ISU-ISU PEREMPUAN
DALAM AGAMA-AGAMA
RISWANDI YUSUF PUTRIANA SALLAMAH
Persfektif Islam
Al-Quran memberikan hak-hak kepada
perempuan sebagaimana hak yang diberikan kepada kaum laki-laki, faktor yang dijadikan pertimbangan dalam hal ini hanyalah kemampuan dan terpenuhinya kriteria untuk menjadi pemimpin.
Bahkan bila perempuan mampu dan
Indikasi Bolehnya menjadi pemimpin (perempuan
dan laki-laki) dalam Islam di jelaskan dalam Q. S. At- Taubah : 71, “dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong (pemimpin) bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah maha Perkasa lagi maha Bijaksana”.
Dari ayat di atas dapat disimpulkan, bahwa al
Selain itu, pengangkatan tema ratu Balqis
Akan tetapi, Jumhur ulama berpendapat
Menurut Jawwad Mughniyah dalam tafsir
al Kasyif, pada ayat pertama di atas, sesungguhnya hanya membicarakan
masalah kehidupan suami-Istri dan sama selaki tidak ada hubungannya dengan
masalah kepemimpinan di luar rumah.
Karena itu dalam al-Qur’an dan
Kemudian, Hadis Abu Bakrah yang diriwayatkan
oleh bukhori ahmad nasai’, dan at timidzi, bahwa rosulullah bersabda: “Tidak akan bahagia sesuatu kaum yang mengangkat
sebagai pemimpin mereka seorang perempuan”
Komentar Nabi ini ditujukan kepada bangsa
Parsi yang dipimpin oleh seorang wanita. Akan tetapi komentar Nabi saw tersebut hanya
berlaku dan ditujukan kepada bangsa parsi yang pada saat itu dengan setting sosial
masyarakat di mana perempuan secara umum masih memprihatinkan dan belum
memungkinkan untuk tampil sebagai pemimpin. Karena itu, arti hadis tersebut tidak dapat
Persfektif Kristen
Di Alkitab ada beberapa ayat yang menyinggung peranan pria dan wanita dalam konteks
kepemimpinan (1 Korintus 11:2-16; 14:33-35). Namun, yang paling gamblang adalah bagian yang ditulis oleh Rasul Paulus, "Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran
dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri." (1 Timotius 2:11-12). Kata
Dalam ayat ini, alasan Paulus melarang
seorang wanita memimpin dan mengajar, adalah bukan karena posisi wanita yang lebih rendah kedudukannya dari pria
pada masa itu, tetapi adalah karena: 1. Secara hirarki pria lebih tinggi dari
wanita (sekali lagi bukan derajat yang
berbeda), dan hirarki ini ditetapkan Allah dengan Adam yang diciptakan terlebih dahulu.
2. Wanita telah tergoda terlebih dahulu sehingga jatuh dalam dosa, maka pria sebagai implikasinya mempunyai
Akan tetapi ada juga pandangan
yang menempatkan kepemimpinan
laki-laki sebagai hukum alam yang
merupakan ketentuan Tuhan,
dengan merujuk pada ayat 1
korintus 11: 3, 8, “kepala dari tiap
laki-laki adalah kristus, kepala dari
perempuan adalah laki-laki, dan
Dari ayat di atas, mereka meyakini
bahwa kepemimpinan laki-laki adalah
sifat yang melekat secara natural dan
dikehendaki oleh Tuhan. Karena itu
menempatkan perempuan sebagai
kelas dua merupakan keharusan, dan
beragam upaya untuk menempatkan
perempuan setara dengan laki-laki di
anggap sebagai perbuatan yang
melanggar ketentuan Tuhan. Bila itu
terus dilakukan maka akan
Isu-isu kepemimpinan
perempuan dalam gereja
Gereja Inggris anglikan secara resmi
menyetujui rancangan undang-undang
yang memperbolehkan perempuan untuk menjadi uskup.
Rola Sleiman, Pendeta Perempuan
Persfektif Yahudi
Wanita dalam pandangan agama Hindu
KEKERASAN DALAM
RUMAH TANGGA
KDRT DALAM ISLAM
KDRT dalam Islam terdapat dalam al-Quran
surah an-Nisa ayat 34, “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.”
ayat tersebut bukan mewajibkan suami
memukuli istri, melainkan sebatas izin melakukan sanksi pemukulan dalam konteks mendidik (ta’dib) terhadap istri yang nusyuz.
Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW tidak
sekalipun memukul sesuatu dengan tangannya, tidak wanita, tidak pula pembantu kecuali dalam keadaan jihad di jalan Allah” (HR. Muslim).
Meskipun surat An-Nisa’ 34 membolehkan suami
memukul istri dalam rangka mendidik, akan tetapi tidak asal memukul, melainkan dengan syarat, batasan dan ketentuan,antara lain:
1. ia dilakukan kepada istri ketika nusyuz, yakni
durhaka dengan tidak menaati suami dalam batas-batas tertentu. Jika istri belum terbukti nusyuz maka suami belum boleh melakukannya.
lanjutan
lanjutan
3. Kalaupun dengan nasihat belum cukup maka masih ada langkah kedua yang mesti dilalui yaitu berpisah darinya di tempat
tidur. Pada tahap ini, kalau sang istri adalah muslimah shalihah yang terbukti dia
lanjutan
4. Kalau tahap-tahap tersebut belum cukup untuk menyadarkan sang istri, maka diperbolehkan
melakukan sanksi pemukulan dalam rangka
mendidik, memperbaiki, dan meluruskan. Karena tujuannya untuk mendidik, bukan menyakiti,
misalnya meninju dengan kepalan tangan hingga terluka berdarah-darah untuk melampiaskan
amarah dan dendam kesumat. Memukul yang
dibolehkan adalah pukulan ghairu mubarrihi, yaitu yang tidak melukai dan tidak mematahkan, tidak melukai daging dan tidak mematahkan tulang. Dan yang terpenting, tidak boleh memukul anggota
KDRT DALAM KRISTEN
KDRT dari sudut pandang Etika Kristen Jika
dihubungkan dengan ajaran Etika Kristen, tentang KDRT tidak ada ditemukan. Di dalam Alkitab
Perjanjian Baru banyak kita baca tentang
ajaran yang berhubungan dengan rumah tangga Kristen yang mengutamakan KASIH. Maka dapat kita lihat bahwa Alkitab banyak sekali
mengajarkan kepada setiap keluarga tentang tindakan preventif (pencegahan) agar sebuah
Hal-hal yang menentukan kebahagiaan sebuah keluarga
Kristen sekaligus menjadi anti terjadinya KDRT yaitu
:-1. Saling menasehati
2. Saling menghibur
3. Saling membela
4. Sabar seorang terhadap yang lain
5. Saling mengampuni
6. Saling berbuat baik
menurut Pendeta Yacob Nahuway, satu-satunya yang
menjadi obat apabila terjadi KDRT adalah KASIH, karena dengan KASIH akan membuahi 4 (empat) pokok
penyelesaian yaitu
:-1. Kasih membuat kita melihat setiap orang dalam keluarga adalah orang-orang penting dan istimewa.
2. Kasih membuat kita melihat apa yang menjadi prioritas di dalam keluarga.
3. Kasih itu tidak sombong, karena kesombongan pribadi menghancurkan keluarga.
4. Kasih membuat kita rela mengorbankan apa saja demi keluarga bahagia
PERSFEKTIF HINDU
Tidak ada satupun kitab suci Hindu yang
membenarkan adanya kekerasan dalam rumah tangga, demikian pula halnya dalam weda telah
dinyatakan dan ditentukan bagaimana menjadi suami dan istri yang baik, selalu menjauhkan kroda dalam lingkungan rumah tangga, menanakan sifat satya terhadap pasangan.
Seperti yang disabdakan hyang widhi dalam Atharvaveda.XIV.2.43
Wahai pasangan suami istri
kebanyakan yang menjadi korban KDRT adalah kaum wanita, hal ini terjadi Karena adanya
anggapan bahwa kaum wanita adalah kaum yang lemah, inilah anggapan yang telah salah
ditanamkan dalam pribadi manusia, karena veda tidak membenarkan hal itu seperti apa yang
disabdakan veda dalam Manawadharma Sastra Sloka 57:
Dimana warga wanitanya hidup dalam kesedihan , keluarga itu cepat akan hancur,