PERAN GURU BK DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI KARAKTER PESERTA DIDIK DI SMP NEGERI 1 BATANG ANAI
Yovita Ulfa1, Joni Adison2, Hafiz Hidayat2
1Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat
2Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]
ABSTRACT
This research is motivated by the lack of teachers BK role model in instilling the values of characters, the presence of students who are not ethical while in school. This study aims to describe 1) the role of teachers BK to be an effective companion in instilling the values of the character of learners, 2) the role of teachers BK be a model in instilling the values of the character of learners, 3) the role of teachers BK become an ethical mentor in instilling students' character values. This type of research belongs to quantitative descriptive research. The study population is all students in SMP Negeri 1 Batang Anai with the number of 854 students. The study used stratified random sampling, the number of samples was 91 students. Intrument used in this research is a questionnaire. As for data analysis using the technique percentage. The results of this study found the role of BK teachers in instilling the character values of learners in SMP Negeri 1 Batang Anai are as follows: 1) The role of teachers to be an effective compassion in embed the character values of learners categorized good, 2) the role of teachers BK become a model in instilling the character values of learners categorized very well, 3) the role of teachers BK to be an ethical mentor in instilling the values of the character of learners categorized very well. From the research results recommended to the teacher BK in order to maintain its role in inculcating the character values of learners.
Keywords : Teacher , Character, Student
PENDAHULUAN
Manusia adalah sasaran pendidikan yaitu bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuh kembangkan potensi- potensi kemanusiaannya. Pendidikan merupakan aset yang sangat berharga bagi individu maupun masyarakat.
Pendidikan bagitu penting dalam menyiapkan manusia untuk mampu
mempertahankan dan
mengembangkan kualitas kehidupan bangsa yang bermartabat.
Pendidikan sebagai salah satu bentuk menumbuh kembangkan manusia baik aspek rohani dan jasmaninya, memiliki tujuan yang luhur seperti yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional. Tujuan
1
pendidikan sebagaimana diketahui bersama pada dasarnya menginginkan adanya perubahan pada diri setiap peserta didik baik dari segi intelektual, emosional maupun spiritual.Sebagaimana yang tercantum Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Fungsi pendidikan adalah menyiapkan peserta didik.
“Menyiapkan” diartikan bahwa peserta didik pada hakikatnya belum siap, tetapi perlu disiapkan dan sedang menyiapkan dirinya sendiri. Hal ini menunjuk pada proses yang berlangsung sebelum peserta didik itu siap untuk terjun kekancah kehidupan yang nyata.
Penyiapan ini dikaitkan dengan
kedudukan peserta didik sebagai calon warga negara yang baik, warga bangsa dan calon pembentuk keluarga baru serta mengembang tugas dan pekerjaan kelak dikemudian hari (Hamalik, 2008:2).
Peserta didik merupakan pribadi- pribadi yang sedang berada dalam proses berkembang kearah kematangan. Masing-masing peserta didik memiliki karakteristik pribadi yang unik. Menurut Prayitno dan Manullang (2010:38) “Karakter adalah sifat pribadi yang relatif stabil pada diri individu yang menjadi landasan bagi penampilan perilaku dalam standar nilai dan norma yang tinggi. Relatif stabil suatu kondisi yang apabila telah terbentuk akan tidak mudah diubah. Landasan kekuatan yang pengaruhnya sangat besar atau dominan dan menyeluruh terhadap hal-hal yang berkaitan langsung dengan kekuatan yang dimaksud.
Penampilan perilaku yang dimaksud adalah aktivitas individu atau kelompok dalam bidang dan wilayah (setting) kehidupan dan standar nilai atau norma yang dimaksud adalah kondisi yang
mengacu kepada kaidah-kaidah agama, ilmu teknologi, hukum, adat, dan kebiasaan yang tercermin dalam perilaku sehari-hari dengan indikator iman dan taqwa, pengendalian diri, disiplin, kerja keras, ulet, bertanggung jawab, jujur, membela kebenaran, kepatutan, kesopanan dan kesantunan, ketaatan pada peraturan, loyal, demokratis, sikap kebersamaan, musyawarah, gotong royong toleran, tertib, damai dan anti kekerasan, hemat, konsisten.
Menurut Suyanto 2010 (Wibowo, 2012:33) “Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang dibuat.
Menurut Lickona 1992 (Wibowo, 2012:32) karakter merupakan sifat alami seseorang dalam memproses situasi secara bermoral. Sifat alami itu dimanifustasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab,
menghormati orang lain dan karakter yang mulia lainnya. Pengertian yang dikemukakan oleh Lickona ini mirip yang diungkapkan oleh Aristoteles bahwa karakter itu dekat kaitanya dengan “habit” atau kebiasaan yang terus menerus dilakukan. Lebih jauh Lickona menekankan tiga hal dalam mendidik karakter, yang dirumuskan dengan indah: knowing, loving, and acting the good. Menurutnya keberhasilan pendidikan dimulai dengan pemahaman karakter yang baik, mencintainya, dan pelaksanaan atau peneladanan atas karakter baik itu.
Menurut Kesuma (2011:4)
”Pendidikan berkarakter merupakan sebuah istilah yang semakin hari semakin mendapatkan pengakuan dari masyarakat Indonesia saat ini terlebih dengan dirasakannya berbagai ketimpangan hasil pendidikan dilihat dari lulusan pendidikan formal saat ini”. Definisi lainnya dikemukakan oleh Aqib (2012:36) karakter adalah nilai- nilai yang melandasi perilaku manusia berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum/konstitusi, adat istiadat dan estetika”. Dalam arti
terdapat perbedaan individual diantara mereka, seperti menyangkut aspek kecerdasan, emosi, sosiabilitas, sikap, kebiasaan, dan kemampuan penyesuaian diri. Dalam dunia pendidikan, peserta didik pun tidak jarang mengalami masalah-masalah, sehingga tidak jarang dari peserta didik yang menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat.
Lebih lanjut Mulyasa (2012:3) menyatakan “Pendidikan karakter memiliki makna yang tinggi dari pada pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar dan salah, tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan tentang hal-hal baik dalam kehidupan, sehingga peserta didik memiliki kesadaran, kepekaan dan pemahaman yang tinggi serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebijakan dalam kehidupan sehari-hari”. Ryan dan Bohlin (Majid, 2011:11) mengemukakan “Karakter mengandung tiga unsur pokok yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving
the good) dan melakukan kebaikan (doing the good )”.
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan berkarakter merupakan sebuah istilah yang semakin hari semakin mendapatkan pengakuan dari masyarakat Indonesia saat ini terlebih dengan dirasakannya berbagai ketimpangan hasil pendidikan dilihat dari lulusan pendidikan formal saat ini dan pendidikan karakter adalah suatu sikap yang dimiliki seseorang yang menjadi suatu ciri khas orang tersebut yang biasanya terbentuk dengan sendirinya atau dipengaruhi oleh lingkungan di sekitar atau orang-orang disekitarnya.
Menurut Lickona (2012:112) menanamkan nilai-nilai dan karakter pada peserta didik dapat dilakukan guru BK dengan cara sebagai berikut:
1. Guru menjadi penyayang yang efektif, menyayangi dan menghormati, peserta didik membantu meraih sukses di
sekolah, membangun
kepercayaan diri mereka yang membuat mereka mengerti apa
itu karakter dengan melihat cara guru memperlakukan mereka dengan etika yang baik.
2. Guru menjadi model, yaitu orang-orang yang beretika yang menunjukan guru yang berkarakter, baik di dalam maupun di luar kelas serta dapat memberikan contoh dalam hal- hal yang berkaitan dengan karakter beserta alasannya, yaitu dengan cara menunjukan etikanya dengan bertindak di sekolah dan di lingkungannya.
3. Guru dapat menjadi mentor yang beretik, memberikan intruksi moral dan bimbingan melalui penjelasan, diskusi kelas, bercerita, pemberian motivasi dan pemberian umpan balik.
Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar saja yang mentransfer pengetahuan dan keterampilan, melainkan guru menjadi penyayang yang efektif, menyayangi dan menghormati peserta didik, menjadi mentor dan menjadi fasilitator yang beretika terhadap peserta didiknya. Guru juga harus mampu menjadi fasilitator dan pembimbing bagi
peserta didik. Dengan demikian guru dapat menanamkan nilai nilai karakter peserta didik dalam mengembangkan pengetahuan, nilai- nilai karakter, keterampilan, dan sikap-sikap positif dalam menghadapi segala persoalan nyata kehidupan.
Berkenaan dengan masalah- masalah yang dihadapi oleh peserta didik, maka perlu adanya menanamkan nilai-nilai karakter oleh guru. Disini, guru memiliki perananan yang sangat penting karena guru merupakan sumber yang sangat menguasai informasi tentang keadaan peserta didik atau peserta didik. Oleh karena itu menanamkan nilai nilai karakter di sekolah sangat dibutuhkan, karena banyaknya masalah peserta didik di sekolah, besarnya kebutuhan peserta didik akan pengarahan diri dalam memilih.
Dunia pendidikan saat ini digoncang dengan berbagai peristiwa yang muncul memberikan pengaruh pada kehidupan peserta didik saat ini. Terdapat beberapa faktor intern dan ekstern yang dialami dan dihayati oleh peserta
didik dan hal ini akan sangat berpengaruh terhadap proses belajar.
Permasalahan belajar peserta didik terjadi karena banyaknya faktor yang berpengaruh terhadap mental peserta didik. Guru diharapkan dapat menciptakan lingkungan sosial yang didalamnya mewujud suasana keakraban, penerimaan, gembira, rukun dan damai serta memanfaatkan lingkungan sosial sebagai sumber belajar bukan sebaliknya berupa suasana perselisihan, bersaing tidak sehat, salah menyalahkan, dan cerai berai.
Dengan demikian guru merupakan sosok yang paling penting yang dapat mengatasi permasalahan peserta didik.
Berdasarkan observasi awal di SMPN 1 Batang Anai pada tanggal 18 Oktober 2016 sampai 3 Desember penulis melihat pada umumnya kurangnya rasa hormat dan santun peserta didik kepada guru BK, disamping itu juga banyaknya peserta didik yang mempunyai karakter yang tidak seseuai dengan norma-norma yang berlaku sehingga membuat peserta
didik kurang serius dalam mengikuti proses belajar mengajar.
Berdasarkan wawancara kepada guru BK pada hari Jumat tanggal 23
september 2016 yang
penulislaksanakan di SMPN 1 Batang Anai, penulis menemukan masalah yang sering terlihat di lingkungan sekolah seperti adanya guru BK yang tidak menyayangi peserta didiknya, adanya guru yang tidak dapat dijadikan model di dalam kelas, adanya peserta didik yang tidak dapat dijadikan model di luar kelas, adanya guru yang tidak dapat memberikan motivasi terhadap peserta didik, adanya guru yang tidak dapat menjadi contoh bagi peserta didiknya, tidak penyanyang terhadap teman, memiliki karakter yang tidak sesuai dengan norma, dan tidak beretika saat berada disekolah.
Berdasarkan penjelasan di atas penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang “Peran Guru BK dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Peserta Didik SMP Negeri 1 Batang Anai
Sesuai dengan identifikasi masalah di atas, maka dalam
penelitian ini peneliti membatasi masalah pada:
1. Peran guru BK menjadi penyayang yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik.
2. Peran guru BK menjadi model dalam menanamkan nialai-nilai karakter peserta didik.
3. Peran guru BK menjadi mentor yang beretika dalam menanamkan nialai-nilai karakter peserta didik.
Adapun yang menjadi tujuan pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan:
1. Peran guru BK menjadi penyayang yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik.
2. Peran guru BK menjadi model dan menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik.
3. Peran guru BK menjadi mentor yang beretika dalam menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif yaitu pendekatan yang mungkin
dilakukan pencatatan dan analisa data hasil penelitian secara ilmiah dan menganalisa data menggunakan perhitungan statistik. Menurut Lehman (Yusuf, 2005:83)
“Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan mendeskripsikan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta- fakta dan sifat populasi tertentu, atau menggambarkan fenomena secara detail”.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan memperoleh gambaran
“Adanya Peran Guru BK dalam Menanamkan Nilai-nilai Karakter Peserta Didik di SMP Negeri 1 Batang Anai”.Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik SMP Negeri 1 Batang berjumlah 854 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik stratified random sampling. Untuk menentukan kelas yang akan dijadikan sampel, maka peneliti mengacak seluruh kelas.
Teknik analisis data yang digunakan adalah presentase untuk mengungkapkan aspek yang diteliti.
Rumus yang digunakan adalah teknik analisis presentase yang
dikemukakan oleh Yusuf (2005:365) sebagai berikut :
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis data pada tabel di atas dapat diketahui peran guru BK dalam menanamkan nilai-nilai karakter di SMP Negeri 1 Batang Anai yaitu diketahui bahwa, tidak ada peserta didik yang berada pada kategori sangat kurang baik dan kurang baik, selanjutnya 3 peserta didik dengan presentase (3%) menyatakan bahwa guru BK cukup baik dalam menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik, selanjutnya 27 peserta didik dengan presentase (30%) menyatakan bahwa guru BK baik dalam menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik dan 61 peserta didik dengan presentase (67%) menyatakan bahwa guru BK sangat baik dalam menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik. Deskripsi hasil pengolahan data dilihat dari indikator sebagai berikut:
1. Peran Guru BK Menjadi Penyayang yang Efektif dalam
Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Pesertadidik.
Berdasarkan hasil analisis data pada table di atas dapat diketahui peran guru BK sebagai penyayang yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik yaitu diketahui bahwa, tidak ada peserta didik yang berada pada kategori sangat kurang baik dan kurang baik, selanjutnya 5 peserta didik dengan presentase (5%) menyatakan bahwa guru BK cukup baik dalam menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik, selanjutnya 70 peserta didik dengan presentase (77%) menyatakan bahwa guru BK baik dalam menanamkan nilai-nilai karakter dan 16 peserta didik dengan presentase (18%) menyatakan bahwa guru BK sangat baik dalam menanamkan nilai-nilai karakter.
2. Peran Guru BK Menjadi Model dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter peserta Didik
Berdasarkan hasil analisis data pada tabel di atas dapat diketahui peran guru BK menjadi model dalam menanamkan nilai-
nilai karakter peserta didik yaitu diketahui bahwa, tidak ada peserta didik yang berada pada kategori sangat kurang baik dan kurang baik, selanjutnya 2 peserta didik dengan presentase (2%) menyatakan bahwa guru BK cukup baik dalam menanamkan nilai-nilaikarakterpesertadidik, selanjutnya 20 pesertadidikdengan presentase
(22%)menyatakanbahwa guru BK banyak dalam menanamkan nilai- nilai karakter peserta didik dan 69 peserta didik dengan presentase (76%) menyatakan bahwa guru BK sangat baik dalam menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik.
3. Peran Guru BK Menjadi Mentor
yang Beretika dalam
Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Peserta didik
Berdasarkan hasil analisis data pada table dapat diketahui peran guru BK menjadi mentor yang beretika dalam menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik diketahui, tidak ada peserta didik yang berada pada kategori sangat kurang baik dan kurang baik,
selanjutnya 3 peserta didik dengan presentase (3%) menyatakan bahwa guru BK cukup baik dalam menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik, selanjutnya 19 peserta didik dengan presentase (21%) menyatakan bahwa guru BK baik dalam menanamkan nilai-nilai karakter dan 69 peserta didik dengan presentase (76%) menyatakan bahwa guru BK sangat baik dalam menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik.
Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa peran guru BK dalam menanamkan nilai- nilai karakter peserta didik diketahui bahwa 61 peserta didik dengan presentase (67%) menyatakan bahwa guru baik dalam menanamkan nilai- nilai karakter peserta didik. Hasil ini menunjukan bahwa guru BK baik dalam menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik di SMP Negeri 1 Batang Anai. Menurut Lickona (2012:112) menanamkan nilai-nilai dan karakter pada peserta didik dapat dilakukan guru BK dengan cara sebagai berikut:
1. Guru menjadipenyayang yang efektif, menyayangi dan menghormati, peserta didik membantu meraih sukses di sekolah, membangun kepercayaan diri mereka yang membuat mereka mengerti apa itu karakter dengan melihat cara guru memperlakukan mereka dengan etika yang baik.
2. Guru menjadi model, yaitu orang- orang yang beretika yang menunjukan guru yang berkarakter, baik di dalam maupun di luar kelas serta dapat memberikan contoh dalam hal-hal yang berkaitan dengan karakter beserta alasannya, yaitu dengan cara menunjukan etikanya dengan bertindak di sekolah dan di lingkungannya.
3. Guru dapat menjadi mentor yang beretik, memberikan intruksi moral dan bimbingan melalui penjelasan, diskusi kelas, bercerita, pemberian motivasi dan pemberian umpan balik.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data dan pembahasan dapat diambil kesimpulan mengenai peran guru BK
dalam menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik yaitu:
1. Peran guru BK menjadi penyayang yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter termasuk pada kriteria baik.
2. Peran guru Bk menjadi model dalam menanamkan nilai-nilai karakter termasuk pada kriteria sangat baik.
3. Peran guru Bk menjadi mentor yang beretika dalam menanamkan nilai-nilai karakter termasuk pada kriteria sangat baik. yang berbedadenganvariabelpenelitiani ni.
KEPUSTAKAAN
Aqib, Zainal, 2012. Pendidikan Karakter di Sekolah. Bandung:
Yrama Widya
Kesuma, Dharma. 2011. Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Lickona, Thomas. 2012. Education for Character. Jakarta: Bumi Angkasa.
Majid, Abdul. 2011. Pendidikan Karakter Sperpektif Islam.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyasa. 2012. Manajemen
Pendidikan Karakter. Jakarta:
Bumi Aksara.
Oemar Hamalik. 1992. Psikologi MengajarMengajar.Bandung:
Sinar Baru
Prayitno dan Manullang, Belferik.
2010.Pendidikan Karakter Dalam MembangunBangsa.
Padang: UNP Press.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003.
Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Depdikbud:
Jakarta.
Wibowo, Agus. 2012. Pendidikan Karakter. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Yusuf, A. Muri. 2005. Metodologi Penelitian. Padang: UNP Press