun sebesar 2,80%. Faktor tersebut disebabkan karena masih banyaknya masyarakat yang belum mengetahui Undang - Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan Perda Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Perlindungan Perempuan dan Anak dari Tindak Kekerasan. Disamping itu belum mengetahui adanya lembaga P2TP2A, Gugus dan Satgas PPA, Gugus Tugas Trafficking, Organisasi Sosial, LSM pemerhati perempuan dan anak yang ada di Kabupaten Bogor yang dapat membantu masyarakat yang mengalami tindakan kekerasan. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD sampai dengan saat ini Penyelesaian Pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan telah tercapai 46,00% dari target sebesar 43,00%. atau telah melebihi target sebesar 3,00%.
2) Rasio KDRT pada tahun 2015 ditargetkan sebesar 0,000038 terealisasi sebesar 0,0000435, sehingga capaian kinerjanya sebesar 86,84%. Kondisi tersebut mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014, dimana capaian kinerja tahun 2014 sebesar -0,000051% meningkat sebesar 17,09%. Hal ini terjadi karena masih banyaknya masyarakat yang belum memahami Undang-Undang pencegahan kekerasan dalam rumah tangga (PKDRT). Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD sampai dengan saat ini Rasio KDRT di tahun 2015 telah tercapai 0,0000435 dari target 0.000035 atau melebihi target sebesar 77,14%.
3) Terbentuknya Kecamatan Ramah Anak ditargetkan sebanyak 3 Kecamatan terealisasi sebanyak 1 Kecamatan sehingga capaian kinerjanya sebesar 33,33%. Kondisi tersebut menurun bila dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014, dimana capaian kinerja pada tahun 2014 sebesar 100,00%
menurun sebesar 66,67%. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD sampai dengan saat ini Terbentuknya Kecamatan Ramah Anak di tahun 2015 telah tercapai sebanyak 3 Kecamatan dari target sebanyak 20 Kecamatan atau telah terealisasi sebesar 15,00%.
4) Cakupan peserta KB Aktif (CPR) pada tahun 2015 ditargetkan 73,21% terealisasi sebesar 75,45% sehingga capaian kinerjanya sebesar 103,06%. Kondisi tersebut meningkat bila dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014, dimana capaian pada tahun 2014 sebesar 100,03% meningkat sebesar 3,03%. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD sampai dengan saat ini Cakupan Peserta KB Aktif (CPR) telah tercapai 103,06% dari target sebesar 73,63%.
5) Rasio Akseptor KB pada tahun 2015 ditargetkan 0,7321% terealisasi sebesar 0,7545% sehingga capaian kinerjanya sebesar 103,06%. Kondisi tersebut mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014, dimana capaian kinerja pada tahun 2014 sebesar 100,01% meningkat sebesar 2,83% menjadi 103,06% pada tahun 2015. Hal ini terjadi karena jumlah perserta yang membutuhkan alat kontrasepsi terpenuhi dan ketersediaan alat kontrasepsi mencukupi. Jika di bandingkan dengan capaian akhir RPJMD sampai dengan saat ini Rasio Akseptor KB telah tercapai 0,7545%
6) Keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I pada tahun 2015 ditargetkan 42,14% terealisasi sebesar 42,16% sehingga presentase capaian kinerjanya sebesar 99.95%. Jika dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014 sebesar 42,16% terhadap target 42,16% atau tercapai 100,00%, maka terjadi penurunan Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I sebesar 0,05%. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD, sampai dengan saat ini Keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I di tahun 2015 telah tercapai 42,16% dari target sebesar 100,33%, atau melebihi target sebesar 0,42%. 7) Rata-rata jumlah anak per keluarga pada tahun 2015 ditargetkan 1,87%
terealisasi 1,87% sehingga capaian kinerjanya sebesar 100,00%. Capaian kinerja tahun 2014 100,53% lebih tinggi sebesar 0,53% apabila dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 100,00%. Hal ini terjadi karena angka kelahiran pada tahun 2015 masih tinggi. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir
RPJMD sampai dengan saat ini Rata-rata anak per keluarga telah tercapai 100,00 dari sebesar 1,83%
8) Cakupan pelayanan KB Gratis bagi Keluarga Pra sejahtera dan KS I pada tahun 2015 ditargetkan 78,00% terealisasi sebesar 82,09% sehingga capaian kinerja sebesar 105,24%. Kondisi tersebut mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014, dimana capaian pada tahun 2014 sebesar 101,08% meningkat sebesar 4,16% menjadi 105,24% pada tahun 2015. Hal ini terjadi karena jumlah PUS bukan peserta KB yang membutuhkan alat kontrasepsi terpenuhi dan ketersediaan alat kontrasepsi baik dari bantuan APBN dan APBD Kabupaten Bogor untuk keluarga Para Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I mencukupi. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD sampai dengan saat ini Cakupan Pelayanan KB Gratis bagi Pra Sejahtera dan KS I telah tercapai sebesar 105,24% dari target 81%.
9) Jumlah keluarga yang memiliki balita dan aktif atau hadir dalam kegiatan BKB pada tahun 2015 ditargetkan sebesar 38.748 keluarga terealisasi sebesar 33.709 keluarga sehingga capaian kinerjanya sebesar 87,61%. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2014 sebesar 96,20%, ada penurunan sebesar 8,59% dari keluarga yang memiliki balita aktif dalam kelompok BKB dikarenakan adanya jumlah keluarga yang memiliki balita aktif bergeser ke usia sekolah dasar dan kelompok BKB yang aktif belum merata ada di setiap wilayah. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD sampai dengan saat ini Jumlah Keluarga yang memiliki Balita Aktif dalam Kelompok BKB telah tercapai 38.748 dari sebesar 42.328 keluarga atau telah tercapai sebesar 91,54%.
10) Jumlah keluarga yang memiliki remaja aktif pada tahun 2015 ditargetkan sebanyak 14.643 orang terealisasi sebesar 13.060 orang sehingga capaian kinerjanya sebesar 89,19%. Jika dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014 dimana capaian kinerja pada tahun 2014 sebesar 100,59% terjadi penurunan sebesar 11,4% pada tahun 2015. Hal ini terjadi karena banyaknya remaja-remaja yang menikah, sehingga ibu-ibu yang memiliki remaja yang sudah menikah tidak hadir dalam kegiatan BKR. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD, sampai dengan saat ini Jumlah keluarga remaja yang aktif dalam PIK Remaja di tahun 2015 telah tercapai
sebanyak 13.060 orang dari target sebanyak 14.643 orang atau telah melebihi target sebesar 89,19%.
11) Jumlah keluarga yang memiliki Lansia dan aktif atau hadir dalam kegiatan BKL pada tahun 2015 berdasarkan hasil laporan pengendalian lapangan sebesar 11.808 keluarga atau 86.39 % dari target sebesar 13.668 keluarga. Dibandingkan tahun 2014 sebesar 98.94 %, terjadi penurunan sebesar -12.55 % dikarenakan masih banyaknya ibu-ibu yang memiliki lansia belum memahami manfaat mengikuti kegiatan BKL.
12) Jumlah kelompok Pusat Informasi dan Konsultasi (PIK) Remaja pada tahun 2015 ditargetkan 20 terealisasi sebesar 15 sehingga capaian kinerja sebesar 75,00%. Jika dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014 terjadi penurunan dimana capaian kinerja tahun 2014 sebesar 115,15% menurun sebesar 40,15% dibandingkan dengan capaian tahun 2015 sebesar 75%. Hal ini terjadi karena jumlah remaja yang aktif pada Pelatihan pendidik sebaya, pembinaan kelompik PIK remaja tingkat kecamatan, sehingga perlu dibentuknya PIK remaja tidak hanya di masyarakat melainkan juga di sekolah dan perguruan tinggi. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD, sampai dengan saat ini Jumlah kelompok Pusat Informasi dan Konsultasi (PIK) Remaja di tahun 2015 telah tercapai sebesar 54 dari target sebesar 140 atau telah tercapai sebesar 38,57%.
13) Jumlah Kelompok UPPKS pada tahun 2015 ditargetkan 20 kelompok terealisasi 15 kelompok sehingga capaian kinerjanya sebesar 75,00%. Jika dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014 terjadi penurunan, dimana capaian kinerja tahun 2014 sebesar 120,00% menurun sebesar 45,00% dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2015 sebesar 75,00%. Hal ini terjadi karena berkurangnya pelatihan manajemen bagi pengelola UPPKS. Jika dibandingkan dengan kondisi akhir RPJMD, sampai dengan saat ini Jumlah Kelompok UPPKS di tahun 2015 telah tercapai sebanyak 45 kelompok dari target sebanyak 442 kelompok atau telah tercapai sebesar 10,18%.
Dalam mewujudkan Sasaran Ketiga pada Misi “Meningkatkan Kesalehan Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat” dilaksanakan oleh 1 (satu) OPD, yaitu Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana dengan 13 (tiga
belas) indikator kinerja. Anggaran untuk mewujudkan sasaran ini mencapai sebesar Rp17.243.226.000,00 yang terealisasi sebesar Rp15.756.865.504,00 sehingga diperoleh capaian kinerja sebesar 91,38%. Oleh karena itu realisasi anggaran lebih kecil dari besarnya anggaran maka diperoleh tingkat efisiensi penggunaan anggaran sebesar Rp1.486.360.496,00,00 atau 8,62%.
Sasaran yang ketiga tersebut diwujudkan dalam 6 (enam) program yaitu :
1) Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan dan Anak yaitu dianggarkan sebesar Rp942.936.000,00 terealisasi sebesar Rp905.979.350,00 sehingga di peroleh capaian kinerjanya sebesar 96,08%. 2) Program Penguatan Kelembagaan Anak yaitu dianggarkan sebesar Rp875.021.000,00 terealisasi sebesar Rp812.027.190,00 sehingga di peroleh capaian kinerjanya sebesar 92,80%.
3) Program Keluarga Berencana yaitu dianggarkan sebesar
Rp9.734.365.000,00 terealisasi sebesar Rp8.876.245.302,00 sehingga diperoleh capaian kinerjanya sebesar 91,18%.
4) Program Pelayanan Kontrasepsi yaitu dianggarkan sebesar
Rp2.364.506.000,00 terealisasi sebesar Rp2.201.433.376,00 sehingga diperoleh capaian kinerjanya sebesar 93,10%.
5) Program Promosi Kesehatan Ibu, Bayi dan Anak melalui Kegiatan di Masyarakat yaitu dianggarkan sebesar Rp2.814.735.000,00 terealisasi sebesar Rp2.476.843.887,00 sehingga diperoleh capaian kinerjanya sebesar 88,00%.
6) Program Pemberdayaan Ekonomi Keluarga yaitu dianggarkan sebesar Rp511.663.000,00 terealisasi sebesar Rp484.336.399,00 sehingga diperoleh capaian kinerjanya sebesar 94,66%.