• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh media presentasi PowerPoint dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh media presentasi PowerPoint dan"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang Masalah

Membaca dalam pembelajaran bahasa asing merupakan salah satu kegiatan yang memiliki intensitas yang tinggi dalam pembelajaran bahasa Inggris. Melalui kegiatan membaca, siswa diharapkan tidak hanya memperoleh dan memahami informasi atau pesan yang disampaikan penulis, akan tetapi juga memperoleh gambaran penerapan bahasa inggris secara tertulis.

Proses belajar membaca Bahasa Inggris di Indonesia tentunya tidak semudah proses membaca teks berbahasa Indonesia. Selain ejaan yang berbeda dengan pelafalannya, pembelajaran membaca teks berbahasa Inggris diawali dengan pembelajaran kata, frasa, wacana dengan kosakata yang mudah (konkret dan umum) ke wacana yang lebih sulit (lebih abstrak dan suit) dan dari wacana pendek dan sederhana ke wacana yang lebih panjang dan kompleks. Setiap tahapan dalam proses pembelajaran membaca dalam bahasa Inggris akan menentukan tingkat pemahaman siswa atas teks yang dibaca.

Pemahaman membaca merupakan kompetensi yang diharapkan tercapai oleh siswa jenjang SMP/Mts dalam setiap kegiatan membaca. Dalam Permendiknas tentang Standar isi (2006: 290) ditetapkan bahwa standar kompetensi pembelajaran membaca pada mata pelajaran bahasa Inggris kelas VIII semester 2 adalah mampu memahami makna dalam esei pendek sederhana berbentuk recount dan naratif untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

(2)

Pemahaman membaca teks naratif sebagai salah satu hasil belajar tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor, dua di antaranya kompetensi guru dalam mempresentasikan pembelajaran dan penguasaan kosakata siswa. Pembelajaran membaca menggunakan buku teks sebagai sumber bacaan. dilakukan sebagian besar guru karena keterbatasan waktu dan kreativitas untuk mencari dan memilih teks bacaan yang sesuai dengan kompetensi yang akan diajarkan. Kegiatan siswa dalam membaca buku teks tentunya memerlukan pengamatan secara langsung dan intensif untuk memastikan setiap siswa mengikuti seluruh tahapan kegiatan pembelajaran. Meskipun setiap siswa difasilitasi untuk kegiatan membaca mereka, tak jarang peneliti menemukan sebagian siswa tidak membaca sama sekali karena ketidakmampuan membaca teks berbahasa Inggris serta ketiadaan minat baca.

(3)

(2010:186), Powerpoint merupakan salah satu aplikasi unggulan dalam paket Microsoft Office yang secara khusus memiliki dan menyediakan semua kebutuhan pembuatan slide presentasi.

Presentasi materi dengan Powerpoint seringkali ditemukan di berbagai seminar, workshop, pelatihan-pelatihan ataupun rapat-rapat dinas sekolah. Efektivitas presentasi materi dengan Powerpoint telah banyak dirasakan oleh guru akan tetapi keterbatasan keterampilan pengoperasian komputer dan kreativitas guru dalam merancang presentasi serta keterbatasan media komputer dan projector seringkali menjadi penghalang bagi mereka untuk memanfaatkan PowerPoint sebagai salah satu media presentasi yang efektif dan mampu meningkatkan gairah serta fokus siswa dalam menerima materi pembelajaran.

(4)

digolongkan sangat tidak memuaskan. Tak jarang waktu yang telah dialokasikan tidak cukup bagi siswa untuk memahami sebuah teks naratif sederhana. Kosakata merupakan suatu jenis alat yang memungkinkan seorang pembelajar bahasa berkomunikasi dengan bahasa tersebut. Dengan demikian, tanpa penguasaan kosakata yang cukup seseorang tidak akan mampu menyimak, membaca, berbicara dan bahkan menulis. Meskipun kosakata dan pemahaman merupakan dua keterampilan yang berbeda, kedua aspek tersebut diterapkan secara terintegrasi sebagai keterampilan membaca secara keseluruhan untuk memahami isi teks yang dibaca.

Atas dasar latar belakang tersebut dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh penggunaan media presentasi Powerpoint dan penguasaan kosakata siswa terhadap pemahaman membaca teks naratif Bahasa Inggris siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Muncang.

B. Identifikasi Masalah

Penelitian ini dilakukan atas dasar hasil identifikasi masalah sebagai berikut:

1. Kegiatan pembelajaran membaca pada umumnya dilaksanakan secara konvensional dengan media teks bacaan yang bersumber pada buku teks yang ada tanpa ada kreativitas guru untuk mencari dan memilih teks yang lebih menarik.

(5)

3. Keterbatasan buku teks yang relevan degan kurikulum dan bersifat up-to-date mendorong kegiatan pembelajaran yang cenderung monoton tanpa kreativitas guru dalam mengembangkan materi dan contoh-contoh latihan.

4. Pemahaman membaca siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Muncang sangat rendah meskipun sebagian besar waktu pembelajaran dihabiskan dengan kegiatan pemahaman membaca melalui diskusi dan bantuan kamus, sebagian besar siswa belum dapat menjawab sejumlah pertanyaan pemahaman bacaan yang diberikan.

5. Jam belajar efektif yang tersedia belum cukup untuk membelajarkan sejumlah kompetensi sebagaimana telah ditetapkan dan diatur dalam kurikulum, terutama pada kompetensi pemahaman membaca sehingga seringkali sejumlah kompetensi atau materi tidak sempat tersampaikan.

6. Kesulitan siswa dalam memahami teks naratif dan atau teks lainnya pada dasarnya dipengaruhi latar belakang bahasa pertama siswa, penguasaan bahasa target (tata bahasa dan kosakata bahasa Inggris) siswa, sikap siswa serta keterampilan guru dalam menyajikan materi pembelajaran.

7. Pembelajaran kosakata yang digunakan dalam teks bacaan jarang dilakukan sehingga berpengaruh terhadap rendahnya pemahaman teks siswa.

8. Sebagian besar guru telah terbiasa bekerja dengan komputer akan tetapi keterbatasan waktu dan kapasitas pemanfaatannya mendorong mereka untuk tidak menggunakan Powerpoint sebagai salah satu media presentasi materi pembelajaran yang tentunya harus dirancang dan dipersiapkan.

C. Pembatasan Masalah

(6)

pengaruh penggunaan media Powerpoint dan penguasaan kosakata terhadap pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa SMP Negeri 3 Muncang Kabupaten Lebak tahun pelajaran 2013/2014.

D. Rumusan Masalah

1. Apakah terdapat perbedaan pemahaman membaca teks naratif Bahasa Inggris antara siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan media Powerpoint dengan Media buku teks?

2. Apakah terdapat perbedaan pemahaman membaca teks naratif Bahasa Inggris antara siswa yang rendah penguasaan kosakatanya dengan siswa yang tinggi penguasaan kosakatanya?

3. Apakah terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara penggunaan media Powerpoint dan penguasaan kosakata terhadap pemahaman membaca teks naratif Bahasa Inggris siswa?

4. Apakah terdapat perbedaan pemahaman membaca teks naratif Bahasa Inggris antara siswa yang tinggi penguasaan kosakatanya dan belajar dengan media Powerpoint dengan siswa yang belajar dengan media buku teks?

5. Apakah terdapat perbedaan pemahaman membaca teks naratif Bahasa Inggris antara siswa yang rendah penguasaan kosakatanya dan belajar dengan media Powerpoint dengan siswa yang belajar dengan media buku teks?

6. Apakah terdapat perbedaan pemahaman membaca teks naratif Bahasa Inggris dengan media Powerpoint antara siswa yang tinggi penguasaan kosakatanya dengan siswa yang rendah penguasaan kosakatanya?

7. Apakah terdapat perbedaan pemahaman membaca teks naratif Bahasa Inggris dengan media buku teks antara siswa yang tinggi penguasaan kosakatanya dengan siswa yang rendah penguasaan kosakatanya?

(7)

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberkan manfaat secara teoretis dan praktis sebagai berikut:

1. Manfaat Teoretis

a. Penulis dapat mengaktualisasikan teori-teori pembelajaran membaca teks berbahasa Inggris yang telah dipelajari sebagai sarana kreativitas dan inovasi dalam upaya peningkatan hasil pembelajaran Bahasa Inggris.

b. Dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan kajian dalam upaya peningkatan mutu pembelajaran bahasa Inggris.

2. Manfaat Praktis

a. Guru memperoleh pengetahuan dan wawasan terkait faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman membaca teks naratif dan upaya-upaya peningkatan kompetensi siswa dalam pembelajaran membaca.

b. Guru dapat memanfaatkan beragam produk aplikasi teknologi untuk keperluan managemen pembelajaran yang efektif dan efisien, salah satunya dengan menggunakan media presentasi Powerpoint.

c. Guru memperoleh gambaran penggunaan media presentasi PowerPoint dalam pembelajaran membaca teks naratif serta mampu mengembangkan dan menerapkannya sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

d. Sekolah memperoleh masukan dan gambaran pengaruh penggunaan media presentasi PowerPoint dan penguasaan kosakata terhadap pemahaman membaca siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Muncang Kabupaten Lebak Tahun Pelajaran 2013/2014.

(8)

A. Pemahaman Membaca

Pemahaman membaca pada dasarnya merupakan salah satu hasil belajar sebagaimana dikemukakan oleh Anderson (2003:66-91) dalam enam taksonomi kognitif sebagai revisi taksonomi hasil belajar Bloom yaitu memahami (understanding). Menurut Slavin (2006:359), pemahaman atau comprehension meliputi kemampuan menterjemahkan, menginterpretasikan dan mengeksplorasi informasi. Dari pernyataan ini, sebuah pemahaman akan mampu menunjukkan pengetahuan dan kemampuannya menggunakan serta menjelaskan kembali informasi yang diperolehnya.

Menurut Yulaelawati (2007:84), keterampilan kognitif yang termasuk dalam kategori memahami adalah: menginterpretasi (interpreting), mengilustrasikan (exemplifying), mengklasifikasi (classifying), merangkum (summarizing), membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaining). Berdasarkan taksonomi Anderson ini, pemahaman bacaan dapat dipandang sebagai kemampuan siswa menginterpretasi, mengilustrasikan dan merangkum isi pesan dan informasi yang disampaikan penulis dalam teks bacaan.

Istilah ‘reading comprehension’ atau pemahaman membaca sangat familiar terutama dalam pembelajaran bahasa asing yaitu bahasa Inggris. Membaca sangat erat kaitannya dengan pemahaman. Menurut Torgesen (2006:2), “Reading comprehension is the construction of the meaning of a written text through a reciprocal interchange of ideas between the reader and the message in a particular

(9)

text “. Pemahaman membaca merupakan satu proses berkesinambungan dalam menggali dan membangun makna melalui interaksi dengan bahasa tulis. Dengan demikian, memahami bacaan merupakan suatu cara menginterpretasi dan memahami tulisan.

Menurut Dalman (2013:87), pemahaman membaca merupakan keterampilan membaca yang berada pada urutan paling tinggi. Pemahaman membaca dapat diukur melalui kemampuan siswa menyampaikan kembali isi bacaan dengan cara membuat rangkuman dengan bahasa dan kata-kata sendiri secara lisan ataupun tulisan. Dalman mengelompokkan pemahaman membaca ke dalam empat tingkat, yaitu: pemahaman literal, interpretatif, kritis dan kreatif. Keempat tingkatan pemahaman tersebut akan sangat berperan dalam memahami makna tersurat dan tersirat dalam sebuah teks. Apabila seorang pembaca dapat menyampaikan kembali isi bacaan dan mengembangkan gagasan-gagasan pokok bacaan dengan kreativitasnya sendiri baik secara tertulis ataupun lisan, hal ini menunjukkan bahwa pembaca tersebut benar-benar memahami isi bacaan yang telah dibacanya.

(10)

dan kritis memungkinkan siswa atau pembaca mampu memberikan penilaian dan pendapat terkait materi bacaan berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya. Selanjutnya, apresiasi menyangkut kepekaan emosi dan estetik siswa atas materi teks bacaan.

1. Aspek-Aspek Pemahaman Membaca

Meskipun praktis, kegiatan membaca merupakan suatu keterampilan yang cukup kompleks di mana menuntut keterampilan lain untuk memahami isi teks. Berkaitan dengan keterampilan dalam pemahaman bacaan, Tarigan (2008:11) menyatakan dua jenis keterampilan yang perlu diperhatikan yaitu keterampilan mekanis dan keterampilan pemahaman.

Keterampilan mekanis dapat dipersepsikan sebagai keterampilan paling mendasar yang perlu dikuasai seseorang dalam membaca seperti pengenalan huruf dan tanda baca, aspek-aspek kebahasaan, pola-pola pelafalan dan bunyi, serta kecepatan membaca rendah.

Selanjutnya keterampilan pemahaman membaca merupakan keterampilan tingkat lanjut yang diperlukan selama proses membaca. Keterampilan-keterampilan tersebut antara lain:

1. pemahaman makna-makna leksikal, gramatikal dan retorikal;

2. pemahaman pesan atau informasi yang disampaikan penulis melalui tulisannya; 3. penilaian bentuk dan isi teks; dan

4. kecepatan membaca yang disesuaikan dengan situasi.

(11)

1. memahami pengertian sederhana (leksikal dan gramatikal);

2. memahami signifikansi atau makna (maksud dan tujuan pengarang atau penulis);

3. mampu menilai aatu mengevaluasi isi dan bentuk teks bacaan; dan 4. kecepatan membaca yang fleksibel sesuai dengan keadaan.

Pembelajaran keterampilan-keterampilan pemahaman membaca dapat dilakukan dengan teknik membaca intensif di mana siswa akan menggunakan segala keterampilan mekanisnya dalam hati sambil memikirkan hubungan makna antara kata, kalimat dan paragraf sehingga mendapatkan pemahaman teks sebagaimana yang diharapkan.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemahaman Membaca

Pada dasarnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemahaman siswa atas teks bacaan berbahasa Inggris sebagai bahasa asing. Faktor tersebut di antaranya adalah banyaknya perbendaharaan kata yang dimiliki, pengalaman membaca teks yang sama dan skemata pembaca lainnya yang mendukung seperti pengalaman membaca berbagai teks, menyimak atau mendengarkan berita/informasi, dan melihat atau mengamati keadaan alam di sekelilingnya.

(12)

pemahaman membaca, Baleghizadeh and Golbin (2010:34) menambahkan bahwa untuk memahami makna suatu teks, seseorang harus mampu men-decoding pesan teks. Banyaknya kata-kata yang kurang familiar atau bahkan baru akan mempengaruhi pemahaman membaca siswa. Hal ini diperkuat oleh Furqon (2013:69) yang menyatakan bahwa pengetahuan kosakata sangat penting dalam pemahaman membaca. Pengenalan kata secara cepat dan efisien sangat penting bagi pemahaman makna. Dengan demikian tingkat penguasaan dan perbendaharaan kata merupakan faktor internal siswa yang harus ditingkatkan dalam upaya meningkatkan pemahaman makna atas teks bacaan ataupun ungkapan-ungkapan lisan.

Wolpert and Rizopoulos (2012:43) menambahkan bahwa pemahaman membaca dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan siswa (prior knowledge). Semakin tinggi pengetahuan dan pengalaman siswa, maka semakin tinggi kemampuannya memahami teks bacaa. Dalam hal ini, pengaktifan pengetahuan dan pengalaman siswa terkait topic bacaan sebelum membaca perlu diaktifkan untuk membantu pemahaman teks bacaan. Dengan mempertimbangkan esensi skemata pembaca sebelum membaca menunjang integrasi informasi baru dengan informasi yang sudah siswa miliki terkait topik bacaan.

(13)

anak, kemauan belajar, minat, model penyajian materi, pribadi dan sikap guru, suasana belajar, kompetensi guru dan kondisi masyarakat.

Pemahaman siswa dalam membaca tergantung pula pada model penyajian materi dan teks yang dilakukan oleh guru. Model penyajian materi yang menyenangkan, tidak membosankan, menarik dan mudah dimengerti oleh para siswa tentunya akan berpengaruh secara positif terhap keberhasilan belajar dan pemahaman siswa atas teks bacaan. Guru sebagai salah satu profesi dituntut untuk memiliki dan menguasai kompetensi yang diperlukan untuk kepentingan pembelajaran. Dalam kaitannya dengan pembelajaran membaca, guru diharapkan mampu memilih metode dan teknik pembelajaran yang relevan dengan tujuan dan karakteritik siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai perencanaan.

3. Peningkatan Pemahaman Membaca

Pembelajaran membaca di dalam ataupun di luar kelas pada prinsipnya memerlukan upaya-upaya pembelajaran yang efektif. Dalam hal ini, Torgesen (2006:41- 42) menyarankan sejumlah yang perlu diterapkan dalam pembelajaran pemahaman membaca sebagai berikut:

1. Apabila tujuan membaca sudah jelas, pastikan siswa fokus pada pemerolehan makna, pembangunan pengetahuan dan pemahaman yang mendalam atas materi bacaan meliputi pemahaman sejumlah makna kata-kata baru dan tata bahasa baru.

(14)

3. Sediakan beragam jenis teks bacaan yang menarik untuk memfasilitasi tingkat kemampuan membaca siswa.

4. Berikan kesempatan bagi siswa untuk berkolaborasi, berdiskusi, berbagi informasi dan pemahaman atas materin bacaan.

5. Secara eksplisit latihkan strategi-strategi pemahaman membaca sebagai berikut: a. mengaktifkan latar belakang pengetahuan siswa;

b. bertanya;

c. mencari informasi; d. merangkum;

e. mengorganisir informasi; dan f. mengidentifikasi struktur teks.

Dengan minat dan kemauan belajar yang tinggi, setiap siswa tentunya akan berupaya mengembangkan dan menggunakan beragam strategi dan teknik untuk memahami teks yang dibacanya. Apapun hasil pemahaman yang didapatkan dengan upaya-upaya tersebut, latihan yang intensif akan menjadikan kebiasaan yang baik dan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif selayaknya pembaca yang efektif dan efisien.

Upaya-upaya siswa dalam meningkatkan pemahamannya dalam membaca tentunya memerlukan peranan guru yang maksimal pula untuk menghasilkan pembelajaran yang efektif dan efisien. Setiap guru bahasa Inggris harus mampu membantu dan membimbing siswanya mengembangkan dan meningkatkan seluruh kemampuan yang dibutuhkan untuk memahami bacaan. Dalam hal ini, Tarigan (2008:14) menyarankan sejumlah upaya yang dapat dilakukan guru dalam meningkatkan pemahaman membaca siswa sebagai berikut.

(15)

b) pengenalan imbuhan-imbuhan kata (affixes) seperti prefixes, infixes, dan suffixes;

c) menebak makna kata-kata dalam berbagai konteks dan atau hubungan kalimat; dan

d) penjelasan sejumlah kata-kata abstrak bila perlu dengan menggunakan bahasa ibu siswaatau bahasa pertama.

2) Guru dapat membantu siswa memahami makna struktur kata dan kalimat melalui penjelasan dan latihan.

3) Bila perlu, guru memberi penjelasan konotasi sejumlah kata dan pribahasa dengan bahasa ibu atau bahasa pertama siswa.

4) Guru memastikan pemahaman membaca siswa dengan:

a) memberikan pertanyaan beragam untuk kalimat atau pernyataan yang sama dalam teks;

b) memberikan sejumlah pertanyaan yang jawabannya dapat ditemukan dengan jelas dalam teks;

c) meminta siswa merangkum kembali isi teks;

d) meminta siswa menemukan kata-kata tertentu yang menggambarkan sesuatu dalam teks; dan

e) menunjukkan kalimat-kalimat yang kurang tepat dan meminta siswa menyempurnakannya.

5) Guru meningkatkan kecepatan membaca siswa dengan: a) mengalokasikan waktu membaca;

(16)

c) memastikan tidak ada pergerakan bibir siswa yang tidak perlu pada saat membaca intensif dan mempengaruhi kecepatan membaca;

d) menjelaskan tujuan kegiatan pembelajaran membaca yang dilaksanakan. Dalam upaya meningkatkan pemahaman membaca siswa, Santrock (2011: 367) menambahan pembelajaran resiprokal (reciprocal teaching) sebagai strategi pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan pemahaman membaca siswa. Dalam permbelajaran resiprokal ini, guru menjelaskan strategi-strategi pemahaman dan memberikan contoh atau model penerapannya, memberikan semangat dan motivasi pada saat siswa belajar. Dalam hal ini, guru mendorong siswa mengajukan pertanyaan terkait isi teks, mengklarifikasi ketidakfahaman, menyimpulkan dan membuat prediksi-prediksi terkait teks bacaan.

4. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Membaca

Salah satu ruang lingkup pembelajaran Bahasa Inggris di SMP/MTs menurut Depdiknas (2006:1) adalah kemampuan memahami dan menciptakan berbagai teks fungsional pendek dan monolog serta esei berbentuk procedure, descriptive, recount, narrative, dan report. Gradasi bahan ajar tampak dalam penggunaan kosa kata, tata bahasa, dan langkah-langkah retorika.

Tabel 2.1

Standar Kompetensi Membaca Bahasa Inggris kelas VIII SMP Semester Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

I 5. Memahami

Teks tulis fungsional dan esei

5.1 Membaca nyaring bermakna teks tulis

(17)

pendek 5.2 Merespon makna dalam teks tulis fungsional

pendek sederhana secara akurat, lancar dan berterima yang berkaitan dengan lingkungan sekitar.

5.3 Merespon makna dan langkah retorika dalam esei pendek sederhana secara akurat, lancar dan berterima yang berkaitan dengan

lingkungan sekitar dalam teks berbentuk descriptive dan recount

11.1 Membaca nyaring bermakna teks fungsional dan esei pendek sederhana berbentuk recount dan narrative dengan ucapan, tekanan danintonasi yang berterima yang berkaitan dengan lingkungan sekitar 11.2 Merespon makna dalam teks tulis

fungsionalpendek sederhana secara akurat, lancar dan berterima yang berkaitan dengan lingkungan sekitar

11.3 Merespon makna dan langkah retorika dalam esei pendek sederhana secara akurat, lancer dan berterima yang berkaitan dengan lingkungan sekitar dalam teks berbentuk recount dan narrative

(Depdiknas, 2006: 290)

Berkaitan dengan rumusan masalah dalam penelitian ini, peneliti akan memberikan perlakuan pembelajaran dengan media presentasi PowerPoint pada kompetensi membaca semester II yaitu memahami makna dalam esei pendek sederhana berbentuk naratif untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Adapun Kompetensi dasar yang akan dilatihkan kepada siswa adalah kompetensi dasar 11.2 dan 11.3.

(18)

Pemahaman membaca pada dasarnya merupakan kemampuan pembaca memahami isi bacaan. Adapun indikat-indikator kemampuan pemahaman membaca menurut Harris (1996:59) adalah sebagai berikut:

1) Bahasa dan symbol-simbol grafis

a) Memahami makna leksikal yang terkandung dalam teks. b) Memahami pola-pola bahasa tulisan formal.

c) Merespon dengan tepat symbol-simbol grafis tulisan seperti tanda baca, huruf kapital dan paragraf yang digunakan untuk menyampaikan makna. 2) Ide atau gagasan

a) Mengidentifikasi tujuan penulis.

b) Mengidentifikasi gagasan atau pikiran utama. c) Memahami kalimat penunjang pikiran utama.

d) Menarik kesimpulan suatu kalimat, paragraf dan teks secara keseluruhan

3) Nada dan gaya

a) Mengidentifikasi sikap penulis terhadap tulisan dan pembaca

b) Mengidentifikasi metode dan gaya penulis dalam menyampaikan gagasannya.

(19)

bentuk yaitu: uraian, pilihan ganda dan cloze-tes. Pada jenis uraian, disediakan suatu bentuk teks untuk dibaca dan sejumlah pertanyaan pemahaman yang dhaurs dijawab berdasarkan teks bacaan. Pada jenis tes pilhan ganda, disediakan pula teks bacaan yang relevan dan sejumlah pertanyaan yang disertai pilihan-pilihan jawaban. Sedangkan pada jenis cloze-test, disediakan teks rumpang untuk diisi dengan kata atau frasa yang tepat sebagai uraian ataupun dengan memilih salah satu jawaban yang telah disediakan dalam bentuk tes pilhan ganda.

6. Teks Naratif

Dalam penelitian ini, jenis teks yang dipilih dalam perlakuan pembelajaran adalah teks naratif. Menurut Wardiman, Jahur dan Djusma (2008:98), teks naratif adalah jenis teks yang memiliki fungsi sosial untuk menghibur yang berkaitan dengan khayalan ataupun pengalaman aktual orang lain atau sendiri. Teks naratif berkaitan dengan kejadian-kejadian problematic yang membawa krisis dan diakhiri dengan resolusi.

(20)

Menurut Depdiknas (2005: 4), dari segi fitur bahasa, beberapa ciri khas taks naratif adalah sebagai berikut:

1) partisipan yang spesifik dan seringkali individual; 2) menggunakan action verbs;

3) menggunakan past tense;

4) menggunakan linking words yang berkaitan dengan waktu;

5) mengandung dialog dan tense akan mungkin berubah sesuai dengan ungkapan yang digunakan; dan

6) Descriptive language digunakan untuk menciptakan imaginasi di benak pembaca.

Dengan karakteristik bahasa teks di atas, terdapat beragam jenis teks naratif yang dapat digunakan oleh guru sebagai materi bacaan yang menarik di antaranya adalah legenda, mitos, cerita binatang ataupun pengalaman pribadi. Untuk kepentingan pembelajaran, perlu diupayakan pemilihan materi bacaan yang sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa siswa dan prioritaskan terlebih dahulu cerita-cerita local ataupun pengalaman langsung siswa yang mampu menarik perhatian dan minat baca seluruh siswa.

B. Media Pembelajaran Powerpoint 1. PowerPoint sebagai Media Presentasi

Salah satu penunjang efektivitas pembelajaran adalah media pembelajaran. Menurut Ali (2007:206), penggunaan media secara kreatif akan memperbesar kemungkinan bagi siswa untuk belajar lebih banyak, mencamkan apa yang dipelajarinya dengan baik dan meningkatkan penampilan dalam melakukan keterampilan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

(21)

presentasi, baik pembelajaran, presentasi produk, meeting, seminar, lakakarya dan sebagainya. Powerpoint banyak dikenal pengguna aplikasi sebagai aplikasi untuk menyusun presentasi. Sebagaimana dikemukakan Wahana (2010:186) bahwa Powerpoint merupakan salah satu aplikasi dalam Microsoft Office yang secara khusus memiliki dan menyediakan kebutuhan pembuatan slide presentasi. Beragam bentuk dan format presentasi dapat dibuat dengan visualisasi yang dapat memanjakan peserta presentasi serta memperjelas materi yang dipresentasikan.

Pembuatan presentasi saat ini sudah lebih maju. Selain penyajian guru sebagai presenter, tampilan slide berperan dalam penyampaian informasi dan pesan yang dipresentasikan. Menurut Noer (2012:105), slide dalam presentasi berfungsi sebagai alat bantu visual (stimulus visual) untuk memperjelas ide atau gagasan.

Kemasan file presentasi saat ini telah bergeser pada kualitas desain tampilan, kesesuaian konten dan fitur efek animasi untuk memperjelas informasi yang dipresentasikan. Aplikasi Powerpoint 2010 dirancang Microsoft Coorporation dan diterbitkan pada tahun 2010. Pada versi 2010 ini seorang presenter dapat merancang sebuah presentasi dengan lebih menarik karena Powerpoint 2010 menyediakan layanan penyisipan beragam objek berupa teks, gambar, grafik, audio dan video disertai template- template menarik disertai animasi-animasi yang dapat digunakan untuk menunjang efektivitas dan daya tarik presentasi.

(22)

merangkum sejumlah kelebihan dari berbagai media yang diintegrasikan. Adapun unsur-unsur multimedia yang dapat diintegrasikan dalam Powerpoint dapat diilustrasikan sebagai berikut.

Gambar 2.1

Unsur-unsur Multimedia dalam Powerpoint (Rusman, Kurniawan dan Rusyana, 2011:296)

Informasi atau materi pembelajaran melalui teks dapat diingat dengan baik jika disertai gambar. Menurut Rusman, Kurniawan dan Nuryana (2011:295), sistem kognitif manusia terdiri atas sistem verbal dan visual. Dengan adanya gambar dalam teks dapat meningkatkan daya ingat dan pemahaman. Penggunaan animasi yang relevan dalam presentasi dapat membantu proses pembelajaran siswa yang memiliki latar belakang pendidikan dan pengetahuan yang rendah. Penerapan multimedia presentasi sejalan dengan teori Quantum Learning, di mana siswa memiliki tiga tipe belajar yaitu visual, auditif dan kinestetik. Keragaman modalitas belajar tersebut dapat difasilitasi dengan menggunakan perangkat multimedia yang mampu mewakili berbagai tipe belajar siswa.

Menurut Rusman, Kurniawan dan Nuryana (2011:301), aplikasi Powerpoint sbeagai salah satu media presentasi merupakan salah satu software yang dirancang khusus untuk mampu menampilkan program multimedia dengan menarik,

File Microsoft Office: Excel, Word, Access

Animasi Video

(23)

mudah dibuat dan digunakan, relatif murah karena tidak membutuhkan bahan baku selain media penyimpan data.

Di bawah ini digambarkan tiga tipe penggunaan Powerpoint sebagai berikut: 1) Personal Presentation

Pada umumnya Powerpoint digunakan untuk presentasi dalam kelas klasikal seperti kuliah, pelatihan, seminar, workshop dan lain-lain. Pada penyajian personal, Powerpoint digunakan sebagai alat bantu bagi instruktur atau guru

mempresentasikan materi pembelajaran. Dalam hal ini kontrik pembelajaran terletak pada guru.

2) Stand Alone

Pada pola penyajian stand alone, Powerpoint dirancang khusus untuk pembelajaran individual bersifat interaktif, meskipun kadar interaktifnya tidak terlalu tinggi namun Powerpoint dapat menampilkan feedback yang sudah diprogram.

3) Web Based

Pada pola web-based, Powerpoint dapat diformat menjadi file web (html) sehingga program yang m uncuk berupa browser yang dapat menampilkan koneksi internet. Hal ini diunjang dengan adanya fasilitas dari Powerpoint untuk mempublish berkas presentasi menjadi web.

(24)

Efektivitas aplikasi Powerpoint dalam memprentasikan materi ataupun bahan ajar tentunya memerlukan perancangan yang baik dan efektif pula bagi kepentingan pembelajaran. Presentasi dengan aplikasi Powerpoint melibatkan media utama slide sebagai alat bantu visual untuk memperjelas ide atau gagasan. Slide yang baik dan efektif adalah slide yang menampilkan daya visual dan mampu membuat audiens berpikir, merenung, terharu ataupun gembira. Slide dapat membantu menjelaskan hal-hal yang abstrak atau tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Karena fungsinya sebagai stimulus visual, tampilan slide satu dengan yang lain harus harmonis, saling mendukung, nyaman dibaca, mudah dan cepat dipahami.

Dalam sebuah presentasi, terjadi proses komunikasi di mana presenter menggunakan dua medium sekaligus. Medium pertama adalah slide dan medium kedua adaah komunikasi verbal, yaitu apa , sehingga yang komunikator sampaikan dalam menjelaskan presentasi. Seorang komunikator menjelaskan diagram, gambar, ilustrasi dan tulisan melalui komunikasi visual. Di sisi lain, komunikator memberikan penjelasan dengan kata-kata untuk mendukung visual yang digunakan melalui komunikasi verbal. Kedua informasi ini diproses secara bersamaan slide yang digunakan harus sinergis dengan penjelasan verbal.

Smaldhino, Lowther dan Russell (2012:105) mengungkapkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merancang presentasi Powerpoint sebagai berikut: 1) Secara cermat pilihlah jenis huruf, ukuran dan warna sehingga jelas dan mudah

terbaca.

2) Gunakan latar belakang yang polos dan berwarna terang. 3) Letakkan judul di bagian tengan atas slide.

(25)

5) Gunakan sebuah template untuk membuat format visual yang konsisten. 6) Gunakan slide induk untuk membuat format teks yang konsisten.

7) Gunakan gambar yang sesuai. 8) Gunakan transisi yang konsisten

9) Gunakan animasi presentasi sederhana.

10) Gunakan efek audio yang mampu meningkatkan efektivitas presentasi

Berkaitan dengan pembuatan presentasi dengan Powerpoint, menurut Rusman, Kurniawan dan Nuryana (2011:302) mengilustrasikan prosedur pengembangan multimedia berbasis Powerpoint sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2

Prosedur Pengembangan Multimedia berbasis Powerpoint (Rusman, Kurniawan dan Nuryana,2011:302)

Berdasarkan gambar tersebut, prosedur pembuatan presentasi Powerpoint diawali dengan identifikasi program kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan dan pemaduan bahan-bahan pendukung dan diakhiri dengan review program. Identifikasi program dimasukan untuk melihat kesesuaian antara program yang akan dibuat dengan materi, siswa (terutama latar belakang kemampuan, usia juga jenjang pendidikan). Perlu juga diidentifikasi ketersediaan sumber pendukung seperti, gambar, suara, grafik, animasi dan video yang akan digunakan. Pengumpulan bahan

(26)

pendukung tersebut dapat dilakukan dengan cara mencari melalui internet (browsing), menggunakan bahan yang sudah ada ataupun dengan memproduksi sendiri sesuai keperluan, misalnya: kebutuhan video dengan shooting, kebutuhan gambar dengan pemotretan objek tertentu ataupun dengan scanning. Bersamaan dengan pengumpulan tersebut dilakukan penyusunan materi yang diambil dari bahan utama seperti buku, modul ataupun makalah lengkap. Materi untuk Powerpoint biasanya dikemas secara singkat dan garis besarnya saja. Setelah bahan terkumpul dan materi sudah terangkum, proses pembuatan slide presentasi Powerpoint dapat dilakukan. Hasil akhir presentasi dapat dirubah dalam bentuk slide show, web pages ataupun Executable File (.exe). Setelah file presentasi selesai dibuat, sebaiknya dilakukan review program dari sisi bahasa, teks dan tata letak untuk direvisi dan siap digunakan.

3. Kelebihan dan Kelemahan Media Presentasi Powerpoint

Dalam upaya pemilihan media yang akan digunakan dalam pembelajaran, tentunya setiap guru perlu memperhaikan kelebihan dan kelemahan media terkait efektivitasnya dalam pembelajaran. Aplikasi Microsoft Powerpoint pada dasarnya merupakan pembelajaran berbasis komputer. Menurt Daryanto (2010:164), media presentasi Powerpoint memiliki sejumlah keutamaan sebagai berikut:

1) materi dapat disajikan lebih menarik karena mampu mengintegrasikan unsur-unsur multimedia dalam satu paket;

2) menyediakan berbagai efek animasi yang dapat digunakan sesuai keperluan untuk kepentingan efektivitas presentasi;

(27)

4) dapat digunakan secara klasikal;

5) dapat diperbanyak sesuai kebutuhan dan dipakai berulang-ulang;

6) dapat disimpan dalam bentuk data optic maupun magnetic (SC, Disket atau flashdisk), sehingga praktis dibawa kemana-mana.

Presentasi Powerpoint tersebut dapat digunakan secara klasikal ataupun individu, sehingga seorang guru dapat cukup sekali mempresentasikan materi termasuk latihannya kepada seluruh siswa secara klasikal. Selanjutnya materi presentasi tersebut dapat diperbanyak dan dipergunakan kembali oleh siswa secara individu sebagai bahan belajar mandiri dengan bantuan fasilitas komputer.

File presentasi Powerpoint memiliki nilai praktis dan efektif dimana, file tersebut dapat disimpan pada media yang lebih kecil dan mudah untuk dibawa dan digunakan dimana saja. Demikian populernya Powerpoint sebagai media presentasi, saat ini telah banyak file-file Powerpoint pembelajaran yang dapat diunduh dari berbagai situs untuk menunjang pembelajaran berbasis komputer.

Selain kelebihan dari media presentasi Powerpoint di atas, Ariani dan Haryanto (2010:129), mengemukakan sejumlah keterbatasan atau kelemahan dari media presentasi Powerpoint sebagai berikut:

1) tidak semua guru mahir dalam mengoperasikan komputer, apalagi membuat presentasi sendiri;

2) penggunaan efek animasi yang tidak sesuai dapat mengalihkan perhatian dan konsentasi siswa atas materi pembelajaran;

3) penggunaan foto, animasi atau video yang tidak sesuai dapat mengalihkan perhatian siswa atas materi utama di mana mereka akan lebih tertarik pada animasinya daripada materi pelajaran yang dipresentasikan;

(28)

5) suara atau sound yang kurang jelas akan berdampak pada kesalahan atau kekeliruan dalam pengucapan (pronunciation) dan interpretasi pesan atau informasi yang dipresentasikan.

C. Penguasaan Kosakata 1. Definisi Kosakata

Mempelajari kata-kata dalam bahasa asing tidak hanya mencakup pembelajaran makna kata, akan tetapi juga mempelajari bagaimana kata-kata tersebut diterapkan sesuai dengan konteks kebahasaan yang baik dan benar. Kosakata merupakan salah satu alat yang memungkinkan pembelajaran bahasa asing berkomunikasi dengan bahasa yang dipelajari. Hal ini selaras dengan pernyataan Herrel dan Jordan (2004:149), “Vocabulary is essential in all areas of language learning. Vocabulary is a kind of tool which enables language learners to communicate a language.” Untuk memperoleh dan menyampaikan informasi, siswa harus memahami makna kata yang digunakan.

(29)

Dalam hal ini, guru diharapkan senantiasa membanti siswa memahami dengan lebih baik teks bacaan dengan mengajarkan kata-kata kunci yang digunakan dalam teks secara eksplisit.

Dalam berkomunikasi menggunakan bahasa, kosakata merupakan unsur yang sangat penting. Elsjelyn (2012:31) bahwa kemampuan berbahasa sangat tergantung pada luasnya perbendaharaan kata yang dimiliki seseorang. Makna suatu wacana sebagai pembentuk ujaran sebagian besar ditentukan oleh kosakata yang digunakan. Tanpa penguasaan kosakata yang cukup, seseorang tidak akan mampu menampilkan seluruh keterampilan berbahasa secara maksimal baik yaitu menyimak dengan baik, berbicara dengan lancar, membaca dengan baik dan menulis dengan baik. Oleh karena itu, pembelajaran kosakata diprioritaskan di awal pembelajaran bahasa asing.

2. Aspek-Aspek Kosakata

Pembahasan penguasaan kosakata bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris tentunya berkaitan erat dengan pemahaman aspek-aspek kosakata bahasa tersebut. Untuk menguasai kosakata secara luas, setiap orang perlu mengetahui sejumlah aspek kosakata suatu bahasa. Dalam hal ini, Pavlu (2009:26-27) mengemukakan sejumlah aspek kosakata yaitu: pelafalan (pronunciation), tata bahasa (grammar), makna kata (meaning), bentuk kata (word formation) dan jabatan kata (word class).

(30)

Pemahaman kata tersebut secara lisan hanya dapat diperloeh dengan memperhatikan konteks pembicaraan.

Tata bahasa (grammar) merupakan aspek lain dalam penguasaan kosakata di mana pada aspek ini penguasaan kosakata ditunjukkan dengan kemampuan pembelajar atau pengguna bahasa Inggris memadukan kata-kata dalam kalimat atau ujaran dengan benar. Begitupun halnya dengan padanan kata, seorang pembelajar atau pengguna bahasa Inggris akan dipandang menguasai kosakata bahasa Inggris ketika menguasai sejumlah padanan kata yang umum digunakan secara lisan maupun tertulis.

Aspek lain yang telah umum dikenal adalah makna (meaning) dan digolongkan ke dalam sejumlah kategori. Dua kategori makna yang telah banyak digunakan dalam tes kebahasaan adalah makna sama (sinonym) dan lawan kata (antonym). Contoh sinonim yatu kata ‘pretty’ dan ‘beautiful’ meskipun ejaan dan pengucapan berbeda namun pada dasarnya kedua kata tersebut memiliki makna yang sama yaitu indah atau cantik. Contoh antonim yaitu ‘big’ dan ‘small’ yang keduanya memiliki penulisan, pengucapan dan makna yang berbeda di mana ‘big’ artinya besar sedangkan ‘small’ berarti kecil. Pembelajar lanjutan (advance learner) bahasa Inggris dituntut untuk mempelajari dan menguasai kosakata dengan memperhatikan bentukan kata yang berimbuhan awalan (prefix), sisipan (infix) dan akhiran (suffix).

(31)

1) Kata benda / nouns: sun, computer 2) Kata sifat / adjectives: long, happy

3) Kata ganti / pronouns: I, him, they, there, here 4) Kata bilangan /numeric: first, two

5) Kata Kerja / verb: take, decide

6) Kata keterangan / adverb: always, never 7) Kata depan / prepositions : on, by 8) Kata penghubung / conjunctions: or, and

3. Pembelajaran Kosakata Bahasa Inggris

Menurut Santrock (2011:69), perkembangan kosakata siswa akan senantiasa berkembang secara dramatis seiring dengan pembelajaran dan pengenalan kata yang diperoleh dan digunakan dalam frekuensi yang tinggi dalam komunikasi lisan dan tertulis dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga penguasaan kosakata dalam hal ini ditentukan oleh seberapa tinggi frekuensi komunikasi lisan dan tertulis yang dialami siswa secara bermakna. Dalam hal ini pengenalan dan pengembangan penguasaan kata-kata baru yang ditemukan pada saat pembelajaran membaca.

Berkaitan dengan upaya pembelajaran kosakata, Elsjelyn (2012:31-39) memaparkan tiga hal yang perlu diperhatikan dalam mempelajari kosakata yaitu: jumlah kata yang perlu dipelajari, cara meningkatkan perbendaharaan kata dan manfaat pengulangan (review).

1) Jumlah kata yang perlu dipelajari

(32)

perlu dikenal secara pasif (recognition vocabulary), yaitu kata yang dapat dimengerti seseorang pada saat membaca ataupun mendengar kata itu. Pada umumnya, recognition vocabulary yang dikuasai seseorang jauh lebih banyak dan perbendaharaan ata aktif (productive vocabulary) yaitu kata yang memiliki frekuensi yang tinggi digunakan dalam berbicara dan menulis.

2) Cara meningkatkan perbendaharaan kata

Banyak cara yang dapat digunakan siswa untuk menambah perbendaharaan kata. Ada yang mempelajari kata dengan mengelompokkan kata berdasarkan topik, ada yang menulis kata-kata baru berulangkali sampai hafal, da nada juga yang memakai kartu-kartu kecil yang memuatkata baru pada salah satu sisi dengan terjemahan atau definisi di sisi lainnya.

Berkaitan dengan upaya peningkatan perbendahaaan kata, Elsjelyn (2012: 34) mengemukakan dua strategi utama yaitu pemanfaatan konteks dan penguraian kata.

a) Pemanfaatan Konteks

(33)

Sebagai contoh, seorang siswa mecari makna kata ‘tender’ dan menemukan paling sedikit empat arti yang berbeda tergantung pemakaiannya dalam kalimat. Beberapa contoh penerapannya adalah sebagai berikut:

- The mear is tender. (Daging itu lunak.) - He has a tender heart. (Dia berhati lembut.)

- He got married at a tender age. (Dia menikah pada usia muda.) - He is a bar tender.(Dia seorang pelayan bar.)

Dari contoh di atas, tentunya siswa memerlukan contoh-contoh penggunaan kata-kata dalam beragam konteks sehingga mereka mampu menggunakan setiap kata yang dipelajari sesuai dengan konteks yang digunakan. Mengingat banyaknya makna yang dikandung sebuah kata, cara terbaik untuk mempelajarinya adalah dengan banyak membaca. Dengan membaca, siswa secara tidak langsung dapat mempelajari dan mengembangkan perbendaharaan katanya.

b) Penguraian Kata

Sebagian besar kata dalam bahasa Inggris merupakan kata bentukan yang terdiri dari tiga unsur yaitu akar kata, awalan dan akhiran. Masing-masing unsur ini memegang peranan sebagai penentu arti suatu kata. Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk mempelajari dan mengerti fungsi dari masing-masing unsur tersebut. Dengan mempelajari akar kata dan awalan, seseorang dapat menabah perbendaharaan katanya, karena dengan akar kata dan awalan pembentuk kata, siswa dapat mengetahui arti kata tanpa harus menggunakan kamus.

(34)

dapat juga dibentuk beberapa kata lain seperti ‘congress’, ‘digress’, ‘egress’, ‘regress’, ‘retrogress’ dan ‘transgress’. Dari perpaduan arti antara akar kata dan awalan yang berbeda-beda ini dapat diketahui arti masing-masing kata sebagai berikut:

a) ‘con’ (dengan, bersama): congress = maju bersama b) ‘e’ (di luar): egress = melangkah keluar

c) ‘di’ (dua): digress = menyimpang d) ‘re’ (kembali lagi): regress = mundur

e) ‘retro’ (kembali ke belakang): retrogress = mundur f) ‘trans’ (melewati): transgress = melanggar

Bila akar kata dan awalan berguna untuk menentukan arti dari suatu kata, maka akhiran berguna untuk menentukan fungsi dari suatu kata dalam kalimat. Misalnya akhiran –ion mengubah kata kerja ‘digress’ menjadi kata benda ‘digression’ dan akhiran –ive mengubahnya menjadi kata sifat ‘digressive’ yang kemudian dapat juga menjadi kata keterangan ‘digressively’ bila kata sifat ini ditambah dengan akhiran ‘ly. Dengan demikian penguraian kata dengan memperhatikan akar kata awalan dan akhiran akan membantu pengembangan perbendaharaan kosakata siswa.

3) Manfaat pengulangan (review)

(35)

pengulangan. Dalam hal ini, pengulangan perlu diakukan pada waktu siswa mengingat kata yang dipelajari kira-kira 10 menit setelah belajar dan pengulangan selanjutnya dapat dilakukan setelah beberapa jam, hari, minggu dan bulan.

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang ada, peneliti merumuskan hipotesis penelitian ini sebagai berikut:

1. Terdapat perbedaan pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris yang signifikan antara siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan media Powerpoint dengan Media buku teks.

2. Terdapat perbedaan pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris yang signifikan antara siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang tinggi dengan yang rendah.

3. Terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara penggunaan media Powerpoint dan penguasaan kosakata terhadap pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa.

4. Terdapat perbedaan pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris yang signifikan antara siswa yang tinggi penguasaan kosakata dan belajar dengan media Powerpoint dengan siswa yang belajar dengan media buku teks.

5. Terdapat perbedaan pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris yang signifikan antara siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang rendah dan belajar dengan media Powerpoint dengan siswa yang belajar dengan media buku teks.

(36)

penguasaan kosakata yang tinggi dan siswa yang memiliki penguasaan kosakata rendah.

(37)

A. Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah dan hipotesis penelitian yang telah dirumuskan, tujuan penelitian ini adalah untuk:

1. Mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran Powerpoint dan buku teks terhadap pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Muncang Kabupaten Lebak.

2. Mengetahui pengaruh penguasaan kosakata yang tinggi dan rendah terhadap pemahaman teks naratif berbahasa Inggris siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Muncang Kabupaten Lebak.

3. Mengetahui pengaruh interaksi penggunaan media Powerpoint dan penguasaan kosakata terhadap pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Muncang Kabupaten Lebak.

4. Mengetahui pengaruh penggunaan media Powerpoint dan buku teks terhadap pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Muncang Kabupaten Lebak berpenguasaan kosakata yang tinggi. 5. Mengetahui pengaruh penggunaan media PowerPoint dan buku teks terhadap

pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Muncang Kabupaten Lebak berpenguasaan kosakata yang rendah. 6. Mengetahui pengaruh penggunaan media Powerpoint terhadap pemahaman

membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa kelas VIIII SMP Negeri 3 Muncang Kabupaten Lebak yang memiliki penguasaan kosakata yang tinggi dan rendah.

(38)

7. Mengetahui pengaruh penggunaan media buku teks pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa kelas VIIII SMP Negeri 3 Muncang Kabupaten Lebak yang memiliki penguasaan kosakata yang tinggi dan rendah.

B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Penelitian pengaruh penggunaan media PowerPoint dan penguasaan kosakata terhadap pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa kelas VIII ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 3 Muncang Kabupaten Lebak dikarenakan peneliti adalah salah seorang tenaga pendidik yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran bahasa Inggris siswa siswa kelas VIII di sekolah tersebut sehingga penelitian yang dilakukan merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan tugas mengajar sehari-hari sehingga penelitian mendapatkan izin dan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

2. Waktu Penelitian

Perkiraan waktu yang diperlukan sampai pada pelaporan penelitian adalah kurang lebih lima bulan dimulai pada bulan Maret sampai Juni 2014 .

C. Metode Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah penelitian, metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Menurut Darmadi (2013: 40), penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan dengan memanipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol. Untuk kepentingan penelitian, digunakan desain faktorial yang memungkinkan penyelidikan dua variabel atau lebih secara sendiri-sendiri maupun dalam interaksi dengan yang lainnya. Menurut Darmadi (2013: 237), desain faktorial penelitian dapat digambarkan pada tabel 3.1 di bawah ini.

(39)

Desain Penelitian

(disesuaikan dengan desain Darmadi, 2013: 237)

Penguasaan

A1= Pembelajaran dengan media PowerPoint A2= Pembelajaran dengan media buku teks B1= Penguasaan kosakata luas

B2= Penguasaan kosakata sempit

A1B1= Kelompok siswa dengan penguasaan kosakata yang tinggi dan mendapatkan perlakuan pembelajaran dengan media PowerPoint

A1B2 = Kelompok siswa dengan penguasaan kosakata yang rendah dan mendapatkan perlakuan pembelajaran dengan media PowerPoint. A2B1 = Kelompok siswa dengan penguasaan kosakata yang tinggi dan

mendapatkan perlakuan pembelajaran dengan media buku teks.

A2B2 = Kelompok siswa dengan penguasaan kosakata yang rendah dan mendapatkan perlakuan pembelajaran dengan media buku teks.

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Muncang Kabupaten Lebak. Peneliti memilih populasi tersebut dikarenakan peneliti mengajar di tempat penelitian sebagai tenaga guru tetap sehingga diharapkan peneliti memperoleh kemudahan dan kelancaran dari awal sampai akhir penelitian. Populasi penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.2 di bawah ini.

Tabel 3.2

Populasi Penelitian

(40)

2. Sampel Penelitian

Menurut Darmadi (2013:50), sampel adalah sebagian dari populasi yang dijadikan objek/subjek penelitian yang refresentatif. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan teknik probability sampling dengan mengambil 2 nama kelas secara acak dan hasilnya adalah kelas VIIIB dan VIIIC yang selanjutnya sampel diambil dengan teknik simple random sampling menggunakan undian. Setiap siswa berkesempatan memilih satu lilitan kertas berisikan nomor 1-70 dalam kotak dan bagi siswa yang memperoleh nomor ganjil akan dimasukkan ke dalam kelompok A (eksperimen) sedangkan siswa yang memperoleh nomor genap akan menjadi kelompok kontrol dengan masing-masing jumlah sampel pada tiap kelompok adalah 35. Jadi total jumlah sampel yang digunakan adalah 70 siswa. Setelah terbentuk dua kelompok, selanjutnya dilakukan pengukuran penguasaan kosakata bahasa Inggris siswa dengan tes hasil belajar pada tiap kelompok, membagi siswa ke dalam tiga kelompok penguasaan kosakata (tinggi, sedang, rendah) dan mengambil kelompok siswa dengan penguasaan kosakata yang tinggi dan rendag sehingga ukuran jumlah sampel dapat dilihat pada Tabel 3.3 berikut.

(41)

E. Teknik Pengumpulan Data

1. Instrumen Pemahaman Membaca

Pemahaman membaca atau reading comprehension dalam penelitian ini adalah keterampilan mengolah teks bacaan dan pengetahuan terkait topik bacaan guna menangkap pesan, gagasan atau informasi yang disampaikan penulis dalam teks naratif berbahasa Inggris.

Pemahaman membaca teks naratif bahasa Inggris adalah kemampuan siswa memahami teks-teks naratif yang disediakan dengan menjawab soal-soal pemahaman berbentuk pilihan ganda (multiple-choice item) berjumlah 30 butir soal dengan empat pilihan yaitu A, B, C, dan D. Jawaban yang benar akan mendapat skor 1 dan jawaban yang salah akan mendapat skor 0.

Kisi-kisi instrumen soal tes pemahaman membaca teks naratif Bahasa Inggris kelas VIII mengacu pada kompetensi dasar membaca pada mata pelajaran Bahasa Inggris kelas VIII semester 2.

Tabel 3.4

Kisi-Kisi Instrumen Pemahaman Membaca Teks Naratif Kompetensi

Dasar Indikator

Jenjang

Jumlah

C1 C2

Merespon makna

dan langkah

retorika dalam

esei pendek

sederhana secara akurat, lancer dan berterima yang

Menemukan informasi rinci

- 1,10,13,22 4 Menemukan makna tersurat 2,15,23,26 4 Menemukan makna tersirat 3,4,5,21,24 5 Menemukan gambaran umum

paragraf atau teks 16,18,19,20 4

(42)

berkaitan dengan lingkungan

sekitar dalam teks berbentuk

Mengurutkan kalimat menjadi

paragraf yang padu. - 27,28 2

Mengidentifikasi pesan/nilai

moral teks - 6,12,25 3

Melengkapi teks rumpang

dengan kata-kata yang tepat - 7,8,9,29,30 5

Jumlah - 30 30

2. Instrumen Penguasaan Kosakata

Penguasaan kosakata adalah pengetahuan sejumlah kata-kata Bahasa Inggris disertai kemampuan memahami dan menggunakannya dalam berbagai konteks baik secara lisan ataupun tertulis.

Pengukuran penguasaan kosakata siswa diukur dengan 40 butir soal pilihan ganda soal dengan skor 1 untuk jawaban yang benar dan 0 untuk jawaban yang salah. Kisi-kisi instrumen mengacu pada materi kosakata yang digunakan dalam teks-teks naratif bahasa Inggris kelas VIII.

Tabel 3.5

Kisi-kisi Instrumen Penguasaan Kosakata

No Indikator Nomor Soal Jumlah Soal

1 Mengidentifikasi kata yang diucapkan dan dilafalkan dengan tepat

31,32,33,34,35,

(43)

mungkin, setiap butir yang instrumen diujikan perlu diuji keabsahan atau validitasnya. Dalam rangka uji validitas, peneliti menguji coba butir soal tes pemahaman membaca dan penguasan kosakata sebanyak 30 soal terhadap 27 sampel uji dan dianalisis dengan teknik korelasi Point Biseraial menurut Arikunto (2010:213) dengan rumus sebagai berikut:

r

bis

=

X

i

X

t

S

t

p

q

Keterangan:

rbis = koefisien korelasi

X

i = mean skor dari subjek-subjek yang menjawab benar

X

t = mean skor total (skor rata-rata seluruh responden)

S

t = standar deviase skor total

p = proporsi subjek yang menjawab benar item

p

=

jumlah

.

responden

.

yang

.

menjawab

.

benar

.

item

jumlah

.

seluruh

.

responden

q = 1 - p

Hasil perhitungan uji validitas butir soal dibandingkan dengan nilai kritik r pada tabel r Product Moment. Butir soal dikatakan valid bila rhitung > rtabel. Data uji validitas instrumen ini diolah dengan bantuan program aplikasi SPSS 20. Hasil uji validitas ini akan menentukan butir instrumen yang layak digunakan dalam pengumpulan data penelitian.

b. Uji Reliabilitas

(44)

rii= K

K−1

(

St2

pq

St2

)

Keterangan:

r11 = reliabilitas instrumen k = banyak butir pertanyaan vt = varians total

p = proporsi subjek yang menjawab benar item

p

=

jumlah. responden . yang . menjawab benar item

jumlah seluruh responden

q = 1 - p

Hasil perhitungan uji reliabilitas instrumen dikonsultasikan dengan tabel interpretasi r untuk mengetahui tingkat korelasi butir-butir instrumen.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data penelitian meliputi analisis data dengan statistik deskriptif. Analisis data dengan statistik deskriptif dilakukan untuk membuat ringkasan dan deskripsi data yang telah dikumpulkan dalam bentuk tabell distribusi frekuensi dan histogram.

(45)

A. Deskripsi Data

Deskripsi data hasil penelitian ini adalah gambaran umum membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa kelas VIII SMP negeri 3 Muncang Kabupaten Lebak tahun pelajaran 2013/2014. Data yang disajikan merupakan data yang telah diolah dengan menggunakan aplikasi SPSS.20.

1. Deskripsi Pemahaman Membaca Teks Naratif Berbahasa Inggris Menggunakan Media PowerPoint (A1)

Tabel 4.1 Deskripsi A1

Berdasarkan Tabel 4.1, pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris menggunakan media PowerPoint, diketahui dari total 24 siswa, nilai minimum adalah 13 dan nilai maksimum 26 dengan nilai rata-rata 18.16.

2. Deskripsi Pemahaman Membaca Teks Naratif Berbahasa Inggris Menggunakan Media Buku Teks (A2)

Tabel 4.2 Deskripsi A2

(46)

Berdasarkan Tabel 4.2, pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris menggunakan media buku teks, diketahui dari total 24 siswa, nilai minimum adalah 9 dan nilai maksimum 21 dengan nilai rata-rata 15,66. Perbandingan dengan deskripsi pemahaman membaca menggunakan media PowerPoint, nilai rata-rata pemahaman membaca teks berbahasa Inggris menggunakan media Power Point (15,667) lebih tinggi daripada nilai rata-rata pemahaman membaca menggunakan media buku teks. Sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan pembelajaran dengan media PowerPoint lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa.

3. Deskripsi Pemahaman Membaca Teks Naratif Berbahasa Inggris Siswa dengan Penguasaan Kosakata yang Tinggi (B1)

(47)

Berdasarkan tabel 4.3, pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang tinggi (luas), diketahui dari total 24 siswa, nilai minimum adalah 12 dan nilai maksimum 26 dengan nilai rata-rata 17,04.

4. Deskripsi Pemahaman Membaca Teks Naratif Berbahasa Inggris Siswa yang Memiliki Penguasaan Kosakata Rendah (B2)

Tabel 4.4 Deskripsi B2

(48)

5. Deskripsi Pemahaman Membaca Teks Naratif Berbahasa Inggris Siswa Menggunakan Media Powerpoint dan Memiliki Penguasaan Kosakata yang Tinggi (A1 B1)

Tabel 4.5 Deskripsi A1B1

Berdasarkan tabel 4.5, pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang tinggi (luas) setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media PowerPoint, diketahui dari total 12 siswa, nilai minimum adalah 14 dan nilai maksimum 26 dengan nilai rata-rata 18,25 dan standar deviasi atau simpangan baku 3,79.

6. Deskripsi Pemahaman Membaca Teks Naratif Berbahasa Inggris Siswa Menggunakan Media Powerpoint dan Memiliki Penguasaan Kosakata Rendah (A1 B2)

(49)

Berdasarkan Tabel 4.6, pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang rendah (sempit) setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media PowerPoint, diketahui dari total 12 siswa, nilai minimum adalah 13 dan nilai maksimum 21 dengan nilai rata-rata 18,08 dan standar deviasi atau simpangan baku 2,42. Perolehan nilai minimum, maksimum dan nilai-rata-rata dengan kelompok siswa berpenguasaan kosakata rendah ini lebih kecil daripada perolehan kelompok siswa berpenguasaan kosakata yang tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penguasaan kosakata berpengaruh besar terhadap penmahaman membaca teks naratif siswa.

7. Deskripsi Pemahaman Membaca Teks Naratif Berbahasa Inggris Siswa Menggunakan Media Buku Teks dan Memiliki Penguasaan Kosakata Tinggi (A2 B1)

(50)

Berdasarkan Tabel 4.7, pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang tinggi (luas) setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media buku teks, diketahui dari total 12 siswa, nilai minimum adalah 12 dan nilai maksimum 21 dengan nilai rata-rata 15,83 dan standar deviasi atau simpangan baku 2,88.

8. Deskripsi Pemahaman Membaca Teks Naratif Berbahasa Inggris Siswa Menggunakan Media Buku Teks dan Memiliki Penguasaan Kosakata Sempit (A2 B2)

Table 4.8 Deskripsi A2B2

(51)

adalah 12 dan nilai maksimum 21 sama halnya dengan perolehan kelompok siswa dengan penguasaan kosakata tinggi akan tetapi nilai rata-rata 15,83 kelompok siswa dengan penguasaan kosakata rendah lebih kecil daripada nilai rata-rata kelompok siswa dengan penguasaan kosakata bahasa Inggris yang tinggi atau luas. Dengan demikian dapat dikatakan penguasaan kosakata berpengaruh secara signifikan terhadap pemahaman membaca siswa.

B. Pengujian Hipotesis

Untuk menguji hipotesis perbedaan, data diolah menggunakan aplikasi SPSS.20 menggunakan Independent Sample t Test, dengan kriteria penerimaan Ho apabila nilai t hitung < nilai t tabel pada taraf kepercayaan, 0,05. Sedangkan pengujian pengaruh interaksi media PowerPoint dan penguasan kosakata terhadap pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa selanjutnya akan dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Varians).

1. Perbedaan pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris antara siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan media Powerpoint dengan Media buku teks.

Tabel 4.9

Group Statistics A1 dan A2

(52)

Sepintas dapat diketahui bahwa pembelajaran dengan media PowerPoint lebih efektif daripada pembelajaran dengan buku teks.

Tabel 4.10

Independent Samples Test A1 dan A2

Berdasarkan Tabel 4.10 di atas, diketahui nilai t hitung adalah sebesar 2,393. Hasil tersebut dibandingkan dengan nilai t tabel dengan df=46 dan taraf signifikansi 0,05 yaitu 1,679. Berdasarkan hasil perhitungan dan perbandingan, maka nilai t hitung 2,393 > t tabel 1,679, sehingga Ho ditolak. Dengan kata lain, terdapat perbedaan pemahaman membaca teks naratif berbahasa inggris yang signifikan antara siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan media PowerPoint dengan media buku teks.

2. Perbedaan pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris antara siswa yang rendah penguasaan kosakatanya dengan siswa yang tinggi penguasaan kosakatanya.

Tabel 4.11

(53)

Pada Tabel 4.11 di atas, diketahui nilai rata-rata pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris kelompok siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang tinggi lebih besar daripada kelompok siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang rendah.

Tabel 4.12

Independent Samples Test B1 dan B2

Berdasarkan Tabel 4.12 di atas, diketahui nilai t hitung adalah sebesar 8,464. Berdasarkan hasil perhitungan dan perbandingan, maka nilai t hitung 8,464 > t tabel 1,679 pada taraf signifikansi 0,05 dengan df=46, sehingga Ho ditolak. Dengan kata lain, terdapat perbedaan pemahaman membaca teks naratif berbahasa inggris yang signifikan antara siswa yang memiliki penguasaan kosakata bahasa Inggris yang tinggi dan yang rendah.

3. Pengaruh interaksi yang signifikan antara penggunaan media Powerpoint dan penguasaan kosakata terhadap pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa.

Tabel 4.13

Persamaan Regresi Y atas Penggunaan Media PowerPoint (X1) dan Penguasaan Kosakata (X2)

(54)

Berdasarkan tabel 4.13 di atas, dapat diketahui persamaan regresi data variabel penggunaan media PowerPoint dan penguasan kosakata terhadap pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa dengan arah regresi b= 0,367, c=0,174 dan konstanta a= 3,827, sehingga bentuk hubungan anatara ketiga variabel tersebut dapat ditulis dalam peramaan regresi Y= 3,827+ 0,367X1+ 0,174X2. Selanjutnya untuk mengetahui tingkat signifikansi persamaan regresi tersebut dilakukan uji F dengan output pada Tabel 4.32 berikut ini.

Tabel 4.14 ANOVAa

Model Sum of

Squares

df Mean

Square

F Sig.

1

Regression 238.890 2 119.445 138.829 .000b

Residual 18.068 21 .860

Total 256.958 23

a. Dependent Variable: Pemahaman_Membaca

b. Predictors: (Constant), Penguasaan_Kosakata, Penggunaan_media

Pada tabel 4.14 di atas, diketahui nilai signifikansi persamaan regresi Y= 0,000. Jika dibandingkan dengan nilai α (0,05) nilai tersebut lebih kecil. Dengan kata lain, persamaan regresi yang diperoleh adalah signifikan. Selain itu, signifikansi persamaan regresi dapat diketahui dengan membandingkan nilai F hitung dengan F

(55)

maka persamaan regresi yang diperoleh adalah signifikan. Dengan demikian, hasil pengujian hipotesis ini membuktikan Ho ditolak sehingga hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara penggunaan media Powerpoint dan penguasaan kosakata terhadap pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris siswa.

Tabel 4.15

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .964a .930 .923 .92756

a. Predictors: (Constant), Penguasaan_Kosakata, Penggunaan_media

b. Dependent Variable: Pemahaman_Membaca

(56)

teks naratif berbahasa Inggris sebesar 93%, sedangkan sisanya sebesar 7% dipengaruhi faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

4. Perbedaan pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris antara siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang tinggi dan belajar dengan media Powerpoint dengan siswa yang belajar dengan media buku teks. Tabel 4.16

Group Statistics A1B1 dan A2B1

Pada Tabel 4.16 di atas, diketahui nilai rata-rata pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris kelompok siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang tinggi menggunakan media PowerPoint yaitu 20,58 lebih besar daripada kelompok siswa yang menggunakan media buku teks yaitu 18,41.

Tabel 4.17

Independent Sample Test A1B1 dan A2B1

(57)

tinggi dan belajar dengan media PowerPoint dengan kelompok siswa yang belajar dengan media buku teks.

5. Perbedaan pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris antara siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang rendah dan belajar dengan media Powerpoint dengan siswa yang belajar dengan media buku teks. Tabel 4.18

Group Statistics A1B2 dan A2B2

Pada Tabel 4.18 di atas, diketahui nilai rata-rata pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris kelompok siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang rendah menggunakan media PowerPoint yaitu 15,33 lebih besar daripada kelompok siswa yang menggunakan media buku teks yaitu 12,91.

Tabel 4.19

Independent Samples Test A1B2 dan A2B2

(58)

6. Perbedaan pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris dengan media Powerpoint antara siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang tinggi dengan siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang rendah. Tabel 4.20

Group Statistics A1B1 dan A1B2

Pada Tabel 4.20 di atas, diketahui nilai rata-rata pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris kelompok siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang rendah menggunakan media PowerPoint yaitu 20,58 lebih besar daripada kelompok siswa yang menggunakan media buku teks yaitu 15,33.

Tabel 4.21

Independet Samples Test A1B1 dan A1B2

(59)

7. Perbedaan pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris dengan media buku teks antara siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang tinggi dengan siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang rendah.

Tabel 4.22

Group Statistics A2B1 dan A2B2

Tabel 4.22 di atas menggambarkan perolehan nlai rata-rata yang berbeda antara pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris dengan media buku teks yang signifikan siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang tinggi dengan siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang rendah. Setelah mengikuti pembelajaran dengan media buku teks, kelompok siswa yang memiliki penguasaan kosakata bahasa Inggris yang tinggi memperoleh nilai rata-rata pemahaman membaca teks naratif berbahasa Inggris yang lebih besar yaitu 18,41 daripada kelompok siswa yang memiliki penguasaan kosakata yang rendah yaitu 12,91.

Tabel 4.23

Independet Samples Test A2B1 dan A2B2

Gambar

Tabel 2.1
Grafik dan Tabel
Gambar 2.2.Pengumpulan
Tabel 3.2Populasi Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

inefisiensi dalam ekonomi neoklasik bisa inefisiensi dalam ekonomi neoklasik bisa terjadi bukan cuma akibat adanya struktur terjadi bukan cuma akibat adanya struktur pasar

The attribute named 'threshholdsBelongTo' belonging to the definition of the element Categorize should correctly spell 'thresholdBelongsTo'. The same applies for its

method is intended to capture the phenomenon of teaching and learning in the classroom comprehensively particularly how the students’ oral proficiency might be

Salah satu jenis bahan tambahan makanan adalah bahan pengawet makanan, yang berfungsi untuk mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman atau penguraian dan perusakan

Oleh karena tingginya prevalensi diabetes mellitus dan tingginya risiko penyakit arteri koroner (aterosklerosis koroner) sebagai komplikasi,dan mengambarkan bagaimana

Untuk mengetahui tindakan kolektif masyarakat pemulung yang tinggal di. Kampung Pemulung Kelurahan Bantan Kecamatan Medan

mengidentifikasi dari region mana asal dari setiap input antara dan input primer yang digunakan dalam proses produksi.. Efek umpan

Hal ini berarti tingkat pengangguran terbuka di kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah tidak ditentukan oleh belanja modal dan investasi yang ada di tiap