STRATEGI DAKWAH MASA DEPAN
Tugas Akhir Smester
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Akhir
Mata Kuliah Ilmu Dakwah
Dosen Pengampu : Nur Ahmad, S.Sos.I., M.S.I
Disusun Oleh:
Nama : Ahmad
NIM : 1340120005
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN DAKWAH DAN KOMUNIKASI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dakwah amar ma’ruf nahi mungkar secara praktis telah berlangsung sejak adanya interaksi antara Allah dengan hambaNya (periode Nabi Adam AS), dan akan berakhir bersamaan dengan berakhirnya kehidupan di dunia ini. Da'wah Islam sebagai wujud menyeru dan membawa umat manusia ke jalan Allah pada dasarnya harus dimulai dari orang-orang Islam sebagai pelaku da'wah itu sendiri (ibda binafsika) sebelum berdakwah kepada orang/pihak lain sesuai dengan seruan Allah: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa neraka....’’(surat a Tahrim/66:6. Upaya mewujudkan Islam dalam kehidupan dilakukan melalui da'wah dengan cara mengajak kepada kebaikan (amar ma’ruf), mencegah kemunkaran (nahyu munkar), dan mengajak untuk beriman (tu'minuna billah) guna terwujudnya umat yang sebaik baiknya atau khairu ummah (Q.S. Ali Imran/3: 104).
Secara garis besar, dakwah adalah kegiatan yang berorientasi masa depan dan kemanusiaan, baik dekat atau amat jauh yaitu akhirat. Orientasi kemanusiaan dilakukan dengan mengembangkan kehidupan ke arah kesejahteraan mental rohaniah, sosio-politik dan ekonomi. Upaya ini didasarkan kondisi riil kampus atau kehidupan orang dan masyarakat yang berbeda-beda dalam realitas budaya yang meluas. Sayangnya, dakwah sering terlepas dari kebutuhan riil manusia yang semestinya menjadi dasar. Kegiatan dakwah seharusnya dikembangkan berdasarkan pengkajian secara mendetail tentang suatu komunitas yang akan di jadikan sebagai objek dakwah (mad’u).
B. Rumusan Masalah
1. Bagai mana gambaran dakwah masa depan?
BAB II
PEMBAHASAN
STRATEGI DAKWAH MASA DEPAN
A. Dakwah Masa Depan
Era global yang ditandai dengan ledakan informasi telah menjadikan dunia ini sebagai “kampung besar”. Dengan teknologi informasi yang serba canggih, tidak ada lagi sekat pemisah antara satu individu dan individu lainnya, di negara mana pun ia berada. Komunikasi yang terjalin tidak hanya dalam bentuk audio tetapi juga audio-visual. Melalui sistem informasi jaringan, kita dapat mengakses berbagai informasi kapan dan di mana pun. Peristiwa demi peristiwa bisa kita simak secara live. Semua sendi kehidupan manusia, bisa kita ketahui, baik melalui media cetak maupun media elektronik. Koran-koran, majalah, buku-buku, radio, televisi, telepon, internet, dan jenis alat informasi lainnya, bisa kita gunakan dengan mudah untuk berbagai keperluan.
Dakwah yang merupakan jalan panjang dan lintas generasi niscaya memerlukan daya tahan yang permanen. Bagi, individu kader dakwah daya tahan ini jug harus dimiliki agar tetap istiqamah sampai mengakhiri sejarah kehidupannya dengan husnul khatimah. Untuk itu, paling tidak ada lima faktor yang perlu dimiliki para aktivis dakwah untuk merealisir daya tahan di medan dakwah: menguatkan dan membersihkan motivasi, menggapai derajat iman, menggandakan kesabaran, kekuatan ukhuwah, dan dukungan soliditas struktur.
mewujudkan kecintaan kepada Allah, merasakan pengawasan Allah, dan hati-hati dalam beramal.
Ada empat alasan mengapa masa depan di tangan Islam, atau dengan ungkapan lain, Islam adalah agama dahulu, sekarang dan juga masa depan :
Sesuai dengan janji dan kehendak Allah sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur-an Al-karim yang antarnya :
a. “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakanamal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
mengokohkan bagi mereka agama (Islam) yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan apapun dengan Aku. Dan siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (Q.S. An-Nur /24 : 55).1
b. “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan Cukuplah Allah sebagai saksi” (Q.S. Al-Afath /48 : 28).
c. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selalin
menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai. Dia-lah yan telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petuunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik itu tidak menyukai” (Q.S. At-taubah / 9 : 32-33).
d. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai. Dia-lah yan telah
mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petuunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang
musyrik itu tidak menyukai” (Q.S. As-Shoff / 61 : 8-9).
e. “Sesungguhnya Kami pasti menolong Rasul-Rasul kami dan orang-orang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (kiamat)” (Q.S. Al-Mukmin /40 : 51).
f. “Jika kamu tidak mau menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir (musyrik Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedangkan dia salah seorang dari dua orang (dengan Abu Bakar Ash-shiddiq) ketika keduanya berada dalam gua, di waktu berkata kepada temannya :”Janganlah kamu bersedih sesungguhnya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan kalimat orang-orang kafir itu rendah dan Kalimat Allah itulah yang tinggi dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. At-taubah /9 : 40).
g. “….. Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang Mukmin”. (Q.S. Ar-Rum /30 : 47).
Dari Tsauban bahwa Nabi Saw. berkata : Sesungguhnya Allah mengkerutkan bumi bagiku sehingga aku melihat timur dan baratnya. Sesungguhnya kerajaan umatku akan sampai ke wilayah yang dikerutkan padaku, dan aku diberi (Allah) dua simpanan (pemerintahan Kisro dan kaisar di Irak dan Syam) merah dan dan putih (emas dan perak)….(Hadits Riwayat Muslim).2
Dari Nafi’ Bin Utaibah, dia berkata : Ketika aku bersama Rasulullah dalam suatu peperangan, maka tiba-tiba Nabi didatangi oleh suatu kaum dari sebelah barat, mereka memakai pakaian wol putih, lalu mereka menghampiri Nabi di sebuah bukit kecil. Mereka berdiri sedangkan Rasul duduk. Lalu berkata dalam diriku, datangi mereka dan berdirilah diantara mereka sehingga mereka tidak bisa membunuhnya (Rasulullah). Kemudia aku berkata lagi, barangkali Rasul sendang berbisik dengan mereka, lalu aku datng lagi dan berdiri di antara mereka. Maka Rasul berkata : Aku menghafal darinya empat (perkara) yang aku hitung dengan jariku, dia (Rasul) berkata : “Kamu akan memerangi Jazirah Arabia maka Allah akan memberikan kemenangan (pada kalian) atasnya, kemudian Persia, maka Allah akan memberikan kemenangan (pada kalian) atasnya, kemudian kamu akan memerangi Romawi maka Allah akan memberikan kemenangan (pada kalian) atasnya, kemudian kamu akan memerangi Dajjal, maka Allah akan memberikan kemenangan (pada kalin) atasnya”. Lalu Nafi’ berkata : Wahai Jabir kami mengira tidak akan keluar Dajjal sampai Romwi ditaklukkan (oleh kaum Muslimin).3
B. Tantangan Dakwah Masa Depan
Sesungguhnya dalam konteks menanggung beban perjuangan untuk menegakkan kebenaran Allah Subhanahu Wata’ala dan menyebarkan panji Allah Subhanahu Wata’ala bagi menegak negara Al Qur’an hendaklah menginsafi hakikat yang fundamental ini. Hal ini pun telah disebut oleh salah seorang pemimpin harakah semasa yang mendapat petunjuk dari Allah Subhanahu Wata’ala. Beliau berpesan:4
“Wahai saudara, dirikanlah negara Al Qur’an di dalam hati sanubari saudara, niscaya Ia akan terbina pula di tanahair saudara.”
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
3Shoheh Imam Muslim, hal 225
“Katakanlah wahai Muhammad, hendaklah kalian berusaha, nescaya Allah Subhanahu Wata’ala, RasulNya dan orang-orang beriman akan melihat usaha kalian, kelak kalian akan dikembalikan ke alam ghaib dan syahadah lalu Allah Subhahahu Wata’ala menjelaskan kepada kalian apa sebenarnya yang telah kalian usahakan.” (Qs. Al-Taubah: Ayat 105) .
Kurangnya kesiapan dan kemauan membangun komunikasi yang baik dan intensif sehingga terjadi proses ta’aruf (perkenalan), kemudian ditersuskan dengan tafahum (saling mengerti) dan kemudian ta’awun (tolong menolong) serta berlanjut dengan takaful (saling menopang) dengan harapan kemuidan bersinerji untuk menuju wihdatul harokah (kesatuan pergerakan).
Sebuah kenyataan dan fenomena menarik bahwa hampir di seluruh Dunia Islam selalu muncul tokoh-tokoh besar dakwah yang dalam menjalankan Dakwah Ilallah mengandalkan kemampuan dan kharismatik pribadi. Pengikut setia (anggota jama’ah) mereka sangat banyak. Pengaruh mereka di lapangan sangat terasa, termasuk dalam perubahan moral masyarakat. Kelebihan yang mereka miliki juga banyak, kendati kelemahan-kelemahannya juga tidak dapat dipungkiri karena disebabkan beramal secara infirodi (single fighter). Mereka harus dilihat sebagai asset umat yang berharga dan harus selalu berupaya menjalin silaturrahmi (komunikasi) yang baik dalam rangka menuju ta’aruf (berkenalan), tafahum (saling mengerti), ta’awun (kerjasama) dan selanjutnya takaful (saling menopang) serta berikutnya menuju tauhidul ummah (penyatuan potensi umat).
Dalam meniti liku dan lurah-lurah perjalanan ini kalaulah seorang Da’i tidak berada di bawah lindungan Allah Subhanahu Wata’ala, tidak berhubung terus dengan Nya, tidak bertawakkal kepadaNya, tidak berpegang kepada KitabNya dan tidak pula mengikuti Sunnah NabiNya maka sebenarnya ia sedang berada di ambang bencana dan musibah yang besar.5
Adapun rintangan yang di hadapi oleh pendakwah dari masa terdahulu, hingga masa kontenporer saat ini dan di masa depan tentulah hampir sama, namun
pada dasarnya dakwah di masa depan kita lebih di permudah dengan adanya media elektronik yang mampu mempermudah kita dalam berdakwah. Untuk lebih jelasnya rintangan yang di hadapi oleh pendakwah sebagai berikut:
a. Orang Mukmin Yang Dengki Kepadanya
Sebagaimana diketahui hasrad adalah penyakit hati yang amat berbahaya. Hasrad boleh mengikis Iman seseorang Mukmin jika ia tidak cepat kembali siuman, bertaubat kepada Tuhan dan tidak dilimpahi ‘Inayah dan Rahmat Subhanahu Wata’ala. Tepat seperti yang apa disabdakan oleh Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam:
“Penyakit umat sebelum kamu telah menular kepada kamu; yaitu hasrad dengki dan permusuhan. Permusuhan tersebut ialah pengikis atau pencukur, Saya tidak maksudkan ia mencukur rambut, tetapi (yang saya maksudkan) ialah ia mengikis agama.” (Hadith riwayat Al-Baihaqi)
Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam bersabda
“Bencana melepaskan dua ekor serigala lapar di dalam kandang kambing tidak lebih besar daripada bencana yang menimpa pegangan agama seorang Muslim dan sifat serakah terhadap harta (tamakkan harta) dan hasad dengki. Sesungguhnya sifat hasad memamah segala kebaikan persis seperti api menjilat kayu kering.” (Hadith riwayat Al-Tirmizi)
Faktor yang Membuat Hasrad Dengki
Di dalam Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karangan Imam Al Ghazzali radiyalla’anhu disimpulkan sebab-sebab yang menimbulkan perasaan hasrad dengki tersebut.
1. Perasaan Permusuhan dan Kebencian
alasan-alasan tertentu, hatinya pasti marah lalu membenci orang yang kalau ada sesiapa yang dianggapnya mengatasi dirinya. Dia tidak rela kalau ada orang lain melebihinya. Kalau ada orang-orang sepertinya yang mendapat lebih pangkat, kuasa, ilmu dan harta; dia bimbang kalau-kalau orang tersebut akan bersikap takabbur terhadapnya. Dia tidak boleh tahan dengan sikap mengatasi yang ditunjukkan oleh saingannya itu. Malah ia tidak boleh menerima apa yang dirasakannya sebagai sikap mengatasinya.
3. Takabbur
Jelasnya seorang itu mempunyai watak membesarkan diri terhadap orang lain, Selalu memperkecilkan dan memperhambakan seseorang. Ia menganggarkan seseorang itu mematuhinya. Apabila orang berkenan menerima atau memperolehi sesuatu kurnia ia khuatir kalau-kalau orang itu tidak lagi dapat merelakannya. Akhirnya orang yang telah mendapat kurnia tersebut akan enggan mengikutinya. Atau boleh jadi ia menganggap orang tersebut akan coba pula menyainginya. 6
Dari serangkaian diatas hanyalah sedikit contoh dari Hasrad dengki yang dapat menimbulkan tantangan para pendakwah untuk bias melewatinya di masa yang akan dating.
b. Orang Munafiq Yang Benci Kepadanya
Halangan kedua yang dihadapi oleh para da’ei Muslim ialah kebencian dan tipu-daya golongan munafiqun. Orang-orang yang munafiq memang ada di mana-mana dan dalam zaman apa pun sepanjang sejarah tidak sunyi dan kewujudan mereka. Ini adalah kerana motif dan karenah kemunculan golongan ini memang ada dan mungkin wujud bila-bila masa.
Manusia Munafiq mempunyai sifat-sifat dan perwatakan tertentu. Rasulullah telah menerangkan ciri-ciri mereka supaya dikenali oleh para Mukminin. Dengan demikian mereka dapat menghindarkan diri dari bahaya mereka. Antara Hadits Rasulullah yang berkaitan ialah sabda beliau.
“Ada tiga sifat; siapa yang.memilikinya maka dia adalah Munafiq walaupun ia berpuasa, solat, naik haji, mengerjakan umrah dan mengaku muslim. Iaitu orang yang berdusta bila berkata, mungkir bila berjanji dan mengkhianati amanah.” (Riwayat Abu Ya’li).7
Angkatan dakwah Islam sepanjang sejarah tidak pernah terlepas dari ancaman dan angkara golongan manusia seperti ini. Mereka tampil untuk merosak, menimbulkan keraguan terhadap pendakwah. Kadang-kadang mereka membonceng untuk meraih untung dan mendapat matlamat tertentu. Semasa hayat Rasulullah golongan Munafiq ini tidak pernah diam. Asal ada sahaja kesempatan pasti mereka eksploit untuk tujuan-tujuan mereka yang tersendiri. Allah mengungkapkan niat mereka dengan firmannya:
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya".
C. Strategi Dakwah Masa Depan
Dalam dakwah masa depan tentunya kita akan dituntut untuk lebih kreatif dalam menyajikan dakwah. Dakwah yang bernuansa menyegarkan umat agar tidak jenuh dengan dakwah yang bersifat monoton tentunya.
Tentunya menjadi pekerjaan Rumah para Da’i dalam menyajikan dakwah di masa depan dengan berbagai ke adaan yang berbeda, dakwah masa depan merupakan dakwah yang sangat penting bagi perkembangan agama islam karena demasa depan tak mungkin di pungkiri lagi bahwa manusia akan meninggalkan urusan yang berbau akhirat dan kebih mengutamakan kehidupan dunia yang semakin maju.
Berikut Strategi dakwah yang perlu di terapkan oleh para Da’i di masa yang akan datang yang tentunya akan mempermudah dalam berdakwah.
1. Kepemimpinan Dalam berdakwah
2. Strategi dakwah internal organisasi
Strategi dakwah internal organisasi adalah strategi dakwah yang dikhususkan bagi anggota masing-masing organisasi. Dalam hal ini, strategi internal organisasi cenderung dilaksanakan dengan memberikan pengarahan kepada anggota organisasi akan hakekat Islam. Ketiga organisasi keislaman di Desa Bangsri pada umumnya melandaskan pemahaman anggota-anggota mereka dengan sunnatullah terkait dengan perbedaan yang ada dan dialami oleh umat Islam.
3. Strategi dakwah eksternal
Strategi dakwah eksternal dilaksanakan oleh ketiga organisasi keislaman di Desa Bangsri Kecamatan Bangsri dengan cara menjalin silaturrahmi antar anggota organisasi. Silaturrahmi yang dijalin tidak hanya dilaksanakan dalam rangkaian acara keagamaan melainkan juga dalam kegiatan-kegiatan sosial. Bahkan kegiatan-kegiatan sosial telah mampu menjadikan ikatan persaudaraan antara anggota ketiga organisasi keislaman tersebut. Kegiatan-kegiatan sosial tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Kegiatan sosial perorangan
Kegiatan sosial perorangan yang membantu dalam mewujudkan upaya
ukhuwah Islamiyah adalah kegiatan-kegiatan hajatan perorangan. Melalui undangan yang disebar tanpa membedakan antar organisasi telah mampu menumbuhkan rasa persaudaraan. Hajatan yang diselenggarakan tidak hanya berkaitan dengan acara-acara penting dalam kehidupan namun juga menyangkut hajat-hajat lainnya seperti pembangunan rumah maupun ikut membantu dalam pindah rumah dan lain sebagainya.
Sama halnya dengan kegiatan sosial perorangan, kegiatan sosial kelembagaan juga dilakukan dalam berbagai bentuk. Bentuk-bentuk kegiatan sosial kelembagaan yang telah dapat menunjang strategi dakwah menuju terciptanya ukhuwah Islamiyah.
c. Dakwah melalui media
Media dakwah merupakan salah satu unsur yang sangat penting diperhatikan dalam aktivitas dakwah. Sebab sebagus apapun metode, materi dan kapasitas seorang dai tanpa didukung dengan sebuah media yang tepat seringkali hasilnya kurang efektif.
Aminuddin Sanwar (1986: 77-78), secara rinci membagi media dakwah ke dalam enam macam, yaitu:
1) Dakwah melalui saluran lisan, yaitu dakwah secara langsung dimana dai menyampaikan ajakan dakwahnya kepada mad’u.
2) Dakwah melalui saluran tertulis, yaitu kegiatan dakwah yang dilakukan melalui tulisan-tulisan.
3) Dakwah melalui alat visual, yaitu kegiatan dakwah yang dilakukan dengan melalui alat-alat yang dapat dilihat dan dinikmati oleh mata manusia.
4) Dakwah melalui alat audio, yaitu alat yang dapat dinikmati melalui perantaraan pendengaran.
5) Dakwah melalui alat audio visual, yaitu alat yang dipakai untuk menyampaikan pesan dakwah yang dapat dinimati dengan mendengar dan melihat.
DAFTAR PUSTAKA
An-Nawawi Imam. Terjemah Syarah Shahiih Muslim (Kampung Melayu Jakarta selatan,Mustaqim 2001)