• Tidak ada hasil yang ditemukan

Artikel Hukum Adat Shintiya Permata Puteri 8111421312

N/A
N/A
shintiya

Academic year: 2022

Membagikan "Artikel Hukum Adat Shintiya Permata Puteri 8111421312"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

Kombinasi Penggunaan Hukum Adat dan Hukum Nasional Dalam Prosedur Adopsi Anak Di Desa Ngabul Kecamatan

Tahunan Kabupaten Jepara

Shintiya Permata Puteri [email protected],

Universitas Negeri Semarang,Indonesia

ABSTRACT

Marriage is held by a husband and wife with the intention that one of them has offspring in order to continue the lineage. In addition to continuing the lineage, married husbands and wives must want to have a child so that they can become heirs. For husbands and wives who have not been blessed with descendants, even though they have been married for a long time due to psychological problems or other things, can take shortcuts to have a child by adopting or adopting a child.

According to the 1945 Constitution Article 18B paragraph (2) CHAPTER VI concerning Regional Government which states "The State recognizes and respects customary law community units and their traditional rights as long as they are still alive and in accordance with community development and the principles of the Unitary State of the Republic of Indonesia. esia, which is regulated by law." Based on the article, customary law is something that is recognized by the legal system in Indonesia. Each region in Indonesia has different customary laws regarding child adoption. The method chosen by the author in writing this article is a qualitative method.

Implementation and adoption procedures itself in Ngabul Village, Tahunan District, Jepara Regency, it is carried out by means of two laws at once, namely a combination of local customary law as well as through courts or national law. Usually the adoption in Ngabul village is taken from blood relatives with the motive of continuing the offspring from adoptive parents. In legal research In this case, the theory used is empirical juridical or sociological research using a legal as well as conceptual approach.

Keywords:Customary Law;Adoption;National Law;Law Combination

ABSTRAK

Perkawinan diadakan oleh sepasang suami istri dengan maksud salah satunya memiliki keturunan agar dapat melanjutkan garis keturunan.Selain untuk melanjutkan garis keturunan,suami dan istri yang sudah menikah pasti berkeinginan mempunyai seorang anak agar dapat menjadi seorang ahli waris.Bagi suami dan istri yang belum juga dikaruniai keturunan meskipun sudah menikah dalam jangka waktu lama dikarenakan masalah psikis ataupun hal lain dapat menempuh jalan pintas untuk memiliki seorang anak dengan melakukan adopsi atau disebt pengangkatan anak.Adopsi ini dapat dilakukan dengan mengambil dari anak saudara sedarah,keluarga,ataupun dari yayasan adopsi jika tidak memungkinkannya dari hubungan sedarah.Menurut UUD 1945 Pasal 18B ayat (2) BAB VI tentang Pemerintah Daerah yang menyebutkan “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia,yang diatur dalam Undang-undang.”1.Berdasarkan bunyi pasal tersebut,hukum adat merupakan suatu hal yang diakui oleh tatanan hukum di Indonesia.Dalam tiap daerah di Indonesia memiliki hukum adat yang berbeda terkait hal adopsi anak.Metode yang dipilih penulis dalam penulisan artikel ini adalah metode kualitatif.Pelaksanaan dan prosedur adopsi sendiri di Desa Ngabul Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara dilakukan dengan cara dua 1 Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 26 Ayat 2, ‘Negara Republik Indonesia Tahun 1945’, Warga Dan Negara, 1945, 1–166.

(2)

hukum sekaligus yaitu kombinasi hukum adat setempat sekaligus melalui pengadilan atau hukum nasional.Biasanya pelaksanaan adopsi di desa Ngabul diambil dari keluarga sedarah dengan motif yaitu untuk melanjutkan keturunan dari orang tua angkat.Dalam penelitian hukum ini,teori yang digunakan adalah penelitian yuridis empiris atau sosiologis dengan menggunakan pendekatan undang-undang sekaligus konseptual.

Kata kunci:Hukum Adat;Adopsi;Pengangkatan Anak;Hukum Nasional;Kombinasi Hukum

DOI : -

Received :

Accepted :

Published :

Copyright Notice :

Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.

1. PENDAHULUAN

Sesuai PP No.54 tahun 2007 Pasal 1 ayat (2),adopsi atau pengangkatan anak adalah suatu perbuatan hukum yang mengalihkan seorang anak dari lingkungan kekuasaan orang tua,wali sah,atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan,pendidikan dan membesarkan anak tersebut,ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkat.2Pengertian anak adopsi adalah anak orang lain(dalam hubungan perkawinan yang sah menurut agama dan adat) yang diangkat karena alasan tertentu dan dianggap sebagai anak kandung (Soerjono Soekanto, 2001:251).3Sedangkan pengertian pengangkatan anak yaitu mengangkat anak orang lain yang menimbulkan hubungan hukum antara orang tua angkat dengan anak angkat seperti hubungan orang tua dengan anak kandung(R.Soepomo, 1984:76).4

Adopsi adalah sebuah jalan pintas bagi pasangan suami dan istri yang masih belum atau tidak memiliki keturunan yaitu anak dalam perkawinannya.Pengertian perkawinan sendiri diatur dalam UU Perkawinan No.1 Tahun 1974.Menurut UU tersebut,perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan

2 Republik Indonesia, ‘Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak’, Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 123Indonesia, R. (2007). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak. Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 123, 1–14. Https://Jdih.Kemenkeu.Go.Id/Fulltext/2, 2007, 1–14

<https://jdih.kemenkeu.go.id/fulltext/2007/54TAHUN2007PP.htm>.

3 Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2001).

4 R Soepomo, Bab-Bab Tentang Hukum Adat (Jakarta: Pradnya Paramita, 1984).

(3)

tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.5

Pada zaman dahulu,Adopsi anak merupakan sesuatu yang tidak dibahas secara mandiri dalam perundang-undangan.Di dalam UU Kesejahteraan Anak No.4 Tahun 1979 Pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa “Anak yang tidak mempunyai orang tua berhak memperoleh asuhan oleh negara atau orang atau badan.Sedangkan adopsi menurut hukum adat setempat disinggung dalam Pasal 12 ayat (1) yang berbunyi “Pengangkatan anak menurut adat dan kebiasaan dilaksanakan dengan mengutamakan kepentingan kesejahteraan anak.” dan ayat (3) yang berbunyi “Pengangkatan anak untuk kepentingan kesejahteraan anak yang dilakukan di luar adat dan kebiasaan,dilaksakan berdasarkan Peraturan Perundang- undangan.6

Tetapi sejak diterbitkannya Peraturan Pemerintah No.54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan pengangkatan anak,sebagai pelaksanaan ketentuan pengangkatan anak dalam UU No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak,adopsi atau pengangkatan anak menjadi hal yang sudah dibahas secara mandiri.

Berlakunya hukum adat bagi masing-masing daerah di Indonesia seperti yang tertera pada Pasal 18B ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 tentang Pemerintah Daerah yang berbunyi “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia,yang diatur dalam Undang- undang.” menyebabkan hukum adat juga berlaku dalam masalah pengangkatan anak.Pengangkatan anak atau adopsi berbeda-beda di setiap daerah adat setempat dengan dilakukan sesuai adat daerah setempat.Kebanyakan pengangkatan anak di daerah adat hanya melakukan pengangkatan anak sesuai hukum adat seperti dengan melakukan upacara tertentu lalu anak tersebut dinyatakan sah menjadi anak angkat.Tetapi seiring berjalannya waktu,pemikiran bahwa kepastian hukum adalah hal yang diperlukan dan harus diperjelas di era yang sangat modern ini harus diterapkan.

Sehingga adopsi atau pengangkatan menurut ketentuan di desa Ngabul,Kecamatan Tahunan,Kabupaten Jepara yang termasuk wilayah yang cukup modern (tidak tertinggal)

5 Republik Indonesia, ‘Undang-Undang Tentang Perkawinan’, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1985 Tentang Jalan, 2003.1 (1974), 2 <https://www.google.com/url?

sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjWxrKeif7eAhVYfysKHcHWAOwQFj AAegQICRAC&url=https%3A%2F%2Fwww.ojk.go.id%2Fid%2Fkanal%2Fpasar-modal%2Fregulasi%2Fundang- undang%2FDocuments%2FPages%2Fundang-undang-nomo>.

6 Sekretaris Negara Republik Indonesia, ‘Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak’, 1, 2004, 1–5.

(4)

mengkombinasikan pelaksanaan adopsi menurut hukum adat di Desa Ngabul sekaligus hukum nasional yaitu pengadilan.Pelaksanaan adopsi menurut dua ketentuan hukum sekaligus ini merupakan suatu inovasi baru karena dengan melakukan pengangkatan anak sesuai ketentuan pengadilan,anak tersebut tercatat secara sah di mata hukum negara dan memiliki kepastian dan perlindungan hukum.

Permasalahan yang timbul akibat penelitian ini adalah Bagaimana prosedur adopsi atau pengangkatan anak melalui ketentuan hukum adat di Desa Ngabul Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara dan bagaimana dampak dari diberlakukannya dua ketentuan hukum dalam prosedur pengangkatan anak terhadap anak tersebut.

Tujuan dari pengadaan penelitian pada jurnal ini adalah: (1) menganalisis prosedur yang dilakukan sesuai hukum adat dalam proses adopsi anak di Desa Ngabul Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara,(2) mengetahui dampak dari diberlakukannya dua ketentuan hukum untuk melakukan adopsi anak menurut adat di Desa Ngabul Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara.

Adapun hasil dan manfaat yang diinginkan dari penelitian pada jurnal ini adalah menambah wawasan serta kepengetahuan seputar bagaimana pemberlakuan hukum adat Desa Ngabul Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara berlaku dalam hal adopsi atau pengangkatan anak.

2. METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam jurnal penelitian hukum adalah jenis metode penelitian kualitatif yaitu normatif empiris.Sedangkan pendekatannya adalah pendekatan konseptual dengan memadukan sudut pandang analisa dalam penelitian hukum dan pendekatan perundang-undangan karena dengan adanya pertimbangan terkait hukum nasional.

Alasan peneliti dalam penelitian ini lebih memilih menggunakan metode pendekatan kualitatif dibandingkan metode kuantitatif antara lain: (1)Pengumpulan data dengan observasi dan wawancara, (2)Penelitian yang dilakukan untuk meneliti realita hukum yang hidup di masyarakat sehingga lebih mudah memaparkannya secara informatif, (3)Metode kualitatif mengumpulkan data berupa kalimat-kalimat pernyataan.7

Pada penelitian ini digunakan teknik penelitian untuk mendapat informasi tentang pedoman pengangkatan anak di Desa Ngabul Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara yaitu dengan wawancara tidak secara sistematis terhadap orang tua angkat dan peneliti melakukannya tanpa menyusun pedoman wawancara melalui media tidak tatap muka mengingat kondisi masih dalam pandemi Covid-19.

Data primer dari penelitian ini didapat dari praktik langsung prosedur pengangkatan anak di Desa Ngabul menurut hukum adat dan Berbagai ketentuan perundang-undangan terkait pengangkatan anak.Sedangkan data sekunder didapatkan dengan membaca,menganalisis buku,perundang-undangan,makalah,jurnal yang tersebar di internet.

7 Muhaimin, Metode Penelitian Hukum (Mataram: Mataram University Press, 2020).

(5)

3. PEMBAHASAN

3.1 Prosedur Adopsi atau pengangkatan anak menurut hukum adat Desa Ngabul

Adopsi anak adalah sesuatu yang sudah tidak asing di Indonesia.Pengangkatan anak sudah dilakukan sejak zaman dahulu,sejak zaman nenek moyang oleh pasangan suami dan istri yang tidak mampu mendapat anak atau hanya berkeinginan menambah momongan dengan jalan pintas. Pengangkatan anak dilakukan biasanya dengan tujuan yaitu melanjutkan generasi keturunan,mempererat hubungan kekeluargaan sekaligus sebagai ahli waris

kekayaan pasangan suami istri tersebut.Keberadaan anak adalah sesuatu yang sakral dan penting dalam suatu pernikahan dan merupakan hal identik yang ada setelah dilangsungkan adanya pernikahan.

Selain dua tujuan tersebut,motivasi lain dilakukannya pengangkatan anak antara lain:

 Karena rasa kasihan kepada anak yang tidak bisa dinafkahi orang tuanya;

 Karena rasa kasihan terhadap anak yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya sehingga menjadi yatim piatu;

 Karena hanya punya anak laki-laki,sehingga diangkat anak perempuan atau yang sebaliknya;

 Sebagai suatu pancingan bagi pasangan yang tidak memiliki anak kandung;

 Bermaksud memberi anak angkat tersebut pendidikan yang layak;

 Terkait kepercayaan;8

Pada Pasal 18 B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah diakuinya keberadaan hukum adat.Sehingga adopsi anak dengan menerapkan prosedur- prosedur sesuai hukum adat lingkungan setempat merupakan hal yang diperbolehkan.Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak pasal (1) yang

berbunyi”Pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak dan dilakukan berdasarkan adat istiadat setempat dan ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku.”9 merupakan dasar lain berlakunya adopsi anak sesuai kebijakan hukum adat karena pemberlakuan tersebut masih dihormati dan diakui hingga saat ini.

Sebelum adanya penerapan hukum nasional di Indonesia,adopsi anak pada zaman dahulu di lakukan sesuai hukum adat setempat.Prosedur adopsi anak menurut hukum adat di tiap daerah adat mempunyai ketentuan yang berbeda-beda.Menurut Hukum Adat di Desa Ngabul,Kecamatan Tahunan,Kabupaten Jepara pengangkatan anak banyak dilakukan secara kekeluargaan dengan keluarga sedarah bagi pasangan suami dan juga istri yang tidak

mempunyai keturunan.

8 Fajar Sugianto and Syofyan Hadi, Hukum Pengangkatan Anak, ed. by Regina Juniarta (Surabaya:

R.A.De.Rozarie (Anggota Ikatan Penerbit Indonesia), 2016).

9 Azhar Arsyad, ‘Undang - Undang RI Tentang Perlindungan Anak’, Arsyad, Azhar, 190211614895, 2002, 2002.

(6)

Cara pengangkatan anak sendiri memiliki tiga cara yaitu pengangkatan anak secara terang dan tunai,pengangkatan anak secara tidak terang tetapi tunai,pengangkatan anak hanya secara tunai.

1) Pengangkatan anak secara terang tunai

Dalam adopsi anak menurut masyarakat adat,sebuah pengangkatan anak dilakukan secara terbuka dengan dimasukkan ke dalam ikatan rumah tangga atau biasa disebut somah orang tua angkatnya dan sekaligus secara sosial dalam keluarga dari orang tua angkat.Terang artinya pengangkatan di lakukan di hadapan kepala desa atau persekutuan sekaligus melaksanakan upacara adat yang berlaku.Sementara itu secara tunai berarti pengangkatan disertai pembayaran atau pemberian adapt seperti benda magis,pakaian,ataupun uang.Setelah diberikan pemberian ini,pengangkatan anak dianggap telah selesai.Seperti contohnya di Bali adapt dibayarkan dengan seribu uang kepeng,di Jawa Timur dengan pembayaran mata uang(magis) sejumlah rong wang segobang(17 ½ sen) untuk memutus(memedot) ikatan tali anak dengan orang tua kandung

2) Pengangkatan anak secara tidak terang dan tidak tunai

Dalam motif adopsi anak ini tidak ditujukan untuk menjadi anak kandung seperti yang ada di daerah Jawa,adopsi anak ini dilakukan tapi tidak memutus hubungan dari anak dan orang tua kandungnya.Kebanyakan yang diangkat dari keponakan sendiri dan hanya dimasukkan di rumah tangga (somah).Tidak secara terang berarti tidak dihadapan kepala daerah dan tidak memberikan pemberian atau pembayaran.

3) Pengangkatan anak secara tunai saja

Dalam adopsi anak ini hanyalah terjadi pergeseran hubungan hukum yang telah berkeluarga.Seperti pada masyarakat suku rejang(Bengkulu),Ayah tidak berhak terhadap anak karena hanya mampu membayar kurang dari setengah uang adapt(pelapik) yang diajukan istri saat perkawinan Semendo.Sehingga secar adat anak tersebut masuk klan ibunya.Dalam hukum adat diberikan kesempatan ke ayah dengan membayar uang yang diminta (laki-laki pedaut sebesar 10 rial dan perempuan sebesar 20 rial)10

Cara pengangkatan anak atau adopsi yang terjadi di Desa Ngabul Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara merupakan termasuk jenis kedua yaitu secara tidak terang dan tidak tunai.Adopsi anak di Desa Ngabul ini dilakukan hanya dihadapan di ruang lingkup keluarga,dan tidak ada maksud untuk memutuskan hubungan dengan orang tua

kandungnya mengingat adopsi dilakukan dari sanak saudara sendiri.Pengangkatan anak ini juga tidak secara tunai yaitu tidak ada pembayaran dari calon orang tua angkat terhadap orang tua kandung anak.Tetapi karena adopsi anak sudah direncanakan sejak calon anak angkat berada di dalam kandungan ibu kandungnya,orang tua angkat dan orang tua kandung anak tersebut bersepakat bahwa biaya persalinan di tanggung oleh

10 ‘TATA CARA DAN AKIBAT HUKUM PENGANGKATAN ANAK’.

(7)

orang tua angkat anak tersebut.Dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 dijelaskan bahwa “Pengangkatan anak secara adat kebiasaan dilakukan sesuai dengan tata cara yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.”

Sehingga,secara ringkas,prosedur pengangkatan anak menurut hukum adat di Desa Ngabul dilakukan dengan:

1) Pembicaraan terhadap orang tua biologis atau kandung

Mengingat adopsi anak di Desa Ngabul ini masih di dalam ruang lingkup keluarga dan masih sedarah,Permintaan untuk akan dilakukannya adopsi anak tersebut dilakukan secara kekeluargaan secara mata ke mata oleh orang tua biologis dan calon orang tua angkat.Dalam tahap ini,dituangkan alasan dan penembungan kepada orang tua kandung tersebut kenapa orang tua angkat ingin mengadopsi anak tersebut.

2) Terjadinya kesepakatan kedua belah pihak

Kesepakatan akan terjadi jika orang tua biologis anak menyetujui permintaan calon orang tua angkat yaitu menyetujui diadakannya pengadopsian terhadap anak tersebut.Dalam kesepakatan ini dapat juga diajukan bagaimana kedepannya model pengangkatan anak dan beberapa syarat yang mana harus dilakukan orang tua angkat apabila ingin mengangkat anak angkat tersebut.

3) Penyerahan

Karena penembungan dilakukan sejak di kandungan,penyerahan di lakukan setelah disetujui berapa bulan setelah lahir bayi itu lahir.Penyerahan ini biasanya akan dilanjutkan dengan tradisi adat setempat yaitu adanya bancaan atau selametan dengan memberikan jajan atau berkat kepada tetangga sekitar sehingga diketahui bahwa anak tersebut sudah menjadi anak angkat sah secara adat oleh kedua orang tua angkat.

4) Pengajuan penetapan adopsi anak ke Pengadilan Negeri atau Pengadilan Agama

Dikarenakan Desa Ngabul adalah daerah adat yang sudah lebih modern dan maju,Pengangkatan anak di Desa ini sudah memikirkan tentang status hukum kedepannya bagi si anak angkat tersebut.Pengangkatan anak di Desa ini selain yang sesuai adat,di lakukan juga di Pengadilan Agama,mengingat Anak tersebut beragama Islam.Pengajuan ke

Pengadilan Agama sebenarnya terserah keinginan dari orang tua angkat,tetapi dikarenakan untuk memudahkan yang berkaitan dengan hukum kedepannya seperti kejelasan hukum si anak,masalah ahli waris dan sebagainya sehingga dilakukan pengajuan anak angkat tersebut ke Pengadilan agama agar tercatat secara hukum dan sah secara hukum.

(8)

3.2 Kombinasi pemberlakuan prosedur adopsi menurut hukum nasional

Kombinasi dilakukan dalam penerapan prosedur adopsi di Desa Ngabul Kecamatan Jepara yaitu dengan dilakukannya juga pengangkatan anak secara hukum nasional dengan pengajuan pengangkatan anak ke Pengadilan Agama yaitu Pengadilan Agama Jepara.

Menurut PP Nomor 54 Tahun 2007 Pasal 4 tentang Pelaksanaan Pengangkatan anak disebutkan pengangkatan anak tidak boleh memutus hubungan darah dengan orang tua biologisnya dan pada Pasal 6 disebutkan “Orang tua angkat wajib memberitahukan anak angkatnya mengenai asal-usulnya dan orang tua kandungnya.”11Sehingga dalam hal

pengangkatan anak di Desa Ngabul karena diperoleh dari keluarga sedarah,anak tersebut bisa saja malah hidup dengan mempunyai dua orang tua sekaligus karena berdasarkan pasal diatas tidak boleh terjadi pemutusan hubungan darah antara keduanya.

Dalam Pasal 13 dijelaskan bahwa syarat calon orang tua angkat yaitu:

Sehat secara jasmani maupun rohani,agama yang dianut sesuai agama anak yang akan diangkat,umur tidak lebih dari 55 tahun dan minimal 30 tahun,pernikahan sudah berstatus minimal 5 tahun,tidak pasangan LGBT,mampu secara sosial maupun ekonomi,memiliki kelakuan baik tidak pernah melakukan kejahatan,laporan pekerja sosial setempat,tidak punya anak atau hanya mempunyai satu saja,memiliki izin dari ortu biologis atau wali

anak,membuat pernyataan tertulis adopsi dilakukan untuk kepentingan terbaik bagi anak tersebut.

a. Berumur paling rendah 30 tahun dan paling tinggi 55 tahun;

b. Beragama sama dengan agama calon anak angkat;

c. Berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum karena kejahatan;

d. Berstatus menikah paling singkat 5 tahun;

e. Tidak merupakan pasangan sejenis;

f. Tidak dan belum mempunyai anak atau hanya memiliki satu orang anak;

g. Dalam keadaan mampu ekonomi dan sosial;

h. Memperoleh persetujuan anak dan izin orang tua atau wali anak;

i. Membuat pernyataan tertulis bahwa pengangkatan anak adalah demi kepentingan terbaik bagi anak,kesejahteraan dan perlindungan anak j. Adanya laporan pekerja sosial setempat12

Dalam Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 110 Tahun 2009 Pasal 22 ayat (1) tentang persyaratan pengangkatan anak dijelaskan tata cara atau prosedur

pengangkatan anak ke pengadilan negeri atau agama setempat sesuai hukum nasional Indonesia yaitu sebagai berikut:

11 Indonesia, ‘Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak’.

12 Indonesia, ‘Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak’.

(9)

1. Calon Ortu angkat harus mengajukan permohonan izin tertulis di atas kertas dengan materai cukup untuk mengasuh anak ke kepala instansi sosial provinsi dengan dilampirkan syarat administratif calon anak angkat dan calon ortu angkat.

Dalam Pasal 33 Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 110 Tahun 2009 tentang persyaratan pengangkatan anak,Pasal 5 tentang syarat administratif calon anak sedangkan pada pasal 19 b dijelaskan syarat administratif

2. Penelitian sosial dilakukan oleh pekerja sosial atas perintah kepala instansi sosial provinsi/kabupaten untuk melakukan penilaian kelayakan COA

3. Pengajuan permohonan adopsi anak ke Kepala Instansi bagian Sosial Provinsi melalui instansi sosial kabupaten/kota

4. Pengeluaran rekomendasi kepala instansi sosial kabupaten/kota untuk dapat diproses lebih lanjut ke provinsi

5. Kepala bagian instansi menerbitkan surat keputusan izin adopsi anak agar dilakukan proses lanjut oleh pengadilan setempat

6. Lalu dilakukan penetapan oleh Pengadilan Negeri atau Pengadilan Agama 7. Setelah ditetapkannya putusan pengangkatan anak dan selesai proses adopsi

anak,ortu angkat melaporkan dan memberikan salinannya ke instansi sosial dan DISDUKCAPIL kabupaten/kota

8. Dan yang terakhir,Pencatatan adopsi oleh instansi sosial dan pelaporan adopsi anak ke Departemen sosial RI13

3.3 Dampak terhadap anak angkat terkait diterapkannya dua hukum sekaligus dalam pengangkatan anak

Dampak yang diperoleh anak angkat dengan dilakukan adopsi anak secara hukum nasional sekaligus secara hukum adat yaitu selain sah secara adat,anak angkat tersebut memiliki kepastian hukum dan kejelasan di mata hukum bahwa dirinya adalah anak angkat yang sah di mata hukum dari orang tua angkatnya tersebut.Mengingat zaman semakin modern,penetapan atau pencatatan pengapdosian anak oleh pengadilan negeri atau agama merupakan hal yang sangat di saranka.Kebanyakan pengangkatan anak di daerah” adat hanya di lakukan sesuai adat setempat tanpa dilakukan pengajuan atau pencatatan di pengadilan negeri,sedangkan di Desa Ngabul melakukan keduanya.

Dengan diajukannya penetapan adopsi anak ke pengadilan agama ataupun negeri juga,orang tua angkat dan anak akan memiliki hubungan hukum secara sah dengan menimbulkan hak dan kewajiban yang nyata dan diatur secara jelas diantara

keduanya.Penetapan melalui pengadilan ini juga merupakan bagian dari kewajiban bangsa Indonesia untuk menegakan dan menertibkan praktik hukum dalam kasus adopsi anak di

13 Kementerian Sosial, ‘Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 110/HUK/2009 Tentang Persyaratan Pengangkatan Anak’, Kementerian Sosial, 2006 (2009).

(10)

masyarakat.Kepastian hukum,keadilan hukum dan legalitas juga terjamin diantara

keduanya.Penetapan adopsi anak oleh pengadilan ini juga nantinya akan berdampak pada urusan hukum kewarisan kelak saat diperlukan sehingga penetapan adopsi anak oleh pengadilan merupakan suatu hal yang sangat penting.

4. KESIMPULAN

Pelaksanaan adopsi anak di daerah Desa Ngabul Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara dilakukan menurut kombinasi antara hukum adat Desa Ngabul dan hukum nasional.Dalam masalah adopsi anak sesuai hukum adat Desa Ngabul,dilakukan dengan cara tidak terang dan tidak tunai dengan hanya dengan melakukan penembungan atau permintaan mengingat pengangkatan diambil dari sanak keluarga sedarah sehingga jika kesepakatan terjadi,dilakukan syukuran atau selametan dengan meberi jajan atau berkat ke tetangga,sehingga pengangkatan dianggap telah sah secara adat.Tetapi berbeda dengan hukum adat lain,di Desa Ngabul dilakukan juga pengangkatan anak secara hukum nasional yaitu penetapan pengadilan negeri atau agama Jepara.Kombinasi penggunaan dua hukum ini dilakukan mengingat zaman semakin modern,kepastian hukum merupakan suatu yang harus ada.

Dampak dari diberlakukannya kombinasi hukum adat dan nasional bagi anak angkat tersebut yaitu adanya kepastian dan sah secara hukum,hubungan dari segi hukum orang tua angkat dan anak yang diangkat akan memiliki kejelasan status sehingga menimbulkan hak dan kewajiban yang jelas,keadilan hukum dan legalitas hukum terhadap si anak angkat.Di dalam masalah hak warisan karena sebagai ahli waris kelak juga tidak akan mengalami kebingungan karena status hukum anak angkat tersebut sudah jelas.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut UU No.1 Tahun 1974 Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga

Jika yang meninggal dunia suami, maka anak- anaknnya serta jandanya tidak menjadi ahli waris untuk harta pusaka tinggi ini di karenakan sistem matrilinial menarik garis keturunan

Mengenai bentuk perlindungan hukum bagi para pihak yang melakukan perkawinan ngerorod ini, baik pihak suami, istri maupun anak dari hasil perkawinan tersebut

Dengan demikian apa yang didapat suami isteri bersama selama perkawinan merupakan hasil pencaharian bersama suami istri (Lampung, massou jejamou ; Sulawesi

Perceraian berlainan dengan pemutusan perkawinan sesudah perpisahan meja dan tempat tidur yang di dalamnya tidak terdapat perselisihan bahkan ada kehendak baik dari suami maupun

Perkawinan merupakan suatu proses untuk keberlangsungan garis keturunan manusia dimana dari setiap keturunan akan membawa sifat genetik dari induknya salah satunya

“Oleh karena perkawinan mempunyai maksud agar suami dan istri dapat membentuk keluarga yang kekal, maka suatu tindakan yang mengakibatkan putusanya suatu

Dengan kata lain, dalam memperhitungkan warisan suami atau istri dan anak-anak mereka yang dilahirkan dalam perkawinan itu, anak luar kawin dianggap tidak ada..