LANDASAN TEORI
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3. Perubahan Nama: Dari Nama ”Ndesit” Ke Nama ”Kuthit”
Peristiwa "pergantian nama" menandakan bahwa transformasi nilai kultur tradisional menunjukkan gejala tidak searah. Dengan kata lain, enkulturasi berkemungkinan berjalan secara tidak sempurna, atau memungkinkan terjadinya diskontinuitas kultur territorialitas. Peristiwa ini juga menandai bahwa setiap
13 Ungkapan jithoke gosong merupakan sindiran yang diarahkan kepada seseorang yang menampilkan gaya hidup yang dinilai tidak sesuai dengan status sosialnya. Jithoke gosong (punggungnya gosong) adalah gambaran orang yang biasa melakukan pekerjaan kasar, misalnya:
angkat karung, atau kuli.
14 Ungkapan kencete mlethek (telapak kakinya tampak retak-retak) menggambarkan seseorang yang biasa bekerja tanpa alas kaki, yakni buruh tarsi atau kuli.
kelompok masyarakat memiliki kebebasan dalam menentukan arah masa depan kehidupannya. Bahkan, mereka dapat mencari "pegangan" lain di luar territorial di mana mereka tinggal. Di samping itu, peristiwa di atas juga menengarai bahwa dalam kehidupan sehari-hari, norma-norma kultural senantiasa diciptakan kembali melalui hubungan timbal-balik antara perilaku dan reaksi sistem sosial di mana perilaku kit ditampilkan, sementara sistem sosial masyarakat memaksakan norma-norma tertentu pada orang-orang yang hidup dalam sistem sosial itu. Dalam keadaan seperti ini, anggota masyarakat berkemungkinan mengalami apa yang dinamakan oleh Thompson et.al. (1990) sebagai surprise. Kondisi semacam ini pada gilirannya memunculkan konflik (atau mengakibatkan dissonansi kognitif) pada individuindividu sebagai anggota masyarakat. Habermas (1988) mengemukakan bahwa konflik dapat terjadi ketika dunia kehidupan dan sistem bertemu. Menurut Bauman (1995), dalam situasi seperti itu kehidupan individu menjadi selalu diliputi keadaan ambivalensi antara pensisteman dan kontingensi.
Cuddihy (dalam Robertson, 1992) menamakannya dengan "differensiasi antara afeksi pribadi dan cara bertindak publik". Menurut Habermas (1988), konflik ini lebih merupakan masalah gramatika kehidupan, sehingga tidak terorganisir.
Sebagai akibatnya, pola identitas menjadi lebih kompleks, yaitu ketika sistem menuntut loyalitas lokal pada individu-individu sebagai anggotanya, tetapi secara bersamaan mereka ingin berbagi dengan nilai dan gaya hidup yang lebih luas.
Di Kedungpring pernah berkembang mitos kabotan jeneng15. Berdasar pada keyakinan mereka, seseorang yang mengalami penderitaan kabotan jeneng seperti itu hanya dapat diselamatkan melalui mengganti namanya dengan nama baru.
Menurut keyakinan mereka, jika hal ini tidak dilakukan dapat mengakibatkan si penyandang nama yang bersangkutan akan mengalami penderitaan hidup. Agar dapat selamat dan terhindar dari kutukan namanya sendiri, maka pergantian nama harus melalui upacara pesta komunal slametan, yang disebut bancakan atau Slametan ngelih jeneng. Pada umumnya, upacara pergantian nama ini dihadiri oleh anak-anak sebaya. Kehadiran mereka diharapkan untuk menjadi saksi. Meskipun
15 Sejumlah warga meyakini bahwa nama seseorang bisa membawa berkah atau justru membawa petaka. Jika seorang anak sering sakit-sakitan, anak tersebut dipandang tidak sesuai menyandang nama yang telah diberikannya. Anak yang demikian disebut sedang menderita kabotan jeneng. Oleh karena itu, upaya untuk menyelamatkan anak adalah dengan mengganti nama. Upacara ganti nama biasanya disertai dengan bancakan, atau Slametan ngelih jeneng.
telah berganti nama baru, nama yang lama tidak berarti secara mutlak akan lenyap pada saat bancakan digelar. Nama yang lama itu menjadi sejarah pribadinya, dan biasanya akan lenyap seiring dengan bertambahnya usia. Seseorang yang telah berganti nama tidak menolak manakala is dipanggil dengan namanya yang lama.
Warga masyarakat meyakini bahwa nama seseorang itu menentukan nasib dirinya. Nama seseorang tidak selalu membawa keberuntungan, tetapi bisa menjadi sumber petaka kehidupan bagi si penyandang nama tersebut. Nama seseorang juga tidak hanya bisa membawa berkah atau memberi kutukan kepada penyandangnya saja, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakatnya. Oleh karena itu. pemberian nama kepada anak memerlukan pertimbangan tertentu, yang biasanya berupa pengharapan agar anak itu dapat terselamatkan oleh namanya. "Nama adalah doa!", demikian kata salah seorang warga kalangan “kaum santri”. Oleh karena itu, tidak sedikit keluarga baru yang meminta bantuan pihak lain untuk mencarikan pilihan-pilihan nama yang mengandung doa dan berkah bagi anak-anaknya.
Pada masa lalu—terutama masa awal "santrinisasi" Kedungpring—tradisi teknonim .seperti itu berkembang dengan pesat. Bersamaan dengan konstruksi kedhung agama, keterlibatan otoritas kyai dalam tradisi teknonim menjadi sangat dominan. Namun, seiring dengan perjalanan tamparisasi tradisi yang menekankan proses interpenetrasi beragam simbol-simbol identitas, ini tradisi teknonim semakin menurun frekuensinya, meskipun bukan berarti lenyap. Keluarga baru mulai me-miliki kebebasan dan kepercayaan diri dalam menentukan arah kehidupannya sendiri. Sebagaimana sinkretisme mimicri atau masuknya panggilan "mama", sejumlah keluarga baru yang bekerja di kota juga telah menyerap "nama-nama orang kota". Nama-nama yang dipandang memiliki nilai prestige itu sudah memasuki kehidupan mereka. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh salah seorang warga desa dari kalangan “kaum abangan” berikut ini:
Anak-anak Kedungpring sekarang ini banyak yang mempunyai nama yang sulit dimengerti apa maksud yang terkandung di dalam namanya.
Tampaknya, para orang tua mereka memberikan nama dengan satu pertimbangan saja, yaitu agar anaknya kelak tidak lagi dipandang sebagai wong ndesit (anak desa). Dengan kata lain, mereka berharap agar anaknya kelak dipandang sejajar dengan wong kuthit (anak kota).
Duladi—yang bekerja sebagai kuli batu di Surabaya—memberikan nama "Ayuwandira" kepada anak perempuan pertamanya. Mujer, yang bekerja sebagai penarik becak di Surabaya, menamakan anak laki-laki
ketiganya dengan nama Freddi Fatoni. Sedangkan Sanik, yang pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga keluarga orang Cina di Surabaya, menamakan anak bungsunya Susiana. Bahkan, Gus Hadi—
warga kalangan “kaum santri”—meskipun nama kedua anaknya adalah nama "santri" , tetapi kedua anaknya tersebut mempunyai nama panggilan A Hong dan Ba Hok seperti nama orang Cina pemilik toko kelontong di barat pasar kecamatan. Semua itu adalah nama-nama yang dulu terasa asing di telinga orang desa. (Teks asli dalam bahasa Jawa).
Meskipun nama yang dipilih oleh keluarga baru untuk anak-anak mereka lebih merupakan proses imitasi, tetapi harapan yang terkandung dan nama yang dipilih tetap menjadi pertimbangan utamanya. Pilihan nama Ayuwandira kemungkinan mengandung harapan agar anaknya kelak bernasib seperti pelaku dalam drama radio "Tutur Tinular". Di dalam drama radio itu diceritakan bahwa Meisin (wanita Cina) kekasih Arya Kamandanu, mempunyai seorang anak perempuan cantik yang bernama Ayuwandira. Nama-nama Cina juga dinilai mempunyai prestige tersendiri, atau dipandang bukan sebagai nama ndesit. Apalagi nama Freddi yang lebih dipandang mengandung kesan ada pengaruh dunia Barat.
Transferensi nilai dan "gaya hidup kota" (wong kuthit) yang memasuki kehidupan sehari-hari mereka, dan bukannya transmisi dan sosialisasi untuk mempertahankan kelangsungan hidup nama ndesa (wong ndesit), Proses pemberian nama yang berlangsung tanpa adanya kekhawatiran kutukan mitos kabotan jeneng ini lebih berupa suatu proses perubahan yang digambarkan oleh Dede Oetomo (1995), yaitu
"Tular-menularkan gaya hidup dan nilai", Pilihan nama kuthit mengandung harapan agar anak-anak mereka kelak dapat bergaul dengan warga lain dari kalangan yang lebih luas.
Munculnya nama-nama baru yang lebih bernuansa nama wong kuthit ini berbeda sekali dengan peristiwa yang sama pada masa awal "santrinisasi"
Kedungpring. Pada masa awal konstruksi kedhung agama, sejumlah warga Kedungpring justru menggunakan nama yang dipandang memanifestasikan simbol identitas "santri". Tidak sedikit warga Kedungpring—terutama dari kalangan
“kaum abangan”—harus mengganti namanya menjadi nama santri. Pergantian nama yang berkembang pada masa lalu itu lebih merupakan sebuah selective incentive yang dipandang dapat menyelamatkan eksistensi sosial mereka.
Pergantian nama dinilai memberikan keuntungan secara ideologis dan sosial dalam masyarakat yang telah dibingkai oleh kultur kontrol kedhung agama.
Pergantian nama yang berkaitan dengan upaya penyelamatan eksistensi sosial juga berlangsung pada orang-orang desa yang sudah haji. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh beberapa warga Kedungpring berikut ini:
Pardi berubah menjadi Haji Rahmat, Kayatun menjadi Hajah Fatimah, dan Halimah menjadi Hajah Maryam. Sedangkan Edi, sekarang ini lebih suka dipanggil Haji Misbah. Mereka mengatakan bahwa nama-nama baru itu merupakan pemberian anugerah dan seorang Syeh di Mekkah. Nama-nama baru pemberian Syeh tersebut diyakininya dapat memberikan berkah kepada yang bersangkutan. (Teks asli dalam bahasa Jawa).
Hampir semua nama baru pemberian seorang Syeh di Mekah itu menggunakan nama-nama Arab. Hal ini dapat dipahami karena sangat mungkin Sang Syeh tersebut tidak mengenal kosa kata nama-nama Jawa. Namun, hal yang utama dari peristiwa pergantian nama setelah berhaji ini bukan pada struktur kata dalam bahasa Arab atau Jawa. Sebagian besar warga masyarakat memaknai nama-nama yang bersumber dari struktur kata dalam bahasa Arab itu merupakan manifestasi simbolis kadar kesantrian seseorang. Nama bernuansa simbolis identitas santri yang disandang setelah berhaji dinilai semakin memperkokoh identitas kesantrian mereka.
Seiring dengan perjalanan tamparisasi tradisi yang berpola interpenetrasi, para haji akhir-akhir ini tidak lagi memandang perlu mengganti namanya.
Meskipun tradisi pergantian nama untuk para haji telah ditanggalkan, bukan berarti penyelamatan eksistensi sosial dalam masyarakat religius-agraris itu menjadi melemah. Simbol identitas kesantrian para haji tidak lagi dikaitkan secara langsung dengan nama kelahiran atau nama anugerah, tetapi pada gelar yang disandangkan kepada mereka. Sebagaimana yang terjadi di Kedungpring akhir-akhir ini, gelar yang disandangkan kepada seseorang yang telah berhaji adalah "abah" (untuk laki-laki), dan "bu hajah" untuk perempuan. Dengan menyandang gelar itu, upacara ritual penyelamatan eksistensi sosial dalam upaya menghindari "kutukan nama"
yang dilakukan dalam bentuk bancakan tidak harus diselenggarakan. Dengan kata lain, surutnya mitos kabotan jeneng, berkurang pula bancakan yang menyertainya.
Meskipun bancakan atau Slametan ngehh jeneng sudah kehilangan popularitas, situasi demikian tidak berarti menghapus bentuk Slametan yang berkaitan dengan penyelamatan eksistensi sosial. Bancakan masih tetap diselenggarakan, tetapi bukan untuk mengganti nama. Slametan ini diselenggarakan sebagai upacara peringatan hari kelahiran atau semacam pesta ulang tahun. Slametan ini biasanya diselenggarakan ketika usia anak bertepatan dengan masa awal memasuki bangku sekolah, baik TK atau SD. Rangkaian acaranya pun mengalami perubahan. Jika dalam bancakan mengganti nama para peserta membaca shalawat, dalam bancakan ulang tahun ini yang dibaca adalah, di samping shalawat, juga menyanyikan lagu "selamat ulang tahun" dan "panjang umur". Doa dan pengharapan yang diyakini membawa berkah keselamatan perjalanan hidup anak masih tetap dipertahankan melalui penyelenggaraan Slametan yang diwarnai nuansa pesta "ulang tahun" yang bersifat translokalitas.