Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Progam Studi Akuntansi
Diajukan oleh :
Fransiska Butarbutar 0813015017/FE/AK
Kepada
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR
Fransiska Butarbutar 0813015017/FE/AK
telah dipertahankan dihadapan dan diterima oleh Tim Penguji Skripsi Progam Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur pada tanggal 20 April 2012
Pembimbing : Tim Penguji:
Pembimbing Utama Ketua
Dra. Ec. Siti Sundari, Msi Drs. Ec. Tamadoy Thamrin, MM
Sekretaris
Dra. Ec. Siti Sundari, Msi
Anggota
Dra. Erry A, M.Aks, Ak
Mengetahui Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna memenuhi
sebagian persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan
Akuntansi dalam jenjang Strata Satu Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran” Jawa Timur dengan Judul
“FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AUDIT DELAY PADA PERUSAHAAN WHOLESALE AND RETAIL YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA”.
Dalam menulis skripsi ini, penulis telah mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak yang telah memberikan motivasi, bimbingan, saran, serta dorongan moril
baik secara langsung maupun tidak langsung sampai terselesaikannya penyusunan
skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Teguh Soedarto, MP selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Dr. Dhani Ichsanuddin Nur, SE, MM, selaku Dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3. Bapak Drs. Ec. H. Rahman Amrullah Suwaidi, MS, selaku Wakil Dekan I
Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa
Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran” Jawa Timur.
6. Ibu Dra. Ec. Hj. Siti Sundari, Msi, selaku Dosen Pembimbing Utama Skripsi
yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan motivasi, dorongan,
dan bimbingan dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan ilmu pengetahuan
selama kuliah.
8. Para Staf perpustakaan UPN “Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan
bantuan terhadap fasilitas peminjaman buku untuk dijadikan referensi dalam
penulisan skripsi ini.
9. Staf Bursa Efek Indonesia yang telah memberikan bantuan dalam perolehan
data yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini.
10. Kedua orang tuaku Posman Butarbutar dan Rose Sianturi, Abang-abang ku,
Oskar Butarbutar/Eda br.Marbun, Risden Butarbutar/Eda br.Silitonga,
Tangakas Butarbutar/ Eda br.Sagala, Henra Butarbutar/ Eda br.Simanjuntak.
Juga buat kakak-kakak ku, Ronna Butarbutar/Akkang Siahaan, Elita
Butarbutar/akkang sianturi, Enni Aprina Butarbutar,dan teman dekatku
Adven lucius Sihotang yang telah memberikan doa dan semangat moril
12. IAKPM Surabaya yang selalu mendoakan dan memberi semangat, terkhusus
buat bang nico, bang Laurent, bang jefri, bang rano yang sudah
berpartisipasi menjaga jeo di rumah, sehingga saya bisa ke kampus.
13. Semua yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah mendukung
dalam penyeleseian skripsi ini.
Semoga Tuhan senantiasa memberikan limpahan berkat kepada semua
pihak yang telah membantu penulis.
Penulis menyadari bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini, untuk itu
penulis menghargai segala bentuk kritik dan saran yang bersifat membangun
karena hal tersebut sangat membantu menghaturkan pada kesempurnaan skripsi
ini.
Surabaya, 4 April 2012
DAFTAR ISI...iv
DAFTAR TABEL...vii
DAFTAR GAMBAR...viii
DAFTAR LAMPIRAN...ix
ABSTRAK...x
BAB I PENDAHULUAN………..1
1.1. Latar Belakang ……….. 1
1.2. Perumusan Masalah….……….9
1.3. Tujuan Penelitian ………...………..……. 9
1.4. Manfaat Penelitian ………...………. 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ……….11
2.1. Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu ………....11
2.2. Landasan Teori ………..………...……….………..15
2.2.1. Laporan Keuangan ………..………. 15
2.2.2. Auditing …………. ………..…17
2.2.3. Audit Delay ……….. 20
2.2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Audit Delay ………..20
2.2.5. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Audit Delay ……….…25
2.2.6. Pengaruh Ukuran KAP terhadap Audit Delay ……….………...28
3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel………..33
3.2.Teknik Penentuan Sampel …...….………36
3.3. Teknik Pengumpulan Data ………….……….37
3.3.1. Jenis Data …… ……….37
3.3.2. Sumber Data ……….38
3.3.3. Metode Pengumpulan Data ……….…..38
3.4. Teknik Analisis dan Uji Hipotesis ………...38
3.4.1. Teknik Analisis ……….38
3.4.2. Uji Normalitas ……….……….39
3.4.3. Uji Asumsi Klasik ……….39
3.4.3.1. Uji Autokorelasi…………..………40
3.4.3.2. Uji Multikolinearitas …...……….. 41
3.4.3.3. Uji Heteroskedastisitas ………..42
3.4.4. Uji Hipotesis ………...………. 42
a. Uji Kesesuaian Model………. 42
b. Uji Hipotesis ………...43
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………....45
4.1. Deskripsi Obyek Penelitian...………...45
4.2. Deskripsi Hasil Penelitian...………...55
4.2.1. Ukuran Perusahaan ………..……….55
4.2.2. Ukuran KAP...……….56
4.2.3. Opini Auditor...……….57
4.2.4. Audit Delay ………...….……….58
4.5. Analisis Regresi Linier Berganda...………...63
4.6. Uji Hipotesis...…………...……....….………...….65
4.6.1. Uji Kesesuaian Model………..………...…...65
4.6.2. Uji Hipotesis...………..………...…...67
4.7. Pembahasan...………...69
4.7.1. Implikasi Penelitian...………….…....….……….73
4.7.2. Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Perbedaan Hasil Penelitian Sekarang dengan Penelitian Terdahulu...………….…....….……….73
4.7.3. Konfirmasi Hasil Penelitian dengan Tujaun dan Manfaat Penelitian..…….…....….………...76
4.7.4. Keterbatasan Penelitian...………….…...……….77
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN…………...………....79
5.1. Kesimpulan...………...79
5.2. Saran...………...79
penelitian sekarang... ...13
Tabel 2. Keputusan Uji Autokorelasi ... .41
Tabel 3. Deskripsi Variabel Ukuran Perusahaan ... .55
Tabel 4. Deskripsi Variabel Ukuran KAP... .56
Tabel 5. Deskripsi Variabel Opini Auditor... .58
Tabel 6. Deskripsi Variabel Audit Delay... .59
Tabel 7. Hasil Uji Normalitas... ... 60
Tabel 8. Hasil Uji Multikolinieritas...61
Tabel 9. Hasil Uji Heteroskedastisitas... .62
Tabel 10. Hasil Uji Autokorelasi... .63
Tabel 11. Hasil Uji F... .66
Tabel 12. Nilai Koefisien Determinasi... .67
Tabel 13. Hasil Uji t... .67
Fransiska Butarbutar Abstrak
Laporan keuangan merupakan media komunikasi antara pihak intern perusahaan dengan pihak luar perusahaan yang mempunyai kegunaan apabila disajikan dengan akurat dan tepat waktu. Ketepatan waktu dalam menyampaikan laporan keuangan yang telah diaudit ke publik akan sangat
dipengaruhi oleh lamanya uditor dalam menyelesaikan auditnya. Audit delay
adalah lamanya hari yang dibutuhkan untuk memperoleh laporan auditor independen atas laporan keuangan tahunan perusahaan sejak tutup tahun sampai dengan tanggal yang tertera pada laporan auditor independen.
BAPEPAM mengharuskan perusahaan go public untuk mempublikasikan
laporan keuangan tidak melebihi waktu 90 hari. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi audit delay perusahaan wholesale and retail yang go publik
di Bursa Efek Indonesia.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
diperoleh dari laporan keuangan 12 perusahaan wholesale and retail yang
go public di Bursa Efek Indonesia sampai tahun 2007 dan laporan auditor independen untuk variabel bebas (ukuran perusahaan, ukuran KAP dan opini
auditor) dan untuk variabel terikat (audit delay). Analisis statistik yang
digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan variabel dummy.
Berdasarkan hasil análisis regresi linier berganda disimpulkan bahwa variabel ukuran perusahaan, ukuran KAP dan opini auditor tidak memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap audit delay perusahaan wholesale and
retail yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2008-2010. Disimpulkan pula bahwa ukuran perusahaan, ukuran KAP dan opini auditor
memiliki pengaruh positif terhadap audit delay.
1.1. Latar Belakang
Laporan keuangan merupakan media komunikasi antara
manajemen (intern perusahaan) dengan pihak di luar perusahaan
(kreditor, calon kreditor, investor, calon investor, karyawan,
pelanggan, pemerintah, masyarakat, dan manajemen perusahaan itu
sendiri) .
Menurut Belkaui (2001) dalam Arif Wicaksono (2009) melalui
laporan keuangan perusahaan mengkomunikasikan berbagai informasi
dan pengukuran secara ekonomis mengenai kinerja keuangan,
perubahan posisi keuangan, arus kas, serta sumber daya yang dimiliki
perusahaan serta berperan penting dalam pengambilan keputusan.
Informasi tersebut akan bermanfaat bilamana disajikan secara akurat
dan tepat waktu.
Menurut Suwardjono (2002:170), ketepatwaktuan informasi
mengandung pengertian bahwa informasi tersedia sebelum kehilangan
kemampuannya untuk mempengaruhi atau membuat perbedaan dalam
keputusan. Dengan demikian, informasi yang memiliki prediksi tinggi
dapat menjadi tidak relevan apabila tidak tersedia pada saat
Manajemen mungkin perlu menyeimbangkan manfaat relatif
antara pelaporan tepat waktu dan ketentuan informasi andal. Untuk
menyediakan informasi tepat waktu, seringkali perlu melaporkan
sebelum seluruh aspek transaksi atau peristiwa lainnya diketahui,
sehingga mengurangi keandalan informasi. Sebaliknya, jika pelaporan
ditunda sampai seluruh aspek diketahui informasi yang dihasilkan
mungkin sangat andal tetapi kurang bermanfaat bagi pengambilan
keputusan.
Lamanya proses penyelesaian audit ini dapat mempengaruhi
ketepatan waktu perusahaan dalam mempublikasikan laporan
keuangan kepada masyarakat umum dan kepada BAPEPAM karena
ketepatan waktu ini tergantung dari ketepatan waktu auditor dalam
menyelesaikan pekerjaan auditnya. Rentang waktu penyelesaian
pelaksanaan audit atas laporan keuangan tahunan, diukur berdasarkan
lamanya hari yang dibutuhkan untuk memperoleh laporan auditor
independen atas audit laporan keuangan tahunan perusahaan, sejak
tanggal tahun tutup buku perusahaan yaitu per 31 Desember sampai
tanggal yang tertera pada laporan auditor independen inilah yang
dinamakan audit delay (Sistya Rachmawati, 2008).
Sejak tanggal 30 September 2003, BAPEPAM memperketat
peraturan dengan dikeluarkannya lampiran surat Keputusan Ketua
BAPEPAM Nomor : Kep-36/PM/2003 yang menyatakan bahwa
yang lazim harus disampaikan kepada BAPEPAM
selambat-lambatnya pada akhir bulan ketiga (90 hari) setelah tanggal laporan
keuangan tahunan. Keputusan tersebut diperbaharui dengan keputusan
BAPEPAM No. 40/BL/2007 yang menyatakan bahwa apabila terjadi
perbedaan antara ketentuan yang ditetapkan oleh BAPEPAM dan
Lembaga Keuangan (LK) dengan otoritas pasar modal di negara lain
maka batas waktu penyampaian laporan keuangan berkala dan batas
waktu penyampaian laporan keuangan tahunan kepada BAPEPAM
dan Lembaga Keuangan (LK) dilakukan mengikuti ketentuan di
negara lain tersebut.
Ketentuan ini berlaku bagi Emiten yang sahamnya terdaftar baik
di Indonesia maupun di negara lain. Apabila perusahaan-perusahaan
tersebut terlambat menyampaikan laporan sesuai dengan ketentuan
yang telah ditetapkan oleh BAPEPAM, maka dikenakan sanksi
administrasi sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam
undang-undang. Namun, dengan adanya syarat laporan keuangan yang
telah audit maka dapat memperlambat publikasi laporan keuangan
tersebut.
Proses dalam mencapai ketepatwaktuan (Timeliness) terutama
dalam penyajian laporan auditor independen semakin tidak mudah,
mengingat semakin meningkatnya perkembangan perusahaan publik
yang ada di Indonesia. Hambatan dalam ketepatwaktuan (Timeliness)
standar ketiga yang menyatakan bahwa audit harus dilaksanakan
dengan penuh kecermatan dan ketelitian serta pengumpulan alat-alat
pembuktian yang cukup memadai (Boynton dan Kell 1996) dalam
Sistya Rachmawati, (2008). Adanya hambatan-hambatan inilah yang
memungkinkan akuntan publik menunda publikasi laporan audit dan
laporan keuangan auditan apabila dirasakan perlu untuk
memperpanjang masa audit.
Lamanya waktu penyelesaian audit ini dapat mempengaruhi
ketepatan waktu informasi tersebut dipublikasikan yang berdampak
pada reaksi pasar terhadap keterlambatan informasi tersebut dan
mempengaruhi tingkat ketidakpastian keputusan yang didasarkan pada
informasi yang dipublikasikan. Keterlambatan informasi akan
menimbulkan reaksi negatif dari pelaku pasar modal, karena laporan
keuangan auditan yang didalamnya memuat informasi yang dihasilkan
oleh perusahaan yang bersangkutan dijadikan sebagai salah satu dasar
pengambilan keputusan untuk membeli atau menjual kepemilikan
yang dimiliki oleh investor. Terlambat tersedianya laporan keuangan
auditan akan meningkatkan ketidakpastian investor dalam mengambil
keputusan dan hasil keputusan tidak akan optimal. Selain itu, lamanya
proses audit juga akan berdampak pada terlambatnya pembayaran
pajak kepada pemerintah yang menyebabkan lambatnya pemasukan
Hasil audit atas perusahaan publik mempunyai konsekuensi dan
tanggung jawab yang besar. Adanya tanggung jawab yang besar ini
memacu auditor untuk bekerja lebih profesional. Standar Profesional
Akuntan Publik (SPAP) dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI, 2001)
khususnya tentang standar pekerjaan lapangan mengatur tentang
prosedur dalam penyelesaian pekerjaan lapangan seperti perlu adanya
perencanaan atas aktivitas yang akan dilakukan, pemahaman yang
memadai atas struktur pengendalian intern dan pengumpulan
bukti-bukti kompeten yang diperoleh melalui inspeksi, pengamatan,
pengajuan pertanyaan dan konfirmasi sebagai dasar untuk menyatakan
pendapat atas laporan keuangan, Adanya standar inilah,
memungkinkan akuntan publik menunda publikasi audit atau laporan
keuangan auditan apabila dirasakan perlu memperanjang masa audit
(Varianda Halim, 2000) dalam Sistya Rachmawati (2008).
Pemenuhan standar audit oleh auditor tidak hanya berdampak
pada lamanya penyelesaian laporan auditor, tetapi juga berdampak
pada peningkatan kualitas hasil auditnya. Pelaksanaan audit yang
sesuai dengan standar membutuhkan waktu semakin lama, namun
kualitas hasil auditnya dapat diandalkan. Sebaliknya, jika tidak perlu
menyesuaikan dengan standar pekerjaan audit, maka semakin singkat
waktu yang diperlukan, namun hasil auditnya kurang dapat
Saat ini perkembangan pasar modal di Indonesia mengalami
kemajuan yang sangat pesat. Perkembangan ini mengakibatkan
permintaan akan audit laporan keuangan juga meningkat. Hal ini
dikarenakan adanya peraturan Badan Pengawas Pasar Modal
(BAPEPAM) yang menyatakan bahwa setiap perusahaan go publik
diwajibkan untuk menyampaikan laporan keuangan
selambat-lambatnya pada akhir bulan ketiga (90 hari) setelah tanggal laporan
keuangan tahunan. Namun, berdasarkan data di Bursa Efek Indonesia
tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 masih ada beberapa perusahaan
Wholesale dan retail yang melewati batas tersebut.Seperti pada tahun
2008, audit delay PT. Alfa Retailindo Tbk. adalah 146 hari. Ditahun
yang sama PT. Multi Indocitra Tbk. juga mengalami audit delay yang
melewati 90 hari yaitu 93 hari. Fenomena inilah yang menarik untuk
diteliti karena ketepatan waktu pelaporan keuangan merupakan
pencerminan kualitas informasi yang dilaporkan dan pencerminan
tingkat kepatuhan terhadap regulasi yang diterapkan.
Penelitian yang dilakukan Imam Subekti (2005) dengan
menggunakan lima variabel independen antara lain tingkat
profitabilitas, ukuran perusahaan, jenis industri, opini auditor dan
ukuran KAP. Kelima variabel tersebut berpengaruh signifikan
terhadap audit delay. Hal ini berarti bahwa tingkat profitabilitas yang
tinggi membutuhkan waktu yang lebih pendek untuk menyelesaikan
terhadap audit delay berarti bahwa semakin besar perusahaan maka
semakin pendek waktu yang diperlukan untuk proses audit. Hal ini
disebabkan oleh semakin baiknya sistem pengendalian intern
perusahaan sehingga dapat mengurangi tingkat kesalahan dalam
penyusunan laporan keuangan yang memudahkan auditor dalam
melakukan audit laporan keuangan.
Penelitian yang dilakukan oleh Wiwik Utami (2006) dengan
menggunakan tujuh variabel independen yaitu ukuran perusahaan,
jenis industri, lamanya perusahaan menjadi klien sebuah kantor
akuntan publik, jenis opini yang diberikan oleh auditor, laba/rugi
perusahaan, rasio hutang terhadap ekuitas dan reputasi auditor. Hasil
analisis regresi menunjukkan bahwa secara simultan jenis opini
auditor, laba/rugi emiten, lamanya emiten menjadi klien KAP, ukuran
perusahaan, reputasi auditor, rasio hutang terhadap ekuitas dan jenis
industri berpengaruh terhadap audit delay. Secara empiris determinan
audit delay meliputi faktor lamanya emiten menjadi klien sebuah
kantor akuntan publik, emiten mengalami kerugian dalam tahun
berjalan, dan laporan keuangan emiten mendapat opini selain
unqualified dari akuntan publik.
Penelitian yang dilakukan Sistya Rachmawati (2008)
menunjukkan hasil bahwa ukuran perusahaan, ukuran kantor akuntan
profitabilitas, solvabilitas, internal auditor tidak mempunyai pengaruh
terhadap audit delay.
Menurut penelitian-penelitian sebelumnya, seperti penelitian
yang dilakukan oleh Wiwik Utami (2006) bahwa rata-rata audit delay
adalah 84,16 hari. Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh
Imam Subekti (2005) rata-rata lamanya audit delay yang terjadi di
Indonesia pada tahun 2001 adalah 98,38 hari. Menurut penelitian yang
di lakukan oleh Sistya Rachmawati (2008) ratarata lamanya audit
delay yang terjadi Indonesia pada tahun 2003-2005 adalah 76 hari.
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang telah
dilakukan oleh Indah Nurul (2010) yang meneliti tentang
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Audit Delay (studi empiris pada
perusahaan wholesale dan retail yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia selama tahun 2004-2008) dengan menggunakan tiga
variabel yang diteliti yaitu: Ukuran Perusahaan, Opini Auditor,
Ukuran KAP. Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini
yaitu dengan mengubah tahun penelitian yaitu menjadi tahun
2000-2007.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian dengan judul: ”Faktor-Faktor Yang
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka permasalahan
yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah ukuran perusahaan, mempunyai pengaruh terhadap
lamanya penyelesaian audit (audit delay) pada perusahaan
go public di Indonesia?
2. Apakah ukuran KAP, opini auditor mempunyai perbedaan
pengaruh terhadap lamanya penyelesaian audit (audit delay)
pada perusahaan go public di Indonesia?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas maka
tujuan penelitian ini adalah:
Untuk mengidentifikasi pengaruh ukuran perusahaan, ukuran KAP,
dan opini auditor terhadap lamanya penyelesaian audit (audit delay).
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
a. Bagi Peneliti
Melatih berpikir secara ilmiah dan dapat menambah wawasan
dari teori yang diterima dengan kenyataan yang terjadi di lapangan
b. bagi universitas
Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi
perpustakaan dan bahan pembanding bagi mahasiswa yang ingin
melakukan pengembangan penelitian berikutnya di bidang yang sama
di masa mendatang.
c. Bagi Auditor
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan
pertimbangan oleh auditor dalam melaksanakan auditnya agar dapat
menyelesaikan laporan auditnya tepat waktu, sehingga perusahaan
dapat menyampaikan laporan keuangan sesuai dengan waktu yang
telah ditetapkan oleh BAPEPAM.
d. Bagi Perusahaan
Memberikan tambahan informasi kepada
perusahaan-perusahaan yang go publik di Bursa Efek Indonesia mengenai
faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay, sehingga perusahaan dapat
mengendalikan faktor-faktor dominan dan audit delay dapat ditekan
seminimal mungkin dalam usaha memperbaiki ketepatan publikasi
pelaporan keuangan auditan.
2.1. Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian yang pernah dilakukan oleh pihak lain yang dapat
digunakan sebagai bahan pengkajian yang berkaitan dengan penelitian ini
adalah sebagai berikut:
Imam Subekti (2005) “Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap
Audit Delay di Indonesia”. Penelitian ini menginvestigasi tentang
faktor-faktor yang menjadi panjang pendeknya audit delay. Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa variabel tingkat profitabilitas, aktiva, jenis industri,
opini auditor dan ukuran KAP berpengaruh signifikan terhadap variabel
audit delay.
Wiwik Utami (2006) “ Analisis Determinan Audit Delay”. Masalah
yang diteli adalah: faktor – faktor apa saja yang dominan berpengaruh
terhadap audit delay laporan keuangan emiten di Bursa Efek Jakarta.
Kesimpulan dalam penelitian tersebut: (1) Secara simultan jenis opini
auditor, laba/rugi emiten, lamanya emiten menjadi klien KAP, ukuran
perusahaan, reputasi auditor, rasio hutang terhadap ekuitas dan jenis
industri berpengaruh terhadap audit delay.(2)Secara empiris determinan
audit delay meliputi faktor-faktor: (a) lamanya emiten menjadi klien
tahun berjalan, dan (c) laporan keuangan emiten mendapat opini selain
unqualified dari akuntan publik.
Sistya Rachmawati (2008) “Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal
Perusahaan Terhadap Audit Delay dan Timeliness “. Permasalahan dalam
penelitian ini yaitu: (1) mengetahui pengaruh faktor internal
(profitabilitas, solvabilitas, internal auditor dan size perusahaan) dan
faktor eksternal (ukuran KAP) terhadap audit delay. (2) Mengetahui
pengaruh faktor internal (profitabilitas, solvabilitas, internal auditor dan
size perusahaan) dan faktor eksternal (ukuran KAP) terhadap timeliness.
Kesimpulan yang diperoleh yaitu: (1) Faktor internal yang mempengaruhi
audit delay adalah size perusahaan dan faktor eksternal ukuran perusahaan
akuntan publik sedangkan variabel profitabilitas, solvabilitas dan auditor
internal tidak mempunyai pengaruh terhadap audit delay.(2) Faktor
internal yang mempengaruhi timeliness adalah size perusahaan,
solvabilitas sedangkan faktor ekternal seperti ukuran kantor akuntan
publik sedangkan profitabilitas dan internal auditor tidak mempunyai
pengaruh terhadap timeliness. (3) Faktor internal dan eksternal
perusahaan seperti profitabilitas, solvabilitas, internal auditor, size
perusahaan dan ukuran KAP secara bersama-sama memiliki pengaruh
yang signifikan baik terhadap audit delay maupun timeliness.
Indah Nurul K (2010) “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Audit
diteliti yaitu apakah ukuran perusahaan, jenis pendapat auditor (opini)
dan ukuran KAP mempunyai pengaruh terhadap audit delay pada
perusahaan dagang yang terdaftar di BEI. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa ukuran perusahaan, jenis pendapat auditor (opini) serta ukuran
KAP tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay.
Tabel 1. Perbedaan dan persamaan penelitian terdahulu dan sekarang.
No Nama Variabel Alat Uji Objek penelitian
1 Imam
Subekti
tingkat
profitabilitas,
aktiva, jenis
industri, opini dan
auditor (ukuran KAP) Analisis regresi Perusahaan-perusahaan yang
terdaftar di BEJ
pada tahun 2001
2 Wiwik Utami opini auditor, laba/rugi emiten, lamanya emiten menjadi klien KAP, ukuran perusahaan, reputasi auditor, rasio hutang terhadap ekuitas
dan jenis industri
regresi
sederhana
perusahaan
publik di Bursa
Efek
Jakarta untuk
periode
2000-2002.
Rachma-wati
solvabilitas,
internal auditor,
size perusahaan dan
ukuran KAP
berganda manufaktur
yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia 4 Melysa dan Estralisa klasifikasi industri,
laba atau rugi tahun
berjalan, besarnya
KAP, Total asset,
opini audit, debt
proportion. Analisis regresi linear berganda dengan variabel dummy Seluruh Perusahaan yang Terdaftar
di Bursa Efek
Indonesia padda tahun 2003 sampai tahun 2009 5 Fransiska Butarbutar Ukuran perusahaan,
ukuran KAP, dan
opini auditor regresi linear berganda dengan variabel dummy Perusahaan
Wholesale dan
Retail yang
terdaftar di BEI
sampai tahun
2007
Berdasarkan tabel.1 dapat disimpulkan bahwa penelitian yang
sekarang dilakukan memiliki perbedaan dengan penelitian-penelitian
terdahulu. Perbedaan tersebut terletak pada variabel serta populasi
penelitian yang digunakan. Kebanyakan penelitian terdahulu populasi
sekarang yaitu perusahaan Wholesale dan Retail yang listing sampai
tahun 2007.
Persamaan antara penelitian sekarang dan terdahulu terletak pada
alat uji yang digunakan yaitu regresi linear dengan variabel dummy.
Penelitian ini juga memiliki populasi yang sama dengan penelitian Indah
Nurul yaitu perusahaan wholesale dan retail.
Berdasarkan persamaan dan perbedaan di atas maka dapat
disimpulkan bahwa penelitian yang akan dilakukan dimaksudkan untuk
mengkorfirmasikan penelitian sebelumnya, mengingat perbedaan tahun
penelitian dan variabel-variabel yang diteliti. Selain itu, juga
mengembangkan penelitian yang sebelumnya.
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan pertanggungjawaban pengelola
perusahaan oleh manajemen atas sumber daya yang dipercayakan
padanya. Laporan keuangan yang lengkap menurut Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 terdiri dari komponen-komponen, (a)
Neraca, (b) Laporan laba-rugi, (c) Laporan perubahan ekuitas, (d)
Laporan arus kas, dan (e) Catatan atas laporan keuangan. Laporan
keuangan harus menerapkan PSAK secara benar disertai pengungkapan
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) menyebutkan empat
karakteristik kualitatif pokok dalam laporan keuangan (IAI 2009):
1. Dapat dipahami
Kualitas penting informasi dalam laporan keuangan adalah
kemudahannya untuk segera dipahami oleh pemakai. Guna mencapai
maksud ini, diasumsikan pemakai memiliki pengetahuan yang memadai
tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk
mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar.
2. Relevan
Informasi disebut relevan ketika dapat mempengaruhi keputusan
ekonomi pemakai. Agar relevan, informasi harus dapat digunakan untuk
mengevaluasi masa lalu, masa sekarang, dan masa mendatang (predictive
value), menegaskan atau memperbaiki harapan yang dibuat sebelumnya
(feedback value), juga harus tersedia tepat waktu bagi pengambil
keputusan sebelum mereka kehilangan kesempatan atau untuk
mempengaruhi keputusan yang diambil (timeliness).
3. Keandalan
Informasi disebut andal jika bebas dari pengertian yang
menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya
sebagai penyajian yang tulus dan jujur (faithful representation) dari yang
seharusnya disajikan atau yang dapat disajikan secara wajar.
Identifikasi kecenderungan (trend) posisi dan kinerja keuangan
laporan keuangan perusahaan antar periode hendaknya dapat
diperbandingkan oleh pemakai. Dengan demikian pemakai dapat
memperoleh informasi tentang kebijakan akuntansi yang digunakan
dalam penyusunan laporan keuangan dan perubahan kebijakan serta
pengaruh perubahan tersebut. Ketaatan pada standar akuntansi keuangan,
termasuk pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan oleh
perusahaan, membantu pencapaian karakteristik ini.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan
yang berkualitas adalah laporan dengan kandungan informasi dapat
dipahami, relevan, dapat diandalkan, dan mempunyai daya banding.
Karakteristik relevan di sini berarti laporan tersebut mampu
mendeskripsikan kondisi keuangan perusahaan secara tepat waktu.
Tujuan utama laporan keuangan dalam PSAK 2009 adalah
memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas
perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna
laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta
menunjukkan kinerja manajemen atas penggunaan sumber-sumberdaya
yang dipercayakannya.
Auditing adalah sebagai suatu proses yang sistematis dalam
memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif yang berhubungan
dengan pernyataan tentang tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian
ekonomi untuk menentukan tingkat hubungan antara
pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang ditetapkan dan
mengkomunikasikan hasilnya dengan pihak-pihak yang berkepentingan
(Mulyadi 2002). Dalam pelaksanaannya, laporan keuangan yang ada
perlu untuk diaudit sebelum akhirnya dipublikasikan.
Laporan auditor penting sekali dalam suatu audit atau proses
atestasi lainnya karena laporan menginformasikan pemakai informasi
mengenai apa yang dilakukan auditor dan kesimpulan yang diperolehnya
(Arens dan Loebbecke, 2003:35).
Laporan audit baku harus terdapat tujuh bagian berikut ini:
1. Judul laporan
Strandar auditing mengharuskan pemberian judul pada laporan
dan judul ini harus memuat kata independen
2. Alamat yang dituju laporan audit
Laporan ini biasanya ditujukan kepada perusahaan bersangkutan,
pemegang saham, atau dewan direksi, atau komisarisnya.
3. Paragraf pendahuluan
Pertama, paragraf ini merupakan pernyataan sederhana bahwa
kantor akuntan publik bersangkutan telah melakukan suatu audit.
Kedua, paragraf ini mencantumkan laporan keuangan yang diaudit,
termasuk tanggal neraca dan periode-periode akuntansi untuk laporan
laba/rugi dan laporan arus kas.
Ketiga, laporan keuangan tersebut merupakan tanggung jawab
manajemen dan bahwa tanggung jawab auditor adalah untuk menyatakan
suatu pendapat atas laporan itu berdasarkan suatu audit.
4. Paragraf lingkup auditan
Pernyataan aktual mengenai apa yang dilakukan auditor didalam
audit.
5. Paragraf pendapat
Memuat kesimpulan auditor berdasarkan hasil audit. Paragraf ini
dengan tegas menyatakan bahwa yang diberikan adalah suatu pendapat
bukan suatu penyataan mutlak atau jaminan. Tujuannya adalah unutk
menunjukkan bahwa kesimpulan tersebut didasarkan atas pertimbangan
professional.
6. Tandatangan dan nama akuntan publik
Nama ini menunjukkan partner akuntan publik aatu auditor yang
bertanggung jawab atas audit yang dilakukannya.
Tanggal yang dipakai dalam laporan ini adalah tanggal saat auditor
menyelesaikan bagian terpenting dari prosedur di lapangan (Arens dan
Loebbecke, 2003:37).
2.2.3 Audit Delay
Audit delay didefinisikan sebagai lamanya waktu penyelesaian audit
yang dikur dari tanggal penutupan tahun buku hingga diterbitkannya
laporan audit (Lawrence dan Bryan, 1998 (dalam Jeane Deart Meity
Prabandari dan Rustiana, 2007)).
Menurut Sistya Rachmawati (2008) audit delay adalah rentang
waktu penyelesaian pelaksanaan audit atas laporan keuangan tahunan,
diukur berdasarkan lamanya hari yang dibutuhkan untuk memperoleh
laporan auditor independen atas audit laporan keuangan tahunan
perusahaan, sejak tanggal tahun tutup buku perusahaan yaitu per 31
Desember sampai tanggal yang tertera pada laporan auditor independen.
Penelitian Imam Subekti (2005) , perbedaan waktu antara tanggal
laporan keuangan dengan tanggal opini audit dalam laporan keuangan
mengindikasikan tentang lamanya waktu penyelesaian audit yang
dilakukan auditor.Perbedaan waktu ini dalam audit sering dinamai
dengan audit delay. Semakin panjang audit delay maka semakin lama
2.2.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Audit Delay 1. Ukuran Perusahaan
Setiap perusahaan memiliki skala usaha yang berbeda satu sama
lain. Perbedaan skala ini dapat dilihat dari berbagai segi. Secara umum
semakin besar perusahaan klien akan semakin beragam penggunaan
laporan keuangan. Ukuran perusahaan ini dapat diukur melalui total
aktiva ataupun pendapatan (Arens Loebbecke, 2003:227). Menurut
Charles H Gibson (2001:176) “ Be aware of the differrent size of firms
under comparison. These differences can be seen by looking at relative
sales, assets, or profit sizes”. Dalam Jogiyanto (2008:373) dikatakan
bahwa ukuran aktiva dipakai sebagai wakil pengukur (proxy) besarnya
perusahaan. Sedangkan Gorge Foster (1986:111) menunjukkan bahwa
firm size: total assets, sales, or market capitalization.
Berdasarkan pernyataan diatas bahwa disimpulkan bahwa ukuran
perusahaan dapat dilihat dari berbagai segi diantaranya: total aktiva,
penjualan/pendapatan, ukuran laba (profit), dan market capitalization.
Penelitian ini menggunakan wakil pengukur (proxy) untuk ukuran
perusahaan adalah total aktiva (assets). Aktiva adalah manfaat ekonomi
yang mungkin diperoleh dimasa depan atau dikendalikan oleh entitas
tertentu sebagai hasil dari transaksi atau kejadian masa lalu (Kieso,
Weygandt dan Walfield, 2001:219). Aktiva adalah sumber daya yang
Ukuran perusahaan menunjukkan besar atau kecilnya kekayaan
yang dimiliki suatu perusahaan. Dari pernyataan diatas dapat dikatakan
semakin besar aktiva suatu perusahaan maka semakin besar ukuran
perusahaan tersebut.
Ukuran perusahaan terkait merupakan fungsi dari kecepatan
pelaporan keuangan. Besar kecilnya ukuran perusahaan juga dipengaruhi
oleh kompleksitas operasional, variabilitas dan intensitas transaksi
perusahaan tersebut yang tentunya akan berpengaruh terhadap kecepatan
dalam menyajikan laporan keuangan kepada pihak eksternal (Sistya
Rachmawati, 2008:3).
2. Ukuran KAP
Faktor auditor (ukuran KAP) yang mengaudit juga diperkirakan
akan berpengaruh terhadap lamanya penyelesaian audit. Dalam Arens dan
Loebbecke (2003:11) mengkategorikan empat ukuran kantor akuntan
publik yaitu:
a. Kantor Akuntan Publik Internasional (The Big Four)
b. Kantor akuntan publik nasional
c. Kantor akuntan publik lokal dan regional
d. Kantor akuntan publik lokal kecil
Dalam penelitian ini variabel ukuran KAP dikategorikan kedalam
dua kelompok yaitu KAP big four dan KAP non big four.
Kantor akuntan The Big Four merupakanan kantor akuntan terbesar
di dunia.
KAP The Big Four adalah suatu kelompok kantor akuntan
internasional yang menangani bagian terbesar pekerjaan audit dari
perusahaan-perusahaan publik (http://id.wiki.com/wiki The Big Four
Auditor).
Kategori KAP Big Four sesuai urutan berdasarkan jumlah
penghasilan dan sumber daya beserta mitranya di Indonesia adalah sebagai
berikut:
1. KAP Price Waterhouse Coopers, yang bekerja sama denga KAP
Haryanto Sahari & Rekan.
2. KAP DeloitteTauche Tohmatsu (DTT), yang bekerja sama
dengan KAP Osman Bing Satrio.
3. KAP Ernest & Young, yang bekerja sama dengan KAP Hanadi,
Surwoko &Sandjaja dan KAP Prasrtio, Utomo dan Co.
4. KAP KPMG (Klynveld Peat Marwick Geordeler), yang bekerja
sama dengan KAP Sidharta-Sidharta dan Harsono Widjaja.
b. KAP Non The Big Four
KAP Non The Big Four dapat dikatakan adalah KAP yang tidak
mempunyai hubungan kerja sama dengan KAP The Big Four, biasanya
hanya melayani klien di dalam jangkaun wilayahnya. Di Indonesia KAP
kantor cabang didaerah lain. Banyak diantaranya yang berafiliasi dengan
organisasi KAP internasional untuk bertukar pandangan dan pengalaman
mengenai hal-hal seperti teknis informasi dan pendidikan lanjutan (Arens
dan Loebbecke, 2003:12).
3. Opini Auditor
Terdapat lima jenis pendapat auditor (Boynton, Johnson dan Kell,
2002: 73-82), yaitu:
1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified opinion) yang menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar,
dalam semua hal material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus
kas entitas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Laporan ini merupakan bentuk laporan audit yang paling umum
atau disebut laporan audit standar dengan pendapat wajar tanpa
pengecualian.
2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan kalimat penjelasan (Unqualified with explanatory paragraph opinion) yang menyatakan bahwa laporan keuangan telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum, namun terdapat beberapa kondisi yang mengharuskan
auditor menambahkan paragraf penjelas.
3. Pendapat wajar dengan pengecualian (Qualified opinion) yang menyatakan bahwa kecuali dampak dari hal-hal yang berkaitan
wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Menurut
Arens dan Loebbecke (2003:41) pendapat wajar dengan pengecualian
dapat diberikan baik karena adanya pembatasan lingkup audit atau
tidak ditaatinya prinsip akuntansi yang berlaku umum.
4. Pendapat tidak wajar (adverse opinion) yaitu menyatakan bahwa laporan keuangan tidak disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum.
5. Menolak memberikan pendapat (disclaimer opinion) yang menyatakan bahwa auditor tidak memberikan pendapat atas laporan
keuangan. Pernyataan tidak memberikan pendapat atas laporan
keuangan timbul karena adanya pembatasan ruang lingkup audit,
hubungan yang tidak independen, antara klien dengan auditor
menurut kode etik professional, atau tidak ditaatinya prinsip akuntansi
yang berlaku umum.
2.2.5. Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Audit Delay
Ukuran perusahaan merupakan variabel yang sering digunakan
dalam penelitian ini. Dalam beberapa penelitian, hasil yang diperoleh
berbeda-beda antara penelitian yang satu dengan penelitian yang lain.
Menurut SPAP SA Seksi 319 paragraf 41, sifat dan luasnya
prosedur audit yang dilaksanakan umumnya bervariasi antara satu entitas
suatu entitas. Semakin besar dan kompleks suatu entitas, maka semakin
luas prosedur audit yang dilakukan sehingga kemungkinan akan
memperpanjang audit delay.
Penelitian yang dilakukan oleh Courtis (1976), Gilling (1977),
Ashton dan Elliot (1987) dalam imam (2005), menunjukkan bahwa faktor
ukuran perusahaan dengan indikator total aktiva memiliki pengaruh yang
besar terhadap audit delay. Pengaruh ini ditunjukkan dengan semakin
besar nilai aktiva suatu perusahaan maka semakin pendek audit delay dan
sebaliknya.
Hal ini mungkin terjadi karena sistem pengendalian internal
perusahaan berjalan dengan baik sehingga dapat mengurangi tingkat
kesalahan dalam menyusun laporan keuangan yang memudahkan auditor
dalam melakukan audit. Semakin baik sistem pengendalian intern maka
semakin sedikit bukti audit yang harus dikumpulkan auditor sebagai dasar
pernyataan pendapat auditor. Menurut Dyer dan McHugh (1975) dalam
Sistya Rachmawati (2008) manajemen perusahaan besar cenderung
diberikan intensif untuk mengurangi audit delay dikarenakan
perusahaan-perusahaan tersebut dimonitor secara ketat oleh investor, pengawas
permodalan, dan pemerintah. Oleh karena itu perusahaan-perusahaan
besar cenderung menghadapi tekanan eksternal yang lebih tinggi untuk
Namun arah penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Sistya Rachmawati (2008) dan Dewi Lestari (2010) yaitu
positif yang menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki total aktiva
besar membutuhkan waktu yang lama dalam menyelesaikan laporan
auditnya, meskipun pengaruh yang dihasilkan signifikan antara ukuran
perusahaan terhadap audit delay.
Penelitian yang dilakukan oleh Dewi Rachmayanti (2011)
menunjukkan arah penelitian yang sama dengan Sistya Rachmawati
(2008) dan Dewi Lestari (2010) dimana perusahaan yang memiliki total
aktiva besar membutuhkan waktu yang lama dalam penyelesaian laporan
auditnya dan pengaruh yang dihasilkan signifikan antara ukuran
perusahaan terhadap audit delay.
Hasil penelitian Sistya Rachmawati (2008), Dewi Rachmayanti
(2011), Sistya Rachmawati (2008) dan Dewi Lestari (2010) sesuai dengan
literatur yang ada. Berdasarkan Boynton dan Kell (2002:207), semakin
besar ukuran suatu perusahaan, maka semakin besar pula jumlah bukti
audit yang diperlukan untuk memperoleh dasar yang memadai dalam
menarik kesimpulan atau pendapat. Hal ini berkaitan dengan semakin
banyaknya jumlah sampel yang harus diambil dan semakin luas prosedur
audit yang harus ditempuh agar mendapatkan keyakinan yang memadai
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa diduga ukuran perusahaan secara
signifikan berpengaruh terhadap audit delay.
2.2.6. Pengaruh Ukuran KAP Terhadap Audit Delay
KAP yang termasuk dalam kategori The Big Four cenderung
melakukan audit lebih cepat disbanding KAP yang tidak termasuk dalam
KAP The Big Four
Menurut Carslaw dan Kaplan (1991), audit delay untuk perusahaan
yang menggunakan Kantor Akuntan Internasional diduga lebih pendek
dari kantor akuntan lainnya. Kantor akuntan internasional yaitu The Big
Four akan melakukan audit lebih efisien dan lebih fleksibel dalam
merencanakan audit dengan tepat waktu. Selain itu Asthon dan Newton
(1989) menyatakan bahwa kantor akuntan besar lebih tepat waktu dalam
menyelesaikan audit karena mereka lebih berpengalaman dalam
mengaudit perusahaan-perusahaan publik.
Hal ini kemungkinan dikarenakan KAP Big Four umumnya
memiliki kualitas dan kuantitas sumber daya yang lebih baik
dibandingkan dengan KAP non Big Four sehingga dapat melakukan audit
lebih cepat dan efisien. Selain itu KAP Big Four cenderung menyajikan
audit yang lebih baik dibandingkan dengan KAP non Big Four karena
mereka memiliki nama baik yang dipertaruhkan (Supriyati & Yliasri
Waktu audit yang lebih cepat juga merupakan cara KAP Big Four
untuk mempertahankan reputasi mereka. Jika tidak maka untuk tahun
yang akan datang ada kemungkinan mereka akan kehilangan kliennya
(Imam Subekti, 2005).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dapat
ditarik kesimpulan bahwa diduga ukuran KAP secara signifikan
berpengaruh terhadap audit delay.
2.2.7. Pengaruh Opini Auditor Terhadap Audit Delay.
Jenis pendapat yang diberikan auditor tergantung dari hasil audit
yang dilakukan. Untuk mendapatkan keyakinan yang memadai dalam
memberikan pendapatnya, auditor melakukan prosedur audit. Salah satu
prosedur audit yang dilakukan adalah menganalisis laporan keuangan
untuk mengetahui tingkat kesehatan keuangan perusahaan. Salah satu
analisa laporan keuangan adalah rasio leverage. Penelitian Carslaw dan
Kaplan (1991) merupakan penelitian pertama yang menggunakan rasio
leverage sebagai variabel independen yang mempengaruhi audit delay.
Carslaw dan Kaplan (1991) menyatakan bahwa perbandingan dari
hutang terhadap total aset (Debt Proportion) diduga mempunyai
hubungan yang positif terhadap audit delay. Alasan yang yang mendasari
dugaan ini adalah perbandingan hutang terhadap total aset yang
hutang terhadap total aset akan meningkatan kemungkinan kegagalan
perusahaan dan dapat menimbulkan pemikiran auditor bahwa
kemungkinan laporan keuangan tersebut kurang dapat dipercaya.
Rendahnya kesehatan keuangan manajemen (proporsi hutang terhadap
total asset yang tinggi) memungkinkan terjadinya kecurangan manajemen
atau kesalahan manajemen. Dengan adanya pemikiran auditor bahwa
kemungkinan laporan keuangan tersebut kurang dapat dipercaya, maka
auditor berpotensi memberikan pendapat selain unqualified opinion.
Menurut penelitian yang dilakukan Whittred (1980) dalam Ainun
Na’im (1999), kualifikasi audit dapat diberikan dalam beberapa bentuk:
pendapat pengcualian, pendapat penolakan dan pernyataan tidak
memberikan pendapat. Kualifikasi auditor tersebut dapat menyebabkan
penundaan laporan keuangan karena kualifikasi audit. Dengan kondisi
yang semacam ini manajemen mungkin akan melakukan beberapa usaha
seperti negosiasi kembali dengan pihak auditor dengan memperluas
prosedur audit dan mengumpulkan lebih banyak bukti. Proses ini
membutuhkan audit yang lebih lama yang dapat menunda penyampaian
laporan keuangan auditan.
Hasil penelitian Whittred (1980) membuktikan bahwa audit delay
yang lebih panjang dialami oleh perusahaan yang menerima pendapat
Kesimpulan dari dua penelitian diatas adalah pemikiran auditor
mengenai kemungkinan laporan keuangan tersebut kurang dapat
dipercaya dapat menimbulkan pemberian pendapat selain unqualified
opinion. Pendapat selain unqualified opinion tersebut dapat menyebabkan
penundaan laporan keuangan karena kualifikasi audit dianggap sebagai
tanda kinerja manajemen yang buruk. Konsekuensinya manajemen
merasa enggan untuk menerima kualifikasi audit.
Pemberian pendapat selain unqualified opinion tersebut melibatkan
negosiasi dengan klien, konsultasi dengan partner yang lebih senior atau
staf teknis dan dilakukannya perluasan lingkup audit sehingga
membutuhkan waktu yang lama dalam menyelesikan auditnya (Imam
Subekti, 2005).
Kualifikasi audit yang digunakan di Indonesia adalah Unqualified
opinion, Unqualified with explanatory paragraph opinion, Qualified
opinion, Adverse opinion, Disclaimer opinion.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya
maka ditarik kesimpulan bahwa diduga jenis pendapat/opini auditor
2.3. Diagram Kerangka pikir
Berdasarkan uraian diatas, dapat disusun diagram kerangka pikir
sebagai berikut :
Opini auditor (D2) Ukuran KAP (D1) Ukuran perusahaan (X)
Audit delay (Y)
Regresi Linier Berganda
2.4. Hipotesis
Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah dan landasan teori
yang telah dikemukakan, maka diajukan hipotesis sebagai berikut:
a. Diduga bahwa terdapat pengaruh ukuran perusahaan terhadap audit
delay pada perusahaan-perusahaan go publik di BEI.
b. Diduga bahwa terdapat perbedaan pengaruh ukuran KAP dan opini
auditor terhadap audit delay pada perusahaan-perusahaan go publik
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Definisi operasional berfungsi untuk menjelaskan variabel yang
akan diteliti dan hubungan antara variabel, sehingga tidak menimbulkan
interprestasi lain. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri
dari variabel terikat yaitu audit delay dan variabel bebas yang terdiri dari
ukuran perusahaan, ukuran KAP, opini auditor.
Sub bagian ini akan menguraikan definisi dari masing-masing
variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Perincian dari
masing-masing variabel yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Audit Delay (y)
Adalah lamanya waktu penyelesaian audit yang diukur dari tanggal
penutupan tahun buku (31 Desember) hingga tanggal diterbitkannya
laporan audit (tanggal opini). Skala pengukuran yang digunkan adalah
rasio. Satuan pengukuran yang digunakan adalah hari.
2. Ukuran perusahaan (X1)
Ukuran perusahaan menunjukkan besar atau kecilnya kekayaan
yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Ukuran perusahaan ini diukur
laporan keuangan perusahaan akhir periode yang telah diaudit. Pada
penelitian ini, ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan proksi
total aset. Ukuran perusahaan dapat dirumuskan sebaagi berikut:
Ukuran perusahaan : Ln Total Aset
3. Ukuran Kantor Akuntan Publik (D1)
Ukuran Kantor Akuntan Publik menunjukkan reputasi sebuah
Kantor Akuntan Publik yaitu dengan mengelompokkan auditor-auditor
yang bermitra kerja dengan KAP kelompok The Big Four di Amerika
Serikat dengan yang tidak. Variabel ini merupakan variabel Dummy yaitu
variabel yang pada dasarnya bersifat kualitatif yang menunjukkan ukuran
KAP. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala nominal. Variabel
ini terbagi menjadi dua kelompok yaitu :
D2.0 : KAP Non The Big Four, yang ditunjukkan dengan kode 0.
KAP Non The Big Four adalah kantor akuntan publik yang tidak
termasuk dalam empat besar dan merupakan kantor akuntan publik lokal
yang dalam pelaksanaan auditnya diduga membutuhkan waktu yang lebih
lama, karena dalam pelaksanaan auditnya kurang efisien.
D2.1 : KAP The Big Four, yang ditunjukkan dengan kode 1. KAP
The Big Four diberi kode 1 karena KAP The Big Four adalah kantor
akuntan publik internasional yang membutuhkan waktu lebih singkat
menyelesaikan audit secara lebih efisien dan memiliki tingkat
fleksibilitas jadwal waktu yang lebih tinggi untuk menyelesaikan audit
tepat waktunya.
4. Opini Auditor (D2)
Opini auditor adalah pendapat yang diberikan oleh auditor
independen atas suatu laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan.
Opini auditor merupakan variabel Dummy yaitu variabel yang pada
dasarnya bersifat kualitatif yang menunjukkan jenis pendapat auditor.
skala pengukuran yang digunakan adalah nominal. variabel opini auditor
terbagi menjadi dua kelompok yaitu:
D1.0 : Unqualified opinion, ditujukan dengan kode 0. Pendapat ini
dipisahkan dari keempat pendapat lainnya dan diberi kode 0 karena
unqualified opinion merupakan pendapat yang menyatakan bahwa
laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal material,
posisi kauangan, hasil usaha dan arus kas entitas sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum. Laporan ini merupakan bentuk laporan
audit yang paling umum atau disebut laporan audit standar dengan
pendapat wajar tanpa pengecualian dan merupakan pendapat yang paling
baik diantara pendapat auditor yang lain.
D1.1 : Pendapat selain unqualified opinion. Jenis pendapat selain
unqualified with explanatory paragraph opinion, qualified opinion,
adverse opinion, dan disclaimer opinion. Keempat opinoi ini dipisahkan
dan diberi kode 1 karena keempat pendapat ini merupakan pendapat yang
kurang baik bahkan tidak baik atas laporan keuangan.
3.2 Teknik Penentuan Sampel a. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan dagang (wholesale
dan retail) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai tahun
2007, berjumlah 48 perusahaan.
b. Sampel
Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan purposive
sampling , dipilih berdasarkan kriteria tertentu, yaitu penarikan sampel
berdasarkan kriteria yang telah dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti
(Sugiarto, 2006:120).
Sampling dalam penelitian ini diambil dengan kriteria sebagai
berikut:
1. Perusahaan yang termasuk dalam kategori perusahaan dagang
(wholesale dan retail).
2. Perusahaan-perusahaan tersebut telah go publik dan listing di
3. Perusahaan tersebut memiliki laporan keuangan lengkap termasuk
laporan auditor independen tahun 2008 sampai dengan tahun 2010.
4. Perusahaan tersebut termasuk ukuran perusahaan besar.
Berdasarkan kriteria diatas, maka perusahaan yang dijadikan
sampel dalam penelitian ini adalah 12 perusahaan wholesale dan retail
yaitu:
1. PT. Ace Hardware Indonesia Tbk. (ACES)
2. PT. Alfa Retailindo Tbk. (ALFA)
3. PT. Akbar Indo Makmur Stimec Tbk. (AIMS)
4. PT. Centrin Online Tbk. (CENT)
5. PT. Fks Multi Agro Tbk. (FISH)
6. PT. Dayaindo Resources Internasional Tbk. (KARK)
7. PT. Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI)
8. PT. Multi Indocitra Tbk. (MICE)
9. PT. Ancora Indonesia Resources Tbk. (OKAS)
10. PT. Rimo Catur Lestari Tbk. (RIMO)
11. PT. Renuka Coalindo Tbk. (SQMI)
3.3 Teknik Pengumpulan Data 3.3.1. Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder
berupa total aset, jenis opini, audit delay dan ukuran KAP. Data laporan
keuangan tahunan diperoleh dari laporan keuangan auditan yang
diwajibkan oleh BAPEPAM.
3.3.2. Sumber Data
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini laporan
keuangan auditan dari perusahaan sampel yang diperoleh dari Bursa Efek
Indonesia yang diakses melalui website BEI (www.idx.co.id) mulai
tahun 2008 sampai tahun 2010 serta sumber-sumber lainnya.
3.3.3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode
dokumentasi, yaitu dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan
menganalisa laporan keuangan perusahaan wholesale dan retail mulai
tahun 2008 sampai dengan tahun 2010.
3.4. Teknik Analisis dan Uji Hipotesis 3.4.1. Teknik Analisis
Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear
Analisis regresi linear berganda adalah suatu metode statistik yang
digunakan untuk meneliti hubungan antar variabel dependen dan
beberapa variabel independen.
Y= β0 + β1 X1+ β2D1+ β3D2+e
Keterangan:
Y = Audit Delay
β0 = Konstanta
X1 = Ukuran Perusahaan
D1 = Ukuran KAP
D2 = Opini Auditor
β1,β2, β3 = Koefisien Regresi
e = Kesalahan
3.4.2. Uji normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi, variabel pengganggu atau residual mempunyai distribusi normal.
Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan Kolmogrov Smirnov.
Jika profitabilitas >0.05 maka data berdistribusi normal. Sebaliknya , jika
profitabilitas < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal.
3.4.3. Uji Asumsi Klasik
Persamaan regresi linear berganda harus bersifat BLUE (Best
F dan uji t tidak boleh bias. Untuk meghasilkan keputusan yang BLUE
maka harus dipenuhi tiga asumsi dasar yaitu:
a. Tidak terdapat autokorelasi
b. Tidak terdapat Multikolinearitas
c. Tidak terdapat Heteroskedastisitas
Apabila salah satu dari ketiga asumsi dasar tersebut dilanggar, maka
persamaan regresi yang diperoleh tidak lagi bersifat BLUE, sehingga
pengambilan keputusan melalui uji F dan t menjadi bias.
3.4.3.1. Uji Autokorelasi
autokorelasi. Autokorelasi muncul disebabkan adanya observasi
yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Masalah ini
timbul karena residual (kesalahan penganggu) tidak bebas dari satu
observasi ke observasi yang lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data
runtut waktu atau time series karena ”gangguan” pada seorang
individu/kelompok cenderung mempengaruhi ”gangguan” pada individu/
kelompok yang sama pada periode berikutnya. Model regresi yang baik
adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Untuk mendeteksi ada
tidaknya autokorelasi, maka dilakukan pengujian Durbin-Watson (DW).
Model dikatakan bebas dari autokorelasi jika nilai dw lebih besar dari
Tabel 2. Keputusan Uji Autokorelasi
Hipotesa Nol (Ho) Keputusan Kriteria
Tidak ada autokorelasi
positif Ho ditolak 0 < d < Dl
Tidak ada autokorelasi
positif tidak ada keputusan dL ≤ d ≤ dU Tidak ada autokorelasi
negatif Ho ditolak 4 - Dl < d < 4 Tidak ada autokorelasi
negatif tidak ada keputusan 4 – dU ≤ d ≤4 - dL Tidak ada autokorelasi
(positif atau negatif) Ho diterima dU < d < 4 - dU Sumber: Imam Ghozali, 2009:80
3.4.3.2. Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas merupakan fenomena adanya korelasi yang
sempurna antara satu variable bebas dengan variabel bebas lain. Uji
multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen) (Imam
Ghozali, 2006: 91). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi
Metode untuk menguji adanya multikolinearitas dapat dilihat pada
tolerance value atau variance inflammatory factor (VIF). Batas tolerance
value adalah 0,10 atau nilai VIF adalah 10. Jika VIF >10 dan nilai
Tolerance <0.10, maka tejadi multikolinearitas tinggi antar variabel bebas
dengan variable bebas lainnya.
3.4.3.3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam regresi
terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Jika varian dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain berbeda, maka disebut terdapat
heteroskedastistas.Metode yang baik seharusnya tidak terjadi
heteroskedastistas.
Untuk menguji Heteroskedastisitas dapat diketahui dari nilai
signifikan korelasi Rank Spearman antara masing-masing variabel
independen dengan residualnya. Jika nilai signifikan lebih besar dari α
(5%) maka tidak terdapat Heteroskedastisitas, dan sebaliknya jika lebih
kecil dari α (5%) maka terdapat Heteroskedastisitas.
3.4.4. Uji Hipotesis
Untuk menguji cocok atau tidaknya model regresi yang dihasilkan
untuk mengetahui pengaruh X1, D1 dan D2 terhadap Y digunakan uji F
dengan prosedur sebagai berikut:
Ho : β1 = β2 = 0 Artinya model regresi yang dihasilkan tidak
cocok untuk mengetahui pengaruh X1, D1 dan
D2 terhadap Y.
Hi : β1 = β2 ≠ 0 Artinya model regresi yang dihasilkan cocok
untuk mengetahui pengaruh X1, D1 dan D2
terhadap Y.
1. Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikan 0,05 atau 5%.
2. Kriteria pengujian adalah sebagai berikut:
a. Apabila nilai probabilitas ≥ 0,05 H0 diterima dan Hi ditolak.
b. Apabila nilai probabilitas < 0,05 H0 ditolak dan Hi diterima.
b. Uji Hipotesis
Untuk menguji signifikan atau tidaknya pengaruh perbedaan
pengaruh X1, D1 dan D2 terhadap Y digunakan uji t student dengan
Ho : β1 = 0 Artinya tidak terdapat pengaruh signifikan X1,
D1 dan D2 terhadap Y.
Hi : β1≠ 0 Artinya terdapat pengaruh yang signifikan X1,
D1 dan D2 terhadap Y.
1. Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikan 0,05 atau 5%.
2. Kriteria pengujian adalah sebagai berikut:
a. Apabila nilai probabilitas ≥ 0,05 H0 diterima dan Hi ditolak.
b. Apabila nilai probabilitas < 0,05 H0 ditolak dan Hi diterima.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Obyek Penelitian
4.1.1. Sejarah Singkat Perusahaan Ditinjau dari Ruang Lingkup Kegiatan
Adapun sejarah singkat perusahaan wholesale dan retail ditinjai dari
ruang lingkup kegiatan:
1. PT ACE Hardware Indonesia Tbk, (ACES)
PT Ace Hardware Indonesia Tbk (Perusahaan) didirikan awalnya
bernama PT Kawan Lama Home Center tanggal 3 Pebruari 1995. Total
asset yang dimiliki PT Ace Hardware Indonesia Tbk mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008 sebasar
Rp.790.276.530.796, pada tahun 2009 sebesar Rp.970.555.943.386, dan
pada tahun 2010 sebesar Rp.1.191.333.479.259. Dari tahun 2008 sampai
tahun 2010 perusahaan ini menerima pendapat Unqualified opinion, dan
diaudit oleh KAP Non The Big Four.
Sesuai pasal 3 anggaran dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan
Perusahaan meliputi usaha perdagangan umum termasuk kegiatan ekspor
impor serta menjalankan usaha sebagai agen atau distributor. Saat ini
kegiatan usaha Perusahaan terutama adalah penjualan eceran (ritel)
31 Desember 2009, Perusahaan memiliki 39 gerai ritel yang meliputi area
Jakarta, Tangerang, Bekasi, Cirebon, Bandung, Semarang, Surabaya,
Bali, Medan, Batam, Pekan Baru, Palembang, Balikpapan, Makasar dan
Banjarmasin.
Kantor Perusahaan terletak di Gedung Kawan Lama Lt. 5, Jl. Puri
Kencana No.1, Meruya-Kembangan, Jakarta 11610, Indonesia.
Perusahaan mulai beroperasi secara komersial sejak tanggal 22 Desember
1995.
2. PT Alfa Retailindo Tbk. (ALFA)
Perseroan didirikan tanggal 4 Agustus 1989. Total asset yang dimiliki
PT Alfa Retailindo Tbk. mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2008 sebasar Rp.603.647.000, pada tahun 2009 sebesar
Rp.648.251.000, dan pada tahun 2010 sebesar Rp.673.054.000. Dari
tahun 2008 sampai tahun 2010 perusahaan ini menerima pendapat
Unqualified opinion, dan diaudit oleh KAP The Big Four.
Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasarnya, Perseroan bergerak di
bidang perdagangan umum termasuk distributor, leveransir dan grosir.
Operasi komersial dimulai tahun 1989.
Perseroan berdomisili di Indonesia, dengan Kantor Pusat di Jalan
Lodan No. 80-81, Jakarta Per 31 Desember 2008, Perseroan
dan “Carrefour Express” (14 toko), yang seluruhnya tersebar dibeberapa
kota besar di Indonesia.
3. PT. Akbar Indo Makmur Stimec Tbk (AIMS)
PT. Akbar Indo Makmur Stimec Tbk (“Perusahaan”) didirikan pada
tanggal 7 Mei 1997. Total asset yang dimiliki PT. Akbar Indo Makmur
Stimec Tbk. mengalami peningkatan dari tahun 2008 ke tahun 2009, yaitu
dari Rp.81.297.390.950 menjadi Rp.182.575.880.288, dan pada tahun
2010 mengalami penurunan menjadi sebesar Rp.148.194.762.072. Dari
tahun 2008 sampai tahun 2010 perusahaan ini menerima pendapat
Unqualified opinion, dan diaudit oleh KAP Non The Big Four.
Perusahaan bergerak dalam bidang perdagangan batu bara.
Perusahaan berkedudukan di Jakarta dan berkantor pusat di Jl.
Suryopranoto 2, Harmoni Plaza Blok A-29, Jakarta Pusat 10130.
Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1998.
4. PT Centrin Online Tbk. (CENT)
PT Centrin Online Tbk (“Perseroan”) dahulu bernama PT Centrindo
Utama tanggal 11 Februari 1987. Total asset yang dimiliki PT Centrin
Online Tbk. mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun
2008 sebasar Rp.94.248.794.872, pada tahun 2009 sebesar
Dari tahun 2008 sampai tahun 2010 perusahaan ini menerima pendapat
Unqualified opinion, dan diaudit oleh KAP Non The Big Four.
Sebelum tahun 1996, Perseroan bergerak dalam bidang penjualan
peralatan komputer. Sejak tahun 1996 Perseroan memperluas bidang
usahanya ke dalam bidang usaha jasa-jasa telekomunikasi, multimedia,
internet service provider dan portal. Bandwidth Perseroan pada saat ini
adalah sebesar 178 Mbps.
Produk dan jasa internet yang ditawarkan oleh Perseroan antara lain
meliputi : Dial Up Services, Business Access, LAN Dial Up Services,
Dial Up ISDN Services, LAN Dial Up ISDN Services, Dedicated/Leased
Line Services, Web Hosting Services, Co-location Services, Mailing List
Services dan VoiP.
5. PT FKS Multi Agro Tbk. (FISH)
PT. FKS Multi Agro Tbk (Perusahaan) tanggal 27 Juni 1992,
tanggal 3 Juli 2006 perusahaan berubah menjadi PT FKS Multi Agro
Tbk. Total asset yang dimiliki PT. FKS Multi Agro Tbk. mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008 sebasar
Rp.413.361.128.024, pada tahun 2009 sebesar Rp.557.385.176.818, dan
pada tahun 2010 sebesar Rp.1.101.332.993.367. Dari tahun 2008 sampai
tahun 2010 perusahaan ini menerima pendapat Unqualified opinion, dan
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup
kegiatan Perusahaan terutama bergerak dalam bidang perikanan, industri
dan perdagangan.
Pada tanggal 31 Desember 2008 Perusahaan berkantor di
Sampoerna Strategic Square, North Tower 3rd Floor, Jl. Jend Sudirman
Kav. 45-46, Jakarta Selatan dan lokasi pabrik terletak di Muncar -
Banyuwangi, Jawa Timur. Perusahaan mulai berproduksi secara
komersial sejak tahun 1993.
6. PT Dayaindo Resources Internasional Tbk. (KARK)
PT Dayaindo Resources Internasional Tbk, berkedudukan di
Jakarta, yang sebelum tanggal 29 Juni 2007 bernama PT KARKA YASA
PROFILIA Tbk didirikan tanggal 21 April 1994. Total asset yang dimiliki
PT. Dayaindo Resources InternasionalTbk. mengalami peningkatan dari
tahun ke tahun. Pada tahun 2008 sebasar Rp.520.467.744.339, pada tahun
2009 sebesar Rp.777.200.912.511, dan pada tahun 2010 sebesar
Rp.2.957.817.715.206. Dari tahun 2008 sampai tahun 2010 perusahaan
ini menerima pendapat Unqualified opinion, dan diaudit oleh KAP Non
The Big Four.
Kegiatan usaha utama Perusahaan semula adalah bidang real estat,
dengan membidik pangsa pasar penjualan perumahan sederhana
7. PT Mitra Adiperkasa Tbk.(MAPI)
PT. Mitra Adiperkasa Tbk (Perusahaan), didirikan tanggal 23
Januari 1995. Total asset yang dimiliki PT. Mitra Adiperkasa Tbk. Pada
tahun 2008 sebasar Rp.3.760.969.310, pada tahun 2009 mengalami
penurunan yaitu menjadi Rp.3.379.394.233, dan pada tahun 2010
mengalami kenaikan yaitu menjadi Rp.3.670.503.683. Dari tahun 2008
sampai tahun 2010 perusahaan ini menerima pendapat Unqualified
opinion, dan diaudit oleh KAP The Big Four.
Sesuai dengan pasal 3 anggaran dasar Peru