Uji Potensi Tabir Surya Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) secara In Vitro - Repositori UIN Alauddin Makassar

96 

Teks penuh

(1)

i

UJI POTENSI TABIR SURYA EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) SECARA IN VITRO

`

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Farmasi Jurusan Farmasi pada

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar

Oleh:

NURFAJRI INDRIANI NIM : 70100114009

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN

(2)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Mahasiswa yang bertandatangan di bawah ini :

Nama : Nurfajri Indriani

NIM : 70100114009

Tempat/Tanggal Lahir : Malino/09 Juli 1996

Jurusan/Prodi/Konsentrasi : Farmasi

Alamat : Jl.Yusuf Bauty

Judul : Uji Potensi Tabir Surya Ektrak Daun Binahong

(Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) Secara In Vitro

Menyatakan bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya penyusun sendiri. Jika

di kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat, atau dibuat

oleh orang lain sebagian atau seluruhnya, maka Skripsi dan gelar yang diperoleh

karenanya batal demi hukum.

Samata-Gowa, 2018

Penyusun,

(3)
(4)

iv

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Salawat dan Taslim penulis curahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah menyingkap kegelapan wawasan umat manusia kearah yang lebih beradab dan manusiawi. Skripsi ini merupakan salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pada Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan bantuan dan dukungan dari banyak pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung berupa motivasi, pikiran, serta petunjuk-petunjuk sehingga skripsi ini dapat terselesaikan sebagaimana mestinya.

(5)

v

semangat terbesar bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan perlindungan-Nya kepada mereka.

Penulis tak lupa pula menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak/Ibu:

1. Prof. Dr. Musafir Pababbari, M.Si. selaku Rektor Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar yang telah memberikan kesempatan menyelesaikan studi di UIN Alauddin Makassar.

2. Dr. dr. H. Andi Armyn Nurdin, M.Sc. selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar.

3. Dr. Nur Hidayah, S.Kep., Ns., M.Kes. selaku Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar

4. Dr. Andi Susilawaty, S.Km., M.Kes. selaku Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar.

5. Dr. Mukhtar Lutfi, M.Pd. selaku Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar.

6. Haeria, S.Si.,M.Si. selaku Ketua Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan dan sekaligus sebagai pembimbing akademik.

7. Mukhriani, S.Si., M.Si., Apt. selaku Sekretaris Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar.

(6)

vi

9. Nurshalati Tahar, S.Farm., M.Si., Apt. selaku pembimbing kedua yang telah banyak memberikan bantuan, nasehat dan pengarahan serta meluangkan waktu dan pikirannya dalam membimbing penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 10. Isriany Ismail, S. Si., M. Si., Apt selaku penguji kompetensi yang telah memberi

banyak masukan dan saran demi kesempurnaan skripsi ini.

11. Drs. H. Muh. Kurdi, M.HI. selaku penguji agama yang telah banyak memberikan tuntunan dan pengarahan dalam mengoreksi kekurangan pada skripsi ini.

12. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Farmasi yang dengan ikhlas membagi ilmunya, semoga jasa-jasanya mendapatkan balasan dari Allah SWT. serta seluruh staf Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan yang telah memberikan bantuan kepada penulis.

13. Rekan, saudara, teman seperjuangan angkatan tahun 2014 “GALENICA” yang telah banyak membantu serta berjuang bersama dari awal hingga akhir.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan. Namun besar harapan kiranya dapat bermanfaat bagi penelitian selanjutnya, khususnya di bidang Farmasi dan semoga bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Makassar, 2018 Penulis

(7)

vii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

C.Definisi Operasional dan Ruang Lingkup ... 4

(8)

viii

2. Warna Kulit ... 18

3. Eritema dan Pigmentasi ... 20

C.Tabir Surya ... 23

D.Sun Protected Factor (SPF) ... 29

E. Spektofotometri UV-VIs ... 32

F. Metode Ekstrasi Bahan Alam ... 37

G.Tinjauan Islami ... 42

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 47

A.Jenis dan Lokasi Penelitian ... 47

B.Lokasi Pengambilan Sampel ... 47

C.Pendekatan Penelitian ... 47

D.Populasi dan sampel ... 47

E. Metode Pengumpulan Data ... 48

F. Alat dan Bahan ... 49

G.Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data ... 49

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 53

A.Hasil Penelitian ... 53

B.Pembahsan ... 54

BAB V PENUTUP ... 58

A.Kesimpulan... 58

B.Saran ... 59

KEPUSTAKAAN... 59

LAMPIRAN-LAMPIRAN... 65

(9)

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Skema Kerja Penyiapan Sampel……. ... 65

2. Skema Kerja Analisis Data ... 66

3. Gambar sampel………... 67

4. Hasil Pengukuran Persen Transmisi Eritema dan Pigmentasi ... 68

5. Perhitungan Nilai Transmisi Eritema (%Te) dan Pigmentasi (%Tp Serta SPF………... 77

(10)

x

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Penggolongan potensi tabir surya ... 25

2. Faktor efektifitas fluks dan pigmentasi pada panjang gelombang 290-375 nm ... 28

3. Keefektifan sediaan tabir surya berdasarkan nilai SPF ... 30

4. Spektrum cahaya tampak dan warna-warna komplementer ... 33

5. Hasil ekstraksi daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) ... 53

6. Nilai rata-rata SPF ... 53

7. Nilai Persen Transmisi Eritema Daun Binahong ... 53

8. Nilai Persen Transmisi Pigmentasi Daun Binahong ... 54

9. Data transmisi replikasi I 300 ppm ... 68

10. Data transmisi replikasi II 300 ppm ... 68

11. Data transmisi replikasi III 300 ppm ... 69

12. Data Transmisi replikasi I 350 ppm ... 70

13. Data Transmisi replikasi II 350 ppm ... 70

14. Data Transmisi replikasi III 350 ppm ... 71

15. Data Transmisi replikasi I 400 ppm ... 72

16. Data Transmisi replikasi II 400 ppm ... 72

17. Data Transmisi replikasi III 400 ppm ... 73

18. Data Transmisi replikasi I 450 ppm ... 74

19. Data Transmisi replikasi II 450 ppm ... 74

20. Data Transmisi replikasi III 450 ppm ... 75

(11)

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

(12)

xii ABSTRAK Nama : Nurfajri Indriani

Nim : 70100114009

Judul Skripsi : Uji Potensi Tabir Surya Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) secara In Vitro.

Telah dilakukan penelitian tentang penentuan potensi tabir surya ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) secara in vitro dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Pengujian potensi tabir surya ekstrak daun binahong dilakukan dengan menghitung nilai transmisi eritema (%Te) dan transmisi Pigemntasi (%Tp), serta nilai SPF ekstrak. Hasil pengujian nilai rata – rata persen transmisi eritema (%Te) pada konsentrasi (300 ppm, 350 ppm, 400 ppm, dan 450 ppm) berturut - turut adalah 31,52%; 23,90%; 20,27%; 14,71%. Sedangkan perhitungan nilai rata– rata persen transmisi pigmentasi (%Tp) yang diperoleh pada konsentrasi (300 ppm, 350 ppm, 400 ppm, dan 450 ppm berturut-turut adalah 20,95%; 15,9%; 11,98%; 8.26%. Nilai rata-rata SPF dengan konsentrasi (300 ppm, 350 ppm, 400 ppm, dan 450 ppm) berturut-turut adalah 4,36; 5.82; 7.44; 10.45.

Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa Ektrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) berpotensi sebagai tabir surya pada kosentrasi 450 ppm yang termasuk kategori fast tanning untuk proteksi eritema dan termasuk proteksi totalblock untuk proteksi pigmentasi, serta memiliki nilai SPF sebesar 10,45 yang termasuk proteksi maksimal.

(13)

xiii ABSTRACT Name : Nurfajri Indriani

NIM : 70100114009

Title : Determination Sunscreen Potential of Binahong Leaf (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) with In Vitro Method

A study has been conducted with research about the potential of sunscreen extract Binahong leaves (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) in vitro by using UV-Vis Spectrophotometer. Testing of the potential of sunscreen extract Binahong leaves was conducted by calculating the value of erythema transmission (%Te) and pigmentation transmission (%Tp), as well as the value of SPF extract. The result of the testing are the average persentage of erythema transmission (%Te) at concentrations (300 ppm, 350 ppm, 400 ppm, dan 450 ppm) respectively 31,52%; 23,90%; 20,27%; 14,71%. While the calculation of the average of percent pigmentation transmission (%Tp) which is obtained at concentration (300 ppm, 350 ppm, 400 ppm, and 450 ppm) respectively 20,95%; 15,9%; 11,98%; 8.26%. The average of SPF with concentration (300 ppm, 350 ppm, 400 ppm, and 450 ppm) respectively 4,36; 5.82; 7.44; 10.45.

The result of the research showed that the extract of Binahong leaves (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) has the potential to be a sunscreen in concentration 450 ppm including fast tanning category for erythema protection and including totalblock protection for pigmenentation protection, and it has SPF value of 10,45 wich includes maximum protection.

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang

Indonesia adalah salah satu negara dengan paparan sinar matahari yang tinggi dan sebagian besar penduduknya bekerja diluar ruangan sehingga memerlukan suatu perlindungan kulit. Sinar matahari selain memberi manfaat juga mempunyai dampak buruk pada kulit jika terpapar secara berlebihan. Sinar ultraviolet yang disebut UVB dan UVA, kedua sinar ultraviolet ini bekerja secara sinergis sehingga dibutuhkan suatu pencegahan atau perlindungan untuk mengurangi dampak buruk pada kulit akibat radiasi tersebut (Yulianti, 2015).

Paparan sinar UV pada dasarnya memiliki manfaat dalam pembentukan vitamin D yang digunakan untuk metabolisme pembentukan tulang dan sistem imun. Selain itu, radiasi sinar UV juga dapat digunakan untuk terapi psoriasis dan vitiligo. Akan tetapi, paparan sinar matahari secara berlebih merupakan mediator eksogen utama terjadinya kerusakan pada kulit yang dapat mempercepat terjadinya penuaan dan resiko terjadinya kanker pada kulit (Isriany, 2014). Jika penyinaran matahari terjadi secara berlebihan, jaringan epidermis kulit tidak cukup mampu melawan efek negatif tersebut sehingga diperlukan perlindungan baik secara fisik dengan menutupi tubuh dan secara kimia dengan menggunakan tabir surya (Karina, 2015).

(15)

Tabir surya chemical umumnya bersifat allergenic (Cefali et al, 2016), yang dapat menyebabkan fotoiritasi, fotosensitasi dan dermatitis kontak (Saewan & Jimtaisong, 2013). Meskipun ada berbagai produk kosmetik hypoallergenic untuk kulit sensitif, produk tabir surya masih jarang ditemukan (More et al, 2013). Bahan aktif tabir surya dari bahan alam dapat memenuhi kebutuhan konsumen kulit sensitif terhadap kosmetika tabir surya (Warnida,2017).

Beberapa tumbuhan diketahui memiliki manfaat yang dapat digunakan sebagai bahan alam untuk melindungi kulit dari dampak buruk sinar matahari Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil. Keanekaragaman tumbuhan Indonesia juga menjadi suatu kekayaan yang tak ternilai harganya. Menurut perkiraan badan kesehatan dunia, 80% penduduk dunia masih menggantungkan dirinya pada penggunaan obat yang berasal dari tumbuhan. Bahkan seperempat dari obat modern yang beredar di dunia berasal dari bahan aktif yang diisolasi dan dikembangkan berasal dari tumbuhan (Pandiangan, 2011).

(16)

Penggunaan zat-zat yang bersifat antioksidan dapat mencegah berbagai penyakit yang ditimbulkan oleh radiasi sinar UV, beberapa golongan senyawa aktif antioksidan seperti flavonoid, tanin, antraquinon, sinamat dan lain-lain telah dilaporkan memiliki kemampuan sebagai perlindungan terhadap sinar UV (Hogade, 2010 dalam Juliandri, 2014).

Pencarian senyawa-senyawa dari bahan alam menjadi perhatian utama sekarang ini, beberapa senyawa antioksidan dapat dihasilkan dari produk alami. Salah satu tanaman yang menghasilkan senyawa antioksidan adalah daun binahong Anredera cordifolia (Ten.) Steenis). Di Indonesia tanaman ini dikenal sebagai gendola yang sering digunakan sebagai gapura yang melingkar di atas jalan taman. Namun, manfaat dari tanaman ini belum banyak dikenal dalam masyarakat Indonesia, sehingga menarik untuk diteliti (Manoi, 2009).

(17)

Berdasarkan uraian tersebut daun binahong Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) berpotensi sebagai tabir surya. Namun belum ada penelitian lebih lanjut yang menguji potensi tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui potensi daun binahong sebagai tabir surya dan menghitung nilai SPF (Sun Protecting Factor).

B. Rumusan Masalah

1. Berapa nilai Sun Protecting Factor (SPF) ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis)?

2. Apakah ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) berpotensi sebagai tabir surya?

C. Definisi Operasional dan Ruang Lingkup Penelitian 1. Definisi Operasional

a. Potensi tabir surya ialah kemampuan suatu sediaan atau zat dalam menghambat penetrasi sinar UV ke dalam kulit yang dapat ditentukan berdasarkan persen transmisi eritema dan persen transmisi pigmentasi. b. Tabir surya merupakan suatu sediaan yang secara fisik atau kimia dapat

menghambat penetrasi sinar UV ke dalam kulit.

c. Persentase transmisi eritema/pigmentasi adalah perbandingan jumlah energi sinar UV yang diteruskan oleh sediaan tabir surya pada spektrum eritema/pigmentasi dengan jumlah faktor keefektifan eritema/pigmentasi pada tiap panjang gelombang dalam rentang 292,5-372,5 nm.

(18)

aktif tabir surya maka semakin efektif melindungi kulit dari pengaruh buruk sinar UV.

e. Ekstrak adalah sediaan yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia menggunakan pelarut yang sesuai.

f. In vitro adalah suatu metode yang digunakan untuk mengukur nilai Sun Protcting Factor (SPF) dengan menggunakan analisis secara spektrofotometri larutan hasil pengenceran dari zat atau ekstrak yang diuji. 2. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini menggunakan daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) sebagai sampel yang akan diuji potensi sebagai tabir surya dan menetapkan nilai SPF-nya, serta menentukan jenis tabir suryanya berdasarkan data analisis yang diperoleh.

D. Kajian Pustaka

1. Penelitian yang dilakukan oleh Parwati, dkk tahun 2014 berjudul “Uji aktivitas

antioksidan ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dengan 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (dpph) menggunakan spektrofotometer UV-VIS”

(19)

daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) memiliki nilai IC50 sebesar 40,27 ppm hal ini mununjukkan bahwa daya antioksidan yang sangat kuat.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Miftahurrahmah tahun 2015 yang berjudul “ Penentuan Potensi Tabir Surya Ekstrak Etanol Kulit buah Rambutan (Nephelium lappaceum)”. Pengujian potensi tabir surya pada ekstrak etanol

kulit buah rambutan menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan metode penentuan nilai SPF, persen transmisi eritema (% Te), dan persen transmisi pigmentasi (% Tp). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa ekstrak kulit rambutan pada konsentrasi 80 ppm memiliki nilai SPF sebesar 2,37 yang berarti memiliki potensi minimal tabir surya sementara pada konsentrasi 160 ppm nilai SPF sebesar 5,32 yang memiliki potensi tabir surya sedang. Ekstrak kulit rambutan pada konsentrasi 80 ppm memiliki potensi sebagai tabir surya dalam kategori suntan dengan nilai persen transmisi eritema (%Te) sebesar 16,18 dan persen transmisi pigmentasi (%Tp) sebesar 49,65. Sedangkan pada konsentrasi 160 ppm memiiki potensi tabir surya dalam kategori total block dengan nilai persen transmisi eritema (%Te) sebesar 3,18 dan persen transmisi pigmentasi (%Tp) sebesar 25,16.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Umrah tahun 2017 yang berjudul “Uji Potensi

(20)

menunjukkan nilai rata - rata SPF ekstrak daun jambu biji berdaging putih yang diperoleh pada konsentrasi (50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm dan 250 ppm) berturut – turut adalah 2,71; 5,75; 19,90; 42,28; dan 104,24, serta untuk hasil pengukuran transmisi eritema dan pigmentasi didapatkan pada konsentrasi 50 ppm, 100 ppm, dan 150 ppm dikategorikan sebagai suntan, serta pada konsentrasi 200 ppm dan 250 ppm dikategorikan sebagai sunblock.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Fadlan yang berjudul “Uji Potensi Tabir Surya

Dan Nilai Sun Protecting Factor (Spf) Ekstrak Kulit Buah Delima Putih (Punica Granatum L.) secara In Vitro” tahun 2016. Pengujian potensi tabir surya ekstrak kulit buah delima putih dilakukan dengan menghitung nilai transmisi eritema %Te dan tranmisi Pigemntasi %Tp serta nilai SPF ekstrak. Pada penentuan nilai SPF, diperoleh nilai rata - rata SPF konsentrasi 200 ppm, 400 ppm, 600 ppm, 800 ppm dan 1000 ppm berturut - turut sebesar 1,2; 1,4; 1,7; 2,1; 2,6. Sedangkan hasil yang didapatkan dari penentuan transmisi Eritema dan transmisi pigmentasi menunjukkan konsentrasi ekstrak 200 ppm termasuk dalam kategori reguler suntan untuk eritema dan berada dalam kategori total block untuk pigmentasi, dan konsentrasi 400, 600, 800, dan 1000 ppm termasuk dalam kategori total block untuk eritema dan pigmentasi.

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui nilai Sun Protecting Factor (SPF) dari ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis)

(21)

2. Manfaat Penelitian

a. Diperoleh data ilmiah mengenai nilai Sun Protecting Factor (SPF) ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) sebagai tabir surya. b. Diketahui potensi tabir surya ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia

(22)

9 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Uraian Tanaman

1. Klasifikasi

Regnum : Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Caryophylla Famili : Basellaceae Genus : Andredera

Spesies : Anredera cordifolia (Ten.) Steenis (Tjitrosoepomo, 2013) 2. Nama Daerah

Binahong (Indonesia), Teng san chi (Cina), Heartleaf Madeira vine, Madeira vine (Inggris) (Manoi, 2009).

3. Deskripsi

(23)

berlekatan, panjang helai mahkota 0,5-1 cm, berbau harum. Akar berbentuk rimpang, berdaging lunak (Manoi, 2009).

4. Uraian Senyawa Fitokimia

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Astuti, dkk., 2011 menunjukkan bahwa tumbuhan binahong mengandung senyawa fenol, flavonoid, saponin, triterpenoid, steroid dan alkaloid. Flavonoid termasuk senyawa fenolik alam yang berpotensi sebagai antioksidan. Selanjutnya Titis, 2013 mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa alkaloid pada ekstrak daun binahong. Isolat (ekstrak etanol) alkaloid adalah senyawa betanidin (C18H16N2O8).

B.Anatomi dan Fisiologi Kulit

Kulit berperan sebagai lapisan pelindung tubuh terhadap pengaruh luar, baik pengaruh fisik maupun kimia. Meskipun kulit relatif impermeabel terhadap senyawa-senyawa kimia, namun dalam keadaan tertentu kulit dapat ditembus oleh senyawa-senyawa obat atau bahan berbahaya yang dapat menimbulkan efek terapeutik atau efek toksik yang bersifat lokal atau sistemik. Kulit juga merupakan sawar (barrier) fisiologik yang penting karena mampu menahan penembusan bahan gas, cair, maupun padat, baik yang berasal dari lingkungan luar tubuh maupun komponen yang dihasilkan oleh mikroorganisme (Isriany, 2013).

(24)

1. Struktur kulit

Kulit manusia tersusun atas 3 lapisan utama, dari luar ke dalam yakni epidermis (non-viable dan viable epidermis), dermis, dan endodermis. Ketiga lapisan tersebut berbeda dari segi anatomi, morfologi, senyawa penyusun, sifat dan fungsinya (Walters, 2002 dalam Isriany, 2013).

Lapisan terluar merupakan turunan dari ectoderm yang disebut epidermis. Epidermis terhubung dengan dermis oleh taut dermo-epidermic (dermo-epidermic junction). Di bawah dermis terdapat lapisan hypodermis (endodermis). Setiap lapisan dilalui oleh ujung-ujung saraf dan pembuluh darah. Pembuluh darah yang perifer yang melintasi kulit mengalirkan darah sebanyak 0,3 mL/jam/cm3. Total luas area pembuluh darah intrakutan yang tersedia untuk pelintasan langsung obat ke sirkulasi sistemik sejumlah 100%-200% dari area kulit. Pada kulit terserbar adneksa kulit berupa folikel rambut dan kelenjar (Walters, 2002 dalam Isriany, 2013).

a. Epidermis

(25)

Epidermis berfungsi sebagai penghalang terpenting dari hilangnya air, elektrolit, dan atau nutrien tubuh, serta menahan masuknya senyawa asing dari luar. Lapisan epidermis terdiri dari non-viablee epidermis dan viable epidermis. Secara anatomi lapisan epidermis terdiri dari 5 lapisan utama yang susunannya lebih dikenal dengan istilah „strata‟. Tersusun dari luar ke dalam berturut-turut; non-viable

epidermis yaitu stratum korneum dan viable epidermis yaitu stratum lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum, dan stratum basal (germinativum). Kurang lebih setengah dari keratinosit bergerak dari lapisan sel basal ke atas memulai semua lapisan-lapisan epidermis yang lain. Sambil bergerak melalui lapisan-lapisan, strukturnya berubah dan sel-sel mulai memipih, kehilangan inti, dan akhirnya kering (Walters, 2002 dalam Isriany, 2013).

1) Stratum korneum (lapisan tanduk; Horny Layer)

Stratum korneum merupakan lapisan terluar dari epidermis dan menjadi penghalang utama terhadap kehilangan senyawa endogen serta menjadi penghalang tubuh terhadap pengaruh lingkungan seperti senyawa kimia, mikroba, pelarut, radiasi, elektrik, dan termal. Lapisan ini memiliki ketebalan 1020 µm yakni berkisar 1% -10% dari total dalam kulit, serta berkontribusi lebih dari 80% terhadap tahanan permeabilitas kulit. Kemampuan ini cukup tinggi untuk menjaga kehilangan air transkutaneus.

(26)

kehilangan inti dan sitoplasmanya dipenuhi oleh filamen skleroprotein yang disebut keratin. Keratin mengandung 6 polipeptida dengan berat molekul 40.000-70.000. Sel-sel ini adalah tahap akhir dari proses deferensiasi Sel-sel epidermis yang dimulai pada stratum basal. Setelah keratinisasi berakhir, maka sel-sel hanya terdiri atas protein amorf dan fibriliar, serta membran plasma yang menebal, selanjutnya disebut sel tanduk.

Stratum korneum mengandung protein keratin yang tidak larut (70%) dan lipid (20%). Komponen inilah yang memegang peranan penting dalam mengontrol absorpsi perkutan senyawa eksogen termasuk senyawa obat. Selain itu, proses deskuamasi (pengelupasan sel) pada sel-sel stratum korneum yang berlangsung setiap 2-3 minggu mampu menghilangkan senyawa-senyawa terlarut yang teradsorpsi di stratum corneum.

Dibawah stratum korneum tersusun berturut-turut viable epidermis yaitu stratum granulosum, strarum spinosum, dan stratum germinativum, yang terdiri dari sel-sel hidup dan tersusun longgar (Walters, 2002 dalam Isriany, 2013).

2) Stratum Lucidum (Lapisan bening; Clear Layer)

(27)

3) Stratum granulosum (Lapisan Berbutir; Granular Layer)

Stratum granulosum tersusun atas tiga sampai lima lapis sel dengan banyak granular berlamella yang mengandung keratohyalin, bagian ini berperan dalam pembentukan keratin. Jumlah dan ukuran granula tersebut terus bertambah, bergerak menuju membran sel, dan melepaskan isi lipidnya dengan cara eksositosis ke celah antara stratum korneum dan stratum granulosum. Akibatnya terbentuk sejenis lapisan pada membran sel stratum korneum. Semua sel diatas lapisan ini mati karena letaknya yang sangat jauh dari sumber nutrisi sehingga kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi (Walters, 2002 dalam Isriany, 2013).

4) Stratum spinosum ( Spinous atau Prickle Layer)

Sel-sel ini terhubung dengan sel stratum spinosum yang berdekatan dengan sel stratum basal bawahnya oleh suatu jembatan interseluler yang disebut desmosomes. Karakteristik lapisan ini adalah benyaknya filamen yang menonjol dan membedakan morfologi lapisan ini dengan epidermis lainnya. Dilapisan paling atas terdapat organel yang berikatan dengan membran, dikenal sebagai butiran pipih badan Odland. Namun badan odland paling banyak terdapat di dalam stratum granulosum (Walters, 2002 dalam Isriany, 2013).

5) Stratum basal (Germinatifum)

(28)

ini berada pada lapisan dasar antara dermis dan sel epidermis yang hidup (aktif). Pada lapisan ini terdapat melanosit, sel langerhans, sel merkel, dan sel keratinik.

Sel melanosit adalah jenis sel kedua terbesar dari sel epidermis setelah korneosit, ditemukan pada lapisan basal. Rasio keratinosit terhadap melanosit adalah 10:1. Walaupun jumlah melanosit cukup konstan, variasi dalam warna kulit ditentukan oleh ukuran dan jumlah melanosom, atau granul pigmen, yang diproduksi oleh sel-sel ini. Baik ukuran maupun jumlah melanosom lebih tinggi pada individu yang secara alamiah berkulit gelap. Melanosom berimigrasi ke seluruh keratinosit dari epidermis dan menghasilkan pigmen warna, melanin. Individu yang memiliki kulit lebih gelap memiliki jumlah melanin yang lebih banyak daripada mereka yang berkulit terang.

Sel langerhans merupakan jenis sel ketiga terbanyak pada epidermis. Sel-sel ini ditemukan pada stratum spinosum, diatas lapisan basal. Walaupun sel-sel ini merepresentasikan 5% sel pada lapisan ini, sel-sel ini tetap terlibat dalam beberapa aktivitas signifikan, termasuk produksi interleukin-1. Sebagai bagian dari respon imun, induksi penolakan transplantasi kulit, dan pembentukan dermatitis alergi kontak.

(29)

yang berperan dalam memelihara stabilitas mekanik membran dasar (Walters, 2002 dalam Isriany, 2013).

b. Dermis

Lapisan ini disebut juga korium, merupakan lapisan kulit yang terletak antara epidermis dan jaringan lemak subkutan. Tebal lapisan sekitar 1-4 mm, tergantung bagian tubuh. Dermis tersusun dari bahan mukopolisakarida. Pada dermis terdapat sel mast dan fibroblast. Sel mast memiliki situs reseptor untuk immunoglobulin E dan mengandung sejumlah senyawa penting, seperti zat yang bereaksi lambat pada proses anafilaksis, prostaglandin E dan histamin. Fibroblast mensintesis komponen penunjang struktural dari kulit (yaitu: serat-serat elastik, kolagen, dan serat retikulum) (Walters, 2002 dalam Isriany, 2013).

Dermis mengandung jaringan padat dari serabut protein, seperti kolagen, retikulum, dan elastin yang disimpan dalam kelenjar dasar amorf dari mukopolisakarida. Serat elastik diberi nama demikian karena serat inilah yang memberi sifat elastisitas pada kulit. Komponen utama dari serat ini adalah elastin, suatu protein amorf (Walters, 2002 dalam Isriany, 2013).

Di dalam dermis terdapat adneksa-adneksa (kelenjar) kulit seperti folikel rambut, papilla rambut, kelenjar keringat, saluran keringat, kelenjar sebasea, otot penegak rambut, ujung pembuluh darah dan ujung syaraf, juga sebagian serabut lemak yang terdapat pada lapisan lemak bawah kulit (sub kutis atau hipodermis) (Tranggono, 2007).

(30)

dermis terdapat kapiler darah, ujung-ujung saraf, pembuluh limfa, kelenjar keringat, folikel rambut, dan kelenjar sebasea (Walters, 2002 dalam Isriany, 2013).

c. Endodermis (Hipodermis; Subkutan)

Hipodermis adalah lapisan terdalam dari kulit, tebalnya 0,5-2 cm tergantung pada umur, ras dan daerah merupakan kelanjutan dari dermis, terdiri dari jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak, penghubung antara dermis dengan jaringan lain dibawahnya seperti otot. Hipodermis kaya akan jaringan penghubung yang mengandung beberapa serat elastik. Pada beberapa bagian tubuh tertentu terdapat otot polos. Lapisan ini yang melindungi organ sebelah dalam tubuh dari benturan mekanik. Jaringan berlemak mempengaruhi regulasi panas tubuh dan memberikan efek batalan terhadap tekanan eksternal dan cedera (Walters, 2002 dalam Isriany, 2013).

Berdasarkan sifat sel-sel penyusun kulit, maka secara fisiologi, fungsi kulit adalah:

1) Merupakan barrier lingkungan yang menghalangi masuknya stimulus dari lingkungan seperti senyawa kimia, mikroba, pelarut, radiasi elektrik, dan termal.

2) Sawar kulit juga mencegah penguapan air yang berlebih dari dalam tubuh, serta mencegah kehilangan elektrolit dan senyawa biokimia lainnya. 3) Proses deskuamasi akan menghilangkan senyawa terlarut, zat-zat hasil

katabolisme yang teradsorpsi pada stratum corneum. Dengan kata lain kulit mampu mengontrol penumpukan senyawa dan partikel pada kulit. 4) Kelenjar keringat mengontrol suhu tubuh dan mengeluarkan zat-zat sisa

(31)

5) Kelenjar minyak dalam folikel rambut mengeluarkan minyak yang dapat meluminasi dan melindungi rambut

6) Proses deferensiasi sel-sel epidermis dapat menjamin keberadaan stratum corneum serta fungsi yang melekat padanya

7) Menghasilkan melanin yang memberi warna kulit serta melindungi kulit dari efek buruk sinar matahari

8) Menghasilkan sistem pertahanan tubuh melalui sel langerhans dan sel lainnya

9) Pembuluh darah membawa nutrisi dan mengangkut produk metabolisme, fungsi immune, pengaturan suhu tubuh, dan tekanan darah

10)Saraf mengendalikan tekanan, nyeri dan suhu

11) Sistem limfa mengatur pengeluaran sisa metabolisme, tekanan jaringan dan fungsi immune.

12)Melindungi tubuh dari beturan mekanik (Isriany, 2013).

2. Warna kulit

Warna kulit sangat beragam, dari yang berwarna putih mulus, kuning, cokelat, kemerahan, atau hitam. Warna kulit terutama ditentukan oleh:

a. Oxyhemoglobin yang berwarna merah.

b. Hemoglobin tereduksi yang berwarna merah kebiruan. c. Melanin yang berwarna cokelat.

d. Keratohyalin yang memberikan penampakan opaque pada kulit.

(32)

Dari semua bahan-bahan pembangun warna kulit, yang paling menentukan warna kulit adalah pigmen melanin. Banyaknya pigmen melanin di dalam kulit ditentukan oleh faktor-faktor ras, individu, dan lingkungan (Kusantati, 2008).

Melanin adalah pigmen alamiah kulit yang memberikan warna cokelat. Melanin dibuat dari tirosin sejenis asam amino dan dengan oksidasi tirosin diubah menjadi butiran-butiran melanin yang berwarna coklat, serta untuk proses ini perlu adanya enzim tirosinase dan oksigen. Oksidasi tirosin menjadi melanin berlangsung lebih lancar pada suhu yang lebih tinggi atau dibawah sinar ultraviolet. Jumlah, tipe, ukuran dan distribusi pigmen melanin kulit terjadi pada butir-butir melanosom yang dihasilkan oleh sel-sel melanosit yang terdapat di antara sel-sel basal keratinosit didalam lapisan-lapisan benih (Kusantati, 2008).

Pembentukan melanosom di dalam melanosit terjadi melalui empat tahap. Pada tahap I, premelanosom dicirikan oleh strukturnya yang speris dan matriks amorf. Selama tahap II, mereka menjadi berbentuk lebih oval dan melaninnya belum jelas. Pada tahap III, setelah aktivitas tirosinase, produksi melanin dimulai dan melanisasi berlanjut hingga tahap IV, titik dimana organel berisi melanin dengan konsentrasi tinggi. Melanosom kemudian dipindahkan sepanjang mikrotubulus ke struktur dendritik melanosit dan ditransfer ke keratinosit (Isriany,2013).

Ada 2 macam pigmen melanin dengan variasi warna yang terjadi (Tranggono, 2007):

a) Eumelanin memberikan warna gelap, terutama hitam, cokelat dan variasinya, serta mengandung nitrogen.

(33)

3. Eritema dan pigmentasi a. Reaksi sunburn (eritema)

Penyinaran sinar matahari yang singkat pada kulit dapat menyebabkan kerusakan epidermis sederhana, gejalanya biasa disebut "Sunburn".Sinar matahari dapat menyebabkan eritema ringan hingga luka bakar yang nyeri. Eritema umumnya akan terjadi sebelum 10-24 jam, Pada orang berkulit terang paparan energi sinar UVB sebesar 20-27 mJ/cm2 akan menimbulkan eritema minimal (Pathak,1982).

Reaksi eritema ini selain disebabkan karena kerusakan sel prickle epidermis yang berakibat terjadi oedema juga terjadi pelepasan histamine like substance karena sel mast pada lapisan dermis mengalami lisis, sehingga timbul vasodilatasi. Derajat Sunburn yang ditimbulkan oleh spektrum sinar UVB berdasarkan frekuensi dan lamanya penyinaran digolongkan menjadi empat, yaitu:

1) Minimal Parcetible Erythema

Pada kulit timbul warna kemerahan (merah muda) akibat kontak sinar matahari selama 20 menit

2) Vivid Erythema

Pada kulit timbul warna merah terang, tanpa disertai rasa sakit akibat kontak sinar matahari selama 50 menit

3) Painful Burn

(34)

4) Blistering Burn

Disamping timbul vivid erythema juga disertai rasa sakit yang hebat sekali bahkan terjadi pengelupasan dan pelepuhan kulit, akibat kontak dengan sinar matahari selama 200 menit.

b. Reaksi Tanning (pigmentasi)

Reaksi pigmentasi selain ditimbulkan oleh radiasi spektrum sinar UV, juga spektrum sinar tampak. Tetapi derajat pigmentasi yang ditimbulkan sangat bervariasi tergantung frekuensi dan lamanya penyinaran.

1) Immediate Tanning

Dalam waktu beberapa menit setelah kulit terkena sinar matahari, timbul warna kegelapan (pigmentasi) yang segera, dan mencapai puncaknya satu jam kemudian. Selanjutnya warna kegelapan pada kulit mulai hilang antara dua sampai empat jam kemudian. Reaksi tersebut terjadi karena fotooksidasi granul-granul melanin yang berada di permukaan lapisan epidermis kulit akibat radiasi sinar UV pada rentang panjang gelombang 300-600 nm, dan mencapai puncak pada panjang gelombang 340-360 nm.

2) Delayed Tanning

(35)

3) True Tanning

Kira-kira dua sampai tiga hari setelah kontak sinar matahari pada kulit timbul warna kegelapan, dan mencapai puncak maksimal antara dua sampai tiga minggu kemudian.Warna kegelapan pada kulit hilang antara 10-12 bulan kemudian. Reaksi tersebut terjadi karena penumpukan granul-granul melanin akibat poliferasi sel-sel melanosit pada stratum basale epidermis kulit.

Eritema merupakan salah satu tanda terjadinya proses inflamasi akibat pajanan sinar UV dan terjadi apabila volume darah dalam pembuluh darah dermis meningkat hingga 38% di atas volume normal, sedangkan pigementasi adalah perubahan warna kulit seseorang yang disebabkan adanya penyakit atau perlukaan yang bisa menimbulkan perubahan warna yang lebih gelap akibat peningkatan jumlah melanin (Yuliastuti, 2002).

Radiasi sinar UV-B yang memiliki panjang gelombang 290-320 nm menembus dengan baik stratum korneum dan epidermis yang cukup parah dan menyebabkan iritasi pada kulit sehingga disebut daerah eritema. Radiasi sinar UV-A memiliki panjang gelombang 320-400 nm menyebabkan warna coklat (tanning) pada kulit tanpa terjadi inflamasi sehingga disebut daerah pigmentasi. Meskipun sinar UV-A memiliki energi yang lebih rendah daripada sinar UV-B, tetapi kenyataannya mereka dapat menembus lebih jauh ke dalam hipodermis, menyebabkan elastosis (kekurangan dengan struktural dan elastisitas kulit) dan kerusakan kulit lainnya, yang berpotensi mengarah ke kanker kulit (Setiawan, 2010).

(36)

kembali dalam waktu 4 jam. Di sini tidak tampak adanya pembentukan melanosom baru. Tanning lambat terjadi 48-72 jam setelah kulit terpapar sinar UV-A. Hal ini disebabkan oleh pembentukan melanosom-melanosom baru secara perlahan, dan baru terlihat dalam waktu 72 jam (Tranggono, 2007).

Pada orang berkulit terang paparan energi sinar UV-B sebesar 20-27 mJ/cm2 akan menimbulkan eritema yang dikenal sebagai DEM atau dosis eritema minimal (Pathak, 1993).

Radiasi UV mencapai permukaan bumi dapat dibagi menjadi UV-B (290-320 nm) dan UV-A (320- 400 nm). UV-A dapat dibagi lagi menjadi UV-A I (340-400 nm) atau UV-A jauh dan UV-A II (320-340 nm) atau UV-A dekat. Faktor perlindungan matahari (SPF) didefinisikan sebagai dosis radiasi UV diperlukan untuk menghasilkan 1 dosis eritema minimal (MED) pada kulit dilindungi setelah penerapan 2 mg/cm2 produk dibagi dengan radiasi UV untuk menghasilkan 1 MED pada kulit yang tidak terlindungi (Barel. 2009).

C.Tabir Surya

Sediaan tabir surya adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud menyerap secara efektif sinar matahari terutama di daerah gelombang ultraviolet sehingga dapat mencegah terjadinya gangguan kulit oleh sinar matahari. Tabir surya dapat dibuat dalam berbagai bentuk sediaan seperti : krim, losio, dan salep (Depkes RI, 1985).

(37)

menyebabkan efek yang merugikan bagi kulit. Oleh karena itu, diperlukan senyawa tabir surya untuk melindungi kulit dari radiasi UV secara langsung (Cumpelick, 1972).

Bahan aktif yang umum digunakan sebagai tabir surya dibagi menjadi dua yaitu tabir surya fisik dan tabir surya kimia. Tabir surya fisik memiliki mekanisme kerja dengan cara memantulkan dan menghamburkan radiasi sinar ultraviolet dan tidak tembus cahaya, sedangkan tabir surya kimia memiliki mekanisme kerja mengabsorbsi radiasi sinar ultraviolet (Wihelmina, 2011).

Menurut Wilkinson dan More (1982), untuk mendapatkan sediaan tabir surya yang sesuai terdapat beberapa syarat yang diperlukan, yaitu:

1. Efektif dalam menyerap sinar eretrmogenik pada rentang panjang gelombang 290-320 nm tanpa menimbulkan gangguan yang akan mengurangi efisiensinya atau yang akan menimbulkan toksik atau iritasi

2. Memberikan transmisi penuh pada rentang panjang gelombang 300-400 nm untuk memberikan efek terhadap tanning maksimum.

3. Tidak mudah menguap dan resisten terhadap air dan keringat

4. Memiliki sifat-sifat mudah larut yang sesuai untuk memberikan formulasi kosmetik yang sesuai

5. Tidak berbau dan memiliki sifat-sifat fisisk yang memuaskan, misalnya daya lengketnya dan lain-lain

6. Tidak menyebabkan toksik, tidak iritan, dan tidak menimbulkan sensitisasi 7. Dapat mempertahankan daya proteksinya selama beberapa jam

8. Stabil dalam penggunaan

(38)

10.Tidak toksik dan dapat diterima secara dermatologis merupakan hal yang penting.

Sebagai kosmetik, tabir surya sering digunakan pada penggunaan harian pada daerah permukaan tubuh yang luas. Selain itu, tabir surya juga dapat digunakan pada bagian kulit yang telah rusak karena matahari. Tabir surya juga mungkin digunakan pada semua kelompok umur dan kondisi kesehatan yang bervariasi (Wilkinson dan More, 1982).

Menurut Lavi (2013), mekanisme proteksi tabir surya terhadap kulit dijelaskan sebagai berikut molekul bahan kimia tabir surya yang menyerap energi dari sinar UV, kemudian mengalami eksitasi dari ground state ketingkat energi yang lebih tinggi. Sewaktu molekul yang tereksitasi kembali ke kedudukan yang lebih rendah akan melepaskan energi yang lebih rendah dari energi semula yang diserap untuk menyebabkan eksitasi, maka sinar UV dari energi yang lebih tinggi setelah diserap energinya oleh bahan kimia maka akan mempunyai energi yang lebih rendah. Sinar UV dengan energi yang lebih rendah akan kurang atau tidak menyebabkan efek sunburn pada kulit.

Penggolongan tabir surya didasarkan pada persen transmisi sinar UV (Balsam, 1972).

Tabel 1. Penggolongan potensi tabir surya

Klasifikasi produk Persen Transmisi Sinar Ultraviolet (%)

Erythemal range Tanning range

Total block <1,0 3-40

Ekstra protection 1-6 42-86

Regular suntan 6-12 45-86

(39)

Tujuan preparasi tabir surya adalah untuk meminimalisir efek berbahaya dari radiasi matahari. Berdasarkan penggunaannya, tabir surya dapat diklasifikasikan menjadi:

1. Sunburn preventife agents, yaitu tabir surya yang mengabsorbsi 95% atau lebih radiasi UV dengan panjang gelombang 290-320 nm.

2. Suntanning agents, yaitu tabir surya yang mengabsorbsi sedikitnya 85% dari radiasi UV dengan rentang panjang gelombang dari 290-320 nm tetapi meneruskan sinar UV pada panjang gelombang yang lebih besar dari 320 nm dan menghasilkan tan ringan yang bersifat sementara. Bahan-bahan ini akan menghasilkan eritema tanpa adanya rasa sakit. Tabir surya pada kedua kategori tersebut merupakan kategori tabir surya kimia yang mengabsorbsi rentang tertentu dari radiasi UV.

3. Opaque sunblock agents, bertujuan untuk memberikan perlindungan maksimum dalam bentuk penghalang secara fisik. Titanium dioksida dan zink oksida merupakan senyawa yang paling sering digunakan dalam kelompok ini. Titanium dioksida memantulkan dan memencarkan semua radiasi pada rentang UV-Vis (290-777 nm), sehingga dapat mencegah atau meminimalkan kulit terbakar (sunburn) dan pencokelatan kulit (suntan) (Wilkinson dan Moore, 1982).

(40)

yang menyerap sebagian besar sinar UV-B dan menyerap sedikit sinar UV-A (Agustin et.al, 2013).

Ada beberapa cara untuk menentukan kekuatan suatu preparat tabir surya yaitu:

a. Metode SPF (Sun Protecting Factor)

Nilai SPF dihitung dengan terlebih dahulu menghitung luas daerah dibawah kurva serapan (AUC) dari nilai serapan pada panjang gelombang 290-400 nm. Nilai AUC dihitung menggunakan rumus berikut : (Chairns, 2008).

{AUC } = x d Pa - b dimana

Aa = absorbansi pada panjang gelombang a nm Ab = absorbansi pada panjang gelombang b nm dPa-b = selisih panjang gelombang a dan b

Nilai total AUC dihitung dengan menjumlahkan nilai AUC pada tiap segmen panjang gelombang. Nilai SPF masing-masing konsentrasi ditentukan menggunakan rumus berikut:

Log SPF = AUC/ λn- λ1

λn = panjang gelombang terbesar (dengan A>0,05 untuk ekstrak dengan

A>0,01 untuk sediaan

λ1 = panjang gelombang terkecil (290 nm)

(41)

b. Berdasarkan persen transmisi eritema (%Te) dan pigmentasi (%Tp)

Persen transmisi eritema adalah persen total fluks eritema yang diteruskan oleh bahan tabir surya. Transmisi eritema bahan tabir surya atau fluks eritema bahan tabir surya dapat ditentukan secara spektrofotometri dengan mengukur intensitas sinar yang diteruskan oleh bahan tabir surya pada panjang gelombang eritomatogenik kemudian dikalikan dengan fluks eritema/fluks pigmentasi yang terdapat pada tabel.

Tabel 2. Faktor efektifitas fluks dan pigmentasi pada panjang gelombang 290- 375 nm (Maulidia,2010 dalam Isriany, 2014).

Total erythema range, 290 - 320 nm 2,2322 (76,5%)

320-325 130,0 0,0083 0,1079

Total tanning range, 320 - 375 nm Total tanning flux, 290 - 375 nm

0,6942 (23,7%) 2,9264 (100 %)

(42)

Sediaan tabir surya dapat dikategorikan sebagai Sunblock (sediaan yang dapat menyerap hampir semua sinar UV-B dan sinar UV-A) apabila memiliki persentase transmisi eritema <1% dan persentase transmisi pigmentasi 3–40%. Jika persentasi transmisi eritema 6–18% dan persentase transmisi pigmentasi 45–86% dikategorikan

sebagai Suntan atau dapat dikatakan suatu bahan yang menyerap sebagian besar sinar UV-B dan menyerap sedikit sinar UV-A (Cumpelik,1972 didalam Sami. 2015).

Menurut Cumpelik (1972) dalam penentuan persentasi transmisi eritema dan persentase transmisi pigmentasi dilakukan dengan mengamati nilai serapan sampel pada panjang gelombang 292,5-372,5 nm. Dari nilai serapan yang diperoleh dihitung nilai untuk 1g/L (A) dan persen transmisi (T) dengan rumus:

A = - log T

Nilai transmisi eritema dihitung dengan cara mengalikan nilai transmisi (T) dengan faktor efektivitas eritema (Fe) pada panjang gelombang 292,5-372,5 nm. Sedangkan, nilai transmisi pigmentasi dihitung dengan cara mengalikan nilai transmisi (T) dengan faktor efektivitas pigmentasi (Fp) pada panjang gelombang 292,5-372,5 nm. Selanjutnya nilai persen transmisi eritema dan pigmentasi dihitung berdasarkan rumus % transmisi eritema yaitu:

1) % transmisi eritema 2) % transmisi pigmentasi

(Sami. 2015). D.Sun Protected Factor (SPF)

(43)

definisikan sebagai jumlah energi UV yang dibutuhkan untuk mencapai minimal erythema dose (MED) pada kulit yang dilindungi oleh suatu tabir surya, dibagi dengan jumlah energi UV yang dibutuhkan untuk mencapai MED pada kulit yang tidak diberikan perlindungan. MED didefinisikan sebagai jangka waktu terendah atau dosis radiasi sinar UV yang dibutuhkan untuk menyebabkan terjadinya erythema (Wood & Murphy, 2000).

Harga SPF dapat ditentukan secara in vitro dan secara in vivo. Pengujian aktivitas serapan sinar UV secara in vitro dapat dilakukan dengan teknik spektroskopi UV yang diukur pada rentang panjang gelombang sinar UV (200- 400 nm). Nilai SPF merupakan perbandingan Minimal Erythema Dose (MED) pada kulit manusia yang terlindungi tabir surya dengan MED tanpa perlindungan tabir surya. Sun Protection Factor (SPF) merupakan indikator universal yang menjelaskan tentang keefektifan dari suatu produk atau zat yang bersifat UV protektor, semakin tinggi nilai SPF dari suatu produk atau zat aktif tabir surya maka semakin efektif melindungi kulit dari pengaruh buruk sinar UV (Dutra et al., 2004).

Tabel 3. Keefektifan sediaan tabir surya berdasarkan nilai SPF (Wilkinson dan Moore, 1982).

No. Nilai SPF Kategori Proteksi Tabir Surya

(44)

kedua adalah dengan menentukan karakteristik serapan tabir surya menggunakan analisis secara spektrofotometri larutan hasil pengenceran dari tabir surya yang diuji (Gordon, 1993).

Nilai SPF didefenisikan sebagai perbandingan energi UV yang dibutuhkan untuk menghasilkan eritema minimal pada kulit yang dilindungi dengan eritema yang pada kulit yang tidak dilindungi dalam individu yang sama. Untuk contoh, seorang individu menggunakan tabir surya SPF 4 akan mengambil empat kali lama untuk mengalami eritema ketika terpapar radiasi UVB dibandingkan dengan ketika individu tidak memiliki perlindungan.

FDA mengharuskan semua tabir surya mengandung Sun Protection Factor (SPF). Kisaran SPF dimulai dari 2 sampai lebih dari 50, Tabir surya dianjurkan dengan paling sedikit SPF 15. Peringkat SPF tabir surya dihitung dengan membandingkan jumlah waktu yang diperlukan untuk menghasilkan kulit terbakar sinar matahari pada kulit dilindungi tabir surya dengan jumlah waktu yang diperlukan untuk menyebabkan kulit terbakar pada kulit yang tidak terlindungi (Lavi, 2013).

Tabir surya dengan SPF menyatakan lamanya kulit seseorang berada dibawah sinar matahari tanpa mengalami sunburn. Sedang angka SPF menyatakan berapa kali daya tahan alami kulit dilipatgandakan sehingga aman dibawah sinar matahari tanpa mengalami sunburn (Shovyana dkk, 2013).

(45)

E. Spektrofotometer UV-Vis

Spektrofotometer UV-Vis merupakan salah satu jenis spektroskopi yang sering digunakan dalam analisis kimia dan biologi. Spektrofotometer ini didasarkan pada interaksi antara materi dengan radiasi elektromagnetik. Apabila seberkas radiasi (cahaya) dikenakan pada cuplikan (larutan sampel), maka sebagian dari cahaya diserap oleh molekul – molekul sesuai dengan struktur dari molekul. Setiap senyawa

dalam sampel memiliki tingkatan tenaga yang spesifik. Bila cahaya mempunyai perbedaan energi antara tingkatan dasar dan tingkatan tereksitasi yang mengenai cuplikan, maka elektron – elektron pada tingkatan dasar akan dieksitasi ke tingkatan tereksitasi, dan sebagian energi cahaya yang sesuai diserap dengan panjang gelombang ini. Elektron yang tereksitasikan melepaskan tenaga melalui proses radiasi panas dan akan kembali pada tingkatan dasar lagi. Perbedaan energi antara tingkat dasar dengan tingkat tereksitasi yang spesifik untuk tiap – tiap bahan/senyawa menyebabkan frekuensi yang diserap juga berbeda – beda (Sastrohamidjojo, 2001).

Spektrofotometer adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang (Khopkar, 2007).

(46)

Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinu, monokromator, sel pengabsorpsi untuk larutan sampel atau blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorpsi antara sampel dan blanko ataupun pembanding (Khopkar, 2007).

Pendeteksian senyawa dengan cara sederhana menggunakan spektrofotometer ultraviolet dilakukan pada panjang gelombang 254 nm dan 366 nm. Radiasi senyawa pada panjang gelombang 254 nm menunjukkan radiasi gelombang pendek, sedangkan pada panjang gelombang 366 nm menunjukkan radiasi panjang gelombang. Bila senyawa menyerap sinar UV, maka akan tampak sebagai bercak gelap pada latar belakang yang berfluoresensi (Stahl, 1985).

Sinar radiasi UV-Vis adalah panjang gelombang antara 180 – 380 nm untuk UV dan panjang gelombang 380 – 780 nm untuk visible. Cahaya yang dapat dilihat oleh manusia disebut cahaya tampak/visibel. Biasanya cahaya terlihat merupakan campuran dari cahaya yang mempunyai berbagai panjang gelombang dari 400 nm hingga 750 nm.

Tabel 4. Spektrum cahaya tampak dan warna-warna komplementer (Underwood, 2001; 396).

Panjang gelombang (nm) Warna Warna komplementer

(47)

Suatu spektrofotometer UV-Vis dapat mengukur dan merekam spektrum senyawa tumbuhan dalam bentuk larutan. Spektrum tampak terentang panjang dari 400 nm (ungu) sampai 750 nm (merah), sedangkan spektrum ultraviolet terentang dari 100 nm sampai 400 nm (Fessenden, 1994).

Instrumen yang digunakan untuk mempelajari serapan atau emisi radiasi elektromagnetik sebagai fungsi dari panjang gelombang disebut spektrometer atau spektrofotometer. Pada umumnya konfigurasi dasar dari spektrofotometer UV-Vis berupa susunan peralatan adalah sebagai berikut:

1. Sumber radiasi

Beberapa sumber radiasi yang dipakai pada spektrofotometer adalah lampu deuterium, lampu tungsten, dan lampu merkuri. Sumber-sumber radiasi ultra lembayung yang kebanyakan dipakai adalah lampu hidrogen dan lampu deuterium (D2). Disamping itu sebagai sumber radiasi ultra lembayung yang lain adalah lampu xenon. Kejelekannya lampu xenon tidak memberikan radiasi yang stabil seperti lampu deuterium. Lampu deuterium dapat diapakai pada panjang gelombang 180 nm sampai 370 nm (daerah ultra lembayung dekat) (Mulja, 1995).

Lampu tungsten merupakan campuran dari filament tungsten gas iodine (halogen), oleh sebab itu sebagai lampu tungstein-iodin pada panjang spektrofotometer sebagai sumber radiasi pada daerah pengukuran sinar tampak dengan rentangan panjang gelombang 380-900 nm (Mulja, 1995).

(48)

2. Monokromator

Monokromator berfungsi untuk mendapatkan radiasi monokromatis dari sumber radiasi yang memancarkan radiasi polikromatis. Monokromator pada spektrofotometer biasanya terdiri dari susunan meliputi celah (slit) masuk-filterprisma-kisi(grating)-celah keluar.

a. Celah (slit)

Celah monokromator adalah bagian yang pertama dan terakhir dari suatu sistem optik monokromator pada spektrofotometer. Celah monokromator berperan penting dalam hal terbentuknya radiasi monokromatis dan resolusi panjang gelombang.

b. Filter optik

(49)

c. Prisma dan Kisi (grating)

Prisma dan kisi merupakan bagian monokromator yang terpenting. Prisma dan kisi pada prinsipnya mendispersi radiasi elektromagnetik sebesar mungkin supaya didapatkan resolusi yang baik dari radiasi polikromatis.

3. Kuvet

Kuvet atau sel merupakan wadah sampel yang dianalisis. Kuvet ini bentuk biasanya terbuat dari quarts atau leburan silika dan ada yang dari gelas dengan bentuk tabung empat persegi panjang 1x1 cm, dengan tinggi kurang lebih 5 cm. Pada pengukuran di daerah ultra lembayung dipakai quarts atau leburan silika, sedang kuvet dari gelas tidak dipakai, sebab gelas mengabsorpsi sinar ultra lembayung.

4. Detektor

Detektor merupakan salah satu bagian dari spektrofotometer yang penting oleh sebab itu detektor akan menentukan kualitas dari spektrofotometer adalah merubah signal elektronik.

5. Amplifier

Amplifier dibutuhkan pada saat sinyal listrik elekronik yang dilahirkan setelah melewati detektor untuk menguatkan karena penguat dengan resistensi masukan yang tinggi sehingga rangkaian detektor tidak terserap habis yang menyebabkan keluaran yang cukup besar untuk dapat dideteksi oleh suatu alat pengukur (Mulja, 1995).

(50)

F. Metode Ekstraksi Bahan Alam

Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Ekstraksi adalah proses penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dari bagian tanaman obat, hewan atau biota laut. Zat-zat aktif tersebut terdapat didalam sel, namun sel tanaman dan hewan berbeda demikian pula ketebalannya, sehingga diperlukan metode ekstraksi dan pemilihan pelarut tertentu dalam mengekstraksinya (Dirjen POM, 1995).

Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik dan memisahkan senyawa yang mempunyai kelarutan berbeda-beda dalam berbagai pelarut komponen kimia yang terdapat dalam bahan alam baik dari tumbuhan, hewan, biota laut, dengan menggunakan pelarut organic tertentu. Proses ekstraksi ini didasarkan pada kemampuan pelarut organik untuk menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel secara osmosis yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dalam pelarut organik dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara didalam dan diluar sel mengakibatkan terjadinya difusi pelarut organik yang mengandung zat aktif keluar sel. Proses ini berlangsung terus menerus sampai terjadi keseimbangan konsentrasi zat aktif di dalam dan di luar sel (Harbone, 1987).

Umumnya, zat aktif yang terkandung dalam tanaman maupun hewan lebih

(51)

sampai terjadi kesetimbangan antara konsentrasi zat aktif didalam dan diluar sel (Depkes RI, 2000).

Cairan pelarut dalam proses pembuatan ekstrak adalah pelarut yang baik (optimal) untuk senyawa kandungan yang berkhasiat atau yang aktif, dengan demikian senyawa tersebut dapat dipisahkan dari bahan dan dari senyawa kandungan lainnya, serta ekstrak hanya mengandung sebagian besar senyawa kandungan yang diinginkan dalam hal ekstrak total, maka cairan pelarut dipilih yang melarutkan hampir semua metabolit sekunder yang terkandung (Septiningsih, 2008).

Proses ekstraksi dapat dilakukan secara panas dan secara kering. Ekstraksi secara panas yaitu dengan metode refluks dan destilasi uap air, sedangkan ekstraksi dingin yaitu dengan maserasi, perkolasi dan soxhletasi (Dirjen POM, 1995).

Adapun metode yang dapat digunakan dalam ekstraksi sampel yaitu : 1. Maserasi

Maserasi adalah cara penyarian yang sederhana. Meserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk kedalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif didalam sel dengan yang diluar sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan (Dirjen POM, 1986).

(52)

sehingga dengan pengadukan tersebut tetap terjaga adanya derajat perbedaan konsentrasi yang sekecil-kecilnya antara larutan di dalam sel dengan larutan di luar sel. Hasil penyarian dengan cara meserasi perlu dibiarkan selama waktu tertentu. Waktu tersebut diperlukan untuk mengendapkan zat-zat yang tidak diperlukan tetapi ikut terlarut dalam cairan penyari seperti malam dan lain-lain (Dirjen POM, 1986).

Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol, atau pelarut lain. Bila cairan penyari digunakan air maka untuk mencegah timbulnya kapang, dapat ditambahkan bahan pengawet, yang diberikan pada awal penyarian.

Keuntungan metode maserasi adalah peralatan yang digunakan sederhana. Sedangkan kekurangan metode maserasi adalah waktu yang diperlukan untuk mengekstraksi sampel cukup lama, cairan penyari yang digunakan lebih banyak, tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang mempunyai tekstur keras seperti benzoin, tiraks dan lilin (Rohman, 2007).

2. Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur pada titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu pertama sampai 3-5 kali sehingga proses ekstraksi sempurna (Depkes RI, 2000).

(53)

pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.

3. Perkolasi

Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Prinsip perkolasi yaitu kecuaali dinyatakan lain, perkolasi dilakukan sebagai berikut : 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dibasahi dengan 2,5 bagian sampai 5 bagian cairan penyari, lalu dimasukkan kedalam bejana tertutup sekurangkurangnya selama 3 jam. Massa dipindahkan sedikit demi sedikit kedalam perkolator sambil tiap kali ditekan hati-hati, dituangi dengan cairan penyari secukupnya sambil cairan mulai menetes dan diatas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari. Lalu perkolator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam. Setelah itu kran perkolator dibiarkan menetes dengan kecepatan 1 ml permenit (lambat) (Depkes RI, 2000).

Tujuan dari perkolasi adalah upaya zat berkhasiat tertarik seluruhnya dan biasanya dilakukan untuk zat berkhasiat yang tahan ataupun tidak tahan pemanasan.

4. Soxletasi

Soxhletasi adalah ekstraksi yang umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Depkes RI, 2000).

(54)

5. Destilasi Uap-air

(55)

G. Tinjauan Islami Tentang Manfaat Langit dan Bumi Beserta Isinya Allah SWT. Berfirman dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 29:



“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan dia maha mengetahui segala sesuatu” (Q.S. Al-Baqarah (2): 29) (Kementerian kenyataan bahwa banyak ayat Al-qur‟an dan hadits yang berkaitan dengan kesehatan. Seperti yang dijelaskan dalam ayat An-Naba‟ (78) ayat 13-15:

(56)

Terjemahnya :

“Dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan, air hujan yang tercurah dengan hebatnya. Untuk Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan” (Q.S. An- Naba‟(78): 13-15) (Kementerian Agama, 2014).

Ayat-ayat diatas menguraikan tentang langit serta manfaat yang diperoleh menusia dari penciptaannya. Allah SWT. Berfirman: Dan, di samping yang tersebut diatas, Kami juga telah bengun di atas kamu tujuh lapis langit yang kukuh dan dapat bertahan selama mungkin sampaikami menetapkan kerapuhannya, dan Kami telah menjadikan pelita, yakni matahari, yang sangat terang lagi menghasilkan panas sampai batas waktu yang kami kehendaki dan Kami telah menurunkan dari awan yang telah terkumpul padanya uap-uap dari laut air yang tercurah deras supaya Kami mengeluarkan, yakni tumbuhkan, dengannya, yakni dengan air itu, biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat, antara lain untuk menjadi bahan pangan manusia dan hewan.

(57)

Dalam pendangan islam dijelaskan bahwa segala yang diciptakan Allah SWT. dibumi ini termasuk tumbuh-tumbuhan ada manfaatnya. Allah SWT. berfirman dalam Q.S Asy-syu‟araa‟(26) ayat 7:

tumbuhkan di bumi itu berbagai macam pasangan (tumbuh-tumbuhan) yang baik (Q.S. Asysyu‟araa‟(26): 7)”(Kementerian Agama, 2014).

Pada firman-Nya pada ayat ini     awalam yarâ ilâ al-ardh/apakah mereka tidak melihat ke bumi merupakan kata yang mengandung makna batas akhir. Ia berfungsi memperluas arah pandangan hingga batas akhir. Dengan demikian, ayat ini mengundang manusia untuk mengarahkan pandangan hingga batas kemampuannya memandang sampai mencakup seantero bumi, dengan aneka tanah dan tumbuhannya dan aneka keajaiban yang terhampar pada tumbuh-tumbuhannya (Shihab, 2002).

(58)

menimbulkan rasa syukur dan semakin yakin akan tanda-tanda kekuasaan Allah (Shihab, 2002)

Kata () zauj berarti pasangan. Pasangan yang dimaksud ayat ini adalah pasangan tumbuh-tumbuhan karena tumbuhan muncul dicelah-celah tanah yang terhampar dibumi. Dengan demikian, ayat ini mengisyaratkan bahwa tumbuh tumbuhan pun memiliki pasangan-pasangan guna pertumbuhan dan perkembangannya. Ada tumbuhan yang memiliki benang sari dan putik sehingga menyatu dalam diri pasangannya dan dalam penyerbukannya ia tidak membutuhkan pejantan dari bunga lain, dan ada juga yang hanya memiliki salah satunya saja sehingga membutuhkan pasangannya. Yang jelas setiap tumbuhan memiliki pasangannya dan itu dapat terlihat kapan saja bagi siapa yang ingin menggunakan matanya. Karena itu, ayat di atas memulai dengan pertanyaan apakah mereka tidak melihat, pertanyaan yang mengandung unsur keheranan terhadap mereka yang tidak memfungsikan matanya untuk melihat bukti yang sangat jelas itu (Shihab, 2002).

Kata () karim antara lain digunakan untuk menggambarkan segala sesuatu yang baik bagi setiap objek yang disifatinya. Tumbuhan yang baik adalah paling tidak yang subur dan bermanfaat (Shihab, 2002).

Sebagaimana diriwayatkan oleh Abi Hurairah ra bahwa rasulullah bersabda :

Artinya :

Dari Abu Hurairah ra, dari nabi saw, bersabda ; “Allah tidak menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya”. (H.R. Al-Bukhari)

(59)

penyakit jasmani (Faiz. 1991). Penyakit jasmani sering muncul karena dipengaruhi oleh faktor penyakit rohani seperti berlebih-lebihan dalam makanan atau malas mengkonsumsi zat-zat yang gizi seperti vitamin dan sebagainya (Faiz. 1991).

(60)

47 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui potensi tabir surya pada ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis).

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Farmasi dan Laboratorium Kimia Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

B. Lokasi Pengambilan Sampel

Sampel pada penelitian ini diambil dari Kelurahan Malino Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa

C. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan eksperimental laboratorium. Penelitian dengan pendekatan eksperimental adalah suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel yang lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat.

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian

(61)

2. Sampel Penelitian

Pada penelitian ini digunakan sampel yaitu daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis)

E. Metode Pengumpulan Data 1. Pengolahan Sampel

Sampel daun binahong yang telah diambil dicuci bersih menggunakan air mengalir kemudian dipotong-potong kecil dan dikeringkan dengan menggunakan lemari pengering sehingga diperoleh simplisia daun binahong.

2. Ekstraksi Sampel

(62)

F. Alat dan Bahan 1. Alat

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah wadah maserasi, cawan porselin, gelas ukur, kuvet, labu tentukur, mikro pipet, neraca analitik, pipet tetes, spektrofotometer UV-Vis, dan deksikator vakum.

2. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah air suling, daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis), pelarut etanol 96%, etanol pro analisis.

G. Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data 1. Teknik Pengolahan Data

Data yang dikumpulkan adalah data primer yang didapat dari absorbansi yang diukur untuk penentuan potensi tabir surya. Pada penelitian ini potensi tabir surya ekstrak daun binahong ditentukan berdasarkan nilai SPF, persen transmisi eritema dan transmisi pigmentasi.

(63)

2. Analisis Data

a. Nilai Sun Protecting Factor (SPF) dihitung terlebih dahulu luas area dibawah kurva serapan (AUC) dari nilai serapan pada panjang gelombang 290-400 nm dengan interval 5 nm, Nilai AUC dihitung menggunakan rumus berikut

{AUC } = x d Pa - b dimana

Aa = absorbansi pada panjang gelombang a nm Ab = absorbansi pada panjang gelombang b nm dPa-b = selisih panjang gelombang a dan b

Nilai total AUC dihitung dengan menjumlahkan nilai AUC pada tiap segmen panjang gelombang. Nilai SPF masing-masing konsentrasi ditentukan menggunakan rumus berikut:

Log SPF = AUC/ λn- λ1

λn = panjang gelombang terbesar (dengan A>0,05 untuk ekstrak dengan

A>0,01 untuk sediaan

λ1 = panjang gelombang terkecil (290 nm)

Untuk memperoleh nilai SPF pada rentang panjang gelombang UV A dan UV B, terlebih dahulu ditentukan rata-rata nilai A pada interval aktivitas eritemogeniknya adalah interval panjang gelombang yang dapat diserap oleh bahan tabir surya yang dapat menyebabkan eritema yang dapat ditunjukkan dengan absorbansi sebesar 0,05 pada sampel tanpa pengenceran.

b. Nilai Persen Eritema

(64)

1. Nilai transmisi eritema adalah T.Fe. Perhitungan nilai transmisi eritema tiap panjang gelombang (panjang gelombang 292,5 – 372,5 nm).

2. Banyaknya fluks eritema yang diteruskan oleh bahan tabir matahari (Ee) dihitung dengan rumus : Ee = ΣT.Fe

3. Kemudian % transmisi eritema dihitung dengan rumus : % transmisi eritema =

Dimana :

T = Nilai transmisi Fe = Fluks eritema

Ee = ΣT. Fe = banyaknya fluks eritema yang diteruskan oleh ekstrak panjang gelombang 292,5 – 317,5 nm

c. Persen Transmisi Pigmentasi

Nilai persen transmisi pigmentasi dihitung dengan cara sebagai berikut : 1. Nilai transmisi pigmentasi adalah T.Fp. Perhitungan nilai transmisi

pigmentasi tiap panjang gelombang (panjang gelombang 322,5 – 372,5 nm).

2. Banyaknya fluks pigmentasi yang diteruskan oleh bahan tabir surya (Ep) dihitung dengan rumus Ep = ΣT.Fp

3. Kemudian % transmisi pigmentasi dihitung dengan rumus: % transmisi pigmentasi =

Dimana :

(65)

Ep = ΣT.Fp = banyaknya fluks pigmentasi yang diteruskan oleh ekstrak pada panjang gelombang 322,5 – 372,5 nm

Figur

Tabel
Tabel . View in document p.10
Gambar  Halaman
Gambar Halaman . View in document p.11
Gambar 1.Struktur kulit (Sumber: Kessel RG, 1998)
Gambar 1 Struktur kulit Sumber Kessel RG 1998 . View in document p.23
Tabel 1. Penggolongan potensi tabir surya
Tabel 1 Penggolongan potensi tabir surya . View in document p.38
Tabel 2. Faktor efektifitas fluks dan pigmentasi pada panjang gelombang 290- 375
Tabel 2 Faktor efektifitas fluks dan pigmentasi pada panjang gelombang 290 375 . View in document p.41
Tabel 4. Spektrum cahaya tampak dan warna-warna komplementer
Tabel 4 Spektrum cahaya tampak dan warna warna komplementer . View in document p.46
Tabel 5. Hasil ekstraksi daun Binahong (Anredera cordifolia Ten. Steenis)
Tabel 5 Hasil ekstraksi daun Binahong Anredera cordifolia Ten Steenis . View in document p.66
Tabel 8. Nilai Persen Transmisi Pigmentasi Daun Binahong
Tabel 8 Nilai Persen Transmisi Pigmentasi Daun Binahong . View in document p.67
Tabel 9. Data transmisi replikasi I
Tabel 9 Data transmisi replikasi I . View in document p.81
Tabel 11. Data transmisi replikasi III
Tabel 11 Data transmisi replikasi III . View in document p.82
Tabel 12. Data Transmisi replikasi I
Tabel 12 Data Transmisi replikasi I . View in document p.83
Tabel 14. Data Transmisi replikasi III
Tabel 14 Data Transmisi replikasi III . View in document p.84
Tabel 16. Data Transmisi replikasi II
Tabel 16 Data Transmisi replikasi II . View in document p.85
Tabel 19. Data Transmisi replikasi II
Tabel 19 Data Transmisi replikasi II . View in document p.87
Tabel 20. Data Transmisi replikasi III
Tabel 20 Data Transmisi replikasi III . View in document p.88
Tabel 21. Pengukuran Nilai SPF Konsentrasi 300 ppm
Tabel 21 Pengukuran Nilai SPF Konsentrasi 300 ppm . View in document p.89

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :