DEKONSTRUKSI MAKNA TEKS PROTOKOL KESEHATAN COVID-19 PADA KAMPANYE LAGU ”INGAT PESAN IBU” DI MEDIA YOUTUBE
(ANALISIS HERMENEUTIKA RADIKAL DERRIDA)
A.Yudo Triartanto 1) , Adhi Dharma Suriyanto 2) , Tuti Mutiah 3)
Universitas Bina Sarana Informatika
INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK
URL : http://e-jurnalmitrapendidikan.com
© 2021 Kresna BIP. e-ISSN 2550-0481
p-ISSN 2614-7254
Jurnal Mitra Pendidikan (JMP Online)
Dik irim : 14 Januari 2021 Revisi pertama : 21 Januari 2021 Diterima : 23 Januari 2021 Tersedia online : 26 Februari 2021
Wabah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia melalui Gugus Tugas dan Satuan Tugas telah menciptak an sejumlah rangk aian tek s yang terdiri dari 3M (Memak ai Mask er, Mencuci Tangan Pak ai Sabun, Menjaga Jarak dan Menghindari Kerumunan, New Normal, PSBB (Pembatasan Sosial Bersk ala Besar), Zona Merah/Oranye/Kuning/Hijau, dan Karantina Mandiri. Salah satu rangk aian tek s yaitu 3M menjadi fok us penelitian, k etika tek s terse b u t dihimpun menjadi sebuah lagu dengan durasi yang pendek berjudul Ingat Pesan Ibu diciptak an oleh grup band Padi Reborn. Merujuk dari tek s lagu tersebut, mak a penelitian ini menggunak an k onsep Dek onstruksi yang digagas Jaques Derrida. Titik pusat analisis penelitian mengerucut pada kata “Ibu” sebagai bagian dari tek s lagu tersebut. Dalam proses dek onstruk si kata “Ibu” pada akhirnya menimbulkan interpretasi-interpretasi yang cenderung tidak berk esudahan. Kata Kunci: Kampanye, Mak na Tek s,
Media Digital, Covid-19, Dek onstruk si
PENDAHULUAN Latar Belakang
Sejak memasuki awal Maret 2020 wabah pandemi Coronavirus Disease
2019 (Covid-19) telah melanda Indonesia. Sejalan dengan itu, diketahui dua warga
Indonesia telah terdeteksi terpapar Covid-19 di Depok, Jawa Barat. Tentu penyebaran virus Corona yang mematikan ini, tanpa diduga dan diprediksi sebelumnya, semakin hari kian meluas penularannya ke wilayah kota-kota lainnya, termasuk DKI (Daerah Khusus Ibukota) Jakarta. Bersamaan itu pula, telah tercatat jumlah orang terpapar Covid-19 semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat melalui data valid pemberitaan di media (media cetak, media elektronik, dan media digital).
Dampak meluasnya penyebaran virus jenis baru atau Sars-Cov-2, telah memicu peningkatan jumlah orang yang terpapar dan dinyatakan positif mengidap Covid-19 di suatu wilayah tertentu. Demi mewaspadai penyebaran dan penularan wabah pandemi virus yang semakin meluas dan mengkhawatirkan, maka pemerintah perlu menentukan dan membuat kebijakan baru dan tata aturan baru yaitu, Protokol Kesehatan (Prokes), yang disosialisasikan atau didesiminasikan kepada masyarakat yang terkait dengan penanganan dan pencegahan penyebaran Covid-19. Prokes dan tata aturan yang dimaksud meliputi; (1) Pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar); (2) Penerapan 3M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, menjaga jarak fisik dan sosial), (3) Pemberian status suatu wilayah atau zona dengan simbol warna (merah, oranye, kuning, hijau); (4) Pemahaman mengenai kondisi New Normal di tengah wabah pandemi Covid-19; serta (5) Penerapan karantina mandiri.
Mengingat bahaya wabah pandemi Covid-19 yang berdampak terhadap kematian, dalam perkembangan selanjutya, pemerintah akhirnya membentuk suatu lembaga bernama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, yang khusus menangani dan mengkoordinasikan kepada unit-unit terkait dalam penerapan Prokes di masyarakat. Awalnya, Gugus Tugas Percepatan Penanganan
Coronavirus Disease 2019 merupakan gugus tugas yang dibentuk pemerintah
Indonesia. Tujuannya untuk mengkoordinasikan kegiatan antar lembaga dalam upaya mencegah dan menanggulangi wabah pandemi Covid-19 sebagai virus baru di Indonesia. Gugus Tugas dibentuk pada 13 Maret 2020 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan
Coronavirus Disease 2019, dan berada di bawah serta bertanggung jawab
langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Gugus Tugas ini berada dalam lingkup BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dengan melibatkan kementerian, lembaga, dan unit pemerintahan lain; Kementerian Kesehatan, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, dan pemerintah di daerah.
Gugus Tugas ini dibentuk tidak hanya di tingkat nasional, pun di tingkat provinsi, kabupaten, serta kota. Kepala BNPB, Doni Monardo, ditunjuk sebagai ketua pelaksana. Sementara, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, ditunjuk sebagai kepala dewan pengarah. Namun kemudian, lembaga Gugus Tugas ini dibubarkan pada 20 Juli 2020 berdasarkan Perpres Nomor 82 Tahun 2020. Tugas lembaga ini kemudian
dipindahkan dan diganti menjadi Satuan Tugas Penanganan Covid-19 pada Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Mengacu dari tugas yang diemban Satuan Tugas tentu mengarah pada penanganan problem dilematis yang terjadi di tengah masyarakat, yakni masalah kesehatan dan ekonomi.
Sejak terbentuknya lembaga yang khusus menangani penanggulangan dan pencegahan penyebaran Covid-19 - baik itu masih bernama Gugus Tugas maupun berganti menjadi Satuan Tugas - berbagai upaya penyampaian komunikasi dan informasi pun dilakukan sebagai upaya tindakan preventif kepada masyarakat melalui media cetak (koran/majalah), media elektronik (radio, televisi, video), serta media digital (institusi web media dan media sosial). Bahkan, Satuan Tugas pun telah memiliki website khusus di https://covid19.go.id/
Pola atau bentuk komunikasi dan informasi mengenai Protokol Kesehatan dari Satuan Tugas kepada masyarakat telah disampaikan dalam beragam format, antara lain, penerangan melalui media massa, siaran pers, kampanye lewat lagu, dan lainnya. Diseminasi pesan atau teks yang dikomunikasikan dari Satuan Tugas ke berbagai media konvensional dan media digital sebagai media arus utama (mainstream) sedapatnya menjangkau masyarakat secara meluas dan nasional.
Mengacu dari beragam teks yang diwacanakan oleh pemerintah melalui Satuan Tugas, tentu menjadi menarik untuk dicermati dan dianalisis dalam kaitannya dengan persepsi dan pemahaman mengenai PSBB, New Normal, 3M, Status Zona dengan simbol warna, hingga Karantina Mandiri. Dari rangkaian teks yang saling berhubungan dan berkelindan tersebut, konsekuensi logisnya adalah dalam proses analisisnya tak mungkin menegasikan rangkaian teks yang saling berhubungan tersebut sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Artinya, dampak dari wabah pandemi Covid-19 telah memunculkan beragam teks yang telah diwacanakan oleh pemerintah dan Satuan Tugas sebagai upaya pencegahan penyebaran virus (PSBB, New Normal, 3M, Status Zona Merah / Oranye / Kuning / Merah, OTG (Orang Tanpa Gejala), Karantina Mandiri). Meski demikian, fokus penelitian mengerucut pada makna teks 3M, yang dikampanyekan melalui format lagu berupa videoclip dan jingle.
Selanjutnya, bentuk kerja sama antara Satuan Tugas dengan institusi media cetak, elektronik, dan digital berformat berita dan informasi melalui penyampain pesan teksnya, yaitu, berbentuk himbauan atau penerangan yang berisi mengenai pemberlakuan PSBB di suatu wilayah, pengkondisian situasi New Normal, penerapan 3M, pemberlakuan status zona dengan simbol warna (merah, oranye, kuning, dan hijau) terhadap suatu wilayah, serta himbauan kepada setiap orang yang diduga rentan terpapar virus agar melakukan Karantina Mandiri.
Penyampain pola komunikasi melalui media bisa disajikan dalam format berita, caption (deskripsi singkat), tabulasi, serta lagu. Khusus untuk pesan teks 3M telah disinergikan dengan pesan kampanye melalui sebuah lagu – hasil karya cipta grup musik Padi Reborn yang bekerja sama dengan Satuan Tugas - berupa
videoclip untuk dikomunikasikan melalui media audio-visual dan jingle
disampaikan lewat media audio (radio).
Detailnya, videoclip atau jingle berdurasi 30 detik berjudul Ingat Pesan Ibu yang telah diluncurkan pada 1 Oktober 2020 ini, merupakan ajakan positif dari grup musik Padi Reborn untuk bersama-sama mentaati Protokol Kesehatan demi
menekan angka penyebaran virus Corona atau Covid-19, yang dikampanyekan melalui media televisi, media siaran radio, dan media digital (YouTube). Penyampaian pesan lagu melalui media-massa diharapkan dapat menjangkau khalayak yang lebih luas dan dapat dipahami sepenuhnya oleh masyarakat. Untuk itu, penayangan dan pemutaran jingle atau videoclip lagu Ingat Pesan Ibu disiarkan secara repititif pada waktu tertentu. Sedang untuk media digital (Youtube) dapat dengan mudah diakses pada waktu dan tempat di setiap kesempatan kapan dan di mana saja oleh para penggunanya (user).
Umumnya, pesan kampanye yang disampaikan lewat sebuah lagu, memang sudah banyak dilakukan oleh sejumlah musisi. Baik itu sebagai pesan kemanusiaan, kebudayaan, kemasyarakatan, kepedulian sosial, maupun pesan komersial produk. Ambil contoh saja dalam skala internasional. Pada tahun 1984, seorang musikus bernama Bob Geldof pernah menciptakan lagu berjudul Do They
Know It’s Christmas? Lagu ini bertujuan untuk penggalangan dana bagi
penanggulangan korban kelaparan di Ethiopia, Afrika Timur. Sedangkan di Indonesia, hal serupa juga pernah diupayakan oleh James F.Sundah bersama musisi ternama lainnya, meluncurkan sebuah album berjudul Suara Persaudaraan yang berisi lagu-lagu bertema kemanusiaan demi membantu para kaum papa di Indonesia.
Maka itu pula, berbagai penelitian mengenai lagu jingle sebagai alat kampanye dalam menyampaikan pesan teks kepada khalayak juga telah banyak dilakukan. Baik itu berupa artikel opini koran, jurnal, skripsi, maupun thesis. Beberapa penelitian yang dapat diajukan di sini, antara lain, jurnal berjudul Peran
Lirik Jingle Iklan Partai Politik Dalam Pembentukan Identitas (Studi Deskriptif
Kualitatif tentang Peran Lirik Jingle Iklan TVC Partai Nasdem Versi Indonesia Baru Dalam Pembentukan Identitas Partai Nasdem di Kalangan Mahasiswa Komunikasi FISIP UAJY ) 0leh Josua dan F. Anita Herawati, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta dan karya skripsi berjudul Analysis of Effect of Endorser and
Advertisement Jingle to The Memory Consumer “Vaseline Men” Product ( A Case
Study Tawangsari District of The Regencies of Sukaharjo) oleh Moech. Nasir, Fakulatas Ekonomi Universitas Muhammadiyah, Surakarta.
Penyampaian pesan atau teks lewat sebuah lagu memang dianggap efektif dalam memengaruhi persepsi publik. Lazimnya, pesan kanpanye lewat lagu atau
jingle, kerap dilakukan oleh sejumlah perusahaan untuk mempromosikan
produknya, yang dirancang dan dikreasikan oleh musisi dalam bentuk teks dan melodi untuk menjadi sebuah lagu atau jingle. Biasanya bentuk kolaborasi bisnis ini merupakan hasil kerjasama antara musisi, biro iklan, media-massa, dan instansi terkait (klien/client).
Untuk lebih jelasnya, teks tentang kampanye Prokes Covid-19 sebagai lagu pendek – yang lebih dikenal dengan singkatan 3M - dapat dijabarkan sebagai berikut: (1) Memakai masker secara benar; (2) Mencuci tangan memakai sabun dengan air mengalir; (3) Menjaga jarak dan menghindari kerumuman. Merujuk dari teks 3M ini, grup musik Padi Reborn mencoba menciptakan melodi dan mengkreasikan teks Protokol Kesehatan ke dalam sebuah lagu (jingle) berjudul
Ingat Pesan Ibu. Adapun barisan liriknya sebagai berikut: Ingat pesan Ibu / Pakai maskermu / Cuci tangan pakai sabun / Jangan sampai tertular / Ingat selalu pesan
Ibu / Jaga jarakmu / Hindari kerumunan / Jaga keluargamu
Maksud dari teks lirik jingle lagu tersebut adalah, suatu ajakan positif untuk memutus mata rantai penularan atau penyebaran virus Covid-19 dari manusia ke manusia di sejumlah wilayah di Indonesia. Sebab menurut WHO (World Health Organization), virus Corona dapat terjadi penularan melalui: (1)
Udara: partikel kecil yang melayang di udara; (2) Droplet: saat seseorang
berbicara, bersin, batuk, bernafas, dan bernyanyi, pada realitanya udara yang keluar dari hidung dan mulut mengeluarkan partikel kecil atau aerosol dalam jarak dekat; (3) Permukaan Terkontaminasi: saat seseorang menyentuh permukaan yang mungkin telah terkontaminasi virus dari orang lain yang batuk atau bersin.
Pada dasarnya, penularan virus bisa terjadi dari manusia ke manusia melalui sentuhan fisik ketika virus yang tak kasat mata melekat di bagian tubuh atau benda tertentu sehingga mampu menularkan, dan tanpa disadari virus tersebut telah menempel di jemari atau telapak tangan yang akhirnya dapat mengantarkan virus masuk ke mulut, hidung, atau mata.
Berpijak dari rangkaian teks yang telah disinggung di atas, penulis perlu membatasi tentang kajian dan analisis terhadap makna teksnya. Meskipun realitanya, di dalam pemahaman dan persepsi masyarakat terhadap penerapan Prokes, kerap dijumpai dan ditemukan tidak sesuai yang diharapkan. Artinya, himbauan pemerintah melalui unit Satuan Tugas sebagai penanggung jawab penanganan Protokol Kesehatan Covid-19 bagi keamanan dan kesehatan bersama, faktanya belum sepenuhnya disadari dan dipatuhi oleh sebagian masyarakat. Indikasinya bisa terlihat dari makin terus meningkatnya jumlah orang yang terpapar Covid-19 akibat tidak memakai masker atau tidak menggunakan masker secara benar, tidak mencuci tangan ketika telapak tangan telah menyentuh benda tertentu, tidak menjaga jarak fisik dan sosial, bahkan justru nekat membentuk kerumunan. Padahal tujuan penerapan Prokes secara konotatifnya, yaitu, (1) Memakai masker adalah perlindungan diri sendiri dan orng lain; (2) Mencuci tangan memakai sabun dengan air mengalir adalah upaya membasmi atau melenyapkan virus yang melekat di bagian telapak dan punggung tangan; (3) Menjaga jarak dan menghindari kerumuman guna memutus mata rantai penyebaran virus dari orang ke orang.
Dalam konteks tersebut, bisa saja setiap orang dapat dinyatakan sebagai ODP (Orang Dalam Pemantauan), PDP (Pasien Dalam Pemantauan), maupun OTG (Orang Tanpa Gejala). Virus Corona yang tak kasat mata memiliki tingkat probalitas penularan dan keterpaparan yang tinggi kepada setiap orang yang tidak patuh dalam penerapan Protokol Kesehatan. Pada dasarnya, penularan virus dapat terjadi kepada siapa saja dan di mana saja, tanpa mengenal status jabatan, kaya atau miskin, agama, suku, etnis, wilayah, dan sebagainya. Semua rentan tertular atau dapat terpapar Covid-19.
Seperti telah disinggung di awal, problem dilematis antara kepentingan ekonomi dan kesehatan yang membawa beban tersendiri bagi masyarakat, akhirnya pemerintah memberikan solusi berupa paket stimulus ekonomi yang bertujuan agar problem ekonomi yang dialami sebagian masyarakat dapat teratasi. Sedangkan untuk penanganan kesehatan, pemerintah pun secara maksimal menyampaikan pesan komunikasi mengenai Protokol Kesehatan berupa himbauan
dan penerangan melalui berbagai media; media cetak, media elektronik, dan media digital. Di samping itu, pemerintah memberlakukan penerapan Prokes berupa PSBB dan status zona warna terhadap wilayah yang terdeteksi terpapar atau aman dari penyebaran virus. Bahkan, pemerintah dan instansi terkait juga memfasilitasi ketersedian masker, tempat mencuci tangan, sejumlah ruangan untuk pasien, rumah sakit, tenaga medis atau tenaga kesehatan, serta alat detektor kesehatan bagi masyarakat yang diduga atau telah terpapar Covid-19, serta menginstruksikan setiap pusat perbelanjaan, moda transportasi, dan fasilitas umum di ruang publik agar secara ketat menerapkan Prokes.
Terlepas dari perkara problem dilematisnya, ketidakpatuhan dan ketidakdisiplinan masyarakat dalam memaknai teks terkait dengan Covid-19, yang telah ditetapkan dan diberlakukan pemerintah melalui Satuan Tugas, akhirnya mendorong penulis untuk mencermati dan menganalisis mengenai fenomena wabah pandemi Covid-19 pada konteks makna teks Protokol Kesehatan berupa lagu yang dilantunkan oleh grup band Padi Reborn.
Terkait dengan pesan teksnya, dalam penelitian ini, penulis membatasi hanya pada makna teks kampanye lagu Ingat Pesan Ibu yang terdapat di media digital Youtube. Namun, tentang teks lain yang muncul dan melekat pada makna teks Protokol Kesehatan, tetap tidak bisa diabaikan sebagai entitas yang berkelindan dalam penerapannya. Alasan penulis memilih platform media digital Youtube sebagai fokus utama analisis adalah, karena adanya indikasi pergeseran penggunaan media konvensional ke media baru (media digital) dalam memperoleh informasi dan hiburan. Di samping itu, adanya kecenderungan ketidakpatuhan dan ketidakdiplinan di kalangan masyarakat dalam menerapkan Protokol Kesehatan, pun menjadi analisis utama ketika teks telah dimaknai secara berbeda oleh masyarakat. Maka itu, penggunaan teori Dekonstruksi (Hermeneutika Radikal) yang digagas Jaques Derrida cukup relevan dan signifikan untuk membongkar makna teks yang kemudian dipahami masyarakat secara berbeda, ketika terjadi ketidakpatuhan dan ketidakdisiplinan dalam menerapkan Protokol Kesehatan. Itu artinya, teks memiliki makna yang tidak berkesudahan, tidak dapat diputuskan, dan tidak terhingga. Seperti ditulis Hardiman (2018: 214), sebuah teks dapat diinterpretasi sampai tidak terhingga. Itulah sebabnya dekonstruksi dapat disebut hermeneutika radikal
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana dekonstruksi makna teks protokol kesehatan covid-19 pada kampanye lagu Ingat Pesan Ibu di media youtube?”
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap dan mendekonstruksi makna teks protokol kesehatan Covid-19 pada lagu Ingat Pesan Ibu di media YouTube.
KAJIAN PUSTAKA
Penelitian yang terkait dengan dekonstruksi, makna teks, dan kampanye lewat lagu yang terkait dengan Protokol Kesehatan Covid-19, sejauh ini belum dilakukan penelitiannya. Baik melalui artikel, jurnal, skripsi, maupun thesis. Namun, penggunaan metode dekonstruksi dalam bidang kajian sastra sudah dilakukan dalamjurnal berjudul Analisis Dekonstruksi Tokoh Takeshi dan
Mitsusaburo DalamNovel Silent Cry Karya Kenzaburo Oe Perspektif Jaques Derrida
Oleh Abd. Ghofur (Dosen Bahasa Inggris STAIN Pamekasan),
Dekonstruksi Jaques Derrida Sebagai Strategi Pembacaan Teks Sastra karya
Marcelus Ungkang (Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 1, No.1, Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Dekonstruksi Sikap Hidup Tokoh Masyarakat Madura Dalam Cerpen Tandak Karya Royyan Julian oleh Ardi Wina Saputra (Jurnal Wacana Vol.1, No.1, Oktober 2016, Pasca sarjana Universitas Negeri Malang). Dari uraian literatur yang dipaparkan, penelitian yang terkait dengan dekonstruksi makna teks Protokol Kesehatan pada lagu Ingat Pesan
Ibu di media Youtube,belum pernah dilakukan penelitiannya. Untuk itu, penulis
bermaksud dan bertujuan mencoba melakukan penelitian, pengkajian, dan analisisnya.
METODE PENELITIAN
Fokus penelitian ini memanfaatkan metode analisis tekstual yang dikombinasikan dengan konsep Dekonstruksi yang digagas oleh Jaques Derrida melalui metodologi kualitatif dan pendekatan paradigma kritis.
Metodologi penelirian menggunakan penelitian kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2006: 4-5), metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Sedangkan pendapat Denzin dan Lincoln (1987), penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud manafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada.
Untuk menemukan makna teks, konsep dekonstruksi dikombinasikan dengan analisis tekstual yang bertujuan untuk mengungkap makna subyektif dari teks. Menurut Alan McKee (2003) dalam Ida (2014: 64-65), menjelaskan bahwa analisis tekstual adalah sebuah metodologi: a way of gathering and analyzing
information in academic research. Dengan kata lain, bahwa analisis tekstual
adalah suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan dan menganalisis informasi dalam riset akademik. Lebih lanjut McKee menjelaskan bahwa analisis tekstual adalah interpretasi-interpretasi yang dihasilkan dari teks. Interpretasi-interpretasi ini adalah proses ketika kita melakukan encoding sekaligus decoding terhadap tanda-tanda di dalam kesatuan sebuah teks yang dihasilkan.
Sedangkan dekonstruksi adalah sebentuk interpretasi teks, tetapi interpretasi itu tidak sama dengan yang kita mengerti. Bahkan, menurut Derrida, dekonstruksi bukan metode. Seperti dikatakan McQuillan dalam Hardiman (2018: 278), dalam dekonstruksi tak ada perangkat aturan, tak ada kriteria, tak ada
prosedur, tak ada program, tak ada urutan langkah-langkah, tak ada teori untuk diikuti dalam dekonstruksi. Untuk itu, penulis mengkombinasikan dekonstruksi Derrida dengan analisis tekstual.
Meski demikian, menurut Hardiman (2018: 382), dekonstruksi adalah sebuah interpretasi teks yang dilakukan secara radikal, dan kita dapat menyebutnya “hermeneutika radikal”. Sementara di dalam semua tulisannya, Derrida tidak pernah sekalipun mendefinisikan tentang metode dekonstruksi. Namun merujuk dari pendapat Hardiman (2018: 278), dekonstruksi dapat dimaknai sebagai suatu langkah, peristiwa, dan cara membaca teks. Termasuk teks yang terdapat di platform media digital YouTube.
Paradigma Penelitian
Pendekatan paradigma kritikal atau kritis bertujuan untuk membuka, memindahkan atau membuang keyakinan-keyakinan dan ide-ide keliru itu antara lain keyakinan akan adanya dunia yang obyektif, kebenaran umum, segala sesuatu yang dapat diukur dan juga anggapan bahwa semua mahluk hidup termasuk manusia memiliki kedudukan sama dalam dunia, mendapat pengaruh yang sama, dan dapat dicari keseragamannya (Poerwandari, 2001: 13-14).
Penggunaan pendekatan paradigma kritikal berkaitan dengan tujuan penelitian, yaitu, mencoba mengungkapkan, mengapa sejumlah teks, khususnya teks 3M, tidak dipatuhi dan dimaknai secara berbeda oleh masyarakat? Mengapa teks lagu Ingat Pesan Ibu kurang membawa dampak postif bagi penanggulangan Covid-19 melalui media YouTube? Mengapa salah satu upaya pencegahan penularan Covid-19 harus melalui sebuah lagu?
Tempat, Waktu dan Subjek Penelitian
Tempat penelitian dilakukan di platform Youtube terhadap video clip lagu
Ingat Pesan Ibu yang dilantunkan grup music Padi Reborn.
Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 21 Desember 2020 pukul 20.00 WIB dengan mengakses akun YiuTube milik Padi Reborn dengan melihat jumlah
viewer-nya berjumlah 125.000 dan menyimak teks lirik lagunya, serta mencernati
akun lainnya yang terkait dengan lagu yang dimaksud, yaitu akun milik Rindang Kobar, yang justru ditonton sebanyak 225.000 viewers.
Subyek penelitiannya adalah videoclip lagu Ingat Pesan Ibu dari grupmusik Padi Reborn sebagai lagu kampanye Protokol Kesehatan Covid-19. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan dua sumber data, yaitu data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui videoclip lagu Ingat Pesan
Ibu dari akun resmi grupmusikPadi Reborn yang terdapat di platform Youtube,
serta pernyataan dari grup band Padi Reborn mengenai tujuan pembuatan lagu
Ingat Pesan Ibu. Sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari data dan
informasi yang diakses melalui situs-situs atau website yang terkait dengan Protokol Kesehatan Covid-19.
Teknik Analisis Data
Untuk teknik pengumpulan data,langkah-langkah yang diambil penulis adalah,
1. Mengumpulkan data hasil videoclip lagu Ingat Pesan Ibu dari Padi Reborn di media digital YouTube.
2. Mengumpulkan materi dari pernyataan grup musik Padi Reborn mengenai tujuan pembuatan lagu oleh Padi Reborn.
3. Mencatat barisan lirik lagu untukdimasukkan ke dalam kolom kategori sebagai analisis tekstual.
4. Melakukan pemilihan dan pemilihan dari data sekunder mengenai data dan informasi yang terkait dengan Protokol Kesehatan Covid-19
PEMBAHASAN
Penyampaian pesan kampanye melalui sebuah lagu sudah sejak lama dilakukan oleh banyak kalangan. Baik sebagai pesan di ranah politik, sosial, budaya, maupun di bidang ekonomi (pemasaran/marketing) yang disampaikan komunikator kepada komunikan. Komunikator adalah orang yang menyampaikan pesan kepada komunikan. Sedangkan komunikan adalah orang yang menerima pesan dari komunikator. Dalam konteks ilmu komunikasi, setiap komunikasi memiliki tingkat kekuatan isi pernyataan atau pesannya dari komunikator untuk menjangkau komunikan atau khalayak. Tingkat kekuatan isi pernyataan atau pesan lazim disebut sebagai Gradasi Intensitas.
Dalam buku Teori Komunikasi 1 (2002) yang ditulis A.M. Hoeta Soehoet, gradasi artinya tingkat. Sedangkan intensitas bermakna kekuatan. Pada prinsipnya, Gradasi Intensitas terkait dengan penyampaian isi pernyataan dari komunikator kepada komunikan sebagai penerima isi pernyataan atau pesan. Sedangkan kampanye merupakan salah satu cara atau teknik penyampaian pesan komunikasi. Menurut Rogers dan Storey (1987) dalam Venus (2004: 7), kampanye didefinisikan sebagai serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu.
Masih dalam Venus (2004: 7), merujuk dari definisi di atas, maka setiap aktivitas kampanye komunikasi setidaknya harus mengandung empat hal yakni, (1) tindakan kampanye yang ditujukan untuk menciptakan efek atau dampak tertentu; (2) jumlah khalayak sasaran yang besar; (3) biasanya dipusatkan dalam kurun waktu tertentu dan; (4) melalui serangkaian tindakan komunikasi yang terorganisasi. Dari empat uraiannya itu telah dipenuhi oleh kampanye lagu Ingat
Pesan Ibu, ketika lagu tersebut disiarkan atau disampaikan melalui beragam media
yang bertujuan mengajak masyarakat untuk mematuhi Protokol Kesehatan. Lagu tersebut merupakan hasil kerjasama yang terorganisasi antara grup musik Padi Reborn dengan Satuan Tugas Penanggulangan Covid-19.
Menyambung mengenai gradasi intesitas yang telah dipaparkan, maka terkait dengan teks lagu berjudul Ingat Pesan Ibu memiliki atau memuat gradasi intensitas penerangan dan persuasi. Gradasi intensitas penerangan adalah menerangkan atau memberikan penjelasan. Isi pernyataan mengandung fakta + penjelasan mengenai fakta. Dalam hal ini, tujuan utama komunikator agar
komunikan memahami suatu persoalan. Komunikator berusaha menjelaskan suatu persoalan kepada komunikan. Komunikator berkepentingan terhadap komunikan untuk memahami isi pernyataannya agar dapat menarik kesimpulan dan penilaian secara tepat. Namun, sikap dan tindakan komunikan apakah positif atau negatif, menerima atau menolak, cukup diserahkan kepada komunikan. Utamanya, komunikan sudah diberitahu dan dijelaskan. Sedangkan gradasi intensitas persuasi dapat dimaknai isi pernyataan mengandung fakta + penjelasan mengenai fakta + bujukan. Tujuan pokok komunikator, diharapkan komunikan melakukan suatu tindakan tertentu untuk kepentingan komunikan. Selain menjelaskan fakta, melalui bujukan diharapkan komunikan bertindak sesuai dengan kepentingannya.
Terlepas dari muatan gradasi intensitas penerangan dan persuasi yang bertujuan demi kepentingan khalayak atau masyarakat dalam upaya pencegahan penularan wabah Covid-19, namun faktanya, pesan teks (lagu) yang disampaikan Padi Reborn dimaknai secara berbeda oleh masyarakat. Indikasinya dapat terlihat dari ketidakpatuhan dan ketidakdisiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan sehingga jumlah orang yang terpapar Covid-19 semakin meningkat. Teks mengalami multi tafsir di masyarakat. Merujuk dari konteksnya mengenai teks, menurut McKee (2011) dalam Ida (2014: 62), teks dimaknai semua yang tertulis, gambar, film, video, foto, desaian grafis, lirik lagu, dan lain-lain yang mengandung makna. Sedangkan menurut Hoed (2011: 71), teks adalah bahasa lisan, bahasa tulis, gambar, bunyi, arsitektur, sistem makanan, sistem busana, dan berbagai manifestasi dari kebudayaan. Dari dua definisi yang dipaparkan tersebut, dapat disimpulkan, teks atau lirik lagu pun termasuk dalam kategorinya
Menurut data yang dilansir Satuan Tugas melalui berbagai media menunjukkan bahwa, jumlah orang terpapar Covid-19 mengalami peningkatan yang signifikan. Bahkan, tingkat pemaparannya semakin hari justru meninggi. Hal inilah yang menjadi fokus kajian terhadap teks 3M dalam sebuah lagu berjudul
Ingat Pesan Ibu, yang dimaknai masyarakat secara berbeda atau keliru. Maka
terkait dengan permasalahan di atas, penulis mencoba mendekonstruksi atau membongkar teks lagu Ingat Pesan Ibu yang ditampilkan melalui plafform digital media YouTube dengan menggunakan konsep Dekonstruksi Hermeutika Radikal dari Jaques Derrida yang dikombinasikan dengan metodologi Analisis Tekstual.
Sebelum membahas dan menganalisis lebih jauh teks 3M dalam sebuah lagu, terlebih dahulu akan diulas sekilas mengenai profil Jaques Derrida. Jacques Derrida adalah filsuf dan ahli bahasa asal Prancis pengusung konsep dekonstruksi di dalam filsafat post-modern. Derrida lahir pada 15 Juli 1930 di El Biar, Aljazair. Waktu itu Aljazair masih dijajah Prancis. Orangtuanya keturunan Yahudi yang nenek moyangnya berasal dari Spanyol, dan kemudian menetap di Aljazair sejak zaman pra-kolonial, sebelum Aljazair dianeksasi Prancis pada 1830. Sejak kecil Derrida membaca karya Rousseau, Gide, dan Nietzche, dan pasca Perang Dunia II, ia mulai mempelajari filsafat. Pada 1949, dia pindah ke Paris dan mempersiapkan diri mengikuti ujian filsafat ke sekolah prestisius École Normale Supérieure. Namun, Derrida gagal. Lalu pada 1952, ia mencoba kesempatan kedua dan berhasil lulus.
Derrida menerbitkan buku pertama tahun 1990. Selama di École Normale, Derrida mempelajari Georg Wilhelm Freidrich Hegel (Dialektika Hegel) bersama
filsuf Jean Hyppolite. Hal ini dilakukan Derrida untuk menyelesaikan tesis doktornya berjudul The Ideality of the Literary Object, walaupun pada akhirnya tesis tersebut tidak pernah rampung. Tahun 1960-an, banyak pemikir besar Prancis bermunculan. Salah satunya Michel Foucault, yang menerbitkan buku berjudul
Folie et déraison (Madness and Civilization). Saat itu, Derrida berpartisipasi
dalam seminar yang dipimpin Foucault. Selang berapa lama, Derrida menulis
review-nya berjudul Cogito and the History of Madness (1963), yang justru
banyak mengkritik interpretasi Foucault terhadap Rene Descrates.
Pada awal 1960-an, Derrida menerbitkan esai berdasarkan karya Levinas berjudul Violence and Metaphysics. Tahun 1967, Derrida kembali menerbitkan tiga buku sekaligus; Writing and Difference, Speech and Phenomena, dan Of
Grammatology. Setelah itu, pun banyak karya menganggumkan diterbitkan
Derrida. Dalam menulis, Derrida sangat dipengaruhi filsuf Edmund Husserl dan ahli bahasa Ferdinand de Saussure. Buku pertama Derrida berjudul The Origin of
Geometry adalah terjemahan karya Husserl. Sedangkan buku Of Grammatology
merupakan perspektif Derrida terhadap pemikiran Saussure tentang strukturasi dan definisi bahasa. Dia mengatakan bahwa Saussure memberikan esensi manusia kepada bahasa. Logosentrisme dan fonosentrisme adalah paham yang berusaha dikritik Derrida. Menurutnya kelemahan logosentrisme adalah menghapus dimensi material bahasa, dan kelemahan fonosentrisme adalah menomorduakan tulisan karena memprioritaskan ucapan.
Merujuk dari pemikiran ini, Derrida menggagas konsep dekonstruksi. Istilah dekonstruksi dipopulerkan oleh Derrida. Pemikiran Derrida berkaitan dengan masalah bahasa yaitu dekonstruksi strukturalisme Saussure juga isu-isu perdamaian dan keadilan yang universal yang hanya menerima satu bentuk keadilan yang selalu dielu-elukan bangsa Barat. Menurut pandangan strukturalisme bahwa bahasa mempunyai makna yang stabil dan pasti. Utamanya, bahasa adalah aturan (langue) sedangkan keberagaman bahasa, bentuk bahasa lain (parole) tidak diperlukan. Cara berpikir strukturalisme yang demikian ditentang Derrida dengan istilah dekonstruksi.
Pada awalnya dekonstruksi merupakan cara atau metode membaca teks. Metode dekonstruksi bukan mencari inkonsistensi logis, argumentasi yang lemah seperti yang biasa dilakukan kaum modernisme. Derrida melacak unsur penentu atau unsur yang memungkinkan teks itu menjadi filosofis. Umumnya, dalam setiap teks pemaparannya argumentatif, rasional, dan terjalin rapi antara satu sama yang lain. Namun, Derrida melacak bukan penataan yang secara sadar, prosedur yang logis, melainkan tatanan yang tidak disadari, yang merupakan asumsi-asumsi tersembunyi yang terdapat di balik teks. Dengan kata lain, Derrida ingin membongkar tekstualitas laten dalam sebuah teks.
Melalui dekonstruksi, Derrida menjadi tokoh sentral bagi kaum postrukturalis sekaligus postmodernisme. Hal detail yang abai diperhatikan kaum strukturalis menjadi pokok perhatian Derrida. Realitas yang dianggap objektif, homogen, singular, didekonstruksi sehingga realitas itu terlihat dengan jelas menjadi plural, heterogen, dan fragmentaris. Melalui dekonstruksinya, Derrida menjauhi modernisme dan membungkam unsur narasi mitos dan logos.
Awalnya, dekonstruksi dipopulerkan Derrida sebagai suatu tindakan atau metode. Metode dekonstruksi merupakan suatu tindakan dari subyek untuk mempertanyakan, membongkar suatu obyek yang tersusun dari berbagai unsur (Noris, 2003: 5). Pembongkaran yang dilakukan merupakan suatu tindakan yang radikal karena berani menghancurkan yang sudah tertata rapi, dianggap paling benar, dan sudah diagung-agungkan pada masa itu. Keberanian yang dimiliki dengan argumentasi yang kuat menjadikan Derrida sebagai salah satu tokoh postrukturalis dan postmodernis yang sangat disegani.
Istilah dekonstruksi memang sangat sulit didefenisikan. Ketika ditanya wartawan, Derrida pun mengakui tidak mampu membuat defenisi dekonstruksi (1995: 406). Pernyataan ini membuktikan bahwa, mendefenisikan dekonstruksi adalah sangat sulit. Namun, Barker (2004: 402) mencoba mendefinisikan dekonstruksi, yaitu, memisahkan dan membongkar untuk menemukan dan menelanjangi berbagai asumsi, strategi retoris, dan ruang kosong teks. Pengungkapan oposisi biner hierarkis untuk menunjukkan: satu bagian dari pasangan biner tersebut dipandang tidak penting; pasangan biner tersebut menjamin kebenaran; dan masing-masing bagian dari pasangan biner saling berdampak.
Dekonstruksi bukan sekadar membongkar tuntas dan membiarkan begitu saja. Supaya dekonstruksi berguna untuk kemajuan masyarakat, maka diperlukan suatu tindakan baru, tindakan itu disebut rekonstruksi (Piliang, 2012: 239). Rekonstruksi artinya penataan secara terus-menerus struktur, yang juga didekonstruksi secara terus-menerus. Dengan demikian proses dekonstruksi harus dilanjutkan oleh rekonstruksi. Penataan bukan hanya sekali dilakukan tetapi secara terus-menerus. Oleh sebab itu dalam dekonstruksi diperlukan tenggang waktu (time span) bagi hidupnya struktur beserta konsensus yang membangunnya.
Lepas dari konsep dekonstruksi, Derrida merupakan anggota American Academy of Arts and Sciences. Pada tahun 2001, dia memperoleh penghargaan
Adorno-Preis dari University of Frankfurt. Di akhir masa hidupnya, Derrida
banyak terlibat dalam pembuatan film dokumenter biografi yakni D'ailleurs
Derrida (Derrida's Elsewhere) pada 1999. Namun, Pada 2003, Derrida didiagnosis
menderita kanker pankreas yang kemudian menghilangkan kemampuan berbicara dan bergeraknya. Derrida kemudian meninggal dunia di rumah sakit di Paris pada tanggal 8 Oktober 2004.
Gagasan dekonstrksi ala Jaques Derrida memang bertujuan untuk membongkar makna teks yang cenderung tidak statis, tidak berkesudahan, dan tidak terhingga. Menurut Derrida, setiap teks memiliki makna yang selalu berubah dan tidak final. Menurut Hardiman (2018: 287), teks menjdi terbuka untuk interpretasi dari arah manapun.teks dapat dibaca dalam konteks-konteks yang silih berganti secara arbiter. Hal itu sama saja dengan mengatakan bahwa makna teks itu selalu ditangguhkan dan tidak dapat diputuskan.
Terkait dengan salah satu tujuan penelitian, yakni, penggunaan media digital YouTube sebagai media penyampai pesan teks melalui lagu berjudul Ingat
Pesan Ibu, maka akan disodorkan beberapa hasil survei yang mengacu pada
penggunaan media digital atau internet. Gamblangnya, pengertian media digital sebagai media baru adalah suatu alat perantara komunikasi yang menggunakan
sistem digital. Secara spesifiknya, media digital atau media siber dalam proses komunikasinya perlu tersedianya perangkat keras (hardware), yakni komputer dan perangkat lunak (software) yang beroperasi melalui berbagai aplikasi dan koneksi yang memadai sehingga memungkinkan terjadinya aktivitas komunikasi serta pencarian (browsing) atau akses informasi melalui internet. Media YouTube merupakan salah satu media digital yang memanfaatkan koneksi internet. YouTube juga menjadi salah satu media sosial yang banyak diakses para pengguna.
Gambar 1. Bagan Proses Komunikasi Teks Lagu Ingat Pesan Ibu Prokes Covid-19
Menurut Survey Nielsen Consumer & Media View hingga triwulan ketiga 2017 dalam katadata.co.id diberitakan, kebiasaan membaca orang Indonesia mengalami pergeseran. Pada 2017, tingkat pembelian koran secara personal hanya sebesar 20%, menurun dibandingkan 2013 yang mencapai 28%. Selanjutnya, media cetak hanya menjadi pilihan kelima masyarakat untuk mendapatkan informasi dengan penetrasi sebesar 8%. Sementara urutan pertama ditempati televisi dengan 96%, kemudian diikuti papan iklan di jalanan 52%, penggunaan internet sebesar 43%, dan radio sebanyak 37%.
Mengacu dari hasil survey di atas telah menunjukkan presentasi penetrasi penggunaan internet pada 2017 sebesar 43%, lebih tinggi dari media radio sebanyak 37%. Namun demikian, untuk melengkapi data aktual dikutip dari tekno.kompas,com berjudul Penetrasi Internet di Indonesia Capai 64 Persen, pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 175,4 juta dengan penetrasi mencapai 64 persen. Itu artinya, dari total 272,1 juta populasi di Indonesia, sebesar 64 persennya telah terkoneksi internet. Angka ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya yang sebesar 17 persen, atau sekitar 25 juta. Hasil itu diketahui dari riset terbaru dari layanan manajemen kontem HootSuite dan agensi pemasaran media sosial We Are Social dalam laporan bertajuk “Digital 2020”.
Hampir seluruh pengguna internet di Indonesia menggunakan perangkat mobile untuk berinternet. Pengguna internet mobile di Indonesia tercatat mencapai 171 juta atau sebesar 98 persen dari total pengguna internet. Perangkat mobile juga jadi penyumbang terbesar. Sebesar 96 persen pengguna internet di Indonesia menggunakan smartphone, sementara 5,3 persen masih mengakses internet menggunakan ponsel fitur.
Rerata orang Indonesia menghabiskan empat jam 46 menit tiap hari untuk berselancar di internet. Sebagian besar menggunakan akses internet untuk bersosial media. Laporan ini mencatat pengguna aktif media sosial di Indonesia
mencapai 160 juta dengan penetrasi 59 persen dari total populasi. Jumlah ini naik 8,1 persen atau sekitar 12 juta pengguna. Waktu yang dihabiskan rerata orang Indonesia untuk bermedia sosial adalah tiga jam empat menit.
Hampir semua pengguna internet di Indonesia atau 99 persennya, juga gemar menonton video online. Sebesar 79 persen dari mereka menonton video vlog. Mereka juga senang mengakses hiburan audio melalui internet. Selebihnya, 58 persen mengakses radio secara online dan 43 persen kini gemar mendengarkan podcast. Rerata kecepatan internet di Indonesia, menurut laporan "Digital 2020'' mencapai 13,83 Mbps. Sedangkan kecepatan internet fixed di Tanah Air mencapai 20,11 Mbps.
Secara spesifiknya, seperti dikutip kata.data.com dari sumber We Are
Social, pengguna media sosial untuk plafform Youtube pada 2020 tercatat sebesar
88%, lebih besar dibanding pengguna Whatsapps (83%), Instagram (81%), dan Facebook (80%). Presentase ini mengindikasikan bahwa, media YouTube terus mengalami pengningkatan dalam jumlah pengguna atau pengaksesnya. Pararel dengan presentase sebesar 99% pengguna gemar menonton video online dan mengakses hiburan audio melalui internet.
Untuk lebih jelas dan detailnya, dapat dilihat dalam info grafik yang dirilis kata.data.com. Melalui info grafik tersebut, maka penulis memilih media digital Youtube sebagai salah satu obyek penelitian dan analisis. Untuk obyek penelitian lainnya adalah para kaum muda, yang direpresentasikan oleh 20 responden terdiri dari mahasiswa. Pilihan kepada mahasiswa adalah sebagai insan akademis yang cukup memahami rangkaian teks yang disampaikan melalui lagu.
Melalui akun YouTube milik Padi Reborn, lagu Ingat Pesan Ibu per tanggal 21 Desember 2020 telah ditonton sebanyak 125.000 viewers. Selaras dengan tingkat akses penggunaan media sosial, institusi media online (kompas.com) pun meng-upload videoclip lagu Ingat Pesan Ibu karya Padi Reborn melalui YouTube. Tercatat viewers di YouTube secara kumulatif sekitar 225 ribu, setidaknya jumlah angka ini dapat merepresentasikan tinggi minatnya para pengguna dalam mengakses videoclip tersebut. Namun, faktanya, pesan atau teks yang termuat dalam lagu Ingat Pesan Ibu tidak dipahami sebagaimana mestinya. Artinya, seperti telah disinggung di awal, masih ada masyarakat yang tidak mematuhi penerapan Prokes sehingga jumlah terpapar virus terus meningkat.
Gambar 2. Info Grafik Pengguna Medsos Indonesia
Ssumber: katadata
Dampak wabah pandemi Covid-19 menimbulkan rangkaian produksi teks Protokol Kesehatan (Prokes) dari Satuan Tugas. Rangkaian produksi teks Prokes yang saling berhubungan sekaligus terpisah (3M, PSBB, New Normal, Zoma Merah/Oranye/Kuning/Hijau, OTG, Karantina Mandiri) telah disampaikan oleh Satuan Tugas sebagai upaya pencegahan penyebaran wabah Covid-19 agar tidak meluas. Untuk itu, rangkaian teks yang dimaksud dapat dibagankan sebagai berikut:
Gambar 3. Rangkaian Produksi Teks Dampak Wabah Pandemi Covid-19
Mengacu dari bagan di atas, munculnya teks 3M akibat dari adanya wabah pandemi Covid-19 yang menular antar manusia, pun berdampak terhadap upaya pencegahan wabah yang berkelindan menjadi rangkaian teks PSBB, New Normal, Zona Merah/Oranye/Kuning/HIjau, OTG, Karantina Mandiri. Maka itu pula, teks
tersebut saling memunculkan sebab-akibat (kausalitas) sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19.
Teks 3M adalah teks sentral upaya pencegahan penularan Covid-19, yaitu. memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak dan menghindari kerumuman.Meski ada pula yang menyingkatnya menjadi 4M atau 5M. Tapi, apapun itu, teks ini muncul bersama teks lainnya yang telah disebutkan di awal akibat wabah pandemi Covid-19. Pada prinsipnya, teks-teks tersebut merupakan tanda-tanda yang sebelumnya tidak dikenal masyarakat. Meski dengan sejalannya waktu, rangkaian teks tersebut mulai dipahami maknanya. Namun, teks-teksnya tetap mengalami pemaknaan yang berbeda bagi masyarakat. Ambil contoh, masih banyak masyarakat yang memakai masker tidak untuk menutupi hidung dan mulut. Bahkan, ada pula sebagian masyarakat memakai masker dengan cara dipasang di dagu atau diturunkan ke leher.
Tentang teks PSBB lain lagi. Meski sudah dilarang untuk menutup toko atau kios, ada beberapa pedagang nekat beroperasi melayani pembeli. Padahal ketentuan PSBB sudah jelas. Begitupun dengan istilah New Normal, masyarakat memahami bahwa New Normal dimaknai sebagai keadaan atau kondisi sudah mulai normal kembali sehingga layak menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Di sisi lain, sebagai OTG (Orang Tanpa Gejala) kerap tidak menyadari bahwa dirinya adalah pembawa virus (carrier) yang dapat menulari orang lain. Untuk teks Karantina Mandiri pemahaman masyarakat pun keliru, ketika didapati seseorang telah dianggap terpapar Covid-19, akan tetapi ia malah nekat keluar rumah mengabaikan kewajibannya untuk melakukan karantina mandiri. Sedangkan mengenai teks Zona Merah/Oranye/Kuning/Hijau yang disematkan ke wilayah tertentu dengan status risiko sangat tinggi (merah), risiko sedang (oranye), risiko rendah (kuning), dan aman atau tak ada lagi virus baru (hijau), dipahami oleh masyarakat hanya sekadar simbol warna yang tidak memengaruhi penyebaran virus.
Dari uraian rangkaian teks di atas, sesuai dengan tujuan dan fokus serta pembatasan penelitian, penggunaan analisis tektual strukturalis memiliki relavansinya untuk menyingkap makna teks lagu Ingat Pesan Ibu. Maka itu, untuk pemahaman lebih lanjut tentang makna teks lagu berjudul Ingat Pesan Ibu dari Padi Reborn yang terhimpun dalam teks 3 M, dapat dijabarkan sebagai berikut:
Tabel 1. Interpretasi Struktur Teks Lagu Ingat Pesan Ibu Baris Lirik Teks Lagu Makna Denotatif Makna Konotatif
01 Ingat pesan
Ibu/Pakai maskermu/
Ingat pesan ibu untuk selalu pakai masker agar tidak terpapar Covid-19
Pesan ibu harus dipatuhi agar selalu pakai masker untuk melindungi diri dan juga orang lain dari penularan virus
02 Cuci tangan pakai
sabun/Jangan sampai tertular Mencuci tangan memakai sabun supaya tidak tertular Covid-19 Mencuci tangan
memakai sabun dengan yang air mengalir
sebagai upaya
pencegahan penularan wabah Covid-19
Lanjutan Tabel 1. Interpretasi Struktur Teks Lagu Ingat Pesan Ibu
03 Ingat selalu pesan
Ibu/Jaga
jarakmu/Hindari kerumunan/Jaga keluargamu
Sekali lagi ingat pesan Ibu, menjaga jarak dengan orang lain dan jangan berkerumun atau kumpul-kumpul
Pesan Ibu harus dipatuhi untuk selalu menjaga jarak dengan orang lain, setidaknya berjarak satu meter untuk memutus mata rantai penyebaran virus, dan lebih baik diam di rumah saja dengan keluarga
Penjabaran teks lagu Ingat Pesan Ibu dari Padi Reborn seperti tertera di atas, tiba gilirannya untuk dikaji melalui konsep Dekonstruksi dari Jaques Derrida. Pemaknaan denotatif dan konotatif yang telah dijabarkan telah menjadi pemahaman yang lazim bagi masyarakat, ketika kepatuhan dan kedisiplinan dalam penerapan Protokol Kesehatan tetap dilaksanakan sebagaimana dihimbau oleh pemerintah atau Satuan Tugas melalui pesan media. Namun, fakta yang terjadi, jumlah orang yang terpapar Covid-19 terus meningkat dari hari ke hari. Meski ada pula terjadi fluktuasi angka penurunan, tatkala mobilitas atau pergerakan masyarakat pun berkurang dalam berkegiatan atau adanya kebijakan PSBB. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Pada waktu berikutnya, grafik mengalami peningkatan terhadap jumlah orang yang terpapar (lihat grafik gambar 5 yang dilansir JHU CSSE COVID-19 Data).
Tak dimungkiri, sejak awal Maret hingga akhir Desember 2020 jumlah orang yang terpapar Covid-19 terus meningkat. Bahkan ketika memasuki awal Januari 2021 angkanya tak juga menurun. Seperti diberitakan prfmnews.id, penularan virus corona di Indonesia masih menunjukan tren penambahan. Dalam update data kasus Covid-1-9 per hari Sabtu, 9 Januari 2021, total konfirmasi positif menembus angka 10.000 kasus. Diketahui sehari setelahnya, terjadi penurunan sedikit yang terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 9.640 pasien dalam update data per hari Minggu 10 Januari 2021. Sedangkan untuk DKI jumlah terpapar Covid-19 sebanyak 2.711 kasus. Bukti ini telah menunjukkan bahwa masih ada masyarakat yang tidak mematuhi Protokol Kesehatan. Meski himbauan dan penyampaian pesan mengenai Protokol Kesehatan sudah dikomunikasikan atau dikampanyekan sejak awal Maret 2020 hingga pada hari dan bulan selanjutnya.
Gambar 4. Grafik Jumlah Kasus Positif Covid-19 selama 2020 - 2021
Dari fenomena mengenai peningkatan jumlah orang yang terpapar Covid -19, maka penulis bertujuan mengkaji, menganalisis, dan mendekonstruksi makna teks 3 M dalam lagu Ingat Pesan Ibu untuk dirinci sebagai berikut:
1. Ingat Pesan Ibu/Pakai Maskermu. Merujuk dari teks ini, timbul pertanyaan. Apakah semua orang selalu ingat akan pesan ibunya? Kenyataannya, banyak anak telah menjadi yatim, ketika ibunya meninggal dunia atau mencampakkannya. Pun, ada pula sebagian orang tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan ibunya. Dalam pemberitaan media, ada sejumlah anak yang tega menganiaya bahkan memenjarakan ibunya hanya karena persoalan sepele. Di samping itu, apakah personal grup band Padi Reborn cukup merepresentasikan citra seorang anak yang patuh kepada ibunya di benak publik penggemar musik pop Indonesia? Mengingat grup band Padi Reborn tidak pernah menciptakan lagu tentang Ibu, seperti yang pernah dilakukan Iwan Fals menciptakan lagu berjudul Ibu atau Melly Goeslaw dengan tembang
Bunda. Teks Ingat Pesan Ibu, justru menjadi paradoks ketika banyak ibu-ibu di
pasar yang tidak patuh untuk memakai masker. Dari uraian tentang teks Ingat
Pesan Ibu pada akhirnya dimanai secara berbeda oleh masyarakat. Para ibu pun
banyak yang tidak memakai masker. Bahkan, ketika ditegur oleh petugas justru berganti marah dan menunjukkan sikap acuh.
2. Cuci tangan pakai sabun/Jangan sampai tertular. Ketersediaan fasilitas air dan
sabun di area umum, tidak selalu ada. Ajakkan cuci tangan pakai sabun menjadi sia-sia, saat seseorang mencuci tangan pakai sabun ternyata tidak tersedia. Sementara himbauan menggunakan hand sanitizer pun bisa dilakukan sebagai upaya pencegahan penularan virus. Faktanya, tidak selamanya masyarakat membersihkan tangannya memakai sabun. Tapi cukup menggunakan hand
sanitizer yang selalu dibawanya.
3. Ingat selalu pesan Ibu/Jaga jarakmu/Hindari kerumunan/Jaga keluargamu.
Tidak semua orang mengingat pesan ibunya. Faktanya, banyak orang yang tidak menjaga jarak dan berkerumun. Bahkan sebagai OTG (Orang Tanpa
Gejala) justru bukan menjaga keluarganya malah menulari virus terhadap keluarganya.
Penggunaan judul Ingat Pesan Ibu oleh grup band Padi Reborn, tentu memikiki alasannya. Salah satu personal grup band Padi Reborn, Satriyo Yudi Wahono yang akrab disapa Piyu, seperti dikutip dari kompas.com (Senin,5/10/2020), menjelaskan, “Lagu 'Ingat Pesan Ibu' ini kami harap bisa menjadi bentuk edukasi yang mudah diterima dan mengubah perilaku masyarakat untuk selalu menjaga kesehatan,"
Sesungguhnya, lagu berdurasi sekitar 30 detik ini akhirnya sepakat diberi judul Ingat Pesan Ibu karena sebelumnya sempat beredar dengan judul Perubahan
Perilaku. Lantas vokalis grup ini bernama Fadly pun ikut memberikan alasan,
"Karena karakter ibu adalah seorang yang benar-benar kita dengarkan, yang doanya tembus hingga langit ke tujuh. Semua kemuliaan-kemuliaan itu ada di ibu. Pesan ibu itu pasti selalu ingin keluarganya selalu sehat dan doanya pasti terkabul."
Merujuk dari teks lagu 3M, jika dikaitkan dengan konsep dekonstruksi dapat ditemukan titik pusat analisis teksnya, yaitu kata ”Ibu” yang digunakan oleh Padi Reborn untuk merepresentasikan kepatuhan setiap anak terhadap pesan ibunya, justru menciptakan oposisi biner; ayah/ibu atau maskulin/feminim. Mengutip pendapat McQuillan dalam Hardiman tentang oposisi biner dalam dekonstruksi (2018: 279),”Dekonstruksi menyangkut kontaminasi atau ”bartardisasi” oposisi-oposisi biner, pasangan makna yang berlawanan. Oposisi-oposisi biner, seperti: kultur/natur, rasional/irasional, maskulin/feminism, manusia/hewan, aktivitas/pasivitas, absen/presen, dan seterusnya, beroperasi dalam seluruh peradaban.”
Kata ibu secara terus menerus mendapat pemaknaaannya. Bisa menjadi ibu tiri, ibu angkat, ibu pertiwi, ibu asuh, dan seterusnya. Dalam konteks ini, seolah peran ayah terpinggirkan atau termaginalkan. Faktanya, kepatuhan seorang anak kerap pula karena ketegasan seorang ayah. Bukan lantaran pesan ibunya. Bahkan pada masa sekarang, seorang anak lebih patuh kepada pesan-pesan yang ada di media sosial ketimbang pesan ibunya. Film dokumenter berjudul The Social
Dilemma (2020) cukup menjelaskan dampak media sosial bagi seorang anak dan
keluarga. Artinya, dalam kehidupan si anak, tiada hari tanpa gadget untuk bermedia sosial. Inilah yang disebut sebagai dilema sosial pada era digital.
KESIMPULAN DAN SARAN
Wabah pandemi Covid-19 telah memicu Satuan Tugas dan grup musik Padi Reborn untuk mewacanakan dan mengkomunikasikan sebuah lagu berjudul
Ingat Pesan Ibu, yang dihimpun dari sejumlah rangkaian teks; 3M (Memakai
Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak dan Menghindari Kerumunan), PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), Zona Merah/Oranye/Kuning/Hijau, New
Normal, dan Karantina Mandiri.
Lagu Ingat Pesan Ibu merupakan ajakkan positif kepada masyarakat agar mematahu Protokol Kesehatan (Prokes). Namun, kenyataannya, masih banyak dari sebagian masyarakat yang tidak mematuhi Prokes. Indikasinya, jumlah orang yang terkomfirmasi positif terpapar Covid-19 masih tinggi dan terus meningkat.
Kata “Ibu” dalam lagu Ingat Pesan Ibu menjadi titik pusat analisis yang pada akhirnya membentuk oposisi biner atau dua kutub berlawanan, yang memang harus dihindari dalam dekonstruksi versi Derrida sebagai hermeneutika radikal. Dalam hal ini, makna teks tidak berkesudahan dan tidak terhingga. Kesimpulannya, teks harus mengalami rekonstruksi yang terus-menerus. Dengan demikian, itulah dekonstruksi Derrida yang selalu memiliki makna teks tiada berkesudahan dan tidak terhingga.
Meski demikian, disarankan, sejumlah metode hermeneutika dan analisis tekstual dari para pemikir lainnya, dapat pula digunakan agar menemukan makna teks yang tetap dan usai. Penelitian mengenai makna teks yang terkait dengan penggunaan konsep dekonstruksi memang diperlukan sebagai metode penunjang atau teori pendukung yang diperlukan, misalnya sosiolinguistik yang terkonsetrasi pada teks media digital.
DAFTAR PUSTAKA
Agger, Ben, 2017. Teori Sosial Kritis: Kritik, Penarapan dan Implikasinya. Yogyakarta: Kreasi Wacana
Barker, Chris. 2014. Kamus Kajian Budaya (terjemahan). Yogyakarta: PT. Kanisius
Hardiman, F. Budi. 2018. Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher
sampai Derrida. Yogyakarta: Kanisius
Hoed, Benny H. 2011. Semiotik & Dinamika Sosial Budaya. Depok: Komunitas Bambu
Hoeta Soehoet, A.M. 2002. Teori Komunikasi 1. Jakarta: Yayasan Kampus Tercinta.
Ida, Rachmah. 2014. Metode Penelitian Studi Media dan Kajian Budaya. Jakarta: Prenada Media Group
Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya
Norris, Christopher. 2003. Membongkar Teori Dekonstruksi (terjemahan). Yogyakarta: Penerbit Ar-ruzz.
Piliang, Yasraf Amir. 2012. Semiotika dan Hipersemiotika: Kode, Gaya &
Matinya Makna. Bandung: Matahari
Poerwandari, Kristi. 2001. Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku
Manusia. Jakarta: Fakultas Psikologi UI
Spivak, Gayatri Chakravorty, 2003. Membaca Pemikiran Jaques Derrida Sebuah
Pengantar. Yogyakarta: Ar-ruzz Khazanah Pustaka Indonesia
Venus, Antar. 2004. Manajemen Kampanye: Panduan Teoritis dan Praktis dalam
Mengefektifkan Kampanye Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama