PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
MATA PELAJARAN PKN KELAS V SD NEGERI 019 BUKIT MERANTI TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Oleh Supandi
SDN 019 Bukit Meranti E-mail : [email protected] ABSTRAK
Dalam proses pembelajaran di sekolah sering mengalami hambatan, karena kurangnya media dan alat peraga. Seperti hasil pengamatan yang penulis lakukan pada siswa kelas V SD Negeri 019 Bukit Meranti, kemauan belajar siswa kurang, kurang tertarik dalam mengikuti pembelajaran, kurang menguasai materi pelajaran dan suka mencontek hasil kerja teman sekelas. Berdasarkan data hasil pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan pada bulan januari 2017 di kelas VSD Negeri 019 Bukit Meranti Kabupaten Indragiri Hulu dengan menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dapat disimpulkan sebagai berikut: Ketercapaian KKM siswa pada Siklus I sebanyak 19 siswa atau 63,33%. Pada Siklus II sebanyak 25 siswa mencapai KKM atau 83,33%. Dari kesimpulan di atas dapat dinyatakan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STADuntuk memperbaiki proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas V SD Negeri 019 Bukit Meranti telah berhasil dilaksanakan.
Kata Kunci: Hasil Belajar, STAD, Pembelajaran Kooperatif PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai salah satu upaya dalam mewujudkan warga Negara yang demokratis dan bertanggungjawab maka ditempuh dengan pendidikan formal di SD/MI khususnya pada mata pelajaran PKN (Pendidikan Kewarganegaraan). Mata pelajaran kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Melihat pada apa yang dipaparkan diatas betapa sangat pentingnya pendidikan Pkn diajarkan kepada peserta didik, hal ini lantaran berkenaan dengan penanaman kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Orientasi pendidikan PKN pada dasarnya adalah membentuk warga Negara yang good citizenship (warga Negara yang baik). Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar isi untuk
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dijelaskan bahwa tujuan pendidikan Pkn adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: berfikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan, berpartisipasi secara aktif dan bertanggungjawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta anti korupsi, berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya dan berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain.
Jika kita merujuk pada apa yang dipaparkan dalam kurikulum Pkn sebagaimana yang ada dalam Permendiknas Nomor 22 tahun 2003, pendidikan Pkn harus diajarkan kepada peserta didik, karena pendidikan Pkn memberikan kontribusi yang besar dalam pembentukkan karakter peserta didik menjadi warga negara yang memiliki sifat nasionalisme dan semangat kebangsaan. Bertitik tolak dari tujuan pendidikan Pkn, ketika kita melihat realita yang ada, betapa ironisnya pendidikan kita. Selama ini pendidikan Pkn dianggap peserta didik sebagai pembelajaran yang menjenuhkan dan terkesan monoton sehingga peserta didik kurang bisa menerima apa yang disampaikan guru khususnya dalam penanaman nilai-nilai kehidupan. Kebanyakan peserta didik merasa bosan ketika diajarkan mata pelajaran Pkn. Metode guru yang lebih didominasi dengan ceramah menyebabkan peserta didik merasa malas untuk mengikuti pembelajaran Pkn.
Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak diperolehnya ketuntasan dalam belajar, sehingga system belajar kurang tuntas sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pendidik itu sendiri. Hal inilah yang dialami di SD Negeri 019 Bukit Meranti, akibatnya nilai rata-rata peserta didik dibawah kriteria ketuntasan minimal yang diharapkan. KKM yang ditetapkan di sekolah tersebut untuk mata pelajaran PKn kelas V adalah 75 sedangkan nilai yang diperoleh peserta belum mencapai yang ditetapkan sekolah. Dengan demikian hasil belajar peserta didik kurang maksimal.
Berdasarkan kenyataan tersebut, untuk merubah sistem pembelajaran yang membosankan pada mata pelajaran Pkn perlu adanya perubahan dalam metode pembelajarannya, maka dari itu peneliti mencoba menggunakan model STAD.
STAD (Student Team Achievment Division) adalah model pembelajaran kooperatif untuk pengelompokan campur yang melibatkan pengakuan tim dan tanggungjawab kelompok untuk pembelajaran individu. Dalam model pembelajaran STAD ini peserta didik dituntut aktif dan kreatif dalam berfikir dan menyelesaikan tugas secara berkelompok. Dalam model pembelajaran STAD ini peran peserta didik lebih besar dibandingkan guru, jadi guru hanya membimbing peserta didik dan membantu permasalahan yang dihadapi oleh setiap kelompok, sehingga dalam pembelajaran STAD ini keaktifan siswa dapat lebih terlihat. Pembelajaran secara konvensional dimana guru sangat mendominasi pembelajaran yang berlangsung, melakukan ceramah, yang bisa membuat peserta didik jenuh, jelas itu bisa membuat peserta didik tidak bisa mengembangkan kreatifitasnya. Dalam pembelajaran STAD juga lebih mengutamakan komunikasi dalam kelompok dan kerja samayang baik antaranggota kelompok. Jadi peserta didik lebih banyak berkomunikasi dengan teman dibandingkan dengan guru.
Banyak faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan peserta didik dalam belajar, baik yang berasal dari dalam diri peserta didik maupun dari luar diri
peserta didik. Pada penelitian ini, perhatian lebih diarahkan pada faktor peserta didik dan guru yang berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik dalam model pembelajaran STAD. Atas dasar inilah penulis ingin mengangkat judul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dalam Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pkn Kelas V SD Negeri 019 Bukit Meranti Tahun Pelajaran 2016/2017.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan adapun rumusan masalah dalam penelitian ini Apakah model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Team Achievment Division) efektif dalam Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pkn Kelas V SD Negeri 019 Bukit Meranti Tahun Pelajaran 2016/2017?.
Tujuan Penelitian
Dari Rumusan masalah yang telah peneliti rumuskan, tujuan ini adalah Untuk mengetahui efektif atau tidaknya model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Team Achievment Division) dalam meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pkn Kelas V SD Negeri 019 Bukit Meranti Tahun Pelajaran 2016/2017.
Manfaat Penelitian
Semua tindakan dan perbuatan yang dilakukan manusia pasti memiliki manfaat dan kegunaan, begitu pula dengan peneliti ini.Yang mana manfaat tersebut berguna bagi peneliti sendiri dan orang lain : Adapun hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
a. Bagi Sekolah
Sebagai bahan acuan bagi madrasah yang dijadikan objek penelitian ini dalam upaya meningkatkan mutu dan manfaat siswa-siswi dalam pelajaran Pkn.
b. Bagi Guru
1. Sebagai bahan informasi bagi guru Pkn dalam meningkatkan prestasi siswa-siswi dengan ketepatan metode yang digunakan dalam proses pembelajaran.
2. Bagi guru dapat memanfaatkan model pembelajaran STAD untuk dapat membangkitkan keaktifan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar.
c. Bagi Siswa-siswa
1. Menumbuhkembangkan kompetensi siswa-siswi dalam mata pelajaran Pkn, khususnya materi sistem pemerintahan pusat,
2. Meningkatkan penguasaan materi tentang sistem pemerintahan,
3. Sebagai upaya meningkatkan kemampuan siswa-siswi dalam menjawab pertanyaan
4. Menumbuhkembangkan kemapuan berfikir kritis, komunikasi, mandiri dan terampil pada siswa-siswi.
KAJIAN PUSTAKA Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut Sardiman (2011: 21):
“Belajar adalah rangkaian kegiatan jiwa-raga, psikofisik untuk menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa, dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik”
Garret dalam Sagala (2010: 13): “Belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa pada perubahan diri dan perubahan cara mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu”. Sedangkan Purwanto (2011: 38-9): “Belajar merupakan proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam perilakunya”.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, penulis menyimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari pengalamannya dalam berinteraksi dengan lingkungan yang meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
Pembelajaran
Dalam kegiatan belajar tentunya terdapat sebuah proses yang dinamakan pembelajaran, yaitu kegiatan yang di dalamnya terjadi suatu interaksi antara pemberi dan penerima informasi untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut Sudjana dalam Amri (2013: 28), pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik yang dapat menyebabkan siswa melakukan kegiatan belajar. Rusmono (2012: 6) menyatakan bahwa pembelajaran merupakan suatu upaya untuk menciptakan suatu kondisi bagi terciptanya suatu kegiatan belajar yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang memadai.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu aktivitas belajar yang dilakukan agar terciptanya suatu interaksi antara pengajar dan siswa untuk mencapai suatu tujuan.
Hasil Belajar
Kemampuan yang dimiliki siswa berbeda-beda setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Menurut Suprijono (2013:6) hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Kemampuan kognitif terdiri dari knowledge (pengetahuan, ingatan); comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh); application (menerapakan); analysis (menguraikan, menentukan hubungan); synthesis (mengorganisasikan, merencanakan); dan evaluating (menilai). Kemampuan afektif terdiri dari receiving (sikap menerima);
responding (memberikan respon), valuing (nilai); organization (organisasi);
characterization (karakterisasi). Kemampuan psikomotorik meliputi initiatory, pre-rountie, dan rountinized.
Menurut Suprijono (2013:7) hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja. Menurut Jihad dan Haris (2012:14) hasil belajar merupakan pencapaian bentuk perubahan
perilaku yang cenderung menetap dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotoris dari proses belajar yang dilakukan dalam waktu tertentu. Sedangkan menurut Kunandar (2010: 276) hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti suatu materi tertentu dari mata pelajaran yang berupa data kuantitatif dan kualitatif.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kesempurnaan hasil yang dicapai dari suatu kegiatan/perbuatan dalam pembelajaran yang dapat memberikan kepuasan emosional, dan dapat diukur dengan alat atau tes tertentu.
Pengertian dan Tujuan PKn
Zamroni (2010) Pendidikan Kewarganegaraan adalah pendidikan demokratis yang bertujuan untuk mempersiapkan warga masyarakat berpikir kritis dan bertindak demokratis. Sedangkan menurut Samsuri (2011: 28) Pendidikan Kewarganegaraan diartikan sebagai penyiapan generasi muda (siswa) untuk menjadi warga negara yang memiliki pengetahuan, kecakapan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakatnya.
Melalui mata pelajaran PKN, diharapkan kegiatan pembelajaran dapat mencapai tujuan yang diharapkan sebagaimana tercantum pada Permendiknas No.
22 tahun 2006 tentang Standar Isi meliputi:
a. Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.
b. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta anti korupsi.
c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.
d. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lainnya dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawannya dari Universitas John Hopkins. Menurut Huda (2014:
46) pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang di dalamnya terdiri dari beberapa kelompok kecil siswa dengan kemampuan akademik yang berbeda-beda saling bekerjasama untuk menyelesaikan tujuan pembelajaran. Tidak hanya secara akademik, siswa juga dikelompokkan secara beragam berdasarkan gender, ras dan etnis.
Menurut Imas (2015: 22) dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD para siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, usahakan setiap kelompok beranggotakan heterogen, terdiri atas laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui diskusi
dan kuis. Dalam STAD, penghargaan kelompok didasarkan atas skor yang didapatkan oleh kelompok. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, Peneliti menyimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah model pembelajaran yang membantu siswa untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi dengan memberikan informasi serta bertukar pikiran secara langsung, membantu di antara sesama dalam stuktur kerja sama yang teratur dalam kelompok untuk memecahkan masalah sehingga dapat membentuk pembelajaran yang menyenangkan.
Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif menurut Ibrahim, Muslimin, et, al. (Trianto, 2011:48) adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Fase Tingkah Laku Guru
Fase -1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase-2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase-3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase-4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas- tugas mereka.
Fase-5 Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempersentasikan hasil kerjanya.
Fase-6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu maupun kelompok.
Sumber : Ibrahim, Muslimin, et, al. (Trianto, 2011:48) METODE PENELITIAN
Tempat, Waktu dan Subjek Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas V SD Negeri 019 Bukit Meranti Tahun Pelajaran 2016/2017. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap yaitu pada bulan januari hingga Februari 2017 tahun pelajaran 2016/2017.
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 019 Bukit Meranti tahun pelajaran 2016/2017 dengan jumlah sebanyak 30 siswa yang terdiri dari 17 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki.
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) atau dalam bahasa Inggris disebut Classroom Action Research (CAR). Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa yang berkaitan dengan proses pembelajaran di kelas, dengan menggunakan pendekatan kooperatif tipe STAD.
Penelitian ini dilakukan dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti melaksanakan penelitian tindakan kelas dengan mengikuti draft pelaksanaan penelitian sebagai berikut.
Gambar 1. Diagram Alur Siklus Penelitian Tindakan Kelas
Sumber: Arikunto, S (2004) Prosedur Penelitian
Penelitian ini dirancang sebagai suatu penelitian tindakan kelas yang berkolaborasi dengan melibatkan guru mitra atau teman sejawat, untuk bersama- sama melakukan penelitian. Pada waktu penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengajar, sedangkan mitra guru/teman sejawat bertindak sebagai observer. Proses penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus ada empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan peneliti dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1. Non Tes
Teknik non-tes yang digunakan yaitu observasi untuk mengamati aktivitas siswa dan kinerja guru dalam proses pembelajaran. Dalam kegiatan ini peneliti melakukan pengamatan mencatat hal-hal yang diperlukan selama pelaksanaan tindakan berlangsung.
a. Lembar panduan observasi aktivitas siswa, digunakan untuk mengumpulkan data mengenai aktivitas belajar siswa.
b. Lembar panduan kinerja guru, digunakan untuk mengumpulkan data mengenai kinerja guru.
2. Tes
Teknik tes yang digunakan yaitu tes tertulis yang dilaksanakan di setiap akhir siklus. Tes tersebut dilakukan untuk memperoleh data hasil belajar setelah pembelajaran berlangsung. Hasil tes tersebut digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kooperatif tipe STAD.
Data kuantitatif
Data kuantitatif diambil dari tes formatif pada pembelajaran PKN menggunakan model pembelajaran STAD. Data kuantitatif digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar siswa pada pembelajaran PKN di kelas V.
Rumus yang digunakan sebagai berikut:
Nilai Akhir = Jumlah Siswa Tuntas x 100 Jumlah seluruh Siswa di kelas Indikator Keberhasilan
Tolak ukur keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar PKN dan siswa yang mencapai KKM 75 sejumlah ≥ 75% dari jumlah siswa.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Pra Siklus
Pada pembelajaran pra siklus mata pelajaan PKN kelas V Semester II di SD Negeri 019 Bukit Merantitahun 2016/2017 dengan materi kooperatif learning tipe STAD hasilnya kurang memuaskan. Hasil belajar pada pra siklus dapat disajikan pada tabel sebagai berikut.
Tabel 2. Hasil Evaluasi Belajar Pra Siklus No KKM
Jumlah Siswa Presentase Ketercapaian
KKM Jumlah Siswa Belum
Mencapai KKM
Jumlah Siswa mencapai KKM
1. 75 18 12 40%
Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2017)
Siswa yang belum tuntas dalam pembelajaran sebanyak 18 siswa, yang tuntas hanya 12 siswa dengan prosentase ketuntasan belajar adalah 40%. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa masih rendah dalam penguasaan materi pembelajaran yang diberikan oleh guru. Maka penulis perlu mengambil langkah untuk memperbaiki pembelajaran tersebut, agar siswa dapat memahami materi pembelajaran.
Siklus I
Siklus pertama yang dilaksanakan pada tanggal 04 dan 11 Januari 2017 dalam PTK ini terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi sebagai berikut:
1. Perencanaan (Planning)
Tahap merencanakan merupakan proses merencanakan tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa. Perencanaan dalam penelitian ini meliputi:
a. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe STAD.
b. Menyusun dan mempersiapkan lembar observasi mengenai pelaksanaan pembelajaran PKnmenggunakan model pembelajaraan kooperatif tipe STAD.
c. Membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) yang berisikan soal-soal latihan yang dikerjakan secara berkelompok oleh siswa. Serta soal kuis yang akan dikerjakan secara individu oleh siswa setelah diskusi dan presentasi kelompok.
d. Menyusun soal pre tes, dan pos tes yang akan diberikan pada setiap akhir siklus. Tes disusun oleh peneliti dengan meminta pertimbangan dari guru IPS yang bersangkutan.
e. Menyiapkan media pembelajaran yang diperlukan dalam tindakan.
2. Pelaksanaan (Acting)
Pada tahap ini guru melakukan kegiatan pembelajaran seperti yang telah direncanakan, yaitu kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Guru menggunakan RPP yang telah disusun peneliti selama proses pembelajaran berlangsung. Sementara peneliti mengamati aktivitas-aktivitas dan perilaku siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung. Pelaksanaan tindakan bersifat fleksibel dan terbuka terhadap perubahan-perubahan yang di lapangan.
3. Pengamatan (Observation)
Pengamatan merupakan upaya mengamati pelaksanaan tindakan yang dilakukan peneliti dengan dibantu oleh observer menggunakan pedoman observasi. Pengamatan dilakukan terhadap siswa, maupundalam pelaksanaan tindakan yang dilakukan guru kelas sebagai kolabolator. Observasi dilaksanakan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan.
Observasi dilakukan untuk mengetahui jalannya pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dari hasil penelitian siklus I didapat hasil penelitian pos tes sebagai berikut :
Tabel 3. Hasil Evaluasi Belajar Siklus I No KKM
Jumlah Siswa Presentase Ketercapaian
KKM Jumlah Siswa Belum
Mencapai KKM
Jumlah siswa mencapai KKM
1. 75 11 19 63,33%
Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2017)
Berdasarkan tabel diatas pesentase ketuntasan siswa pada siklus I meningkat dibandingkan pra siklus, dibandingkan pra siklus pada siklus I
meningkat menjadi 63,33%, tetapi belum mencapai kriteria yang diinginkan, maka peneliti memutuskan untuk melanjutkan penelitian pada siklus II.
4. Refleksi (Reflection)
Kegiatan ini dilakukan selama pelajaran berlangsung dengan cara monitoring secara sistematis terhadap kegiatan yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran. Data-data yang diperoleh kemudian didiskusikan antara peneliti dan guru pada akhir siklus. Diskusi ini bertujuan untuk mengetahui hasil pembelajaran serta mencari solusi terhadap masalah-masalah yang mungkin timbul sehingga dapat dijadikan acuan oleh peneliti untuk merumuskan perencanaan pada siklus II.
Siklus II
Seperti halnya siklus pertama, siklus kedua yang dilaksanakan pada tanggal 18 dan 25 januari pun terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.
1. Perencanaan (Planning)
Tim peneliti membuat rencana pelaksanaan pembelajaran berdasarkan refleksi pada siklus pertama.
2. Pelaksanaan (Acting)
Guru melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe STAD berdasarkan rencana pembelajaran hasil refleksi pada siklus pertama.
3. Pengamatan (Observation)
Pada tahap persiapan siswa, semua siswa nampak antusias. Dari hasil observasi yang diperoleh peneliti dari lembar penilaian dan pengamatan selama pelaksanaan tindakan berlangsung telah diperoleh data pada tabel 4. berikut ini:
Tabel 4. Hasil Evaluasi Belajar Siklus II No KKM
Jumlah siswa Presentase Ketercapaian KKM
Jumlah Siswa Belum Mencapai KKM
Jumlah Siswa Mencapai KKM
1. 75 5 25 83,33%
Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2017)
Berdasrkan tabel diatas dapat dilihat bahwa siswa yang belajar dalam post tes siklus II meningkat menjadi 83,33% atau 25 orang tuntas dalam pos tes siklus II.
4. Refleksi (Reflection)
Hal ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kelemahan yang dilakukan pada siklus II. Hasil kajian dan perenungan digunakan untuk menyimpulkan apakah siklus perlu dilanjutkan atau dinyatakan berhasil. Bila belum berhasil diperlukan perubahan tindakan untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya. Namun bila hasil belajar siswa telah memenuhi indikator keberhasilan, tindakan tidak perlu dilaksanakan lagi dan dinyatakan bahwa penelitian telah berhasil.
Pembahasan
Ketuntasan Hasil belajar Siswa
Hasil belajar PKn kelas V SD Negeri 019 Bukit Meranti sebelum diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe STAD masih rendah dan
kurang maksimal. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya hasil belajar siswa pada tes awal pra penelitian tindakan yakni dengan presentase ketuntasan 40% atau baru 12 siswa saja dari keseluruhan siswa yakni 30 siswa, yang tuntas belajar. Masih jauh dibawah kriteria ketuntasan minimum (KKM) yakni 75%. Lalu pada siklus I naik menjadi 93,33% atau 19 siswa dan pada siklus II naik menjadi 83,33% atau 25 siswa. Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran kooperatif model STAD dalam setiap siklus mengalami peningkatan.
Hal ini berdampak positif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa dan penguasaan materi pelajaran yang telah diterima selama ini, yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
Dari siklus I belum mengalami peningkatan hasil belajar di sebabkan siswa baru mengikuti proses pembelajaran model STAD yang mana siswa masih sibuk dengan kelompok atau Tim belajarnya masing-masing dan kurang memperhatikan pengarahan dari guru sehingga proses belajar mengajarnya kurang maksimal.
Pada Siklus II hasil belajar IPS mulai meningkat disebabkan siswa sudah mulai mengerti pembelajaran model STAD sehingga lebih konsentrasi pada pembelajaran. Siswa merasa belajar dengan model STAD lebih menyenangkan.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Dari hasil penelitian tindakan kelas tentang penggunaan kooperatif learning tipe STAD, dapat disimpulkan bahwa Sebelum dilakukan tindakan terhadap siswa kelas V SD Negeri 019 Bukit Meranti didapatkan hanya sebesar 40% siswa yang memenuhi KKM dalam materi kooperatif learning tipe STAD.
Sedangkan 60% belum memenuhi dan Terjadi peningkatan hasil belajar pada setiap siklus dan peningkatan dari hasil pra siklus dengan 40% siswa yang tuntas ke postest I dengan 63,33% dan pada postest II dengan 83,33% siswa yang tuntas dalam pembelajaran PKn materi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka peneliti menarik saran yaitu pembelajaran Kooperatif learning tipe STADdiharapkan sering dilaksanakan pada model pembelajaran, khususnya pada anak usia dini, mengingat manfaat cooperativelearnig dapat membantu siswa memahami apa yang ingin di pahami di lingkungan luar serta Kooperatif learning tipe STAD merupakan model pembelajaran yang menarik. Sejalan dengan itu diharapkan mata pelajaranbisa menerapkannya dalam proses pembelajaran dan Guru diharapkan memiliki motivasi yang tinggi untuk meningkatkan kemampuan siswanya dengan menggunakan banyak model pembelajaran, yang membuat proses pembelajaran lebih menarik dan siswa merasa senang sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Amri, Sofan. 2013. Pengembangan & Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013. Jakarta: Prestasi Pustakarya.
Kunandar. 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rusmono. 2012. Strategi Pembelajaran dengan Problem Based Learning itu Perlu. Bogor: Ghalia Indonesia.
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media
Samsuri. 2011. Pendidikan Karakter Warga Negara. Yogyakarta: Diandra Pustaka Indonesia.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Suprijono, Agus. 2013. Strategi Pembelajaran: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta:
Ar Ruzz Media.
Suyatno. 2009. Macam-macam Model Pembelajaran Kooperatif. Jakarta: Raja Grafindo..
Winataputra, Udin S. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.
Zamroni. 2010. Paradigma Pendidikan Indonesia. Yogyakarta: Griya Publishing.