• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum HibahWasiat Terhadap Anak Angkat menurut Hukum Perdata

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Hukum HibahWasiat Terhadap Anak Angkat menurut Hukum Perdata"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

Hukum HibahWasiat Terhadap Anak Angkat menurut Hukum Perdata

Enik Isnaini

*)

*) Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Lamongan

ABSTRACT

It’s natural for a parent to be wanting a child. However, in reality it’s quite not a rarity that a parent

doesn’t get what they want. By far, the most sustainable way to get an offspringto complete that

purpose is by adopting someone’s child.

Adopted children has the same position as biological children of their adoptive parents.; That way,

they can inherit their adoptive parents possession only on the inheritable parts. For that matter,

adoptive parents can inherit that for them based on Undang-Undang or based on the testament (Hibah

wasiat).

Keywords :Hibah Wasiat, Adopted Chidren.

1. Pendahuluan

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang

paling mulia merupakan mahluk sosial yang

tidak dapat hidup menyendiri atau terpisah dari

kelompok manusia lainnya.Sudah merupakan

kodrat manusia untuk hidup berdampingan

sesama

manusia

dan

berusaha

untuk

meneruskan

keturunan

dengan

cara

melangsungkan

perkawinan.

Guna

mewujudkan kesejahteraan dan kebahagian

masyarakat, perlu adanya landasan yang kokoh

dan kuat sebagai titik tolak pada masyarakat

yang adil dan makmur. Dalam hal ini,

Pemerintah telah mengeluarkan beberapa

Peraturan – Peraturan dan Undang – Undang

yang mengatur tentang perkawinan terutama

Undang – Undang Nomor 1 tahun 1974

tentang Perkawinan yang berlaku bagi semua

warga Negara.

Di dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 1

tahun 1974 disebutkan :

“ Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara

seorang pria dan seorang wanita sebagai suami

istri dengan tujuan membentuk keluarga

(rumah tangga) yang bahagia dan kekal

berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Tujuan suatu perkawinan adalah untuk

membentuk

suatu

keluarga.

Keluarga

mempunyai peranan penting dalam kehidupan

manusia

sebagai

makhluk

sosial

dan

merupakan kesatuan masyarakat terkecil yang

terdiri dari seorang ayah, ibu, dan anak. Anak

adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha

Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan

martabat sebagai manusia seutuhnya.

Keinginan untuk mempunyai seorang anak

adalah naluri manusiawi dan alamiah. Akan

tetapi pada kenyataannya tidak jarang sebuah

rumah tangga atau keluarga tidak mendapatkan

keturunan. Apabila suatu keluarga itu tidak

dilahirkan

seorang

anak

maka

untuk

melengkapi unsur keluarga itu atau untuk

melanjutkan keturunannya dapat dilakukan

suatu

perbuatan

hukum

yaitu

dengan

mengangkat anak (adopsi).

Didasarkan Pasal 39 ayat (1) Undang –

Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang

Perlindungan Anak bahwa pengangkatan anak

hanya dapat dilakukan untuk kepentingan yang

terbaik bagi anak dan dilakukan berdasarkan

adat kebiasaan setempat dan ketentuan

peraturan perundang – undangan yang berlaku.

Hal ini ditegaskan pula dalam Pasal 1 angka

9 Undang – Undang Nomor 23 tahun 2002

tentang Perlindungan Anak mengatakan bahwa

:

”Anak angkat adalah anak yang haknya

dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga

orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang

bertanggung

jawab

atas

perawatan,

pendidikan, dan membesarkan anak tersebut,

ke dalam lingkungan keluarga orang tua

angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan

pengadilan”.

Dengan demikian sahnya pengangkatan anak

menurut hukum apabila telah memperoleh

putusan pengadilan.

(2)

Berdasarkan Pasal 1 dan 2 Peraturan

Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54

Tahun 2007 Tentang Pengangkatan Anak,

Pengangkatan anak adalah suatu perbuatan

hukum yang mengalihkan seorang anak dari

lingkungan kekuasaan orang tua, wali yang

sah, atau orang lain yang bertanggung jawab

atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan

anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga

orang tua angkatnya berdasarkan keputusan

atau penetapan pengadilan.

Dalam Pasal 4 Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2007

Tentang Pengangkatan Anak menyatakan

bahwa pengangkatan anak tidak memutuskan

darah antara anak yang diangkat dengan orang

tua kandungnya.

Perbuatan

pengangkatan

anak

mengandung

konsekuensi

-

konsekuensi

yuridis bahwa anak angkat itu mempunyai

kedudukan

hukum

terhadap

yang

mengangkatnya. Di berbagai daerah di

Indonesia anak angkat mempunyai kedudukan

hukum yang sama dengan anak keturunan

sendiri, juga termasuk hak untuk dapat

mewarisi kekayaan yang ditinggalkan orang

tua angkatnya pada waktu meninggal dunia,

akan tetapi dalam kenyataannya anak angkat

yang sah masih dianggap bukan bagian dari

keluarga yang merupakan kesatuan masyarakat

terkecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak,

sehingga mereka dianggap tidak berhak atas

harta peninggalan orang tuanya karena bukan

ahli waris dari orang tua yang mengangkatnya.

Hal ini karena adanya pengaruh dari sistem

hukum Islam yang tidak mengatur tentang

adanya pengangkatan anak yang dijadikan

sebagai anak kandung hal ini tidak dibenarkan.

Untuk melindungi agar anak angkat tetap

mendapatkan haknya atas harta peninggalan

orang tua angkatnya , maka orang tua angkat

membuat hibah wasiat.

Hibah wasiat merupakan suatu jalan bagi

pemilik harta kekayaan untuk semasa masih

hidupnya menyatakan keinginannya yang

terakhir

tentang

pembagian

harta

peninggalannya kepada ahli waris, yang baru

akan berlaku setelah ia meninggal.

Di dalam Pasal 957 KUH Perdata

disebutkan :

“ Hibah wasiat adalah suatu penetapan wasiat

yang khusus, dengan mana si yang mewariskan

kepada seseorang atau lebih memberikan

beberapa barang – barangnya dari suatu jenis

tertentu, seperti misalnya, segala barang

bergerak atau tidak bergerak, atau memberikan

hak pakai hasil atas seluruh atau sebagian harta

peninggalannya”.

II. Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukuan adalah

metode penelitian hukum normatif yang

disebut juga penelitian kepustakaan (Library

Research), adalah suatu prosedur penelitian

ilmiah

untuk

menemukan

kebenaran

berdasarkan logika keilmuwan hukum dari sisi

normatif. Oleh karena itu penelitian hukum ini

difokuskan untuk mengkaji penelitian hukum

tentang kaidah-kaidah atau norma-norma

dalam hukum positif.

Pendekatan masalah yang digunakan

adalah pendekatan perundang-undangan yang

berhubungan dengan pokok permasalahan.

Selain itu juga digunakan pendekatan analisa

(Analisis Aproach). Pendekatan analisa ini

digunakan dalam rangka untuk menganalisa

penerapan norma-norma atau kaidah-kaidah

hukum yang dilakukan dalam praktek sesuai

dengan ketetapan.

Bahan hukum yang dipakai dalam

penelitian ini, yaitu : (1) Bahan primer yaitu

data yang dikumpulkan oleh peneliti yakni

putusan pengadilan tentang hibah wasiat anak

angkat, (2) Bahan sekunder yaitu data yang

diambil dari tulisan-tulisan para ahli hukum,

artikel, makalah yang berkaitan dengan

tinjauan hukum hak mewaris anak angkat

didasarkan hibah wasiat, (3) Bahan tersier

yaitu data yang memberikan petunjuk atau

penjelasan bermakna terhadap data primer dan

sekunder, seperti kasus hukum, majalah, dan

lain-lain.

Pengumpulan bahan hukum Baik

bahan primer maupun sekunder dikumpulkan

berdasakan topik permasalahan yang telah

dirumuskan dan diklarifikasi menurut sumber

dan

hirarkinya

untuk

dikaji

secara

komprehensif.Pengolahan bahan hukum adalah

kegiatan merapikan hasil pengumpulan data

kepustakaan sehingga siap pakai untuk

dianalisis. Prosedur pengolahan bahan hukum

dimulai dengan memeriksa data secara

korelatif yaitu yang hubungannya antara gejala

yang satu dengan yang lain, selanjutnya data

dianalisa sehingga dapat diperoleh gambaran

(3)

yang jelas tentang Hibah Wasiat terhadap

Anak Angkat menurut Hukum Perdata.

III. Hasil Penelitian Dan Pembahasan

A. Dasar Hukum Waris

Yang dinamakan mewaris ialah menggantikan

hak dan kewajiban seseorang yang meninggal.

Adapun yang digantikan itu adalah hak dan

kewajiban dalam bidang hukum kekayaan,

artinya hak dan kewajiban dapat dinilai dengan

uang.

Dasar hukum seseorang ahli waris mewarisi

sejumlah harta pewaris menurut sistem hukum

waris KUH Perdata ada dua cara, yaitu:

1. Menurut ketentuan undang-undang.

2. Ditunjuk dalam surat wasiat (testamen)

adalah suatu pernyataan tentang apa yang

dikehendaki setelah ia meninggal dunia.

Seseorang dapat mewariskan sebagian atau

seluruhnya hartanya dengan surat wasiat.

Apabila seseorang hanya menetapkan sebagian

dari hartanya melalui surat wasiat, maka

sisanya

merupakan

bagian

ahli

waris

berdasarkan undang-undang (ahli waris ab

intestato). Jadi pemberian seseorang pewaris

berdasarkan surat wasiat tidak bermaksud

untuk menghapuskan hak untuk mewaris

secara ab intestato.

Hukum waris yang berlaku di Indonesia

sekarang ini masih tergantung pada hukum

waris mana yang berlaku bagi yang meninggal

dunia. Apabila yang meninggal dunia atau

pewaris termasuk golongan penduduk di

Indonesia maka yang berlaku hukum waris

adat, sedangkan apabila pewaris termasuk

golongan Eropa atau timur asing Tionghoa,

bagi mereka berlaku hukum waris Barat. Bila

pewaris

termasuk

golongan

penduduk

Indonesia yang beragama Islam mereka

mempergunakan

peraturan

hukum

waris

berdasarkan hukum waris Islam. Bila pewaris

termasuk golongan penduduk timur asing Arab

atau India, bagi mereka berlaku hukum adat

mereka.

B. Pengertian Hukum Waris Barat (KUH

Perdata)

Tidak terdapat pasal yang memberikan

pengertian tentang hukum waris, namun

sebagaimana yang dikatakan dalam Pasal 830

KUH Perdata, bahwa:

“pewarisan hanya berlangsung karena

kematian”.

Dengan demikian menurut hukum Barat

terjadinya pewarisan apabila adanya orang

yang mati dan meninggalkan harta kekayaan.

Untuk terjadinya pewarisan harus

dipenuhi 3 (tiga) unsur, yaitu: (1) Pewaris

adalah

orang

yang

meninggal

dunia

meninggalkan harta kepada orang lain, (2) Ahli

waris adalah orang yang menggantikan

pewaris di dalam kedudukannya terhadap

warisan, baik untuk seluruhnya, maupun untuk

sebagian, (3) Harta warisan adalah segala harta

kekayaan dari orang yang meninggal dunia.

C. Kedudukan Anak Angkat

Perbuatan mengangkat anak mempunyai

akibat hukum. Menurut pasal 14 Staatblad

1917 no.129 pengangkatan anak memberi

akibat bahwa status anak yang bersangkutan

berubah menjadi seperti seorang anak sah.

Hubungan keperdataan dengan orang tua

kandungnya menjadi putus sama sekali.

Pengangkatan anak menurut hukum perdata

(BW) mempunyai akibat hukum anak angkat

mempunyai kedudukan seperti anak kandung

dan memperoleh bagian warisan dari orang tua

angkatnya.

Sedangkan pengangkatan anak menurut

hukum adat mempunyai akibat hukum yang

berbeda-beda baik mengenai kedudukannya

maupun kewarisannya. Hal ini tergantung pada

kelembagaan pengangkatan anak (sistem

hukum) yang hidup dan berkembang didaerah

yang bersangkutan.

D. Ahli Waris Menurut KUH Perdata

KUH Perdata membagi dua ahli waris,

yaitu : (1) Ahli waris menurut undang-undang

adalah ahli waris yang ditunjuk atau ditentukan

oleh

undang-undang.

Undang-undang

menunjuk sebagai ahli waris adalah keluarga

sedarah dan suami atau istri yang masih hidup.

Jadi seluruh pewarisan menurut

undang-undang berdasarkan atas hubungan sedarah

dan hubungan perkawinan, (2) Ahli waris

menurut tastemen adalah siapa saja yang

disebutkan

dalam

testemendengan

tidak

mengurangi kekecualian yang diatur dalam

Pasal 895-912 KUH Perdata. Ahli waris

menurut surat wasiat jumlahnya tidak tertentu

tergantung kehendak pembuat wasiat. Dengan

demikian, ahli waris mendapat bagian warisan

berdasarkan penunjukan si pewaris pada waktu

(4)

ia masih hidup. Terkadang wasiat berisi

penunjukan seorang atau beberapa orang ahli

waris yang akan mendapat seluruh atau

sebagian warisan dan memperoleh segala hak

dan kewajiban dari pewaris. Namun demikian,

kebebasan untuk membuat surat wasiat

dibatasi Pasal 881 ayat (2) KUHPerdata yang

menyatakan, bahwa:

“Dengan sesuatu pengangkatan waris atau

pemberian hibah yang demikian, si yang

mewariskan tidak boleh merugikan para ahli

warisnya yang berhak atas sesuatu bagian

mutlak.”

Dari kedua macam ahli waris di atas,

timbullah persoalan ahli waris yang manakah

yang lebih diutamakan, apakah ahli waris

menurut undang-undang atau ahli waris

menurut surat wasiat. Berdasarkan beberapa

peraturan-peraturan yang termuat dalam KUH

Perdata

tentang

surat

wasiat,

dapat

disimpulkan bahwa yang diutamakan adalah

ahli waris menurut undang-undang. Hal ini

terbukti beberapa peraturan yang membatasi

kebebasan seseorang untuk membuat surat

wasiat agar tidak sekehendak hatinya.

Ahli waris menurut undang-undang atau

ahli waris Ab Intestato yang berdasarkan

hubungan darah dibedakan menjadi empat

golongan :

a) Golongan 1 : Keluarga dalam garis lurus

kebawah, meliputi anak-anak beserta

keturunan mereka beserta suami/istri yang

ditinggalkan/yang

hidup

paling

lama.

Suami/istri yang ditinggalkan atau hidup

paling lama ini baru diakui sebagai ahli

waris

pada

tahun

1935,

sedangkan

sebelumnya

suami/istri

tidak

saling

mewarisi.

b) Golongan 2 : Anggota keluarga garis lurus

keatas yaitu, ayah, ibu, saudara dan

keturunannya. Menurut Pasal 854 KUH

Perdata :

a. Ayah dan ibu masing-masing mendapat

1/3 bagian dari harta warisan jika hanya

terdapat 1 orang saudara pewaris.

b. Ayah dan ibu mendapat ¼ bagian dari

harta

peninggalan

jika

pewaris

meninggalkan lebih dari 1 orang saudara

laki-laki atau perempuan. Jika ibu atau

ayah sudah meninggal dunia, maka yang

hidup terlama menurut ketentuan Pasal

855 KUH Perdata akan memperoleh

bagian sebagai berikut :

1) 1/2 bagian dari seluruh harta

warisan, jika ia mewaris bersama

dengan saudaranya, baik laki-laki

atau perempuan.

2) 1/3 bagian dari seluruh harta

warisan, jika mewaris

bersama-sama dengan 2 orang saudara.

3) 1/4 bagian dari seluruh harta

warisan, jika ia mewaris

bersama-sama dengan 3 orang atau lebih

saudara pewaris.

Apabila ayah dan ibu pewaris sudah

tidak ada lagi maka harta peninggalan

dibagikan

kepada

saudara-saudara

pewaris, sebagai ahli waris golongan 2

baik saudara seayah maupun saudara

seibu.

c) Golongan 3 : Kakek, nenek dalam garis

lurus keatas dari pihak ayah dan ibu si

pewaris. Dalam hal ini, sebelum harta

warisan dibuka terlebih dahulu dibagi dua

(Kloving) yaitu 1/2 merupakan bagian

keluarga dari ayah pewaris dan 1/2 bagian

keluarga dari ibu pewaris. (Pasal 850 dan

Pasal 853 Ayat (1) KUH Perdata).

d) Golongan 4 : Garis menyamping (paman,

bibi, sepupu) sampai derajat ke 6.

Ahliwaris

menurut

surat

wasiat

(testamentair) yaitu siapa saja yang disebutkan

dalam testamenterdengan tidak mengurangi

kekecualian yang diatur dalam Pasal 895-912

KUH Perdata tentang kecakapan seseorang

untuk membuat wasiat atau untuk menikmati

keuntungan dari surat wasiat.

Jumlah ahli waris menurut wasiat tidak

tentu, karena ahli waris ini bergantung pada

kehendak si pembuat wasiat. Surat wasiat

seringkali berisi penunjukan seorang atau

beberapa orang ahli waris yang akan mendapat

seluruh atau sebagian dari warisan dan mereka

tetap akan memperoleh segala hak dan

kewajiban dari pewaris seperti halnya ahli

waris menurut undang-undang.

Seseorang yang akan menerima waris harus

memenuhi syarat-syarat, yaitu:

1. Harus ada yang meninggal dunia (Pasal 830

KUHPerdata).

2. Ahli waris atau para ahli waris harus ada

pada saat pewaris meninggal dunia.

3. Ahli waris harus cakap serta berhak

mewaris, dalam artian tidak dinyatakan

oleh undang-undang sebagai seseorang

yang tidak patut mewaris karena kematian

(5)

atau dianggap tidak cakap menjadi ahli

waris.

Di dalam Pasal 838 KUH Perdata

ditegaskan tentang orang yang dianggap tidak

patut menjadi ahli waris dan dikecualikan dari

pewarisan adalah :

1. Mereka yang telah dihukum karena

dipersalahkan

telah

membunuh,

atau

mencoba membunuh si yang meninggal.

2. Mereka yang dengan putusan Hakim pernah

dipersalahkan karena secara fitnah telah

menunjukan pengaduan terhadap pada si

yang meninggal, ialah suatu pengaduan

telah melakukan sesuatu kejahatan yang

terancam dengan hukuman penjara 5 tahun

lamanya atau hukuman berat.

3. Mereka yang dengan kekerasan atau

perbuatan

telah

mencegah

si

yang

meninggal untuk membuat dan mencabut

surat wasiatnya.

4. Mereka yang telah menggelapkan, merusak

atau memalsukan surat wasiat si yang

meninggal.

Ketidakpatutan ini menghalangi ahli waris

tersebut untuk menerima warisan. Hal ini

dimaksudkan untuk melindungi pewaris dan

keluarganya dari tindakan pihak lain (ahli

waris) yang tidak beritikad baik.

Dalam KUH Perdata, peralihan harta dari

orang yang telah meninggal dunia kepada ahli

warisnya tergantung pada kehendak dan

kerelaan ahli waris yang bersangkutan. Ahli

waris dimungkinkan untuk menolak warisan,

karena apabila ia menerima maka harus

menerima

segala

konsekuensinya,

salah

satunya adalah melunasi seluruh hutang

pewaris.

E. Warisan Menurut KUH Perdata

Warisan menurut hukum waris Barat (KUH

Perdata) meliputi seluruh harta benda beserta

hak – hak dan kewajiban – kewajiban pewaris

dalam lapangan hukum harta kekayaan yang

dapat dinilai dengan uang, akan tetapi terhadap

ketentuan tersebut ada beberapa pengecualian,

dimana hak – hak dan kewajiban – kewajiban

dalam lapangan hukum harta kekayaan ada

juga yang tidak dapat beralih kepada para ahli

waris, antara lain :

1. Hak memungut hasil (vruchtgebruik).

2. Perjanjian perburuhan, dengan pekerjaan

yang harus dilakukan bersifat pribadi.

3. Perjanjian pengkongsian dagang, baik yang

berbentuk maatschap menurut BW maupun

Firma menurut WvK, sebab pengkongsian

ini berakhir dengan meninggalnya salah

seorang anggota / persero.

F. Pengertian Pengangkatan Anak

Di dalam Pasal 1 angka (9)

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002, disebutkan :

“Anak angkat adalah anak yang haknya

dialihkan dari lingkungan keluarga orang tua,

wali yang sah, atau orang lain yang

bertanggung

jawab

atas

perawatan,

pendidikan, dan membesarkan anak tersebut,

kedalam lingkungan keluarga orang tua

angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan

pengadilan”

Dari pengertian tersebut diatas dapat

dibedakan antara pengangkatan anak dengan

adopsi. Di dalam pengangkatan anak hubungan

antara anak yang diangkat dengan orang tua

kandungnya tidak putus sehingga ia mewaris

baik dari orang tua angkatnya maupun orang

tua kandungnya, sedangkan dalam adopsi

hubungan antara anak yang diangkat

dengan orang tua kandungnya putus sama

sekali sehingga ia hanya mewaris dari orang

tua angkatnya saja.

G

Pengangkatan Anak Menurut Hukum

Barat

Pengangkatan anak dalam Hukum Barat

(Perdata) hanya terjadi dengan akta Notaris,

tata cara pembuatannya adalah sebagai berikut

:

1. Para pihak datang menghadap Notaris

2. Boleh dikuasakan, tetapi untuk itu harus

didasarkan surat kuasa khusus yang

dibubuhi materai.

3. Pada

akta

dituangkan

pernyataan

persetujuan bersama antara orang tua

kandung dengan orang tua angkat.

4. Akta tersebut disebut „akta adopsi‟.

H. Pengertian Hibah Wasiat

Hibah wasiat adalah pernyataan kehendak

seseorang mengenai apa yang akan dilakukan

terhadap hartanya setelah ia meninggal dunia

kelak.

Pelaksanaan

hibah

wasiat

ini

baru

dilakukan setelah pewaris meninggal dunia.

Didalam praktik pelaksanaannya, hibah wasiat

harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu

(6)

agar

pelaksanaannya

tidak

bertentangan

dengan ketentuan hukum waris dan tidak

merugikaan para ahli waris lain yang tidak

memperoleh pemberian melalui hibah wasiat.

Dalam kaitan ini pula hukum membatasi

kekuasaan

seseorang

untuk

menentukan

kehendak terakhirnya melalui hibah wasiat

agar ia tidak mengesampingkan anak sebagai

ahli waris melalui hibah wasiat.

Hibah wasiat dapat dibuat oleh pewaris

sendiri atau dibuat secara notariil. Yang mana

Notaris khusus diundang untuk mendengarkan

ucapan terakhir itu dengan disaksikan oleh dua

orang saksi, dengan cara demikian maka hibah

wasiat memperoleh bentuk akta notaris dan

disebut wasiat atau testamen.

Dalam

Pasal

875

KUA

Perdata

menyebutkan pengertian tentang surat wasiat,

yaitu :

“Surat wasiat atau testamen adalah suatu akta

yang memuat pernyataan seseorang tentang

apa yang dikehendakinya akan terjadi setelah

ia meninggal dunia dan dapat dicabut

kembali”.

I. Pembatasan Dalam Hal Membuat Hibah

Wasiat

Menurut Hukum Barat (KUH Perdata)

pembatasan dalam hal membuat hibah wasiat

yaitu tentang besar kecilnya harta warisan

yang akan dibagi-bagikan kepada ahli waris

yang disebut “Ligitime Portie”, atau ”wettelijk

erfdeel” (besaran yang ditetapkan oleh

Undang-Undang). Hal ini diatur dalam Pasal

913-929 KUH Perdata.

Ligitime Portie( bagian mutlak ) adalah

suatu bagian dari harta peninggalan atau

warisan yang harus diberikan kepada para

waris dalam garis lurus, terhadap bagain mana

si pewaris dilarang menetapkan sesuatu baik

yang berupa pemberian (Hibah) maupun hibah

wasiat. Begitulah bunyi pasal 913 KUH

Perdata.

Dalam garis lurus kebawah, apabila si

pewaris itu hanya meninggalkan anak sah satu

– satunya, maka bagian mutlak baginya itu

adalah setengah dari harta peninggalan. Jadi

apabila tidak ada testamen maka anak satu –

satunya itu mendapat seluruh harta warisan,

jika ada testamen anak satu – satunya itu

dijamin akan mendapat setengah dari harta

peninggalan.

Apabila 2 ( dua ) orang anak yang

ditinggalkan, maka bagian mutlak itu adalah

masing – masing 2/3. Ini berarti bahwa mereka

itu dijamin bahwa masing – masing akan

mendapat

2/3

dari

bagian

yang

akan

didapatnya seandainya tidak ada testamen.

Apabila 3 ( tiga ) anak atau lebih yang

ditinggalkan, maka bagian mutlak itu adalah

masing – masing ¾ . Ini berarti bahwa mereka

dijamin masing – masing akan mendapatkan ¾

dari bagian yang akan didapatnya seandainya

tidak ada testamen.

Dalam garis lurus keatas ( orang tua, kakek

dan seterusnya ) bagian mutlak itu selamanya

adalah setengah, yang menurut Undang –

undang menjadi bagian tiap – tiap mereka

dalam garis itu dalam pewarisan karena

kematian.

Perlu juga diperhatikan bahwa anak luar

kawin (anak angkat) yang telah diakui dijamin

dengan jaminan mutlak, yaitu setengah dari

bagian yang menurut Undang– undang harus

diperolehnya. Seandainya tidak ada keluarga

sedarah dalam garis lurus ke bawah dan ke atas

serta tidak ada anak luar kawin yang telah

diakui, maka hibah atau hibah wasiat boleh

meliputi seluruh harta peninggalan.

Apabila ketentuan – ketentuan mengenai

bagian mutlak seperti yang dijelaskan diatas

dilanggar, maka pewaris yang dijamin dengan

bagian mutlak itu dapat mengajukan gugatan

kepada pengadilan supaya hibah atau hibah

wasiat tersebut dikurangi, sehingga tidak

melanggar ketentuan Undang – Undang

khususnya KUH Perdata.

Jadi peraturan tentang bagian mutlak ini

pada hakekatnya merupakan pembatasan

terhadap kebebasan orang membuat testamen.

J. Cara Penghibahan Wasiat

Menurut Pasal 931 KUH Perdata,bahwa

dalam pembuatan wasiat atau hibah wasiat

dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu :

1. Testamen Rahasia (geheim)

2. Testamen Umum

3. Testamen tertulis sendiri (olografis), yang

biasanya bersifat rahasia ataupun tidak

rahasia.

Dalam ketiga testamen ini dibutuhkan

campur tangan seorang notaris. Dalam

testamen olografis (Pasal 932 KUH Perdata)

ditetapkan bahwa testamen ini seluruhnya

ditulis dengan tangan dan ditandatangani

(7)

pewaris sendiri. Kemudian surat wasiat

tersebut harus diserahkan untuk disimpan pada

seorang notaris dan penyerahan kepada notaris

ini ada dua cara, yaitu bisa diserahkan dalam

keadaan terbuka bisa juga dalam keadan

tertutup.

Kedua

cara

penyerahan

dan

penyimpana pada notaris itu mempunyai akibat

hukum yang satu sama lain berbeda, yaitu:

1. Apabila surat wasiat diserahkan dalam

keadaan terbuka maka dibuatlah akta

notaris

tentang

penyerahan

itu

dan

ditandatangani oleh pewaris, saksi-saksi,

dan juga notaris. Akta penyimpanan

tersebut ditulis dikaki surat wasiat tersebut,

jika tidak ada tempat kosong pada kaki

surat wasiat tersebut, maka amanat ditulis

lagi pada sehelai kertas yang lain.

2. Apabila surat wasiat diserahkan kepada

notaris dalam keadaan tertutup, maka

pewaris harus menuliskan kembali pada

sampul dokumen itu bahwa surat tersebut

berisikan

wasiatnya

dan

harus

menandatangani keterangan itu dihadapan

notaris dan saksi-saksi. Setelah itu pewaris

harus membuat akta penyimpanan surat

wasiat pada kertas yang berbeda.

Dalam Pasal 932 Ayat 2 KUH Perdata

mengulas

tentang

kemungkinan

berhalangannya si peninggal warisan untuk

menandatangani sampul atau akta penerimaan

setelah

menulis

dan

menandatangani

testamennya. Jika hal ini terjadi maka notaris

wajib mencatat hal ini serta penyebab

berhalangnya ini.

Ditetapkan pada Pasal 933 KUH Perdata,

bahwa :

“kekuatan testamen olografis ini sebanding

dengan kekuatan testamen terbuka yang dibuat

dihadapan Notaris dan dianggap terbuat di

tanggal dari akta penerimaan oleh Notaris. Jadi

tidak dikesampingkan tentang tanggal yang

ditulis dalam testamennya sendiri”.

Pasal 933 Ayat 2 KUH Perdata berisi suatu

peraturan tentang keaslian dari testamen

tersebut apakah benar-benar ditulis dan

ditandatangani oleh si peninggal warisan, atau

di belakang hari terbukti palsu. Melalui pasal

tersebut dicegah terjadinya perselisihan di

hadapan hakim tentang pembagian tugas

membuktikan sesuatu hal.

Berdasarkan Pasal 934 KUH Perdata,

bahwa:

“si peninggal warisan bisa menarik kembali

testamenya”.

Biasanya hal ini dilaksanakan dengan cara

permintaan kembali tersebut harus dinyatakan

dalam suatu akta otentik (akta notaris). Dengan

menerima kembali testamen olosgrafis ini,

hibah warisan harus dianggap seolah-olah

ditarik kembali (herroepen), hal ini ditegaskan

oleh ayat 2 Pasal 934 KUH Perdata.

Sedangkan oleh Pasal 937 ditetapkan, jika

testamen olosgrafis ini diserahkan kepada

Notaris dengan cara tersebut pada suatu

sampul bersegel, maka Notaris tidaklah berhak

membuka segel tersebut. Jadi segel tersebut

boleh dibuka setelah si peninggal warisan

wafat, dengan cara menyerahkannya kepada

Balai Harta Peninggalan (weeskamer) untuk

dibuka dan diselesaikan sebagaimana dengan

testamen rahasia (Pasal 942 KUH Perdata),

yakni dengan membuat proses verbal atas

pembukaan ini dan atas keadaan testamen yang

diketemukan, selanjutnya testamen tersebut

harus diserahkan kembali kepada notaris.

Testamen umumdiatur pada Pasal 938 KUH

Perdata menetapkan testamen umum wajib

dibuat dihadapan Notaris dengan mengajukan

dua orang saksi. selanjutnya orang yang

meninggalkan

warisan

mengutarakan

keinginannya

kepada

Notaris

dengan

secukupnya maka Notaris wajib mencatat

keterangan – keterangan ini dalam kalimat –

kalimat yang jelas. Hal itu tidak dapat

dilakukan dengan perantara orang lain, baik

anggota keluarganya maupun notaris yang

bersangkutan.

Dalam Pasal 939 Ayat 2 KUH Perdata

menerangkan bahwa :

“Jika penuturan itu berlangsung diluar

hadirnya saksi-saksi, dan rencana surat wasiat

telah disiapkannya, makasebelum rencana

dibacakannya, simewariskan harus sekali lagi

menuturkan kehendaknya dihadapan

saksi-saksi”

Selanjutnya menurut Pasal 939 Ayat 3

KUH Perdata menerangkan bahwa:

“kemudian dengan dihadiri saksi-saksi, notaris

harus membacakan surat tadi, setelah mana

kepada si yang mewariskan harus ditanya,

apakah benar yang dibacakan tadi memuat

kehendaknya.”

Dalam pembuatan testamen umum, terdapat

beberapa orang yang tidak boleh menjadi saksi

yaitu:

(8)

1. Para ahli waris atau orang-orang yang

diberi hibah atau sanak saudara mereka

sampai derajat keempat.

2. Anak-anak, cucu-cucu, dan anak-anak

menantu,dan anak atau cucu Notaris.

3. Pelayan-pelayan Notaris.

Testamen Rahasia yaitu surat wasiat yang

ditulis sendiri atau orang lain yang disuruhnya

untuk

menulis

kehendak

terakhirnya.

Kemudian ia harus menandatangani surat

tersebut. Surat wasiat macam ini harus

disampul dan disegel, kemudian diserahkan

kepada notaris dengan dihadiri empat orang

saksi. Penutupan dan penyegelan dapat juga

dilakukan dihadapan notaris dan empat orang

saksi.

Selanjutnya

pembuat

wasiat

harusmembuat keterangan dihadapan notaris

dan saksi-saksi bahwa yang termuat dalam

sampul itu adalah surat wasiatnya yang ia tulis

sendiri atau ditulis orang lain dan ia

menandatangani. Kemudian notaris membuat

keterangan

yang

isinya

membenarkan

keterangan tersebut.

Pasal 940 Ayat 4 KUH Perdata

menetapkan bahwa:

“Tiap-tiap

surat

wasiat

tertutup

atau

menerimanya, diantaranya surat-surat asli yang

ada padanya.”

Pasal

941

Ayat

1

KUH

Perdata

menjelaskan bahwa:

“Jika si yang mewariskan tidak dapat bicara,

namun dapat juga menulis, maka dalam hal

yang demikianpun bolehlah ia membuat surat

wasiat tertutup, asl surat tersebut ditulis,

ditanggali dan ditandatangani olehnya sendiri,

surat tadi kemudian harus ditunjukkan kepada

notaris dihadapan saksi-saksi, setelah itu

dihadapan saksi-saksi tersebut, diatas skta

pengalamatan

surat

harus

ditulis

dan

ditandatangani pula, bahwa kertas yang

ditunjukkannya memuat wasiatnya,akhirnya

notaris harus menulis akta pengalamatan surat

wasiat tadi dengan menerangkan didalamnya,

bahwa si yang mewariskan telah menulis surat

itu didepannya dan didepan saksi-saksi,pun

harus diperhatikan juga, apa yang telah

ditentukan dalam pasal yang lalu.”

Jika si penghibah wasiat meninggal dunia,

maka yang berkewajiban memberitahukan

kepada mereka yang berkepentingan adalah

Notaris, hal ini berdasarkan Pasal 943 KUH

Perdata menjelaskan bahwa:

“Tiap-tiap notaris yang menyimpan surat-surat

wasiat diantara surat-surat aslinya, biar dalam

bentuk apapun juga, harus setelahsi yang

mewariskan

meninggal

dunia,

memberitahukannya

kepada

semua

yang

berkepentingan.”

4. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan

uraian

yang

telah

dikemukakan diatas, maka dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut :

1. Anak

angkat

mempunyai

kedudukan

sebagai anak sendiri (kandung) dari orang

tua angkatnya sebagaimana anak yang lahir

dari perkawinan orang tua angkatnya.

Demikian juga anak angkat menjadi ahli

waris dari orang tua angkatnya tetapi anak

angkat tersebut hanya menjadi ahli waris

dari bagian yang tidak diwasiatkan. Karena

ketentuan ini, maka anak angkat tidak

mempunyai bagian yang ditentukan.

2. Hak mewaris anak angkat tidak diatur

didalam Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata, namun demikian khusus bagi

Warga

Negara

Indonesia

keturunan

Tionghoa, kedudukan anak angkat adalah

sama dengan anak sah. Untuk itu ia berhak

mewaris harta warisan orang tua angkatnya

menurut Undang-undang atau mewaris

berdasarkan hukum waris Testamentair

apabila ia mendapatkan testament (Hibah

Wasiat).

B. Saran

Adapun

saran-saran

yang

penulis

kemukakan adalah sebagai berikut :

1. Staatsblad 1917 nomor 129 tentang

pengangkatan anak sudah tidak sesuai

dengan perkembangan yang terjadi di

dalam masyarakat. Karena itu

Undang-Undang

dan

Peraturan-peraturan

Pemerintah yang mengatur pengangkatan

anak sangat dibutuhkan agar tidak adanya

perbedaan dalam pengangkatan anak, baik

bagi Warga Negara Indonesia Keturunan

maupun Warga Negara Indonesia Asli,

serta bagi anak yang diangkat tidak hanya

pada anak laki-laki saja, tetapi juga bagi

anak perempuan. Dan juga diperlukan

adanya Undang-undang nasional tentang

hukum waris sehingga adanya kesamaan

dalam pembagian hak waris baik bagi anak

sah maupun anak angkat yang dapat

(9)

dijadikan pedoman dalam penyelesaian

sengketa waris.

2. Supaya masyarakat yang mampu secara

sosial

dan

ekonomi,

serta

mampu

mengemban amanah untuk tergerak hatinya

membantu anak-anak yang miskin, terlantar

dan

kurang

mampu

yang

sangat

membutuhkan bantuan, kasih sayang dan

belas kasihan dengan jalan mengangkat

anak.

DAFTAR PUSTAKA

Djaja S. Meliala. 1982. Pengangkatan Anak

(Adopsi)

di

Indonesia.

Bandung.

Tarsito.

Eman

Suparman.

2011.

Hukum

Waris

Indonesia-Dalam Perspektif Islam, Adat,

dan BW. Bandung. Refika Aditama.

Subekti, S.H. 1990. Ringkasan Tentang

Hukum Keluarga dan Hukum Waris..

Jakarta. Intermasa.

Peraturan Perundang – Undangan :

- Kitab Undang-Undang Hukum perdata

- Staatblad 1917 Nomor 129

- Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974

tentang Perkawinan

- Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2002

tentang Perlindungan Anak.

- Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007

tentang Pengangkatan Anak

(10)

Pengaruh Merek Dagang Dan Harga Terhadap Keputusan Pembelian

Produk Shampo Masyarakat Desa Payaman Kecamatan Maduran

Kabupaten Lamongan

Ratna Handayati*, Nur Auwaliyah **)

* Dosen Program Studi Manajemen FE Unisla

** Program Studi Manajemen FE Unisla

ABSTRAK

Dalam perkembangan dunia yang semakin maju dan perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi yang semakin pesat menyebabkan pengaruh yang cukup besar dalam berbagai segi

kehidupan, baik sosial, ekonomi, atau bisnis, politik, hukum serta agama. Unsur – unsur dalam

bauran ada 4 unsur diantaranya : unsur strategi produk, strategi harga, strategi distribusi

pemasaran, strategi promosi. Dari keempat strategi bauran pemasaran tersebut peneliti cenderung

memiliki strategi produk dan harga sehingga saya tertarik untuk mengetahui perilaku konsumen

dalam keputusan pembelian produk shampo dilihat dari merek dagang dan harga bagi masyarakat

desa payaman.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah merek dagang dan harga berpengaruh

terhadap keputusan pembelian shampo dan mengetahui variable manakah yang berpengaruh paling

dominan terhadap keputusan pembelian shampo. Dalam penelitian ini penulis mengambil hipotesis,

yaitu diduga merek dan harga berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk shampo di desa

Payaman. Dan diduga harga mempunyai pegaruh paling dominan terhadap keputusan pembelian

produk shampo di Desa Payaman. Alat analisis yang digunakan mengetahui merek dan harga

terhadap keputusan pembelian produk shampo adalah Regresi Linier Ganda. Dan untuk mengetahui

sejauh mana pengaruh merek dagang terhadap keputusan pembelian produk shampo digunakan

analisa korelasi yang dibuktikan dengan uji t.

I. Pendahuluan

Dalam perkembangan dunia yang

semakin maju dan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi pengetahuan yang

semakin pesat menyebabkan pengaruh yang

cukup besar dalam berbagai segi kehidupan,

baik sosial, ekonomi atau bisnis, politik hukum

serta agama. Dari berbagai perubahan yang

terjadi saat ini kehidupan ekonomi bisnis

mengalami perubahan yang cukup pesat,

sebagai contoh permasalahan sekarang bagi

banyak perusahaan yang bergerak dibidang

produk barang maupun jasa melainkan lebih

dari itu yaitu masalah pemasaran, karena

pemasaran merupakan kegiatan yang utama

bagi perusahaan baik perusahaan kecil maupun

perusahaan besar. Saat ini banyak perusahaan

yang

berlomba-lomba

untuk

menarik

konsumen agar bersedia membeli produk yang

ditawarkan melalui media-media yang ada saat

ini baik cetak maupun elektronik, sehingga

dari pemikiran tersebut dapat diketahui

perilaku

konsumen

dalam

keputusan

pembelian shampo dilihat dari merek dagang

dan harga bagi masyarakat desa payaman.

Dalam bauran pemasaran semua unsur

yang terkait didalamnya merupakan suatu

kesatuan yang tak bisa dipisahkan, sehingga

unsur yang satu menjadi penunjang bagi unsur

yang lain. Adapun unsur dalam bauran

diantaranya unsur strategi produk, strategi

harga, strategi distribusi pemasaran, strategi

pemasaran. Adapun strategi produk yang saya

bahas adalah merek dagang untuk itu dalam

mengembangkan strategi perusahaan terutama

unsur strategi atau kebijakan produk yaitu

pemberian merek dagang hal ini untuk

membedakan barang atau jasa dari kelompok

penjual dan dari produk saingan. Merek

dagang hendaknya mudah dii. ngat, dibaca,

dan mudah dibedakan sehingga konsumen

dapat mencari dan membeli produk yang

diinginkan tersebut.

Strategi produk yang dibahas di sini

adalah masalah merek dagang, untuk itu dalam

mengembangkan strategi perusahaan terutama

unsur strategi atu kebijakan produk yaitu

(11)

pemberian merek dagang hal ini untuk

membedakan barang atau jasa dari kelompok

penjual dan dari produk saingan. Merek

dagang hendaknya mudah diingat, dibaca dan

mudah dibedakan. Sehingga dengan pemberian

merek, konsumen dapat mencari dan membeli

produk yang diinginkan tersebut. Merek

tertentu juga merupakan suatu standar kualitas

atau

mutu

tertentu,

sehingga

dapat

mempengaruhi konsumen untuk membeli agar

penjualan dan pesnguasaan pasar dapat dicapai

bahkan diharapkan lebih besar.

Berdasarkan latar belakang tersebut di

atas maka dapat dirumuskan permasalahan

sebagai berikut :

a. Apakah faktor merek dagang dan harga

mempengaruhi

keputusan

pembelian

produk shampo ?

b. Faktor manakah yang paling dominan

mempengaruhi

keputusan

pembelian

produk shampo ?

Pengertian

merek

dagang

dalam

pengembangan strategi pemasaran untuk

produk – produk individual, penjual harus

mnghadapi

keputusan

pembelian

merek

(branding). Pemberian merek merupakan

masalah utama dalam strategi produk sehingga

dalam pemasaran profesional yang paling

khusus

adalah

kemampuan

mereka

menciptakn, memelihara, melindungi dan

meningkatkan merek. Merek adalah nama

istilah, tanda, symbol, atau desain atau

kombinasi semuanya atau yang dimaksudkan

untuk mengidentifikasi barang atau jasa

seseorang

atau

sekelompok

dan

untuk

membedakan dari barang atau jasa pesaing.

Tujuan merek (a) Sebagai identitas, yang

bermanfaat

dalam

diferensiasi

atau

membedakan produk suatu perusahaan dengan

produk pesaingnya, (b) Alat promosi yaitu

sebagai daya tarik produk, (c) untuk membina

citra yaitu dengan memberikan keyakinan

jaminan

kualitas

serta

prestise

tertentu

terhadap konsumen, (d) mengendalikan pasar.

Harga adalah jumlah uang (ditambah

beberapa produk kalau mungkin) yang

dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah

kombinasi dari produk dan pelayanannya.

Harga masih tetpa merupakan salah satu unsur

terpenting yang menentukan mangsa pasar dan

profitabilitas perusahaan. Harga merupakan

slah satu elemen bauran pemasaran yang

paling fleksibel karena harga dapat dirubah

dengan cepat. Oleh sebab itu, harga juga

merupakan masalah nomor satu yang dihadapi

oleh eksekutif pemasaran, maka dari itu

penetapan harga menjadi sangat penting untuk

diperhatikan. Berdasarkan penjelasan tersebut

setiap perusahaan dapat menetapkan harga

dapat memberikan keuntungan yang lebih baik

dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Adapun beberapa tujuan penetapan harga (a)

kelangsungan hidup, (b) laba sekarang

maximum, (c) pendapatan sekarang maximum,

(d) pertumbuhan sekarang maximum, (e)

skimming pasar maximum (memerah pasar

maximum), (f) kepemimpinan mutu produk.

Prosedur penetapan harga antara lain

penetapan harga dengan orientasi biaya yang

meliputi penetapan harga secara mark up

(mark up pricing) yang dilakukan dengan cara

menambah suatu prosetase tertentu dari total

biaya varfiabel atau harga beli dari seseorang;

penetapan harga dengan cost plus (cost plus

pricing)

yang

dilakukan

dengan

cara

menambahkan prosentase tertentu dari total

biaya; penetapan harga sasaran(target pricing)

yang dalam hal ini harga jual yang ditetapkan

dapat memberikan tingkat keuntungan tertentu

yang dianggap wajar, keuntungan yang wahar

ini diperoleh untuk suatu tingkat investasi

tertentu dan resiko yang mungkin terjadi.

Penetapan harga ini kan memberikan target

keuntunganpada suatu tingkat total biaya

dengan suatu volumeproduksi standar yang

diperkirakan. Penetapan harga dengan orientasi

permintaan yang meliputi penetapan harga

berdasarkan persepsi/ penilaian konsumen

terhadap

suatu

produk

yang

sangat

berpengaruh terhadap posisi produk di pasar,

dan

penetapan

harga

dengan

cara

diskriminasi/diferensiasi harga yang dilakukan

dengan

mempertimbangkan

perbedaan

permintaan berdasarkan langganan, produk,

tempat, dan waktu. Penetapan harga dengan

orientasi persaingan yang meliputi penetapan

harga berdasarkan tingkat harga rata – rata

industri, penetapan harga seperti ini ditetapkan

dengan alasan bahwa perusahaan mengalami

kesukaran untuk menukar biaya sehingga sulit

menetukan harga yang wajar. Kemudian untuk

penepatan harga tender atau pelelangan

biasanya diajukan dalam sampul yang tertutup,

sedangkan pembeli dapat memilih penjual

yang dianggapnya mempunyai harga yang

rendah dengan spesifikasi yang diharapkannya.

(12)

II. Metode Penelitian

Data yang diperoleh dari pengamatan

dan observasi secara langsung terhadap obyek

yang diteliti atau dengan kata lain data ini

dikumpulkan langsung dari responden yang

diteliti dan diolah sendiri. Dalam penelitian ini

sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai

maka jenis penelitian ini menggunakan

penelitian kuantitatif. Data ini adalah sumber

utama penelitian yang akan dilakukan.

Kelayakan penelitian ini tergantung pada

pengolahan data primer yang akan diperoleh

setelah pengisian kuisioner oleh pihak-pihak

yang dipilih secara acak. Adapun populasi dari

penelitian

ini

yaitu

keseluruhan

objek

penelitian dari semua elemen yang ada dalam

wilayah

penilaian.

Alat

analisis

yang

digunakan oleh peneliti yaitu kuesioner dan

dokumentasi.

III. Hasil Dan Pembahasan

Dalam memperlancar dan melakukan

kegiatan perusahaan, perusahaan menawarkan

produknya

kepada

konsumen

untk

mengkonsumsi produk – produk yang telah

dibuatnya yaitu memberika janji dari manfaat

yang ada pada produk tersebut. Dalam

menentukan tehnik penarikan sampel, terlebih

dahulu harus ditetapkan populasinya yaitu

kelompok atau individu yang diminati dalam

penelitian yang berarti kelompok atau individu

yang akan dikenakan untuk diambil penelitian

dan semakin dipersempit populasinya maka

penilaian yang dilakukan aka menghemat

waktu, tenaga, dan biaya. Oleh sebab itu

sasaran yang mudah untuk diakses adalah

warga desa Payaman.

Dari hasil penelitian di atas merupakan

jawaban dari diskripsi data, analisa data dan

pengujian hipotesis dengan jawaban di atas di

peroleh

hasil

bahwa

untuk

megetahui

sejauhmana hubungan antara merek dagang

dan harga terhadap keputusan pembelian

diperoleh hasil korelasi yaitu : r

1

= 0.745 dan r

2

= 0.866 artinya hipotesis yang menduga antara

merek dagang dan harga mempunyai pengaruh

yang signifikan terhadap keputusan pembelian

shampo terbukti kebenarannya. Dan hipotesis

yang menyatakan bahwa harga lebih dominan

terhadap

keputusan

pembelian

produk

shampoo terbukti kebenarannya. Dan apabila

untuk membuktikan signifikan atau tidaknya

pengaruh antara kedua variable maka dihitung

dengan uji t, dimana t

1 hitung

= 8,448 > t

table

=

2,000 sedang t

2 hitung

= 13,19 > t

table

= 2,000 dan

selisih yang terjadi antara t

hitung

dan t

table adalah

cukup besar sehingga dari keadaan tersebut

dapat diarik kesimpulan Ho ditolak dan H

1

diterima yang berarti variable merek dagang

dan harga mempengaruhi keputusan pembelian

produk shampoo terbukti.

Pengaruh merek dagang dan harga

terhadap

keputusan

pembelian

produk

shampoo dibuktikan dengan regresi linier

ganda yang hasilnya Y=-32,382 + 1.67X

1

+

1,5X

2.

Dari

persamaan

tersebut

dapat

disimpulkan bahwa a= -32,382 yang artinya

tingkat keputusan pembelian rata-rata adalah

sebesar -32,382 set bila merek dagang dan

harga nol, b

1

= 1,67 yang artinya merek dagang

shampoo Clear akan mempengaruhi keputusan

pembelian sebesar 1,67 produk, b

2

= 1,5 yang

berarti harga akan mempengaruhi keputusan

pembelian sebesar 1,5 produk.

IV. Kesimpulan Dan Saran

a. Kesimpulan

Berdasarkan

penelitian

mengenai

merek

dagang

dan

harga

terhadap

keputusan

pembelian produk shampoo, maka dapat

ditarik kesimpulan bahwa untuk mengetahui

sejauhmana hubungan antara merek dagang

dan harga terhadap keputusan pembelian

diperoleh hasil korelasi yaitu : r

1

= 0.745 dan r

2

= 0.866 yang berarti hipotesis antara merek

dagang dan harga mempunyai pengaruh yang

signifikan terhadap keputusan pembelian

shampoo terbukti kebenarannya. Dan hipotesis

yang menyatakan bahwa harga lebih dominan

terhadap

keputusan

pembelian

produk

shampoo terbukti kebenarannya. Sedangkan

untuk membuktikan signifikan atau tidaknya

pengaruh antara kedua variable maka dihitung

dengan uji t, dimana t

1 hitung

= 8,448 > t

tabel

=

2000 sedang t

2 hitung

= 13,19 > t

table

= 2,000 dan

selisih yang terjadi antara t

hitung

dan t

table adalah

cukup besar sehingga dari keadaan tersebut

dapat diarik kesimpulan Ho ditolak dan H

1

diterima yang berarti variable merek dagang

dan harga mempengaruhi keputusan pembelian

produk shampoo terbukti.

(13)

b. Saran

Saran

yang

bisa

dikemukakan

setelah

mempelajari keadaan yang terjadi pada

masyarakat

desa

Payaman

sebagai

rekomendasi penunjang hasil penelitian, yang

sekiranya berguna bagi masyarakat atau

konsumen adalah dengan diketahui harga maka

faktor

yang

paling

dominan

terhadap

keputusan pembelian shampoo, hendaknya

konsumen bukan hanya memperhatikan harga

saja

tetapi

konsumen

juga

harus

memperhatikan cocok atau tidaknya shampoo

yang dipakai. Kosumen dalam pamakaian

shampoo hendaknya tidak mengganti-ganti

merek sehingga dapat mencapai hasil yang

maksimal dan menggunakan shampoo sesuai

dengan kebutuhan pada rambut.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto

Suharsimi.

2006.

Prosedur

Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta,

Asdi Mahastya.

Assauri sofyan, 1991. Manajemen Produksi.

Jakarta, Edisi Keempat, FEUI.

Kotler Philip, 1997. Manajemen Pemasaran,

PT. Prenhalindo. Jakarta.

Kotler dan Amstrong, 2001. Prinsip-Prinsip

Pemasaran. Terjemahan oleh damus

Sihombing. Jakarta Erlangga.

Kotler Philip, 1998. Manajemen Pemasaran,

Yogyakarta, BPFE.

Nitisemito S. Alex, 1981. Marketing. Jakarta

: Ghalia Indonesia

Prof. Dr. Sudjana M.A, M.Sc. 1996. Metoda

Statistika.

Edisi

Keenam,

penerbit

Tarsito Bandung.

Prof. Dr. Sugiono, 2006. Statistika Untuk

Penelitian. Penerbit CV. ALFABETA

Bandung.

Swastha Basu dan Irawan, 2005, Manajemen

Pemasaran

Modern,

Yogyakarta

Liberty.

Tjiptono Fandy, 1997. Strategi Pemasaran.

Penerbit ANDI Yogyakarta.

(14)

Problematika Pembelajaran Bahasa Arab Bagi Mahasiswa Non Arab

(Studi Kasus Kondisi Pembelajaran Bahasa Arab di IAIN STS Jambi)

Yusraini dan Yogia Prihartini *

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN STS Jambi Jl. Jambi Ma-Bulian KM. 16 S. Sungai duren Kab. Muaro Jambi

Email: [email protected]

Abstrak

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data yang dikumpulkan dengan observasi,

wawancara, dan dokumentasi. Sedang Untuk memeriksa keabsahan dan kebenaran data, maka

dilakukan dengan trianggulasi data. Tujuan umum perkuliahan Bahasa Arab di IAIN STS Jambi

adalah membangun kemampuan mahasiswa dalam berbahasa Arab, baik istima’, kalam, qira’ah

maupun kitabah. Karakteristik mata kuliah bahasa Arab di IAIN STS Jambi adalah materi

perkuliahan bahasa Arab disusun pihak Institut, pengelolaan bahasa Arab dikelola secara independen

oleh setiap fakultas. Kendala pembelajaran bahasa Arab di IAIN STS Jambi adalah: Waktu

perkuliahan kurang efektif karena dilakukan di siang hari, Lingkungan berbahasa kurang efektif,

kurangnya sarana pembelajaran bahasa Arab dan jumlah mahasiswa pada setiap kelas terlalu banyak,

kejenuhan mahasiswa belajar bahasa Arab serta tidak adanya follow up dari pembelajaran bahasa

Arab. Karakteristik mahasiswa perkuliahan bahasa Arab adalah: Perbedaan latar belakang pendidikan

mahasiswa, dan kurang motivasi mahasiswa dalam belajar bahasa Arab.

Kata Kunci : Problematika, Pembelajaran dan Bahasa Arab.

Abstract

The objective this research is to discribe The Problem of Arabic Instruction for Non Arabic

Spoken Student : A Spoken Student : A Case Study Study Condition of Arabic Instruction IAIN STS

Jambi. This is a cualitative research the data were obtained by observation, documention, and

interview, checked by data trianggulation. The general objective of arabic instruction at IAIN STS

Jambi is to develop, student skill is listening, speaking, reading ang writting of arabic. Caracteristict of

arabic instruction is the teaching material is provided by institute, while its instruction is handled by

the individual faculty. Its found that the problem of arabic instruction at IAIN STS Jambi is that the

timing of instruction, enviroment an facility are an adequited, and in addition large of number is

student in is class, and limited time provided for arabic instruction also constribute to the problematic

faced by arabic instruction, differcity of student educational background and lack of student

motivation in studying arabic also constribute to the Arabic instruction.

Key words : Problematic, Instruction and Arabic

A. Pendahuluan

Teknologi

Pendidikan

sering

didefinisikan

sebagai

proses

yang

kompleks dan terpadu yang melibatkan

orang, prosedur, ide, peralatan, dan

organisasi untuk menganalisis masalah,

mencari jalan pemecahan, melaksanakan,

mengevaluasi, dan mengelola pemecahan

masalah yang menyangkut semua aspek

belajar manusia (AECT, 1986: 1).

Definisi lain yang lebih singkat dan lebih

mutakhir menyebutnya sebagai studi

sistematis tentang sarana yang digunakan

untuk mencapai tujuan pendidikan (Seels

& Richey, 1994: 19). Definisi pertama

menitik

beratkan

pada

pemecahan

masalah belajar, sedang definisi kedua

menitik beratkan pada pendayagunaan

berbagai sarana belajar. Namun

kedua-duanya mempunyai arah yang sama dan

bermuara pada upaya untuk membantu

memecahkan masalah belajar manusia.

Pemecahan masalah belajar dapat

dilakukan dengan memanfaatkan secara

teoritis dan praktis 5 domain (desain,

pengembangan,

pemanfaatan,

pengelolaan, dan evaluasi) dalam kawasan

Teknologi Pendidikan. Teori tersusun atas

konsep, konstruk, prinsip, proposisi yang

memberikan kontribusi pada khasanah

pengetahuan. Sedang praktek merupakan

penerapan

pengetahuan

itu

untuk

(15)

memecahkan masalah (Seels & Rchey,

1994: 11). Domain desain merupakan

proses menspesifikasi kondisi belajar.

Domain pengembangan merupakan proses

penerjemahan spesifikasi desain ke dalam

bentuk

fisik.

Domain

pemanfaatan

tindakan untuk menggunakan berbagai

proses dan sumber untuk belajar. Domain

pengelolaan

merupakan

melibatkan

pengontrolan Teknologi Pembelajaran

melalui

perencanaan,

organisasi,

koordinasi, dan supervisi. Domain

evaluasi

merupakan

suatu

proses

penentuan kesesuaian pembelajaran dan

belajar.

Kondisi

pembelajaran

yang

merupakan salah satu cakupan strategi

pembelajaran dalam domain desain,

sering

diidentikkan

dengan

model

pembelajaran (Seels & Richey, 1994: 32).

Model

pembelajaran

dan

strategi

pembelajaran perlu melaksanakan model

yang berbeda sesuai dengan situasi

belajar, sifat isi pembelajaran dan tipe

belajar

yang

dikehendaki.

Menurut

Degeng, kondisi pembelajaran merupakan

variabel pembelajaran yang tidak dapat

dimanipulasi dan karena itu harus

diterima sebagai adanya (given) oleh

desainer pembelajaran. Namun demikian,

penerimaan ini harus tetap disertai dengan

analisis pembelajaran secara mendalam.

(Degeng, 1988: 37)

Analisis ini diperlukan untuk

lebih memahami berbagai komponen

kondisi pembelajaran, agar lebih mudah

dalam mendeskripsikan hubungan antar

berbagai variabel pembelajaran. Dengan

ini

diharapkan

pembelajaran

akan

memberikan makna teoritis dan praktis

bagi desainer pembelajaran.

Dalam perspektif Bahasa Arab,

kondisi pembelajaran juga mempunyai

pengaruh yang signifikan terhadap hasil

belajar.

Namun

demikian,

kajian

mengenai kondisi pembelajaran Bahasa

Arab belum banyak dilakukan. Kajian

pembelajaran Bahasa Arab, selama ini

lebih banyak diorientasikan pada metode

pembelajaran.

Padahal

metode

pembelajaran dan kondisi pembelajaran

mempunyai pengaruh yang sama dalam

meningkatkan hasil pembelajaran (Ali,

1996: 105).

Hasil belajar dalam Bahasa Arab

ditandai dengan kemampuan mahasiswa

untuk dapat menguasai materi Qiraah,

Kalam, Istima‟, dan Kitabah. Kemampuan

ini akan dapat dicapai kalau variabel

pembelajaran,

termasuk

kondisi

pembelajaran, mempunyai kontribusi

yang signifikan dalam pembelajaran.

Untuk itu, kondisi pembelajaran dalam

pembelajaran Bahasa Arab tidak dapat

diabaikan (Ali, 1996: 128).

Meskipun banyak penelitian yang

dilakukan di IAIN, tetapi untuk penelitian

yang

mengkaji

tentang

kondisi

pembelajaran Bahasa Arab belum pernah

dilakukan. Untuk itu, penelitian ini sangat

penting dilakukan untuk menemukan

kondisi pembelajaran Bahasa Arab di

IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

B. Pembelajaran Bahasa Arab

Mempelajari bahasa kedua (B2)

berarti berupaya bagaimana mampu

menggunakan bahasa tersebut selain

bahasa ibu. Dalam hal ini ia mampu

memahami simbol-simbol B2 ketika ia

mendengarkannya, mampu dalam hal

berbicara, mambaca dan menulis. Dari sisi

dipahami bahwa ada dua tahap yang

ditempuh oleh pelajar bahasa, pertama

menerima

bahasa

itu,dan

Kedua,

menggunakannya. Sehingga pada tujuan

idealnya, proses pembelajaran bahasa arab

diharapkan dapat mencapai tahap-tahap

sebagai

berikut

(Rusydi

Ahmad

Thaimiyah, 44) : 1). Menguasai bunyi dan

spesifikasinya yaitu memahami konotasi

bunyi

yang

didengarkannya

atau

sebagaimana

istilah

Karl”menguasai

symbol-simbol bunyi”. 2). Memahami

berbagai aspek dalam pola pembentukkan

(sintaksis)

dan

penyusunan

kalimat

(tarakib)

atau

yang

disebut

oleh

Karl”Kepekaan

grametika”.

3).

Menguasai

kaidah

umum

yang

membentuk ungkapan kalimat, termasuk

memahami segi-segi sinonim, himonimy

dan seterusnya. 4). Mampu menggunakan

bahasa arab secara benar sesuai kultur

penutur aslinya.

Gambar

Grafik 2.1. Bisnis unit di Indonesia di dominasi oleh UMKM(UMKM: sumbu disebelah kanan, dalam  jutaan)
Grafik 2.2 UMKM memberikan kontribusi lebih dari 50% dari total PDB (di sebelah  kiri)(sisi kiri dalam persen, kanan dari miliar rupiah)
Grafik  2.3  Penyerapan  tenaga  kerja  UMKM  bervariasi  dan  bergantung  dari  jenissektorekonomi  danukuran  perusahaan(2010,  Usaha  mikro  pada  sumbu  sisi  kiri,  dalam ribuan orang)
Grafik  2.4.  UMKM  memberikan  kontribusi  hampir  separuh  dari  total  investasi  swasta(Investasi  dari  usaha  mikro,kecil  dan  menengah  pada  sisi  kanan,  dalam triliun rupiah)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dari data yang telah dihimpun, bahwa dari 110 alumni Jurusan Pendidikan Fisika Angkatan 2006 & 2007 yang menjadi responden sebanyak 76 alumni dan dari data tersebut

Banyak cendekiawan muslim baik yang klasik, maupun yang modern yang memberikan jerih payahnya dan mendedikasikan diri dalam meletakkan fondasi konsep pendidikan

Dari hasil pengujian secara serempak diperoleh bahwa variabel DPK yang terdiri dari giro, tabung- an, deposito berpengaruh signifikan terhadap penyaluran dana

Hal ini menunjukkan bahwa keeratan hubungan antara durasi penggunaan media sosial dengan kualitas tidur pada remaja kelas VIII di SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta

Indonesia Nomor 51 Tahun 2011 Tentang perubahan Bentuk Badan Hukum. Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian Menjadi Perusahaan Perseroan

Nilai laju pengendapan (k) dihitung dengan membuat garafik waktu vs -ln(Ca/Ca0).. PENGENDAPAN

Teknologi menjadikan semua hal menjadi lebih mudah dan praktis, munculnya teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) yang sekarang berkembang pesat,

Indonesia Peduli 2014 : Aksi Peduli Erupsi Sinabung adalah program yang dirancang sebagai aksi tanggap bencana erupsi gunung Sinabung yang terjadi di Kabupaten