• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Sejarah Singkat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Sejarah Singkat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

1.1.1 Sejarah Singkat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat

Pada permulaan zaman kemerdekaan/revolusi (17-8-45) penyelenggaraan pemerintah dibidang kesehatan di Provinsi Jawa Barat dilaksanakan oleh Jawatan/Dinas Kesehatan yang dipimpin oleh Dr Purwosuwardjo sebagai Dokares di Bandung. Pada tanggal 1 Agustus 1946 dibentuk Jawa Barat, nama Kantor Inspeksi Kesehatan Jawa Barat berulang kali berubah yaitu tahun 1953 menjadi Jawatan Kesehatan Inspeksi Jawa Barat, Tahun 1956 Pengawas Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat , Tahun 1957 Knator Inspeksi Kesehatan Jawa Barat dan Tahun 1959 menjadi Dinas Kesehatan Daswati I Jawa Barat.

Perkembangan pengorganisasian bidang kesehatan di Jawa Barat sejak Pelita I mengalami perubahan . Mulai tahun 1970 unsur pelaksanan pemerintah daerah di bidang kesehatan berbentuk Jawatan Kesehatan Propinsi Jawa Barat berdasarkan surat keputusan Gubernur Jawa Barat No; 189/OP/GOM/SK/70. Sejak dikeluarkannya keputusan menteri kesehatan nomor: 125/IV/Kab/BU/75 diadakan pemisahan Dinas Kesehatan Tingkat I Propinsi Jawa Barat dan dibentuk Kantor Wilayah Departemen Kantor Wilayah Departemen Kesehatan (Kanwil Depkes) dengan struktur organisasi sebagai berikut:

1. Bagian Tata Usaha 2. Bidang Perencanaan

3. Bidang Pelayanan dan Pengendalian

Akan tetapi tahun 1979 sesuai dengan keputusan Metrei Kesehatan RI nomor 275/Men.Kes/SK/VII/79 susunan organisasi Kanwil Depkes terdiri dari :

1) Bagian Tata Usaha

2) Bidang Penyusunan Program dan Evaluasi

3) Bidang Bimbingan dan Pengendalian Pelayanan Kesehatan Masyarakat 4) Bidang Bimbingan dan Pengendalian Pemberantasan Penyakit Menular

(2)

5) Bidang Bimbingan dan Pengendalian Produksi dan Penggunaan Obat dan Makanan

Tahun 1986 Struktur organisasi dan tata kerja Kanwil Depkes Provinsi Jawa Barat mengalami perubahan semula terdiri dari kepala kantor Wilayah yang membawahi 1 bagian dan 4 bidang menjadi 1 Bbagian dan 5 bidang

Ada era desentralisasi terjadi lagi perubahan struktur organisasi dan tatakerja , tahun 2001 terjadi penggabungan antara Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dengan Kanwil Depkes Provinsi Jawa Barat menjadi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 1.1.2 Profil Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dibentuk berdasarkan Peraturan daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 21 Tahun 2008, dengan tugas dan fungsi menjalankan sebagian tugas Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat di Bidang Kesehatan

Tugas Pokok:

Tugas Pokok Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat adalah melaksanakan urusan pemerintahan daerah bidang kesehatan berdasarkan asas otonomi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan.

Fungsi:

Dalam menyelenggrakan tugas pokok sebagai dimaksud Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mempunyai fungsi :

a. Perumusan dan penetapan kebijakan teknis urusan bidang kesehatan;

b. Penyelenggraan bidang urusan kesehatan meliputi regulasi dan kebijakan kesehatan bina pelayanan kesehatan bina penyehatan lingkungan dan pencegahan penyakit,serta sumber daya kesehatan

c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas-tugas kesehatan meliputi regulasi dan kebijakan kesehatan bina pelayanan kesehatan bina penyehatan lingkungan dan pencegahan penyakit, serta sumber daya kesehatan

d. Penyelenggaraan tugas-tugas kesekretariatan

e. Pengkoordinasian dan pembinaaan UPTD (Unit Pelaksana Teknik Dinas) f. Pelaksanaan tugas lain sesuai dengan tugas dan fungsinya

Dengan diterapkannya Peraturan Pemerintah No 41 tahun 2007 dan PP 38 yang mengatur tentang SOTK (Struktur Organisasi dan Tata Kelola) organisasi perangkat

(3)

daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 21 Tahun 2008, telah terbentuk dan secara resmi telah berjalan, walaupun belum lengkap dengan pengaturan UPTD.

Saat ini, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mencakup gedung perkantoran di JL. Pasteur nomor 25 dan 4 (empat) UPTD, yaitu :

1. Balai Pengembangan Tenaga Kesehatan Masyarakat (BPTKM) Jl. Pasteur no. 31 Bandung.

2. Balai Pengembanagan Laboratorium Kesehatan (BPLK) Jl. Sederhana no 3-5 3. Balai Kesehatan Kerja Masyarakat (BKKM) Jl. Rancaekek dan KP4 Jln. Satria

no 95 Cirebon.

4. Jumlah pegawai dilingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat seluruhnya 360 orang

Data terperinci adalah sebagai berikut : 1) Pejabat eselon II dan III (6 oarang)

2) Subbag Perencanaan Dan Pelaporan (14), subbag keuanagn (49) 3) Subbag Kepegawaian dan Umum (91)

4) Seksi Akreditasi Sarana Kesehatan (14)

5) Seksi Akreditasi dan Pendayagunaan Tenaga (18) 6) Seksi Legislasi dan Kebijakan Kesehatan (19) 7) Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar dan Khusus (18), 8) Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi (15)

9) Seksi Rumah Sakit (13)

10) Seksi Penyehatan Lingkungan (16) 11) Seksi Pengendalian Penyakit (23)

12) Seksi Pengamatan Pencegahan Penyakit Matra (19) 13) Seksi Farmasi, Kosalkes dan Mamin (15)

14) Seksi Promosi dan Informasi Kesehatan (14) 15) Seksi Teknologi dan Informasi Kesehatan (14)

(4)

1.1.3 Logo

Gambar 1.1

Logo Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Sumber : Dokumen Perusahaan, 2018

1.1.4 Visi dan Misi

a. Visi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat “Masyarakat yang Mandiri Untuk Hidup Sehat” b. Misi Pembangunan Kesehatan

1) Membangun Kemandirian Mayarakat untuk Hidup Sehat 2) Menjamin Pelayanan Kesehatan yang Prima

3) Mendukung Sumber Daya Pembangunan Kesehatan 4) Regulator Pembangunan Kesehatan di Jawa Barat

(5)

1.1.5 Struktur Organisasi

a. Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2017

Gambar 1.2 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat

(6)

b. Uraian Tugas Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat

1.) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerintahan dibidang kesehatan, meliputi kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengendalian penyakit, pelayanan kesehatan dan sumber daya kesehatan yang menjadi kewenangan Daerah Provinsi, melaksanakan tugas dekonsentrasi dan melaksanakan tugas pembantuan sesuai bidang tugasnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

2.) Kepala dinas mempunyai tugas pokok memimpin, mengkoordinasikan, membina, mengendalikan dan menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang kesehatan, yang menjadi kewenangan Daerah Provinsi, melaksanakan tugas dekonsentrasi dan melaksanakan tugas pembantuan sesuai bidang tugasnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

3.) Sekretariat mempunyai tugas pokok menyelenggarakan administrasi Dinas, meliputi perencanaan dan pelaporan, keuangan dan aset, kepegawaian dan umum serta membantu Kepala Dinas mengkoordinasikan Bidang - Bidang. Sekretariat membawahkan:

a. Subbagian Perencanaan dan Pelaporanm empunyai tugas pokok melaksanakan perencanaan dan pelaporan, meliputi koordinasi dan penyusunan bahan perencanaan, evaluasi, dan pelaporan kegiatan Dinas.

b. Subbagian Keuangan dan Aset mempunyai tugas pokok melaksanakan pelayanan administrasi keuangan dan aset, meliputi penganggaran dan penatausahaan, perbendaharaan, penyusunan neraca aset, vertifikasi, dan pertanggungjawaban keuangan dan aser serta pengelolaan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan Dinas.

c. Subbagian Kepegawaian dan Umum mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan kepegawaian dan umum, meliputi pengusulan formasi, mutasi, pengembangan karir dan kompetensi, pembinaan disiplin, kesejahteraan pegawai dan pensiun, ketatalaksaan dan kerumahtanggaan.

4.) Bidang Kesehatan Masyarakat mempunyai tugas pokok menyelenggrakan urusan pemerintahan bidang kesehatan aspek kesehatan masyarakat, meliputi

(7)

kesehatan keluarga dan gizi, promosi dan pemberdayaan masyarakat, dan kesehatan lingkungan serta

5.) Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan dan fasilitasi kesehatan keluarga dan gizi meliputi kesehatan ibu, bayi, balita, dan anak prasekolah, usia sekolah dan remaja, usia reproduksi, lanjut usia, manajemen peningkatan mutu dan kecukupan gizi, manajemen kewaspadaan gizi, dan manajemen penganggulangan masalah gizi.

6.) Seksi Promosi dan Pemberdayaan Masyarakam empunyai tugas pokok pengelolaan dan fasilitasi promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, meliputi koordinasi pembinaan dan pengendalian teknis, pengelolaan data, penyusunan bahan dan pelaksanaan koordinasi, pembinaan dan pengendalian teknis, pengelolaan data, penyusunan bahan dan dan pelaksaan koordinasi dengan unit terkait lintas program/lintas sektor serta monitoring pelaksanaan promosi kesehatan dan pemberdayaan msyarakat.

7.) Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan dan fasilitasi kesehatan lingkungan,kesehatan kerja, dan olah raga, meliputi penyehatan airdan sanitasi dasar, penyehatan pangan, penanganan limbah dan radiasi, okupasi dan surveilans kesehatan pekerja, kapasitas pekerja, lingkungan kerja dan kesehatan olah raga.

8.) Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit mempunyai tugas pokok menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang kesehatan, aspek pencegahan dan pengendalian penyakit,meliputi surveilans dan imunisasi, pencegahan dan pengendalian penyakit menular, serta pencegahan dan pengendalian penyakittidak menular dan kesehatan jiwa.

9.) Seksi Surveilans dan Imunisasi mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan dan fasilitasi surveilans dan imunisasi, meliputi surveilans, surveilans penyakit infeksi emerging dan imunisasi.

10.) Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan dan fasilitas pencegahan dan pengendalian penyakit menular tuberkulosis, ISPA, HIV, AIDS DAN IMS, hepatitis dan infeksi

(8)

saluran pencernaan, tropis menular langsung, malaria, zoonosis, filariasis dan kecacingan, arbovirus, vektor dan binatang pembawa penyakit.

11.) Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan dan fasilitasi pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular serta kesehatan jiwa, meliputi penyakit paru paru kronik dan gangguan imunologi jantung dan pembuluh darah, kanker dan kelainan darah, diabetes mellitus dan gangguan metabolik, gangguan indera dan gangguan fungsional, masalah kesehatan jiwa serta penyalahgunaan NAPZA.

12.) Bidang Pelayanan Kesehatan mempunyai tugas pokok menyelenggrakan urusan pemerintahan bidang kesehatan, meliputi pelayanan, kesehatan primer dan kesehatan tradisional, pelayanan rujukan dan mutu pelayanan kesehatan.

13.) Seksi Pelayanan Kesehatan Primer dan Kesehatan Tradisional mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan dan fasilitasi pelayanan kesehatan primer dan kesehatan tradisional, meliputi pelayanan kesehatan pusat kesehatan msyarakat, klinik praktik perorangan, tradisional empiris, komplementer, dan integrasi. 14.) Seksi Pelayanan Kesehatan RujukanM empunyai tugas pokok melaksanakan

pengelolaan dan fasilitasi pelayanan kesehatan rujukan, meliputi pelayanan medik dan keperawatan, pelayanan penunjang, pelayanan gawat darurat terpadu, pengelolaan rujukan dan pemantauan pelayanan kesehatan rujukan.

15.) Seksi Mutu Pelayanan KesehatanMempunyai tugas melaksanakan pengelolaan dan fasilitasi mutu pelayanan kesehatan, meliputi mutu dan akreditasi pelayanan kesehatan primer, rujukan pelayanan kesehatan lainnya.

16.) Bidang Sumber Daya Kesehatan Mempunyai tugas pokok menyelanggrakan urusan pemerintahan bidang kesehatan, aspek sumber daya kesehatan, meliputi kefarmasian, dan alat kesehatan, pembiayaan dan jaminan kesehatan serta sumber daya manusia kesehatan.

17.) Seksi Kefarmasian dan Alat Kesehatan mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan dan fasilitasi kefarmasian dan alat kesehatan, meliputi perencanaan, dan penilaian ketersediaan, manajemen farmasi dan klinikal farmasi,

(9)

penggunaan obat rasional, ketersediaan obat dan makanan, minuman dan Pembinaan obat tradisonal dan narkotika.

18.) Seksi Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan dan fasilitasi pembiayaan dan jaminan kesehatan, meliputi pengelolaan data dan penyusunan bahan pembiayaan, dan jaminan kesehatan, evaluasi pembiayaan kesehatan, penyusunan pedoman dan standarisasi, fasilitasi pelaksanaan dan pengkoordinasian dan penggalian sumber-sumber pembiayaan dan penelitian serta uji coba pengembangan program jaminan kesehatan.

19.) Seksi Sumber Daya Manusia Kesehatan mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan dan fasilitasi sumber daya manusia kesehatan, meliputi perencanaan, pendayagunaan, fasilitasi peningkatan kompetensi melalui peningkatan jenjang pendidikan, fasilitasi sertifikasi dan registrasi tenaga kesehatan, fasilitasi akreditasi pelatihan bidang kesehatan, analisis kompetensi dan kebutuhan pelatihan.

(10)

1.2 Latar Belakang Penelitian

Sumber daya manusia sebagai aset yang harus ditingkatkan efektifitas dan efisiensinya. Untuk mencapai hal tersebut, maka organisasi harus mampu menciptakan kondisi yang dapat mendorong dan memungkinkan karyawan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan serta keterampilan yang dimiliki secara optimal.

Keberhasilan suatu perusahaan itu tidak lepas dari adanya sumber daya manusia (pegawai) yang kompeten dan berkualitas yang menjalankan semua sistem yang ada di dalam perusahaan tersebut, oleh karena itu hendaknya organisasi memberikan arahan yang positif demi tercapainya tujuan organisasi. Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan suatu organisasi adalah kinerja karyawannya.

Kinerja merupakan hal penting yang harus dicapai oleh setiap instansi termasuk pada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, karena kinerja merupakan kemampuan cerminan bagi kemampuan instansi dalam mengelola dan mengalokasikan pegawainya, oleh karena itu kinerja para pegawai mempunyai pengaruh yang sangat penting bagi berlangsungnya kegiatan instansi dan berpengaruh bagi proses pencapaian tujuan instansi. Menurut Moeheriono (2014:96) kinerja dapat diukur jika seseorang atau sekelompok pegawai memiliki kriteria atau parameter kinerja yang telah ditetapkan oleh organisasinya, salah satunya dengan penilaian prestasi kerja. Diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentang penilaian prestasi kerja pegawai negeri sipil, bahwa penilaian prestasi kerja PNS adalah suatu proses penilaian secara sistematis yang dilakukan oleh pejabat penilai terhadap Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) dan perilaku kerja PNS.

Penilaian capaian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) diukur dari 4 aspek, yaitu aspek kuantitas menunjukkan tingkat prestasi kerja yang semakin baik atau sebaliknya semakin rendah realisasi output dari target output yang direncanakan menunjukkan tingkat prestasi kerja yang semakin buruk, aspek kualitas menunjukkan tingkat prestasi kerja yang semakin baik atau sebaliknya semakin rendah realisasi kualitas dari target kualitas yang di rencanakan menunjukkan tingkat prestasi kerja yang semakin buruk. aspek waktu menunjukkan tingkat prestasi kerja yang semakin buruk atau sebaliknya semakin cepat realisasi waktu dari target waktu yang direncanakan menunjukkan tingkat prestasi kerja yang semakin baik atau sangat baik, dan aspek biaya hasil dari perhitungan ini dapat diartikan bahwa semakin besar realisasi biaya yang dipergunakan dari target biaya yang direncanakan menunjukkan tingkat prestasi

(11)

kerja yang semakin buruk atau sebaliknya semakin kecil realisasi biaya dari target yang direncanakan menunjukkan tingkat prestasi kerja yang semakin baik atau sangat baik. SKP dapat diukur dengan membandingkan antara realisasi dengan target dari aspek kuantitas, kualitas, waktu, dan dapat disertai biaya.

Sedangkan penilaian capaian perilaku kerja PNS diukur dari 6 aspek, yaitu aspek orientasi pelayanan, integritas, komitmen, disiplin, kerjasama, dan kepemimpinan. Penilaian prestasi kerja PNS dilaksanakan oleh atasan pegawai sekali dalam 1 (satu) tahun. Bobot nilainya adalah unsur SKP 60% dan perilaku kerja sebanyak 40%. Tabel 1.1 adalah tabel kriteria penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil (PNS):

TABEL 1. 1

KRITERIA PENILAIAN PRESTASI KERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL

Sumber: PP No.46/ 2011 Tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil

Berdasarkan data capaian penilaian prestasi kerja, target pencapaian prestasi kerja PNS sesuai dengan yang diatur pada Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 adalah dengan nilai 91-100. Tabel 1.2 merupakan data rekapitulasi berdasarkan pencapaian penilaian prestasi kerja pegawai Dinas kesehatan Provinsi Jawa tahun 2015,2016 dan 2017:

Rentang Nilai Kriteria Penilaian Prestasi Kerja PNS < 50 Penilaian prestasi kerja dalam kategori buruk 51-60 Penilaian prestasi kerja dalam kategori kurang 61-75 Penilaian prestasi kerja dalam kategori cukup 76-90 Penilaian prestasi kerja dalam kategori baik

(12)

TABEL 1. 2

REKAPITULASI DATA 50 ORANG PEGAWAI BERDASARKAN CAPAIAN PENILAIAN PRESTASI KERJA

Tahun <50 51-60 61-75 76-90 91 – keatas

2015 2 3 3 2 30

2016 - - - 4 46

2017 - - - 8 42

Sumber: Dokumen Badan Kepegawaian Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2017

Berdasarkan tabel 1.2 yaitu rekapitulasi pegawai berdasarkan capaian penilaian prestasi kerja, bahwa pada tahun 2015 terdapat 8 pegawai berada pada rentang nilai dibawah 79-90 dapat dilihat pada rentang nilai <50, rentang 51-60 dan rentang 61-75 . Pada tahun 2016 yaitu mengalami peningkatan dengan total sebanyak 10 pegawai mengalami peningkatan ke rentang 76-90 dan rentang nilai 91- ke atas.

Pada tahun 2017 mengalami penurunan tingkat kinerja sebanyak 4 pegawai dari rentang 91- keatas beralih ke rentang 76-90. Dapat diartikan bahwa pada tahun 2017 sebanyak 4 pegawai mengalami penurunan dalam penilaian prestasi kerja.

Salah satu upaya instansi dalam mempertahankan kinerja pegawainya adalah dengan cara memperhatikan disiplin karyawan yang merupakan salah satu faktor penting untuk mendapatkan hasil kerja baik yang optimal. Kinerja berkaitan dengan tingkat absensi, semangat kerja, keluhan-keluhan, ataupun masalah vital instansi.

Berikut data absensi pegawai Dinas Kesehatan yang diambil secara acak 60 orang pegawai dengan tiga tahun berturut-turut diseluruh divisi dapat dilihat pada Tabel 1.3 :

TABEL 1.3

DATA KETIDAKHADIRAN PEGAWAI PADA DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT

Keterangan

2015 2016 2017

Hari Persentase Hari Persentase Hari Persentase

Tidak Hadir 60 0,4% 54 0,4% 56 0,4%

Terlambat 224 1,5% 147 1% 192 1,3%

Pulang Cepat 29 0,2% 5 0,03% 19 1%

Rata-rata 104,33 0,7% 68,67 0,4% 89 0,6%

(13)

Pada data diatas terlihat bahwa tingkat data absensi pegawai Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mengalami keadaan turun naik atau fluktuatif. Dimana dapat terlihat tingkat absensi pegawai tinggi pada tahun 2015 diantara 3 tahun berturut-turut dengan persentase 0,7% dan mengalami penurunan saat tahun 2016 dengan 0,4%, tetapi mengalami kenaikan kembali di tahun 2017 dengan 0,6%.

Menurut Flippo (2001) di dalam Gunadi (2016), tentang masalah kepegawaian yang ada diantaranya tingginya tingkat absensi dan tingginya tingkat keterlambatan jam kerja. Apabila pada suatu perusahaan tingkat absensinya tinggi artinya kinerja karyawan rendah, salah satu faktor sulitnya tercapai target perusahaan karena memiliki pengaruh terhadap kinerja secara keseluruhan. Terjadinya keadaan tingkat absensi yang fluktuatif pada Tabel 1.1 diatas dapat disimpulkan sementara bahwa turun naiknya absensi pegawai disebabkan rendahnya disiplin terhadap pegawai.

Seorang pegawai akan melakukan tugasnya dengan baik jika ada dorongan dalam dirinya. Dorongan itu akan timbul jika seseorang mempunyai kebutuhan untuk dipenuhinya, misalnya kebutuhan untuk mencapai kesuksesan, kebutuhan untuk memperoleh kekuasaan . Hal tersebut bisa menjadi dorongan agar pegawai bisa bekerja lebih baik dan bisa meningkatkan kinerja dan dorongan dari dalam diri pegawai untuk mencapai suatu tujuan.

Menurut Rivai & Sagala (2013:825) Disiplin kerja adalah suatu alat yang digunakan para manajer untuk berkomunikasi dengan karyawan agar mereka bersedia untuk mengubah suatu perilaku dan untuk meningkatkan kesadaran juga kesediaan seseorang agar menaati semua peraturan dan norma sosial yang berlaku di suatu perusahaan. Dalam penelitan yang dilakukan oleh Muhammad Taufiek Rio Sanajaya (2015:1) terdapat bahwa disiplin kerja berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan Hotel Ros In Jakarta.

Berdasarkan uraian fenomena yang terjadi di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat sebagaimana diuraikan diatas, maka disiplin kerja dapat mempengaruhi kinerja pegawai, sehingga menjadi dasar bagi peneliti untuk melakukan penelitian berjudul “Pengaruh Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Pegawai pada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat”.

(14)

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan sebelumnya, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Bagaimana disiplin kerja yang diterapkan pada pegawai pada di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat?

b. Bagaimana kinerja pegawai yang diterapkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat?

c. Seberapa besar pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja pegawai pada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat?

1.4 Tujuan Penelitian

Suatu penelitian dilakukan tentunya memiliki beberapa tujuan. Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

a. Untuk mengetahui dan menganalisis disiplin kerja yang diterapkan pada pegawai di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat

b. Untuk mengetahui dan menganalisis kinerja pegawai yang diterapkan oleh pegawai di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat

c. Untuk mengetahui dan menganalis pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja pegawai pada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat

1.5 Kegunaan Penelitian

Peneliti mengharapkan penelitian ini dapat memberikan hasil yang bermanfaat kepada pihak-pihak sebagai berikut :

a. Kegunaan Teoritis

1) Menerapkan dan memperdalam ilmu serta teori yang telah didapat selama kuliah, khususnya mata kuliah manajemen sumber daya manusia yang diterapkan pada permasalahan nyata melalui pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan dan sebagai prasyarat untuk menyelesaikan studi strata satu pada Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Universitas Telkom

2) Menambah wawasan, pengetahuan, dan meningkatkan pemahaman mengenai budaya organisasi dan kinerja karyawan. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat melatih kemampuan analisis dan berfikir secara sistem

(15)

b. Kegunaan Praktis

1) Bagi Peneliti selanjutnya

Menambah wawasan ilmu pengetahuan, terutama dibidang manajemen sumber daya manusia khususnya tentang pengaruh kualitas kinerja karyawan terhadap disiplin kerja. Sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya yang memfokuskan studi penelitian pada masalah yang sama di masa mendatang

2) Bagi Dinas Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dapat memberi masukan kepada pihak Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dalam melakukan strategi yang tepat untuk dapat meningkatkan kualitas kinerja karyawan terutama dengan menggunakan disiplin kerja dan menciptakan komitmen organisasasi dengan tepat.

1.6 Waktu dan Periode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober 2018 – Desember 2018 dan Penelitian ini dilakukan di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat yang berlokasi di Jln. Pasteur Nomor 25, Pasir Kaliki, Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat 40171.

1.7 Sistematika Penulisan

Penelitian penulisan terdiri atas lima bab yang memiliki hubungan keterkaitan satu sama lain. Sistematika penelitian ini disajikan sebagai berikut:

BAB I. PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang tinjauan umum mengenai penelitian ini, mulai dari gambaran umum objek penelitian, latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi tentang uraian umum mengenai teori-teori yang berkaitan dengan penelitian dan mendukung pemecahan permasalahan yaitu tinjauan pustaka penelitian, rangkuman teori, penelitian terdahulu, kerangka pemikin, hipotesis penelitian dan ruang lingkup penelitian.

(16)

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang jenis penelitian, variabel operasional,tahapan penelitian, populasi dan sampel , pengumpulan data , uji validasi dan reliabilitas, serta teknik analisis data.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisikan pengumpulan data, karakteristik responden, menggambarkan bagaimana hasil penelitian yang telah diolah dan diuji sebelumnya, dan pembahasan hasil penelitian.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini adalah bab terakhir dari penelitian ini. Bab ini menguraikan kesimpulan yang diperoleh dari analisis data dan hasil penelitian serta saran-saran yang diberikan penulis untuk pengembangan kedepannya pada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.

Gambar

Gambar 1.2 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat  Sumber :   Bagian Sumber Daya Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat

Referensi

Dokumen terkait

Apabila Investasi Jangka Panjang diperoleh dari pertukaran Aset Pemerintah, maka nilai Investasi yang diperoleh Pemerintah adalah sebesar biaya perolehan atau nilai

menyatakan bahwa pada pasien-pasien dengan pemeriksaan USG yang menunjukkan hasil negatif dan memiliki kadar D-Dimer yang normal, pemeriksaan USG ulangan ataupun pemeriksaan

Ibu Siswati Saragi,S.sos, M.SP, selaku administrator Program Studi Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Medan yang

tulisan ini saya kutip dari http://bloghendrigmail.1. tulisan ini saya kutip

Dari hasil analisis dan pembahasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengeluaran rumah tangga petani karet rakyat maka dapat di tarik beberapa kesimpulan

Diharapkan dalam penelitian ini akan diperoleh nilai decimal reduction time (D value) dan Z value untuk parameter tekstur, warna, mutu organoleptik (warna, bau, dan rasa)

Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Mesin dan Teknik Industri (PPPPTK BMTI), pada tahun anggaran 2015 akan menyelenggarakan

Pencipta telah melakukan implemetasi kepada SMA Budi Luhur, Karang Tengah, Tangerang sebagai media pembelajaran bagi siswa dan siswi kelas 10, yang nantinya di