LANDASAN TEORI
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3. Modifikasi Tradisi
Konsep sosialisasi tidak sepenuhnya mampu menjawab perubahan-perubahan tradisi dalam kehidupan sehari-hari. Sosialisasi sebenarnya merupakan suatu proses hegemonisasi pemikiran individu sebagai anggota masyarakat. Dalam
tesis hegemoni3, mekanisme kontrol kelompok yang berkuasa untuk mempertahankan superioritasnya tidak hanya terbatas pada kontrol atas cara produksi, tetapi yang lebih penting adalah kontrol melalui hegemoni ideologis.
Melalui hegemoni ideologis kepatuhan bisa dipaksakan dan perlawanan bisa dipatahkan atau dilenyapkan. Kelas yang berkuasa bisa menjadi kelas yang paling berpengaruh hanya jika ideologinya mampu mengakomodasikan, dan memberikan ruangan kepada kultur dan nilai-nilai kelas yang melawannya. Dengan demikian, proses hegemonik tidak pernah sempurna di dalam dirinya sendiri, tetapi selalu dinegosiasikan. Kelompok yang berkuasa berupaya memenangkan hegemoni, sementara kelas yang dikuasai berusaha bertahan melalui kontra hegemoni.
Berdasar pemikiran itu, proses sosialisasi berjalan tidak mengikuti alur linier.
Sebagaimana diakui oleh Homans (1961) bahwa sebenarnya kontinuitas kultur dari satu generasi ke generasi selanjutnya bukanlah proses sosialisasi, tetapi kenyataan bahwa anggota masyarakat penerusnya memberikan respons dan beradaptasi dengan sejumlah kenyataan historis yang sama dengan kenyataan yang dihadapi oleh generasi sebelumnya. Ketika kenyataan-kenyataan historis ini berubah, orang akan mengubah cara mereka memberikan respons dan beradaptasi, walaupun berhadapan dengan tekanan keras para pendahulu mereka agar mempertahankan pola-pola respons lama. Sehubungan dengan hal itu, perubahan sebenarnya terjadi tanpa adanya sosialisasi. Sanderson (1995) memandang bahwa perubahan itu lebih merupakan modifikasi, ketimbang pemeliharaan, isi kultur tertentu. Sehubungan dengan hal itu, Pieterse (1995) mengatakan hibridisasi tidak hanya mengacu pada saling isi kultur antar lokalitas, tetapi juga pada transisi dan kultur lokalitas ke kultur translokalitas. Sehingga, dalam kultur lokalitas tersebut menunjukkan gejala perubahan dari model indepth menuju model depthless.
Perubahan kultural yang berlangsung di Kedungpring tidak terjadi secara drastis atau revolusioner, tetapi berlangsung secara bertahap melalui pemaduan-pemaduan dan bersifat kondisional. Hal ini dapat diamati pada praktik tradisi nekromansi tahlilan, terutama pada hari pertama hingga mitung didani (hari
3 Gramsci bertujuan membenahi visi humanistik dan Hegelian dari pemikiran Marxis yang semula lebih berorientasi materialistik (hubungan produksi) menjadi berorientasi juga pada ideologi.
Ideologi hegemonik adalah suatu sistem ide yang menguasai pola berpikir masyarakat, tetapi berasal dari, dan menguntungkan lapisan atas masyarakat tersebut.
ketujuh). Tata cara pelaksanaannya, khususnya bacaan spiritual utama yang dibaca—surat Al-ikhlas dan bacaan tahlil—tidak selalu sama atau tetap, baik mengenai jumlahnya maupun macam kalimatnya. Sedangkan bacaan-bacaan spiritual lainnya—sekurang-kurangnya ada 11 macam—jumlah yang harus dibaca relatif konstan. Bahkan akhirakhir ini muncul pula tahlilan yang dipadukan dengan istighasah. Bacaanbacaan istighasah tersebut diselipkan pada bagian akhir tahlilan sebelum doa. Tahlilan paduan ini biasanya dipimpin oleh seorang khalifah tariqat.
Tentu saja waktu yang diperlukan untuk melaksanakan tahlilan paduan ini menjadi lebih lama.
Dalam tahlilan hingga mitung dinani ini, pada kalangan “kaum abangan”
dan “kaum priyayi” biasanya lebih mengedepankan bacaan kalimah tahlil (Lailahaillallah) dalam jumlah tertentu—33, 41, 165, 200, hingga 500 kali—dan surat Al-Ikhlas sekurang-kurangnya tiga kali dan paling banyak 11 kali. Sedangkan pada kalangan “kaum santri” lebih mengutamakan membaca surat Al-Ihlas—
sekurang-kurangnya 100 kali, dan kalimah tahlil yang berkisar antara 33 kali sampai dengan 165 kali. Angka 33 dan 165 merupakan pilihan jumlah bacaan kalimah tahlil yang paling sering diikuti. Angka 33 mengacu pada jumlah bacaan tasbih4 dalam wiridan5 setelah shalat berjamaah, dan angka 165 mengikuti tradisi pengikut tareqat Qadiriyah wan-Naqsabandiyah. Sejumlah warga Kedungpring yang berusia di atas 50 tahun menjadi pengikut aliran tareqat yang berpusat di Rejoso, Mojokerto itu. Oleh karena itu, aliran tareqat ini seringkali dinamakan
"tareqat Njoso". Wadah ritual spiritual bagi pencari hakekat hidup ini masuk ke Kedungpring pada masa Bari, atau masa ketika tareqat Njoso dipimpin oleh K.H.
4 Bacaan tasbih terdiri dari tiga kata yang masing-masing dibaca sebanyak 33 kali. Kata-kata bacaan tasbih tersebut adalah: (a). Subhanallah, yang artinya Maha Suci Allah, (b).
Alhamdulillah, yang artinya Segala Puji Hanya Bagi Allah, dan; (c). Allahuakbar, yang artinya Allah Maha Besar. Bacaan tasbih ini biasanya dibaca sesudah mendirikan shalat, terutama dalam shalat berjamaah.
5 Masyarakat Kedungpring mempunyai tradisi "doa bersama" yang dinamakan wiridan setelah mendirikan shalat berjamaah di masjid atau langgar. Dia bersama ini dipimpin langsung oleh imam shalat. Bacaan utama dalam wiridan ini terdiri atas tiga elemen, yaitu: (a). Istighfar, yakni membaca astaghfirullah...yang intinya adalah memohon ampunan atas segala dosa-dosa yang telah diperbuat, baik bagi dirinya sendiri maupun pihak lain. Pihak lain yang dimohonkan ampunan dosa dalam istighfar ini adalah orang tua, semua penghuni kubur, semua semua orang Islam (laki-laki dan perempuan) dan semua orang beriman (laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup atau yang sudah mati. (b). Membaca tasbih; sebagaimana disebutkan di atas.
(c). Berdoa secara kolektif. Namun demikian, wiridan tidak jarang dilakukan secara individual bagi mereka yang tidak mengikuti shalat berjamaah.
Romli Tamim (pendiri Pondok Pesantren Darul 'Ulum). Bagi mereka yang telah dibaiat menjadi pengikutnya berkewajiban membaca kalimah tahlil sebanyak 165 kali setiap habis shalat fardlu. Berdasar pada tradisi wiridan dan tareqatan inilah maka angka 33 dan 165 lebih mudah diingat oleh pemimpin tahlil.
Dengan tidak diutamakannya tata cara baku dalam tahlilan, di Kedungpring pernah muncul "tahlil super singkat". Tata cara tahlilan yang effisien waktu ini adalah:
a. Diawali dengan ‘kirim-fatehah’,
b. Kemudian membaca surat an-nashr sebanyak tujuh kali, c. Lalu bacaan tahlil 11 kali, dan;
d. Langsung ditutup dengan doa.
Tahlil super singkat ini pertama kali muncul pada Slametan tahlilan di rumah Agung. Tahlil super singkat ini dilakukan atas dasar kesepakatan antara permintaan warga peserta dan keinginan pemimpin tahlil. Pada waktu itu, mereka ingin segera menyaksikan pertandingan final sepakbola piala Eropa. Hal ini sebagaimana diceritakan kembali oleh beberapa warga Kedungpring berikut ini,
Pada waktu tahlilan di rumah Agung, pemimpin tahlilnya adalah Mbah Nur. Beliau termasuk salah seorang sesepuh “kaum santri” yang gemar menonton tayangan sepakbola di televisi. Pada waktu itu bertepatan dengan jam tayang pertandingan final Piala Eropa. Sebelum acara tahlilan dimulai, beliau menawarkan kepada para peserta untuk memilih antara "tahlilan seperti biasanya" atau "tahlilan yang diper-singkat". Menurut beliau, pahala maupun manfaat kedua bentuk tahlilan tersebut tidak ada bedanya, yang penting ihlas. Bahkan, beliau juga mengatakan bahwa ketimbang memilih tahlilan yang seperti biasanya yang memerlukan waktu lama, para peserta justru menjadi kurang ihlas. Nilai keihlasan menentukan nilai pahala, kata beliau.
Karena sebagian besar peserta juga ingin segera menonton tayangan sepakbola di televisi, akhirnya disepakati memilih tahlilan yang diper-singkat. Jika tahlilan seperti biasanya memerlukan waktu hampir satu jam, tahlilan yang dipersingkat ini hanya memerlukan waktu kurang dari 15 menit. (Teks asli dalam bahasa Jawa).
Adapun tata cara pelaksanaan tahlilan pasca mitung dinani lebih mengedepankan bacaan kalimah tahlil. Pengutamaan bacaan kalimah tahlil pada pasca mitung dinani ini berlaku di hampir semua kalangan. Perbedaan tata cara pelaksanaan di masing-masing kalangan hanya pada jumlah kalimah tahlil yang dibaca. Biasanya, tahlilan pasca mitung dinani yang dilaksanakan di kalangan
“kaum santri” jumlah kalimah tahlil yang dibaca lebih banyak daripada di kalangan lainnya. Bahkan, tahlilan pasca mitung dinani di kalangan “kaum santri” sering kali dipadukan dengan istighasah.
Tradisi lain yang kemunculannya lebih merupakan hasil modifikasi praktik-praktik tradisi sebelumnya adalah Slametan tandur, Selamatan ini diselenggarakan sebagai upacara "tabur benih", yakni pada masa awal tanam padi. Pada umumnya, warga desa yang menyelenggarakan selamatan ini mempunyai pengharapan agar benih-benih padi yang ditanam ini pada masa panen padi kelak akan memperoleh hasil yang melimpah. Praktik Slametan tandur di kalangan “kaum abangan” ini merupakan hasil modifikasi atau substitusi cok bakal (sesaji). Pada masa sebelum
"santrinisasi" Kedungpring, sebagian besar warga petani dari kalangan “kaum abangan” mengembangkan tradisi cok bakal. Upacara "tabur benih" tradisional ini berupa menyiapkan sajian persembahan untuk Sang Dewi Padi. Benda-benda persembahan yang harus disediakan dalam cok bakal adalah:
(a) Nasi lengkap dengan lauknya (harus ada sayur urap-urap) (b) Telor ayam kampung mentah, sekurang-kurangnya satu butir (c) Kembang pasar,
(d) Uang, lebih diutamakan uang logam; dan;
(e) Benda-benda tersebut harus dibungkus dengan lembaran daun pisang.
Sajian persembahan ini diletakkan di setiap sudut petak sawah. Sesajian yang dipandang telah memenuhi persyaratan ini dipersembahkan kepada Dewi Sri—yang diyakini oleh mereka sebagai danyang kesuburan sawah—sebagai sarana permohonan (semacam tonjokan, atau upeti) agar Sang Dewi Padi tersebut membalasnya dengan memberi hasil panen yang melimpah.
Seiring dengan perjalanan "santrinisasi" Kedungpring, praktik tradisi atau upacara persembahan cok bakal mengalami proses dekulturasi. Praktik tradisi menyiapkan sesajian untuk Sang Dewi Padi ini semakin diekstinksi oleh para petani Kedungpring. Meskipun praktik tradisi cok bakal telah diekstinksi oleh mereka, tetapi praktik selamatan pada masa awal tanam padi tetap diberi ruang dalam kultur kontrol kedhung agama. Namun demikian, selamatan masa awal tanam padi ini selanjutnya diberi makna baru yang sesuai dengan kultur kontrol kedhung agama.
Praktik tradisi cok bakal dinilai sebagai mubazir. Bahkan, praktik tradisi seperti itu dinilai sebagai tindakan "penghinaan kepada orang-orang miskin yang kelaparan". Alihalih sesajian berupa makanan itu dibuang di sawah (sebagaimana dalam cok bakal), lebih baik dibagi-bagikan kepada para tetangga yang membutuh-kan. Model selamatan bentuk baru yang mensubstitusi praktik tradisi cok bakal ini dinamakan Slametan tandur. Sebagai akibatnya, jalur distribusi sajian persembahan mengalami perubalan. Jika dalam tradisi cok bakal mengikuti jalur vertikal (dipersembahkan kepada Sang Dewi Padi), maka dalam Slametan tandur mengikutijalur horisontal (dibagi-bagikan kepada para tetangga). Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh beberapa warga kalangan “kaum abangan” berikut ini.
Pada waktu dulu, kami selalu membuat cok bakal, yaitu sesajian per-sembahan berupa nasi dan lauknya, sebutir telor ayam kampung, uang logam, dan aneka kembang pasar. Sesajian itu kami letakkan di sudut petak sawah yang akan kami tanami padi. Sesajian itu kami persembahkan kepada Dewi Sri, yang kami percayai sebagai mahluk halus atau danyangpenjaga kesuburan sawah. Namun yang seringkali terjadi adalah ketika karni belum jauh melangkah meninggalkan sesa-jian persembahan itu, anak-anak sudah berebut mengambil cok bakal tersebut. Tampaknya, mereka selalu mengintai dari kejauhan perbuatan kami.
Pada mulanya kami sangat marah kepada mereka. Namun, beberapa anak selalu menjawab, "Nasi itu untuk kami bangsa manusia yang kelaparan. Bangsa mahluk halus tidak doyan nasi!". Dari jawaban anak-anak itulah kami merasa malu dan menyadari bahwa, " tinimbang dibuang fling sawah, luwih becik dirasakna tangga teparo (alih-alih dibuang di sawah, ebih baik untuk para tetangga) " . Apalagi dalam suatu ceramah pengajian yang disampaikan oleh Mbah Kyai di masjid , beliau mengatakan bahwa siapa saja yang suka memubazirkan barang, orang tersebut adalah teman setan. Sejak itu, kami selalu teringat pada sindiran anak-anak yang memperebutkan cok bakal tersebut. Pada akhirnya, kami menilai bahwa sindiran anak-anak itu ada benarnya juga.
Kenyataannya, masih banyak tetangga kami sesama “kaum abangan”
yang sering ijol beras dan tawa bahu. Mereka adalah keluarga-keluarga miskin buruh tani yang sering mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Oleh karena itu, kalau saya masih mempertahankan tradisi cok bakal, itu sama artinya saya menghina tetangga-tetangga saya yang mengalami kesulitan memenuhi kebu-tuhan pangan sehari-harinya. (Teks asli dalam bahasa Jawa)
Tampaknya, perbedaan jalur distribusi yang berkaitan dengan selamatan pada masa awal tanam padi ini memiliki makna simbolis yang berbeda. Makna simbolis yang terkandung dalam masing-masing jalur distribusi persembahan adalah:
(1). Tradisi cok bakal memanifestasikan sikap ketidakberdayaan. Kesejahteraan dimaknai hanya dapat terwujud sebagai akibat dari campur tangan pihak yang berkuasa. Pihak penguasalah yang menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat. Sebagai akibatnya, penderitaan masyarakat dimaknai sebagai kesalahan masyarakat itu sendiri. Hal ini termanifestasi dalam tata cara cok bakal. Mereka berkeyakinan bahwa tidak lengkapnya benda-benda persembahan yang menjadi persyaratan cok bakal dapat menimbulkan akibat yang merugikan, misalnya: hasil panen menurun, serangan hama, dan sebagainya.
(2). Tradisi Slametan tandur mengutamakan ikatan kolektivitas yang dilandasi jalinan "hutang budi". Saling membantu antar sesama merupakan kerangka dasar kehidupan sosial yang kokoh. Tradisi ini menekankan pemeliharaan
"moralitas ekonomi tradisional" masyarakat pedesaan, yakni yang kuat membantu yang lemah; bukan sebaliknya. Kalangan yang lemah harus diberdayakan lewat bantuan, bukan dipertahankan agar tetap tidak berdaya.
Oleh karena itu, penderitaan kaum yang lemah lebih disebabkan oleh diabaikannya moralitas ini oleh kalangan yang kuat.
Di samping perubahan jalur distribusi dan perbedaan makna simbolisnya, seiring dengan lenyapnya tradisi cok bakal di Kedungpring berkurang pula nama-nama anak perempuan yang menggunakan nama Sri. Nama itu diambil dari Dewi Sri yaitu nama dewi padi yang diyakini oleh para petani dapat membantu dalam memperoleh hasil panen yang melimpah. Dalam kurun lima belas tahun terakhir ini bayi-bayi perempuan yang lahir di Kedungpring tampaknya tidak lagi menggunakan nama Sri. Ini berbeda sekali dengan sebelumnya, ketika cokbakalmasih menjadi bagian kehidupan para petani, yang mana lebih dari selusin orang yang nama depan atau tengahnya menggunakan nama Sri.
a. Manakib roceh-rocehan
Manakiban merupakan selamatan yang diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur atas suatu keberhasilan, atau disebut juga dengan selamatan nazar6. Inti kegiatan ini adalah membaca kitab manakib. Kitab berbahasa Arab ini berisi tentang riwayat hidup Syeh Abdul Qodir Jailani, yang bergelar sulthonil auliya (Raja para wali). Beliau adalah seorang ulama pendiri aliran tariqat Qadiriyah yang berasal dari Baghdad, Irak. Para pengikut aliran tarekat Njoso selalu mengadakan upacara besar-besaran—yang dikenal sebagai sewelasan—untuk memperingati wafatnya tokoh tareqat ini pada bulan Sya'ban.
Meskipun kitab ini berisi riwayat hidup seorang tokoh ulama, kenyataannya hanya dibaca tanpa diterjemahkan. Sehingga, sebagian besar para peserta manakiban tidak mengetahui isi sebenarnya tentang sejarah tokoh itu. Namun demikian, keyakinan yang berkaitan dengan penyelenggaraan tradisi ini menyatakan bahwa mengetahui atau tidak isi kitab bukan persoalan utama. Mereka meyakini bahwa membaca atau mendengarkan orang yang sedang membaca kitab manakib itu solo sudah mendapat pahala. Bahkan, sejumlah warga desa juga meyakini bahwa dari manakib inilah orang Islam, terutama warga NU, menerima Pancasila sebagai ideologi negara, yang lambang-lambang silanya tertera di dada burung garuda. Menurut keyakinan mereka, burung garuda itu sebenarnya gambar burung Rajawali (simbolisasi dari sulthonil auliya). Pemahaman warga desa tersebut dibenarkan oleh salah seorang anggota pengurus Aswaja Mojokerto melalui kirata dari kata sulthan (dalam bahasa Arab) yang artinya raja dan auliya artinya para wali.
Manakiban biasanya diselenggarakan dalam bentuk selamatan untuk memenuhi nazar tertentu. Berbeda dengan beberapa selamatan yang bernuansa tradisi keagamaan lainnya, manakiban adalah selamatan yang memiliki persyaratan hidangan khusus yang harus disajikan. Dalam manakiban nazar, hidangan yang
6 Dalam ensiklopedi Islam, nadlar (nazr) berarti mewajibkan atau mengharuskan pada dirinya. Mewajibkan pada diri sendiri untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan dengan maksud untuk mengagungkan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nazar memiliki beberapa prtinsip, yaitu: (1). Keinginan nazar harus diucapkan/dilafalkan, bukan hanya tersirat dalam hati, (2). Tujuan nazar harus semata-mata karena Allah SWT, (3). Nazar tidak dibenarkan untuk suatu perbuatan yang dilarang atau yang makruh, dan (4). Jika seseorang yang bernazar meninggal dunia sebelum melaksanakan nazarnya, nazar tersebut harus dilaksanakan oleh keluarganya.
disajikan harus tersedia sego gurih (nasi kuning) dan engkung (ayam utuh dibumbu kare). Kedua jenis masakan ini harus diletakkan dalam kemaron (kuali dan tanah).
Menurut keyakinan mereka, sajian yang dihidangkan dalam selamatan nazar itu agar sempurna dan barokah, sebaiknya mempertimbangkan besar kecilnya kenikmatan yang diperoleh dari apa yang dinazarkan. Semakin besar kenikmatan yang diperoleh, semakin besar pula nilai sajian yang dihidangkan. Dengan kata lain, semakin besar nilai keberhasilan yang disyukuri, semakin banyak pula nasi kuning dan engkung yang dihidangkan. Hal ini juga ditegaskan oleh salah seorang sesepuh
“kaum santri” yang biasanya bertugas memimpin acara manakiban nazar di Kedungpring. Di samping itu, salah seorang Pak Wak dari kalangan “kaum abangan” menambahkan bahwa nazar atau permohonan akan cepat terkabul manakala engkung berasal dari ayam jago pancawarna. Dari pernyataan Pak Wak tersebut tampak bahwa warisan konsepsi lingkaran-lingkaran konsentris masih begitu kuat. Perlambangan warna-warna itu diambil dan diperluas oleh agama Islam yang memberinya makna moral. Menurut Lombard (1999),
Bancawarna berada di tengah, dan dikelilingi oleh putih warna ketenangan batin (mutmainah), merah warna marah (amarah), kuning warna keinginan (supiah), dan hitam warna kecemburuan (luwamah).
Penerapan konsepsi pancawarna dalam manakiban yang dimaksudkan oleh Pak Wak tersebut adalah warna bulu ayam jago yang akan dijadikan engkung.
Sebagaimana pelaksanaan tradisi-tradisi keagamaan lainnya yang diselenggarakan dalam bentuk Slametan, tradisi ritual manakiban ini ternyata dapat dimodifikasi. Berbeda dengan proses modifikasi tradisi keagamaan lainnya, dalam manakiban modifikasi itu mendasarkan pada proses pertukaran. Masuknya hukum pertukaran dalam praktik tradisi ini mengakibatkan prinsip Utility menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan bentuk pelaksanaannya. Prinsip Utility ini telah mengerosi hal-hal yang sebelumnya dinilai sakral. Proses pertukaran yang melandasi modifikasi tradisi ini adalah pertukaran antara penggalan-penggalan isi kitab yang harus dibaca (simbol spiritual yang disakralkan)danpuluran (simbol pemenuhan basic need pangan). Dengan menggunakan prinsip Utility sebagai salah satu pertimbangan, maka tata cara pelaksanaannya menyesuaikan nilai puluran yang dsajikan. Semakin bernilaipuluran yang akan disajikan, semakin penggalan-penggalan isi kitab itu dibaca secara keseluruhan.
Di Kedungpring, manakiban yang dimodifikasi ini dikenal dengan manakib roceh-rocehan. Manakib yang dimodifikasi ini pertama kali dimunculkan oleh Almarhum Mbah Maat ketika memimpin manakiban di rumah salah seorang warga kalangan “kaum abangan”. Beliau adalah salah seorang sesepuh dari kalangan
“kaum santri”. Hal ini sebagaimana diceritakan kembali oleh beberapa warga Kedungpring berikut ini,
Tetangga kami yang bernama Ngaipah memiliki nazar kalau anaknya diterima bekerja di Jakarta, akan mengadakan selamatan manakiban.
Sebagaimana umumnya selamatan jenis ini, ayam engkung dan nasi kuning harus tersedia di dalam kemaron (kuali tanah). Orang yang biasa bertugas memimpin manakiban di Kedungpring ada tiga orang, yaitu Mbah Basar, Mbah Maat dan Mbah Nur. Pada waktu manakiban di rumah Ngaipah itu, orang yang bertugas memimpin manakiban adalah Mbah Maat. Hal ini sesuai dengan permintaan si empunya hajat.
Manakiban biasanya dilakukan malam hari atau bakdal Isya. Sebelum acara dimulai, Mbah Maat berbisik kepada Dasir, tetangga Ngaipah. - Sir, Ngaipah tadi menyembelih (baca: mbeleh7) apa?
- Ayam, Mbah - Berapa?
- Satu ekor
- Besar atau kecil?
- Tanggung, Mbah (ukuran sedang)
- Kalau begitu, acara ini dibuat roceh-rocehan Baja (maksudnya, dibaca loncat-loncat agar cepat selesai)
- Mengapa begitu, Mbah?
- Tidak korup (maksudnya, tidak sebanding antara lamanya acara dengan nilai puluran yang disajikan). (Teks asli dalam bahasa Jawa)
Dalam hal lamanya waktu pelaksanaan, manakiban memerlukan waktu yang paling lama dibadingkan dengan tradisi-tradisi keagamaan lainnya.
7 Dalam pandangan warga masyarakat Kedungpring, nilai sajian dalam suatu hajatan atau pesta komunal Slametan diukur berdasarkan lauk-pauknya. Menurut penilaian warga masyarakat, daging merupakan lauk-pauk yang bernilai tinggi. Semakin banyak irisan daging yang disajikan, semakin bernilai suatu sajian. Oleh karena itu, istilah mbeleh—"menyembelih apa" dan
"menyembelih berapa"—menjadi sumber motivasi keterlibatan warga dalam menghadiri pesta komunal Slametan. Dan sejumlah tradisi-tradisi ritual keagamaan yang diselenggarakan dengan cara pesta komunal Slametan yang diyakini pasti menyajikan lauk-pauk daging adalah kekahan (menyembelih kambing) dan manakiban nazar (menyembelih ayam jantan). Di samping kedua tradisi ritual tersebut, sajian yang dihidangkan dalam Slametan tahlilan pada hari-hari tertentu:
mhung dinani, metang puluhi, nyatus, mendhak, dan nyewu juga diyakini bernilai tinggi. Hal ini dapat diamati dad tingginya angka partisipasi peserta dalam Slametan itu. Oleh karena itu, ungkapan mbeleh apa sebenarnya merujuk pada nilai sajian yang dihidangkan dalam suatu pesta komunal Slametan tersebut.
Pelaksanaan manakiban memerlukan waktu sekurang-kurangnya dua jam.
Sedangkan pelaksanaan tradisi-tradisi keagamaan lainnya paling lama satu jam.
Dengan manakib roceh-rocehan yang dilaksanakan dengan cara memangkas penggalan-penggalan kitab yang seharusnya dibaca, modifikasi tradisi ini menekankan effisiensi waktu. Bahkan, nilai "kesakralan" dari kitab itu dilanggarnya demi menghapus kejenuhan peserta, sekaligus mempertahankan tingkat keihlasan mereka. Kitab ini memang diyakini mengandung nilai
"kesakralan" oleh sebagian warga Kedungpring, dan akan mendatangkan "berkah"
apabila dibaca seluruhnya secara runtut dan berurutan dari bagian awal hingga bagian akhir. Namun demikian, proses pertukaran tak dapat dielakkan dalam selamatan ini, sebagaimana dikemukakan oleh salah seorang warga Kedungpring yang mengikuti manakib roceh-rocehan tersebut berikut ini,
apabila dibaca seluruhnya secara runtut dan berurutan dari bagian awal hingga bagian akhir. Namun demikian, proses pertukaran tak dapat dielakkan dalam selamatan ini, sebagaimana dikemukakan oleh salah seorang warga Kedungpring yang mengikuti manakib roceh-rocehan tersebut berikut ini,