PENYELAMATAN KAWASAN TOBA
By : DR. IR. MARTONO ANGGUSTI.,SH.,MM.,M.HUM (Akademisi dan Penggiat Lingkungan)
STAKEHOLDER
PENYELAMATAN KAWASAN TOBA
IN WHOSE INTEREREST ?
ASAS MANA YANG KITA PEGANG ? KAPITALIS KEBERSAMAAN INDIVIDUALIS
VS
GOTONG-ROYONGLIBERALIS KEKELUARGAAN
implikasi secara negatif dari UU No. 32 tahun 2004
Otonomi daerah sebagai kewenangan untuk menggali pendapatan daerah
yang sebanyak banyaknya melalui pajak dan retribusi serta eksploitasi sumber daya alam
dengan mengabaikan kepentingan jangka panjang dan generasi mendatang
(Agus Dwiyanto, 2003).
Kawasan Danau Toba secara administrasi mencakup tujuh wilayah kabupaten di Propinsi Sumatera Utara yang terdiri dari 43 wilayah kecamatan.
Tujuh Kabupaten yang berada disekitar kawasan Danau Toba meliputi :
Kab. Karo, Kab. Humbang Hasundutan, Kab. Tapanuli Utara, Kab. Samosir, Kab. Tobasa, Kab, Dairi, dan Kab. Simalungun.
Danau Toba merupakan salah satu KSN yang terdapat di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN).
Kawasan Danau Toba juga memiliki kepentingan sosial dan budaya karena
merupakan tempat pelestarian dan pengembangan adat istiadat atau budaya
nasional dan merupakan aset nasional atau internasional yang harus
dilindungi dan dilestarikan.
Pasal 33 Ayat 1 UUD 1945 menyebutkan bahwa perekonomian disusun sebagai
usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan
guna meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia
Pasal 28H ANGKA 1 UUD 1945 Setiap orang
berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat
serta berhak memperoleh pelayanan
kesehatan.
Pasal 28H ANGKA 1 UUD 1945 Setiap orang berhak
atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya
secara utuh sebagai manusia yang
bermartabat.
ALINEA 4 UUD 1945
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia
yang melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,
P A N C A S I L A
Prinsip :3 P
Profit/Economy People/Social Planet/Environment
Das Sein
Das Sollen
Sustainable Development Goals (SDGs) – 2015-2030
Sustainable Development Goals (SDGs)
merupakan suatu rencana aksi global yangdisepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. SDGs berisi 17 Tujuan dan 169 Target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030.
Paragraf 4 Kehutanan
Pasal 35 UUCK no.11/2021
Untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat terutama Pelaku Usaha dalam mendapatkan Perizinan Berusaha dan kemudahan persyaratan
investasi dari sektor kehutanan, Undang-Undang ini mengubah,
menghapus, atau menetapkan pengaturan baru beberapa ketentuan dalam:
a. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan ...
Pasal 15
(1) Pengukuhan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dilakukan melalui:
a. Penunjukan kawasan hutan;
b. Penataan batas kawasan hutan;
c. Pemetaan kawasan hutan; dan d. Penetapan kawasan hutan.
(2) Pengukuhan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan rencana tata ruang wilayah.
(3) Pengukuhan kawasan hutan dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan koordinat geografis atau satelit.
(4) Pemerintah Pusat memprioritaskan percepatan pengukuhan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada daerah yang strategis.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai prioritas percepatan pengukuhan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 18
(1) Pemerintah Pusat menetapkan dan mempertahankan kecukupan luas kawasan hutan dan penutupan hutan untuk setiap daerah aliran sungai, dan/atau pulau guna pengoptimalan manfaat lingkungan, manfaat sosial, dan manfaat ekonomi masyarakat setempat.
(2) Pemerintah Pusat mengatur luas kawasan yang harus dipertahankan sesuai dengan kondisi fisik dan geografis daerah aliran sungai dan/atau pulau.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai luas kawasan hutan yang harus dipertahankan ialah termasuk pada wilayah yang terdapat proyek strategis nasional diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 19
(1) Perubahan peruntukan dan perubahan fungsi kawasan hutan ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dengan mempertimbangkan hasil penelitian terpadu.
(2) Ketentuan mengenai tata cara perubahan peruntukan dan perubahan fungsi kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 26
(1) Pemanfaatan Hutan Lindung dapat berupa pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan, dan pemungutan hasil hutan bukan kayu.
(2) Pemanfaatan hutan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan pemberian Perizinan Berusaha dari Pemerintah Pusat.
Pasal 33
(1) Usaha pemanfaatan hasil hutan meliputi kegiatan penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pengolahan, dan pemasaran hasil hutan.
(2) Pemanenan dan pengolahan hasil hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh melebihi daya dukung hutan.
(3) Ketentuan mengenai pembinaan dan pengembangan pengolahan hasil hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 35
(1) Setiap pemegang Perizinan Berusaha terkait pemanfaatan hutan dikenakan penerimaan negara bukan pajak di bidang kehutanan.
(2) Penerimaan negara bukan pajak di bidang kehutanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berasal dari dana reboisasi hanya dipergunakan untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan.
(3) Setiap pemegang Perizinan Berusaha terkait pemanfaatan hutan wajib menyediakan dana investasi untuk biaya pelestarian hutan.
(4) Setiap pemegang Perizinan Berusaha terkait pemungutan hasil hutan hanya dikenakan penerimaan negara bukan pajak berupa provisi di bidang kehutanan.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 38
(1) Penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan hanya dapat dilakukan di dalam kawasan hutan produksi dan kawasan hutan lindung.
(2) Penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan tanpa mengubah fungsi pokok kawasan hutan.
(3) Penggunaan kawasan hutan dilakukan melalui pinjam pakai oleh Pemerintah Pusat dengan mempertimbangkan batasan luas dan jangka waktu tertentu serta kelestarian lingkungan.
(4) Pada kawasan hutan lindung dilarang dilakukan penambangan dengna pola pertambangan terbuka.
Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang {encegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (LN RI Tahun 2013 No. 130, Tambahan LN RI No. 5432) diubah sebagai berikut:
Pasal 7
Pencegahan perusakan hutan dilakukan oleh masyarakat, badan hukum, dan/atau korporasi yang memperoleh Perizinan Berusaha terkait pemanfaatan hutan.
Pasal 28
Setiap pejabat dilarang:
c. Melindungi pelaku pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan secara tidak sah.
g. Melakukan pembiaran dalam melaksanakan tugas dengan sengaja; dan/atau h. Lalai dalam melaksanakan tugas.
• Berdasarkan hasil analisis spasial yang dilakukan oleh Walhi Sumatera Utara, kami mengidentifikasi bahwa aktifitas Perusahaan Konsesi di Bentang Alam Tele berkontribusi terhadap Deforestasi skala besar yang terjadi di Bentang Alam Tele.
• Melalui penginderaan jarak jauh dengan bahan citra sentinel Walhi Sumatera Utara menemukan bahwa setidaknya 22.000 Ha kawasan hutan di Bentang Alam Tele sudah dihancurkan oleh sebuah perusahaan konsesi dan kemudian ditanami dengan eukaliptus dengan system Perkebunan Monokultur.
• Dari total 22.000 Ha hutan yang dihancurkan, 4000 ha diantaranya berada di dalam kawasan Hutan Lindung.
• Berdasarkan UU No. 41 Tahun 1999 Pasal 1 ayat 8 dituliskan bahwa “ Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah instrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah “.
• Tindakan pengerusakan kawasan hutan lindung yang dilakukan oleh Perusahaan Konsesi di Bentang Alam Tele menjadi indikasi yang kuat bahwa perusahaan konsesi terebut telah melakukan perbuatan melanggar hukum dan seharusnya di hukum atas perbuatannya, namum faktanya sampai hari ini pemerintah belum mengambil tindakan atas dugaan perbuatan melanggar Hukum ini.
Data
Psl.4 ruang lingkup perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup berdasarkan
UUPPLH’09,
HOW WHO
WHERE
PENYELAMATAN KAWASAN TOBA WHY
WHAT
WHEN
KERAMBAH JARING APUNG - AKTIFITAS PERUSAHAAN KONSESI LIMBAH DOMESTIK – BAKAR HUTAN...
Problems ? Conflict of Interest
Penebangan dan Penjualan Kayu Massif Terjadi dikawasan Tele,
Desa Hutagalung, Kabupaten Samosi
Walhi
Walhi
Walhi
Walhi Walhi
Kami semua Walhi
• Pasal 60 UUPPLH-09 “Setiap orang dilarang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin.”
• Pasal 70 Angka (1) UUPPLH-09 “Masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.”
• Pasal 70 Angka (2) UUPPLH-09 “Peran masyarakat dapat berupa: (a) pengawasan Sosial;
(b) pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan; dan/atau: (c) penyampaian informasi dan/atau laporan.”
• Pasal 66 UUPPLH-09 “Setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup
yang baik dan sehat tidak dapat dituntut secara pidana maupun digugat secara perdata.”
• Berdasarkan Pasal 69 UUPPLH’09 diubah menurut UUCK no.11/2021,
yang menjadi larangan adalah sebagai berikut:
1. Setiap orang dilarang:
a. Melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup;
b. Memasukkan B3 (Bahan berbahaya dan beracun) yang dilarang menurut peraturan perundang- undangan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
c. Memasukkan limbah yang berasal dari luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ke media lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
d. Memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
e. Membuang limbah ke media lingkungan hidup;
f. Membuang B3 dan limbah B3 ke media lingkungan hidup;
g. Melepaskan produk rekayasa genetik ke media lingkungan hidup yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan atau izin lingkungan;
h. Melakukan pembukaan dengan cara membakar;
i. Menyusun AMDAL tanpa memiliki sertifikat kompetensi penyusun amdal;
j. Memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan informasi, merusak informasi, atau memberikan keterangan yang tidak benar.
2. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h dikecualikan bagi masyarakat yang
melakukan kegiatan dimaksud dengan memperhatikan sungguh-sungguh kearifan lokal di
daerah masing masing.
• Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup menurut UUPPLH’09 dan UUCK’21
dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah pencemaran dan/
atau kerusakan lingkungan hidup.
• Berdasarkan Psl.4 ruang lingkup perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup berdasarkan UUPPLH’09, meliputi:
a. Perencanaan b. Pemanfaatan c. Pengendalian d. Pemeliharaan e. Pengawasan
f. Penegakan Hukum
a. Tahap Perencanaan
• Perencanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan melalui tahapan:
a. Inventarisasi lingkungan hidup (potensi dan ketersediaan; jenis yang dimanfaatkan;
bentuk penguasaan; pengetahuan pengelolaan; bentuk kerusakan; konflik dan penyebab konflik yang timbul akibat pengelolaan).
b. Penetapan wilayah ekoregion (karakteristik bentang alam; daerah aliran sungai; iklim;
flora dan fauna; sosial budaya; ekonomi; kelembagaan masyarakat; hasil inventarisasi L.Hidup).
c. Penyusunan RPPLH (Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup – keragaman karakter dan fungsi ekologis; sebaran penduduk; sebaran potensi SDA;
kearifan lokal; aspirasi masyarakat; perubahan iklim).
• Selanjutnya Pasal 6 angka 1 UUPPLH pelaksanaan inventarisasi lingkungan hidup terdiri atas inventarisasi lingkungan hidup:
a. tingkat nasional;
b. tingkat pulau/kepulauan; dan
c. tingkat wilayah ekoregion.
b. Pemanfaatan
• Pemanfaatan sumber daya alam yang tepat dilakukan berdasarkan RPPLH. Apabila RPPLH belum tersusun, pemanfaatan sumber daya alam dilakukan berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dengan memperhatikan:
1. keberlanjutan proses dan fungsi lingkungan hidup;
2. keberlanjutan produktifitas lingkungan hidup; dan
3. keselamatan, mutu hidup, dan kesejahteraan masyarakat.
C. Pengendalian
• Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dilaksanakan dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pengendalian pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup meli- puti;
1. Pencegahan;
2. Penanggulangan; dan
3. Pemulihan.
1. Pencegahan
• Tahap pencegahan sebagaimana diatur dalam Pasal 14 menyatakan bahwa instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup terdiri atas:
1. KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis), 2. Tata Ruang,
3. Baku mutu lingkungan hidup,
4. Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, 5. Amdal,
6. UKL-UPL, 7. Perizinan,
8. Instrumen ekonomi lingkungan hidup,
9. Peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup, 10. Anggaran berbasis lingkungan hidup,
11. Analisis risiko lingkungan hidup, 12. Audit lingkungan hidup,
13. Instrumen lain, sesuai dengan kebutuhan dan/atau perkembangan ilmu pengetahuan.
2. Penanggulangan
• Pasal 53 ayat (1) menegaskan: “Setiap orang yang melakukan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup wajib melakukan penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
• Selanjutnya ayat (2) pasal ini menyatakan: “Penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dilakukan dengan;
a. Pemberian informasi peringatan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup kepada masyarakat;
b. Pengisolasian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup;
c. Penghentian sumber pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup; dan/atau
d. cara lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Pemulihan
• Pasal 54 ayat (1) UUPPLH menegaskan: “Setiap orang yang melakukan pencemaran dan/
atau perusakan lingkungan hidup wajib melakukan pemulihan fungsi lingkungan hidup.”
• Selanjutnya ayat (2) pasal ini menegaskan: “Pemulihan fungsi lingkungan hidup dilakukan dengan tahapan:
1. Penghentian sumber pencemaran dan pembersihan unsur pencemar;
2. Remediasi 3. Rehabilitasi
4. Restorasi, dan/atau
5. Cara lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
D. Pemeliharaan
• Pemeliharaan lingkungan hidup adalah upaya yang dilakukan untuk menjaga pelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya penurunan atau kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh perbuatan manusia.
• Pemeliharaan lingkungan hidup dilaksanakan melalui konservasi dan pencadangan sumber daya alam serta pelestarian fungsi atmosfer. Konservasi sumber daya alam meliputi kegiatan pencadangan, pengawetan dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam.
• Pemeliharaan lingkungan hidup dilakukan melalui upaya:
a. Konservasi sumber daya alam;
b. Pencadangan sumber daya alam; dan/atau
c. Pelestarian fungsi atmosfer.
E. Pengawasan
• Pengawasan lingkungan hidup dilakukan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah
sesuai dengan kewenangannya wajib melakukan pengawasan terhadap ketaatan
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang ditetapkan dalam
peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup.
F. Penegakan Hukum
• Penegakan hukum lingkungan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 bersifat preventif dan represif.
• Upaya preventif dalam rangka pengendalian dampak lingkungan hidup perlu dilaksanakan dengan mendayagunakan secara maksimal instrumen pengawasan dan perizinan, yang dapat dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.
• Upaya represif dilakukan apabila pencemaran dan perusakan lingkungan hidup yang
sudah terjadi, baik melalui instrumen hukum administrasi, instrumen hukum perdata
maupun instrumen hukum pidana (ultimum remedium).
• Filosofi Pengembangan Masyarakat dikembangkan melalui filosofi 3-T, yakni :
Teach, Truth and Trust
(pendidikan, kebenaran dan keyakinan). Artinya pemberdayaan merupakan kegiatan pendidikan untuk menyampaikan kebenaran- kebenaran yang telah diyakini.• Dalam proses pengembangan masyarakat, Indonesia menggunakan landasan konstitutional pengembangan masyarakat yang diatur dalam Peraturan perundang-undangan di antaranya adalah :
a. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.
b. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 turut mengatur mengenai tugas pemerintahan yang salah satunya adalah mengoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat.
c. Pasal 119 ayat 6 disebutkan bahwa pengikutsertaan masyarakat dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan perkotaan merupakan salah satu wujud pemberdayaan masyarakat.
d. Permendagri Nomor 7 Tahun 2007 Tentang Kader Pemberdayaan Masyarakat yang menguraikan mengenai kader pemberdayaan masyarakat beserta penjelasan mengenai tugas, peran dan hal-hal terkait mengenai kegiatan yang dilakukan oleh kader pemberdayaan masyarakat
• Landasan filosofi dalam pengembangan masyarakat adalah landasan atau dasar pengembangan masyarakat yang ditinjau dari segi filosofisnya. Sehingga paradigma pengembangan masyarakat yang kurang berorientasi pada potensi dan kemandirian sumber daya manusia akan menyebabkan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan masyarakat.
• Landasan merupakan suatu dasar yang digunakan untuk melakukan kegiatan serta untuk mengkokohan kegiatan yang sedang berlangsung. Sebuah landasan digunakan ketika landasan tersebut sudah diketahui kebenaran dan keabsahannya agar landasan yang digunakan bisa tepat guna dan menghasilkan tujuan yang sesuai yang akan diikuti masyarakat sebagai suatu tradisi.
• KESADARAN LINGKUNGAN MERUPAKAN KESADARAN YANG LAHIR DARI PEMAHAMAN TENTANG RELASI ANTARA MANUSIA DENGAN LINGKUNGANNYA.
• KESADARAN BAHWA MANUSIA ADALAH BAGIAN INTEGRAL YANG TIDAK TERPISAHKAN DARI LINGKUNGANNYA, MERUPAKAN “KUNCI” KEBERHASILAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN.
• SALAH SATU INSTRUMEN MENANAMKAN KESADARAN ITU ADALAH MELALUI PEMAHAMAN TENTANG HUKUM LINGKUNGAN.
• MELALUI PEMAHAMAN TERSEBUT, DI SATU SISI DIHARAPKAN AKAN TERWUJUD KUALITAS LINGKUNGAN
YANG BAIK DAN SEHAT SEBAGAI SALAH SATU HAK KONSTITUSIONAL WARGA SEBAGAIMANA DIATUR
DALAM UUD1945 Pasal 28H ANGKA 1 Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat
tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan
kesehatan.
• SEMENTARA PADA SISI LAIN, MELALUI PEMAHAMAN HUKUM LINGKUNGAN DIHARAPKAN PROSES PEMBANGUNAN YANG SEDANG BERLANGSUNG SEKARANG INI TIDAK MENGABAIKAN KELESTARIAN LINGKUNGAN.
• PEMBANGUNAN MEMANG SUATU KENISCAYAAN YANG TIDAK DAPAT DITOLAK, NAMUN IA HARUS BERADA DALAM KERANGKA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN SEBAGAIMANA DIAMANAHKAN KONSTITUSI PASAL 33 AYAT (4) UUD 1945.
“Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.”
• PERMASALAHAN LINGKUNGAN HIDUP PADA HAKIKATNYA ADALAH PERMASALAHAN EKOLOGI. INTI PERMASALAHAN LINGKUNGAN HIDUP IALAH HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGANNYA.
SERING KALI MANUSIA DIKATAKAN SEBAGAI HUMAN ECOLOGY, BAHWA MANUSIA HIDUP DALAM HUBUNGAN TIMBALBALIK DENGAN LINGKUNGANNYA DAN MASYARAKAT LINGKUNGAN DI MANA MANUSIA HIDUP.
• APABILA HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGANNYA BERJALAN SECARA TERATUR DAN MERUPAKAN SATU KESATUAN YANG SALING MEMPENGARUHI, MAKA TERBENTUKLAH SUATU EKOLOGI YANG LAZIM DISEBUT EKOSISTEM. KARENA LINGKUNGAN TERDIRI OLEH KOMPONEN HIDUP DAN TAK HIDUP YANG BERINTERAKSI SECARA TERATUR SEBAGAI SUATU KESATUAN DAN SALING MEMENGARUHI SATU SAMA LAIN (INTERDEPENCENCE)
• DIANTARA KOMPONEN KOMPONEN EKOSISTEM, MANUSIA ADALAH KOMPONEN YANG PALING DOMINAN DAN MENENTUKAN.
• MANUSIA DENGAN SEGALA KELEBIHANNYA MEMPUNYAI KEMAMPUAN YANG BESAR UNTUK MENGUBAH ATAU MEMENGARUHI LINGKUNGAN, HANYA LINGKUNGAN MEMPUNYAI KEMAMPUAN YANG TERBATAS UNTUK MENERIMA PERUBAHAN PERUBAHAN TERSEBUT.
• BATAS KEMAMPUAN LINGKUNGAN UNTUK MENERIMA PERUBAHAN INILAH YANG DINAMAKAN DENGAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN.
• SECARA YURIDIS KONSEP DAYA DUKUNG LINGKUNGAN HIDUP DIRUMUSKAN DALAM PASAL 1 ANGKA 7 UUPPLH-2009 BAHWA DAYA DUKUNG LINGKUNGAN HIDUP ADALAH KEMAMPUAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK MENDUKUNG PERIKEHIDUPAN MANUSIA, MAKHLUK HIDUP LAIN, DAN KESEIMBANGAN ANTARKEDUANYA.
• PELANGGARAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN MENGAKIBATKAN EKOSISTEM DALAM LINGKUNGAN TERSEBUT TIDAK SEIMBANG. KETIDAKSEIMBANGAN EKOSISTEM INILAH YANG PADA AKHIRNYA MENIMBULKAN PENCEMARAN LINGKUNGAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN DENGAN SEGALA DAMPAK LANJUTANNYA, SEPERTI BANJIR, TANAH LONGSOR, KEKERINGAN, DAN LAIN LAIN.