KBK DAN KTSP
Disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum PAI
Dosen Dr. H. Imam Suraji, M.Ag
Oleh :
Kudung Isnaini 2052113023
PROGRAM PASCA SARJANA STRATA DUA (S-2) PAI
SEKOLAH TINGGI ILMU AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
KBK DAN KTSP
A. PENDAHULUAN
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam sistem pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa.
Kurikulum dan pengajaran merupakan dua hal yang tidak terpisahkan walaupun keduanya memiliki posisi yang berbeda. kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang memberikan arah dan tujuan pendidikan; serta isi yang harus dipelajari; sedangkan pengajaran adalah proses yang terjadi dalam interaksi belajar dan mengajar antara guru dan siswa. Dengan demikian, tanpa kurikulum sebagai sebuah rencana, maka pembelajaran atau pengajaran tidak akan efektif; demikian juga tanpa pembelajaran atau pengajaran sebagai implementasi sebuah rencana, maka kurikulum tidak akan memiliki arti apa-apa.1
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang kemudian dikenal dengan kurikulum 2004, merupakan salah satu model kurikulum yang berlaku di Indonesia sebagai konsekuensi diberlakukannya undang-undang tentang desentralisasi yang mengatur kewenangan pemerintah pusat dan daerah.2 KBK
merupakan pengembangan lanjut dari kurikulum-kurikulum sebelumnya (kurikulum 1975, 1984, 1993) yang sebenarnya memiliki akar yang sama yaitu Teknologi Pendidikan atau Teknologi Instruksional atau Sistem Instruksional. Salah satu ciri utama dari model kurikulum ini adalah dalam tujuannya, yang dirumuskan dalam bentuk perilaku yang diamati atau diukur (observable, measurable). Rumusan tujuan demikian disebut obyektif
1 Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran (Teori Praktik Pengembangan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. vii
(objective), dan obyektif ini dalam KBK dirumuskan dalam bentuk kompetensi.3
Kurikulum pendidikan yang berlaku secara nasional bukanlah suatu "harga mati" yang harus diterima dan dilaksanakan apa adanya, melainkan masih dapat dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan, sepanjang tidak menyimpang dari pokok-pokok yang telah digariskan secara, nasional. Berdasarkan PP Nomor 19 tahun 2005, juga Permendiknas Nomor 22-23 Tahun 2006 dan Permenag Nomor 2 tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, maka sekolah dan madrasah dituntut untuk mengembangkan sendiri kurikulumnya dengan memerhatikan kebutuhan dan potensi wilayah setempat. Oleh karena itu, maka kurikulumnya diberi nama dengan icon
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang merupakan hasil pengembangan dari standar minimal yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan di Indonesia yang diberikan oleh pemerintah.4
Sekolah sebagai pelaksana pendidikan baik pengawas, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan nonguru, maupun peserta didik sangat berkepentingan dan akan terkena imbasnya secara langsung dari setiap perubahan kurikulum. Di samping itu, orang tua, dan masyarakat pada umumnya, dunia usaha dan dunia industri, serta para birokrat, baik di pusat maupun di daerah akan terkena dampak dari perubahan kurikulum tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung.5 Baik itu perubahan dari
kurikulum 1975, 1984, 1993, atau kurikulum 2004 (KBK) sampai pada kurikulum 2006 (KTSP), ataupun hanya sekedar pengembangan dari kurikulum itu sendiri.
B. PEMBAHASAN
3 Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP – UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Bagian 2
Ilmu Pendidikan Praktis), (Bandung: Grasindo, 2007), hlm. 113
4 Ali Mudlofir, Aplikasi Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
dan Bahan Ajar dalam Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), hlm. v
Pemahaman akan konsep kurikulum, mutlak diperlukan bagi setiap orang yang berprofesi kependidikan termasuk guru, sebab kurikulum berfungsi sebagai alat dan pedoman dalam pelaksanaan proses pendidikan.6
Dalam pengertian tradisional, kurikulum didefinisikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan oleh siswa dalam periode waktu tertentu, untuk mencapai gelar/ijazah tertentu. Rumusan tersebut pada dasarnya sangat mengutamakan mata pelajaran sebagai isi daripada kurikulum. Sehingga dalam pandangan tradisional kurikulum sering diidentifikasikan dengan “rencana pelajaran”. Dipandang dari segi organisasi pun, kurikulumnya terdiri dari mata pelajaran yang masih terpisah-pisah satu sama lain.7
Seiring dengan berkembangnya jaman yang menuntut berbagai perubahan dalam segala bidang, serta dihadapkan pada berbagai tantangan yang semakin tak terelakkan lagi, maka, pendidikan perlu dilakukan penataan terhadap sistemnya secara utuh dan menyeluruh, terutama berkaitan dengan kualitas pendidikan, serta relevansinya dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.8 Sehingga, kurikulum bukan hanya sekedar rencana pelajaran
yang kurikulumnya masih terpisah-pisah antara satu pelajaran dengan yang lain, akan tetapi, kurikulumnya mencakup segala sesuatu yang dapat mempengaruhi pribadi anak/siswa dibawah tanggung jawab lembaga pendidikan.
Para ahli kurikulum seperti Harold Albert, Arden, Frandsen, Roinine, Killpatreck, Sarimuda Nasution, dan lain-lain, antara lain dapat disarikan pendapatnya sebagai berikut, yakni; Kurikulum itu seluas segala aspek kehidupan manusia dalam masyarakat modern ini, yang dapat dimasukkan ke dalam tanggung jawab lembaga pendidikan yang dapat dipergunakan untuk
6 Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam..., hlm. 1
7 Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Bagian 4
memperbaiki mengembangkan pribadi siswa serta memberi sumbangan untuk kehidupan masyarakat.9
1. Hakikat KBK dan KTSP
a. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat dalam penguasaan ilmu dan teknologi. Hal tersebut diharapkan dapat dijadikan landasan dalam pengembangan pendidikan di Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan, baik secara makro, meso, maupun mikro. Kerangka “makro” erat kaitannya dengan upaya politik yang ramai dibicarakan yaitu desentralisasi kewenangan dari pemerintah pusat ke daerah. Aspek “meso”nya berkaitan dengan kebijakan daerah tingkat provinsi sampai tingkat kabupaten. Sedangkan aspek “mikro” melibatkan seluruh sektor dan lembaga pendidikan yang paling bawah, tetapi terdepan dalam pelaksaannya, yaitu sekolah.10
Benny Susetyo, dalam Politik pendidikan penguasa mengatakan bahwa, Indonesia memang telah mengalami beberapa pergantian kurikulum. Tahun 1968 diganti kurikulum 1975, lalu kurikulum CBSA, dan digantikan oleh kurikulum 1994 yang kemudian diganti lagi menjadi KBK. Namun sayangnya, dari pergantian tersebut, tidak dijelaskan evaluasi terhadap tiap-tiap kurikulum itu, sehingga kita melihatnya sebagai suatu kebijakan yang terasa nuansa politiknya. Betapapun demikian, kita harus meletakkan semangat dasarnya, bahwa desentralisasi kurikulum memiliki makna signifikan bagi pengembangan demokrasi. Hanya saja, arah perencanaan perubahan kurikulum itu harus ditata sebaik mungkin untuk menghindari agar kebijakan itu tidak hanya merupakan selera penguasa yang akan
9 Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Bagian 4..., hlm. 151
10 E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional(Dalam Konteks Menyukseskan MBS
merubah manakala ia sudah turun tahta. Jadi, perubahan ini harus menyentuh aspek jangka panjangnya.11
Dari beberapa sumber dapat ditemukan bahwa kurikulum dapat dimaknai dalam tiga konteks, yaitu kurikulum sebagai sejumlah mata pelajaran, kurikulum sebagai pengalaman belajar, dan kurikulum sebagai perencanaan program belajar;
o Kurikulum sebagai mata pelajaran sering dihubungkan dengan usaha untuk memperoleh ijazah; sedangkan ijazah itu sendiri menggambarkan kemampuan. Sehingga, orang yang memperoleh ijazah adalah yang telah memperoleh kemampuan sesuai standar yang ditentukan.12
o Pengertian kurikulum sebagai pengamalaman belajar, mengandung makna bahwa kurikulum adalah seluruh kegiatan yang dilakukan siswa baik di dalam maupun di luar sekolah asal kegiatan tersebut berada di bawah tanggung jawab guru (sekolah).13
o Kurikulum sebagai perencanaan program belajar bukan hanya berisi tentang program kegiatan semata, akan tetapi berisi tujuan yang harus ditempuh beserta alat evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian tujuan, disamping itu juga berisi tentang alat atau media yang diharapkan dapat menunjang terhadap tercapainya tujuan.14
Perencanaan tersebut bermakna sangat kompleks, sehingga dalam tatanan managemen, perencanaan menampati fungsi pertama dan utama di antara fungsi manajemen lainnya.15 Hal ini sejalan
dengan UU No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab 1 Pasal 1 Ayat 19, bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana
11 Benny Susetyo, Politik Pendidikan Penguasa, (Yogyakarta: LkiS Yogyakarta, 2005), hlm. 27-28, baca juga dalam E. Mulayasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional (Dalamm Konteks Menyukseskan MBS dan KBK), 2009, hlm. 62-64
12 Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi..., hlm. 2 13 Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi..., hlm. 3 14 Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi..., hlm. 5
15 Udin Syaefuin Sa’ud dan Abin Syamsuddin Makmun, Perencanaan Pendidikan (Suatu
dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.16
Landasan KBK
a) Pancasila sebagai landasan Filosofi pengembangan kurikulum Nasional.
Sebagai suatu sistem kurikulum nasional, KBK mengakomodasikan berbagai perbedaan secara tanggap budaya dengan memadukan berbagai kepentingan dan kemampuan daerah. KBK menerapkan strategi yang meningkatkan kebermaknaan pembelajaran untuk semua peserta didik terlepas dari latar budaya, etnik, agama dan gender melalui pengelolaan kurikulum berbasis sekolah.
Dalam rekonseptualisasi kurikulum ini digunakan landasan filosofi pendidikan Pancasila sebagai dasar pengembangan kurikulum. Pancasila sangat relevan untuk penerapan filosofi pendidikan yang mendunia seperti empat pilar belajar (learning to be, learning to know, learning to do, dan learning to life together). b) TAP MPR No. IV/MPR/1999/BAB IVE
c) GBHN (1999-2004) bab V tentang “Arah Kebijakan Pendidikan” d) UU RI No. 22 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah No. 25
Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah yang substansinya menuntut perubahan dalam pengelolaan pendidikan dari yang bersifat sentralistik. Pergeseran pola sentralisasi ke desantralisasi dalam pendidikan ini merupakan upaya pemberdayaan daerah dan sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan, terarah dan menyeluruh.
16 Kumpulan Peraturan Lingkup Pendidikan Nasional 3 (Undang-undang Republik
e) UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.17
Ciri-ciri KBK
Depdiknas (2002) mengemukakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi memiliki karakteristik sebagai berikut:
a) Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik secara individual maupun klasikal.
b) Berorientasi pada hasil belajar dan keragaman.
c) Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
d) Sumber belajar bukan dari guru saja, tetapi juga sumber belajar yang lain yang memenuhi unsur edukasi.
e) Penilaian menekankan pada proses dan hasil dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.18
Dari sumber lain sedikitnya dapat diidentifikasikan enam karakteristik yang perlu diperhatikan dalam kurikulum berbasis kompetensi, yaitu sistem pembelajaran individual dengan modul atau paket belajar; menggunakan sumber belajar yang bervariasi; menekankan pada pengalaman lapangan; menggunakan strategi belajar individual personal; memberikan kemudahan belajar; dan pengembangan model belajar tuntas.19
17 Endang Widuri, "Perbandingan Pengajaran Dengan Menggunakan KBK (Kurikulum
Berbasis Kompetensi) dan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)." Jurnal Basastra 1, no. 1 (2012)
18 Mimin Haryati, Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi (Teori dan Praktek), (Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta, 2007), hlm. 5
b. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Seperti halnya KBK, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum setelahnya yang dijadikan rujukan sekaligus sebagai penyempurna dari kurikulum berbasis kompetensi (KBK) oleh para pengembang kurikulum di tingkat satuan pendidikan. Kurikulum ini lahir dari semangat otonomi daerah, di mana urusan pendidikan tidak semuanya tanggung jawab pusat, akan tetapi sebagian menjadi tanggung jawab daerah, oleh sebab itu, dilihat dari pola model pengembangannya, KTSP merupakan salah satu model kurikulum yang bersifat desentralistik.20 Dengan harapan, melalui KTSP ini
pemerintah berharap jurang pemisah yang semakin menganga antara pendidikan dan pembangunan, serta kebutuhan dunia kerja dapat segera diatasi.21
Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP Pasal 1, Ayat 15), dijelaskan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memerhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).22
Beberapa hal yang perlu di pahami dalam kaitannya dengan KTSP adalah sebagai berikut:
- KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan karakteristik daerah, serta sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik.
- Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi
20 Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran..., hlm. 127
21 E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis), (Bndung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hlm. 19
dinas pendidikan kabupaten/kota, dan departemen agama yang bertanggungjawab di bidang pendidikan.
- KTSP untuk setiap program studi di perguruan tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.
KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi.23 Selain
itu, KTSP merupakan suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang diletakkan pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran, yakni sekolah dan satuan pendidikan. Pemberdayaan sekolah dan satuan pendidikan dengan memberikan otonomi yang lebih besar, di samping menunjukkan sikap tanggap pemerintah terhadap tuntutan masyarakat juga merupakan sarana peningkatan kualitas, efisiensi, dan pemerataan pendidikan.24 Pengembangan kurikulumnya dilakukan oleh
guru, kepala sekolah, serta komite sekolah dan dewan pendidikan.25
Meskipun KTSP tahun 2006 ini sebagai pengganti dari kurikulum sebelumnya yaitu KBK 2004, akan tetapi KTSP ini tidak dapat dipisahkan dari kurikulum sebelumnya yaitu KBK, karena KTSP sebenarnya merupakan penyempurnaan dari KBK, KBK merupakan embrio bagi KTSP. Kedua kurikulum KBK dan KTSP sama-sama berangkat dari asumsi bahwa pengajaran harus diarahkan untuk membentuk kecakapan tertentu siswa (kompetensi) baik yang berkenaan dengan kompetensi kognitif, psikomotorik, maupun afektif. Oleh karena itu, istilah kompetensi yang digunakan dalam KBK 2004 juga masih dipakai dan dipertahankan oleh KTSP karena arah pembelajaran KBK dan KTSP sama-sama menekankan pada pencapaian kompetensi siswa.26
23 E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 20 24Ibid., hlm. 21
25Ibid., hlm. 21-22
Perubahan kurikulum dari kurikulum KBK menjadi KTSP, bukan berarti menjadikan kurikulum KTSP menjadi sempurna secara keseluruhan, perubahan itu akan terus tampak dan akan selalu berkembang sesuai dengan kondisi dan permintaan jaman. Karena setiap kurikulum itu memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Sebagai contoh kurikulum 2006 (KTSP), yang dalam implementasinya ternyata ditemukan beberapa kelemahan-kelemahan, diantaranya:
- Isi dan pesan-pesan kurikulum masih terlalu padat, yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak
- Kurikulum belum mengembangkan kompetensi secara utuh sesuai dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional
- Kompetensi yang dikembangkan lebih didominasi oleh aspek pengetahuan, belum sepenuhnya menggambarkan pribadi peserta didik (pengetahuan, keterapilan, dan sikap)
- Berbagai kompetensi yang diperlukan sesuai dengan perkembangan masyarakat, seperti pendidikan karakter, kesadaran lingkungan, pendekatan dan metode pembelajaran konstruktifistik, keseimbangan soft skills and hard skills, serta jiwa kewirausahaan, belum terakomodasi di dalam kurikulum
- Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap berbagai perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global. - Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan
- Penilaian belum menggunakan standar penilaian berbasis kompetensi, serta belum tegas memberikan layanan remediasi dan pengayaan secara berkala.27
Jadi, kita juga dihadapkan pada berbagai permasalahan yang melibatkan pelajar dan mahasiswa, seperti perkelahian pelajar, perjudian, penyalahgunaan obat terlarang, narkoba, korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), plagiarisme, kebocoran dan berbagai kecurangan dalam ujian.28 Dimana hal ini perlu penanganan yang serius, karena
pendidikan merupakan salah satu solusi yang bisa digunakan untuk menghadapi berbagai masalah serta tantangan di atas.
Landasan Pengembangan KTSP
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dilandasi oleh undang-undang dan peraturan pemerintah sebagai berikut.
a) UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. b) PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. c) Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
d) Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
e) Permendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan permendiknas No. 22, dan 23.29
Ciri-ciri KTSP
KTSP merupakan bentuk operasional pengembangan kurikulum dalam konteks desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah, yang akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. Hal ini diharapkan dapat membawa dampak terhadap peningkatan efisiensi dan efektivitas kinerja sekolah, khususnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Dari sini dapat dikemukakan beberapa karakteristik KTSP sebagai berikut:
a) Pemberian otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan; KTSP memberi kebebasan kepada tiap-tiap sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah, kemampuan peserta didik, sumber daya yang tersedia dan kekhasan negara.
b) Partisipasi masyarakat dan orang tua yang tinggi; pelaksanaan kurikulum didukung oleh partisipasi masyarakat dan orang tua peserta didik yang tinggi.
c) Kepemimpinan yang demokratis dan profesional; pengembangan dan pelaksanaan kurikulum didukung oleh adanya kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional.
d) Tim-Kerja yang kompak dan transparan; keberhasilan pengembangan kurikulum dan pembelajaran didukung oleh kinerja tim yang kompak dan transparan dari berbagai pihak yang terlibat dalam pendidikan.30
2. Tujuan KBK dan KTSP a) KBK
Tujuan utama KBK adalah memandirikan atau memberdayakan sekolah dalam mengembangkan kompetensi yang akan disampaikan kepada peserta didik, sesuai dengan kondisi lingkungan. Pemberian wewenang (otonomi) kepada sekolah diharapkan dapat mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif. Di samping lulusan yang kompeten, peningkatan mutu dalam KBK antara lain akan diperoleh melalui reformasi sekolah (school reform), yang ditandai dengan meningkatnya partisipasi orang tua, kerjasama dengan dunia industri, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru, adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol, serta hal lain yang dapat menumbuhkembangkan budaya mutu dalam suasana yang kondusif. Pemerataan pendidikan tampak pada
pertumbuhan partisipasi masyarakat terutama yang mampu dan perduli, sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggung jawab pemerintah.31
b) KTSP
Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum.
Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk:
- Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia.
- Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.
- Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.32
3. Perlunya perubahan dalam kurikulum
Dalam suatu sistem pendidikan, kurikulum itu sifatnya dinamis serta harus selalu dilakukan perubahan dan pengembangan, agar dapat mengikuti perkembangan dan tantangan zaman. Meskipun demikian, perubahan dan pengembangannya harus dilakukan secara sistematis dan terarah, tidak asal berubah.33 Selain itu, perubahan dan pengembangan
kurikulum diperlukan karena adanya beberapa kesenjangan kurikulum yang sedang berlaku.34 Sebagaimana perubahan kurikulum dikarenakan
memiliki beberapa kelemahan dan kekurangan, baik dari segi substansi
31 E. Mulayasa, Menjadi Kepala Sekolah ..., hlm. 63-64 32 E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan..., hlm. 22 33Ibid., hlm. 59
maupun pendekatan dan organisasi kurikulum.35 Sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni yang berlangsung cepat dalam era global dewasa ini, dapat diidentifikasikan beberapa kesenjangan kurikulum sebagai berikut.36
KONDISI SAAT INI KONSEP IDEAL
A. KOMPETENSI LULUSAN A. KOMPETENSI LULUSAN 1. Belum sepenuhnya menekankan
B. MATERI PEMBELAJARAN B. MATERI PEMBELAJARAN 1. Belum relevan dengan
kompetensi yang dibutuhkan 1. Relevan dengan materi yang dibutuhkan 2. Beban belajar terlalu berat 2. Materi esensial
3. Terlalu luas, kurang mendalam 3. Sesuai dengan tingkat perkembangan anak
C. PROSES PEMBELAJARAN C. PROSES PEMBELAJARAN 1. Berpusat pada guru 1. Berpusat pada peserta didik 2. Proses pembelajaran berorientasi
pada buku teks
2. Sifat pembelajaran yang kontekstual
3. Buku teks hanya memuat materi
bahasan 3. Buku teks memuat materi dan proses pembelajaran, sistem penilaian serta kompetensi yang diharapkan
D. PENILAIAN D. PENILAIAN
1. Menekankan aspek kognitif 1. Menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik secara proporsional
2. Tes menjadi cara penilaian yang dominan
2. Penilaian tes pada portofolio saling melengkapi
E. PENDIDIK DAN TENAGA
KEPENDIDIKAN E. PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN 1. Memenuhi kompetensi profesi
saja 1. Memenuhi kompetensi profesi, pedagogi, sosial, dan personal 2. Fokus pada ukuran kerja PTK 2. Motivasi mengajar
F. PENGELOLAAN KURIKULUM
F. PENGELOLAAN KURIKULUM
1. Satuan pendidikan mempunyai 1. Pemerintah pusat dan daerah
35 Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP – UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Bagian
2..., hlm. 248
pembebasan dalam pengelolaan
kurikulum memiliki kendali kualitas dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan
Sumber: Materi Uji Publik Kurikulum 2013
4. Implementasi Kurikulum dalam Pendidikan a. Implementasi KBK di Sekolah
Implementasi kurikulum berbasis kompetensi sedikitnya akan dipengaruhi oleh tiga faktor berikut:
1) Karakteristik kurikulum; yang mencakup ruang lingkup ide baru suatu kurikulum dan kejelasannya bagi pengguna di lapangan 2) Strategi implementasi; yaitu strategi yang digunakan dalam
implementasi, seperti diskusi profesi, seminar, penataran, loka karya, penyediaan buku kurikulum, dan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong penggunaan kurikulum di lapangan.
3) Karakteristik pengguna kurikulum, yang meliputi pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap guru terhadap kurikulum, serta kemampuannya untuk merealisasikan kurikulum (curriculum planning) dalam pembelajaran.
Di sisi lain, Mars (1980) mengemukakan tiga faktor yang mempengaruhi implementasi kurikulum, yaitu dukungan kepala sekolah, dukungan rekan sejawat guru, dan dukungan internal yang datang dari dalam diri guru sendiri.37 implementasi KBK di sekolah
merupakan pengembangan kurikulum padda tingkat lembaga (institusional) yang akan bermuara pada pengembangan kurikulum pada tingkat bidang studi (penyusunan silabus) dan pelaksanaan proses
pembelajaran (actual curriculum). Dalam hal ini, implementasi KBK mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi sebagai berikut.38
b. Implementasi KTSP
Dalam bukunya yang berjudul “Curriculum: Perspective, Paradigm, and Possibility”, Schubert, sebagaimana yang dikutip oleh Hasan, mengemukakan delapan wilayah kajian studi krikulum. Salah satunya adalah implementasi kurikulum.39 Sebagai suatu bidang studi
yang mandiri, implementasi kurikulum memiliki tujuan dan prosedur sendiri.
Implementasi kurikulum juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum tertulis (written curriculum) dalam bentuk pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan apa yang diungkapkan Miller dan Seller, sebagaimana yang dikutip oleh Mulyasa, bahwa, “in some cases implementation has been identified with instruction…” (dalam beberapa kasus implementasi telah diidentifikasi dengan instruksi). Lebih lanjut dijelaskan bahwa implementasi kurikulum merupakan suatu proses penerapan konsep, ide, program, atau tatanan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran atau aktivitas-aktivitas baru sehingga terjadi perubahan pada sekelompok orang yang diharapkan untuk berubah.40
Implementasi KTSP adalah bagaimana menyampaikan pesan-pesan kurikulum kepada peserta didik untuk membentuk kompetensi mereka sesuai dengan karakteristik dan kemampuan masing-masing. Tugas guru dalam implementasi KTSP adalah bagaimana memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, agar mereka mampu berinteraksi dengan lingkungan eksternal sehingga terjadi perubahan perilaku sesuai dengan yang dikemukakkan dalam standar isi (SI) dan Standar kompetensi lulusan (SKL).
38 E. Mulayasa, Menjadi Kepala Sekolah ..., hlm. 57
39 Hasan, Evaluasi Kurikulum, (Jakarta: Depdikbud, Dirjendikti. PPLPTK, 1988)
Implementasi kurikulum setidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu sebagai berikut:
a) Karakteristik kurikulum; yang mencakup ruang lingkup ide baru suatu kurikulum dan kejelasannya bagi pengguna di lapangan. b) Strategi implementasi; yaitu strategi yang digunakan dalam
implementasi, seperti diskusi profesi, seminar, penataran, loka karya, penyedia buku kurikulum, dan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong penggunaan kurikulum dilapangan.
c) Karakteristik pengguna kurikulum, yang meliputi pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap guru terhadap kurikulum, serta kemampuannya untuk merealisasikan kurikulum dalam pembelajaran.41
Implementasi KTSP akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran yakni bagaimana agar isi atau pesan-pesan kurikulum (SK-KD) dapat dicerna oleh peserta didik secara tepat dan optimal. Guru harus berupaya agar peserta didik dapat membentuk kompetensi dirinya sesuai dengan apa yang digariskan dalam kurikulum (SK-KD), sebagaimana dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Dalam hal ini akan terjadi interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam hal ini tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku tersebut. Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga kegiatan, yakni pembukaan, pembentukan kompetensi dan penutup.
C. PENUTUPAN
Perubahan kurikulum harus disikapi secara positif dengan mengkaji dan memahami implementasinya di sekolah, serta berbagai faktor yang mempengaruhinya, termasuk memahami kekuatan dan kelemahannya dalam kurikulum tersebut. Jika tidak, maka kita hanya akan bermain-main saja dengan perubahan kurikulum.
Keberhasilan atau kegagalan implementasi kurikulum disekolah sangat bergantung pada guru dan kepala sekolah, karena dua figur tersebut merupakan kunci yang menentukan serta menggerakan berbagai komponen dan dimensi sekolah yang lain. Dalam posisi tersebut baik buruknya komponen sekolah yang lain sangat ditentukan oleh kualitas guru dan kepala sekolah, tanpa mengurangi arti penting tenaga kependidikan lainnya, mereka dituntut untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaraan (RPP) berdasarkan Kompetensi Dasar (KD) yang dapat digali dan dikembangkan oleh peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Hasan, Evaluasi Kurikulum, (Jakarta: Depdikbud, Dirjendikti. PPLPTK, 1988)
Haryati, Mimin, Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi (Teori dan Praktek),
(Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta, 2007)
Kumpulan Peraturan Lingkup Pendidikan Nasional 3 (Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen), Cetakan September 2010.
Mudlofir, Ali, Aplikasi Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Bahan Ajar dalam Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011)
Mulyasa, E, Menjadi Kepala Sekolah Profesional(Dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK), (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009)
__________, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013)
__________, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis),
(Bndung: PT Remaja Rosdakarya, 2010)
__________, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Cet.2; (Jakarta: Bumi Aksara, 2009)
Sa’ud, U.S. dan Abin Syamsuddin Makmun, Perencanaan Pendidikan (Suatu Pendekatan Komprehensif), (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009)
____________, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Kencana, 2011)
Susetyo, Benny, Politik Pendidikan Penguasa, (Yogyakarta: LkiS Yogyakarta, 2005)
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP – UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Bagian 2 Ilmu Pendidikan Praktis), (Bandung: Grasindo, 2007)
______________, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Bagian 4 Pendidikan Lintas Bidang), (Jakarta: Grasindo, 2007)