• Tidak ada hasil yang ditemukan

UIN SUNAN AMPEL SURABAYA PENELITIAN DAN PENERBITAN LP2M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "UIN SUNAN AMPEL SURABAYA PENELITIAN DAN PENERBITAN LP2M"

Copied!
217
0
0

Teks penuh

(1)

i

HIBRIDISASI TRADISI

DAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

(Studi Kasus Intern Umat Islam di Jampirogo Sooko Mojokerto)

PENELITIAN

Disusun oleh:

PURWANTO, MHI NIP. 197804172009011009

UIN SUNAN AMPEL SURABAYA

PENELITIAN DAN PENERBITAN LP2M

(2)

ii

HIBRIDISASI TRADISI

DAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

(Studi Kasus Intern Umat Islam di Jampirogo Sooko Mojokerto)

PENELITIAN

Penelitian Ini Disusun

Untuk melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi

Disusun oleh:

PURWANTO, MHI NIP. 197804172009011009

UIN SUNAN AMPEL SURABAYA

PENELITIAN DAN PENERBITAN LP2M

2021

(3)

iii

JURNAL BIMBINGAN PENULISAN LAPORAN PENELITIAN

Nama Peneliti : Purwanto, MHI

Judul Penelitian : Hibridisasi Tradisi Dan Kerukunan Umat Beragama (Studi

Kasus Intern Umat Islam di Jampirogo Sooko Mojokerto)

No. Tanggal Materi Bimbingan Paraf Pembimbing

1. 12 Okt. 2021

Tentang deskripsi daerah penelitian, key informan, dan teknik analisis data.

2. 14 Okt. 2021 Tentang hasil penelitian dan interpretasi

3. 18 Okt. 2021 Tentang kesimpulan dan rekomendasi

4. 21 Okt. 2021

Tentang seluruh bab penelitian berserta kelengkapannya penelitian

Catatan Pembimbing :

Seluruh materi penelitian sudah baik, dan bisa dikumpulkan ke LP2M UIN Sunan Ampel Surabaya

Surabaya, 21 Oktober 2021 Reviewer/ Pembimbing,

Dr. Suhermanto, M. Hum NIP. 196708201995031001

(4)

iv

LEMBAR PENILAIAN LAPORAN PENELITIAN

Nama Peneliti : Purwanto, MHI

Judul Penelitian: Hibridisasi Tradisi Dan Kerukunan Umat Beragama

(Studi Kasus Intern Umat Islam di Jampirogo Sooko Mojokerto)

No. Aspek Penilaian Nilai

(Skala 0-4) 1. Kelengkapan Laporan :

Halaman Judul, Daftar Isi, Kata Pengantar, Izin Penelitian, Pedoman Transliterasi, Nota Bimbingan dan Ujian, Daftar Isi, Abstrak dua Bahasa (Bahasa Inonesia dengan Bahasa Arab atau Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris), Isi, Daftar Pustaka, dan Lampiran Lain

3,60

[Sangat Baik]

2. Teknik Penulisan :

Penggunaan Transliterasi, Numbering, Penggunaan Huruf Kapital, Cetak Miring/Tebal, Penulisan Catatan Kaki, Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

3,70

[Sangat Baik]

3. Isi Laporan :

a. Abstrak Berisi Penjelasan Singkat Mengenai Focus Penelitian, Metode yang digunakan dan Hasil/Temuan Penelitian dilengkapi dengan Kata Kunci.

b. Isi Penelitian : Kesesuaian Rumusan Masalah,

Landasan Teori/Kerangka Konseptual, Penyajian dan Analisis Data serta Kesimpulan.

c. Draft Artikel untuk Jurnal berisi: Abstrak Dan Kata Kunci, Permasalahan, Metodologi, Paparan Data, Analisis Dan Hasil Penelitian, Khusus Penelitian Lanjutan disertai Temuan Teori.

d. Dummi Buku (Bagi kluster yang mempersyaratkan)

3,50

[Baik]

Rata-rata

3,60

[Sangat Baik]

Rekomendasi Reviewer/Pembimbing

1. Luaran penelitian sesuai dengan ketentuan Ya Tidak 2. Blokir 30 % dana penelitian dapat dibuka Ya Tidak

Surabaya, 21 Oktober 2021 Reviewer/ Pembimbing,

Dr. Suhermanto, M. Hum NIP. 196708201995031001 Konversi Nilai :

0,00 – 1,50 : Tidak Layak 1,51 – 2,50 : Cukup 2,51 – 3,50 : Baik

3,51 – 4,00 : Sangat Baik

V V

(5)

v

NOTA PERSETUJUAN PEMBIMBING LAPORAN HASIL PENELITIAN

Setelah diadakan pembimbingan dan pengujian terhadap laporan hasil penelitian :

Nama : Purwanto, M.HI

Fakultas : Ushuluddin dan Filsafat Kategori : Madya Individual

Judul : HIBRIDISASI TRADISI DAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (Studi Kasus Intern Umat Islam di

Jampirogo Sooko Mojokerto)

Bahwa laporan hasil penelitian tersebut di atas sudah sesuai dengan ketentuan Petunjuk Teknis Program Bantuan Penelitian, Publikasi Ilmiah, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2021.

Surabaya, 21 Oktober 2021 Reviewer/ Pembimbing

Dr. Suhermanto, M. Hum NIP. 196708201995031001

(6)

vi

ABSTRAK

Purwanto. Hibridisasi Tradisi dan Kerukunan Umat Beragama (Studi Kasus Intern Umat Islam di Jampirogo Sooko Mojokerto), UIN Sunan Ampel Surabaya

Tujuan penelitian ini adalah: Pertama, untuk mendeskripsikan bentuk identitas kultur lokal dan perubahannya yang berlangsung pada masyarakat Kedungpring-Jampirogo. Kedua, untuk menganalisis konstruksi interpenetrasi kolektivitas identitas antar identitas lokalitas masyarakat Kedungpring-Jampirogo.

Ketiga, untuk menganalisis bingkai hibridisasi tradisi masyarakat Kedungpring- Jampirogo dalam rangka membangun kerukunan intern umat Islam.

Metode penelitian yang dipakai adalah metode kualitatif dengan menekankan pada analisis interpretatif terkait fenomena yang diamati. Peneliti membagi kegiatan penelitian dalam tiga tahapan utama, yaitu: (1) mengadakan penelitian eksploratif yang bertujuan mencari gambaran secara mendalam mengenai bentuk dan perubahan identitas kultur lokal, konstruksi interpenetrasi kolektivitas identitas antar identitas lokalitas, dan bingkai hibridisasi tradisi masyarakat. (2). melakukan diskusi dengan para tokoh masyarakat setempat, tokoh-tokoh agama, dan warga sebagai subyek penelitian pada tahap pertama. (3) menyelenggarakan diskusi dengan pihak-pihak yang tersebut pada tahap kedua guna membahas hibridisasi tradisi masyarakat dalam rangka pengembangan kerukunan intern umat Islam. Dalam pengumpulan data, peneliti mempergunakan tiga cara, iaitu: dokumentasi, wawancara mendalam dan focussed group discussion. Data yang terkumpul, selanjutnya diverifikasi dan dianalisis secara eksploratif.

Hasil penelitian menunjukkan: (1) Bentuk dan perubahan identitas kultur lokal masyarakat Kedungpring-Jampirogo terjadi melalui ambivalensi identitas kultural, deterritorialisasi identitas kultural, modifikasi tradisi (manakib dan khataman), dan kreolisasi kultural (antara ganjaran dan maksiat, antara nasib dan

’nasab’, dan keluk; antara ibadah dan syirik). Bentuk perubahan kehidupan kultural yang berlangsung di Kedungpring-Jampirogo menunjukkan gerakan ke arah konfigurasi Gestalt. Konfigurasi Gestalt membangun kultur translokalitas dalam bentuk interaksi interpenetrasi dalam heterogenitas kultur, atau multikulturalitas fluid. (2) Konstruksi interpenetrasi kolektivitas identitas antar identitas lokalitas terjadi melalui perubahan bahasa: antara ‘ngoko’ dan ‘krama’, perubahan panggilan dari ‘mak’ menjadi ‘mama’, perubahan nama dari nama ’ndesit’ ke nama

’kuthit’, migrasi tradisi dari ’nyadran ruwahan’ ke ’nyadran syawalan’, dan montage dalam slametan. Montage dalam slametan muncul dalam bentuk ‘tahlilan ngiras- ngirus’, perubahan bahasa tradisi keagamaan dalam bentuk bahasa dalam tahlilan, bahasa dalam diba’an, bahasa dalam nariyahan, bahasa dalam manakiban dan bahasa dalam talqinan. Ambivalensi identitas merupakan sumber utama deterritorialisasi identitas. Deterritorialisasi identitas merupakan modal utama pengembangan interpenetrasi identitas. Interpenetrasi identitas merupakan faktor utama konstruksi kolektivitas. (3) Bingkai hibridisasi tradisi terbangun melalui interaksi interpenetrasi antar identitas lokalitas; interaksi interpenetrasi antar identitas lokalitas terbangun identitas kolektif; dan melalui bangunan identitas kolektif inilah terbangun kerukunan intern umat islam masyarakat Jampirogo, Sooko, Mojokerto.

Kata kunci: Identitas kultur lokal, Konstruksi interpenetrasi, Hibridisasi Tradisi; Kerukunan Intern Umat Islam

(7)

vii

ABSTRACT

PURWANTO, Hybridization of Traditions and Religious Harmony (The Case Study of Muslims Internal on Jampirogo Sooko Mojokerto), UIN Sunan Ampel Surabaya

The aims of this study are: First, to describe the form of local cultural identity and the changes that take place in the Kedungpring-Jampirogo community. Second, to analyze the construction of identity collectivity interpenetration between locality identities of the Kedungpring-Jampirogo community. Third, to analyze the hybridization frame of the Kedungpring-Jampirogo community tradition in order to build internal harmony among Muslims.

The research method used is a qualitative method with an emphasis on interpretive analysis related to the observed phenomena. The researcher divides research activities into three main stages, namely: (1) conducting exploratory research that aims to find an in-depth picture of the shape and change of local cultural identity, the construction of interpenetration of identity collectivity between local identities, and the hybridization frame of community traditions. (2). conduct discussions with local community leaders, religious leaders, and residents as research subjects in the first phase. (3) holding discussions with the parties mentioned in the second stage to discuss the hybridization of community traditions in the context of developing internal harmony among Muslims. In collecting data, researchers used three methods, namely:

documentation, in-depth interviews and focused group discussions. The collected data is then verified and analyzed exploratively.

The results showed: (1) The shape and change of the local cultural identity of the Kedungpring-Jampirogo community occurred through ambivalence of cultural identity, deterritorialization of cultural identity, modification of traditions (manakib and khataman), and cultural creolization (between rewards and immorality, between fate and 'nasab' , and keluk; between worship and shirk). The changes in cultural life that took place in Kedungpring-Jampirogo indicate a movement towards the Gestalt configuration. Gestalt configuration builds culture trans-locality in the form of interpenetrating interactions in cultural heterogeneity, or fluid multiculturality. (2) The construction of interpenetration of identity collectivity between locality identities occurs through language changes: between ngoko and krama, changes in calling from mak to mama, name changes from ndesit to kuthit, tradition migration from nyadran ruwahan to nyadran syawalan, and montage in

“slametan”. Montage in slametan appears in the form of tahlilan ngiras-ngirus, changes in the language of religious traditions in the form of language in tahlilan, language in diba'an, language in nariyahan, language in manakiban and language in talqinan. Identity ambivalence is the main source of identity deterritorialization. Deterritorialization of identity is the main capital for the development of identity interpenetration. Identity interpenetration is the main factor of collectivity construction. (3) The hybridization frame of tradition is built through interpenetration interactions between local identities;

interpenetration interaction between locality identities builds collective identity; and through this collective identity building, the internal harmony of the Muslim community in Jampirogo, Sooko, Mojokerto is built.

Keywords: Identity of local culture, Construction of interpenetration, Hybridization of Tradition; Internal Harmony of Muslims

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah, segala puji hanya dipersembahkan kepada Allah Swt., karena hanya dengan berkat rakhmat dan nikmatnya jua, peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini tepat waktu.

Penyelesaian penelitian yang tersajikan ini dapat terselesaikan, berkat bantuan dan bimbingan semua pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini, secara tulus peneliti menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bpk. Prof. Masdar Hilmy, M.A.,Ph.D selaku Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya beserta jajarannya.

2. Bpk. Dr. Suhermanto, M. Hum. selaku pembimbing dan penguji penelitian.

3. Bpk. Dr. Phil. Khoirun Niam selaku Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN Sunan Ampel Surabaya.

4. Bpk. Dr. Kunawi, M.Ag selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya beserta seluruh jajaran struktural.

Semoga bimbingan, arahan dan bantuan yang beliau berikan pada penulis akan mendapatkan ganjaran dari Allah Tuhan Yang Kuasa.

Selanjutnya ucapan yang sama peneliti sampaikan pada Kepala Desa Jampirogo berserta perangkat yang telah mmberikan izin dan kesempatan yang luas kepada peneliti mengadakan penelitian di dalam daerahnya. Demikan juga halnya peneliti sampaikan ucapan kepada tokoh masyarakat Dusun Kedungpring yang telah bersama-sama penulis terjun di lapangan dalam mengumpulkan data yang diperlukan selama penelitian berlangsung.

Kepada seluruh keluarga dan sahabat, yang dengan pengertian dan pengorbanannya mendorong peneliti untuk segera menyelesaikan tugas ini.

Akhirnya Peneliti berharap kepada siapapun khususnya mahasiswa yang membaca penelitian ini, hendaknya tidak menilai penyusunan penelitian ini dari hasilnya saja atau dari apa yang telah tersaji, tetapi hendaklah juga melihat upaya- upaya di balik itu semua.

The last but not least, semoga usaha ini mendapat ridho dari Allah SWT dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Peneliti,

PURWANTO, MHI NIP. 197804172009011009

(9)

ix DAFTAR ISI

Halaman Sampul Luar... i

Halaman Sampul Dalam ... ii

Jurnal Bimbingan Penulisan Laporan Penelitian ... iii

Lembar penilaian laporan penelitian ... iv

Nota Persetujuan Pembimbing Tentang Laporan hasil penelitian ... v

Abstrak ... vi

Abstract ... vii

Kata Pengantar ... viii

Daftar Isi... ix

Daftar Tabel ... xii

Daftar Grafik ... xiv

Daftar Bagan ... xv

Pedoman Transliterasi Arab-Latin ... xvi

BAB I: PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Kontribusi Penelitian ... 4

E. Penelitian Terdahulu ... 6

F. Kerangka Pemikiran ... 9

G. Metode Penelitian... 14

H. Sistematika Pembahasan ... 17

BAB II: LANDASAN TEORI ... 19

A. Konsep, Dimensi, dan Peran Agama Bagi Masyarakat ... 19

1. Konsep dan Dimensi ... 19

2. Peran Agama Bagi Masyarakat ... 22

B. Konsep Budaya, Perubahan Sosial dan Integrasi Sosial ... 26

1. Konsep Budaya ... 26

(10)

x

2. Konflik dan Multikulturalisme ... 27

3. Perubahan Sosial ... 28

4. Integrasi sosial ... 29

C. Hibridisasi Tradisi Membangun Identitas Kolektif... 32

D. Kerukunan Hidup Beragama ... 36

1. Istilah Kerukunan Hidup Beragama ... 37

2. Agama dalam Negara Pancasila ... 38

3. Peraturan dan Kebijakan Pembinaan Kerukunan Hidup Beragama... 39

E. Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dan Sikap Kemasyarakatan NU ... 41

1. Aswaja dalam Perspektif NU ... 41

2. Sikap Kemasyarakatan NU ... 48

BAB III. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN ... 55

A. Aspek Geografi dan Demografi Kabupaten Mojokerto ... 55

1. Aspek Geografi ... 55

2. Aspek Demografi ... 58

B. Aspek Kesejahteraan Masyarakat ... 61

C. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ... 61

D. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ... 69

1. Aspek Pelayanan Umum ... 72

2. Aspek Daya Saing Daerah ... 91

E. Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah ... 91

F. Fokus Iklim Berinvestasi ... 101

G. Kondisi yang Diinginkan Secara Umum ... 102

H. Gambaran Masyarakat Desa Jampirogo dan Penduduknya ... 106

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 109

A. Bentuk dan Perubahan Identitas Kultur Lokal ... 109

1. Ambivalensi Identitas Kultural ... 109

2. Deterritorialisasi identitas Kultural ... 116

3. Modifikasi Tradisi ... 124

(11)

xi

4. Kreolisasi Kultural ... 140

B. Konstruksi Interpenetrasi Kolektivitas identitas antar identitas lokalitas ... 156

1. Perubahan Bahasa: Antara Ngoko dan Krama ... 157

2. Perubahan Panggilan: Dari "Mak" Menjadi "Mama" ... 161

3. Perubahan Nama: Dari Nama ”Ndesit” Ke Nama ”Kuthit” ... 163

4. Migrasi Tradisi: Dari Nyadran Ruwahan Ke Nyadran Syawalan ... 168

5. Montage dalam Slametan ... 172

C. Bingkai Hibridisasi Tradisi Membangun Kerukunan Umat Beragama ... 180

BAB V: PENUTUP ... 187

A. Kesimpulan ... 187

B. Rekomendasi ... 192

DAFTAR KEPUSTAKAAN ... 190

LAMPIRAN ... 201

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel hal.

2.1.Tinggi dan Luas Daerah Menurut Kecamatan ... 55

2.2. Sungai Besar di Kab. Mojokerto ... 57

2.3. Sungai dan luas daerah pengairan di Kab.Mojokerto ... 57

2.4. Jumlah Penduduk Tahun 2015 – 2020 ... 58

2.5. Jumlah penduduk menurut mata pencaharian Tahun 2018 – 2020 ... 59

2.6. Jumlah Penduduk Kabupaten Mojokerto Menurut Jenis Kelamin Tahun 2020 ... 60

2.7. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Mojokerto ... 62

2.8. Status / indikator kinerja pembangunan bidang kesehatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2016-2020 ... 63

2.9. Angka Partisipasi Murni (APM) Tahun 2016-2020... 66

2.10. Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun 2016-2020 ... 66

2.11. Laju Pertumbuhan Ekonomi Th 2016 – 2020 ... 68

2.12. Lowongan Kerja, Pencari Kerja dan Penempatan Tenaga Kerja ... 69

2.13. PDRB Th 2016–2020 ... 70

2.14. Sumbangan Tiap Sektor Th 2016-2020 ... 70

2.14. Sumbangan Tiap Sektor Th 2016-2020 ... 70

2.15. Pendapatan Regional Per Kapita Th 2016–2020 ... 72

2.16. Rasio jumlah guru terhadap jumlah murid ... 73

2.17. Rasio jumlah kelas terhadap murid ... 73

2.18. Jumlah Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Rumah Sakit per Kecamatan ... 74

2.19. Jumlah tenaga medis, paramedis dan kunjungan ke puskesmas ... 75

2.20. Jumlah penduduk yang memanfaatkan RSUD dan Puskesmas ... 75

2.21. Kondisi Jalan aspal kabupaten Mojokerto (Km) ... 76

2.22. Kondisi jembatan Kabupaten Mojokerto (unit) ... 77

2.23. Jumlah LPJU Kabupaten Mojokerto ... 78

2.24. Luas Irigasi Teknis Tahun 2016 – 2020 ... 79

2.25. Perkembangan jumlah koperasi ... 82

(13)

xiii

2.26. Perkembangan jumlah koperasi sehat ... 83

2.27. Perkembangan usaha kecil ... 83

2.28. Perkembangan usaha menengah ... 84

2.29. Jumlah produk hukum ... 85

2.30. Indeks kepuasan masyarakat ... 86

2.31. Jumlah keluarga miskin ... 87

2.32. Jumlah PMKS yang dibantu ... 88

2.33. Jumlah perpustakaan dan pengunjung ... 89

2.34. Jumlah buku perpustakaan ... 90

2.35. Jumlah judul buku perpustakaan ... 91

2.36. Data Industri Tahun 2016-2020 ... 92

2.37. Luas Tanam Pertanian Tanaman Pangan Tahun 2016-2020 (Ha) ... 95

2.38. Luas Panen Pertanian Tanaman Pangan Tahun 2016-2020 (Ha)... 96

2.39. Produktivitas Pertanian Tanaman pangan Tahun 2016-2020 (Kw/Ha) ... 97

2.40. Produksi Pertanian Tanaman Pangan Tahun 2016-2020 (Ton) ... 98

2.41. Produksi Daging dan Telur ... 99

2.42. Keamanan dan ketertiban umum Tahun 2018 – 2020 ... 101

2.43. Proyeksi Pertumbuhan PDRB Kabupaten Mojokerto 2020 – 2025 ... 102

2.44. Jumlah Rumah Tangga Miskin Kabupaten Mojokerto Tahun 2020 ... 105

(14)

xiv

DAFTAR GRAFIK

2.1. Tren Peningkatan Jumlah penduduk ... 59

2.2. Indeks Pembangunan Manusia ... 62

2.3. Status/indikator kinerja pembangunan bidang kesehatan Kabupaten Mojokerto 2016-2020 ... 65

2.4. Angka Partisipasi Murni (APM) Tahun 2016-2020... 67

2.5. Angka Partisipasi Kasar (APK) ... 67

2.6. Laju pertumbuhan ekonomi ... 68

2.7. Lowongan Kerja, Pencari Kerja dan Penempatan Tenaga Kerja ... 69

2.8. Tren Kenaikan PDRB ... 70

2.9. Komposisi sumbangan sektor PDRB ... 71

2.10. Tren Peningkatan Pendapatan Regional Per Kapita ... 72

2.11. Perkembangan kondisi jalan Kabupaten Mojokerto ... 77

2.12. Perkembangan kondisi jembatan Kabupaten Mojokerto (jembatan) ... 78

2.13. Perkembangan jumlah LPJU Kabupaten Mojokerto... 79

2.14. Perkembangan luas Irigasi Teknis ... 80

2.15. Perkembangan jumlah koperasi ... 82

2.16. Perkembangan jumlah koperasi sehat ... 83

2.17. Perkembangan jumlah usaha kecil ... 84

2.18. Perkembangan jumlah usaha menengah ... 85

2.19. Jumlah keluarga miskin ... 87

2.20. Jumlah PMKS yang dibantu ... 88

2.21. Jumlah pengunjung perpustakaan ... 89

2.22. Jumlah buku perpustakaan ... 90

2.23. Jumlah judul buku perpustakaan ... 91

2.24. Luas Tanam Pertanian Tanaman Pangan Tahun 2016-2020 (Ha) ... 96

2.25. Luas Panen Pertanian Tanaman Pangan Tahun 2016-2020 ... 97

2.26. Produktivitas Pertanian Tanaman Pangan Tahun 2016-2020 (Kw/Ha) ... 98

2.27. Produksi Pertanian Tanaman Pangan Tahun 2016-2020 (Ton) ... 99

2.28. Perkembangan Produksi Daging dan Telur... 100

2.29. Tren Proyeksi Pertumbuhan PDRB ... 103

2.30. Jumlah Rumah Tangga Miskin (orang)... 105

(15)

xv

DAFTAR BAGAN

Bagan Hal.

4.1. Proses Hibridisasi Tradisi ... 184

(16)

Pedoman Transliterasi Arab-Latin

Sesuai SKB Menteri Agama RI, Menteri Pendidikan dan Menteri Kebudayaan RI N0. 158/1987 dan N0. 0543b/U/1987

A. Konsonan Tunggal

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

Alif Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan

Ba b -

Ta t -

Sa š s (dangan titik di atas)

Jim j -

Ha h. h (dengan titik di bawah)

Kha kh -

Dal d -

Zal ż z (dengan titik di atas)

Ra r -

Za z -

Sin s -

Syin sy -

Shad ş s (dengan titik di bawah)

Dad d d (dengan titik di bawah)

Tha th -

Dza z z (dengan titik di bawah)

‘ain ‘ koma terbalik ke atas

Gain g -

Fa f -

Qaf q -

Kaf k -

Lam l -

Mim m -

Nun n -

wawu w -

Ha h -

hamzah ´ apostrof

ya’ y -

DAFTAR TRANSLITERASI

xvi

(17)

B. Konsonan Rangkap

Konsonan rangkap, termasuk tanda syaddah, ditulis rangkap.

Contoh :



ditulis Ahmadiyyah C. Ta’Marbuthah di Akhir Kata

1. Bila dimatikan ditulis h, kecuali untuk kata-kata Arab yang sudah terserap menjadi Bahasa Indonesia, seperti salat, zakat dan sebagainya.

Contoh :



ditulis jama’ah 2. Bila dimatikan ditulis t.

Contoh :



ditulis karamatul-auliya’

D. Vokal Pendek

Tathah di tulis a, kasrah ditulis i dan dammah ditulis u E. Vokal Panjang

a panjang ditulis ā, i panjang ditulis ī dan u panjang ditulis ū masing-masing dengan tanda penghubung (-) di atasnya.

F. Vokal Rangkap

1. Fathah + ya’ mati ditulis ai Contoh :



ditulis bainakum 2. Fathah + wawu mati ditulis au

Contoh :



ditulis qaul

G. Vokal-vokal pendek yang berurutan dalam satu kata dipisahkan dengan apostrof (’)

Contoh :



ditulis a’antum



ditulis mu’annas H. Kata Sandang Alif+Lam

1. Bila diikuti huruf Qamariyah Contoh :



ditulis al-Qur’an

2. Bila diikuti huruf Syamsiyyah ditulis dengan menggunakan huruf Syamsiyyah yang mengikutinya, serta menghilangkan huruf l (el)-nya.

Contoh :



ditulis as-Samā I. Huruf Besar

Penulisan huruf besar disesuaikan dengan EYD J. Kata Dalam Rangkaian Frase dan Kalimat

1. Ditulis kata per kata

Contoh:



ditulis żawi al- furūd

2. Ditulis menurut bunyi atau pengucapannya dalam rangkaian tersebut.

Contoh:



ditulis ahl as-Sunnah

xvii

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Agama sebagai satu fenomena alamiah dalam kehidupan manusia tidak lepas dari sifat ambiguitas (kegandaan makna) yang melekatinya. Agama ibarat pisau bermata dua yang memiliki dimensi positif pada satu sisi sekaligus memiliki dimensi negatif pada sisi yang lain. Fondasi teologis dan common ground yang berada pada dimensi positif agama bertemu dengan ekstremisme pada ranah negatif sehingga menjadikan agama memiliki watak ambiguitas (the ambivalence of the sacred). Pada satu sisi, agama jelas memiliki fondasi yang ramah terhadap peradaban manusia dimana ia turut berperan dalam membangun kultur peradaban yang lebih sehat, berkualitas, serta penuh dengan semangat toleransi dan pluralisme. Dimensi positif tersebut seakan memberi isyarat bahwa agama tidak serta merta bernilai buruk.

Ada nilai positif berbentuk kebaikan yang patut diperhitungkan di tengah watak ambiguitas agama, yakni nilai agama yang sudah mengkristal menjadi tradisi. Penelitian ini memfokuskan pada perubahan tradisi yang bersumber dari agama atau ritme kehidupan keseharian anggota masyarakat di pedesaan dan karakteristik kehidupan sosialnya yang semula dipandang terikat oleh satu tradisi tunggal dalam bingkai imagined1, ternyata menunjukkan kesenjangan dengan bingkai virtual2-nya. Bingkai virtual ini selanjutnya diduga membingkai anggota masyarakat dalam kehidupan sosial imagined baru. Dampak negatifnya adalah munculnya persoalan identitas yang ditandai dengan tradisi yang beraneka ragam yang saling menegasikan. Dampak akhirnya adalah terjadinya konflik antar dan intern umat beragama.

1 Istilah ini meminjam dari Anderson yang aslinya adalah ‘imagined communities’.

(Sumber: Benedict Anderson, 1983, Imagined Community, London: Routledge).

2 Istilah ini meminjam dari Timothy W. Luke yang memperkenalkan istilah ‘virtual communities’ sebagai reaksi terhadap imagined communities dari Anderson (1983). (Sumber: TW Luke, 1995. "New World Order or Neo-world Order: Power, Politics and Ideology in Informationalizing Globalization", in M Featherstone, et al (ed). Global Modernities, London:

SAGE Publications, pp. 91-107).

1

(19)

Di samping terkait dengan persoalan identitas kultural, gambaran suasana kehidupan yang umat beragama hadapi tampaknya juga ada keterkaitan dengan situasi kehidupan politik nasional, yakni masa akhir cengkeraman rezim Orde Baru.

Soeharto, yang dipandang sebagai simbol pengayom negeri dalam alam pikiran penduduk desa, dinilainya telah kehilangan tempat bergantung. Sehubungan dengan hal itu, mereka sedang berupaya mencari pegangan nilai alternatif yang mungkin dipandangnya memberi harapan. Kondisi seperti ini digambarkan oleh Bauman, dengan menggunakan istilah searching for a centre that holds.3

Peneliti menduga bahwa di Desa Jampirogo Kec. Sooko Kab. Mojokerto telah terjadi perubahan orientasi nilai yang dimanifestasikan oleh perubahan perilaku dan tindakan individu-individu warganya. Studi ini dituntun oleh pandangan bahwa masyarakat desa dianggap memiliki sosialitas sendiri, karena tipe-tipe sosialitas4sebagaimana yang digambarkan oleh Gordon, juga terjadi di desa. Agama yang dianut masyarakat Desa Jampirogo adalah Islam dengan variasi penganut kelompok ormas keagamaan yang berbeda. Mayoritas adalah penganut Nahdlatul Ulama (NU), disusul penganut LDI, Muhammadiyah, dan Kebatinan.

Berdasar pemikiran inilah, penelitian ini dilakukan di Desa Jampirogo wilayah Kabupaten Mojokerto.

Dalam mengkaji kehidupan kultural, penelitian ini tidak jauh berbeda dengan studi Geertz dalam The Religion of Java5 yang mengkaji kehidupan kultural

3 Bauman, Z, 1995, "Searching for a Centre that Holds", in M Featherstone, S Lash, and R Robertson (ed). Global Modernities, London: SAGE Publications, pp 140-154.

4 Scott Gordon dalam The History and Philosophy of Social Science menggambarkan sosialitas manusia sebagai "multisosial" yang berbeda dengan spesies lain yang "monososial".

Gordon membedakan lima tipe sosialitas, yaitu: (a) Gregoriousness, yang mendasari manusia mengadakan asosiasi dengan orang-orang lain atas dasar kesamaan — pekerjaan, kelas atau status sosial-ekonomi, agama, bahasa, bangsa, ras, warna kulit, lokasi tempat tinggal, dsb.; (b). Hirarkhi, yang merupakan karakteristik dari semua organisasi manusia yang menggambarkan adanya perbedaan posisi sosial sehingga memunculkan isu-isu kebebasan dan otoritas; (c) Diferensiasi biologis, yang berkaitan dengan kepemilikan struktur anatomi yang berbeda, dan perbedaan tersebut dikaitkan dengan pembagian jenis pekerjaan atas dasar jenis kelamin terutama perbedaan jender; (d). Spesialisasi fungsional yang menggambarkan bahwa pembagian jenis pekerjaan tidak didasarkan pada, atau terkait dengan, perbedaan biologis, karena perkembangan masyarakat menuntut penganekaragaman jenis pekerjaan atau peran-peran dalam sistem kerja yang semakin kompleks; (5). Altruisme, yang menggambarkan perilaku yang menguntungkan atau membantu orang lain. Altruisme merupakan ciri utama sosialitas masyarakat manusia. Sejumlah tradisi ritual pedesaan yang selalu dibarengi dengan acara "santapan bersama" juga dilandasi oleh sikap altruisme ini. (Gordon, S, 1991, The History and Phylosophy of Social Science, New York:

Routledge).

5 Clifford Geertz, 1960. The Religion of Java, Glencoe, III: The Free Press of Glencoe.

(20)

sehari-hari dalam bingkai Islam dan Jawa yang menghasilkan konsep santri, priyayi, dan abangan). Islam dan Jawa dalam penelitian ini diperlakukan compatible, atau tidak diperlakukan dalam posisi antonimi. Masing-masing varian kelompok identitas kultural dalam studi ini tidak diperlakukan sebagai entitas-entitas yang berbeda.

Trikotomi varian identitas kultural dalam studi ini ditempatkan dalam suatu kontinum—mengikuti konsepsi Kejawaan—yang erat kaitannya dengan gerak perubahan kepribadian menurut psikologi Jawa: yakni bergerak dan durung Jawa, rada Jawa, hingga wis Jawa. Dengan demikian, ketiga varian identitas kultural bernuansa kejawaan tersebut tidak ditempatkan dalam posisi dikontraskan.

Penelitian ini mengkaji proses dan bentuk-bentuk hibridisasi tradisi keagamaan yang berfungsi sebagai faktor penunjang kerukunan umat beragama Islam. Fokus perhatian dalam studi ini adalah kehidupan kultural sehari-hari.

Kawasan studi ini menekankan pada tradisi-tradisi kultural yang hidup di masyarakat. Tradisi-tradisi kultural itulah yang menjadi pijakan dalam pengumpulan data. Oleh karena itu, dalam pengumpulan data wakil unit-unit studi ini menekankan pada tata cara pelaksanaan tradisi, nilai-nilai yang melandasinya, termasuk pemahaman atau pemikiran individu-individu sebagai anggota masyarakat terhadap tradisi.

B. Rumusan Masalah

Berdasar pemikiran yang bersumber dari latar belakang di atas, maka pertanyaan-pertanyaan utama yang mengganggu peneliti dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Apa saja bentuk identitas kultur lokal dan perubahannya yang berlangsung pada masyarakat Kedungpring-Jampirogo?

2. Bagaimana konstruksi interpenetrasi kolektivitas identitas antar identitas lokalitas masyarakat Kedungpring-Jampirogo?

3. Seperti apa bingkai hibridisasi tradisi masyarakat Kedungpring-Jampirogo dalam rangka membangun kerukunan intern umat Islam?

(21)

C. Tujuan Penelitian

Selanjutnya, beberapa sasaran yang ingin dicapai dalam studi ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsikan bentuk identitas kultur lokal dan perubahannya yang berlangsung pada masyarakat Kedungpring-Jampirogo.

2. Untuk menganalisis konstruksi interpenetrasi kolektivitas identitas antar identitas lokalitas masyarakat Kedungpring-Jampirogo.

3. Untuk menganalisis bingkai hibridisasi tradisi masyarakat Kedungpring- Jampirogo dalam rangka membangun kerukunan intern umat Islam.

D. Kontribusi Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan beberapa kontribusi antara lain:

1. Pengembangan Teori

Penelitian tentang hibridisasi tradisi dalam menunjang kerukunan dalam kehidupan umat beragama di Desa Jampirogo—Sooko adalah sebagai media analisis mekanisme kehidupan damai yang ada di saat krisis sosial keagamaan di Indonesia. Temuan penelitian, selain dalam rangka replikasi, revisi, elaborasi dan modeling teori baru, juga dapat merupakan gambaran pada umumnya tentang hibridisasi tradisi umat beragama, dan perbaikan sistem hubungan antara negara (state) dengan komunitas beragama di masyarakat (society). Salah satu dari pengembangan teori adalah penilaian ulang atas konsep teori Weber6tentang dischantment of the world yang berasumsi bahwa agama, menurut dia adalah sebagai sumber dinamika perubahan sosial, bukan agama sebagai peneguhan

6 Weber menelaah agama dari segi dampaknya terhadap masyarakat. Agama ada sangkut pautnya dengan penciptaan budaya. Bukunya The Protestant Ethics and The Spirit of Capitalism merupakan rintisan penelitian dan pendekatan baru dalam abad XX mengenai peranan kreatif agama dalam pembentukan kebudayaan. Perubahan kebudayaan terjadi pada saat manusia menerapkan akal budi dalam kehidupan sosial. Ini disebutnya “rasionalisasi”, yang akhirnya membawa masyarakat pada dominasi teknologi dan birokrasi serta orientasi pragmatis dan efisiensi. Tendensi ke arah rasionalisasi tumbuh dan didorong oleh agama sendiri dalam hal ini agama Kristen, terutama dalam Protestantisme. Rasionalisasi ini akan membawa tersingkirnya agama dari kebudayaan dan masyarakat dan terciptanya dunia yang sekuler. “kerangka makna” manusia modern tidak lagi bersifat religius. Pandangan Weber ini mirip dengan pandangan August Comte, sejauh keduanya melihat konflik yang tak terhindarkan antara agama dan modernitas dan meramalkan keunggulan kesadaran manusia moderen terhadap agama. Tetapi kedua teori ini sekaligus bertentangan. Bagi Comte meredupnya agama merupakan akibat perkembangan ilmu pengetahuan yang membebaskan dan memberikan pencerahan, sedangkan Weber berpandangan bahwa meredupnya agama adalah akibat dari pandangan dunia ilmiah, rasional dan utilitarian.

(22)

struktur masyarakat. Menurut Weber, semakin rasional tindakan manusia akan semakin terputus dari dunia spiritualitas. Selain Weber, penelitian ini juga dipergunakan untuk menilai ulang atas pokok pemikiran Peter L. Berger tentang agama. Agama, menurut Peter L. Berger dianggap sebagai universum simbolik.

Universum simbolik di sini dipahami sebagai bentuk proyeksi manusia atas kondisi-kondisi eksistensial dalam kehidupannya sehari-hari. Manusia, dalam eksistensi kehidupan sehari-harinya tersebut, mengalami apa yang disebut oleh Berger sebagai “keberhinggaan eksistensial”.7 Demikian pula implikasi dari analisis semacam ini, akan mengarah kepada temuan solusi rancangan besar (grand design) bagaimana merespon konflik seperti mencegah konflik laten, menyelesaikan konflik di permukaan dan konflik terbuka, mengelola konflik laten dan di permukaan, resolusi konflik terbuka dan transformasi konflik laten dan di permukaan serta terbuka8yang kian marak terjadi di era reformasi ini.

2. Kontribusi Kebijakan

Diharapkan pula hasil penelitian dapat memberikan sumbangan yang berani bagi pihak Pemerintah c.q. Departemen Sosial, keamanan, politisi dan lembaga swadaya masyarakat, dalam penerbitan keputusan, pemasokan bantuan, penggunaan komunikasi, strategi sekuritas atas semua kebutuhan dan perangkat-- perangkat kehidupan damai berbangsa dan bernegara. Di sisi lain khususnya bermanfaat bagi eksekutif termasuk anggota legislatif dalam menambah pengetahuan dan wawasan yang lebih luas, sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan untuk merumuskan kehidupan harmoni di masyarakat serta sebagai bahan masukan bagi penanganan konflik kerusuhan dan resolusinya,

7 Analisis atas masalah ini dalam rangka untuk memahami secara lebih mendalam dan komprehensif kaitan antara hakikat dan posisi manusia dengan agama dalam eksistensi kehidupan sehari-harinya dengan kecenderungan teoritisasi atas fungsi dan realitas agama dalam dunia ilmiah.

(Peter L. Berger and Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge, (New York: Anchor Books, 1967), hlm. 103).

8 Istilah merespon konflik dijelaskan Simon, Fisher dkk. Working with Conflict: Skill and Strategies for Action. London: Zed Book: Ltd. 2000. (Terj. Karikasari, Mengelola Konflik:

Keterampilan dan Slrategi untuk Bertindak, London: The British Council, Jakarta, 2001, Bab I).

Merespon konflik meliputi pencegahan konflik, yang bertujuan mencegah timbulnya konflik.

Penyelesaian konflik bertujuan mengakhiri perilaku kekerasan melalui persetujuan damai, pengelolaan konflik bertujuan untuk membasmi dan menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku yang positif bagi pihak-pihak yang terlibat dan tranformasi konflik adalah mengatasi sumber konflik sosial dan politik yang lebth luas; dan berusaha mengubah kekuatan negatif dari peperangan menjadi kekuatan sosial.

(23)

sehingga senantiasa dapat mengantisipasi kemungkinan terjadinya kerusuhan sosial. Penelitian harmoni sangat penting dilaksanakan dalam upaya pencegahan konflik. Hasil penelitian dapat menjadi rujukan bagi masyarakat beragama tentang pentingnya hibridisasi tradisi dalam menunjang kerukunan dalam kehidupan umat beragama dengan melakukan penelesuran wacana-pengetahuan mereka. Pada gilirannya, setelah mengetahui landasan pengetahuan masyarakat mengenai harmoni yang meliputi konsep dasar harmoni, tipifikasi terhadap komunitas agama lain, dan ciri sosial budaya yang berpengaruh terhadap pengembangan harmoni, dapat dijadikan refleksi kritis atas situasi sosial Indonesia yang sarat dipenuhi oleh konflik etnis-relijius.

3. Penelitian Lanjutan

Dari segi kegiatan penelitian, diharapkan dapat mendorong peneliti lain untuk melakukan studi lanjutan atau studi komparatif tentang hibridisasi tradisi dalam menunjang kerukunan dalam kehidupan umat beragama. Hal ini dapat menambah perbendaharaan hasil kajian empirik dan memberikan kerangka teori untuk menjelaskan konsepsi hibridisasi tradisi dalam pluralitas beragama secara konstruktif. Pada penelitian lanjutan diharapkan dapat dijadikan sebagai titik tolak untuk penelitian lanjutan elaborasi atau antitesis, terutama berkaitan dengan pemahaman dan konsep kunci kerukunan dalam bingkai keberagamaan, sehingga mampu menyusun "hukum-hukum sosial" tentang kehidupan rukun yang relevan dengan kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia. Hasil penelitian ini juga menjadi sumbangan berarti bagi pengembangan teori-teori sosiologi, antropologi, teologi, hukum dan ekonomi, khususnya wilayah kajian lintas etnis dan agama masyarakat Indonesia sehingga melahirkan penelitian baik bersifat perluasan, pengulangan atau uji coba yang berupa action research (penelitian partisipatoris).

E. Penelitian Terdahulu

Penelitian Karliani tentang hubungan antar etnik di kota Palangka Raya9, mengungkapkan bahwa, Pembinaan masyarakat multikultural diperlukan dalam

9 Eli Karlina, 2009, Pembinaan Masyuarakat Multikultural dalam Meningkatkan Integrasi Bangsa (Studi Kasus Hubungan antaretnik di kota Palangka Raya), Jurnal Acta Civicus Vol. 3, No.1, Oktober 2009.

(24)

meningkatkan integrasi bangsa karena masyarakat secara etnik, agama, bahasa, budaya, maupun karakter individunya”.

Peneliti Lubis tentang integrasi sosial dan komunikasi antar budaya10, hasilnya bahwa “Perubahan efektivitas komunikasi antar budaya antar etnik dapat dilakukan tidak saja melalui peningkatan integrasi sosial tetapi perubahan faktor- faktor yang mendahului integrasi sosial”.

Sementara penelitian Hemafitria tentang Pengembangan wawasan multikultural dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama11, bahwa kesimpulannya “Implikasi pemahaman multikultural dalam kerukunan antar umat beragam yakni terwujudnya masyarakat tidak saja mempunyai perbedaan, tetapi mampu hidup saling menghargai, menghormati secara hukum. Komunikatif dan terbuka, tidak saling curiga, mempererat terhadap keragaman keyakinan, tradisi, adat maupun budaya”. Sedangkan aktualisasi implikasi dari pemahamannya mempunyai bentuk: (a) interaksi sosial yang meliputi pembauran yang harmonisasi antar etnik dan agama, (b) kerja sama, seperti arisan atau arisan perkawinan, arisan sunatan, arisan kematian, dan gotong royong yang memiliki fungsi sebagai perakat sosial, sebagai modal sosial dan dapat berfungsi memperkokoh identitas kelompok melalui suatu norma khusus, (c) sikap toleransi mengikuti agama dan kepercayaan orang lain yang diwujudkan dengan kebebasan melaksanakan ajaran agama masing-masing yaitu perayaan natal bersama, hal bil halal bersama”.

Selanjutnya penelitian Rajalon, Pergeseran nilai masyarakat Pasca konflik etnik di Maluku Utara Implikasinya pada Intergasi Nasional.12 Hasil penelitiannya adalah “Sebelum konflik, masyarakat Ternate sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya seperti adat istiadat, kesusilaan (moral), hukum, kekerabatan, toleransi, gotong-royong, dan lain-lain, nilai-nilai ini kemudian sanggup menyatukan masyarakat Ternate yang sangat heterogen, kehidupan masyarakat saat ini sangat harmonis, tidak ada gangguan-ganguan keamanan yang berarti, hubungan antara agama yang satu dengan agama yang lainnya terjalin baik, demikian juga hubungan

10 Suwardi Lubis, 1998, Integrasi sosial dan komunikasi antar budaya.

11 Hemafitria, 2009, Pengembangan wawasan multikultural dalam menciptakan kerukunan antar beragama, Pontianak.

12 Rajalon, 2009, Pergeseran nilai masyarakat Panca Konflik etnik di Maluku Utara Implikasinya pada Integrasi Nasional.

(25)

antar suku (etnik) yang satu dengan suku (etnik) lainnya sangat harmonis, rukun, dan rasa kekeluargaan terjalin erat. Akan tetapi dengan terjadinya konflik etnik tersebut, masyarakat mengalami perubahan-perubahan nilai-nilai budaya, etika, pola pikir, toleransi, mengganggu (tidak harmonisnya) hubungan antar anggota masyarakat yang berbeda etnis dan agama, serta marak terjadinya tindakan- tindakan anarkis amoral, yang sangat meresahkan masyarakat, khususnya masyarakat Ternate dan Maluku utara, bahkan secara umum dapat mengancam integrasi nasional bangsa Indonesia.

Pada tahun 2001, Depag menerbitkan dua buah buku yang masing-masing berjudul, "Mereduksi Eskalasi Konflik Antarumat Beragama di Indonesia”13dan

"Mewaspadai dan Mencegah Konflik Antara Umca Beragama".14 Kedua buku tersebut ditulis oleh berbagai kalangan tokoh agama ini, yang isinya memberikan penyelesaian terhadap konflik antarumat beragama di Indonesia dari berbagai- bagai aspeknya. Selain buku-buku yang diterbitkan oleh Depag, masih banyak lagi tulisan yang membahas tentang pluralisme, toleransi, dialog antaragama, konflik- konflik agama di Indonesia dan berbagai solusi yang ditawarkan.

Azyumardi Azra menulis buku, "Konteks Berteologi di Indonesia Pengalaman Islam”.15 Buku ini menguraikan tentang kerukunan hidup umat beragama menurut perspektif Islam dalam hubungannya dengan agama-agama lain.

Budhy Munawar Rachman menulis sebuah buku, "Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kelompok Beriman".16 Buku ini secara umum menjelaskan tentang paradigma pluralis yang diharapkan dapat menjadi pemicu peranan agama menghadapi masalah-masalah hidup kekinian dengan mengungkapkan dasar-dasar teologis dalam menghadapi tantangan pluralisme agama.

13 Zainuddin Daulay (ed), 2001, Mereduksi Eskala Konflik Antara Umat Beragama Indonesia, Jakarta-Depag.

14 Tholkhah Hasan, 2001, Mewaspadai dan Mencegah Konflik Antara Umat Beragama, Jakarta: Depag.

15 Azyumardi Azra, 1999, Konteks Berteologi di Indonesia Pengalaman Islam, Jakarta:

Paramadina.

16 Budhy Munawar Rachman, 2001, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, Jakarta: Paramadina.

(26)

Tulisan Humaidy dan Irfan, tentang Demokrasi dan Budaya Banjar Modal Kultur untuk penguatan Masyarakat sipil,17 bahwa demokrasi dijadikan sebagai tujuan, bukan sebagai “cara hidup”. Kultural demokrasi ini, membentuk bagaimana sebuah demokrasi yang baik dibayangkan dan diyakini sehingga melahirkan sikap-sikap dan tindakan-tindakan yang sesuai dengan tuntutan demokrasi. Relevansi dari apresiasinya nilai-nilai demokrasi pada akar budaya Banjar adalah usaha untuk menginventarisir kembali modal sosial yang dibutuhkan dalam perjalanan transisi demokrasi yang sedang dijalankan. Untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai demokrasi diperlukan pembinaan dan pengolahan terus-menerus. Salah satu dari usaha yang dilakukan adalah menumbuhkembangkan apresiasi budaya lokal terhadap nilai-nilai demokrasi yang telah dicita-citakan. Hanya dalam suasana demokratislah, sebuah masyarakat sipil akan berkembang dan tumbuh dengan kuat”.

Dalam penelitian ini yang merupakan keunggulan, dibanding dengan penelitian yang terdahulu, bahwa mengungkap alasan anggota masyarakat mengembangkan konstruksi identitas kultural baru yang menampung keberagaman identitas kultural lokalitas partikularistik tradisional, mekanisme pembentukan hibridisasi tradisi dan pengaruh hibridisasi tradisi terhadap kerukunan umat beragama intern umat Islam di Jampirogo Sooko Mojokerto.

Dalam hal ini, karya ini dapat dijadikan sebagai model percontohan kerukunan antar umat beragama melalui hibridisasi tradisi guna mewujudkan integrasi sosial.

F. Kerangka Pemikiran

Nilai yang berhubungan erat dengan kultur masyarakat, pada gilirannya termanifestasi pada motif-motif kepribadian individu-individu sebagai anggota masyarakat. Markus dan Kitayama18berpendapat bahwa setiap individu-individu sebagai anggota masyarakat sebenarnya menggambarkan suatu mikrokosmos kultur. Sedangkan Goodenough19berpendapat bahwa kultur itu merupakan ide-ide

17 Humaidy & Irfan Noor, “Demokrasi dan Budaya Banjar Modal Kultural untuk Menguatkan Masyarakat Sipil”, dalam Jurnal Kebudayaan Kandil, No. 5, Mei-Juli 2010.

18 D. Oyserman, and MJ Packer, 1996, "Social Cognition and Self-concept: A Socially Contextualized Model of Identity", in JL Nye and AM Brower (ed), What's Social About Social Cognition?, London: SAGE, pp. 175-204.

19 RW. Casson, 1981, Language, Culture, and Cognition: Anthropological Perspectives, NY: Macmillan.

(27)

yang ada dalam sistem kognitif atau ideal cognitive system individu-individu sebagai anggota masyasrakat. Pandangan Goodenough ini berbeda dengan pandangan Geertz yang menganggap kultur itu ada di antara individu-individu dalam proses interaksi. Adisubroto dengan teori nilai Kluckhohn menegaskan bahwa nilai banyak didasarkan pada kegunaan sesuatu dengan pertimbangan kognitif dan bukan melalui pertimbangan emosi atau afeksi.20

Berkenaan dengan penekanan pada pertimbangan kognitif, Ellis memperkenalkan konsep sistem belief, yaitu pola pemikiran atau pemaknaan yang dikembangkan oleh individu-individu sebagai anggota masyarakat terhadap fenomena sosial yang dihadapi atau yang dialaminya.21 Douglas22 berpendapat bahwa sistem klasifikasi kognitif berkaitan erat dengan tertib moral. Oleh karena itu, keteraturan tindakan individu-individu sebagai anggota masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, atau ritme kehidupan keseharian, berhubungan erat dengan pertimbangan kognitif mereka. Berkaitan dengan suatu pertimbangan yang mendasari ritme kehidupan keseharian individu-individu sebagai anggota masyarakat, selanjutnya Bourdeau mengembangkannya dalam konsep habitus.23

Nilai yang berhubungan secara erat dengan kultur, pada gilirannya juga berhubungan erat dengan pola hubungan sosial masyarakat. Thompson et.al.

menggambarkan hubungan antara nilai-nilai kultural (cultural bias) dan pola-pola hubungan sosial masyarakat (social relations) sebagai hubungan saling meneguhkan (compatibility conditions).24 Hubungan kedua komponen tersebut selanjutnya termanifestasi dalam cara hidup (way of life) atau tipologi sosialitas mereka. Dengan kata lain, realitas tipologi sosialitas masyarakat merupakan manifestasi dan nilai yang diyakini dan dikembangkan oleh individu-individu sebagai anggotanya, begitu Pula sebaliknya. Berkenaan dengan hal itu, Thompson

20 D. Adisubroto, 1987, "Orientasi Nilai Orang Jawa Serta Ciri-ciri Kepribadiannya", Disertasi, Yogjakarta: UGM.

21 A. Ellis, 1982, "Rational Emotive Therapy", in G Corey (ed), Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy, Monterey, California: Brooks/ Cole Publishing Company, pp. 170- 183.

22 Douglas (1987) "The Behavior Attitudes", in M. Fishbein (ed), Readings In Attitudes Theory and Measurement, NY: John Willey & Sons, Inc. pp. 42-50.

23 Pierre Bourdieu, "Structure, Habitus, Power: Basis for a Theory Symbolic", in NB Dirks et al (ed), Culture/ Power/ History: A Reader Contemporary In Social Theory, Princeton, New Jersey: Princeton University Press, pp. 155-198.

24 M. Thompson, and A Wildaysky R Ellis, 1990, Cultural Theory, Boulder, San Francisco:

Westview Press.

(28)

et.al. menggunakan konsep mitos alam (the myth of nature) yang merupakan suatu nilai tertentu yang diyakini dan dikembangkan oleh anggota masyarakat.

Adisubroto juga menyimpulkan bahwa nilai merupakan keyakinan dan sebagai standar sikap yang relatif konsisten hubungannya dengan perbuatan, tindakan atau cara bertingkah laku.26

Orientasi nilai individu sebagai anggota masyarakat merupakan disposisi nilai tindakan yang terbentuk dari pengalaman hidupnya. Pengalaman hidup individu sebagai anggota masyarakat merupakan serangkaian aktivitas yang dilaluinya dengan mengikuti tradisi atau ritme-ritme kehidupan keseharian mereka.

Tradisi tersebut tampaknya menggambarkan suatu cultural taste tertentu yang bergantung konteksnya, sehingga menunjukkan adanya saling keterkaitan antara orientasi nilai individu sebagai anggota masyarakat dan kondisi sosial di mana mereka hidup.

Studi ini berpandangan bahwa kondisi sosial individu sebagai anggota masyarakat, atau "habitat", merupakan tempat tersedianya segala informasi yang menyangkut kehidupan sosio-kultural bagi mereka. Jenis informasi tertentu tidak secara langsung menentukan bentuk tindakan sebagaimana yang diharapkan oleh maksud informasi. Pemaknaan dan pemikiran individu-individu sebagai anggota masyarakat, atau "habitus", yakni bagaimana mereka memikirkan atau memaknai informasi yang diterimanya berdasar atas orientasi nilai dominan yang dikembangkannya, merupakan penentu bentuk tindakan yang dimunculkan, atau

"habit"-nya. Namun demikian, hubungan antara ketiga komponen tersebut—

habitat, habitus, dan habit—tetap saling meneguhkan. Hubungan yang saling meneguhkan ini berlangsung dalam tiga momen secara simultan.

Sehubungan dengan pemikiran dialektis di atas, maka kenyataan sosial lebih diterima sebagai kenyataan ganda daripada hanya suatu kenyataan tunggal.

Kenyataan kehidupan sehari-hari memiliki dimensi-dimensi obyektif dan subyektif. Manusia adalah pencipta kenyataan sosial yang obyektif melalui proses

"eksternalisasi", sebagaimana kenyataan obyektif mempengaruhi kembali manusia melalui proses "internalisasi" (yang mencerminkan kenyataan subyektif).

25 M. Thompson, and A Wildaysky R Ellis, 1990, Cultural Theory,….

26 D. Adisubroto, 1987, "Orientasi Nilai Orang Jawa Serta Ciri-ciri Kepribadiannya", Disertasi, Yogjakarta: UGM.

(29)

Sehubungan dengan hal itu, Berger menyatakan, “Semua realita berada dalam proses dialektik yaitu dialektik antara self dan body (atau antara organisme dan identitas), dan dialektik antara self dan dunia sosio-kultural".27

. Proses dialektik tersebut menurut Berger terdiri dari tiga tahap, yaitu:

eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Internalisasi terjadi melalui proses sosialisasi. Melalui eksternalisasi, maka masyarakat itu merupakan suatu produk manusia. Melalui objektivasi, maka masyarakat itu menjadi suatu realita. Melalui internalisasi, maka manusia merupakan produk masyarakat

Dengan kemampuan berpikir dialektis, di mana terdapat tesa, antitesa, dan sintesa, maka dapat dikatakan bahwa masyarakat sebagai produk manusia dan manusia sebagai produk masyarakat. Dialektika itu berlangsung dalam suatu proses dengan tiga "momen" simultan, yakni: eksternalisasi (penyesuaian diri dengan dunia sosio-kultural sebagai produk manusia), obyektivasi (interaksi sosial dalam dunia intersubyektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi), dan internalisasi (individu mengidentifikasikan diri dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya).

Berdasar pada pemikiran tersebut, hubungan antara manusia (sebagai produsen), dan dunia sosial (sebagai produknya), tetap merupakan hubungan yang dialektis. Manusia (tentunya tidak dalam keadaan terisolasi, tetapi dalam kolektivitas-kolektivitasnya) dan dunia sosialnya, berinteraksi satu sama lain.

Produk berbalik mempengaruhi produsennya. Eksternalisasi dan obyektivasi merupakan momen-momen dalam suatu proses dialektis yang berlangsung terus- menerus. Momen ketiga dalam proses ini, yakni internalisasi dengan mana dunia sosial yang sudah diobyektivasi dimasukkan kernbali ke dalam kesadaran selama berlangsungnya sosialisasi. Inti dan proses sosialisasi adalah agar individu menjadi anggota masyarakat, yakni belajar kultur masyarakat itu dan berpartisipasi sepenuhnya dalam masyarakat itu. Kondisi sosial tempat di mana manusia berinteraksi, pemaknaan atau pemikiran mereka terhadap kondisi sosialnya, serta perilaku dan tindakan mereka, berhubungan secara saling meneguhkan. Manusia

27 Berger, PL and T. Luckman, 1966. The Social Construction of Reality, Garden City:

Doubleday.

(30)

dengan pemaknaan dan pemikirannya mengenai identitas kulturalnya yang telah mapan dalam struktur kognitif yang dikembangkannya, memproduk perilaku dan tindakan, sebagai reaksi terhadap kondisi sosialnya. Pada waktu yang sama, habitnya mempengaruhi habitat. Selanjutnya, habitat yang berubah menuntut pengembangan habitus baru, sehingga memproduk habit baru. Begitu seterusnya.

Hubungan antarkomponen tersebut berlangsung dalam tiga momen secara simultan, dan masing-masing berhubungan secara saling meneguhkan. Dengan meminjam istilah dari Bandui), pola hubungan seperti itu diistilahkan dengan interlocking determinants, dan Thompson et.al. menyebutnya dengan compatibility conditions.28

Etnografi komunikasi dikembangkan dalam disiplin antropologi dan linguistik, salah satu pengembangannya yaitu analisis Cultural Discourse. Suatu pendekatan dan analisis dalam memahami dinamika suatu kebudayaan dari muatan wacana dalam berbagai proses komunikasi pada suatu kebudayaan.29

Cultural discourse merupakan uraian eksplisit maupun implisit mengenai cara hidup dan rumusan baku dalam memandang kepribadian, hubungan sosial, tempat tinggal, komunikasi, dan emosi.30Suatu cultural discourse ditunjukkan dan diidentifikasi dari symbol, sistem simbol, seni, aturan, bentuk contoh, metaphor, dan makna-maknanya. Konten wacana meliputi hal-hal penting dalam kehidupan sehari hari, seperti: pendidikan atau teknologi, aksional, dan afiliatif. Budaya sebagai suatu wacana yang mengalami kontekstualsasi makna yang relevan pada situasi suatu komunitas, perkembangannya dinamis melalui kontestasi dan interaksi. Salah satu hasil dinamika wacana pada suatu komunitas, yaitu terjadinya perpaduan atau hibridisasi.

Istilah hibridisasi, hibriditas dan hybrid awalnya dipopulerkan oleh Homi K. Bhaba dalam studi-studi post-kolonial yang menelusuri identitas kultural masyarakat dalam suatu benturan kebudayaan, antara barat dan timur atau bangsa

28 Thompson et al (1990)

29 D. Carbaugh, 2008. “ Putting Policy in its Place through Cultural Discourse Analysis”, Donal Carbaugh. Communication, 55–64.

30 D. Carbaugh, et.al., 2011, Discursive reflexivity in the ethnography of communication:

Cultural discourse analysis. Cultural Studies-Critical Methodologies, 11(2), 153–164.

(31)

terjajah dan penjajah terhadap masyarakat pasca kolonial. Pada penelitian ini, istilah-istilah tersebut digunakan dalam ruang lingkup yang lebih sempit, yaitu antara intervensi pembangunan pertanian dan budaya pertanian di suatu komunitas. Hibridisasi merupakan proses yang akomodatif dari kedua kutub yang berbeda, sehingga membentuk cara baru yang tidak menimbulkan dikotomi dan resistensi.32

G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif, yang bertujuan menggali atau membangun suatu proposisi atau menjelaskan makna di balik realita. Peneliti berpijak dari realita yang terjadi di lapangan, yaitu hidupnya suatu tradisi yang semula dianggap homogen atau dipandang mengikuti ritme kehidupan keseharian yang hidup di kalangan tertentu. Ritme kehidupan keseharian tersebut tampaknya telah dipandang sebagai identitas kultural individu-individu sebagai anggota masyarakat secara keseluruhan yang menggambarkan orientasi nilai dalam kehidupan sosialnya. Apa yang dihadapi dalam penelitian ini adalah dunia sosial kehidupan sehari-hari.

Fokus perhatian dalam penelitian ini adalah pada kehidupan kultural sehari-hari. Dengan berdasar pada fokus perhatian ini, kawasan penelitian ini menekankan pada tradisi-tradisi kultural yang hidup di masyarakat. Tradisi-tradisi kultural itulah yang menjadi pijakan dalam pengumpulan data. Selanjutnya, studi ini juga memperhatikan pernyataan Anderson33 bahwa sifat dan tingkatan komunitas itu sebagian besar merupakan persoalan definisi individual. Oleh karena itu, dalam pengumpulan data wakil unit-unit studi ini menekankan pada tata cara pelaksanaan tradisi, nilai-nilai yang melandasinya, dan yang lebih penting adalah pemahaman atau pemaknaan individu-individu sebagai anggota masyarakat terhadap tradisi.

31 D. Darmawan, 2012, “Jangan Bakukan Aku” Identitas Hybrid Islam di Indonesia.

Kawistara, 2(c), 105–224.

32 R. Sakamoto, 1996, Japan, Hybridy and the Creation of Colonialist Discourse. Theory, Culture & Society, 13(3): 113.

33 Benedict Anderson, 1983, Imagined Community, London: Routledge.

(32)

2. Subyek Penelitian

Penelitian dilakukan di lingkungan Desa Jampirogo, Kec. Sooko, Kab.

Mojokerto. Adapun subjek penelitian ini adalah masyarakat yang memiliki akses atau terlibat aktif dengan kegiatan beragama. Informan yang dipilih terdiri dari orang-orang yang dapat memberikan informasi tentang masalah relasi sosial, seperti tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh organisasi sosial dan keagamaan, aparat pemerintah setempat dan petani.

Para informan awal (key informan) ditentukan dengan tehnik purposive sampling dan kemudian diperluas dengan strategi snowball sampling.

Secara lebih khusus, subyek yang akan menjadi key informants dalam penelitian ini adalah aktor-aktor dari kelompok (unsur): (a) Tokoh atau unsur pimpinan organisasi keagamaan, (b) Tokoh adat masyarakat setempat, (c) Tokoh atau unsur pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) bukan keagamaan, (d) Unsur pimpinan atau aktifis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang ada di daerah sampel penelitian, (e) Unsur pimpinan partai politik (parpol), (f) Unsur pimpinan atau pengurus organisasi profesi pengusaha, (g) Unsur akademisi (dari perguruan tinggi setempat) dan aktifis organisasi kemahasiswaan intra kampusnya, dan; (h) Unsur aparat pemerintah.

3. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan rincian sebagai berikut: (1) Langkah Pengumpulan Data.

Sejumlah tindakan studi selama di lapangan, terutama yang berkaitan dengan proses pengumpulan data, beragam metode digunakan: mulai dari wawancara tak berstruktur, pengamatan langsung, interpretasi dokumen sejarah oral dan pribadi, hingga introspeksi dan refleksi-diri. Dengan demikian, triangulasi akan diperlakukan sebagai suatu alternatif bagi validasi, bukan alat atau strategi validasi.

(2) Langkah Klarifikasi Data. Data yang terkumpul kemudian diinterpretasi dengan mempertimbangkan pemahaman para informan. Tak jarang terjadi perbedaan penafsiran terhadap data tentang peristiwa yang sama. Menghadapi situasi demikian, diusahakan mengklarifikasikannya kembali pada kesempatan lain dengan melibatkan lebih banyak informan. (3) Langkah Pelaporan. Setelah

(33)

melakukan klarifikasi data lapangan untuk mencapai tingkat kongruensi dan konsistensi, langkah selanjutnya adalah menarik abstraksi- abstraksi teoretis terhadap informasi lapangan tersebut, dengan pertimbangan agar menghasilkan pernyataan-pernyataan yang memungkinkan dianggap mendasar dan universal.

Meskipun demikian, peneliti tetap melakukan verifikasi atau mendeskripsikan informasi tersebut yang sesuai atau berhubungan sangat dekat dengan pemahaman informan, self-intersubjective. Gambaran atau informasi tentang peristiwa atas obyek ini mempertimbangkan derajat koherensi internal, masuk akal, dan berhubungan dengan peristiwa faktual dan realistik.

4. Analisis Data

Analisis data dalam studi ini berlangsung bersamaan dengan proses pengumpulan data, atau melalui tahapan-tahapan model alir dari Miles dan Huberman (1992), yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi yang berjalan secara simultan.34

Pada tahap reduksi data, peneliti memusatkan perhatian pada data lapangan yang telah terkumpul. Data lapangan tersebut selanjutnya dipilih, dalam arti menentukan derajat relevansinya dengan maksud studi. Selanjutnya, data yang terpilih disederhanakan, dengan cara mengklasifikasi data atas dasar tema-tema:

memadukan data yang tersebar, menelusur terra untuk merekomendasi data tambahan. Kemudian, peneliti melakukan abstraksi data kasar tersebut menjadi uraian singkat atau ringkasan.

Pada tahap penyajian data, peneliti melakukan penyajian informasi melalui bentuk teks naratif terlebih dahulu. Selanjutnya, hasil teks naratif tersebut diringkas ke dalam bentuk bagan yang menggambarkan alur proses perubahan kultural: dari monokulturalitas ke interkulturalitas. Masing-masing komponen dalam bagan merupakan abstraksi dari teks naratif data lapangan. Kemudian, peneliti menyajikan informasi hasil studi mendasarkan pada susunan yang telah diabstraksikan dalam bagan tersebut.

34 Dikutip dari Miles and Huberman (1994: 429) dalam Data Management and Analysis.Methods.

Gambar

Grafik 2.8  Tren Kenaikan PDRB
Tabel 2.29  Jumlah produk hukum
Tabel 2.31  Jumlah keluarga miskin

Referensi

Dokumen terkait

The results answered the research questions of the study, which are; what are the levels of the 4 th semester students‟ ELCA (English Language Classroom Anxiety) in

After discussing two criteria above, sufficient syntactical shift will be the next criterion discussed in this part. This criterion means that the paraphrases

In matching, based on the rubric which is adapted from Kunandar book, there are 9 indicators that need to be fulfilled (see appendix 1). Then if the assessment is able

1) Pada sesi pertama, dimulai dengan pertemuan pertama di dalam kelas B3 yang pada saat itu mereka baru saja selesai jam mata kuliah Psikologi Dakwah. Sebelumnya

Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana dan Pengujian Hipotesis Pada penelitian ini pengujian hipotesis menggunakan teknik analisis regresi linear sederhana, yaitu untuk

pemilih bedasarkan usia resonden.. 3) Analisis Untuk Menguji Hipotesis Seberapa Besar Pengaruh Asal Daerah Mahasiswa Universitas Islam Sunan Ampel Surabaya Terhadap

Kampus merupakan pusat kegiatan utama mahasiswa maupun mahasiswi yakni tempat untuk menimba ilmu pengetahuan, wawasan serta pengalaman. Oleh karena itu, ketika berada

Untuk mencapai tujuan mendapat teks asli itu digunakan metode stemma yang dikembangkan oleh Lanchmann. Sarana utama metode stemma adalah kesalahan bersama yang terdapat