• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap perusahaan/institusi selalu berusaha agar karyawan bisa berprestasi dalam bentuk memberikan produktivitas kerja yang maksimal.

Produktivitas kerja karyawan bagi suatu perusahaan/institusi sangatlah penting sebagai alat pengukur keberhasilan dalam menjalankan usaha [1,2].

Produktivitas adalah sikap mental (attitude of mind) yang mempunyai semangat untuk melakukan peningkatan perbaikan, dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input untuk memproduksi barang atau jasa sebagai konsep pemenuhan kebutuhan manusia atau sering juga disebut sebagai sikap mental yang selalu memiliki pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik daripada kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini [3,4,5].

Karakteristik individu yang produktif terbagi menjadi empat, yaitu rasa tanggung jawab, rasa cinta terhadap pekerjaan, kerja sama, keinginan meningkatkan diri dan mengembangkan potensinya [6,7,8].

Setiap orang yang bekerja mengharapkan memperoleh kepuasan dari tempatnya bekerja. Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual karena setiap individu akan memiliki tingkat

(2)

kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam diri setiap individu. Semakin banyak aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan [1].

Kepuasan kerja sebagai perasaan positif pada suatu pekerjaan, yang merupakan dampak/hasil evaluasi dari berbagai aspek pekerjaan tersebut. Kepuasan kerja merupakan penilaian dan sikap seseorang atau karyawan terhadap pekerjaannya dan berhubungan dengan lingkungan kerja, jenis pekerjaan, hubungan antar teman kerja, dan hubungan sosial di tempat kerja [1].

Secara teoritis, faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja sangat banyak jumlahnya, seperti gaya kepemimpinan, produktivitas kerja, perilaku, pemenuhan harapan penggajian, dan efektivitas kerja. Faktor yang biasanya digunakan untuk mengukur kepuasan kerja seorang karyawan adalah: (a) jenis pekerjaan, penampilan tugas pekerjaan yang aktual dan sebagai kontrol terhadap pekerjaan; (b) supervisi; (c) organisasi dan manajemen; (d) kesempatan untuk maju; (e) gaji dan keuntungan dalam finansial lainnya seperti adanya insentif; (f) rekan kerja;

dan (g) kondisi kerja [2].

Kepuasan tenaga pengolah makanan diharapkan mampu mempengaruhi produktivitas kerjanya dalam penyelenggaraan makanan, untuk mencapai produktivitas kerja yang maksimal dalam pelayanan makanan perlu diperhatikan harapan atau keinginan tenaga pengolah makanannya dalam proses penyelenggaraan makanan tersebut.

Peningkatan produktivitas tenaga kerja merupakan sasaran yang strategis [3].

Kepuasan kerja menjadi masalah yang cukup menarik dan penting karena besar manfaatnya baik bagi kepentingan individu dan perusahaan.

Bagi individu penelitian tentang sumber-sumber kepuasan kerja

(3)

memungkinkan timbulnya usaha-usaha peningkatan kebahagiaan hidup mereka. Bagi industri, stabilitas kepuasan kerja menjadi sangat penting, melalui terciptanya stabilitas kepuasan kerja tersebut maka keseimbangan dan kelancaran produksi dalam suatu organisasi dapat berjalan dengan lancar dan produktivitas kerja meningkat, dengan demikian perlu diperhatikan kepuasan tenaga pengolah [7,8].

Kepuasaan tenaga pengolah makanan diharapkan mampu mempengaruhi produktivitas kerjanya dalam penyelenggaraan makanan.

Kepuasan kerja sendiri dipengaruhi oleh kenyamanan di area kerja.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh penelitian sebelumnya, salah satunya menjelaskan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara kepuasan kerja dengan produktivitas kerja. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kepuasan kerja yang diterima karyawan, semakin tinggi pula produktivitas kerjanya [4].

Penelitian yang dilakukan oleh Peltier et al. menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat kepuasaan pekerja maka akan semakin tinggi pula kepuasan konsumen, atau menghasilkan barang ataupun jasa yang semakin berkualitas [5].

Dari hasil penelitian yang dilakukan di Klinik Spesialis Bestari Medan mengenai pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai, menunjukkan bahwa kepuasan terhadap jenis pekerjaan sebagian besar responden mengemukakan kurang puas sebesar 38,2% [6].

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Adiwinata dan Sutanto, 2014 mengenai pengaruh kepuasan kerja dan motivasi kerja terhadap produktivitas kerja karwanan CV. Intaf Lumajang, didapatkan bahwa kepuasan kerja memiliki pengaruh positif terhadap produktivitas kerja. Dalam hal ini, jika kepuasan kerja naik, maka produktivitas kerja akan mengalami kenaikan sebesar 32,4% [9].

(4)

Penelitian tentang produktivitas kerja pernah juga dilakukan oleh Supriyono, 2004 mengenai pengaruh insentif terhadap produktivitas kerja karyawan PT. Primisima Medari Sleman, Yogyakarta. Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa ada pengaruh yang positif antara insentif dengan produktivitas kerja karyawan [10].

Dalam banyak kasus ada hubungan positif antara kepuasan kerja yang tinggi dengan produktivitas kerja yang tinggi tetapi tidak selalu cukup kuat dan berarti signifikan. Ada karyawan yang memiliki kepuasan kerja yang tinggi tetapi produktivitasnya rendah. Masalah pokok hubungan hubungan tersebut adalah apakah kepuasan kerja mengarah ke produktivitas kerja lebih baik atau sebaliknya produktivitas kerja menimbulkan kepuasan kerja.

Rumah sakit merupakan salah satu instansi yang menggunakan sistem penyelenggaraan makanan. Penyelenggaraan makanan tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien rawat inap. Output berupa makanan yang optimal sangat diperlukan bagi rumah sakit untuk meningkatkan daya terima pasien terhadap makanan [11].

Berdasarkan studi awal di Sub Unit Pengolahan dan Penyaluran Makanan Instalasi Gizi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung ini bergerak dalam pengelolaan makanan diit dan non diit, sebagai unit penunjang di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Metode kerja yang diterapkan sudah terlihat yaitu dari beban kerja/lama waktu kerja yang mencapai ± 7 jam sehari. Selain itu, sudah terdapat peraturan kerja, jadwal kerja, SOP/Prosedur Standar Operasi serta uraian tugas pekerjaan yang jelas dan terdokumentasi. Ketersediaan fasilitas kerja berupa peralatan kerja dan sarana fisik untuk memenuhi kebutuhan konsumen rata-rata ± 700 orang/hari.

Sampai saat ini belum pernah ada penelitian yang dilakukan mengenai kepuasan dan produktifitas kerja tenaga pengolah makanan

(5)

non diet di Sub Unit Pengolahan dan Penyaluran Makanan Instalasi Gizi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Memperhatikan hal tersebut, penulis tertarik untuk meneliti tentang hubungan antara tingkat kepuasan kerja terhadap produktifitas kerja tenaga pengolah makanan non diet di Sub Unit Pengolahan dan Penyaluran Makanan Instalasi Gizi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.

1.2 Rumusan Masalah

Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

“Apakah ada hubungan tingkat kepuasan dan produktivitas kerja tenaga pengolah makanan non diet di Sub Unit Pengolahan dan Penyaluran Makanan Instalasi Gizi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung?”

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat kepuasan kerja dan produktivitas tenaga pengolah makanan non diet di Sub Unit Pengolahan dan Penyaluran Makanan Instalasi Gizi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui karakteristik individu (umur, jenis kelamin, status pernikahan, tingkat pendidikan, masa kerja, status kepegawaian) tenaga pengolah makanan non diet di Sub Unit Pengolahan dan Penyaluran Makanan Instalasi Gizi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung

(6)

2. Mengetahui tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan non diet di Sub Unit Pengolahan dan Penyaluran Makanan Instalasi Gizi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung terhadap jenis pekerjaan, kondisi pekerjaan, supervisi, rekan kerja, dan kompensasi.

3. Mengetahui produktivitas kerja tenaga pengolah makanan non diet Sub Unit Pengolahan dan Penyaluran Makanan Instalasi Gizi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.

4. Menganalisis hubungan tingkat kepuasan kerja dengan produktivitas kerja tenaga pengolah makanan non diet di Sub Unit Pengolahan dan Penyaluran Makanan Instalasi Gizi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.

1.4 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini meliputi hubungan tingkat kepuasan dan produktivitas kerja tenaga pengolah makanan non diet di Sub Unit Pengolahan dan Penyaluran Makanan Instalasi Gizi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Bagi Peniliti

1. Menambah dan mengembangkan pengetahuan mengenai manajemen penyelenggaraan makanan institusi di rumah sakit.

2. Penulis dapat mengetahui faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di rumah sakit dan menganalisis pengaruh tingkat kepuasan kerja, sehingga diharapkan mempermudah penulis dalam memahami proses penyelenggaraan makanan apabila bekerja di bidang manajemen penyelenggaraan makanan.

(7)

3.

1.5.2 Bagi Institusi

1. Memberikan masukan kepada pemegang kebijakan agar memperhatikan faktor-faktor yang dapat meningkatkan kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di Sub Instalasi Persiapan Penyaluran Makanan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.

2. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi sarana evaluasi manajemen sumber daya manusia dalam menganalisis dan mendorong peningkatan produktivitas tenaga pengolah makanan. Adanya peningkatan produktivitas tenaga pengolah makanan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung diharapkan mampu mendukung semua karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya secara maksimal.

Referensi

Dokumen terkait

faktor-faktor yang berdasarkan hasil dari wawancara survei terbanyak mempengaruhi kinerja karyawan dalam penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang meliputi

Dalam konstruksi berkelanjutan tidak cukup hanya tiga aspek tersebut, namun harus dipikirkan pula aspek lain yaitu sumberdaya yang digunakan dalam proyek konstruksi, emisi

Korelasi antara Kemampuan Berpikir Kreatif dan Pembuktian Matematis ………..……… .. Observasi

 Hasil: Evaluasi protein dan mRNA ICAM1 pada pasien kanker payudara dengan western blotting dan IHC dan microarray didapatkan hasil ekspresi ICAM1 yang

Sebagaimana dua tujuan tersebut, yaitu mewujudkan peackeeping forces ASEAN sebagai taring dalam menjaga stabilitas keamanan dengan payung hukum prinsip

Tinea pedis adalah infeksi dermatofita pada kaki terutama mengenai sela jari kaki dan telapak kaki, dengan lesi terdiri dari beberapa tipe, bervariasi dari ringan, kronis

Tabel item-total statistik menunjukan hasil perhitungan reabilitas untuk 10 pernyataan.Menentukan besarnya r tabel dengan ketentuan tingkat kepercayaan (degree of

algoritma kompresi LZW akan membentuk dictionary selama proses kompresinya belangsung kemudian setelah selesai maka dictionary tersebut tidak ikut disimpan dalam file yang