• Tidak ada hasil yang ditemukan

HKM PERKAWINAN ONLINE

N/A
N/A
vadila ningsih

Academic year: 2022

Membagikan "HKM PERKAWINAN ONLINE"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

HUKUM PERKAWINAN

Kuliah On Line Ninik Darmini

Smt Genap 2019/2020

(2)

SILABUS

• Memberikan pemahaman kepada peserta

tentang Hukum Perkawinan menurut KUH

Perdata dengan memperhatikan

berlakunya Undang-Undang No. 1 Tahun

1974 tentang Perkawinan dan Peraturan

Pelaksanaannya.

(3)

POKOK BAHASAN

HUKUM PERKAWINAN a. Pengertian perkawinan

b. Asas-asas perkawinan

c. Syarat-syarat perkawinan

d. Pencegahan dan pembatalan

e. Putusnya perkawinan

(4)

Pertanyaan

1. Apakah dengan diundangkannya UUP, ketentuan BW sudah tidak berlaku ?

2. Apakah dengan diundangkannya PP 9/75, UUP sudah efektif berlaku ?

Cttn :

PP 9/75 hanya mengatur ttg perkawinan dan

perceraian (anak, perwalian, kekuasaan

orang tua tidak diatur)

(5)

Isi Surat MA

“ Mengingat PP No. 9 Tahun 1975 tidak mengatur tentang harta benda dalam perkawinan,

kedudukan anak, hak dan kewajiban antara orang tua dan anak serta perwalian dan

disamping itu belum ada peraturan pelaksanaan lain yang mengatur hal tersebut maka ketentuan UUP mengenai masalah tersebut di atas belum diberlakukan secara efektif dan dengan

sendirinya untuk hal-hal itu masih diperlakukan ketentuan-ketentuan hukum dan perundang-

undangan lama”

(6)

Catatan ttg UUP

1. Antara judul Formal dan isi tidak sesuai.

Judul adalah “Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan” akan tetapi isinya hanya mengatur tentang perkawinan dan perceraian.

2. UUP merupakan kodifikasi parsial

3. Tujuannya unifikasi tetapi tetap plural

4. Berdasarkan Ps. 66 secara a contrario Peraturan Perkawinan BW tetap berlaku sepanjang belum di atur dalam UUP

5. Berdasar Psl. 67, UU ini berlaku jika sudah ada PP.

(7)

DAFTAR PUSTAKA

• Ali Afandi, Hukum Waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian, Bina Aksara, Jakarta.

• J. Satrio, Hukum Harta Perkawinan, Citra Aditya Bakti, Bandung.

• Klaasen, J.C. & Eggens, J., Huwelijksgoederen en Erfrecht, Tjeenk Willink Zwolle.

• Komar Andasasmita, Notaris III (Hukum Harta Perkawinan dan Waris), I.N.I Jawa Barat, Bandung.

• R. Soetojo Prawirohamidjojo dan Marthalena Pohan, S.H., Hukum Orang dan Keluarga, Airlangga University Press, Surabaya.

• R. Soetojo Prawirohamidjojo, Pluralisme Dalam Perundang- undangan Perkawinan Di Indonesia, Airlangga University Press, Surabaya.

(8)

PENDAHULUAN

•HKHP merupakan bagian dari HK. Perdata (Buku I KUHPerdata)

•Berlakunya dipengaruhi oleh :

1. UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (UUP).

2. PP No. 9 Tahun 1975

3. PP No. 10/83 Tentang Perkawinan PNS 4. Hukum Adat

5. Hukum Islam

6. Ketentuan-ketentuan Catatan Sipil yang ada sebelum

Proklamasi Kemerdekaan, seperti : UU No. 32/1954 Tentang Nikah, talak, Rujuk.

(9)

DASAR HK. BERLAKUNYA BW

1. Proklamasi Kemerdekaan RI, 17-08-1945 2. Pasal II Aturan Peralihan UUD’45

“Segala Badan Negara dan Peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut UU ini”.

3. Penetapan Presiden berupa PP No. 2 Tahun 1945, tgl.

10 Oktober 1945

“Segala Badan Negara dan Peraturan yang ada sampai berdirinya negara R.I. tgl. 17-08-1945 selama belum diadakan yang baru menurut UUD, masih berlaku asal tidak bertentangan dengan UUD tersebut”.

Fungsi dari PP ini :

- Menguatkan Pasal II Aturan Peralihan

- Menasionalisasi semua peraturan peninggalan Belanda.

(10)

PERKAWINAN

Menurut BW:

 BW tidak mengatur secara tegas mengenai definisi tentang perkawinan.

 Pasal 26 BW “Undang-undang memandang soal perkawinan hanya dalam hubungan- hubungannya perdata”.

Catatan:

 perkawinan hanya merupakan ikatan lahir;

 tidak memasukkan unsur agama dg. tegas;

 tidak bertujuan mendapatkan keturunan.

(11)

Menurut UUP:

• “Perkawinan ialah ikatan lahir dan bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Catatan:

• Perkawinan tidak hanya urusan lahiriah saja tetapi juga urusan bathiniah;

• Tujuan perkawinan adalah membentuk

keluarga yang bahagia;

(12)

Sahnya Perkawinan

Pasal 2 ayat (1):

• “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu”

Pertanyaan:

• Apakah kata “masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu” satu kesatuan arti/makna ataukah dua pengertian/makna, yaitu ada

‘agama’ dan ‘kepercayaan’ ?

• Bagaimana pengesahan perkawinan jika antara

calon mempelai berbeda agama ?

(13)

Pencatatan Perkawinan

Pasal 2 ayat (2) UUP:

• “Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”

a) UU No. 32 tahun 1954 tentang Pencatatan NTR;

b) Ord. CS untuk Perkawinan Campuran, S. 1904 No. 279;

c) Ord. CS untuk Gol. Tionghoa, S. 1917 No. 130;

d) Ord. CS untuk Gol. Kristen Indonesia, S. 1933 No. 75;

e) Ord. CS untuk Gol. Bumi Putera - S. 1927 No. 564.

Contoh Kasus:

• Perkawinan menurut Adat Sunda (Gumirat Barna Alam - Susilowati) ditolak KCS Jakarta Timur.

• Perkawinan secara Kong Hu Cu (Budi Wijaya – Lanny Guito) ditolak KCS Surabaya.

(14)

ASAS PERKAWINAN

1. asas kesepakatan

Pasal 6 UUP, “Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai”.

Catatan:

• Persamaan kesepakatan dalam UUP dengan perikatan perdata adalah diberikan dalam keadaan bebas.

• Perbedaan kesepakatan UUP dengan perikatan perdata adalah mengenai isi, bentuk dan daya berlakunya.

• Penyampaian kesepakatan dipengaruhi oleh

perkembangan teknologi.

(15)

ASAS PERKAWINAN

2. Asas Monogami Pasal 3 UUP:

(1) Pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri, seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami.

(2) Pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila...

Catatan:

• Asas monogami BW bersifat mutlak, sedang UUP tidak mutlak.

• Pembatasan Poligami diatur dalam Pasal 4 dan 5 UUP.

Pertanyaan:

• Apakah dengan tidak berlakunya pasal 27 BW, lantas Pasal 279 KUHP menjadi tidak berlaku ?

• Apakah menikah secara sirri itu poligami ?

(16)

Syarat-syarat Perkawinan

Syarat Materiil Mutlak meliputi:

1. Tidak terikat dengan perkawinan lain;

2. Persetujuan kedua calon mempelai;

3. Harus memenuhi batas umur;

4. Bagi janda berlaku ketentuan waktu tunggu;

5. Calon yang belum 21 tahun harus ijin

kedua orang tua.

(17)

Syarat Materiil Relatif meliputi:

1. Larangan kawin dengan orang yang mempunyai hubungan darah terlalu dekat;

2. Larangan kawin dengan orang yang ada hubungan semenda atau susuan;

3. Larangan kawin dengan saudara isteri, bibi atau kemenakan isteri;

4. Larangan kawin karena mempunyai hubungan yang oleh agamanya dilarang kawin;

5. Larangan kawin dengan orang yang telah dua kali bercerai dengannya, kecuali hukum agamanya tidak menentukan lain;

6. Larangan kawin dengan orang yang menurut

putusan hakim melakukan perzinahan

dengannya.

(18)

Syarat Formil meliputi:

1. Pemberitahuan kepada Pegawai Pencatat Perkawinan;

2. Pengumuman oleh Pegawai Pencatat Perkawinan;

3. Pelaksanaan Perkawinan, sesuai

dengan hukum masing-masing agama

dan keprcayaannya.

(19)

Pencegahan Perkawinan

• Perkawinan dapat dicegah apabila ada pihak yang tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.

• Yang dapat mencegah perkawinan adalah

tersebut dalam Pasal 14 UUP dan Pasal

64 BW yang ditafsirkan berdasarkan Pasal

66 UUP.

(20)

Pembatalan Perkawinan

• Perkawinan dapat dibatalkan apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.

• Yang dapat mengajukan pembatalan tersebut dalam Pasal 23 UUP.

• Akibat pembatalan diatur dalam Pasal 28

UUP.

(21)

Putusnya Perkawinan

Pasal 38 UUP menentukan bahwa

“Perkawinan dapat putus karena : a. Kematian

b. Perceraian

1) Tatacara (Pasal 39 – 40 UUP jo.

Pasal14-36 PP 9/75

2) Akibat Perceraian (Pasal 41 UUP)

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Prosedur Mutu ini diterbitkan sebagai bagian dari Sistem Manual Mutu Tim Penjaminan Mutu Pengadilan Negeri Pacitan, baik dari aspek Manajemen Administrasi dan Operasional

Tahap pelaksanaan berdasarkan RPP yang telah dibuat sebelumnya, kemudian dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Secara rinci pelaksanaan tindakan

lapangan, sehingga dapat dijadikan bekal dalam mengajar sebagai guru yang. benar-benar profesional

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah kegiatan intrakurikuler yang wajib diikuti oleh mahasiswa Program Kependidikan Universitas Negeri Semarang sebagai pelatihan

Manfaat yang dapat kita petik dari makalah ini adalah kita dapat mengetahui tentang permasalahan dan kebijakan pertanian yang ada di Indonesia

Sehingga akuntabilitas yang dimiliki auditor dan etika auditor dapat mempengaruh kualitas audit yang dihasilkan tergantung pada situasi yang dialami oleh seorang

Praktek Pengalaman Lapangan adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh