Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 1 AKUNTABILITAS KINERJA TAHUN 2013
I. Indikator Kinerja
Indikator kinerja merupakan unsur penting dalam akuntabilitas kinerja dalam mencapai sasaran yang telah ditentukan. Adapun indikator kinerja yang digunakan dalam rencana strategik, adalah sebagai berikut :
NO SASARAN INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)
1. Meningkatnya pertumbuhan sektor industri di Provinsi Kalimantan Timur
1. Pertumbuhan IKM
2. Pertumbuhan Tenaga Kerja yang terserap 3. Pertumbuhan Investasi IKM
4. Pertumbuhan Produksi IKM 5. Pertumbuhan Industri Besar
6. Pertumbuhan Tenaga Kerja yang terserap 7. Pertumbuhan Investasi IB
8. Pertumbuhan Produksi IB 2. Meningkatnya diversifikasi produk
IKM di Provinsi Kalimantan Timur
1. Jumlah desain produk hasil industri 2. Persentase Produk UKM yang laku terjual
melalui promosi/ pameran 3. Berkembangnya sistem perdagangan
dalam negeri secara efisien di Provinsi Kalimantan Timur
1. Perkembangan/Kecukupan Barang Pokok Masyarakat dan Barang Strategis
2. Rata-rata koefisien variasi harga bahan pokok utama
3. Ratio perbedaan tingkat harga bahan pokok Provinsi dengan Kab/Kota
4. Ratio perbedaan tingkat harga bahan pokok Provinsi dengan Provinsi
5. Pertumbuhan SIUP dan TDP 4. Meningkatnya kecintaan terhadap
penggunaan produk dalam negeri di Provinsi Kalimantan Timur
1. Persentase penurunan impor bahan pokok
5. Meningkatnya perlindungan konsumen dan pengawasan perdagangan terhadap produk ekspor maupun impor
1. Persentase kasus kerugian konsumen yang ditangani
2. Persentase produk/barang beredar yang telah memenuhi syarat
3. Jumlah jenis produk/barang beredar yang masih diawasi di pasar/pertokoan
4. Jumlah pasar yang sudah tertib ukur
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 2
NO SASARAN INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)
6. Berkembangnya sistem perdagangan luar negeri (ekspor dan impor) secara efisien di Provinsi Kalimantan Timur
1. Peningkatan ekspor non migas 2. Peningkatan ekspor non migas yang
menggunakan sistem preferensi SKA sebagai sarana peningkatan daya saing 3. Jumlah pelaku usaha yang menjadi
eksportir/importir baru
4. Jumlah komoditi ekspor/impor yang memenuhi syarat
7. Meningkatnya pertumbuhan dan kualitas koperasi dan UMKM di Provinsi Kalimantan Timur
1. Pertumbuhan koperasi
2. Pertumbuhan anggota koperasi 3. Pertumbuhan volume usaha koperasi 4. Peningkatan koperasi yang melaksanakan
RAT
5. Peningkatan koperasi aktif 6. Peningkatan total SHU 7. Jumlah pelaku UMKM Baru
8. Pertumbuhan volume usaha UMKM 8. Meningkatnya kapasitas SDM
Aparatur Pemerintahan
1. Jumlah Aparatur Perindagkop & UMKM yang telah mengikuti Diklat Teknis, Fungsional dan Struktural berkisar 20-30%
dari jumlah keseluruhan aparatur Perindagkop & UMKM
2. Persentase penurunan pelanggaran disiplin 9. Terpenuhinya kebutuhan sarana dan
prasarana
1. Persentase kecukupan sarana operasasional perkantoran yang diperlukan
2. Jumlah Jaringan Informasi dan Publikasi Perkembangan Indagkop & UMKM yang terbangun dan terupdate
10. Meningkatnya Mekanisme Kerja Internal Organisasi
1. Persentase pelaksanaan tugas fungsi yg telah didukung oleh SOP
2. Jumlah dokumen perencanaan yang disusun 3. Jumlah dokumen pelaporan capaian kinerja
yang telah disusun dan terukur
4. Jumlah dokumen monitoring dan evaluasi yang telah disusun
5. Jumlah Sistem Informasi yang terbangun dan digunakan
11. Keterpaduan Perencanaan Program Pengembangan Sektor Indagkop &
UMKM Kab/Kota Dengan Provinsi
1. Persentase Kab/Kota yang telah memiliki kebijakan yang selaras dengan Provinsi 2. Persentase Kab/Kota yang telah memiliki
program yang selaras dengan Provinsi
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 3 II. Penetapan Kinerja Tahun 2013
Program dan kegiatan tahun 2013 dituangkan pada Penetapan Kinerja Tahun 2013 yang dananya bersumber dari APBD Provinsi dan APBN. APBD Provinsi terdapat 36 (tiga puluh enam) program, yang terdiri dari 9 (sembilan) program pada Urusan Wajib Koperasi & UMKM, 12 (dua belas) program pada Urusan Pilihan Perindustrian dan 15 (lima belas) program pada Urusan Pilihan Perdagangan, sedangkan APBN terdapat 5 (lima) program. Adapun kegiatan yang dananya bersumber dari APBD dan APBN secara garis besar adalah sebagai berikut :
Program Pembangunan Sektor Industri, Perdagangan, Koperasi dan UMKM berasal dari APBD yang meliputi :
Urusan Wajib Koperasi & UMKM
1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran dengan dana sebesar Rp. 2.470.200.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Penyediaan Jasa Surat Menyurat
b. Kegiatan Penyediaan Jasa Komunikasi, Sumber Daya Air dan Listrik c. Kegiatan Penyediaan Jasa Peralatan dan Perlengkapan Kantor
d. Kegiatan Penyediaan Jasa Pemeliharaan dan Perizinan Kendaraan Dinas/Operasional.
e. Kegiatan Penyediaan Jasa Kebersihan Kantor f. Kegiatan Penyediaan Alat Tulis Kantor
g. Kegiatan Penyediaan Barang Cetakan dan Penggandaan
h. Kegiatan Penyediaan Komponen Instalasi Listrik/Penerangan Bangunan Kantor
i. Kegiatan Penyediaan Bahan Bacaan dan Peraturan Perundang- undangan
j. Kegiatan Penyediaan Makanan dan Minuman
k. Kegiatan Rapat-rapat Koordinasi, Pembinaan dan Pengawasan ke Luar Daerah
l. Kegiatan Rapat-rapat Koordinasi, Pembinaan dan Pengawasan ke Dalam Daerah
m. Kegiatan Pengamanan Aset, Kantor dan Rumah Jabatan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 4 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur dengan dana
sebesar Rp. 1.130.300.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut : a. Kegiatan Pengadaan Peralatan Gedung Kantor
b. Kegiatan Pengadaan Meubeleur
c. Kegiatan Pemeliharaan Rutin/Berkala Gedung Kantor
d. Kegiatan Pemeliharaan Rutin/Berkala Kendaraan Dinas/Operasional e. Kegiatan Pemeliharaan Rutin/Berkala Peralatan Gedung Kantor
3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur dengan dana sebesar Rp. 172.700.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Pengadaan Pakaian Dinas beserta perlengkapannya
4. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur dengan dana sebesar Rp 408.800.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Formal b. Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan
5. Program Penciptaan Iklim Usaha Kecil Menengah yang Kompetitif dengan dana sebesar Rp. 4.136.000.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut a. Kegiatan Perencanaan, koordinasi, dan pengembangan Usaha Kecil
Menengah
6. Program Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif UKM dengan dana sebesar Rp. 3.196.306.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Fasilitasi Pengembangan Sarana Promosi Hasil Produksi b. Kegiatan Pelatihan Manajemen Pengelolaan Koperasi/KUD
c. Kegiatan Penyelenggaraan Pelatihan Kewirausahaan
7. Program Pengembangan Sistem Pendukung Usaha Bagi UMKM dengan dana sebesar Rp. 3.066.000.000,- , yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 5 a. Kegiatan Koordinasi Pemanfaatan Fasilitas Pemerintah untuk Usaha
Kecil Menengah dan Koperasi
b. Kegiatan Penyelenggaraan Promosi Produk Usaha Mikro kecil Menengah
2. Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi dengan dana sebesar Rp 3.645.000.000,- , yang meliputi kegiatan sebagai berikut : a. Kegiatan Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan dan Program
Pembangunan Koperasi.
3. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah dengan dana sebesar Rp 790.800.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Peningkatan Manajemen Pengelolaan Keuangan Daerah
Urusan Pilihan Perindustrian
1. Program Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi dengan dana sebesar Rp 3.673.590.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut : a. Kegiatan Peningkatan Sistem Inovasi Teknologi Industri
2. Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah dengan dana sebesar Rp 2.367.360.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut : a. Kegiatan Fasilitasi bagi Industri Kecil dan Menengah terhadap
Pemanfaatan Sumber Daya.
b. Kegiatan Fasilitasi Kerjasama Kemitraan Industri Mikro, Kecil dan Menengah dengan Swasta.
3. Program Penataan Struktur Industri dengan dana sebesar Rp 1.117.000.000,- , yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Kebijakan Keterkaitan Industri Hulu Hilir
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 6 4. Program Pengembangan Sentra-sentra Industri Potensial dengan dana
sebesar Rp 263.250.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut : a. Kegiatan Penyediaan Sarana Informasi yang dapat diakses masyarakat
UPTD P3UKM
1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran dengan dana sebesar Rp. 1.090.800.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Penyediaan Jasa Surat Menyurat
b. Kegiatan Penyediaan Jasa Komunikasi, Sumber Daya Air dan Listrik c. Kegiatan Penyediaan Jasa Peralatan dan Perlengkapan Kantor
d. Kegiatan Penyediaan Jasa Pemeliharaan dan Perizinan Kendaraan Dinas/Operasional
a. Kegiatan Penyediaan Jasa Kebersihan Kantor b. Kegiatan Penyediaan Alat Tulis Kantor
c. Kegiatan Penyediaan Barang Cetakan dan Penggandaan
d. Kegiatan Penyediaan Komponen Instalasi Listrik/Penerangan Bangunan Kantor
e. Kegiatan Penyediaan Bahan Bacaan dan Peraturan Perundang- undangan
f. Kegiatan Penyediaan Makanan dan Minuman
g. Kegiatan Rapat-rapat Koordinasi, Pembinaan dan Pengawasan ke Luar Daerah
h. Kegiatan Rapat-rapat Koordinasi, Pembinaan dan Pengawasan ke Dalam Daerah
i. Kegiatan Penyediaan Jasa Tenaga Tertentu
2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur dengan dana sebesar Rp. 317.000.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
i. a. Kegiatan Pengadaan Perlengkapan Gedung Kantor
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 7
3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur dengan dana sebesar Rp. 36.750.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Pengadaan Pakaian Dinas beserta perlengkapannya
4. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur dengan dana sebesar Rp 50.000.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Formal
5. Program Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi dengan dana sebesar Rp 738.050.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut : a. Kegiatan Pengembangan Sistem Inovasi Teknologi Industri
6. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah dengan dana sebesar Rp 108.000.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Peningkatan Manajemen Pengelolaan Keuangan Daerah
7. Program Peningkatan Kemampuan Teknologi Industri dengan dana sebesar Rp 469.500.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Pengembangan dan Pelayanan Teknologi Industri
8. Program Pengembangan Sentra-sentra Industri Potensial dengan dana sebesar Rp 789.900.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Penyediaan Sarana Informasi yang dapat diakses masyarakat
Urusan Pilihan Perdagangan
1. Program Perlindungan Konsumen dan Pengamanan Perdagangan dengan dana sebesar Rp 216.710.000,- yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Peningkatan Pengawasan Peredaran Barang dan Jasa 14 Kab/Kota
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 8 2. Program Peningkatan Kerjasama Perdagangan Internasional dengan dana
sebesar Rp 1.243.635.100,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut : a. Kegiatan Koordinasi pengelolaan isu-isu perdagangan internasional Kab/Kota, Jakarta, Malaysia, Belanda.
3. Program Peningkatan dan Pengembangan Ekspor dengan dana sebesar Rp 680.764.900,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Pengembangan Informasi Peluang Pasar Perdagangan Luar Negeri.
b. Kegiatan Koordinasi Program Pengembangan Ekspor dengan instansi terkait/asosiasi/pengusaha Kab/Kota
4. Program Peningkatan Efisiensi Perdagangan Dalam Negeri dengan dana sebesar Rp 17.651.890.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut : a. Kegiatan Fasilitasi Kemudahan Perijinan Pengembangan Usaha.
b. Kegiatan Pengembangan Pasar dan Distribusi Barang/Produk..
c. Kegiatan Peningkatan Sistem dan Jaringan Informasi Perdagangan 14 Kab/Kota Se Kaltim.
d. Kegiatan Peningkatan Kontiunitas Pelaporan dan Pengolahan Data Statistik SIUP dan TDP Kab/Kota.
UPTD METROLOGI
1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran dengan dana sebesar Rp. 917.800.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Penyediaan Jasa Surat Menyurat
b. Kegiatan Penyediaan Jasa Komunikasi, Sumber Daya Air dan Listrik c. Kegiatan Penyediaan Jasa Peralatan dan Perlengkapan Kantor
d. Kegiatan Penyediaan Jasa Pemeliharaan dan Perizinan Kendaraan Dinas/Operasional
b. Kegiatan Penyediaan Jasa Kebersihan Kantor c. Kegiatan Penyediaan Alat Tulis Kantor
d. Kegiatan Penyediaan Barang Cetakan dan Penggandaan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 9 e. Kegiatan Penyediaan Komponen Instalasi Listrik/Penerangan Bangunan
Kantor
i. Kegiatan Penyediaan Bahan Bacaan dan Peraturan Perundang- undangan
j. Kegiatan Penyediaan Makanan dan Minuman
k. Kegiatan Rapat-rapat Koordinasi dan Konsultasi ke Luar Daerah
l. Kegiatan Rapat-rapat Koordinasi, Pembinaan dan Pengawasan ke Dalam Daerah
m. Kegiatan Pengamanan Aset, Kantor dan Rumah Jabatan
2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur dengan dana sebesar Rp. 57.016.600.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut : a. Pembangunan Gedung Kantor
b. Pengadaan Perlengkapan Gedung Kantor
3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur dengan dana sebesar Rp. 58.400.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Pengadaan Pakaian Dinas beserta perlengkapannya
3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur dengan dana sebesar Rp. 380.000.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut : a. Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Formal
4. Program Perlindungan Konsumen dan Pengamanan Perdagangan dengan dana sebesar Rp 1.411.200.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Operasionalisasi dan Pengembangan UPT Kemetrologian
5. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah dengan dana sebesar Rp 246.000.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Peningkatan Manajemen Pengelolaan Keuangan Daerah
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 10 UPTD BPSMB
1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran dengan dana sebesar Rp. 668.200.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Penyediaan Jasa Surat Menyurat
b. Kegiatan Penyediaan Jasa Komunikasi, Sumber Daya Air dan Listrik c. Kegiatan Penyediaan Jasa Peralatan dan Perlengkapan Kantor
d. Kegiatan Penyediaan Jasa Pemeliharaan dan Perizinan Kendaraan Dinas/Operasional
e. Kegiatan Penyediaan Jasa Kebersihan Kantor f. Kegiatan Penyediaan Alat Tulis Kantor
g. Kegiatan Penyediaan Barang Cetakan dan Penggandaan
h. Kegiatan Penyediaan Komponen Instalasi Listrik/Penerangan Bangunan Kantor
i. Kegiatan Penyediaan Bahan Bacaan dan Peraturan Perundang- undangan
j. Kegiatan Penyediaan Makanan dan Minuman
k. Kegiatan Rapat-rapat Koordinasi dan Konsultasi ke Luar Daerah
l. Kegiatan Rapat-rapat Koordinasi, Pembinaan dan Pengawasan ke Dalam Daerah
m. Kegiatan Penyediaan Jasa Pegawai Non PNS
2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur dengan dana sebesar Rp. 3.201.600.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut : a. Kegiatan Pembangunan Gedung Kantor
b. Kegiatan Pengadaan Perlengkapan Gedung Kantor c. Kegiatan Pengadaan Mebeleur
3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur dengan dana sebesar Rp. 41.400.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Pengadaan Pakaian Dinas beserta perlengkapannya
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 11 4. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur dengan dana
sebesar Rp 80.000.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut : a. Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Formal
5. Program Peningkatan dan Pengembangan Ekspor dengan dana sebesar Rp 908.400.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Peningkatan Kapasitas Laboratorium Pengujian Mutu Barang Ekspor dan Impor
6. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah dengan dana sebesar Rp 140.400.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan Peningkatan Manajemen Pengelolaan Keuangan Daerah
Program Pembangunan Sektor Industri, Perdagangan, Koperasi dan UMKM berasal dari APBN yang meliputi :
1. Kementerian Negara Koperasi & UKM RI
Program Dukungan Pemberdayaan KUKM di Daerah dengan dana sebesar Rp. 3.701.291.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
1) Kegiatan Dokumen Perencanaan Program Dekonsentrasi 2) Kegiatan Promosi dan Misi Dagang
3) Kegiatan Monitoring dan Evaluasi 4) Kegiatan Sosialisasi
2. Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian RI
Program Penyebaran dan Pengembangan Industri Kecil dan Menengah Tahun 2013 dengan dana sebesar Rp. 9.086.550.000,- yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
1) Kegiatan Administrasi Kegiatan
2) Kegiatan Pengembangan Klaster IKM Wilayah 3) Kegiatan Pengembangan Sentra IKM melalui OVOP
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 12 4) Kegiatan Penumbuhan dan Pengembangan IKM melalui Kewirausahaan 5) Kegiatan Tenaga Penyuluh Lapangan
6) Kegiatan Pendukung
3. Direktorat Jenderal Industri Agro Kimia Kementerian Perindustrian RI
Program Klaster Industri berbasis Pertanian Oleochemical dengan dana sebesar Rp. 500.000.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
1) Kegiatan Dukungan Pengembangan Klaster Industri Berbasis MSM
4. Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI
Program Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri Daerah Kaltim dengan dana sebesar Rp. 1.107.099.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut : 1) Kegiatan Pasar Murah
2) Kegiatan Pameran dan Misi Dagang
3) Kegiatan Penyampaian Data dan Infomasi Perdagangan 4) Kegiatan Pemberdayaan Konsumen
5) Kegiatan Pengawasan Kemetrologian 6) Kegiatan Pengawasan Barang dan Jasa
7) Kegiatan Layanan Manajemen P2DND Penunjang Kegiatan Dekonsentrasi
8) Kegiatan Efisiensi
5. Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan RI
Program Peningkatan Perdagangan Luar Negeri dengan dana sebesar Rp 1.235.160.000,-, yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
1) Kegiatan Laporan Pemantauan dan Evaluasi Kebijakan PLN
2) Kegiatan Laporan Koordinasi Peningkatan Investasi dan Peningkatan Ekspor Daerah (PEPIDA)
3) Kegiatan Peserta Pelatihan Fasilitasi Perdagangan Luar Negeri
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 13 4) Kegiatan SDM Penguji dan Sertifikasi Mutu Barang
5) Kegiatan Layanan Penerbitan API Online
6) Kegiatan Layanan Penerbitan dan Pengelola SKA
7) Kegiatan UKM Daerah yang mendapat Fasilitasi Promosi Ekspor 8) Kegiatan UKM Daerah yang mendapat Fasilitasi Diklat Ekspor 9) Kegiatan Identifikasi Potensi Ekspor
10) Out Cadangan
III. Capaian Indikator Kinerja Utama Tahun 2013
Capaian indikator pembangunan industri, perdagangan, koperasi dan UMKM tahun 2012 dan 2013 adalah sebagai berikut :
1. Pertumbuhan IKM di Kalimantan Timur mengalami kenaikan dari 16.353 unit pada tahun 2012 menjadi 16.437 unit pada tahun 2013, naik sebanyak 219 unit atau mengalami pertumbuhan 1,34%. Hal ini disebabkan karena adanya pertumbuhan IKM di beberapa sektor, terutama industri pangan yang sangat menonjol, dan didukung dengan bahan baku yang mudah diperoleh dan komoditi tertentu yang memiliki ciri khas tersendiri dengan karya seni budayanya.
2. Pertumbuhan tenaga kerja IKM yang terserap yang mengalami kenaikan dari 87.995 orang pada tahun 2012 menjadi 89.862 orang pada tahun 2013, naik sebanyak 1.867 orang atau mengalami pertumbuhan 2,12%. Hal ini disebabkan oleh peningkatan jumlah Kelompok Usaha dan Wira Usaha Baru (WUB), khususnya industri kecil rumahan (home industry) berupa produk pangan dan kerajinan, yang tersebar di daerah Kalimantan Timur, dimana usaha kecil di bidang ini lebih banyak didominasi oleh kaum wanita, sedangkan kaum pria lebih tertarik bekerja di sektor perkebunan sebagai buruh di perusahaan kelapa sawit.
3. Jumlah investasi juga mengalami kenaikan dari Rp 5,529 triliun pada tahun 2012 menjadi Rp 5,532 triliun pada tahun 2013, naik sebesar Rp 3,246 milyar atau mengalami pertumbuhan 0,06%. Hal ini disebabkan karena
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 14 pengaruh pertumbuhan IKM baru di semua sektor sehingga semakin besar pula investasi yang ditanamkan untuk mengoperasionalkan usahanya.
4. Jumlah produksi juga mengalami kenaikan dari Rp 1,492 triliun pada tahun 2012 menjadi Rp 1,494 triliun pada tahun 2012, naik sebesar Rp 2,065 milyar atau mengalami pertumbuhan 0,14%. Hal ini disebabkan karena banyaknya permintaan pasar dan minat para konsumen terhadap produk IKM.
5. Perkembangan Industri Besar di Kalimantan Timur mengalami kenaikan dari 135 unit pada tahun 2012 menjadi 137 unit pada tahun 2013, naik sejumlah 2 unit atau bertumbuh sebesar 1,48%. Hal ini disebabkan karena pengaruh pertumbuhan industri pengolahan CPO dan turunannya di Kaltim yang merupakan industri penghasil bahan baku, baik untuk industri pangan maupun non pangan. Industri pangan berbasis CPO, maka Kaltim merupakan Provinsi penghasil kelapa sawit (CPO) yang terbesar dan sangat potensial, dimana pemanfaatan bahan baku terbesar dalam bentuk CPO dan minyak goreng untuk keperluan dalam negeri maupun luar negeri. Disamping itu pengolahan CPO lebih lanjut sebagai produk-produk oleokimia dan turunannya yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi.
6. Jumlah tenaga kerja yang mengalami kenaikan dari 62.567 orang pada tahun 2012 menjadi 63.424 orang pada tahun 2013, naik sebanyak 857 orang atau mengalami pertumbuhan 1,37%. Hal ini disebabkan karena adanya perusahaan besar yang telah mengembangkan perluasan produk barunya sehingga diperlukan tenaga kerja yang mempunyai keahlian sesuai dengan produk yang dikembangkan.
7. Jumlah investasi juga mengalami kenaikan dari Rp 4,774 triliun pada tahun 2012 menjadi Rp 5,382 triliun pada tahun 2013, naik sebesar Rp 607,68 milyar atau mengalami pertumbuhan 12,73%. Hal ini disebabkan karena pengaruh perluasan usaha sangat membutuhkan tambahan modal yang
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 15 diinvestasikan dalam bentuk aset tetap demi kelancaran pengembangan kualitas dan kuantitas produk.
8. Jumlah produksi juga mengalami kenaikan dari Rp 3,17 triliun pada tahun 2012 menjadi Rp 3,54 triliun pada tahun 2013, naik sebesar Rp 371,36 milyar atau mengalami pertumbuhan 11,71%. Hal ini disebabkan karena adanya perusahaan besar di bidang usaha kelapa sawit yang menimbulkan peningkatan permintaan pasar, baik pasar lokal maupun pasar ekspor sehingga jumlah produksi meningkat secara signifikan.
9. Jumlah Desain Produk Hasil Industri pada tahun 2012 bertambah sebanyak 111 buah dan pada tahun 2013 bertambah sebanyak 329 buah sehingga total keseluruhan sebesar 744 buah atau meningkat sebesar 79,28 %. Hal ini disebabkan karena banyaknya permintaan dari para UKM yang memproduksi berbagai jenis barang setiap tahunnya.
10. Persentase Produk UKM yang laku terjual melalui promosi/pameran dapat dilihat dari :
Produk UKM Kerajinan, pada tahun 2012 meningkat sebesar 15% dan pada tahun 2013 meningkat sebesar 35%.
Produk UKM Pangan, pada tahun 2012 meningkat sebesar 15% dan pada tahun 2013 meningkat sebesar 20%.
Produk UKM Sandang, pada tahun 2012 meningkat sebesar 15% dan pada tahun 2013 meningkat sebesar 40%.
Produk UKM Kimia dan Bahan Bangunan, pada tahun 2012 meningkat sebesar 5% dan pada tahun 2013 meningkat sebesar 2%.
Produk IKM Industri Logam Elektronika dan Aneka (ILMETA), pada tahun 2012 meningkat sebesar 10% dan pada tahun 2013 meningkat sebesar 4%.
Produk UKM yang laku terjual cukup meningkat dan diminati oleh para pengunjung pameran/promosi, hal ini disebabkan karena produk UKM cukup
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 16 menarik dan unik serta kualitas produknya juga tidak kalah bersaing dengan barang-barang dari luar daerah Kalimantan Timur.
11. Perkembangan/kecukupan barang pokok masyarakat dan barang strategis kelancaran distribusi bahan pokok di wilayah Kalimantan Timur mengalami kestabilan pada tahun 2012 mencapai 93% dan pada tahun 2013 meningkat menjadi 96% dari jumlah permintaan konsumen/masyarakat. Hal ini disebabkan karena peningkatan sarana infrastruktrur (pasar, jalan, pelabuhan), ketersediaan stok yang cukup, bongkar muat yang cukup memadai untuk barang kebutuhan pokok masyarakat, hingga akhir tahun ini iklim usaha sangat mendukung sehingga tidak menghambat jalur pendistribusian ke daerah-daerah luar Pulau Jawa.
12. Rata-rata koefisien variasi harga bahan pokok utama mengalami kestabilan pada tahun 2012 mencapai 9% dan tahun 2013 menurun menjadi 5%. Hal ini disebabkan karena iklim usaha yang kondusif, pembagian beras miskin (raskin) yang rutin dan ketersediaan cadangan beras pemerintah yang memadai serta kelancaran distribusi optimal.
13. Ratio perbedaan tingkat harga bahan pokok Provinsi dengan Kab/Kota, pada tahun 2012 mencapai 15% dan pada tahun 2013 mencapai hingga 10%. Hal ini disebabkan karena pengawasan rutin dilakukan lebih baik dan kontinu oleh Kabupaten/Kota maupun Provinsi mengenai ketersediaan stok dan perkembangan harga, dan tindakan akan dilakukan apabila terjadi kelangkaan stok dan terjadinya gejolak harga dengan melakukan koordinasi serta langkah-langkah kebijakan yang diambil.
14. Ratio perbedaan tingkat harga bahan pokok Provinsi dengan Provinsi mengalami kestabilan pada tahun 2012 mencapai 12% dan tahun 2013 mencapai 10%. Hal ini disebabkan karena terjalinnya hubungan yang baik antara Kabupaten/Kota dan TPD serta para distributor dalam upaya menjaga ketersediaan stok dan kelancaran distribusi serta kestabilan harga dengan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 17 melakukan pertemuan secara rutin dengan TPID dan distributor serta laporan yang disampaikan secara berkala oleh Kabupaten/Kota.
15. Pertumbuhan SIUP dan TDP di Provinsi Kalimantan Timur, pada tahun 2012 SIUP sebanyak 7.396 unit dan TDP sebanyak 6.122 unit, sedangkan pada tahun 2013 SIUP sebanyak 5.503 unit dan TDP sebanyak 5.238 unit. Hal ini disebabkan karena perbaikan iklim usaha melalui peningkatan pelayanan dan proses penerbitan produk berSNI yang wajib perijinannya di sektor perdagangan serta kelancaran laporan Kabupaten/Kota ke Provinsi secara berkala.
16. Persentase penurunan impor bahan pokok pangan dan sandang, pada tahun 2012 untuk bahan pangan sebesar 30% dan bahan sandang sebesar 25%, sedangkan pada tahun 2013 untuk bahan pangan turun sebesar 18% dan bahan sandang turun sebesar 18%. Hal ini dikarenakan meningkatnya pasokan impor bahan pokok pangan dan sandang akibat adanya beberapa item produk lokal yang tidak dapat dipenuhi, namun hal ini tidak mempengaruhi pemerintah dalam upaya memberikan informasi kepada masyarakat, seperti sosialisasi mengenai penggunaan produksi dalam negeri, mengikuti pameran dalam upaya mengenalkan produk-produk lokal serta penerapan label bagi barng yang beredar di pasar serta menggunakan klausal baku.
17. Persentase kasus kerugian konsumen yang ditangani, pada tahun 2012 sebesar 85% dan tahun 2012 meningkat menjadi 90%. Hal ini disebabkan karena para pelaku usaha dan konsumen semakin sadar mengenai hak dan kewajibannya terhadapnya banyaknya item produk impor yang dibutuhkan oleh masyarakat serta dilakukan pengawasan barang beredar dan pengujian sampel untuk barang wajib SNI.
18. Persentase produk/barang yang beredar yang telah memenuhi syarat, pada tahun 2012 sebesar 70% dan tahun 2013 sebesar 80%. Hal ini disebabkan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 18 karena pengawasan dilakukan secara rutin, baik dari Provinsi maupun Kabupaten/Kota serta tim yang melakukan pengambilan sampel serta pengujian sampel dan ekspose hasil pengujian terhadap barang-barang yang telah memenuhi syarat maupun tidak.
19. Jumlah jenis produk/barang beredar yang masih diawasi di pasar/ pertokoan pada tahun 2012 dan tahun 2013 sebanyak 25 buah. Hal ini disebabkan karena barang dalam pengawasan bertambah sesuai dengan wajib barang yang diawasi, yakni 54 (lima puluh empat) item dari 10 (sepuluh) komoditi SNI wajib.
20. Jumlah pasar yang sudah tertib ukur pada tahun 2012 dan tahun 2013 terdapat 2 (dua) buah pasar dengan peralatan timbangan/alat ukur yang digunakan oleh para pedagangnya dinyatakan tertib ukur. Hal ini disebabkan karena kesadaran pemilik UTTP untuk menera/menera ulang alat UTTP sangat tinggi, para pedagang menggunakan alat UTTPnya dengan baik dan benar dan secara berkala dibuka Pos Ukur Ulang di pasar-pasar tradisional.
21. Peningkatan ekspor non migas pada tahun 2012 mencapai -1,46% dan pada tahun 2013 menurun hingga -3,34%. Hal ini disebabkan karena komoditi yang mendominasi ekspor non migas adalah batu bara sehingga apabila terjadi penurunan nilai ekspor komoditi tersebut mempengaruhi total ekspor non migas secara keseluruhan. Penurunan itu sendiri disebabkan oleh :
- Bertambahnya produksi batubara dari negara lain seperti China dan Afrika
- Harga di pasaran internasional mengalami penurunan - Permintaan pasar menurun
22. Peningkatan ekspor non migas yang menggunakan sistem preferensi SKA sebagai sarana peningkatan daya saing pada tahun 2012 mencapai 0,14%
dan pada tahun 2013 sebesar -5,96%. Hal ini disebabkan karena
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 19 menurunnya kuantitas ekportir Kaltim dalam melakukan transaksi menggunakan Surat Keterangan Asal (SKA).
23. Jumlah pelaku usaha yang menjadi eksportir/importir baru, pada tahun 2012 sebanyak 26 orang dan pada tahun 2013 sebanyak 20 orang. Hal ini disebabkan tumbuhnya eksportir baru namun eksportir lama tidak melakukan aktifitas ekspor dan bertambahnya importir yang memiliki Angka Pengenal Impor (API).
24. Jumlah komoditi ekspor/impor yang memenuhi syarat pada tahun 2012 sebanyak 11 buah dan tahun 2013 sebanyak 12 buah. Hal ini disebabkan karena kemampuan laboratorium secara keseluruhan telah terukur sesuai dengan syarat yang berlaku, dan dari 12 komoditi tersebut yang diusulkan untuk mendapatkan akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) sebanyak 3 komoditi, yaitu CPO, Lada dan Biji Kakao.
25. Pertumbuhan koperasi pada tahun 2012 bertambah sebanyak 177 unit dan pada tahun 2013 bertambah sebanyak 195 unit. Hal ini disebabkan karena meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya berkoperasi akibat seringnya diadakan sosialisasi perkoperasian oleh Dinas yang membidangi koperasi dan UMKM di tingkat Kab/Kota.
26. Pertumbuhan anggota koperasi pada tahun 2012 bertambah sebanyak 3.414
orang dan pada tahun 2013 bertambah sebanyak 3.185 orang.
Hal ini disebabkan karena bertambahnya jumlah unit koperasi serta adanya penambahan anggota koperasi pada koperasi yang sudah lama aktif.
27. Pertumbuhan volume usaha koperasi pada tahun 2012 bertambah sebanyak
Rp 98,69 milyar dan pada tahun 2013 bertambah sebanyak Rp 104 milyar.
Hal ini disebabkan karena meningkatnya usaha koperasi seiring dengan kebijakan pemerintah daerah untuk keberpihakan kepada KUMKM, seperti Perda No. 4 Tahun 2012 dan Perda No. 9 Tahun 2012, serta kemudahan akses permodalan pada perbankan dan lembaga keuangan lainnya.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 20 28. Peningkatan koperasi yang melaksanakan RAT pada tahun 2012 meningkat 54% dan pada tahun 2013 meningkat secara optimal sebesar 70%. Hal ini disebabkan karena meningkatnya kesadaran pengurus koperasi terhadap himbauan kewajiban RAT bagi koperasi, baik melalui spanduk, leaflet maupun mensosialisasikan secara langsung kepada pengurus koperasi tentang kewajiban RAT sesuai dengan UU No. 25 Tahun 1992 pasal 26.
Selain itu sebagai upaya untuk mendukung Kalimantan Timur sebagai Provinsi Penggerak Koperasi.
29. Peningkatan koperasi aktif pada tahun 2012 meningkat 55% dan pada tahun 2013 meningkat secara optimal sebesar 70%. Hal ini disebabkan karena salah satu tolak ukur koperasi aktif apabila telah melaksanakan RAT bagi koperasi yang tidak melaksanakan RAT diatas 2 tahun berturut-turut akan ditinjau kembali status badan hukumnya sesuai dengan PP No. 17 Tahun 1994 tentang pembubaran koperasi oleh Pemerintah, dan sebagai kerja keras Kabupaten/Kota untuk membina koperasi tidak aktif menjadi koperasi aktif sebagai langkah percepatan mewujudkan Kalimantan Timur sebagai Provinsi Penggerak Koperasi.
30. Peningkatan total SHU pada tahun 2012 meningkat 23% dan pada tahun 2013 meningkat secara optimal sebersar 24%. Hal ini disebabkan karena seiring dengan meningkatnya volume usaha koperasi dalam meningkatkan SHU pula bagi koperasi yang bersangkutan.
31. Jumlah pelaku UMKM baru pada tahun 2012 bertambah 15.290 orang dan pada tahun 2013 bertambah 17.908 orang. Hal ini disebabkan karena terbukanya peluang usaha pada masyarakat dan pembinaan peningkatan wirausaha baru untuk membuka peluang usaha.
32. Pertumbuhan volume usaha UMKM pada tahun 2012 meningkat sebesar Rp 103,82 milyar dan pada tahun 2013 meningkat sebesar Rp 121,60 milyar.
Hal ini disebabkan karena peningkatan produksi dari akses pasar serta
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 21 tumbuhnya wirausaha baru Se Kaltim juga terbukanya jaringan usaha ke berbagai daerah.
33. Jumlah aparatur Perindagkop & UMKM yang telah mengikuti diklat teknis, fungsional dan struktural, pada tahun 2012 sebanyak 99 orang dan pada tahun 2013 sebanyak 112 orang. Hal ini disebabkan karena semakin banyaknya penawaran diklat bagi SDM yang dapat meningkatkan kemampuan dan keahlian SDM yang ada dan didukung dengan biaya pengembangan SDM yang tersedia.
34. Persentase penurunan pelanggaran disiplin, pada tahun 2012 sebesar 19%
dan pada tahun 2013 sebesar 10%. Hal ini disebabkan karena kesadaran para pegawai yang mulai menertibkan diri untuk absen pagi dan absen sore dan mulai diberlakukannya kompensasi ataupun reward terhadap kedisiplinan maupun ketidakdisiplinan selama menjalankan hari-hari kerja.
35. Persentase kecukupan sarana operasional perkantoran yang diperlukan, pada tahun 2012 sebesar 85% dan tahun 2013 sebesar 73%. Hal ini disebabkan karena banyaknya sarana-sarana baru yang diperoleh maupun digunakan oleh para pegawai demi menunjang kelancaran operasional perkantoran.
36. Jumlah jaringan informasi dan publikasi perkembangan Indagkop & UMKM yang terbangun dan terupdate, pada tahun 2012 dan 2013 masih didukung oleh teknologi informasi sebanyak 1 buah, yaitu website Indagkop & UMKM.
Hal ini disebabkan karena pentingnya informasi yang harus diberikan kepada masyarakat, khususnya para pelaku usaha yang membutuhkan pelayanan di Dinas Perindagkop & UMKM Provinsi Kaltim dalam rangka membangun perekonomian Kaltim secara berkesinambungan.
37. Persentase pelaksanaan tugas fungsi yang telah didukung oleh SOP, pada tahun 2012 sebesar 30% dan pada tahun 2013 sebesar 70%. Hal ini disebabkan karena aparat di bebarapa bidang maupun UPTD perlu segera menyusun SOP untuk setiap output kegiatan sehingga didukung dengan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 22 bimtek tentang Penyusunan SOP dan orientasi lapangan ke Provinsi Jawa Barat yang sudah lebih dulu memiliki dan menerapkan SOP nya.
38. Jumlah dokumen perencanaan yang disusun, pada tahun 2012 dan pada tahun 2013 sebanyak 6 (enam) dokumen. Hal ini disebabkan karena dokumen ini disusun berdasarkan rencana kegiatan yang telah disusun dalam Subbag Perencanaan Program.
39. Jumlah dokumen pelaporan capaian kinerja yang telah disusun dan terukur, pada tahun 2012 dan pada tahun 2013 sebanyak 2 (dua) dokumen. Hal ini disebabkan karena dokumen ini disusun berdasarkan rencana kegiatan yang telah disusun dalam Subbag Perencanaan Program dalam bentuk pelaporan capaian kinerja.
40. Jumlah dokumen monitoring dan evaluasi yang telah disusun, pada tahun 2012 dan pada tahun 2013 sebanyak 7 (tujuh) dokumen. Hal ini disebabkan karena dokumen ini disusun berdasarkan rencana kegiatan yang telah disusun dalam Subbag Perencanaan Program dalam bentuk hasil monitoring dan evaluasi kegiatan.
41. Jumlah sistem informasi yang terbangun dan digunakan pada tahun 2012 sebanyak 2 (dua) aplikasi dan pada tahun 2013 tidak terdapat alokasi untuk aplikasi. Hal ini disebabkan karena tidak ada penganggaran untuk sarana aplikasi, baru akan diwujudkan di tahun 2014.
42. Persentase Kabupaten/Kota yang memiliki kebijakan yang selaras dengan Provinsi pada tahun 2012 sebesar 45% dan pada tahun 2013 sebesar 85%.
Hal ini disebabkan karena dampak/pengaruh koordinasi antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota yang telah mensinergikan kebijakan yang harus diterapkan dalam upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat dan diperkuat melalui Peraturan Daerah (Perda) setempat.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 23 43. Persentase Kabupaten/Kota yang memiliki program yang selaras dengan Provinsi pada tahun 2012 sebesar 55% dan pada tahun 2013 sebesar 80%.
Hal ini disebabkan karena dampak/pengaruh koordinasi antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota yang semaksimal mungkin telah mengarahkan program/kegiatan dengan sasaran dan target yang selaras dengan indikator kinerja yang ditetapkan dalam Renstra 2009-2013.
Dalam hal ini Tim Perencanaan di Dinas Perindagkop dan UMKM Provinsi Kaltim telah melakukan pendekatan dan pembinaan kepada Tim Perencanaan di Dinas Kabupaten/Kota sebagai upaya perbaikan Sasaran, Indikator Kinerja Utama dan Target dalam penyusunan Renstra 2009-2013 dan mensinergikan penyusunan program/kegiatan di Dinas Kabupaten/Kota.
Secara umum pencapaian kinerja kegiatan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Provinsi Kalimantan Timur pada tahun anggaran 2013 dapat dikatakan sangat berhasil, baik dari sumber dana APBD untuk pembangunan sebanyak 36 (tiga puluh enam) program, maupun dari sumber dana APBN/dana dekonsentrasi sebanyak 5 (lima) program. Secara rinci pengukuran kinerja tahun 2013 terdapat pada lampiran 2.
IV. Evaluasi dan Analisa Capaian Kinerja
Evaluasi pengukuran pencapaian kinerja dilakukan dengan membandingkan antara target pencapaian sasaran dengan pencapaian (realisasi) kinerja, maka didapatkan hasil :
No Sasaran Indikator Pencapaian Sasaran Satuan Target Realisasi
% Pen- capaian
Target
Ket
1 2 3 4 5 6 7 8
1. Meningkatnya pertumbuhan sektor industri di Provinsi Kalimantan Timur
1. Pertumbuhan IKM Unit 230 219 95,22 109,30
2. Pertumbuhan tenaga kerja yang terserap Orang 2.094 1.867 89,16
3. Pertumbuhan investasi IKM Rp Juta 3.450 3.246 94,09
4. Pertmbuhan produksi IKM Rp Juta 2.070 2.065 99,76
5. Pertumbuhan industri besar Unit 1 2 200,00
6. Pertumbuhan tenaga kerja yang terserap Orang 865 857 99,08
7. Pertumbuhan investasi industri besar Rp Juta 614.223 607.679 98,93
8. Pertumbuhan produksi industri besar Rp Juta 378.330 371.362 98,16
2. Meningkatnya diversifikasi produk IKM di Provinsi Kalimantan Timur
1. Jumlah desain produk hasil
Industri Buah 345 329 95,36 110,34
2. Persentase Produk UKM yang laku terjual
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 24
melalui promosi/ pameran
Produk UKM Kerajinan % 25 35 140,00
Produk UKM Pangan % 20 20 100.00
Produk UKM Sandang % 15 40 266,67
Produk UKM Kimia dan Bahan Bangunan % 10 2 20,00
Produk IKM Industri Logam Elektronika
dan Aneka (ILMETA) % 10 4 40,00
3. Berkembangnya sistem perdagangan dalam negeri secara efisien di Provinsi Kalimantan Timur
1. Perkembangan/Kecukupan Barang Pokok
Masyarakat dan Barang Strategis % 97 96 98,97 94,93
2. Rata-rata koefisien variasi harga bahan
pokok utama % 5 5 100,00
3. Ratio perbedaan tingkat harga bahan
pokok Provinsi dengan Kab/Kota % 10 10 100,00
4. Ratio perbedaan tingkat harga bahan
pokok Provinsi dengan Provinsi % 10 10 100,00
5. Pertumbuhan SIUP dan TDP
SIUP Unit 6.450 5.503 85,32
TDP Unit 6.140 5.238 85,31
4. Meningkatnya kecintaan terhadap penggunaan produk dalam negeri di Provinsi Kalimantan Timur
Persentase penurunan impor bahan pokok
Pangan
Sandang %
% 20
20 18
18 110,00 110,00
110,00
5. Meningkatnya perlindungan konsumen dan pengawasan perdagangan terhadap produk ekspor maupun impor
1. Persentase kasus kerugian konsumen yang
ditangani % 90 90 100,00 98,15
2. Persentase produk/barang beredar yang
telah memenuhi syarat % 80 80 100,00
3. Jumlah jenis produk/barang beredar yang
masih diawasi di pasar/pertokoan Buah 27 25 92,59
4. Jumlah pasar yang sudah tertib ukur Unit 2 2 100,00
6. Berkembangnya sistem perdagangan luar negeri (ekspor maupun impor) secara efisien di Provinsi Kalimantan Timur
1. Peningkatan Ekspor Non Migas % 17,00 -3,34 -19,65 44,57
2. Peningkatan ekspor Non Migas yang menggunakan sistem preferensi SKA sebagai sarana peningkatan daya saing
% 15,00 -5,96 -39,73
3. Jumlah pelaku usaha yang menjadi
eksportir/importir baru Orang 17 20 117,65
4. Jumlah komoditi ekspor/impor yang
memenuhi syarat Buah 10 12 120,00
7. Meningkatnya pertumbuhan dan kualitas Koperasi dan UMKM di Provinsi Kaltim
1. Pertumbuhan koperasi Unit 200 195 97,50 95,80
2. Pertumbuhan anggota koperasi Orang 3.900 3.185 81,67
3. Pertumbuhan volume usaha koperasi Rp Juta 100.531 104.000 103,45
4. Peningkatan koperasi yang melaksanakan
RAT % 75,00 70,00 93,33
5. Peningkatan koperasi aktif % 75,00 70,00 93,33
6. Peningkatan total SHU % 25,00 24,00 96,00
7. Jumlah pelaku UMKM baru Unit 18.937 17.908 94,57
8. Pertumbuhan volume usaha UMKM Rp Juta 114.100 121.601 106,57
8. Meningkatnya kapasitas SDM aparatur
1. Jumlah Aparatur Perindagkop & UMKM yang telah mengikuti Diklat Teknis, Fungsional dan Struktural berkisar 20-30% dari jumlah keseluruhan aparatur Perindagkop & UMKM
Orang 82 112 136,59 101,63
2. Persentase penurunan pelanggaran disiplin % 15 10 66,67
9. Terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana
1. Persentase kecukupan sarana operasional
perkantoran yang diperlukan % 75 73 97,33 82,44
2. Jumlah jaringan informasi dan publikasi perkembangan Indagkop & UMKM yang terbangun dan terupdate
Teknologi Informasi Website 2 1 50,00
Media Informasi Jenis 7 7 100,00
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 25
10. Meningkatnya Mekanisme Kerja Internal Organisasi
1. Persentase pelaksanaan tugas fungsi yg
telah didukung oleh SOP % 95 70 73,68 74,74
2. Jumlah dokumen perencanaan yang disusun Dokumen 6 6 100,00
3. Jumlah dokumen pelaporan capaian kinerja
yang telah disusun dan terukur Dokumen 2 2 100,00
4. Jumlah dokumen monitoring dan evaluasi
yang telah disusun Dokumen 7 7 100,00
5. Jumlah sistem informasi yang terbangun
dan digunakan Aplikasi 2 - -
11. Keterpaduan Perencanaan Program Pengembangan Sektor Indagkop & UMKM Kab/Kota Dengan Provinsi
1. Persentase Kab/Kota yang telah memiliki
kebijakan yang selaras dengan Provinsi % 90 85 94,44 91,67
2. Persentase Kab/Kota yang telah memiliki
program yang selaras dengan Provinsi % 90 80 88,89
TOTAL 92,14
V. Isu dan Masalah Mendesak
1) Isu dan Masalah Mendesak Serta Solusi dan Harapan di Bidang Industri
a) Isu dan Masalah Mendesak
Pembangunan Industri terutama industri kecil dan menengah dalam pengembangan struktur ekonomi di negara-negara sedang berkembang sangat penting dan hal ini telah dibuktikan bahwa peranan industri kecil menengah mampu menjadi tiang penggerak perekonomian akibat badai Krisis yang menimpa negeri ini. Barangkali yang perlu menjadi catatan dan perlu menjadi perhatian semua pihak adalah daya tahan beberapa industri unggulan yang menjadi tiang penyangga ekonomi mengalami kemunduran akibat ketidak mampuan menghadapi persaingan yang semakin tinggi dalam pasar global. Oleh karenanya upaya pembinaan dan pengembangan terhadap industri terus dilakukan. Pemberdayaan Industri di Propinsi Kalimantan Timur juga mengemban misi bagi pembinaan dan pengembangan industri yang dari tahun ke tahun telah mampu memberikan nilai tambah positif terhadap pertumbuhan, penyerapan tenaga kerja dan pengentasan kemiskinanan melalui upaya-upaya peningkatan usaha industri, sehingga dampaknya tentu berujung pada efek pengganda yang cukup signifikan terhadap kesejahteraan pengusaha/perajin khususnya dan masyarakat Kalimantan Timur umumnya.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 26 Upaya-upaya yang telah dilakukan dengan berbagai kegiatan yang didukung oleh berbagai program telah dioptimalkan, namun dengan adanya berbagai faktor pembatas maka dalam pelaksanaan pembinaan dan pengembangan industri masih terdapat beberapa permasalahan, sehingga pembinaan dan pengembangan industri tersebut belum bisa mencapai sasaran yang optimal , antara lain disebabkan oleh:
1. Daya dukung infrastruktur yang masih rendah (jalan, pelabuhan, bandara, Air bersih, telekomunikasi listrik dan sistem keamanan) dan masih dalam proses pembangunan “Center Of Excellent”, sebagai salah satu usaha mendapatkan nilai tambah dan daya saing industri.
2. Belum jelas status lahan dan sistem manajemen pengelola Kawasan Industri di Kabupaten/Kota untuk pengembangan industri.
3. Belum optimalnya transfer teknologi di bidang industri.
4. Kurang maksimalnya tenaga ahli/instruktur yang memadai sehingga berdampak pada ketergantungan sumber daya manusia dari daerah lain.
5. Belum maksimalnya peran tenaga pendamping atau konsultan lapangan yang memiliki kompetensi tinggi dalam teknologi dan mengerti kebutuhan industri kecil menengah
6. Terbatasnya tenaga desainer di bidang produksi dalam membuat design baru yang inovatif dan mampu membantu meningkatkan kemampuan pengusaha membuat design sendiri.
7. Terbatasnya kemampuan sebagian besar industri kecil menggunakan teknologi maju, sehingga menyebabkan usaha yang dilaksanakan tidak efisien.
8. Semakin selektifnya konsumen dalam memilih produk, terutama mutu dan keamanan produk, sementara industri kecil dan menengah belum optimal melaksanakan pengendalian mutu, sanitasi dan higenis perusahaan.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 27 9. Skill yang dimiliki oleh sumber daya industri kecil rendah sehingga
tidak mampu bersaing.
10. Program OVOP (One Village One Product) belum berjalan menyebabkan nilai tambah industri belum optimal.
11. Klaster industri belum mendapat dukungan yang optimal dari kementerian terkait.
12. Mengoptimalkan penggunaan produksi dalam negeri dalam semua pengadaan barang pemerintah.
b) Upaya Yang Dilakukan ( Solusi )
Maka dalam rangka pengembangan industri di Kalimantan Timur, terutama Pemberdayaan Industri Kecil Menengah (PIKM) di Kalimantan Timur, telah memberikan solusi yang terkait berbagai kegiatan yang ditunjang dari dana APBN (Dekonsentrasi) dan APBD (Desentralisasi), diantaranya adalah :
Agar pembina dan pengembangan industri kecil menengah dapat berjalan secara optimal maka diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, terutama untuk Kab/Kota.
Dalam rangka pembinaan dan pengembangan industri kecil menengah perlu dibarengi dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia bagi aparat pembinaan terutama untuk tenaga instruktur/Pembina di lapangan.
Agar pembinaan dan pengembangan industri kecil menengah dapat tersebar keseluruh wilayah Kalimantan Timur terutama untuk daerah pedalaman dan perbatasan, maka diperlukan upaya-upaya dari Pemerintah Provinsi maupun pemerintah Kab/Kota untuk membuka isolasi daerah dengan pembangunan infra struktur berupa jalan darat yang memadai yang dapat menghubungkan antara daerah kota dengan Kecamatan dan desa, sehingga pemasukan bahan baku serta pemasaran hasil produksi industri kecil menengah dari pedesaan lebih efisien dengan harga yang bersaing ke daerah perkotaan.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 28
Guna pengembangan usaha, industri kecil menengah memerlukan permodalan dengan suku bunga rendah, oleh karena itu agar lembaga keuangan (baik Bank maupun Non Bank) memberikan kemudahan dalam penyaluran kredit dengan suku bunga rendah.
Agar dalam pembinaan dan pengembangan industri kecil menengah, lebih menitik beratkan pada pendekatan komoditi unggulan daerah yang berpeluang untuk ekspor sehingga mampu bersaing dipasar bebas secara kompetitif.
Penyebaran informasi peluang usaha dan pemasaran produk industri kecil memang untuk lebih ditingkatkan baik melalui peran serta media, pameran dan pembuatan leaflet/brosur.
Dalam hal ini upaya pembinaan dan pengembangan terhadap industri telah dilakukan, khususnya pemberdayaan dan pembinaan industri di Provinsi Kalimantan Timur, dimana berdasarkan kondisi nyata di lapangan dari tahun ke tahun telah mampu memberikan nilai tambah positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, yang pada akhirnya diharapkan mampu melakukan pengentasan kemiskinan, salah satunya melalui peningkatan usaha industri, sehingga dampaknya diharapkan dapat berujung pada efek pengganda yang cukup signifikan terhadap kesejahteraan pengusaha/perajin pada khususnya dan masyarakat Kalimantan Timur pada umumnya.
c) Harapan yang diiinginkan dengan Pusat (Kementerian Perindustrian)
Perlunya dukungan dengan Kementerian Perindustrian dalam peningkatan utilisasi produksi: Penguasaan pasar domestik, ekspor, dan informasi pasar; Peningkatan efisiensi bahan baku dan energi;
dan Integrasi produsen MIGAS dengan industri Petrokimia.
Perlunya juga penguatan struktur pada semua tingkat dalam rantai nilai (value chain): Peningkatan nilai tambah dengan peningkatan TKDN; Penciptaan Iklim investasi dan usaha yang kondusif melalui
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 29 pemberian insentif dibidang fiskal, moneter dan administrasi termasuk jaminan hukum dan kestabilan keamanan; dan Pengembangan industri yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
Perlunya kerjasama dalam dengan pusat dalam pengembangan teknologi kedepan : Peningkatan kemampuan alih teknologi;
Pengembangan berdasarkan inovasi teknologi dalam negeri; Aplikasi lisensi teknologi proses yang dikembangkan secara bersama sama dengan pemilik lisensor; Sinergi dalam penelitian teknologi proses industri petrokimia; dan Pengembangan kemampuan SDM.
Perlunya dukungan pusat dalam pengembangan lokasi klaster:
Perbaikan kualitas dan kuantitas infrastruktur; Koordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat; dan Fasilitasi kolaborasi antar stakeholder.
Perlunya bantuan dalam mendukung peningkatkan kualitas &
kuantitas prasarana yang memadai untuk kelancaran produksi &
pemasaran.
Dukungan pusat untuk mempromosikan daerah dalam mendorong investasi baru untuk kawasan industri yang kompetitif;
Memberikan keringanan pajak untuk investasi baru
Dan memberikan harmonisasi tarif produk petrokimia hulu, antara &
hilir.
Membantu mempercepat koordinasi pembangunan, peningkatan dan rehabilitasi infrastruktur pendukung pengembangan industri di Kaltim.
Membantu percepatan terwujudnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)/Kawasan Industri.
Mendukung upaya perluasan pengembangan kualitas SDM pelaku IKM dan aparatur pembina.
Memberikan alokasi dana dekonsentrasi (APBN) yang lebih proporsional untuk kegiatan pengembangan IKM, Klaster Industri dan Kompetensi Inti Daerah Kalimantan Timur (Kakao di Pulau Sebatik-Kabupaten Nunukan, Karet di Kutai Barat dan Sentra Sarung
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 30 Samarinda serta Komoditi Kelapa Sawit), sesuai dengan kontribusi Provinsi Kaltim terhadap PDB Nasional.
Perlunya kebijaksanaan nasional yang bersifat khusus bagi pengembangan industri berbasis sumber daya alam di Provinsi Kaltim, terutama agro-industri, sebagai masa depan industri nasional.
Perlunya perhatian khusus terhadap pengembangan wilayah perbatasan dari sisi sektor industri. Untuk itu diusulkan Departemen Perindustrian dapat menyusun studi perencanaan detail pengembangan industri di Provinsi Kaltim, termasuk wilayah perbatasan, untuk jangka menengah maupun jangka panjang.
2) Isu dan Masalah Mendesak beserta Solusi dan Harapan di Bidang Perdagangan.
1. Isu dan Masalah Mendesak beserta Solusi dan Harapan di Bidang Perdagangan Dalam Negeri
a) Isu dan Masalah Mendesak :
1. Distribusi kebutuhan bahan pokok dan strategis terutama di pedalaman/perbatasan tidak lancar
2. Sistem angkutan barang dari pelabuhan ke kawasan pergudangan kurang memadai
3. Terbatasnya informasi dari perusahaan terhadap stok kebutuhan pokok
4. Kebutuhan pokok dan strategis sebagian besar masih dipasok dari luar daerah
5. Pasar yang layak dan gudang bahan pokok belum dimiliki Kabupaten / Kota
6. Penataan PKL yang masih belum disentuh secara optimal
7. Belum seluruh Kabupaten/kota memiliki BPSK ( Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen)
8. Kurang lancarnya informasi harga dari Kabupaten/Kota 9. Lambatnya Laporan SIUP dan TDP Kabupaten / Kota
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 31 10. Belum Optimal nya perlindungan konsumen
11. Masih ditemukan barang-barang yang beredar dan tidak sesuai ketentuan dan aturan yang berlaku, seperti SNI, kadarluarsa dan barang dalam keadaan tertutup (BDKT)
12. Belum efektif pengawasan Alat UTTP b) Upaya yang dilakukan ( solusi)
Melakukan prognosa
Mengadakan pasar murah
Melakukan operasi pasar
Melakukan pemantauan harga
Mengadakan rapat Tim / Pokja ketersediaan barang antar distributor dan pemerintah
Melakukan pemantauan tingkat produsen bersama Kabupaten / Kota
Menyediakan sistem informasi Perdagangan Dalam Negeri
Melakukan misi dagang, pameran, sosialisasi “Cinta Produk Indonesia”
Melakukan perlindungan konsumen dengan pengawasan BDKT dan UTTP
c) Harapan yang diinginkan dengan pusat (Kementerian Perdagangan)
Dalam upaya membantu dan mengembangkan UMKM (PKL) agar tertata rapi maka diharapkan partisipasi dari Kementerian Perdagangan RI untuk membantu para PKL dalam memberi bantuan fasilitas, seperti gerobak dan tenda.
2. Isu dan Masalah mendesak beserta Solusi dan Harapan di Bidang Perdagangan Luar Negeri
a) Isu dan masalah mendesak.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 32 Dalam upaya pengembangan dan peningkatan ekspor non migas Kalimantan Timur, ditemui berbagai permasalahan yang cukup mendasar, diantaranya adalah :
1. Belum maksimalnya networking pasar luar negeri 2. Minimalnya informasi /akses pasar luar negeri 3. Terbatasnya kemampuan SDM UKM Ekspor
4. Rendahnya daya saing produk ekspor yang terbaharui sebagai antisipasi pemberlakuan UU Mineral dan Batubara (Minerba) No. 4 Tahun 2009 pada tahun 2014
5. Tidak stabilnya permintaan negera tujuan ekspor 6. Tidak stabilnya harga pasar internasional
b) Upaya yang dilakukan ( Solusi)
Melakukan upaya melalui penyusunan program dan kegiatan yang mengarah kepada perubahan struktur ekspor non migas, antara lain mendorong ekspor hasil pertanian dalam arti luas serta mendiversifikasi produk yang berbahan baku sumber daya alam lestari.
Melakukan koordinasi dan sinkronisasi terhadap upaya penggalian potensi ekspor di Kabupaten/Kota terutama optimalisasi peluang perjanjian bilateral dan multilateral (CEPT-ACFTA – AANZFTA).
Memasarkan produk ekspor non migas Kalimantan Timur melalui program promosi/pameran di dalam dan luar negeri.
Pembinaan eksportir harus terus dilakukan setiap tahunnya.
Meningkatkan produk ekspor bernilai tambah tinggi, terutama untuk produk hilir berbasis ekspor industry ecochemical dan berbasis klaster industri petrokimia.
Mendorong ekspor produk kreatif dan jasa yang terutama dihasilkan oleh UKM.
Pasar masih perlu dikembangkan dan diperkuat dengan pasar non tradisional dan pasar alternatif.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 33 c) Harapan yang diinginkan dengan pusat (Kementerian
Perdagangan)
Memperbaiki formulasi dan koordinasi kebijakan perdagangan.
Menghilangkan kendala (bottle neck) infrastruktur dan hambatan internal lainnya, baik perdagangan dalam negeri maupun perdagangan luar negeri.
Memberi peluang untuk pengembangan nilai tambah komoditi.
Meningkatkan koordinasi kebijakan perdagangan, industri, pertanian, perkebunan dan kehutanan agar percepatan industri- industri berdaya saing.
1. Isu dan Masalah Mendesak beserta Solusi dan Harapan di UPTD Metrologi
a) Isu dan Masalah Mendesak : a) Internal :
1. Kurangnya tenaga penera, baik kualitas maupun kuantitas
2. Kurangnya daya dukung laboraturium dan instalasi Pengujian Alat ukur takar dan Timbang
3. Rendahnya kesadaran masyarakat pemilik alat UTTP tentang pentingnya tera/tera ulang
4. Kurangnya alat pengujian UTTP yang memenuhi standar
5. Luasnya cakupan wilayah pelayanan UPTD Metrologi sehingga belum dapat terjangkau seluruhnya
b) Eksternal :
Masih rendahnya kesadaran pemilik alat UTTP melakukan tera/tera ulang alat UTTP
b) Upaya yang dilakukan ( solusi)
Segera menambah jumlah penera dengan mendidik pegawai baru menjadi penera.
Memperbaiki manajemen pelayanan tera/tera ulang alat UTTP.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2013 34
Memperbanyak sosialisasi tentang kewajiban tera/tera ulang kepada masyarakat.
c) Harapan yang diinginkan dengan Pusat ( Kementerian Perdagangan )
Perlunya bantuan peralatan standar tera ulang UTTP yang disesuaikan dengan kebutuhan.
Perlunya pemberian formasi yang cukup untuk Diklat Penera Terampil dan Ahli.
6. Isu dan Masalah Mendesak beserta Solusi dan Harapan di UPTD BPSMB
a).1. Isu dan Masalah Mendesak pada laboratorium kalibrasi :
1) Belum memadainya peralatan laboratorium kalibrasi sehingga tidak dapat memenuhi seluruhnya permintaan dari customer/pelanggan.
2) Terbatasnya tenaga fungsional sebagai salah satu pendukung persyaratan sebuah laboratorium.
3) Masih terbatasnya ruang lingkup dan kapasitas bidang kalibrasi sehingga tidak seluruhnya permintaan customer/pelanggan dapat dipenuhi.
4) Masih terbatasnya SDM yang tersedia, baik tenaga fungsional tertentu maupun tenaga fungsional umum
5) Masih terbatasnya sarana informasi untuk mempromosikan pelayanan jasa teknis
6) Belum maksimalnya membangun jejaring antar instansi
2. Isu dan Masalah Mendesak pada laboratorium pengujian : 1) Belum maksimalnya pemanfaatan laboratorium pengujian 2) Masih minimnya peralatan yang dimiliki
3) Terbatasnya anggaran/biaya untuk melakukan pengawasan pengendalian produk ekspor/impor atau SNI wajib yang beredar sesuai tupoksi