• Tidak ada hasil yang ditemukan

bisnis pariwisata

N/A
N/A
General Manager TC Damhil

Academic year: 2022

Membagikan "bisnis pariwisata"

Copied!
164
0
0

Teks penuh

(1)

i

BISNIS

PARIWISATA

Penulis:

Dr. Drs. I Ketut Setia Sapta,SE.,M.Si Dr. Nengah Landra, SE.,MM

TAHUN

2018

(2)

ii

(3)

iii

BISNIS

PARIWISATA

(4)

iv

BISNIS

PARIWISATA

(5)

v

BISNIS PARIWISATA

Cetakan Pertama Juli 2018 18 x 26 cm, ix + 154 ISBN: 978-602-52347-1-2 (1)

Penulis

Dr. Drs. I Ketut Setia Sapta,SE.,M.Si Dr. Nengah Landra, SE.,MM

Tim Editor

Dr.Drs. Anak Agung Putu Agung,MM Dr. Drs. I Wayan Sujana, MM

Cover

Putu Noah Aletheia Adnyana Sampul ini diambil dari www.pexels.com

Diterbitkan Oleh CV. Noah Aletheia

Jl. Tegalsari Gg. Koyon. No. 25 D. Banjar Tegalgundul Desa Tibubeneng, Kec. Kuta Utara, Kab. Badung Bali Indonesia.

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang memperbanyak seluruh atau sebagian buku ini

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Buku ini memberikan acuan bagiamana melakukan bisnis pariwisata di Bali. Bali merupakan daerah yang sangat potensial bagi para pebisnis. Bisnis di Bali menjadi incaran para pengusaha mengingat daerah ini sangat ramai dikunjungi oleh para turis baik domestik asing. Bisnis di Bali terbilang subur, mengingat daerah wisata ini cukup di kenal di mata dunia internasional. Para turis asing yang memiliki dana yang cukup besar adalah konsumen potensial yang akan menyuburkan pengelolaan bisnis di Bali. Bagi masyaratak Bali tentunya cukup mengetahui jenis usaha apa yang akan menjadi bisnis di Bali yang laris manis.

Namun, bagi para investor asing yang ingin coba-coba memiliki bisnis di Bali, harus melakukan riset terlebih dahulu, jenis usaha apa yang akan diminati banyak konsumen. Sebelum memutuskan untuk mengelola sebuah usaha, hal yang harus dilakukan adalah melakukan survei mengenai kondisi sebuah daerah, bagaimana kebiasaan masyarakatnya, hal-hal apa yang dibutuhkan, serta bagaimana aktivitas dan kondisi yang ada di daerah tersebut. Bali sebagai sebuah kawasan wisata tentu saja cukup menjanjikan apabila kita melakukan buka usaha di Bali terkait dengan hal-hal pariwisata. Namun demikian, bisnis di Bali tak hanya terikat pada aktivitas pariwisata, para pebisnis juga bisa melirik peluang bisnis di Bali dari aspek non pariwisata. Bisnis di Bali dari aspek pariwisata memang cukup maju pesat, terlebih para konsumennya adalah para turis asing yang mempunyai cukup dana.

Semoga buku ini bermanfaat.

Denpasar, Juni 2018

Penulis

(7)

vii DAFTAR ISI

Hal HALAMAN JUDUL ………

KATA PENGANTAR ………

DAFTAR ISI ………

ii iii iv BAB I PENDAHULUAN ………

1.1 Definisi Pariwisata ………

1.2. Industri Pariwisata ………

1.3. Sumber – Sumber Pariwisata ………

1.4. Jenis - jenis Pariwisata ………

1 1 4 5 6 BAB II BISNIS PARIWISATA ………....

2.1. Pengertian Bisnis Pariwisata ………

2.2. Tujuan Pariwisata ………

2.3. Bentuk Bisnis Pariwisata ………

2.4. Potensi Bisnis Pariwisata ………

2.5. Bisnis Pariwisata dan Manajemen ………

2.6. Prospek Bisnis Pariwisata ………

13 13 14 15 17 19 21 BAB III SISTEM KEPARIWISATAAN ………

3.1. Pengertian Sistem Kepariwisataan ………

3.2. Dimensi Wilayah dalam Sistem Kepariwisataan … 3.3. Terminologi Kepariwisataan ………

3.4. Motivasi orang melakukan perjalanan wisata ……

3.5. Klasifikasi Kepariwisataan ………...

24 24 24 25 26 27 BAB IV PERTUMBUHAN PARIWISATA DAN

EKONOMI NASIONAL ………..

4.1. Ekonomi Nasional ……….

33 33

(8)

viii 4.2. Kontribusi Pariwisata terhadap Ekonomi Nasional

dan Regional ………..

4.3. Dampak Pertumbuhan Pariwisata terhadap Perekonomian ………...

4.4. Dampak Pariwisata terhadap Perekonomian ……..

4.5. Mengukur Sumbangan Pariwisata ………...

35

36 37 41 BAB V PERMINTAAN PARIWISATA ………...

5.1. Sifat Permintaan Pariwisata ………..

5.2. Perilaku Konsumen dalam Pariwisata ……….

5.3. Variabel-Variabel yang Mempengaruhi Permintaan Pariwisata ………..

5.4. Batasan - Batasan dalam Permintaan Pariwisata…

45 45 49

53 58 BAB VI PRODUK-PRODUK PARIWISATA …………

6.1. Produk-produk Pariwisata ……….

61 61 BAB VII PERENCANAAN PARIWISATA

7.1. Perencanaan Pariwisata dan Pemasarannya ………

7.2. Analisis Lingkungan Sumber Daya Pemasaran …..

7.3. Strategi Segmentasi Pemasaran Pariwisata ………..

7.4. Strategi Sasaran dan Memposisikan Pemasaran Pariwisata ………..

7.5. Strategi Bauran Pemasaran ……….

7.6. Elemen Bauran Pemasaran Jasa ……….

7.7. Organisasi yang Berorientasi Pemasaran …………...

7.8. Organisasi Pariwisata ………..

7.9. Organisasi Kepariwisataan Regional ………..

7.10. Strategi Pembangunan Pariwisata ………

7.11. Strategi Segmentasi Pemasaran Pariwisata………..

68 69 72 74

75 77 78 79 83 85 89 90

(9)

ix 7.12. Strategi Bauran Pemasaran Pariwisata ……… 95 BAB VIII INVESTASI BISNIS PARIWISATA…………

8.1. Prinsip – prinsip Investasi ………

8.2. Investasi dalam Kepariwisataan ………..

8.3. Studi Kelayakan dan Model Pariwisata ……….

97 97 100 102 BAB IX MODEL KEPARIWISATAN ………...

9.1. Tipe Pembangunan Pariwisata ………

9.2. Sumber – Sumber Modal ……….

9.3. Faktor – faktor yang Memengaruhi Pendapatan Pariwisata ………...

106 106 107

108 BAB X PELUANG PARIWISATA ………

10.1. Peran Langsung Pariwisata Terhadap Peluang Kerja ………

10.2. Peluang Kerja dan Multiplier Pariwisata …………

10.3. Pasar Tenaga Kerja dan Peluang Kerja ………….

10.4. Jenis-Jenis Pasar Tenaga Kerja ………

10.6. Kelebihan & Kekurangan Pasar Tenaga Kerja …..

10.7. Membangun Pusat Informasi Pemasaran Pariwisata ………

110

110 113 119 123 129

130 BAB XI SISTEM INFORMASI PARIWISATA ………...

11.1. Sistem Informasi Pemasaran Pariwisata …………..

11.2. Membangun Pusat Informasi Pariwisata ………….

11.3. Sistem Perencanaan ………

11.4. Langkah-Langkah Pembuatan Rencana …………

11.5. Sistem Evaluasi Pemasaran Pariwisata ………

135 135 137 140 142 146 IMPLEMENTASI KASUS ……….. 148 DAFTAR PUSTAKA

(10)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Definisi Pariwisata

Menurut peninjauan secara etimologis, istilah pariwisata berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri atas dua suku kata yaitu

"pari” dan "wisata". Pari berarti berulang-ulang atau berkali-kali, sedangkan wisata berarti perjalanan atau bepergian. Jadi pariwisata berarti perjalanan yang dilakukan secara berulang ulang atau (Musanef, 1996 : 8). Pariwisata tidak hanya bisa diartikan secara etimologis saja, tetapi terdapat pendapat dari para ahli diantaranya:

1. Hunziker dan Krapf (Bapak Ilmu Pariwisata)

Pariwisata adalah sejumlah hubungan dan gejala yang dihasilkan dari tinggalnya orang-orang asing, asalkan tinggalnya mereka itu tidak menyebabkan timbulnya tempat tinggal serta usaha-usaha yang bersifat sementara atau permanen sebagai usaha mencari kerja penuh (Musanef, 1996: 11).

2. Hans Buchi

Pariwisata adalah peralihan tempat untuk sementara waktu dan mereka yang mengadakan perjalanan tersebut memperoleh

(11)

2 pelayanan dari perusahaanperusahaan yang bergerak dalam industri pariwisata (Musanef, 1996: 11).

3. Robert Mc. Intosh Shashi Kant Cupta

Pariwisata adalah gabungan gejala dan hubungan yang timbul dari interaksi wisatawan, bisnis, pemerintah serta masyarakat tuan rumah dalam proses menarik dan melayani wisatawan ini serta penunjang lainnya (Musanef, 1996: 11).

4. Menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990

Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan obyek dan daya tarik serta usaha- usaha yang terkait di bidang itu. Pengertian ini mengandung lima unsur yaitu:

1. Unsur manusia (wisatawan) 2. Unsur kegiatan (perjalanan) 3. Unsur motivasi (menikmati)

4. Unsur sasaran (obyek dan daya tarik wisata)

5. Unsur usaha (Musanef, 1996: 13). Dan pengertian diatas terdapat beberapa hal yang penting yaitu :

a) Perjalanan itu dilakukan untuk sementara waktu.

b) Perjalanan itu dilakukan dari suatu tempat ke tempat lain.

(12)

3 c) Perjalanan itu, walaupun apa bentuknya harus selalu dikaitkan dengan bertamasya dan rekreasi, melihat dan menyaksikan atraksi-atraksi wisata.

d) Orang yang melakukan perjalanan tersebut tidak mencari nafkah di tempat/daerah yang dikunjungi dan semata- mata sebagai konsumen di tempat tersebut, dengan mendapat pelayanan (Musanef, 1996: 12).

5. Menurut James. J. Spillane (1987: 20) pariwisata adalah kegiatan melakukan perjalanan dengan tujuan mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olahraga atau istirahat, menunaikan tugas, dan lain-lain. Defenisi yang luas pariwisata adalah perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial,

budaya, alam dan ilmu. Suatu perjalanan akan dianggap sebagai perjalanan wisata bila memenuhi tiga persyaratan yang diperlukan, yaitu bersifat sementara, bersifat sukarela (Voluntary) dalam anti tidak terjadi karena paksaan, dan tidak bekerja yang sifatnya menghasilkan upah.

(13)

4 Berdasarkan pengertian beberapa ahli diatas disimpulkan pengertian Pariwisata adalah kegiatan di mana orang terlibat dalam perjalanan jauh dari rumah (bepergian) antar daerah atau antar negara terutama untuk bisnis atau kesenangan dimana orang tersebut tidak menetap atau mencari pekerjaan di tempat tersebut.

1.2. Industri Pariwisata

Industri Pariwisata dapat diartikan sebagai sehimpunan bidang usaha yang menghasilkan berbagai jasa dan barang yang dibutuhkan oleh mereka yang melakukan perjalanan wisata.

Menurut S. Medlik, setiap produk, baik yang nyata maupun maya yang disajikan untuk memenuhi kebutuhan tertentu manusia, hendaknya dinilai sebagai produk industri. Jika sejemput kesatuan produk hadir di antara berbagai perusahaan dan organisasi sedemikian sehingga memberi ciri pada keseluruhan fungsi mereka serta menentukan tempatnya dalam kehidupan Inonn, hendaknya dinilai sebuah industri.

Sebagaimana yang dikemukakan UNWTO (United Nations World Tourism Organiation) dalam the International Recommendations for Tourism Statistics 2008, Industri Pariwisata

(14)

5 meliputi; Akomodasi untuk pengunjung, Kegiatan layanan makanan dan minuman, Angkutan penumpang, Agen Perjalanan Wisata dan Kegiatan reservasi lainnya, Kegiatan Budaya, Kegiatan olahraga dan hiburan. UNWTO merupakan Badan Kepariwistaan Dunia dibawah naungan PBB. Menurut Undang-Undang Pariwisata no 10 tahun 2009, Industri Pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata.

1.3. Sumber – Sumber Pariwisata

Modal atau sumber pariwisata dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu, potensi alam, potensi kebudayaan, dan potensi manusia. Potensi-potensi tersebut dijelaskan dibawah ini :

1. Potensi Alam, terdiri atas potensi fisik, flora dan fauna. Ketiga potensi alam tersebut dapat menjadi atraksi wisata yang berperan sama, tetapi salah satu atraksi dapat lebih menonjol.

Pada umumnya wisatawan lebih tertarik pada alam terbuka seperti pegunungan, hutan dan pantai.

(15)

6 2. Potensi Kebudayaan, yaitu kebudayaan dalam arti luas, tidak hanya meliputi kebudayaan tinggi, tetapi juga meliputi adat istiadat dan segala kegiatan yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

3. Potensi Manusia, yaitu kemampuan yangada dalam diri manusia yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata.

1.4. Jenis - jenis Pariwisata

Menurut Pendit (1994), pariwisata dapat dibedakan menurut motif wisatawan untuk mengunjungi suatu tempat. Jenis-jenis pariwisata tersebut adalah sebagai berikut.

1. Wisata Budaya

Yaitu perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan hidup seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan atau peninjauan ketempat lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan adat istiadat mereka, cara hidup mereka, budaya dan seni mereka. Seiring perjalanan serupa ini disatukan dengan kesempatan–kesempatan mengambil bagian dalam kegiatan–kegiatan budaya, seperti eksposisi seni (seni tari, seni drama, seni musik, dan seni suara), atau kegiatan yang bermotif kesejarahan dan sebagainya.

(16)

7 2. Wisata Maritim atau Bahari

Jenis wisata ini banyak dikaitkan dengan kegiatan olahraga di air, lebih–lebih di danau, pantai, teluk, atau laut seperti memancing, berlayar, menyelam sambil melakukan pemotretan, kompetisi berselancar, balapan mendayung, melihat–lihat taman laut dengan pemandangan indah di bawah permukaan air serta berbagai rekreasi perairan yang banyak dilakukan didaerah–

daerah atau negara–negara maritim, di Laut Karibia, Hawaii, Tahiti, Fiji dan sebagainya. Di Indonesia banyak tempat dan daerah yang memiliki potensi wisata maritim ini, seperti misalnya Pulau–pulau Seribu di Teluk Jakarta, Danau Toba, pantai Pulau Bali dan pulau–pulau kecil disekitarnya, taman laut di Kepulauan Maluku dan sebagainya. Jenis ini disebut pula wisata tirta.

3. Wisata Cagar Alam (Taman Konservasi)

Untuk jenis wisata ini biasanya banyak diselenggarakan oleh agen atau biro perjalanan yang mengkhususkan usaha–usaha dengan jalan mengatur wisata ke tempat atau daerah cagar alam, taman lindung, hutan daerah pegunungan dan sebagainya yang kelestariannya dilindungi oleh undang–undang. Wisata cagar alam ini banyak dilakukan oleh para penggemar dan pecinta

(17)

8 alam dalam kaitannya dengan kegemaran memotret binatang atau marga satwa serta pepohonan kembang beraneka warna yang memang mendapat perlindungan dari pemerintah dan masyarakat. Wisata ini banyak dikaitkan dengan kegemaran akan keindahan alam, kesegaran hawa udara di pegunungan, keajaiban hidup binatang dan marga satwa yang langka serta tumbuh–tumbuhan yang jarang terdapat di tempat–tempat lain.

Di Bali wisata Cagar Alam yang telah berkembang seperti Taman Nasional Bali Barat dan Kebun Raya Eka Karya

4. Wisata Konvensi

Yang dekat dengan wisata jenis politik adalah apa yang dinamakan wisata konvensi. Berbagai negara pada dewasa ini membangun wisata konvensi ini dengan menyediakan fasilitas bangunan dengan ruangan–ruangan tempat bersidang bagi para peserta suatu konfrensi, musyawarah, konvensi atau pertemuan lainnya baik yang bersifat nasional maupun internasional.

Jerman Barat misalnya memiliki Pusat Kongres Internasiona (International Convention Center) di Berlin, Philipina mempunyai PICC (Philippine International Convention Center) di Manila dan Indonesia mempunyai Balai Sidang Senayan di Jakarta untuk tempat penyelenggaraan sidang–sidang pertemuan

(18)

9 besar dengan perlengkapan modern. Biro konvensi, baik yang ada di Berlin, Manila, maupun Jakarta berusaha dengan keras untuk menarik organisasi atau badan–badan nasional maupun internasional untuk mengadakan persidangan mereka di pusat konvensi ini dengan menyediakan fasilitas akomodasi dan sarana pengangkutan dengan harga reduksi yang menarik serta menyajikan program–program atraksi yang menggiurkan.

5. Wisata Pertanian (Agrowisata)

Sebagai halnya wisata industri, wisata pertanian ini adalah pengorganisasian perjalanan yang dilakukan ke proyek–proyek pertanian, perkebunan, ladang pembibitan dan sebagainya dimana wisatawan rombongan dapat mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk tujuan studi maupun melihat–lihat keliling sambil menikmati segarnya tanaman beraneka warna dan suburnya pembibitan berbagai jenis sayur–mayur dan palawija di sekitar perkebunan yang dikunjungi.

6. Wisata Buru

Jenis ini banyak dilakukan di negeri–negeri yang memang memiliki daerah atau hutan tempat berburu yang dibenarkan oleh pemerintah dan digalakan oleh berbagai agen atau biro perjalanan. Wisata buru ini diatur dalam bentuk safari buru ke

(19)

10 daerah atau hutan yang telah ditetapkan oleh pemerintah negara yang bersangkutan, seperti berbagai negeri di Afrika untuk berburu gajah, singa, ziraf, dan sebagainya. Di India, ada daerah–daerah yang memang disediakan untuk berburu macan, badak dan sebagainya, sedangkan di Indonesia, pemerintah membuka wisata buru untuk daerah Baluran di Jawa Timur dimana wisatawan boleh menembak banteng atau babi hutan.

7. Wisata Ziarah

Jenis wisata ini sedikit banyak dikaitkan dengan agama, sejarah, adat istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat. Wisata ziarah banyak dilakukan oleh perorangan atau rombongan ke tempat–tempat suci, ke makam–makam orang besar atau pemimpin yang diagungkan, ke bukit atau gunung yang dianggap keramat, tempat pemakaman tokoh atau pemimpin sebagai manusia ajaib penuh legenda. Wisata ziarah ini banyak dihubungkan dengan niat atau hasrat sang wisatawan untuk memperoleh restu, kekuatan batin, keteguhan iman dan tidak jarang pula untuk tujuan memperoleh berkah dan kekayaan melimpah. Dalam hubungan ini, orang–orang Khatolik misalnya melakukan wisata ziarah ini ke Istana Vatikan di Roma, orang–orang Islam ke tanah suci, orang–orang

(20)

11 Budha ke tempat–tempat suci agama Budha di India, Nepal, Tibet dan sebagainya. Di Indonesia banyak tempat–tempat suci atau keramat yang dikunjungi oleh umat-umat beragama tertentu, misalnya seperti Candi Borobudur, Prambanan, Pura Basakih di Bali, Sendangsono di Jawa Tengah, makam Wali Songo, Gunung Kawi, makam Bung Karno di Blitar dan sebagainya. Banyak agen atau biro perjalanan menawarkan wisata ziarah ini pada waktu–waktu tertentu dengan fasilitas akomodasi dan sarana angkuatan yang diberi reduksi menarik ke tempat–tempat tersebut di atas.

Sesungguhnya daftar jenis–jenis wisata lain dapat saja ditambahkan di sini, tergantung kapada kondisi dan situasi perkembangan dunia kepariwisataan di suatu daerah atau negeri yang memang mendambakan industri pariwisatanya dapat meju berkembang. Pada hakekatnya semua ini tergantung kepada selera atau daya kreativitas para ahli profesional yang berkecimpung dalam bisnis industri pariwisata ini. Makin kreatif dan banyak gagasan–gagasan yang dimiliki oleh mereka yang mendedikasikan hidup mereka bagi perkembangan dunia kepariwisataan di dunia ini, makin bertambah pula bentuk dan jenis wisata yang dapat

(21)

12 diciptakan bagi kemajuan industri ini, karena industri pariwisata pada hakikatnya kalau ditangani dengan kesungguhan hati mempunyai prospektif dan kemungkinan sangat luas, seluas cakrawala pemikiran manusia yang melahirkan gagasan–gagasan baru dari waktu–kewaktu. Termasuk gagasan–gagasan untuk menciptakan bentuk dan jenis wisata baru tentunya.

(22)

13 BAB II

BISNIS PARIWISATA

2. 1.Pengertian Bisnis Pariwisata

Bisnis pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang dan atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata. S e k t o r p a r i w i s a t a m e m a n g c u k u p m e n j a n j i k a n u n t u k t u r u t m e m b a n t u m e n a i k k a n c a d a n g a n d e v i s a d a n s e c a r a p r a g m a t i s j u g a m a m p u m e n i n g k a t k a n p e n d a p a t a n m a s y a r a k a t . P r o s p e k i n d u s t r y p a r i w i s a t a I n d o n e s i a d i p r e d i k s i k a n W T O a k a n s e m a k i n c e m e r l a n g , d e n g a n p e r k i r a a n p a d a t a h u n 2 0 1 0 a k a n m e n g a l a m i p e r t u m b u h a n h i n g g a 4 , 2 % p e r t a h u n . S e l a i n i t u s e k t o r i n d u s t r i p a r i w i s a t a n a s i o n a l m e m b e r i k a n k o n t r i b u s i n a s i o n a l b a g i p r o g r a m p e m b a n g u n a n . S e b a g a i c o n t o h , p a d a t a h u n 1 9 9 9 s e k t o r p a r i w i s a t a m e n g h a s i l k a n d e v i s a l a n g s u n g s e b e s a r U S S 4 , 7 j u t a , s e r t a m e n y u m b a n g 9 , 6 1 % p a d a P D B d a n m e n y e r a p 8 % a n g k a t a n k e r j a n a s i o n a l ( 6 , 6 j u t a o r a n g ) p a d a t a h u n y a n g s a m a . S e l a i n f a k t o r –

(23)

14 f a k t o r d i a t a s , i n d u s t r i p a r i w i s a t a j u g a m e m i l i k i k a r a k t e r u n i k , b a h w a s e k t o r p a r i w i s a t a m e m b e r i k a n e f e k b e r a n t a i t e r h a d a p d i s t r i b u s i p e n d a p a t a n p e n d u d u k d i k a w a s a n s e k i t a r p a r i w i s a t a .

2.2. Tujuan Pariwisata

a) Dalam bisnis pariwisata untuk mencapai profit maksimum melalui peningkatan pendapatan dilakukan dengan menetapkan kebijakan diskriminasi harga.

b) Kebijakan diskriminasi harga umumnya menunjukkan suatu tingkatan monopoli yang dapat meningkatkan supernormal profit.

c) Akan tetapi, dalam bisnis pariwisata hal tersebut lebih cenderung menggambarkan kemampuan perusahaan dalam melakukan segmentasi pasar

d) Meningkatkan Devisa Negara

e) Memperkenalkan keindahan alam dan kebudayaan Indonesia

f) Meningkatkan persaudaraan persahabatan dan nasional dan internasional

(24)

15 2.3. Bentuk Bisnis Pariwisata

Menurut Pendit (2002: 37) bentuk pariwisata dapat dibagi menjadi lima kategori yaitu menurut asal wisatawan, menurut akibatnya terhadap neraca pembayaran, menurut jangka waktu, menurut jumlah wisatawan, dan menurut alat angkut yang dipergunakan. Bentuk-bentuk pariwisata tersebut dijelaskan dibawah ini:

a) Menurut asal wisatawan ertama-tama perlu diketahui wisatawan itu berasal dari dalam atau luar negeri. Kalau asalnya dari dalam negeri berarti sang wisatawan hanya pindah tempat sementara di dalam lingkungan wilayah negerinya sendiri dan selamaia mengadakan perjalanan, maka disebut pariwisata domestik, sedangkankalau ia datang dari luar negeri disebut pariwisata internasional.

b) Menurut akibatnya terhadap neraca pembayaran kedatangan wisatawan dari luar negeri adalah membawa mata uangasing. Pemasukan valuta asing ini berarti memberi dampak positif terhadapneraca pembayaran luar negeri suatu negara yang dikunjunginya, yang inidisebut pariwisata aktif.

Sedangkan, kepergian seorang warga negara ke luar negeri

(25)

16 memberikan dampak negatif terhadap neraca pembayaran luarnegerinya, disebut pariwisata pasif.

c) Menurut jangka waktu kedatangan seorang wisatawan di suatu tempat atau negara diperhitungkan pula menurut waktu lamanya ia tinggal di tempat atau negara yang bersangkutan. Hal ini menimbulkan istilah-istilah pariwisata jangkapendek dan pariwisata jangka panjang, yang mana tergantung kepadaketentuan-ketentuan yang diberlakukan oleh suatu negara untuk mengukur pendek atau panjangnya waktu yang dimaksudkan.

d) Menurut jumlah wisatawan perbedaan ini diperhitungkan atas jumlah wisatawan yang datang,apakah sang wisatawan datang sendiri atau rombongan. Maka timbulahistilah-istilah pariwisata tunggal dan pariwisata rombongan.

e) Menurut alat angkut yang dipergunakan dilihat dari segi penggunaan yang dipergunakan oleh sang wisatawan, maka kategori ini dapat dibagi menjadi pariwisata udara, pariwisata laut, pariwisata kereta api dan pariwisata mobil, tergantung apakah sang wisatawan tiba dengan pesawat udara, kapal laut, kereta api, atau mobil.

(26)

17 2.4. Potensi Bisnis Pariwisata

Bali merupakan daerah yang sangat potensial bagi para pebisnis untuk mengembangkan ide-idenya.Bisnis di Bali menjadi incaran para pengusaha bisnis mengingat daerah ini sangat ramai dikunjungi oleh paraturis baik domestik maupun turis-turis asing.

Bisnis di Bali terbilang akan subur, mengingat daerah wisata inicukup di kenal di mata dunia internasional. Para turis asing yang memiliki kantong-kantong tebal adalahkonsumen empuk yang akan menyuburkan pengelolaan bisnis di Bali. Bagi Anda masyaratak Bali tentunya cukup mengetahui jenis usaha apa yang akan menjadi bisnis di Bali yang laris manis. Namun, bagi Anda para investor asing yang ingin coba-coba memiliki bisnis di Bali, Anda harus melakukan riset terlebih dahulu, jenis usaha apa yang akan diminati banyak konsumen.Sebelum memutuskan untuk mengelola sebuah usaha, hal yang harus Anda lakukan adalah melakukan survei mengenai kondisi sebuah daerah, bagaimana kebiasaan masyarakatnya, hal-hal apa yang dibutuhkan, serta bagaimana aktivitas dan kondisi yang ada di daerah tersebut. Bali sebagai sebuah kawasan wisata tentu sajacukup menjanjikan apabila kita melakukan buka usaha di Bali terkait dengan hal-hal pariwisata.

Namun demikian, bisnis di Bali tak hanya terikat pada aktivitas

(27)

18 pariwisata, para pebisnis juga bisa melirik peluangbisnis di Bali dari aspek non pariwisata.Bisnis di Bali dari aspek pariwisata memang cukup maju pesat, terlebih para konsumennya adalah para turis asing yang berkantong tebal.

Ada beberapa jenis bisnis di Bali dari aspek pariwisata yang bisa Anda coba diantaranya:

1. Bisnis penginapan

Bisnis di Bali berupa penginapan tentu saja sudah banyak dan cukup menjamur. Anda harus mampu menghadirkan sesuatu yang berbeda pada bisnis yang Anda kelola. Misalkan saja pada penginapan Anda dilengkapi dengan berbagai tradisi dan budaya Indonesia lainnya dari berbagai daerah sehingga membuat para turis asing tertarik untuk mengetahui Indonesia lebih dalam.

2. Bisnis rumah makan muslim

Bisnis di Bali berupa usaha rumah makan muslim akan sangat dicari olehpara turis domestik yang beragama Islam serta turis mancanegara lainnya dari negara-negara Islam. Parawisatawan yang taat beragama biasanya akan selektif mencari makanan yang halal bagi mereka. Sikap ini dapat Anda jadikan sebagai ide bisnis di Bali yang cukup potensial.

(28)

19 3. Bisnis layanan bahasa

Bisnis di Bali berupa layanan bahasa tentu saja sudah cukup marak dilakukanorang. Semua orang mahir berbahasa Inggris, namun tak salah jika Anda pula yang menawarkan kursus bahasaIndonesia singkat pada turis-turis asing.

4. Bisnis transportasi

Bisnis transportasi dan agen travel memang cukup potensial di kawasan wisata sepertiBali. Bisnis di Bali yang satu ini memang termasuk pada bisnis pariwisata primer yang dicari konsumen.

2.5 Bisnis Pariwisata dan Manajemen

Bisnis pariwisata dewasa ini memang memberikan kecerahan bagi pergerakan roda ekonomi nasional. Investasi pada bisnis penyedia jasa traveling, bisnis perhotelan, souvenir, transportasi darat, laut dan udara, sampai dunia perbankan pun turut terimbasi bisnis pariwisata ini. Dampak lain dari maraknya industri pariwisata ini adalah terserapnya tenaga kerja lokal. Singkatnya bisnis pariwisata cukup memberikan angin segar bagi ekonomi nasional, terlebih pengeluaran pemerintah sangat tergantung pada penyediaan devisa melalui pajak dalam negeri. Sampai saat ini lebih kurang 76 persen pendapatan nasional berasal dari penerimaan

(29)

20 pajak. Bisa dibayangkan dampak yang ditimbulkan bilamana sektor riil, termasuk bisnis pariwisata ini lumpuh, maka tidaklah mengherankan jika sebagian besar roda ekonomi nasional pun terkena dampaknya.Dalam bisnis Anda bisa mencurahkan energi untuk menjaring wisatawan domestik dan mancanegara, memberi diskon super murah tapi tetap memelihara lingkungan, budaya, keramahan, pelayanan dan membangun sumber daya manusia yang unggul, maka bukan hanya pelanggan akan datang melainkan juga tidak sabarmemberi tahu teman mereka betapa bagusnya kepribadian, lingkungan, batin dan pesona bisnis pariwisata Indonesia. Bisnis pariwisata, meperlukan manajemen yang baik.

Unsur keputusan yang cepat dan cerdas dalam inovasi manajemen sering berperan membantu perusahaan mengembangkan keunggulan yang bertahan lama. Tampaknya tak ada faktor yang mencerminkan instrumen yang sama dalam menjamin keberhasilan persaingan jangka panjang. Artinya setiap pelaku bisnis pariwisata memiliki inovasi manajemen dengan teknik dan keunggulannya masing-masing. Pelaku bisnis pariwisata di Indonesia harus melakukan inovasi yang dapat bersaing dengan negara – negara lain dalam bidang pariwisata. Hal itu akan menarik wisatawan lebih banyak.

(30)

21 2.6 Prospek Bisnis Pariwisata

Sektor pariwisata memang cukup menjanjikan untuk turut membantu menaikkan cadangan devisa dan secara pragmatis juga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Prospek industri pariwisata Indonesia diprediksikan WTO akan semakin cemerlang, dengan perkiraan pada tahun 2010 akan mengalami pertumbuhan hingga 4,2% per tahun. Selain itu sektor industri pariwisata nasional memberikan kontribusi nasional bagi program pembangunan.

Sebagai contoh, pada tahun 1999 sektor pariwisata menghasilkan devisa langsung sebesar US$ 4,7 juta, serta menyumbang 9,61%

pada PDB dan menyerap 8% angkatan kerja nasional (6,6 juta orang) pada tahun yang sama. Selain faktor-faktor di atas, industri pariwisata juga memiliki karakter unik, bahwa sektor pariwisata memberikan efek berantai terhadap distribusi pendapatan penduduk di kawasan sekitar pariwisata.

Berangkat dari pemahaman bahwa model yang digunakan untuk pengembangan kawasan wisata adalah model terbuka maka berarti tidak tertutup kemungkinan akan terjadi kontak antara aktivitas kepariwisataan dengan aktivitas masyarakat sekitar kawasan wisata. Kontak-kontak ini tidak bisa dibatasi oleh

(31)

22 kekuatanapapun apalagi ditunjang dengan adanya sarana pendukung yang memungkinkan mobilitas masyarakat.Kontak yang paling mungkin terjadi adalah kontak antara masyarakat sekitar dengan pengunjung atauwisatawan. Masyarakat sekitar berperan sebagai penyedia jasa kebutuhan wisatawan. Kontak ini apabila terjadi secara massif akan mengakibatkan keterpengaruhan pada perilaku, pola hidup, dan budaya masyarakat setempat. Misalnya bagaimana terjadinya pergeseran kultur kehidupan masyarakat sekitar kawasan Candi Borobudur yang semula berbasis dengan aktivitas kehidupan agraris (bertani) bergeser menjadi masyarakat pedagang dan penjual jasa. Pariwisata dengan segala aktivitasnya memang telah mampu memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi perubahan masyarakat baik secara ekonomi, sosial maupun budaya. Hal itu menuntut adanya perhatian yang lebih dari para pengambil kebijakan sektor pariwisata untuk mempertimbangkan kembali pola pengembangan kawasan wisata agar masyarakat sekitar lebih dapat merasakan manfaatnya. Dengan kata lainbagaimana membuat suatu kawasan wisata yang mampu membuka peluang pelibatan aktif masyarakat sebagaisubyek dalam kegiatan industri pariwisata bukan hanya sekadar sebagai obyek. Faktor kemanusiaan dan entitas budaya lokal tidak boleh diabaikan, artinya kehidupan masyarakat

(32)

23 tidak boleh tercerabut dari akar budayanya karena adanya penekanan segi komersial dari tourism.

(33)

24 BAB III

SISTEM KEPARIWISATAAN

3.1. Pengertian Sistem Kepariwisataan

Sistem kepariwisataan terdiri atas kata “sistem” dan

“kepariwisataan”. Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi, atau energi. Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak.

Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata. Sistem kepariwisataan adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang terdiri atas komponen atau elemen yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata.

Elemen-elemen dalam sistem kepariwisataan terdiri atas objek kepariwisataan, atribut kepariwisataan, hubungan internal, dan lingkungan.

3.2. Dimensi Wilayah dalam Sistem Kepariwisataan

Dimensi wilayah adalah penjelasan mengenai suatu wilayah yang menjadi tujuan wisata seperti wilayah perairan, daratan,

(34)

25 pegunungan, dan sebagainya. Dimensi wilayah juga menjelaskan mengenai garis-garis batas suatu perairan atau pulau di suatu wilayah tujuan pariwisata.

3.3 Terminologi Kepariwisataan

Kata pariwisata atau dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan tourism sering sekali diasosiasikan sebagai rangkaian perjalanan (wisata, tours/traveling) seseorang atau sekelompok orang (wisatawan, tourist/s) ke suatu tempat untuk berlibur, menikmati keindahan alam dan budaya (sightseeing), bisnis, mengunjungi kawan atau kerabat dan berbagai tujuan lainnya.

1. Kebudayaan: keseluruhan yg kompleks, yang didalamya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, keseniaan, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain, serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. (E.B.

Taylor)

2. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha yang terkait dibidang tersebut. (UU RI No. 09 Tahun 1990)

(35)

26 Kata kebudayaan dapat dipahami dalam tiga aspek, yaitu aspek material, perilaku, dan ide. Dalam bentuk material mencakup antara lain, peralatan hidup, arsitektur, pakaian, makanan olahan, hasil-hasil teknologi dan lain-lain. Dalam wujud perilaku mencakup kegiatan ritual perkawinan, upacara-upacara keagamaan atau kematian, seni pertunjukan, keterampilan membuat barang- barang kerajinan dan lain-lain. Dalam wujud ide mencakup antara lain sistem keyakinan, pengetahuan, nilai-nilai dan norma-norma.

3.4. Motivasi orang melakukan perjalanan wisata:

1. Mendapatkan kenikmatan dari waktu luang

2. Memenuhi keingintahuannya di luar lingkungan sekitar 3. Melihat budaya luar

4. Melihat cagar budaya/objek wisata 5. Menikmati pemandangan alam 6. Kepentingan olahraga

7. Kepentingan kesehatan 8. Kepentingan keagamaan 9. Mencari peluang kerja

(36)

27 3.5. Klasifikasi Kepariwisataan

Demikian beragamnya motif wisata yang mengiringi seseorang melakukan perjalan wisata. Akan tetapi, tidak ada kepastian apakah semua jenis motif wista telah atau dapat diketahui.

Pada hakikatnya motif orang untuk mengadakan perjalanan wisata itu tidak terbatas dan tidak dapat dibatasi.

McIntosh mengklasifikasikan motif-motif wisata yang dapat diduga menjadi empat (4) kelompok,yaitu:

a. Motif Fisik, Motif-motif yang berhubungan dengan kebutuhan badaniah, seperti olahraga, istirahat, kesehatandansebagainya.

b. Motif budaya, Yang harus diperhatikan disini adalah yang bersifat budaya seperti, sekadar untuk mengenal atau memahami tata cara dan kebudayaan bangsa atau daerahlain: kebiasaannya, kehidupannya sehari- hari, kebudayaannya yang berupa bangunan, musik, tarian dansebagainya.

c. Motif Interpersonal, Yang berhubungan dengan keinginan untuk bertemu dengan keluarga, teman, tetangga, atau sekadar dapat melihat tokoh - tokoh terkenal; penyanyi, penari, bintang film, tokoh politik dan sebagainya.

(37)

28 d. Motif status atau motif prestise, Banyak orang beranggapan bahwa orang yang pernah mengunjungi tempat lain itu dengan sendirinya melebihi sesamanya yang tidak bepergian. Orang yang pernah bepergian ke daerah - daerah lain dianggap atau merasa dengan sendirinya naik gengsinya atau statusnya.

Dibawah ini tercantum sejumlah subkelas motif wisata serta tipe wisatanya yang sering disebut-sebut sebagai berikut:

1. Motif Bersenang-senang atau Tamasya, Motif bersenang - senang atau tamasya, melahirkan tipe wisata tamasya.

Wisatawan tipe ini ingin mengumpulkan pengalaman sebanyak - banyaknya,mendengarkan dan menikmati apa saja yang menarik perhatian. Ia tidak terikat pada satu sasaran yangsudah ditentukan dari rumah. Wisatawan tamasya berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain dengan menikmati pemandangan alam, adat kebiasaan setempat, pesta rakyat, hiruk pikuk kota besar atau ketenangan tempat yang sepi, monumen, peninggalan sejarah dan sebagainya.

(38)

29 2. Motif Rekreasi, Motif rekreasi dengan tipe wisata rekreasi ialah kegiatan yang menyelenggarakan kegiatan yang menyenangkan yang dimaksudkan untuk memulihkan kesegaran jasmani dan rohani manusia. Kegiatan - kegiatannya dapat berupa olahraga (tenis, berkuda, mendaki gunung), membaca,mengerjakan hobi dan sebagainya; juga dapat diisi dengan perjalanan tamasya singkat untuk menikmati keadaan di sekitar tempat menginap (Sightseeing). Wisatawan tipe rekreasi biasanya menghabiskan waktunya di satu tempat saja, sedang wisatawan tamasya berpindah-pindah tempat.

3. Motif Kebudayaan, Dalam tipe wisata kebudayaan orang tidak hanya sekadar mengunjungi suatu tempat untuk menyaksikan dan menikmati atraksi, akan tetapi lebih dari itu. Ia mungkin datang untuk mempelajari atau mengadakan penelitian tentang keadaan setempat. Seniman - seniman sering mengadakan perjalanan wisata untuk memperkaya diri, menambah pengalaman dan mempertajam kemampuan penghayatannya. Dalam wisata budaya itu juga termasuk kunjungan wisatawan ke berbagai peristiwa khusus (special events) seperti upacara keagamaan,

(39)

30 penobatan raja, pemakaman tokoh tersohor, pertunjukan rombongan kesenian yang terkenal dan sebagainya.

4. Wisata Olahraga, Wisata olahraga ialah pariwisata di mana wisatawan mengadakan perjalanan wisata karena motif olahraga. Wisata olahraga ini merupakan bagian yang penting dalam kegiatan pariwisata. Olahraga dewasa ini merata di kalangan rakyat dan tersebar di seluruh dunia, dengan bermacam - macam organisasi baik yang bersifat nasional maupun internasional. Dalam hubungan dengan olahraga, harus dibedakan antara pesta olahraga atau pertandingan olahraga (sporting events).

5. Wisata Bisnis, Bisnis merupakan motif dalam wisata bisnis.

Banyak hubungan terjadi antara orang-orang bisnis. Ada kunjungan bisnis, ada pertemuan-pertemuan bisnis, ada pekan raya dagang yang perlu dikunjungi dan sebagainya, ada yang besar, ada yang kecil. Semua peristiwa itu mengundang kedatangan orang - orang bisnis, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Arus wisatawan itu tidak hanya bertambah besar pada waktu peristiwa - peristiwa itu terjadi.

(40)

31 6. Wisata Konvensi, Banyak pertemuan - pertemuan nasional maupun internasional untuk membicarakan bermacam- macam masalah: Kelaparan dunia, pelestarian hutan, pemberantasan penyakit tertentu, sekadar untuk pertemuan tahunan antara ahli - ahli di bidang tertentu, dan sebagainya.

Perjalanan wisata yang timbul karenanya pada umumnya disebut wisata konvensi.

7. Motif Spiritual, salah satu tipe wisata yang tertua. Sebelum orang mengadakan perjalanan untuk rekreasi, bisnis, olahraga dan sebagainya, orang sudah mengadakan perjalanan untuk berziarah (pariwisata ziarah) atau untuk keperluan keagamaan lain. Tempat-tempat ziarah di Palestina, Roma, Mekkah dan Madinah merupakan tempat- tempat tujuan perjalanan pariwisata yang penting.

8. Motif Interpersonal, orang dapat mengadakan perjalanan untuk bertemu dengan orang lain: orang dapat tertarik oleh orang lain untuk mengadakan perjalanan wisata.

9. Motif Kesehatan, kegiatan - kegiatan yang berhubungan dengan pariwisata di tempat - tempat sumber air mineral yang dianggap memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit. Atau wisata kesehatan seperti yang sekarang

(41)

32 sering dilakukan pasien Indonesia yang berobat ke Singapura, Jepang, check up ke Amerika Serikat, dan sebagainya. Perjalanan pasien - pasien tersebut adalah perjalanan wisata kesehatan.

10. Wisata Sosial, (Social Tourism) Seperti motif wisata pada umumnya, motif wisata sosial ialah reakreasi, bersenang - senang atau sekadar mengisi waktu libur. Akan tetapi, perjalanannya dilaksanakan dengan bantuan pihak - pihak tertentu yang diberikan secara sosial. Bantuan itu dapat berupa kendaraan, tempat penginapan seperti wisma peristirahatan atau hotel, yang hanya menarik sewa yang rendah sekali. Sebagai contohnya, wisata sosial buruh suatu pabrik untuk mengisi waktu liburan yang diberi subsidi oleh perusahaan, berupa angkutan, makan, dan wisma peristirahatan.

(42)

33 BAB IV

PERTUMBUHAN PARIWISATA DAN EKONOMI NASIONAL

4.1. Ekonomi Nasional

Diperuntukkan bagi ekonom dan masyarakat yang menginginkan agar Indonesia menjadi negara yang mandiri sehingga ribuan trilyun rupiah hasil SDA bisa memakmurkan rakyat, tidak tergantung oleh hutang luar negeri atau lembaga IMF (yang mendikte pemerintah RI untuk mengonversi hutang swasta jadi hutang negara/rakyat), tidak mementingkan konglomerat di atas rakyat Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, ihwal Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial antara lain dinyatakan sebagaiberikut:

1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan;

2) Cabang-cabang produski yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara;

3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat;

(43)

34 4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas asas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

Kondisi ekonomi dapat dikatakan sangat berpengaruh terhadap suatu negara, kondisi ekonomi itu sendiri dapat juga mencerminkan bagaimana keadaan suatu negara. Maju atau tidaknya , tingkat keamanannya, hingga menyangkut masalah kesehatan sangat di pengaruhi oleh kondisi ekonominya. Untuk perekonomian Indonesia masih dalam tahap memperbaiki , hal ini dikarenakan Indonesia sempat terkena krisis yang membuat perekonomian Indonesia turun drastis pada saat pemerintahan orde baru. Sebenarnya pertumbuhan perekonomian Indonesia yang sangat bagus terjadi pada masa orde baru, atau pada masa pemerintahan Soeharto. Pada saat itu, pemerintah mencanangkan pelaksanaan pola umum pembangunan jangka panjang (25-30 tahun) secara periodik lima tahunan yang disebut pelita,yang kebijakan ekonominya mencakup segala bidang seperti, kebutuhan

(44)

35 pokok,pendidikan dan kesehatan, kesempatan kerja, kesempatanberusaha, penyebaranpembangunan, dan lain- lain.

4.2 Kontribusi Pariwisata terhadap Ekonomi Nasional dan Regional

1. Kontribusi Pariwisata terhadap Ekonomi Nasional

Kontribusi pariwisata terhadap pendapatan pemerintahdapat diu raikan menjadi dua, yakni

kontribusi langsung dan tidak langsung. Kontribusi langsung ber asal dari pajak pendapatan yang dipungut dari para pekerja pariwisata dan pelaku bisnis pariwisata pada kawasan wisata yang diterima langsung oleh dinas pendapatan suatu destinasi. Sedangkan kontribusi tidak langsung pariwisata terhadap pendapatan pemerintah berasal dari pajak atau bea cukai barang barang yang diimport dan pajak yang dikenakan kepada wisatawan yang berkunjung.

2. Kontribusi Pariwisata terhadap Ekonomi Regional

Berdasarkan fakta yang ada, pariwisata memberikandampak yang cukup signifikan terhadap keadaan suatu daerah baik itu dampak sosial, budaya, sampai dengan ekonomi.

(45)

36 4.3. Pertumbuhan Pariwisata dan Dampaknya terhadap Suatu Perekonomian

Dampak Pertumbuhan Pariwisata terhadap Suatu Perekonomian Pariwisata disambut sebagai industri yang membawa aliran devisa, lapangan pekerjaan dan cara hidup modern. Industri periwisata memberikan keunikan tersendiri dibandingkan dengan sektor ekonomi lain karena adanya empat faktor, yaitu:.

A. Pariwisata adalah Industri Ekspor Fana

Segala transaksi yang terjadi di industri pariwisata berupa pengalaman yang dapat diceritakan kepada orang lain, tetapi tidak dapat dibawa pulang sebagai cinderamata.

B. Butuhnya Barang dan Jasa Tambahan oleh Wisatawan

Saat seorang wisatawan mengunjungi suatu destinasi, ia selalu membutuhkan barang dan jasa tambahan, seperti transportasi dan kebutuhan air bersih.

C. Pariwisata adalah Produk Fragmented But Intergreted

Maksudnya disini adalah pariwisata sebagai produk yang terpisah -pisah tetapi terintegrasi dan langsung memengaruhi sektor ekonomi lain. UU nomor 10 tahun

(46)

37 2009 tentang kepariwisataan secara jelas menyatakan, pariwisata berkaitan dengan banyak sector atau multi sektor. Koordinasi strategis lintas sector terkait dengan pariwisata di antaranya dengan bidang pelayanan ke pelayanan kepabeanan, keimigrasian, dan karantina;

bidang keamanan dan ketertiban; bidang prasarana umum yang mencakupi jalan, air bersih, listrik, telekomunikasi, dan kesehatan lingkungan; bidang transportasi darat, laut, dan udara; dan bidang promosi pariwisara dan kerjasama luar negeri. Kerjasama antar sektor harus diatur dengan tata kerja, mekanisme dan hubungan baik untuk manfaat bersama.

D. Pariwisata merupakan Ekspor yang Sangat Tidak Stabil Sifat kepariwisataan yang dinamis danmusiman, membuat in dustri ini mengalami fluktuasi yang sangat tinggi. Industri pa riwisata rentan terhadapbanyak hal, seperti politik, sosial bu daya, dan pertahanan keamanan.

4.4 Dampak Pariwisata terhadap Perekonomian

Dampak pariwisata terdahat perekonomian dapat dikelompokkan sebagai berikut :

(47)

38 a. Dampak Penerimaan Visa Negara

Nesparnas menghitung secara kuantitatif melaui standar statistik dengan mengacupada UN System of National Accounts yang menampilkan definisi dan klasifikasi yang dipergunakan untuk survei sesuai standar internasional. Berdasarkan data dapat diketahui bahwa sumbangan periwisata terhadap perekonomian danketerkaitannya dengan berbagai sektor ekonomi lain baik konsumsi yang dilakukan oleh wisatawan untuk sektor pariwisata maupun sektor lain.Perhitungan Nesparnas terdiri atas beberapa sub sektor dalam ekonomi (perdagangan, hotel, restoran,transportasi dan jasa), faktor pendapatan (upah, keuntungan, danbunga) serta komposisi pengeluaran(konsumsi, pemerintah, investasi, ekspor, danimpor). Ketiga komponen itu dihitung menjadi satu sebagaidevisa dari sektor kepariwisataan.

Nesparnas menggambarkan besaran devisa yang mengalir masuk danmengalir keluar dari sektor pariwisata.

b. Dampak terhadap Pendapatan Masyarakat

Setiap kegiatan pariwisata menghasilkan pendapatan khususnya bagi masyarakat setempat . Pendapatanitu dihasilkan dari transaksi antara wisatawan dan tuan rumah dalam bentuk pembelanjaan yang dilakukan olehwisatawan. Pengeluaran

(48)

39 wisatawan terdistribusi tidak hanya ke pihak-pihak yang terlibat langsung dalamindustri pariwisata seperti hotel, restoran, biro perjalanan wisata, dan pemandu wisata. Distribusi pengeluaranwisatawan juga diserap ke sektor pertanian, sektor industri kerajinan, sektor angkutan, sektor komunikasi, dansektor lain yang terkait.

c. Dampak terhadap Peluang Kerja

Pariwisata merupakan industri yang menawarkan beragam jenis pekerjaan kreatif sehingga mampumenampung jumlah tenaga kerja yang cukup banyak. Seorang wisatawan dilayani oleh banyak orang. Sebagaicontoh, wisatawan yang bersantai di pantai dapat memberikan pendapatan bagi penjual makan- minum, penyewatikar, pemijat, dan pekerja lain.

d. Dampak terhadap Struktur Ekonomi

Peningkatan pendapatan masyarakat dari industri pariwisata membuat struktur ekonomi masyarakatmenjadi lebih baik.

Masyarakat bisa memperbaiki kehidupan dari bekerja di industri pariwisata.

e. Dampak dalam Membuka Peluang Investasi

Keragaman usaha dalam industri pariwisata memberikan peluang bagi para investor untuk menanamkanmodal. Kesempatan

(49)

40 berinvestasi di daerah wisata berpotensi membentuk dan meningkatkan perekonomianmasyarakat setempat.

f. Dampak terhadap Aktivitas Wirausaha

Adanya kebutuhan wisatawan saat berkunjung ke destinasi wisata mendorong masyarakat untuk menyediakan kebutuhannya dengan membuka usaha atau wirausaha. Pariwisata membuka peluang untuk berwirausaha dengan menjajahkan berbagai kebutuhan wisatawan, baikprodukbarangmaupunprodukjasa.

Selain keuntungan-keuntungan itu, pariwisata memberikan dampak yang merugikan bagimasyarakat di antaranya sebagai berikut :

a. Bahaya Ketergantungan terhadap Industri pariwisata

Melihat banyaknya keuntungan yang dapat diperoleh dari sektor pariwisata, beberapa daerah tujuan wisata menjadi sangat bergantung dari kepariwisataan untuk kehidupannya.

Hal ini menjadikanwisatawan sangat rentan terhadap perubahan permintaan wisata.

b. Pengembalian Modal Lambat

Industri pariwisata adalah Industri dengan investasi yang besar dan pengembalian modal yang lambat.Hal ini

(50)

41 menyebabkan kesulitan bagi pengusaha pariwisata untuk mendapatkan pinjaman untuk modal usaha.

c. Mendorong Timbulnya Biaya Eksternal Lain

Pengembangan pariwisata menyebabkan muncul biaya eksternal lain bagi penduduk di daerah tujuanwisata, seperti biaya kebersihan lingkungan, biaya pemeliharaan lingkungan yang rusak akibat aktivitas wisata,dan peluang lain.

4. 5 Mengukur Sumbangan Pariwisata a. Foreign Exchange Earnings

Pengeluaran sektor pariwisata akan menyebabkan perekonomian masyarakat lokal menggeliat dan menjadi stimulus berinvestasi dan menyebabkan sektor keuangan bertumbuh seiringbertumbuhnya sektor ekonomi lainnya. bahwa pembangunan pariwisata dapat meningkatkan pendapatan suatu negara khususnya dari aktivitas perdagangan valuta asing.

b. Contributions To Government Revenue

Kontribusi pariwisata terhadap pendapatan pemerintah dapatdiuraikan menjadi dua, yakni: kontribusi langsung dan tidak langsung. Kontribusi langsung berasal dari pajak pendapatan

(51)

42 yang dipungut dari para pekerja pariwisata dan pelaku bisnis pariwisata pada kawasan wisata yang diterima langsung oleh dinas pendapatan suatu destinasi.Sedangkan kontribusi tidak langsung pariwisata terhadap pendapatan pemerintah berasal dari pajak ataubea cukai barang-barang yang diimpor dan pajak yang dikenakan kepada wisatawan yang berkunjung. Pariwisata memang benar dapat meningkatkan pendapatan bagi pemerintah sehingga wisata tersebut dapatdikembangkan dengan baik.

c. Employment Generation

Beberapa negara yang telah mengembangkan sektor pariwisata, membuktikan sektor pariwisata secara internasional berkontribusi nyata terhadap penciptaan peluang kerja, penciptaanusaha-usaha terkait pariwisata seperti, usaha akomodasi, restoran, klub, taksi, dan usaha kerajinan seni suvenir. Pariwisata memegang peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja di hampir semua negara yangmengembangkan pariwisata, walaupun harus diakui sektor pertanian “agriculture” masih lebih besar indekspenyerapannya dan berada di atas indeks penyerapan tenaga kerja oleh sektor pariwisata di hampir semua negara pada tabel di atas.

d. Infrastructure Development

(52)

43 Berkembangnya sektor pariwisata juga dapat mendorong pemerintah lokal untuk menyediakan infrastruktur yang lebih baik, penyediaan air bersih, listrik, telekomunikasi, transportasiumum dan fasilitas pendukung lainnya sebagai konsekuensi logis dan kesemuanya itu dapat meningkatkankualitas hidup baik wisatawan dan juga masyarakat lokal itu sendiri sebagai tuan rumah. Pembangunaninfrastruktur pariwisata dapat dilakukan secara mandiri ataupun mengundang pihak swasta nasional bahkanpihak investor asing khususnya untuk pembangunan yang berskala besar seperti pembangunan BandaraInternasional, dan sebagainya. Perbaikan dan pembangunan insfrastruktur pariwisata tersebut juga akandinikmati oleh penduduk local dalam menjalankan aktifitas bisnisnya, dalam konteks ini masyarakat local akanmendapatkan pengaruh positif dari pembangunan pariwisata di daerahnya.

e. Development of Local Economies

Pendapatan sektor pariwisata acapkali digunakan untuk mengukur nilaiekonomi pada suatu kawasan wisata. Sementara ada beberapa pendapatan lokal sangat sulit untuk dihitungkarena tidak semua pengeluaran wisatawan dapat diketahui dengan jelas

(53)

44 seperti misalnya penghasilan parapekerja informal seperti sopir taksi tidak resmi, pramuwisata tidak resmi, dan sebagainya.

Setiap pemasaran, termasuk pemasaran pariwisata pada awalnya dimulai dengan membuat analisis pasar wisata. Analisis ini meliputi analisis persepsi dan preferensi wisatawan. Pada umumnya calon wisatawan menginginkan suatu produk wisata tertentu. Faktor sosiodemografi dan psikografi memiliki peran yang sangat besar dalam memilih macam produk dan destinasi pariwisata. Berawal dari data inilah bagaimana pemasaran harus dilakukan. Pemasaran merupakan suatu proses sosial dan manajerial di mana individual maupun kelompok mendapatkan apa yang mereka inginkan melalui penciptaan dan pertukaran produk dan nilai (value) secara bebas dengan pihak lain. Dari pengertian ini jelas bahwa dalam proses pemasaran pihak pemilik produk harus bisa menyesuaikan dengan keinginan wisatawan atau menyesuaikan dengan segmen wisatawan yang berminat pada jenis produk yang dimilikinya.

(54)

45 BAB V

PERMINTAAN PARIWISATA

5. 1. Sifat Permintaan Pariwisata

Pariwisata merupakan suatu jenis usaha yang memiliki nilai ekonomi, dikatakan demikian karena pariwisata adalah sebagai suatu proses yang dapat menciptakan nilai tambah terhadap barang dan jasa sebagai satu kesatuan produk yang nyata (real goods) ataupun yang berupa jasa–jasa (service) yang dihasilkan melalui proses produksi. Yang dimaksud dengan “product” dalam ilmu ekonomi adalah sesuatu yang dihasilkan melalui proses produksi.

Dalam pengertian ini, ditekankan bahwa tujuan akhir dari suatu proses produksi tidak lain adalah suatu barang (product) yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan guna memenuhi kebutuhan manusia.

Aspek Permintaan Pariwisata Menurut Medlik, 1980 (dalam Ariyanto, 2005), faktor-faktor utamadan faktor lain yang memengaruhi permintaan pariwisata dapat dijelaskan sebagai berikut:

(55)

46 1. Harga

Harga yang tinggi pada suatu daerah tujuan wisata akan memberikan imbas atau timbal balik pada wisatawan yang akan bepergian, sehingga permintaan wisatapun akan berkurang begitu pula sebaliknya.

2. Pendapatan

Apabila pendapatan suatu negara tinggi, kecendrungan untuk memilih daerah tujuan wisata sebagai tempat berlibur akan semakin tinggi dan bisa jadi calon wisatawan membuat sebuah usaha pada daerah tujuan wisata jika dianggap menguntungkan.

3. Sosial Budaya

Adanya sosial budaya yang unik dan bercirikan atau berbeda dari apa yang ada di negara calon wisata berasal maka, peningkatan permintaan terhadap wisata akan tinggi hal ini akan membuat sebuah keingintahuan dan penggalian pengetahuan sebagai khasanah kekayaan pola pikir budaya wisatawan.

4. Sosial dan Politik

Dampak sosial politik belum terlihat apabila keadaan daerah tujuan wisata dalamsituasi aman dan tenteram,

(56)

47 tetapi apabila hal tersebut berseberangan dengan kenyataan, maka sosial politik akan sangat terasa dampak dan pengaruhnya terhadap permintaan.

5. Intensitas Keluarga

Banyak atau sedikitnya keluarga juga berperan serta dalam permintaan wisata halini dapat diratifikasi, jumlah keluarga yang banyak maka keinginan untuk berlibur dari salah satukeluarga tersebut akan semakin besar, hal ini dapat dilihat dari kepentingan wisata itu sendiri.

6. Harga Barang Substitusi

Disamping kelima aspek di atas, harga barang pengganti, juga termasuk dalam aspek permintaan. Barang-barang pengganti misalkan sebagai pengganti DTW yang dijadikan cadangan dalam berwisata seperti, Bali sebagai tujuan wisata utama di Indonesia, akibat suatu dan lain hal Bali tidak dapat memberikan kemampuan dalam memenuhi syarat-syarat daerah tujuanwisata sehingga secara tidak langsung wisatawan akan mengubah tujuannya ke daerah terdekat seperti Malaysia dan Singapura.

(57)

48 7. Harga Barang Komplementer

Merupakan sebuah barang yang saling membantu atau dengan kata lain barang komplementer adalah barang yang saling melengkapi, apabila dikaitkan dengan pariwisata barang komplementer ini sebagai objek wisata yang saling melengkapi dengan objek wisatalainnya.

Jackson, 1989 (dalam Pitana, 2005) melihat bahwa faktor penting yang menentukan permintaan pariwisata berasal dari komponen daerah asal wisatawan antara lain, jumlah penduduk (population size), kemampuan finansial masyarakat (financial means), waktu senggang yang dimiliki (leisure time), sistem transportasi, dan sistem pemasaran pariwisata yang ada.

Gamal Suwanto (2004:48) berpendapat bahwa permintaan (demand) terhadap hasil atau produk pariwisata tidak tetap dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor non - ekonomis.

Terjadinya kekacauan, peperangan atau bencana alam akan mengakibatkan permintaaan berkurang. Sebaliknya bilamana musim berlibur dengan kondisi normal,

(58)

49 permintaan akan meningkat, sehingga kadang terjadi kekurangan dalam supply.

5.2. Perilaku Konsumen dalam Pariwisata

Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian.

Konsumen adalah seseorang yang menggunakan barang atau jasa. Konsumen diasumsikan memiliki formasi atau pengetahuan yang sempurna berkaitan dengan keputusan konsumsinya. Mereka tahu persis kualitas barang, kapasitas produksi, teknologi yang digunakan dan harga barang di pasar. Mereka mampu memprediksi julah penerimaan untuk suatu periode konsumsi. Berikut ini adalah wujud dari konsumen:

1. Personal Consumer

Konsumen ini membeli atau menggunakan barang atau jasa untuk penggunaannya sendiri.

(59)

50 2. Organizational Consumer

Konsumen ini membeli atau menggunakan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan dan menjalankan organisasi tersebut.

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi perilaku konsumen yang harus dicermati olehseorang pengusaha, antar lain:

a) Faktor lingkungan yang melingkupi konsumen, baik lingkungan keluarga, pendidikan dan lingkungan sosial. Lingkungan adalah salah satu elemen yang mempunyai pengaruh besar bagi perilaku konsumen.Hal ini karena terkait dengan kebiasaan bangsa Indonesia yang dalam kehidupannya seringkali mengikuti tren kelompok. Ketika ramai tren pakaian yang ketat, maka semua orang akan berubah yang sama dengan mayoritas.

b) Perlunya pengusaha memperhatikan sumberdaya konsumen, seperti waktu luang yang dimiliki,perhatian terhadap produk yang beredar serta kekuatan daya beli masyarakat sasaran pasar. Faktor yang juga patut dijadikan pertimbangan adalah sikap dan gaya hidup

(60)

51 dari konsumen yang ingin ditujupengusaha dalam memproduksi barang dan jasa.

c) Situasi psychologis yang melingkupi saat peluncuran produk dan jasa kepada costumer. Disinilah pentingnya pengusaha untuk mampu mengelola informasi yang komprehensif tentang perilaku konsumen beserta perubahan yang terjadi. Ini penting, jika costumer karena kondisi psychologisnya, seringkaliberubah sikap dan perilakunya dalam mengkonsumsi suatu produk dan jasa yang ditawarkan.

d) Faktor lain yang juga harus mendapat perhatian pengusaha adalah pandangan agama atasprodukdan jasa yang diluncurkan. Di Indonesia yang terkenal agamis, penting memperhatikan ini,karena kalau dalam pandangan agama terdapat kandungan yang dilarang dalam produk sudah pasti akanterjadi penolakan besar-besaran di masyarakat.

Gaya hidup adalah gambaran hidup seseorang yang tercermin pada ekspresi di setiap aktivitas, hasratserta keingingan,

(61)

52 dan pendapat-pendapat yang tercetus daripadanya. Gaya hidup atau lifestyle juga berdampak pada setiap aspek kehidupan manusia, nilai-nilai hubungan sosial, kondisi ekonomi, bahkan juga berdampak pada faktor-faktor lingkungan.

Pada konteks pariwisata, gaya hidup juga berhubungan dengan aktivitas, hobi, pendapat, yangmemainkan peranan penting pada perilaku konsumen. Perilaku konsumen pariwisata dapat dikelompokkan menjadi beberapa tipologi sebagai dasar dari aspek sosilogi pengambilan keputusan oleh pelaku pariwisatauntuk memilah konsumennya agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai dengan harapan konsumen.

Informasi tentang kebutuhan riil wisatawan sangat berhubungan dengan perilaku konsumen, danmerupakan informasi penting bagi pengelola pariwisata dalam melakukan pengembangan pariwisata agar sesuai dengan segmentasi wisatawan. Perilaku konsumen melekat pada tipologi konsumenpariwisata, dan juga adalah gambaran dari gaya hidup wisatawan yang berdampak pada aktivitas wisatawan pada daerah tujuan wisata yang dikunjunginya.

(62)

53 5.3. Variabel - Variabel yang Mempengaruhi Permintaan

Pariwisata

1. Aspek Penawaran Pariwisata

Menurut Medlik, 1980 (dalam Ariyanto 2005), ada empat aspek (4A) yang harus diperhatikandalam penawaran pariwisata.

Aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut:

a. Attraction (daya tarik). Daerah tujuan wisata (selanjutnya disebut DTW) untuk menarik wisatawan pasti memiliki daya tarik, baik daya tarik berupa alam maupun masyarakat danbudayanya.

b. Accesable (transportasi). Accesable dimaksudkan agar wisatawan domestik dan mancanegara dapat dengan mudah dalam pencapaian tujuan ke tempat wisata.

c. Amenities (fasilitas). Amenities memang menjadi salah satu syarat daerah tujuan wisata agarwisatawan dapat dengan kerasan tinggal lebih lama di DTW.

d. Ancillary(kelembagaan). Adanya lembaga pariwisata wisatawan akan semakin sering mengunjungi dan mencari DTW apabila di daerah tersebut wisatawan dapat merasakan keamanan, (protection of tourism) dan terlindungi.

(63)

54 Menurut Smith, 1988 (dalam Pitana, 2005) mengklasifikasikan berbagai barang dan jasa yang harusdisediakan oleh daerah tujuan wisata menjadi enam kelompok besar, yaitu:

a) Transportation b) Travel services c) Accommodation d) Food service

e) Activities and attractions (recreation culture/

entertainment) f) Retail goods.

Inti dari kedua pernyataan di atas adalah aspek penawaran harus dapat menjelaskan:

a) Apa yang akan ditawarkan.

b) Apa saja atraksi yang ditawarkan.

c) Apa saja jenis transportasi yang dapat digunakan.

d) Fasilitas apa saja yang tersedia di daerah tujuan wisata.

e) Siapa saja yang bisa dihubungi sebagai perantara pembelian paket wisata yang akan dibeli.

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu tempat wisata religi dan sejarah, setiap tahun pengunjungnya meningkat seiring dengan pengelolahannya baik dan didukung alam, kearifan lokal, adat istiadat

bahwa agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina di Indonesia yang berpusat pada negeri leluhurnya, yang dalam manifestasinya dapat menimbulkan pengaruh psychologis, mental dan

Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 tentang Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina;..

yang ada akibat Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina tersebut dinyatakan tidak berlaku. KETIGA : Dengan ini

Parmalim awalnya merupakan gerakan spiritual untuk mempertahankan adat istiadat dan kepercayaan kuno suku Batak Toba yang terancam dengan masuknya agama baru yang

Termasuk di dalamnya agama, kekerabatan, pengetahuan, kepercayaan, seni, praktek-praktek akhlak dan kelahiran bayi (14). Adat istiadat/budaya adalah pengetahuan yang diperoleh

Toleransi , yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan agama, aliran kepercayaan, suku, adat istiadat, bahasa, pendapat, dan hal lain yang berbeda

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ratio legis kewajiban wisatawan menjaga dan menghormati norma agama, adat istiadat, budaya dan nilai-nilai yang hidup di masyarakat dalam