• Tidak ada hasil yang ditemukan

KLASIFIKASI DAN ANALISIS KALIMAT (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KLASIFIKASI DAN ANALISIS KALIMAT (1)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

KLASIFIKASI KALIMAT BESERTA CONTOHNYA

MAKALAH

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Sintaksis Bahasa Indonesia

yang dibina oleh Bapak Prof. Dr. Sumadi M.Pd

oleh

Rayi Oktafiani Utomo NIM 120211413412

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS SASTRA

(2)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa adalah sebuah sistem, artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sebagai sebuah sistem, bahasa selain bersifat sistematis juga bersifat sistemis. Sistematis maksudnya, bahasa itu tersusun menurut suatu pola tertentu, tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya, sistem bahasa itu bukan merupakan sebuah sistem tunggal, melainkan terdiri dari sejumlah subsistem, yakni subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis, dan subsistem leksikon.

“Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase” (Ramlan, 2005:18). Stryker dalam Tarigan mengatakan bahwa “sintaksis adalah telaah mengenai pola-poa yang dipergunakan sebagai sarana untuk menggabung-gabungkan kata menjadi kalimat”.

Pada kajian ini membahas tentang kalimat. Kalimat merupakan bagian terpenting dalam sistem bahasa. Cook dalam Tarigan menyebutkan bahwa “kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, yang mempunyai pola intonasi akhir dan yang terdiri dari klausa”. “Klausa didefinisikan sebagai satuan gramatik yang terdiri atas P,baik diikuti S, O, Pel, Ket atau tidak” (Sumadi, 2013:116).

1.2 Tujuan

1. Mengetahui pengertian kalimat. 2. Mengetahui pengertian klausa.

(3)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Kalimat

Cook dalam Tarigan menyebutkan bahwa “kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, yang mempunyai pola intonasi akhir dan yang terdiri dari klausa”. Sedangkan Sumadi (2013:150) menyatakan bahwa ”kalimat didefinisikan sebagai satuan gramatik yang dibatasi kesenyapan awaal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai dan sudah lengkap”. Dapat disumpulkan bahwa kalimat adalah satuan gramatik atau satuan bahasa yang dibatasi dengan kesenyapan awal dan akhir yang menandakan kalimat itu sudah selesai dan berdiri sendiri.

2.2 Pengertian Klausa

“Klausa didefinisikan sebagai satuan gramatik yang terdiri atas P,baik diikuti S, O, Pel, Ket atau tidak” (Sumadi,2013:116). Cook dalam Tarigan menyatakan “klausa adalah kelompok kata yang hanya mengandung satu predikat”. Dapat disimpulkan bahwa klausa adalah satuan gramatik atau kelompok kata yang terdiri atas P yang diikuti S, O, Pel, Ket atau tidak.

2.3 Klasifikasi Kalimat beserta Contohnya.

Klasifikasi kalimat menurut Tarigan dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara, antara lain:

a. Jumlah dan jenis klausa yang terdapat pada dasar. 1. Kalimat Tunggal

Cook dalam Tarigan menyatakan “kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas tanpa klausa terikat”.

Contoh : a. Saya makan. b. Dia minum. 2. Kalimat Bersusun

Cook dalam Tarigan menyatakan “kalimat bersusun adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas dan sekurang-kurangnya satu klausa terikat”.

(4)

“Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari beberapa klausa bebas” (Tarigan 1986:14).

Contoh : paman membeli sebidang sawah, lantas dia menyuruh adiknya memaculnya.

b. Klasifikasi kalimat berdasarkan struktur internal klausa utama 1. Kalimat Sempurna

Cook dalam Tarigan menyatakan “kalimat sempurna adalah kalimat yang dasarnya terdiri dari sebuah klausa bebas”.

Contoh : a. Adik menyusu b. Ayah membaca koran 2. Kalimat Tak Sempurna

Cook dalam Tarigan menyatakan, “kalimat tak sempurna adalah kalimat yang dasarnya terdiri sebuah klausa terikat, atau sama sekali tidak mengandung struktur klausa”.

Contoh : “Dengan siapa?”

c. Klasifikasi kalimat berdasarkan jenis responsi yang diharapkan. 1. Kalimat Pernyataan

Cook dalam Tarigan menyatakan, “kalimat pernyataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan responsi tertentu”.

Contoh: a. Udara dingin. b. Awan hitam. 2. Kalimat Pertanyaan

Cook dalam Tarigan menyatakan, “kalimat pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa jawaban”. Contoh: Siapa namamu?

3. Kalimat Perintah

Cook dalam Tarigan menyatakan, “kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan atau perbuatan”.

Contoh: Masuk, ani!

d. Klasifikasi berdasarkan sifat hubungan aktor-aksi 1. Kalimat Aktif

Cook dalam Tarigan menyatakan, “kalimat aktif adalah kalimat yang subyeknya berperan sebagai pelaku atau aktor”.

Contoh : Saya membaca koran.

S P O

2. Kalimat Pasif

Cook dalam Tarigan menyatakan, “kalimat pasif adalah kalimat yang subyeknya berperan sebagai penderita”.

Contoh : Kue itu dimakan oleh kakak.

O P S

(5)

Cook dalam Tarigan menyatakan, “kalimat medial adalah kalimat yang subyeknya berperan sebagai pelaku maupun sebagai penderita”.

Contoh : Aku menyesali nasibku. 4. Kalimat Resiprokal

Cook dalam Tarigan menyatakan, “kalimat resiprokal adalah kalimat yang subyek dan obyeknya melakukan sesuatu perbuatan yang berbalas-balasan”.

Contoh : Pemain kesebelasan itu bersalam-salaman dengan pemain kesebelasan malaysia.

e. Klasifikasi kalimat berdasarkan ada atau tidaknya unsur negatif pada frase verbal utamanya.

1. Kalimat Afirmatif

“Kalimat afirmatif atau kalimat pengesahan adalah kalimat yang pda frase verbal utamanya tidak terdapat unsur negatif atau unsur penyangkal” (Tarigan, 1986:34).

Contoh : Dia membaca buku. 2. Kalimat Negatif

“Kalimat negatif atau kalimat penyangkalan adalah kalimat yang pada frase verbalnya utamanya terdapat unsur negatif tau unsur penyangkalan” (Tarigan, 1986: 36).

Contoh : Dia tidak membaca buku.

f. Klasifikasi kalimat berdasarkan kesederhanaan dan kelengkapan dasar. 1. Kalimat Formata

“Kalimat formata atau kalimat tersusun rapi ( well-formed sentences) adalah kalimat tunggal dan sempurna, yang terdiri dari satu dan hanya satu klausa bebas, suatu klausa yang menurut kriteria formal dapat berdiri sendiri dalam bahasa tertentu, sebagai suatu kalimat sempurna (a major sentences)” (Tarigan, 1986:39).

Contoh : Saya membaca puisi. 2. Kalimat Transformata tidak lengkap” (Tarigan, 1986: 44).

(6)

“Kalimat situasi atau situasi sentences adalah kalimat yang memulai suatu percakapan” ( Tarigan, 1986: 63).

Contoh : Selamat pagi! 2. Kalimat Urutan

“Kalimat urutan atau sequence sentence adalah kalimat yang menyambung atau meneruskan suatu pembicaraan tanpa pergantian pembicara” (Tarigan, 1986:93)

Contoh: Kemarin saya pergi mengunjungi nenek. (k. situasi) Dia sangat gembira melihat saya. (k.urutan) Beliau memeluk saya kegirangan (k. urutan)

3. Kalimat Jawaban

“Kalimat jawaban atau response-sentence adalah kalimat yang menyambung atau meneruskan suatu pembicaraan dengan pergantian pembicara” (Tarigan, 1986:64).

Contoh : Apa kabar? Kabar baik. (k. jawaban) h. Klasifikasi kalimat berdasarkan konteks dan jawaban yang diberikan.

1. Kalimat Salam

“Kalimat salam atau greeting sentence adalah suatu formula tetap yangdipergunakan pada pertemuan atau perpisahan, menimbulkan suatu balasan atau jawaban yang tetap sering merupakan ulangan dari salam tersebut” (Tarigan, 1986:66)

Contoh: Selamat pagi! Selamat pagi! 2. Kalimat Panggilan

(7)

jawaban yang telah tetap bagi kalimat-kalimat salam, panggilan, dan seruan yang telah dibicarakan di muka” (Tarigan, 1986:68).

Contoh ; Siapa namamu? Andy.

5. Kalimat Permohonan

“Kalimat permohonan atau request sentence adalah kalimat yang menagih responsi perbuatan selain daripada gerakan-gerakan tangan yang biasa dilakukan untuk mengiringi salam dan panggilan” (Tarigan, 1986:69).

Contoh : Silahkan duduk. Ya (lantas duduk). 6. Kalimat Pernyataan

“Kalimat pernyataan atau statement sentence adalah kalimat yang menuntut reponsi linguistik atau nonlinguistik yang disebut tanda perhatian atau attention signal” (Tarigan, 1986:70)

Contoh : Kemarin saya pergi ke bandung. Mmmmm. Menurut Sumadi, klasifikasi kalimat dapat dibagi sebagai berikut. 1. Berdasarkan ada tidaknya klausa.

a. Kalimat Berklausa

“Kalimat berklausa ialah kalimat yang terdiri atas satuan gramatik yang berupa klausa” (Sumadi, 2013:163).

Contoh : Meskipun sangat sibuk, dia sangat disiplin dan tetap rajin mengajar.

b. Kalimat Tidak Berklausa

“Kalimat tidak berklausa ialah kalimat yang terdiri atas satuan gramatik yang bukan merupakan klausa” (Sumadi, 2013:164). Contoh : Aduh !

2. Berdasarkan struktur internnya

“Pemilihan kalimat berdasarkan internnya mengacu pada hadir tidaknya unsure inti kalimat, yaitu S dan P” (Sumadi, 2013:165). a. Kalimat Lengkap

“Kalimat lengkap ialah kalimat yang mempunyai S dan P (Sumadi, 2013:165).

Contoh : Sejak kamu dirumah ini, lantai rumah ini belum disapu. b. Kalimat Tidak Lengkap

“Kalimat tidak lengkap ialah kalimat yang tidak mempunyai S dan P” (Sumadi, 2013:166).

Contoh : Dia besok sore. 3. Berdasarkan urutan S dan P

“Pemilihan kalimat berdasarkan urutan S dan P hanya dilakukan pada kalimat lengkap” (Sumadi, 2013:167).

(8)

“Kalimat susun tertib ialah kalimat yang S-nya mendahului atau di depan P” (Sumadi, 2013:167).

Contoh : Kemarin semua undangan beristirahat di hotel.

Ket S P Ket

b. Kalimat Susun Balik (Inversi)

“Kalimat susun balik ialah kalimat yang P-nya mendahului atau di depan S” (Sumadi, 2013:168).

Contoh : Kemarin beristirahat di hotel semua undangan kami. Ket P Ket S

4. Berdasarkan kategori frasa yang menjadi P. a. Kalimat Nomina

“Kalimat nomina ialah kalimat yang P-nya berupa FN” (Sumadi, 2013:168).

Contoh : Undangan kami pecinta musik keroncong.

S P

b. Kalimat Verba

“Kalimat verba ialah kalimat yang P-nya berupa FV” (Sumadi, 2013:169).

Contoh : Biaya pengiriman paket ini sudah dibayar pihak pembeli.

S P O

c. Kalimat Ajektiva

“Kalimat ajektiva ialah kalimat yang P-nya berupa FA” (Sumadi, 2013:170).

Contoh : Sangat sulit mengatasi persoalan ini.

P S

d. Kalimat Numeralia

“Kalimat numeralia ialah kalimat yang P-nya berupa FNu” (Sumadi, 2013:170).

Contoh : Ayam saya 35 ekor. S P e. Kalimat Preposisiona

“Kalimat preposisiona ialah kalimat yang P-nya berupa FPrep” (Sumadi, 2013:171).

Contoh : Para peserta seminar itu dari ruang diskusi.

S P

5. Berdasarkan wajib hadir tidaknya O

“Pemilihan kalimat berdasarkan wajib hadir tidaknya O hanya dilakukan terhadap kalimat verba” (Sumadi, 2013:172).

a. Kalimat Transitif

“Kalimat transitif ialah kalimat yang P-nya mewajibkan hadirnya O” (Sumadi, 2013:172).

(9)

Ket S P O b. Kalimat Semitransitif

“Kalimat semitransitif ialah kalimat yang O-nya bersifat mana suka” (Sumadi, 2013:173).

Contoh : Semua undangan sedang makan (nasi tumpeng).

S P O

c. Kalimat Intransif

“Kalimat intransitive ialah kalimat yang tidak memerlaukan O” (Sumadi, 2013:174).

Contoh : Hari ini kami kehabisan uang. Ket S P Pel

6. Berdasarkan ada tidaknya unsure negasi yang menegatifkan P a. Kalimat Positif

“Kalimat positif ialah kalimat yang ditandai tidak adanya unsur negasi yang menegatifkan P” (Sumadi, 2013:175).

Contoh : Semua jamaah haji dikumpulkan di asrama haji.

S P Ket

b. Kalimat Negatif

“Kalimat negatif ialah kalimat yang ditandai adanya unsure negasi yang menegatifkan P” (Sumadi, 2013:176).

Contoh : Semua jamaah haji tidak dikumpulkan di asrama haji.

S P Ket

7. Berdasarkan peran fungtor

“Pemilihan kalimat berdasarkan peran fungtor didasarkan pada peran fungtor yang menduduki fungsi S” (Sumadi, 2013:177).

a. Kalimat Aktif

“Kalimat aktif ialah kalimat yang fungtor S-nya melakukan sesuatu yang tersebut pada P” (Sumadi, 2013:177).

Contoh : Semua dosen dan mahasiswa sedang mengadakan

S P

upacara. O b. Kalimat Pasif

“Kalimat pasif ialah kalimat yang fungtor S-nya terkena sesuatu yang tersebut pada P” (Sumadi, 2013:178).

Contoh : Mobil itu sudah diantar ke kantor.

S P Ket

c. Kalimat Equatif

“Kalimat equatif ialah kalimat yang fungtor S-nya mempunyai rujukan sama dengan P” (Sumadi, 2013:178).

Contoh : Orang itu pegawai kabupaten.

S P

(10)

“Kalimat netral ialah kalimat yang fungtor S-nya tidak melakukan, tidak terkena, dan tidak mempunyai rujukan yang sama dengan P” (Sumadi, 2013:179).

Contoh : Rambut wanita itu sangat panjang.

S P

8. Berdasarkan jumlah klausa a. Kalimat Sederhana

“Kalimat sederhana ialah kalimat yang terdiri atas satu klausa” (Sumadi, 2013:180).

Contoh : Dia duduk di teras. S P Ket b. Kalimat Luas

“Kalimat luas ialah kalimat yang terdiri atas lebih dari satu klausa” (Sumadi, 2013:181).

1. Kalimat Luas Setara

“Kalimat luas setara ialah kalimat luas yang klausa-klausanya mempunyai kedudukan yang setara/sejajar/sama” (Sumadi, 2013:181).

Contoh : Dia duduk di teras dan membaca majalah Tempo. S P Ket Konj P O

2. Kalimat Luas Tidak Setara

“Kalimat luas tidak setara ialah kalimat luas yang klausa-klausanya mempunyai kedudukan tidak setara / tidak sejajar / tidak sama” (Sumadi, 2013:183).

Contoh : Dia duduk di teras sambil membaca majalah Tempo. S P Ket Konj P O

3. Kalimat Luas Campuran

“Kalimat luas campuran ialah kalimat luas yang klausa-klausanya ada yang mempunyai kedudukan yang setara dan ada yang mempunyai kedudukan yang tidak setara” (Sumadi, 2013:186).

Contoh : Saya lewat di depan rumahnya ketika dia duduk di

S P Ket Konj S P

(11)

BAB III KESIMPULAN

Dari pembahasan makalah ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. 1. Kalimat adalah satuan gramatik atau satuan bahasa yang dibatasi

dengan kesenyapan awal dan akhir yang menandakan kalimat itu sudah selesai dan berdiri sendiri.

2. Klausa adalah satuan gramatik atau kelompok kata yang terdiri atas P yang diikuti S, O, Pel, Ket atau tidak.

3. Klasifikasi kalimat menurut Tarigan dan Sumadi yaitu sebagai berikut. a. Jumlah dan jenis klausa yang terdapat pada dasar.

b. Klasifikasi kalimat berdasarkan struktur internal klausa utama c. Klasifikasi kalimat berdasarkan jenis responsi yang diharapkan. d. Klasifikasi berdasarkan sifat hubungan aktor-aksi

e. Klasifikasi kalimat berdasarkan ada atau tidaknya unsur negatif pada frase verbal utamanya.

f. Klasifikasi kalimat berdasarkan kesederhanaan dan kelengkapan dasar.

g. Klasifikasi kalimat berdasarkan posisinya dalam percakapan

h. Klasifikasi kalimat berdasarkan konteks dan jawaban yang diberikan.

i. Berdasarkan ada tidaknya klausa j. Berdasarkan struktur internnya k. Berdasarkan urutan S dan P

l. Berdasarkan kategori frasa yang menjadi P m. Berdasarkan wajib hadir tidaknya O

n. Berdasarkan ada tidaknya unsure negasi yang menegatifkan P o. Berdasarkan peran fungtor

(12)

DAFTAR RUJUKAN

Ramlan. 2005. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta : C.V. Karyono. Sumadi. 2013. Sintaksis Bahasa Indonesia. Malang: A3.

Tarigan, G. H. 1986. Pengajaran Sintaksis. Jakarta: Angkasa.

Universitas Negeri Malang. 2010. Pedoman Pendidikan Penulisan Karya Tulis Ilmiah: Skripsi, Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah, Tugas Akhir, Laporan

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini saya menyatakan bahwa Tugas Akhir dengan judul “Aplikasi Writing On The Air Dengan Memanfaatkan Sensor Accelerometer Pada Mobile Phone Berbasis Android”

Jadi, value untuk Sistolik imajinasi terpimpin dan relaksasi nafas dalam kurang dari nilai α (0,05) sehingga Ho ditolak artinya terdapat perbedaan efektivitas

Daftar hadir dibawa oleh tutor pada setiap pertemuan.. Mengetahui

Akan tetapi bila penyebabnya adalah emfisema maka gejala utamanya adalah kerusakan pada alveoli dengan keluhan klinis berupa sesak napas (dispnea) yang terjadi sehubungan

Dengan kegiatan tanya jawab siswa dapat mengidentifikasi alat dan bahan yang digunakan untuk membuat karya tiga dimensi dengan teknik konstruksi secara tepat.. Dengan

Dapat diketahui juga dari data diatas bahwa Aljazair mempunyai kepentingan di Sahara Barat yang mana Maroko adalah musuh abadi dan aktor penolak utama dalam

KNP mencerminkan bagian atas laba atau rugi dan aset neto dari Entitas Anak yang tidak dapat diatribusikan secara langsung maupun tidak langsung kepada Perusahaan,

Including Battery Isolation, Emergency Stop, Starter Motor Isolation and any other emergency function such as Fire Suppression Activation or Pressure Release