• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

39

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Dalam bab ini, akan diuraikan hasil dari penelitian dan pembahasan. Hasil penelitian mengenai stilistika pada aspek pertama yaitu pemilihan kata atau diksi dalam novel. Diksi yang ditemukan terdiri dari berbagai macam meliputi kata konotatif, kata konkret, kata serapan, dan kata asing. Selanjutnya hasil penelitian pada aspek kedua yaitu gaya bahasa atau majas. Suatu karya sastra akan terasa kurang estetis apabila tidak menggunakan majas yang tepat. Dalam dua novel karya Hanum Salsabiela Rais ditemukan berbagai macam majas yang meliputi majas hiperbola, personifikasi, metafora, simile, paradoks, antitesis, retoris, dan repetisi.

Aspek yang ketiga pada stilistika yaitu citraan, penggunaan citraan dalam karya sastra digunakan untuk memberikan gambaran agar para pembaca seolah-olah melihat, mendengar, dan mengalami peristiwa dalam isi cerita. Citraan yang ditemukan pada penelitian ini terdiri dari citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan pencecapan. Selain aspek stilistika, pada penelitian ini akan menguraikan bentuk- bentuk nilai toleransi dalam dua novel tersebut. Dari hasil penelitian, ditemukan bentuk-bentuk nilai toleransi yang meliputi memberikan kebebasan atau kemerdekaan, menghormati keyakinan orang lain, mengakui hak setiap individu, dan saling pengertian. Keempat bentuk nilai toleransi tersebut dapat dijadikan untuk menguatkan karakter peserta didik.

Pada bab ini akan diuraikan pula bagaimana implementasi aspek-aspek stilistika dan nilai toleransi dalam dua novel tersebut serta pemanfaatannya sebagai bahan ajar pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas. Pemanfaatan aspek stilistika dan nilai toleransi dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA perlu dilakukan karena hasil penelitian ini menemukan berbagai macam aspek stilistika yang meliputi diksi, gaya bahasa, dan citraan. Ketiga aspek tersebut sesuai dengan bahan ajar bahasa Indonesia yang dapat dijadikan referensi agar materi ajar yang digunakan semakin bervariatif dan tidak monoton. Pada aspek nilai toleransi yang ditemukan, dapat dijadikan materi untuk menguatkan karakter peserta didik terutama pada sikap tenggang rasa.

(2)

1. Bentuk Pemilihan Kata (Diksi)

Pada sebuah karya sastra, penggunaan diksi yang tepat merupakan hal yang harus dilakukan karena dapat meningkatkan keestetisan isi karya tersebut. Begitu pula dengan dua novel ini, digunakan diksi-diksi yang unik dan sesuai dengan jalan cerita dalam novel agar pembaca dapat memahami serta menjiwai isi cerita. Diksi-diksi yang digunakan meliputi kata konotatif, kata konkret, kata serapan, dan kata asing. Berikut uraian dari keempat diksi tersebut dari novel berjudul Bulan Terbelah di Langit Amerika.

a. Kata konotatif

Kata konotatif adalah salah satu jenis makna kata yang mempunyai makna lain atau makna simbolis. Kata konotatif termasuk kata kiasan yang tidak memiliki makna asli dari makna katanya. Beberapa data berkaitan dengan kata-kata konotatif di novel Bulan Terbelah di Langit Amerika dipaparkan sebagai berikut.

(1) “Suamiku Rangga semakin sibuk bergulat dengan pekerjaannya di kampus sebagai asisten dosen sekaligus mahasiswa S-3”. (Rais dan Rangga, 2016:20)

Dari data (1) di atas terdapat kata konotatif “bergulat”. Kata konotatif di kutipan tersebut bukan bermakna tokoh Rangga sedang melakukan aktivitas bergulat, olahraga bela diri, atau berkelahi dengan seseorang. Namun, kata “bergulat” bermakna menyibukan diri dengan aktivitas pekerjaannya sebagai asisten dosen dan mahasiswa S-3.

(2) “Aku masih diam saat Rangga merayapi wajahku”. (Rais dan Rangga, 2016:25)

Kata “merayapi” secara literal memiliki arti bergerak perlahan atau bergerak maju dengan tangan dan kaki yang bertumpu pada tanah. Terlihat jelas perbedaan maknanya jika dibandingkan kata pada data (2). Pada data tersebut, kata “merayapi”

mengarah kepada artian memandang secara menyeluruh dan detail terhadap suatu objek. Hal itu dilakukan oleh tokoh Rangga saat Hanum ragu ingin mengirim lamaran ke Heute ist Wunderbar.

(3) “Aku akhirnya menyadari, setelah dipertemukan dengan Fatma Pasha di kursus Jerman, domino takdir tak berhenti di sana. Satu pertemuan dramatis itu telah membuka jala-jala takdirku dan Rangga”. (Rais dan Rangga, 2016:26-27)

Data di atas menampilkan penggunaan bentuk kata konotatif yang mengandung pengibaratan suatu keadaan bersanding dengan keadaan yang lain. Kata konotatif

(3)

“domino takdir” pada data di atas merujuk pada makna rangkaian kejadian yang dialami Hanum dan Rangga telah tersusun rapi dan elok, seperti permainan domino dengan akhir cerita yang menakjubkan tak terduga. Kata konotatif lainnya, yaitu kata “jala-jala takdirku” juga bermakna saringan atau alat jebakan bagi takdir Hanum dan Rangga hingga menemui situasi yang baru, seperti saat Hanum dapat kesempatan berkerja di Heute ist Wunderbar Wina.

(4) “Belum sempat Khan menjawabnya, Stefan membobardirnya dengan penyataan lain yang lebih menohok”. (Rais dan Rangga, 2016:29)

Pada kutipan tersebut menampilkan kata “membobardirnya”. Dari kata dasar bobadir, kata ini erat kaitannya dengan hal yang berhubungan dengan persenjataan.

Namun, pada data (4) tersebut pengarang mengarah pada makna lain yang memiliki konsep yang sama. Bukan memberi senjata atau peluru secara terus menerus, melainkan memberi pertanyaan secara beruntun.

(5) “Juru kamera dengan wajahnya yang membatu”. (Rais dan Rangga, 2016:36)

(6) “Aku memandang atasanku itu sedang membuang pandang ke jendela”.

(Rais, 2016:38)

Kedua kutipan dari novel Bulan Terbelah di Langit Amerika di atas memuat kata konotatif. Data (5) terdapat kata “membatu”. Kata tersebut berkaitan dengan sikap seseorang yang seperti batu, diam, dan kaku. Data (6) terdapat kata “membuang pandang” yang berarti melihat pemandangan secara luas dan jauh.

(7) “Aku sadar, di atas bos ada abos. Pada akhirnya, Gertrud hanyalah seorang pion bagi pemilik modal industri media”. (Rais dan Rangga, 2016:47) Kata “pion” merupakan istilah yang biasa digunakan permainan catur. Secara harfiah, kata “pion” berarti bidak, partikel elementer yang berusia pendek. Namun, pada kutipan tersebut, kata “pion” mengandung makna konotatif yang berarti pegawai kantor atau bawahan dalam perusahaan surat kabar Heute ist Wunderbar. Meski tokoh Gertrud adalah sosok atasan Hanum di kantor, ia juga memiliki sosok yang kedudukannya lebih tinggi di atasnya, para pemilik modal. Mereka memiliki wewenang untuk memberi tugas pada Gerturd yang bertujuan untuk menaikan citra perusahaan agar lebih berkembang dan bertahan.

(8) “Sebelum, keharmonisan pasangan terancam karena Hanum bekerja menjadi kuli tinta di Heute ist Wunderbar”. (Rais dan Rangga, 2016:53) Pada kutipan di atas terdapat kata konotatif berupa kata “kuli tinta”. Kata tersebut memiliki arti seseorang yang bekerja menggunakan tinta sebagai senjatanya untuk

(4)

menyelesaikan setiap tugas pekerjaan. Hal ini berkaitan dengan tokoh Hanum yang bekerja sebagai wartawan, penulis berita dan artikel yang erat bersinggungan dengan tinta, pena, dan tulisan.

(9) “Tapi cengkraman tadi seperti menyuntikkan plasebo padaku agar aku menjawab “ya” tanpa alasan menyangkal lagi”. (Rais dan Rangga, 2016:57)

Bila ditinjau secara harfiah, kata “plasebo” memiliki arti sejenis obat yang diberikan untuk memberi efek perasaan dan harapan positif kepada pasien tertentu.

Lalu, kata “plasebo” pada data (9) bukan berarti tokoh Gertrud memberikan tindakan suntik obat kepada tokoh aku (Hanum), tetapi hanya sebagai afirmasi meyakinkan agar lawan bicaranya mau menerima tugasnya.

(10) “Jalan yang akhirnya mempertemukan aku dan Hanum dalam suatu kebetulan, duduk bersama dalam tubuh si burung besi perkasa dengan tenang melewati badai di bawah sana menuju satu tujuan”. (Rais dan Rangga, 2016:60)

Data (10) memunculkan kata “si burung besi perkasa”. Kata tersebut merujuk pada arti badan pesawat terbang. Tokoh aku (Rangga) dan Hanum duduk bersama naik pesawat terbang menuju Amerika.

(11) “Kuharap Hanum tak menabrak janjinya sendiri”. (Rais dan Rangga, 2016:55)

(12) “Pagi ini adalah pertama kalinya kami merasakan sengat sinar matahari dari sudut bumi yang berbeda”. (Rais dan Rangga, 2016:68)

Dalam kedua kutipan di atas terdapat kata konotatif, yakni pada data (11) berupa kata “menabrak janjinya sendiri” serta pada data (12) berupa kata “sengat sinar matahari”. Pengarang menggunakan kata “menabrak” untuk memperkuat makna dari hal yang dikhawatirkan tokoh, yaitu mengingkari janji. Sedangkan, penggunaan kata

“sengat” yang biasanya dilakukan oleh serangga atau binatang lain untuk bertahan diri dari ancaman, pada data (12) lebih berarti kepada paparan panas sinar matahari yang sangat terasa di kulit.

(13) “Aku dekati Jones dan kupinjam foto Anna darinya, lalu kupandangi Anna lekat-lekat. Ada magma ketidakrelaan menyembul dari dalam hatiku yang terdalam”. (Rais dan Rangga, 2016:97)

Pada data (13) terdapat kata “magma ketidakrelaan”. Hal itu memperlihatkan adanya gelombang kesedihan yang panas dan perih seperti hakikat magma, sesuatu yang masih sangat panas menyembul keluar tentang ketidakrealaan nasib korban tragedi menara kembar New York.

(5)

(14) “Kemudian aku ceritakan semua masalahku, bagaimana aku terpisah dari Rangga dan keluar dari jarum kerusuhan melalui perjalanan yang mendebarkan”. (Rais dan Rangga, 2016 : 123-124)

Pada data (14) terdapat kata konotatif “keluar dari jarum kerusuhan”. Kata “jarum”

merujuk kepada suatu hal yang kecil dan sulit ditemukan dalam tumpukan jerami.

Pengarang mengiaskan tokoh Hanum bisa keluar dari situasi yang sulit dan tidak menyenangkan.

(15) “Tertampar oleh kelakuanku yang menyepelekan perempuan bermata indah ini untuk kedua kalinya”. (Rais dan Rangga, 2016 : 132)

Data di atas menampilkan kata konotatif yang ditandai dengan adanya kata

“tertampar oleh kelakuanku”. Pada kata tersebut tidak bermakna suatu aktivitas yang dilakukan oleh tokoh, melaikan sesorang yang merasa ditegur berujung malu terhadap kelakuannya sendiri karena telah menyepelekan orang lain.

(16) “Patung itu mas ih saja berdiri jumawa. Orang-orang berlalu lalang melewati kami. Ada yang berlari sore, berjalan-jalan sambil mendorong kereta bayi, sekadar memadu kasih dengan pasangan, hingga bekejaran dengan anjing kesayangan”. (Rais dan Rangga, 2016 : 134)

Secara harfiah kata “jumawa” atau “jemawa” memiliki arti angkuh, congkak, suka mencampuri urusan orang lain. Hal ini berbeda dengan makna yang ada pada data (16).

Kata “jumawa” pada konteks tersebut bermakna sosok patung yang berdiri tegap dan gagah saat orang-orang beraktivitas sore di sekitarnya. Pengarang tidak membahas tentang keangkuhan hingga sikap sosok patung tersebut pada kalimat-kalimat selanjutnya.

(17) “Ini tak hanya paru-paru kota, tapi jantung kota yang sebenar-benarnya.

Dibangun dengan peramalan yang tepat akan bertumpuknya jutaan manusia di sebuah kota pada masa mendatang”. (Rais dan Rangga, 2016 : 237)

Data di atas menampilkan bentuk kata konotatif berupa kata “paru-paru kota” dan

“jantung kota”. Kedua bentuk kata konotatif tersebut memiliki makna yang berbeda dari makna kata secara leksikal. Pada data tersebut kata “paru-paru kota” dan “jantung kota” memiliki makn a sebagai pusat kehidupan, sentral pemerintahan kota.

(18) “Mungkin dulu dirinya pernah berikrar untuk tetap menjadi muslimah yang kaffah pada Abe, suaminya. Tapi kini, takdir 11 September seperti menjeratnya ke dalam lubang ketidakpercayaan diri yang dalam”. (Rais dan Rangga, 2016 : 153)

Kata “lubang” biasanya diartikan sebagai suatu cekungan atau kondisi tidak rata

(6)

pada sebuah pemukaan. Dalam kutipan di atas terdapat kata konotasi “lubang ketidakpercayaan diri” memiliki arti jebakan atau perangkap yang menyebabkan seseoarang jatuh terjerumus kepada perasaan tidak percaya diri yang dalam.

(19) “Mungkinkah apa yang dia telurkan dalam kalimat deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat ini, memang terpengaruh Al-Qur’an yang dia baca?”

(Rais dan Rangga, 2016 : 172)

Bentuk kata konotatif pada data (19) adalah kata “apa yang dia telurkan “. Kata

“telurkan” dengan kata dasar “telur” secara literal berarti suatu benda bercangkang yang mengandung zat makhluk hidup saat dirawat oleh induknya. Biasanya dihasilkan dari binatang non mamalia. Pengarang menjadikan artian tersebut menjadi berbeda dengan makna yang ada di data (19). Kata “telur” yang mendapat imbuhan ke-an memiliki makna membuat, menciptakan, mengumumkan ide fundamental bagi suatu negara.

(20) “Ada selapis awan gelap di wajahnya. Tiba-tiba tangisnya pecah.

Kau tahu Hanum, Ayah bilang aku memiliki suara emas”. (Rais dan Rangga, 2016 : 179)

Pada data di atas, data menampilkan kata “selapis awan gelap di wajahnya” serta kata “suara emas” sebagai salah satu contoh kata konotatif. Pengarang memilih menggunakan kata “awan gelap” untuk menggambarkan nuansa kesedihan. Sedangkan, suara emas diartikan suara yang bagus dan enak didengar.

(21) “Semoga Hanum tahu aku tak diperbolehkan menyalakan telepon genggam di ruang ini. Kalau tidak, pastilah dia cemberut dan menekuk-nekuk wajahnya karena sepuluh panggilannya tak kuangkat”. (Rais dan Rangga, 2016 : 205)

(22) “Tiba-tiba darahku mendidih. Tapi aku melihat Azima begitu santai mengamatiku”. (Rais dan Rangga, 2016 : 206)

(23) “Sekali lagi, aku telah salah menilai ketakutanku yang hanya didasarkan pada wajahnya yang “keras”. (Rais dan Rangga, 2016 : 232)

(24) “Aku hanya penumpang gelap yang meminta belas kasihan mereka dalam menerima takdir terpisah dari suami di negeri antah-berantah”. (Rais dan Rangga, 2016 : 253)

Dalam beberapa kutipan di atas terdapat perbedaan antara makna secara harfiah dengan makna pada konteks kalimat. Data (21) makna pada kata “menekuk-nekuk”

secara harfiah berbeda dengan makna konteks kalimat. Kata konotatif “menekuk-nekuk wajah” bukanlah berarti aktifitas melipat tubuh, tetapi sebagai bentuk ekspresi marah, tidak suka terhadap suatu kondisi. Data (22) terdapat kata “darahku mendidih”. Kata

(7)

tersebut tidak bermakna harfiah hasil dari proses perebusan, melainkan ungkapan yang digunakan pengarang untuk mengekspresikan perasaan yang dialami tokoh cerita, yakni sangat marah. Begitu pula pada data (23), kata “keras” bukan berarti menandakan adanya sifat keras secara fisik, tetapi penggambaran secara umum tentang kesan seseorang yang memiliki wajah kurang ramah, tegas, dan mudah marah. Lalu, pada data (24) juga memunculkan kata konotatif berupa kata “penumpang gelap”. Kata tersebut tidak berarti secara harfiah tentang sifat warna gelap. Namun, kata tersebut digunakan pengarang sebagai penanda perasaan minder yang dialami tokoh Hanum karena saat itu sebagai warga asing, ia harus menaiki bus seorang diri dan terpisah dengan suaminya di kota New York.

(25) “Aku termangu dalam atmosfer auditorium Baird yang sunyi senyap, meski ratusan undangan hadir memenuhi setiap kursi yang disediakan.

Semua tertegun. Terpaku tak bergerak”. (Rais dan Rangga, 2016 : 300) Dari data (25) di atas terdapat kata “atmosfer auditorium Baird yang sunyi senyap”

menunjukan penggolongan kata konotatif. Meskipun secara harfiah “atmosfer” berupa lapisan udara yang menyelimuti bumi sampai pada ketinggian 300 km, kata ini juga bisa memiliki makna lain seperti yang ada pada data (26), yaitu suasana kondisi suatu ruang atau tempat.

Selanjutnya data kata konotatif dari novel 99 Cahaya di Langit Eropa, berikut kutipan dan analisisnya.

(26) “Eropa dan Islam. Mereka menjadi pasangan serasi”. (Rais dan Rangga, 2014:4)

Kata “pasangan serasi” pada data tersebut memiliki makna dua hal yang saling melengkapi, terjalin secara bersama-sama dengan cocok, sesuai, dan harmonis. Kata tersebut biasanya ditujukan kepada dua hal yang selaras atau sepadan, misalnya suami istri (manusia), meja kursi (benda), air api (elemen alam) sebagai pasangan serasi yang saling melengkapi dan termasuk jenis yang sama. Sedangkan pada data tersebut Eropa dan Islam dinobatkan sebagai pasangan serasi. Eropa adalah salah satu benua di dunia, lain halnya dengan Islam yang merupakan salah satu agama umat manusia. Berbeda konsep dengan artian pasangan karena berbeda jenis. Kata “pasangan serasi” pada data tersebut termasuk kata konotatif karena tidak memiliki arti yang sebenarnya. Eropa dan Islam disandingkan penulis sebagai pasangan serasi karena kedua hal itu termasuk subyek inti yang dibahas dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa, Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra.

(8)

(27) “Peristiwa apa yang akhirnya membuat Islam tersapu dari Spanyol? Apa yang bisa kita pelajari dari kesalahan-kesalahan masa lalu agar kita tidak terperosok di lubang yang sama?” (Rais dan Rangga, 2014:5)

Pada data tersebut terdapat kata “tersapu” dan “terperosok”. Pada konteks kalimat di atas tidak mengarah dalam artian sebenarnya. Tidak mengarah pada aktifitas sapu, menyapu, dan proses pergerakan “terperosok” di lubang yang sama. Akan tetapi makna tersapu dalam kutipan tersebut yaitu Islam diusir dari bumi Spanyol. Kemudian terperosok ke dalam lubang yang sama dapat diartikan agar kejadian Islam terusir dari Spanyol tidak terulang kembali.

(28) “Malam semakin merayap, dingin pada akhir musim panas yang semakin memuncak”. (Rais dan Rangga, 2014:10)

Kata “merayap” dalam kutipan tersebut bukanlah menunjukkan hewan rayap, akan tetapi menandakan kondisi malam semakin larut.

(29) “Dia berketetapan hati. Sebelum matahari tergelincir, kota berbenteng itu harus digenggam!” (Rais dan Rangga, 2014:16)

Dalam kutipan tersebut terdapat klausa kota berbenteng itu harus digenggam.

Makna yang sebenarnya yaitu kota berbenteng tersebut harus kuasai.

(30) “Aku kaget didaulat sepihak oleh Fatma seperti itu. Latife, Oznur, dan Ezra saling berpandangan, lalu mereka bertiga serempak bertepuk tangan.

Mukaku kembali memerah”. (Rais dan Rangga, 2014: 93)

Kata “memerah” bukan berarti wajahnya berubah jadi merah. Namun, itu termasuk mimik muka saat haru dan tersanjung. Hal tersebut bisa terlihat dari kalimat sebelumnya yang menyatakan tokoh Aku didaulat oleh Fatma dan kawan-kawannya.

Mereka bertepuk tangan untuk merayakannya.

(31) “Entah mengapa hanya kartu nama pemberian Imam Hasim yang berputar- putar di otakku”. (Rais dan Rangga, 2014: 121)

Kata “berputar-putar” pada konteks kalimat tersebut tidak berarti apa adanya. kartu nama yang berputar-putar dalam otak tokoh aku bermakna tokoh aku selalu teringat dengan kartu nama tersebut di hampir setiap saat karena ada kata “berputar-putar”, selalu muncul, selalu Nampak, dan selalu teringat.

(32) “Siapapun pasti tersihir untuk datang ke sini. Kau belum dianggap ke Eropa jika tak menginjakkan kaki di bumi Paris, demikian kata buku-buku traveling”. (Rais dan Rangga, 2014: 127)

Kata “tersihir” tidak memiliki arti orang benar-benar terkena efek sihir. Hal itu seperti sugesti, kepercayaan, dan takjub dengan keindahan kota Paris.

(9)

b. Kata Konkret

Kata konkret dapat diartikan sebagai kata yang memiliki makna asli apa adanya.

Kata konkret membantu pembaca untuk memperjelas penggambaran suatu makna, keadaan, atau kondisi dalam suatu kalimat. Berikut data yang berkaitan dengan kata konkret. Berikut data kata konkret dari novel Bulan Terbelah di Langit Amerika

(33) “Aku hanya bisa menggeleng-geleng sambil berdoa pada Tuhan, agar mereka tidak kembali memulai pagi ini dengan pertengkaran konyol. Aku mengamati gerak-gerik Stefan yang napasnya memburu dan Khan yang senantiasa dingin menghadapi recokan Stefan”. (Rais dan Rangga, 2016 : 31)

Pada data di atas, kata yang digunakan menggambarkan situasi yang sedang dialami tokoh Rangga terhadap sahabat-sahabatnya, Stefan dan Khan. Pembaca diajak bisa ikut merasakan perdebatan dua sahabat melalui citraan pendengaran dan penglihatan dari sudut pandang Rangga.

(34) “Tanpa ragu lagi aku mengeluarkan telepon genggam butut kesayanganku dari tas. Aku menghubungi sebuah nomor. Baru saja suara di seberang muncul sebagian, langsung kusambar”. (Rais dan Rangga, 2016 : 59) Pada kutipan tersebut terdapat kata “tanpa ragu” dan “langsung kusaambar”. Hal ini menunjukan kesigapan tokoh Hanum yang diurai pengarang secara lebih kongkret dan jelas situasi yang terjadi.

(35) “Siapa yang tak akan mengusir tamu yang keduanya memakai jaket berhias jarum-jarum, tindik sebesar kelereng di dahi dan lidah, penuh racau tak keruan dan bunyi-bunyian, dengan mata merah dan menggelandang anjing bertubuh besar?.” (Rais dan Rangga, 2016 : 68)

Pada data tersebut pengarang menggambarkan dua sosok warga Amerika yang ditemui tokoh Hanum di kereta secara detail. Pembaca juga diajak untuk bisa menangkap situasi dalam cerita. Dalam data tersebut juga digambarkan secara jelas alasan kedua sosok tersebut diusir.

(36) “Jalan menuju titik pertemuanku dengan Rangga sudah tertutup dengan pagar manusia berseragam dan bertameng”. (Rais dan Rangga, 2016 : 93) Data di atas pengarang menunjukan situasi yang sedang dialami tokoh Hanum secara jelas melalui pengguanakan kata “sudah tertutup dengan pagar manusia berseragam dan bertameng”. Kata “pagar manusia berseragam dan bertameng” identik dengan aparat kepolisian atau satuan tugas untuk mengamankan demostrasi agar tidak bertindak ricuh dan provokatif.

(10)

(37) “Perempuan itu menyalamiku. Dengan sigap dia membuka plastik yang dia bawa dan mengeluarkan gulungan perban putih. Dia tidak peduli dengan kebengonganku yang begitu jelas”. (Rais dan Rangga, 2016 : 120)

Penggunaan kata “dengan sigap” pada kutipan di atas termasuk kategori kata konkret pada novel Bulan Terbelah di Langit Amerika. Kata tersebut dengan jelas menunjukan sikap cekatan dan tangkas dari sosok perempuan yang menolong Hanum saat mengamankan diri di Masjid New York seorang diri dengan beberapa luka.

(38) “Patung itu berdiri angkuh. Dengan warna krem seperti cokelat susu, dia bertengger tepat di tengah monumen yang melingkar. Tangannya sebelah berkacak pinggang dan tangan lainnya membawa maklumat”. (Rais dan Rangga, 2016 : 131)

Dari data di atas, pengarang memaparkan secara konkret dan apa adanya kondisi patung Christophorus Colombus yang ditemui tokoh Hanum di salah satu bundaran kota New York.

(39) “Azima menatapku. Bulir air mata yang membasahi pipinya kini lengket di kulit pipinya. (Rais dan Rangga, 2016 : 178)

Pada kutipan di atas, pengarang mendeskripsikan suasana sedih yang dialami tokoh Azima dan Hanum secara lebih rinci. Hal tersebut dapat terlihat dengan penggunaan kata “bulir air mata yang membasahi pipinya” yang menunjukan kesedihan, ditambah dengan kata “kini lengket di kulit pipinya” yang menandakan tangis tokoh Azima sudah tercurah cukup lama.

(40) “Tiba-tiba lift berhenti tanpa suara sedikit pun. Tapi pintu tidak membuka.

Semua orang masih santai berbicara satu sama lain. Hanya aku yang pucat pasi. Hanya diriku yang bergetar”. (Rais dan Rangga, 2016 : 217)

Pada data tersebut menampilkan situasi dan perasaan Hanum saat menaiki lift gedung Emipre State Building. Kata “tiba-tiba”, “pucat pasi”, dan “hanya diriku yang bergetar” menunjukan secara jelas ketidaknyamanan yang dialami Hanum.

(41) “Philipus Brown berguling beberapa anak tangga”. (Rais dan Rangga, 2016 : 304)

Kata “berguling” pada kutipan di atas menujukan insiden yang terjadi pada tokoh Philipus Brown saat momen memaksa ingin menggendong tokoh Ibrahim yg sudah tubuh berlumur darah untuk menyelematankan diri dalam tragedi runtuhnya menara kembar WTC 9/11.

Selanjutnya data mengenai kata konkret dari novel 99 Cahaya di Langit Eropa.

Berikut kutipan dan analisisnya.

(11)

(42) “Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, saya merasakan hidup di suatu negara tempat Islam menjadi minoritas. Pengalaman yang makin memperkaya dimensi spiritual”. (Rais dan Rangga, 2014:2)

Kutipan di atas memuat kata “minoritas” dan “dimensi spiritual”. Kata “minoritas”

memiliki arti kelompok orang yang jumlahnya lebih kecil dibanding kelompok lain dalam suatu masyarakat. Lalu, “dimensi spiritual” berkaitan dengan bagian ruang batiniah atau kejiwaan manusia. Kedua kata tersebut merupakan kata konkret yang memiliki makna apa adanya sesuai konteks kalimat yang sebenarnya. Tokoh saya (Hanum) untuk pertama kalinya ikut suami tinggal di benua Eropa guna menemani sang suami menyelesaikan pendidikan. Kesan “minoritas” tentang “dimensi spiritual”

tergambar jelas dirasakan oleh tokoh saya. Dengan kata lain, tokoh saya sebagai seorang muslim merasa kecil, asing, dan berbeda dengan orang-orang yang tinggal di benua Eropa yang kebanyakan dari mereka adalah non muslim.

(43) “Ini yang coba saya refleksikan dalam catatan perjalanan ini. Saya mencoba mengumpulkan kembali sisa kebesaran peradaban Islam yang kini terserak”. (Rais dan Rangga, 2014:6)

Kata “reflesikan” dan “terserak”.

(44) “Ketika bus mulai berjalan, aku merasakan sebuah intusi yang dalam.

Perjalanan ke Kahlenberg ini pasti perjalanan yang memikat. Aku yakin”.

(Rais dan Rangga, 2014:32)

Kata “intuisi” dalam kutipan tersebut menunjukkan tokoh Hanum memiliki kemampuan mengetahui dan memahami tanpa dipikirkan dan dipelajari. Dia merasakan bahwa perjalanan ke Kahlenberg merupakan perjalanan yang menarik dan memikat.

(45) “Dia begitu antusias mengambil gambar di setiap sudut gereja lewat kamera yang kutitipkan padanya”. (Rais dan Rangga, 2014:36)

Dalam kutipan tersebut memuat kata “antusias” yang menunjukkan tokoh dalam novel tersebut bersemangat dan bergairah dalam mengambil gambar atau memfoto setiap sudut bangunan gereja.

(46) “Aku duduk di sebuah bangku taman, memandang semua tingkah laku manusia yang tengah keranjingan eksistensi matahari dan hangatnya”.

(Rais dan Rangga, Rangga, 2014: 112)

Pada data di atas terdapat kata konkret berupa kata “keranjingan”. Kata tersebut memiliki arti tergila-gila terhadap sesuatu. Hal tersebut selaras dengan konteks kalimat pada data tersebut, orang-orang dikatakan sedang kegirangan tergila gila dengan hangatnya matahari dan mereka berjemur.

(47) “Aku mengambil jurusan Sejarah. Lebih spesifik lagi Studi Islam Abad

(12)

Pertengahan,” kata Marion sambil menghidupkan mesin mobil. Aku dan Rangga langsung mendeduksi mengapa Marion akhirnya memilih untuk memeluk Islam”. (Rais, Rangga, 2014: 134)

Pada kutipan di atas terdapat kata “mendeduksi” yang menunjukkan tokoh Hanum dan Rangga dapat menarik kesimpulan mengapa tokoh Marion memilih memeluk agama Islam setelah tokoh Marion bercerita dirinya pernah mengambil jurusan studi Islam abad pertengahan.

c. Kata serapan

Bangsa Indonesia sebagai bangsa multikultural serta multibahasa menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang tidak kaku dalam bertutur, bahasa baik secara lisan maupun tulis. Seringkali, muncul kata asing dari daerah lain terangkai bersama penggunaan Bahasa Indonesia. Namun, hal itu sudah banyak dimaklumi dan dipahami banyak masyarakat, menjadi kata serapan. Kata serapan bermaksud untuk menguatkan tujuan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika memunculkan penggunakan kata-kata serapan sebagai berikut.

(48) “Spesial, terutama dari ukuran volume, agar cukup dikonsumsi hingga pagi dan siang hari berikutnya”. (Rais dan Rangga, 2016 : 20)

Kata “spesial” dan “volume” pada data di atas termasuk kata serapan yang terdapat pada novel Bulan Terbelah di Langit Amerika karya Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra. Kedua kata tersebut berasal dari Bahasa Inggis. Kata “special” berarti pengkhususan dan “volume” yang berarti takaran. Dua kata tersebut digunakan untuk menjelaskan perlakuan berbeda dari tokoh Hanum terhadap masakannya.

(49) “Sejenak aku bertanya dalam diri, mengapa Fatma Pasha dulu mencarikan selebaran lowongan reporter itu kepadaku”. (Rais dan Rangga, 2016 : 26) Pada data di atas terdapat kata “reporter” yang berarti wartawan, jurnalis, atau pelapor berita. Kata tersebut berasal dari Bahasa Inggris berupa kata “reporter”. Kata tersebut kemudian diserap dalam Bahasa Indonesia dan termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata “reporter” sering digunakan dalam percakapan Bahasa Indonesia dan dianggap sebagai bahasa sehari-hari masyarakat Indonesia. Begitu juga dengan yang digunakan pengarang dalam kutipan di atas. Kata “reporter” pada data di atas menandakan gambaran tugas yang lebih jelas dan kuat tentang hal yang akan dilakukan tokoh aku (Hanum) pada lowongan pekerjaan yang ia dapatkan.

(50) “Aku tak bisa membayangkan bagaimana nenek pembuat makanan rumahan bernama tiwul goreng di daerah Gunung Kidul Yogya menggapai

(13)

label “halal” yang terlalu prestisius itu?” (Rais dan Rangga, 2016 : 30) Data di atas terdapat bentuk kata serapan dari Bahasa Arab, berupa kata “halal”.

Dari sumber bahasanya, kata “ḥalāl” memiliki makna sah, diperbolehkan dalam segala hal yang dikonsumsi atau kegiatan yang dilakukan dalam agama Islam. Kata tersebut sangat lumrah digunakan untuk memberi label atau jawaban dari pertanyaan sebuah makanan/minuman aman atau tidak juka dikonsumsi oleh orang muslim. Penggunaan kata “halal” pada data di atas menjelaskan nilai yang didapatkan pada makanan tiwul yang boleh dimakan oleh orang muslim.

(51) “Itu yang akan membuat sedikit demi sedikit orang lokal mengubah pikiran mereka tentang Islam yang tak lelah digerus sentimen negatif media Barat”. (Rais dan Rangga, 2016 : 37)

Dari kutipan di atas memuat kata “sentimen” dan “negatif” yang merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris. Kedua kata tersebut memiliki makna dan arti yang sama pada makna Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggrisnya. Kata negative atau “negatif”

bermakna sesuatu yang berlawanan dengan hal positif, sedangkan kata sentiment atau

“sentimen” berkaitan dengan perasaan, pendirian, atau kepekaan seseorang. Dari kutipan data (38) membuktikan penggunaan kata “sentimen” dan kata “negatif” dipakai tokoh Hanum yang berasal dari Indonesia dalam menggambarkan situasi pandangan tentang Islam di dunia barat kala itu.

(52) “Itu adalah seremoni kami untuk merayakan pencapaian satu pekan yang kami lalui dengan susah payah”. (Rais, 2016 : 53)

Pada data tersebut terdapat kata “seremoni” yang termasuk dalam kata serapan.

Kata tersebut berasal dari bahasa Inggris, ceremony yang berarti upacara. Dalam penggunaan Bahasa Indonesia, sudah diserap menjadi seremoni yang memiliki makna sama. Pemanfaatan kata “seremoni” digunakan untuk memberi istilah penguatan pada kegiatan yang rutin dilakukan oleh tokoh Rangga dan Hanum saat akhir pekan.

Kegiatan tersebut dijadikan sebagai kegiatan wajib untuk mengistirahatkan jiwa, raga, dan pikiran mereka dari tututan aktivitas pada hari-hari kerja.

(53) “Rangga begitu sibuk dengan riset dan kualifikasi doktoralnya, sementara aku berkecimpung dalam dunia media yang mengharuskanku memberi kabar baik terus”. (Rais dan Rangga, 2016 : 64)

Kata serapan yang terdapat pada data di atas adalah kata “kualifikasi” dan kata

“doktoral”. Kedua kata tersebut berasal dari Bahasa Inggris, yakni dari kata qualification yang bermakna kemampuan atau keahlian dan kata doctoral berkaitan

(14)

dengan seseorang yang menempuh pendidikan doktor. Kualifitasi bermakna kemampuan, keahlian, atau kecakapan yang harus dilakukan seseorang untuk menduduki posisi atau jabatan tertentu. Sedangkan, doktoral (doktor) adalah proses yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan gelar kesarjanaan tertinggi yang diberikan oleh perguruan tinggi kepada mahasiswa strata tiga (S-3). Penggunaan kata

“kualifikasi” dan kata “doktoral” pada data tersebut menjadi penjelas tentang hal yang sedang ditempuh tokoh Rangga saat di Wina, salah satu kota di benua Eropa.

(54) “Aku adalah manusia yang sensitif dengan turbulensi”. (Rais dan Rangga, 2016 : 66)

Kata “sensitif” pada kutipan di atas termasuk dalam kata serapan. Kata tersebut berasal dari Bahasa Inggris berupa kata sensitive yang bermakna tentang kepekaan seseorang terhadap suatu objek. Kata “sensitive” tergolong dalam rumpun kata sifat yang mempunyai arti mudah membangkitkan emosi, kepekaan, kepanikan, serta perasaan tidak tenang. Kata tersebut pada kutipan data tersebut digunakan pengarang untuk memperjelas hal yang dirasakan dalam diri tokoh aku (Hanum) saat terjadi turbulensi di pesawat.

(55) “Langkah yang berpadu dengan gadget seluler, mini komputer tablet, dan cangkir Starbucks Coffe di tangan”. (Rais dan Rangga, 2016 : 69)

Gadget, seluler, komputer, tablet. ; gadget, cellular, computer, tablet Pada data di atas dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika memuat beberapa kata serapan. Diantaranya ada kata “gadget”, “seluler”, “komputer”, dan “tablet”. Kata- kata serapan tersebut berasal dari Bahasa Inggris, yaitu dari kata gadget, cellular, computer, tablet. Beberapa kata tersebut tergolong kata benda elektronik.

(56) “Bagiku, bertemu dengan sesama muslim, dari negeri yang berbeda dengan cara tak terpikirkan oleh skenario perjalananku, adalah koneksi yang memang sudah dirajut Tuhan sejak awal”. (Rais dan Rangga, 2016 : 202) Koneksi, skenario : connection, scenario

Penggunaan kata serapan pada kutipan di atas berupa kata ”koneksi” dan kata

“skenario”. Kedua kata serapan tersebut berasal dari Bahasa Inggris, connection dan scenario. Koneksi

(57) “Ratusan meja bundar tersebar di seluruh auditorium membentuk setengah lingkaran, berpusat di panggung utama”. (Rais dan Rangga, 2016 : 203) Pada data (44) menujukan contoh penggunaan kata serapan, yakni kata

“auditorium”. Kata “auditorium” berasal dari Bahasa Inggris.

(15)

Selanjutnya data mengenai kata konkret dari novel 99 Cahaya di Langit Eropa.

Berikut kutipan dan analisisnya.

(58) “Di tengah retorika teriakan jihad untuk memerangi negera-negara barat, kita dihadapakan pada suatu realitas: tidak ada satu pun negara Islam yang memiliki kemampuan teknologi untuk melindungi dirinya saat ini”. (Rais dan Rangga, 2014:5)

Terdapat kata “retorika” dan “jihad” pada data di atas. Kedua kata tersebut termasuk kata serapan yang berasal dari bahasa asing. Kata “retorika” berasal dari bahasa Inggris, yakni rhetoric, keduanya sama-sama memiliki arti keterampilan berbahasa atau kepandaian berbicara. Sedangkan, kata “jihad” adalah kata serapan dari bahasa Arab, داهجلا (aljihad) yang bermakna upaya sungguh-sungguh membela agama dengan mengorbankan harta benda, jiwa, hingga raga.

(59) “Vienna, Paris, Madrid, Cordoba, Granada, dan Istambul masuk dalam manifes perjalanan saya selama menjelajahi Eropa”. (Rais dan Rangga, 2014:8)

Dalam kutipan di atas terdapat kata “manifes” yang merupakan kata serapan dari bahasa asing.

(60) “Bukankah dalam Al-Qur’an juga disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar manusia bisa saling mengenal, berta’aruf, saling belajar dari bangsa-bangsa lain untuk menaikan derajat kemuliaan di sisi Allah?” (Rais dan Rangga, 2014:7) (61) “Lalu, bagaimana kondisi kavaleri kita hingga saat in?” (Rais dan Rangga,

2014:12)

Dalam kutipan tersebut terdapat kata serapan yaitu “taaruf” dan “kavaleri”, dimana kedua kata tersebut berasal dari bahasa Arab dan bahasa Prancis. Kata taaruf yang dapat diartikan perkenalan dan kavaleri adalah pasukan kuda sudah diserap dalam kosa kata bahasa Indonesia dan sudah terdaftar di kamus besar bahasa Indonesia (KBBI).

(62) “Jika sampai ada yang akan melarikan diri, tangkap dan kita interogasi mereka!” perintah laki-laki tua itu lantang. (Rais dan Rangga, 2014:12) (63) “Kalau begitu, simpan energi kita. Sebelum siang kita gempur lawan!

Jangan mulai serangan kecuali ada serangan dari dalam benteng.” (Rais dan Rangga, 2014:12)

Pada dua kutipan di atas terdapat kata serapan “interogasi” dan kata “energi”

masing-masing dari bahasa Inggris dan Yunani. Kata interogasi yang dapat diartikan pertanyaan dan kata energy yang berarti kemampuan untuk melakukan kerja sudah di serap dalam bahasa Indonesia dan sudah terdaftar di kamus besar bahasa Indonesia (KBBI).

(16)

(64) “Laki-laki tua itu membuka lipatan peta strategi pertempuran tadi malam”.

(Rais dan Rangga, 2014:15)

(65) “Aku datang menyusul 4 bulan setelah suamiku menyelesaaikan semua administrasi untuk bisa mengundangku”. (Rais dan Rangga, 2014:20) (66) “Penghangat di bawah jok bus yang aku tumpangi tak kuasa menantang

udara dingin kala itu”. (Rais dan Rangga, 2014:22)

(67) “Itulah Fatma, potret seorang imigran Turki di Austria”. (Rais dan Rangga, 2014:23)

Dalam empat kutipan di atas terdapat kata serapan strategi, administrasi, bus, dan potret. Keempat kata tersebut berasal dari bahasa yang berbeda-beda, kata strategi berasal dari bahasa Yunani dari kata strategos yang berarti suatu usaha untuk mencapai kemenangan, kemudian kata administrasi berasal dari bahasa Belanda ad dan ministrare yang berarti melayani secara intensif. Kata serapan yang ketiga yaitu bus yang berasal dari bahasa Prancis yaitu voiture omnibus yang berarti kendaraan untuk semua. Kata potret berasal dari bahasa Inggris yaitu portrait yang berarti lukisan, foto, dan gambar.

Keempat kata tersebut sudah diserap dalam bahasa Indonesia dan terdaftar di kamus besar bahasa Indonesia.

(68) Karena sehelai kain penutup tempurug kepala yang tampak dalam pas foto curriculum vitae-nya, dia tertolak untuk bekerja secara profesional. (Rais dan Rangga, 2014:23)

(69) “Kami bercakap-cakap lama dalam bus. Sesekali Fatma mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menunjukkan padaku panorama di luar jendela”. (Rais dan Rangga, 2014:23)

(70) “Bagiku kalimat: “Hai, namaku Hanum. Namamu siapa? Senang berkenalan denganmu” terdengar sangat membosankan. Kurang memberi impresi terhadap calon kawan. (Rais dan Rangga, 2014:28)

Dalam ketiga kutipan di atas terdapat kata serapan profesional, panorama, dan impresi. Ketiga kata tersebut berasal dari kata asing yang diserap dalam bahasa Indonesia. Masing-masing kata memiliki arti sendiri, profesional dapat diartikan memiliki keahlian khusus, kemudian panorama berarti pemandangan yang bebas dan luas, dan impresi yang berarti kesan atau efek pengaruh yang dalam terhadap pikiran atau perasaan.

(71) “Selain sebuah kafetaria, gereja itu menjadi satu-satunya alternatif tempat berlindung dari hawa dingin yang menusuk”. (Rais dan Rangga, 2014:32) (72) “Dan bisa kulihat semuanya sangat indah karena detail yang rumit di

setiap reliefnya”. (Rais dan Rangga, 2014:37)

Dalam kedua kutipan di atas terdapat kata serapan kafetarian dan detail. Untuk kata kafetaria berasal dari bahasa Prancis yang berarti restoran yang menyediakan berbagai

(17)

jenis masakan. Kemudian kata detail di serap dari bahasa Inggris yang berarti bagian kecil-kecil atau yang sangat terperinci. Kedua kata tersebut sudah di serap dalam bahasa Indonesia dan terdaftar di kamus besar bahasa Indonesia.

d. Kata asing

Kata asing yang digunakan dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika lebih merujuk ke sosial budaya orang Amerika dan tragedi WTC, 11 September 2001. Data yang terdapat kata asing adalah sebagai berikut.

(73) “Hingga dua pesawat pembajak menghujamkan diri, melumat gedung megastructure itu menjadi remah-remah”. (Rais dan Rangga, 2016 : 62) Pada data tersebut dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika di atas memuat kata asing “megastructure”. Kata tersebut berasal dari bahasa Inggris, yang terdiri dari

“mega-” bermakna besar dan “structure” yang bermakna bentuk bangunan. Jadi,

“Megastructure” pada kutipan di atas bermakna bangungan besar yang terhujam pesawat hingga berakhir roboh.

(74) “Kegemarannya berlayar dengan yacht pribadi tak boleh diabaikan hanya karena proyek riset, paper, dan mengajar”. (Rais dan Rangga, 2016 : 55) Pada kutipan di atas memunculkan kata asing yang sering digunakan pengarang dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika. Kata paper dipakai untuk bahasa sehari-hari yang merujuk ke arti yang dianggap sudah diketahui banyak orang yakni salah satu jenis tugas kuliah. Hal tersebut juga digunakan pengarang saat menceritakan tugas tokoh Rangga di luar kegemaran berlayar.

(75) “Memarkir mobil di basement sebual mal di Jakarta dan lupa di mana letaknya adalah malapetaka yang melelahkan untuk dikenang”. (Rais dan Rangga, 2016 : 61)

Kata basement pada data di atas termasuk kata asing yang cukup sering digunakan dalam bahasa sehari-hari. Kata tersebut berasal dari Bahasa Inggris yang memiliki arti ruang bawah tanah. Ruang tersebut merupakan bagian dari rumah atau gedung yang terletak di bawah pemukaan tanah. Biasanya digunakan untuk mengoptimalkan lahan yang terbatas atau menggunakannya sebagai tempat penyimpanan hingga tempat parkir. Penggunaan kata basement pada data tersebut menjelaskan ruang bawah tanah sebagai tempat parkir mobil untuk mal atau pusat belanja di Jakarta.

(76) “Mereka berbicara sendiri-sendiri melalui fasilitas koneksi bluetooth di telepon gengam, tak memedulikan orang-orang lain yang menyenggol, menyerempet, atau semoat menabrak”. (Rais dan Rangga, 2016:76)

(18)

Kata asing yang terdapat pada kutipan di atas berupa kata “bluethooth”. Kata tersebut adalah bentuk dari perangkat digital yang dapat memancarkan signal khusus tanpa kabel untuk menyambungkan data digital antar perangkat elektronik. Kata bluethooth pada kutipan tersebut digunakan untuk menggambarkan alat yang digunakan warga New York saat berbicara di jalanan kota. Mereka menyibukan diri tanpa menghiraukan orang-orang disekitar mereka.

(77) “Tapi jelas-jelas kali ini Hanum berintonasi tinggi bukan karena dirinya kesal aku tak paham susahnya mewawancarai polisi on the spot, tapi dia mulai merasakan kekacauan yang ditumbulkannya sendiri dan tak bisa diatasi”. (Rais dan Rangga, 2016 : 69)

Dari data di atas menampilkan kata on the spot yang termasuk dalam kata asing.

Kata tersebut berasal dari Bahasa Inggris yang berarti berada di suatu tempat. Kata on the spot biasanya digunakan untuk memaknai aktivitas yang dilakukan secara langsung di suatu tempat saat itu juga. Dalam konteks pada data merujuk pada makna serta merta, aktivitas wawancara yang akan dilakukan Hanum dengan target yang harus didapatkan secara langsung saat itu juga, tanpa rencana atau kerjasama dengan narasumber sebelumnya.

(78) “Mungkin saja kan polisi di sini lebih friendly. Lebih senang berbicara dengan orang asing daripada medianya sendiri”. (Rais dan Rangga, 2016 : 70)

Kata yang termasuk dalam kata asing pada data tersebut adalah kata friendly. Kata tersebut berasal dari Bahasa Inggris dan memiliki makna ramah bersahabat.

Pemanfaatan kata friendly pada data di atas adalah tentang tebakan tokoh Rangga yang mengira polisi New York lebih ramah dan terbuka saat diwawancara orang asing.

(79) “Aku butuh waktu rileks dan refreshing denganmu”. (Rais dan Rangga, 2016 : 81)

Kata refreshing merupakan bentuk kata adjektiva berimbuhan dari kata refresh.

Kata tersebut termasuk kata asing yang berasal dari Bahasa Inggris. Refresh atau refreshing bermakna suatu hal yang menyegarkan dan baru. Penggunaan kata tersebut pada data tersebut berarti suatu kegiatan yang diinginkan Rangga saat mendapat kesempatan berkunjung ke New York bersama istrinya, Hanum.

(80) “Turtle neck-nya terlalu tinggi hingga menyentuh ujung bawah kedua daun telinganya”. (Rais dan Rangga, 2016 : 84)

Data di atas memunculkan kata asing dari Bahasa Inggris di awal kalimat. Kata asing tersebut berupa kata tutle neck. Kata turtle neck adalah sebutan untuk jenis baju

(19)

yang biasanya terbuat dari bahan rajut atau woll. Jenis baju tersebut memiliki ciri khas kerah panjang yang dapat menutupi seluruh leher sampai menyentuh telinga serta dapat dilipat setinggi janggut. Sebutan baju model Turtle neck berasal dari daratan Eropa, lalu berkembang di seluruh penjuru dunia dan menjadi model baju yang memiliki kesan karismatik dalam dunia fashion dunia. Penggunaan kata turtle neck pada data (52) juga sebagai sebutan model baju yang digunakan perempuan penjaga Museum Memorial 9/11 Kota New York, Amerika Serikat.

(81) “Aku kagum padanya. Betapa brotherhood dalam Islam bisa mempersatukan orang-orang ini dalam perjuangan hidup”. (Rais dan Rangga, 2016 : 102)

Kata brotherhood pada kutipan data tersebut memiliki arti persaudaraan. Kata tersebut termasuk kata asing yang berasal dari Bahasa Inggris. Kata brotherhood pada data tersebut digunakan dari sikap ramah, terbuka, dan berbagi sebagai bentuk sikap persaudaraan yang dilakukan oleh penjual makanan asal Timur Tengah yang ditemui Rangga saat menunggu Hanum menunaikan tugas kerja. Rangga merasa ada rasa persaudaraan antar sesama muslim dari penjual makanan itu, meski mereka baru pertama kali bertemu di negeri asing.

(82) “Lalu MC memohon semua peserta untuk mematikan telepon genggam atau setidaknya mengubahnya ke mode silent”. (Rais dan Rangga, 2016 : 204)

Pada data di atas terdapat kata asing dari Bahasa Inggris berupa kata silent. Kata tersebut memiliki arti diam atau hening. Pada data tersebut kata silent digunakan sebagai mode telepon agar berada di kondisi tenang, tidak bersuara atau bising saat ada notifikasi pesan atau panggilan masuk.

(83) “Ya, semua ingin tahu seperti apa Phillipus Brown sang dermawan dunia yang membagikan pundi-pundi keuntungan perusahaan modal ventura The Lake Corporation yang membawahi 1.000 anak perusahaan startup yang tersebar di berbagai negara”. (Rais dan Rangga, 2016 : 212)

Pada kutipan di atas memunculkan kata startup sebagai kata asing dari Bahasa Inggris. Kata startup berarti memulai, merintis. Kata tersebut cukup sering digunakan oleh kalangan pembisnis hingga masyarakat pada umumnya. Kata startup sering dikaitkan dengan perusahaan rintisan. Pemanfaatan kata tersebut pada kutipan data tersebut digunakan sebagai sebutan dari suatu perusahaan yang sedang merintis bisnisnya. Perusahaan startup yang dimaksud pada konteks data di atas adalah perusahaan baru yang sedang berkembang.

(20)

(84) “Aku bertepuk tangan paling keras dan pertama kali berdiri untuknya. Lalu seluruh hall bergemuruh tak henti-hentinya dengan applause”. (Rais, Rangga, 2016 : 214)

Data tersebut terdapat dua contoh kata asing dari Bahasa Inggris yang digunakan dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika. Dua kata asing tersebut adalah kata hall dan kata applause. Kata hall memiliki arti aula atau auditorium pertemuan.

Sedangkan, kata applause berarti tepuk tangan. Pemanfaatan dua kata asing tersebut digunakan pengarang untuk memperjelas suasana yang terjadi dalam cerita.

Selanjutnya data mengenai kata asing dari novel 99 Cahaya di Langit Eropa.

Berikut kutipan dan ulasannya.

(85) “Sudah terlalu banyak buku travelling sebelumnya, terutama tentang eropa dan segala keindahannya yang hadir”. (Rais dan Rangga, 2014:6)

(86) “Karena sehelai kain penutup tempurug kepala yang tampak dalam pas foto curriculum vitae-nya, dia tertolak untuk bekerja secara professional”. (Rais dan Rangga, 2014:23)

(87) “Hanya dengan 1,8 Euro atau sekitar 22 ribu rupiah sesuai plot jadwal yang aku baca di halte, kami akan menempuh perjalanan dalam waktu 1 jam hingga mencapai titik tertinggi Wina dengan 20 halte bus di antaranya”. (Rais dan Rangga, 2014:29-30)

(88) “Ayse yang terus berada dalam pelukanku sesekali kubiarkan mencoba memencet-mencet tombol capture”. (Rais dan Rangga, 2014:32)

Kata “travelling”, “curriculum vitae”, “plot”, dan “capture” merupakan kata asing dari bahasa Inggris. Kata kata tersebut sering digunakan dalam bahasa Indonesia, akan tetapi belum di serap ke dalam bahasa Indonesia sehingga kata-kata tersebut masih menjadi kata asing

(89) “Hari itu aku menikmati cantiknya kota Wina dari balik jendela kafe sembari menunggu sepotong roti croissant serta secangkir cappuccino yang kupesan”. (Rais dan Rangga, 2014:37)

Kata “croissant” dan “cappuccino” merupakan kata dari bahasa asing. Kedua kata tersebut belum diserap dalam kamus besar bahasa Indonesia, akan tetapi kata-kata tersebut sering diucapkan karena merupakan suatu makanan dan minuman.

(90) “Pikiranku tiba-tiba menerawang jauh ke pelajaran tarikh Islam dari guru agamaku di SMA Muhammadiyah di Yogya dulu, Muhammad Djam’an”.

(Rais dan Rangga, 2014:44)

Kata “tarikh”, istilah asing dari bahas Arab yang berarti sejarah. Meski tidak terdaftar dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata ini sering digunakan dalam masyarakat Indonesia muslim, hingga digunakan sebagai salah satu nama mata pelajaran sekolah.

(21)

(91) “Daging babi sudah pasti absen karena tidak lulus ujian “halal food” yang ditulis besar-besar di dinding warung” (Rais dan Rangga, 2014: 57) Kata “halal food” sering digunakan dalam komunikasi patokan makanan yang boleh dimakan oleh masyarakat muslim atau tidak. Kata ini berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti makanan halal, atau makanan yang memiliki hukum halal, boleh dimakan oleh umat muslim.

(92) “Tanyaku sambil menghidupkan mode speaker agar Rangga mendengarkan pembicaraan kami”. (Rais dan, Rangga, 2014: 128)

(93) “By the way, berapa baiaya asuransi kesehatan yang harus kau bayar setiap bulan?” (Rais dan Rangga, 2014: 215)

(94) “Sebuah city center yang berbeda dengan city center lain di kota-kota besar Eropa”. (Rais dan Rangga, 2014: 237)

(95) “Tiket Al-Hambra yang selalu sold out direservasi masih tersisa beberapa lembar”. (Rais dan Rangga, 2014: 295)

(96) “Tak sengaja kami menguping penjelasan tour guide rombongan Malaysia tadi”. (Rais dan Rangga, 2014: 296)

Dalam beberapa kutipan di atas terdapat kata asing diantaranya “speaker”, “by the way”, “city center”, “sold out”, dan “tour guide”. Kata-kata tersebut sering terdengar dan diucapkan dalam bahasa Indonesia, akan tetapi kata-kata tersebut tidak terserap sehingga tidak terdaftar dalam kamus besar bahasa Indonesia. Akan tetapi meskipun tidak terdaftar dalam KBBI namun masyarakat Indonesia sudah mengenal kata-kata tersebut dan paham akan arti beserta maknanya.

2. Bentuk Gaya Bahasa

Penggunaan gaya bahasa pada novel 99 Cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika dilakukan oleh pengarang untuk menjadi daya tarik sehingga cerita mengalun dengan nyaman dan berkesan bagi pembaca. Terdapat beberapa jenis gaya bahasa yang termuat pada novel ini, diantaranya gaya bahasa simile, sinekdok, antithesis, metafora, hiperbola, dan personifikasi. Berikut kutipan yang menampilkan gaya bahasa pada novel ini.

a. Simile

Simile merupakan salah satu jenis gaya bahasa yang mengungkapkan suatu hal secara tidak langsung dengan perbandingan eksplisit. Gaya bahasa simile dinyatakan dengan kata depan dan kata penghubung; seperti, umpama, layaknya, serupa, laksana, seolah, bagaikan, dan lain sebagainya. Berikut data mengenai gaya bahasa simile dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika.

(22)

(1) “Aku hampir terdesak menyeruput teh panasku. Mawar yang sudah kusiapkan seolah ikut layu tatkala mendengar kata-kata Hanum”. (Rais dan Rangga, 2016 : 58)

Pada data (1) memuat majas simile. Hal ini ditandai dengan adanya kata “seolah”.

Kata tersebut menghubungkan antara dua hal yang berbeda. Kondisi bunga mawar yang layu biasanya disebabkan oleh masa petik yang sudah lama atau berkurangnya kadar air dalam tangkai bunga. Namun, pada konteks data (1), pengarang menghubungkan layunya tumbuhan dengan ucapan perkataan tokoh Hanum.

(2) “Setidaknya, aku melihat semua jalan takdir ini seperti aliran-aliran sungai yang suatu saat nanti pasti akan bertemu di satu titik”. (Rais dan Rangga, 2016 : 60)

Kutipan di atas menampilkan kata hubung “seperti”. Kata tersebut termasuk ciri adanya gaya bahasa simile. Penggunaan kata jalan takdir yang bersifat abstrak (tidak dapat dilihat secara jelas) disandingkan dengan aliran sungai yang bersifat konkret (dapat dilihat bentuk dan strukturnya oleh pancaindra). Jalan takdir yang dialami tokoh aku (Hanum) disamakan dengan aliran sungai berkelok-kelok yang memiliki ujung tujuan akhir. Jalan takdir tokoh aku (Hanum) pun akan memiliki akhir yang sama. Ia akan menampilkan tujuan akhir dari sekian banyak kejadian dan perjalanan yang dialami Hanum.

(3) “Tubuh-tubuh pria besar peserta demo itu sekarang seperti gelombang pasang yang siap menghempas”. (Rais dan Rangga, 2016 : 104)

Data (3) mengandung gaya bahasa simile. Hal ini dapat terlihat dari penggunaan kata “seperti gelombang pasang yang siap menghempas.” Kata “gelombang pasang”

disandingkan dengan tubuh-tubuh pria berbadan besar yang ikut demo.

(4) “Kubopong ransel dan koper seperti orang yang benar-benar baru ditendang dari rumah yang menunggak bayaran”. (Rais dan Rangga, 2016 : 106)

Pada kutipan data di atas memunculkan gaya bahasa simile. Gaya bahasa ini terlihat pada kata “kubopong ransel dan koper” yang disamakan seperti orang yang baru diusir dari rumah kontrakan karena telat membayar uang sewa bulanan. Padahal, konteks cerita pada novel ini di halaman 106, Rangga membawa tas dan koper di jalanan kota New York karena sedang menunggu Hanum, istrinya yang sedang menjalankan tugas kerja. Dengan rencana, seusai tugas wawancara itu, mereka akan pindah ke kota Washington DC dan kemudian kembali pulang ke Wina, Austria.

(5) “Anak sebaya umur itu tahu benar bagaimana rasanya kehilangan ayah dan

(23)

ibu sejak lahir. Seperti kehilangan seluruh anggota badan”. (Rais dan Rangga, 2016 : 299)

Gaya bahasa simile terdapat pada kutipan di atas. Hal ini dapat terlihat dengan adanya kalimat “seperti kehilangan seluruh anggota badan”. Pada hakikatnya kehilangan seluruh anggota badan termasuk kehilangan yang tak terkira. Hal tersebut disandingkan dengan sosok anak perempuan yatim piatu yang sudah terlatih tabah dan kuat menjalani hidup tanpa kedua orang tua sejak kecil.

(6) “Ibrahim melototi Philipus dan mengibas tangan seperti dia menghalau seekor binatang agar tak mendekatinya”. (Rais dan Rangga, 2016 : 304) Dari data (6) menampilkan contoh gaya bahasa simile. Gaya bahasa tersebut didapat dari klausa “seperti dia menghalau seekor binatang”. Klausa tersebut memuat kata “seperti” yang menjadi kata hubung pembanding klausa sebelumnya. Data diatas pengarang menggambarkan tokoh Philipus yang hendak menolong dan membopong Ibrahim dihalau seperti binatang yang hendak mendekat.

(7) “Hidup mereka adalah perjalanan perjuangan untukku seorang. Ketika aku memantapkan diri menjadi muslim, hati mereka laksana intan yang hancur”. (Rais dan Rangga, 2016: 155)

Pada kutipan data (7) memunculkan kata “laksana”. Kata tersebut menjadi salah satu indikasi adanya gaya bahasa simile. Pada kutipan di atas, hati orang tua yang terkejut mengetahui kenyataan anaknya berpindah agama disandingkan dengan batu intan berharga yang ikut hancur. Pengarang ingin menampilkan perasaan yang dialami kedua orang tua Azima, sekaligus menampilkan alasan mereka tidak menyukai islam.

(8) “Suara-suara berdentum seperti bom kembali terdengar dari atas. Bisa dibayangkan sebuah pesawat pembawa amunisi bahan bakar penuh berbenturan dengan bangunan baja dengan irisan melintang. Seperti kue yang diiris membelah. Seperti pohon hutan yang ditebang dengan mesin.

(Rais, 2016 : 283)

Kata “seperti” kembali ditemukan pada data (8). Kata tersebut menghubungkan kejadian penabrakan pesawat pada gedung WTC disandingkan dengan jenis makanan kue yang diiris membelah. Meskipun penggambaran yang dilakukan pengarang selaras antar dua kejadian itu, data tersebut termasuk membandingkan dua hal yang berbeda secara eksplisit. Oleh karena itu, pada data (8) memuat gaya bahasa simile.

Selanjutnya data mengenai gaya bahasa simile dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa. Berikut kutipan dan analisisnya.

(9) “Lukisan itu lama-lama memiliki batin yang dalam. Seakan-akan mata Mustafa menyaksikan langsung seorang cicit keturunannya yang terisak-

(24)

isak di depan hidungnya tanpa dia bisa berbuat apa-apa. (Rais dan Rangga, 2014:80)

Kata seakan-akan dalam kutipan tersebut menunjukkan adanya gaya bahasa simile, hal tersebut dikarenakan mata Mustafa yang hanya dalam bentuk lukisan mampu menyaksikan cicit keturunannya menangis terisak-isak di depannya.

(10) “Karena Turki adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim juga.

Turki seakan-akan mewakili kebesaran Islam di arena kompetisi bola nomor dua paling bergensi itu. (Rais, Rangga, 2014: 100)

Data tersebut terdapat gaya bahasa simile. Hal tersebut karena Turki sebagai negara mandiri muslim dianggap sebagai perwakilan orang muslim di seluruh dunia, perwakilan kebesaran Islam pada kompetisi bergengsi dunia.

(11) “Sejurus kemudian aku menemukan diriku terguncang-guncang saat roda pesawat menyentuh bui dengan serampangan. Seperti jatuh terjerembap”.

(Rais dan Rangga, 2014: 125)

Kutipan data tersebut menampilkan penggunaan gaya bahasa simile. Hal tersebut dapat terlihat dengan adanya kalimat “Seperti jatuh terjerembap”. Dalam konteks kutipan tersebut tidak memiliki arti “jatuh terjerembab” dengan sebenarnya. Hal itu hanya perbandingan kondisi yang mirip dengan situasi yang dialami tokoh Aku ketika diguncang dalam pesawat saat hendak turun menyentuh tanah.

(12) “Welcome to Paris, Hanum. Paris, la Ville-Lumiere, The City of Lights,”

ujar Rangga layaknya seorang pramuga pesawat”. (Rais dan Rangga, 2014:

127)

(13) “Orang-orang keluar rumah dan menengadahkan wajah menghadap matahari. Seperti kucing yang manja saat dielus-elus lehernya”. (Rais dan Rangga, 2014: 144)

Pada kedua kutipan di atas, terdapat kata layaknya dan seperti yang menandakan kedua kutipan tersebut termasuk gaya bahasa simile. Pada kutipan pertama, kata layaknya digunakan untuk menggambarkan tokoh Rangga menjadi seorang pramugara pesawat. Kemudian pada kutipan kedua, kata seperti digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang keluar rumah dan menengadahkan wajahnya menghadap matahari diibaratkan kucing manja yang dielus-elus lehernya.

(14) “Meski Gomez sangat irit bicara, wajahnya berseri-seri. Mukanya penuh semangat seperti baru saja memenangi undian kuis bernialai jutaan Euro”.

(Rais, Rangga, 2014: 234)

(15) “Jika dulu doktrin agama dipaksa memberangus pengetahuan, kini seolah giliran pengetahuanlah yang berkesempatan memberangus agama.

Keduanya bagaikan kutub yang tak pernah akur di Eropa ini”. (Rais dan

(25)

Rangga, 2014:281)

Kata seperti dan bagaikan dalam kedua kutipan di atas, menunjukkan adanya gaya bahasa simile dalam dua kutipan tersebut. Pada kutipan yang pertama, kata “seperti”

membuat penggambaran dari tokoh Gomez yang bersemangat dan tokoh Hanum mengibaratkan baru saja memenangi undian kuis juataan Euro. Kemudian pada kutipan kedua, kata “bagaikan” menjadi perbandingan antara doktrin agama dan pengetahuan yang tak pernah akur di Eropa.

(16) “Sejurus aku ingat bahwa hati manusia yang sakit itu seperti tembok yang dilubangi paku. Hati dan perasaan kita marah, lalu naik darah. Meski paku itu dicabut, sayatannya terus membekas”. (Rais dan Rangga, 2014:309) Dalam kutipan tersebut, terdapat gaya bahasa simile yang ditandai dengan kata

“seperti”. Kata tersebut digunakan untuk mengibaratkan hati manusia yang sakit bagaikan tembok yang sudah dilubangi paku, meskipun pakunya dicabut atau lukanya dicabut pada hati tetap akan meninggalkan bekas

b. Sinekdok

Gaya bahasa sinekdok termasuk gaya bahasa yang menggunakan sebagian dari suatu hal untuk menyatakan semua bagian tersebut atau justru mengunakan semua bagian untuk menyatakan sebagian hal tersebut. Berikut data mengenail gaya bahasa sinekdok dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika.

(17) “Negeri ini adalah negeri yang memendam trauma’. (Rais dan Rangga, 2016 : 65)

Pada data di atas memuat gaya bahasa sinekdok. Klausa “negeri yang memendam trauma” mengibaratkan seluruh anggota negeri tersebut memendam trauma. Namun, bila ditelaah dari hakikatnya, setelah delapan tahun berjalan, pihak yang masih memendam trauma adalah pihak yang menjadi korban atau pihak yang terdampak dari tragedi mengerikan WTC 9/11. Oleh sebab itu, data tersebut mengandung gaya bahasa sinekdoke.

c. Repetisi

Repetisi termasuk perangkat sastra yang mengulang kata atau frasa yang sama beberapa kali untuk membuat tulisan lebih jelas. Berikut data mengenai gaya bahasa repetisi dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika.

(18) “Harapan saya sudah centang perenang. Bagaikan menggatang asap.

Memeluk angin. Harapan saya seperti gelas kaca yang pecah beremah- remah. Dan Ibrahim merakitnya lagi untuk saya. (Rais, 2016 : 294)

(26)

Gaya bahasa repetisi termuat dalam setiap kalimat pada kutipan di atas. Kata

“harapan” diulang beberapa kali di lebih dari satu kalimat berurutan. Makna antar kalimat tersebut juga saling sambung melengkapi satu sama lain. Di kalimat terakhir kutipan data tersebut menjadi unjung dari penggambaran makna kata “harapan”

terhadap kalimat-kalimat sebelumnya.

(19) “Fatma menghirup dalam-dalam udara yang menusuk tulang hari itu sebelum ia menjawabku dengan anggukan. Persis seperti dulu dia menghirup dalam-dalam udara dingin di Kahlenberg saat turun dari bus.

(Rais dan Rangga, 2014:360)

Dalam data tersebut yang menunjukkan gaya bahasa repetisi yaitu pengulangan kata “menghirup” dan “udara”. Pengarang mengulangkan kata-kata tersebut untuk menjelaskan kembali bahwa tokoh Fatma menghirup dalam-dalam udara dingin di Kahlenberg.

(20) “Kau harus tahu karena kita sama-sama muslimah, Hanum, begitu kata Fatma mengulang kata-kataya. (Rais dan Rangga, 2014:45)

Pada kutipan tersebut menunjukkan terdapat gaya bahasa repetisi, ditandai dengan ucapan tokoh Hanum yang mengatakan kalau tokoh Fatma mengulang kata-katanya yaitu pemberitahuan kepada tokoh Hanum kalau mereka sama-sama muslimah.

d. Antitesis

Antithesis adalah gaya bahasa yang mengandung gagasan yang bertentangan dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang saling berlawanan dalam satu kalimat. Antithesis dapat membandingkan dua hal yang memiliki makna berbeda.

(21) “Sensasi kedigdayaan yang rapuh menyengat seketika saat kami menginjakan kaki di sentra kehidupan modern ini”. (Rais, 2016 : 68) Pada data tersebut memuat gaya bahasa antithesis. Gaya bahasa tersebut terlihat dengan adanya kata yang berlawanan dalam satu kalimat, yakni kata “digdaya” dan

“rapuh”. Kedua kata tersebut memiliki arti yang berlawanan. Kata “digdaya” memiliki sinonim kata kuat. Sedangkan, kata kuat termasuk lawan kata rapuh. Penggunan kedua kata tersebut pada data tersebut menggambarkan dua kondisi berlawanan yang dialami sekaligus oleh suatu negara dalam novel ini.

(22) “Era diskriminasi hitam putih harus diakhiri di Amerika. Sebagaimana amanat deklarasi kemerdekaan bangsa. Sesuai perjuangan para pemimin sebelumnya. Sejalan dengan keyakinan barunya, Islam, bahwa otak kesejahteraan manusia adalah keadilan dan kesetaraan”. (Rais dan Rangga, 2016 : 74)

(27)

Kata “hitam” dan “putih” adalah dua kata yang memiliki sifat berlawanan kata.

Kedua kata tersebut pada data tersebut berada dalam satu kalimat. Meski keduanya memiliki arti yang berbeda, tetapi posisi dalam kalimat saling melengkapi satu sama lain. Pada konteks data tersebut, kata “hitam putih” mewakilkan masyarakat kulit hitam dan putih yang tinggal di tanah Amerika harus hidup berdampingan dengan damai dan sejahtera.

(23) “Musim gugur yang hamper tiba membuat segala cuaca tak ubahnya gadis genit yang berganti-ganti rupa. Terkadang panas dan tiba-tiba dingin atau bahkan hujan. (Rais dan Rangga, 2016 : 75)

Gaya bahasa antithesis juga terdapat pada data tersebut. Gaya bahasa tersebut dapat terdeteksi dengan adanya kata “panas” dan “dingin”. Kedua kata tersebut memiliki arti yang berlawanan, tetapi disandingkan dalam satu kalimat yang saling melengkapi satu sama lain.

e. Metafora

Metafora merupakan salah satu gaya bahasa yang menggunakan kata pembanding untuk mewakili hal lain atau bukan yang sebenarnya mulai dari bandingan benda fisik, sifat, ide, atau perbuatan lain. Berikut data mengenai gaya bahasa metafora dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika.

(24) “Baru saja aku berhasil mengiris-iris bawang bombai sebanyak lima suing, telepon genggamku meraung. (Rais dan Rangga, 2016 : 21)

Pada data di atas kata “telepon genggam meraung” memunculkan majas metafora.

Telepon genggam sebagai benda digambarkan berperilaku hal lain, yakni seperti kebiasaan suara binatang yang membuat kegaduhan.

(25) “Dan sebelum Khan membalas debat yang sudah mengarah ke debat kursi bajaj itu, sebelum situasi saling ledek ini kian memanas, aku mengalihkannya”. (Rais dan Rangga, 2016 : 32)

Data tersebut menampilkan percakapan antar kedua teman kampus Rangga, bernama Khan dan Stefan. Pembicaraan tersebut dibandingkan dengan pembicaraan jenis lain yang identik dengan perdebatan yang tak henti-henti dan membicarakan hal yang tidak penting. Hal ini memunculkan gambaran pada kata tersebut ada istilah lain yang diarahkan pengarang untuk membandingkan situasi dalam konteks cerita. Oleh karena itu, dalam kutipan tersebut memuat majas metafora.

(26) “Gedung pencakar langit yang mengelilinginya seperti organ tubuh yang kemudaian tumbuh karena organ utama berkembang dan berfungsi dengan baik”. (Rais dan Rangga, 2016 : 137)

(28)

Pada data di atas menunjukkan metafora pada kata “pencakar langit” yang berarti gedung yang sangat tinggi. Penggunaan kata tersebut dilakukan oleh pengarang untuk memberikan penggambaran kepada pembaca bahwa gedung yang dilihat oleh pengarang sangat tinggi.

(27) “Kini dia mulai mentransfer beberapa foto liputannya ke alamat surel kantor. Seperti menunggu keong berjalan hingga garis finis, attachment foto-foto itu tak kunjung terunggah”. (Rais dan Rangga, 2016 : 260) Dalam data di atas memuat majas metafora ditunjukkan pada kata “keong berjalan”

yang dapat dimaknai dari sangat lama. Pengarang menggunakan kata keong berjalan agar pembaca dapat mengibaratkan lamanya menunggu foto-foto yang diunggah seperti keong yang sedang berjalan yaitu lemot. Selanjutnya data mengenai gaya bahasa metafora dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa. Berikut kutipan dan ulasannya.

(28) “Islam pertama kali masuk ke Spanyol membawa kedamaian dan kemajuan peradaban. Benih-benih Islam itu tumbuh menyinari tanah Spanyol hingga 750 tahun lebih, jauh sebelum dan lebih lama daripada Indonesia mengenal Islam. (Rais dan Rangga, 2014 : 5)

Pada kutipan di atas terdapat penggunaan gaya bahasa metafora. Hal ini dapat terlihat dengan kalimat “Benih-benih Islam itu tumbuh menyinari tanah Spanyol hingga 750 tahun lebih,” dari kalimat tersebut secara implisit ada unsur mengkaitkan agama Islam seperti benih tumbuhan yang memberi manfaat lebih terhadap tanah tempat ia ditanam.

(29) “Matahari itu menjadi saksi bisu bahwa Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan, dan menyianginya dengan kasih sayang dan semangat toleransi antar umat beragama. (Rais dan Rangga, 2014 : 8-9)

Pada kutipan tersebut terdapat penggunaan gaya bahasa metafora, yaitu pada klausa “benih-benih ilmu pengetahuan”.

(30) “Dia membuang jauh-jauh setan yang siap bertepuk tangan menonton pertandingan Rangga-Khan lawan Maarja dan teman-teman Eropanya.

Pertandingan yang hanya akan memperkeruh suasana. Kami tak lagi menggunakan microwave untuk menghangatkan bekal.” (Rais dan Rangga, 2014: 207)

(31) “Ada “luka” di sana. Sebuah luka yang sengaja digoreskan. Tadinya kaligrafi Arab itu pastilah kalimat-kalimat yang bersenandung. Kalimat yang memberi ruh untuk masjid ini.” (Rais, Rangga, 2014: 260)

Gambar

Tabel 6. Bentuk Diksi Kata Konkret  Bentuk Diksi
Tabel 7. Bentuk Diksi Kata Serapan  Bentuk Diksi
Tabel 8. Bentuk Diksi Kata Asing  Bentuk Diksi   Kata Asing  Makna Denotatif  Bentuk Diksi   Kata Asing  Pengertian
Tabel 9. Bentuk Gaya Bahasa dalam Dua Novel Karya Hanum Salsabiela Rais  Gaya

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan kutipan hasil wawancara di atas menggambarkan bahwa banyak terdapat nyamuk di lokasi penelitian (Kabupaten Intan Jaya) namun perkembangan malaria oleh nyamuk

Terkadang saya juga bantu mengingatkan habit placement client seperti apa” Berdasarkan kutipan wawancara di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang mengklasifikasikan

Berdasarakan kutipan wawancara serta jawaban tes, pada soal 1 Subjek 6 mampu mengeksplorasi dan menyusun perencanaan strategi yang tepat guna menyelesaikan masalah yang

Kutipan tersebut merupakan bukti sifat teguh sekaligus tanggung jawab Azima terhadap agamanya, meskipun ditentang oleh ibunya Azima tetap berpegang teguh pada

Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dalam berita SKH Kompas terdapat 38,2% citra negatif, 30,6% citra yang netral dan 31,2% citra positif. Berita yang ada di dalam

Berdasarkan kutipan di atas tergambar bahwa bentuk perlawanan yang pertama dilakukan oleh tokoh perempuan (Srintil) terhadap diskriminasi yang terjadi pada dirinya adalah

Dari kutipan tersebut, jelas bahwa meskipun ulama‟ dari kalangan NU itu sendiri memiliki hukum tersendiri tentang rokok, akan tetapi tetaplah mendukung adanya

Pertama, nilai-nilai akidah yang terdapat dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra adalah sebagai berikut: 1 keyakinan kepada