• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Perilaku Kolektif dan Gerakan S

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tinjauan Perilaku Kolektif dan Gerakan S"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Tinjauan Perilaku Kolektif dan Gerakan Sosial

Dengan Teori Divusi Inovasi

( Lahirnya Semangat Kontrakultur “Underground” )

I. Latar Belakang

Kelompok sosial pada umumnya didefinisikan sebagai dua atau lebih orang yang memiliki suatu identitas bersama dan yang berinteraksi secara reguler. Komunitas sendiri termasuk dari kelompok sosial dengan tujuan yang sama. Dalam hal musik, underground merupakan salah satu aliran musik yang diadaptasi dari barat dengan pemikiran pemikiran Beberapa golongan yang menyukai jenis musik ini terkadang memberikan aksen yang berbeda-beda di pandangan masyarakat. Perihal bagaimana komunitas dapat mempertahankan eksistensi gaya perilaku sosial yang berporos pada genre ini dapat menjadikan studi ringan dalam mempertimbangkan perilaku kolektif dan gerakan sosial yang sudah berkembang. Gerakan sosial komunitas underground melahirkan kolektifitas

yang solid. Perkumpulan komunitas ini terdiri dari beberapa kalangan yang tidak merata, termasuk beberapa kalangan pekerja, pelajar, muda sampai tua. Peran Komunikator sendiri memberikan tanda-tanda dengan cara yang bagaimanapun berhubungan dengan anggota lainnya. Tanda-tanda atau lambang dapat di anggap menjadi sistem kode yang mempererat komunitas.

(2)

Ada banyak sekali kelompok atau gerakan-gerakan sosial yang ada pada peradaban kali ini, namu saya lebih tertarik utuk mengulas lebih jauh mengenai kelompok-kelompok kontrakultur pada era tahun 60an yang sempat menggemparkan masyarakat dunia kala itu.

Kontrakultur (Counterculture) sendiri merupakan istilah yang dimulai oleh Theodore Roszack, seorang penerbit, editor, dan pengarang asal AS, pada 1969 melalui buku The Making of Countercultur. Yang mana pada kontrakultur, kelompok-kelompok progresif dan libertarian bermaksud mengubah dan menggantikan masyarakat barat yang statis, dekaden, serta tidak menyenangkan. Sedangkan istilah underground sendiri awalnya digunakan untuk menggambarkan jaringan-jaringan resistensi yang muncul selama Perang Dunia II. Sedangkan, underground yang mulai muncul pada akhir dekade 1960-an menjadi sinonim untk gerakan kontrakultur itu sendiri.

Menurut Rogers dan Shoemaker (1971), studi difusi mengkaji pesan-pesan yang berupa ide-ide ataupun gagasan-gagasan baru. Karena pesan yang disampaikan itu merupakan hal-hal yang baru, maka pada pihak penerima akan timbul suatu derajat resiko tertentu. Pada masyarakat yang sedang membangun seperti di Negara-negara berkembang, penyebarserapan (difusi) inovasi terjadi terus menerus, dari suatu tempat ke tempat yang lain, dari suatu waktu ke waktu berikutnya, dan dari bidang tertentu ke bidang yang lainnya. Kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang saling menyebabkan satu sama lain. Penyebarserapan inovasi menyebabkan masyarakat menjadi berubah dan perubahan sosial pun merangsang orang untuk menemukan dan menyebar-luaskan hal-hal yang baru.

(3)

dimana perubahan terjadi dalam struktur dan fungsi sistem sosial. Perubahan sosial terjadi dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu: (1) Penemuan (invention), (2) difusi (diffusion), dan (3) konsekuensi (consequences). Penemuan adalah proses dimana ide/gagasan baru diciptakan atau dikembangkan. Difusi adalah proses dimana ide/gagasan baru dikomunikasikan kepada anggota sistem sosial, sedangkan konsekuensi adalah suatu perubahan dalam sistem sosial sebagai hasil dari adopsi atau penolakan inovasi.

Tahapan yang menciptakan proses difusi

1. Mempelajari Inovasi: Tahapan ini merupakan tahap awal ketika masyarakat mulai melihat, dan mengamati inovasi baru dari berbagai sumber, khususnya mediamassa. Pengadopsi awal biasanya merupakan orang-orang yang rajin membaca koran dan menonton televisi, sehingga mereka bisa menangkap inovasi baru yang ada.

2. Pengadopsian: Dalam tahap ini masyarakat mulai menggunakan inovasi yang mereka pelajari. Diadopsi atau tidaknya sebuah inovasi oleh masyarakat ditentukan juga oleh beberapafaktor. Jika seseorang merasa mereka bisa melakukannya, maka mereka akan cenderung mangadopsi inovasi tersebut. Selain itu, dorongan status juga menjadi factor

motivasional yang kuat dalam mengadopsi inovasi. Beberapa orang ingin selalu menjadi pusat perhatian dalam mengadopsi inovasi baru untuk menunjukkan status sosialnya di hadapan orang lain.

(4)

Tahap Proses Adopsi

1. Tahappengetahuan: Dalam tahap ini, seseorang belum memiliki informasi mengenai inovasi baru. Untuk itu informasi mengenai inovasi tersebut harus disampaikan melalui berbagai saluran komunikasi yang ada, bisa melalui mediaelektronik, media cetak , maupun komunikasiinterpersonal di antara masyarakat

2. Tahappersuasi: Tahap kedua ini terjadi lebih banyak dalam tingkat pemikiran calon pengguna. Seseorang akan mengukur keuntungan yang akan ia dapat jika mengadopsi inovasi tersebut secara personal. Berdasarkan evaluasi dan diskusi dengan orang lain, ia mulai cenderung untuk mengadopsi atau menolak inovasi tersebut.

3. Tahap pengambilan keputusan: Dalam tahap ini, seseorang membuat keputusan akhir apakah mereka akan mengadopsi atau menolak sebuah inovasi. Namun bukan berarti setelah melakukan pengambilan keputusan ini lantas menutup kemungkinan terdapat perubahan dalam pengadopsian.

4. Tahapimplementasi: Seseorang mulai menggunakan inovasi sambil mempelajari lebih jauh tentang inovasi tersebut.

5. Tahapkonfirmasi: Setelah sebuah keputusan dibuat, seseorang kemudian akan mencari pembenaran atas keputusan mereka. Apakah inovasi tersebut diadopsi ataupun tidak, seseorang akan mengevaluasi akibat dari keputusan yang mereka buat. Tidak menutup kemungkinan seseorang kemudian mengubah keputusan yang tadinya menolak jadi menerima inovasi setelah melakukan evaluasi.

Kategori Pengadopsi

(5)

1. Inovator: Adalah kelompokorang yang berani dan siap untuk mencoba hal-hal baru.

Hubungan sosial mereka cenderung lebih erat dibanding kelompok sosial lainnya. Orang-orang seperti ini lebih dapat membentuk komunikasi yang baik meskipun terdapat jarak geografis. Biasanya orang-orang ini adalah mereka yang memeiliki gaya hidup dinamis di perkotaan yang memiliki banyak teman atau relasi.

2. Pengguna awal: Kelompok ini lebih lokal dibanding kelompok inovator. Kategori adopter seperti ini menghasilkan lebih banyak opini dibanding kategori lainnya, serta selalu mencari informasi tentang inovasi. Mereka dalam kategori ini sangat disegani dan dihormati oleh kelompoknya karena kesuksesan mereka dan keinginannya untuk mencoba inovasi baru.

3. Mayoritas awal: Kategori pengadopsi seperti ini merupakan mereka yang tidak mau menjadi kelompok pertama yang mengadopsi sebuah inovasi. Sebaliknya, mereka akan dengan berkompromi secara hati-hati sebelum membuat keputusan dalam mengadopsi inovasi, bahkan bisa dalam kurun waktu yang lama. Orang-orang seperti ini menjalankan fungsi penting dalam melegitimasi sebuah inovasi, atau menunjukkan kepada seluruh komunitas bahwa sebuah inovasi layak digunakan atau cukup bermanfaat.

4. Mayoritas akhir: Kelompok yang ini lebih berhati-hati mengenai fungsi sebuah inovasi. Mereka menunggu hingga kebanyakan orang telah mencoba dan mengadopsi inovasi sebelum mereka mengambil keputusan. Terkadang, tekanan dari kelompoknya bisa memotivasi mereka. Dalam kasus lain, kepentingan ekonomi mendorong mereka untuk mengadopsi inovasi.

(6)

justru sudah jauh mengadopsi inovasi lainnya, dan menganggap mereka ketinggalan zaman.

II.

PERMASALAHAN

1. Relevansi Fenomena Terkait dengan Teori

2. Dinamika Kelompok dan Hubungan antar Kelompok

3. Aksi Heroik Masyarakat Kontrakultur

4. Eksistensi Pemuda Kelas Pekerja

III.

PEMBAHASAN

1.

Relevansi Fenomena Terkait dengan Teori

(7)

Underground sendiri merupakan sekelompok orang yang memiliki paham anti kemapanan, yang mana didalam kehidupannya masyarakat ini menginginkan atau menuntut sebuah keadilan dalam strata social. Hal ini dikarenakan kelompok mereka yang terdiri dari pemuda kelas pekerja dan buruh ini merasa dalam kehidupannya mereka telah diperlakukan tidak adil oleh pemerintahan pada saat itu. Maka dari itu tidak heran jika mereka sering melakukan demo atau bahkan hingga aksi-aksi anarkis demi mendapatkan sebuah keadilan yang mereka serukan. Mereka yang mengatasnamakan dirinya sebagai kaum kontrakultur ini akhirnya berkembang dengan sendirinya, mereka membentuk group band music yang mana pada setiap liriknya mengandung unsur penolakan terhadap pemerintahan dan politik, kemudian ada juga kelompok-kelompok aktifis yang juga mengadopsi pemikiran kontrakultur sebagai landasan kelompoknya dalam berorasi.

2. Dinamika Kelompok dan Hubungan Antar Kelompok

Kelompok – kelompok sosial akan selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Ada kelompok yang kian menguat, ada yang ikatannya naik turun, ada pula yang malah menuju pada kehancuran. Ketika berbicara mengenai dinamika tersebut, kita akan mengacu pada interaksi di antara anggota-anggota kelompok. Pada sebuah kelompok yang tetap eksis dalam waktu yang lama, tentu akan mengalami pergolakan internal, tetapi kadang ada juga yang eksistensinya terancam bubar. Inilah dinamika sosial suatu kelompok yang ada.

Gejala-gejala dinamika kelompok yang mungkin terjadi akan menghasilkan situasi baru, misalnya :

 Eksistensi kelompok akan hilang (kelompok aka hancur), dikarenakan pada suatu

kelompok kadang juga terjadi berbagai macam kepentingan dan persaingan antara anggota-anggotanya sendiri,maka hal itu pula yang dapat mengarahkan suatu kelompok pada sebuah konflik (pertikaian). Inilah yang membuat kelompok menjadi sangat dinamis.

 Berbeda dengan permasalahan diatas, berikut berpendapat bahwa dari suatu

(8)

kelompok tersebut. Dalam hal ini, kepentingan diantara anggota kelompok tak terdamaikan, ada kelompok yang menyatakan keluar kemudian membentuk kelompok baru. Misalnya saja partai-partai politik yang sekarang kian gencar pertumbuhannya dan saling bersaing demi kepentingan masing-masing. Gejala ini sangat lumrah dalam dinamika partai politik sebagai kelompok politik, terutama jika kita lihat dinegara kita sendiri “Indonesia”.

3. Aksi Heroik Masyarakat Kontrakultur

Dari berbagai penjelasan dasar mengenai apa itu kelompok, dan bagaimana perilaku-perilaku kelompok-kelompok sosial tersebut, kali ini ada beberapa contoh perilaku-perilaku-perilaku-perilaku dari kelompok-kelompok sosial yang sangat fenomenal pada masanya.

Pada Akhir dekade 1960-an istilah “Underground” ini mulai muncul, yang mana merupakan sebuah sinonim untuk gerakan kontrakultur tersebut. Bagi mereka masyarakat barat yang menyebut dirinya sebagai kelompok-kelompok progresif dan libertarian ini hanya ingin mengubah juga menggantikan kehidupan mereka yang statis, dekaden dan tidak menyenangkan. Ketika Theodore Roszack berhasil memulai istilah kontrakultur (counter culture) pada 1969 melalui bukunya yang berjudul Making of Counterculture. bertepatan dengan itu pula ditahun yang sama budaya underground ini dimulai, yaitu Festival Woodstock pada Agustus 1969. Festival ini dilahirkan untuk merayakan esensi kemanusiaan, perhatian, dan keprihatinan yang terjadi di sekeliling mereka. Festival ini bisa dibilang merupakan tonggak dari kultur pop maupun kaum hippies yang menolak tradisi konservatif dan juga realitas yang menindas masyarakat kelas menengah kebawah dan bagi mereka juga yang sedang memperjuangkan hak-hak mereka mengatasnamakan kontrakultur.

(9)

cinta, seks, dan musik menghambur dalam waktu yang sama. Tidak kalah serunya mereka yang diatas panggung juga senantiasa total dalam menghibur penikmatnya yang ada dibawah, musisi-musisi populer kala itu seperti Jimi Hendrix, santana, Janis Joplin, Joe Cocker juga ikut memeriahkan acara tersebut. Momentum luarbiasa itu bertajuk “ 3 Days of Peace and Music Festival.” Michael Lang pemuda eksentrik berusia 24 tahun ini lah penggagas dan penggerak perhelatan fenomenal tersebut. Bagaimana tidak, festival ini menghabiskan biaya lebih dari 2,4 juta dolar AS dan juga acara ini sempat membuat kemacetan lalu lintas yang parah di New York, akibatnya penduduk marah besar dan pemerintah setempat bersumpah tidak akan pernah lagi mengizinkan pertunjukan sejenis. Selama Woodstock berlangsung, 5.162 orang terpaksa menjalani penanganan medis dan 797 pengguna narkotika harus dirawat. Meski tidak ada perempuan yang melahirkan, tetapi telah terjadi delapan kasus aborsi. Dua orang meninggal karena overdosis dan seorang lagi tewas terlindas traktor yang sopirnya tidak pernah diketahui sampai sekarang. Oleh karena itu Woodstock menjadi sebuah sejarah dari kejadian-kejadian tersebut dan sangat fenomenal

Menurut ahli sejarah kontemporer AS, Bert Feldman, Woodstock adalah sebuah kejadian sejarah dan bagian dari leksikon kultural sebagaimana Watergate menjadi puncak krisis kepercayaan nasional atau Waterloo sebagai simbol kekalahan pahit bangsa Amerika. Woodstock merupakan episode akhir dari hedonisme “generasi bung” pada masa serba-permisif di akhir dekade 1960-an. Begitu pula Feldman juga berkata bahwa “Woodstock adalah peristiwa yang hanya terjadi satu kali sepanjang hidup kita. Woodstock adalah kenangan-kenangan terbaik sekaligus terburuk. Ia adalah sebuah pengalaman kebudayaan yang tidak akan pernah terjadi lagi.”

(10)

berbunyi “Kehidupan spirit Amerika dikoyak oleh kekerasan dan pembusukan. Kami menuntut politik ekstasi!”. kemudian hadir lagi “generasi beat”, sebuah gerakan yang berada di ranah sastra yang banyak dari anggotanya adalah seorang seniman, penulis dan orang-orang bohemian pada akhir era 1940-an dan awalan puisi autobiografis, mistis, serta eksperimental. Gerakan Beat ini pada 1960-an segera saja bergerak meluas dan tidak lagi sekedar menjadi fenomena sastra. Para eksponennya mengajak kalangan lain untuk menyampaikan protes sosial dan politik secara masif. Mereka akhirnya menjadi gerakan yang mengusung masalah-masalah besar seperti hak-hak asasi manusia, feminisme, homoseksualitas, lingkungan hidup, dan perdamaian.

Munculah kemudian Hippies, yang mana Tony Thorne mengatakan bahwa “Hippies

merupakan anggota-anggota kontrakultur yang juga menentang nilai-nilai borjuis dan ortodoksi barat pada akhir era 1960-an. Hippies merupakan pengganti Beatnik bohemian yang berbasis luas dan tendensi-tendensi Hipster yang telah ada di AS sejak tahun 1950-an. Bergabungnya para aktifis radikal yang mengampanyekan hak-hak warga sipil dengan para eksperimentalis pendukung gaya hidup utopian yang dipengaruhi oleh filsafat-filsafat Asia dan Timur serta penggunaan LSD (narkotika) pertama kali terjadi di California pada 1965 dan 1966.”

Masih banyak lagi kelompok-kelompok Hippies yang berdirikan pada masa itu misalnya saja Warewolves yang merupakan geng jalanan dari gerakan Students For A Democratic Society (SADS), Weathermenyang keseluruhan anggotanya berkulit putih berlatar belakang menengah, Gay Liberation Front (GLF) gabungan dari solidaritas gay di seluruh AS. Dalam waktu yang bersamaan pula kemudian muncul kelompok-kelompok lain di kalangan kulit hitam yang mana mereka semua mempelopori gerakan anti-perpecahan dan hak-hak sipil, antara lain adalah Black Panthers yang mengusung marxisme-leninisme sekaligus menolak kontrakultur kaum hippies, White Panthers sebagai simpatisan pendukung seruan dari orang-orang kulit hitam tersebut. Kemudian ada juga beberapa kelompok Libertarian Subversif yang mencita-citakan masyarakat baru yang berdasar pada kreatifitas dan didirikan oleh kaum muda revolusioner, seperti Situationist International, Lettrist International,

(11)

atau berkolaborasi dengan para simpatisan. Mereka juga mencela kontrakultur yang mistis serta penuh akan narkotika ala Hippies.

4. Eksistensi Pemuda Kelas Pekerja

Para pemuda kelas pekerja, jika berbicara mengenai hal itu tentu kita ingat akan sejarah sebuah Cafe di New York tepatnya kawasan Bowrey ini. “CBGB OMFUG” adalah nama cafe tersebut, disana banyak lahir band-band Punk, Rock n Roll dan band beraliran hardcore lokal seperti Cro Mags, Agnostic Front, Sick Of It All, Warzone, Minor Threat yang bisa dibilang bahwa mereka semua ini adalah angkatan pertama untuk genre musik Underground

tersebut.

Sejak mendarat di AS, punk memang dimulai dari klub kecil ini yang bernama CBGB & OMFUG, kependekan dari “Country,Bluegrass, and Blues” and “Other Music For Uplifting Gormandizers”. Klub ini didirikan di 315 6th Bowey, New York, pada Desember 1973 dan ditutup pada 15 Oktober 2005. Pendirinya adalah Hilly Kristal. Bar ini sebelumnya bernama “Hilly” dan khusus memainkan musik Bluegrass dan blues. Seiring perkembangan jaman, CBGB akhirnya menjadi tempat kelahiran Punk di AS. CBGB mulai ramai dikunjungi oleh para pecinta musik ketika Mercer Art Centre yang terkenal di New York runtuh pada agustus 1973. Pada waktu itu pula band-band independen di New York banyak yang bermigrasi ke CBGB untuk tampil di hadapan penonton.

(12)

pemberontakan yang dilakukan kaum muda pada dekade 1960-an dan 1970-an di AS. Apalagi seruan eksistensi CBGB lantas menyebar keseluruh penjuru dunia dan gerakan punk lantas diakrabi kalangan muda.

Penentangan terhadap situasi sosial-politik yang opresif dan tidak adil memang sudah berlangsung lama. AS pada 1950-an adalah negara yang diskriminatif dan dipenuhi ketidakadilan. Strata sosial terbagi menjadi tiga kelas utama, yaitu Borjuis (Pengusaha, Birokrat, Agamawan) yang cenderung rasis dan menjunjung tinggi semangat sepremasi kulit putih. Yang kedua kelas Teknokrat, merupakan kalangan intelektual dan mahasiswa. Ketiga adalah kelas pekerja itu sendiri, yang terdiri dari buruh-buruh kulit hitam dan kulit putih. Sehingga realitas sosial inilah yang antara lain melahirkan gerakan Hippies melawan penindasan tersebut. Pada awalnya mereka ini hanyalah anak-anak muda berkulit putih yang menganut tradisi bohemian. Mereka menentang senjata nuklir, menuntut pembebasan seksual, juga mengkampanyekan gaya hidup vegetarian dan cinta lingkungan (eco-friendly). Kemudian mereka menjadikan seni alternatif, teater jalanan, musik folk, dan rock psikedelik sebagai bagian dari gaya hidupnya sekaligus sebagai media mereka untuk mengekspresikan suara mereka mengenai berbagai isu sosial. hubungan persahabatan yang disebabkan oleh persamaan keahlian serta pandangan yang mendorong orang untuk saling berhubungan secara teratur. Komunitas musik ini menekankan pada pandangan mereka yang secara khusus mengamplikasikan penerapan musik dari sisi pola pemahaman mereka sendiri. Untuk beberapa kalangan musik dengan ritme yang keras mungkin sedikit mengganggu.

(13)

Makalah ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh mengenai berbagai jenis kelompok – kelompok sosial yang ada dan dilihat relevansinya dengan Teori Divusi Inovasi, karena dalam Teori Divusi Inovasi sendiri tentu erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat atau kelompok – kelompok social yang tidak pernah lepas dari fenomena yang terjadi akibat arus modernisasi. Mulai dari bagaimana sebuah kelompok tersebut bergdiri kemudian berkembang dan bagaimana cara kelompok tersebut menarik perhatian khalayak luas.

dengan adanya makalah ini diharapkan sedkit banyak kita dapat mengetahui jenis – jenis dan perlikau dari setiap kelompok – kelompok sosial tertentu. Sebagaimana yang tertulis pada pembahasan dalam makalah ini saya berkeinginan untuk mengulas kembali mengenai sebuah fenomena kelompok sosial yang pernah ada pada era 1960-an di Amerika Serikat. Karena fenomena itu merupakan cikal bakal dan pelopor dari gerakan-gerakan kontrakultur atau kontrasosial diselruh dunia yang pernah ada dimasa lalu bahkan di Indonesia hingga saat ini.

V.

KESIMPULAN

Dari semua penjelasan yang ada dalam makalah ini, ada beberapa hal yang dapat disimpulankan, antara kain :

1. Memahami sebuah teori yang dinamakan Teori Divusi Inovasi dan kemudian mencari tahu relevansinya dengan fenomena terkait, sehingga apa saja yang terjadi dalam fenomena tersebut dapat diketahui dengan jelas setelah diklasifikasikan menurut sub-sub yang ada pada Teori Divusi Inovasi

(14)

3. Mengetahui setiap jenis kelompok lengkap dengan gambaran pola pikir dan ciri-ciri dari kelompok-kelompok tersebut, sehingga kita dapat dengan mudah menilai mana yang baik dan mana yang buruk dalam setiap proses interaksi sosial yang kita jalani.

4. Mengingat kembali memori kelam masalalu yang pernah terjadi, bahwa disana terlihat jelas adanya ketimpangan sosial antar sesama makhluk sosial. Yang mana karena merasa tertindas, akhirnya masyarakat kalangan menengah kebawah tersebut memcoba untuk berontak terhadap kalangan menengah atas (borjuis). Oleh karena itu, bersikap adil pada sesama makhluk sosial merupaka jalan satu-satunya untuk menuju pada sebuah perdamain.

VI.

PENUTUP

Demikian makalah mengenai Tinjauan Perilaku Kolektif dan Gerakan Sosial dalam Perspektif Teori Divusi InovasiLahirnya Semangat Kontrakultur “Underground” in isaya paparkan, dari semua kutipan dan penjelasan yang tertulis diatas memungkinkan masih adanya banyak kekurangan, semoga dari sedikit informasi dalam makalah ini dapat bermanfaat.

VII.

DAFTAR PUSTAKA

1. Susilo Taufik, Adi. 2009. Kultur Underground yang Pekak dan Berteriak di Bawah Tanah.

(15)

2. Soyomukti, Nurani. Pengantar Sosiologi: Dasar Analisis, Teori, & Pendekatan Menuju Analisis Masalah-Masalah Sosial, Perubahan Sosial, & Kajian Strategis/Nurani Soyomukti- Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010

3. hhtp://www.apokalip.com. diaskes pada 20 Desember 2013 4. hhtp://www.jakartabeat.com. diakses pada 20 Desember 2013

5. http://purebonline.blogspot.com/2010/04/difusi-inovasi-dalam-komunikasi.html

6. http://wsmulyana.wordpress.com/2009/01/25/teori-difusi-inovasi/

TUGAS MAKALAH

TINJAUAN PERILAKU KOLEKTIF DAN GERAKAN SOSIAL

DENGAN TEORI DIVUSI INOVASI

(16)

Nama

: Ramadhan Satria Adi. P

Nim/Kls

: 09220260 / A

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku sosial dalam kelompok teman sebaya dengan motivasi belajar.. Jenis penelitian ini adalah penelitian

Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah mengenai berbagai jenis bahan berbahaya dan beracun dalam bahan pangan yang berasal dari jasad

Hasil yang didapat adalah bahwa responden yang paling paham mengenai berbagai jenis dukungan sosial yang bertujuan untuk pelestarian kawasan mangrove adalah

1) Mutu produkatau jasa, yaitu mengenai mutu produk atau jasa yang lebih bermutu dilihat dari fisiknya. 2) Mutu pelayanan, berbagai jenis layanan selalu dikritik

Petani yang memiliki pandangan luas dengan dunia luar dengan kelompok sosial yang lain, umumnya lebih mudah dalam mengadopsi suatu inovasi bila dibandingkan dengan

Penulis mengangkat penelitian mengenai bentuk modal sosial pada industri kecil wingko Babat yang dilihat dari kepercayaan, jaringan sosial dan norma-norma, sedangkan

Wahono (2005) melakukan penelitian mengenai penciptaan pengetahuan perusahaan dan inovasi pada perusahaan batik di empat daerah industri batik di Jawa Tengah, dengan menggunakan

Makalah ini bertujuan untuk membahas esensi objek dalam konteks filsafat, mengeksplorasi berbagai jenis objek yang sering ditemui dalam kajian filsafat, dan menyoroti pentingnya