LANDASAN TEORI
D. Kerukunan Hidup Beragama
Bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku, bahasa, adat istiadat dan agama; sehingga masyarakat Indonesia merupakan masyarakat bangsa yang majemuk. Kemajemukan itu diperluas lagi dengan wilayah yang didiami secara tersebar dalam ribuan pulau dengan persebaran penduduk yang tidak merata antara pulau-pulau besar dan pulau-pulau kecil (wilayah kepulauan). Di samping keberanekaragaman suku bangsa dan tidak meratanya persebaran penduduk, bangsa Indonesia juga menganut berbagai agama dengan agama Islam yang mayoritas.
Dari persebaran penduduk yang tidak merata, penganut agama pun tidak merata.
Penganut agama Islam mayoritas di pulau-pulau Sumatera, Jaws, Madura, Kalimantan, Sulawesi, Lombok, Sumbawa dan pulau-pulau di Maluku Utara;
agama Kristen mayoritas di pulau Irian (Irian Jaya/Papua); agama Katholik di pulau Flores, Timor; dan agama Hidu mayoritas di pulau Bali. Meski pun secara kuantitatif penganut agama Hindu adalah mayoritas orang Bali, namun keberadaannya tersebar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Keanekaragaman kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia merupakan suatu kenyataan yang menjadi kekayaan bangsa, namun di sisi lain kemajemukan itu dapat mengandung kerawanan-kerawanan yang dapat memunculkan konflik-konflik kepentingan antar kelompok yang berbeda-beda.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menggalang persatuan dan kesatuan bangsa, diantaranya adalah pembinaan kerukunan antar umat beragama dengan Departemen Agama sebagai fasilitator.
1. Istilah Kerukunan Hidup Beragama
Kata kerukunan berasal dari kata rukun berasal dari bahasa Arab, “ruknun”
jamaknya “arkan” berarti asas atau dasar, misalnya: rukun Islam, asas Islam atau dasar agama Islam:29 Istilah "Kerukunan Hidup Beragama" secara formal muncul sejak diselenggarakannya Musyawarah Antar Agama tanggal 30 November 1967 oleh pemerintah yang berlangsung di Gedung Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Jakarta.30 Atas anjuran Presiden RI (Soeharto) agar semua pemuka agama dan masyarakat: "Benar-benar melaksanakan jiwa dan semangat toleransi yang jelas diajarkan oleh setiap agama dan Pancasila". Musyawarah yang dihadiri pemuka-pemuka agama Islam, Katholik, Kristen, Hindu dan Budha menerima konsep kerukunan dan pembentukan Badan Konsultasi Antar Agama yang isinya agar tidak menjadikan umat yang sudah beragama sebagai sasaran penyebaran agama lain;
tetapi musyawarah tidak dapat menandatangani piagam tentang konsep pemerintah berkaitan tentang umat yang sudah beragama tidak menjadi sasaran penyebaran agama lain. Hal tersebut masih terjadi perbedaan pendapat antar pemuka agama saat itu.31 Pertemuan tersebut adalah yang pertama kali diadakan antar pemuka agama di Indonesia., yang kelak diikuti oleh berbagai jenis kegiatan antar agama. Dalam pidatonya, Menteri Agama K.H. M. Dachlan menyatakan, "Adanya kerukunan antara golongan beragama adalah merupakan syarat mutlak bagi terwujudnya stabilitas politik dan ekonomi yang menjadi program kabinet Ampera….”. Oleh karena itu, kami sungguh mengharapkan kerjasama antara Pemerintah dengan masyarakat beragama untuk menciptakan `iklim kerukunan beragama' ini, sehingga tuntutan hati nurani rakyat dan cita-cita kits yang hendak mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang dilindungi Tuhan Yang Maha Esa benar benar dapat berwujud".32 Dari pidato tersebut selanjutnya berkembang istilah Kerukunan Hidup Beragama muncul dan kemudian menjadi istilah baku dalam berbagai peraturan
29 Loc. Cit. WJS Poerwadarminta, 2003, hlm. 1307.
30 Departemen Agama RI, Kompilasi Peraturan Perundang-Undangan Kerukunan Hidup Beragama. Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, Proyek Peningkatan Kerukunan Hidup Umat Beragama, Jakarta, 1995/1996, hlm. 2.
31 Ibid, hlm. 3-4.
32 Department of Information Republic of Indonesia, Indonesia 1993, An Official Handbook, Jakarta 1993.
perundang-undangan seperti dalam GBHN, Keputusan Presiden dan keputusan-keputusan Menteri Agama; bahkan sejak Repelita Pertama telah diadakan suatu proyek dengan nama, “Proyek Pembinaan Kerukunan Hidup Beragama”.
Usaha menteri Agama K.H. M. Dachlan membentuk Badan Kontak Antar Agama diteruskan. Setelah 13 tahun lamanya pada mass Menteri H. Alamsyah Ratu Prawiranegara lahirlah Bandan Kontak tersebut dengan Surat Keputusan Menteri Agama Nomor: 35 Tahun 1980. Pembentukan Badan Kontak Antar Agama tersebut terwujud setelah diadakan serangkaian pertemuan yang intensif antar wakil-wakil Majelis Agama dan pejabat-pejabat Departemen Agama, puncaknya pada tanggal 30 Juni 1980 di Jakarta yang telah menyepakati Pedoman Dasar tentang Wadah Musyawarah Antar Umat Beragama.33
2. Agama dalam Negara Pancasila
Secara implisit dalam hidup bernegara di Indonesia pada tataran semangat tertuang dalam Mukadimah (Pembukaan) UUD 1945 khususnya pada alinea ketiga
"Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang Bebas…”34 Isi pembukaan dijadikan landasan berpijak oleh bangsa Indonesia sebagai bangsa merdeka. tidaklah lahir begitu saja setelah kemerdekaan diproklamirkan. melainkan sesungguhnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Kehidupan religius yang dilandasi ajaran agama oleh masyarakat bangsa kemudian dituangkan ke dalam landasan hukum dasar Negara yang merdeka. Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan dasar bernegara: (1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa; (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.35
Pancasila sebagai sumber dari hukum dasar menempatkan pada azas pertama dalam rumusan sila pertama "Ketuhanan Yang Maha Esa", hal ini tidak berarti bahwa Negara memaksa agama atau suatu kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa, sebab agama dan kepercayaan terhadap Tuhan itu berdasarkan
33 Departemen Agama, Kompilasi Peraturan PerUndang-Undangan Kerukunan Hidup Beragama, Op. Cit., hlm. 4.
34 Undang-Undang Dasar 1945 dalam Amandemen I, II dan Penjelasannya, Gunung Agung Jakarta, 2002.
35 Ibid, UUD 1945, hlm 21. Lihat Muhammad Mulia, Op.Cit, 2002 hlm. 20.
keyakinan, sehingga tidak dapat dipaksakan karena agama atau kepercayaan itu tidak memaksa umat manusia untuk dianut atau dipeluknya. Kebebasan beragama adalah salah satu hak yang paling asasi di antara hak-hak asasi manusia, karena kebebasan beragama itu langsung bersumber kepada martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Hak kebebasan beragama bukan pemberian Negara atau bukan pemberian golongan.36
Kebijakan Pemerintah tentang Agama didasari oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan Negara Agama dan juga bukan Negara Sekuler. Artinya ideologi negara tidak bersumber pada agama tertentu atau tidak meresmikan salah satu agama sebagai dasar; namun demikian juga tidak menolak campur tangan negara dalam kehidupan beragama dari para warga negaranya. Pemerintah secara langsung ikut serta dalam pemupukan kesejahteraan rohani warga negaranya dalam pengamanan kerukunan antar umat beragama. Hal ini dijamin oleh Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai agama/Kepercayaan yang diyakininya.
Kebebasan beragama menjadi dasar bagi pemerintah untuk ikut serta bersama-sama umat beragama dalam membina kehidupan yang rukun dengan memberi ruang gerak yang sejajar dan mendorong tumbuhnya kehidupan keagamaan yang sehat. Sehatnya kehidupan keagamaan hendak diciptakan melalui sikap toleransi masing-masing pemeluk agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa. Tradisi ini telah berjalan sesuai perjalanan sejarah bangsa Indonesia sejak jaman Majapahit.
3. Peraturan dan Kebijakan Pembinaan Kerukunan Hidup Beragama
Kewajiban pemerintah dalam hal ini Negara dalam pembinaan kerukunan hidup beragama di Indonesia, telah diterbitkan beberapa peraturan perundang-undangan yang terkait dengan hidup beragama. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1985 yang mengatur tentang organisasi sosial keagamaan dan lembaga keagamaan.
Undang-Undang ini mengatur keberadaan organisasi kemasyarakatan, jenis dan dasar pembentukannya, ass dan tujuan, pembinaan dan bimbingan, sanksi
36 Undang-Undang Dasar 1945 dan Penjelasannya, BP-7 Pusat, 1993 hlm. 43. Lihat juga Muhammad Mulia dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Perubahannya (dalam satu naskah dari naskah UUD 1945. Perubahan pertama, kedua, ketiga dan keempat), Percetakan Widya Pustaka, September 2002, hlm. 20.
hukumnya dan keberadaan, fungsi dan tujuan organisasi keagamaan serta pengumpulan dana organisasi. Ke dalam aturan ini, termasuk lembaga/ majelis agama-agama yang ada seperti MUI, KAWI, PG1 dan Parisada Hindu Dharma Indonesia serta Walubi yang kemudian diatur oleh PP tersendiri.37
Dalam hal penyiaran agama dan tenaga keagamaan, diatur dengan Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Mendagri Nomor 1 tahun 1979, Surat Keputusan Menteri Agama RI Nomor: 44 dan 70 tahun 1978 termasuk penyelenggaraan hari-hari besar keagamaan. Sedangkan tenaga asing di bidang keagamaan diatur oleh Surat Keputusan Menteri Agama Nomor: 77 tahun 1978, Nomor: 50 tahun 1980.38
Hal pendirian dan penggunaan tempat ibadah keagamaan, mulai dari prosedur pendirian, pertimbangan pemberian ijin tempat ibadah (khusus untuk Kabupaten Mojokerto) dan penggunaannya, diatur oleh Surat Keputusan Bersama Menteri Agama RI dan Menteri Dalam Negeri Nomor 01/BER/Mdn-Mag/1969.39 Sementara hubungan antar agama dalam bidang pendidikan, perkawinan, penguburan jenazah dan upacara hari-hari besar keagamaan diatur oleh UU RI Nomor: 2 tahun 1989 PP nomor: 28/1990 dan PP nomor: 29/1990, Nomor: 20 tahun 2003 (Sisdiknas). UU RI Nomor: 32 tahun 1945 dan Nomor: l Tahun 1974 tentang Perkawinan, PP nomor 9/1975 tentang pencatatan perkawinan serta pencatatan perkawinan bagi yang beragama selain Islam pada Kantor Pencatatan Sipil diatur oleh Surat Menteri Agama RI Nomor: MA1650/1979 tanggal 28 Desember 1979.
khusus bagi anggota militer (ABRI sekarang TNI dan Polri) diatur dengan Keputusan Menhankam/Pangab Nomor: Kep/01/1/ 1980.40
Selain yang dituangkan ke dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur kehidupan beragama, terdapat Instruksi Presiden terkait dengan pelaksanaannya dan surat edaran menteri Agama RI serta Keputusan Jaksa Agung.
Secara simultan perangkat pemerintahan menyelenggarakan pembinaan dari tingkat departemen sampai ke tingkat terendah di kelurahan terhadap kerukunan hidup beragama yang mengedepankan toleransi, saling hormat menghormati saw
37 Op.Cit, Kompilasi Peraturan Perundang-Undangan Kerukunan Hidup Beragama, 1995/1996, hlm. 15-29.
38 Ibid, hlm. 29-42.
39 Ibid, hlm. 43 -60.
40 Ibid, hlm. 62-67.
dengan yang lain dalam menyelenggarakan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya terhadap Tuhan Yang Mahaesa. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kerukunan hidup beragama bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara yang mengedepankan persatuan dan kesatuan.
E. Ahlusunnah Wal Jama'ah Dan Sikap Kemasyarakatan NU