• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAKUAN BAHASA MIMI modem di dunia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMBAKUAN BAHASA MIMI modem di dunia"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBAKUAN BAHASA

Kebijaksanaan bahasa dapat memilih dan menentukan sebuah bahasa dari sejumlah bahasa yang ada dalam suatu Negara untuk dijadikan bahasa nasional atau bahasa resmi kenegaraan dari Negara tersebut. Kemudian perencanaan bahasa dapat memilih dan menentukan ragam bahasa dari ragam-ragam yang ada pada bahasa yang sudah dipilih untuk menjadi ragam baku atau ragam standar bahasa tersebut. Prosese pemilihan satu ragam bahasa untuk dijadikan ragam bahasa resmi kenegaraan maupun kedaerahan, serta usaha-usaha pembinaan dan pengembangannya, yang biasa dilakukan terus-menerus tanpa henti, disebut pembakuan bahasa atau standarisasi bahasa. Pembakuan atau standarisasi bahasa adalah pemilihan acuan yang dianggap paling wajar dan paling baik dalam pemakaian komunikatif yang tinggi, yang digunakan dalam kepentingan nasional, dalam situasi resmi atau dalam lingkungan resmi dan pergaulan sopan yang terikat oleh tulisan baku, ejaan baku, serta lafal baku. Bahasa baku tersebut merupakan ragam bahasa yang terdapat pada bahasa bersangkutan. Halim (1980) mengatakan bahwa bahasa baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan diakui oleh sebagian kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya. Sedangkan ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma bahasa baku. Sebagai kerangka rujukan, ragam baku ditandai oleh norma dan kaidah yang digunakan sebagai pengukur benar atau tidaknya penggunaan bahasa.

Dari pendapat di atas bisa kita tarik benang merah bahwa bahasa baku itu merupakan bahasa yang sudah diatur atau dilembagakan oleh sebuah lembaga yang berwenang semisal di Indonesia yaitu Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Bahasa baku ini memiliki keistimewaan melebihi ragam bahasa yang lain dan bahasa baku sebagai bahasa yang digunakan dalam sebuah konstitusi, digunakan diacara yang bersifat kenegaraan, dan digunakan sebagai bahasa pengantar pendidikan dan sebagainya.

Menurut Garvin dan Mathiot (1956;786-787) mengatakan selain berfungi sebagai bahasa untuk situasi resmi, ragam bahasa baku juga memiliki fungsi yang bersifat social politik, yaitu fungsi pemersatu, fungsi pemisah, fungsi harga diri, dan fungsi kerangka acuan.

(2)

Fungsi pemisah di sini dimaksudkan bahwa bahasa baku itu dapat memisahkan atau membedakan penggunaan ragam bahasa tersebut sesuai situasi formal dan yang tidak formal. Para penutur bahasa harus mampu menentukan ragam bahasa mana yang sesuai digunakan pada satu situasi dan situasi yang berbeda.

Fungsi harga diri diartikan bahwa pemakai bahasa baku itu akan memiliki perasaan harga diri yang lebih tinggi daripada yang tidak dapat menggunakannya, sebab ragam bahasa baku biasanya tidak dapat dipelajari di lingkungan keluarga atau lingkungan hidup sehari-hari. Ragam bahasa baku hanya dapat dipelajari melalui pendidikan formal, yang tidak menguasai ragam bahasa baku tentunya tidak dapat memasuki situsi formal, dimana ragam bahasa baku harus digunakan. Fungsi harga diri di atas sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Fishman (1970), bahasa baku mencerminkan cahaya kemuliaan, sejarah, dan keunikan seluruh rakyat. Ragam bahasa baku juga merupakan lambing atau symbol suatu masyarakat tutur.

Selanjutnya, fungsi kerangka acuan adalah bahwa bahasa baku itu akan dijasikan tolok ukur untuk norma pemakaian bahasa yang baik dan benar secara umum.

Keempat fungsi di atas dapat dilakukan oleh bahasa baku kalau ragam bahasa baku itu telah memiliki tiga ciri yang sangat penting, yaitu kemantapan yang dinamis, kecendikian, dan kerasionalan.

a. Kemantapan dan Kedinamisan

Mantap artinya sesuai atau taat dengan kaidah bahasa. Kata rasa, misalnya kalau dibubuhi imbuhan pe- maka terbentuklah kata jadian perasa. Begitu juga kata raba. Kata tersebut bila dibubuhi imbuhan pe- maka akan terbentuk kata jadian peraba. Kata rajin juga demikian. Kalau kita taat asas maka kita akan mengatakan pengaji bukan pengkaji untuk orang yang melakukan kajian (research). Dinamis artinya tidak statis alias tidak kaku. Bahasa baku tidak menghendaki bentuk yang kaku, apalagi mati. Kata langganan mempunyai makna ganda, yaitu orang yang berlangganan dan tokohnya disebut langganan dan orang yang berlangganan di tokoh itu disebut pelanggan.

b. Kecendikiaan atau Kerasionalan

Ragam baku bersifat cendikia karena ragam baku dipakai di tempat-tempat resmi dan oleh orang terpelajar. Selain itu, ragam baku dapat menjembatani antar pengguna, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam pemerosesan pesan. Dapat juga dikatakan ragam baku memberikan gambaran apa yang ada di dalam otak pembicara atau penulis, serta memberikan gambaran yang jelas dalam otak pendengar atau pembaca.

Contoh kalimat yang tidak cendikia: 1) Dukun beranak di jalan.

2) Saya akan membeli buku sejarah baru.

3) Permasalahan itu telah disampaikan berulang kali.

(3)

pasangan kata –yang cocok. Perbaikan kata yang kurang tepat itu adalah berulang-ulang atau berkali-kali.

c. Keseragaman

Pada hakikatnya pembakuan bahasa berarti penyeragaman bahasa. Dengan kata lain, pembakuan bahasa artinya pencarian atau penentuan titik-titik keseragaman. Sebagai contoh, sebutan pelayanan kapal terbang dianjurkan mengguanakan istilah pramugara untuk laki-laki dan pramugari untuk perempuan. Andai kata ada orang yang menggunakan kata steward/stewardes dan penyerapan itu seragam, maka kata-kata tersebut menjadi kata-kata baku. Akan tetapi, kenyataannya hingga saat ini kedua kata tersebut tidak kita gunakan dalam konteks keindonesiaan.

b. Pemilihan Ragam Baku

Moeliono (1972:2) mengatakan bahwa pada umumnya yang layak dianggap baku adalah ujaran dan tulisan yang dipakai oleh golongan masyarakat yang paling luas pengaruhnya dan paling besar kewibawaannya. Termasuk di dalamnya para pejabat negara, para guru, warga media massa, alim ulama, dan cendikiawan. Dalam pemilihan ragam baku A. Chaer dan L. Agustina mengutip Baradja(1975) ada beberapa kriteria yang hendak diperhatikan, yaitu otoritas, bahasa penulis-penulis terkenal, demokrasi, logika, dan bahasa orang-orang yang dianggap terkemuka dalam masyarakat. Selain kriteria yang harus diperhatikan, A. Chaer dan L. Agustina(2010) juga memyajikan faktor pendukung dan sarana yang bisa membantu dalam usaha pembakuan bahasa, yaitu pendidikan, industri buku, perpustakaan, administrasi Negara, media massa, tenaga, dan penelitian.

Adapaun penggunaan bahasa ragam baku digunakan pada: a. Surat menyurat antarlembaga.

(4)

baku itu, seseorang tidak diketahui secara linguistik dari mana ia berasal. Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam berbahasa Indonesia baku, ia tidak terpengaruh oleh bahasa-bahasa lain yang dikuasainya.

Dalam konteks lafal baku ini, sebagai contoh penggunaannya adalah lafal para penyiar TVRI dan RRI. Lafal mereka sudah dianggap memenuhi kriteria sebagai lafal baku. Di bawah ini disajikan contoh lafal baku dan lafal tidak baku.

tulisan

Dalam bidang ejaan, pembakuan telah lama dilakukan dan telah melalui proses yang panjang. Dimulai dengan ditetapkannya ejaan van Ophuijsen pada tahun 1901,dilanjutkan dengan ejaan Swandi atau Ejaan Republik pada tahun 1947, diteruskan dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Bahkan EYD ini berlaku juga bagi bahasa Melayu Malaysia dan bahasa Melayu Brunei Darussalam. Di bawah ini disajikan perubahan dalam EYD :

Ejaan lama yang telah disempurnakan:

Dalam bidang tata bahasa, pembakuan telah dilakukan,yakni dengan diterbitkannya buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia yang saat ini telah tiga edisi. Meskipun banyak kritik yang telah dilontarkan terhadap buku tersebut, yang disebabkan perbedaan persepsi dan teori ketatabahasaan yang dianut, kehadiran buku tersebut sebagai upaya dalam pembakuan . tata bahasa merupakan sesuatu yang sangat berharga. Berikut akan disajikan contoh tata bahasa baku:

(5)

Rektor meninjau perumahan karyawan IKIP

Kuliah sudah berjalan dengan baik Rektor tinjau perumahan karyawan IKIP

Kuliah sudah jalan dengan baik

Pembakuan bahasa Indonesia dalam bidang kosa kata dan peristilahan juga telah lama dilakukan. Pembakuan tersebut dapat dilihat dari (1) ejaannya, (2) lafalnya, (3) bentuknya, (4)sumber pengambilannya. Dalam bidang peristilahannya misalnya, bahasa Indonesia memiliki aturan sendiri. Dari segi sumbernya, istilah-istilah yang diambil dapat bersumber dari (1) kosa kata bahasa Indonesia (baik yang lazim maupun tidak), (2) kosakata bahasa serumpun, dan (3) kosakata bahasa asing. Penjelasan lebih lanjut tentang sumber istilah itu terlihat pada uraian berikut ini.

1) Kosakata Bahasa Indonesia

Kata bahasa Indonesia yang dapat dijadikan bahan istilah ialah kata umum, baik yang lazim maupun tidak lazim. Kata-kata tersebut harus memenuhi salah satu syarat (boleh lebih)berikut ini.

a) Kata dengan tepat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan atau sifat yang dimaksudkan,seperti tunak (steady), telus (percolate), imak (simulate).

b) Kata lebih singkat daripada kata yang lain yang berujukan sama, seperti gulma jika dibandingkan dengan tumbuhan pengganggu, suaka (politik) dibandingkan dengan perlindungan (politik).

c) Kata yang tidak bernilai rasa (konotasi) buruk dan yang sedap didengar (eufonik), seperti pramuria jika dibandingkan dengan hostes, tuna karya dibandingkan dengan penganggur.

Disamping itu, istilah dapat berupa kata umum yang diberi makna baru atau makna khusus dengan jalan menyempitkan atau meluaskan makna asalnya, misalnya: Berumah dua,gaya, pejabat teras, tapak, garam, hari jatuh, peka.

2) Kosakata Bahasa Serumpun

Jika dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan istilah yang dengan tepat dapat mengungkapkan konsep, proses, keadaan atau sifat yang dimaksudkan, maka istilah dicari dalam bahasa serumpun, baik yang lazim maupun yang tidak lazim yang memenuhi syarat pada bagian 1)di atas. Misalnya: istilah yang lazim:gambut(banjar), nyeri (sunda), timbe l(jawa), istilah yang tidak lazim atau sudah kuno: gawai(jawa), luah (bali, bugis, minangkabau, sunda).

4) Kosakata Bahasa Asing

(6)

BAB III PENUTUP

Kebijaksanaan bahasa itu dapat diartikan sebagai pertimbangan konseptual dan politis yang dimaksudkan untuk dapat memberi perencanaan, pengarahan dan ketentuan-ketentuan yang dapat dipakai sebagai dasar bagi pengelolaan keseluruhan kebahasaan yang dihadapi oleh suatu bangsa secara nasional. Kebijaksanaan bahasa merupakan usaha kenegaraan suatu bangsa untuk menentukan dan menetapkan dengan tepat fungsi dan status bahasa atau bahasa-bahasa yang ada di negara tersebut, agar komunikasi kenegaraan dan kebangsaan dapat berlangsung dengan baik. Atau kebijaksanaan bahasa berfungsi memilih dan menentukan sebuah bahasa dari sejumlah bahasa yang ada dalam suatu negara untuk dijadikan bahasa nasional atau bahasa resmi kenegaraan dari Negara tersebut. Kemudian perencanaan bahasa dapat memilih dan menentukan ragam bahasa dari ragam-ragam yang ada pada bahasa yang sudah dipilih untuk menjadi ragam baku atau ragam standar bahasa tersebut. Prosese pemilihan satu ragam bahasa untuk dijadikan ragam bahasa resmi kenegaraan maupun kedaerahan, serta usaha-usaha pembinaan dan pengembangannya, yang biasa dilakukan terus-menerus tanpa henti, disebut pembakuan bahasa atau standarisasi bahasa. Pembakuan bahasa tentunya berfungsi sangat banyak terutama meredam konflik ditengah masyarakat akibat perbedaan dialek.

(7)

Pendidikan Dan Pengajaran Bahasa

Pendidikan dan pengajaran tidak dapat dipisahkan karena keduanya

merupakan proses untuk mengubah sikap dan kemammpuan seorang

pesera didik menjadi yang lebih baik setelah dia mengalami atau mengikuti

proses itu. Pendidikan lebih mengacu ke perbahan sikap pribadi yang lebih

baik. Sedangkan pengajaran tertuju pada pengubahan pengetahuan dan

keterampilan.

Bahasa merupakan salah satu wujud kebudayaan, maka pewarisan

kemampuan berbahasa dan sikap positif terhadap bahasa dilakukan

melalui jalur pendidikan. Itulah sebabnya pembinaan dan pengembangan

bahasa paling dominan dilakukan melalui jalur pendidikan formal.

D. Variabel Pembelajaran Bahasa

1) Murid, sebagai objek pembelajaran.

2) Guru, sebagai subjek yang bertugas melaksanakan proses belajar

mengajar, baik sebagai fasilitator, informator, maupun sebagai pembibing.

3) Bahan pelajaran, yakni sesuatu yang harus disampaikan oleh guru

kepada murid di dalam proses belajar tersebut.

4) Tujuan pengajaran, yakni sesuatu yang akan dicapai melalui proses

belajar mengajar.

E. Faktor Keberhasilan Pembelajaran Bahasa

1) Lingkungan keluarga.

(8)

2) Lingkungan masyarakat.

Lingkungan yang baik, tertib dan teratur mempengaruhi keberhasilan

belajar. Lingkungan masyarakat yang multilingual, multirasial dan

multikutural turut mempengaruhi.

3) Lingkungan sekolah.

Lingkungan sekolah yang baik, teratur dan guru-guru yang bertanggung

jawab akan memberi hasil baik daripada lingkungan sekolah yang kurang

baik.

F. Asas Keberhasilan Pembelajaran Bahasa

1) Asas psikologis, meliputi motivasi, pengalaman sendiri,

keingintahuan, analisis sintetis, dan perbedaan individual.

2) Asas materi dan metodik, meliputi mudah menuju susah, sederhana

menuju kompleks, dekat menuju jauh, pola menuju unsur, penggunaan

menuju penggetahuan, masalah bukan kebiasaan, kenyataan bukan

buatan.

G. Tujuan Pengajaran Bahasa

1) Pengajaran bahasa Indonesia bertujuan agar siswa dapat bernalar,

berinteraksi, berkomunikasi, dan menyerap/menyampaikan segala sesuatu

dengan baik dalam bahasa Indonesia.

(9)

3) Pengajaran bahasa asing bertujuan agar siswa dapat berinteraksi

dalam bahasa itu.

H. Pengajaran Bahasa Kedua

Dalam masyarakat multilingual memungkinkan adanya pengajaran bahasa

kedua. Di Indonesia pada umumnya bahasa Indonesia adalah bahasa

kedua meskipun telah diresmikan sebagai bahasa nasinal dan resmi

kenegaraan. Pengajaran bahasa kedua tentunya akan menimbulkan

masalah-masalah sosiolinguistik. Masalah tersebut terletak pada

perbedaan yang cukup besar antara pola-pola bahasa.

Hambatan pada masalah tersebut dapat diatasi. Broto (dalam Chaer, 2010:

218) mengatakan hambatan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan

linguistik konstratif, yaitu diadakan perbandingan pola antara bahasa yang

diajarkan (BI) dengan bahasa pertama anak didik. Pola-pola yang berbeda

diberi porsi perhatian dan latihan yang lebih banyak, sedangkan pola-pola

yang mirip atau sama cukup diberi latihan sekadarnya.

Daftar Pustaka

(10)

BAB 14 PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN BAHASA

1. Variabel Pembelajaran Bahasa

Dalam proses belajar mengajar bahasa akan kita temui beberapa variabel yaitu: o Murid

o Guru bahan pelajaran

o Tujuan pengajaran

o Serta lingkungan keluarga dan masyarakat.

Disamping variabel diatas ada beberapa faktor yang dapat mendukung keberhasilan belajar bahasa yaitu yang disebut asas-asas belajar. Diantaranya adalah asas yang bersifat psikologis anak didik.

Sedangkan asas yang bersifat materi linguistik adalalah sebagai berikut: o Mudah menuju susah

o Sederhana menuju kompleks

o Dekat menuju jauh

o Pola menuju unsur

o Penggunaan menuju pengetahuan

o Masalah bukan kebiasaan

o Kenyataan bukan buatan

2. Tujuan Pengajaran Bahasa

Rumusan-rumusan mengenai tujuan pendidikan bahasa dapat dipertimbangkan sebagai berikut:

a) Pendidikan/pengajaran bahasa Indonesia selain untuk membentuk sikap pribadi manusia

pancasilais pada sekolah dasar (SD) adalah agar para siswa dapat bernalar, berkomunikasi, dan menyerap/menyampaikan kebudayaan dalam bahasa Indonesia; pada sekolah menengah (SM) adalah agar siswa dapat bernalar, berinterksi, dan meyerap ilmu dalam bahsa Indonesia; dalam pendidikan tinggi (PT) agar para mahasiswa dapat bernalar dan menyerap serta menyampaikan kebudayaan dalam bahasa Indonesia.

b) Pendidikan/pengajaran bahasa daerah (BD), didaerah yang memerlukan, pada SD dan SM

adalah agar siswa dapat melakukan interaksi dengan menggunakan bahasa tersebut.

c) Pendidikan/pengajaran bahasa asing (BA), khususnya bahasa inggris, secara nasional pada

tingkat SM adalah agar siswa dapat berinteraksi dengan menggunakan bahasa itu; dan pada tingkat perguruan tinggi (PT) agar mahasiswa dapat bernalar, berinteraksi, dan menerima atau menyerap kebudayaan dalam bahasa itu dan juga menyampaikannya.

3. Pengajaran Bahasa Kedua

Dalam masyarakat bilingual tentu akan ada pengajaran bahasa kedua (dan mungkin juga ketiga). Bahkkan kedua ini bisa bahasa nasional, bahasa resmi kenegaraan, bahasa resmi kedaerahan, atau juga bahasa asing. Di Indonesia pada umumnya bahasa Indonesia adalah bahasa kedua.

(11)

jika kedua bahasa tersebut tidak serumpun. Pengajaran bahasa kedua di Indonesia secara formal dimulai ketika anak memasuki pendidikan dasar (kira-kira 6 tahun) untuk bahasa nasional, dan ketika anak memasuki pendidikan menengah (kira-kira 13 tahun) untuk bahasa asing.

4. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil dari penelitian didapatkan bahwa kursi dengan dudukan yang sesuai dengan bentuk tubuh orang yang sedang duduk sajalah yang memberikan kenyamanan dan

Kebijakan puritanisme oleh sultan Aurangzeb dan pengislaman orang-orang Hindu secara paksa demi menjadikan tanah India sebagai negara Islam, dengan menyerang berbagai praktek

DAN WAKTU PELAKSANAA N RENCANA EVALU ASI 1 PELAYANAN PENDAFTARAN 20% 80% 0 - - - BULAN JUNI 2016 2 JAM PELAYANAN 20% 70% 10% 10 % MEMINTA PENAMBAHAN JAM PELAYANAN

antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan metode kooperatif, metode ceramah dan pemberian tugas.. Artinya, pada taraf signifikansi 5% tidak terdapat

• Pembayaran terkait operasional kantor (antara lain: honor terkait operasional kantor, bahan makanan, penambah daya tahan tubuh (hanya diberikan kepada pegawai yang bekerja di

Preheating ini dilakukan selama 180 jam pada sagger 1-5 dan ini dilakukan hingga suhu mencapai 800 o C imana akan terjadi pencairan pitch, penguapan pitch hal ini bertujuan

Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya melalui Bidang Permukiman berupaya untuk selalu mereview dan memperbaharui status dari Database infrastruktur,

Reksa dana ini berinvestasi pada instrumen pasar uang, terutama deposito bank-bank di Indonesia, dan memiliki eksposur risiko yang berkaitan dengan pasar uang, seperti risiko