• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kreolisasi Kultural

LANDASAN TEORI

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4. Kreolisasi Kultural

Rowe dan Schelling (1991) mengatakan bahwa hibridisasi adalah cara-cara di mana suatu bentuk tertentu terlepas dari praktik sebelumnya dan direkombinasi dengan bentuk baru dalam bentuk baru. Salah satu di antaranya adalah melalui kreolisasi. Menurut Friedman (1995) kreolisasi mengacu pada pertemuan dan perpaduan makna-makna dari sumber-sumber yang terpisah ke dalam satu tempat, satu situasi. Selanjutnya, Hannerz (1992) manambahkan konsep kreolisasi mengacu pada proses percampuran makna-makna dan bentuk-bentuk yang bermakna dan sumber historis yang berbeda, terutama dari tempat yang terpisah antara satu dengan lainnya. Sebagai bentuk hibridisasi, Pieterse (1995) memandang hibridisasi tidak hanya mengacu pada saling isi kultur antar lokalitas, tetapi juga pada transisi dari kultur lokalitas ke kultur translokalitas. Sehingga, dalam kultur lokalitas tersebut menunjukkan gejala perubahan dari model indepth menuju model depthless.

a. Antara Ganjaran dan Maksiat

Di Kedungpring, diba’an merupakan tradisi keagamaan rutin mingguan yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja, baik putra maupun putri. Diba’an biasanya dilakukan setiap Kamis malam, atau malem Jum'at. Bagi warga masyarakat yang menyatakan dirinya sebagai kaum santri ini meyakini bahwa hari-hari dalam seminggu itu membawa berkah. Hari Jum'at diyakini oleh mereka sebagai waktu yang paling utama dalam menjalankan perannya sebagai sumber berkah. Oleh karena itu, beberapa tradisi ritual keagamaan sering kali dilakukan pada hari itu. Penetapan pergantian hari dalam kaitannya dengan keyakinan sumber berkah ini tidak mengikuti putaran angka jarum jam (jam 00.00) atau mendasarkan pada terbit matahari. Pergantian hari sumber berkah adalah mendasarkan pada terbenamnya matahari. Dengan kata lain, setiap kali matahari terbenam pada saat itulah pergantian hari berlangsung. Oleh karena itu, ketika matahari terbenam di hari Kamis (menurut hitungan jam), pada saat itullah hari Jum'at hadir dan berakhir pada keesokan harinya setelah matahari terbenam.

Berkaitan dengan pelaksanaan diba’an rutin, para remaja putra Kedungpring pernah meninggalkan aktivitas tradisi keagamaan ini cukup lama.

Sejak kematian Mbah Bari pada 1990, aktivitas tradisi keagamaan ini tidak lagi

dilaksanakan secara rutin mingguan. Pada pertengahan tahun 1997 aktivitas tradisi itu bangkit kembali. Namun, waktu penyelenggaraan awal kebangkitan diba’an yang tidur panjang ini tidak mendasarkan pada pertimbangan hari sumber berkah yang utama (yakni malam Jum'at), tetapi pada Sabtu malam (atau: malem Minggu).

Sejak itulah tradisi diba’an rutin remaja ini dilaksanakan setiap malem Minggu.

Tampaknya, prinsip utility telah memasuki kehidupan mereka, sehingga mengerosi keyakinan mengenai hari-hari yang sebelumnya dipandang sakral. Pada gilirannya, para remaja Kedungpring menilai bahwa semua hari-hari dalam seminggu itu membawa berkah. Pada hari Senin sampai dengan Sabtu, nilai berkah dicari oleh mereka di bangku sekolahan. Karena hari Minggu sebagian besar sekolah mereka libur, maka pada malam Minggu itulah nilai berkah dalam bentuk lain mereka cari melalui aktivitas tradisi ritual diba’an.

Upaya untuk membangkitkan aktivitas tradisi diba’an rutin ini terjadi secara kebetulan. Awal kemunculan kembali kegiatan rutin ini distimulasi oleh diba’an coca-cola, sebagaimana dikemukakan oleh beberapa remaja Kedungpring berikut ini:

Salah seorang putra Ning Chah yang telah lulus SD dengan nilai NEM tinggi diterima di SMP Negeri. Sebagai ungkapan rasa syukur, keluarga tersebut mengadakan selamatan netepi nazar untuk putranya. Nazar yang dipilih adalah mengadakan diba’an, padahal kegiatan ini sudah tidak lagi dilaksanakan secara rutin tiap malam Jum'at seperti biasanya, khususnya bagi kalangan remaja putra. Jadi, diba’an nazar ini merupakan diba’an yang bangun setelah tidur panjang. (Teks asli dalam bahasa Jawa).

Sebagaimana umumnya tradisi ritual keagamaan yang diselenggarakan dengan cara selamatan, puluran (sajian) harus disediakan. Sajian inilah yang menjadi motivator keikutsertaan mereka. Sajian berfungsi sebagai secondary reinforcement. Dalam diba’an netepi nazar itu, bentuk sajiannya lain dari biasanya.

Pada umumnya, selamatan selalu menyajikan hidangan berupa nasi dan lauk pauk serta sejumlah jajan. Dalam diba’an nazar ini sajiannya berupa dua bungkus superrni dan sebotol coca-cola untuk masing-masing peserta. Karena jenis puluran yang dipandang aneh tersebut, jumlah peserta yang terlibat meningkat tajam. Pada umumnya, pada setiap acara slametan diba’an peserta yang hadir paling banyak 40 orang. Namun, dalam diba’an yang baru bangun dari tidur ini mencapai lebih dari

80 orang. Dari jenis puluran yang aneh inilah diba’an tersebut dikenal dengan sebutan diba’an cocacola.

Diba’an "coca cola" menandakan bahwa warga masyarakat dapat melakukan tindakan pemaduan simbol-simbol identitas yang berlainan. Diba’an adalah sebuah tradisi ritual keagamaan yang menjadi andalan konstruksi identitas kedhung agama. Tradisi ini merupakan manifestasi simbol identitas kaum santri Jawa pedesaan. Tradisi yang sarat dengan nuansa ikatan kolektivitas dan kebersamaan ini menekankan gaya hidup masyarakat "egaliter" dan nilai

"keihlasan". Sedangkan "coca cola" merupakan merek minuman produk Amerika.

Bagi warga pedesaan, termasuk Kedungpring, minuman ini merupakan simbol peradaban baru, simbol budaya Barat dan budaya konsumtif. Minuman ini merupakan produk sebuah bangsa yang bergaya hidup masyarakat "individualis"

dan mengutamakan nilai "kompetisi". Namun, ketika kedua simbol identitas yang berbeda itu dipadukan justru memberikan semangat baru kepada warga masyarakat dalam mengabadikan tradisi ritual yang memanifestasikan simbol identitas tradisionalnya. Hal ini menandakan bahwa kelangsungan hidup sebuah tradisi tidak cukup hanya mengandalkan identitas kultural yang menjadi konteks produksi tradisi itu sendiri atau inward looking sense of place. Kelangsungan hidup sebuah tradisi ternyata juga melibatkan dukungan identitas kultural yang berlokasi di luar konteks produksi tradisi bersangkutan, atau outward looking sense of place.

Diba’an mingguan yang bangkit kembali dari tidur panjang juga terjadi di desa Karang Gayam, dua kilometer arah sebelah selatan Kedungpring. Diba’an yang bangun tidur kali ini disertai dengan seperangkat alat-alat musik, seperti:

terbang, jidor, organ, dan seruling. Padahal, dua alai musik yang terakhir—organ dan seruling—pada masa lalu dinilai haram untuk dibunyikan. Organ dipandang sebagai alat musik pengiring aktivitas peribadatan kaum Nasrani di gereja. Begitu pula seruling dipandang sebagai alat musik utama dalam "gambusan" yang dinilai maksiat. Namun, alat-alat musik yang dulu diharamkan itu sekarang justru mengiringi tradisi ritual keagamaan diba’an. Bahkan, dalam peringatan Rejeban di masjid Al-Nurman Kedungpring, alat-alat musik tersebut dibunyikan untuk mengiringi syrakal. Sebagaimana biasa, upacara peringatan Rejeban di Kedungpring selalu diselenggarakan melalui diba’an yang diikuti oleh seluruh

warga desa. Perpaduan antara diba’an dan gambusan ini muncul pada waktu upacara peringatan Rejeban 1419 H. Perpaduan tersebut menggambarkan suatu pola: "Syrakalan dalam diba’an yang bernilai ibadah, .dapat berpadu dengan gambusan yang semula dinilai maksiat". Dua simbol identitas kultural yang berlainan, yang dilandasi keyakinan atau nilai yang berlawanan, ternyata dapat berpadu dalam satu situasi. Situasi tempat perpaduan itu pun merupakan suatu upacara ritual yang dinilai ibadah.

b. Antara Nasib dan Nasab: Gus Bodel dan Minakjingga

Sebagian besar anggota kalangan “kaum santri” mengikuti pola patri-lokalitas. Secara umum, nilai yang melandasi pertimbangan dalam perkawinan ada perbedaan antara “kaum santri” dan kalangan lainnya. Pada umumnya, orang-orang dari kalangan “kaum santri” mendasarkan pada nasab.8 Pola askriptif masih begitu kuat mendominasi pemikiran mereka. Mereka berkeyakinan bahwa anak keturunan mereka nantinya akan berperilaku yang tidak jauh berbeda dari orang tua dan leluhurnya. Bukan hanya dalam perkawinan, dalam pergaulan pun nilai nasab diharapkan menjadi pertimbangan. Pemahaman mereka mengenai proses sosialisasi dilandasi oleh konsep tabularasa. Pandangan seperti ini muncul dalam tembang pujian Tamba Ati yang biasa didendangkan menjelang shalat Maghrib di masjid, yang mana salah satu bait syairnya berikut ini:

Wong kang sholeh kumpulana

(Bergaullah dengan orang-orang yang shaleh)

Dalam hal nasab, kalangan “kaum santri” berupaya mempertahankan nilai-nilai kekerabatan Islam yang ideal, yang sekaligus memelihara kepentingan mereka sebagai kelompok. Menurut Dhofier (1994), para kyai di Jawa menganggap unit rumah tangga sebagai lembaga yang paling pokok bagi masyarakat Islam. Sebuah unit rumah tangga terbentuk setelah seorang laki-laki dan seorang perempuan diikat oleh tali pernikahan untuk hidup bersama yang selanjutnya menghasilkan suatu

8 Dalam ensildopedia Islam, nasab diartikan sebagai keturunan atau kerabat. Nasal, dalam arti keturunan merupakan salah satu faktor dart empat faktor (agama, harta, wajah, dan keturunan) yang harus dipertimbangkan dalam keserasian antara kedua calon mempelai. Keserasian ini disebut kafa'ah. Ini dimaksudkan agar tujuan perkawinan dapat tercapai, yaitu ketenangan hidup berdasarkan cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah).

generasi yang baru. Selanjutnya, terciptalah ikatan kekerabatan dalam masyarakat yang secara berangsur-angsur dan tali-temali berkembang menjadi suatu masyarakat yang luas.

Pola pemikiran dari para kyai ini merupakan kebalikan dari pemikiran yang menyimpulkan bahwa justeru masyarakat luas itulah yang menjadi sumber (pre condition) adanya unit-unit keluarga. Namun demikian, pola pemikiran para kyai tersebut tidak seluruhnya salah. Sebenarnya yang mereka maksudkan ialah untuk mendirikan masyarakat Islam, mereka harus memulainya dengan mengislamkan unit-unit keluarga, terutama dalam lingkungan kdrabatnya dahulu, kemudian baru unit-unit rumah tangga yang lain. Semakin banyak unit keluarga yang patuh kepada Islam, kemungkinan terciptanya masyarakat Islam akan semakin besar.

Hal ini berbeda dengan dunia “kaum abangan”. Di kalangan ini terdapat suatu pandangan yang menilai perkawinan sebagai sarana memperoleh kenikmatan seks dengan biaya murah. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh salah seorang dari kalangan “kaum abangan” yang bekerja sebagai penambang pasir kali. Dalam pandangan mereka, membangun keluarga lebih didominasi oleh pertimbangan ekonomi. Salah satu pertimbangan mereka adalah melalui membandingkannya dengan jajan. Di samping itu, orang-orang dari kalangan “kaum abangan”

mengutamakan wanita yang gelem sara, yakni bersedia diajak mengawali hidup menderita bersama. Dalam pandangan mereka, nilai utama dari perkawinan adalah sebagai sarana pengelolaan basic needs, baik fisik maupun biologic. Kedua jenis kebutuhan itu berjalan secara simultan. Oleh karena itu, perkawinan selalu dimaknai sebagai perjuangan mempertahankan kelangsungan hidup. Perkawinan jauh dari pertimbangan prestige bagi mereka, apalagi mempertahankan posisi sosial atau power keluarga dalam sistem stratifikasi sosial masyarakatnya.

Parikan kaum abangan memanifestasikan upaya mereka untuk meloloskan diri dari cengkeraman cara hidup wong kedhusan di masa lalu. Sebagaimana telah disebutkan pada bagian terdahulu bahwa simbol identitas derogatif wong kedhusan yang dilabelkan pada kalangan mereka pada masa awal "santrinisasi" Kedungpring berkaitan dengan perbuatan-perbuatan yang melanggar norma susila. Oleh karena itu, pengembangan ideologi "ora merga rupa" ini merupakan manifestasi dari penerimaan mereka terhadap serbuan nilai identitas kedhung agama.

Pengembangan ideologi ini—yang sekaligus mencegah berulangnya perbuatan perselingkuhan "diwaris tangga" yang memanifestasikan simbol identitas wong kedhusan—dinilainya sebagai selective incentives yang tepat untuk menyelamatkan eksistensi sosial kalangan “kaum abangan” dalam masyarakat kedhung agama.

Dengan dihindarinya pertimbangan rupa (nilai erotisme) dalam membangun keluarga, maka potensi perselingkuhan yang memanifestasikan identitas wong kedhusan dapat dicegahnya.

Dalam pandangan mereka, pertimbangan membangun keluarga ditinjau dari dua hal, yaitu: kaya (ekonomi) dan rupa (erotis). Kaya lebih didasarkan pada bersedia bekerja mencari penghasilan bersama. Karena semangat kebersamaan untuk mengawali hid up menderita dan mencari penghasilan, maka aturan tempat tinggal pada kalangan ini lebih menekankan pola ambilokalitas. Sedangkan rupa tidak dinilai berdasarkan kriteria cantik atau seksi, tetapi pantas atau tidak untuk suguh tamu.9 Konsepsi suguh tamu menandakan warisan pemikiran wong kedhusan, yakni memperlakukan isteri tidak hanya sekedar melayani kebutuhan biologis suami, tetapi membuka kesempatan untuk dinikmati oleh orang lain.

Dengan ditanggalkannya pertimbangan rupa, maka pasangan hidup yang dicita-citakan tidak lagi menarik secara erotis.

Ungkapan mereka menunjukkan masih adanya pengaruh warisan identitas wong kedhusan. Perilaku ngambus (atau mengendus) adalah perilaku wedhus (kambing). Sebagaimana disebutkan pada bagian terdahulu, simbol identitas wong kedhusan dimaknai sebagai orang-orang yang perbuatannya seperti perilaku wedhus (kambing). Oleh karena itu, pengembangan ideologi ngambus ini merupakan manifestasi "reaksi kekalahan" kalangan “kaum abangan” terhadap serbuan identitas kedhung agama. Pada gilirannya, pilihan calon pasangan hidup yang bisa diterima dalam kultur kontrol kedhung agama menurut pemahaman mereka adalah calon pasangan hidup yang memenuhi dua kriteria. Kedua kriteria tersebut adalah:

1) Menanggalkan pertimbangan rupa untuk meruntuhkan konsepsi suguh tamu

9 Menurut penjelasan sejumlah warga kalangan “kaum abangan”, istilah suguh tamu sebenarnya menunjukkan bahwa orang-orang dari kalangan “kaum abangan” berkeinginan mempunyai isteri yang cantik atau suami yang tampan. Suguh tamu maksudnya adalah isteri atau suami tidak ngisin-isini, atau bisa membuat malu karena dicemooh oleh orang lain.

yang diwariskan oleh masa lalu sebagai bagian dari identitas wong kedhusan 2) Menanggalkan pertimbangan rupa untuk melemahkan potensi perbuatan

perselingkuhan (yakni: perilaku ngambus) yang pernah hidup di kalangannya.

Identik dengan reaksi kekalahan “kaum abangan”, beberapa warga kala-ngan “kaum priyayi” lebih menekankan pada pertimbakala-ngan ekonomi (baca: kayu fat°. Ideologi kayu jati yang melandasi pertimbangan perkawinan ini tampaknya di luar pertimbangan usia atau rupa (erotis). Tiga orang pemuda dari kalangan ini mengembangkan ideologi kayu jati tersebut. Salah seorang di antaranya mempunyai isteri yang berusia sembilan tahun lebih tua, seorang lainnya mempunyai isteri yang berusia 15 tahun lebih tua, dan seorang pemuda lainnya menikahi perempuan yang terpaut 12 tahun lebih tua.

Ideologi kayu jati yang dikembangkan oleh ketiga pemuda kalangan “kaum priyayi” tersebut bukan merupakan ”reaksi kekalahan" sebagaimana kalangan

“kaum abangan”. Pertimbangan asal hidup "makmur" seperti itu merupakan pengembangan dari sikap "natavisme resistif" kalangan “kaum priyayi” yang muncul pertama kali pada kasus Jaya, yakni pada masa kepemimpinan Bari. Mereka berupaya mengembalikan posisi sosial yang dirasakannya telah dimarginalisasikan oleh Bari, yang ketika itu mengijinkan Jaya dikubur di makam keluarga. Di samping itu, kebijakan "Badal kolektif" dari kalangan “kaum santri” yang menstimulasi tampilnya Pak Wak di kalangan “kaum abangan”, juga dirasakan oleh mereka telah menumbuhkan "kecemasan status". Dari kasus Jaya, secara genealogis posisi mereka menjadi terpuruk, dan secara kultural peran mereka terdesak oleh kebijakan "Badal kolektif". Oleh karena itu, model perkawinan yang memberikan jaminan akumulasi simbolsimbol property tersebut lebih didorong untuk mempertahankan posisinya dalam sistem stratifikasi sosial Kedungpring, Adapun mengenai aturan tempat tinggal, ada kecenderungan sebagian besar warga kalangan ini mengikuti pola matrilokalitas.

Pada umumnya, para perempuan dari kalangan “kaum abangan” dan

“kaum priyayi” adalah perempuan pekerja. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai:

(1). Petani atau buruh tani,

(2). Mracang (membuka kedai sembako kecil-kecilan),

(3). Mburuh (menjadi pembantu rumah tangga paruh hari), (4). Marung (menjual makanan dan minuman),

(5). Mlijo (pedagang sayur keliling),

(6). Nggawe jajan (membuat penganan atau kue-kue yang dijajakan secara keliling), dan;

(7). Guru (hanya beberapa perempuan kalangan “kaum priyayi”).

Para perempuan dari kedua kalangan ini pantang hanya ning ngomah (mengatur rumah). Mereka pada umumnya juga bukan kaum perempuan yang terampil olah-olah (masak-memasak), sehingga tidak banyak mengenal aneka jenis dan resep masakan. Mereka juga bukan tergolong kaum perempuan yang hanya mlumah ngablah-ablah (suka merawat tubuh dan wajah), karena sebagian besar dari mereka kalau memakai bedak dengan usapan tangannya saja. Mereka lebih tepat dijuluki sebagai kaum perempuan yang menjalankan peran P2GP, yakni pontang-panting golek pangan. Peran ini termaifestasi dalam bentuk aktivitas mereka yang bekerja membantu suami mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dengan perkembangan masyarakat melalui tamparisasi tradisi, telah terjadi perpaduan orientasi nilai yang mendasari pertimbangan perkawinan, yakni perpaduan antara nilai nasab (religius), rupa (erotisme), dan sara (ekonomi).

Tampaknya, pertimbangan ekonomi lebih menonjol sekarang ini. Friedman (1995) mengistilahkan perwujudan dominansi nilai ekonomi sebagai peradaban komersial.

Keadaan ini pada gilirannya berkembang dengan tidak ditabukannya pacaran sebelum menikah. Menghadapi keberagaman nilai ini, pemikiran-pemikiran baru dibangun untuk memadukan keberagaman tersebut agar tetap dalam bingkai kolektivitas hibridisasi.

Pemikiran-pemikiran baru yang bernuansa interpenetrasi identitas sebagai hasil dari tamparisasi tradisi ini terungkap dalam suatu ceramah nikah. Pada pesta perkawinan salah seorang pemuda “kaum priyayi”, Mbah baid (salah seorang sesepuh “kaum santri”) menguraikan makna konsep mawaddah dan rahmah yang ada dalam ayat Alqur' an. Penjelasan konsep fiqih tersebut dikaitkannya dengan tokoh dalam dunia pewayangan, yaitu Harjuna dan Punakawannya.

Dalam sambutannya itu, Mbah Baid mengawalinya dengan sabda

Barangsiapa tidak mengikuti sunahku, bukan golonganku.

Selanjutnya, Mbah Baid menjelaskan—dengan bahasa campuran Jawa dan Indonesia—makna mawaddah dan rahmah sebagai berikut,

Rangkaian dua kata mawaddah dan rahmah mutlak dipenuhi dalam membangun rumah tangga. Mawaddah berarti hubungan cinta. Hu-bungan jenis ini lebih dilandasi oleh dorongan nafsu (utamanya sek-sual). Jadi, pertimbangan wajah, bentuk tubuh, dan hal-hal lain yang mendorong jenis lain tertarik dan bergairah sangat ditekankan. Selan-jutnya, rahmah itu menekankan makna kasih sayang. Sehubungan dengan hal itu, kasih sayang dalam rumah tangga akan dapat tercipta manakala masing-masing telah mencapai suatu kepuasan lahiriah lebih dulu.

Orang Jawa menamakan pasangan nikah dengan garwo. Ini berarti dalam pernikahan harus terbangun dari pasangan dua orang manusia yang memiliki karakteristik anatomi reproduksi yang berbeda. Salah seorang harus memiliki barang sigar (terbelah) dan yang seorang lagi yang menjadi pasangannya harus memiliki barang dawa (memanjang).

Bukan antara sigar dan sigar seperti kaum lesbian, atau antara dawa dan dawa seperti pengikut homoseksual. Bahkan ada yang mengartikannya dengan cara ndlodog (perkataan yang bermakna jorok), bahwa garwa berasal dari tembung (perkataan) barang sigar diawa-awa (barang yang terbelah itu ditusuk-tusuk dan digarukgaruk). Garwa bukan berarti sigarane nyawa (belahan jiwa) sebagaimana pandangan orang pada umumnya. Kalau sigarane nyawa yang ditekankan, ini berarti tidak ada hak individu dalam rumah tangga. Dalam Islam, hak isteri dan hak suami harus tegas. Begitu pula kewajiban masing-masing.

Jika pernikahan yang didasari mawaddah dan rahmah sudah terjadi, selanjutnya melangkah untuk menemui Herjuna atau Janaka. Namun, untuk menemui tokoh wayang tersebut harus melewati Punakawan-nya, yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Nama-nama Punakawan itu sebenarnya merupakan kirata yang melambangkan tahap-tahap menuju mawaddah.

a. Tahap pertama, kedua pasangan harus menjadi Semar. Semar adalah kirata dari mesem ning njero kamar (atau saling tersenyum di dalam kamar). Saling tersenyum, yang berarti pertanda saling tertarik ini menjadi tugas kedua orang pasangan nikah tersebut.

Keduanya harus saling tertarik. Pernikahan harus didasari cinta.

b. Tahap kedua, menjadi Gareng, maksudnya ngegarke barang kang direng (yakni membuka pintu yang sebelumnya ditutup rapat dan dipertahankan). Ini tugas si perempuan.

c. Tahap ketiga, tugas laki-laki menjadi Petruk, yang merupakan kirata dari nyepitke menyang ....ruk; maksudnya: menjepitkan barangnya pada lawang (pintu). Jadi, laki-laki harus menjepitkan barang sesuatunya ke pintu yang di-reng tadi.

d. Tahap keempat, kedua orang dari pasangan nikah tersebut harus menjadi Bagong, yang merupakan kirata dari ngobahke bokong, yakni menggoyang-goyangkan pantatnya.

Jika keempat tahapan itu sudah dilalui, pasti pasangan nikah itu akan bertemu dengan Herjuna, tokoh idola dalam dunia pewayangan.

Herjuna merupakan kirata dari kata her yang artinya air, dan juna artinya putih. Air yang putih tersebut harus dijaga tetap putih, bersih, dan suci, bebas dari pengaruh setan. Oleh karena itu, sebelum mela-kukan hubungan suami-isteri, hendaknya diawali dengan membaca do'a, atau setidak-tidaknya membaca bismillahirrohmaanirrohim. Ber-samaan dengan keluarnya Herjuna, .Tanaka akan tampil. Janaka juga merupakan kirata dari kata jan kepenak (nikmat dan puas). Kepenak yang diridloi oleh Allah SWT, karena diawali baca Bismillah.

Beberapa orang menilai pemikiran baru itu ndlodog (atau jorok). Namun, sebagian warga yang lain (terutama dari kalangan “kaum abangan”) justru menilai ajaran Islam itu sangat luas. Mereka merasa bahwa apa yang selama ini diajarkan oleh leluhur mereka lewat cerita-cerita wayang ternyata merupakan penjabaran dari ajaran Islam. Pemikiran baru tersebut menandakan bahwa grid (preferensi yang mengatur tata cara menikah) tidak selalu harus merujuk pada sumber syar'iah yang telah baku saja. Tata cara yang bersumber dari khazanah kultur masyarakat bisa dijadikan pertimbangan, asalkan tidak bertentangan dengan aturan dasar dalam agama. Dengan cara ini, masyarakat diupayakan agar tetap mempertahankan identitas keluarga dalam masyarakat Islam (keterikatan dalam group) yang harus didasarkan pada pernikahan. Sehingga, meskipun grid menjauh dari konteks produksinya atau semakin melemah, tetapi group tetap kuat. Inti pertemuan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam harus melalui pernikahan. Seiring dengan tamparisczsi tradisi yang mengutamakan proses interpenetrasi identitas kultural, maka fragmentasi pemaknaan terhadap pernikahan dipandang tidak akan mengubah bingkai identitas hibridisasi yang bersumber dari kultur kontrol kedhung agama.

Sebagaimana telah disebutkan pada bagian terdahulu bahwa dalam tamparisasi tradisi ini menekankan strategi pemaduan. Homogenisasi ideologis (pemaknaan) terhadap tradisi akan menimbulkan variasi pelaksanaan tradisi dalam

Sebagaimana telah disebutkan pada bagian terdahulu bahwa dalam tamparisasi tradisi ini menekankan strategi pemaduan. Homogenisasi ideologis (pemaknaan) terhadap tradisi akan menimbulkan variasi pelaksanaan tradisi dalam