Universitas Indonesia Pendahuluan
Ketika membicarakan mengenai kajian Hubungan Internasional, tidak
dapat dipungkiri bahwa negara merupakan suatu unsur penting yang tidak dapat
terlepas dari kajian tersebut. Dalam Ilmu Hubungan Internasional, negara
dianggap sebagai aktor utama dalam interaksi yang mewarnai dinamika hubungan
internasional. Keutamaan peran negara sebagai aktor dalam praktik hubungan
internasional ini semakin didukung oleh pendekatan tradisionalis yang melihat
negara sebagai aktor uniter dan satu-satunya entitas yang diakui dalam aktivitas
hubungan internasional. Seiring berjalannya waktu, kajian Ilmu Hubungan
Internasional memang berkembang dan memungkinkan munculnya pengakuan
akan aktor-aktor baru selain negara. Namun demikian, nyatanya keutamaan
negara sebagai aktor masih tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Walaupun
aktor-aktor baru lainnya turut berpartisipasi dalam aktivitas hubungan internasional,
negara tetap masih menjadi aktor utama.
Keutamaan negara sebagai aktor dalam kajian Hubungan Internasional ini
menunjukkan bagaimana negara merupakan aktor penting dalam kajian tersebut.
Hal ini menunjukkan pula bahwa mempelajari negara merupakan suatu hal yang
penting dan diperlukan untuk dapat memahami lebih jauh mengenai realitas
hubungan internasional yang terjadi. Mempelajari mengenai negara ini juga dapat
memberikan gambaran mengenai karakteristik aktivitas dan hubungan yang
terjadi. Hubungan internasional seringkali juga dilihat sebagai sebuah arena
struggle for power yang dilakukan oleh negara-negara di dunia dalam struktur internasional yang anarki. Anarki yang dimaksud di sini adalah sebuah kondisi di
mana tidak adanya power yang absolut dan lebih besar dari negara (state) yang dapat mengatur keseluruhan sistem internasional. Dalam kondisi anarki, tidak ada
pemerintahan pusat yang berdaulat yang dapat mengatur jalannya sistem
internasional, dan hal ini disebabkan oleh peran negara yang merupakan aktor
utama dan tidak ada power yang lebih besar dari apa yang dimiliki oleh negara.1 Terkait dengan keutamaan negara ini, konsep power dan national interest pun
1
Universitas Indonesia
menjadi konsep-konsep sentral dan dijadikan fokus dalam mengkaji Hubungan
Internasional. Dalam struktur internasional, negara-negara berinteraksi antara satu
sama lain demi pencapaian akan power dan kepentingan nasionalnya.
Hingga pada masa Perang Dingin, praktik hubungan internasional masih
diwarnai dengan keutamaan negara dengan power serta kepentingan nasionalnya.
Seperti yang diketahui bahwa masa Perang Dingin merupakan masa di mana
aktivitas hubungan internasional diisi dengan pertentangan ideologi antara
demokrasi liberal seperti yang dijunjung oleh Amerika Serikat, dengan
sosialis-komunis yang diusung oleh Uni Soviet. Dalam masa ini, dunia internasional
menjadi saksi bagaimana kedua negara ini berusaha menggunakan power-nya untuk memengaruhi negara-negara lainnya dan menanamkan ideologinya sebagai
bentuk dari kepentingan nasionalnya demi pencapaian power yang lebih besar lagi. Namun demikian, berakhirnya perang dingin yang ditandai dengan runtuhnya
imperium Uni Soviet menjadi sebuah titik penting yang menjadi suatu fenomena
transformatif dalam hubungan internasional.2 Runtuhnya Uni Soviet ini
merupakan awal perubahan warna kajian Hubungan Internasional dan dengan
demikian menandai berakhirnya perang dingin yang diwarnai dengan
pertentangan ideologi tersebut. Perdebatan mengenai runtuhnya Uni Soviet ini
memunculkan banyak pendapat. Namun demikian, akibat dari runtuhnya
imperium tersebut diyakini menjadi titik awal munculnya studi identitas dalam
kajian Ilmu Hubungan Internasional.
Dengan runtuhnya Uni Soviet, konstelasi politik internasional serta
struktur internasional pun turut berubah. Hal inilah yang menyebabkan fenomena
runtuhnya imperium Uni Soviet ini dianggap sebagai fenomena yang transformatif
dalam hubungan internasional. Perubahan yang terjadi seiring dengan berakhirnya
Perang Dingin ini di antaranya adalah munculnya aktor-aktor serta isu-isu baru.
Samuel P. Huntington dalam Clash of Civilization menuliskan bahwa pada era pasca Perang Dingin, konstelasi politik tidak lagi berpusat pada pertentangan
ideologi. Pembedaan antar aktor dalam struktur internasional pun tidak lagi hanya
bersifat ideologis, politis, ataupun ekonomis. Pada masa itu, aktor-aktor
2
Universitas Indonesia
dihadapkan pada pertanyaan dasar mengenai diri mereka, yaitu siapa dan apa
mereka sebenarnya.3 Hal itu mengindikasikan bahwa aktor-aktor dalam hubungan internasional pada masa itu, yang didominasi oleh eksistensi negara, mulai
berusaha mendefinisikan siapa dirinya sebenarnya. Aktor-aktor dalam hubungan
internasional dihadapkan dengan masalah identitas dan bagaimana membentuk
dan menjaga identitas tersebut. Masalah identitas yang mencuat pasca Perang
Dingin sangatlah beragam. Sejak masa itu, wacana serta studi mengenai identitas
pun sangat beragam. Dalam hal ini, identitas yang muncul pun beragam serta
memiliki banyak jenis, hal ini juga dipengaruhi dengan munculnya aktor-aktor
baru pasca Perang Dingin seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Dengan berakhirnya Perang Dingin, aktor-aktor serta isu-isu baru pun
muncul, salah satunya adalah isu mengenai identitas. Namun demikian, tidak
dapat dihindari bahwa struktur internasional bergeser dan negara yang masih
menjadi aktor utama dalam hubungan internasional pun memiliki
tantangan-tantangan yang baru pula dalam hubungan internasional demi menjaga
survivability-nya. Dalam hal ini, bukan berarti konsep power yang sebelumnya sentral menjadi hilang, namun pasca Perang Dingin, power semakin dipahami memiliki berbagai dimensi, dan bukan semata-mata hanya mengenai kapabilitas
militer. Pengelompokkan negara pada masa itu tidak lagi berdasarkan tiga blok
yang eksis selama Perang Dingin seperti blok barat, blok timur, dan non blok,
namun bagi Huntington pada era pasca Perang Dingin pengelompokkan negara
yang terbentuk lebih didorong pada peradaban yang ada di dunia atas dasar
agama, bahasa, sejarah, nilai, adat, dan institusi.4 Negara mulai mencari dan
membentuk identitasnya dengan berusaha memahami siapa dirinya melalui
pemahaman apa yang bukan kita (who we are not) dan seringkali melalui pemahaman siapa yang menjadi lawan kita (whom we are against).5 Dengan demikian, pasca usainya Perang Dingin, aktor-aktor dalam hubungan internasional
yang dalam hal ini termasuk negara mulai mencari serta membentuk identitasnya
serta mengindikasikan munculnya studi mengenai identitas dalam kajian
3
Samuel P. Huntington, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (London: Penguin Books Ltd, 1996), 21.
4
Ibid.
5
Universitas Indonesia
Hubungan Internasional. Periode ini juga menandakan terbentuknya tatanan dunia
serta kondisi struktur internasional yang baru.
Munculnya studi tentang identitas sejak saat itu, seiring berjalannya waktu,
dilihat semakin signifikan dalam Ilmu Hubungan Internasional. Identitas pun
memiliki berbagai jenis, seperti identitas agama, etnis, kultural, dan lain
sebagainya. Namun demikian, keutamaan negara sebagai aktor dalam aktivitas
internasional menjadi topik yang penulis angkat pada literature-review ini. Literature-review ini membahas mengenai identitas pada negara dengan mengangkat pertanyaan permasalahan “Bagaimanakah identitas pada suatu
negara dalam hubungan internasional dapat terbentuk?”. Untuk menjawab pertanyaan permasalahan tersebut, penulis mengumpulkan literatur-literatur yang
relevan mengenai pembentukan identitas pada negara dalam hubungan
internasional. Literatur-literatur yang telah berhasil dikumpulkan ini disarikan dan
dirangkaikan sedemikian rupa hingga membentuk suatu tulisan yang padu serta
diharapkan dapat menjawab pertanyaan permasalahan yang diajukan. Dalam
memilih literatur, penulis mencari buku maupun jurnal yang di dalamnya
mengandung penjelasan mengenai identitas dan bagaimana atau melalui apa
negara membentuk identitasnya dalam lingkup hubungan internasional. Literatur
yang telah ditemukan pun disusun sesuai dengan kategorisasi yang
memungkinkan. Dalam hal ini, penulis menggunakan berbagai literatur yang
tersebar dalam studi-studi seperti Hubungan Internasional, Politik, dan Sosiologi.
Penulis mendapatkan jawaban dari pertanyaan permasalahan tersebut dalam
literatur-literatur dalam ketiga studi tersebut, di mana penjelasan dari setiap studi
menyediakan pendekatan yang berbeda terkait pembentukan identitas pada negara
dalam hubungan internasional ini. Literatur-literatur ini disusun untuk berusaha
menjelaskan bagaimana identitas suatu negara dapat terbentuk dalam konteks
hubungan internasional.
Pada penyusunan Tugas Karya Akhir yang berbentuk literature-review ini,
tulisan ini diawali dengan bagian pendahuluan yang di dalamnya mengandung
latar belakang permasalahan, pertanyaan permasalahan, metodologi penulisan,
dan struktur penulisan. Selanjutnya, tulisan ini akan menjelaskan pemahaman
Universitas Indonesia
pemahaman awal mengenai permasalahan yang diangkat serta signifikansinya
dalam ilmu maupun praktik hubungan internasional. Kemudian, tulisan ini akan
dilanjutkan dengan pembahasan mengenai jawaban yang dibagi menjadi dua
kategori besar yaitu faktor internal pembentuk identitas pada negara dan faktor
eksternal pembentuk identitas pada negara. Dalam pembahasan mengenai faktor
internal pembentuk identitas, pembahasan dibagi menjadi dua bagian, yaitu
pembahasan mengenai faktor-faktor esensial dan faktor-faktor turunan yang juga
memengaruhi pembentukan identitas. Kemudian, pembahasan akan dilanjutkan
dengan memaparkan faktor eksternal pembentuk identitas pada negara.
Selanjutnya tulisan ini akan dilengkapi pula dengan analisis dan penulis terkait
literatur yang ditemukan. Pada bagian akhir, tulisan ini diakhiri dengan penarikan
kesimpulan oleh penulis untuk dapat menjawab pertanyaan permasalahan yang
Universitas Indonesia Identitas dan Identitas pada Negara
Untuk mengawali tulisan ini, akan dibahas mengenai identitas dan juga
identitas pada negara untuk memberikan pemahaman awal mengenai
permasalahan yang diangkat. Dalam bagian ini, akan dipaparkan beberapa definisi
dari berbagai literatur terkait identitas. Selain itu, penulis juga akan memberikan
penjelasan lebih lanjut mengenai identitas pada negara untuk dapat memberikan
pemahaman mengenai identitas pada negara seperti apa yang akan dibahas dalam
tulisan ini. Dalam bagian ini pula akan disampaikan signifikansi dari identitas
pada negara dalam ilmu serta praktik hubungan internasional untuk mengantarkan
tulisan ini pada bagian pokok dari tulisan ini, yaitu mengenai bagaimana identitas
pada negara dalam hubungan internasional dapat terbentuk.
Identitas
Pada dasarnya tidak terdapat definisi yang pasti dari identitas, namun
Jenkins dalam tulisannya menyebutkan bahwa identitas merujuk pada
bagaimana individu ataupun sebuah kolektivitas dibedakan dalam hubungan
sosialnya dengan individu maupun kolektivitas lainnya.6 Identitas juga dapat
pula dipahami sebagai sebuah pemahaman akan peran spesifik dan ekspektasi
akan seseorang yang relatif stabil7, seperti yang dikemukakan oleh Wendt. Hal
ini menunjukkan bahwa identitas menyediakan pemahaman dan definisi
mengenai siapa aktor tersebut. Lebih jauh lagi, Kowert dan Legro juga
menyebutkan bahwa identitas merupakan pedoman atau petunjuk representasi
bagi aktor politik mengenai dirinya dan mengenai hubungannya dengan satu
sama lain.8 Apa yang dikemukakan oleh para penulis ini menunjukkan bahwa
identitas merujuk pada seperangkat pemahaman yang terdapat pada individu
maupun kolektif yang mendefinisikan peran, ekspektasi, serta petunjuk
6
Richard Jenkins, Social Identity (London: Routledge, 1996), 4.
7Ale a de We dt, A a h is What “tates Make of It ,
International Organization, 46, 1992, 397.
8
Universitas Indonesia
mengenai dirinya. Identitas juga menyediakan pemahaman terkait
hubungannya antara satu sama lain.
Identitas dalam hal ini juga bersifat multidimensional. Hal ini
dikarenakan identitas merupakan hal yang terkonstruksi secara kontekstual.
Individu ataupun sebuah kolektif dapat memiliki banyak identitas dan
beragam peran yang menyertai identitas tersebut.9 Beragamnya identitas yang
dapat dimiliki oleh suatu aktor ini didorong oleh banyaknya variasi konteks di
mana identitas bekerja. Identitas juga sangat kental dengan unsur pemberian
makna. Dalam hal ini, bagaimana suatu aktor memahami identitasnya sangat
dipengaruhi dengan bagaimana identitas tersebut diberikan makna. Makna
yang dimiliki oleh identitas ini pada akhirnya juga menjadi basis yang
menggerakkan identitas dalam menentukan kepentingan dan tindakannya.
Keterkaitan identitas dan makna ini juga dikemukakan oleh Manuel Castells
yang menyebutkan bahwa identitas merupakan sumber dari makna dan
pengalaman yang dimiliki oleh suatu aktor.10 Castells lebih jauh
mengemukakan bahwa ketika kita berbicara tentang identitas, maka kita
berbicara mengenai aktor sosial yang mana di dalamnya terdapat proses
pengkonstruksian makna akan atribut norma dan kultural.11 Castells juga
memahami bahwa pada dasarnya identitas ini memiliki beragam dimensi dan
sangat kontekstual, bergantung pada dalam konteks apa identitas sedang
dimaksudkan dan diproyeksikan.
Identitas pada Negara
Seperti yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya, identitas juga
memiliki berbagai jenis, seperti identitas agama, etnis, kultural, organisasi,
individu, negara, dan lain sebagainya. Pada literature-review ini, ketertarikan penulis akan keutamaan peran negara sebagai aktor dalam hubungan
internasional mendorong penulis untuk memfokuskan pembahasan pada
9
Craig Calhoun, Social Identity and the Politics of Identity (Oxford: Blackwell Publisher, 1994), 9-36.
10
Manuel Castells, The Power of Identity (Chicchester:Wiley–Blackwell, 2010), 5-70.
11
Universitas Indonesia
identitas yang dimiliki oleh negara. Identitas pada negara yang menjadi fokus
utama dalam literature-review ini pada dasarnya merujuk pada identitas negara sebagai aktor dalam hubungan internasional. Dengan demikian,
identitas yang akan dibahas ini merupakan identitas yang melekat pada negara
dan merujuk pada bagaimana suatu negara pada akhirnya dikenal. Terkait
dengan hal ini, identitas pada negara berbeda dengan apa yang disebut sebagai
identitas nasional. Hal ini dikarenakan, ketika membicarakan mengenai
identitas nasional, kita membahas mengenai identitas yang melekat pada
bangsa di dalam negara tersebut. Hal ini dengan demikian, merujuk pada apa
yang dikemukakan oleh Maxym Alexandrov, terbatas pada apa yang
terkandung dan terbentuk di dalam bangsa dan negara saja tanpa
memperhatikan apa yang terjadi di luar bangsa dan negara tersebut.12 Dengan
demikian, identitas pada negara yang akan dibahas di dalam tulisan ini
merupakan identitas yang melekat pada negara yang pada akhirnya dapat
memengaruhinya untuk dapat dipahami sebagai aktor dalam hubungan
internasional.
Fenomena berakhirnya Perang Dingin telah memperlihatkan bahwa
identitas memiliki peranan yang penting dalam kajian Hubungan
Internasional. Identitas dapat memengaruhi konstelasi politik internasional dan
identitas menjadi salah satu unsur yang berusaha didefinisikan oleh suatu
negara. Negara-negara di dunia memiliki kebutuhan untuk mengidentifikasi
dirinya dan untuk memiliki identitas yang distinct sebagai sebuah entitas dalam tatanan dunia internasional. Hal ini jugalah yang dikemukakan oleh
Roger Brubaker dan Frederick Cooper dalam “Beyond Identity” yang
menyebutkan bahwa identitas negara yang merupakan identitas kolektif
memiliki kebutuhan untuk menjadi kelompok yang distinct, terikat, dan meliputi rasa solidaritas dan kesatuan dengan anggota kelompok lainnya dan
merasa berbeda dari apa yang bukan merupakan bagian dari kelompok
tersebut.13 Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pada dasarnya struktur
internasional terbentuk dari berbagai negara yang masing-masing di dalamnya
12
Ma Ale a d o , The Co ept of “tate Ide tit i I te atio al ‘elatio s: A Theo eti al A al sis , Journal of International Development and Cooperation, 10, 1, 2003, 39.
13
Universitas Indonesia
berusaha membentuk identitasnya sendiri dan membedakan sekaligus mencari
kesamaan antara dirinya dengan identitas lainnya di saat yang bersamaan.
Apa yang terjadi pada masa pasca Perang Dingin menunjukkan
signifikansi identitas dengan menjadi salah satu unsur yang dapat
memengaruhi kondisi konstelasi politik internasional. Mempelajari mengenai
identitas sebuah negara dengan demikian pun menjadi suatu hal yang perlu
dilakukan. Konsep identitas sendiri pun dianggap akan berdampak signifikan
serta berguna dalam kajian Hubungan Internasional. Ted Hopf dalam “The Promise of Constructivism in International Relations Theory” mengemukakan bahwa identitas merupakan hal yang penting untuk memastikan paling tidak
tingkatan minimal mengenai prediktabilitas dan tatanan dunia.14 Ekspektasi di
antara negara membutuhkan identitas yang intersubjektif untuk dapat
memastikan pola perilaku yang dapat diprediksikan. Bagi Hopf, dunia tanpa
identitas berarti a world of chaos yang di dalamnya tidak terdapat kepastian, sehingga dapat menciptakan kondisi dunia yang berbahaya.15 Identitas sebuah
negara menunjukkan preferensi negara tersebut dan aksi-aksi logisnya.
Selain itu, identitas menawarkan pemahaman bagi suatu negara
mengenai negara lain, sifat negara tersebut, motif, kepentingan, kemungkinan
aksi, attitude, dan peran dalam konteks politik jenis apapun.16 Apa yang dikemukakan oleh Hopf ini memperkuat poin bahwa identitas negara memiliki
signifikansi yang tinggi dalam berkontribusi dan memengaruhi praktik dari
hubungan internasional. Penekanan mengenai pentingnya identitas negara ini
juga dikemukakan oleh Jepperson, Wendt, dan Katzenstein dalam “Norms, Identity, and Culture in National Security”. Dalam tulisannya tersebut disebutkan bahwa variasi ataupun perubahan dalam suatu identitas negara
memengaruhi kepentingan ataupun kebijakan keamanan nasional dari negara
tersebut. Konfigurasi dari identitas negara juga dapat memengaruhi struktur
14Ted Hopf, The P o ise of Co st u ti is i I te atio al ‘elatio s ,
International Security, 23, 1, 1998, 174.
15
Ibid.
16
Universitas Indonesia
normatif antarnegara, seperti rezim ataupun komunitas keamanan.17
Pernyataan-pernyataan tersebut pada dasarnya berusaha menunjukkan bahwa
identitas pada negara merupakan sebuah hal yang penting. Signifikansi
pemahaman mengenai identitas pada negara ini pada akhirnya juga dapat
berkontribusi pada ilmu serta praktik dari hubungan internasional.
Besarnya peran serta pentingnya identitas pada suatu negara dalam
hubungan internasional ini menjadi latar belakang ketertarikan penulis untuk
menyusun literature-review mengenai pembentukan identitas pada suatu negara dalam hubungan internasional. Dapat dipahami bahwa seiring dengan
perkembangan zaman, peran serta studi mengenai identitas dalam kajian
Hubungan Internasional menjadi semakin signifikan seperti yang telah
disebutkan sebelumnya. Jika pada masa sebelumnya, identitas negara lebih
dikenal melalui besar-kecilnya power yang dilihat dari kapabilitas militernya, melalui status mereka akan keterlibatannya dalam Perang Dunia I dan II,
ataupun melalui keanggotaannya dalam blok politik pada Perang Dingin,
maka dalam literature-review ini penulis akan membahas lebih dalam mengenai bagaimana identitas pada negara dalam hubungan internasional
dapat terbentuk untuk dapat memahami hal-hal apa saja yang dapat
memengaruhi pembentukan identitas suatu negara.
Untuk menjawab pertanyaan permasalahan yang diajukan dalam
literature-review ini, akan dipaparkan mengenai bagaimana identitas pada negara dalam hubungan internasional terbentuk serta faktor-faktor yang
memengaruhinya. Pada dasarnya, melihat dari literatur yang telah
dikumpulkan, dapat dipahami bahwa identitas pada negara terbentuk secara
internal dan secara eksternal. Oleh karena itu, pada bagian berikutnya akan
dipaparkan mengenai bagaimana faktor internal memengaruhi identitas pada
negara dan akan dilanjutkan dengan pembahasan mengenai bagaimana faktor
eksternal dapat pula berkontribusi pada pembentukan identitas pada negara
dalam hubungan internasional.
17
Universitas Indonesia Faktor Internal yang Memengaruhi Pembentukan Identitas pada Negara:
Esensial dan Turunan
Ketika membicarakan mengenai faktor-faktor apa saja yang membentuk
identitas pada suatu negara, pada dasarnya penulis-penulis dalam kajian
Hubungan Internasional memiliki argumen yang beragam. Dari pembahasan yang
dilakukan oleh penulis-penulis tersebut, pada dasarnya dipahami bahwa terdapat
beberapa penulis yang meyakini bahwa identitas terbentuk dari dalam negara itu
sendiri atau dalam hal ini disebut sebagai faktor internal. Faktor-faktor internal
yang membentuk identitas pada negara dalam tulisan ini dibagi menjadi dua jenis,
yaitu faktor-faktor esensial dan faktor-faktor turunan yang terbentuk dari
kombinasi faktor-faktor esensial tersebut. Dalam pembahasan ini juga akan
dijelaskan bagaimana kedua jenis faktor tersebut pada akhirnya mampu
mendorong pembentukan identitas pada negara.
Faktor-faktor esensial
Pembentukan identitas suatu negara menurut beberapa penulis terjadi
karena adanya faktor-faktor esensial yang berkontribusi besar. Dalam hal ini,
faktor-faktor esensial yang dimaksud di antaranya adalah norma, budaya,
bahasa, ide, kepercayaan (belief), dan sejarah. Pada bagian ini akan
dipaparkan argumen para penulis yang menyebutkan bahwa faktor-faktor
esensial tersebut merupakan unsur-unsur esensi dasar yang membentuk
identitas pada suatu negara. Seluruh faktor tersebut disebutkan memiliki peran
konstitutif dalam identitas negara.
Norma
Norma merupakan salah satu faktor yang disebutkan sebagai unsur
yang berperan besar pada pembentukan identitas pada negara. Dalam hal
ini, penulis akan memaparkan bagaimana secara internal terdapat norma
yang mendorong dan memengaruhi pembentukan identitias pada negara
dalam hubungan internasional. Jeffrey T. Checkel menyebutkan bahwa
Universitas Indonesia
memberikan klaim mengenai perilaku yang pantas pada aktor.18 Tidak
hanya mengatur perilaku, efek dari adanya norma ini pada akhirnya akan
membentuk identitas dan juga kepentingan. Checkel menambahkan pula
bahwa norma bukan merupakan struktur yang lebih besar dari material,
tetapi norma juga membantu dalam menciptakan dan mendefinisikan
unsur-unsur tersebut.19 Dalam pemahaman Checkel, negara sebagai agen
dan norma global sebagai struktur saling berinteraksi dan membentuk satu
sama lain secara timbal balik. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa norma
juga membantu agen, yang dalam hal ini adalah negara, untuk dapat
mendefinisikan identitasnya.
Hal yang sama dikemukakan oleh Audie Klotz. Klotz menyebutkan
bahwa norma merupakan komponen fundamental dari sistem internasional
dan komponen fundamental dari definisi aktor terhadap kepentingan.20
Dalam penjelasannya tersebut disebutkan pula bahwa identitas aktor
negara sebagian didefinisikan oleh norma konstitutif yang beragam dan
berlangsung terus-menerus seiring berjalannya waktu. Klotz kemudian
juga menambahkan bahwa norma adalah institusi sosial yang merupakan
produk dari interaksi antar aktor. Kemudian, identitas serta kepentingan
aktor-aktor tersebut pada akhirnya dikonstruksikan dan didefinisikan oleh
norma yang terproduksi dari interaksi.21 Norma dengan demikian memiliki
sebuah peran yang cukup penting dalam identitas negara, karena norma
mengandung pemahaman kolektif tentang bagaimana sesuatu seharusnya
dilakukan dan dilaksanakan. Oleh karena itu, norma yang terkandung
dalam struktur sosial memberikan gambaran pedoman perilaku bagi aktor
dalam aktivitasnya. Norma yang terbentuk pada akhirnya berpengaruh dan
berkontribusi pada pembentukan identitas.
Terkandungnya norma juga diungkapkan oleh Mark Blyth. Senada
dengan Checkel sebelumnya, Blyth menyebutkan bahwa norma
Audie Klotz, Norms in International Relations: The Struggle against Apartheid (New York: Cornell University Press, 1999), 15.
21
Universitas Indonesia
merupakan ekspektasi kolektif mengenai perilaku yang pantas di dalam
suatu identitas tertentu.22 Blyth juga mempercayai bahwa norma memiliki
efek konstitutif yang mendefinisikan siapa negara sebenarnya. Namun
demikian, Blyth juga menambahkan bahwa dirinya melihat norma juga
memiliki efek regulatif. Efek regulatif ini mendefinisikan mana dan apa
saja perilaku yang pantas dalam identitas spesifik tertentu.23 Hal ini
menunjukkan bahwa norma memiliki peran yang besar dalam memberikan
batasan mengenai perilaku suatu negara. Serta, norma yang tertanam dan
berlangsung terus menerus ini pada akhirnya akan berkontribusi dalam
membentuk identitas. Efek konstitutif serta regulatif dari norma ini pada
dasarnya adalah hal yang menjelaskan bagaimana norma dapat
memengaruhi pembentukan identitas pada suatu negara.
Lebih jauh lagi, Blyth menyatakan bahwa norma juga merupakan
fungsi yang tertanam dalam budaya tertentu.24 Budaya yang di dalamnya
mengandung norma-norma spesifik tertentu ini diberlakukan secara terus
menerus dan memberikan kerangka identifikasi suatu identitas, termasuk
identitas negara. Dengan demikian, identitas negara juga merujuk pada
budaya yang berlaku di dalam sebuah komunitas tertentu di mana perilaku
aktor-aktor di dalamnya diatur dan berada dalam suatu norma tertentu
yang tertanam di budaya tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa norma
tidak terlepas dari budaya yang berlaku, dan setiap budaya memiliki
norma-norma tertentu yang diimplementasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Apa yang dikemukakan oleh Blyth ini mengantarkan kita pada faktor
esensial selanjutnya yang dapat memengaruhi pembentukan identitas,
yaitu faktor budaya.
Budaya dan habit
Budaya atau kultur dianggap juga berpengaruh dalam membentuk
identitas, termasuk identitas kenegaraan. Menurut Helen Spencer-Oatey,
22Ma k Bl th, “t u tu es Do Not Co e ith a I st u tio “heet: I te ests, Ideas, a d P og ess
in Political Scie e , Perspectives on Politics, 1, 4, 2003, 695-706.
23
Ibid.
24
Universitas Indonesia
budaya merupakan sebuah konsep yang kompleks, namun dalam hal ini
budaya dapat dipahami sebagai seperangkat asumsi dasar dan nilai-nilai,
orientasi hidup, kepercayaan, kebijakan, prosedur, dan pedoman
berperilaku yang dianut secara bersama oleh sekelompok orang dan
memengaruhi perilaku anggota-anggotanya dan interpretasi mereka terkait
makna dari perilaku orang lain.25 Dalam bagian ini akan dijelaskan
mengenai ide bahwa bagaimana sebuah komunitas memiliki dan
menginternalisasi budaya yang sama juga merupakan faktor pendorong
yang membentuk rasa kesatuan dan pada akhirnya memengaruhi
identifikasi aktor sebagai sebuah negara.
Jonathan M. Acuff dalam tulisannya menjelaskan bagaimana
bentuk realisasi dari budaya pada akhirnya dapat memengaruhi
pembentukan identitas dalam sebuah negara. Namun demikian, esensi dari
tulisan yang ditulis oleh Acuff menjelaskan bahwa pada dasarnya
pembentukan identitas kolektif seperti identitas negara juga diturunkan
dari konten budaya yang dimiliki masyarakatnya.26 Budaya yang
diinternalisasikan dan dipraktikkan secara sehari-hari mendorong adanya
identifikasi bahwa masyarakat tersebut melaksanakan dan memberlakukan
budaya yang sama. Bahkan, Geert Hofstede menjelaskan bahwa budaya
merupakan sebuah sistem yang mengatur pikiran masyarakat secara
kolektif untuk dapat membedakan keanggotaan suatu identitas dengan
identitas lainnya.27 Kesamaan pengimplementasian budaya ini
menunjukkan adanya pemahaman yang serupa sehingga dapat
memunculkan rasa solidaritas yang memperkuat identifikasi dan pada
akhirnya membentuk identitas kolektif tertentu, termasuk identitas pada
negara.
25
Helen Spencer-Oatey, Culturally Speaking: Culture, Communication and Politeness Theory, (London: Continuum, 2008), 3.
26
Jo atha M. A uff , “pe ta le a d “pa e i the C eatio of P emodern and Modern Polities:
To a d a Mi ed O tolog of Colle ti e Ide tit , International Political Sociology, 6, 2012, 132– 148.
27
Universitas Indonesia
Pemahaman mengenai budaya dalam bentuk praktik, persepsi, serta
perasaan terus menerus yang menjadi habit atau kebiasaan ini juga dikemukakan oleh Ted Hopf sebagai hal yang pada akhirnya dapat
memproduksi identitas.28 Bahkan Hopf juga menyebutkan bahwa hal ini
dapat pula berkontribusi pada bagaimana suatu negara mempersepsikan
aktor lainnya, yaitu sebagai teman atau musuh, serta bagaimana negara
harus menghadapi aktor tersebut.29 Terkait hal ini, Acuff pun menjelaskan
bahwa aktivitas yang menjadi habit atau kebiasaan ini juga berkontribusi dalam pembentukan identitas. Praktik atau aktivitas merupakan bentuk
dari pelaksanaan budaya, karena bagi Acuff budaya bukan hanya terdiri
dari sistem dan pemahaman teoretis semata, tetapi juga membutuhkan
tindakan atau aksi di dalamnya.30 Hal ini mengindikasikan bahwa tindakan
yang dilakukan secara terus menerus sebagai bentuk realisasi dari budaya
ini pada akhirnya membentuk pola dan mendorong terbentuknya identitas.
Belief
Aktivitas atau praktik ritual yang dilakukan secara terus menerus
seperti yang dijelaskan sebelumnya juga terjadi dan terbentuk karena
adanya belief atau kepercayaan yang terkandung dalam budaya. Belief juga
dapat dipahami sebagai kumpulan dari unsur-unsur ideasional atau
gagasan yang diyakini secara bersama-sama. Unsur ideasional berupa
gagasan bersama (shared ideas) ini dilihat sebagai Ronen Palan sebagai
unsur penentu dalam pembentukan asosiasi masyarakat seperti identitas
negara, karena menurut Palan, identitas dan kepentingan aktor
dikonstruksikan oleh gagasan bersama tersebut.31 Penjelasan ini
mengindikasikan bahwa gagasan bersama akan suatu hal menciptakan
belief dalam budaya masyarakat. Rasa percaya akan budaya yang berlaku dan diinternalisasikan oleh masyarakat tersebutlah yang pada akhirnya
Universitas Indonesia
dapat mendorong terbentuknya pembentukan identitas kolektif termasuk
identitas negara.
Belief dalam hal ini juga memengaruhi pembentukan identitas. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Marc Lynch yang menyebutkan bahwa
identitas negara merupakan seperangkat kepercayaan (belief) mengenai
sifat alamiah dan tujuan dari suatu negara.32 Belief atau kepercayaan yang
diyakini bersama ini dapat memunculkan pemahaman bahwa suatu
komunitas berada di dalam suatu identitas yang sama. Dengan demikian,
dapat dipahami bahwa budaya dan seluruh unsur yang terkandung di
dalamnya, termasuk belief, merupakan salah satu faktor esensial yang memengaruhi pembentukan identitas pada negara.
Bahasa
Faktor esensial dalam pembentukan identitas pada negara
selanjutnya adalah bahasa. Penggunaan bahasa dianggap dapat menjadi
faktor pemersatu yang dapat mendukung pembentukan identitas kolektif
seperti identitas negara. Hal ini dikemukakan oleh Patricia M. Goff dan
Kevin C. Dunn. Disebutkan bahwa kemampuan kolektif dalam
membentuk identitas tidak hanya didorong oleh fakta bahwa
individu-individu di dalamnya menempati teritori atau wilayah yang sama. Goff dan
Dunn melihat bahwa pembentukan identitas kolektif negara lebih didorong
oleh fungsi penggunaan aset bersama tertentu yang di dalamnya termasuk
bahasa.33 Penggunaan bahasa sebagai aset bersama ini dilihat sebagai hal
yang dapat memunculkan solidaritas dalam masyarakat di suatu lingkup
negara.
Goff dan Dunn melihat bahwa pemakaian bahasa yang sama dapat
menimbulkan „sense of belonging‟ dalam masyarakat dan memunculkan
rasa bahwa mereka merupakan suatu kesatuan yang sama. Solidaritas dan
32
Ma L h, A a do i g I a : Jo da 's Allia es a d the Politi s of “tate Ide tit , Security Studies, 8, 2–3, 1999, 399.
33
Pat i ia M. Goff da Ke i C. Du , Co lusio : ‘e isiti g the Fou Di e sio of Ide tit ,
Universitas Indonesia „sense of belonging‟ yang muncul dari penggunaan bahasa yang sama ini pada akhirnya menjadi unsur pendorong identifikasi masyarakat tersebut
dalam suatu identitas kolektif tertentu, yang dalam hal ini berupa identitas
negara. Bukan hal yang mustahil bagi negara memiliki beragam bahasa
yang digunakan, dan bukan hal yang mustahil pula bahwa terdapat
beberapa negara yang memiliki bahasa nasional yang sama. Namun
demikian, dalam hal ini, bahasa tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu
unsur konstitutif dalam konteks identitas negara.
Sejarah
Sejarah merupakan faktor esensial terakhir yang akan dibahas
dalam pembentukan identitas negara secara internal ini. Identitas negara
juga dilihat terbentuk karena adanya rasa kesatuan atas pemahaman dan
makna dari peristiwa sejarah yang terjadi di masa lampau. Hal ini
dikemukakan oleh Friedrich Kratochwil dalam tulisannya. Kratochwil
menyebutkan bahwa sejarah bukan hanya merupakan tempat penyimpanan
data secara permanen, melainkan merupakan produk dari memori yang
pada akhirnya secara dalam terkandung dan memengaruhi pembentukan
identitas pada suatu negara.34 Memori historis dengan demikian
merupakan salah satu faktor yang mendorong konstruksi identitas.
Kratochwil mengungkapkan bahwa sebelumnya Nietzsche adalah
tokoh yang awalnya menekankan dengan kuat mengenai peran refleksi
historis ini dalam konstruksi identitas. Dikutip dari Kratochwil bahwa
Nietzsche melihat sejarah sebagai produk dari memori dan hal tersebut
mengindikasikan bahwa apa yang terjadi di masa lampau sangat terlibat
dan berpengaruh dalam mengkonstruksi identitas suatu aktor, termasuk
negara.35 Nietzsche, seperti dikutip oleh Kratochwil, menambahkan pula
bahwa dalam memutuskan apa yang harus dilakukan oleh negara, negara
sebagai aktor sebelumnya harus dapat melihat dan belajar dari apa yang
34F ied i h K ato h il, Histo , A tio a d Ide tit : ‘e isiti g the “e o d G eat De ate a d Assessi g its I po ta e fo “o ial Theo , European Journal of International Relations, SAGE Publications and ECPR-European Consortium for Political Research, 12, 1, 2006, 5.
35
Universitas Indonesia
pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.36 Hal ini mengindikasikan
bahwa sejarah menjadi alat yang dapat memberikan gambaran serta
pedoman apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak
dilakukan.
Apa yang dikemukakan oleh Kratochwil dan Nietzsch ini
memberikan pemahaman bahwa latar belakang sejarah dengan demikian
dapat memengaruhi bagaimana negara berperilaku terhadap suatu kondisi
tertentu. Dengan demikian, sejarah dapat berpengaruh pada bagaimana
negara mengidentifikasi dirinya sendiri dan perilaku negara yang juga
dilatar-belakangi oleh sejarah pun dapat pula memengaruhi bagaimana
negara diidentifikasi oleh aktor lainnya dalam hubungan internasional.
Pembahasan pada bagian ini menjelaskan bahwa terdapat beberapa
faktor esensial yang memiliki peran penting dalam pembentukan identitas.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa faktor-faktor esensial yang dimaksud
dalam hal ini adalah norma, budaya, belief atau kepercayaan, ritual, bahasa, serta latar belakang sejarah. Faktor-faktor tersebut merupakan unsur-unsur
utama pembentuk identitas yang eksistensinya secara terus menerus dapat
menciptakan rasa solidaritas dan kesatuan. Negara sebagai identitas kolektif
terbentuk karena adanya proses tarik-menarik dalam faktor-faktor ini secara
terus menerus sehingga membentuk sebuah pola, rasa kesamaan, serta
memunculkan „sense of belonging‟ di antara individu-individu yang terlibat.
Jika diperhatikan, faktor-faktor esensial yang merupakan bagian dari
faktor internal pembentuk identitas negara ini mayoritas berbasiskan unsur
ideasional atau non-material. Faktor-faktor ini tidak berbentuk ataupun dapat
diukur karena terletak di tatanan ideasional yang dipercaya dan dirasakan oleh
anggota-anggota dari identitas tersebut. Oleh karena itu, dapat dipahami
bahwa pembentukan identitas pada negara didorong dan dipengaruhi oleh
adanya faktor-faktor esensial yang sifatnya non-material dan terkandung
dalam masyarakat. Faktor-faktor ini menjadi perekat dalam masyarakat dan
36
Universitas Indonesia
mampu menumbuhkan rasa saling memiliki karena melalui faktor-faktor
tersebut, individu mulai mengidentifikasi diri dan karakter-karakter yang
dimilikinya dengan membandingkannya dengan individu lainnya. Kesamaan
karakter faktor tertentu serta pemahaman bersama yang muncul dari
faktor-faktor esensial inilah yang pada akhirnya membentuk identitas kolektif dalam
negara.
Selain sebagai unsur perekat, faktor esensial ini juga pada akhirnya
memengaruhi karakter dari identitas negara yang pada akhirnya terbentuk.
Faktor-faktor esensial seperti norma, budaya dan habit, belief yang berlaku dalam hal ini, misalnya, juga akan memengaruhi bagaimana identitas pada
negara tersebut terbentuk. Karena pada dasarnya nilai-nilai yang terkandung
dalam faktor-faktor esensial ini akan menentukan sifat tindakan yang akan
dilakukan oleh negara dalam situasi tertentu. Sejarah yang juga merupakan
salah satu dari faktor esensial ini juga memiliki andil dalam hal kemungkinan
tindakan serta karakter aksi yang akan diproduksi oleh suatu negara. Latar
belakang sejarah yang diyakini oleh masyarakat dan elit dalam negara tersebut
akan memengaruhi cara pandang dan cara pikir dari negara dalam
merumuskan tindakannya, baik secara domestik maupun internasional.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa faktor-faktor esensial internal ini
dapat menjadi perekat yang mendorong pembentukan identitas pada negara,
serta dapat pula memengaruhi dan menentukan karakter dari identitas negara
tersebut.
Faktor-faktor turunan
Pada bagian sebelumnya telah dibahas mengenai adanya faktor-faktor
esensial internal yang menjadi dasar terbentuknya identitas negara. Seperti
yang telah disebutkan, faktor-faktor tersebut mendorong terciptanya perasaan
kolektif dan pada akhirnya membentuk suatu kesatuan identitas yaitu identitas
negara. Pada bagian ini, akan dijelaskan bagaimana faktor-faktor esensial
tersebut bersama dengan faktor-faktor lainnya nyatanya mengkonstruksi
Universitas Indonesia
negara. Penulis menyebut faktor-faktor ini sebagai faktor turunan karena
penulis meyakini bahwa faktor-faktor ini ada karena terbentuk dari gabungan
faktor-faktor esensial yang disebutkan pada bagian sebelumnya, serta
bagaimana interaksi faktor-faktor tersebut dengan faktor-faktor lainnya pada
akhirnya dapat membentuk identitas. Oleh karena itu, pada bagian ini akan
dipaparkan argumen dari penulis-penulis dalam kajian Hubungan
Internasional yang menyebutkan bagaimana faktor-faktor turunan dari
beragam jenis faktor pada akhirnya dapat mendukung pembentukan identitas
negara secara internal.
Secara umum, penulis-penulis yang akan disebutkan pada bagian ini
tidak membantah bahwa faktor-faktor esensial sebelumnya memiliki peran
penting yang mendasar dalam pembentukan identitas negara. Namun
demikian, penulis-penulis ini memiliki argumen bahwa pada dasarnya terdapat
faktor-faktor lain yang berinteraksi dengan faktor-faktor esensial tersebut, dan
pada akhirnya mengkonstruksikan unsur lain yang juga berpengaruh dalam
pembentukan identitas. Menurut penulis-penulis ini, faktor-faktor seperti
norma, budaya, bahasa, belief, sejarah dan lain-lain ini berinteraksi antara satu
sama lain dan membentuk faktor turunan yang memiliki makna tertentu, dan
pada akhirnya menjadi hal yang dipercaya dapat memperkuat pembentukan
identitas negara. Dalam bagian ini akan disebutkan mengenai unsur naratif
diskursus, simbolisasi material, kualitas intrinsik negara, dan kebutuhan
politik sebagai bentuk faktor turunan yang juga merupakan pendukung dalam
internalisasi serta pembentukan identitas negara.
Diskursus dan Narativisasi
Salah satu faktor-faktor turunan dalam pembentukan identitas
negara ini adalah diskursus yang melibatkan penggunaan teks atau
kata-kata. Kevin C. Dunn dalam tulisannya menyebutkan bahwa diskursus
Universitas Indonesia
identitas.37 Dunn menjelaskan bahwa selama ini banyak penulis tentang
identitas yang fokusnya material justru mengacuhkan pentingnya
diskursus. Sedangkan bagi Dunn, diskursus juga memiliki pengaruh
terhadap pembentukan identitas dengan hubungannya dengan aspek
material. Dalam praktiknya, material dan diskursus saling berkaitan karena
sulit untuk terus membedakan antara praktik dan diskursus.38 Melalui
pendapatnya ini Dunn berusaha menjelaskan bahwa pada dasarnya
diskursus sangat berhubungan dengan identitas dan para elit suatu negara
seringkali menggunakan diskursus untuk dapat mengklaim dan
mengkonstruksi identitas negaranya. Diskursus dilihat memiliki pengaruh
untuk dapat mendorong pembentukan identitas negara. Dalam hal ini,
diskursus dapat berupa konteks naratif tertentu yang dikemukakan oleh
para elit atau pemimpin negara untuk dapat mengafirmasi baik kepada
masyarakat dari negara itu sendiri maupun aktor lainnya dalam hubungan
internasional.
Apa yang dikemukakan oleh Dunn ini mengindikasikan bahwa
diskursus yang pada dasarnya terkonstruksi oleh penggunaan bahasa yang
dikemas dalam kata-kata serta kalimat tertentu yang di dalamnya memiliki
makna atas pemahaman belief serta norma suatu negara ketika dikemukakan dalam situasi serta kondisi tertentu dapat memperkuat
identitas dari negara tersebut. Diskursus dalam hal ini dikatakan memiliki
pengaruh dan kapabilitas untuk dapat membentuk identitas. Diskursus ini
terlebih lagi ketika dipadukan dengan kapabilitas siapa yang berbicara
akan dapat memberikan pengaruh besar dalam pembentukan identitas.
Demikian pulalah yang dikemukakan oleh Charlotte Epstein mengenai
bagaimana diskursus dan kapabilitas aktor yang berbicara dapat
memengaruhi dan memperkuat pembentukan identitas.39 Epstein dalam
tulisannya tersebut melihat bahwa diskursus yang di dalamnya
37
Ke i C. Du , Na ati g Ide tit : Co st u ti g the Co go Du i g the 6 C isis , dalam Identity and Global Politic: Empirical and Theoretical Elaborations, ed. Patricia M. Goff dan Kevin C. Dunn (New York:, Palgrave Macmillan, 2004), 126-127.
38
Ibid.
39
Universitas Indonesia
mengandung naratif merupakan media ataupun wadah yang cukup efektif
dalam mengklaim maupun memperkuat identitas, terutama apabila
disampaikan oleh aktor atau agen yang tepat. Epstein pun melihat bahwa
diskursus memiliki hubungan yang sangat erat dengan bahasa, norma,
kultur, serta agensi.40
Terkait dengan hubungan antara penggunaan bahasa dan agensi ini
Dunn juga menyebutkan mengenai narativisasi. Narativisasi yang
dimaksud oleh Dunn ini adalah bentuk usaha agen-agen elit negara untuk
mengklaim identitas negaranya, baik kepada konstituennya maupun pada
pihak eksternal melalui pembentukan kisah-kisah naratif tertentu untuk
menarik dan menyatukan hati rakyat.41 Agen-agen yang biasanya
merupakan elit dari negara menggunakan kapabilitas yang dimilikinya
dalam konteks tertentu untuk memberikan keyakinan pada konstituen
negara yaitu warga negara untuk memahami serta menginternalisasi
pembentukan identitas. Selain itu, narativisasi ini juga dilakukan untuk
memberikan klaim kepada aktor-aktor negara lainnya mengenai
bagaimana negara tersebut mengidentifikasikan dirinya. Teks yang
membentuk cerita sebagai diskursus ini dengan demikian menjadi media
yang digunakan untuk membentuk identitas dalam negara. Diskursus
ketika disampaikan atau dikaitkan dengan agen yang tepat dalam rentang
waktu serta momen yang tepat dapat memengaruhi serta
menginternalisasikan kepada publik, baik dari dalam maupun luar negara
tersebut, mengenai pemahaman akan identitas negara.
Penjelasan mengenai diskursus yang dalam tulisan ini
dikemukakan oleh Dunn dan Epstein menunjukkan bahwa diskursus
merupakan salah satu faktor turunan yang dapat memengaruhi
pembentukan identitas pada negara. Diskursus dikonstruksikan oleh
konteks peristiwa atau situasi tertentu, kehadiran agen, dan penggunaan
bahasa dalam membentuk kisah, baik secara lisan maupun tertulis,
sehingga pada akhirnya dapat memengaruhi pemahaman baik bagi warga
40
Ibid.
41
Universitas Indonesia
negara tersebut, ataupun masyarakat internasional mengenai identitas pada
negara. Penggunaan diskursus, agensi, serta cara yang tepat dapat
berpengaruh dalam menanamkan pemahaman serta makna akan identitas
negara dan dengan demikian merupakan salah satu faktor yang
memengaruhi pembentukan identitas pada suatu negara.
Pengaruh dari diskursus pada pembentukan identitas negara juga
dapat meningkat ketika diiringi oleh pemberlakuan formal dari elit politik
karena mereka memiliki posisi legislatif terkait pembuatan keputusan yang
strategis, sehingga diskursus tidak lagi hanya sekedar kata-kata kosong,
tetapi memiliki dorongan langsung pada hukum dan peraturan formal.
Dalam hal ini, diskursus yang dilakukan oleh negara melalui
pemberlakuan peraturan formal dapat dijelaskan dengan melihat negara
Swiss sebagai contoh. Riano Yvonne dan Wastl-Walter Doris dalam
tulisannya menjelaskan mengenai usaha pemerintah Swiss pada abad
ke-19 dalam menghadapi isu Überfremdung, yaitu gagasan akan kelebihan populasi asing yang dapat mengancam identitas Swiss.42 Negara-negara
Eropa merupakan wilayah yang sangat sering dipilih untuk menjadi tujuan
dari para imigran, termasuk Swiss. Dalam hal ini, diskursus mengenai kebijakan „naturalisasi‟ menjadi hal yang lumrah dilakukan. Namun demikian, hal ini berbeda dengan Swiss. Yvonne dan Doris menjelaskan
bahwa negara tersebut berupaya keras untuk melakukan penanaman serta
pengimplementasian diskursus dalam rangka usaha eksklusi terhadap
imigrannya.
Sebelum masa Perang Dunia I, Swiss melihat kedatangan pihak
asing sebagai hal yang tidak dapat dihindari dan dapat berkontribusi bagi
perkembangan ekonomi. Sehingga pada masa itu, menurut Yvonne dan
Doris, Swiss melihat naturalisasi menjadi cara yang paling cocok bagi
imigran untuk dapat terasimilasi dengan budaya Swiss.43 Pada masa di
antara Perang Dunia I dan II, budaya ancaman nasional mulai
42
Riaño Yvonne dan Wastl-Walte Do is, I ig atio Poli ies, “tate Dis ou ses o Fo eig e s
a d the Politi s of Ide tit i “ itze la d , Environment and Planning A, 38, 2006, 1693.
43
Universitas Indonesia
berkembang, dan kehadiran orang asing atau imigran dianggap sebagai hal
yang dapat membahayakan identitas negara tersebut. Kemudian pasca
Perang Dunia II berlangsunglah masa ekspansi ekonomi yang membuat
Swiss membutuhkan buruh asing atau imigran, sehingga pada masa itu
imigran dianggap sebagai hanyalah fenomena sementara yang tidak dapat
dihindarkan. Selanjutnya adalah fase terakhir sejak tahun 1990-an hingga
saat ini yaitu yang berkaitan dengan berdirinya Uni Eropa. Pada masa ini,
Swiss kedatangan banyak sekali imigran, baik yang menetap di negara
tersebut maupun imigran yang merupakan pencari suaka dari perang sipil
di bekas Yugoslavia.44
Swiss merupakan salah satu negara di Eropa yang tidak termasuk
dalam Uni Eropa. Yvonne dan Doris menyebutkan bahwa pada awalnya
Swiss cukup terisolasi dari Uni Eropa dan elit politiknya menganggap hal
ini cukup mengkhawatirkan bagi ekonomi negara tersebut. Namun,
mayoritas publik di Swiss memang menolak untuk bergabung dalam Uni
Eropa. Terkait hal tersebut, untuk juga menjaga identitas negaranya,
Yvonne dan Doris melihat bahwa pemerintah Swiss melakukan diskursus
melalui perumusan kebijakan terkait imigrasi. Kebijakan ini diawali
dengan three-circle policy yang diimplementasikan dengan membagi pihak asing menjadi tiga jenis melalui proksimitas atau kedekatan
budayanya. Namun demikian, hal ini menimbulkan kontroversi karena
dianggap sebagai diskriminasi terhadap ras dan latar belakang budaya
tertentu.
Yvonne dan Doris lebih jauh mengemukakan bahwa pada 2002,
Swiss melakukan perjanjian bilateral dengan Uni Eropa mengenai
kebebasan untuk melakukan perpindahan (freedom of movement) untuk
tetap menjaga kondisi ekonominya.45 Dalam perjanjian tersebut, penduduk Uni Eropa tidak lagi dimasukkan dalam kategori „asing‟, sehingga penduduk Uni Eropa di Swiss dapat memiliki hak untuk hidup dan bekerja
yang sama dengan penduduk asli Swiss, kecuali hak untuk memilih (voting
44
Ibid., 1696-1697.
45
Universitas Indonesia
rights). Kemudian hingga saat ini, pihak asing atau imigran di luar Uni Eropa pun dibagi berdasarkan kualifikasi personalnya. Sehingga, imigran
di luar Uni Eropa yang lebih mudah berintegrasi dengan masyarakat Swiss
adalah mereka yang dianggap dapat berkontribusi bagi perekonomian
negara tersebut.46
Contoh yang dikemukakan oleh Yvonne dan Doris terkait apa yang
terjadi di Swiss ini menunjukkan bagaimana pemerintah negara
menggunakan diskursus yang dikeluarkan dalam bentuk kebijakan untuk
membentuk dan menjaga identitasnya. Hal ini pada dasarnya juga
mengindikasikan bahwa diskursus yang diformalkan sebagai peraturan
memiliki pengaruh yang kuat dan dapat memengaruhi pembentukan
identitas pada negara. Hal ini kembali menekankan poin bahwa diskursus
yang diiringi dengan penggunaan instrumen yang tepat serta dilakukan
pada situasi tertentu yang tepat dapat mendorong dan mendukung
pembentukan identitas yang diinginkan oleh pihak internal negara.
Simbolisasi Material
Faktor selanjutnya adalah faktor yang terkonstruksi dari
faktor-faktor esensial seperti budaya atau kultur, norma, peristiwa sejarah, serta
belief. Jonathan M. Acuff dalam hal ini memiliki pandangan menarik mengenai apa yang dapat memengaruhi pembentukan identitas pada
negara. Jika pada sebelumnya telah disebutkan pendapat Acuff mengenai
bagaimana identitas dibentuk dan diturunkan melalui produk dari esensi
budaya, maka dalam bagian ini akan dijelaskan bentuk-bentuk realisasi
dari produk esensi budaya tersebut. Acuff menjelaskan bahwa budaya
yang sering dilihat sebagai bentuk yang abstrak dan bersifat non-material
juga membentuk produk-produknya dalam bentuk material yang juga
berpengaruh dalam pembentukan identitas.
Bagi Acuff, identitas berkaitan erat dengan self-understanding atau
pemahaman aktor tersebut mengenai dirinya sendiri. Acuff
mengemukakan bahwa self-understanding suatu aktor distrukturisasikan
46
Universitas Indonesia
melalui praktik-praktik ritual yang dilakukannya. Melalui ritual yang
dilakukannya, warga negara atau anggota dari suatu identitas kolektif
membentuk identitasnya di antara elemen-elemen material seperti
monumen, coliseum, dan ruang publik lainnya.47 Acuff melihat elemen
material tersebut merupakan bentuk simbolisasi yang juga membentuk
identitas. Monumen, coloseum, serta arsitektur ruang publik yang ada
dalam suatu negara, bagi Acuff, melibatkan unsur emosional yang melekat
pada mitos serta norma yang berlaku di masyarakat dan merupakan
representasi material dari budaya yang mengandung memori kolektif dari
masyarakat dan dengan demikian dapat berkontribusi pada pembentukan
identitas kolektif.48 Melalui hal ini Acuff berusaha mengajak pembacanya
untuk melihat bagaimana simbolisasi dari nilai budaya, norma, belief, dan
pemahaman sejarah suatu kolektif yang diwujudkan dalam bentuk material
mengandung makna tertentu dan memunculkan rasa keterikatan yang pada
akhirnya dapat memperkuat identitas kolektif yang terbentuk, seperti
identitas negara.
Dengan melihat apa yang dikemukakan oleh Acuff, dapat dipahami
bahwa pada dasarnya identitas suatu kolektif dipengaruhi pula dengan
unsur material yang di dalamnya mengandung unsur emosional. Unsur
emosional ini tertanam dan melekat dalam masyarakat terkait mitos
maupun simbolisasi yang berlaku sehingga dituangkan dalam bentuk
monumen ataupun bangunan-bangunan tertentu. Unsur emosional ini
muncul dari memori serta praktik ritual yang dilakukan oleh masyarakat.
Dalam hal ini, memori berkaitan dengan apa yang pernah terjadi dalam
kolektif tersebut, seperti peninggalan peristiwa sejarah yang memiliki
makna tertentu. Peninggalan tersebut berbentuk nyata namun diartikan
secara mendalam dan membentuk sebuah memori tentang apa yang pernah
dialami oleh leluhur dari masyarakat tersebut. Memori serta makna yang
dipahami secara bersama tersebut memunculkan rasa keterikatan dan pada
akhirnya dapat membentuk rasa saling memiliki. Simbolisasi juga
47
Acuff , “pe ta le a d “pa e , -148.
48
Universitas Indonesia
seringkali dituangkan dalam bentuk ritual tertentu yang dalam praktiknya
semakin menginternalisasi pemahaman akan identitas kolektif masyarakat
tersebut.
Acuff juga melihat bahwa tidak hanya monumen, coloseum,
ataupun arsitektur keseluruhan dari ruang publik, tetapi pembentukan
identitas kolektif negara juga diturunkan dari produk budaya yang dimiliki
masyarakat seperti kesenian, musik, literatur, adat, kepercayaan, dan
fashion.49 Produk dari budaya yang dianut oleh suatu masyarakat dalam bentuk kolektif tersebut nyatanya juga dapat menjadi pengikat masyarakat
sebagai sebuah kesatuan. Selain itu, konten budaya yang dimiliki
masyarakat ini pun mengandung nilai serta kepercayaan tertentu yang juga
diinternalisasikan dalam diri setiap individu untuk memahami bahwa
mereka merupakan bagian dan anggota dari sebuah identitas kolektif
tertentu. Produk-produk budaya ini seringkali menjadi representasi
mengenai identitas kolektif suatu masyarakat. Suatu kolektivitas termasuk
negara seringkali dilihat dan dikenal melalui produk-produk budaya yang
memiliki ciri khas berbeda ini.
Contoh dari simbolisasi dalam bentuk material yang dapat
mendorong pembentukan identitas pada suatu negara adalah negara Italia.
Masyarakat internasional mengidentifikasi Italia dengan merujuk pada
Menara Pisa, Coloseum yang dimilikinya, dan tipe arsitektur serta suasana
kultural yang terkandung ketika mengunjungi negara tersebut. Contoh
lainnya adalah Indonesia yang dikenal oleh masyarakat luar dari produk
batiknya. Hal ini menunjukkan bahwa representasi dalam bentuk material
yang di dalamnya mengandung makna-makna dari faktor esensial yang
dimiliki oleh suatu negara memiliki peranan yang juga signifikan dalam
pengidentifikasian negara sebagai sebuah identitas kolektif dalam
hubungan internasional.
Contoh di atas menunjukkan bahwa apa yang dikemukakan oleh
Acuff bahwa produk dari budaya juga dapat membentuk dan memperkuat
49
Universitas Indonesia
pembentukan identitas negara merupakan pendapat yang masuk akal.
Namun demikian, perlu dipahami pula bahwa produk-produk budaya ini
juga dikonstruksikan melalui hubungan kognitif dan emosional yang
dimiliki oleh masyarakat tersebut terkait faktor-faktor esensial seperti
belief, norma, keterikatan dengan sejarah, dan lain sebagainya50 karena pada dasarnya hal-hal yang tersebutlah yang mengikatkan masyarakat
pada identitas dan tersimbolisasi melalui produk yang bersifat material.
Kualitas Intrinsik
Kualitas intrinsik dalam suatu identitas pada negara pun juga
mengindikasikan bahwa hal-hal yang terjadi dalam lingkup internal negara
tersebut dapat memengaruhi identitas negara tersebut. Terkait hal ini,
Alexander Wendt dalam tulisannya menyebutkan mengenai identitas
korporasi dan identitas sosial dalam diri suatu aktor, termasuk negara.
Dalam hubungannya dengan faktor internal pada identitas suatu negara,
Wendt mengasosiasikannya dengan identitas korporasi. Wendt
menjelaskan bahwa identitas korporasi merujuk kepada kualitas intrinsik
dan self-organizing yang membentuk individualitas dari aktor.51 Pada manusia, hal ini mengacu pada tubuh dan kesadarannya. Sedangkan pada
organisasi, termasuk negara yang juga merupakan identitas kolektif, hal ini
mengacu pada individu-individu yang merupakan konstituen, sumber
daya, dan pemahaman bersama bahwa indvidu-individu tersebut juga
memiliki fungsi bersama sebagai “we”atau “kami”.52
Identitas negara yang merupakan identitas kolektif dipengaruhi
secara internal oleh unsur-unsur yang membentuk individualitas dan
bersifat intrinsik. Dalam konteks negara, hal ini dengan demikian mengacu
pada bagaimana unsur-unsur domestik suatu negara dapat memengaruhi
identitas negara tersebut. Dalam penjelasannya mengenai identitas
korporasi, unsur-unsur domestik yang dimaksud Wendt dalam hal ini
adalah individu-individu dan sumber daya yang ada di dalam negara
50
Ibid.
51
Alexander We dt, Colle ti e Ide tit Fo atio a d the I te atio al “tate , American Political Science Review, 88, 2, 1994, 385.
52
Universitas Indonesia
tersebut yang pada akhirnya membentuk sebuah pemahaman akan fungsi
“we”atau “kami” sebagai sebuah kesatuan dalam lingkup negara.
Bagaimana kondisi politik, ekonomi, keamanan, sosial, dan budaya
domestik yang dimiliki oleh suatu negara dapat memengaruhi
pembentukan identitas negara tersebut juga dijelaskan oleh Patricia M.
Goff dan Kevin C. Dunn. Goff dan Dunn menyebutkan bahwa identitas
suatu negara dipengaruhi oleh perubahan peristiwa serta kondisi domestik
yang terjadi, walaupun juga apa yang terjadi di level internasional juga
dapat memengaruhi identitas.53 Dalam hal ini Goff dan Dunn berusaha
menekankan untuk tidak melupakan faktor domestik yang memiliki peran
dalam memengaruhi identitas suatu negara. Keduanya menyebutkan
bahwa identitas tidak semata-mata disematkan atau ditempelkan oleh aktor
lain, tetapi internal negara tersebut juga memiliki peran untuk dapat
memengaruhi bagaimana identitas itu pada akhirnya terbentuk.
Apa yang dikemukakan oleh Goff dan Dunn ini pun diperkuat oleh
Martha Finnemore dan Kathryn Sikkink. Finnemore dan Sikkink dalam
tulisannya menyebutkan bagaimana terdapat dikotomi faktor yang
memengaruhi identitas negara. Dalam hal internal atau yang mengacu
pada kondisi domestik ini, Finnemore dan Sikkink mengutip Katzenstein
yang mengungkapkan bahwa identitas negara pada dasarnya merupakan
atribut domestik yang muncul dari ideologi nasional mengenai pembedaan
kolektif dan tujuannya.54 Mereka juga menambahkan bahwa identitas ini
pada akhirnya membentuk persepsi negara mengenai kepentingan dan juga
kebijakannya.55 Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa identitas negara
muncul dari dalam negara itu sendiri dan dipengaruhi oleh kualitas
intrinsik atau kondisi domestik dari negara tersebut.
Suatu negara membentuk identitasnya didorong oleh domestik
negara tersebut dan diturunkan dari ideologi nasional. Hal ini
53
Goff da Du , Co lusion , 239.
54Ma tha Fi e o e da Kath “ikki k, Taki g “to k: The Co st u ti ist ‘esea h P og a i I te atio al ‘elatio s a d Co pa ati e Politi s , Annual Review of Political Science, 4, 2001, 399.
55
Universitas Indonesia
menunjukkan bahwa identitas merupakan suatu yang dibentuk dan
dikonstruksikan, tidak semata-mata diberikan. Dengan melihat
literatur-literatur yang menyebutkan mengenai kualitas intrinsik sebagai salah satu
faktor internal yang memengaruhi identitas suatu negara, dapat dipahami
bahwa pada dasarnya pembentukan identitas suatu negara dipengaruhi
dengan apa yang terjadi dalam level domestik negara tersebut. Bentuk dari
identitas negara yang terbentuk sebagai wujud kualitas intrinsik menurut
Wendt adalah identitas negara sebagai negara liberal, demokrasi, dan
sebagainya.56 Identitas-identitas negara semacam itu merupakan identitas
korporasi negara karena kondisi domestiklah yang memengaruhi
pembentukan identitas tersebut. Domestik yang merupakan dimensi
internal dari negara mendorong dan memengaruhi pembentukan identitas
negara, sehingga akhirnya identitas tersebut diproyeksikan dan tercermin
melalui kepentingan serta kebijakan negara dalam usahanya untuk
mencapai kepentingannya tersebut.
Salah satu contoh yang dapat mengilustrasikan bagaimana kualitas
intrinsik dapat memengaruhi pembentukan identitas adalah penjelasan
yang dilakukan oleh Akitoshi Miyashita mengenai bagaimana identitas
negara Jepang terbentuk. Seperti yang kita ketahui, Jepang merupakan
salah satu negara di Asia yang maju dan disebut sebagai „Macan Asia‟.
Hal ini disebabkan oleh kondisi perekonomian Jepang yang baik dan
dipengaruhi pula oleh mental warga negaranya dalam melakukan
pekerjaan. Dengan kapabilitas ekonomi Jepang yang tinggi ini, tentu
masyarakat internasional akan berekspektasi bahwa Jepang juga akan
menyeimbangkan kapabilitas militernya. Namun nyatanya, Jepang
memilih tidak melakukan hal tersebut dan fokus pada sektor ekonomi
negara tersebut untuk dapat menyejahterakan rakyatnya. Menurut
Miyashita, hal ini salah satunya dilatarbelakangi oleh perasaan trauma
yang dirasakan oleh negara tersebut saat Perang Dunia II.57 Kekalahan
Jepang di Perang Dunia II membuat Jepang tidak lagi ingin terlalu terlibat
56
Wendt, Colle ti e Ide tit Fo atio , 386.
57
Akitoshi Mi ashita, Whe e do o s o e f o ? Fou datio of Japa s post a pa ifis ,
Universitas Indonesia
dalam hal militer karena khawatir akan mengulangi kesalahannya. Serta,
paska kekalahannya tersebut, Jepang memiliki keyakinan (belief) bahwa
kekerasan tidak memberikan keuntungan („violence does not pay‟).58
Sejarah, norma, budaya, serta keyakinan inilah yang mendorong Jepang
untuk dikenal sebagai sebuah „peaceful trading state‟.59
Kebutuhan Politik
Negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional
berusaha membentuk identitasnya sendiri. Marysia Zalewski dan Cynthia
Enloe menuliskan bahwa pembentukan identitas suatu negara perlu
dipahami sebagai sebuah proses di mana sebuah aktor berusaha menjawab
mengenai siapa dirinya sebenarnya (“Who am I”) dan juga proses di mana
pihak-pihak lainnya berusaha memengaruhi jawaban akan pertanyaan
tersebut dengan tarik-menarik antar satu sama lain.60 Hal ini menjelaskan
bahwa pada dasarnya suatu negara membentuk identitasnya sendiri,
walaupun identitas tersebut pada akhirnya juga dipengaruhi oleh
pihak-pihak lainnya. Namun demikian, dapat dipahami bahwa negara pada
awalnya berusaha membentuk identitasnya sendiri terlebih dahulu karena
adanya kebutuhan politik dari dalam negara tersebut, serta karena negara
merasa perlu untuk mengidentifikasikan siapa dirinya. Dalam bagian ini
akan dijelaskan mengenai bagaimana identitas suatu negara dibentuk oleh
negara itu sendiri sebagai upaya dari faktor internal untuk membentuk
batasan dalam pengidentifikasian diri negara demi kebutuhan politik
negara tersebut.
Maxym Alexandrov merupakan salah satu penulis yang
menyebutkan mengenai faktor internal dan eksternal dalam identitas
negara. Alexandrov menyebutkan bahwa faktor internal suatu identitas
negara mengacu pada keterwakilan dan pemahaman yang hampir serupa
58
Ibid.
59
Ibid.
60
Ma sia )ale ski da C thia E loe, Questio s a out Ide tit i I te atio al ‘elatio s ,