• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI PARAMETER KIMIA AIR BAGI PERUNTUKAN BUDIDAYA KERAMBA JARING APUNG STUDI KASUS WADUK BILI-BILI KABUPATEN GOWA SKRIPSI RISWANDI YUSUF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STUDI PARAMETER KIMIA AIR BAGI PERUNTUKAN BUDIDAYA KERAMBA JARING APUNG STUDI KASUS WADUK BILI-BILI KABUPATEN GOWA SKRIPSI RISWANDI YUSUF"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI PARAMETER KIMIA AIR BAGI PERUNTUKAN BUDIDAYA KERAMBA JARING APUNG

STUDI KASUS WADUK BILI-BILI KABUPATEN GOWA

SKRIPSI

RISWANDI YUSUF 105940051610

JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2014

(2)

i

STUDI PARAMETER KIMIA AIR BAGI PERUNTUKAN BUDIDAYA KERAMBA JARING APUNG

STUDI KASUS WADUK BILI-BILI KABUPATEN GOWA

RISWANDI YUSUF 105940051610

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar serjana (S1) Fakultas Pertanian Jurusan Budidaya Perairan

JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2014

(3)

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Studi Parameter Kimia Perairan Bagi Peruntukan Budidaya Keramba Jaring Apung (Studi Kasus Waduk Bilibili Zona I)

Nama : Riswandi yusuf

NIM : 1059400516110

Program Studi : Budidaya Perairan Fakultas : Pertanian

Laporan Telah Diperiksa dan Disetujui Oleh :

Pembimbing Utama, Pembimbing Kedua,

Ir. Darmawati, M.Si Ir. Andi Khaeriyah, M.Pd

NIDN: 0920126801 NIDN: 0926036803

Diketahui Oleh :

Dekan Fakultas Ketua Program Studi

Pertanian, Budidaya perairan,

Ir.H.Saleh Molla, MM Murni, S.Pi, M.Si

NIDN: 0931126103 NIDN: 0903037304

(4)

iii

PENGESAHAN KOMISI PENGUJI

Judul : Studi Parameter Kimia Perairan Bagi Peruntukan Budidaya Keramba Jaring Apung (Studi Kasus Waduk Bilibili Zona I)

Nama : Riswandi yusuf

NIM : 1059400516110

Program Studi : Budidaya Perairan Fakultas : Pertanian

SUSUNAN PENGUJI

Nama Tanda Tangan

1. Ir. Darmawati, M.Si Ketua Sidang

2. Ir. Andi Khaeriyah, M.Pd sekretaris

3. Murni, S.Pi., M.Si Anggota

4. H. Burhanuddin, S.Pi., MP Anggota

Tanggal Lulus: 10 November 2014

(5)

iv

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya atas nama Riswandi yusuf menyatakan bahwa skripsi Studi Parameter Kimia Perairan Bagi Peruntukan Budidaya Keramba Jaring Apung (Studi Kasus Waduk Bilibili Zona I) Desa Bilibili, Kecamatan Bontorannu, Kabupaten Gowa adalah hasil karya saya dengan arahan pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun.

Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Makassar, September 2014

RISWANDI YUSUF NIM 105940051610

(6)

v ABSTRAK

Riwandi Yusuf, Studi Parameter Kimia Perairan Bagi Peruntukan Budidaya Keramba Jaring Apung (Studi Kasus Waduk Bilibili Zona I).

Dibimbing oleh Darmawati dan Andi Khaeriyah.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter kimia yang meliputi pH, oksigen terlarut, amoniak, dan fosfat pada waduk Bilibili Kabupaten Gowa serta menentukan lokasi yang cocok untuk peruntukan budidaya keramba jaring apung (KJA). Pengukuran parameter kimia dilakukan pada tiga stasiun pengamatan secara lansung dilapangan untuk pH dan oksigen terlarut, dan analisis laboratorium untuk amoniak dan fosfat. Hasil penelitian menunjukkan pH pada ketiga titik pengamatan berkisar 7,76 – 8,3 mg/l, oksigen terlarut 7,31 – 8,17 mg/l, fosfat 0.19 – 0,23 mg/l, dan amonia 0 - 0,002 mg/l. Dengan mengacu pada literatur kelayakan budidaya air tawar maka dapat disimpulkan bahwa parameter kimia pada waduk Bilibili di Kabupaten Gowa, untuk parameter oksigen terlarut dan amoniak masih berada dalam kondisi baik, sedangkan parameter pH pada minggu keempat distasiun satu, dan minggu keempat dan minggu kedua stasiun dua, dua dan tiga dan fosfat minggu keempat dan minggu keempat pada stasiun tiga, tiga minggu pertama, dan tiga pada kedalaman 30 cm dari permukaan perairan terindikasi melewati batas baku mutu kualitas air.

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis diberikan kesempatan, kesehatan, dan kemudahan untuk dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “STUDI PARAMETER KIMIA PERAIRAN BAGI PERUNTUKAN KERAMBA JARING APUNG ( STUDI KASUS WADUK BILI-BILI KABUPATEN GOWA”

Dalam rangka penyusunan Skripsi ini tidak sedikit hambatan yang saya jumpai, namun semua itu dapat saya selesaikan berkat bantuan bimbingan dan pengarahan serta do’a restu dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini saya menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu serta mendukung dalam penulisan skripsi ini, Oleh karena itu penulis mengucapakan terima kasih yang sedalam- dalamnya teristimewah penulis haturkan kepada Ibunda dan Ayahanda keluarga tecinta atas kasih sayang dan doa , dan kasih sayang kepada penulis.

Ucapan terima kasih yang sebesar besarnya kepada ibu Ir. Darmawati, M,Si selaku pembimbing pertama dan Ir. Andi Khaeriyah, M,Pd selaku pembimbing kedua, yang banyak memberikan arahan serta bimbingan kepada penulis. Penulis juga tak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Murni, S,Pi, M,Si, selaku ketua jurusan budidaya perairan di Universitas Muhammadiyah Makassar.

(8)

vii

2. Rekan- rekan penelitian semoga persahabatan dan kebersamaan tak terlupakan seumur hidup

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan baik dalam bentuk penulisan dan penggunaan kata. Untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan guna penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi kita semua.

Wassalam.

Makassar, Mei 2014

Penulis

(9)

viii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PENGESAHAN KOMISI PENGUJI ... iii

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI iv ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 2

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ekosistem Keramba ... 3

2.2 Faktor Kimia Perairan ... 3

2.2.1 Derajat keasaman pH ... 3

2.2.2 Oksigen Terlarut (DO) ... 4

2.2.3 Ammonia (NH3) ... 6

2.2.4 Fosfat (P) ... 7

III. METODE PENELITIAN ... 3.2 Waktu dan Tempat ... 11

(10)

ix

3.2 Alat dan Bahan ... 12

3.3 Prosedur Penelitian ... 12

3.3.1 Persiapan ... 12

3.3.2 Penentuan Stasiun Pengamatan... 12

3.3.3 Cara Pengambilan Sampel ... 13

3.3.4 Peubah yang diamati ... 14

3.4 Peubah Yang Diamati ... 14

3.4.1 pH ... 14

3.4.2 Oksigen Terlarut ... 14

3.4.3 Fosfat... 14

3.4.4 Ammonia... 15

3.5 Analisis Data ... 15

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 4.1 Gambaran Umum ... 16

4.2 Hasil pengukuran parameter kimia air ... 16

4.2.1 Oksigen terlarut ... 16

4.2.2 pH (Derajat Keasaman) ... 18

4.2.3 Fosfat... 20

4.2.4 Ammonia... 22

4.3 Perbandingan hasil pengukuran dengan sumber rujukan ... 24

V. PENUTUP ... 5.1 Kesimpulan ... 25

5.2 Saran ... 25

DAFTAR PUSTAKA ... 26 LAMPIRAN

(11)

x

DAFTAR TABEL

Nomor: Halaman

1. Kelayakan parameter pH kualitas air untuk budidaya KJA

air tawar ... 4

2. Kelayakan parameter DO untuk budidaya KJA air tawar ... 5

3. Status kualitas air berdasarkan kadar oksigen terlarut ... 5

4. Kelayakan parameter kualitas air untuk budidaya KJA air tawar ... 7

5. Klasifikasi perairan berdasarkan konsentrasi PO4 ... 9

6. Kelayakan parameter kualitas air untuk budidaya KJA air tawar ... 10

7. Alat dan bahan... 12

8. Kelayakan kualitas air untuk budidaya KJA air tawar ... 15

9. Hasil rata-rata pengukuran DO ... 17

10. Hasil pengukuran pH... 19

11. Hasil pengukuran fosfat ... 20

12. Hasil analisis ammonia ... 22

13. Perbandingan hasil pengukuran dengan sumber rujukan ... 24

(12)

xi

DAFTAR GAMBAR

Nomor: Halaman

1. Peta Kabupaten Gowa sulawesi selatan ... 11

2. Stasiun pengambilan sampel air ... 13

3. Nilai pengukuran DO ... 17

4. Hasil pengukuran pH... 19

5. Hasil analisis fosfat ... 21

6. Hasil analisis ammonia ... 23

7. Analisis fosfat di laboratorium UNHAS ... 32

8. Analisis ammonia di laboratorium UNHAS ... 33

9. Analisis fosfat di laboratorium UNHAS ... 33

10. Botol sampel ... 34

(13)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor: Halaman

1. Hasil pengukuran DO waduk Bilibili zona I minggu pertama

sampai minggu keempat ... 30 2. Hasil rata-rata pengukuran DO waduk Bilibili zona I minggu

pertama sampai minggu keempat. ... 30 3. Hasil pengukuran pH waduk Bilibili zona I minggu pertama

sampai minggu keempat. ... 31 4. Hasil rata-rata pengukuran pH waduk Bilibili zona I minggu

pertama sampai minggu keempat ... 31 5. Hasil rata-rata analisis fosfat waduk Bilibili zona I minggu

pertama sampai minggu keempat. ... 32 6. Hasil rata-rata pengukuran ammonia waduk Bilibili

zona I minggu pertama sampai minggu keempat. ... 32

(14)

1 I. PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang.

Keramba jaring apung merupakan salah satu wadah budidaya perairan yang cukup ideal, yang ditempatkan di badan air dalam, seperti waduk, danau, dan laut. Keramba jaring apung merupakan salah satu wadah untuk penerapan budidaya perairan sistem intensif. Prinsipnya semua jenis ikan laut dan ikan air tawar dapat dipelihara pada kerambah jaring apung. Untuk melakukan kegiatan budidaya keramba jaring apung maka perlu mengetahui parameter kualitas kimia perairan, karena parameter kimia perairan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu kegiatan budidaya.

Pada kenyataannya waduk yang bersifat multi fungsi tersebut, saat ini kondisinya mengalami berbagai tekanan dan permasalahan yang cukup serius, sebagai akibat dari meningkatnya aktifitas masyarakat di badan air maupun disekitar waduk. Permasalahan lingkungan yang sering kali dialami oleh waduk dan menjadi perhatian utama adalah menurunnya kualitas perairan oleh masuknya bahan pencemar yang berasal dari berbagai kegiatan manusia seperti sampah dari kegiatan domestik dan pariwisata, sisa pemupukan dan pestisida dari kegiatan pertanian, sisa pakan dari kegiatan budidaya perikanan maupun proses sedimentasi akibat konversi lahan di hulu (Apridiyanti, 2008).

Dalam suatu usaha budidaya perikanan, sangat penting untuk dipelajari kondisi kualitas suatu perairan untuk dijadikan indikasi kelayakan suatu perairan untuk budidaya perikanan. Untuk mengelola sumberdaya perikanan yang baik maka salah satu persyaratan yang harus diperhatikan adalah kualitas perairan.

(15)

2 Boyd (1982), menyatakan bahwa untuk tumbuhan dan organisme perairan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, organisme tersebut memerlukan persyaratan tertentu dalam habitat hidupnya yaitu kondisi perairan.

Berbagai masalah telah timbul, mengganggu dan mengancam fungsi- fungsi tersebut karena telah terjadi degradasi lingkungan waduk. Berdasarkan fungsi perairan tersebut, maka informasi tentang parameter Kimia perlu dikemukakan untuk digunakan sebagai indikator kualitas perairan serta bahan pembanding dalam kegiatan peruntukan budidaya keramba jaring apung (KJA).

1.2. Tujuan dan Kegunaan Penelitian.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui parameter kualitas kimia perairan waduk bili-bili sebagai tempat peruntukan kegiatan budidaya ikan yaitu keramba jaring apung (KJA). Sedangkan kegunaan dari penelitian ini dapat diperoleh gambaran tentang kualitas air di perairan waduk Bili-bili sebagai tempat peruntukan budidaya keramba jaring apung (KJA). Dari data yang didapatkan di lapangan diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat yang ingin melakukan budidaya ikan waduk Bili-bili.

(16)

3 II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ekosistem keramba

Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terdiri atas komponen- komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi sehingga membentuk satu kesatuan. Ekosistem air yang terdapat di daratan (inland water) secara umum dapat dibagi 2 yaitu perairan lentik (lentic water), atau juga disebut sebagai perairan tenang, misalnya danau, rawa, waduk, situ, telaga, dan sebagainya dan perairan lotik (lotic water), disebut juga sebagai perairan yang berarus deras, misalnya sungai, kali, kanal, parit dan sebagainya. Perbedaan utama antara perairan lotik dan lentik adalah dalam kecepatan arus air. Perairan lentik mempunyai kecepatan arus yang lambat serta terjadi akumulasi massa air yang berlangsung dengan cepat (barus, 2007).

2.2. Faktor kimia perairan 2.2.1. Derajat keasaman (pH)

Derajat keasaman merupakan gambaran dari jumlah atau aktivitas ion hidrogen didalam air. Secara umum nilai pH air menggambarkan keadaan seberapa besar tingkat keasaman atau kebasaan suatu perairan. Perairan dengan nilai pH = 7 berati kondisi air bersifat netral, pH < 7 berarti kondisi air bersifat asam, sedangkan pH > 7 berarti kondisi air bersifat basa (Effendi, 2003).

Selanjutnya, Pescod (1973) menjelaskan bahwa nilai pH air dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu fotosintesis, respirasi organisme akuatik, suhu dan keberadaan ion-ion di perairan tersebut.

(17)

4 Nilai pH dapat mempengaruhi spesiasi senyawa kimia dan toksisitas dari unsur-unsur renik yang terdapat di perairan, sebagai contoh H2S yang bersifat toksik banyak ditemui di perairan yang tercemar dan perairan dengan nilai pH rendah. Perairan dengan kondisi asam kuat akan menyebabkan unsur logam berat seperti aluminium memiliki mobilitas yang meningkat dan karena logam ini bersifat toksik maka dapat mengancam kehidupan biota. Demikian juga bila pH air terlalu basa maka keseimbangan amonium dan amoniak akan terganggu.

Selain itu, pH air juga mempengaruhi parameter BOD dan kandungan nutrien dalam air seperti fosfat, nitrogen dan nutrien lainnya (Dojildo and Best, 1992).

Tabel 1. Kelayakan parameter pH kualitas air untuk budidaya KJA air tawar Parameter Kisaran optimal Literatur

pH 6,5-8 Gusrina (2008)

7 (Effendi, 2003)

6.5 – 8.5 EPA (1973) dan Kep MenLH

(2004)

2.2.2. Oksigen terlarut (DO)

Gas oksigen sangat dibutuhkan bagi kehidupan organisme air. Gas oksigen umumnya banyak dijumpai dilapisan permukaan, oleh karena gas oksigen umumnya banyak dijumpai dilapisan permukaan, oleh karena gas oksigen yang berasal dari udara didekatnya melalui pelarutan (difusi) ke dalam air laut. Sumber oksigen terlarut dalam air berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer,

(18)

5 arus atau aliran air melalui air hujan serta aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton (Novonty, 1994).

Jika persediaan oksigen terlarut di perairan sangat sedikit maka perairan tersebut tidak baik bagi ikan dan makhluk hidup lainnya yang hidup di perairan, karena akan mempengaruhi kecepatan pertumbuhan organisme air tersebut.

Kandungan oksigen terlarut minimum 2 mg/l sudah cukup mendukung kehidupan organisme perairan secara normal (Wardana, 1995).

Tabel 2. Kelayakan parameter DO kualitas air untuk budidaya KJA air tawar.

Parameter Kisaran optimal Referensi

DO > 4 mg/L (Asmawi, 1984).

7-9 mg/L. Effendi (2003).

5-6 ppm Gusrina (2008)

5 – 7 ppm (Kordi dan Tancung, 2005)

Tabel 3. Status kualitas air berdasarkan kadar oksigen terlarut (Jeffries/Mills, 1996)

No Kadar oksigen terlarut

(mg/l) Status kualitas air

1 > 6,5 Tidak tercemar sampai tercemar sangat

ringan

2 4,5 – 6,4 Tercemar ringan

3 2,0 – 4,4 Tercemar sedang

4 < 2,0 Tercemar berat

(19)

6 2.2.3. Amonia

Dari semua parameter kualitas air yang mempengaruhi ikan, amonia adalah yang paling penting setelah oksigen. Amonia merupakan salah satu gas yang umum dijumpai dalam air . Amonia mudah tertimbun di dalam sistem perairan karena ia merupakan hasil samping alami metabolisme ikan serta hasil penguraian sisa-sisa makanan dan bahan organik lainnya. Ada dua bentuk amonia dalam air, yaitu amonia tak terionisasi (disebut juga amonia bebas) dan amonia terionisasi. Bentuk amonia tak terionisasi (NH3) sangat beracun sedang bentuk terionisasi (ion NH4+) tidak beracun. Kedua bentuk ini secara bersama-sama disebut “amonia total”.

Di perairan alami seperti danau amonia mungkin tidak pernah mencapai tingkat yang berbahaya karena rendahnya kepadatan ikan. Konsentrasi amonia yang tinggi dan berbahaya biasanya hanya terjadi dalam sistem budidaya yang bersifat resirkulasi (air didaur ulang terus-menerus) dan di kolam budidaya setelah terjadinya kematian masal fitoplankton. Keracunan amonia juga timbul pada sistem budidaya intensif. Masalah yang dijumpai dalam sistem akuakultur biasanya berasal dari produksi amonia yang berlebihan.

Dalam air, amonia terionisasi menjadi ion amonium tetapi reaksi ini bisa kembali dengan terbentuknya amonia bebas. Efek racun yang ditimbulkan amonia tak terionisasi bisa menyebabkan kerusakan insang, ginjal, limfa, jaringan tiroid dan darah ikan (Boyd, 1982).

Beberapa faktor mengubah daya racun amonia dalam air. Sebagian faktor ini mengubah konsentrasi amonia tak terionisasi dengan menggeser reaksi

(20)

7 keseimbangan amonia – amonium, sedang faktor-faktor lainnya mempengaruhi daya racun amonia itu sendiri. Faktor-faktor tersebut, selain suhu dan aklimasi, adalah konsentrasi oksigen terlarut, pH, konsentrasi karbon dioksida, salinitas dan keberadaan racun lainnya (EPA,1986). Kalsium, kalium dan natrium juga dilaporkan mempengaruhi daya racun amonia (Borgmann and Borgmann, 1997;

Soderberg and Meade, 1992; Weirich et al., 1993).

Menurut Boyd (1982) amonia lebih beracun bila konsentrasi oksigen telarut rendah. Satyanarayana et al. (2008) menambahkan bahwa kondisi kekurangan oksigen timbul bersamaan dengan meningkatnya konsentrasi amonia tak terionisasi yang beracun.

Tabel 4. Kelayakan parameter kualitas air untuk budidaya KJA air tawar.

Parameter Kisaran optimal Referensi

Amonia < 1,5 ppm Gusrina (2008)

1 mg/l Frits Tatangindatu, (2013)

0,1 mg/l Puspowardoyo, (1992).

2.2.4. Fosfor (P)

Fosfor merupakan salah satu bahan kimia yang keberadaanya sangat penting bagi semua mahluk hidup, terutama dalam pembentukan protein dan transfer energi didalam sel seperti ATP dan ADP. Pada ekosistem perairan, fosfor terdapat dalam bentuk senyawa fosfor, yaitu : 1) fosfor anorganik; 2) fosfor organik dalam protoplasma tumbuhan dan hewan dan 3) fosfor organik terlarut

(21)

8 dalam air, yang terbentuk dari proses penguraian sisa-sisa organisme (Barus, 2004).

Secara alami, senyawa fosfat yang terdapat pada perairan bersumber dari hasil pelapukan batuan mineral seperti Fluorapatite (Ca5-(PO4)3F), Hydroxylapatite (Ca5(PO4)3 OH) dan Whytlockite (Ca3(PO4)2) dan dari hasil dekomposisi sisa-sisa organisme di dalam air. Selain sumber alami, senyawa fosfot juga dapat bersumber dari faktor antropogenik yang antara lain berasal dari limbah rumah tangga seperti deterjen, limbah pertanian (pupuk), limbah perikanan dan limbah industri. Sawyer dan Mc.Carty (1978) menyatakan bahwa senyawa fosfor anorganik yang terdapat pada perairan berada dalam 2 (dua) bentuk, yaitu : 1) dalam bentuk ortofosfat, yang terdiri dari trinatrium fosfat (Na3PO4), dinatrium fosfat (Na2HPO4), mononatrium fosfat (NaH2HPO4) dan diamonium fosfat ((NH3)2HPO4); 2) dalam bentuk polyfosfat, yang yang terdiri dari natrium hexametafosfat (Na3(PO3)6) dan natrium tripolifosfat (Na5P3O10).

Ortofosfat merupakan bentuk senyawa fosfat yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan akuatik secara langsung sebagai sumber fosfor, sedangkan polyfosfat merupakan senyawa yang tidak dapat dimanfaatkan tumbuhan secara langsung, oleh sebab itu agar senyawa polyfosfat dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan akuatik sebagai sumber fosfor, maka senyawa polyfosfat harus terlebih dahulu mengalami hidrolisis menjadi senyawa ortofosfat.

Oleh karena senyawa orthofosfat merupakan senyawa yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman termasuk fitoplankton dan alga pada

(22)

9 perairan, maka kesuburan suatu perairan dapat ditentukan berdasarkan kandungan orthofosfatnya. mengklasifikasikan tingkat kesuburan suatu perairan berdasarkan tinggi rendahnya kandungan orthofosfat pada perairan tersebut.

Tabel 5 . klasifikasi perairan berdasarkan konsentrasi PO4

No Klasifikasi Orthofosfat (PO4)

1. Oligotrofik 0,003-0,01

2. Mesotrofik 0,011-0,03

3. Eutofik 0,031-0,1

(sumber: vollenweider dalam wetzel, 1975).

Selain berdasarkan kandungan fosfat, tingkat kesuburan suatu perairan dapat juga diklasifikasikan berdasarkan kandungan fosfor totalnya. Tingkat kesuburan perairan berdasarkan kandungan fosfor totalnya menjadi 3 golongan,yaitu : 1) Perairan dengan tingkat kesuburan yang rendah yaitu perairan yang kandungan fosfor totalnya berkisar 0 – 0,02 mg/l; 2) Perairan dengan tingkat kesuburan yang sedang yaitu perairan yang kandungan fosfor totalnya berkisar 0,021 – 0,05 mg/l; 3) Perairan dengan tingkat kesuburan yang tinggi yaitu perairan yang kandungan fosfor totalnya berkisar 0,051 – 0,1 mg/l.

Menurut Bruno et al (1979) dalam Sumardianto, (1995) bahwa kandungan ortofosfat yang optimal bagi pertumbuhan fitoplankton adalah 0,27 - 5,51 mg/L, dimana apabila konsentrasinya kurang dari 0,02 mg/L, maka fosfat akan menjadi faktor pembatas. Selanjutnya, Moyle (1946) dalam Ardiwijaya (2002) menyatakan bahwa perairan dengan konsentrasi fosfat yang rendah (0,00- 0,02 mg/l) akan didominasi oleh fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae (Diatom), pada konsentrasi fosfat yang sedang (0,02-0,05 mg/l) akan didominasi

(23)

10 oleh kelas Chlorophyceae, sedangkan pada konsentrasi fosfat yang tinggi (>0,10 mg/l) akan didominasi oleh kelas Chlorophyceae.

Tabel 6. Kelayakan parameter kualitas air untuk budidaya KJA air tawar.

Parameter Kisaran optimal Referensi Fosfor < 0,02 ppm Gusrina (2008)

0,02 – 0,1 mg/l Yoshimura dalam Liaw (1969)

> 0,02 mg/L Bruno et al (1979) dalam Sumardianto, (1995)

< 1 mg/l (Cahyono, 2000).

(24)

11 III. METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat

Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai bulan Juni, bertempat di waduk Bili-bili, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan dilanjutkan di laboratorium Universitas Hasanuddin Makassar.

Gambar 1. Peta kabupaten Gowa sulalawesi selatan.

3.2. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 7 :

(25)

12 Tabel 7. Alat dan Bahan

No. Nama alat/bahan Kegunaan

1. DO meter Mengukur DO

2. pH meter Mengukur pH

3. Spektrofotometer Mengukur fosfat

4. Spektrofotometer Mengukur amoniak

5. Botol Sampel Wadah air sampel

6. Cool box Untuk penyimpanan sampel air

7. Kertas milipore Penyaring air sampel

8. Pipet tetes Mengambil sampel

9. Air sampel Bahan yang akan d’teliti

3.3 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian parameter kualitas kimia air meliputi :(1) persiapan, (2) penentuan stasiun pengamatan,(3) pengambilan sampel, (4) peubah yang diamati, dan (5) Analisis data.

3.3,1 Persiapan

Tahapan persiapan meliputi pengumpulan informasi mengenai kondisi umum lokasi penelitian, studi literature dan penentuan metode penelitian yang akan dilaksanakan.

3.3.2 Penentuan Stasiun Pengamatan

Penentuan stasiun pengamatan yang terletak pada zona III atau hulu waduk bilibili yaitu terdiri dari tiga stasiun pengamatan yaitu : (1)Daerah dekat

(26)

13 pemukiman dan kawasan perikanan, (2) Daerah dekat industri perikanan, (3) Daerah dekat pemukiman dan aktifitas pertanian. Pengukuran parameter kualitas kimia air dilakukan sekali dalam seminggu dan lama penelitian yaitu delapan minggu.Stasiun pengambilan sampel air pada waduk bilibili disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Stasiun Pengambilan Sampel Air Keterangan :

St.1 = Daerah dekat pemukiman dan kawasan perikanan St.2 = Daerah industri perikanan

St.3 = Daerah dekat pemukiman dan aktifitas pertanian 3.3.3 Cara pengambilan sampel

Pengambilan air sampel dilakukan delapan kali dengan interval waktu satu minggu. Untuk parameter pH dan DO pengukuran dilaksanakan langsung di lapangan. Sedangkan untuk, amoniak, dan posfor dianalisis di laboratorium.

Sampel yang diambil kemudian dimasukkan ke dalam kotak pendingin (cool box) kemudian dibawa ke laboratorium untuk dianalisis. Sampel dibawa ke laboratorium tidak lebih dari 24 jam di dalam pendingin untuk menjaga kestabilan dan kualitas air sampel.

(27)

14 Pengambilan sampel air dilakukan dengan menggunakan botol. Botol sampel tersebut dimasukan sampai pada kedalaman yang diinginkan 0.5 m dari permukaan perairan. Setelah botol sampel penuh terisi air yang ditandai dengan keluarnya gelembung udara, maka botol sampel langsung diangkat ke permukaan untuk mengisi botol sampel lain yang telah diberi label.

3.3.4 Peubah yang diamati.

Dalam parameter kimia, variabel yang diukur meliputi : 1) pH

pH perairan diukur dengan menggunakan water checker tipe Horiba U10A 2) Oksigen Terlarut

Pengukuran oksigen terlarut pada tiap titik sampling dengan menggunakan water checker tipe Horiba U10A.

3) Fosfat.

Analisis fosfat dimaksud untuk mengetahui kandungan unsur hara dalam perairan. Pengukuran fosfat dilakukan menurut petunjuk Boyd (1981).

 Mengambil sampel air sebanyak 25 ml, masuk ke botol sampel.

 Analisis dilakukan dengan menggunakan 5 tetes SnCL2 pada setiap sampel.

 Larutan didiamkan selama 10 menit. Kemudian larutan tersebut dianalisis menggunakan spektrofotometer Visible.

(28)

15 4) Amonia (NH3-N)

Penentuan kadar amonia dilakukan dengan metode spektrofotometer secara fenat (SNI 06-6989.30-2005) pada kisaran 0,1 mg/L sampai dengan 0,6 mg/L NH3-N dengan panjang gelombang 640 nm.

3.4 Analisis data

Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan antara data yang diperoleh dilapangan dengan kelayakan kualitas air untuk budidaya KJA.

Tabel 8. Kelayakan kualitas air untuk budidaya KJA air tawar.

No. Parameter Kisaran optimal Literatur

1. pH 6.5 – 8.5 EPA (1973) dan Kep

MenLH (2004) 2. Oksigen terlarut > 2 mg/l Wardana, (1995).

3. Amoniak ≤ 1 mg/l Frits tatangindatu, (2013).

4. Fosfor 0,1615 mg/l Bruno et al (1979) dalam Sumardianto, (1995).

(29)

16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum

Bendungan Bili-bili merupakan bendungan terbesar di Sulawesi Selatan yang terletak di Kabupaten Gowa, sekitar 30 kilometer ke arah Timur Kota Makasar Bendungan ini diresmikan pada tahun 1989. Secara geografis, daerah tangkapan waduk Bilibili yang berada di wilayah sub DAS Jeneberang terletak antara 5o11’8”-5o20’54” LS dan 119o34’30”-119o56’54” BT. Bendungan Bilibili terletak pada ketinggian 75-5000 meter di atas permukaan laut.

Waduk Bilibili memiliki luas tangkapan air sebesar 384,4 km2 (38.440 Ha) dengan luas genangan 18,5 km2 dan kedalaman efektif 36,6 m (JRBDP, 2004). Adapun volume tampung total waduk Bilibili yang dapat dibendung adalah sebesar 375.000.000 m3 dengan volume tampung efektif sebesar 346.000.000 m3 dan volume tampungan mati sebesar 29.000.000 m3.

4.2. Oksigen Terlarut

Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan diketahui bahwa nilai oksigen terlarut pada air waduk Bilibili cukup bagus yaitu sekitar 7 hingga 8 mg/l. Hasil pengukuran DO (oksigen terlarut) pada tiga stasiun pengamatan dengan lama waktu pengamatan empat minggu yang berlokasi di waduk Bilibili Kabupaten Gowa. Dapat di lihat pada tabel 9.

(30)

17 Tabel 9. Hasil Rata-rata Pengukuran DO (oksigen terlarut)

Stasiun Minggu Pengamatan

Total Rata-rata

1 2 3 4

I 7,07 7,42 8,42 8,15 31,06 7,77

II 7,42 8,6 8,29 8,34 32,65 8,17

III 8,03 7,57 8,33 8,1 32,03 8,01

Dari hasil rata-rata pengukuran DO (oksigen terlarut) pada tiga stasiun diatas maka didapatkan nilai oksigen terlarut terendah yaitu pada stasiun 1 dengan nilai 7,77 mg/l dan tertinggi yaitu pada stasiun 2 dengan nilai DO 8,17 mg/l. dan untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada grafik berikut :

Gambar 3. Hasil Pengukuran DO

Berdasarkan hasil Rata-rata menunjukkan bahwa kandungan DO pada stasiun pengamatan berkisar antara 7,77 - 8,17 mg/l dimana pada kisaran ini sangat baik untuk kegiatan budidaya keramba jaring apung (KJA) karena kandungan oksigen terlarut masih dalam kisaran yang optimum seperti yang dijelaskan Wardana, (1995). bahwa kandungan oksigen terlarut untuk menunjang usaha budidaya adalah > 2 mg/l.

7,5 7,6 7,7 7,8 7,9 8 8,1 8,2

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

(31)

18 Hal yang mengakibatkan area stasiun II lebih banyak mengandung DO karena pada area tersebut terdapat banyak aktivitas biologi organisme, karena keadaan perairan lebih dalam di bandingkan stasiun I dan III, sehingga organisme lebih cenderung berkumpul pada perairan tersebut, dan salah satu penyebab peningkatan DO pada perairan adalah banyaknya aktifitas biologi pada perairan tersebut.

Dan hal lain yang mengakibatkan Perbedaan Kandungan oksigen terlarut dalam air pada masing-masing stasiun dipengaruhi oleh perbedaan waktu pengukuran sampel sehingga sangatlah berpengaruh terhadap suhu yang berdampak pada kandungan oksigen terlarut diperairan.. Hal ini sesuai dengan pendapat Effendi (2003) yang menyatakan bahwa walaupun pada kondisi terbuka, kandungan oksigen perairan tidak sama dan bervariasi berdasarkan siklus, tempat, dan musim. Kadar oksigen juga berfluktuasi secara harian, musiman, pencampuran massa air, pergerakan massa air, aktifitas fotosintesa, resfirasi dan limbah yang masuk kedalam air, serta difusi oksigen kedalam air terjadi secara langsung pada kondisi stagnant (diam) atau karena agitasi (pergolakan massa air) akibat adanya gelombang atau angin.

4.3. pH

Berdasarkan hasil pengukuran pada masing-masing stasiun diketahui bahwa nilai pH pada air waduk Bilibili sekitar 7 hingga 8. Hasil pengukuran pH pada tiga stasiun pengamatan dengan lama waktu pengamatan empat minggu yang berlokasi di waduk Bilibili Kabupaten Gowa dapat dilihat pada tabel 10.

(32)

19 Tabel 10. Hasil pengukuran pH

Stasiun Minggu Pengamatan

Total Rata- rata

1 2 3 4

1 8,02 7,78 8,51 8,86 33,17 8,3

2 8,05 8,58 5,57 8,84 31,04 7,76

3 7,4 8,45 8,49 8,83 33,17 8,3

Hasil rata-rata pengukuran pada tiga stasiun didapatkan nilai pH terendah yaitu pada stasiun 2 dengan nilai pH 7,76 dan tertinggi yaitu pada stasiun 1 dan 3 dengan nilai pH 8,3. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada grafik di bawah ini:

Gambar 4. Hasil pengukuran pH

Berdasarkan hasil pengukuran dilapangan diperoleh nilai rata-rata pH pada masing-masing stasiun yaitu stasiun I dengan kandungan pH 8.3, stasiun II dengan kandungan pH 7,76, stasiun III dengan kandungan pH 8.3, yang menunjukkan bahwa perairan pada semua stasiun penelitian yaitu pada waduk Bilibili masih layak untuk kegiatan budidaya ikan karena nilai pH perairan tersebut masih dalam batas yang optimum seperti yang dijelaskan oleh EPA

7,4 7,6 7,8 8 8,2 8,4

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

Rata-rata perstasiun

rata-rata perstasiun

(33)

20 (1973) dan KepMenLH (2004), bahwa sebagian besar organisme akuatik sensitive terhadap perubahan pH dan menyukai kisaran pH sekitar 6,5-8,5).

Stasiun I dan III memiliki kandungan pH yang sama karena pada ke dua area tersebut merupakan area yang limbah buangannya berasal dari sampah- sampah yang tidak banyak mengandung senyawa kimia sehingga kemungkinan peningkatan pH tinggi, dimana stasiun I merupakan tempat pembuangan sampah organik, dan stasiun III adalah area pembuangan limbah pertanian. Berbeda dengan stasiun II, dimana pada area tersebut yaitu lokasi pembuangan hasil industri sehingga banyak mengandung senyawa kimia yang mengakibatkan kemungkinan peningkatan pH pada perairan rendah.

4.4. Fosfat

Berdasarkan hasil analisis pada masing-masing stasiun diketahui bahwa nilai fosfat pada air waduk Bili-bili yaitu sekitar <0.001 hingga0.722 ppm. Hasil pengukuran fosfat pada tiga stasiun pengamatan dengan lama waktu pengamatan empat minggu yang berlokasi dibagian waduk Bili-bili Kabupaten Gowa dapat dilihat pada tabel 11.

Tabel 11. Hasil Pengukuran fosfat

Stasiun

Minggu Pengamatan

Total Rata- rata Minggu

1

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

Stasiun satu 0,34 0 0 0,421 0,761 0,19

stasiun dua 0,5 0,26 0 0,421 1,181 0,29

stasiun tiga 0,48 0 0 0,449 0,929 0,23

(34)

21 Dari hasil rata-rata diatas hasil pengukuran maka didapatkan nilai fosfat yang paling rendah adalah pada stasiun I dengan nilai 0,19 mg/l dan fosfat tertinggi terdapat pada stasiun 2 dengan nilai fosfat 0,29 mg/l. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada grafik di bawah ini:

Gambar 5. Hasil analisis fosfat

Nilai fosfat yang diperoleh dari hasil pengukuran dilapangan pada masing-masing stasiun pada minggu yang sama tidak terlalu berfariasi akan tetapi perbedaan nilai fosfat pada pengukuran setiap minggunya sangat berfariasi dimana pada pengukuran minggu ke 1 sampai mingu ke 3 terus mengalami penurunan dan meningkat sangat pesat pada minggu ke 4. Diantara semua stasiun pengamatan, stasiun II yang memiliki nilai fosfat yang relative lebih tinggi dibandingkan stasiun lainnya karena stasiun II merupakan kawasan industri.

Dimana pada stasiun 2 relatif lebih tinggi diakibatkan karena adanya limbah dari hasil pengerukan. Nilai fosfat pada kisaran tersebut menunjukkan bahwa kandungan fosfat pada stasiun penelitian melebihi batas nilai maksimum

0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,35

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

Rata-rata perstasiun

Nilai rata-rata fosfat

(35)

22 yang dapat ditoleransi oleh organisme budidaya. Sejalan dengan penyataan tersebut dijelaskan oleh Gusrina (2008) bahwa kandungan fosfat yang lebih tinggi dari batas toleransi dapat berakibat terhambatnya pertumbuhan. Kandungan fosfat 0,1011 mg/l - 0,1615 mg/l merupakan batas yang layak untuk normalitas kehidupan organisme budidaya.

Kandungan fosfat yang terlalu tinggi dapat menghambat pertumbuhan hewan budidaya dan mengakibatkan plankton menjadi blooming. Hal ini sesuai dengan pendapat Kibria et al. (1996) yang menyatakan bahwa kadar fosfat yang tinggi dalam perairan melebihi kebutuhan normal organisme akan menyebabkan eutrofikasi yang memungkinkan plankton berkembang dalam jumlah yang melimpah kemudian akan menyebabkan kematian.

4.5. Ammonia

Berdasarkan hasil pengukuran pada masing-masing stasiun diketahui bahwa nilai amonia pada air waduk Bilibili yaitu sekitar 0.002 hingga0.004 ppm.

Hasil pengukuran ammonia pada tiga stasiun pengamatan dengan lama waktu pengamatan empat minggu yang berlokasi dibagian hulu waduk Bili-bili Kabupaten Gowa disajikan pada tabel 12.

Tabel 12. Hasil Analisis Ammonia Stasiun

Minggu Pengamatan

Total Rata- rata Minggu

1

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

Stasiun satu 0,002 0,003 0,001 0,002 0,008 0,002 stasiun dua 0,002 0,003 0,001 0,002 0,008 0,002 stasiun tiga 0,004 0,003 0,001 0,001 0,009 0,002

(36)

23 Dari hasil pengukuran ammonia pada masing- masing stasiun tidak begitu berpariasi yaitu dengan nilai masing-masing stasiun 0,002 mg/l. Dari hasil tersebut maka nilai ammonia pada stasiun pengamatan cukup baik atau tidak melebihi nilai optimum ammonia pada perairan sehingga tidak akan mempengaruhi organisme budidaya. Hal ini sesuai dengan yang tercantum dalam PP. RI No. 82 Tahun 2001 bagi perikanan, kadar atau kandungan amoniak bebas untuk ikan yang peka adalah < 0,02 mg/ L.

Hasil pengukuran ammonia pada stasiun pengamatan I, II dan III disajikan dalam bentuk grafik seperti pada gambar 6.

Gambar 6. Hasil analisis ammonia

Nilai ammonia yang diperoleh dari hasil pengukuran pada masing-masing stasiun pengamatan tidak begitu berfariasi. Diantara stasiun pengamatan, semua stasiun memiliki nilai ammonia yang cukup stabil dari empat minggu pengukuran yaitu dengan nilai ammonia 0.002 ppm. Kandungan ammoniak pada ketiga stasiun sama disebabkan ketiga stasiun tersebut merupakan area pembuangan

0 0,0005 0,001 0,0015 0,002 0,0025

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

Rata-rata perstasiun

Nilai rata-rata ammonia

Rata-rata perstasiun Stasiun 1

Rata-rata perstasiun Stasiun 2

Rata-rata perstasiun Stasiun 3

(37)

24 limbah domestik dan limbah industri sehingga terjadi denitrifikasi pada limbah oleh mikroba pada kondisi anaerob. Hal ini sesuai dengan pendapat Sastrawijaya, (2000) yang mengatakan bahwa ammoniak juga berasal dari denitrifikasi pada limbah oleh mikroba pada kondisi anaerob. Kemudian ditambahkan oleh Marganof, (2007) bahwa ammonia juga dapat berasal dari limbah domestik dan limbah industri.

4.5. Perbandingan Hasil pengukuran Dengan Sumber Rujukan

Untuk mengetahui kelayakan perairan waduk Bilibili maka parameter kimia dari hasil pengukuran dilapangan maka akan dibandingkan dengan berbagai sumber rujukan seperti disajikan pada tabel 13.

Tabel 13. Perbandingan Hasil Pengukuran Dengan Sumber Rujukan

No. Parameter

Parameter Hasil Pengukuran

Parameter

yang layak Referensi Ket.

1 2

3

4

DO pH

Fosfat

Ammonia

6.916 – 7.84 mg/l

7.9 – 9.4

<0.001 - 0.50 ppm

0.001 - 0.004 ppm

> 5 mg/l 7 – 8,5

0,2 mg/L

< 0,02 mg/ l

Effendi, 2003 Effendi, 2000

Standar Bakumutu PPNo. 82 Tahun 2001(kelas II)

Standar Bakumutu PP No. 82 Tahun 2001(kelas II)

Baik dan layak

Cukup baik dan

cenderung basa Melebihi batas toleransi Baik dan layak

(38)

25 V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dan telah dibahas pada bab sebelumnya maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu:

1. Berdasarkan hasil pengamatan DO( oksigen terlarut) diperairan waduk bili-bili masih dalam batas yang optimum dan layak untuk dijadikan tempat budiday.

2. Kandungan pH yang terkandung pada waduk bili-bilimasih dalam batas yang optimum dan layak bagi kegiatan budidaya.

3. Kandungan Amoniak yang terkandung dalam waduk bili-bili masih layak untuk dijadikan lahan budidaya.

4. Kandungan Fosfat pada waduk bili-bili menunjukkan nilai diatas batas maksimum, akan tetapi pada kisaran ini masih bisa ditolerir sehingga tidak dapat mempengaruhi parameter lain.

5.2 Saran

1. Memaksimalkan pelestarian aliran sungai terutama bagian hulu sehingga kontinuitas aliran dapat lebih stabil.

2. Peralatan dan bahan pereaksi fisika dan kimia sebaiknya menggunakan alat yang lebih lengkap selain mengunakan metode tetrasi pada larutan.

3. Air limbah rumah tangga (domestic)hendaknya diolah terleih dahulu sebelum dibuang kesaluran pembuangan yang menuju kearah sungai/badan air dengan maksud menurunkan nitrogen anorganik serta zat-zat tersuspensi .

(39)

26 DAFTAR PUSTAKA

Akbar S dan Sudaryanto, (2001). Pembenihan dan Pembesaran Kerapu Bebek.

Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.

Ardiwijaya, R.R. 2002. Distribusi horizontal klorofil-a dan hubungannya dengan kandungan unsur hara serta kelimpahan fitoplankton di Teluk Semangka, Lampung. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi MSP. FP IK. IPB.

Bogor.

Asmawi, S. 1984. Pemeliharaan Ikan dan Ekosikologi Pencemaran. UI Press.

Jakarta.

Barus, T.A. 2004. Pengantar Limnologi, Studi Tentang Ekosistem Sungai dan Danau. Jurusan Biologi Fakultas MIPA USU. Medan.

Barus, T.A. 2007. Keanekaragaman Hayati Ekosistem Danau Toba dan Upaya Pelestariannya. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Limnologi pada Fakultas MIPA USU. Medan. 3 Februari 2007.

Beveridge, M.C.M. 1984. The environmental impact of freshwater cage and pen fish farming and the use of simple models to predict carrying capacity.

FAO Technical Paper No. 255. Rome.

Boyd, C.E. 1982. Water Quality in Warm Water Fish Pond. Auburn University Agricultural Experimenta Satation. Auburn Alabama.

Brotowijoyo M D,. Dj. Tribawono., E. Mulbyantoro. 1995. Pengantar Lingkungan Perairan Budidaya Air. Penerbit Liberty, Yogyakarta.

Cahyono, Bambang. (2000). Budi Daya Ikan Air Tawar. Penerbit: Kanisius.

Yogyakarta.

Dojildo, J.R., and G.A. Best. 1992. Chemistry of Water and Water Pollution. Ellis Horwood Limited. New York.

Effendi, H. (2003).Telaah Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius.

EPA. 1973. Water Quality Criteria. Ecological Research Series. Washington:

595p.

Frits Tatangindatu, Ockstan Kalesaran, Robert Rompas., 2013. Laporan Penelitian Studi Parameter Fisika Kimia Air pada Areal Budidaya Ikan di Danau Tondano, Desa Paleloan, Kabupaten Minahasa. 8-19 halaman.

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 1 untuk SMK. Jakarta

(40)

27 Hardjojo B dan Djokosetiyanto. 2005. Pengukuran dan Analisis Kualitas Air.

Edisi kesatu, Modul 1 – 6. Universitas Terbuka. Jakarta.

Jeffries, M., and D. Mills. 1996. Freshwater Ecology, Principles and Applications. John Wiley and Sons. Chicester UK.

Kep MENLH No. 51 Tahun 2004. Podoman Baku Mutu Air Laut Untuk Budidaya Biota Laut.

Kordi G, Tancung AB. 2005. Pengelolaan Kualitas Air Dalam Budidaya Perairan. Rineka Cipta. Jakarta.

Kusuma, E. M. (2005). Kajian Perubahan Kualitas Air Sungai Code Setelah Melewati Kawasan Perkotaan. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM.

Liaw, M.K., 1969. Chemical and biological Studies of Fish Pond and Reseoir in Taiwan. Chine-American join Comission on rural reconstruction fish series.

Lohoo s.v., Moningkey R, 1998. Evaluasi Kandungan Sulfida (H2S) dan Amoniak (NH3) Terlarut pada Wadah Pemeliharaan Ikan Dengan Sistem Terapung di Danau Tondano. Jurnal Reseach And Development, 19 (18); Hal 49-54.

Marganof. 2007. Modal pengendalian pencemaran perairan di danau maninjau sumatera barat, Laporan Hasil Penelitian Sekolah Pasca Sarjana IPB Bogor.

Nixon, S.W. 1995. Coastal marine eutrophication: a defijition, sosial causes, and future concens. Ophelia, 41:199-219

Novonty, V., and H. Olem. 1994. Water Quality, Prevention, Identification and Management of Diffuse Pollution. Van Nostrans Reinhold. New York.

Olivia. 2012. Studi Kualitas Air Disungai Kahayan. Universitas Kristen Palangka Raya. Skripsi 25 Hal.

Pescod, M.B. 1973. Invfestigation of Nasional Efluent and Steram Standar for Tropical Countries. AIT. Bangkok.

PP No. 82 Tahun 2001. Standar Baku Mutu Air (Kelas II) Untuk Kegiatan Budidaya.

Puspowardoyo, Harsono. (1992). Membudidayakan Gurami Secara Intensif.

Penerbit: Kanisius. Yogyakarta.

Saefumillah, Asep. 2002. Eutrofikasi Problem Lingkungan Berskala Global.

http://www.limnologi.lipi.co.id/dip/ringkasan.html

(41)

28 Sawyer,C.N. and P.L.Mc.Carty. 1978. Chemistri For Environmental Engineering.

3nd Ed. Mc. Graw Hill Kogakusha Ltd.

Sastrawijaya A T. 2000. Pencemaran Lingkungan. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

SNI 6989.57:2008. Air dan air limbah – bagian 57; Metode pengambilan contoh air permukaan. ICS 13.060.50 Badan Standardisasi Nasional.

Sudja, W.A. 1985. Ilmu Kimia Lingkungan. jakarta: universitas terbuka

Sumardianto. 1995. Struktur Komunitas Fitoplankton di perairan Teluk Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor, Bogor. 57 p.

Van Wyk P dan John Scarpa. 1999. Water Quality requiremente and management. Chapter 8 in. Farming Marine Shrip in Recirculating Freshwatwer System. Prepared by Peter Van Wyk. Megan Davishodgkins, rolland Laramore, Kevan L. Main, Joe Mountain, John Scarpa. Florida Departement of Agriculture and Consumers Servis. Horbor Branch Oceanographic Institution.

Wardhana, W. A. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Andi Offset

Wardoyo, S.T.H. 1989. Kriteria Kualitas Air untuk Pertanian dan Perikanan.

Makalah pada Seminar Pengendalia Pencemaran Air, Dirjen Pengairan Departemen Pekerjaan Umum, Bandung.

Wetzel, R.O. 1975. Limnologi. Sounders Collage Publishing. USA.

(42)

29

(43)

30 Lampiran 1. Hasil pengukuran DO waduk Bilibili zona I minggu pertama

sampai minggu keempat.

Minggu

Ulangan Stasiun

Pengamatan 1 2 3

1

1 7,54 7,5 8

2 7 7,36 8,02

3 6,67 7,39 8,07

Total 21,21 22,25 24,09

Rata-rata 7,07 7,42 8,03

2

1 7,5 8,44 7,58

2 7,36 8,4 7,55

3 7,39 8,95 7,57

Total 22,25 25,79 22,7

Rata-rata 7,42 8,6 7,57

3

1 8,49 8,24 8,48

2 8,49 8,25 8,2

3 8,27 8,38 8,29

Total 25,25 24,87 24,97

Rata-rata 8,42 8,29 8,33

4

1 8,17 8,47 8,38

2 8,11 8,25 8

3 8,17 8,29 7,9

Total 24,45 25,01 24,28

Rata-rata 8,15 8,34 8,1

Lampiran 2. Hasil rata-rata pengukuran DO waduk Bilibili zona I minggu pertama sampai minggu keempat.

Minggu Stasiun

Pengamatan 1 2 3

Minggu Pertama 7,07 7,42 8,03

Minggu Ke-2 7,42 8,6 7,57

Minggu ke-3 8,42 8,3 8,33

Minggu ke-4 8,15 8,34 8,1

Total 31,06 32,66 32,03

Rata-rata 7,765 8,165 8,0075

(44)

31 Lampiran 3. Hasil pengukuran pH waduk Bilibili zona I minggu pertama

sampai minggu keempat.

Minggu

Ulangan Stasiun

Pengamatan 1 2 3

1

1 7,89 7,97 7,32

2 8,08 8,07 7,5

3 8,07 8,11 7,37

Total 24,04 24,15 22,19

Rata-rata 8,02 8,05 7,4

2

1 7,88 8,53 8,74

2 7,81 8,54 8,27

3 7,64 8,66 8,32

Total 23,33 25,73 25,33

Rata-rata 7,78 8,58 8,45

3

1 8,52 8,33 8,43

2 8,5 8,44 8,47

3 8,5 8,25 8,55

Total 25,52 25,02 25,45

Rata-rata 8,51 8,34 8,49

4

1 8,86 8,36 8,8

2 8,86 8,86 8,8

3 8,85 8,93 8,89

Total 26,57 26,15 26,49

Rata-rata 8,86 8,72 8,83

Lampiran 4. Hasil rata-rata pengukuran pH waduk Bilibili zona I minggu pertama sampai minggu keempat.

Minggu Stasiun

Pengamatan 1 2 3

Minggu Pertama 8,02 8,05 7,4

Minggu Ke-2 7,78 8,58 8,45

Minggu ke-3 8,51 8,34 8,49

Minggu ke-4 8,86 8,72 8,83

Total 24,31 24,97 24,34

Rata-rata 8,11 8,33 8,12

(45)

32 Lampiran 5. Hasil rata-rata analisis fosfat waduk Bilibili zona I minggu

pertama sampai minggu keempat.

Stasiun Minggu Pengamatan

Total Rata-rata Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4

Stasiun satu 0,34 0 0 0,421 0,761 0,19

stasiun dua 0,5 0,26 0 0,421 1,181 0,29

stasiun tiga 0,48 0 0 0,449 0,929 0,23

Total 1,32 0,26 0 1,29

Rata-rata 0,44 0,08 0 0,43

Lampiran 6. Hasil rata-rata pengukuran ammonia waduk Bilibili zona I minggu pertama sampai minggu keempat.

Stasiun Minggu Pengamatan

Total Rata- rata Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4

Stasiun satu 0,002 0,003 0,001 0,002 0,008 0,002

stasiun dua 0,002 0,003 0,001 0,002 0,008 0,002

stasiun tiga 0,004 0,003 0,001 0,001 0,009 0,002

Total 0,008 0,008 0,003 0,005

Rata-rata 0,003 0,003 0,002 0,002

(46)

33 Gambar 7. Analisis fosfat di laboratorium UNHAS.

Gambar 8. Analisis ammonia di laboratorium UNHAS

(47)

34 Gambar 9. Analisis fosfat di laboratorium UNHAS.

Gambar 10. Botol sampel

(48)

35 RIWAYAT HIDUP

Riswandi Yusuf merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara pasangan dari Ayahanda Muh.Yusuf dan Rania, Lahir di Salassae 09 Oktober 1991.

Pendidikan formal yang dilalui penulis mulai di SDN 244 Salassae, Lulus pada tahun 2004, dilanjutka di SMP Negeri 6 Salassae Lulus

pada tahun 2007, Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Bulukumpa Lulus tahun 2010. Pada tahun yang sama, penulis lulus seleksi masuk program studi Budidaya Perairan Fakultas Pertaniam Universitas Muhammadiyah Makassar. Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah magang di Instalasi Tambak Percobaan Marana Kab. Maros. Penulis juga pernah mengikuti Kuliah Kerja Profesi (KKP) Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar. Atas berkat rahmat Allah Swt, disertai perjuangan keras dan dorongan semangat orang tua dan teman- teman tercinta, akhirnya dapat menyelesaikan studi pada tahun 2014 dengan judul skripsi “Studi paramer Kimia Bagi Peruntukan Budidaya Keramba Jaring Apung(Studi Kasus Waduk bili-bili).

Referensi

Dokumen terkait

Jika Anda menyambungkan telepon ke komputer kantor menggunakan USB atau sambungan Bluetooth™, Anda dapat menggunakan sambungan ini ke komputer untuk mengakses jaringan dan

Alat  –   –  alat yang digunakan dalam kegiatan kultur jaringan terdiri atas: botol kultur, alat yang digunakan dalam kegiatan kultur jaringan terdiri atas: botol

Jadi penelitian tersebut memiliki persamaan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu, sama-sama meneliti penggunaan konjungsi atau kata sambung pada surat

Sedangkan teori khusus lebih spesifik dalam penelitian ini adalah peran PR dalam menciptakan, meningkatkan serta menjaga komunikasi yang efektif didalam perusahaan

Pada defisiensi G6PD kadar NADPH berkurang, sehingga adanya paparan oksidan terhadap sel darah merah selain dapat mengakibatkan terbentukmya peroksida lipid (suatu

Jalan Desa/Nagari adalah jalan lingkungan primer dan jalan lokal sekunder yang tidak termasuk jalan Kabupaten di dalam kawasan Pedesaan/Nagari, dan merupakan... 298 jalan umum

Novel “Peri Kecil di Sungai Nipah” mendedahkan bahwa praktek-praktek sebuah ideologi politik asing yang tidak sesuai dengan konteks sosio- historis masyarakat setempat akan

Untuk itu, motivasi pemeliharaan maupun pengembangan individu- individu dalam organisasi perlu senantiasa diperhatikan dan dilaksanakan dengan baik. Manajemen sumber