• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Agama Bagi Masyarakat

LANDASAN TEORI

2. Peran Agama Bagi Masyarakat

Agama yang termanifestasikan dalam berbagai dimensinya sebagaimana dipaparkan diatas, atau paling tidak sebagai realitas sosial yang ditandai oleh sedikitnya tiga corak pengungkapan universalnya: Pengungkapan teoritik berwujud sistem kepercayaan (belief system), pengungkapan prakteknya sebagai sistem persembahan (system of worship), serta pengungkapan sosiologisnya sebagai suatu sistem hubungan masyarakat (system of social relation),9 pada kenyataannya merupakan suatu sistem yang memiliki peran atau fungsi panting bagi kehidupan masyarakat. Beberapa fungsi agama, secara sosiologis dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, fungsi edukatif, yang berkaitan dengan upaya pemindahan dan pengalihan (transfer) nilai dan norma keagamaan kepada masyarakat. Dalam hal ini, fungsi terdasar dan paling universal dari apa yang diperankan oleh hampir semua jenis agama baik kategori agama wahyu maupun bukan wahyu adalah bahwa agama memberikan orientasi dan motivasi serta membantu untuk mengenal dan memahami sesuatu hal yang "sakral" atau mahkluk tertinggi. Agama membimbing dan mengarahkan manusia kehadapan dzat "Yang Suci", "Yang Ada", "Yang Nyata", serta "Yang Berarti".10 Lewat pengalaman beragama, yakni penghayatan terhadap Tuhan atau agama, manusia menjadi memiliki kesanggupan, kemampuan dan kepekaan rasa untuk mengenal dan memahami eksistensi Sang llahi atau yang kudus, yang oleh Rudolf Otto disebut sebagai "mysterium tremendum et fascinosum".11 Melalui pengalaman beragama secara kognitif, afektif, maupun motorik, manusia menjadi sanggup memecahkan problema terakhir yang dihadapinya, yaitu problema berkaitan dengan alam transendental terutama sekali ikhwal hubungannya dengan "yang gaib" yang dinamai "Tuhan".

Kedua, agama berfungsi penyelamatan. Dalam kaitan ini, agama memberikan rasa kedamaian, ketenangan, dan ketabahan dalam menghadapi berbagai persoalan sulit yang dihadapinya. Agama membimbing dan mengarahkan manusia untuk memperoleh kebahagiaan. Agama juga memberikan

harapan-9 Joachim Wach, Sociology of Religion, University of Chicago Press, 1944, hal. 17-27.

10 Mangunhardjono, "Homo Religiosus Menurut Micrea Eliade”, dalam Manusia Multi Dimensional, Sastrapratedja (ed)., PT. Gramedia, Jakarta, 1983, hal. 43.

11 Mysterium Tremendum et Fascinosum berarti suatu misteri yang menakutkan sekaligus memikat hati (menyenangkan).

harapan ketika manusia berada dalam situasi ketidakpastian, penderitaan, kekecewaan, frustasi, atau kemiskinan. Agama dalam situasi tertentu memberikan hiburan bagi kaum tertindas. Beberapa sosiolog seperti Mc Guire dan Yinger menggambarkan fenomena fungsi agama sebagai penyelamatan, antara lain bahwa:

"Religion can be as emotional support and as psychotherapy. Religion offers consolation to oppressed peoples by giving the hope that they can achieve salvation and eternal happiness in an after live. Similarly, during times of national tragedy (assassination, invasions, and natural disasters), people attend religious service as means of coping with problems that demand political and technological as well as spiritual solutions".12

Ketiga, adalah fungsi agama sebagai kontrol sosial (pengawasan sosial).

Kontrol sosial yang dimaksud adalah seluruh pengaruh kekuatan yang menjaga terbinanya pola-pola kelakuan dan kaidah-kaidah sosial milik masyarakat. Dalam hal ini, agama sebagai sistem norma dan sistem nilai memberikan pembatasan (limitasi) dan pengkondisian (conditioning) terhadap tindakan atau perilaku individu atau masyarakat sehingga dapat mengarahkan tercapainya tujuan masyarakat itu sendiri. Agama diperankan untuk bertanggung jawab atas adanya norma-norma religius yang diberlakukan atas masyarakat manusia umumnya.

Agama, dengan demikian, menyeleksi kaidah-kaidah susila yang baik dan mengukuhkannya sebagai kaidah yang harus dipatuhi oleh pemeluknya, sebaliknya, agama menolak kaidah-kaidah susila yang buruk untuk ditinggalkan sebagai larangan atau tabu. Agama juga, dalam hal ini, juga memberikan sangsi-sangsi yang harus dijatuhkan kepada pelanggar sekaligus melakukan pengawasan ketat terhadap proses implementasinya.

Bentuk pengawasan sosial agama terhadap masyarakat pada tingkat lebih ketat atau tajam adalah fungsi profetik atau fungsi kritis agama itu sendiri. Agama di sini berusaha melakukan kritik-evaluatif terhadap pemegang kekuasaan (pemerintah) tentang sejauh mana penguasa menjalankan tugas dan fungsinya sesuai kaidah-kaidah susila atau agama yang berlaku di masyarakat. Agama berupaya menjaga terciptanya dan tegaknya aturan dan keadilan sosial.

12 Lihat: Mc Guire, 1981: 186; J. Yinger, 1970: 598; dan J.B. Mc Kee, 1981: 339. Lihat:

Meredith B. Mc Guire, Religion in the Social Context, Belmont, California, 1981, hal. 186; dan J.

Milton Yinger, The Scientific Study of Religion, Mac Millan, New York, 1970, hal. 598.

Konsekuensinya, fungsi kritis agama dapat dan bahkan hampir senantiasa menimbulkan konflik antara agama dan pemerintah dikarenakan pada umumnya pemerintah tidak menyukai kritik yang dilancarkan agama. James Mc Kee dalam The Study of Society13 menggarisbawahi bahwa, "Pada kenyataannya diakui memang keyakinan dan norma agama dapat mempengaruhi perilaku para pemeluknya. Pengakuan bahwa agama dapat mengontrol tindakan manusia dan menjaga masyarakat tetap "in line" memposisikan agama sebagai instrumen efektif dan signifikan untuk kritik terhadap kelas penguasa". Bahkan kaum skeptis dan atheis pun mengakui bahwa "religion is a mechanism which inspires terror, but terror useful for preservation of society...."14 Agama memegang peran penting dalam memberikan legitimasi struktur sosial yang ada. Nilai dan norma agama memberikan penguatan terhadap instistusi sosial lain serta tatanan sosial sebagai suatu keseluruhan.15

Fungsi keempat dari agama yang dipandang sebagai sistem relasi sosial adalah fungsi integratif. Dalam konteks ini, agama menjadi necessary ingredient of well-integrated society, atau merupakan the primary source of integration.16 Agama menjadi unsur niscaya atau sumber utama terbentuknya integrasi masyarkat yang baik. Agama bahkan dipandang memiliki kemampuan membangun tatanan sosial (social order) yang mapan dan kuat. Atas dasar persamaan dan kesepakatan serta ikatan psiko-religius, kredo, dogma, kultus, simbol, dan tata nilai dan norma serta cara-cara spiritualitas tertentu yang diyakini, maka para penganut agama cenderung berupaya sebaik mungkin untuk mempertahankan serta mengamalkan ajarannya dan memperjuangkan agama yang dianutnya. Dalam perspektif ini, sangat jelas bahwa agama memang memiliki fungsi utama yang 'necessary' bagi terbentuknya integritas sosial dalam masyarakat atau bangsa.

Namun demikian, dalam prosesnya ketika egoisme dan fanatisme keagamaan tumbuh terlalu kuat dalam diri penganutnya, maka apa yang terjadi

13 James Mckee, Sociology: The Study of Society, Holt. Rinehart, and Winston, New York, 1981, hal. 339.

14 Fark E. Manuel, The Eighteenth Century Confronts the Gods, Cambridge, Massachussettes, Harvard University Press, 1959, hal. 240.

15 Richard T. Schaefer, Sociology, McGraw-Hill, Inc., New York, 1989, hal. 363.

16 J. Milton Yiger, Religion, Society and the individual, an Introcuction to the Sociology of Religion, the McMillan Co., New York, 1960, hal. 60.

justru realitas sebaliknya, yakni munculnya proses disintegrasi sosial. Interprestasi religius yang sama terhadap makna hidup melahirkan tumbuhnya persatuan yang diletakkan pada bingkai tatanan moral yang kohensif dan mengikat. Agama, dengan demikian, memiliki daya bentuk sangat kuat yang sanggup mencipta adanya "ikatan sosial religius" manusia. Agama dalam hal ini, membentuk kategori sosial, yang terorganisir sedemikian rupa atas dasar ikatan psiko religius, kredo, dogma, atau tata nilai spiritualitas yang mereka yakini bersama, yang kemudian dalam proses sosialnya membentuk apa yang dikategorikan sebagai kelompok-kelompok, komunitas-komunitas, atau grup-grup tersendiri, yaitu berperilaku religius. Atau bentuk masyarakat yang oleh Durkheim-nya disebut "moral community”.17

Fungsi lainnya dari apa yang disebut agama adalah fungsi transformatif.

Sebagai kata sifat berasal dari kata kerja Latin "transformare" yang berarti mengubah bentuk. Jadi, fungsi transformatif adalah fungsi yang berkaitan dengan sejauh mana atau bagaimana suatu agama memiliki daya ubah tatanan kehidupan masyarakat, terutama masyarakat pemeluknya.

Bagi Karl Marx, hubungan antara agama dan perubahan sosial adalah jelas.

Agama menghalangi terjadinya perubahan dengan cara mempengaruhi atau mendorong kaum tertindas untuk memfokuskan diri pada persoalan kehidupan

"akherat". Namun demikian, Weber justru sebaiknya sebaliknya memandang agama memiliki peran signifikan dalam proses perubahan sosial. Dalam temuannya, yang ditulis dalam “The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism”, melihat hubungan antara komitmen keagamaan dengan perkembangan kapitalisme di Eropa. Dalam konteks ini, Weber menunjukkan bahwa etika kerja dan orientasi hidup rasional Protestan merupakan faktor kuat yang kondusif bagi pertumbuhan kapitalisme.

"... Capitalism as an economic system is a creation of the Reformation.

One of the fundamental elements of the spirit of modern culture : rational conduct on the basis of the idea of the calling was born from the spirit of Christian asceticism".18

17 Moral Community dimaksudkan adalah suatu komunitas yang terdiri/terbentuk dari orang-orang yang berkeyakinan pada sesuatu yang sacral, serta memiliki symbol-symbol, praktek dan pengalaman yang mengikat mereka bersama menjadi suatu kelompok lebih besar. Lihat: Craig Calhoun, et.al., Sociology, McGraw-Hill, Inc., New York, 1994, hal. 351.

18 Max Weber, The Protestant Ethics and the Spirit of Capitalism, Tras. By Talcott Pearson, London, George Allen & Co., London 1971, hal. 180.

Agama, disimpulkan lebih jauh, pada kenyataannya "bukan semata merupakan persoalan keyakinan pribadi yang melekat dalam diri individu, melainkan juga memiliki dampak sosial bagi masyarakat secara keseluruhan sebagai hakikat kolektifnya".19 Dengan demikian, agama apapun namanya sebagai sistem norma dan nilai maupun sebagai sistem relasi sosial mempunyai daya ubah (transformabilitas) bagi masyarakatnya, terutama bagi komunitas pemeluknya.

B. Konsep Budaya, Perubahan Sosial dan Integrasi Sosial 1. Konsep Budaya

Kebudayaan dapat diartikan berbeda-beda, baik secara terbatas mahupun secara luas. Dalam arti yang terbatas, konsep budaya yaitu pikiran, karya dan hasil karya manusia yang memenuhi hasratnya akan keindahan; sehingga kebudayaan sering diartikan kesenian. Sedangkan konsep budaya secara luas yang banyak digunakan oleh ilmuwan sosial, yaitu total dari pikiran, karya dan hasil karya manusia yang tidak berakar pada nalurinya; namun dicetuskan oleh manusia setelah melalui proses belajar. Sementara kata budaya secara umum diartikan berbeda antara pendapat sate dengan yang lainnya. Budaya sendiri berasal dari kata Sanskerta "buddhayuh”, bentuk jamak dari kata "buddhi" yang berarti budi, pengertian, pikiran atau akal, pendapat, persepsi dan gagasan. Di-Indonesia-kan kemudian menjadi kata budaya yang dikatakan berasal dari kata Sanskerta yakni

"budi” dan "daya”.

Pendapat lain tentang asal kata kebudayaan yaitu pengembangan dari kata majemuk budi-daya, artinya daya dari budi, kekuatan dari akal. Menurut JWM Bakker SJ, kebudayaan adalah penciptaan, penertiban dan pengolahan insani;

termasuk di dalamnya usaha memanusiakan bahan alam, alam diri dan alam lingkungan, baik fisik maupun sosial dimana nilai-nilai diidentifikasikan dan diperkembangkan sehingga sempurna. Membudayakan alam, memanusiakan hidup, menyempurnakan hubungan keinsanian merupakan kesatuan yang tak terpisahkan, "man humanizes himself in humanizing the world around him".20 Ungkapan tersebut kemudian menjadi inti kebudayaan, di luar itu yakni

19 Richard R. Schaefer, Op.cit., hal. 336.

20 JWM Bakker SJ, Filsafat Kebudayaan Seluruh Pengantar, Penerbit Kanisius, BPK Gunung Mulia, 1994, hlm. 11-20.

merohanikan manusia sudah bukan kebudayaan, melainkan sudah bidang agama dimana kebudayaan menyediakan kesempatan. Dalam agama manusia menerima rakhmat yang mengatasinya dan menyempurnakan dalam dimensi illahi, sedang kebudayaan adalah dimensi manusia sendiri sebagai pencipta di dunia.21

Sedangkan Koentjaraningrat dalam Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia; yang harus dibiasakannya untuk belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya.22