• Tidak ada hasil yang ditemukan

KUNCI JAWABAN KUESIONER TENGAH PELATIHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KUNCI JAWABAN KUESIONER TENGAH PELATIHAN"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 62

KUNCI JAWABAN KUESIONER TENGAH PELATIHAN

Instruksi: Pilih satu huruf dengan jawaban yang benar untuk setiap pernyataan di bawah ini

KONSELING, KELAIKAN PENGGUNA (WHO), PENAPISAN KLIEN 1. Pada konseling awal, seorang klien:

a. Membuat keputusan tentang metode kontrasepsi pilihannya b. Menandatangani formulir informed consent

c. Mendapatkan penjelasan umum tentang semua metode kontrasepsi yang tersedia

d. Mendapat informasi rinci tentang proses pemasangan/pencabutan AKDR 2. Orang yang paling tepat dalam memutuskan metode kontrasepsi pilihan adalah:

a. Klien beserta pasangannya

b. Petugas lapangan keluarga berencana c. Keluarga klien terutama mertua d. Dokter

3. Bila klien mendapat konseling yang baik pada saat memilih metode kontrasepsinya, maka klien:

a. Tidak perlu konseling lagi selama memakai metode kontrasepsi pilihannya b. Akan menggunakan kontrasepsi pilihannya secara lebih efektif

c. Tidak akan mengalami efek samping selama menggunakan kontrasepsi pilihannya d. Tidak perlu melakukan kunjungan ulang

4. Kondisi mana yang harus diperhatikan (WHO klas 4) pada calon pengguna implan?

a. Diabetes

b. Benjolan pada payudara c. Hipertensi

d. Perdarahan per vaginam yang belum diketahui penyebabnya

5. Menurut HTSP waktu terbaik bagi klien pascakeguguran untuk hamil kembali adalah:

a. 6 minggu b. 6 siklus c. 6 bulan d. 6 semester

PENCEGAHAN INFEKSI

6. Tujuan utama dari tindakan pencegahan infeksi pada pelayanan KB adalah:

a. Mengurangi biaya dan pengadaan obat-obat yang digunakan pada operasi b. Membuat standar penggunaan antibiotika profilaksis

c. Menghindarkan penyebaran HBV dan HIV pada klien, petugas pelayanan dan staf klinik lainnya.

d. Semua pernyataan diatas benar

(2)

7. Bakteri endospora yang menyebabkan tetanus dan gangren dapat dibunuh dengan jalan:

a. Merendam dalam Savlon b. Pengasapan (fumigasi)

c. Merebus (Disinfeksi Tingkat Tinggi) d. Mensterilkan (otoklaf atau oven)

8. Peralatan operasi (logam) yang telah melalui proses dekontaminasi dan cuci-bilas dapat disterilkan dengan jalan:

a. Pemanasan (autoklaf atau oven)

b. Merendam peralatan tersebut selama 30 menit dalam larutan Yodium c. Merebus selama 20 menit

d. Menyinari dengan cahaya ultra violet selama 1 jam

9. Untuk membuat larutan klorin 0,5% dari larutan sediaan dengan konsentrasi klorin (sodium hypochlorite) 5%, maka tambahkan 1 bagian larutan klorin 5% tersebut dengan:

a. Tiga bagian air b. Lima bagian air c. Tujuh bagian air d. Sembilan bagian air

10. Alat-alat logam yang digunakan untuk pemasangan AKDR (misalnya spekulum, sonde uterus dan tenakulum) dapat dengan aman dipakai bila setelah cuci dan bilas:

a. Dikeringkan dan disimpan dalam wadah steril/DTT b. Dilanjutkan ke proses disinfeksi tingkat tinggi

c. Direndam dalam Savlon® atau Zephiran® selama 30 menit d. Langsung digunakan

11. Memasukkan lengan AKDR dengan benar di dalam kemasan sterilnya:

a. Tak perlu dilakukan bila petugas pelaksana menggunakan sarung tangan steril untuk memasukkan lengan AKDR ke dalam inserter

b. Menjamin AKDR tetap steril sampai dikeluarkan dari kemasannya

c. Sulit dilakukan karena plastiknya dapat robek dan diperlukan latihan khusus untuk itu

d. Semua pernyataan diatas benar

12. Bila tidak tersedia sarung tangan steril, masih diperbolehkan untuk menggunakan sarung tangan DTT untuk melakukan:

a. Pemeriksaan panggul b. Mencabut AKDR c. Minilaparotomi

(3)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 64

13. Penggunaan antibiotik profilaksis pascapemasangan AKDR:

a. Mencegah infeksi panggul pascapemasangan

b. Tak perlu lagi langkah membersihkan serviks (dan vagina) dengan antiseptik sebelum pemasangan AKDR

c. Tak perlu dilakukan bila sudah melakukan tindakan pencegahan infeksi dengan benar

d. Semua pernyataan diatas benar

14. Yang sering mengalami luka tusuk karena jarum suntik atau pisau bedah adalah:

a. Petugas pembersih

b. Perawat kamar operasi/asisten operator c. Dokter anestesi

d. Operator

15. Bahan habis pakai yang terkontaminasi oleh darah atau cairan tubuh lainnya, harus a. dibuang bersama sampah lainnya

b. dibuang ke dalam kantung plastik untuk kemudian dibakar atau dikubur c. dibungkus dalam kantung kertas agar mudah dibakar

d. dibiarkan mengering agar tidak mengkontaminasi barang lainnya

AKDR

16. Mekanisme kerja AKDR CuT 380 A dalam mencegah kehamilan adalah dengan cara:

a. menutup muara tuba falopii dengan kedua ujung lengannya b. mencegah implantasi sel telur yang telah dibuahi

c. membentuk reaksi inflamasi di dalam uterus d. mencegah terjadinya fertilisasi

17. AKDR Cu T 380A dalam kemasan steril dan telah mengalami perubahan warna, harus dibuang karena:

a. perubahan warna menunjukkan lapisan tembaganya telah rusak b. AKDR sudah tidak steril

c. perubahan warna membuat kawat tembaga menjadi rapuh d. semua pernyataan di atas salah

18. Seorang wanita yang pernah menderita infeksi panggul pascapersalinan lebih dari 3 bulan yang lalu dapat menggunakan AKDR dengan syarat:

a. Tidak melakukan sanggama selama siklus menstruasinya b. Membilas vagina secara teratur

c. Tidak mempunyai risiko menderita infeksi saluran reproduksi atau penyakit menular seksual

d. Uterusnya tidak retroversi

(4)

19. Pemeriksaan fisik pada calon potensial untuk pengguna AKDR, harus meliputi a. Pemeriksaan perut dan bimanual

b. Pemeriksaan perut, inspekulo dan bimanual

c. Pemeriksaan payudara, perut dan panggul (inspekulo dan bimanual)

d. Pemeriksaan umum, payudara, perut dan panggul (inspekulo dan bimanual) 20. Memasukkan lengan AKDR Cu T 380A di dalam kemasan sterilnya:

a. tak perlu bila ada sarung tangan steril untuk memasukkan lengannya ke inserter b. menjamin AKDR masih tetap steril sampai dikeluarkan dari kemasannya c. dapat menyebabkan plastik pembungkusnya menjadi robek dan terkontaminasi d. semua pernyataan di atas benar

21. Pemasangan AKDR sebaiknya TIDAK dilakukan pada saat:

a. haid sedang berlangsung

b. 48 jam pertama setelah persalinan c. 6 minggu setelah persalinan

d. diantara 1-4 minggu setelah persalinan

22. Pemberian antibiotik profilaksis pada pemasangan AKDR CuT 380A:

a. mencegah terjadinya infeksi pasca-insersi

b. mengurangi penggunaan antiseptik pada serviks (dan vagina) sebelum pemasangan

c. tidak perlu dikerjakan apabila tindakan pencegahan infeksi yang dianjurkan telah diterapkan

d. semua pernyataan di atas benar

23. Bila terjadi kehamilan dengan AKDR masih di dalam uterus, kemungkinan yang dapat terjadi adalah:

a. Kehamilan ektopik

b. Dapat terjadi abortus spontan bila AKDR tidak dicabut

c. Risiko tinggi untuk terjadi infeksi intra uterin bila AKDR tidak dicabut d. Semua pernyataan di atas benar

24. Penanganan klien AKDR dengan diagnosis pasti PRP (Penyakit Radang Panggul) akut adalah dengan:

a. memberikan antibiotika

b. berikan antibiotika dan pemantauan ketat untuk melihat perbaikan kondisinya c. memberikan antibiotika dan mencabut AKDR

d. mencabut AKDR dan melakukan pemantauan untuk melihat perbaikan kondisi 25. Penanganan kasus hilangnya benang pada klien AKDR yang dipastikan tidak hamil

adalah:

(5)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 66

KONTRASEPSI HORMONAL: PIL KOMBINASI, PIL PROGESTIN, SUNTIKAN, IMPLANT

26. Pertama kali minum pil hormon kombinasi kemasan 28 tablet adalah:

a. dalam 5 hari pertama siklus haid b. di hari pertama siklus haid

c. setelah selesai haid

d. satu hari menjelang datangnya haid

27. Apabila klien lupa minum pil dua hari atau lebih, maka hal yang harus dilakukan klien adalah

a. tetap meneruskan minum pil berikutnya

b. berhenti minum pil dan menghindarkan sanggama sampai haid berikutnya c. periksa urin untuk membuktikan kehamilan

d. minum dua pil sehari sampai kembali ke jadwal minum pil yang seharusnya 28. Efek samping pil kombinasi yang mungkin terjadi

a. ikterus dan gangguan penglihatan b. akan terus terjadi selama pil diminum

c. derajat gangguan akan semakin berat bila pil kombinasi semakin lama digunakan d. mual, payudara tegang, pertambahan berat badan

29. Keadaan yang mengharuskan klien pemakai pil datang kembali ke klinik/petugas kesehatan adalah:

a. nyeri berat pada perut bagian bawah, sakit kepala berat, nyeri dada hebat disertai kesulitan bernafas

b. nyeri pada saat haid c. gatal-gatal seluruh tubuh d. rambut rontok

30. Cara kerja pil progestin dalam mencegah kehamilan a. mematikan spermatozoa

b. merangsang ovulasi

c. mengentalkan lendir serviks d. mencegah implantasi

31. Sesudah pemasangan kontrasepsi implan pada hari ke-7 menstruasi, maka metode ini akan bekerja efektif sesudah pasca-insersi:

a. setelah 24 jam b. dalam 7 hari c. dalam 14 hari

d. setelah menstruasi berikutnya

(6)

32. Setelah selesai melakukan insersi Implan-2, salah satu ujung kapsul teraba di bawah kulit dekat tempat insisi, maka harus dilakukan:

a. pencabutan kapsul tersebut dan tutup tempat insisi dengan satu jahitan b. penutupan tempat insisi dengan satu jahitan

c. ambil kapsul dan lakukan insersi ulang kapsul tersebut

d. balut lengan dan klien diminta datang kembali esok hari untuk melakukan periksa ulang posisi dari kapsul tersebut.

33. Penapisan calon potensial pengguna implan adalah:

a. Riwayat medik dan pemeriksaan fisik b. Pemeriksaan pelvik bila ada indikasi

c. Pemeriksaan laboratorium dasar, misalnya Hb (bila diperlukan) d. Semua pernyataan di atas benar

34. Bila insersi kapsul terlalu dalam:

a. menyebabkan kesulitan pada saat pencabutan b. akan migrasi ke bawah kulit

c. menjadi kurang efektif karena levonogestrel dilepaskan lebih lambat d. akan menyebabkan timbulnya jaringan parut di sekeliling kapsul

35. Wanita telah memakai Implan-2 selama 2 bulan dan mengalami perdarahan tidak teratur dan spotting selama itu. Apa nasehat yang sebaiknya diberikan pada klien?

a. konseling untuk pencabutan Implan-2

b. anjurkan untuk menambah 1 kapsul Implan-2

c. berikan nasihat (reassurance) bahwa hal itu normal dan tidak serius d. lakukan uji konsentrasi Hb dan pemeriksaan ferritin untuk evaluasi anemia

BARIER & SPERMATISIDA, METODE AMENOREA LAKTASI, KB ALAMIAH 36. Konseling pada calon pengguna kondom terutama ditujukan untuk

a. mendapatkan pengetahuan dan cara memakai kondom yang benar b. memilih metode kontrasepsi yang mudah digunakan dan non-hormonal c. informasi tentang kegagalan yang tinggi

d. informasi tentang partisipasi pria dalam KB 37. Kondom harus dipakai setelah ereksi dan

a. menjelang ejakulasi

b. sebelum penis masuk vagina c. harus dipasangkan oleh pasangannya d. harus diberi pelumas minyak petrolatum 38. Keuntungan penggunaan kondom adalah

(7)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 68

39. Efek samping utama pemakai kondom adalah:

a. menimbulkan lecet pada glans penis b. menyebabkan asma bronkial

c. menyebabkan tidak dapat ejakulasi

d. menimbulkan allergi atau iritasi pada penis dan vagina 40. Setelah dipakai, kondom dibuang dengan cara

a. dicuci sampai bersih dan dibuang ke tempat sampah b. dibungkus dan dibuang ke tempat sampah c. dibuang ke dalam WC

d. segera dilepas dan dibuang ke tempat sampah KONTRASEPSI MANTAP

41. Jika seorang wanita karena alasan kesehatan tidak diperbolehkan hamil lagi, maka pilihan kontrasepsi yang paling tepat adalah:

a. kondom

b. oklusi vas deferens c. oklusi tuba

d. AKDR

42. Hal yang paling penting untuk ditekankan pada konseling kontrasepsi mantap (sterilisasi) adalah:

a. hanya wanita dengan 6 anak atau lebih yang diperbolehkan menjalani kontap b. kontrasepsi mantap perlu prosedur bedah yang rumit dan butuh rawat inap c. kontrasepsi mantap merupakan kontrasepsi permanen

d. segera setelah vasektomi, metode ini segera efektif dalam mencegah kehamilan 43. Komplikasi segera prosedur vasektomi adalah:

a. pria menjadi lemah dan tidak bisa bekerja b. pembengkakan scrotum dan rasa sakit c. hilangnya hasrat seksual

d. pria tidak dapat ejakulasi seperti saat sebelum menjalani prosedur vasektomi 44. Tiga prosedur penghentian fertilitas sebagai pilihan dalam kontrasepsi mantap adalah:

a. vasektomi, minilaparotomi, histerektomi b. minilaparotomi, laparoskopi, histerektomi c. laparoskopi, histerektomi, vasektomi

d. vasektomi, minilaparotomi, oklusi tuba laparoskopik

45. Saat yang paling tepat bagi pasangan usia subur yang telah mempunyai 2 anak untuk dilayani sebagai akseptor kontap adalah:

a. segera setelah kelahiran anak kedua, umur ibu di atas 30 tahun b. anak terkecil berusia 2 tahun dan umur ibu di atas 25 tahun c. segera setelah kelahiran anak kedua, asalkan dengan persetujuan suami d. dapat dilaksanakan kapan saja

(8)

KB PADA KEADAAN KHUSUS

46. Pada klien pascapersalinan yang tidak menyusui, klien diminta melakukan kunjungan ulang untuk pelayanan KB:

a. 4 minggu pasca persalinan b. 6 minggu pasca persalinan c. 3 bulan pasca persalinan d. bukan salah satu di atas

47. Pemberian pil kombinasi sebagai kontrasepsi pascapersalinan:

a. Diberikan 8 – 12 minggu pasca bersalin b. Tidak mengganggu pertumbuhan janin c. Tidak mengurangi produksi ASI d. Semua pernyataan di atas salah

48. Kontrasepsi pasca keguguran perlu segera diberikan karena:

a. Klien dapat hamil lagi sebelum haid berikutnya datang b. Dapat digunakan semua metode kontrasepsi

c. Keguguran trimester pertama atau kedua tidak merupakan masalah d. Semua pernyataan di atas benar

49. Waktu merupakan hal penting untuk penggunaan kontrasepsi darurat, oleh sebab itu:

a. Pil kombinasi hanya efektif jika digunakan dalam 72 jam sesudah hubungan seksual

b. Pil kombinasi memperpanjang waktu penggunaan dibandingkan pil progestin c. AKDR sebaiknya dipasang dalam 7 hari sesudah hubungan seksual

d. Semua pernyataan di atas benar 50. Efektivitas dari kontrasepsi darurat:

a. Tingkat kehamilan < 3 %

b. Sekitar 50 % mendapat haid pada waktunya

c. Perlu dosis ulangan bila terjadi muntah dalam 2 jam setelah minum pil kombinasi d. Semua pernyataan di atas benar

(9)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 70

PENILAIAN KOMPETENSI KETERAMPILAN AKDR

MENGGUNAKAN ALAT PENILAI KOMPETENSI KETERAMPILAN

Penilaian kompetensi untuk keterampilan AKDR digunakan oleh pelatih untuk menilai kinerja setiap peserta dalam memberikan pelayananan AKDR pada klien (misalnya konseling, seleksi klien, praktik pencegahan infeksi, pemasangan dan pencabutan). Penilaian kompetensi keterampilan ini berasal dari buku acuan sesuai dengan slide pengajaran dan penuntun belajar dasar. Berbeda dengan penuntun belajar dasar yang sangat rinci dan dipisahkan antara kegiatan konseling, pemasangan dan pencabutan maka pada formulir penilaian ini hanya ditekankan pada langkah-langkah penting dari seluruh kegiatan.

Kriteria untuk kinerja yang memuaskan dari peserta didasarkan pada pengetahuan, sikap dan keterampilan seperti yang terdapat pada buku acuan dan penuntun belajar.

Memuaskan : Langkah atau kegiatan dilakukan sesuai dengan penuntun belajar

Tidak memuaskan: Tidak dapat melakukan langkah atau kegiatan sesuai dengan penuntun belajar

Tidak sesuai: Langkah atau kegiatan tidak perlu dilakukan karena tidak sesuai dengan keadaan

Penilaian keterampilan konseling dari setiap peserta dilakukan dengan klien, selain itu juga dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan pada waktu peserta melakukan permainan peran pada setiap saat selama pelatihan.

Penilaian keterampilan klinik biasanya dilakukan pada hari terakhir dari pelatihan (tergantung dari jumlah peserta dan klien). Pada beberapa kasus pertama, pelatih tidak diharuskan untuk mengamati dari awal sampai akhir langkah/kegiatan yang dilakukan oleh setiap peserta. Sebagai contoh, pelatih mula-mula mengamati seorang peserta melakukan persiapan pemasangan AKDR pada seorang klien, kemudian mengamati peserta lain memasang AKDR dan selanjutnya mengamati peserta lainnya lagi yang sedang melakukan dekontaminasi alat-alat. Yang terpenting setiap peserta memperagakan langkah/kegiatan paling sedikit sekali sehingga pelatih dapat memberikan umpan balik dan bimbingan sebelum penilaian akhir (Bila ada langkah/kegiatan yang salah dilakukan, peserta harus mengulangi semua langkah/ kegiatan dari awal, tidak hanya langkah yang salah saja). Pelatih dianjurkan untuk tidak menghentikan pada saat peserta salah melakukan suatu langkah/kegiatan, kecuali membahayakan keselamatan klien. Bila tidak membahayakan klien, pelatih harus membiarkan peserta menyelesaikan langkah/kegiatan sampai selesai sebelum memberikan bimbingan dan umpan balik untuk seluruh kinerja peserta tersebut. Untuk menentukan apakah peserta sudah memenuhi syarat (qualified), pelatih mengamati dan menilai kinerja peserta pada setiap langkah/kegiatan. Peserta harus mendapat nilai "Memuaskan" pada setiap langkah/kegiatan yang terdapat pada formulir penilaian untuk dapat dinyatakan sudah memenuhi syarat.

(10)

Selama pelatihan ini, pelatih bertanggung jawab untuk mengamati kinerja setiap peserta dalam melakukan pelayanan AKDR. Hanya dengan melakukan ini pelatih dapat menilai cara peserta mempraktikkan apa yang telah dipelajarinya (misalnya sikap peserta terhadap klien). Hal ini merupakan suatu kesempatan yang sangat baik untuk mengamati sikap peserta terhadap klien oleh karena sikap tersebut merupakan komponen utama dalam meningkatkan kualitas pelayanan.

KUALIFIKASI

Jumlah langkah dari setiap peserta yang perlu dibantu dan mendapat pengamatan sangat beragam, tergantung dari pengalaman atau latihan yang pernah didapat sebelumnya dan pelatihan yang diberikan saat ini (misalnya apakah memakai model untuk berlatih keterampilan awal). Jumlah praktik klinik yang diperlukan harus dinilai perorangan (tidak sama pada setiap peserta), tidak ada "jumlah tertentu" yang memastikan seseorang dapat dinyatakan telah memenuhi syarat untuk memberikan pelayanan AKDR.

Bila model anatomik digunakan untuk berlatih keterampilan awal, dapat dipastikan hampir semua peserta dapat dinyatakan mampu setelah 2 sampai 4 kali praktik klinik.

Untuk menjadi mahir diperlukan praktik klinik yang lebih banyak. Oleh karena itu untuk peserta yang baru pertama kali mengenal AKDR (tidak punya pengalaman atau tidak pemah mengikuti pelatihan sebelumnya) diperlukan paling sedikit 5-10 kali praktik klinik untuk membuat peserta tersebut percaya diri akan keterampilannya. Keputusan pelatih merupakan faktor yang paling penting untuk menentukan kemampuan peserta (apakah peserta sudah memenuhi syarat).

Tujuan yang ingin dicapai dari pelatihan ini adalah setiap peserta memiliki kemampuan (misalnya memenuhi syarat untuk memberikan pelayanan AKDR). Oleh karena itu, bila diperlukan praktik tambahan, misalnya untuk konseling atau pemasangan AKDR, tambahan kasus yang cukup harus sudah tersedia selama pelatihan untuk memastikan peserta dapat memenuhi syarat pada akhir pelatihan. Setelah peserta dinilai memenuhi syarat maka setiap peserta harus mendapat kesempatan untuk mempraktikkan pengetahuan dan keterampilannya secepat mungkin. Bila tidak dapat mempraktikkan secepat mungkin maka kepercayaan diri peserta akan hilang yang pada akhirnya akan menyebabkan kemampuannya juga hilang.

(11)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 72

PENILAIAN KOMPETENSI

KETERAMPILAN PEMASANGAN AKDR

(Diisi oleh Pelatih)

Beri tanda √ pada kolom yang tersedia di sebelah kanan untuk setiap langkah klinik/kegiatan yang dilakukan dengan memuaskan, tanda X untuk setiap langkah/kegiatan yang dilakukan dengan tidak memuaskan dan TS untuk langkah yang tidak perlu dikerjakan karena tidak sesuai dengan keadaan/situasi

√ Memuaskan: Langkah atau kegiatan dilakukan sesuai dengan penuntun belajar

X Tidak memuaskan: Tidak dapat melakukan langkah atau kegiatan sesuai dengan penuntun belajar

TS Tidak Sesuai: Langkah tidak perlu dikerjakan karena tidak sesuai dengan keadaan PENILAIAN KOMPETENSI KETERAMPILAN PEMASANGAN AKDR

LANGKAH / KEGIATAN KASUS

Konseling Awal & Metode Khusus

1. Sapa klien dengan ramah dan perkenalkan diri Anda dan tanyakan tujuan kedatangannya.

2. Bila belum dilakukan konseling, berikan konseling sebelum melakukan pemasangan AKDR:

• Informasi tentang jenis kontrasepsi yang tersedia, keuntungan &

keterbatasan

• Bantu klien untuk memilih jenis kontrasepsi yang diinginkan.

3. Pastikan bahwa klien memilih AKDR, jelaskan kemungkinan- kemungkinan efek samping pemakai AKDR Cu T 380A

Konseling pra pemasangan & Seleksi Klien

4. Lakukan anamnesa untuk memastikan tidak ada masalah kondisi kesehatan sebagai pemakai AKDR

5. Jelaskan apa yang akan dilakukan dan persilakan klien untuk mengajukan pertanyaan

6. Pastikan klien sudah mengosongkan kandung kencingnya dan membersihkan area genitalia dengan air bersih dan sabun

7. Cuci tangan dengan air dan sabun, keringkan dengan kain bersih 8. Palpasi daerah perut dan periksa apakah ada nyeri, benjolan atau

kelainan lainnya di daerah supra pubik

9. Atur lampu yang terang untuk melihat serviks 10. Pakai sarung tangan yang sudah di DTT

11. Atur peralatan dan bahan-bahan yang akan dipakai dalam wadah steril atau DTT

12. Lakukan pemeriksaan genitalia eksterna

13. Lakukan pemeriksaan spekulum

14. Lakukan pemeriksaan bimanual

15. Buka dan rendam sarung tangan dalam larutan klorin 0,5%

(12)

PENILAIAN KOMPETENSI KETERAMPILAN PEMASANGAN AKDR

LANGKAH / KEGIATAN KASUS

Tindakan pra pemasangan

16. Jelaskan proses pemasangan AKDR dan apa yang akan dirasakan

17. Masukkan lengan AKDR Cu T 380A di dalam kemasan sterilnya Tindakan pemasangan AKDR

18. Pakai sarung tangan yang baru

19. Pasang spekulum vagina untuk melihat serviks

20. Usap vagina dan serviks dengan larutan antiseptik 2 sampai 3 kali 21. Jepit serviks dengan tenakulum secara hati-hati

22. Masukkan sonde uterus dengan teknik “tidak menyentuh” (no touch technique)

23. Geser biru pada tabung inserter sesuai dengan hasil pengukuran kedalaman uterus, kemudian buka seluruh plastik penutup kemasan 24. Pasang AKDR dengan menggunakan teknik withdrawal

25. Gunting benang AKDR, lepas dan keluarkan tenakulum dan spekulum

Tindakan pasca pemasangan

26. Rendam semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5%

27. Buang bahan-bahan yang sudah tidak dipakai ke tempat yang sudah disediakan

28. Buka dan rendam sarung tangan dalam larutan klorin 0,5%

29. Cuci tangan dengan air dan sabun

30. Amati klien selama 15 menit sebelum memperbolehkannya pulang Konseling pasca pemasangan

31. Ajarkan klien cara memeriksa sendiri benang AKDR dan kapan harus dilakukan

32. Jelaskan pada klien apa yang harus dilakukan bila mengalami efek samping

33. Beritahu kapan klien harus datang kembali ke klinik untuk kontrol

34. Yakinkan bahwa klien dapat meminta AKDRnya dicabut setiap saat 35. Lengkapi rekam medik dan kartu AKDR untuk klien

(13)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 74

DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA

KETERAMPILAN INSERSI (MANUAL) AKDR PASCAPLASENTA

(Digunakan oleh Pelatih )

Beri nilai untuk setiap langkah klinik dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:

Kinerja pengetahuan, keterampilan dan perilaku dalam melaksanakan suatu prosedur atau kegiatan, ditentukan berdasarkan ketentuan berikut ini:

: Memuaskan : Langkah atau kegiatan yang ada di dalam prosedur standar dilakukan sesuai dengan yang semestinya, dalam urutan yang benar, dan mematuhi standar yang ditetapkan

: Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan yang ada di dalam prosedur standar diacu pada prosedur standar tetapi beberapa diantaranya tidak dapat

memenuhi dan mengabaikan prinsip baku klinik yang telah ditetapkan : Tidak diamati : Langkah atau kegiatan tidak perlu dilakukan karena penilai telah

mempunyai nilai untuk langkah dimaksud atau langkah tersebut tidak dimasukkan dalam penilaian kinerja

NAMA PESERTA: ______________________________ Tanggal: _______________

INSERSI AKDR PASCAPLASENTA

LANGKAH / KEGIATAN KASUS

Konseling Awal

1. Sapa klien, kenalkan diri dan tanya tujuan kedatangannya.

2. Informasikan Keluarga Berencana dan kontrasepsi yang tersedia.

3. Jelaskan apa yang bisa diperoleh dari kunjungannya.

Penapisan Klien

4. Pastikan klien adalah calon pengguna AKDR dan berikan jaminan kerahasiaan klien

5. Pastikan klien telah mendapat konseling yang benar tentang AKDR, penjarangan kehamilan dan KB postpartum

Konseling Spesifik

6. Lakukan konseling dan diskusikan keuntungan-keterbatasan AKDR Pascaplasenta, termasuk penyulit pascapemasangan 7. Bila ada masalah, jelaskan sekarang bukan saat terbaik untuk

insersi AKDR, anjurkan evaluasi ulang, dan tawarkan kontrasepsi efektif lainnya

8. Pastikan kandung kemih sudah kosong, bantu klien naik ke ranjang, tentukan kondisi uterus layak untuk insersi AKDR.

9. Siapkan peralatan dan AKDR untuk insersi

(14)

INSERSI AKDR PASCAPLASENTA

LANGKAH / KEGIATAN KASUS

Persiapan Sebelum Pemasangan

10. Beritahukan pada klien bahwa prosedur insersi akan dilaksanakan.

11. Cuci tangan, keringkan dan gunakan sarung tangan DTT/Steril.

12. Susun peralatan dan bahan diatas meja dan atur sesuai dengan urutan tindakan serta siapkan AKDR

Insersi AKDR

13. Inspeksi genitalia eksterna, pasang spekulum, dan visualisasikan serviks

14. Lakukan tindakan aseptik-antiseptik pada serviks dan vagina, kemudian jepit dan traksi bibir depan serviks (porsio)

15. Masukkan kedua jari ke lumen vagina hingga melewati ostium, lepaskan jepitan dan keluarkan klem ovum porsio

16. Lanjutkan penetrasi AKDR (dijepit diantara jari tengah dan telunjuk) ke kavum uteri, fasilitasi insersi dengan menekan SBR dorso-kaudal hingga AKDR mencapai fundus uteri

17. Tempatkan AKDR di fundus uteri dengan melonggarkan jepitan jari tengah dan telunjuk) sambil memutar tangan 30° kemudian geser kedua jari tersebut (ke arah kanan atau kiri penolong) 18. Stabilisasi AKDR hingga tangan dalam dapat dikeluarkan 19. Pastikan tidak terjadi perdarahan baru. Keluarkan AKDR bila

tidak terpasang baik dan lakukan insersi ulang

20. Lepaskan klem ovum porsio dan masukkan semua peralatan bekas pakai kedalam klorin 0.5%

Tindakan Pascainsersi

21. Anjurkan klien tetap berbaring, lakukan inisiasi menyusu dini serta jelaskan keperluan kunjungan ulang termasuk asuhan nifas.

22. Kumpulkan dan amankan bahan-bahan bekas pakai, rendam tangan, lepaskan sarung tangan dan rendam dalam klorin 0.5%.

23. Cuci tangan pascainsersi

24. Jelaskan Asuhan Mandiri dan lengkapi rekam medik klien

(15)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 76

DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA

KETERAMPILAN INSERSI (KLEM) AKDR PASCAPLASENTA

(Digunakan oleh Pelatih )

Beri nilai untuk setiap langkah klinik dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:

Kinerja pengetahuan, keterampilan dan perilaku dalam melaksanakan suatu prosedur atau kegiatan, ditentukan berdasarkan ketentuan berikut ini:

: Memuaskan : Langkah atau kegiatan yang ada di dalam prosedur standar dilakukan sesuai dengan yang semestinya, dalam urutan yang benar, dan mematuhi standar yang ditetapkan

: Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan yang ada di dalam prosedur standar diacu pada prosedur standar tetapi beberapa diantaranya tidak dapat

memenuhi dan mengabaikan prinsip baku klinik yang telah ditetapkan : Tidak diamati : Langkah atau kegiatan tidak perlu dilakukan karena penilai telah

mempunyai nilai untuk langkah dimaksud atau langkah tersebut tidak dimasukkan dalam penilaian kinerja

NAMA PESERTA: _________________________________ Tanggal: _____________

INSERSI AKDR PASCAPLASENTA

LANGKAH / KEGIATAN KASUS

Konseling Awal

1. Sapa klien, kenalkan diri dan tanya tujuan kedatangannya.

2. Informasikan Keluarga Berencana dan kontrasepsi yang tersedia.

3. Jelaskan apa yang bisa diperoleh dari kunjungannya.

Penapisan Klien

4. Pastikan klien adalah calon pengguna AKDR dan berikan jaminan kerahasiaan klien

5. Pastikan klien telah mendapat konseling yang benar tentang AKDR, penjarangan kehamilan dan KB postpartum

Konseling Spesifik

6. Lakukan konseling dan diskusikan keuntungan-keterbatasan AKDR Pascaplasenta, termasuk penyulit pascapemasangan 7. Bila ada masalah, jelaskan sekarang bukan saat terbaik untuk

insersi AKDR, anjurkan evaluasi ulang, dan tawarkan kontrasepsi efektif lainnya

8. Pastikan kandung kemih sudah kosong, bantu klien naik ke ranjang, tentukan kondisi uterus layak untuk insersi AKDR.

9. Siapkan peralatan dan AKDR untuk insersi

(16)

INSERSI AKDR PASCAPLASENTA

LANGKAH / KEGIATAN KASUS

Persiapan Sebelum Pemasangan

10. Beritahukan pada klien bahwa prosedur insersi akan dilaksanakan.

11. Cuci tangan, keringkan dan gunakan sarung tangan DTT/Steril.

12. Susun peralatan dan bahan diatas meja dan atur sesuai dengan urutan tindakan serta siapkan AKDR (jepit dengan klem ovum).

Insersi AKDR

13. Inspeksi genitalia eksterna, pasang spekulum, dan visualisasikan serviks

14. Lakukan tindakan aseptik-antiseptik pada serviks dan vagina, kemudian jepit dan traksi bibir depan serviks (porsio)

15. Masukkan klem ovum AKDR ke kavum uteri, fasilitasi insersi dengan menekan SBR hingga AKDR mencapai fundus uteri 16. Tempatkan AKDR di fundus uteri dengan membuka jepitan

klem sambil memutar gagangnya 45° kemudian geser ujung klem (ke arah kanan atau kiri penolong)

17. Stabilisasi AKDR hingga klem ovum AKDR dapat dikeluarkan

18. Pastikan tidak terjadi perdarahan baru. Keluarkan AKDR bila tidak terpasang baik dan lakukan insersi ulang

19. Lepaskan klem ovum porsio dan masukkan semua peralatan bekas pakai kedalam klorin 0.5%

Tindakan Pascainsersi

20. Anjurkan klien tetap berbaring, lakukan inisiasi menyusu dini serta jelaskan keperluan kunjungan ulang termasuk asuhan nifas.

21. Kumpulkan dan amankan bahan-bahan bekas pakai, rendam tangan, lepaskan sarung tangan dan rendam dalam klorin 0.5%.

22. Cuci tangan pascainsersi

23. Jelaskan Asuhan Mandiri dan lengkapi rekam medik klien

(17)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 78

PENILAIAN KOMPETENSI

KETERAMPILAN PENCABUTAN AKDR

(Diisi oleh Pelatih)

Beri tanda √ pada kolom yang tersedia di sebelah kanan untuk setiap langkah klinik/kegiatan yang dilakukan dengan memuaskan, tanda X untuk setiap langkah/kegiatan yang dilakukan dengan tidak memuaskan dan TS untuk langkah yang tidak perlu dikerjakan karena tidak sesuai dengan keadaan/situasi

√ Memuaskan: Langkah atau kegiatan dilakukan sesuai dengan penuntun belajar

X Tidak memuaskan: Tidak dapat melakukan langkah atau kegiatan sesuai dengan penuntun belajar

TS Tidak Sesuai: Langkah tidak perlu dikerjakan karena tidak sesuai dengan keadaan PENILAIAN KOMPETENSI KETERAMPILAN PENCABUTAN AKDR

LANGKAH / KEGIATAN KASUS

Konseling Awal & Metode Khusus 1. Sapa klien dengan ramah

2. Tanyakan alasannya ingin mencabut dan jawab semua pertanyaannya 3. Tanyakan tujuan dari KB selanjutnya

4. Jelaskan proses pencabutan AKDR dan apa yang akan klien rasakan pada saat dan setelah pencabutan

Tindakan pra pencabutan

5. Pastikan klien sudah mengosongkan kandung kencingnya dan membersihkan area genitalia dengan air bersih dan sabun

6. Jelaskan apa yang akan dilakukan dan persilakan klien untuk mengajukan pertanyaan

7. Cuci tangan dengan air dan sabun, keringkan dengan kain bersih 8. Pakai sarung tangan yang sudah di DTT

Tindakan pencabutan

9. Lakukan pemeriksaan bimanual

10. Pasang spekulum vagina untuk melihat serviks

11. Usap vagina dan serviks dengan larutan antiseptik 2 sampai 3 kali 12. Jepit benang yang dekat serviks dengan klem dan tarik keluar benang

dengan mantap tapi hati-hati untuk mengeluarkan AKDR

13. Tunjukkan AKDR tersebut pada klien, kemudian rendam dalam klorin 0,5%

14. Keluarkan spekulum dengan hati-hati Tindakan pasca pencabutan

15. Rendam seluruh peralatan yang sudah dipakai dalam larutan klorin 16. Buang bahan-bahan yang sudah tidak dipakai lagi ke tempat yang

disediakan

17. Rendam sarung tangan dalam larutan klorin 0,5%

18. Cuci tangan dengan air dan sabun

(18)

PENILAIAN KOMPETENSI KETERAMPILAN PENCABUTAN AKDR

LANGKAH / KEGIATAN KASUS

Konseling pasca pencabutan

19. Diskusikan apa yang harus dilakukan bila klien mengalami masalah akibat pencabutan

20. Lakukan konseling untuk metode kontrasepsi yang lain bila klien ingin mengganti dengan yang baru

21. Bantu klien untuk menentukan alat kontrasepsi yang baru atau beri alat kontrasepsi sementara sampai klien dapat memutuskan alat kontrasepsi baru yang akan dipakai

22. Buat rekam medik tentang pencabutan AKDR

(19)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 80

DAFTAR TILIK KINERJA KLINIK DAN KONSELING PEMASANGAN IMPLAN-2 (Digunakan oleh Pelatih)

Kinerja pengetahuan, keterampilan dan perilaku dalam melaksanakan suatu prosedur atau kegiatan, ditentukan berdasarkan ketentuan berikut ini:

: Memuaskan : Langkah atau kegiatan yang ada di dalam prosedur standar dilakukan sesuai dengan yang semestinya, dalam urutan yang benar, dan mematuhi standar yang ditetapkan

⌧ : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan yang ada di dalam prosedur standar diacu pada prosedur standar tetapi beberapa diantaranya tidak dapat memenuhi dan mengabaikan prinsip baku klinik yang telah ditetapkan

: Tidak diamati : Langkah atau kegiatan tidak perlu dilakukan karena penilai telah mempunyai nilai untuk langkah dimaksud atau langkah tersebut tidak dimasukkan dalam penilaian kinerja

NAMA PESERTA: ________________________________ Tanggal: ____________________

KETERAMPILAN KLINIK DAN KONSELING MEMASANG IMPLAN-2

LANGKAH / KEGIATAN KASUS

KONSELING PRA PEMASANGAN 1. Sapa klien dengan ramah dan hangat

2. Tanyakan tujuan reproduksi dan alasan penggunaan Implan-2 3. Pastikan klien calon pengguna yang sesuai untuk Implan-2 4. Pastikan klien memahami efek samping, alasan memilih dan

kekhawatiran terkait dengan Implan-2

5. Jelaskan proses dan apa yang dirasakan klien selama dan setelah pemasangan Implan-2

PEMASANGAN KAPSUL IMPLAN-2

Persiapan

6. Pastikan klien telah mencuci lengan atasnya sebersih mungkin 7. Tentukan tempat pemasangan implan di lengan atas

8. Beri tanda pada tempat pemasangan

9. Pastikan ketersediaan instrumen steril/DTT dan Implan-2 Tindakan pra pemasangan

10. Cuci dan keringkan tangan petugas 11. Pakai sarung tangan steril/DTT

12. Usap tempat pemasangan dengan larutan antiseptik

(20)

KETERAMPILAN KLINIK DAN KONSELING MEMASANG IMPLAN-2

13. Pasang kain penutup steril/DTT di tempat pemasangan Implan-2 Pemasangan kapsul Implan-2

14. Suntikkan anestesi lokal secara intrakutan

15. Lanjutkan dengan anestesi subdermal di tempat insisi dan alur pemasangan implan-2 (masing-masing 1 cc)

16. Uji efek anestesi sebelum melakukan insisi pada kulit

17. Buat insisi 2 mm dengan ujung bisturi/skalpel hingga subdermal 18. Masukkan ujung trokar melalui luka insisi hingga mencapai

subdermal kemudian ungkit dan dorong sejajar kulit hingga tanda 1 (trokar) berada di luka insisi

19. Keluarkan pendorong dan masukkan kapsul ke dalam trokar 20. Masukkan pendorong, dorong kapsul ke ujung trokar

21. Tahan pendorong di tempatnya, kemudian tarik trokar ke arah pangkal pendorong untuk menempatkan kapsul 1 di subdermal

22. Tahan kapsul pada tempatnya, tarik trokar dan pendorong (bersamaan) hingga tanda 2 mencapai luka insisi

23. Arahkan ujung trokar ke samping kapsul pertama, kemudian dorong trokar (mengikuti alur kaki setitiga terbalik) hingga tanda 1 mencapai luka insisi

24. Tarik pendorong keluar, masukkan kapsul kedua dan dorong dengan pendorong ke ujung trokar hingga terasa tahanan

25. Tarik trokar ke arah pangkal pendorong untuk menempatkan kapsul 2 di subdermal

26. Tahan kapsul pada tempatnya, tarik trokar dan pendorong (bersamaan) hingga keluar seluruhnya melalui luka

27. Periksa kembali kedua kapsul telah terpasang di subdermal pada posisi yang telah direncanakan

Tindakan pasca pemasangan

28. Dekatkan ujung-ujung insisi, kemudian tutup dengan band-aid 29. Beri balutan tekan pada tempat insisi dan pemasangan Implan-2 30. Lakukan dekontaminasi peralatan dan sampah medik

31. Buang peralatandan bahan habis pakai ke tempatnya 32. Lepaskan sarung tangan dan rendam dalam larutan klorin 33. Cuci dan keringkan tangan petugas

Konseling pasca pemasangan

34. Gambar posisi kapsul dan buat catatan khusus di rekam medik 35. Jelaskan pada klien cara merawat luka dan kondisi yang membuat

klien harus datang ke klinik

(21)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 82

DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA KLINIK DAN KONSELING PEMASANGAN IMPLAN-2 PLUS

(Digunakan oleh Pelatih)

Kinerja pengetahuan, keterampilan dan perilaku dalam melaksanakan suatu prosedur atau kegiatan, ditentukan berdasarkan ketentuan berikut ini:

: Memuaskan : Langkah atau kegiatan yang ada di dalam prosedur standar dilakukan sesuai dengan yang semestinya, dalam urutan yang benar, dan mematuhi standar yang ditetapkan

⌧ : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan yang ada di dalam prosedur standar diacu pada prosedur standar tetapi beberapa diantaranya tidak dapat memenuhi dan mengabaikan prinsip baku klinik yang telah ditetapkan

: Tidak diamati : Langkah atau kegiatan tidak perlu dilakukan karena penilai telah mempunyai nilai untuk langkah dimaksud atau langkah tersebut tidak dimasukkan dalam penilaian kinerja

NAMA PESERTA: ________________________________ Tanggal: ____________________

KETERAMPILAN KLINIK DAN KONSELING MEMASANG IMPLAN-2 PLUS

LANGKAH / KEGIATAN KASUS

KONSELING PRA PEMASANGAN 1. Sapa klien dengan ramah dan hangat

2. Tanyakan tujuan reproduksi & alasan penggunaan Implan-2 Plus 3. Pastikan klien calon pengguna yang sesuai untuk Implan-2 Plus 4. Pastikan klien memahami efek samping, alasan memilih dan

kekhawatiran terkait dengan Implan-2 Plus

5. Jelaskan proses dan apa yang dirasakan klien selama dan setelah pemasangan Implan-2 Plus

PEMASANGAN KAPSUL IMPLAN-2 PLUS

Persiapan

6. Pastikan klien telah mencuci lengan atasnya sebersih mungkin 7. Tentukan tempat pemasangan implan di lengan atas

8. Beri tanda pada tempat pemasangan

9. Pastikan ketersediaan instrumen steril/DTT dan Implan-2 Plus Tindakan pra pemasangan

10. Cuci dan keringkan tangan petugas 11. Pakai sarung tangan steril/DTT

(22)

KETERAMPILAN KLINIK DAN KONSELING MEMASANG IMPLAN-2 PLUS

12. Usap tempat pemasangan dengan larutan antiseptik

13. Pasang doek steril/DTT di tempat pemasangan Implan-2 Plus Pemasangan kapsul Implan-2 Plus

14. Suntikkan anestesi lokal secara intrakutan

15. Lanjutkan dengan anestesi subdermal di tempat insisi dan alur pemasangan implan-2 (masing-masing 1 cc)

16. Uji efek anestesi sebelum melakukan insisi pada kulit

17. Buat insisi 2 mm dengan ujung bisturi/skalpel hingga subdermal 18. Masukkan ujung trokar (tanda panah di atas) melalui luka insisi

hingga mencapai subdermal kemudian ungkit dan dorong sejajar kulit hingga tanda 1 (trokar) berada di luka insisi

19. Masukkan pendorong (tanda panah di atas) dan masukkan ujungnya ke dalam trokar, putar 180° untuk masuk ke alur kapsul

20. Tahan pendorong di tempatnya, kemudian tarik trokar ke arah pangkal pendorong untuk menempatkan kapsul 1 di subdermal

21. Tahan kapsul pada tempatnya, tarik trokar dan pendorong (bersamaan) hingga tanda 2 mencapai luka insisi

22. Arahkan ujung trokar ke samping kapsul pertama, kemudian dorong trokar (mengikuti alur kaki segitiga terbalik) hingga tanda 1 mencapai luka insisi

23. Putar pendorong 180° hingga masuk ke alur kapsul kemudian tarik trokar ke arah pangkal pendorong untuk menempatkan kapsul 2 di subdermal

24. Tahan kapsul pada tempatnya, tarik trokar dan pendorong (bersamaan) hingga keluar seluruhnya melalui luka

25. Periksa kembali kedua kapsul telah terpasang di subdermal pada posisi yang telah direncanakan

Tindakan pasca pemasangan

26. Dekatkan ujung-ujung insisi, kemudian tutup dengan band-aid 27. Beri balutan tekan pada tempat insisi dan pemasangan kapsul 28. Lakukan dekontaminasi peralatan dan sampah medik

29. Buang peralatandan bahan habis pakai ke tempatnya 30. Lepaskan sarung tangan dan rendam dalam larutan klorin 31. Cuci dan keringkan tangan petugas

Konseling pasca pemasangan

32. Gambar posisi kapsul dan buat catatan khusus di rekam medik 33. Jelaskan pada klien cara merawat luka dan kondisi yang membuat

klien harus datang ke klinik

(23)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 84

DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA KLINIK DAN KONSELING PEMASANGAN IMPLAN-2 FIN

(Digunakan oleh Pelatih)

Kinerja pengetahuan, keterampilan dan perilaku dalam melaksanakan suatu prosedur atau kegiatan, ditentukan berdasarkan ketentuan berikut ini:

: Memuaskan : Langkah atau kegiatan yang ada di dalam prosedur standar dilakukan sesuai dengan yang semestinya, dalam urutan yang benar, dan mematuhi standar yang ditetapkan

⌧ : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan yang ada di dalam prosedur standar diacu pada prosedur standar tetapi beberapa diantaranya tidak dapat memenuhi dan mengabaikan prinsip baku klinik yang telah ditetapkan

: Tidak diamati : Langkah atau kegiatan tidak perlu dilakukan karena penilai telah mempunyai nilai untuk langkah dimaksud atau langkah tersebut tidak dimasukkan dalam penilaian kinerja

NAMA PESERTA: ________________________________ Tanggal: ____________________

KETERAMPILAN KLINIK DAN KONSELING MEMASANG IMPLAN-2 FIN

LANGKAH / KEGIATAN KASUS

KONSELING PRA PEMASANGAN 1. Sapa klien dengan ramah dan hangat

2. Tanyakan tujuan reproduksi & alasan penggunaan Implan-2 Fin 3. Pastikan klien calon pengguna yang sesuai untuk Implan-2 Fin 4. Pastikan klien memahami efek samping, alasan memilih dan

kekhawatiran terkait dengan Implan-2 Fin

5. Jelaskan proses dan apa yang dirasakan klien selama dan setelah pemasangan Implan-2 Fin

PEMASANGAN KAPSUL IMPLAN-2 FIN

Persiapan

6. Pastikan klien telah mencuci lengan atasnya sebersih mungkin 7. Tentukan tempat pemasangan implan di lengan atas

8. Beri tanda pada tempat pemasangan

9. Pastikan ketersediaan instrumen steril/DTT dan Implan-2 Fin

Tindakan prapemasangan

10. Cuci dan keringkan tangan petugas

(24)

KETERAMPILAN KLINIK DAN KONSELING MEMASANG IMPLAN-2 FIN

11. Pakai sarung tangan steril/DTT

12. Usap tempat pemasangan dengan larutan antiseptik

13. Pasang doek steril/DTT di tempat pemasangan Implan-2 Fin Pemasangan kapsul Implan-2 Fin

14. Suntikkan anestesi lokal secara intrakutan

15. Lanjutkan dengan anestesi subdermal di tempat insisi dan alur pemasangan implan-2 (masing-masing 1 cc)

16. Uji efek anestesi sebelum melakukan insisi pada kulit

17. Buat insisi 2 mm dengan ujung bisturi/skalpel hingga subdermal 18. Masukkan ujung trokar (tanda panah di atas) melalui luka insisi hingga

mencapai subdermal kemudian ungkit dan dorong sejajar kulit hingga tanda 1 (trokar) berada di luka insisi

19. Masukkan pendorong (sirip menarah ke bawah) dan masukkan ujungnya ke dalam trokar (pastikan celah trokar ada di bawah) 20. Tahan pendorong di tempatnya, kemudian tarik trokar ke arah pangkal

pendorong untuk menempatkan kapsul 1 di subdermal

21. Tahan kapsul pada tempatnya, tarik trokar dan pendorong (bersamaan) hingga tanda 2 mencapai luka insisi

22. Arahkan ujung trokar ke samping kapsul pertama, kemudian dorong trokar (ke titik 1,5 cm lateral dari ujung luka sehingga membentuk huruf V) hingga tanda 1 mencapai luka insisi

23. Putar pendorong searah jarum jam untuk mematahkan tangkai sirip sehingga trokar dapat ditarik ke arah pendorong untuk menempatkan kapsul 2 di subdermal

24. Tahan kapsul pada tempatnya, tarik trokar dan pendorong (bersamaan) hingga keluar seluruhnya melalui luka

25. Periksa kembali kedua kapsul telah terpasang di subdermal pada posisi yang telah direncanakan

Tindakan pascapemasangan

26. Dekatkan ujung-ujung insisi, kemudian tutup dengan band-aid 27. Beri balutan tekan pada tempat insisi dan pemasangan kapsul 28. Lakukan dekontaminasi peralatan dan sampah medik

29. Buang peralatandan bahan habis pakai ke tempatnya 30. Lepaskan sarung tangan dan rendam dalam larutan klorin 31. Cuci dan keringkan tangan petugas

Konseling pascapemasangan

32. Gambar posisi kapsul dan buat catatan khusus di rekam medik

33. Jelaskan pada klien cara merawat luka dan kondisi yang membuat klien

(25)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 86

DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA KETERAMPILAN KLINIK & KONSELING MENCABUT IMPLAN-2 (Digunakan oleh Pelatih)

Kinerja pengetahuan, keterampilan dan perilaku dalam melaksanakan suatu prosedur atau kegiatan, ditentukan berdasarkan ketentuan berikut ini:

: Memuaskan : Langkah atau kegiatan yang ada di dalam prosedur standar dilakukan sesuai dengan yang semestinya, dalam urutan yang benar, dan mematuhi standar yang ditetapkan

⌧ : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan yang ada di dalam prosedur standar diacu pada prosedur standar tetapi beberapa diantaranya tidak dapat memenuhi dan mengabaikan prinsip baku klinik yang telah ditetapkan

: Tidak diamati : Langkah atau kegiatan tidak perlu dilakukan karena penilai telah mempunyai nilai untuk langkah dimaksud atau langkah tersebut tidak dimasukkan dalam penilaian kinerja

NAMA PESERTA: ________________________________ Tanggal: ____________________

KETERAMPILAN KLINIK DAN KONSELING MENCABUT IMPLAN-2

LANGKAH / KEGIATAN KASUS

KONSELING PRA PENCABUTAN

1. Sapa klien dengan ramah dan hangat

2. Tanyakan alasan klien untuk mencabut Implan-2 dan rencana KB selanjutnya

3. Jelaskan proses pencabutan Implan-2 dan rencana pasang ulang atau kondisi setelah pencabutan

TINDAKAN PENCABUTAN KAPSUL IMPLAN-2

Persiapan

4. Pastikan klien telah mencuci lengannya sebersih mungkin 5. Atur posisi lengan, tentukan lokasi kapsul dan tempat insisi 6. Pastikan ketersediaan instrumen steril atau DTT

Tindakan pra pencabutan

7. Cuci dan keringkan tangan

8. Pakai sarung tangan steril atau DTT

9. Usapkan larutan antiseptik di area insisi dan pasang doek steril A. Pencabutan kapsul dengan Teknik Dorong dan Jepit

a. Suntikkan anestesi intrakutan dan subdermal (bawah kapsul) b. Uji efek anestesi dan lakukan 2-3 mm pada kulit

c. Dorong kapsul ke luka insisi dan jepit ujung kaudal dengan klem lengkung (mosquito)

(26)

KETERAMPILAN KLINIK DAN KONSELING MENCABUT IMPLAN-2

d. Bersihkan ujung kapsul (bebaskan dari jaringan ikat) sehingga dapat dijepit dengan pinset/pean

e. Keluarkan kapsul dari lapisan subdermal dan letakkan di dalam wadah yang tersedia.

f. Lakukan langkah yang sama untuk mencabut kapsul kedua B. Pencabutan dengan Teknik Hand Pop Out

a. Suntikkan anestesi (0,3 cc) intrakutan di tempat insisi dan subdermal (di bawah ¼ ujung kapsul)

b. Uji efek anestesi dan lakukan insisi 2-3 mm pada kulit

c. Dorong kapsul hingga mencuat dari luka insisi dan jepit ujung kaudal dengan klem mosquito/pean lengkung

d. Tarik kapsul ke luar dari luka insisi, bersihkan ujung kapsul (dari jaringan ikat) sehingga dapat dijepit dengan pinset/pean

e. Tarik ujung kapsul untuk mengeluarkannya dari lapisan subdermal dan letakkan kapsul pada tempatnya

f. Lakukan langkah yang sama untuk mencabut kapsul kedua C. Pencabutan kapsul dengan Teknik U Klasik

a. Lakukan anestesi lokal di tempat insisi dan subdermal di bawah ujung kapsul dan lakukan uji efek anestesi

b. Tentukan lokasi dan lakukan insisi pada kulit untuk menjepit batang kapsul dengan klem ‘U’ atau klem fiksasi

c. Angkat klem ‘U’ dan presentasikan ujung kapsul sehingga dapat dilakukan pembebasan jaringan ikat di bagian tersebut

d. Bersihkan dan dorong jaringan ikat pembungkus kapsul dan jepit ujung kapsul dengan klem diseksi

e. Tarik keluar ujung kapsul hingga seluruh batang kapsul dapat dikeluarkan dan letakkan kapsul tersebut pada mangkok f. Lakukan langkah 2 hingga 8 pada kapsul kedua

Tindakan pasca pencabutan

10. Dekatkan ujung-ujung insisi, kemudian tutup dengan band-aid 11. Beri balutan tekan pada tempat insisi dan pemasangan kapsul 12. Lakukan dekontaminasi peralatan dan sampah medik

13. Buang peralatandan bahan habis pakai ke tempatnya 14. Lepaskan sarung tangan dan rendam dalam larutan klorin 15. Cuci dan keringkan tangan petugas

Konseling pasca pencabutan

16. Jelaskan cara merawat luka dan jadwal kontrol

17. Jelaskan kondisi yang menyebabkan klien harus kembali ke klinik

(27)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 88

PESERTA: F MEMENUHI SYARAT F TIDAK MEMENUHI SYARAT UNTUK MELAKUKAN PEMASANGAN IMPLAN-2, BERDASARKAN KRITERIA SEBAGAI BERIKUT :

• Nilai kuesioner tengah pelatihan _______________ % (lembar jawaban terlampir)

• Penilaian ketrampilan klinik dan konseling Implan : F Memuaskan F Tidak memuaskan

• Praktik kilinik : F Memuaskan F Tidak memuaskan

Tanda tangan pelatih __________________________Tanggal ___________________________

(28)

STUDI KASUS KONTRASEPSI HORMONAL

Studi Kasus 1: Penggunaan Pil Kontrasepsi yang tidak teratur

Ibu Yeni, seorang ibu berusia 29 tahun, baru memperoleh satu anak, tak dapat lagi menggunakan metode kontrasepsi Laktasi Amenore karena bayinya yang telah berusia 7 bulan dan mulai mendapat makanan tambahan karena asupan ASI sudah tidak mencukupi dan ia mulai mendapat haid. Setelah mendapat konseling kontrasepsi, ibu Yeni memilih pil KB kombinasi karena dianggap paling sesuai untuknya, termasuk juga ingin menghentikan produksi ASI karena ia akan mulai bekerja kembali dan meninggalkan tugas kantor (untuk menyusui) adalah tidak memungkinkan.

Mungkin akibat tidak mendengarkan dengan baik petunjuk petugas KB tentang cara penggunaan dan ingin cepat-cepat saja memperoleh pil KB maka ibu Yeni menggunakan pil KB hanya jika suaminya sedang di rumah. Suaminya bekerja sebagai pelaut dan hanya pulang seminggu sekali. Selama menggunakan pil KB, siklus haidnya jadi tidak teratur dan haid tidak dimulai pada tanggal yang sama di bulan berikutnya, seperti yang dialaminya sebelum kehamilan yang lalu.

Setelah 2 bulan menggunakan pil KB, pada bulan berikutnya, ibu Yeni tidak mendapat haid. Setelah 7 hari terlambat haid, ia periksa ke dokter dan menurut hasil pemeriksaan urine, ia dinyatakan hamil. Ibu Yeni tidak terima bahwa ia hamil karena ia memakai pil KB dan hanya melakukan sanggama seminggu sekali. Ia mengajukan alasan mungkin hormon dalam pil KB tidak efektif atau konsentrasinya kurang karena ia membaca di brosur pil Microgynon® kandungan etinil estradiol hanya 30 μgram, tidak 50 μgram seperti pil KB milik temannya. Karena dokter menganjurkan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kehamilan, ibu Yeni merasa kurang puas dan pulang dalam keadaan gusar.

Diskusi

1. Mengapa metode Laktasi Amenore untuk ibu Yeni, tidak dapat dilanjutkan dan apa risikonya bila tetap dilanjutkan?

2. Bagaimana penggunaan pil KB secara benar? Apakah ibu Yeni menggunakan pil KB ini secara benar?

3. Mengapa penggunaan pil KB seperti yang dilakukan oleh ibu Yeni mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya kehamilan, sedangkan ia melakukan sanggama hanya jika suaminya pulang ke rumah?

4. Mengapa siklus haidnya menjadi tidak teratur?

5. Apakah hasil pemeriksaan dokter yang menyatakan dirinya hamil mempunyai tingkat kemungkinan yang sangat tinggi?

6. Apakah pengamatan ibu Yeni tentang kandungan EE Microgynon 30 μgram

(29)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 90

Jawaban untuk Diskusi

1. Mengapa metode Laktasi Amenore untuk ibu Yeni, tidak dapat dilanjutkan dan apa risikonya bila tetap dilanjutkan?

Kembalinya haid dan berkurangnya produksi ASI dapat menjadi petunjuk tentang kembalinya kesuburan atau ovulasi pada seorang wanita. Bila wanita ini belum ingin untuk hamil kembali maka ia membutuhkan kontrasepsi yang efektif untuk mencegah terjadinya kehamilan. Bila gejala dan tanda kembalinya kesuburan telah tampak dan metode Laktasi Amenore masih dilanjutkan maka akan sangat mungkin terjadi kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu Yeni.

2. Bagaimana penggunaan pil KB secara benar? Apakah ibu Yeni menggunakan pil KB ini secara benar?

Pil KB harus diminum secara teratur, 1 tablet dan sekali sehari, dianjurkan untuk minum pada waktu yang sama. Bila mengalami muntah dalam 2 jam pertama setelah minum pil maka minum kembali 1 pil KB (kalau perlu dari keping yang baru). Bila lupa satu pil pada hari sebelumnya, minum pil tersebut dengan pil pada hari bersangkutan (total 2 pil). Bila lupa selama 2 hari berturut-turut maka minum pil dari dua hari sebelumnya, ditambah dengan pil dari hari sebelumnya (total dua pil) pada hari ini dan pil untuk hari ini dan besok, diminum sekaligus pada keesokan harinya sehingga pada hari selanjutnya dapat dilanjutkan 1 pil setiap hari.

Melihat cara penggunaan diatas maka dapat disimpulkan bahwa ibu Yeni tidak menggunakan pil KB ini secara benar.

3. Mengapa penggunaan pil KB seperti yang dilakukan oleh ibu Yeni mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya kehamilan, sedangkan ia melakukan sanggama hanya jika suaminya pulang ke rumah?

Penggunaan pil KB secara tidak teratur tidak menjamin mekanisme umpan balik untuk pencegahan ovulasi dan implantasi karena asupan secara intermiten tidak mampu untuk menghalangi proses-proses dalam sistem reproduksi yang terjadi sepanjang siklus. Asupan yang hanya sekali-sekali saja hanya akan memberikan efek interuptif (bukan supresif) yang mana proses tersebut akan kembali terjadi atau berlangsung apabila umpan balik dari hormon asupan tidak secara terus-menerus menghambat proses tersebut.

Bila sanggama pada saat suami di rumah, kebetulan terjadi disaat tidak subur maka kehamilan masih mungkin dihindarkan tetapi bila sanggama terjadi di masa subur dan asupan hormon dari luar tidak digunakan sebelum dan dilanjutkan sesudah sanggama maka kehamilan mungkin tidak dapat dicegah.

(30)

4. Mengapa siklus haidnya menjadi tidak teratur?

Interupsi beberapa proses yang sedang berjalan dapat menimbulkan kekacauan dalam regularitas efek dan respon hormonal alami dari organ- organ reproduksi termasuk uterus dan endometrium sehingga terjadi perdarahan lucut yang ditandai dengan perdarahan bercak berulang kali atau gangguan terhadap keteraturan atau regularitas siklus haid.

5. Apakah hasil pemeriksaan dokter yang menyatakan dirinya hamil mempunyai tingkat kemungkinan yang sangat tinggi?

Mengingat kesinambungan penghambatan proses-proses reproduksi penting seperti ovulasi, fertilisasi atau implantasi tidak berlangsung secara penuh maka kemungkinan terjadinya kehamilan adalah sangat tinggi. Hasil pemeriksaan dokter serta hasil uji kehamilan yang positif, sangat mendukung terjadinya kehamilan tersebut.

6. Apakah pengamatan ibu Yeni tentang kandungan EE Microgynon 30 μgram adalah benar? Apakah dapat diterima alasan terjadinya kehamilan karena adanya perbedaan kandungan etinil estradiol? Apakah ada hormon lain dalam pil KB ini?

Hasil pembacaan brosur pil KB Microgynon sangat tepat, kadar etinil estradiol dalam pil ini adalah 30

μ

gram tetapi kehamilan yang terjadi tidak berkaitan dengan dosis yang lebih rendah, melainkan lebih terkait dengan keteraturan ibu Yeni dalam mengkonsumsi pil KB. Dengan dosis yang demikian rendah dan penggunaan secara teratur maka supresi ovulasi, pencegahan fertilisasi dan implantasi dapat berjalan secara penuh dan sehingga kehamilan dapat dicegah. Pengurangan dosis justru menguntungkan para pengguna karena berbagai kejadian efek samping hormon kombinasi dapat dikurangi seminimal mungkin.

7. Mengapa komponen estrogen dalam pil KB mempunyai peran yang cukup penting dalam mencegah proses fertilisasi?

Komponen estrogen lebih berperan dalam menekan ovulasi sehingga proses pematangan dan pelepasan sel telur yang siap dibuahi dapat dicegah dan fertilisasi dapat dihindarkan. Progestagen lebih berperan pada pengentalan lendir serviks sehingga memperlambat penetrasi dan gerak spermatozoa ke dalam kavum uteri, memperlambat motilitas tuba untuk menangkap dan membawa sel telur (ovum), dan mencegah proses implantasi (endometrium tidak siap untuk menerima hasil pembuahan).

(31)

Pelatihan Teknologi Kontrasepsi Terkini 92

Studi Kasus 2: Kontrasepsi Suntikan dan haid yang hilang

Ibu Mia telah berusia 35 tahun dan memiliki 3 anak. Anak terkecil berusia 3 bulan dan masih menyusui. Untuk sementara, ibu Mia tidak ingin menambah anak lagi dan ingin menggunakan kontrasepsi jangka menengah yang cara penggunaannya tidak merepotkan dan juga tidak harus dikonsumsi atau diingat setiap hari. Setelah mendapat konseling dari petugas kesehatan di poliklinik KB Puskesmas Kota Cirebon, ibu Mia memilih suntikan Depo Provera® sebagai metode kontrasepsi yang paling sesuai untuknya.

Setelah menggunakan suntikan hingga 2 kali, ibu Mia merasa cocok dengan kontrasepsi pilihannya karena selain praktis, juga hanya diberikan setiap 3 bulan sekali. Tetapi pada awal penggunaan, kadang-kadang terjadi perdarahan bercak. Dalam 2 bulan terakhir, ibu Mia tidak lagi mendapat haid seperti biasanya. Hal ini selalu menjadi beban pikiran menjelang tanggal perkiraan haid, walaupun telah diberitahukan oleh petugas di klinik KB bahwa hal tersebut adalah salah satu efek samping kontrasepsi suntikan ini. Ibu Mia masih belum mengerti mengapa haidnya menghilang dan kemana perginya darah haid yang biasanya keluar selama 5 hari menstruasi. Apakah hal ini akan menyebabkan gangguan kesehatan bagi dirinya? Walaupun banyak pengguna suntikan KB, juga tidak mendapat haid dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi mereka tetapi ibu Mia tetap merasa cemas tentang kemungkinan darah haid yang seharusnya keluar setiap bulan akan menumpuk dan menyebabkan akibat serius bagi dirinya.

Diskusi

1. Apakah pilihan ibu Mia untuk menggunakan kontrasepsi suntikan telah sesuai dengan keinginannya untuk tidak menambah anak lagi dan bayinya yang masih menyusui?

2. Apa jenis hormon yang terkandung dalam suntikan KB dan apa pengaruh hormon tersebut terhadap produksi ASI? Apakah suntikan Depo Provera® juga

mengandung hormon jenis lainnya?

3. Apakah tersedia suntikan KB lain yang mengandung hormon serupa dengan yang ada di dalam suntikan Depo Provera®? Berapa lama waktu penggunaan suntikan KB jenis ini?

4. Bila ibu Mia ingin metode kontrasepsi dengan hormon yang sama tetapi dalam bentuk pil, maka pil KB manakah yang anda sarankan?

5. Beri satu contoh suntikan KB hormon kombinasi dan sebutkan jenis hormon dalam bahan suntikan tersebut?

6. Mengapa terjadi perdarahan bercak pada 3 bulan pertama penggunaan suntikan KB Depo Provera®?

7. Mengapa haid ibu Mia menghilang setelah 2 kali penggunaan suntikan KB?

Kemana darah haid yang seharusnya datang setiap bulan?

8. Apakah keadaan ini akan mengganggu kesehatan ibu Mia?

(32)

Jawaban untuk Diskusi

1. Apakah pilihan ibu Mia untuk menggunakan kontrasepsi suntikan telah sesuai dengan keinginannya untuk tidak menambah anak lagi dan bayinya yang masih menyusui?

Kontrasepsi suntikan (Depo Provera) dengan waktu kerja efektif 12 minggu digolongkan sebagai metode kontrasepsi jangka menengah dan apabila dikaitkan dengan keinginan untuk tidak menambah anak lagi, maka pilihan ini dianggap kurang tepat. Pilihan yang paling tepat untuk keinginan itu adalah kontrasepsi mantap. Metode reversibel seperti suntikan ini, lebih sesuai untuk mereka yang ingin menjarangkan kehamilan. Pilihan ini masih tergolong memadai bila penggunaan kontrasepsi suntikan merupakan peralihan antara metode reversibel dan mantap di kemudian hari. Depo Provera cocok digunakan untuk ibu yang menyusukan anaknya.

2. Apa jenis hormon yang terkandung dalam suntikan KB dan apa pengaruh hormon tersebut terhadap produksi ASI? Apakah suntikan Depo Provera®

juga mengandung hormon jenis lainnya?

Depo Provera mengandung hormon jenis progestagen (progesteron sintetik) dari golongan Medroxy Progesterone Acetate (MPA) dengan dosis 150 mg untuk sekali pemberian (1 vial). Hormon ini tidak menimbulkan supresi produksi ASI sehingga cocok digunakan oleh ibu yang sedang menyusukan bayinya. Walaupun sebagian kecil hormon ini disekresikan melalui ASI tetapi jumlahnya sangat minimal dan tidak menyebabkan gangguan kesehatan pada bayi. Depo Provera hanya mengandung progestagen (progestin only injectable) dan tidak dikombinasikan dengan hormon lain.

3. Apakah tersedia suntikan KB lain yang mengandung hormon serupa dengan yang ada di dalam suntikan Depo Provera®? Berapa lama waktu penggunaan suntikan KB jenis ini?

Ya, Noristerat

®

yang dalam setiap ampul mengandung 200 mg norethistrone enanthate dalam larutan minyak, disuntikkan intramuskuler setiap 8-10 minggu.

4. Bila ibu Mia ingin metode kontrasepsi dengan hormon yang sama tetapi dalam bentuk pil, maka pil KB manakah yang anda sarankan?

Di Indonesia, tersedia pil mini dengan nama Exluton

®

yang mengandung progestagen (300 mg levo-norgestrel) dengan kemasan 35 pil dalam 1 keping.

Cocok untuk ibu yang sedang menyusukan anaknya tetapi masalah ketepatan

Referensi

Dokumen terkait

Pelaksanaan tindak merupakan langkah dalam melaksanakan kegiatan yang sudah direncanakan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Pelaksanaan dalam penelitian ini

• Manual Prosedur SPMI (SOP) ialah dokumen tertulis yang berisi urutan tata kerja untuk melakukan sesuatu guna mencapai hasil sesuai dengan standar SPMI yang telah ditetapkan..

Pelaksanaan tindak merupakan langkah dalam melaksanakan kegiatan yang sudah direncanakan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Pelaksanaan dalam penelitian ini

Menyelenggarakan program pembelajaran sesuai standar isi, standar proses, standar penilaian yang telah ditetapkan dalam rangka mencapai CP lulusan;. Melakukan kegiatan sistemik

Masih banyaknya penggunaan peralatan listrik di rumah tangga yang tidak sesuai dengan prosedur yang benar dan standar yang ditetapkan oleh LMK (Lembaga Masalah Kelistrikan)

Melaksanakan kegiatan sesuai dengan ketentuan dan Standar Prosedur Operasional (SPO) yang telah ditetapkan dan mengefektifkan fungsi internal control di cabang;.. Meningkatkan

(3) Kegiatan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur yang ditetapkan dengan Keputusan Inspektur. Reviu

Tidak sedikit ditemukannya masalah dalam kegiatan operasional teller yang tidak sesuai dengan standar prosedur yang ditetapkan perusahaan seperti halnya teller tidak