SEBARAN MEIOFAUNA SECARA VERTIKAL DARI PANTAI KE ARAH LAUT PADA ZONA LITORAL DI PERAIRAN DAERAH PULAU PUCUNG
Nelson Mandela
Mahasiswa Ilmu Kelautan, FIKP UMRAH, [email protected]
Ita Karlina
Program Studi Ilmu Kelautan, FIKP UMRAH, [email protected]
Henky Irawan
Program Studi Ilmu Kelautan, FIKP UMRAH, [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran dan jenis meiofauna interstisial secara vertikal dari pantai kearah laut, meliputi indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2016 sampai dengan Mei 2016, di zona litoral perairan daerah Pulau Pucung Desa Malangrapat Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan. Penentuan metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara purposive sampling. Sampling Meiofauna menggunakan transek kuadran dengan jarak 50 m dan jarak antar core 10 m serta ukuran core 10 × 5,08 cm2. Hasil penelitian diperoleh sebaran secara seragam, ditemukan 37 jenis meiofauna dari 3 filum. Indeks keanekaragaman tergolong tinggi. Indeks Keseragaman tergolong tinggi. Indeks Dominansi tergolong rendah, disimpulkan tidak ada yang mendominansi. Rata-rata nilai suhu perairan yaitu 28.4 oC, suhu poros yaitu 25.03 oC, derajat keasaman (pH) yaitu 7.55, salinitas yaitu 31.15‰, dan sedimen bertipe pasir.
THE DISTRIBUTION OF MEIOFAUNA VERTICALLY SEA COAST TO THE DIRECTION OF LITTORAL ZONE OF IN THE WATERS OF THE PUCUNG ISLAND
AREA
Nelson Mandela
Mahasiswa Ilmu Kelautan, FIKP UMRAH, [email protected]
Ita Karlina
Program Studi Ilmu Kelautan, FIKP UMRAH, [email protected]
Henky Irawan
Program Studi Ilmu Kelautan, FIKP UMRAH, [email protected]
ABSTRACT
This study to determine the distribution and type of interstitial meiofauna vertically from the shore towards the sea, include diversity index, uniformity index, and dominance index. This study was conducted in March 2016 until May 2016, in the littoral zone of regional waters Pucung Island Village Malarapat Districts of Gunung kijang Bintan District. Determination of the sampling method used in this research is purposive sampling. Meiofauna using transect sampling quadrant with a distance of 50 m and 10 m spacing between core and core size of 10 × 5,08 cm2. The results were obtained in a uniform distribution, found 37 species of meiofauna of 3 phylum. diversity index is high. uniformity index is high. dominance index is low, concluded no dominates. The average value of the water temperature is 28.4 oC, the temperature of the shaft is 25.03 oC, acidity is 7.55, salinity is 31.15‰, and sediment-type sand.
I. PENDAHULUAN
Pulau Pucung merupakan nama daerah yang letaknya berada di daratan Pulau Bintan bagian timur tepatnya berada di Desa Malang Rapat dan merupakan bagian wilayah administrasi dari kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau. Di kawasan pesisir daerah Pulau Pucung, terdapat kawasan litoral yang terletak diantara daratan dan lautan yang masih dipengaruhi oleh air pasang yang dikenal sebagai pantai laut (seashore). Wilayah ini akan terendam air laut pada saat pasang dan akan menjadi daerah terbuka saat air laut surut.
Dari keanekaragaman biotik perairan litoral yang ada, maka salah satu yang menarik untuk dikaji adalah meiofauna, yaitu suatu kelompok fauna bentos yang memiliki ukuran tubuh antara 63–1000 μm (0.063–1 mm) atau kelompok metazoa kecil yang berada di antara mikrofauna dan makrofauna. Organisme ini hidup dalam ruang interstisial yaitu ruang di antara partikel-partikel sedimen atau di sela-sela butiran sedimen (Higgins dan Thiel, 1988). Karena fauna ini hidupnya secara interstisial, maka di dalam penelitian ini disebut sebagai meiofauna interstisial.
Dikawasan pesisir pulau pucung terdapat ekosistem pantai yang bersubstrat pasir mulai dari yang paling halus hingga kerikil yang paling kasar yang menjadi habitat meiofauna interstisial. Diperairan pulau pucung memiliki tingkat aktivitas dan karakteristik lingkungannya seperti tipe substrat, kandungan bahan organik, serta kondisi lain seperti faktor kimia, fisika, dan biologi perairannya yang pada akhirnya perbedaan kondisi-kondisi seperti itu diduga
dapat mempengaruhi fungsi dan keberadaan meiofauna di alam secara vertikal. Aktivitas pemangsa juga dapat menyebabkan hilang nya meiofauna dari suatu daerah yang sempit dan menyebabkan gangguan yang dapat diikuti oleh suatu rangkaian pembentukan koloni. Hal ini menyebabkan terjadinya distribusi yang tidak merata di daerah dasar (Giere, 1993 dalam Zulkifli 2008).
Terbatasnya informasi mengenai pola sebaran meiofauna interstisial di pesisir pantai pulau pucung mendorong peneliti untuk mengetahui bagaimana pola sebaran meiofauna interstisial secara vertikal dari pantai kearah laut pada zona litoral diperairan daerah pulau pucung.
Mengingat belum tersedianya data awal mengenai pola sebaran meiofauna interstisial secara vertikal guna melengkapi data-data yang masih terbatas. Oleh karena itu ruang lingkup penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
Dibutuhkan informasi dan
pengetahuan tentang pola sebaran meiofauna interstisial secara vertikal dari pantai ke arah laut pada zona litoral diperairan daerah pulau pucung.
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui pola sebaran meiofauna interstisial secara vertikal yang hidup di zona litoral perairan daerah pulau pucung.
2. Mengetauhi jenis meiofauna
interstisial yang terdapat di zona litoral perairan daerah pulau pucung. Manfaat dari penelitian ini adalah diperolehnya data dan informasi mengenai pola sebaran meiofauna interstisial secara
vertikal yang hidup di zona litoral perairan daerah Pulau Pucung sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dibidang ekologi bentos, khususnya ekologi meiofauna interstisial.
II. TINJAUAN PUSTAKA Zona litoral
Pantai yang secara berkala mengalami perendaman dan pengeringan akibat pasang surut (pasut) yang di sebut mintakat litoral, menurut bagian yang terkena perendaman dan pengeringan, mintakat litoral dapat di bagi menjadi tiga mintakat utama yang menghubungkan daratan dan lautan, yakni litoral intertidal, atas litoral supralitoral, dan bawah litoral sublitoral. Mintakat atas litoral adalah bentangan pantai di atas mintakat litoral, yang selalu mengalami siraman air laut pada saat air laut pasang. Mintakat bawah litoral adalah mintakat di bawah mintakat pasang surut yang selalu terendam di bawah permukaan laut. Laut mintakat litoral tergantung pada kelandaian
daratan yang bersambung kelaut
(Rommimohtarto dan Juwana, 2007).
Meiofauna
Bentos adalah organisme dalam perairan, baik berupa hewan maupun tumbuan, baik yang hidup dipermukaan dasar maupun di dalam sedimen (Fachrul, 2007). Meiofauna adalah kelompok fauna bentos yang memiliki ukuran tubuh antara 63-1000 μm (0,063-1 mm) (Higgins dan Theil, 1988). Meiofauna merupakan oraganisme multiseluler akuatik yang umumnya bertubuh kecil memanjang dan hidup di antara pasir atau di dalam
permukaan lumpur (Geralch dalam Titoyo, 2009).
Menurut Rommimohtarto dan Juwana (2001), miofauna sendiri berdasarkan sifat hidupnya dapat dikelompokkan menjadi :
1. Meiofauna interstisial, yaitu meiofauna yang hidup di substrat perairan di antara sela-sela butiran sedimen.
2. Meiofauna emigran, yaitu meiofauna yang mempunyai kemampuan untuk meninggalkan sedimen.
3. Meiofauna epifit, yaitu
meiofauna yang hidupnya
menempel pada permukaan atas bawah daun.
III. METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2016 yang berlokasi di zona litoral perairan daerah Pulau Pucung Desa Malangrapat Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan. Lokasi penelitian dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini.
Gambar 2. Lokasi Penelitian di Daerah Pulau Pucung
Sumber : Data primer
Alat dan Bahan
Pengukuran parameter yang
berhubungan dengan penelitian ini, maka digunakan alat dan bahan seperti yang tertera pada tabel 1 berikut :
Tabel 1. Jenis Alat yang digunakan dalam penelitian
Sumber : (Data Primer)
Adapun bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Bahan yang digunakan dalam penelitian
Sumber : (Data Primer)
Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam
pengumpulan data adalah dengan
menggunakan metode survey yaitu
pengamatan langsung di lokasi penelitian (Soehartono, 1995 dalam Izuan 2015). Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer yang diobservasi ke lapangan meliputi parameter lingkungan perairan dan parameter biologi (Meiofauna interstisial).
Prosedur Penelitian
Penetuan Lokasi Penelitian
Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling yaitu pemilihan lokasi sampling dilakukan berdasarkan tujuan tertentu (Fachrul, 2007).
Pengambilan Sampel
Metode yang dugunakan dalam penelitian ini adalah metode line transect/transek garis yang ditarik dari bibir pantai sampai surut terendah kearah tubir pada zona litoral diperairan daerah Pulau Pucung.
Pengambilan sampel meiofauna interstisial pada zona litoral daerah pulau pucung menggunakan line transect yang setiap transek terdiri dari 5 pipa paralon atau core mulai dari pantai ke arah laut di area tanpa vegetasi (base area). 5 pipa paralon
atau core tersebut di beri tanda berupa angka 1 sampai 5, dimana angka 1 merupakan core yang berada di bibir pantai yang masih dipengaruhi pasang surut sampai dengan core yang ke 5 merupakan core yang berada di 50 meter dari pantai ke arah laut.
Penandaan ini bertujuan untuk
mempermudah dalam proses analisis data pola sebaran meiofauna interstisial dari pantai ke arah laut di perairan pulau pucung.
Prosedur pengambilan sampel meiofauna interstisial terdiri dari 4 langkah, yaitu sebagai berikut :
1. Pengambilan sempel dilakukan di area yang ditetapkan.
2. Sampel meiofauna interstisial diambil dengan cara menggunakan pipa paralon diameter 2 inchi (5,08 cm) yang dibenamkan ke substrat sedalam 10 cm (Akbar, 2015). 3. Sampel yang berhasil diambil
dimasukkan ke dalam kantong plastik untuk kemudian diberikan larutan lugol dan diberikan label. 4. Sampel kemudian dimasukkan ke
dalam cool box untuk kemudian
dibawa dan dianalisis di
laboratorium.
Berdasarkan hasil survey awal pada zona litoral diperairan daerah pulau pucung ditetapkan 10 garis transek yang setiap transek diberi tanda A, B, C, D, sampai J.
Penandaan ini bertujuan untuk
mempermudah dalam proses analisis data.
Identifikasi Sampel Meiofauna
Tahapan perlakuan sampel
meiofauna adalah sebagai berikut : a. Sampel yang telah diambil dilokasi
kemudian disaring dengan saringan bentos dengan diameter mesh 1mm
untuk memisahkan sampel dengan makrofauna dan butiran pasir yang besar.
b. Sedimen yang lolos di saringan tersebut kemudian disaring lagi dengan saringan berukuran 0.01 mm untuk membuang lumpur. Semua proses penyaringan tersebut dilakukan dengan menuangkan air yang steril untuk menghindari terjadinya kontaminasi oleh biota lain. Adapun air bersih destilasi yang digunakan adalah air aquades. c. Sedimen yang tertahan dalam
saringan kemudian dipindahkan ke object glass untuk selanjutnya diamati (identifikasi) guna untuk menententukan sebaran dan jumlah jenis meiofauna yang hidup. Adapaun meiofauna yang terdapat dalam sedimen hasil saringan adalah meiofauna yang menempati
ruang-ruang sedimen (meiofauna
interstisial).
d. Identifikasi dilakukan menggunakan mikroskop binokuler dengan perbesaran 80 kali.
e. Referensi identifikasi yang digunakan adalah dengan melihat di WoRMS (Word Register of Marine Species) www.marinespecies.org Pengukuran Parameter Lingkungan
Data parameter lingkungan yang diukur adalah suhu perairan dan suhu air poros, salinitas, pH dan ukuran butiran sedimen. Data parameter lingkungan ini akan digunakan sebagai data penunjang untuk mengetahui kondisi ekologi tempat hidup meiofauna dilokasi penelitian. Untuk
pengukuran parameter perairan dilakukan pada waktu pagi, siang, sore untuk suhu perairan sedangkan untuk suhu air poros nya dilakukan pada saat surut, dan pada pasang surut untuk salinitas dan pH.
Pengolahan Data Pola Sebaran
Untuk mengetahui pola persebaran meiofauna, sama seperti dengan pola sebaran gastropoda pada habitat tertentu yaitu digunakan persamaan Indeks Morisita ( Krebs,1989 dalam Adi, 2013).
Keterangan: Iδ: Indeks Penyebaran
N:Jumlah total individu yang diperoleh X: Jumlah individu setiap stasiun n: Jumlah stasiun
Hasil dari indeks morisita yang diperoleh dikelompokkan sebagai berikut: Id >I, untuk pola sebaran individu bersifat mengelompok
Id <I, untuk pola sebaran individu bersifat seragam
Id = I, untuk pola sebaran individu bersifat acak
Hasil data pola sebaran disetiap core yang ada pada setiap transek (A, B, C, D, hingga J dijumlahkan) kemudian akan dibandingkan antar core 1, core 2, core 3, core 4, hingga core 5 di mulai dari core yang berada di bibir pantai sampai ke core yang berada di 50 m ke arah laut.
Indeks Keanekaragaman
Indeks Keanekaragaman suatu biota air dapat ditentukan menggunakan teori
informasi Shannon-Wienner (H’).
keanekaragaman ditentukan berdasarkan indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner (Basmi,1999 dalam Fachrul, 2007) dengan rumus:
Diman a:
H’ = indeks keanekaragaman Shannon Wienner
pi = Jumlah individu jenis ke-1 (ni)/Jumlah total individu (N)
ni = Jumlah induvidu jenis ke-i N = Jumlah total individu S = Jumlah spesies Dengan nilai :
Nilai H’ > 3 keanekaragaman spesies tinggi Nilai H’ 1 ≤ H’ ≤ 3 keanekaragaman spesies
sedang
Nilai H’ < 1 keanekaragaman spesies rendah Hasil data indeks keanekaragaman disetiap nomor core yang sama dari 10 transek (core 1A, core 1B, sampai core 1J) akan dijumlahkan dan disajikan dalam bentuk tabel.
Indeks Keseragaman
Untuk mengetahui seberapa besar kesamaan penyebaran jumlah individu tiap jenis biota digunakan indeks keseragaman yaitu dengan rumus (Fachrul, 2007):
E = Indek keseragaman H’ = Indeks keanekaragaman S = jumlah spesies
E = 0 Kemerataan antara spesies rendah, artinya kekayaan individu yang dimiliki masing-masing spesies sangat jauh berbeda.
E = 1 Kemerataan antara spesies relative merata atau jumlah individu masing masing spesies relatif sama.
Hasil data indeks keanekaragaman disetiap nomor core yang sama dari 10 transek (core 1A, core 1B, sampai core 1J) akan dijumlahkan dan disajikan dalam bentuk tabel.
Indeks Dominansi
Untuk mengetahui adanya dominansi jenis tertentu diperairan dapat digunakan indeks dominansi dengan rumus:
Dimana :
D = Indeks dominansi
ni = Jumlah induvidu jenis ke-i N = Jumlah total induvidu
Nilai indeks dominasi berkisar 0 – 1 semakin bes ar nilai indeks semakin besar
cara membandingkan indeks
keanekaragaman dengan nilai
maksimumnya, dengan rumus Keseragaman (Fachrul, 2007).
Hasil data indeks keanekaragaman disetiap nomor core yang sama dari 10 transek (core 1A, core 1B, sampai core 1J) akan dijumlahkan dan disajikan dalam bentuk tabel.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Jenis Meiofauna Interstisial di Perairan Daerah Pulau Pucung
Hasil pengamatan meiofauna
interstisial yang di temukan di Zona Litoral Perairan Daerah Pulau Pucung desa Malang Rapat secara vertikal dari seluruh core ditemukan 37 spesies meiofauna interstisial dari 10 line transect yang diamati. Secara vertikal pada core 1 yang berjarak 10 meter dari bibir pantai, secara total dijumpai sebanyak 34 spesies meiofauna interstisial. Pada core 2 yang berjarak 10 meter dari core 1 kearah laut dijumpai sebanyak 29 spesies meiofauna interstisial, core 3 dijumpai 30 spesies, core 4 dijumpai 35 jenis, dan pada core 5 yang berjarak 40 meter dari core 1 kearah laut dijumpai 30 spesies meiofauna interstisial. Gambar meiofauna interstisial dapat di lihat pada lampiran 10 dan untuk melihat jenis nya yang ditemukan dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini :
Tabel 6. Jenis Meiofauna Interstisial yang ditemukan di Perairan Daerah Pulau Pucung Desa Malang Rapat Kabupaten
Sumber : Data Primer (2016) Keterangan : ( √ ) Ada
( - ) Tidak Ada
Dari 37 spesies meiofauna interstisial yang ditemukan diperairan daerah pulau pucung, filum Foraminifera paling banyak ditemukan sebanyak 34 spesies, diikuti filum Nematoda sebanyak 2 spesies dan yang paling sedikit filum Arthopoda sebanyak 1 spesies. Untuk lebih jelas dapat di lihat jumlah total pada tabel 7 dan komposisi jenis nya dapat di lihat pada gambar 7 di bawah ini :
Tabel 7. Jumlah Total Jenis Meiofauna Interstisial di Perairan Daerah Pulau Pucung Desa Malang Rapat
Sumber : Data Primer (2016) Keterangan : ( * ) Tertinggi
( ** ) Terendah
Untuk komposisi spesies meiofauna interstisial dapat di lihat pada gambar 7 di bawah ini :
Gambar 7. Komposisi spesies Meiofauna Interstisial di Zona Litoral Perairan Daerah Pulau Pucung.
Dari hasil analisis meiofauna interstisial pada gambar 7 diatas menunjukan bahwa jumlah total individu yang paling banyak ditemukan berasal dari jenis Triloculina frigida sebanyak 45 individu dengan komposisi 8.35%. Selain itu spesies yang paling sedikit jumlah total
individu berasal dari spesies
Psammosphaera fusca sebanyak 1 individu dengan komposisi 0.19% dari total spesies keseluruhan. Spesies Triloculina frigida dan spesies Psammosphaera fusca merupakan spesies dari filum Foraminifera.
Pola Sebaran Meiofauna Interstisial di Perairan Daerah Pulau Pucung
Berdasarkan hasil pengamatan pola sebaran dari 37 spesies miofauna interstisial yang ditemukan hidup secara acak, dapat di lihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 8. Pola Sebaran Meiofauna Interstsial di Zona Litoral Perairan Pulau Pucung
Core N ∑x2 N Id Sebaran 1 10 1532 122 0.96 Seragam 2 10 942 96 0.93 Seragam 3 10 1273 111 0.95 Seragam 4 10 1252 110 0.95 Seragam 5 10 1258 110 0.96 Seragam
Sumber : Data Primer (2016)
Berdasarkan tabel 13 hasil perhitungan pola sebaran meiofauna interstisial secara vertikal di zona litoral perairan daerah pulau pucung hidup secara seragam, artinya seluruh area sampling dapat dijumpai jenis meiofauna yang menumpuk pada area tertentu, namun terkadang hidup secara soliter (individual). Kondisi ini menggambarkan terjadi sebaran makanan pada sedimen.
Indeks Ekologi Meiofauna Interstisial di Perairan Daerah Pulau Pucung
Indeks ekologi menggambarkan besar angka kestabilan ekologi meiofauna interstisial di zona litoral perairan daerah pulau pucung. Hasil pengukuran indeks ekologi meiofauna interstisial dapat dilihat pada tabel 14 sebagai berikut :
Tabel 9. indeks ekologi meiofauna interstisial di perairan daerah pulau pucung
Sumber : Data Primer (2016)
Hasil perhitungan indeks
keanekaragaman (H’) Meiofauna Interstisial dari seluruh core di Zona Litoral perairan daerah Pulau Pucung mempunyai nilai keanekaragaman yang tinggi, yaitu berkisar antara 3.12-3.37.
Hasil perhitungan indeks
keseragaman atau kemerataan (E’) Meiofauna Interstisial dari seluruh core di Zona Litoral Daerah Pulau Pucung memiliki nilai keseragaman yang tergolong tinggi yaitu berkisar antara 0.91-0.95 atau mendekati 1.
Nilai indeks dominansi Meiofauna Interstisial dari keseluruhan core di Zona Litoral Daerah Pulau Pucung yang diperoleh berkisar antara 0.04-0.05.
Ketiga indeks (keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi) mencirikan bahwa kondisi perairan daerah pulau pucung masih layak bagi kehidupan Meiofauna interstisial.
Parameter Perairan di daerah Pulau Pucung
Parameter kualitas perairan yang di ukur dalam penelitian adalah parameter fisika dan kimia yang meliputi suhu perairan dan suhu air poros, derajat keasaman, dan salinitas. Hasil pengukuran parameter perairan daerah pulau pucung dapat dilihat pada tabel 14 di bawah ini :
Tabel 10. Parameter kualitas Perairan daerah Pulau Pucung
Parameter Satuan Rata – rata
Suhu perairan oC 28.4 Suhu air poros oC 25.03 Derajat keasaman - 7.55
Salinitas ‰ 31.15
Sumber : Data Primer (2016)
Suhu
Dari hasil nilai rata-rata suhu perairan pada 3 titik sampling di Zona litoral perairan daerah pulau pucung yaitu 28.4 oC dan suhu air poros yaitu 25.03 oC. Menurut KepMenLH No.52 Tahun 2004, secara umum suhu perairan normal untuk biota laut berkisar antara 28-30 oC. Heip et al. 1985 dalam Trisnawati 2012 menyatakan bahwa suhu berpengaruh terhadap waktu generasi
meiofauna, suhu optimum untuk
perkembangan meiofauna adalah 20 – 30 oC. Hal ini menunjukan bahwa suhu di perairan
pulau pucung sangat menunjang
pertumbuhan meiofauna interstisial.
Menurut Olafsson (1997) dalam Trisnawati (2012), mengatakan bahwa hubungan antara kepadatan meiofauna dengan suhu tidak berbeda nyata. Akan tetapi, untuk beberapa taksa, suhu mempengaruhi kepadatan meiofauna.
Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kehidupan meiofauna. Rata-rata nilai derajat keasaman di perairan pulau pucung desa malang rapat yaitu 7.55. Menurut KepMenLH No.52 Tahun 2004, secara umum pH normal untuk biota laut berkisar antara 7 – 8.5. Odum
(1997) dalam Indriyani (2014)
menambahkan umum nya derajat keasaman atau pH perairan berkisar antara 4 – 9 masih layak untuk kehidupan biota air termasuk meiofauna karena pH berperan dalam pengaturan respirasi dan sistem enzim. Fluktuasi pH dipengaruhi oleh fotosintesis dan dekomposisi bahan organik. Dalam hal ini dapat menunjukan bahwa kondisi pH di zona litoral perairan daerah pulau pucung desa Malang Rapat dapat menunjang pertumbuhan meiofauna.
Salinitas
Dari hasil pengukuran nilai rata-rata salinitas di zona litoral perairan pulau pucung yaitu 31.15‰. Menurut KepMenLH No.52 Tahun 2004, secara umum salinitas normal untuk biota laut berkisar antara 33-34‰. Secara umum meiofauna dapat hidup
dengan keragaman yang tinggi pada berbagai tipe salinitas di perairan yang berbeda mulai dari perairan tawar, payau hingga perairan laut (Odum 1971 dalam Trisnawati 2012). Menurut Giere (1993) dalam Trisnawati (2012) menyatakan, hal
ini dapat mengindikasikan bahwa
keragaman meiofauna yang tinggi di dalam komunitas nya, meiofauna memiliki keragaman fisiologis untuk beradaptasi terhadap berbagai tipe salinitas.
Meiofauna dapat beradaptasi terhadap salinitas yang tinggi dengan cara mengubah cairan tubuh nya sesuai konsentrasi garam di luar tubuh nya (Zulkifli 2008).
Ukuran Butiran Sedimen
Berdasakan analisis ukuran butir sedimen dari keseluruhan titik sampling atau core berdasarkan software Gradistat version 8.0 menunjukan bahwa di Zona Litoral perairan daerah Pulau Pucung desa Malang Rapat memiliki jenis sedimen pasir, pasir berlumpur,dan pasir berkerikil. Namun dilihat secara keseluruhan dominan pada jenis sedimen pasir. Presentasi ukuran butir pasir dan segitiga shepard dapat di lihat pada gambar di bawah ini :
Gambar 8. Segitiga shepard versi software Gradistat (boltt, 2010)
Ukuran butiran sedimen penting dalam mengontrol kemampuan sedimen menahan dan mensirkulasi air dan udara. Ketersediaan air dan oksigen dalam celah-celah sedimen diperlukan untuk kehidupan meiofauna. Sirkulasi melalui ruang pori sedimen penting karenan pergerakan air ini dapat memeperbaruai suplai oksigen dan suplai makanan serta dapat mencegah kondisi kekeringan bagi meiofauna (Nyabakken, 1992).
Menurut Natsir (2010) dalam Pranajaya (2015), menyatakan secara umum Foraminifera lebih banyak dijumpai pada sedimen yang di dominasi oleh pasir. Jumlah spesies semakin banyak pada daerah – daerah yang semakin dalam dan pada sedimen yang memiliki kadar pasir yang cukup tinggi. Nematoda juga banyak ditemukan di habitat berpasir (Indriyani 2004). Hal ini sesuai dengan kondisi di zona litoral perairan pulau pucung yang di dominansi oleh pasir dan spesies yang ditemukan ialah berasal dari filum Foraminifera, filum Nematoda, dan filum Arthopoda. Ini menunjukan bahwa kondisi sedimen perairan daerah pulau pucung desa Malang Rapat menunjang untuk kehidupan meiofauna interstisial.
Indeks Ekologi dan Sebaran Jenis Meiofauna secara Keseluruhan
Nilai indeks ekologi, keberadaan dan pola sebaran jenis meiofauna di perairan Pulau Pucung dapat dilihat secara lengkap pada gambar 8 dan skemanya dapat dilihat pada gambar 9 di bawah ini :
Gambar 9. Indeks ekologi dan sebaran meiofauna interstisial di zona litoral Perairan daerah pulau pucung
Keterangan : S = Sebaran
H’= Keanekaragaman E = Keseragaman D = Dominansi
SE= Sedimen (p=pasir/pbl=pasir berlumpur) Gambar 10. Sebaran, Indeks Ekologi, dan Karakteristik Sedimen
Analisis pola sebaran jenis meiofauana secara vertikal diperoleh pola sebaran secara seragam. Hasil ini membuktikan bahwa kondisi habitat meiofauna dan parameter perairan di daerah pulau pucung tidak berbeda secara signifikan atau kondisi nya cenderung sama.
Indeks ekologi (keanekaragman dan keseragaman) spesies meiofauna di perairan daerah pulau pucung yang tinggi mencirikan bahwa kondisi perairan dan kondisi sedimen sebagai tempat hidup masih layak dan belum mengalami gangguan yang serius. Dilihat dari pola sebaran jenis meiofauna secara kesuluruhan core tergolong seragam. Pola
sebaran seragam ini memberikan
kesempatan bagi biota meifauna untuk hidup pada seluruh area sedimen secara mengelompok atau pun soliter di Perairan daerah Pulau Pucung sehingga dan menggambarkan bahwa keseluruhan area sampling masih layak bagi kehidupan meiofauna. Dengan demikian, nilai
keanekaragaman spesies meiofauna
tergolong tinggi, didukung dengan nilai indeks keseragaman yang juga tinggi serta nilai indeks dominansi yang rendah. Pola sebaran yang seragam mencirikan kesesuain kondisi lingkungan yang masih tergolong baik sehingga nilai indeks ekologinya juga tergolong baik atau belum mengalami perubahan komposisi biota meifauna.
Jika dilihat dari gambar 8, tipikal sedimen di setiap core (core 1, core 2, core 3, core 4, dan core 5) yang didominasi oleh dua karakteristik sedimen pasir (p) dan pasir berlumpur (pbl) terlihat adanya perbedaan
nilai indeks keanekaragaman dan
keseragaman. Dari titik area dengan dominan jenis sedimen pasir berlumpur,
nilai indeks keanekaragaman dan
keseragaman mengalami penurunan
meskipun kategorinya masih tergolong
tinggi. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa semakin besar atau kasar ukuran butir sedimen maka keanekaragaman dan keseragaman jenis
meiofauna mengalami penurunan sedangkan untuk sebaran jenisnya tidak ada perbedaan dan kondisinya relatif sama.
Berdasarkan hasil pengamatan parameter perairan di zona litoral daerah pulau pucung , menunjukan bahwa nilai rata-rata suhu perairan (28.4 oC), suhu air poros (25.03 oC), dan pH (7.55). Menurut Boersman dan Haq (1984) dalam Rahadian (2012) menyatakan bahwa foraminifera dapat ditemukan pada kisaran suhu 10-30
o
C. Triloculina frigida dan Psammosphaera fusca merupakan spesies dari filum foraminifera. Menurut KepMenLH No.52 Tahun 2004, secara umum suhu perairan normal untuk biota laut berkisar antara 28-30 oC. Berkaitan dengan pH, Efendi (2003) menyatakan bahwa sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekita 7-8,5. Menurut KepMenLH No.52 Tahun 2004, secara umum pH normal untuk biota laut berkisar antara 7 – 8.5. Hal ini menunjukan bahwa perairan di zona litoral daerah pulau pucung sangat menunjang untuk kehidupan meiofauna interstisial.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pola sebaran meiofauna
interstisial secara vertikal di Zona Litoral di Perairan daerah Pulau Pucung berkategori sebaran seragam.
2. Meiofauna interstisial yang ditemukan sebanyak 37 spesies,
yang terbagi dalam 3 filum. Filum Foraminifera, filum Nematoda dan filum Arthopoda.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian pada Zona litoral perairan daerah pualu pucung mengenai sebaran meiofauna secara vertikal dari bibir pantai kaearah laut didapati pola sebaran jenis tidak ada perbedaan yaitu sebaran seragam. Sebaran yang sama menunjukkan bahwa tekstur sedimen tergolong sama yaitu pasir. Sehingga peneliti menyarankan bahwa perlu diteliti mengenai pola sebaran jenis meiofauna berdasarkan perbedaan sedimen di wilayah perairan yang sedimen nya berbeda.