• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Hutan Hujan Tropika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "II. TINJAUAN PUSTAKA A. Hutan Hujan Tropika"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Hutan Hujan Tropika

Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai pohon-pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan di luar hutan (Soerianegara dan Indrawan, 1988). Sedangkan menurut Departemen Kehutanan (1992), hutan ialah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya atau ekosistem.

Hutan hujan tropika merupakan suatu komunitas tumbuhan yang bersifat selalu hijau, selalu basah dengan tinggi tajuk sekurang-kurangnya 30 m serta mengadung spesies-spesies efifit berkayu dan herba yang bersifat efifit (Schimper, 1903 dalam Mabberley, 1992). Richards (1966) juga menjelaskan bahwa salah satu ciri penting dari hutan hujan tropika adalah adanya tumbuhan berkayu, tumbuhan pemanjat dan efifit berkayu dalam berbagai ukuran.

Hutan hujan tropika merupakan jenis wilayah yang paling subur. Hutan jenis ini terdapat di wilayah tropika atau di dekat wilayah tropika di bumi ini, yang menerima curah hujan berlimpah sekitar 2000-4000 mm per tahun. Suhunya tinggi (sekitar 25-26oC), dengan kelembaban rata-rata sekitar 80%. Komponen dasar hutan itu adalah pohon tinggi dengan tinggi maksimum rata-rata sekitar 30 m. Salah satu corak yang menonjol adalah sebagian besar tumbuhannya mengandung kayu (Ewusie, 1990).

Hutan hujan tropika ialah suatu komunitas yang kompleks dengan kerangka yang utama adalah pepohonan dengan berbagai ukuran. Adanya kanopi hutan menyebabkan iklim mikro yang berbeda dengan keadaan diluar, cahaya yang kurang, kelembaban yang tinggi, dan suhu yang rendah (Whitmore, 1986).

Richards (1966) memberikan beberapa ciri hutan hujan tropika, sebagai berikut:

(2)

a. Hutan hujan tropika terdiri dari berjenis-jenis tumbuhan berkayu dan umumnya kaya akan jenis-jenis dengan ukuran tinggi dan diameter yang besar.

b. Mempunyai banyak jenis-jenis kodominan, tetapi dapat juga hanya terdiri dari beberapa jenis saja. Jenis-jenis memperlihatkan gambaran umum yang sama, yaitu batangnya berbanir, lurus dan dekat tajuknya tidak bercabang.

c. Pada umumnya susunan tajuknya terdiri dari dua sampai tiga lapisan, sedangkan tumbuhan bawah terdiri dari perdu, dan permudaan atau tunas-tunas dari jenis-jenis pohon lapisan bawah.

d. Selain jenis pokok, pada umumnya mempunyai banyak jenis-jenis efifit, tumbuhan pemanjat, palma dan pandan.

e. Merupakan susunan vegetasi klimaks di daerah khatulistiwa, masing-masing jenis tumbuh-tumbuhan di dalamnya mempunyai sifat-sifat hidup yang berbeda, tetapi dengan kondisi-kondisi edafis dan klimatologis tertentu mereka membentuk suatu masyarakat tumbuh-tumbuhan yang seimbang.

B. Klasifikasi Hutan

Menurut Departemen Kehutanan (1992), hutan dapat digolongkan bagi tujuan pengelolaan hutan menurut hal-hal berikut:

a. Susunan jenis.

Hutan murni adalah hutan yang hampir semua atau seluruhnya dari jenis yang sama. Hutan campuran ialah hutan yang terdiri dari atas dua atau lebih jenis pohon. Baik hutan murni atau campuran dapat berupa seumur, tidak seumur atau segala umur.

b. Kerapatan tegakan.

Pada umumnya, hutan-hutan berbeda dalam hal jumlah pohon dan volume per hektar, luas bidang dasar dan kriteria lain. Perbedaan antara sebuah tegakan yang rapat dan jarang, lebih mudah dilihat dengan kriteria pembukaan tajuknya. Sedangkan kerapatan berdasarkan volume, luas bidang dasar, dan jumlah batang per hektar, dapat diketahui melalui

(3)

pengukuran. Untuk keperluan praktis, tiga kelas kerapatan telah dibuat, yaitu:

1. Rapat, bila terdapat lebih dari 70 % penutupan tajuk. 2. Cukup, bila terdapat 40-70 % penutupan tajuk.

3. Jarang, bila terdapat kurang dari 40 % penutupan tajuk.

Hutan yang terlalu rapat, pertumbuhannya akan lambat karena persaingan yang keras terhadap sinar matahari, air, dan zat hara mineral. Kemacetan pertumbuhan akan terjadi. Tetapi tidak lama, karena persaingan diantara pohon-pohon akan mematikan yang lemah dan penguasaan oleh yang kuat. Sebaliknya, hutan yang terlalu jarang, terbuka atau hutan rawang, akan menghasilkan pohon-pohon dengan tajuk besar dan bercabang banyak, dengan yang pendek.

Suatu hutan yang dikelola baik ialah hutan yang kerapatannya dipelihara pada tingkat optimum, sehingga pohon-pohonnya dapat dengan penuh memanfaatkan air, sinar matahari, dan zat hara mineral dalam tanah. Dengan demikian hutan yang tajuknya kurang rapat berfungsi kurang efisien kecuali bila celah terbuka yang ada, di isi dengan permudaan hutan atau pohon-pohon muda. Tempat-tempat terbuka tersebut biasanya ditumbuhi gulma yang mengganggu pertumbuhan jenis-jenis pohon utama atau tanaman pokok.

c. Komposisi umur.

Suatu lahan hutan disebut seumur, bila ditanam pada waktu bersamaan. Meskipun demikian, ukurannya dapat berlainan, karena laju pertumbuhan yang berbeda. Hutan segala umur terdiri dari pohon-pohon berukuran besar hingga tingkatan semai. Jadi meliputi berbagai umur maupun ukuran. Sedangkan hutan tidak seumur ialah hutan yang hanya mempunyai dua atau tiga kelompok umur atau ukuran. Misalnya hutan yang terdiri atas pohon-pohon yang sudah masak tebang, miskin riap, dan ukuran pancang saja.

Hutan segala umur biasanya penyebaran ukurannya lebih beragam dan jenisnya umumnya lebih toleran terhadap naungan. Sementara hutan seumur umumnya terdiri dari jenis intoleran. Angin topan, penebangan

(4)

berlebihan, kebakaran dan bencana lain, menciptakan kelompok-kelompok yang tidak seumur.

d. Tipe hutan.

Tipe hutan ialah istilah yang digunakan bagi kelompok tegakan yang mempunyai ciri-ciri yang sama dalam susunan jenis dan perkembangannya. Tipe hutan diberi nama menurut satu atau lebih jenis pohon yang dominan.

C. Stratifikasi Tajuk

Kanopi dari hutan hujan tropika sering kali terdiri dari beberapa lapisan atau stratifikasi dan formasi hutan yang berbeda memiliki tingkatan strata yang berbeda pula. Strata (lapisan) terkadang terlihat mudah di hutan atau pada diagram profil, tetapi terkadang juga tidak. Pertentangan pendapat tentang konsep ini cukup hebat. Oleh sebab itu amat perlu ditinjau ciri-ciri yang terlibat dengan teliti (Whitmore, 1986).

Dalam suatu masyarakat tumbuhan akan terjadi suatu persaingan antara individu-individu dari suatu jenis atau berbagai jenis, jika tumbuhan-tumbuhan tersebut mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang sama dalam hal hara mineral, tanah, air, cahaya, dan ruangan. Sebagai akibat adanya persaingan ini, mengakibatkan jenis-jenis tertentu akan lebih menguasai (dominan) daripada yang lain, maka akan terjadi stratifikasi tumbuhan di dalam hutan. Pohon-pohon yang tinggi dari stratum teratas menguasai pohon-pohon yang lebih rendah dan merupakan jenis-jenis yang mencirikan masyarakat hutan yang bersangkutan (Soerianegara dan Indrawan, 1988).

Richards (1966) menyatakan bahwa struktur hutan hujan tropika paling jelas dinyatakan dengan penampakan arsitekturnya, stratifikasi tajuk pohon-pohonnya, semak dan tumbuhan bawah.

Menurut Ewusie (1990), hutan hujan tropika terkenal karena adanya perlapisan atau stratifikasi. Ini berarti bahwa populasi campuran didalamnya disusun pada arah vertikal dengan jarak teratur secara tak-sinambung. Meskipun ada beberapa keragaman yang perlu diperhatikan kemudian, hutan

(5)

menampilkan tiga lapisan pohon. Lapisan pohon ini dan lapisan lainnya yang terdiri dari belukar serta tumbuhan terna di uraikan sebagai berikut:

a. Lapisan paling atas (tingkat A) terdiri dari pepohonan setinggi 30-45 m. Pepohonan yang muncul keluar ini mencuat tinggi, bertajuk lebar; dan umumnya tersebar sedemikian rupa sehingga tidak saling bersentuhan membentuk lapisan yang berkesinambungan. Bentuk khas tajuknya sering dipakai untuk mengenali spesies itu dalam suatu wilayah. Pepohonan yang mencuat ini sering berakar, agak dangkal dan berbanir.

b. Lapisan pepohonan kedua (tingkat B) di bawah yang mecuat tadi, terdiri dari pepohonan dengan tinggi sekitar 18-27 m. Pepohonan ini tumbuh lebih berdekatan. Tajuk sering membulat atau memanjang dan tidak selebar seperti pohon yang mencuat.

c. Lapisan pepohonan ketiga (tingkat C), terdiri dari pepohonan dengan tinggi sekitar 8-14 m. Pepohonan di sini sering mempunyai bentuk yang agak beraneka tetapi cenderung membentuk lapisan yang rapat, terutama di tempat yang lapisan keduanya tidak demikian.

d. Selain lapisan pepohonan tersebut, terdapat lapisan belukar yang terdiri dari spesies dengan ketinggiannya kurang dari 10 m.

e. Dan yang terakhir adalah lapisan terna yang terdiri dari tumbuhan yang lebih kecil yang merupakan kecambah dari pepohonan yang lebih besar dari bagian atas, atau spesies terna.

Sedangkan menurut Soerianegara dan Indrawan (1988), stratifikasi tajuk hutan hujan tropika misalnya sebagai berikut:

a. Stratum A: Lapisan teratas, terdiri dari pohon-pohon yang tinggi totalnya 30 m keatas. Biasanya tajuknya diskontinyu, batang pohon tinggi dan lurus, batang bebas cabang (clear bole) tinggi. Jenis-jenis pohon dari stratum ini pada waktu mudanya, tingkat semai hingga sapihan (seedling sampai sapling), perlu naungan sekedarnya, tetapi untuk pertumbuhan selanjutnya perlu cahaya yang cukup banyak.

b. Stratum B: Terdiri dari pohon-pohon yang tingginya 20-30 m, tajuknya kontinyu, batang pohon biasanya banyak bercabang, batang bebas cabang

(6)

tidak terlalu tinggi. Jenis-jenis pohon dari stratum ini kurang memerlukan cahaya atau tahan naungan (toleran).

c. Stratum C: Terdiri dari pohon-pohon yang tingginya 4-20 m, tajuknya kontinyu. Pohon-pohon dalam stratum ini rendah, kecil, banyak bercabang.

Disamping ketiga strata pohon itu terdapat pula strata perdu-semak dan tumbuh-tumbuhan penutup tanah, yaitu :

d. Stratum D: Lapisan perdu dan semak, tingginya 1-4 m.

e. Stratum E: Lapisan tumbuh-tumbuhan penutup tanah (ground cover), tingginya 0-1 m.

Richards (1966) mengemukakan bahwa hutan primer dengan struktur yang teratur akan menjadi kelompok hutan-hutan sekunder yang tidak teratur setelah penebangan pohon yang terseleksi. Keadaan tegakan yang ditinggalkan akan menentukan struktur dan komposisi pohon selanjutnya.

D. Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI)

Untuk mengelola kawasan hutan alami fungsi produksi dengan berbagai karakteristiknya maka sistem silvikultur tebang pilih dianggap paling efisien, karena hanya menebang pohon besar yang kayunya dapat langsung dimanfaatkan saja tanpa mengubah ekosistem hutan terlalu keras. Sistem silvikultur tebang pilih merupakan sistem silvikultur yang paling luas di Indonesia. Sistem silvikultur ini dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan dengan nama Sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (Sutisna, 2001).

Sistem silvikultur adalah rangkaian kegiatan berencana dari pengelolaan hutan yang meliputi penebangan, peremajaan, dan pemeliharaan tegakan hutan guna menjamin kelestarian produksi kayu atau hasil hutan lainnya. Sedangkan TPTI adalah sistem silvikultur yang meliputi cara penebangan dengan batas diameter dan permudaan hutan (Departemen Kehutanan, 1992).

Sistem silvikultur TPTI merupakan sistem yang paling sedikit mengubah ekosistem hutan di hutan produksi yang merupakan hutan alami campuran tidak seumur, dibandingkan dengan sistem silvikultur lainnya.

(7)

Sistem TPTI diharapkan menjadi modifikasi dari peristiwa alami di dalam hutan, yaitu menyingkirkan pohon-pohon tua agar ruang yang dipakainya dimanfaatkan oleh pohon-pohon muda yang masih produktif (Sutisna, 2001).

Satu sistem silvikultur ditetapkan untuk satu risalah hutan. Risalah hutan adalah kegiatan pendahuluan perencanaan yang memuat bahasan kritis terhadap tegakan hutan sebagai dasar penetapan kegiatan silvikultur atau bahkan sistem silvikultur yang sesuai. Penetapan ini harus selalu memperhatikan azas kelestarian hutan yang mencakup kelangsungan produksi, penyelamatan tanah dan air, perlindungan alam, dan aspek usaha yang menguntungkan (Sutisna, 2001).

Tujuan dari sistem TPTI adalah untuk mengatur pemanfaatan hutan alam produksi serta meningkatkan nilai hutan, baik kualitas maupun kuantitas pada areal bekas tebangan, untuk rotasi berikutnya agar terbentuk tegakan hutan campuran yang diharapkan dapat berfungsi sebagai penghasil kayu penghara industri secara lestari (Departemen Kehutanan, 1992). Sedangkan sasaran dari TPTI adalah tegakan hutan alam produksi tidak seumur dengan keanekaragaman hayati yang tinggi (Sutisna, 2001).

Untuk mencapai tujuan ini maka tindakan-tindakan silvikultur dalam hal ini permudaan hutannya diarahkan kepada:

1. Pengaturan komposisi jenis pohon didalam hutan yang diharapkan dapat lebih menguntungkan baik ditinjau dari segi ekologi maupun ekonomi. 2. Pengaturan struktur/kerapatan tegakan yang optimal didalam hutan yang

diharapkan dapat memberikan peningkatan produksi kayu bulat dari tegakan sebelumnya.

3. Terjaminnya fungsi hutan dalam rangka pengawetan tanah dan air. 4. Terjaminnya fungsi perlindungan hutan.

Untuk mencapai sasaran yang diharapkan, maka ditetapkan tahapan TPTI dan tata waktu pelaksanaannya sebagai berikut:

Tabel 1. Tahapan Kegiatan TPTI.

No Tahapan Kegiatan TPTI Waktu Pelaksanaan (dalam tahun)

1 Penataan Areal Kerja Et – 3

2 Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan Et – 2

(8)

4 Penebangan Et

5 Penebasan Et + 1

6 Inventarisasi Tegakan Tinggal Et + 1

7 Pengadaan bibit Et + 2

8 Penanaman/pengayaan Et + 2

9 Pemeliharaan tahap pertama Et + 3 10 Pemeliharaan tahap lanjutan a. Pembebasan

b. Penjarangan

Et + 4 Et + 9 Et + 14 Et + 19 11 Perlindungan dan penelitian Terus menerus (Sumber Departemen Kehutanan, 1992).

Keterangan: Et adalah simbol tahun penebangan.

Pelaksanaan sistem silvikultur TPTI dalam pengusahaan hutan dimaksudkan untuk mengatur kegiatan penebangan dan pembinaan hutan alam produksi yang mempunyai jumlah pohon inti minimal 25 pohon per hektar. Pohon inti adalah pohon jenis komersial berdiameter minimal 20 cm yang akan membentuk tegakan utama yang akan ditebang pada rotasi tebangan berikutnya. Pohon inti yang ditunjuk, diutamakan terdiri dari pohon komersial yang sama dengan pohon yang ditebang. Seandainya jumlahnya masih kurang dari 25 pohon per hektar, dapat ditambah dari jenis kayu lain (Departemen Kehutanan, 1992).

Pada unit kesatuan pengusahaan hutan alam produksi, yang mempunyai komposisi dan struktur tegakan yang khusus, dapat diadakan penyesuaian sistem silvikultur TPTI sebagai berikut: (Departemen Kehutanan, 1992)

a. Pada hutan payau, pedoman sistem silvikultur yang dipergunakan tetap berdasarkan pada Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan No. 60/Kpts/DJ/1978.

b. Pada hutan rawa dengan komposisi hutan terdiri dari jenis komersial khusus, misalnya jenisramin, perupuk, dan jenis komersial lainnya; dan pemegang HPH tidak sanggup/sulit melaksanakan kegiatan penanaman/pengayaan, maka hanya diijinkan menebang pohon sebanyak-banyaknya 2/3 dari jumlah pohon, sesuai dengan komposisi jenisnya. c. Pada kondisi hutan rawa yang tidak ditemukan pohon berdiameter 50 cm

(9)

maka khusus jenis ramin dapat dilakukan penurunan batas diameter pohon yang boleh ditebang menjadi 35 cm; dengan jumlah pohon inti paling sedikit 25 pohon per hektar, berdiameter 15 cm ke atas. Sedangkan rotasi tebangan ditetapkan 25 tahun. Pengaturan pohon yang dapat ditebang mengikuti ketentuan pada butir (b) tersebut.

d. Pada kondisi hutan dengan jumlah pohon muda yang berdiameter 20-49 cm, yang dapat ditunjuk sebagai pohon inti kurang dari 25 pohon per hektar, maka kekurangannya harus ditambah dengan pohon komersial lain, yang berdiameter di atas 50 cm dan berfungsi pula sebagai pohon induk. Batas diameter batang yang boleh ditebang adalah 50 cm, dengan jumlah pohon inti paling sedikit 25 pohon per hektar, sedangkan rotasi tebang ditetapkan 35 tahun.

e. Pada kondisi hutan yang terdiri dari jenis-jenis komersial, yang memiliki pertumbuhan yang lambat dan sulit ditemukan pohon-pohon yang berdiameter 50 ke atas, seperti pada hutan eboni campuran, maka khusus untuk jenis eboni dapat dilakukan penurunan batas diameter pohon yang boleh ditebang menjadi 35 cm, dengan jumlah pohon inti paling sedikit 25 pohon per hektar, berdiameter 15 cm ke atas. Sedangkan rotasi tebang ditetapkan 45 tahun.

TPI/TPTI mengikuti kaidah alami dengan menebang jenis-jenis pohon komersial dengan limit diameter 50 cm ke atas pada hutan produksi dan limit diameter 60 cm ke atas pada hutan produksi terbatas. Hasil tebangan TPI/TPTI tersebar dalam bentuk rumpang pada areal bekas tebangan, menurut kerapatan jenis-jenis pohon komersial ditebang pada areal tebangan (Soerianegara, 1996).

TPI/TPTI juga mensyaratkan diadakannya penanaman pengayaan pada areal hutan yang permudaannya kurang, pada areal bekas lahan sarad bekas tempat pengumpulan dan tanah-tanah terbuka lainnya. Pemilihan jenis pohon untuk penanaman pengayaan sesuai dengan kondisi daerah yang akan ditanami khususnya keadaan tanah dan cahaya sangat berperan dalam keberhasilan tanaman pengayaan yang dilakukan (Soerianegara, 1996).

(10)

Menurut pedoman TPTI maka harus tersedia minimal 400 batang/hektar untuk tingkat semai, 200 batang/hektar untuk tingkat pancang dan 75 batang/hektar untuk tingkat tiang dan 25 pohon /hektar jenis komersial dan sehat (Departemen Kehutanan, 1993).

Sistem TPTI memerlukan struktur tegakan pohon-pohon jenis niagawi yang berimbang, artinya jenis-jenis pohon yang bakal dipanen harus memiliki jumlah permudaan segala tingkatan yang memadai. Namun struktur demikian pada umumnya tidak dimiliki oleh jenis-jenis pohon stratum atasan, karena jenis-jenis itu hanya berkembang tumbuh di dalam rumpang dengan sinar matahari yang cukup. Untuk memperbaiki struktur harmonis dari tegakan jenis-jenis niagawi, diperlukan pengaturan ruang tumbuh untuk mendukung sejumlah terbatas dari permudaan agar segala tingkatan permudaan memiliki jumlah yang memadai (Sutisna, 2001).

E. Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Intensif Indonesia (TPTII)

Dalam mendorong tercapainya kondisi hutan yang mampu berfungsi secara optimal, produktif, serta dikelola dengan efektif dan efisien Departemen Kehutanan akan mengembangkan pembangunan Sistem Silvikultur Intensif atau Tebang Pilih Tanam Intensif Indonesia dalam pemanfaatan sumberdaya hutan. Silvikultur adalah cara-cara penyelenggaraan dan pemeliharaan hutan, serta penerapan praktik-praktik pengaturan komposisi dan pertumbuhan hutan. Dengan demikian sistem silvikultur merupakan cara utama untuk mewujudkan hutan dengan struktur dan komposisi yang dikehendaki, yang disesuaikan dengan lingkungan setempat. Sistem silvikultur intensif ini merupakan penyempurnaan dari sistem-sistem sebelumnya, yaitu Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) dan Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ).

Sistem TPTII adalah regime silvikultur hutan alam yang mengharuskan adanya tanaman pengkayaan pada areal pasca penebangan secara jalur, tanpa memperhatikan cukup atau tidaknya anakan yang tersedia dalam tegakan tinggal. Keunggulan dari Tebang Pilih dan Tanam Indonesia Intensif (TPTII) adalah (Departemen Kehutanan, 2004):

(11)

a. Kontrol pengelolaan baik oleh perusahaan sendiri, maupun pihak luar lebih efisien, mudah dan murah

b. Pada awal pembangunannya telah menggunakan bibit dengan jenis yang terpilih dan pada rotasi berikutnya telah menggunakan bibit dari hasil pemuliaan, sehingga produktivitasnya bisa meningkat 5 kali, kualitas produk lebih baik.

c. Target produksi lebih bisa fleksibel bergantung pada investasi tanaman (kayu, produk metabolisme sekunder).

d. Keanekaragaman hayati, kondisi lingkungan lebih baik. e. Kemampuan perusahaan meningkat.

F. Pemanenan Hasil Hutan

Pemanenan kayu merupakan salah satu kegiatan pengelolaan hutan, pada dasarnya merupakan serangkaian tahapan kegiatan yang dilaksanakan untuk mengubah pohon dari hutan dan memindahkannya ke tempat penggunaan/pengelolaan dengan melalui tahapan perencanaan pembukaan wilayah hutan (PWH), penebangan, penyaradan, pengangkutan dan pengujian sehingga bermanfaat bagi kehidupan ekonomi dan kebudayaan masyarakat berdasarkan prinsip kelestarian (Conway, 1976).

Pemanenan merupakan suatu kegiatan memanen kayu secara ekonomis untuk memasok industri dengan menjaga kelestarian hasil, kualitas lingkungan, dan keselamatan pekerja dan peralatan (Suparto, 1994). Sedangkan menurut Elias (1997), pemanenan adalah satu bagian yang dominan dalam manajemen hutan secara keseluruhan oleh karena itu feed back nya terhadap kesuksesan maupun kegagalan pengelolaan hutan yang lestari dalam jangka panjang sangatlah penting.

Reduced Impact Timber Harvesting (RITH) ialah suatu teknik pemanenan kayu yang direncanakan secara intensif, dalam pelaksanaan operasinya menggunakan teknik pelaksanaan dan peralatan yang tepat serta diawasi secara intensif untuk meminimalkan kerusakan terhadap tegakan tinggal dan tanah (Elias, 2002). Dan tujuan dari implementasi RITH adalah meminimalkan pengaruh negatif terhadap lingkungan (erosi, sedimentasi, dan

(12)

pengeruhan air sungai), meningkatkan efisiensi pemanenan (penekanan terhadap volume limbah pemanenan, biaya pemanenan dan peningkatan kualitas produksi kayu), menciptakan ruang tumbuh yang optimal dalam tegakan (memaksimalkan pertumbuhan dan hasil hutan non kayu), meningkatkan pendapatan, kesehatan dan keselamatan kerja pekerja dan masyarakat dan menciptakan prasyarat/kondisi pengelolaan hutan alam lestari (Elias, 2002).

Sistem pemanenan kayu jati dan rimba di Pulau Jawa menggunakan sistem manual, dengan menggunakan sub sistem penyaradan dengan sapi dan pemikulan oleh manusia. Sedangkan sistem pemanenan kayu di luar Jawa menggunakan sistem mekanis, dengan sub sistem penyaradan dengan traktor di tanah kering dan tanah rawa dengan sistem kuda-kuda (Elias, 1998).

Kegiatan pemanenan kayu yang intensif dapat berpengaruh serius terhadap struktur hutan dan persentase serta kerusakan terbesar terjadi pada pohon-pohon yang memungkinkan untuk ditebang (Whitmore, 1986).

Pemanenan kayu dengan sistem TPTI tidak menyebabkan perubahan stratifikasi tegakan, karena jumlah strata tegakan sebelum dan sesudah pemanenan kayu masih sama, yakni terdiri dari strata A, B dan C. Perubahan yang terjadi hanya pada tajuk terhadap lantai hutan yang berkisar 15-25 % (Elias, 1997).

Pemanenan kayu menyebabkan terjadinya perubahan komposisi dan struktur yang ditandai dengan bergesernya peringkat Indeks Nilai Penting (INP) masing-masing jenis dalam petak. Jumlah yang hilang akibat pemanenan kayu terkendali dan konvensional berkisar antara 1-6 jenis (Sularso, 1996).

Kegiatan penebangan dan penyaradan menyebabkan kerusakan tegakan tinggal yang berat. Penelitian lebih lanjut memperlihatkan bahwa kegiatan penyaradan menimbulkan kerusakan yang lebih berat daripada penebangan. Hal ini tergantung dari keterampilan pekerja, tegakan dan tajuk hutan, serta keadaan area pemanenan (Bureau of Forestry Philippines, 1970).

Menurut Elias (1994), kerusakan lingkungan yang dapat diakibatkan oleh pemanenan kayu antara lain: kerusakan tegakan tinggal, kerusakan tanah

(13)

sebagai tempat tumbuh pohon-pohon, erosi, menurunnya keragaman jenis (biodiversity) terjadinya limbah pemanenan kayu (logging waste) yang besar.

1. Penebangan

Penebangan adalah pengambilan kayu dari pohon-pohon dalam tegakan yang berdiameter sama dengan atau lebih besar dari batas diameter yang ditetapkan (Departemen Kehutanan, 1993).

Menurut Suparto (1979) dalam Budiaman (2003), penebangan merupakan langkah awal dari kegiatan pemanenan kayu, meliputi tindakan yang diperlukan untuk memotong kayu dari tunggaknya secara aman dan efisien.

Maksud kegiatan penebangan melaksanakan pemanfaatan kayu secara optimal dari blok tebangan yang sudah disahkan atas pohon-pohon yang berdiameter lebih besar dari batas diameter yang ditetapkan dan meminimalkan kerusakan terhadap tegakan tinggal (Departemen Kehutanan, 1993).

Kegiatan penebangan pohon meliputi pekerjaan penentuan arah rebah, pelaksanaan penebangan, pembagian batang, penyaradan, pengupasan dan pengangkutan kayu bulat dari Tempat Pengumpulan (TPn), ke Tempat Penimbunan Kayu (TPK) (Departemen Kehutanan, 1993). Tetapi pada dasarnya kegiatan penebangan pohon terdiri dari 3 kegiatan, yaitu: persiapan penebangan, penentuan arah rebah, pembuatan takik rebah dan balas (Budiaman, 2003).

Asas-asas penebangan pohon dalam sistem TPTI (Sutisna, 2001) adalah:

a. Menebang pohon besar yang telah mencapai ukuran siap panen untuk dijual agar perusahaan memperoleh keuntungan finansial, dan memberikan ruang tumbuhnya kepada permudaan yang menghasilkan riap kayu lebih besar daripada pohon-pohon tua.

b. Pemanfaatan potensi hutan per satuan luas seoptimal mungkin dengan meminimalkan limbah pembalakan.

(14)

c. Penebangan pohon dalam tegakan menggunakan arah rebah menuju pangkal jalan sarad agar kerusakan dan tegakan tinggal dapat diminimalkan.

d. Penomoran kayu bulat secara konsisten berdasarkan nomor pohon berdiri yang dibuat dan dipetakan dalam kegiatan ITSP.

Teknik penebangan yang benar menurut Sinaga, et.al. (1984) dalam Putra (2003) adalah:

1. Menyingkirkan rintangan, yaitu untuk memudahkan pekerjaan dan mencegah kecelakaan.

2. Menentukan arah rabah pohon. Penentuan arah rebah pohon yang cermat sangat penting untuk menghindari kerusakan kayu, antara lain menghindari rebahnya pohon di atas parit, batu, tunggak dan masuk jurang.

3. Membuat takik rebah dan takik balas. Untuk mengurangi kerusakan pangkal pohon yang ditebang berupa serat kayu tercabut (barber chair) juga untuk mengarahkan rebah pohon sesuai dengan arah rebah yang telah ditentukan terlebih dahulu.

4. Penebangan. Untuk pohon yang tidak berbanir, penebangan dilakukan serendah mungkin yaitu sepertiga diameter pohon dari atas tanah, sedangkan pada pohon berbanir penebangan dilakukan di atas banir.

5. Pembagian dan pemotongan batang. Pekerjaan ini mencakup perataan takik rebah dan takik balas, membagi atau memotong batang menurut panjang sortimen yang dikehendaki.

Wyatt-Smith (1963) menyatakan bahwa permudaan dianggap cukup apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Terdapat paling sedikit 40 % stocking permudaan semai jenis komersial aatau 400 petak ukur mili acre per acre (1000 petak ukur acre per hektar). b. Terdapat paling sedikit 60% stocking permudaan pancang jenis komersial

atau 96 petak ukur per acre (240 petak ukur per hektar).

c. Terdapat paling sedikit 75% stocking permudaan tingkat tiang jenis komersial atau 30 petak ukur per acre (75 petak ukur per hektar).

(15)

Penyaradan (skidding, yarding) adalah suatu kegiatan pengeluaran kayu dari tempat tebangan ke tempat pengumpulan kayu atau disebut TPn (Sastrodimedjo, 1992). Sedangkan Budiaman (2003) menjelaskan bahwa penyaradan kayu adalah kegiatan memindahkan kayu dari tempat tebangan ke tempat pengumpulan kayu atau ke pinggir jalan angkutan. Dan untuk mengurangi kerusakan lingkungan (tanah maupun tegakan) yang ditimbulkan, penyaradan seharusnya dilakukan sesuai dengan rute penyaradan yang telah direncanakan di atas peta kerja.

Menurut Budiaman (2003), metode penyaradan dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:

1. Secara manual. 2. Menggunakan hewan.

3. Memanfaatkan gaya gravitasi.

4. Skidding atau yarding (dengan traktor). 5. Menggunakan kabel, pesawat, helikopter.

Berbagai cara penyaradan yang tergantung pada beberapa faktor antara lain kerapatan tegakan dan ketebalan tumbuhan bawah (Conway, 1976). Menurut Brown (1949) faktor lain yang perlu dipertimbangkan yaitu sistem silvikultur yang digunakan, keadaan iklim serta jarak ke tempat pengumpulan kayu. Sementara itu Sumitro (1980) menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi penyaradan (terutama di luar Jawa), antara lain: alat dan cara penyaradan, keadaan medan (kelerengan, cuaca), serta keadaan tegakan sisa.

Hutan alam diluar Jawa dengan sistem TPTI, menyulitkan jalannya penyaradan. Jalan sarad yang panjang menurut kontur dan kerapatannya rendah, terang akan mengurangi kerusakan tegakan tinggal. Kerusakan tidak langsung berupa luka bekas traktor dan pemadatan pada lapisan atas tanah tergantung pada beratnya traktor. Sayangnya tanah hutan di luar Jawa umumnya peka sekali terhadap gangguan ini (Sumitro, 1980).

Pada pelaksanaannya, penyaradan dapat dilakukan dua tahap. Tahap pertama, yaitu menarik kayu dari tunggak di tempat tebangan ke suatu tempat pengumpulan sementara, yang pada umumnya terletak di dalam hutan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mempermudah tahap pekerjaan penyaradan

(16)

selanjutnya, yang dilaksanakan karena jarak sarad yang terlalu jauh sehingga bila dilakukan penyaradan secara langsung satu tahap saja, biayanya menjadi terlalu mahal (Sastrodimedjo, 1992).

Kebanyakan HPH beroperasi di daerah yang berbukit-bukit. Untuk mengeluarkan kayu dari tegakan hutan ke tempat pengumpulan, peralatan yang sering digunakan di hutan alam tropis di Indonesia ialah traktor berban ulat, seperti Cat D7 dan Komatsu D 85 E-SS. Traktor ini dapat bekerja pada kelerengan yang curam (Elias, 1997).

Menurut Elias (1999), ada beberapa kerusakan akibat penggunaan alat berat (seperti traktor), antara lain:

a. Pemadatan tanah.

Pemadatan tanah adalah proses dimana partikel-partikel tanah secara mekanik bergerak ke posisi yang lebih rapat satu sama lain. Pemadatan tanah diakibatkan oleh beban atau tekanan yang dialami tanah tersebut. Idris (1987) menyatakan bahwa pemadatan tanah hutan yang terjadi akibat penyaradan kayu dengan traktor berban baja ditunjukkan oleh besarnya kerapatan massa tanah hutan antara 0,703-1,960 g/cm3 dengan rata-rata 1,158 g/cm3. Porositas tanah pada kerapatan massa tanah tersebut adalah 56%. Pemadatan tanah ini merupakan fungsi dari intensitas penggunaan jalan sarad, kebecekan tanah hutan serta kemiringan memenjang jalan sarad.

b. Keterbukaan Tanah.

Keterbukaan tanah yang disebabkan penggunaan alat berat dalam pengelolaan hutan alam pada hanya terjadi pada kegiatan penyaradan dan pembukaan wilayah hutan (jaringan jalan angkutan).

c. Erosi Setempat.

Sistem pemanenan kayu dan PWH merupakan faktor dominan yang menyebabkan erosi setempat (terutama erosi parit). Menurut Arsyad (1989), erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah atau atau bagian-bagian dari tanah dari sutau tempat yang diangkut oleh air atau angin ketempat lain. Erosi menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah yang subur

(17)

dan baik untuk pertumbuhan tanaman serta berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air.

d. Kerusakan Pada Vegetasi Hutan.

Kerusakan vegetasi hutan akibat operasi alat berat kehutanan terutama terjadi pada kegiatan penyaradan. Kerusakan vegetasi hutan, pertama terjadi pada kesulitan perakaran pohon untuk menembus tanah yang terpadatkan akibat dilewati oleh alat berat, sehingga usaha mencari bahan makanan, air dan menunjang batang pohonnya sendiri sering terganggu. e. Gangguan Terhadap Satwa Liar.

Gangguan pengoperasian alat berat di hutan terhadap satwa liar terutam karena kebisingannya. Pada umumnya satwa liar akan menghilang pada waktu pengopersian alat berat, dan kembali lagi setelah operasi alat berat berhenti.

G. Kerusakan Tegakan Tinggal

Semua bentuk pemanenan kayu tanpa kecuali menimbulkan kerusakan pada lingkungan, baik itu lingkungan hutan itu sendiri maupun lingkungan sekitar hutan (Suparto,1994).

Kerusakan tegakan tinggal secara umum disebabkan oleh kegiatan penebangan dan penyaradan. Tingkat kerusakan dari keterbukaan lahan tegakan tinggal yang disebabkan oleh kegiatan penebangan dan penyaradan tergantung dari luasan intensitas pemanenan, terutama keterbukaan lahan yang disebabkan penebangan. Intensitas terbesar dari pemanenan menyebabkan luasnya keterbukaan lahan pada tegakan tinggal (Elias, 1997).

Kerusakan tegakan tinggal akibat pemanenan kayu dengan sistem TPTI adalah kerusakan yang terjadi pada bagian yang sebenarnya tidak termasuk dalam rencana untuk dipanen hasilnya pada waktu pemanenan kayu. Kerusakan-kerusakan tersebut dapat berupa pohon roboh atau pohon masih berdiri tetapi bagian batang, banir atau tajuk dan diperkirakan tidak dapat tumbuh lagi dengan normal dan keterbukaan areal/tanah akibat penebangan dan penyaradan (Elias, 1997).

(18)

Pohon inti dinyatakan rusak apabila mengalami salah satu atau lebih keadaan sebagai berikut: (Departemen Kehutanan, 1993)

a. Tajuk pohon rusak lebih dari 30% atau cabang pohon/dahan besar patah. b. Luka batang mencapai bagian kayu berukuran lebih dari 1/4 keliling

batang dengan panjang lebih dari 1,5 m. c. Perakaran terpotong atau 1/3 banirnya rusak.

Menurut Elias (1993) dalam Sularso (1996), berdasarkan populasi pohon dalam petak, kerusakan tegakan tinggal dapat dikelompokkan sebagai berikut: tingkat kerusakan ringan (<25%), tingkat kerusakan sedang (25-50%) dan tingkat kerusakan berat (>50%).

Beberapa tingkat kerusakan yang terjadi pada indivudu pohon yaitu: 1. Tingkat kerusakan berat

a. Patah batang. b. Pecah batang.

c. Roboh, tumbang atau miring sudut < 45o dengan permukaan tanah. d. Rusak tajuk (>50% rusak tajuk), juga didasarkan atas banyaknya

cabang pembentuk tajuk patah.

e. Luka batang/rusak kulit (>1/2 keliling pohon atau 300-600 cm kulit mengalami kerusakan).

f. Rusak banir/akar (>1/2 banir atau perakaran rusak/terpotong). 2. Tingkat kerusakan sedang

a. Rusak tajuk (30-50% tajuk rusak atau 1/6 bagian tajuk mengalami kerusakan).

b. Luka batang/rusak kulit (1/4-1/2 keliling pohon rusak atau 150-300 cm kulit rusak).

c. Rusak banir/akar (1/3-1/2 banir/akar rusak atau terpotong).

d. Condong atau miring (pohon miring membentuk sudut >45o dengan tanah).

3. Tingkat kerusakan ringan

(19)

b. Luka batang/rusak kulit (1/4-1/2 keliling dan panjang luka <1,5 m atau kerusakan sampai kambium dengan lebar lebih dari 5 cm, lebih kurang sepanjang garis sejajar sumbu longitudinal dari batang).

c. Rusak banir/akar (<1/4 banir rusak atau perakaran terpotong).

Menurut Elias (1993), tingkat kerusakan tegakan tinggal didasarkan pada populasi pohon dan tingkatan perkembangan vegetasi sebagai berikut:

Tabel 2. Tingkat Kerusakan Tegakan Tinggal Didasarkan pada Populasi Pohon dan

Tingkatan Perkembangan Vegetasi.

Tingkatan vegetasi PT. Narkata Rimba (%) PT. Kiani Lestari (%)

Semai 30.02 38.20

Pancang 27.17 43.40

Tiang 24.60 33.26

Pohon - 12.63

Berdasarkan pada ukuran luka (kerusakan) pada setiap individu pohon, tingkat kerusakan yang disebabkan pemanenan kayu sebagai berikut:

Tabel 3. Tingkat Kerusakan Didasarkan pada Ukuran Luka (Kerusakan)

pada Setiap Individu Pohon.

PT. Narkata Rimba (%) PT. Kiani Lestari (%)

Pohon luka berat 82.12 83.29

Pohon luka sedang 13.19 6.15

Pohon luka ringan 4.58 10.56

Hasil penelitian Muhdi (2001), memperlihatkan bahwa kerusakan terhadap tegakan tinggal pada berbagai tingkatan vegetasi akibat pemanenan kayu konvensional sebagai berikut: semai 34,42% (akibat penebangan 13,55% dan akibat penyaradan 20,87%), pancang 35,13% (penebangan 8,73% dan penyaradan 26,40%), pohon 33,15% (penebangan 8,90% dan penyaradan 24,25%). Sedangkan kerusakan terhadap tegakan tinggal pada berbagai tingkatan vegetasi akibat pemanenan kayu RITH sebagai berikut: 23,17% (akibat penebangan 6,36% dan penyaradan 16,80%), pancang 21,72% (penebangan 5,43% dan 16,29%), pohon 19,53% (penebangan 6,63% dan penyaradan 12,89).

Adapun hasil penelitian Sularso (1996), memperlihatkan bahwa persentase rata-rata kerusakan tegakan tinggal akibat penebangan kayu (terkendali dan konvensional) berdasarkan tipe kerusakan berturut-turut adalah tipe batang sebesar 35,91%, patah tajuk 25,16%, patah cabang/ranting 19,99%, roboh 11,01%, condong 6,29% dan terkelupas kulit/pecah banir

(20)

5,64%. Sedangkan akibat penyaradan kayu urutan tipe kerusakan adalah sebagai berikut: kerusakan roboh 50,80%, patah batang 19,57%, patah tajuk 10,26%, patah cabang/ranting 7,15%, terkelupas kulit/pecah banir 6,75% dan condong 5,47%.

Hasil percobaan minimalisasi kerusakan akibat pemanenan kayu menunjukkan bahwa penerapan cara pemanenan kayu berwawasan lingkungan dapat mengurangi kerusakan tegakan tinggal sampai 50% dan limbah pemanenan kayu 10-30%. Kenaikan biaya produksi/pemanenan kayu hanya 1,27% (Elias, 1997).

H. Perkembangan Hutan Bekas Tebangan

Suksesi ialah rangkaian perubahan kondisi pada komunitas tanaman bersamaan dengan perubahan habitatnya (Baker, 1950). Sedangkan Ewusie (1990) menyatakan bahwa suksesi merupakan hasil dari tumbuhan itu sendiri, dalam arti bahwa tumbuhan yang berada dalam daerah tersebut pada suatu waktu tertentu mengubah lingkungannnya, yang terdiri dari tanah, tumbuhan dan iklim mikro yang berada di atasnya, sedemikian rupa sehingga membuatnya lebih cocok untuk spesies yang lain daripada bagi tumbuhan itu sendiri.

Richards (1966) membedakan suksesi atas dua bagian berdasarkan awal terjadinya, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder. Suksesi primer merupakan perkembangan vegetasi mulai dari yang tidak bervegetasi hingga mencapai masyarakat yang stabil. Sedangkan suksesi sekunder terjadi apabila klimaks atau suksesi normal terganggu, seperti terjadinya kebakaran, perladangan dan pembalakan.

Soerianegara dan Indrawan (1988) mengemukakan bahwa selama proses suksesi berlangsung hingga tercapainya stabilitas atau keseimbangan dinamis dengan lingkungan, terjadi pergantian masyarakat tumbuhan hingga terbentuk masyarakat yang disebut vegetasi klimaks.

Whitmore (1986) berpendapat bahwa siklus pertumbuhan dalam rangka regenerasi pohon di hutan hujan tropika dapat di bedakan dalam tiga tahapan, yaitu fase celah, fase pengembangan, dan fase tua. Fase-fase ini tidak

(21)

dapat dianggap sebagai fase-fase terpidah satu sama lainnya, melainkan berhubungan melalui kesinambungan pertumbuhan. Fase celah berisi permudaan ukuran semai dan pancang, fase pengembangan berisi tingkat tiang atau pohon muda, sedangkan fase tua terdiri dari pohon-pohon besar dan tua.

Richards (1966) menyatakan menyatakan bahwa apabila pohon yang besar mati, pohon tersebut akan meninggalkan suatu celah (gap) atau opening (bukaan) di dalam stratum pohon tersebut. Pembentukan suatu celah (gap) menyebabkan perkembangan tumbuhan bawah yang cepat, karena dirangsang pertambahan penyinaran dan mungkin oleh berkurangnya persaingan akar setempat, jenis pohon muda yang intoleran yang terdapat di sekitar tumbuhan bawah itu akan lebih cepat tumbuh daripada jenis yang toleran.

I. Hubungan antara Tanah dengan Tegakan

Tanah adalah kumpulan bahan-bahan alami yang terdapat di permukaan bumi, tempat berpijak pohon-pohon, yang mempunyai ciri-ciri yang terjadi karena pengaruh iklim dan kehidupan pada bahan induk tergantung pula pada bentuk (relief) dan waktu (Loekito, D dan R. Hardjono, 1970). Dengan demikian faktor-faktor pembentuk tanah ialah iklim, organisme, relief, bahan induk dan waktu.

Sementara Buckman dan Brady (1989) menyatakan bahwa tanah merupakan suatu tubuh alam, disintesakan dalam bentuk penampang dari berbagai campuran hancuran mineral dan bahan organik, bila mengandung cukup air dan udara akan menjadi tunjungan mekanik dan makanan bagi tumbuhan. Lebih lanjut lagi Buckman menyatakan bahwa larutan tanah mengandung garam-garam yang larut dan sebagian besar merupakan hara esensial bagi tumbuhan. Antara bagian pada tanah dengan larutan tanah terjadi pertukaran hara dan selanjutnya antara larutan tanah dengan tanaman. Pertukaran ini hingga batas-batas tertentu ditentukan oleh jumlah di dalam tanah dan kadar garam dalam larutan tanah.

Tanah terdiri dari berbagai ukuran bahan mineral (seperti: pasir, debu dan liaat, yang dihasilkan oleh stratum geologis), bahan organik (dari

(22)

pembusukan tumbuh-tumbuhan dan binatang), air (dari presipitasi), udara (yang keluar dalam atmosfir) dan sejumlah besar jasad renik (Manan, 1976).

Faktor tanah mempunyai peran memenuhi berbagai kebutuhan hidup tanaman, yaitu: memberi dukungan mekanis dengan menjadi tempat berjangkarnya akar, menyediakan ruang untuk pertumbuhan dan perkembangan akar, menyediakan udara (oksigen) untuk respirasi, air, dan hara, serta menjadi media untuk memungkinkannya saling tindak dengan jasad lain (Purwowidodo, 2000). Sedangkan Baur (1968) menyatakan bahwa tanah sangat penting bagi tanaman untuk tumbuh dengan berbagai cara. Tanah menyediakan daya dukung fisik sebagai jangkar bagi akar yang dibutuhkan sebelum pohon tumbuh. Tanah juga menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman baik itu secara langsung ataupun tidak langsung. Kedua fungsi dari tanah tersebut sangatlah penting bagi pertumbuhan dan perkembangan hutan hujan tropika.

Kerusakan tanah dapat terjadi oleh beberapa hal antara lain: kehilangan unsur hara dan bahan organik dari daerah perakaran, terkumpulnya garam di daerah perakaran (salinasi), terkumpulnya unsur atau senyawa yang merupakan racun bagi tanaman, penjenuhan tanah oleh air (waterlogging), dan erosi. Kerusakan tanah oleh satu atau lebih proses tersebut menyebabkan berkurangnya kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tumbuhan atau menghasilkan barang atau jasa (Riquier, 1977 dalam Arsyad, 1989).

Oliver dan Larson (1983) menyatakan bahwa tempat tumbuh dapat berubah seperti juga halnya dengan perkembangan hutan. Perkembangan tegakan akan meningkatkan kelembaban yang memungkinkan akar untuk melakukan penetrasi dalam menyerap mineral tanah dan akan meningkatkan ruang pori untuk menyimpan kelembaban. Oksigen tanah dan nutrisi akan meningkat seperti juga dengan peningkatan ruangan pori. Nutrisi meningkat sehingga akar, mikroorganisme dapat mengambilnya dari bahan induk tanah dan mengedarkan ke tanah dan akhirnya ke pohon. Total nitrogen akan meningkat sejalan dengan perkembangan tegakan karena semakin banyak nitrogen yang diikat dari udara oleh tumbuhan.

(23)

Keberhasilan pertumbuhan suatu tanaman hutan di lapangan dikendalikan oleh faktor-faktor pertumbuhan, yang terdiri dari faktor genetis dan faktor-faktor lingkungan. Pengendalian faktor genetis dimunculkan oleh gen-gen kromosom yang mempengaruhi proses-proses fisiologis melalui pengendalian pada sistesis ensim-ensim yang berperan ganda pada aneka reaksi fisiologis. Sedangkan pengendalian faktor lingkungan dimunculkan oleh peran aneka keadaan di luar tubuh suatu tanaman yang mempengaruhi proses-proses fisiologis (Poerwowidodo, 2000).

Kegiatan tebang pilih dapat menyebabkan kelembaban tanah meningkat, intersepsi air hujan berkurang, evaporasi meningkat, lapisan permukaan lebih cepat kering daripada hutan alami tetapi lebih lambat daripada tebang habis, serta terjadinya peningkatan traspirasi (Baker, 1950).

J. Analisis Tanah 1. Sifat Fisik Tanah

Tekstur tanah adalah perbandingan relief dari berbagai golongan besar partikel tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara fraksi-fraksi kiat, debu, dan pasir (Sarief, 1985). Sedangkan menurut Poerwowidodo (2004) tekstur tanah adalah perbandingan nisbi aneka kelompok ukuran jarah/pisahan tanah yang menyusun massa tanah suatu bagian tubuh tanah.

Kadar liat merupakan kriteria penting sebab liat mempunyai kemampuan menahan air yang tinggi. Tanah yang mengandung liat dalam jumlah yang tinggi dapat tersuspensi oleh butir-butir hujan yang jatuh menimpanya, dan pori-pori lapisan permukaan akan tersumbat oleh butir-butir liat semakin tinggi nisbah liat maka laju infiltrasi semakin kecil (Arsyad, 2000).

Tanah-tanah yang bertekstur liat mempunyai luas permukaan yang besar sehingga kemampuan menahan air dan menyimpan unsur hara tinggi. Tanaman yang ditanam pada tanah pasir umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau liat (Hardjowigeno, 2003).

(24)

Struktur tanah adalah istilah untuk menunjuk pada fenomena penyusun jarah-jarah primer tanah untuk membentuk paduan jarah tanah (jarah-jarah sekunder tanah) (Poerwiwidodo, 2004). Sedangkan menurut Hardjowigeno (2003) struktur tanah merupakan gumpalan-gumpalan kecil alami dari tanah, akibat melekatnya butir-butir primer tanah satu sama lain. Sarief (1985) menyatakan bahwa struktur tanah memegang peranan penting terhadap pertumbuhan tanaman, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bila tanah padat, maka akar akan susah untuk menembus tanah tersebut. Bila srtuktur tanah remah, maka akar akan tumbuh dengan baik.

Bobot isi tanah (Bulk Density) menunjukkan berat tanah kering persatuan volume tanah (termasuk pori-pori tanah). Bulk density biasanya dinytakan dalam g/cc (Hardjowigeno, 2003). Poerwowidodo (2000) menyatakan tanah-tanah yang mengandung lempung banyak cenderung mempunyai bobot isi tinggi. Bobot isi tanah merupakan petunjuk tidak langsung atas kepadatan tanah.

2. Sifat Kimia Tanah

Sifat kimia tanah berperan besar dalam menentukan sifat dan ciri tanah umumnya dan kesuburan tanah pada khususnya. Sifat-sifat yang perlu dianalisi untuk mengetahui kadar unsur hara dalam tanah adalah pH, C-organik, N-total, P2O5, K2O, KTK dan KB. Evaluasi kesuburan tanah dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Penilaian Sifat Kimia Tanah (Staf Pusat Penelitian Tanah, 1983)

Sifat Tanah Rendah Sedang Tinggi

BO (%) < 0.346 3.46 - 5.19 > 5.19 C (%) 1.00 - 2.00 2.01 - 3.00 3.01 - 5.00 N (%) 0.10 -0.20 0.21 - 0.50 0.51 - 0.75 C/N 5 - 10 11 - 15 16 - 25 P2O5 HCl (mg/100 g) 10 - 20 21 - 40 41 - 60 K2O HCl (mg/100g) 10 - 20 21 - 40 41 - 60 KTK (cmol (+)/Kg) 5 - 16 17 - 24 25 - 40 KB (%) 20-35 36 - 50 51 - 70

(25)

<4.5 4.5-5.5 5.6-6.5 6.6-7.5 7.6-8.5 >8.5

Bahan organik tanah adalah bahan tanah yang mengandung C-organik lebih tinggi daripada ketentuan yang berlaku pada tanah mineral. Bahan organik umumnya ditemukan di permukaan tanah. Jumlahnya tidak besar, hanya 3-5 % saja tetapi pengaruhnya terhadap sifat-sifat tanah sangat besar. Komponen bahan organik yang penting adalah kadar C dan N. Kandungan organik pada masing-masing horison merupakan petunjuk besarnya akumulasi bahan organik dalam keadaan lingkungan yang berbeda (Hardjowigeno, 2003).

Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah didefinisikan sebagai kapasitas tanah untuk menjerap dan mempertukarkan kation. KTK biasanya dinyatakan dalam miliekuivalen per 100 gram (Tan, 1991). Kapasitas Tukar Kation penting untuk kesuburan tanah maupun untuk genesis tanah. Tanah dengan KTK tinggi mampu menjerap dan menyediakan unsur hara lebih baik daripada tanah dengan KTK rendah. Tanah dengan KTK tinggi bila didominasi oleh kation basa, Ca, Mg, K, Na (kejenuhan basa tinggi) dapat meningkatkan kesuburan tanah, tetapi bila didominasi oleh kation asam Al, H (kejenuhan rendah) dapat mengurangi kesuburan tanah (Hardjowigeno, 2003). Nilai KTK tanah sangat beragam dan tergantung pada sifat dan ciri tanah itu sendiri. Besar kecilnya KTK tanah dipengaruhi oleh reaksi tanah, tekstur tanah, jumlah mineral liat, bahan organik, pengapuran serta pemupukan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991).

Kejenuhan basa adalah perbandingan dari jumlah kation basa yang ditukarkan dengan kapasitas tukar kation yang dinyatakan dalam persen. Kejenuhan basa rendah berarti kemasaman tinggi dan kejenuhan bisa mendekati 100% tanah bersifat alkalis (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991). Kejenuhan basa sering dianggap sebagai petunjuk tingkat kesuburan tanah. Kemudahan pelepasan kation terjerap untuk tanaman tergantung pada tingkat kejenuhan basa. Suatu tanah dianggap sangat subur jika kejenuhan basanya ≥ 80%, berkesuburan sedang jika kejenuhan basanya antara 50-80%, dan tidak subur jika kejenuhan basanya

(26)

≤ 50% (Tan, 1991). Kejenuhan basa berhubungan erat dengan pH tanah, dimana tanah dengan pH rendah umumnya mempunyai kejenuhan basa endah, sedangkan tanah-tanah dengan pH tinggi mempunyai kejenuhan basa yang tinggi pula (Hadjowigeno, 2003).

Unsur-unsur hara esensial adalah unsur hara yang sangat diperlukan oleh tanaman, dan fungsinya tidak dapat digantikan oleh unsur lain, sehingga bila tidak terdapat alam jumlah yang cukup di dalam tanah, tanaman tidak dapat tumbuh dengan normal (Hardjowigeno, 2003). Unsur-unsur hara esensial tersebut diantaranya adalah :

Unsur Hara Makro : C, H, O, N, S, P,K Ca, Mg Unsur Hara Mikro : Mn, Fe, B, Zn, Cu, Mo, Cl

Gambar

Tabel 4. Penilaian Sifat Kimia Tanah (Staf Pusat Penelitian Tanah, 1983)

Referensi

Dokumen terkait

Rumusan masalah tugas akhir ini adalah Dyandra Promosindo sebagai event organizer melakukan proses, persiapan, pelaksanaan dan evaluasi dalam dalam pelaksanaan Jogja Tour

Dalam penelitian ini korelasi pearson digunakan untuk mengetahui hubungan antara aspek kinerja dosen dalam mengajar berdasarkan hasil wawancara persepsi mahasiswa dengan aspek

I REQUEST YOU TO APPRECIATE ME, SO THAT I CAN CHANGE MY DREAMS INTO REALITY REGARDING THE SERVICE OF HUMANITY THROUGH BLESSINGS OF OUR SAINTS AND THROUGH THE GRACE

Penggalian tentang pemanfaatan bahan herbal yang sudah diketahui khasiat dan nilai terapinya dengan cara melakukan kombinasi dua macam bagian tanaman herbal dimana

LONGITUDINAL CLINICAL EVALUATION OF RESIN COMPOSITE RESTORATION AFTER SELECTIVE CARIES REMOVAL USING AN Er:YAG LASER View project Michelle A Chinelatti. University of

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian kulit daging buah kopi fermentasi MOL sebagai ransum dalam bentuk pelet terhadap kelinci peranakan rex jantan lepas

kita harus menebak dan coba-coba dua bilangan yang apabila dijumlahkan akan. menghasilkan nilai koefesien b dan apabila dikalikan akan menghasilkan

Menurut hasil Observasi dikelas 3 SD Islam Wahid Hasyim ini kurangnya perhatian siswa disebabkan oleh faktor.Siswa jarang diberi kesempatan menyampaikan pendapatnya